Anda di halaman 1dari 4

MENYIKAPI dan MENGHITUNG RISIKO SUKU BUNGA Kegiatan utama bank komersial adalah jasa intermediasi dimana penghasilan

bank d ari kegiatan ini yaitu selisih antara pendapatan bunga (alokasi dana) dengan beb an bunga (penghimpunan dana). Bank komersial juga mendapatkan pendapatan non bun ga (fee based income) dari jasa keuangan dan jasa non keuangan yang diberikan s eperti: jasa jual/beli valuta asing, jasa penyimpanan surat berharga, jasa pemba yaran transfer, pemberian garansi, penerbitan L/C dan lain sebagainya. Dalam men jalankan kegiatan usahanya, bank tidak lepas dihadapkan pada risiko-risiko yang ada untuk itu berdasarkan ketentuan bank diwajibkan membentuk suatu unit organis asi untuk melakukan manajemen terhadap risiko agar dapat meminimalkan efek nega tif risiko terutama terhadap hasil keuangan dan modal bank. Pengertian risiko adalah peristiwa atau kejadian dikemudian hari yang be rhubungan dengan nilai aktiva atau asset yang dimiliki pemodal/investor yang dap at menyebabkab penurunan dari nilai aktiva/kekayaan yang dimiliki investor bahka n mungkin tidak hanya penurunan nilai aktiva, tetapi dapat menjadi nihil (nol) a tau tidak ada nilainya lagi. Untuk mengukur risiko secara umum dapat dibagi dala m dua jenis yaitu, systematic risk dan unsystematic risk. Systematic risk disebu t juga market risk, merupakan risiko yang berasal dari kondisi ekonomi dan pasar secara umum, dan risiko tersebut tidak dapat dikontrol oleh manajemen serta tid ak dapat dihilangkan melalui penyebaran risiko atau diversifikasi. Unsystematic risk disebut juga unique risk atau risiko yang dapat dikontrol oleh manajemen, m erupakan risiko yang unik bagi perusahaan seperti pemogokan kerja, tuntutan huku m, kesalahan manajemen dan lain-lain. Pada dasarnya unsystematic risk dapat diku rangi bahkan menjadi nol atau yang tinggal hanya systematic risk melalui diversi fikasi. Risiko Suku Bunga adalah risiko efek negatif pada hasil keuangan dan modal bank yang disebabkan oleh perubahan suku bunga. Tujuan yang menyeluruh dari manajemen risiko suku bunga adalah untuk memastikan mekanisme arus kas yang besar tanpa adanya ketidaksesuaian dalam aset dan kewajiban segmen. Sebagai perantara keuang an, bank menghadapi risiko suku bunga dalam beberapa cara seperti: Risiko Re-Pricing: bentuk utama risiko suku bunga naik adakah perbedaan waktu ja tuh tempo (untuk suku bunga tetap) dan re-pricing (untuk suku bunga mengambang) dari aset, posisi kewajiban off-balance-sheet (OBS). Mereka dapat mengekspos ban k pendapatan dan aset mendasari nilai ekonomi yang tak terduga tentang fluktuasi t ingkat bunga yang cenderung terlalu sering dan tidak stabil. Risiko Kurva Hasil: Ketidaksesuaian harga juga dapat membuat bank untuk melakuka n perubahan kemiringan dan bentuk kurva hasil. Risiko kurva hasil tak terduga mu ncul ketika pergeseran kurva hasil telah merugikan bank pendapatan atau nilai ek onomi aset porfolio mereka. Risiko Dasar: Risiko bahwa tingkat bunga untuk aktiva dan kewajiban yang berbeda dapat berubah dalam besaran yang berbeda maka disebut risiko dasar. Risiko ters ebut timbul karena korelasi tidak sempurna dalam penyesuaian dari tarif yang dit erima dan dibayarkan pada instrumen yang berbeda dengan karakteristik penentuan ulang harga yang bijaksana. Resiko Pilihan Bawaan: Sebuah opsi memberikan pemegang hak (namun bukanlah kewaj iban) untuk membeli, menjual atau dalam beberapa cara mengubah arus kas instrume n atau kontrak keuangan. Pilihan instrumen yang mungkin berdiri sendiri seperti pertukaran-opsi dan kontrak perdagangan over-the-counter (OTC), atau mereka mung kin akan tertanam di dalam instrumen standar sebaliknya. Saat bank menggunakan n ilai tukar dan pilihan OTC- di kedua bidang perdagangan dan akun non-trading, in strumen dengan pilihan bawaan biasanya hal paling penting dalam kegiatan non-per dagangan. Resiko investasi ulang: ketidakpastian tentang masa depan tingkat suku bunga men imbulkan risiko investasi ulang sebagai arus kas masa depan yang akan diinvestas ikan kembali pada tingkat yang tidak diketahui saat ini. Kurva dengan Berhubung makalah ini ingin mengetahui cara menyikapi dan menghitung risiko suku bunga maka penjelasan akan dibatasi mengenai risiko suku bunga. Risiko suku bun ga timbul sebagai akibat dari salah satu hal berikut ini:

Traded market risk dimana bank secara aktif berpartisipasi dalam perdagangan ins trumen pasar, seperti obligasi yang nilainya dipengaruhi oleh perubahan pada nil ai pasar. Risiko tingkat suku bunga dalam bentuk banking book dimana bank menghadapi risik o perubahan suku bunga pasar karena struktur underlying kegiatan usahanya sepert i aktivitas pemberian kredit dan penghimpunan dana masyarakat. Perubahan tingkat suku bunga secara langsung akan mempengaruhi pendapatan bunga dari bank. Sebagai antisipasi, jika terjadi kenaikan suku bunga deposan, maka ba nk bisa menanggapi dengan menaikan suku bunga aktiva produktifnya sehingga bank dapat mempertahankan selisih bunga bersih. Secara ideal kebijakan ini dapat dila kukan jika tidak ada perbedaan jatuh tempo antara sisi pendanaan dengan aktiva p roduktif dan suku bunga pendanaan dan aktiva produktif adalah sama-sama berdasar kan suku bunga mengambang, namun kenyataannya sangat sulit dilakukan untuk menye suaikan jatuh tempo dan jenis suku bunga antara aktiva produktif dan pendanaan. Ketidaksesuaian (mismatch) antara aktiva produktif dan pendanaan baik dari fakto r jenis bunga (suku bunga mengambang/ tetap) maupun dari faktor jatuh tempo meny ebabkan bank dihadapkan kepada risiko akibat perubahan suku bunga. Dalam hal suk u bunga pendanaan dinaikan karena perubahan di pasar sedangkan suku bunga aktiva produktif tidak dinaikan, maka selisih suku bunga bersih bank akan turun dan da pat mengurangi laba. Sebaliknya jika suku bunga pendanaan turun sedangkan suku b unga pada sisi aktiva produktif tidak diturunkan maka selisih suku bunga bersih bank akan naik yang akan meningkatkan laba. Bank dapat memanfaatkan kecenderungan perubahan suku bunga untuk memaksimalkan k euntungannya. Jika suku bunga cenderung naik, maka bank dapat mengantisipasi den gan strategi pendanaan dengan suku bunga tetap sedangkan penempatan pada aktiva produktif dengan suku bunga mengambang. Sebaliknya jika suku bunga turun, maka b ank dapat mengantisipasi dengan strategi pendanaan dengan suku bunga mengambang dan penempatan pada aktiva produktif dengan suku bunga tetap. Teori Penentuan Suku Bunga Ada dua teori penentuan suku bunga yang paling berpengaruh, yaitu: Teori Fisher, yang mendasari loanable funds theory, dan liquidity preference theory dari Keyn es. Loanable Funds Theory Teori Fisher adalah teori yang bersifat umum dan jelas mengabaikan masalah-masal ah praktis tertentu, seperti kekuasaan pemerintah (bersama-sama dengan lembaga-l embaga depositori) untuk menciptakan uang dan permintaan pemerintah (yang sering kali besar) terhadap dana pinjaman, yang biasanya kebal terhadap tingkat suku bu nga. Selain itu, teori Fisher jugatidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa indiv idu-individu dan perusahaan-perusahaan berinvestasi dalam saldo kas. Liquidity Preference Theory Liquidity preference theory (teori hasrat liquiditas), yang awalnya dikembangkan oleh J.M. Keynes menganalisa suku bunga ekuilibrium melalui ineteraksi penawara n uang dengan permintaan agregat publik untuk memegang uang. Keynes mengasumsi b ahwa sebagian besar individu memegang kekayaan hanya dalam dua bentuk: uang dan obligasi. Menurut Keynes, uang ekuivalen dengan valuta dan rekening giro (demand deposits), yang tidak membayar bunga atau membayar bunga sangat rendah, tetapi sangat liquid dan bisa digunakan bagi transaksi. Secara umum, kedua teori diatas menghasilkan tingkat bunga keseimbangan yang sam a. Yang berbeda dari keduanya adalah metodologi yang melandasinya. Liquid prefer ence theory disusun berdasarkan permintaan dan penawaran dari persediaan uang da n pandangan bahwa semua keputusan keuangan menekankan pada segi uang dari liquid itas. Oleh karena itu model dana pinjaman dikembangkan berdasarkan aliran dana p ada sistem keuangan dan memandang keputusan keuangan dibuat dengan asas likuidit as yang lebih luas. Fungsi tingkat suku bunga Tingkat bunga mempunyai beberapa fungsi atau peranan penting dalam perekonomian, yaitu: a. Membantu mengalirnya tabungan berjalan kearah investasi guna mendukung p ertumbuhan perekonomian.

b. Mendistribusikan jumlah kredit yang tersedia, pada umumnya memberikan da na kredit kepada proyek investasi yang menjanjikan hasil tertinggi. c. Menyeimbangkan jumlah uang beredar dengan permintaan akan uang dari suat u negara. d. Merupakan alat penting menyangkut kebijakan pemerintah melalui pengaruhn ya terhadap jumlah tabungan dan investasi. Selain fungsi dan peranan penting tingkat bunga dalam perekonomian yang telah disebutkan diatas, suku bunga juga memiliki apa yang disebut dengan risiko suku bunga, yaitu potensi kerugian karena adanya perubahan pergerakan arah suku bunga. Risiko ini yang akan mempengaruhi semua instrumen yang menggunakan satu atau lebih yield curves untuk menghitung satu nilai pasar. Tingkat bunga rill dan nominal Model-model dana pinjaman dan preferensi likuiditas berlandaskan asumsi bahwa tingkat harga tetap konstan hingga jatuh tempo dari sekuritas yang diperda gangkan dalam sistem keuangan. Akan tetapi pada kenyataannya, orang mengantisipa si terjadinya perubahan harga dimasa mendatang, dan harapan ini merupakan bagian dari proses yang menentukan suku bunga. Sehubungan dengan kenyataan tersebut, dapatlah dibedakan antara ting kat bunga riil dan tingkat bunga nominal (pasar) untuk menggambarkan peran yang dimainkan oleh antisipasi harga. Tingkat bunga riil adalah tingkat bunga keseimb angan yang ditentukan melalui kedua model tersebut diatas, dimana para pelaku pa sar beranggapan tidak ada perubahan harga dimasa yang akan datang. Sedangkan tin gkat bunga nominal adalah tingkat bunga yang benar-benar diamati dalam sistem ke uangan dan sama dengan tingkat bunga riil plus penyesuaian mengingat kenyataanny a para pemain di pasar mengantisipasi terjadinya perubahan harga dimasa mendatan g. Sejauh ini dalam pembahasan kita mengenai suku bunga, kita telah men gabaikan pengaruh inflasi terhadap biaya peminjaman. Suku bunga yang tidak terpe ngaruh oleh adanya inflasi, bisa kita sebut dengan suku bunga nominal (nominal i nterest rate) yang dibedakan dari suku bunga riil (real interest rate) yaitu suk u bunga yang disesuaikan dengan mengurangi perubahan yang diharapkan dalam tingk at harga (inflasi) sehingga lebih akurat untuk mencerminkan biaya peminjaman yan g sesungguhnya. Tingkat bunga kredit bank Bank dalam operasionalnya secara umum berfungsi untuk mengumpulkan dana dan membayar bunga kepada nasabahnya dan menyalurkan kredit dan menerima bunga d ari debitornya. Oleh karena itu pendapatan bank baru ada jika pricing credit leb ih besar dari cost of fund. Agar bank memperoleh pendapatan, perlu ditentukan ti ngkat suku bunga kredit (SB Kredit) yang dipengaruhi oleh tiga komponen yaitu: C ost of Fund (COF) Overhead Cost (OHC) dan Spread Profit(SP) Mengenai hal tersebut, sejak januari 2005 BI telah 15 kali melakukan perubahan s uku bunga, dan kebijakan ini berdampak langsung pada kenaikan penghimpunan DPK. Kebijakan kenaikan bunga tersebut berperan besar terhadap pengendalian tingkat i nflasi dan terbukti tingkat inflasi dapat diminimalisir dari inflasi tertinggi 8 ,81% pada bulan maret 2005 menjadi 7,42% pada bulan juni 2005. Analisis yang terjadi pada dunia perbankan terjadi kenaikan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebenarnya telah cukup tinggi. Bank-bank sudah berani menawarkan bunga deposit sebesar 30% yang berarti juga menaikan suk u bunga kredit menjadi minimal 35%. Pada situasi krisis tentunya investor enggan meminjam dana dari bank untuk mendanai usahanya karena mereka akan kesulitan un tuk mengembalikan pinjaman beserta bunganya hal ini disebabkan oleh kerja sector perbankan yang sedang mengalami kesulitan. Kemungkinan yang lain yaitu diakibatkan oleh kenaikan uang inti yaitu ru piah yang ddicetak oleh BI. Ini merupakan teori inflasiyang pernah berkali-kali terjadi, pada intinya hal ini semua disebabkan percetakan rupiah baru oleh BI ka rena pemerintah memerlukan dana untuk mendorong APBN atau untuk membantu pencipt aan lapangan pekerjaan atau karena alasan politis. Apabila semua tingkat bunga dalam sistem keuangan dapat dihitung angka r ata-ratanya dan diwakili oleh satu tingkat bunga itu tidak bias dipersamakan kar

ena tingkat suku bunga tergantung pada interaksi antara system keuangan dan syst em riil dan harus pula mengembangkan suatu model yang benar-benar riil yang akan memberikan informasi mengenai determinan dari tingkat penghasilan dan kesempata n kerja. Sektor riil ini dibedakan antara perekonomian dengan sektor keuangan at au moneter karena jenis kegiatanya yang berbeda. Struktur suku bunga Determinan Struktur Suku bunga Tingkat bunga yang telah diuraikan diatas dapat diartikan sebagai ra ta-rata dari berbagai macam jenis suku bunga, yaitu meliputi jangka pendek, jang ka panjang, dll. Struktur tingkat bunga dalam sistem keuangan terutama ditentuka n oleh determinan sebagai berikut: Jangka waktu dari klaim keuangan Karakteristik perpajakan dari klaim keuangan Derajat risiko tunggakan dari klaim keuangan Kemudahan pemasaran dari klaim keuangan dan faktor-faktor lainnya. Dari keempat determinan tersebut diatas perbedaan jangka waktu dari klai m keuangan merupakan faktor yang paling banyak dipertimbangkan. Hubungan antara jangka waktu dan suku bunga disebut struktur masa (term structure) dari suku bun ga. Ketiga determinan lainnya juga merupakan faktor penting, akan tetapi seringk ali lebih mudah dalam menentukan pengaruhnya terhadap struktur suku bunga. Struktur Tingkat Bunga di Indonesia Sturktur tingkat bunga di Indonesia yang paling umum didasarkan atas jan gka waktu. Tingkat bunga perbankan untuk deposito berjangka dibedakan atas 1 bul an, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan, baik untuk mata uang lokal maupun valuta asi ng. Deposito berjangka sebagai sumber dana, akhir-akhir ini hanya bersifat jangk a pendek saja, yaitu maksimum 1 tahun. Beberapa tahun yang lalu masih banyak dij umpai deposito yang berjangka waktu 2 tahun, tapi sekarang tidak lagi dijumpai.

KESIMPULAN Bunga adalah sejumlah dana, dinilai dari uang, yang diterima si pemberi pinjaman (kreditur), sedangkan suku bunga adalah rasio dari bunga terhadap jumla h pinjaman. Risiko suku bunga adalah potensi kerugian yang timbul akibat pergera kan suku bunga di pasar yang berlawanan dengan posisi atau transaksi bank yang m engandung risiko suku bunga. Dua teori penentuan suku bunga yang paling berpengaruh, yaitu: Teori Fis her, yang mendasari loanable funds theory, dan liquidity preference theory dari Keynes. Atas dasar kenyataan bahwa orang mengantisipasi terjadinya perubahan har ga dimasa mendatang, dan harapan ini merupakan bagian dari proses yang menentuka n suku bunga, dapatlah dibedakan antara tingkat bunga riil dan tingkat bunga nom inal (pasar) untuk menggambarkan peran yang dimainkan oleh antisipasi harga.