Anda di halaman 1dari 9

No.

ID dan Nama Peserta :


No. ID dan Nama Wahana :
Topik : Kejang demam sederhana
Tanggal (kasus) : 4 Maret 2015
Nama Pasien : An. F
Tanggal Presentasi : 11 Maret 2015

/ dr. Marsella
/ Ruang Parkit RSAU dr. Esnawan Antariksa

No. RM : 096302
Pendamping : Kolonel Kes. dr. Krismono
Irwanto, MH.Kes
Tempat Presentasi : RSAU dr. Esnawan Antariksa
Obyek Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : OS usia 3 tahun 6 bulan MRS dari UGD dengan keluhan kejang sejak 1 jam
SMRS.
Tujuan : Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan kejang demam
Bahan Bahasan Tinjauan Pustaka Riset
Kasus
Audit
Cara
Diskusi
Presentasi dan
Email
Pos
Membahas
diskusi
Data Pasien
Nama Klinik

Nama : An. F
Nomor Registrasi : 096302
Ruang Parkit RSAU dr. Esnawan
Antariksa
Data utama untuk bahan diskusi :
1. RPS : Kejang 1 x 1 jam SMRS, kejang seluruh tubuh, mata melotot, dengan waktu 30
detik. Setelah kejang langsung menangis. Kejang hanya terjadi 1x dalam 24 jam. Demam (+)
sejak 1 hari SMRS (selasa sore). Batuk (+) berdahak dan pilek sejak 2 minggu yang lalu.
BAB dan BAK lancar. 1 hari SMRS ibu pasien sempat membawa anaknya ke UGD RSAU
karena anaknya demam tinggi. Saat itu oleh dokter UGD diberikan obat paracetamol syrup,
ambroxol syrup, cefadroxil syrup, dan vitamin.
2. Riwayat Pengobatan : Bila pasien kejang di rumah, ibu pasien selalu memberikan stesolid

supp.
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Pertama kali kejang usia 9 bulan. Kejang didahului demam

tinggi, memiliki riwayat kejang demam 6x, selalu didahului demam dan setiap kejang tidak
pernah lebih dari 1x dalam 24 jam, Riwayat asma dan alergi disangkal
4. Riwayat Keluarga : Adik ibu pasien pernah mengalami kejang saat masih bayi
5. Riwayat Pekerjaan : 6. Riwayat Kehamilan Ibu : Selama hamil tidak pernah menderita sakit yang berat dan selalu
rutin memeriksa kehamilannya ke dokter di RSAU dr Esnawan Antariksa.
7. Riwayat Kelahiran : Lahir SC, cukup bulan, ditolong dokter, bayi langsung menangis.
8. Riwayat Makanan dan Minuman : Usia 0 2tahun diberi ASI, kualitas dan kuantitas cukup.
9. Riwayat Imunisasi : Imunisasi dasar lengkap
10. Lain-lain: -

Daftar Pustaka :
1.Lumbantobing,S.M.KejangDemam(FebrileConvulsion).Jakarta:BalaiPenerbitFKUI.
2007.

2.Pusponegoro,H.D,dkk.KonsensusPenatalaksanaanKejangDemam.IkatanDokterAnak
Indonesia.Jakarta.2006.Hal114.

3.WidodoDP,dkk.PenangananDemampadaAnaksecaraProfesional.DepertemenKesehatan
AnakFKUI.Jakarta.2005.Hal5865.
4.Markum,AH.BukuAjarIlmuKesehatanAnakJilid1.Jakarta:BalaiPenerbitFKUI,2002
Hasil Pembelajaran :
1. Menegakkan diagnosis kejang demam
2. Memberikan penatalaksanaan yang tepat pada penderita kejang demam
Rangkuman hasil pembelajaran portofolio :
1. Subyektif
Kejang 1 x 1 jam SMRS, kejang seluruh tubuh, mata melotot, dengan waktu 30 detik.
Setelah kejang langsung menangis. Kejang hanya terjadi 1x dalam 24 jam. Demam (+) sejak
1 hari SMRS (selasa sore). Batuk (+) berdahak dan pilek sejak 2 minggu yang lalu. BAB dan
BAK lancar. 1 hari SMRS ibu pasien sempat membawa anaknya ke UGD RSAU karena
anaknya demam tinggi. Saat itu oleh dokter UGD diberikan obat paracetamol syrup,
ambroxol syrup, cefadroxil syrup, dan vitamin.
Assesment
Kejang merupakan suatu manifestasi klinis yang sering dijumpai di ruang gawat darurat.
Hampir 5% anak berumur di bawah 16 tahun setidaknya pernah mengalami sekali kejang
selama hidupnya. Kejang penting sebagai suatu tanda adanya gangguan neurologis.
Keadaan tersebut merupakan keadaan darurat. Kejang mungkin sederhana, dapat berhenti
sendiri dan sedikit memerlukan pengobatan lanjutan, atau merupakan gejala awal dari
penyakit berat, atau cenderung menjadi status epileptikus. Tatalaksana kejang seringkali
tidak dilakukan secara baik. Karena diagnosis yang salah atau penggunaan obat yang
kurang tepat dapat menyebabkan kejang tidak terkontrol, depresi nafas dan rawat inap yang
tidak perlu. Langkah awal dalam menghadapi kejang adalah memastikan apakah gejala
saat ini kejang atau bu kan. Selanjutnya melakukan identifikasi kemungkinan penyebabnya..

Kejang Demam
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang
2

disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Menurut Consensus Statement on Febrile


Seizures (1980), kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya
terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pemah
terbukii adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa
demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus
dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.
Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf seperti meningitis,
ensefalitis atau ensefalopati. Kejang pada keadaan ini mempunyai prognosis berbeda
dengan kejang demam karena keadaan yang mendasarinya mengenai sistem susunan
saraf pusat. Dahulu Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan, yaitu kejang
demam sederhana (simple febrile convulsion) dan epilepsi yang diprovokasi oleh demam
(epilepsi triggered of by fever). Defmisi ini tidak lagi digunakan karena studi prospektif
epidemiologi membuktikan bahwa risiko berkembangnya epilepsi atau berulangnya kejang
tanpa demam tidak sebanyak yang diperkirakan.
Akhir-akhir ini, kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan, yaitu kejang demam
sederhana, yang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum, dan kejang demam
kompleks, yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal, atau multipel (lebih dari 1 kali kejang
dalam 24 jam). Di sini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan neuroiogi atau riwayat
kejang demam atau kejang tanpa demam dalam keluarga.

Epidemiologi.
Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa
Barat. Di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kira-kira 20% kasus merupakan kejang demam
kompleks. Umumnya kejang demam timbul pada tahun kedua kehidupan (17-23 bulan). Kej
ang demam sedikit lebih sering pada laki-laki.

Faktor Risiko
Faktor risiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Selain itu terdapat faktor
riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung, perkembangan terlambat,
problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah.
3

Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi
atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih, Risiko rekurensi
meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul,
temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga
epilepsi.
Etiologi
Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi saluran
pemapasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih. Kejang
tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi
dapat menyebabkan kejang.
Manifestasi Klinis
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonikklonik bilateral. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas
dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului
kekakuan, atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.
Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurng dari 8% berlangsung
lebih dari 15 menit. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak
memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak
terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti hemiparesis
sementara (hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari.
Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang
yang berlangsung lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis,
terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Pada bayi-bayi kecil seringkali gejala
meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang
dari 6 bulan, dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan. Elektroensefalografi
4

(EEG) ternyata kurang mempunyai nilai prognostik. EEG abnormal tidak dapat digunakan
untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi atau kejang demam berulang di kemudian
hari. Saat ini pemeriksaan EEG tidak dianjurkan untuk pasien kejang demam sederhana.
Pemeriksaan laboratorium rutin tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber
infeksi.
Diagnosis Banding
Penyebab lain kejang yang disertai demam harus disingkirkan, khususnya meningitis atau
ensefalitis. Pungsi lumbal terindikasi bila ada kecurigaan klinis meningitis. Adanya sumber
infeksi seperti otitis media tidak menyingkirkan meningitis dan jika pasien telah
mendapatkan antibiotika maka perlu pertimbangan pungsi lumbal.
Penatalaksanaan
Ada 3 hal yang perlu dikerjakan, yaitu: (1) pengobatan fase akut; (2) mencari dan mengobati
penyebab; dan (3) pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam.
1. Pengobatan fase akut. Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien
dimiringkah untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan napas harus bebas agar
oksigenisasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu,
pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air
hangat dan pemberian antipiretik.
Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan intravena
atau intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2
mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg. Bila kejang berhenti sebelum diazepam habis,
hentikan penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut. Bila
diazepam intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit,

gunakan diazepam intrarektal 5 mg (BB < 10 kg) atau 10 mg (BB > 10 kg). Bila kejang tidak
berhenti dapat diulang selang 5 menit kemudian. Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin
dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan 1 mg/kgBB/menit.
Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan NaCl fisiologis karena
fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena.

Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital diberikan langsung
setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan-1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun ke
atas 75 mg secara intramuskular. Empat jam kemudian berikan fenobarbital dosis rumat.
Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk bari-hari
berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama keadaan belum membaik,
obat diberikan secara suntikan dan setelah membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total
tidak melebihi 200 mg/hari. Efek sampingnya adalah hipotensi, penurunan kesadaran, dan
depresi pernapasan.
Bila kejang berhenti dengan fenitoin, lanjutkan fenitoin dengan dosis 4-8 mg/kgBB/ hari, 1224 jam setelah dosis awal.
2. Mencari dan mengobati penyebab. Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk
menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang
pertama. Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada
kasus yang dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila ada gejala meningitis atau bila kejang
demam berlangsung lama.
3.

Pengobatan profilaksis. Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten saat

demam dan (2) profilaksis terus-menerus dengan antikonvulsan setiap hari.


Untuk profilaksis intermiten diberikan diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dapat pula diberikan
secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg (BB < 10 kg) dan 10 mg (BB > 10 kg) setiap
pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5C. Efek samping diazepam adalah ataksia,
mengantuk, dan hipotonia.
Profilaksis terus-menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang
dapat menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsi di
kemudian hari. Profilaksis terus-menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5 mg/ kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis
15-40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1-2 tahun
setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan.
Profilaksis terus-menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau 2)
yaitu:

1.

Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau

perkembangan (misalnya serebral palsi atau mikrosefal).


2.

Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologis

sementara atau menetap.


3. Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung.
4.

Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang

multipel dalam satu epidose demam.


Bila hanya memenuhi satu kriteria saja dan ingin memberikan pengobatan jangka panjang,
maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral
atau rektal tiap 8 jam di samping antipiretik.
Prognosis
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan
kematian. Frekuensi berulangnya kejang berkisar antara 25-50%, umumnya terjadi pada 6
bulan pertama. Risiko untuk mendapatkan epilepsi rendah.

Penanganan pada pasien ini:


Cefadroxil syrup 2 x 2 cth
Paracetamol syrup 3x2 cth
Puyer batuk 3 x 1 pulv
Inhalasi ventolin + nacl 2cc/ hari
Bila kejang beri stesolid supp 10mg

Plan:
Pemeriksaan Darah
Hb : 12,6 g/dl
Leukosit : 18100
Ht : 37 %
Trombosit : 379000

Pendidikan
Dilakukan kepada keluarga untuk membantu proses penyembuhan dan pemulihan. Keluarga juga
perlu diberikan penjelasan mengenai perjalanan penyakit dan prognosis pada pasien ini.
Diberikan pengarahan kepada keluarga bahwa penyakit ini dapat dicegah.
8

Konsultasi
Dijelaskan perlunya konsultasi dengan spesialis anak untuk penanganan selanjutnya. Konsultasi
ini merupakan upaya agar penanganan optimal untuk komplikasi dan tidak terjadi komplikasi
lainnya.

Jakarta, 11 Maret 2015

Peserta

dr. Marsella

Pendamping

Kolonel Kes. dr. Krismono Irwanto, MH.Kes