Anda di halaman 1dari 3

Jaipong yang Bikin ‘Terangsang’ Gubernur

Posted on 9 Februari 2009 by wiwit r fatkhurrahman

Ada-ada aja Gubernur kita satu ini, sudah mulai nakal kali ya, mulai ‘campur
tangan’ mulai ‘terangsang’ ngelihat goyangan bahenol para penari jaipong, hingga
jengah, lalu keluarlah ‘AH’:

Pembatasan Jaipong
Goyang “Bujur” yang Bikin Risih Gubernur

Jaipong

Jakarta – “Goyang Mang”, sapaan Putri Malam ini sempat akrab di telinga
masyarakat pemirsa televisi tahun 2000-an. Setelah menyapa, Sang Putri Malam
lalu bergoyang mengikuti rampak gendang jaipong.

Melly Zamri, sosok di balik topeng Sang Putri Malam mengaku, dalam bergoyang ia
sering berimprovisasi. Tapi tentunya tidak terlepas dari ketukan gendang jaipong
yang jadi dasar setiap gerakannya.

Lantas bagaimana jika goyang, gitek, dan geol atau 3G yang jadi ciri jaipong itu
dibatasi? “Tentu tidak akan maksimal. Karena ketiga gerakan itulah yang menjadi
ciri khas jaipongan. 3G itu ruh dari jaipongan,” kata Melly Zamri saat berbincang-
bincang dengan detikcom.

Melly, yang juga seorang koreografer tari, secara terang-terangan mengaku tidak
kepikiran bila harus membuat tari jaipong yang minim goyang, gitek dan geolan.
“Waduh gue bingung juga mikirnya. Kalau gerak tari jaipong dibatesin. Karena ciri
khas jaipong itu di goyangan dan geolannya,” aku Melly.

Belakangan pembatasan 3G di tari jaipong jadi pembicaraan hangat di wilayah Jawa


Barat, daerah asal seni tari tersebut. Pasalnya, ada imbauan dari Gubernur Jawa
Barat Ahmad Heryawan, supaya para penari jaipongan tidak terlalu mengumbar
gerakan 3G.
Alasan Heryawan, banyak masyarakat di Jawa Barat yang risih melihat goyangan
penari jaipong. Apalagi goyangan jaipong selama ini dianggap berpotensi
mengundang syahwat.

Imbauan itu disampaikan kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan


(Kadisparbud) Jabar Herdiwan. Batasan yang diinginkan sang gubernur, kata
Herdiwan, para penari jaipong diminta menutup ketiaknya dan mengurangi goyang,
gitek dan geolnya dalam setiap pertunjukan.

“Yang tidak sreg tidak hanya gubernur, sebagian masyarakat juga dikatakan ada
yang terganggu dengan penampilan penari jaipong. Terutama goyangan si penari,”
ujar Herdiwan.

Karena dianggap sebagai tarian pengumbar syahwat, sempat tersiar kabar di


kalangan seniman Jawa Barat, kalau gubernur akan mengeluarkan SK atau
peraturan. Tapi informasi itu buru-buru dibantah Herdiwan.

“Tidak ada larangan tari jaipong. Itu tidak benar. Saya sudah cek ke Sekretariat
Daerah Pemprov tidak ada SK atau Pergub soal itu,” sanggahnya.

Namun penjelasan Pemprov Jabar tidak begitu saja melegakan hati para seniman
jaipong. Mereka khawatir ekses bisa berdampak pada pelarangan tari jaipongan
oleh para pejabat di tingkat bawah. Dan tidak mustahil imbauan itu diartikan
sebagai pelarangan oleh pejabat di bawah gubernur.

“Kami khawatir imbauan gubernur ditafsirkan sebagai larangan. Itu yang


mengkhawatirkan kami sebagai seniman jaipong,” kata Gugum Gumbira, tokoh
jaipong asal Bandung.

Gugum juga mengaku heran jika goyang jaipong disebut mengumbar syahwat.
Baginya, goyangan sang penari jaipong merupakan sebuah ungkapan kondisi
masyarakat di Jawa Barat yang diekspresikan dalam sebuah gerak tari.

“Tidak benar atuh kalau goyangan bujur (bokong) bisa mengajak mesum. Yang ada,
kata-kata yang bisa mengajak orang untuk berbuat mesum,” ujar Gugum pendiri
sanggar jaipong ‘Jugala’.

Itu sebabnnya pandangan gubernur yang menganggap tari jaipong bisa


mengumbar birahi dikatakan Gugum tidak beralasan.

Dosen tari STSI Bandung Mas Nanu Muda juga sepakat dengan Gugum.
Menurutnya, goyang jaipong bukan bermaksud mengumbar seksualitas. Tapi
sebagai teknik tarian yang sepadu dengan irama gendang.

Setiap gerak tari jaipong punya makna tertentu yang ada di masyarakat Jawa Barat
yang agraris. Melak dan ngala yang berarti menanam dan memetik selama ini
menjadi dasar munculnya sebuah gerak tari jaipong. Kalau iramanya lambat itu
perlambang dari kesabaran. Sedangkan gerakan cepat bermakna wujud rasa
syukur.
“Goyang jaipong itu merupakan lambang kesuburan. Jadi jangan cuma lihat
geraknya saja. Karena setiap gerak jaipong ada makna filosofisnya,” kata Nanu
Muda.

Adanya pembatasan gerakan khas jaipong, menurut para seniman Jawa Barat,
sama saja membatasi bentuk sabar dan syukur yang tertuang dalam sebuah tari.
Padahal budaya tersebut sudah sejak ratusan tahun melekat di masyarakat
Pasundan.