Anda di halaman 1dari 3

A.

Pembersih Lantai dan Toilet


Pembersih lantai dan toilet umumnya mengandung formalin sebagai bahan aktif.
Formalin berfungsi sebagai pembunuh kuman, akan tetapi beracun jika termakan. Untuk itu
berhati- hatilah menggunakan pembersih lantai. Untuk lebih memberikan kenyamanan pada
si pemakai, biasanya pembersih lantai diberi pewangi. Hal ini karena bau formalin yang tidak
enak.
Bahan utama dalam pembersih lantai adalah disinfektan (pembasmi kuman). Disin
fektan yang pertama digunakan dalam pembersih lantai yaitu fenol atau asam karbolat
(carbolic acid). Fenol tergolong zat yang beracun dan merusak kulit. Sekarang ini, terdapat
berbagai disinfektanlain yang lebih baik, misalnya heksil resorsinol dan kresol.
Rumah atau kamar mandi yang berporselen biasanya menggunakan pembersih porselen.
Pembersih porselen memiliki komposisi yang berbeda dengan pembersih lantai. Biasanya
pembersih porselen dibuat dari asam-asam kuat seperti klorida (HCL). Asam tersebut berguna
untuk melarutkan kotoran yang ada di porselen.
Dampak dari Pembersih Lantai
Pada umumnya, semua produk pembersih mengandung sabun dan deterjen. Sabun adalah
bahan kimia yang terbuat dari bahan alami seperti minyak dan lemak, sedangkan deterjen
adalah senyawa kimia bernama alkyl benzene sulfonat (ABS) yang dikreasikan dengan
natrium hidroksida (NaOH). Dari bahan pembersih diatas pasti efek samping yang dapat
membahayakan lingkungan. Untuk itu anda harus mengetahui apa sajakah efek sampingnya,
ini dia efek samping pembersih :
a. Merusak fungsi tanah. Hal ini dikarenakan kandungnya kimia dalam bahan pembersih
tertentu sulit diuraikan oleh mikroorganisme dalam tanah.
b. Pembuangan limbah deterjen diperairan maupun selokan rumah tangga yang dialirkan
pada tanah dapat menyebabkan organisme/hewan di perairan mati.
c. Merugikan kesehatan manusia. Misalnya pembersih lantai yang mengandung bahan
aktif benzalkonium klorida yang bersifat desinfektan, kaustik, dan korosif dapat
menimbulkan iritasi pada kulit dan jika mengenai mata dapat menimbulkan gangguan
mata.

B. Gas LPG
LPG merupakan propana atau butana atau campuran propana dan butana dalam bentuk
cair, untuk memudahkan penyimpanan dan pengangkutannya ke konsumen.

LPG dapat diperoleh dari hasil ekstraksi gas alam atau dari hasil penyulingan minyak
bumi. Jika kandungan propana dan butana yang terkandung pada gas alam cukup besar dan
ekonomis untuk dijadikan produk LPG, maka komponen C3 dan C4 tersebut akan dipisahkan
dari gas alam melalui proses ekspansi yaitu dengan menurunkan tekanan gas alam sehingga
fraksi propana dan butana akan terkondensasi dan dapat dipisahkan dari fraksi metana.
Pemrosesan LPG seperti ini pernah dilakukan di kilang LNG Arun dan LNG Bontang,
dimana LPG yang dihasilkan merupakan refirigerated LPG yaitu LPG dengan tekanan 1
atmosfir dan temperatur lebih rendah dari temperatur kamar (-40 o C untuk propana dan -6 o
Celcius untuk butana), sehingga tangki penyimpanannya harus dilengkapi dengan sistem
pendinginan.
Sedangkan LPG yang dihasilkan dari hasil penyulingan minyak bumi (refinerynya Pertamina)
merupakan pressurized LPG yaitu propana dan butana cair yang diperoleh melalui proses
distilasi dengan temperatur sekitar temperatur kamar namun tekanannya tinggi yaitu sekitar
17 atmosfir untuk propana murni dan 6 atmosfir untuk butana murni. LPG yang dijual di
tabung2 untuk keperluan rumah tangga merupakan campuran propana dan butana dengan
perbandingan volume propana dan butana 50% : 50% dan tekanan sekitar 8 atmosfir.
NGL (Natural Gas Liquid) adalah hasil ekstraksi dari gas alam yang telah dipisahkan dari
kandungan metananya, jadi NGL merupakan campuran Hidrokarbon dalam bentuk cair yang
terdiri dari etana, propana, butana, pentana dstnya dan biasanya menjadi bahan baku untuk
industri. Kandungan kimia NGL hampir sama dengan LPG namun istilah NGL biasanya
untuk bahan baku yang sudah dipisahkan komponen metana (CH4) nya sedangkan LPG
merupakan istilah untuk produk propana dan butana yang sudah dimurnikan. NGL pernah
dihasilkan dari ladang gas Arun, dimana gas alam (mayoritas komponen metana) dan NGL
tersebut dialirkan secara terpisah melalui pipa ke kilang LNG Arun, lalu NGL tersebut
kemudian dipisahkan kembali menjadi produk LPG berupa propana dan butana murni seperti
yang telah dijelaskan di atas.

Masih terkait dengan senyawa hidrokarbon tersebut, mungkin sering juga mendengar istilah
kondensat pada industri gas alam. Kondensat adalah fraksi Hidrokarbon cair yang dihasilkan
dari proses pemisahan fasa gas dan cair dari gas alam yang berasal dari sumur gas. Selain itu
kondensat juga dapat diperoleh dari hasil pemrosesan LPG maupun LNG. Komponen utama
kondensat adalah fraksi pentana, heksana, heptana, oktana dan seterusnya yang dapat
diproses lebih lanjut untuk menghasilkan bahan bakar lainnya seperti gasoline maupun untuk
produk-produk petrokimia lainnya. Pada umumnya kondensat ini lebih banyak mengandung
fraksi hidrokarbon yang lebih ringan dibandingkan dengan minyak bumi, walaupun samasama berbentuk hidrokarbon cair.
Dampak Gas LPG
Dampak positif

Lebih praktis
Tidak mengeluarkan asap
Tidak boros
Dampak Negatif

cepat Meledak Jika Dipakai Tak Hati hati


Banyak Pemalsuan Elpiji Dengan di suntik
Banyak elpiji bocor

Diposkan oleh Mardevin Kartianto | Tuesday, 29 October 2013


Salam Ina
Posted by Sri Inayati at 9:03 PM