Anda di halaman 1dari 12

PEMBAHASAN

Apa itu Globalisasi


Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan
peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di
seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer,
dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi
semakin sempit.
Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan
antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama
lain yang melintasi batas Negara Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai
banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah
ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi
yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat,
termasuk diantaranya aspek social budaya. Globalisasi sebagai sebuah gejala
tersebarnya nilai-nilai social dan budaya tertentu ke seluruh dunia (sehingga
menjadi budaya atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Perkembangan
globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal abad ke-20 dengan
berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan
kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa. Perubahan tersebut
menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan
semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.
Globalisasi Media
Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi kini menjadi satu kata yang
nyaring terdengar di seluruh dunia pada abad 21 ini. Prokontra pun mewarnai
perjalanan globalisasi sebagai sebuah fenomena. Perubahan yang terjadi secara
menyeluruh, dirasakan secara kolektif, dan mempengaruhi banyak orang (lintas
wilayah-lintas negara) yang mempengaruhi gaya hidup dan lingkungan kita.
Dunia memang berubah dan globalisasi adalah dunia yang terhubung (connected

world) seolah tanpa batas; atau meminjam istilahnya McLuhan sebagai global
village (Fakih, 2006; McLuhan, 1994).
Salah satu pemaknaan terhadap globalisasi dikatakan bahwa globalisasi
merupakan both a journey and destination: it signifies abd historical process of
becoming, as well as an economic and cultural result; that is arrival at the
globalized state (suatu perjalanan sekaligus juga tujuan: ia menentukan sejarah
proses menjadi serta hasil ekonomi dan budaya; yakni sampai pada keadaan yang
mengglobal (Ferguson, 2002: 239).
Globalisasi pada hakikatnya ternyata telah membawa nuansa budaya dan
nilai yang mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat. Melalui media yang
kian terbuka dan terjangkau, masyarakat menerima berbagai informasi tentang
peradaban baru yang datang dari seluruh penjuru dunia. Padahal, kita menyadari
belum semua warga negara mampu menilai sampai dimana kita sebagai bangsa
berada. Begitulah, misalnya, banjir informasi dan budaya baru yang dibawa media
tak jarang teramat asing dari sikap hidup dan norma yang berlaku.
Peran Media Massa
Sebelum masuk mengenai pembahasan globalisasi media, akan coba kita
tilik bersama mengenai peran media massa yang mengafirmasi kecenderungan
akan adanya kondisi global tersebut. Sebagaimana diketahui, peran media massa
dalam kehidupan sosial, terutama dalam masyarakat modern tidak ada yang
menyangkal, menurut McQuail dalam bukunya Mass Communication Theories
(2000: 66), ada enam perspektif dalam hal melihat peran media. Pertama, melihat
media massa sebagai window on event and experience. Media dipandang
sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang
terjadi di luar sana. Atau media merupakan sarana belajar untuk
mengetahui berbagai peristiwa.
Kedua, media juga sering dianggap sebagai a mirror of event in society
and the world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada
di masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para
pengelola media sering merasa tidak bersalah jika isi media penuh dengan

kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai keburukan lain, karena memang


menurut mereka faktanya demikian, media hanya sebagai refleksi fakta, terlepas
dari suka atau tidak suka. Padahal sesungguhnya, angle, arah dan framing dari isi
yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para profesional
media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang mereka
inginkan.
Ketiga, memandang media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang
menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media senantiasa
memilih issue, informasi atau bentuk content yang lain berdasar standar para
pengelolanya. Di sini khalayak dipilihkan oleh media tentang apa-apa yang
layak diketahui dan mendapat perhatian .Keempat, media massa acapkali pula
dipandang sebagai guide, penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan
dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian, atau alternatif yang beragam.
Kelima, melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan
berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkin terjadinya
tanggapan dan umpan balik. Keenam, media massa sebagai interlocutor, yang
tidak hanya sekadar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner
komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.
Dari sini dapat dilihat bahwa peran media dalam kehidupan sosial bukan
sekedar sarana diversion, pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi isi dan informasi
yang disajikan, mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi media
massa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di
media massa akan mempengaruhi realitas subjektif pelaku interaksi sosial
(DeFleur dan Ball-Rokeach, 1989; Curran et. al, 1979).
Gambaran tentang realitas yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang
nantinya mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial.
Informasi yang salah dari media massa akan memunculkan gambaran yang salah
pula terhadap objek sosial itu. Karenanya media massa dituntut menyampaikan
informasi secara akurat dan berkualitas. Kualitas informasi inilah yang merupakan
tuntutan etis dan moral penyajian media massa.

Globalisasi Media: Praktik Imperialisme Budaya


Menilik dari besarnya peran media massa dalam mempengaruhi pemikiran
khalayaknya, tentulah perkembangan media massa di Indonesia pada masa akan
datang harus dipikirkan lagi. Apalagi menghadapi globalisasi media massa yang
tak terelakan lagi. Globalisasi media massa merupakan proses yang secara nature
terjadi, sebagaimana jatuhnya sinar matahari, sebagaimana jatuhnya hujan atau
meteor. Globalisasi membuat perbedaan yang ada antarnegara dalam dimensi
ruang, waktu dan kebudayaan semakin berkurang. Jika, pada era 1970-an sampai
akhir abad ke-20 kita lekat dengan istilah amerikanisasi maka memasuki abad ke21 sampai sekarang istilah tersebut digantikan dengan globalisasi.
Betapa besarnya pengaruh dari globalisasi ini setidaknya dapat dilihat
dengan adanya kecenderungan misalnya pasar dan produksi ekonomi di negaranegara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan
perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan
dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO). Meningkatnya
masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional,
inflasi regional dan lain-lain. Dan tak dapat dipungkiri lagi globalisasi
mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat.
Sebenarnya globalisasi telah terjadi sejak dulu kala. Ketika agama hindu,
budha atau islam masuk ke nusantara, proses itu bisa dimaknai sebagai
globalisasi. Pasalnya, saat itu sekat-sekat yang menseklusi wilayah dan
kebudayaan nusantara terbuka dan pada akhirnya bercampur dengan nilai-nilai
yang ada pada agama-agama tersebut. Namun, pada konteks globalisasi dalam
dunia komunikasi, globalisasi tumbuh seiring dengan perkembangan teknologi.
Dengan kata lain, pesatnya pertumbuhan alat komunikasi membuat globalisasi
semakin pesat pula (Briggs dan Burke, 2006).
Hal senada juga diungkapkan Pawito (2010: 12) bahwa memasuki dekade
1980-an media massa mengalami transformasi hebat dengan penemuan-penemuan
baru dan penyempurnaan-penyempurnaan di bidang teknologi informasikomunikasi termasuk misalnya teknik-teknik digital (di bidang televisi, radio dan

alat cetak), integrasi antara komputer dan satelit kemudian diikuti dengan
penggunaan internet secara luas dan juga telepon seluler. Perkembangan dalam
dunia media massa ini ternyata memfasilitasi proses-proses globalisasi
sebagaimana yang telah dikemukakan.
Dengan internet atau telepon genggam yang memiliki fasilitas internet,
misalnya, akses untuk informasi (nyaris mengenai apa saja) dan hiburan juga
nyaris bentuk dan genre apa saja) dari dunia luar begitu mudah diperoleh. Pada
saat yang sama sajian media massa lain seperti televisi, radio, suratkabar, majalah,
buku-buku domestik, setidaknya untuk banyak hal, lebih bersifat copy-an dari
produk budaya global. Karena berkembangnya kecenderuangan demikian maka
dapat dikatakan bahwa corak budaya di banyak aspek yang berkembang di
masyarakat, termasuk masyarakat Indonesia, notabenenya adalah hasil penetrasi
globalisasi yang diusung atau difasilitasi oleh media massa.
Marshall McLuhan pada tahun 1962 dalam tulisannya The Guttenberg
Galaxy: The Making of Typographic Man yang menjadi dasar munculnya
technological determination theory. Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan
yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi (yang kebanyakan
dipengaruhi media massa) akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri.
Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam
masyarakat. Dan teknologi tersebut akhirnya mengarahkan manusia untuk
bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi lain. McLuhan menegaskan,
Kita membentuk peralatan untuk berkomunikasi dan peralatan untuk
berkomunikasi yang kita gunakan itu akhirnya membentuk atau mempengaruhi
kehidupan kita sendiri (Nurudin, 2007: 184-185). Setidaknya gambaran dari
McLuhan juga telah mengamplifikasi hal-hal mengenai pengaruh perkembangan
media massa tersebut.
Di satu sisi memang globalisasi memberikan keuntungan dalam arti
konteks

interaksi

global

yang

memudahkan

segenap

orang

menjalani

kehidupannya dalam ranah global village. Namun perlu diingat bahwa suatu
perkembangan zaman layaknya pisau bermata dua.

Dedy N. Hidayat mengingatkan bahwa melalui globalisasi akan muncul


suatu

konsensus

global

yang

memungkinkan

masuknya

produk-produk

modernitas Barat dimana juga bisa merupakan suatu proyek kekuasaan, dominasi,
dan manipulasi lokal. Kesemuanya itu melibatkan proyek-proyek kekuasaan yang
jejak historisnya terbentang dari era penaklukan dunia ketiga (termasuk
Indonesia), penyebaran imperialisme, dan dominasi kapitalisme Barat, hingga
upaya-upaya kontemporer ke arah homogenisasi dan pencapaian konsensus global
terhadap berbagai ide dan etika produk modernitas Barat (Hidayat, 1992).
Salah satu wujud imperialisme adalah dalam konteks budaya. Dengan
globalisasi ada semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari
budaya yang berbeda. Ditambah dengan diilhami berkembangnya teknologi
komunikasi maka tak terelakan semakin sepat pula munculnya suatu
perkembangan globalisasi kebudayaan.
Kembali pada konteks media massa sebagai saluran utama dari prosesproses globalisasi dimana dalam konteks global, notabene dikontrol oleh
perusahaan-perusahaan raksasa yang berbasis di negara maju terutama Amerika
dan Inggris. Terdapat setidaknya lima perusahaan raksasa yang menguasai media
global yakni News Corp., Disney/CapCities, Time Warner, Viacom dan TCI.
Perusahaan-perusahaan ini memiliki anak dan cucu perusahaan sehingga benarbenar menggurita. News Corp., misalnya, memiliki berbagai suratkabar, stasiun
televisi dan sistem satelit penyiaran di seluruh dunia termasuk Star TV dan Sky
TV; dan Time Warners adalah pemilik Turner Broadcasting yang tak lain adalah
pendiri dan pemilik CNN. Kenyataan demikian sudah agak beberapa lama
menimbulkan keprihatinan luas dan juga wacana mengenai imperialisme budaya
(cultural imperialism), termasuk kajian mengenai imperialisme budaya sebagai
imperialisme media (cultural imperialism as media imperialism) (lebih jelas,
baca, misalnya, Tomlinsonm 2002: 223-226).
Mengenai imperialisme budaya (cultural imperialism) ini bukanlah isapan
jempol belaka. Sebelum abad ke-21, jarang sekali televisi Indonesia yang
menayangkan program-program dari negara-negara lain selain dari AS. Tapi, saat
ini di layar kaca, dapat kita temukan banyak sekali tayangan non-Amerika. Sebut

saja dari India, Jepang, Korea, Cina, Taiwan, Meksiko dan lain-lain. Dunia
menjadi lebih terintegrasi berdasarkan pasar dalam lingkaran pasar kapitalisme.
Semakin banyak negara yang berlomba-lomba untuk memasarkan
program televisinya. Televisi Indonesia menjadi semakin lebih berwarna dengan
kehadiran tayangan dari negara lain. Sebut saja serial TV dari Jepang dan Korea,
Telenovela dari Amerika Latin dan film dari India. Apakah hal ini negatif atau
poisitif? Seperti sekeping mata uang, semua hal ada positif dan negatifnya. Sisi
positifnya, kita bisa mengenal kebudayaan lain dan membuat wawasan kita
bertambah, sedangkan sisi negatifnya kebudayaan lokal kita semakin luntur akibat
tergembur kebudayaan asing. Inilah praktik, imperialisme budaya tersebut
ditambah hal itu, bisa saja terjadi karena kita kurang menghargai budaya kita
sendiri.
Dalam konteks dunia ketiga, sangatlah dipahami jika sampai saat ini
inferioritas ini masih mendominasi sehingga apapun yang berasal dari Barat akan
selalu dianggap lebih indah, lebih menarik, lebih modern dibandingkan yang
berasal dari Timur.
Kehadiran internet dan televisi yang menjembatani negara-negara di
seluruh belahan bumi pun membuat penyebaran budaya semakin cepat,
perembesan satu budaya yang berasal dari negara-negara yang dianggap superior
masuk ke negara-negara yang inferior tanpa disadari. Dalam televisi, orang-orang
yang berada di balik layar, seperti para pekerja rumah produksi, produser,
sutradara, hingga ke pemilik stasiun televisi biasanya orang-orang yang hanya
mengejar keuntungan finansial untuk kocek mereka sendiri, sehingga mereka pun
menayangkan program-program yang sering berkiblat ke negara-negara yang
dianggap superior, untuk menarik lebih banyak pemirsa, yang berarti akan
menaikkan rating, dus bermakna semakin banyak iklan yang masuk, tanpa
mempedulikan bahwa hal ini berarti mereka telah melakukan suatu tindakan nyata
untuk menghancurkan budaya bangsa sendiri secara perlahan-lahan.
Melihat semua ini, haruskah kita salahkan generasi muda kita yang
mungkin akan lebih bangga jika mereka disebut sebagai generasi MTV? Haruskah
kita salahkan mereka yang tidak lagi mengenal bahasa daerah masing-masing,

wayang, tarian tradisional, dan lain-lain? Haruskah kita salahkan mereka yang
lebih suka menghabiskan waktu luangnya window shopping di mall-mall, sembari
makan-makan di fast food restaurant yang merupakan franchise produk luar
negeri? Bukankah mereka sebenarnya merupakan korban keegoisan para pemilik
modal, dan generasi yang lebih tua dari mereka yang menjejalkan budaya asing
lewat media?
Memang pada masa sekarang ini, globalisasi lebih terasa daripada
amerikanisasi, karena aliran informasi dan media tidak lagi dimonopoli Amerika
Serikat. Saat ini, semua negara di dunia dapat berpartisipasi dalam memasarkan
informasi. Walaupun pada kenyataannya Amerika Serikat dan negara barat lainnya
tetap mendominasi aliran informasi. Globalisasi kepemilikan media yang muncul
jelas memperlihatkan praktik imperialisme budaya yang tinggi pula (Morley,
2006; Straubhaar, et. al, 2009).
Tak terbantahkan kini budaya di Indonesia juga telah terkontaminasi
budaya global dari Amerika. Walhasil ada ketegangan-ketegangan karena
terjadinya benturan antara budaya global yang dianggap modern, dengan budaya
lokal yang mewakili semangat nasionalisme atau bahk an kedaerahan, tapi juga
yang berkesan tradisional. Yang perlu dicatat adalah bahwa kekhawatiran atau
penolakan globalisasi yang juga sering disebut dengan Amerikanisasi ini muncul
tidak hanya di negara berkembang ataupun negara dunia ketiga.
Dengan

munculnya

wacana

cultural

imperialism

sebagaimana

diungkapkan oleh Tomlinson (2002) sudah selayaknya kewaspadaan terhadap


imperialisme budaya ini semakin meningkat. Apalagi thesis pokok dari kajian ini
antara lain mengatakan bahwa semakin kuatnya penetrasi dan hegemoni budaya
masyarakat negara maju (Barat) terhadap budaya masyarakat yang sedang
berkembang atau dunia ketiga maka hal ini notabenenya adalah merupakan
keberhasilan

kapitalisme

global. Artinya

proses-proses

globalisasi

pada

kenyataannya telah memperkokoh hegemoni kalangan kapitalis yang kemudian


rupanya mengusung pola-pola ekonomi neo-liberalisme yang berujung pada
subordinasi, eksploitasi, kemiskinan dan alienasi pada masyarakat dunia
berkembang.

Solusi Alternatif
Sebagaimana lontaran Gramsci yang terkenal dengan teori hegemoninya
mengatakan bahwa untuk melepaskan diri dari cengkeraman budaya asing,
diperlukan partisipasi keikutsertaan para intelektual organik kaum inteletual yang
harus menyadarkan masyarakat, terutama generasi muda, bukan kaum inteletual
tradisional yang justru lebih melegitimasikan budaya-budaya asing tersebut
(Gramsci dalam Bocock, 2007: 39-40).
Namun tentu saja hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, jika
kaum intelektual organik tersebut lemah modal. Bagaimana mereka akan mampu
membuat produk saingan untuk menggeser tayangan-tayangan impor dari luar,
agar lebih menarik para generasi muda jika mereka tidak memiliki modal yang
cukup kuat? Menurut pengamatan saya selama ini, kaum intelektual organik ini
jumlahnya lebih sedikit, sehingga menyerahkan beban untuk menjaga generasi
penerus dari pengaruh negatif globalisasi kepada mereka tentu sangat tidak
bijaksana.
Setidaknya jalan alternatif yakni perlu untuk segera disosialisasikan dan
direalisasikan gerakan media literacy (melek media) untuk dapat menangkal
pengaruh buruk globalisasi media. James Potter mendefinisikan media literacy
sebagai: A perspective that we actively use when explosing ourselves to the
media in order to interpret the meaning of the messages when we counter. We
build our perspective from knowledge structure. To build our knowledge
structures, we need tools and raw material. The tools are our skills. The raw
material is information from the media and the real world. Active use means we
are aware of the messages and are consciuously with them (Potter, 2001).
Hal ini penting karena akan mendorong individu untuk secara aktif
menafsirkan pesan dan menguatkan individu dalam menghadapi atau mengakses
media. Positif atau negatif dampak dari globalisasi salah satunya ditentukan
oleh sikap kita dalam menggunakan media tadi. Oleh karena itu, dibutuhkan
yang namanya melek media, agar kita dapat melihat mana yang baik dan

mana yang buruk dari isi yang dibawa media sehingga kita tidak terseret
dalam arus globalisasi.

Dampak positif dan negatif dari globalisasi media :


Dampak positif :
1. Perubahan Tata Nilai dan Sikap : cara berfikir manusia menjadi tidak kuno
dan lebih mempelajari hal-hal yang baru yang lebih baik dari sebelum.
2. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi : masyarakat menjadi
lebih mudah mencari ilmu penggetahuan dan berfikir luas.
3. Tingkat Kehidupan yang lebih Baik : secara tidak langsungtaraf kehidupan
manusia menjadi lebih baik karena terbukanya banyak lapangan pekerjaan
dan ilmu yang mudah didapat.
4. Kebebasan dan kompetisi antar individu akan meningkat. Dengan
kemajuan penyajian informasi akan semakin mendukung setiap individu
untuk menyalurkan bakat dan kemampuannya.
5. Meningkatkan kualitas ekonomi. Karena dengan tekhnologi informasi ini
info-info tentang pasaran akan lebih mudah didapat dan mempermudah
dalam bertransaksi.
6. Meningkatkan suatu minat dan selera yang luas.
7. Dapat mengembangkan suatu komunitas positif karena dipermudah dalam
alat komunikasinya.

Dampak negatif :
1. Pola Hidup Konsumtif : semakin banyak penyedia kebutuhan makin
banyak pula kebutukan manusia. karena kebutukan itu harus terpenuhi
maka mau tidak mau kita harus memenuhi kebutuhan tersebut. sedangkan
masyarakat indonesia sukanya yang instan-instan, jadi mereka cukup
membelisan tidak mau repot.
2. Sikap Individualistik : sikap seperti ini biasanya ditemukan pada
masyarakat kota yang setiap harinya sibuk dengan aktivitasnya di luar
rumah yang jarang pulang dan mereka pun jarang pula berinteraksi dengan
masyarakat sekitar.
3. Gaya Hidup Kebarat-baratan : manusia seperti ini lebih membanggakan
negara yang lebih modern dan menjadikan kita tidak nasionalis.
4. Menjadi sarana kejahatan seperti penipuan dan pembajakan suatu karya
ciptaan.
5. Menjadii penyebab rusaknya moral suatu individu terutama bagi anakanak dibawah umur yang dengan mudah mereka mendapatkan suatu situssitus porno.
6. Masyarakat menjadi suatu individu yang konsumtif.
7. Terjadinya polusi informasi.
8. Rasa social terhadap lingkungan menjadi acuh.

KESIMPULAN
Maka dari itu kita sebagai masyarakat Indonesia yang berpendidikan,
hendaklah berfikir kritis terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita. kita memang

tidak bisa dipisahkan dari media karena untuk mengetahui informasi apapun
pastilah kita membutuhkan media. Namun kita harus melek media dengan melihat
media dalam beberapa sisi. Apabila hal-hal yang disampaikan dapat member
manfaat, maka ikutilah tapi jika hal-hal yang disampaikan melalui media
membawa dampak yang buruk, jauilah. Jangan sampai kita menjadi korban media
khususnya di era globalisasi seperti sekarang dimana banyak budaya asing yang
masuk mempengaruhi budaya asli Indonesia. Semoga informasi dari kita bisa
bermanfaat untuk kalian semua, Communication Seekers.

Daftar Pustaka
.
Briggs, Asa dan Peter Burke. 2006. A Social History of the Media. Terj. A.
Rahman Zainuddin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
DeFleur, Melvin L. and Sandra J. Ball-Rokeach. 1989. Theories of Mass
Communication, Fifth Edition. New York: Longman.
McLuhan, Marshall. 1994. Understanding Media: The Extension of Man. London:
The MIT Press.
Morley, David. 2006. Globalisation and Cultural Imperialism Reconsidered: Old
Question in New Guide dalam James Curran and David Morley (ed.).
Media and Cultural Theory. New York: Routledge.
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Pawito. 2010. Media Massa, Globalisasi dan Identitas Nasional. Pidato
Pengukuhan Guru Besar disampaikan di Surakarta 7 Januari 2010. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret Surakarta.