Anda di halaman 1dari 36

BANK ASI DAN BANK SPERMA BAB I PENDAHULUAN Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang terbaik

bagi bayi, karena pengolahannya telah berjalan secara alami dalam tubuh si ibu. Sebelum anak lahir, makanannya telah disiapkan lebih dahulu. Begitu anak itu lahir, air susu ibu telah dapat dimanfaatkan. Demikian kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya. Karena begitu pentingnya asi tersebut, maka orang mungkin mendapatkannya pada Bank Asi, sekiranya air susu ibu itu tidak memadai atau karena bayi itu berpisah tempat pada ibunya. Dan pada pembahasan ini juga akan dikemukakan mengenai tujuan perkawinan, diantaranya untuk melanjutkan keturunan dan menentram kan jiwa. Keturunan tidak diperoleh karena adakalanya si suami mandul (tidak subur), sedang suami istri menginginkan anak. Demikian juga halnya suatu keluarga jiwanya tidak merasa tenang dan tenteram, apabila dalam keluarganya tidak ada anak sebagai penghibur hati. Ada orang yang berupaya untuk mendapatkan anak,dengan jalan mengangkat atau memungut anak dan adakalanya dengan jalan menerima sperma dari donor yang telah tersimpan pada Bank Sperma. BAB II PEMBAHASAN A. BANK ASI 1. Latar Belakang dan Pengertian Bank ASI Kehalalan air susu ibu, tidak ada yang meragukannya, baik air susu ibu si bayi, maupun air susu wanita lain, bila air susunya tidak memadai, atau karena suatu hal, ibu kandung si bayi itu tidak dapat mentusuinya. Nabi Muhammad sendiri pernah dititipkan kepada Halimahtussadiyah untuk disusukan dan diperlihara/ didiknya. Perlu kita diketahui, bahwa yang dimaksud dengan kata-kata menyusui bukanlah hanya terbatas kepada menghisap tetek saja, tetapi meliputi juga susu yang diperah dari seorang ibu, walaupun dicampur dengan benda lain, atau sudah menjadi beku seumpamanya dibuat keju atau makanan lainnya. Bank ASI, yaitu suatu sarana yang dibuat untuk menolong bayi-bayi yang tak terpenuhi kebutuhannya akan ASI. Di tempat ini, para ibu dapat menyumbangkan air susunya untuk diberikan pada bayi-bayi yang membutuhkan. 2. Bank Susu Dalam Pandangan Islam Andai kata ad diantara wanita yang rela menyerahkan susunya pada Bank Asi, maka air susu itu sama saja seperti darah yang disumbangkan untuk kemaslahatan umat. Sebagaimana darah yang boleh diterima dari siapa saja dan boleh diberikan kepada siapa saja yang memerlukannya, maka air susupun demikian hukumnya. Bedanya ialah darah adalah najis. Sedang air susu bukan najis. Oleh sebab itu, darah baru dapat dipergunakan dalam keadaan darurat atau terpaksa. Tujuan diadakannya bank air susu ibu (ASI) merupakan tujuan yang mulia, yang didukung oleh Islam, untuk memberikan pertolongan kepada semua yang lemah, adapun sebab kelemahannya. Lebih-lebih bila yang bersangkutan adalah bayi yang lahir prematur yang tidak mempunyai daya dan kekuatan. Perumpuan yang menyumbangkan sebagian air susunya untuk makanan golongan anak-anak lemah ini akan mendapatkan pahala dari Allah dan terpuji di sisi manusia. Bahkan air susu seorang perumpuan itu boleh dibeli darinya, jika ia tidak berkenan menyumbangkan sebagaimana ia diperbolehkan mencari upah dengan menyusui anak orang lain. Yayasan yang bergerak dalam bidang pengumpulan air susu itu patut mendapatkan ucapan terima kasih dan jasa yang besar dalam memberikan pelayanan di bidang ASI. Sebuah permasalahan yang akan timbul kemudian hari adalah ketika anak itu tumbuh menjadi remaja dan kemudian menjadi dewasa, yang suatu ketika hendak

menikah dengan salah seorang dari putra-putri dari bank susu tersebut. Menurut hukum Islam, saudara radhaah (sepersusuan) merupakan muhrim yang tidak boleh melakukan pernikahan antara dua orang saudara radhaah. 3. Perdebatan di Sekitar Radhaah (sepersususan) Dalam Konteks Bank Susu Makna radha (penyusuan) yang menjadi acuan syara dalam menetapkan pengharaman (perkawinan), menurut jumhur fuqaha (termasuk tiga orang imam mazhab, yakni Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafii), ialah segala sesuatu yang sampai keperut bayi melalui kerongkongan atau lainnya, dengan cara mennghisap atau lainnya, seperti dengan al-wajur, yakni menuanngkan air susu lewat mulut ke kerongkongan, bahkan mereka menyamakan pula dengan as-sauth, yaitu menuangkan air susu ke hidung (lantas ke kerongkongan), dan ada pula yang berlebihan dengan menyamakan dengan suntikan sekalipun melalui dubur. Ada beberapa pandangan yan berbeda dengan pandangan yang yang diatas, yaitu sebagai berikut. a. Imam Al-Laits bin Saad, yang hidup sezaman dengan Imam Malik dan sebanding (ilmunya) dengan beliau, golongan Zhahiriyah, dan satu riwayat Imam Ahmad menentang pendapat di atas. b. Ibnu Qudamah menyebutkan dua riwayat dari Imam Ahmad mengenai alwajur dan as-sauth. 1) Riwayat dari Imam Ahmad dan sesuai dengan jumhur ulama, bahwa pengharaman itu terjadi melalui keduanya. Adapun yang melalui mulut (wajur), karena itu menumbuhkan daging dan membentuk tulang, maka sama saja dengan menyusu. Sedangkan yang melalui hidung (as-sauth), karena merupakan jalan yang dapat membatalkan puasa, maka ia juga menjadi jalan terjadinya pengharaman (perkawinan) karena susuan, sebagaimana halnya melalui mulut. 2) Bahwa hal tersebut tidak menyebebkan haramnya perkawinan, karena kedua cara ini bukan penyusuan. c. Disebut di dalam kitab Al-Mughni dan ini merupakan pendapat yang dipilih Abu Bakar, Mazhab Dawud, dan Atha. Menurut Atha Al-Khurasani mencapai as-sauth, karena yang demikian ini bukan penyusuan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya hanya mengharamkan (perkawinan) karena penyusuan. Karena memasukan susu melalui hidung bukan penyusuan (menghisap puting susu), maka ia sama saja dengan memasukan susu melalui luka pada tubuh. Sementara pengarang kitab Al-Mughni sendiri menguatkan riwayat yang pertama, berdasarkan hadist Ibnu Masud yang diriwayatkan oleh Abu Dawud: Tidak ada penyusuan kecuali yang membesarkan tulang dan menumbuhkan daging. (HR. Abu Dawud) Penulis kitab Al-Mughni berkata, karena dengan cara ini dapat sampai ke tempat yang sama (jika dilakukan melalui penyusuan) serta dapat mengembangkan tulang dan menumbuhkan daging sebagaimana melalui penyusuan, maka hal itu wajib disamakan dengan penyusuan dalam mengharamkan (perkawinan). Karena hal itu juga merupakan jalan yang membatalkan puasa bagi orang yang berpuasa, maka ia juga merupakan jalan untuk mengharamkan perkawinan sebagaimana halnya penyusuan dengan mulut. d. Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fatwa-Fatwa Kontemporer berkata, kalau illat-nya adalah mengembangkan tulang dan menumbuhkan dagingdengan cara apa pun, maka wajib kita katakan sekarang bahwa menstransfusikan darah seorang wanita kepada seorang anak menjadikan wanita tersebut haram kawin dengan anak itu, sebab transfusi darah melalui pembuluh darah ini lebih cepat dan lebih kuat pengaruhnya dari pada susu. Menurutnya, pembuat syariat menjadikan asas pengharaman itu pada keibuan yang

menyusukan sebagaimana firman-Nya: &? 6 & | 3 #9 & 6 #9 | Dan ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perumpuanmu sepersusuan. (An- Nisa (4): 23). Adapun keibuan yang ditegaskan Al-Quran itu tidak terbentuk semata-mata diambilkan air susunya, tetapi karena menghisap teteknya dan selalu lekat padanya sehingga melahirkan kasih sayang si ibu dan ketergantungan si anak. Dari keibuan ini maka muncullah persaudaraan sepersusuan. Jadi, keibuan ini merupakan asal (pokok), sedangkan yang lain mengikutinya. Sebagaimana pendapat Ibnu Hazm, ia berkata: Adapun sifat penyusuan yang mengharamkan (perkawinan) hanyalah yang menyusu dengan cara menghisap tetek wanita yang menyusui dengan mulutnya. Sedangkan orang yang diberi minum susu sseorang wanita dengan menggunakan bejana atau dituangkan kedalam mulutnya kemudian ditelannya, dimakan bersama roti atau dicampur dengan makanan lain, dituang ke dalam mulut, hidung atau telinganya, atau dengan suntikan, maka yang demikian itu sama sekali tidak mengharamkan (perkawinan), meskipun sudah menjadi makanannya sepanjang masa. e. Abu Muhammad berkata: Orang-orang berbeda pendapat mengenai hal di atas. Abu Al-Laits bin Saad berkata: Memasukan air susu perumpuan melalui hidung tidak menjadikan haramnya perkawinan dan tidak mengharamkan perkawinan pula jika anak tersebut diberi minum air susu si perumpuan yang dicampur dengan obat, karena hal tersebut bukan penyusuan. 4. Bank ASI di Luar Negeri dan di Indonesia Di Australia, ibu yang ingin menyumbangkan air susunya harus mendaftarkan diri dulu ke bank ASI. Setelah melalui tes kesehatan dan telah dipastikan tak ada infeksi yang bisa ditularkan ibu penyumbang melalui air susunya ke bayi, air susu diperah lalu dibekukan. Tak ada jumlah minimal berapa mililiter air susu yang harus disumbangkan. Bayi prematur biasanya minum susu kurang dari 20 ml, jadi sesedikit apapun susu yang disumbang, diterima oleh bank. Bank lalu mengumpulkan susu perahan tersebut, melakukan proses pasturisasi dan mengetes kembali keamanannya untuk dikonsumsi. Susu kemudian kembali dibekukan dan didistribusikan ke berbagai rumah sakit untuk diberikan pada bayi-bayi yang membutuhkan. Pemilihan dan proses pengetesan air susu ibu sama dengan proses yang dilakukan bank darah. Hal ini sukses dilakukan sebuah bank ASI di Inggris, karena selama 30 tahun beroperasi, belum pernah ada kasus bayi tertular infeksi melalui air susu dari ibu penyumbang. Ibu yang ingin menyumbangkan air susunya dituntut prima kesehatannya, tidak merokok, tidak menggunakan obat-obatan, tidak mengonsumsi alkohol. Mereka juga tak boleh mengonsumsi kafein, dan harus melalui tes yang menyatakan mereka bebas HIV dan hepatitis B. Proses pasturisasi akan menghancurkan bakteri. Setelah itu, air susu akan diuji lagi untuk diketahui apakah masih ada bakteri sebelum kembali dibekukan, kata Marea. Jika masih ditemukan sisa bakteri di dalamnya, maka susu tersebut akan dibuang. Dr. Jeanne Purnawati, Ketua POKDI ASI PK St. Carolus Jakarta juga sangat mendukung adanya bank ASI. Tujuan bank ASI sangat bagus dan mulia. Unicef dan WHO pun sangat mendukung adanya bank ini, katanya. Dr. Jeanne mengatakan, klinik Laktasi Carolus juga pernah melakukan praktek seperti yang dilakukan bank ASI, dengan berbekal berbagai literatur mengenai bank ASI di luar negeri serta pernyataan setuju dari 5 pemuka agama di Indonesia. Tapi nyatanya, praktek

tersebut hanya dapat berjalan selama 3 tahun. Kami memutuskan untuk menghentikannya, karena saat itu kami hanya mampu melakukan tes kesehatan dan wawancara untuk calon ibu penyumbang. Tak ada screening dan teknik pasturisasi canggih seperti yang dilakukan bank ASI di luar negeri. Oleh sebab itu, kami tak dapat menjamin air susu sumbangan ibu 100% aman. Memang sepertinya alternatif yang sangat bagus untuk bayi dan ibu ini masih jauh dari jangkauan negara kita. Karena seperti kata Dr. Jeanne lagi, butuh proses yang panjang dan biaya sangat mahal untuk mengadakannya. Dr. Yusfa Rasyid dari RS YPK Jakarta juga mengeluarkan pernyataan yang sama. Bank ASI adalah isu yang besar dan luar biasa. Oleh sebab itu, banyak PR yang harus dilakukan terlebih dahulu di Indonesia sebelum bisa sampai ke sana. B. BANK SPERMA 1. Latar Belakang dan Pengertian Bank Sperma Daniel Rumondor memberikan isyarat bahwa inseminasi buatan agaknya di ilhami oleh keberhasilan Syeikh-syeikh Arab memperanakkan kuda sejak tahun 1322. Dan juga karena Rusia mencemaskan akibat perang atom, maka Stalin menyetujui pendapat yang dilontarkan oleh Prof. Dr. I. I. Kuperin untuk mendirikan Bank Ayah atau Bank Sperma. Bahkan pada tahun 1968 Khruschov, dengan adanya Bank Sperma itu, ingin mengumpulkan sperma orang-orang yang jenius dalam lapangan ilmu pengetahuan, peperangan, sastra dan lain-lain yang akan dikembangbiakkan kepada gadis-gadis yang sehat, cantik, serta ber-IQ tinggi agar nantinya terbentuk generasi yang jenius. Bank sperma didirikan untuk memenuhi keperluan orang yang menginginkan anak, tetapi dengan berbagai sebab, sperma suami tidak mungkin dibuahkan dengan sel telur (ovum) si isteri. Dengan demikian, atas kesepakatan suami isteri, dicarikan donor sperma. Dari pendapat diatas dapat kita simpulkan mengenai latar belakang Bank Sperma adalah, ssebagai berikut: 1) keinginan memperoleh atau menolong untuk memperoleh keturunan; 2) menghindarkan kepunahan manusia; 3) memperoleh generasi jenius atau orang super; 4) memilih suatu jenis kelamin; 5) mengembangkan teknologi kedokteran. Bank sperma adalah pengambilan sperma dari donor sperma lalu di bekukan dan disimpan ke dalam larutan nitrogen cair untuk mempertahankan fertilitas sperma. Dalam bahasa medis bisa disebut juga Cryiobanking. cryiobanking adalah suatu teknik penyimpanan sel cryopreserved untuk digunakan di kemudian hari. 2. Landasan Hukumnya: Hadits: Tidak halal (diharamkan)bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian menumpahkan air (sperma)-nya ditempat persemaian (rahim) wanita lain. (Hadits riwayat Abu Daud, Turmudji dan di angggap sahih oleh Ibn Hibban, tapi dianggap Hasan oleh al-Bazzar). Dan hadits: Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah setelah syirik selain sperma yang dituangkan oleh seorang laki-laki di rahim seorang wanita yang tidak halal baginya. 3. Tinjauan Hukum Islam Tentang Bank Sperma berikut tinjauan hukum Islam terhadap bank sperma dilihat dari analisis asal dan tempat penanaman sperma adalah sebagai berikut. a) Bibit dari suami-isteri dan ditanam pada isteri. Inseminasi buatan yang bibitnya berasal dari sperma suami dan ovum isteri, jika dikaitkan dengan batasan nikah dan zina, maka ia bukan termasuk kategori zina karena suami-isteri tersebut telah terikat dengan akad nikah. Oleh sebab itu pertemuan sperma dan ovumnya dihalalkan. b) Bibit dari suami-isteri dan ditanamkan pada orang lain. Dalam kasus ini Lembaga

Fiqih Islam OKI menghukumi haram karena dikhawatirkan pencampuran nasab dan hilangnya keibuan serta halangan syara lainnya. Majelis Ulama DKI Jakarta juga menghukumi haram. c) Sperma suami yang telah meninggal dan ovum isteri ditanam pada rahim isteri. Pembuahan ovum dengan sperma dari suami yang telah meninggal tidak dapat dibenarkan oleh Islam, karena keduanya sudah tidak ada hubungan pernikahan lagi. d) Sperma laki-laki lain dibuahkan dengan ovum wanita lain dan ditanam pada wanita yang tidak bersuami. Di atas telah dinyatakan bahwa pembuahan hanya dihalalkan bagi orang yang memiliki ikatan pernikahan yang sah. Oleh karena itu inseminasi model ini tidak dibenarkan. e) Sperma suami dibuahkan dengan ovum wanita lain (donor) dan ditanam pada isteri. Walaupun isteri sendiri yang dijadikan tempat penanaman embrio, tetapi karena konsepsinya berasal dari pembuahan bibit yang tidak memiliki ikatan pernikahan yang sah, maka inseminasi model ini juga tidak dibenarkan. f) Sperma laki-laki lain (donor) dibuahkan dengan ovum isteri dan ditanamkan pada rahim isteri. Inseminasi model ini sama halnya dengan inseminasi model huruf e, yaitu walaupun ovum dan tempat penanaman bibit ada pada isteri sendiri namun karena sperma dari orang lain maka diharamkan oleh Islam. g) Sperma laki-laki lain (donor) dibuahkan dengan ovum wanita lain (donor) dan ditanamkan pada rahim isteri. Bibit yang berasal dari donor yang tidak memiliki ikatan pernikahan yang sah, sebagaimana uraian terdahulu, tidak dibenarkan oleh Islam. Akan tetapi jika bibit berasal dari pasangan suami-isteri yang sah kemudian dititipkan kepada isteri, maka ia hanya menjadi tempat penitipan. Embrio yang dititipkan itu tidak mempengaruhi sel telur tempat embrio berkembang baik untuk menjadi manusia sempurna. Kasus ini dapat disamakan dengan inseminasi buatan model kedua diatas. h) Bibit dari suami-isteri dan dititipkan kepada rahim isteri yang lain (karena poligami). Kalau dapat dihindari adanya percekcokan di belakang hari, maka inseminasi model terakhir ini dapat disamakan dengan model kedua dan ke tujuh. Perbedaannya pada adanya ikatan pernikahan karena poligami. Secara hukum diperbolehkan tetapi ssecara etis perlu diperhatikan efek sampingnya sebagaimana halnya dengan ibu titipan. DEWAN PIMPINAN MAJELIS ULAMA INDONESIA: Dalam malah munculnya bank sperma ada juga yang berpendapat hal ini, Terdapat dua hukum yang perlu difahami di sini, pertama, hukum kewujudan bank sperma itu sendiri dan kedua, hukum menggunakan khidmat bank tersebut yakni mendapatkan sperma lelaki untuk disenyawakan dengan sel telur perempuan bagi mewujudkan satu kehamilan dengan cara enseminasi buatan. Pertama dari segi hukum kewujudan bank sperma itu sendiri, maka hal ini tidaklah dengan sendirinya menjadi satu keharaman, selama mana bank tersebut mematuhi Hukum Syara dari segi operasinya. Ini kerana dari segi hukum, boleh saja mana-mana suami menyimpan air mani mereka di dalam bank sperma hanya untuk isterinya apabila keadaan memerlukan, Namun begitu, sperma itu mestilah dihapuskan apabila si suami telah meninggal. Sperma tersebut juga mesti dihapuskan jika telah berlaku perceraian (talaq bain) di antara suami isteri. Di dalam kedua-dua kes ini (kematian suami dan talaq bain), jika (bekas) isteri tetap melakukan proses memasukkan sel yang telah disimpan itu ke dalam rahimnya, maka dia (termasuk doktor yang mengetahui dan membantu) telah melakukan keharaman dan wajib dikenakan tazir. kedua menggunakan khidmat bank sperma tersebut yakni mendapatkan sperma lelaki untuk disenyawakan dengan

sel telur perempuan bagi mewujudkan satu kehamilan dengan cara enseminasi buatan hal ini juga sama seperti pendapat yang tela dijelaskan diatas yang dibolehkan hanya percampuran antara sperma suaminya sendiri dengan ovum isterinya sendiri. 4. Hubungan Bank Sperma Dan Perkawinan Kehadiran bank sperma menjadikan pengaruh yang sangat bersar terhadap seorang suami isteri atau juga pada seorang gadis yang tidak mau kawin tapi pingin punya anak hal itu tidak asing lagi itu bisa terjadi dengan kemajuan tegnologi sekarang ini seperti adanya bank sperma tinggal beli aja lalu di suntikkan kedalam alat kelaimin perempaun di dalam rahimnya yang akan bergabung dengan ovum baru bisa hamil. Seperti yang di lakukan oleh Nona Afton Blake. IQ-nya 130+ belum kawin yang melahirkan anak bernama Doron Blake, disebut bayi ajaib sebelum berumur dua tahun, ia sudah lancar berbicara. Ketika pas berusia dua tahun, majalah Newsweek memuat gambarnya sedang bermain piano. Bahkan dia juga sudah menguasai satu alat musik modern kegemarannya, Electronic Music Synthesizer. Dia lahir berkat jasa "Bank Sperma Nobel" -nama populer sebuah badan yang sebenarnya bernama Repository for Germinal Choise. Ayahnya adalah sperma dengan kode nomor 28, berasal dari seorang jenius di bidang komputer dan musik klasik. 5. Bank Sperma di Luar Negeri dan di Indonesia Bank sperma sebenarnya talah berdiri beberapa tahun yang lalu, pada tahun 1980 di Escondido California yang didirikan oleh Robert Graham, si kakek berumur 73 tahun, juga di Eropah, Dan di Guangdong Selatan China, yang merupakan satu di antara lima bank sperma besar di China, Sementara itu, Bank pusat sel embrio di Shanghai, bank besar lain dari lima bank besar di China, meluncurkan layanan baru yang mendorong kaum lelaki untuk menabung spermanya, demikian laporan kantor berita Xinhua. Bank tersebut menawarkan layanan penyimpanan sperma bagi kaum lelaki muda yang tidak berencana untuk punya keturunan, namun mereka takut kalau nanti mereka tidak akan menghasilkan semen yang cukup secara jumlah dan kualitas, ketika mereka berencana untuk memiliki keluarga. Guangzhou,Tingginya permintaan membuat bank sperma di China mengalami kekurangan pasokan. Salah satunya terjadi di Guangdong. Kelangkaan itu membuat pasangan yang sudah mendaftarkan diri harus menunggu beberapa bulan. "Masih banyak lelaki yang malu untuk datang dan mendonorkan sperma mereka," kata Tang Lixin, dokter senior bank sperma. Bank sperma mulai berperan penting untuk membantu pasangan yang ingin mendapatkan anak, namun terhadang kemandulan. Survei terakhir menunjukkan, 10 juta pasangan menderita kemandulan. Untuk mengatasi kelangkaan tersebut, bank tadi harus memburu pendonor ke seluruh negeri, bahkan sampai ke komunitas China di Amerika Selatan. Dalam 18 bulan terakhir, bank yang memiliki lima cabang di seluruh China itu hanya memiliki 350 donor yang telah lolos pemeriksaan kesehatan.Cara lain adalah menawarkan layanan penyimpanan sperma remaja, yang belum berencana memiliki anak dalam waktu dekat. Mereka bisa memanfaatkannya kelak ketika sudah berkeluarga dan siap memiliki anak.Cara tersebut dinilai riskan. "Penyimpanan sperma tidak sama dengan menyimpan uang di bank. Sangat mungkin menyimpan sperma, tapi kemudian menemukan bahwa sperma tersebut tidak bisa membuahi telur setelah bertahun-tahun di bekukan," kata Li Zheng, seorang dokter di Rumah Sakit Renji, Shanghai Program fertilisasi in vitro (FIV) fakultas kedokteran UI juga menyaratkan agar sperma untuk keperluan inseminasi

buatan diambil atau dikeluarkan di rumah sakit. Jadi sama halnya cara mengeluarkan sperma di bank sperma. Tetapi kalau untuk Bank spermanya sendiri di Indonesia sampai saat ini masih belum ada. http://perbandinganmazhab.blogspot.com/2010/01/bank-asi-dan-bank-sperma.html

Pengertian Transfusi Darah


Transfusi Darah adalah proses pemindahan darah dari seseorang yang sehat (donor) ke orang sakit (respien). Darah yang dipindahkan dapat berupa darah lengkap dan komponen darah. TUJUAN TRANSFUSI DARAH

Memelihara dan mempertahankan kesehatan donor. Memelihara keadaan biologis darah atau komponen komponennya agar tetap bermanfaat. Memelihara dan mempertahankan volume darah yang normal pada peredaran darah (stabilitas peredaran darah). Mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah. Meningkatkan oksigenasi jaringan. Memperbaiki fungsi Hemostatis. Tindakan terapi kasus tertentu.

MACAM TRANSFUSI DARAH 1. Darah Lengkap/ Whole Blood (WB) Diberikan pada penderita yang mengalami perdarahan aktif yang kehilangan darah lebih dari 25 %. 2. Darah Komponen

Sel Darah Merah (SDM) : Sel Darah Merah Pekat : Diberikan pada kasus kehilangan darah yang tidak terlalu berat, transfusi darah pra operatif atau anemia kronik dimana volume plasmanya normal. Sel Darah Merah Pekat Cuci : Untuk penderita yang alergi terhadap protein plasma.Sel Darah Merah Miskin Leukosit : Untuk penderita yang tergantung pada transfusi darah. Sel Darah Merah Pekat Beku yang Dicuci : Diberikan untuk penderita yang mempunyai antibodi terhadap sel darah merah yang menetap. Sel Darah Merah Diradiasi : Untuk penderita transplantasi organ atau sumsum tulang. LEUKOSIT/ GRANULOSIT KONSENTRAT : Diberikan pada penderita yang jumlah leukositnya turun berat, infeksi yang tidak membaik/ berat

yang tidak sembuh dengan pemberian Antibiotik, kualitas Leukosit menurun. TROMBOSIT : Diberikan pada penderita yang mengalami gangguan jumlah atau fungsi trombosit. PLASMA dan PRODUKSI PLASMA : Untuk mengganti faktor pembekuan, penggantian cairan yang hilang. Contoh : Plasma Segar Beku untuk prnderita Hemofili.Krio Presipitat untuk penderita Hemofili dan Von Willebrand

http://utdd-pmijateng.blogspot.com/2007/08/pengertian-transfusi-darah.html

Hukum Islam tentang Transfusi Darah


oleh: kumpulanistilahcom

Summary rating: 2 stars (1 Tinjauan) Kunjungan : 845 kata:300 Comments : 1

More About : hukum transfusi darah Tranfusi darah dimaksudkan adalah untuk menolong manusia yang sedang membutuhkan dalam menyelamatkan jiwanya. ajaran islam bahkan menganjurkan orang untuk menyumbangkan darahnya demi kemanusiaan, bukan untuk komersialisasi. tujuan mulia tersebut tentu saja harus dibarengi dengan niat yang ikhlas untuk menolong orang lain. Perbuatan itu termasuk amal kemanusiaan yang dianjurkan agama (mandub), karena sesuai dengan firman Allah : Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Al Maidah 5 : 32) dalam transfusi darah itu, tidak dipersyaratkan adanya kesamaan agama / kepercayaan antara donor (pemberi) maupun resipien (penerima). semua dilakukan untuk menolong dan menghormati harkat dan martabat manusia. dengan demikian, bahwa hukum transfuse darah menurut Islam adalah boleh, karena tidak adanya hadis atau ayat yang jelas dan tegas melarangnya. Mengingat semua jenis darah termasuk darah manusia adalah najis, maka timbul pertanyaan : bolehkah memperdagangkan darah? disini mahzab Hanafi dan Dzahiri menyatakan bahwa jual beli barang najis yang ada manfaatnya bagi manusia seperti kotoran hewan hukumnya boleh, maka secara analogis mahzab ini berpendapat bahwa jual beli darah juga hukumnya boleh. akan tetapi secara etis dan moral hal ini sangat tercela, karena bertentangan dengan tujuan semula yang mulia yakni menyelamatkan jiwa manusia. Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2071372-hukum-islamtentang-transfusi-darah/#ixzz1q64IVLup

Hukum Transfusi Darah


Ditulis oleh Cak Arifin pada 10:57 Hukum asal dalam pengobatan adalah bahwa pengobatan hendaknya menggunakan sesuatu yang diperbolehkan menurut syariat. Namun apabila tidak ditemui cara lain untuk menambah daya tahan dan mengobati orang sakit kecuali dengan darah orang lain, dan ini menjadi satu-satunya usaha menyelamatkan orang sakit atau lemah, dan para ahli memiliki dugaan kuat bahwa ini akan memberikan manfaat pada si pasien, maka dalam kondisi demikian diperbolehkan untuk mengobati dengan menggunakan darah orang lain. Berdasarkan firman Allah SWT: Artinya: Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 173) Dan pada ayat yang lain Artinya: Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya... (QS. Al-Anam: 119) Dari uraian di atas terdapat tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam melakukan transfusi darah. Pertama. Siapakah orang yang akan diberi tambahan darah? Orang yang perlu diberi tambahan darah ialah orang yang sakit atau terluka, yang keberlangsungan hidupnya sangat bergantung pada transfusi darah. Kedua. Siapakah si pendonor darah? Si pendonor darah adalah orang yang tidak terancam resiko jika ia menodonorkan darahnya. Berdasarkan keumuman sabda Rasulullah SAW: Artinya: Tidak membahayakan diri dan orang lain. [Riwayat Imam Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syekh Muhammad Nashiruddi al-Albani] Bagaimana jika pendonornya adalah seorang non-muslim? Dengan menggunakan dalil-dalil dari Al Quran sebagaimana tersebut di atas, maka melakukan transfusi darah dari non-muslim hukumnya boleh. Dan yang ketiga, siapakah yang menjadi rujukan dalam hal perlu tidaknya transfusi darah ini? Orang yang didengar ucapannya dalam masalah perlu tidaknya transfusi darah ini adalah dokter muslim. Jika kesulitan mendapatkannya, maka diperbolehkan (bahkan tidak ada larangan) untuk mendengar ucapan dari dokter non-muslim, jika ia ahli dan dipercaya banyak orang. Dalilnya yaitu kisah yang terdapat dalam hadits shohih, bahwa pada saat melakukan hijrah, rasulullah SAW menyewa seorang musyrik yang lihai sebagai pemandu jalan.

Wallahu alam. Dirangkum dari: al-Fatawa al-Muta'alliqah bith Thibbi wa Ahkaami al-Mardha, hal 346 - 349 http://torelenggi.blogspot.com/2009/04/hukum-asal-dalam-pengobatan-adalah.html Pandangan Hukum Islam Terhadap Transplantasi Organ Tubuh Dan Tranfusi Darah Diposting oleh : Teguh Yudi C Kategori: Artikel - Dibaca: 11983 kali

A. Pengertian Transplantasi atau pencangkokan organ tubuh adalah pemindahan organ tubuh tertentu yang mempunyai daya hidup yang sehat, dari seseorang untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat atau tidak berfungsi dengan baik milik orang lain. Orang yang anggota tubuhnya dipindahkan disebut donor (pen-donor), sedang yang menerima disebut repisien. Cara ini merupakan solusi bagi penyembuhan organ tubuh tersebut karena penyembuhan/pengobatan dengan prosedur medis biasa tidak ada harapan kesembuhannya. Ditinjau dari segi kondisi donor (pendonor)-nya maka ada tiga keadaan donor: 1. 2. 3. donor dalam keadaan hidup sehat; donor dalam kedaan sakit (koma) yang diduga kuat akan meninggal segera; donor dalam keadaan meninggal.

Organ tubuh yang banyak didonorkan adalah mata, ginjal dan jantung. Namun sejalan dengan perkembangan iptek modern, transplantasi pada masa yang akan datang tidak terbatas pada ketiga organ tubuh tersebut saja. Tapi bisa berkembang pada organ tubuh-tubuh lainnya. B. Pandangan Hukum Islam Terhadap Transplantasi Organ Tubuh Bagaimana hukum transplantasi tersebut menurut hukum Islam? Dibolehkan ataukah diharamkan?

Untuk menentukan hukum boleh tidaknya transplantasi organ tubuh, perlu dilihat kapan pelakasanaannya. Sebagaimana dijelaskan ada tiga keadaan transplantasi dilakukan, yaitu pada saat donor masih hidup sehat, donor ketika sakit (koma) dan didiuga kuat akan meninggal dan donor dalam keadaan sudah meninggal. Berikut hukum transplantasi sesuai keadaannya masingmasing. Pertama, apabila pencangkokan tersebut dilakukan, di mana donor dalam keadaan sehat wal afiat, maka hukumnya menurut Prof Drs. Masyfuk Zuhdi, dilarang (haram) berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut: 1. Firman Allah dalam surat Al-Baqaroah: 195

Artinya:Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu hke dalam kebinasaan Dalam kasus ini, orang yang menyumbangkan sebuah mata atau ginjalnya kepada orang lain yang buta atau tidak mempunyai ginjal ia (mungkin) akan menghadapi resiko sewaktu-waktu mengalami tidak normalnya atau tidak berfungsinya mata atau ginjalnya yang tinggal sebuah itu (Ibid, 88). 2. Kaidah hukum Islam: Artinya:Menolak kerusakan harus didahulukan atas meraih kemaslahatan Dalam kasus ini, pendonor mengorbankan dirinya dengan cara melepas organ tubuhnya untuk diberikan kepada dan demi kemaslahatan orang lain, yakni resipien. 3. Kaidah Hukum Islam: Artinya Bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya lainnya. Dalam kasus ini bahaya yang mengancam seorang resipien tidak boleh diatasi dengan cara membuat bahaya dari orang lain, yakni pendonor. Kedua, apabila transplantasi dilakukan terhadap donor yang dalam keadaan sakit (koma) atau hampir meninggal, maka hukum Islam pun tidak membolehkan (Ibid, 89), berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut: 1. Hadits Rasulullah: Artinya:Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membayakan diri orang lain. (HR. Ibnu Majah). Dalam kasus ini adalah membuat madaharat pada diri orang lain, yakni pendonor yang dalam keadaan sakit (koma). 2. Orang tidak boleh menyebabkan matinya orang lain. Dalam kasus ini orang yang sedang sakit (koma) akan meninggal dengan diambil organ tubuhnya tersebut. Sekalipun tujuan

dari pencangkokan tersebut adalah mulia, yakni untuk menyembuhkan sakitnya orang lain (resipien). Ketiga, apabila pencangkokan dilakukan ketika pendonor telah meninggal, baik secara medis maupun yuridis, maka menurut hukum Islam ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Yang membolehkan menggantungkan pada dua syarat sebagai berikut: 1. Resipien dalam keadaan darurat, yang dapat mengancam jiwanya dan ia sudah menempuh pengobatan secara medis dan non medis, tapi tidak berhasil. (ibi, 89). 2. Pencangkokan tidak menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih berat bagi repisien dibandingkan dengan keadaan sebelum pencangkokan. Adapun alasan membolehkannya adalah sebagai berikut: 1. Al-Quran Surat Al-Baqarah 195 di atas. Ayat tersebut secara analogis dapat difahami, bahwa Islam tidak membenarkan pula orang membiarkan dirinya dalam keadaan bahaya atau tidak berfungsi organ tubuhnya yang sangat vital, tanpa ausaha-usaha penyembuhan termasuk pencangkokan di dalamnya. 1. Surat Al-Maidah: 32.

Artinya;Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolaholah ia memelihara kehidupan manusia seluruhnya. Ayat ini sangat menghargai tindakan kemanusiaan yang dapat menyelematkan jiwa manusia. Dalam kasus ini seseorang yang dengan ikhlas menyumbangkan organ tubuhnya setelah meninggal, maka Islam membolehkan. Bahkan memandangnya sebagai amal perbuatan kemanusiaan yang tinggi nilainya, lantaran menolong jiwa sesama manuysia atau membanatu berfungsinya kembali organ tubuh sesamanya yang tidak berfungsi. (Keputusan Fatwa MUI tentang wasiat menghibahkan kornea mata). 1. Hadits

Artinya:Berobatlah wahai hamba Allah, karen sesungguhnya Allah tidak meletakkan penyakit kecuali Dia meletakkan jua obatnya, kecuali satu penyakit yang tidak ada obatnya, yaitu penyakit tua. Dalam kasus ini, pengobatannya adalah dengan cara transplantasi organ tubuh. 1. Kaidah hukum Islam Artinya:Kemadharatan harus dihilangkan

Dalam kasus ini bahaya (penyakit) harus dihilangkan dengan cara transplantasi. 2. Menurut hukum wasiat, keluarga atau ahli waris harus melaksanakan wasiat orang yang meninggal.Dalam kasus ini adalah wasiat untuk donor organ tubuh. Sebaliknya, apabila tidak ada wasiat, maka ahli waris tidak boleh melaksanakan transplantasi organ tubuh mayat tersebut. Pendapat yang tidak membolehkan kornea mata adalah seperti Keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Masalah Apabila transplantasi organ tubuh diperbolehkan, lalu bagaimana apabila organ tubuh tersebut dipakai oleh resipien melakukan tindakan dosa atau tindakan yang berpahala? Dengan kata lain, apakah pemilik organ tubuh asal akan mendapat pahala, jika organ tubuh tersebut dipakai repisien untuk melakukan perbuatan yang baik. Sebaliknya, apakah pendonor akan mendapat dosa apabila organ tubuh tersebut dipakai repisien melakukan dosa? Pendonor tidak akan mendapat pahala dan dosa akibat perbuatan repisien, berdasarkn dalil-dalil berikut ini: 1. Firman Allah:

Artinya:Dan sesungguhnya, tidaklah bagi manusia itu kecuali berdasarkan perbuatannya. Dan perbuatannya itu akan dilihat. Kemudian akan dibalas dengan balasan yang sempurna. 1. Firman Allah:

Artinya:Tidaklah seseorang disiksa karena dosa orang lain. 1. Hadits Rasulullah:

Artinya:Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang berguna dan anak yang shaleh yang mendoakan kepadanya. C. Kesimpulan Dari uaraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Transplantasi organ taubuh yang dilakukan ketika pendonor hidup sehat maka hukumnya haram. 2. Transplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor sakit (koma), hukumnya haram.

3. Transplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor telah meninggal, ada yang berpendapat boleh dan ada yang berpendapat haram

http://www.pabondowoso.com/berita-154-pandangan-hukum-islam--terhadaptransplantasi-organ-tubuh-dan-tranfusi-darah.html Bank ASI Diperbolehkan dalam Islam CIPUTAT - Membuat Bank Air Susu Ibu (ASI) dan Donor ASI tidak ada larangan dalam Islam, selagi pencatatannya yang memberi dan menerima jelas. Selain itu secara medis ibu pendonor harus sehat, seiman dan dari ibu yang memiliki jenis kelamin anak yang sama serta yang paling penting suami dan isteri ikhlas menyumbangkan ASI untuk anak orang lain. Begitulah kesimpulan yang dapat dikutip dari Seminar ASI dan Zakat untuk Berantas Tuntas Gizi Buruk, Perspektif Medis dan Syariah Islam tentang ASI, Ibu persusuan, Bank ASI, yang diadakan Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa (LKC-DD) berkerjasama dengan Pos Sehat Masjid Raya Pondok Indah, Kamis (2/6/2011). Mengenai manfaat ASI disampaikan oleh dr. Ahmad Mediana, SpOG. Ia menjelaskan bahwa ASI mempunyai banyak keajaiban yang sudah ALLAH persiapkan untuk kebutuhan bayi sampai dengan umur 2 tahun. ASI juga memberikan manfaat bagi ibu , sangat ekonomis sehingga tidak memerlukan biaya yang menyulitkan keluarga. Sementara dr Widarni, membahas tentang bahaya susu formula bagi bayi, ibu dan keluarga. Di antaranya dapat menimbulkan alergi, jika dalam pemberianya kurang dari takaran maka bayi akan menjadi kurang gizi dan dalam waktu yang terus menerus dapat mengakibatkan gizi buruk. Risiko lain pemberiannya bisa tidak higienis yang dapat menimbulkan infeksi pada bayi. Dan masih banyak lagi bahaya susu formula bagi bayi dan Ibu atau keluarga, tutur dr. Widarni. Selain dari praktisi medis, ikut menyampaikan makalah LSM Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang diwakili Puti, dimana Puti menjelaskan tentang latar belakang AIMI, misi dan visi, kegiatan-kegiatan AIMI. Tujuan AIMI mensosialisasikan tentang ASI dan berbagai permasalahan dalam proses laktasi. dr Asti Praborini, SpA, IBCLC, membahas dari Perspektif Medis tentang ASI, Ibu persusuan, Bank ASI pada Sesi II seminar tersebut. Menurut dr. Rini, bayi yang tidak diberi ASI akan mudah sakit, meninggal, mudah infeksi, tidak mandiri, tidak mudah mengambil keputusan.

Jika bayi tidak mendapatkan ASI dari ibu kandung, lanjut dr. Rini, ASI dapat diperoleh melalui ASI Donor dan Bank ASI. Di dunia ada beberapa Bank ASI Amerika Selatan 154 buah, Prancis 19 buah, Italia 18 buah, India dan Cina di banyak rumah sakit dan Kuwait 1 buah Sementara ASI donor digunakan untuk : bayi prematur, bayi dan anak sakit (gagal ginjal kronik, penyakit metabolik, defisiensi IgA, alergi), orang dewasa sakit (konjungtivitis hemoragik, defisiensi IgA pada resipien transplantasi hati, problem saluran cerna, keganasan), jelas dr. Rini. Dilanjutkan dr. Rini, di Belanda Bank ASI dilakukan dengan cara mengumpulkan ASI ibu pedonor yang telah diseleksi. Ibu donor memerah ASI dan menyimpannya dalam freezer di rumah. Setiap 2 minggu petugas bank ASI mengambil ke rumah ibu dengan mobil berpendingin. Listrik tak boleh padam. Perlakuan di dalam bank ASI steril (cuci tangan, baju/topi khusus), Susu dipasteurisasi sebelum diberikan ke penerima Sedangkan dari Perspektif Syariah tentang ASI, Ibu persusuan dan Bank ASI, guru besar PTIQ yang juga salah satu Ketua MUI Pusat Prof . DR. Ali Mustafa Yaqub, MA., menjelaskan tidak ada salahnya mendirikan Bank ASI dan Donor ASI sepanjang itu dibutuhkan untuk kelangsungan hidup anak manusia. Hanya saja Islam mengatur, jika si ibu bayi tidak dapat mengeluarkan air susu atau dalam situasi lain ibu si bayi meninggal maka sibayi harus dicarikan ibu susu. Tidak ada aturan main dalam Islam dalam situasi tersebut mencarikan susu sapi sebagai pengganti, kendatipun zaman nabi memang tidak ada susu formula tapi susu kambing dan sapi sudah ada, jelas Prof. Ali. Dengan arti kata mendirikan Bank ASI dan donor ASI boleh-boleh saja karena memang Islam tidak mentoleransi susu yang lain selain susu Ibu sebagai susu pengganti dari susu ibu kandungnya. Hanya saja pencatatannya harus benar dan kedua keluarga harus dipertemukan serta diberikan sertifikat. Karena 5 kali meminum susu dari ibu menyebabkan menjadi mahramnya si anak dengan keluarga si ibu susu. Artinya anak mereka tidak boleh menikah, tutur Prof. Ali. Menurut Prof. Ali, masalah menyusu langsung dan tidak langsung, itu hanya masalah teknik mengeluarkan susu saja, hukumnya sama. Jika sudah 5 kali meminum susu maka jatuh hukum mahram kepada keduanya, terangnya lagi. http://hukum.kompasiana.com/2011/06/03/bank-asi-diperbolehkan-dalam-islam/

Donor ASI Melalui Bank ASI akan Merancukan Hubungan Mahram (1)
By: Ria Fariana Artika Sari Devi, mantan Putri Indonesia mengaku bahwa dirinya kelebihan stok ASI. Karena berlebih inilah, Artika memilih untuk memeras susunya dan mengirimkannya ke bank ASI di rumah sakit untuk disimpan sebagai stok bagi siapa pun yang membutuhkan. Bahkan di saat malam hari pun, si suami rela untuk berkendara ke rumah sakit demi menyetor stok ASI tersebut. Aktris Alysia Reiner, mendonasikan ASInya untuk temannya yang sedang berjuang memproduksi ASI yang cukup untuk bayinya. Ada juga Salma Hayek yang memilih menyusui secara langsung bayi laki-laki Afrika yang sedang sakit karena gempa Haiti. Masih banyak lagi artis lokal maupun manca negara yang peduli ASI dan menjadi pendonornya. Sebuah kepedulian yang positif mengingat ASI adalah makanan penting bagi bayi untuk tumbuh sehat. Namun di balik semua kepedulian positif ini, masalah donor ASI masih menjadi kontroversi terutama di kalangan umat Islam. Hal ini wajar mengingat Islam adalah agama yang sempurna sehingga sampai masalah pemberian ASI pun ada aturan mainnya. Begitu pula dengan masalah donor ASI yang tidak bisa tidak akan muncul beberapa masalah di dalamnya semisal tentang kedudukan pendonor terhadap yang didonori. Tidak berhenti disitu saja, Islam juga mengenal saudara sepersusuan. Dengan adanya donor ASI yang disimpan dalam bank ASI, bagaimana pula mendudukkan masalah ini agar tidak menyalahi syariat. Banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim ini memutuskan untuk mendirikan bank ASI. Tidak bisa asal seenaknya saja ketika ASI seorang ibu tidak keluar, maka bisa langsung membeli stok ASI di bank ASI. Lalu bagaimana dengan maraknya donor ASI yang disimpan di bank ASI dan difasilitasi oleh rumah sakit? Bukankah dengan adanya donor ASI, itu berarti masyarakat ikut berpartisipasi akan sehatnya generasi? Hal inilah yang akan berusaha kita bahas satu demi satu, insya Allah. Tulisan ini berusaha untuk memandang persoalan dengan timbangan syariat agar hidup lebih bermakna dan barakah. ASI, sumber kehidupan bayi ASI (Air Susu Ibu) adalah nutrisi utama bagi bayi sejak keluar dari rahim hingga berusia dua tahun. Karena keutamaannya inilah, kandungan ASI tidak bisa digantikan oleh susu formula apa pun juga. Jauh hari sebelum teknologi kedokteran ditemukan, Islam telah sangat menganjurkan agar bayi hanya diberi asupan ASI

saja. Bukan itu saja, Islam juga memberikan jalan keluar apabila ada ibu yang karena satu dan lain hal tidak bisa menyusui bayinya. Keadaan inilah yang terjadi pada diri Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam. Beliau tidak hanya menyusu pada ibu kandungnya sendiri melainkan disusukan pada ibu susu yaitu Tsuwaibah hamba sahaya Abu Lahab dan Halimah al-Sadiyah. Dari hubungan ini, antara ibu yang menyusui dan anak menjadi mahram yaitu orang yang tidak boleh atau haram dinikahi selamanya. Kondisi ini berlaku juga pada saudara sepersusuan yang pernah menyusu pada ibu yang sama baik anak kandung ibu tersebut maupun bukan. Disinilah keistimewaan Islam yang mempersaudarakan seseorang dengan orang lainnya karena bermula dari sepersusuan. Ada kejelian di sini untuk menelusuri siapa saja yang pernah menjadi anak susu dari seorang perempuan agar tidak salah menikahi seseorang yang menjadi mahram karena sepersusuan. Ada kedekatan satu sama lain meskipun mungkin tidak pernah bersua, tapi terpapar jelas nasab satu sama lain. Tidak ada kerancuan dalam hal ini karena sungguh, Islam sangat menjaga hubungan nasab dan persaudaraan karena sepersusuan. Pendapat Imam Madzab tentang menyusui Dalam buku Fiqih Anak (Yanggo, 2004: 88-91) menyusui atau dalam bahasa Arab adalah ar-Radha juga dibahas oleh keempat Imam Madzab yang definisinya menurut mereka adalah: 1. Madzab Hanafi, ar-Radha adalah isapan anak yang disusui terhadap susu (payudara) wanita anak Adam pada waktu tertentu. 2. Madzab Maliki, ar-Radha adalah sampainya air susu perempuan pada perut meskipun perempuan itu mati atau masih kecil, dengan menggunakan alat (untuk memasukkan sesuatu ke dalam perut) atau melalui suntikan yang menjadi makanan. 3. Madzab Syafii mendefinisikan ar-Radha sebagai Sampainya air susu wanita atau apa yang dihasilkan dari air susu tersebut pada perut bayi atau otak/sum-sumnya. 4. Madzab Hambali mengatakan ar-Radha sebagai Mengisap atau meminum air susu yang terkumpul karena kehamilan dari payudara seorang wanita dan yang seperti itu. Dari pendapat-pendapat di atas, pendapat Maliki lebih mencakup dan menyeluruh dibandingkan dengan definisi-definisi lainnya. Definisi madzab Maliki telah memenuhi syarat yang jami (mencakup) dan mani (terbatas). Kata susu wanita mencakup setiap susu sehingga yang bukan susu tidak termasuk ke dalam definisi ini misalnya saja air kuning dan darah. Kedua macam cairan tersebut tidak menyebabkan haramnya menikah pada seseorang. Kata susu disandarkan pada kata wanita sehingga dikecualikan air susu pria dan jin wanita.

Sedangkan yang dimaksud dengan masuk ke dalam perut sudah jelas di sini yaitu masuk ke dalam perut anak yang disusukan. Sampainya air susu ke dalam perut baik jumlahnya air susunya banyak atau sedikit atau bahkan sekadar mengisap (sedikit sekali) maka termasuk ke dalam definisi ini. Jika syarat ini terpenuhi maka haram menikahi anak tersebut dengan ibu yang menyusukan atau saudara sepersusuan. Sehingga air susu yang hanya sampai pada tenggorokan saja tidak menyebabkan keharaman menikah tersebut. Sedangkan yang dimaksud 'meskipun perempuan itu mati atau masih kecil' adalah jika seorang perempuan mati namun padanya masih ada air susu, lalu ada bayi atau anak kecil yang menyusu padanya atau ada orang lain yang memerah susunya untuk diminumkan pada bayi atau anak kecil maka hal itu menimbulkan tahrim (menyebabkan haram menikah dengan yang sepersusuan). Demikian pula bila ada anak perempuan (baik ia belum baligh atau sudah baligh) yang mempunyai air susu lalu dari air susu itu dipakai untuk menyusui bayi maka berlakulah at-tahrim pada anak tersebut. Hal ini berlaku pula pada wanita menopause yang masih memiliki air susu dan memakai air susu itu untuk menyusui bayi, maka tetap berlaku at-tahrim padanya. Adapun kata-kata 'meskipun air susu itu masuknya ke perut lewat cara lain selain menyusu' maksudnya adalah masuknya air susu menggunakan alat-alat khusus untuk memasukkan sesuatu ke dalam tenggorokan atau hidung, maka tetap saja keharaman karena saudara sepersusuan tetap berlaku padanya. Kata-kata Atau suntikan yang menjadi makanan maksudnya adalah air susu yang dimasukkan lewat suntikan pun menyebabkan keharaman menikah selama fungsinya adalah sebagai makanan bagi bayi. Namun jika suntikan tersebut dimaksudkan untuk tujuan lain selain memberi makanan, maka suntikan itu tidak menimbulkan keharaman menikah. Berdasarkan penjelasan di atas, maka memasukkan air susu ke perut bayi lewat mata, telinga atau pori-pori kulit kepala, atau pun lewat suntikan yang tidak dimaksudkan untuk pemberian makanan, hal ini tidak menyebabkan pengharaman nikah. Hal ini disebabkan karena air susu tersebut tidak melewati jalan yang biasa sehingga tidak akan membuahkan daging dan tulang. Demikian juga air susu yang disuntikkan ke dalam tubuh namun tidak dimaksudkan sebagai makanan maka hal ini tidak menyebabkan keharaman nikah. Donor ASI = Rancunya hubungan saudara sepersusuan Bank ASI hadir membuat rancu hubungan karena sepersusuan ini. Meskipun ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa ASI yang tidak dihisap bayi langsung dari payudara ibu susu tidak menjadikannya mahram baik pada ibu susu tersebut maupun bayi-bayi lain yang pernah mengkonsumi ASI yang sama, namun sesungguhnya pendapat ini lemah.

Makna menyusui di sini tidak sekadar aktifitas menyusu langsung seorang bayi pada puting payudara seorang ibu. Menyusui di sini adalah masuknya air susu seorang ibu ke dalam perut bayi meskipun caranya bermacam-macam misalnya saja dengan memakai alat tertentu. Seorang muslim akan jauh lebih bijak bila berhatihati dalam masalah syariat terutama dalam hal ini adalah peniadaan saudara sepersusuan hanya karena bayi tidak menyusu langsung pada ibu susu. Donor ASI melalui bank ASI, jelas-jelas akan merancukan hubungan mahram atau persaudaraan karena sepersusuan. Pendonor hanya sekadar memasukkan informasi dirinya sebatas nama dan hal-hal umum sebagaimana seseorang akan mendonorkan darahnya. Tidak akan terlacak siapa saja bayi-bayi yang pernah mengkonsumsi air susunya, sehingga tidak jelas bagi seseorang siapa bermahram dengan siapa. Jangan sampai terjadi kelak di kemudian hari, seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan yang ternyata pernah mengkonsumsi ASI dari wanita pendonor ASI yang sama. Bila ini terjadi maka kedua anak manusia ini telah melakukan keharaman karena menikahi mahram yang terjadi karena ikatan saudara sepersusuan. Inilah bahaya yang nyata dari keberadaan donor ASI yang ditaruh di bank ASI http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2010/10/11/10783/donor-asi-melaluibank-akan-merancukan-hubungan-mahram-1/

. Selain dari praktisi medis ikut menyampaikan makalah LSM Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), yang disampaikan oleh Puti, dimana ibu puti menjelaskan tentang latar belakang AIMI, misi dan visi, kegiatan-kegiatan AIMI. Tujuan AIMI mensosialisasikan tentang ASI dan berbagai permasalahan dalam proses laktasi. dr Asti Praborini, SpA, IBCLC, membahas Perspektif Medis tentang ASI, Ibu persusuan, Bank ASI pada Sesi II seminar tersebut. Menurut dr. Rini, bayi yang tidak diberi ASI akan mudah sakit, meninggal, mudah infeksi, tidak mandiri, tidak mudah mengambil keputusan. Jika bayi tidak mendapatkan ASI dari ibu kandung, lanjut dr. Rini, ASI dapat diperoleh melalui ASI Donor dan Bank ASI. Di dunia ada beberapa Bank ASI Amerika Selatan 154 buah, Prancis 19 buah, Italia 18 buah, India dan Cina di banyak rumah sakit dan Kuwait 1 buah Sementara ASI donor digunakan untuk : bayi prematur, bayi dan anak sakit (gagal ginjal kronik, penyakit metabolik, defisiensi IgA, alergi), orang dewasa sakit (konjungtivitis hemoragik, defisiensi IgA pada resipien transplantasi hati, problem saluran cerna, keganasan), jelas dr. Rini.

Dilanjutkan dr. Rini, di Belanda Bank ASI dilakukan dengan cara mengumpulkan ASI ibu pedonor yang telah diseleksi. Ibu donor memerah ASI dan menyimpannya dalam freezer di rumah. Setiap 2 minggu petugas bank ASI mengambil ke rumah ibu dengan mobil berpendingin. Listrik tak boleh padam. Perlakuan di dalam bank ASI steril (cuci tangan, baju/topi khusus), Susu dipasteurisasi sebelum diberikan ke penerima Sedangkan dari Perspektif Syariah tentang ASI, Ibu persusuan dan Bank ASI, guru besar PTIQ yang juga salah satu Ketua MUI Pusat Prof . DR. Ali Mustafa Yaqub, MA., menjelaskan tidak ada salahnya mendirikan Bank ASI dan Donor ASI sepanjang itu dibutuhkan untuk kelangsungan hidup anak manusia. Hanya saja Islam mengatur jika si ibu bayi tidak mengeluarkan air susu atau dalam situasi lain ibu si bayi meninggal maka sibayi harus dicarikan ibu susu. Tidak ada aturan main dalam Islam dalam situasi tersebut mencarikan susu sapi sebagai pengganti, kendatipun zaman nabi memang tidak ada susu formula tapi susu kambing dan sapi sudah ada, jelas Prof. Ali. Dengan arti kata mendirikan Bank ASI dan donor ASI boleh-boleh saja karena memang Islam tidak mentoleransi susu yang lain selain susu Ibu sebagai susu pengganti dari susu ibu kandungnya. Hanya saja pencatatannya harus benar dan kedua keluarga harus dipertemukan serta diberikan sertifikat. Karena 5 kali meminum susu dari ibu menyebabkan menjadi mahramnya si anak dengan keluarga si ibu susu. Artinya anak mereka tidak boleh menikah, tutur Prof. Ali. Menurut Prof. Ali, masalah menyusu langsung dan tidak langsung, itu hanya masalah teknik mengeluarkan susu saja, hukumnya sama. Jika sudah 5 kali meminum susu maka jatuh hukum mahram kepada keduanya, terangnya lagi. http://lkc.eramuslim.com/wp/bank-asi-diperbolehkan-dalam-islam/ hukum bank asi dan sperma BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang terbaik bagi bayi, karena pengolahannya telah berjalan secara alami dalam tubuh si ibu. Sebelum anak lahir, makanannya telah disiapkan lebih dahulu, sehingga begitu anak itu lahir, air susu ibu telah siap untuk dimanfaatkan. Demikian kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya. Namun demikian ada banyak kaum ibu pada

saat ini yang tidak dapat memberikan ASI kepada anaknya dengan berbagai alasan seperti ASI-nya tidak keluar, alasan kesehatan serta karena waktunya tersita untuk bekerja, maka muncullah gagasan untuk mendirikan Bank ASI untuk memenuhi kebutuhan ASI balita yang ibunya tidak bisa menyusui anaknya secara langsung. Gagasan untuk mendirikan bank ASI ini sebenarnya telah berkembang di Eropa kira-kira lima puluh tahun yang lalu. Gagasan itu muncul setelah adanya bank darah. Mereka melakukannya dengan mengumpulkan ASI dari wanita dan membelinya kemudian ASI tersebut dicampur di dalam satu tempat untuk menunggu orang yang membeli ASI tersebut dari mereka. Hooker dalam buku Islam Madzhab Indonesia : Fatwa-fatwa dan Perubahan Sosial (2003 : 254) menyatakan bahwa pada awal 1970-an rumah sakit Jakarta mendirikan bank air susu manusia dimana ibu-ibu yang mempunyai kelebihan air susu dapat memberikan kelebihan itu dan menyimpannya untuk bayi-bayi yang ibunya kekurangan air susu. Sejumlah ulama mempertanyakan perbuatan itu atas dasar bahwa perbuatan tersebut sama dengan rada'ah, yakni menyusui dengan tujuan membantu perkembangan jiwa anak. Anak yang memperoleh air susu semacam itu, dalam pandangan hukum disebut saudara sesusu, yakni anak yang menyusui dari wanita yang sama sebagai pendonor untuk anak tersebut. Kedua anak tersebut tidak dapat menikah. Lebih jauh lagi, jika pendonor itu tidak diketahui maka kemungkinan terjadinya pergaulan yang melanggar susila atau hubungan seksual sesama saudara pasti ada.

Selanjutnya perlu diketahui bahwa tujuan perkawinan, diantaranya adalah untuk melanjutkan keturunan dan menentramkan jiwa. Namun demikian kadang-kadang keturunan tidak diperoleh karena adakalanya si suami mandul (tidak subur), sedang suami istri menginginkan anak, sehingga tidak tercipta suasana jiwa keluarga yang tenang dan tenteram, karena tidak ada anak sebagai penghibur hati. Berdasarkan keadaan tersebut ada orang yang berupaya untuk mendapatkan anak dengan jalan mengangkat atau memungut anak, melakukan inseminasi sperma, dan adakalanya dengan jalan menerima sperma dari donor yang telah tersimpan pada Bank Sperma.

Daniel Rumondor memberikan isyarat bahwa inseminani buatan agaknya di ilhami oleh keberhasilan syaikh-syaikh Arab memperanakkan kuda sejak tahun 1322. Begitu juga karena Rusia sangat mencemaskan akibat dari perang atom, maka Stalin menyetujui pendapat yang dilontarkan oleh Prof. Dr. I. I. Kuperin untuk mendirikan Bank Ayah atau Bank Sperma. Bahkan pada tahun 1968 Khruschov, dengan adanya Bank Sperma itu, ingin

mengumpulkan sperma orang-orang yang jenius dalam lapangan ilmu pengetahuan, peperangan, sastra dan lain-lain yang akan dikembangbiakkan kepada gadis-gadis yang sehat, cantik, serta ber-IQ tinggi agar nantinya terbentuk generasi yang jenius. Bank sperma didirikan untuk memenuhi keperluan orang yang menginginkan anak, tetapi dengan berbagai sebab, sperma suami tidak mungkin dibuahkan dengan sel telur (ovum) si isteri. Dengan demikian, atas kesepakatan suami isteri, dicarikan donor sperma. Berdasarkan hal di atas maka makalah ini akan membahas tentang hukum bank ASI dan bank sperma.

2. Tujuan Penulisan Makalah ini ditulis dengan mengusung beberapa tujuan di bawah ini : 1. Apa yang dimaksud dengan bank ASI ?; 2. Untuk mengetahui bank ASI dengan radla'ah?; 3. Untuk mengetahui bagaimana hukum pendirian bank ASI dilihat dari sudut pandang Islam ?; 4. Untuk mengetahui bagaimana pendapat Ulama Kontemporer tentang bank ASI; 5. Untuk mengetahui apa yang yang dimaksud dengan bank sperma ?; 6. Untuk mengetahui hubungan bank sperma; 7. Untuk mengetahui bagaimana hukum bank sperma dilihat dari sudut pandang Syariat Islam.

3. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah dalam pembahasan, makalah ini akan disusun berdasarkan kepada sistematika di bawah ini :

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Tujuan Penulisan 3. Sistematika Penulisan BAB II PEMBAHASAN 4. Bank Air Susu Ibu (ASI)

1. Pengertian Bank ASI 2. Kaitan Bank ASI dengan Rada'ah 3. Hukum Mendirikan Bank ASI 4. Sebagian Ulama Kontemporer Membolehkan Bank ASI. 5. Bank Sperma 1. Pengertian Bank Sperma 2. Hubungan Bank Sperma dan Perkawinan 3. Hukum Bank Sperma dan Pendapat Para Ulama BAB III KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

BAB II PEMBAHASAN 1. Bank Air Susu Ibu (ASI) 1. Pengertian Bank ASI Bank ASI merupakan tempat penyimpanan dan penyalur ASI dari donor ASI yang kemudian akan diberikan kepada ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASI sendiri ke bayinya. Ibu yang sehat dan memiliki kelebihan produksi ASI bisa menjadi pendonor ASI. ASI biasanya disimpan di dalam plastik atau wadah, yang didinginkan dalam lemari es agar tidak tercemar oleh bakteri. Kesulitan para ibu memberikan ASI untuk anaknya menjadi salah satu pertimbangan mengapa bank ASI perlu didirikan, terutama di saat krisis seperti pada saat bencana yang sering membuat ibu-ibu menyusui stres dan tidak bisa memberikan ASI pada anaknya. Semua ibu donor diskrining dengan hati-hati. Ibu donor harus memenuhi syarat, yaitu non-perokok, tidak minum obat dan alkohol, dalam kesehatan yang baik dan memiliki kelebihan ASI. Selain itu, ibu donor harus memiliki tes darah negatif untuk Hepatitis B dan C, HIV 1 dan 2, serta HTLV 1 dan 2, memiliki kekebalan terhadap rubella dan sifilis negatif. Juga tidak memiliki riwayat penyakit TBC aktif, herpes atau kondisi kesehatan kronis lain seperti multiple sclerosis atau riwayat kanker. Berapa lama ASI dapat bertahan sesuai dengan suhu ruangannya: 1. Suhu 19-25 derajat celsius ASI dapat tahan 4-8 jam.

2. Suhu 0-4 derajat celsius ASI tahan 1-2 hari 3. Suhu dalam freezer khusus bisa tahan 3-4 bulan.

2. Kaitan Bank ASI dengan Rada'ah

Pengertian ar-Radha'

Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ar -radha' atau susuan. Menurut Hanafiyah bahwa ar-Radha' adalah seorang bayi yang menghisap puting payudara seorang perempuan pada waktu tertentu. Sedangkan Malikiyah mengatakan bahwa ar-Radha' adalah masuknya susu manusia ke dalam tubuh yang berfungsi sebagai gizi. As-Syafi'iyah mengatakan ar-Radha' adalah sampainya susu seorang perempuan ke dalam perut seorang bayi. Al-Hanabilah mengatakan ar-Radha' adalah seorang bayi di bawah dua tahun yang menghisap puting payudara perempuan yang muncul akibat kehamilan, atau meminum susu tersebut atau sejenisnya. (Ibnu Nujaim, al Bahru ar Raiq: 3/221, Ibnu Arafah, Syarhu Hudud: 1/316, al Muthi'i, Takmilah al Majmu': 19/309, al Bahuti, Syarhu Muntaha al Iradat: 4/ 1424).

Batasan Umur

Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan batasan umur ketika orang menyusui yang bisa menyebabkan kemahraman. Mayoritas ulama mengatakan bahwa batasannya adalah jika seorang bayi berumur dua tahun ke bawah. Dalilnya adalah firman Allah swt:

233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 2 [al - Baqarah] : 233)

Hadist Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

)
"Sesungguhnya persusuan (yang menjadikan seseorang mahram) terjadi karena lapar" (HR Bukhari dan Muslim)

Jumlah Susuan

Madzhab Syafi'i dan Hanbali mengatakan bahwa susuan yang mengharamkan adalah jika telah melewati 5 kali susuan secara terpisah. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah ra, bahwasanya beliau berkata:

) )
"Dahulu dalam Al Qur`an susuan yang dapat menyebabkan menjadi mahram ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus) dengan lima kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah saw wafat, dan ayat-ayat Al Qur`an masih tetap di baca seperti itu." (HR Muslim) Kapan seorang bayi menyusui dan dianggap sebagai satu susuan? Yaitu jika dia menyusui, setelah kenyang dia melepas susuan tersebut menurut kemauannya. Jika dia menyusu lagi setelah satu atau dua jam, maka terhitung dua kali susuan dan seterusnya sampai lima kali menyusu. Kalau si bayi berhenti untuk bernafas, atau menoleh kemudian menyusu lagi, maka hal itu dihitung satu kali susuan saja. (Sidiq Hassan Khan, Raudhatu an Nadiyah, 2/174)

Cara Menyusu

Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara menyusu yang bisa mengharamkan. Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang penting adalah sampainya air susu tersebut ke dalam perut bayi, sehingga membentuk daging dan tulang, baik dengan cara menghisap puting payudara dari perempuan langsung, ataupun dengan cara as-su'uth (memasukkan susu ke lubang hidungnya), atau dengan cara al-wujur (menuangkannya langsung ke tenggorakannya), atau dengan cara yang

lain. Sebagaimana Riwayat Abu Daud dan Daar Kuthny dari Ibnu Mas'ud bahwasannya Rasulullah Saw. Bersabda,


Tidak ada penyusuan kecuali yang membesarkan tulang dan menumbuhkan daging. (HR. Abu Dawud)

Adapun Madzhab Dhahiriyah mengatakan bahwa persusuan yang mengharamkan hanyalah dengan cara seorang bayi menghisap puting payudara perempuan secara langsung. Selain itu, maka tidak dianggap susuan yang mengharamkan. Mereka berpegang kepada pengertian secara lahir dari kata menyusui yang terdapat di dalam firman Allah swt:

23. Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anakanak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4 [an Nisa]: 23).

Hukum Jual Beli Asi

Air Susu Ibu (ASI) adalah bagian yang mengalir dari anggota tubuh manusia, dan tidak diragukan lagi itu merupakan karunia Allah bagi manusia dimana dengan adanya ASI tersebut seorang bayi dapat memperoleh gizi. ASI tersebut merupakan sesuatu hal yang urgen di dalam kehidupan bayi. Karena pentingnya ASI tersebut untuk pertumbuhan maka sebagian orang memenuhi kebutuhan tersebut dengan membeli ASI pada orang lain. Jual beli ASI manusia itu sendiri

di dalam fiqih Islam merupakan cabang hukum yang para ulama berbeda pendapat di dalamnya. Ada dua pendapat ulama tentang hal tersebut. Pertama, tidak boleh menjualnya. Ini merupakan pendapat ulama madzhab Hanafi kecuali Abu Yusuf, salah satu pendapat yang lemah pada madzhab Syafi'i dan merupakan pendapat sebagian ulama Hanbali. Kedua, pendapat yang mengatakan dibolehkan jual beli ASI manusia. Ini merupakan pendapat Abu Yusuf (pada susu seorang budak), Maliki dan Syafi'i, Khirqi dari madzhab Hanbali, Ibnu Hamid, dikuatkan juga oleh Ibnu Qudamah dan juga madzhab Ibnu Hazm. 1. Sebab Timbulnya Ikhtilaf

Menurut Ibn Rusyd, sebab timbulnya perselisihan pendapat ulama di dalam hal tersebut adalah pada boleh tidaknya menjual ASI manusia yang telah diperah. Karena proses pengambilan ASI tersebut melalui perahan. Imam Malik dan Imam Syafi'i membolehkannya, sedangkan Abu Hanifah tidak membolehkannya. Alasan mereka yang membolehkannya adalah karena ASI itu halal untuk diminum maka boleh menjualnya seperti susu sapi dan sejenisnya. Sedangkan Abu Hanifah memandang bahwa hukum asal dari ASI itu sendiri adalah haram karena dia disamakan seperti daging manusia. Maka karena daging manusia tidak boleh memakannya maka tidak boleh menjualnya, adapun ASI itu dihalalkan karena dharurah bagi bayi, sebagaimana qawaid fiqih :


Darurat itu bisa membolehkan yang dilarang. 2. Dalil Pendapat yang Tidak Membolehkan Jual Beli ASI

Masalah boleh tidaknya menjual susu manusia (ASI) telah menimbulkan perdebatan yang panjang antara yang membolehkan dengan yang tidak membolehkan yang didasari argumen logika, berikut petikannya : Menurut pihak pertama (yang melarang) ASI manusia bukanlah harta benda maka tidak boleh menjualnya, dan dalil bahwasannya ASI tersebut bukan harta benda adalah tidak dibolehkan bagi kita mengambil manfaat (Intifa') dengan ASI tersebut. ASI tersebut dibolehkan karena dharurat saja kepada anak bayi karena mereka tidak bisa memperoleh gizi dengan cara lain, dan apa yang tidak dibolehkan mengambil manfaat kecuali dharurah tidaklah dianggap

bagian harta seperti babi dan narkotika. Selain itu ASI tersebut juga tidak dijual di pasar karena tidak dianggap bagian dari harta. Pendapat ini ditentang oleh pihak kedua (yang membolehkan). Mereka mengatakan bahwa, ASI itu suci dan bisa diambil manfaat sehingga boleh menjualnya seperti susu kambing. Adapun sebab tidak dijualnya ASI tersebut di pasaran bukanlah landasan barang tersebut tidak boleh dijual karena ada juga barang yang tidak ada di pasaran dan boleh jual beli barang tersebut. Kelompok pertama juga beralasan bahwa ASI merupakan bagian dari manusia dan manusia beserta seluruh organnya adalah terhormat maka menjual jual beli ASI tadi dapat menjatuhkan derajat kemuliaan manusia. Pernyataan itu ditentang oleh pihak kedua. Ibnu Qudamah berkata bahwa seluruh tubuh manusia dapat dijual seperti bolehnya menjual budak. Sedangkan yang tidak boleh menjualnya adalah orang merdeka dan diharamkan pula menjual anggota tubuh yang sudah terpotong karena tidak bermamfaat. Qiyas dari kelompok pertama menentang bantahan tersebut, beliau berkata bahwa manusia tidak halal kecuali budak dan budak tidak halal kecuali hidup sedangkan ASI itu bukanlah sesuatu yang hidup maka tidak boleh dujual. Pendapat kelompok pertama mengatakan bahwa susu manusia itu adalah restan (sisa) dari manusia maka tidak boleh menjualnya seperti air mata, keringat dan ingus. Pendapat ini ditentang dengan mengatakan bahwa mengqiyaskan ASI dengan keringat adalah tidak tepat karena keringat, ingus dan air mata tidak bermanfaat. Hal ini seperti keringat kambing yang tidak boleh kita menjualnya, sedangkan susunya tetap boleh. Selanjutnya kelompok pertama mengatakan bahwa daging manusia tidak boleh untuk dimakan maka tidak boleh menjual ASI-nya seperti susu keledai betina. Daging keledainya tidak bisa dimakan maka susunya juga haram. Pendapat ini ditolak oleh pihak kedua, mereka kembali mengatakan bahwa ini adalah qiyas yang tidak sesuai karena ASI manusia suci sedangkan susu keledai najis. Kelompok pertama kembali beralasan bahwasannya dengan adanya proses menyusui tadi, maka diharamkan bagi kita untuk menikahi

saudara sesusu dan ibu susu. Maka pada proses jual beli ASI ini akan membuka peluang terjadinya perkawinan yang tidak dibenarkan secara syariat karena ASI tadi dicampur sehinnga kita tidak mengetahui ASI siapa saja yang diminum oleh bayi. 3. Dalil Pendapat yang Membolehkan Menjual ASI

Golongan kedua yang membolehkan menjual ASI berpegang kepada al-Quran, Hadits dan logika. Dalil al-Quran yaitu firman Allah pada surat 2 [al-Baqarah] ayat 275 yaitu : (menyusui) di dalam bahasa Arab bermakna menghisap puting payudara dan meminum ASI-nya. Maka oleh karena itu meminum ASI bukan melalui menghisap payudara tidak disebut menyusui, maka efek dari penyusuan model ini tidak membawa pengaruh apaapa di dalam hukum nasab nantinya. Yang menimbulkan adanya saudara sesusu adalah sifat "keibuan", yang ditegaskan Al-Qur'an itu tidak terbentuk semata-mata diambilkan air susunya, tetapi karena menghisap teteknya dan selalu lekat padanya sehingga melahirkan kasih sayang si ibu dan ketergantungan si anak. Dari keibuan ini maka muncullah persaudaraan sepersusuan. Jadi, keibuan ini merupakan asal (pokok), sedangkan yang lain mengikutinya. Alasan yang dikemukakan oleh beberapa madzhab dimana mereka memberi ketentuan berapa kali penyusuan terhadap seseorang sehingga antara bayi dan ibu susu memilki ikatan yang diharamkan nikah, mereka mengatakan bahwa jika si bayi hanya menyusu kurang dari lima kali susuan maka tidaklah membawa pengaruh di dalam hubungan darah. Setelah memperhatikan berbagai pendapat yang disampaikan oleh para ulama, penulis memiliki pandangan bahwa adanya larangan terhadap pendirian bank ASI adalah disebabkan oleh kekhawatiran akan terjadinya kekacauan nasab sehingga bias menimbulkan hal yang dilarang yaitu pernikahan dengan saudara sesusu. Dengan demikian jika hal ini dapat dihindarkan misal dengan mengadakan persyaratan yang ketat, serta pendataan yang mendetail sehingga yang membeli ASI mengetahui ASI-nya berasal dari siapa, maka hukumnya boleh.

1. Bank Sperma 1. Pengertian Bank Sperma

Bank sperma adalah pengambilan sperma dari donor sperma lalu di bekukan dan disimpan ke dalam larutan nitrogen cair untuk mempertahankan fertilitas sperma. Dalam bahasa medis bisa disebut juga Cryiobanking. Cryiobanking adalah suatu teknik penyimpanan sel cryopreserved untuk digunakan di kemudian hari. Pada dasarnya, semua sel dalam tubuh manusia dapat disimpan dengan menggunakan teknik dan alat tertentu sehingga dapat bertahan hidup untuk jangka waktu tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada suhu yang relatif rendah. Teknik yang paling sering digunakan dan terbukti berhasil saat ini adalah metode Controlled Rate Freezing, dengan menggunakan gliserol dan egg yolk sebagai cryoprotectant untuk mempertahankan integritas membran sel selama proses pendinginan dan pencairan. Teknik cryobanking terhadap sperma manusia telah memungkinkan adanya keberadaan donor semen, terutama untuk pasangan-pasangan infertil. Tentu saja, semen-semen yang akan didonorkan perlu menjalani serangkaian pemeriksaan, baik dari segi kualitas sperma maupun dari segi pendonor seperti adanya kelainan-kelainan genetik. Dengan adanya cryobanking ini, semen dapat disimpan dalam jangka waktu lama, bahkan lebih dari 6 bulan (dengan tes berkala terhadap HIV dan penyakit menular seksual lainnya selama penyimpanan). Kualitas sperma yang telah disimpan dalam bank sperma juga sama dengan sperma yang baru, sehingga memungkinkan untuk proses ovulasi. Selain digunakan untuk sperma-sperma yang berasal dari donor, bank sperma juga dapat dipergunakan oleh para suami yang produksi spermanya sedikit atau bahkan akan terganggu. Hal ini dimungkinkan karena derajat cryosurvival dari sperma yang disimpan tidak ditentukan oleh kualitas sperma melainkan lebih pada proses penyimpanannya. Telah disebutkan diatas, bank sperma dapat dipergunakan oleh mereka yang produksi spermanya akan terganggu. Maksudnya adalah pada mereka yang akan menjalani vasektomi atau tindakan medis lain yang dapat menurunkan fungsi reproduksi seseorang. Dengan bank sperma, semen dapat dibekukan dan disimpan sebelum vasektomi untuk mempertahankan fertilitas sperma. Bank sperma sebenarnya telah berdiri beberapa tahun yang lalu, pada tahun 1980 di Escondido California yang didirikan oleh Robert Graham, si kakek berumur 73 tahun, juga di Eropa, dan di Guangdong Selatan China, yang merupakan satu di antara lima bank

sperma besar di China, Sementara itu, Bank pusat sel embrio di Shanghai, bank besar lain dari lima bank besar di China, meluncurkan layanan baru yang mendorong kaum lelaki untuk menabung spermanya, demikian laporan kantor berita Xinhua. Bank tersebut menawarkan layanan penyimpanan sperma bagi kaum lelaki muda yang tidak berencana untuk punya keturunan, namun mereka takut kalau nanti mereka tidak akan menghasilkan semen yang cukup secara jumlah dan kualitas, ketika mereka berencana untuk memiliki keluarga. Latar belakang munculnya bank sperma antara lain adalah sebagai berikut: 1. Keinginan memperoleh atau menolong untuk memperoleh keturunan pada seorang pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak. 2. Memperoleh generasi jenius atau orang super. 3. Menghindarkan kepunahan manusia 4. Memilih suatu jenis kelamin 5. Mengembangkan kemajuan teknologi terutama dalam bidang kedokteran. Menurut Werner (2008), Beberapa alasan seseorang akhirnya memutuskan untuk menyimpan spermanya pada cryobanking, antara lain: 6. Seseorang akan menjalani beberapa pengobatan terus menerus yang dapat mengurangi produksi dan kualitas sperma. Beberapa contoh obat tersebut adalah sulfasalazine, methotrexate. 7. Seseorang memiliki kondisi medis yang dapat mempengaruhi kemampuan orang tersebut untuk ejakulasi (misal: sklerosis multipel, diabetes). 8. Seseorang akan menjalani perawatan penyakit kanker yang mungkin akan mengurangi atau merusak produksi dan kualitas sperma (misal: kemoterapi, radiasi). 9. Seseorang akan memasuki daerah kerja yang berbahaya yang memungkinkan orang tersebut terpapar racun reproduktif. 10. Seseorang akan menjalani beberapa prosedur yang dapat mempengaruhi kondisi testis, prostat, atau kemampuan ejakulasinya (misal: operasi usus besar, pembedahan nodus limpha, operasi prostat). 11. Seseorang akan menjalani vasektomi. Adapun beberapa salah satu Tujuan diadakan bank sperma adalah semata-mata untuk membantu pasangan suami isteri yang sulit

memperoleh keturunan dan menghindarkan dari kepunahan sama halnya dengan latarbelakang munculnya bank sperma seperti yang telah dijelaskan diatas. Tentang proses pelaksanaan sperma yang akan di ambil atau di beli dari bank sperma untuk dimasukkan ke dalam alat kelamin perempun (ovum) agar bisa hamil disebut dengan inseminasi buatan yaitu suatu cara atau teknik memperoleh kehamilan tanpa melalui persetubuhan. Pertama setelah sel telur dan sperma di dapat atau telah di beli dari bank sperma yang telah dilakukan pencucian sperma dengan tujuan memisahkan sperma yang motil dengan sperma yang tidak motil/mati. Sesudah itu antara sel telur dan sperma dipertemukan. Jika dengan teknik in vitro, kedua calon bibit tersebut dipertemukan dalam cawan petri, tetapi teknik TAGIT sperma langsung disemprotkan kedalam rahim. Untuk menghindari kemungkinan kegagalan, penenaman bibit biasanya lebih dari satu. Embrio yang tersisa kemudian disimpan beku atau dibuang. 2. 1. Hubungan Bank Sperma dan Perkawinan Perkawinan di dalam Islam merupakan suatu institusi yang mulia. Ia adalah ikatan yang menghubungkan seorang lelaki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri. Hasil dari akad yang berlaku, kedua suami dan isteri mempunyai hubungan yang sah dan kemaluan keduanya adalah halal untuk satu sama lain. Sebab itulah akad perkawinan ini dikatakan sebagai satu akad untuk menghalalkan persetubuhan di antara seorang lelaki dengan wanita, yang sebelumnya diharamkan.

187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, (QS. 2 [al-Baqarah] : 187) Namun, hubungan perkawinan yang wujud ini bukanlah sematamata untuk mendapatkan kepuasan seks, tetapi merupakan satu kedudukan untuk melestarikan keturunan manusia secara sah atau

sebagai wahana hifdhun nasl. Karena itulah kehadiran anak merupakan hal yang didambakan oleh orang tua sebagai generasi penerus dari keluarganya. Dalam Islam perkawinan merupakan hal yang penting, mengingat dari perkawinan ini akan menentukan hukum yang lain yang muncul dari sebab nasab, seperti perwalian, warits dan lain-lain. Namun demikian tidak semua pasangan memiliki kemudahan dalam mendapat keturunan, tetapi ada sebagian mereka yang sulit mendapat keturunan yang disebabkan oleh kurangnya kesuburan, mengidap suatu penyakit atau alasan lain. Maka mucullah gagasan mendirikan bank sperma. Kehadiran bank sperma merupakan peluang bagi pasangan yang sulit untuk mendapatkan keturunan untuk memiliki keturunan melalui jalan lain, yaitu membeli sperma dan diinseminasikan ke dalam rahim isteri. Hal itu bisa dilakukan dengan mudah di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini. 2. Hukum Bank Sperma dan Pendapat Para Ulama Bank sperma merupakan tempat penyimpanan sperma yang diambil dari pendonor, yang perlu dinyatakan untuk menentukan hukum tentang bank sperma adalah, tahap pertama cara pengambilan atau mengeluarkan sperma dari si pendonor, yaitu dengan cara masturbasi (onani). Persoalan dalam hukum Islam adalah bagaimana hukum onani tersebut dalam kaitan dengan pelaksanaan pengumpulan sperma di bank sperma dan inseminasi buatan ?. Secara umum islam memandang melakukan onani merupakan tergolong perbuatan yang tidak etis. Mengenai masalah hukum onani fuqaha berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan secara mutlak dan ada yang mengharamkan pada suatu hal-hal tertentu, ada yang mewajibkan juga pada hal-hal tertentu, dan ada pula yang menghukumi makruh. Sayyid Sabiq mengatakan bahwa Malikiyah, Syafi`iyah, dan Zaidiyah menghukumi haram. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa Allah SWT memerintahkan menjaga kemaluan dalam segala keadaan kecuali kepada isteri dan budak yang dimilikinya. Sebagaimana dalam surat 23 [al-Mu'minun] ayat 5-7 :

3. 5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

4. 6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa. 5. 7. Barangsiapa mencari yang di balik itu[995] Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. ( QS. 23 [al-Mu'minun] : 5 -7) 6. 7. Hanabilah berpendapat bahwa onani memang haram, tetapi kalau karena takut zina, maka hukumnya menjadi wajib, kaidah usul :

8.
9. Mengambil yang lebih ringan dari suatu kemudharatan adalah wajib 10. Kalau tidak ada alasan yang senada dengan itu maka onani hukumnya haram. Ibnu hazim berpendapat bahwa onani hukumnya makruh, tidak berdosa tetapi tidak etis. Diantara yang memakruhkan onani itu juga Ibnu Umar dan Atha` bertolak belakang dengan pendapat Ibnu Abbas, hasan dan sebagian besar Tabi`in menghukumi Mubah. AlHasan justru mengatakan bahwa orang-orang Islam dahulu melakukan onani pada masa peperangan. Mujahid juga mengatakan bahwa orang islam dahulu memberikan toleransi kepada para pemudanya melakukan onani. Hukumnya adalah mubah, baik buat laki-laki maupun perempuan. Ali Ahmad Al-Jurjawy dalam kitabnya Hikmat Al-Tasyri` Wa Falsafatuhu. Telah menjelaskan kemadharatan onani mengharamkan perbuatan ini, kecuali kalau karena kuatnya syahwat dan tidak sampai menimbulkan zina. Agaknya Yusuf Al-Qardhawy juga sependapat dengan Hanabilah mengenai hal ini, Al-Imam Taqiyuddin Abi Bakar Ibnu Muhammad Al-Husainy juga mengemukakan kebolehan onani yang dilakukan oleh isteri atau ammahnya karena itu memang tempat kesenangannya:

11.

12. Seorang laki-laki dibolehkan mencari kenikmatan melalui tangan isteri atau hamba sahayanya karena di sanalah (salah satu) dari tempat kesenangannya. 13. Tahap kedua setelah bank sperma berhasil mengumpulkan sperma dari beberapa pendonor maka bank sperma akan menjualnya kepada pembeli dengan harga tergantung kualitas spermanya, setelah itu agar pembeli sperma dapat mempunyai anak maka harus melalui proses yang dinamakan inseminasi buatan yang telah dijelaskan di atas. Hukum dan penadapat inseminasi buatan menurut pendapat ulama` apabila sperma dari suami sendiri dan ovum dari istri sendiri kemudian disuntikkan ke dalam vagina atau uterus istri, asal keadaan kondisi suami isteri yang bersangkutan benar-benar memerlukan cara inseminasi buatan untuk memperoleh anak, karena dengan cara pembuahan alami, suami isteri tidak berhasil memperoleh anak, maka hukumnya boleh. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum fiqh :

14.

15. Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlakukan seperti dalam keadaan terpaksa (emergency), dan keadaan darurat/terpaksa itu membolehkan melakukkan hal-hal yang terlarang. 16. Diantara fuqaha yang memperbolehkan/menghalalkan inseminasi buatan yang bibitnya berasal dari suami-isteri ialah Syaikh Mahmud Saltut, Syaikh Yusuf al-Qardhawy, Ahmad al-Ribashy, dan Zakaria Ahmad al-Barry. Secara organisasi, yang menghalalkan inseminasi buatan jenis ini Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara`a Depertemen Kesehatan RI, Mejelis Ulama` DKI Jakarta, dan lembaga Islam OKI yang berpusat di Jeddah. 17. Selain kasus di atas (sperma dari suami ditanam pada rahim isteri) demi kehati-hatian maka ulama mengharamkannya. Contoh sperma dari orang lain ditanam pada rahim isteri. Diantara yang mengharamkan adalah Lembaga fiqih Islam OKI, Majelis Ulama DKI Jakarta, Mahmud Syaltut, Yusuf al-Qardhawy, al-Ribashy dan zakaria ahmad al-Barry dengan pertimbangan dikhawatirkan adanya percampuran nasab dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Hal ini sesuai dengan keputusan Majelis Ulama Indonesia tentang masalah bayi tabung atau inseminasi buatan. 18. Dengan demikian hukum pendirian bank sperma bisa mubah jika bertujuan untuk memfasilitasi suami isteri yang ingin menyimpan sperma suaminya di bank tersebut, sehingga jika suatu saat nanti terjadi hal yang dapat menghalangi kesuburan, isteri masih bias hamil dengan cara inseminasi yang halal. Adapun jika tujuan pendirian bank sperma adalah untuk mendonorkan sperma kepada wanita yang bukan isterinya maka pendirian bank sperma adalah haram, karena hal yang mendukung terhadap terjadinya haram maka hukumnya haram.

BAB III KESIMPULAN

Perbedaan pandangan ulama terhadap beberapa masalah penyusuan mengakibatkan mereka berbeda pendapat di dalam menyikapi munculnya Bank ASI, sebagaimana berikut : Pendapat Pertama menyatakan bahwa mendirikan bank ASI hukumnya boleh. Salah satu alasannya: Bayi tidak bisa menjadi mahram bagi ibu yang disimpan ASInya di bank ASI. Karena susuan yang mengharamkan adalah jika dia menyusu

langsung. Sedangkan dalam kasus ini, sang bayi hanya mengambil ASI yang sudah dikemas. Pendapat Kedua menyatakan hukumnya haram. Menimbang dampak buruknya menyebabkan tercampurnya nasab. Dan mengikuti pendapat jumhur yang tidak membedakan antara menyusu langsung atau lewat alat. Majma' al Fiqh al Islami (OKI) dalam Muktamar yang diselenggarakan di Jeddah pada tanggal1-6 Rabi'u at Tsani 1406 H memutuskan bahwa pendirian Bank ASI di negara-negara Islam tidak dibolehkan, dan seorang bayi muslim tidak boleh mengambil ASI darinya. Pendapat Ketiga menyatakan bahwa pendirian Bank ASI dibolehkan jika telah memenuhi beberapa syarat yang sangat ketat, diantaranya: setiap ASI yang dikumpulkan di Bank ASI, harus disimpan di tempat khusus dengan meregistrasi nama pemiliknya dan dipisahkan dari ASI-ASI yang lain. Setiap bayi yang mengkonsumsi ASI tersebut harus dicatat detail dan diberitahukan kepada pemilik ASI, supaya jelas nasabnya. Dengan demikian, percampuran nasab yang dikhawatirkan oleh para ulama yang melarang bisa dihindari. Adapun hukum pendirian bank sperma tergantung dari dua hal, yaitu cara pengambilan sperma dari donor dan proses inseminasi. Pengambilan sperma dilakukan melalui masturbasi dan para ulama beda pendapat dalam menanggapi masturbasi ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Sedang masalah inseminasi, jika inseminasi yang halal (sperma suami diinseminasikan kepada rahim isteri) maka hukumnya boleh, sedang jika inseminasi yang haram maka hukumnya haram http://www.smkdarunnajah.sch.id/2011/09/hukum-bank-asi-dan-bank-sperma.html