Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Di Jawa Barat banyak ragam seni tari yang hidup dan berkembang di

masyarakat, di antaranya tari rakyat yang terdapat hampir disetiap daerah

misalnya: di Baduy (Banten Selatan) terdapat Angklung Huma, di daerah

Serang terdapat Ubrug, di daerah Rancakalong terdapat Tarawangsa, di daerah

Sumedang terdapat Bangreng, di Karawang terdapat Banjet dan lain sebagainya.

Dalam berbagai macam seni diatas terdapat dua macam fungsi seni yang

terkandung di dalamnya. Pertama, seni tari yang bersifat kerohanian, artinya tari

upacara agama dan adat, seperti pada upacara ngaseuk di Baduy dipertunjukan

tari Angklung Huma, dan di Rancakalong pada upacara ngidep dipertunjukan

tari Tarawangsa (Ngekngek). Kedua, tari yang bersifat keduniawian yaitu tari

pergaulan dan tari hiburan, seperti halnya tari Banjet, Ubrug, Bangreng, Ketuk

Tilu, Longser Bajidiran, Pencak Silat dan lain sebagainya.

Ketuk tilu adalah salah satu bentuk tari pergaulan yang termasuk paling

populer dipertunjukan sampai dekade 1970-an. Sebagai perkembangan

selanjutnya antara lain muncul gaya kaleran yang terkenal dengan nama

Bajidoran, dan penari wanitanya (Ronggeng) terkenal sangat atraktif dan

mampu mengimbangi penari laki-lakinya yang sering disebut bajidor atau

pamogoran.1

1
Iyus Rusliana, Penciptaan Tari Sunda gagasan global bersumber nilai lokal bandung,
Bandung,Etnoteater Publisher, hlm. 53-54.

1
2

Pada perkembangan berikutnya munculah jenis tari baru yang sangat

populer yaitu jaipongan. Rupanya pada awal kemunculan tari jaipongan ini,

krtitikan, hujatan dan tudingan miring bermunculan, namun ternyata tari

jaipongan inilah yang mampu menembus berbagai kalangan, dari kalangan

muda sampai kalngan elite paling atas. Kehadiran jaipongan di arena tari Jawa

Barat tidak bisa di pisahkan dari penciptanya yaitu Gugum Gumbira. Penari

yang handal ini sangat getol menggeluti tari rakyat Jawa Barat, terbukti pada

tahun 1970-an berhasil menciptakan sebuah tari hiburan pribadi yang digalinya

dari ketuk tilu dan pencak silat yang diberi nama jaipongan.2

Kehadiran Jaipongan yang terus berkembang pesat dalam waktu yang

relatif singkat didukung oleh kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang pada saat

itu dapat dikatakan kondusif. Terutama dalam bidang pembangunan ekonomi.3

Pembangunan di segala bidang sedang digalakkan, termasuk bidang Kesenian.

Peningkatan penghasilan masyarakat sangat mendukung terhadap peningkatan

apresiasi terhadap kesenian. Tampak adanya perkembangan dalam sektor

kebudayaan dan kesenian yang cukup berarti, yaitu dengan adanya muhibah-

muhibah seni ke luar negeri, maupun sebaliknya. Para pelaku seni dan budaya

terus berupaya untuk meningkatkan kualitas seni dan budayanya (Lubis dkk.,

2003: 429-430). Pada tahun 1986, Pemerintah telah bertekad untuk menggalakkan

bisnis pariwisata. Penekanan Presiden mengenai hal itu disampaikan pada

pembukaan Rapat Kerja Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi pada

2
Irawati Durban dan Soedarsono Tari Sunda : dulu, kini dan esok , 2005: Bandung P4ST
UPI. hlm. 173-174.
3
Ricklefs, M.C. 2001. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi, hlm.593-
594.
3

tanggal 26 September 1986. Promosi pariwisata ke luar negeri terus digalakkan

dengan menyajikan berbagai bentuk seni (Soedarsono, 2003: 234-235) termasuk

Jaipongan sebagai materi pertunjukannya.

Kehadiran Jaipongan merupakan sebuah realitas yang tidak dapat

dipungkiri. Imaji Gugum dalam menciptakan Jaipongan tidak terlepas dari realitas

sosial di sekelilingnya (Duvignaud, 1967: 47). Di sini, Gugum mampu melihat

dan membaca keadaan masyarakat yang saat itu tengah mengalami perubahan dari

masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Kebutuhan terhadap seni pada

masyarakat tipe ini adalah berbentuk hiburan ringan dalam waktu singkat, glamor,

dan sedikit bernuansa erotis. Pada bentuk seni semacam ini, Gans (1975: 20)

mengkategorikan sebagai seni pop yang mengutamakan profit karena sudah

menjadi seni industri yang konsekuensinya harus mengikuti selera massa. Tarian

wanita lebih ditonjolkan, karena wanita memiliki nilai estetika yang dianggap

dapat bernilai jual.4

Jaipongan yang berkembang di masyarakat, pada kenyataanya lebih

banyak ditampilkan oleh penari yang bertubuh seksi, sintal serta sering ditarikan

dengan ekspresi yang sensual, sehingga goyangan tubuh secara spontan, seolah-

olah terkesan seronok dan menjadi goyangan sensasi. Selain itu, jaipongan selalu

di identikan dengan3G(geol, goyang dan gitek), karena baik dulu maupun

sekarang gerak 3G pada Jaipongan merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa

dipisahkan dari sosok Ronggeng. Maka dari itu, tiga gerakan pinggul yang sensual

itu selalu menjadi polemik dan juga selalu menjadi topik pembicraan yang hangat

4
Een Herdiani, S.Sen., M.Hum, Dari Ketuk Tilu hingga Jaipongan (1920-an -2000-an).
(Disajikan dalam seminar Sejarah Nasional ke-9, 6 Juli 2010 di Hotel Bidakara Jakarta).
4

di berbagai kesempatan, khusunya antara orang-orang yang pro dan kontra.

Terutama yang menilai tarian ini layak atau tidaknya untuk dipertontonkan dalam

forum-forum terhormat.5

Seiring dengan perkembangan seni tari jaipongan, tanggapan dan juga

kritikan bermunculan meraimaikan pergolakan keberadaan seni tari jaipongan ini.

Sehingga dalam konteks ini Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan

memberikan Imbauan agar setidaknya mengurangi gerakan yang erotis dan juga

para penari jaipongan jangan menonjolkan auratnaya. Imbaun Pak Gubernur

terhadap jaipongan ini, rupanya bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya juga

pernah terjadi semasa Gubernur Aang Kunaefi. Pada waktu itu jaipongan sedang

marak di tengah masyarakat. Sikap dan penialai Gubernur seperti Pak Aang

Kunaefi ketika itu tidak bisa membendung dan mencegah minat masyarakat pada

jaipongan.6

Menyikapi kontroversi seputar imbauan Gubernur Jawa Barat tentang seni

tari jaipongan, para seniman sepakat untuk bertemu langsung dengan pak

Gubernur Ahmad Heryawan. Pertemuan itu diperlukan untuk menglarifikasi

duduk persoalan agar tidak berlarut-larut sehingga citra kesenian khas sunda

tersebut tetap terjaga. Menurut Gugum tarian jaipongan saat ini telah mengalami

penggeseran dan cendrung mengeksploitasi gerakan 3G secara berlebihan.

Namuan, beliau menyangkan penilaian itu hanya ditujukan kepada tari jaipongan

5
Endang Caturwati, 2006, Perempuan dan Ronggeng di Tatar Sunda Telaah Sejarah
Budaya, Bandung:LBPB, hlm.90-95.
6
Pikiran Rakyat, 15 Februari 2009, Panggung Jaipong.
5

tidak terhadap kesenian lain, misalnya musik dangdut, seni lukis, seni patung dan

lainya.7

Setelah mengalami pertemuan antara para seninan Jawa Barat dengan Pak

Gubernur yang banyak menyeret banyak pihak agar ada kejelasan mengenai

kasus ini, akhirnya mendapat sebuah jawaban. Kehadiran Pak Gubernur

didampingi ketua DPRD Jabar H.A.M. Ruslan, Kadispud Jabar H. Herdiwan,

Ketua Golkar Uu Rukmana, dan Tjetje Hidayat di rumah Gugum Gumbira, atas

undangan para seniman untuk meminta kejelasan dan mendengarkan kejelasan

langsung seputar kontroversi pemberitaan sejumlah media cetak dan elektronik

perihal tari jaipongan. Dipertemuanya dengan para seniman ini, Pak Gubernur

menjelaskan dan mengkalrifikasi semua hal yang selama ini menjadi

permasalahan. Pak gubernur juga menegaskan bahwa beliau menyukai seni

budaya dan tari jaipongan. 8

Polemik yang tidak ada habisnya selalu mewarnai perjalanan tari

jaipongan ini, polemik yang selalu menjadi buah bibir ini selalu ramai

dibicarakan. Dari forum seminar di gedung mewah hingga obrolan kecil di

warung kopi tidak bosan membicarakan jaipongan. Reaksi masyarakat terhadap

tari jaipongan sungguh sangat luar biasanya, apalagi polemik ini diramaikan

antara pihak yang mendukung dan juga pihak yang menolak.

Maka dari itu, Pandangan Para Ulama khusnya Ulama di Jawa Barat (MUI

Jabar) sangatlah penting dalam memberikan pandangannya terhadap seni tari

Jaipongan ini yang bertujuan untuk menarik benang merah antara fenomena
7
Pikiran Rakyat, 9 Februari 2009, hlm. 1 dan7, soal Jaipongan, Seniman Siap Temui
Gubernur.
8
Pikiran Rakyat, 10 Februari 2008, hlm. 7, Gubernur Luruskan Polemik Jaipongan.
6

budaya dengan keselarasan agama. Sehingga, nilai estetika sebuah kebudayaan

dalam hal ini, tari jaipongan tetap terpelihara dan tidak bertentangan dengan nilai-

nilai agama Islam.

Berdaskan berbagai fakta dan pemaparan di atas, penulis merasa tertarik

untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan: POLEMIK SENI TARI

JAIPONGAN DI JAWA BARAT PADA TAHUN 1980- 2009.

1.2. Perumusan Masalah

Pada rumusan masalah ini akan dikemukakan dalam bentuk pertanyaan

mendasar yang akan dicari jawabannya dalam penelitian nanti. Adapun rumusan

masalah tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Bagaimana Sejarah dan Perkembangan Seni Tari Jaipongan di Jawa

Barat?

2. Bagaimana Polemik Seni Tari Jaipongan di Jawa Barat pada tahun 1980-

2009?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan suatu penelitian adalah upaya untuk memecahkan masalah.

Arikunto (2002: 55) menambah, tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang

menunjukan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. Adapun

tujuan penelitian yang kami lakukan antara lain ssebagai berikut:

1. Untuk mengetahui Sejarah dan Perkembangan Seni Tari Jaipongan di

Jawa Barat.
7

2. Untuk Mengetahui Polemik Seni Tari Jaipongan di Jawa Barat pada tahun

1980-2009 terkait isu kritikan Gubernur Jawa Barat terhadap seni Tari

Jaipongan.

1.4. Langkah-langkah Penelitian

Penelitian historis adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk

mendeskripsikan apa-apa yang telah terjadi. Pross terjadi penyelidikan,

pencatatan, analis, dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa masa lampau dan

juga masa kini, bahkan secara terbatas bisa digunakan untuk mendeskripsikan hal-

hal yang akan datang. Sanapiah Faishal (1984:41).

Secara garis besar, penulis melaksanakan langkah-langkah metode historis

(metode sejarah) seperti dikemukakan oleh Ismaun (1990: 64-67). Langkah-

langkah yang penelitian sejarah yang penulis lakuakan melalui bebrapa tahapan

sebagai berikut:

1.4.1. Heuristik

Tahapan ini merupakan langkah awal bagi penulis dalam proses mencari

dan mengumpulkan bahan-bahan informasi yang diperlukan yang berhubungan

dengan masalah yang akan dibahas ataupun pertanyaan dalam rumusan

permasalah yang akan dicari jawabanya dalam penulisan skripsi ini. Berdasarkan

rumusan masalah yang ditetapkan, maka informasi yang diperlukan dalam

penilitian ini adalah seputar pendapat para Ulama di jawa Barat tentang seni tari

jaipongan. Hal ini dilakukan agar peneliti mengetahui pendapat Ulama yang pro

dan kontra karena hal ini yang menurut saya menarik dan perlu dianggkat.
8

Selain itu yang harus dicari dan penting ditanyakan disini mengenai

pandangan ketua Fatwa MUI JABAR menegenai pandangan ulama di atas tentang

polemic mengenai isu yang sempat beredar pada tahun 1980-2009 yang menyeret

Gubernur Aang Kunaefi dan Ahmad Heryawan terhadap kritikanya terhadap seni

tari jaipongan tersebut. Semua ini bisa didapat dengan menggunakan studi

literature maupun lisan, pada setudi literatur, penulis mencari bahan pustaka

sebagai sumber data. Hal ini dilakukan karena penulis beranggapan bahwa bahan

ataupun sumber tertulis merupakan sesuatu yang paling umum dipakai sebagai

bahan kajian sejarah, seperti halnya dokumen, arsip, surat kabar, majalah,

biografi, dan autobiografi. Dan pada sumber lisan penulis melakukan wawancara

dengan dengan beberapa Ulama dan Ketua Fatwa MUI JABAR yang mewakili

pandanganya sebagai Ulama. Selain itu penulis juga mewawancarai Bapak

Gugum Gumbira sebagai seniman sunda yang memang pencetus tari jaipongan itu

sendiri guna mencari informasi langsung dari pelaku sejarah itu sendiri agar data

yang kami dapatkan sifatya primer.

Setelah sumber-sumber yang berkaitan dengan masalah itu diperoleh dan

terkumpul, kemudian penulis melakukan penelaahan serta pengklasifikasian

terhadap sumber-sumber informasi yang ada sehingga benar-benar dapat

diperoleh sumber yang relevan dengan masalah yang dibahas.

Adapun sumber yang penulis peroleh disini yang termasuk kedalam

katagari sumber primer yaitu, sumber tulisan berupa Koran-koran yang kami

peroleh di Balai Iklan Pikiran Rakyat di Jl. Kopo no. 304 bandung. Adapun
9

sumber lisan mengenai peristiwa yang ingin kami teliti kami mendaptkan

informasi lisan dari bebrapa responden dan informan diantaranya :

1. Bapak K.H Dr. Salim Umar (73 tahun) Ketua Fatwa MUI JABAR.

2. Bapak Drs. Enoh, M.Hum (63 tahun) Pembina Lembaga Seni Musli

(LESBUMI) Nahdatul Ulama (NU) JABAR.

3. Bapak Dr. H. Aziz Taufik Hirzi, Drs., M.Si (62 tahun) Ketua Lembaga

Seni Muhammadiyah JABAR.

4. Bapak H. Erdian, S.Ag. (40 tahun) Sekretaris Pimpinan Wilayah Persatuan

Islam (PERSIS) JABAR.

5. Gugum Gumbira Trisonjaya (69Tahun) seniman dan konseptor seni tari

Jaipongan.

Adapun sumber tertulis yang masuk ke dalam katagori sumber Primer

adalah:

1. Pikiran Rakyat, 9 Februari 2009, hlm. 1 dan7, soal Jaipongan, Seniman

Siap Temui Gubernur.

2. Pikiran Rakyat, 10 Februari 2008, hlm. 7, Gubernur Luruskan Polemik

Jaipongan.

3. Pikiran Rakyat, 15 Februari 2009, Panggung Jaipong.

4. Pikiran Rakyat, 11 Februari 2009, hlm. 2, Gubernur-Seniman tutup

Polemik Jaipongan.

Adapun sumber sekunder yang merupakan buku-buku sebagai penunjang

dalam penelitian ini sebagai berikut:


10

1. Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamu Besar Bahasa Indonesia

edisi Keempat. Jakarta, 2008, PT Gramedia Pustaka Utama.

2. Dr. M. Quraish Shihab, 2007, Membumikan Al-Quran, Bandung: Mizan.

3. Dyah Purwani Setianingsih, et.al, 2000, Kerajinan Tangan dan Kesenian

Untuk SLTP Jilid 2, Jakarta: Erlangga.

4. E. Kosim, 1984, Metode Sejarah Asas Dan Proses, Bandung: Universitas

Padjajaran, Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah.

5. Endang Caturwati, 2006, Perempuan dan Ronggeng di Tatar Sunda

Telaah Sejarah Budaya, Bandung: LBPB.

6. Endang Caturwati, 2007, Tari di tatar sunda, Bandung; Sunan Ambu Pers.

7. Endang Saifuddin Anshari, 1992, Kuliah al-Islam, Jakarta: Raja Grafindo

Persada.

8. Endang Triningsih, 2000, Kerajina Tangan dan Kesenian, Semarang:

MGMP SLTP N 18.

9. George Ritzer, 2004. Sosiologi Ilmu Pengetahuan berparadigma ganda,

terj. Alimandan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

10. Hadi, S, Y,2007, Sosiologi Tari, Yogyakarta: Pustaka.

11. Helius Sjamsudin, 1996, Metodologi Sejarah, Jakarta: Depdikbud, Proyek

Pendidikan Tenaga Akademik.

12. Irawati durban dan Soedarsono, 2005, Tari Sunda : dulu, kini dan esok ,

Bandung : P4ST UPI.

13. Ismaun, 1990, Pengantar Ilmu Sejarah, Bandung: IKIP Bandung.

14. Iyus Rusliana, 2009, Kompilasi Istilah Tari Sunda, Bandung: Jurusan Tari STSI

Bandung .
11

15. Iyus Rusliana, Penciptaan Tari Sunda: gagasan global bersumber nilai

lokal bandung, Bandung: Etnoteater Publisher.

16. Jakob Sumardjo, 2000, Filsafat Seni, Bandung: ITB.

17. Louis Gottschalk, 1985, Mengerti Sejarah, Jakrta:Universitas Indonesia

(UI Press).

18. M. Qurais Shihab, 2000, Wawasan AL-Quran, Bandung: Mizan.

19. M.M. Sharif, 1984, A bout Iqbal and His Trought, Terj. Yusuf Jamil,Iqbal

tentang Tuhan dan Keindahan, Bandung: Mizan.

20. Nina Lubis, dkk, 2003, Kota Bontang Sejarah Sosial Ekonomi, Pusat

Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian UNPAD.

21. R. Moh Ali, 2007, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: LkiS.

22. Rasjoyo, 1994, Pendidikan Seni Rupa untuk SMU Kelas I, Jakarta:

Erlangga.

23. Ricklefs, M.C, 2001, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta:

Serambi.

24. Sartono Kartodirjo, 1993, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi

Sejarah, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

25. Sidi Gazalba, dalam Enok Risdayah, 2003, Pengantar Budaya Sunda,

Bandung: BAIK.

26. Soedarsono, 1972, Jawa dan Bali, Dua Pusat Perkembangan Drama Tari

Tradisional di Indonesia. Yogyakart: Gadjah Mada University Press.


12

27. Sri Hermawati D.A., dkk, 2008, Seni Budaya Jilid 1 , Jakarta: Direktorat

Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen

Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

28. Sri Hermawati D.A., dkk, 2008, Seni Budaya Jilid 2, Jakarta : Direktorat

Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen

Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

29. Sugiyanto, et.al., 1999, Kerajinan Tangan dan Kesenian Untuk SLTP, Jilid

I, Jakarta: Erlangga.

30. Sujarno dkk, 2003, seni pertunjukan tradisional, Nilai, Fungsi dan

tantanganya, yogyakarta: kementrian kebudayaan dan pariwisata. Hlm. 1.

31. Syafii Maarif, Peta bumi intelektualisme Islam di Indonesia, Bandung:

Mizan.

32. Tati Narwati, 2003, Wajah Tari Sunda Dari Masa Ke masa,Bandung:

P4ST UPI.

33. Yusuf Al-Qordlowi, 2002, Fiqh al-Ghinawa al- Musiqy fi Dhau al-Qur'an wa as-

Sunnah, Ter. LESPISI A. FulexBisyri, et, al., FikihMusik Dan LaguPerspektif al-

Quran Dan as-Sunnah, Bandung : Mujahid Press.

Adapun sumber sekunder dalam bentuk artikel maupun Koran-koran yang

kami dapat baik dari perpustakaan maupun dari media elektronik seperti internet

sebagai berikut:

1. Tateng Gunadi, Tari Jaipong dan Formalisme Agama artikel, di dalam

http://tatenggunadi-rumahsastrabahasa.blogspot.com/2012/01/tari-jaipong-

dan-formalisme-agama.html yang di akes pada hari rabu 22 Mei 2013

pukul 07.30 Wib.


13

2. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum, Dari Ketuk Tilu hingga Jaipongan (1920-

an -2000-an), (Disajikan dalam seminar Sejarah Nasional ke-9, 6 Juli

2010 di Hotel Bidakara Jakarta).

3. Pikiran Rakyat, 2 Januari 2009, hlm.1 dan 7, Jabar Akan Miliki Kawasan

Seni Budaya.

4. Pikiran Rakyat, 7 Februari 2009, hlm. 31, Seni Kesenian dan Ingatan

Historis.

5. Atip Nurhari, 2010, Membangun moralitas seni melalui pendidikan,

Jurnal, Vol. 1.

6. Lalan Ramlan, 2013, Jaipongan: Genre Tari Generasi Ketiga dalam

Perkembangan Seni Pertunjukan Tari Sunda, Recital, Vol. 14 No. 1, Juni.

1.4.2. Kritik

Dalam mencari kebenaran selalu dihadapkan dengan kebutuhan untuk

membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Kritik sumber

umumnya dilakuakn terhadap sumber-sumber pertama, di mana kritik ini

menyangkut verifikasi sumber yaitu penyajian mengenai kebenaran atau ketepatan

dari sumber itu. Adapun kegunaan pengujian tersebut dilakukan untuk mengetahui

otoritas dan kredibilitas dari sumber yang diperoleh. Pada tahapan ini penulis

mengktik sumber lisan yang penulis peroleh. Pertama dalam mengkrtisi hal ini

pasti dilakukan kritik eksteren dengan melihat keadaan fisik narasumber yang

akan diwawancarai, kesedian mereka untuk diwawancarai, dan sejauh mana

mereka terkait dan ikut serta dalam sebuah perisitiwa itu menjadi pertimbangan

pertama penulis. Untuk kritik internya sendiri penulis mengkritisi data-data yang
14

penulis daptkan dari hasil wawancara, selanjutnya penulis bandingkan dengan

sumber primer yang ada di dalam dokumen baik yang primer maupun yang

sekunder.

Sedangkan untuk sumber tulisan penulis hanya mengktisi bagian isi saja,

hal ini dilakukan karena penulis tidak menemukan naskah yang diharuskanya

untuk di kritisi secara fisik atau eksternya. Penulis dapat menggolongkan sumber

tulis yang tergolong ke dalam sumber primer atau sekunder dengan mengkritisi

bagian konten atau isinya saja, dalam artian apakah isi dari dokumen itu sudah

jelas merepresentasi terhadap peristiwa yang kami teliti atau hanya sebagai

pendukung saja. Maka dari itu, dalam tahapan kritik ini penulis mencoba

membandingkan isi atau konten dari dokumen baik buku dengan peristiwa yang

kami teliti. Dalam tahapan ini konsep jaringan sangat diperlukan untuk mengajar

dan mengkorelasikan sumber baru yang terdapat dalam dokumen, sehingga

sumber yang ada bisa di cek kebenaranya.

1.4.3. Interpretasi

Dalam tahapan interpretasi berbagai fakta yang lepas satu sama lain

dicoba dirangikaikan sehingga menjadi satu kesatuan yang selaras, dimana

peristiwa satu dimasukan kedalam keseluruhan konteks peristiwa yang lain yang

melingkupinya. Dalam tahap ini, penulis berusaha dan menafsirkan informasi-

informasi yang sesuai dengan pokok bahsan, juga berusaha meminimalisir unsur

subjektifitas dan berusaha seobjektif mungkin mengungkapkan data dan

informasi. oleh karena itu diusahakan diadakan analisis dan sintetis. Proses analis

dilakukan dengan menguraikan sumber-sumber yang seringkali mengundang


15

bebberapa kemungkinan dan proses sintesis dilakukan dengan pernyataan data

atau fakta lalu diadakan interpretasi.

Seni atau kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan yang

universal. Seni merupakahan keahlian manusia dalam karyanya yang bermutu,

dilihat dari segi kehalusan dan keindahan.9 Setiap bangsa, suku bansa, bahkan

setiap diri manusia mempunyai seni. Demikian pula indonesia yang dihuni oleh

ratusan suku bangsa mempunyai kesenian yang tentunya beraneka ragam. Jawa

merupakan salah satu suku yang relatif besar di Indonesia juga memiliki kesenian

dan dialek yang bermacam-macam. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya hasil

karyasuku tersebut yang masih bertahan hingga sekarang.10

Salah satu dari bentuk ekspresi seni yang berkembang di Indonesia

adalah seni tari. Setiap suku di indonesia memiliki seni tari yang spesifik yang

berkembang pada masing-masing suku. Tari atau tarian merupakan salah satu

jenis ekspresi jiwa seni manusia yang diungkapkan melalui gerak-gerak dan ritme

yang indah. Maksud indah disini adalah bukan hanya berarti bagus, tetapi indah

yang memberikan kepuasan dan kesan yang baik pada orang lain sebagai

penikmat seni. Gerak-gerak dan ritme yang indah itu sebenarnya merupakan

pancaran jiwa manusia dan jiwa itu bisa berupa akal, kehendak dan emosi.11

Jaipong merupakan sebuah seni Tari dalam masyarakat Sunda di Jawa

Barat. Jaipong adalah sebuah seni pertunjukan yang lahir dan berkembang di

9
Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamu Besar Bahasa Indonesia edisi Keempat.
Jakarta, 2008, PT Gramedia Pustaka Utama.
10
Sujarno dkk, 2003, seni pertunjukan tradisional, Nilai, Fungsi dan tantanganya,
yogyakarta: kementrian kebudayaan dan pariwisata. Hlm. 1.
11
Soedarsono, 1972, Jawa dan Bali, Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional
di Indonesia. Yogyakart: Gadjah Mada University Press.hlm. 5.
16

daerah Jawa Barat, yaitu Bandung, Karawang, Subang, Bekasi, Purwakarta dan

Indramayu. Sebagai sebuah seni pertunjukan, Jaipong mengandung unsur seni

musik dan tari yang berakar dari beberapa seni pertunjukan tradisional Sunda,

seperti Ketuk Tilu, Pencak Silat, Ronggeng, Topeng, Tayub, Bangreng dan

Bajidor.

Jaipong dapat diterima sebagai sebuah kesenian bagi kolektif Sunda

secara emosional. Secara emosional, Jaipong mengalami perubahan

kepemilikan dari milik individu menjadi milik bersama orang Sunda. Bahkan

Jaipong telah menjadi salah satu identitas kesenian Sunda. Castell (2010)

mengatakan, bahwa identitas manusia itu bersumber dari pemaknaan dan

pengalaman. Masyarakat Sunda memaknai Jaipong sebagai sebuah kesenian

Sunda. Jaipong menjadi salah satu identitas mereka. Identitas itu adalah sesuatu

yang dibangun atau diciptakan, misalnya nama, bahasa atau kebudayaan. Identitas

mengacu kepada aktor sosial. Artinya identitas tersebut bersumber dari

pemaknaan individu sebagai aktor dan dibangun melalui sebuah proses yang

disebut Castell (2010:6) sebagai individuasi (individuation).

Penampilan karya seni seperti halnya jaipongan, yang dianggap melanggar

nilai-nilai moralitas dan agama, dimana agama diakui sebagai seperangkat aturan

yang mengatur keberadaan manusia di dunia. Agama mengemukakan aturan-

aturan bagi manusia, baik dalam hal hubungan manusia dalam kehidupan

sosialnya, manusiadengan alam tempat ia hidup, dan manusia dengan Tuhannya

(Zakiyuddin, 2003:28). Adanya konflik tentang penampilan karya seni yang tidak

mengandung nilai-nilai moral bahkan melanggar agama menyebabkan perseteruan


17

yang hebat, sadis, tragis, bahkan saling mencemooh dan menyakiti. Kejadian

tersebut merupakan peristiwa yang menunjukkan bahwa negara kita sedang

menderita krisis nilai dan krisis kesadaran atau distorsi moral dalam kehidupan

berbangsa dan bermasyarakat.

Krisis nilai, krisis kesadaran dan krisis moral yang terjadi akibat ulah

manusia khususnya dalam menyangkut bidang seni merupakan persoalan yang

menyesakkan dada bagi orang yang beraliran seni. Adanya krisis tersebut seolah-

olah memunculkan argumentasi yang kuat bahwa senilah yang menyebabkan

merosotnya nilai-nilai moralitas dan merosotnya peradaban bangsa dan

masyarakat. Padahal kalau dilihat dari filosofi estetika seni merupakan bentuk

keindahan yang menjadikan manusia aktif dan kreatif. Keindahan seni mampu

memberikan ide yang hampir tak terbatas. Bukan seni yang menyebabkan krisis

nilai, krisis kesadaran, dan krisis moral tetapi manusialah sebagai

pencipta,pengguna, dan pelaku yang menyebabkan dari krisis tersebut.12

Demikian juga, Tajfel (1979) mendefenisikan identitas sosial sebagai

pengetahuan individu dimana dia merasa sebagai bagian anggota kelompok yang

memiliki kesamaan emosi serta nilai. Identitas seseorang juga merupakan konsep

diri seseorang sebagai anggota kelompok (Abrams & Hogg, 1990). Identitas bisa

berupa kebangsaan, ras, etnik, kelas, pekerja, agama, umur, gender, suku,

keturunan dan lain-lain. Pendekatan dalam identitas sosial erat kaitannya dengan

hubungan interrelationship, serta kehidupan alamiah masyarakat dan society

(Hogg & Abrams, 1988). Identitas sosial juga dapat dilihat bagaimana kategori

12
Atip Nurhari, 2010, Membangun Moralitas Seni Melalui Pendidikan, Jurnal, Vol. 1,
hlm. 79.
18

sosial yang ada dalam masyarakat ternyata tidak terbentuk secara sejajar, tetapi

juga menimbulkan status sosial dan kekuasaan.

Reaksi masyarakat dari berbagai kalangan mengenai sajian tari Jaipongan

sangat luar biasa. Sorotan tertuju pada masalah 3G (gitek, geol, dan goyang)

dari para penari wanita yang dicuatkan oleh pemberitaan mass media. Padahal

3G ini bukan konsep yang ada dalam tari Jaipongan, itu hanya asumsi para

pemburu berita untuk memunculkan beritanya agar laku dibaca. Akibatnya, H.

Aang Kunaefi yang menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat saat itu, sempat

mengeluarkan larangan secara lisan untuk tidak menyajikan Jaipongan dalam

forum resmi pemerintah yang digelar di Pakuan maupun Gubernuran. Merespon

masalah ini berbagai forum saresehan digelar oleh pihak pemerintah maupun

swasta sebagai wujud kepedulian masyarakat terhadap seni tari aipongan.

Kejadian serupa terjadi pada tahun 2009 yang melibatkan Gubernur Jabar Ahmad

Heryaman karena marak beredar isu mengenai kritikan Aher terhadap seni tari

jaipongan yang menuai tanggapan serius dari para seniman Sunda. Polemik itu

berangsur membaik setelah diadakanya pertemuan yang melibatkan Pak Gubernur

dengan para seniman sunda di Kediaman Gugum Gumbira.

Hal seperti diatas juga sebenarnya pernah terjadi kepada Tati Saleh dan

Yeti Mamat yang merupakan penari jaipongan era 1980. Mereka bisa tertunduk

diam ketika istri gubernur jawabarat (waktu itu) melarang keduanya ahar tidak

menari secara erotik dan sensual. Bahkan ketika dicekal pun, Tati Saleh masi

juga tidak mengerti apa yang salah pada tarianya sampai-sampai Ny Aang

Kunaefi (istri Gubernur) melarangnya untuk menari jaipongan di depan birokrat.


19

Bagi mereka sebenarnya goyang pinggul dan tebar pesona merupakan bagian

yang tidak terpisahkan dari olah tarian. Tetapi bagi istri Gubernur hal itu dianggap

telah melecehkan nilai perempuan. Apa boleh buat, kekuasaan lebih menentukan

otoritas dan Tati Saleh maupun Yeti Mamat dipaksa untuk di bawah otoritas itu.

Sebenarnya kemunculan stigma seperti ini berakar dari asumsi mereka yang

melihat gerakan penari jaipongan identik dengan Tarian para ronggeng yang

merupakan penari-penari perempuan seni tradisi yang terkenal denga

sensualitsnya. Citra ronggeng pada penari tradisi, khususnya sinden- penari

jaipongan masih melekat sebagai muatan kuat daya tarik para peminatnya, yaitu

laki-laki (bajidor). Menurut R.M. Soedarsona bahwa selama masih ada laki-laki,

kesenian di Jawa Barat yang melibatkan penari perempuan sebagai penyemarak

hiburan seperti halnya jaipongan ataupun sejenisnya, maka kesenian ini tidak akan

punah.

Eksistensi seks dalam tarian merupakan bagian yang tidak dapat

terpisahkan sejak zaman dahulu kala, khususnya dari masa feodalisme, dimana

pada saat itu seksualisme terlegitimasi oleh mitos-mitos. Selain itu dalam sajian

pertunjukan jaipongan, peranan rias dan busana merupakan bagian yang paling

penting bagi para sinden maupun penari untuk dapat mengubah penampilan dan

membangkitkan rasa percaya diri. Mulai dari persoalan wajah, bentuk sanggul,

model dan warna kebaya, serta corak kain yang dipakai sengaja dipasang

sedemikian rupa untuk memikat penonton, khususnya para bajidor yang pada

umunya adalah laki-laki yang tergila-gila oleh kecantikan, goyang pinggul serta
20

eksploitasi gerakan tubuh sinden. Oleh karenanya bagian-bagian tubuh tertentu

dibentuk dengan khusu agar dapat memberikan kesan seksi dan merangsang.13

Kejadian diatas bisa saja yang menyebabkan kritikian bermunculan

ternadap pelaku seni jaipongan. Sepeerti banyak ditulis dalam buku pro dan

kontra selalu mewarnai perjalan seni tari pertujukan rakyat ini. Hal ini seolah-olah

Persoalan-persoalan yang muncul dan menjadi kontroversi di dalam kehidupan

umat Islam terutama yang berkaitan dengan hiburan dan seni. Hal ini disebabkan

banyaknya manusia yang sudah terjebak pada kelalaian dan melampaui batas

dalam menyikapi hiburan dan seni yang erat hubunganya dengan perasaan, hati,

akal dan pikiran.Namun pada kenyataanya, hiburan dan seni ini telah

terkontaminasi oleh kemewahan hedonisme daripada sisiestetika yang indah dan

lurus14

Maka dari itu, dalam menganalis polemik di atas menganai seni tari

jaipongan, penyusun menggunakan teori tantangan (challenge) dan respon

(response) dari sejarawan arnold j. Toynbee.15 Tantangan dan respon adalah

sebuah dimensi kausalitas pertarungan ide, wacana, atau gerakan yang lahir dalam

satu kebudayaan atau pemikiran yang satu sama lainya saling terkait dan

kemudian saling bersifat reaktif. Teori ini memberikan sebuah kerangka pikir,

bahwa munculnya setiap ide, wacana atau suatu gerakan pemikiran memiki relasi

13
Srintil ( media Perempuan Multikultural, 2004, Politik tubuh seksualitas perempuan
seni, Depok: Kajian Perempuan Desantara. Hlm.37-50.
14
Yusuf Al-Qordlowi, 2002, Fiqh al-Ghinawa al- Musiqy fi Dhau al-Qur'an wa as-
Sunnah, Ter. LESPISI A. FulexBisyri, et, al., FikihMusik Dan LaguPerspektif al-Quran Dan as-
Sunnah, Bandung : Mujahid Press, hlm. 15.
15
Arnold J. Toynbee, The Study of History, vol 1, London: Oxfrod Universitypress,
1955, h. 23 Arnold J. Toynbee dan Sarah Marshal Toynbee. Minatnya terhadap sejarah diilhami
dan banyak dipengaruhi oleh ibunya dan pamanya, seorang pelayar yang banyak berlayar kemanca
negara. Pendidikan tingginya diraih dari 0xfrod University, Inggris. Lihat dalam A, Syafii
Maarif. Peta bumi intelektualisme Islam di Indonesia, Bandung Mizan, hlm. 75.
21

yang saling berkait dengan berbagai faktor-faktor penyebab. Oleh sebab itu,

segala bentuk gerakan dan pemikiran yang kemudian berujung pada munculnya

kebudayaan baru akan melahirkan sebuah konsekkuensi logis yang akan

mengambil posisi dalam bentuk atau pola respon dan tantangan terhadap situasi

dan kondisi sosial-politik yang mengitarinya.16

Teori Challange end Response juga bisa diartikan sebagai teori yang

menggambarkan tentang hubungan sebab akibat yang dimunculkan oleh suatu

kejadian.17

Munculnya kritikan dari berbagai kalangan, dimulai dari kalangan elit

pemerintahan dan elite politik hingga masyarakat biasa terjadi karena Jaipongan

sebagai seni tari pertunjukan rakyat di sajikan dengan etika yang buruk. Apalagi

pelaku jaipongan selalu dikaitkan dengan ronggeng atau perempuan nakal,

sehingga jaipongan ini banyak menimbulkan respon yang beragam baik

masyarkat yang setuju dengan sajian jaipongan ini maupun masyrakat yang

menantang keras adanya sajian jaipongan yang seronok sebagai pembangkit

gairah para lelaki hidung belang.

Kalau sudah seperti ini yang menjadi perhatian adalah pendapat para

ulama dalam menggapi hal ini, bisa saja tanggapan para ulama ini pula sebagai

respon dari polemik yang terjadi terhadap seni tari jaipongan di Jawa Barat.

Seperti halnya dengan ungkapan inna al-ulama waratsa al-anbiya

(sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi), menurut Ibn Hajar al-Asqalani

(773-852 H), dalam Fath Al-Bariy, adalah sebagian dari hadits yang ditemukan
16
R. Moh Alo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: LkiS, 2007, hlm. 65.
17
George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan berparadigma ganda, terj. Alimandan
jakarta Raja Grafindo Persada, 2004 hlm. 26.
22

dalam beberapa kitab hadits. Diperkuat juga dalam Al-Quran dengan firman

Allah: Kemudian Kami wariskan Al-Kitab kepada yang Kami pilih dari hamba-

hamba Kami (QS 35:32). Juga pada Surat Al-Baqarah ayat 213, yang

berkesimpulan bahwa Tuham mengutus nabi-nabi dan memberikan mereka kitab-

kitab suci agar masing-masing, melalui kitab suci memberikan keputusan atau

pemecah terhadap apa-apa yang diperselisihkan atau dipersoalkan dalam

masyarakat mereka. Berangkat dari kedua ayat tersebut, juga dari ungkapan para

ulama adalah pewaris para nabi, dapat dipahami bahwa para ulama melalui

pemahaman, pemaparan, pengamalan kitab suci bertugas memberikan petunjuk

dan bimbingan guna mengatasi perselisihan pendapat, problem-problem sosial

yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.18

Dari berbagai polemik yang melingkipi kehidupan sosial dalam

masyarakat seharunya ulama mampu menegahi semua aspek sosial ini secara

bujaksana. Sebagimana tugas dan amanahnya sebagai pewaris para nabi seperti

halnya MUI sebagai Majelis yang mewakili dan mewadahi semua fatwa dari para

ulama lain seharusnya mampu memberikan tanggapan mengenai hal ini.

1.4.4. Historiografi

Tahapan historiografi merupakan tahapan terakhir dari keseluruhan

prosedur penelitian sejarah. Di sinilah, penulis harus mengarahkan seluruh daya

pikiranya. Yang jelas bukan saja ketrampilan teknis penggunaan kutipan-kutipan

atau catatan-catatan, tetapi yang terutama penggunaan pikiran-pikiran kritis dan

18
Dr. M. Quraish Shihab, 2007, Membumikan Al-Quran, Bandung: Mizan, hlm 374.
23

anlisisnya karena pada akhirnya penulis harus menghasilkan suatu sintesis dari

seluruh hasil penelitianya.19

Dalam tahapan ini penulis menggabungkan semua fakta-fakta yang ada,

yang telah melalui tahapan penafsiran sehingga menjadi kesatuan yang utuh yang

dapat menghasilkan jawaban dari apa yang menjadi pertanyaan pada latar

belakang. Sehingga kemahiran penulis dalam merangkai sebuah peristiwa sangat

diperlukan untuk menorehkan sebuah kisah yang selaras.

1.5. Kajian Pustaka

Telah menjadi sebuah aksioma di dunia akademis, bahwa tidak ada

satupun bentuk karya atau penelitian seseorang yang terputus dari usaha

intelektual generasi sebelumnya. Artinya, tidak ada sebuah pemikiran yang benar-

benar baru dan orisinil yang tanpa terikat dengan pemikiran sebelumnya. Yang

ada adalah kesinambungan pemikiran dan kemudian dilakukan elaborasi dan

pengembangan. Skripsi ini juga merupakan mata rantai intelektualisme dan

pemikiran atau penelitian sebelumnya, khususnya mengenai seni tari Jaipongan.

Sejauh pengetahuan penulis telah banyak karya ilmiah yang mengkupas

tentang seni tari Jaipongan baik sejarah dan juga perkembanganya di Jawa Barat.

Diantara karya-karya tersebut adalah Kesenian Jaipongan: Sebuah Revoluisi

dalam Gerak tahun 1970-2010 karya Gressandi Putra, Perancangan

Kampanye Tari Jaipong Sebagai Daya Tarik Tarian Tradisional karya Karina

Dwi Garini, Management Communication Papa Agit in Preserving the Art of

19
Helius Sjamsudin, 1996, Metodologi Sejarah, Jakarta: Depdikbud, Proyek Pendidikan
Tenaga Akademik, hlm. 153.
24

Jaipongan Dance on the Padepokan Sekar Panggung karya Aditya Julistia

Ferizal, Jaipongan: Genre Tari Generasi Ketiga dalam Perkembangan Seni

Pertunjukan Tari Sunda karya Lalan Ramlan, Dari Ketuk Tilu hingga Jaipongan

(1920-an -2000-an) karya Een Herdiani, S.Sen., M.Hum.

Adapun karya ilmiah yang membahas Polemik seni tari Jaiponganya itu

sendiri penulis rasa belum ada. Sepengetahuan penulis sampai saat ini, yang selalu

disinggung dalam pembuatan karya Ilmiah mengenai seni tari Jaipongan hanya

dari sudut sejarah dan perkembanganya saja seperti halnya karya ilmiah di atas,

walaupun ada hanya dibahas sekilas saja dan tidak secara mendalam. Beda halnya

dengan penulis yang mengkaji polemik seni tari Jaipongan secara mendalam.

Apalagi penulis melibatkan para Ulama di Jawa Barat untuk memandang

polemik tersebut. Secara Metode jelaslah metode yang digunakan penulis yaitu

metode sejarah sehingga dalam penulisan karya ilmiah ini penulis membatasi

sejarah dan perkembanagan seni tari Jaipongan dengan Periodesasi waktu.

Sehingga karya ilmiah ini benar-benar merupakan karya ilmiah Sejarah.

Dengan demikian, penelitian yang mengkaji Polemik seni tari Jaipongan di

Jawa Barat pada tahun 1980-2009, bukanlah merupakan pengulangan terhadap

pembahasan yang pernah ada sebelumnya.


25

1.6. Sistematiaka Penulisan

Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

Bab I Pendahulun yang meliputi: Latar Belakang Masalah, Perumusan

Masalah, Tujuan Penelitian, Langkah-langkah Penelitian dan

Sistematika Penulisan.

Bab II SENI TARI JAIPONGAN DI JAWA BARAT : Seni (penertian seni,

macam-macam seni, sifat dasar seni dan fungsi seni), Tari (pengertian

tari, macam gerak tari dan fungsi tari), Seni Jaipongan di Jawa Barat

(sejarah seni tari jaipongan), (perkembanfan seni tari jaipongan di

Jawa Barat tahun 1980-2009: kondisi seni jawabrata sebelum

munculnya seni tari jaipongan, kreasi awal seni tari jaipongan, sumber

dasar (gerak, musik dan busana) seni tari jaipongan).

Bab III POLEMIK SENI TARI JAIPONGAN DI JAWA BARAT PADA

TAHUN 1980-2009: (polemic yang mewarnai perjalanan seni tari

jaipongan pada tahun 1980-2009), (pandangan Gugum Gumbira

Selaku seniman dan Konseptor seni tari Jaipongan), ( pro dan kontra

para ulama: Ulama yan pro terhadap imbauan dan Kritakan

Gubernur Jawa Barat mengenai Jaipongan (Dr. H. Aziz Taufik Hizri,

Drs. M.Si (62 tahun) Selaku ketua Lembaga Seni Muhammadiyah

JABAR), H. Erdian, S.Ag Sekretasris PW PERSIS JABAR. Ulama

yang Kontra terhadap imbauan dan Kritakan Gubernur Jawa Barat

mengenai Jaipongan (Drs. Enoh, M.Hum Pembina Lesbumi NU


26

JABAR). Pandangan K.H. Dr. Salim Umar Ketua Fatwa MUI

JABAR.

Bab IV Kesimpulan dan Saran

Daftar Pustaka

Lampiran-lampiran