Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Khitan adalah syariat Islam yang menjadi sunnah Nabi Muhamad SAW.
bahkan dalam syariat Nabi Ibrahim as. Dalam Al Hadits banyak sekali dijumpai
perintah yang mewajibkan khitan. Anak yang sudah mencapai usia baligh wajib
melakukannya, karena secara syar’i dirinya sudah dianggap menjadi seorang
mukallaf.
Perintah khitan sebetulnya adalah ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim as.
atas perintah Allah SWT. Dalam kitab Mughni Al-Muhtaj dikatakan bahwa laki-
laki yang pertama melakukan khitan adalah Nabi Ibrahim as. Islam
memerintahkan melakukannya dengan tujuan mengikuti millah Ibrahim as. dan
sebagai syarat kesucian dalam ibadah, karena ibadah (shalat) mensyaratkan
kesucian badan, pakaian dan tempat.
Banyak orang tua yang mengkhitankan anak-anaknya, tetapi hal itu ia
lakukan tidak disertai penghayatan terhadap makna khitan. Ia merasa cukup
dengan membawa anaknya kepada ahli khitan dan membayar sekian rupiah, lalu
selesai. Ia tidak pernah mencari tahu makna apa yang terkandung dalam khitan.
Dalam pandangan Islam, anak adalah perhiasan Allah SWT yang
diberikan kepada manusia. Hadirnya akan membuat bahagia ketika
memandangnya, hati akan terasa tentram dan suka cinta setiap bercanda dengan
mereka, dialah bunga di kehidupan dunia.
Khitan bukan hal asing di kalangan umat Islam. Ia menjadi penting karena
di samping menjadi perintah Allah, ia juga menjadi persyaratan kesempurnaan
seseorang dalam melaksanakan ibadah seperti, shalat lima waktu, membaca Al
Quran, haji dan ibadah lain yang mensyaratakan kesucian dari hadats dan najis.
Oleh karena itu, seorang anak yang telah berstatus Mukallaf bertanggung jawab
atas semua kewajiban melaksanakan shalat, puasa dan lain-lain. Karena ia sendiri
yang terkena kewajiban shalat, makanya dirinya pula yang harus menunaikan
shalat tersebut dan bukan kedua orang tua. Tugas orang tua hanya memberi
pengertian dan pendidikan kepada anak.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Khitan menurut bahasa berasal dari akar kata arab khatana, yakhtanu,
khatnan yang berarti “memotong”. Berdasarkan ilmu syar’i, pengertian khitan
berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Khitan bagi laki-laki adalah memotong
kulit yang menutupi hasyafah (kepala kemaluan), sehingga menjadi terbuka.
Sedangkan khitan bagi perempuan adalah membuang bagian dalam faraj yaitu
kelentit atau gumpalan jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva
bagian atas kemaluan perempuan. Khitan bagi laki-laki dinamakan juga I’zar dan
bagi perempuan disebut khafd. Namun keduanya lazim disebut khitan.

2.2 Manfaat Khitan


Di antara hikmah-hikmah khitan yang terkandung dari pelaksanaan khitan
adalah
1. Khitan merupakan pangkal fitrah, syiar Islam dan syari’at
2. Khitan merupakan salah satu masalah yang membawa kesempurnaan ad-
Din yang disyari’atkan Allah swt. lewat lisan Nabi Ibrahim as.
sebagaimana terdapat dalam QS. 16:123 yang berbunyi:
3. Khitan itu membedakan kaum muslimin daripada pengikut agama lain
4. Khitan merupakan pernyataan Ubudiyah terhadap Allah swt, ketaatan
melaksanakan perintah, hukum dan kekuasaannya

Berikut ini adalah sedikit faedah-faedah khitan menurut al-Hawani :


Pertama : Dengan memotong Qulfah atau kulup seorang anak, ia akan terbebas
dari endapan yang mnegandung lemak, dan lendir-lendir yang sangat kotor. Ini
dapat menekan serendah mungkin terjadinya peradangan pada kemaluan, dan
proses pembusukan yang diakibatkan oleh endapan lendir-lendir tersebut.

Kedua: Dengan terpotongnya Qulfah, batang kemaluan akan bebas dari kekangan
semasa terjadi ketegangan (ereksi)

2
Ketiga : Dengan khitan kemungkinan terserang penyakit kanker sangat kecil.
Realitas menunjukan penyakit kanker penis ternyata banyak diderita oleh orang
yang tidak di khitan. Dan jarang sekali menimpa bangsa-bangsa yang syariat
agamanya memerintahkan agar pemeluknya berkhitan.

Keempat : Bila secepatnya mengkhitan sang anak, berarti kita telah


menghindarkan dari kebiasaan ngompol di tempat tidur. Penyebab utama anak
mengompol ditempat tidur pada malam hari karena qulfahnya terasa gatal dan
keruh (tergelitik).

Kelima : Dengan khitan anak terhinar dari bahaya melakukan onani. Apabila
qulfah masih ada, maka lendir-lendir yang tertumpuk dalam gulfah, ini dapat
merangsang syaraf-syaraf kemaluan dan mengelitik ujung kemaluan yang
merupakan daerah sensitif terhadap rangsangan (stimulus). Maka dia akan sering
menggaruknya. Bila hal ini terus berjalan sampai usia puber, maka dia akan
semakin sering mempermainkannya sehingga akhirnya kebiasaan itu meningkat
pada onani.

Keenam : Para dokter mengatakan secara tidak langsung khitan berpengaruh pada
daya tahan sek. Oleh sebagian lembaga ilmiah pernah diadakan suatu sensus
mengenai hal ini. Hasilnya menunjukan bahwa orang yang berkhitan mempunyai
kemampuan seks yang cukup lama dibandingkan orang yang tidak dikhitan. Falh
Gray juga menyatakan berdasarkan penelitiannya, orang yang khitan memiliki
ketahanan lebih lama dibanding orang yang tidak dikhitan dalam melakukan
hubungan suami istri (al-Halwani :46) versi lengkap.

2.3 Hukum Khitan Menurut Imam Mazhab


Hukum dasar khitan menurut beberapa mazhab berbeda-beda. Menurut
beberapa fuqaha mengenai hukum dasar khitan adalah sebagai berikut:
1. Mazhab Syafi’i. Menurut mazhab Syafi’i, khitan bagi laki-laki dan perempuan
hukumnya wajib. Hal ini didasarkan pada Al Qur’an, surah An Nahl : 123.
Dalam ayat tersebut yang dimaksud dengan millah Nabi Ibrahim as, salah

3
satunya adalah berkhitan. Dan berdasarkan hadits Rasulullah saw yakni, dari
Aisyah ra, bahwa Rasulullah bersabda, “Potonglah rambut kufur darimu dan
berkhitanlah” (HR Muslim)
2. Mazhab Hambali. Menurut mazhab Hambali, khitan bagi laki-laki hukumnya
wajib dan khitan memuliakan bagi perempuan. Hal ini sebagaimana hadits
Rasulullah saw, “Khitan itu sunah buat laki-laki dan memuliakan buat
wanita” (Ahmad dan Baihaqi).
3. Mazhab Maliki dan Hanafi. Menurut kedua mazhab ini hukum khitan adalah
sunnah muakkad bagi laki-laki dan perempuan, dalilnya: Dari Anas Ibn Malik
R.a, bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada Ummu Athiyyah,
tukang khitan perempuan di Madinah: “Sentuhlah sedikit saja dan jangan
berlebihan, karena hal itu adalah bagian kenikmatan perempuan dan
kecintaan suami.” (HR Abu Dawud)
Adapun dalil-dalil yang dijadikan landasan para ulama yang mengatakan
khitan hukumnya wajib antara lain:
1. Dari Abu Hurairah Rasulullah saw bersabda bahwa nabi Ibrahim
melaksanakan khitan ketika berumur 80 tahun, beliau khitan dengan
menggunakan kapak. (H.R. Bukhari). Nabi Ibrahim melaksanakannya
ketika diperintahkan untuk khitan padahal beliau sudah berumur 80 tahun.
Ini menunjukkan betapa kuatnya perintah khitan.
2. Kulit yang di depan alat kelamin terkena najis ketika kencing, kalau tidak
dikhitan maka sama dengan orang yang menyentuh najis di badannya
sehingga sholatnya tidak sah. Sholat adalah ibadah wajib, segala sesuatu
yang menjadi prasyarat sholat hukumnya wajib.
3. Hadist riwayat Abu Dawud dan Ahmad, Rasulullah saw berkata kepada
Kulaib: “Buanglah rambut kekafiran dan berkhitanlah”. Perintah
Rasulullah saw menunjukkan kewajiban.
4. Diperbolehkan membuka aurat pada saat khitan, padahal membuka aurat
sesuatu yang dilarang. Ini menujukkan bahwa khitab wajib, karena tidak
diperbolehkan sesuatu yang dilarang kecuali untuk sesuatu yang sangat
kuat hukumnya.

4
5. Memotong anggota tubuh yang tidak bisa tumbuh kembali dan disertai
rasa sakit tidak mungkin kecuali karena perkara wajib, seperti hukum
potong tangan bagi pencuri.

2.4 Khitan Bagi Laki-Laki.


Khitan pada anak laki-laki dilakukan dengan cara memotong kulup
(qalfah/preputium) atau kulit yang menutupi ujung zakar. Minimal
menghilangkan apa yang menutupi ujung zakar, dan disunnahkan untuk
mengambil seluruh kulit di ujung zakar tersebut.
Al-Imam al-Mawardi telah menjelaskan, untuk melaksanakan khitan ada
dua waktu, waktu yang wajib dan waktu yang mustahab (sunnah). Waktu yang
wajib adalah ketika seorang anak mencapai baligh, sedangkan waktu mustahab
sebelum baligh. Boleh pula melakukannya pada hari ketujuh setelah kelahiran.
Juga disunnahkan untuk tidak mengakhirkan pelaksanaan khitan dari waktu
mustahab kecuali karena ada uzur. (Fathul Bari, 10/355)
Dijelaskan pula masalah waktu pelaksanaan khitan ini oleh Ibnul Mundzir.
Beliau mengatakan, “Tidak ada larangan yang ditetapkan oleh syariat yang
berkenaan dengan waktu pelaksanaan khitan ini. Juga tidak ada batasan waktu
yang menjadi rujukan dalam pelaksanaan khitan tersebut, begitu pula sunnah yang
harus diikuti. Seluruh waktu diperbolehkan. Tidak boleh melarang sesuatu kecuali
dengan hujjah. Kami juga tidak mengetahui adanya hujjah bagi orang yang
melarang khitan anak kecil pada hari ketujuh.” (Dinukil dari al-Majmu’ Syarhul
Muhadzdzab, 1/352)
Yang juga tak lepas dari kaitan pelaksanaan khitan ini adalah masalah
walimah khitan. Sebagaimana yang lazim di tengah masyarakat, setelah anak
dikhitan, diundanglah para tetangga untuk menghadiri acara makan bersama.
Mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya, bolehkah yang demikian ini
diselenggarakan?
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani telah menyebutkan di akhir-akhir “bab
Walimah” pada Kitab an-Nikah dalam syarah beliau terhadap kitab Shahih al-
Bukhari tentang disyariatkannya mengundang orang-orang untuk menghadiri

5
walimah dalam khitan. Beliau juga menyebutkan bahwa riwayat dari ‘Utsman bin
Abil ‘Ash z yang menyatakan:
“Kami tidak pernah mendatangi walimah khitan semasa Rasulullah n dan tidak
pernah diadakan undangan padanya.”
Mungkin masih tersisa pertanyaan di benak ayah dan ibu, manakala
mengingat buah hatinya menanggung rasa sakit, bolehkah memberikan hiburan
kepadanya. Dikisahkan oleh Ummu ‘Alqamah:
“Anak-anak perempuan saudara laki-laki ‘Aisyah dikhitan, maka ditanyakan
kepada ‘Aisyah, ‘Bolehkah kami memanggil seseorang yang dapat menghibur
mereka?’ ‘Aisyah mengatakan, ‘Ya, boleh.’ Maka aku mengutus seseorang untuk
memanggil ‘Uda, lalu dia pun mendatangi anak-anak perempuan itu. Kemudian
lewatlah ‘Aisyah di rumah itu dan melihatnya sedang bernyanyi sambil
menggerak-gerakkan kepalanya, sementara dia mempunyai rambut yang lebat.
‘Aisyah pun berkata, ‘Cih, setan! Keluarkan dia, keluarkan dia!’.” (Dihasankan
oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 945 dan dalam
ash-Shahihah no. 722)
Atsar dari Ummul Mukminin ‘Aisyah kali ini menunjukkan disyariatkannya
memberikan hiburan kepada anak yang dikhitan agar dia melupakan sakit yang
dirasakannya. Bahkan ini termasuk kesempurnaan perhatian ayah dan ibu kepada
sang anak. Akan tetapi, tentu saja hiburan tersebut tidak boleh berlebih-lebihan
sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang, seperti menggelar nyanyian,
menabuh alat-alat musik, dan selainnya yang tidak ditetapkan oleh syariat.
(Ahkamul Maulud, 113—114)
Semua ini tentu tak kan luput dari perhatian ayah dan ibu yang ingin
membesarkan buah hatinya di atas ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya n.
Mereka berdua tak akan membiarkan sekejap pun dari perjalanan hidup mutiara
hati mereka, kecuali dalam bimbingan agamanya.

2.5 Khitan bagi wanita.


Khitan bagi perempuan adalah memotong sedikit kulit (selaput) yang
menutupi ujung klitoris (preputium clitoris) atau membuang sedikit dari bagian
klitoris (kelentit) atau gumpalan jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang

6
vulva bagian atas kemaluan perempuan. Khitan bagi laki-laki dinamakan juga
I’zar dan bagi perempuan disebut khafd.
Bagi wanita fungsi khitan adalah (di antaranya) untuk menstabilkan
rangsangan syahwatnya. Jika dikhitan terlalu dalam bisa membuat dia tidak
memiliki hasrat sama sekali, sebaliknya, jika kulit yang menonjol ke atas
vaginanya (Klitoris) tidak dipotong bisa berbahaya, karena kalau tergesek atau
tersentuh sesuatu dia cepat terangsang. Maka Rasululloh Shallallahu alaihi wa
Salam bersabda kepada tukang khitan wanita (Ummu A'Thiyyah), yang artinya:
"Janganlah kau potong habis, karena (tidak dipotong habis) itu lebih
menguntungkan bagi perempuan dan lebih disenangi suami." (HR: Abu Dawud)
Mengenai khitan bagi wanita ini memang kurang dikenal oleh sebagian
besar masyarakat kita, namun semoga saja melalui informasi ini, kita mulai
mengamalkannya dan bagi muslimah dengan profesi medis mulai mempelajari
atau mendalami hal ini sehingga membantu umat Islam dalam melaksanakan
khitan bagi kaum wanita, sehingga jangan sampai yang mengkhitan muslimah
yang baligh adalah para lelaki.
Sebuah kekhawatiran apabila tidak di khitan bagi wanita adalah akan
menyebabkan menjadi salah satu pendorong dia menjadi lesbian. Maka dari itu
Islam memerintahkan agar menstabilkan syahwatnya dengan cara khitan

2.6 Hukum khitan.


1)      Ulama-Ulama Yang Mengatakan Wajib
Imam Nawawi (al-Majmu’ (1/301) mengatakan bahwa jumhur atau
mayoritas ulama menetapkan khitan itu wajib bagi laki-laki dan perempuan. Imam
Nawawi menekankan bahwa jumhur itu mewakili mazhab Syafi’i, Hanabilah dan
sebagian Malikiah. Pendapat ini turut didukung oleh Syaikh Muhammad Mukhtar
al-Syinqithi (Ahkamul Jiraha wa Tibbiyah (168)) dan salafi Syam pimpinan al-
Albani.
Kalau menurut Imam Ibn Qudamah (al-Mughni 1/85) malah lain lagi.
Menurut beliau jumhur menetapkan bahwa khitan wajib bagi laki-laki tapi
dianjurkan (mustahab) bagi perempuan. Imam Qudamah malah mendakwa bahwa

7
jumhur itu mewakili sebagian Hanbilah, sebagian Maliki dan Zahiri. Pendapat Ibn
Qudamah disetujui oleh Syaikh Ibn Uthaimiin.
Disini kita bisa melihat bahwa istilah jumhur (mayoritas) itu sendiri tidak
sama antara Imam Ibn Qudamah dan Imam Nawawi. Dalil-dalil yang mereka
pakai untuk menyatakan bahwa khitan itu hukumnya wajib adalah sebagai berikut.
a.       Dalil dari Al’Quran
a)     Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat
(perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya (Al’Quran 2:124).
Menurut Tafsir Ibn Abbas, khitan termasuk ujian ke atas Nabi Ibrahim dan
ujian ke atas Nabi adalah dalam hal-hal yang wajib (al-Fath, 10:342).
b)     Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim
seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan (Al’Quran 16:123). Menurut Ibn Qayyim (Tuhfah,
101), khitan termasuk dalam ajaran Ibrahim yang wajib diikuti sehingga ada
dalil yang menyatakan sebaliknya.
b.      Dalil Hadith
a)      Dari Utsaim bin Kulaib dari ayahnya dari datuknya, bahwa dia datang
menemui RasuluLlah S.A.W dan berkata, “Aku telah memeluk Islam. Maka
Nabi pun bersabda, “Buanglah darimu rambut-rambut kekufuran dan
berkhitanlah.” [HR Ahmad, Abu Daud dan dinilai Hasan oleh al-Albani].
Hadith ini dinilai dha’if oleh manhaj mutaqaddimin.
b)      Dari az-Zuhri, bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa masuk Islam, maka
berkhitanlah walaupun sudah dewasa.” Komentar Ibn Qayyim yang
memuatkan hadith di atas dalam Tuhfah, berkata walaupun hadith itu dha’if,
tapi ia dapat dijadikan penguat dalil.
c.       Atsar Salaf
a)      Kata Ibn Abbas, ” al-Aqlaf (orang belum khitan) tidak diterima solatnya dan
tidak dimakan sembelihannya.” (Ibn Qayyim, Tuhfah) dalam versi Ibn Hajar
“Tidak diterima syahadah, solat dan sembelihan si Aqlaf (org belum khitan)”.
Itulah dalil-dalil yang dipegang oleh mayoritas fuqaha yang menyatakan
khitan itu wajib.

8
2)      Ulama-Ulama Yang Mengatakan Sunnat
Pendapat ini didukung oleh Hanafiah dan Imam Malik. Syeikh al-
Qardhawi menyetujui pendapat ini dan berkata, “Khitan bagi lelaki cuma
sunnah syi’ariyah atau sunnah yang membawa syi’ar Islam yang harus
ditegakkan. Ini juga pendapat al-Syaukani. (Fiqh Thaharah)
a.       Dalil Hadisth
a)      Dari Abu Hurayrah ra: “Perkara fitrah ada lima: berkhitan….” (Sahih
Bukhari-Muslim). Oleh kerana khitan dibariskan sekali dengan sunan alfitrah
yang lain, maka hukumnya adalah sunat juga. (al-Nayl oleh Syaukani).
b)      “Khitan itu sunnah bagi kaum lelaki dan kehormatan bagi kaum wanita.” (HR
Ahmad, dinilai dha’if oleh mutaqaddimin dan mutaakhirin seperti al-Albani).
Jika hadith ini sahih barulah isu hukum wajib dan sunat dapat diselesaikan
secara muktamad. Sayangnya hadith yang begini jelas adalah dha’if.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Khitan menurut bahasa berasal dari akar kata arab khatana, yakhtanu,
khatnan yang berarti “memotong”. Berdasarkan ilmu syar’i, pengertian khitan
berbeda untuk laki-laki dan perempuan.
Khitan pada anak laki-laki dilakukan dengan cara memotong kulup
(qalfah/preputium) atau kulit yang menutupi ujung zakar. Minimal
menghilangkan apa yang menutupi ujung zakar, dan disunnahkan untuk
mengambil seluruh kulit di ujung zakar tersebut.
Khitan bagi perempuan adalah memotong sedikit kulit (selaput) yang
menutupi ujung klitoris (preputium clitoris) atau membuang sedikit dari bagian
klitoris (kelentit) atau gumpalan jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang
vulva bagian atas kemaluan perempuan.
Hukum melakukan khitan berbeda-beda, ada sebagian ulama mengatakan
wajib dan ada yang mengatakan sunnah bagi kaum lelaki dan kehormatan bagi
kaum wanita. Menurut Kata Ibn Abbas, ” al-Aqlaf (orang belum khitan) tidak
diterima solatnya dan tidak dimakan sembelihannya.” (Ibn Qayyim, Tuhfah).

3.2 Saran
1. Bagi wanita yang telah mampu, mengetahui bahwa khifadh (khitan wanita)
itu memiliki banyak manfaat, meskipun tidak ada dalil shahih yang
mewajibkan, dan siap untuk dikhifadh, berkhifadhlah!
2. Bagi yang telah mampu dan mengetahui manfaat khitan, namun belum
siap untuk di khitan, maka persiapkan diri terlebih dahulu.
3. Bagi yang telah mampu, namun belum siap dan belum mengetahui
manfaat khitan, maka terlebih dahulu mencari informasi tentang manfaat
khitan

10
DAFTAR PUSTAKA

Tausyiah275.blogsome.com – Tinjauan Sunat (Khitan) Perempuan Menurut Islam

Hasan, M. Ali.2003.Masail Fiqhiyah al-Haditsah.Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Asrori, Achmad Ma’ruf, Ismail, Suheri, Faizin, Khoirul. 1998. Berkhitan, Akikah,
Kurban. Surabaya : Penerbit Al Miftah.

Hindi, Maryam Ibrahim, Dr. 2008. Misteri di Balik Khitan Wanita. Solo : Penerbit
Zamzam.

Muslim Al-Atsari, Al-Ustadz Abu Ishaq. 2007. Makalah Sunnah-sunnah Fithrah


(Masalah Khitan).

Niam, Muhammad. 2010. Makalah Ajaran Khitan dalam Islam.

11
KATA PENGANTAR

Segala puji kita panjatkan ke hadirat Ilahi Rabbi, Tuhan yang senantiasa
melimpahkan taufik serta hidayah Nya kepada kita semua. Alhamdulillah, berkat
rahmat Nya pula segala bentuk kesukaran berbuah kemudahan dalam
menyelesaikan tulisan makalah ini. salam dan taslim tak lupa kita haturkan kepada
Baginda Rasulullah SAW, Nabi akhir zaman pembawa serta penyempurna
pedoman dan tuntunan hidup bagi umat manusia di muka bumi.
Merupakan fondasi utama dari makalah ini adalah sebagai acuan dalam
pengembangan ilmu pengetahuan tentang segala ilmu syar'I khususnya dalam
bidang pensucian diri. Hal ini dianggap sangat penting mengingat keberadaan
hukum – hukum islam yang kurang ditegakkan oleh kaum muslimin. Sedangkan
peranan ilmu syar'i adalah cermin untuk melihat varian problema itu dalam
bingkai solusi dan penyelesaian. Sehingga pada akhirnya akan menghasilkan
sesuatu yang sesuai atau tidak dengan target tujuan yang telah ditetapkan.
Materi yang kami susun dalam makalah ini merupakan jenis materi yang
agak lumayan rumit diniliai dari tingkatan keilmuannya. Oleh sebab itu, kami
tidak berani menilai bahwa dalam penulisan makalah ini mengandung nilai
kesempurnaan. Namun dalam mendekati kesempurnaan itu kami sangat berharap
saran serta sumbangsi pola pikir anda sangat kami butuhkan.
Sebagai manusia biasa kami sangat sarat dengan kekurangan dan kesalahan,
dengan itu kami menyampaikan permintaan maaf dan ucapan terimah kasih yang
sebasar- besarnya .

Matangglumpangdua, Maret 2013

Penulis

i 12
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian ................................................................................................ 2
2.2 Manfaat Khitan .......................................................................................... 2
2.3 Hukum Khitan Menurut Imam Mazhab ................................................... 3
2.4 Khitan Bagi Laki-Laki. .............................................................................. 5
2.5 Khitan bagi wanita. ................................................................................... 6
2.6 Hukum khitan. ........................................................................................... 7

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ............................................................................................... 10
3.2 Saran ......................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA

ii13

Anda mungkin juga menyukai