Anda di halaman 1dari 11

Donor ASI dari Sudut Pandang

Islam
Sabtu, 15 Mei 2010 | 10:25 WIB

shutterstock
ASI esklusif tak hanya membangun hubungan emosional dengan anak, namun memberikan
asupan lemak esensial agar pertumbuhan lebih optimal.
KOMPAS.com Rasanya tidak ada yang menyangkal bahwa air susu ibu atau ASI merupakan
makanan ideal bagi bayi yang tidak tergantikan oleh susu formula. Oleh karena itu, sejak lahir
hingga berusia enam bulan, bayi hendaknya hanya mengonsumsi ASI. Komposisi nutrien yang
terkandung di dalam ASI sangat tepat dan ideal untuk tumbuh kembang bayi, selain juga
memenuhi kebutuhan dasar anak akan kasih sayang dan stimulasi.
Namun, karena satu dan lain hal, tak sedikit para ibu yang tidak dapat menyusui bayinya,
terutama bayi prematur, karena produksi ASI belum maksimal. Di lain pihak, banyak para ibu
yang memiliki ASI berlimpah sehingga sayang untuk dibuang dan memilih untuk
mendonorkannya.
Dari segi kesehatan, sebelum berbagi ASI perlu diperhatikan kemungkinan terjadinya penularan
penyakit. Karena itu, sebelum mendonorkan ASI-nya, seseorang perlu melakukan skrining ada
tidaknya penyakit, seperti hepatitis, HIV/AIDS, atau TBC. Para ibu yang menderita penyakit
tersebut dilarang untuk mendonorkan ASI. Di negara maju, sebelum diberikan, ASI donor secara
rutin di- pasteurisasi sehingga relatif aman.
Dalam pandangan Islam, bayi yang mendapat ASI dari ibu lain sebetulnya bukan hal baru.
Menurut Ustazah Faizah Ali, Nabi Muhammad SAW pun memiliki ibu susu. Yang perlu
diperhatikan adalah terjadinya hubungan anak antara anak yang mendapatkan ASI dan ibu yang
memberikan ASI-nya.
"Anak yang mendapat ASI dari donor sama hukumnya dengan anak kandung, yaitu mahrom,
tetapi bukan dalam hal ahli waris. Begitu juga anak-anak si ibu susu menjadi saudara

sepersusuan anak-anak tersebut sehingga jatuh hukum tahrim atau haram kawin," kata Faizah
dalam acara talkshow yang diadakan oleh AIMI dalam acara "Breastfeeding Fair" di Jakarta,
Jumat (14/5/2010).
Mengenai hukum pemberian donor ASI ini, ada beberapa mazhab. "Empat mazhab
menyebutkan, apa pun cara pemberiannya, baik disusui langsung atau diperah, meski cuma
diberikan satu kali, tetap memberi dampak hukum adanya hubungan mahrom," urai salah satu
anggota Komisi Fatwa MUI itu.
Namun, beberapa ulama modern memberikan batasan lima kali pemberian susu yang terpisah,
mengenyangkan anak sehingga membentuk tulang dan menumbuhkan daging. "Menurut ijtihad
tersebut, bila hanya diberikan satu sampai dua kali, tidak menimbulkan hukum mahrom," imbuh
Faizah.
Ia mengaskan, keputusan untuk mendonorkan ASI dikembalikan pada individu masing-masing,
mau berpegang pada landasan mazhab yang mana saja. "Tetapi untuk amannya, lebih baik dibuat
catatan siapa yang kita donorkan ASI dan lebih baik dilanjutkan dengan hubungan silaturahim.
Sejak jauh-jauh hari anak juga diberi tahu kalau ia saudara sesusu sehingga terhindar dari
kemungkinan adanya haram perkawinan," katanya.
Mengenai cara pemberian, Faizah merekomendasikan agar diberikan langsung atau disusui
langsung. "Ikatan batinnya lebih kuat jika anak disusui langsung dari payudara ibunya. Selain
itu, komposisi ASI yang diberikan langsung juga mungkin lebih baik daripada yang sudah
diperah dan disimpan dalam kulkas," ujarnya.

Pandangan islam tentang donor


asi
Pertanyaan
Anak yang lahir prematur harus memerlukan perawatan tersendiri dalam suatu jangka waktu
yang kadang-kadang lama, sehingga air susu ibunya melimpah-limpah.
Kemudian si anak mengalami kemajuan sedikit demi sedikit meski masih disebut rawan, tetapi ia
sudah dibolehkan untuk minum air susu. Sudah dimaklumi bahwa air susu yang dapat menjalin
hubungan nasab dan paling dapat menjadikan jalinan kasih sayang (kekeluargaan) adalah air
susu manusia (ibu).
Beberapa yayasan berusaha menghimpun susu ibu-ibu yang sedang menyusui agar bermurah hati
memberikan sebagian air susunya. Kemudian susu itu dikumpulkan dan disterilkan untuk
diberikan kepada bayi-bayi prematur pada tahap kehidupan yang rawan ini, yang kadang-kadang
dapat membahayakannya bila diberi susu selain air susu ibu (ASI).
Sudah barang tentu yayasan tersebut menghimpun air susu dari puluhan bahkan ratusan kaum
ibu, kemudian diberikan kepada berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus bayi prematur, laki-laki
dan perempuan tanpa saling mengetahui dengan jelas susu siapa dan dikonsumsi siapa, baik
pada masa sekarang maupun masa mendatang. Hanya saja, penyusuan ini tidak terjadi secara
langsung, yakni tidak langsung menghisap dari tetek.
Maka, apakah oleh syara mereka ini dinilai sebagai saudara?
Dan haramkah susu dari bank susu itu meskipun ia turut andil dalam menghidupi sekian banyak
jiwa anak manusia?
Jika mubah dan halal, maka apakah alasan yang memperbolehkannya? Apakah Ustadz
memandang karena tidak menetek secara langsung? Atau karena ketidakmungkinan
memperkenalkan saudara-saudara sesusuan yang jumlah mereka sangat sedikit dalam suatu
masyarakat yang kompleks, artinya jumlah sedikit yang sudah membaur itu tidak mungkin
dilacak atau diidentifikasi?

Jawaban
Segala puji kepunyaan Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Wa
badu.
Tidak diragukan lagi bahwa tujuan diadakannya bank air susu ibu sebagaimana dipaparkan
dalam pertanyaan adalah tujuan yang baik dan mulia, yang didukung oleh Islam, untuk
memberikan pertolongan kepada semua yang lemah, apa pun sebab kelemahannya.
Lebih-lebih bila yang bersangkutan adalah bayi yang lahir prematur yang tidak mempunyai daya
dan kekuatan.
Tidak disangsikan lagi bahwa perempuan yang menyumbangkan sebagian air susunya untuk
makanan golongan anak-anak lemah ini akan mendapatkan pahala dari Allah, dan terpuji di sisi
manusia. Bahkan air susunya itu boleh dibeli darinya, jika ia tak berkenan menyumbangkannya,
sebagaimana ia diperbolehkan mencari upah dengan menyusui anak orang lain, sebagaimana
nash
Al-Quran serta contoh riil kaum muslim.
Juga tidak diragukan bahwa yayasan yang bergerak dalam bidang pengumpulan air susu itu
yang mensterilkan serta memeliharanya agar dapat dikonsumsi oleh bayi-bayi atau anak-anak
sebagaimana yang digambarkan penanya patut mendapatkan ucapan terima kasih dan mudahmudahan memperoleh pahala.
Lalu, apa gerangan yang dikhawatirkan dibalik kegiatan yang mulia ini?
Yang dikhawatirkan ialah bahwa anak yang disusui (dengan air susu ibu) itu kelak akan menjadi
besar dengan izin Allah, dan akan menjadi seorang remaja di tengah-tengah masyarakat, yang
suatu ketika hendak menikah dengan salah seorang dari putri-putri bank susu itu. Ini yang
dikhawatirkan, bahwa wanita tersebut adalah saudaranya sesusuan. Sementara itu dia tidak
mengetahuinya karena memang tidak pernah tahu siapa saja yang menyusu bersamanya dari air
susu yang ditampung itu. Lebih dari itu, dia tidak tahu siapa saja perempuan yang turut serta
menyumbangkan ASI-nya kepada bank susu tersebut, yang sudah tentu menjadi ibu susuannya.
Maka haram bagi ibu itu menikah dengannya dan haram pula ia menikah dengan putri-putri ibu
tersebut, baik putri itu sebagai anak kandung (nasab) maupun anak susuan. Demikian pula
diharamkan bagi pemuda itu menikah dengan saudara-saudara perempuan ibu tersebut, karena
mereka sebagai bibi-bibinya. Diharamkan pula baginya menikah dengan putri dari suami ibu
susuannya itu dalam perkawinannya dengan wanita lain menurut pendapat jumhur fuqaha
karena mereka adalah saudara-saudaranya dari jurusan ayah serta masih banyak masalah dan
hukum lain berkenaan dengan susuan ini.

Oleh karena itu, saya harus membagi masalah ini menjadi beberapa poin, sehingga hukumnya
menjadi jelas.
Pertama, menjelaskan pengertian radha (penyusuan) yang menjadi acuan syara untuk
menetapkan pengharaman.
Kedua, menjelaskan kadar susuan yang menjadikan haramnya perkawinan.
Ketiga, menjelaskan hukum meragukan susuan.
Pengertian Radhn (Penyusuan)
Makna radha (penyusuan) yang menjadi acuan syara dalam menetapkan pengharaman
(perkawinan), menurut jumhur fuqaha -termasuk tiga orang imam mazhab, yaitu Imam Abu
Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafii ialah segala sesuatu yang sampai ke perut bayi melalui
kerongkongan atau lainnya, dengan cara menghisap atau lainnya, seperti dengan al-wajur (yaitu
menuangkan air susu lewat mulut ke kerongkongan), bahkan mereka samakan pula dengan jalan
as-sauth yaitu menuangkan air susu ke hidung (lantas ke kerongkongan), dan ada pula yang
berlebihan dengan menyamakannya dengan suntikan lewat dubur (anus).
Tetapi semua itu ditentang oleh Imam al-Laits bin Saad, yang hidup sezaman dengan Imam
Malik dan sebanding (ilmunya) dengan beliau. Begitu pula golongan Zhahiriyah dan salah satu
riwayat dari Imam Ahmad.
Al-Allamah Ibnu Qudamah menyebutkan dua riwayat dari Imam Ahmad mengenai wajur dan
sauth.
Riwayat pertama, lebih dikenal sebagai riwayat dari Imam Ahmad dan sesuai dengan pendapat
jumhur ulama: bahwa pengharaman itu terjadi melalui keduanya (yakni dengan memasukkan
susu ke dalam perut baik lewat mulut maupun lewat hidung). Adapun yang melalui mulut
(wajur), karena hal ini menumbuhkan daging dan membentuk tulang, maka sama saja dengan
menyusu. Sedangkan lewat hidung (sauth), karena merupakan jalan yang dapat membatalkan
puasa, maka ia juga menjadi jalan terjadinya pengharaman (perkawinan) karena susuan,
sebagaimana halnya melalui mulut.
Riwayat kedua, bahwa hal ini tidak menyebabkan haramnya perkawinan, karena kedua cara ini
bukan penyusuan. Disebutkan di dalam al-Mughni Ini adalah pendapat yang dipilih Abu Bakar,
mazhab Daud, dan perkataan Atha al-Khurasani mengenai sauth, karena yang demikian ini
bukan penyusuan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya hanya mengharamkan (perkawinan) karena
penyusuan. Karena memasukkan susu lewat hidung bukan penyusuan (menghisap puting susu),
maka ia sama saja dengan memasukkan susu melalui luka pada tubuh.

Sementara itu, pengarang al-Mughni sendiri menguatkan riwayat yang pertama berdasarkan
hadits Ibnu Masud yang diriwayatkan oleh Abu Daud:
Tidak ada penyusuan1 kecuali yang membesarkan tulang dan menumbuhkan daging
Hadits yang dijadikan hujjah oleh pengarang kitab al-Mughni ini sebenarnya tidak dapat
dijadikan hujjah untuknya, bahkan kalau direnungkan justru menjadi hujjah untuk menyanggah
pendapatnya. Sebab hadits ini membicarakan penyusuan yang mengharamkan perkawinan, yaitu
yang mempunyai pengaruh (bekas) dalam pembentukan anak dengan membesarkan tulang dan
menumbuhkan dagingnya. Hal ini menafikan (tidak memperhitungkan) penyusuan yang sedikit,
yang tidak mempengaruhi pembentukan anak, seperti sekali atau dua kali isapan, karena yang
demikian itu tidak mungkin mengembangkan tulang dan menumbuhkan daging. Maka hadits itu
hanya menetapkan pengharaman (perkawinan) karena penyusuan yang mengembangkan tulang
dan menumbuhkan daging. Oleh karena itu, pertama-tama harus ada penyusuan sebelum segala
sesuatunya (yakni penyusuan itu merupakan faktor yang utama dan dominan; Penj.).
Selanjutnya pengarang al-Mughni berkata, Karena dengan cara ini air susu dapat sampai ke
tempat yang sama jika dilakukan melalui penyusuan serta dapat mengembangkan tulang dan
menumbuhkan daging sebagaimana melalui penyusuan, maka hal itu wajib disamakan dengan
penyusuan dalam mengharamkan (perkawinan). Karena hal itu juga merupakan jalan yang
membatalkan puasa bagi orang yang berpuasa, maka ia juga merupakan jalan untuk
mengharamkan perkawinan sebagaimana halnya penyusuan dengan mulut.
Saya mengomentari pengarang kitab al-Mughni rahimahullah, Kalau illat-nya adalah karena
mengembangkan tulang dan menumbuhkan daging dengan cara apa pun, maka wajib kita
katakan sekarang bahwa mentransfusikan darah seorang wanita kepada seorang anak menjadikan
wanita tersebut haram kawin dengan anak itu, sebab transfusi lewat pembuluh darah ini lebih
cepat dan lebih kuat pengaruhnya daripada susu. Tetapi hukum-hukum agama tidaklah dapat
dipastikan dengan dugaan-dugaan, karena persangkaan adalah sedusta-dusta perkataan, dan
persangkaan tidak berguna sedikit pun untuk mencapai kebenaran.
Menurut pendapat saya, asy-Syari (Pembuat syariat) menjadikan asas pengharamnya itu pada
keibuan yang menyusukan sebagaimana firman Allah ketika menerangkan wanita-wanita yang
diharamkan mengawininya:
dan ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perempuanmu sepersusuan (an-Nisa:
23)
Adapun keibuan yang ditegaskan Al-Quran itu tidak terbentuk semata-mata karena
diambilkan air susunya, tetapi karena menghisap teteknya dan selalu lekat padanya sehingga
melahirkan kasih sayang si ibu dan ketergantungan si anak. Dari keibuan ini maka muncullah

persaudaraan sepersusuan. Jadi, keibuan ini merupakan asal (pokok), sedangkan yang lain itu
mengikutinya.
Dengan demikian, kita wajib berhenti pada lafal-lafal yang dipergunakan Syari di sini.
Sedangkan lafal-lafal yang dipergunakanNya itu seluruhnya membicarakan irdha dan radhaah
(penyusuan), dan makna lafal ini menurut bahasa Al-Quran dan As-Sunnah sangat jelas dan
terang, yaitu memasukkan tetek ke mulut dan menghisapnya, bukan sekadar memberi minum
susu dengan cara apa pun.
Saya kagum terhadap pandangan Ibnu Hazm mengenai hal ini. Beliau berhenti pada petunjuk
nash dan tidak melampaui batas-batasnya, sehingga mengenai sasaran, dan menurut pendapat
saya, sesuai dengan kebenaran.

Es krim asi
Sebuah kedai es krim di London lain dari pada lain, betapa tidak kedai ini menjual
es krim berbahan dari air susu (ASI). Icecreamists, yang berlokasi di Covent Garden,
menamakannya Baby Gaga dan dijual seharga 14 pound (Rp 200 ribu). Victoria
Hiley,35, dari Leeds, menyatakan 30 ons ASI cukup untuk melayani 50 pesanan.
Namun perusahaan itu mencari lebih banyak perempuan untuk pasokan susu dan
mereka memberikan 15 pound (Rp 214 ribu) untuk setiap 10 ons yang melalui
pompa payudara.

Resepnya mencampurkan ASI dengan vanila Madagaskar dan perasan lemon, yang
kemudian dicurahkan ke es krim. Pelayan berkostum Baby Gaga melayani
permintaan es krim itu dalam gelas martini yang diisi dengan campuran es krim
ASI. Nitrogen cair kemudian dituangkan ke gelas melalui suntikan dan diberikan
dengan roti panggang. Pesanan itu dapat disertai dengan wiski atau koktail lain
sesuai pesanan.

Salah seorang ibu mengatakan: "Saya melihat iklan yang akan membayar wanita
yang mendonasikan ASI di sebuah forum dan membuat saya tertawa." "Begitu
banyak komentar dan orang-orang berdebat apakah asli. Oleh karena itu saya ingin
mencari tahu," ujarnya.

13 wanita telah sukarela mendonasikan ASI mereka. Untuk menjaga standar tinggi,
pengecekan kesehatan air susu ibu sama dengan yang digunakan NHS untuk
mengecek pendonor darah. Victoria bekerja bersama dengan wanita yang memiliki
masalah menyusui bayi mereka. Dia mengatakan dirinya percaya jika orang dewasa
menyadari betapa enak ASI, ibu-ibu baru akan lebih termotivasi untuk menyusui
bayinya. "Anda dapat membuktikan bahwa ini adalah es krim yang sehat," kata
Victoria.