Anda di halaman 1dari 19

BAB II

KINETIKA REAKSI HOMOGEN

2.1.

KECEPATAN REAKSI
Didalam reaksi homogen, reaksi berlangsung dalam satu fasa, baik gas

ataupun cair dimana reaksi kimia merupakan reaksi irreversibel dengan persamaan
stokhiometri sebagai berikut: a A + b B r R + s S
Maka kecepatan reaksi untuk reaktan A didefinisikan sebagai perubahan berkurangnya
reaktan A per satuan volume waktu.
rA =

dN A berkurangnya jml mol A


=
V dt
(volume)(waktu )

[2.1]

Hal yang sama untuk reaktan B, sedangkan untuk produk R di definisikan sebagai:
+ rR = +

dN R bertambahnya jml mol R


=
V dt
(volume)( waktu )

[2.2]

Hubungan antara kecepatan reaksi dengan koefisien stokhiometri secara keseluruhan


adalah:
t A rB rR rS
=
=
=
a
b
r
s

[2.3]

Sedangkan unjuk kerja (performance) dari suatu reaktor dapat dinyatakan hubungan antara
keluaran sebagai fungsi dari masukkan, yang dapat digambarkan sebagaimana gambar 2.1.

Gambar 2.1: Persamaan unjuk kerja merupakan hubungan antara


keluaran (output) dan masukkan (input)

TRK 1 II-9

Unjuk kerja dari alat sebagaimana ditunjukkan pada gambar 2.1 merupakan fungsi
pola (pattern) dari kontak antara reaktan dan juga kinetika reaksi. Pada pembahasan
reaktor homogen, pola kontak reaktan diasumsikan bercampur sempurna sehingga
pengaruh kontak reaktan dapat dianggap sempurna. Oleh karenanya, unjuk kerja dari
reaktor hanya dipengaruhi oleh kinetika reaksi. Kinetika akan membahas mengenai
kecepatan reaksi. Pada reaksi homogen, kecepatan reaksi tergantung pada komposisi
bahan, suhu dan tekanan dari sistem, dan untuk komponen A dapat dituliskan sebagai
berikut :
rA = konstanta f (input) = konstanta f (suhu, tekanan, komposisi)
Pada umumnya, tekanan total dari sistem dianggap konstan yang sudah ditentukan
kondisinya (isobarik), oleh karenanya kecepatan rekasi hanya dipengaruhi oleh
komposisi serta suhu sistem reaksi, yang dapat dituliskan dalam bentuk sebagai
berikut:
rA = f1 (suhu). f2 (komposisi)

2.2.

[2.4a]

KECEPATAN REAKSI FUNGSI KOMPOSISI


Berdasarkan persamaan [2.4], apabila reaksi dilakukan pada sistem dengan

suhu kontan (disebut dengan sistem isotermal), maka kecepatan reaksi hanya
tergantung pada komposisi pereaksi, dalam hal ini sebagai tinjauan komposisi adalah
konsentrasi bahan yang bereaksi saja.
rA = konstanta. f2 (komposisi)

[2.4b]

Dimana suhu masuk dalam parameter konstanta. Pada pembahasan mengenai


persamaan kecepatan reaksi sebagai fungsi dari komposisi atau lebih khususnya
fungsi konsentrasi, maka perlu dibahas terlebih dahulu pembahasan lebih lanjut
macam-macam reaksi kimia sebagai fungsi dari konsentrasi. Sebagaimana telah
dibahas pada bab 1, reaksi kimia dapat dibedakan menjadi reaksi tunggal dan reaksi

TRK 1 II-10

ganda (multiple reaction). Pada reaksi tunggal hanya terdapat satu persamaan reaksi,
sedangkan pada reaksi berganda terdapat lebih dari satu persamaan reaksi (reaksi seri,
reaksi paralel dan reaksi seri-paralel). Berdasarkan pembagian tersebut, dapat
dikembangkan lebih lanjut pembagian persamaan kecepatan reaksi berdasarkan
persamaan elementer dan non-elementer. Selain itu akan diabahas pula persamaan
kecepatan reaksi berdasarkan kesetimbangan rekasi kimia.

2.2.1. REAKSI ELEMENTER DAN NON ELEMENTER


Pada reaksi elementer, bentuk persamaan kecepatan reaksi dapat dituliskan
dari persamaan reaksinya atau persamaan stokiometrinya. Misal suatu bentuk
persamaan stokhiometri sebagai berikut:
[2.5]

A + B k R

Persamaan kecepatan reaksi elementer dapat ditulis dalam bentuk


-r A = k CA CB

[2.6]

Dimana k merupakan konstanta kecepatan reaksi. Pada pesamaan [2.6] terlihat bahwa
orde (pangkat) dari persamaan kecepatan reaksi sesuai dengan koefisien
stokhiometrinya. Sedangkan bentuk reaksi non elementer, bentuk persamaan
kecepatan reaksi tidak ada hubungannya dengan koefisien stokhiometri pada
persamaan reaksinya.
Contoh reaksi non elementer :
H2 + Br2

2 HBr

[2.7]

Jika reaksi diatas merupakan bentuk reaksi elementer, maka persamaan kecepatan
reaksi adalah:

rHBr = kC Br C H

[2.8]

TRK 1 II-11

Akan tetapi, bentuk persamaan kecepatan reaksi dari persamaan stokhiometri yang
sebenarnya adalah:
rHBr =

kC H C Br/

[2.9]

k + C HBr / C Br

Sebagaimana yang ditunjukkan pada persamaan [2.7] dan [2.9], maka persamaan
reaksi dari non elementer mempunyai pangkat reaksi tidak sesuai dengan koefisien
stokhiometrinya. Reaksi non elementer merupakan keseluruhan dari beberapa tahap
reaksi, dimana masing-masing tahap merupakan reaksi elementer.

2.2.2. KINETIKA REAKSI KESETIMBANGAN


Suatu reaksi kesetimbangan elementer dapat dituliskan sebagai berikut:
k

A+ B R+ S

[2.10]

Kecepatan reaksi pembentukan R dan S adalah:


rR, kekanan = k1 CA CB
Kecepatan reaksi berkurangnya R dan S adalah:
- rR, kekiri = k2 CR CS
Dengan k1 merupakan konstanta kecepatan reaksi ke kanan dan k2 sebagai konstanta
kecepatan reaksi ke kiri. Pada keadaan setimbang, kecepatan reaksi kekanan ekivalen
dengan kecepatan reaksi ke kiri, atau
rR, kekanan + rR,

kekiri

= 0

k1 CA CB = k2 CR CS
Perbandingan antara konstanta kecepatan reaksi ke kanan dan ke kiri disebut sebagai
konstanta kesetimbangan K. Apabila nilai K sebagai perbandingan antara perkalian
konsentrasi produk terhadap perkalian konsentrasi reaktan, maka diberi simbol
dengan Kc
KC =

k C R .CS
=
k C A .C B

[2.11]

TRK 1 II-12

Untuk suatu reaksi yang bersifat irreversibel (satu arah), maka kecepatan reaksi lebih
cenderung ke kanan dan kecepatan reaksi ke kiri sangat kecil sekali dibanding ke
kanan, bahkan dapat diabaikan. Oleh karenanya, nilai K reaksi irrevesible relatif
sangat besar dibanding dengan nilai K reversibel.

2.2.3. TINGKAT (ORDE) REAKSI


Suatu persamaan reaksi stokhiometri dengan bentuk sebagai berikut:
aA + bB + cC

Zat hasil

Persamaan kecepatan reaksi dapat dituliskan:

rA = kC Aa .C Bb .C Cc

[2.12]

Reaksi pada persamaan [2.12] merupakan reaksi


Tingkat (orde) a1 terhadap A,
Tingkat (orde) b1 terhadap B,
Tingkat (orde) c1 terhadap C,
Tingkat reaksi keseluruhan dari reaksi tersebut adalah n, dimana
n = a1 + b1 + c1
Untuk reaksi non elementer, harga a, b, c tidak ada hubungannya dengan a1, b1, c1.

2.2.4. KONSTANTA KECEPATAN REAKSI (k)


Persamaan kecepatan reaksi untuk orde (tingkat) n dapat dituliskan:
r = k Cn

[2.13]

Apabila kecepatan reaksi (r) dengan satuan (mole)/(volume)(waktu) sedangkan


konsentrasi (C) mempunyai satuan (mole)/(volume), maka satuan dari konstante
kecepatan reaksi k adalah :
TRK 1 II-13

( mole ) n
( waktu )( volume ) n

( waktu )

atau

mole

wolume

[2.14]

Berdasarkan persamaan [2.14], maka untuk


Reaksi tingkat 1 : k mempunyai satuan = (waktu)-1
Reaksi tingkat 2 : k mempunyai satuan = (volume)/(mole)(waktu)
Reaksi tingkat 3 : k mempunyai satuan = (volume)2/(mole)2(waktu)

2.3.

MODEL KINETIKA UNTUK REAKSI NON ELEMENTER


Reaksi non elementer merupakan reaksi dimana orde reaksi tidak sesuai

dengan koefisien stokhiometri. Tahapan (mekanisme) reaksi pada selalu terbentuk


zat-zat antara. .
Misalnya reaksi non elementer :
A2 + B2

2 AB

[2.15]

Mempunyai tahap-tahap reaksi elementer sebagai berikut :


A2
A*
A*

+
+

B2
B*

2 A*
AB + B*
A B

A* dan B* adalah zat antara yang dapat berupa :


1.

Radikal bebas, misalnya :


H , Br , CH3 , J

2.

Molekul, sebagai contoh pada reaksi berturutan

3.

A
R

Ion, misalnya :

N3- , Na+ , OH- , H3O+ , NH4+


4.

Bentuk kompleks transisi, yaitu bentuk molekul tidak stabil yang terjadi karena
adanya tumbukan antara molekul-molekul zat pereaksi.
Bentuk ini kemudian segera berubah menjadi zat hasil.

Perkiraan tahap-tahap reaksi ada 2 macam :


1.

Reaksi bukan rantai (non-chain reaction)

TRK 1 II-14

Reaktan
(zat antara)*
2.

(zat antara)*
zat hasil.

Reaksi rantai (chain reaction)


Reaktan
(zat antara)* + Reaktan
(zat antara)*

(zat antara)*
(zat antara)*
zat hasil

INISIASI
PROPAGASI
TERMINASI

Beberapa contoh mekanisme :


1.

Radial bebas :
H2

Br2

2 H Br

Mekanisme reaksi:

Br
H

2.

Br2
+ H2
+ Br2
2 Br

2 Br
H Br
H Br
Br2

INISIASI
PROPAGASI

+ H
+ Br

TERMINASI

Molekul
Reaksi fermentasi dengan katalis enzym :
A

enzym

mekanisme :
A + enzym
(A enzym)
3.

( A enzym)*
R + enzym.

Ion
CH
/

CH
/

HNO encer

CH C = CH + H O CH C/ CH
OH

isobutene

butil-alkohol tersier

Mekanisme :

TRK 1 II-15

C = C + H

cepat

lambat

/ /
C = C
+
H

lambat

cepat

/ + /
C C/
H

+ H O

cepat lambat
cepat

H + + C/ C/
OH

4.

/
/
C C
/
/

H
/ O\ +

H H

Kompleks transisi
a. Dekomposisi azometana
(CH3)2 N2
A

C2 H6 + N2
R + S

Mekanisme :
A + A
A*

A* +
R
+

A
S

b. Reaksi :
H2

+ J2

2 H J

Mekanisme :
H

H J

H J

J
J

PENJABARAN PERSAMAAN KECEPATAN REAKSI


Beberapa asumsi yang digunakan :
1.

Mengabaikan reaksi sebaliknya (dianggap reaksi irreversible).


Asumsi ini hanya sesuai pada :

2.

kecepatan reaksi awal.

harga konstanta kesetimbangan (K) yang sangat besar.

Salah satu tahap reaksi berjalan jauh lebih lambat dari tahap-tahap yang lain.
Tahap ini merupakan tahap yang menentukan kecepatan reaksi. Tahap-tahap
reaksi yang lain berjalan sangat cepat dan dianggap berada dalam
kesetimbangan.

TRK 1 II-16

3.

Zat antara berada pada keadaan steady state (kecepatan zat antara yang
terbentuk = kecepatan zat antara yang bereaksi).

Contoh 2.1: Persamaan kecepatan reaksi non elementer

Suatu reaksi kimia dengan bentuk persamaan stokhiometri adalah:


2 N2O5 O2 + 4 NO2

[A]

Mempunyai mekanisme sebagai berikut :


k

N O

NO + NO

NO + NO NO* + O + NO ( lambat )
k

[B]

NO* + NO* NO

Jabarkanlah bentuk persamaan kecepatan reaksinya.


Penyelesaian :
rO = k C NO * C NO

[C]

Berdasarkan asumsi ke 3, kecepatan reaksi untuk zat antara berada pada keadaan
steady state artinya nilainya sama dengan nol.
+ rNO * = k C N O k C NO C NO * k C NO * C NO k C NO* C NO * =

[D]

rNO* = k C NO * C NO k C NO* C NO * =

[E]

Dari persamaan D, diatur kembali, akan didapat persamaan dengan bentuk:

C NO * k C NO + k C NO + k C NO*

C NO * =

= k C N O

k C N O

[F]

k C NO + k C NO + k C NO*

TRK 1 II-17

Dari persamaan E dan F:


C NO* =

k C N O
k
C NO C NO * =

k
k C NO + k C NO

[G]

Dari persamaan G dan C didapatkan :

k C N O
rO = k
( k + k ) C NO

k k C N O
C NO =
k + k

[H]

Cara lain:
Persamaan kecepatan reaksi dijabarkan dari tahap yang paling lambat.
rO = k C NO * C NO

Reaksi tahap 1 dalam kesetimbangan


k C N O = k C NO C NO * C NO =

rO =

k C N O
k C NO

k k
C N O
k

[I]
[J]

Bentuk J ini sama dengan bentuk persamaan H diatas dengan asumsi k2 >> k3.

MENENTUKAN MEKANISME REAKSI


Langkah-langkah penentuan mekanisme reaksi adalah sebagai berikut :
1. Diperkirakan mekanisme (tahap tahap) reaksi.
2. Dari mekanisme tersebut ditentukan bentuk persamaan kecepatan reaksinya.
3. Bentuk persamaan kecepatan reaksi tersebut dibandingkan dengan hasil
percobaan. Jika bentuknya sesuai, maka perkiraan benar, tetapi jika bentuknya
tidak sama, maka perkiraan tidak benar dan diperkirakan mekanisme yang lain.
Contoh 2.2: Menentukan mekanisme reaksi

Reaksi irreversible : 2A + B A2 B
Dari percobaan diperoleh :

TRK 1 II-18

[A]

rAB

, C A C B
+ C A

[B]

Kemungkinan besar tidak terjadi reaksi rantai.


Tentukan bagaimana mekanisme reaksi tersebut
Penyelesaian :
Diperkirakan mekanisme reaksi I :
k

A*

A* +

k C A * C B

A B

rA* =

[C]
A B

C A

k C A B

k C A

[D]
k C A* C B

k C AB

*
Pada keadaan steady state : rA =

k C A * + k C A* C B

C A *

kC A + k C AB

k C A + k C A B

[E]

k + kCB

Dari persamaan D dan E didapatkan :

rA B =

rA B

kk

C A C B + kk C B C A

k k C A B kk C B C A B

k + k C B

kk

C A C B k k C A B
k + k C B

[F]

Bentuk persamaan F dapat disederhanakan dengan anggapan:


(i) k2 sangat kecil (mendekati nol)
rA B =

(ii)

C A

[G]

k4 sangat kecil (mendekati nol)

TRK 1 II-19

rA B

C A CB
k + k C B

kk

( kk / k ) C A CB
+ ( k /k ) C B

[H]

Kedua bentuk tersebut tidak sesuai dengan hasil percobaan, maka perkiraan
mekanisme tersebut tidak benar.
Perkiraan mekanisme reaksi II :
k

A + B A B*
k

[I]

AB* + A

A B

rA B

k C AB* C A

rAB*

k C A C B

k C A B

k C AB*

[J]

kC AB* C A

k C A B

Pada keadaan steady state : r AB* =

k C A C B

k C AB*

C AB*

kC AB* C A

k C A B =

k C A C B + k C A B

[K]

k + k C A

Dari persamaan J dan K didapatkan :

rA B =

kk C A C B + kk C A C A B k k C A B kk C A C A B
k + k C A
kk C A C B k k C A B

[L]

k + k C A

Jika harga k4 sangat kecil, maka persamaan L dapat diubah menjadi :

TRK 1 II-20

rA B

( kk /k ) C A CB
+ ( k /k ) C A

[M]

Karena bentuk persamaan ini sama dengan hasil percobaan, maka perkiraan
mekanisme reaksi ini benar.
Reaksi tersebut mempunyai mekanisme :
k

A B*

A+ B

AB + A

2.4.

[N]

A B

PENGARUH SUHU TERHADAP KECEPATAN REAKSI


Pada persamaan [2.4] menyatakan persamaan kecepatan reaksi merupakan

fungsi dari suhu dan komposisi, sedangkan pada sub bab 2.2, suhu dianggap tetap atau
dikatakan proses dalam kondisi isotermal. Akan tetapi pada sub bab 2.3 akan dibahas
bahwa suhu mempengaruhi kecepatan reaksi. Hubungan antara konstante kecepatan
reaksi dengan suhu dinyatakan berdasarkan berbagai pendekatan.

2.4.1. PENGARUH SUHU BERDASARKAN HUKUM ARRHENIUS


Persamaan (hukum) Arrhenius ini digunakan untuk menyatakan persamaan
reaksi kimia sebagai fungsi suhu dan komposisi dengan bentuk:
rA = f1 (suhu). f2 (komposisi)
= k. f2 (komposisi)
dimana nilai k merupakan fungsi suhu dinyatakan dengan bentuk persamaan sebagai
berikut:
k = Ae E / RT

[2.16]

Dimana:
A = faktor frekwensi

TRK 1 II-21

E = tenaga aktivasi, cal/gmole


T = suhu, oK
R = konstante gas = 1,987 cal/(gmole)(oK)

2.4.2. PENGARUH SUHU BERDASARKAN TERMODINAMIKA


Dalam membahas termodinamika reaksi kimia didekati berdasarkan
kesetimbangan reaksi kimia. Misalkan reaksi reversibel elementer dengan bentuk:
k

A R,
k

Hr

[2.17]

Hubungan konstanta kesetimbangan (K) pada reaksi reversibel elementer terhadap


suhu dinyatakan dengan persamaan vant Hoff dengan bentuk:
d ( ln K ) H r
=
dT
RT

[2.18]

Berdasarkan persamaan [2.17], nilai K = Kc = [R]/[A] = k1 / k2, maka persamaan


[2.18] dapat ditulis dengan bentuk:
d ( ln k ) d ( ln k ) H r

=
dT
dT
RT

[2.19]

Apabila H r = E E , maka persamaan [2.19] dapat diubah menjadi:


d ( ln k ) d ( ln k )
E
E

dT
dT
RT
RT

[2.20]

E dT

Maka: d ( ln k ) = R
T

Atau: ln k =

E
+ ln A
RT

[2.21]

TRK 1 II-22

Persamaan [2.21] merupakan bentuk persamaan linear sebagai hubungan antara (1/T)
dengan ln k1. Apabila dibuat grafik hubungan antara ln k1 versus 1/T, maka akan
didapat garis lurus dengan slope = - E/R, sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar
2.2.

Slope = -E/R
ln k

/T

Gambar 2.2: hubungan antara suhu (1/T) dengan konstanta kecepatan reaksi (k)

2.4.3. PENGARUH SUHU BERDASARKAN TEORI TUMBUKAN


Kecepatan tumbukan dari molekul gas didapat dari teori kinetika gas. Untuk
tumbukan bimolekular seperti molekul A, akan didapat persamaan:

Z AA = A n A

kT
=
MA

kT
CA
MA

[2.22]

Dengan satuan: (jumlah tumbukan A dengan A)/(det.cm3).


Dimana:

= diamater dari molekul, cm

= berat molekul/N, massa dari molekul, gm

= 6,023 x 1023 molekul/mol, bilangan Avogadro

CA

= Konsentrasi A, mol/liter

nA

= N.CA/103, jumlah molekul dari A/cm3.

= R/N = 1.30 x 10-16 erg/K, konstanta Boltzmann

Untuk tumbukan bimolekular dari suatu campuran A dan B, maka berdasarkan teori
kinetika adalah:

TRK 1 II-23


Z AB =

+
n A nB kT

MA MB

[2.23]

C AC B

[2.24]

atau

Z AB =

N
kT
+


MA MB

Jika tiap tumbukan antara molekul reaktan menghasilkan tranformasi reaktan menjadi
produk, maka ekspresi tersebut akan memberikan kecepatan reaksi bimolekular.
Kecepatan aktual biasa lebih kecil dari prediksi, dan ini mengindikasikan bahwa
hanya sebagian kecil fraksi dari semua tumbukan menghasilkan reaksi. Berdasarkan
teori distribusi Maxwell untuk energi molekular bahwa fraksi untuk semua tumbukan
bimolekular adalah sebesar: e E / RT jika E >> RT. Maka kecepatan reaksi adalah

rA =

dN A
= kC AC B =(kecepatan tumbukan, mol/ltr.det)(fraksi tumbukan)
V dt

rA = z AB

rA =

E / RT
e
N

N
kT
+


MA MB

E / RT
e
C AC B

[2.25]

Pada persamaan [2.25] menunjukkan bahwa pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi
berdasarkan pendekatan teori tumbukan adalah
k T / e E / RT

[2.26]

2.4.4. PENGARUH SUHU BERDASARKAN TEORI KEADAAN TRANSISI

TRK 1 II-24

Kecepatan reaksi sebagai fungsi suhu berdasarkan pendekatan teori keadaan


transisi (transition state theory) digambarkan bahwa kombinasi dari reaktan akan
membentuk produk antara yang tidak stabil (instable intermediate) yang disebut
sebagai komplek aktif yang akan terdekomposisi secara spontan menjadi produk.
Diasumsikan bahwa terjadi kesetimbangan antara konsentrasi reaktan dengan
komplek aktif. Apabila bentuk reaksi elementer merupakan reaksi bolak balik:
k

A+ B

AB Hr

[2.27]

Dengan mekanisme:
k

A+ B

AB * AB

[2.28]

Dengan
K C* =

k C AB *
=
k C AC B

[2.29]

dan
k =

k BT
h

Dengan
kB = konstante Baltzman = 1,38 x 10-16 erg/oK
h = konstante Planck = 6,624 x 10-27 erg det.

rAB = kC AB * =

k BT
= K c* C AC B
h

[2.30]

Berdasarkan konstanta kesetimbangan dari komplek aktif dalam bentuk energi bebas
standard:
G* = H* - T S* = - RT ln Kc*
Kc* = e-G*/RT = e-H*/RT + S* /R

[2.31]

Maka kecepatan reaksi menjadi:


rAB =

k BT S * /R
e
h

H * /RT

.C A C B

[2.32]

Nilai e S / R tidak sensitif terhadap suhu dibandingkan yang lainnya, maka nilai
tersebut dianggap konstant. Maka untuk reaksi reversibel [2.27] secara pendekatan:

TRK 1 II-25

k1 T e H /RT
*

k2 T e H

/RT

Karena perbedaan harga antara E dan H* sangat kecil, maka :


E / RT
kT e

[2.33]

E H *

Kompleks

E H *

Energi mol. yg. bereaksi

Energi mol. yg. bereaksi

Kompleks

Produk
Hr(+)
Reaktan

E H *

E H *

Reaktan
Hr(-)
Produk

Endothermis

Eksothermis

Gambar 2.3: Sketsa dari perubahan energi yang terjadi didalam suatu reaksi.

2.4.5. PERBANDINGAN PENGARUH SUHU TERHADAP ARRHENIUS


Hubungan antara k dan T secara umum dapat dituliskan sebagai berikut :
k Tm e E/RT
k = A Tm e E/RT , 0 m 1

[2.34]

Apabila persamaan [2.34] dibuat logaritma natural dan dideferensialkan terhadap T,


maka akan didapat bentuk:
d ln k
m
E
m RT + E
=
+
=

dT
T
RT
RT

[2.35]

Karena harga m RT << E, maka


d (ln k )
E
=
dT
RT

k e E/RT

TRK 1 II-26

[2.36]

Dari perhitungan diatas ternyata hukum Arrhenius memberikan hasil yang hampir
sama dengan kedua teori yang lain.
Beberapa kesimpulan :
1.

Dari hukum Arhenius didapatkan bahwa hubungan antara ln k vs

merupakan

garis lurus, dengan slope besar untuk harga E besar dan slope kecil untuk harga
E kecil.
2.

Reaksi dengan tenaga aktivasi besar lebih peka terhadap perubahan suhu jika
dibandingkan dengan reaksi dengan tenaga aktivasi kecil.

3.

Faktor frekwensi tidak berpengaruh pada kepekaan reaksi terhadap suhu.

Beberapa contoh sensitivitas suhu pada reaksi sebagaimana ditunjukkan pada tabel 2.1
Tabel 2.1: Kenaikan suhu yang diperlukan untuk merubah kecepatan reaksi menjadi
dua kali lipat
Suhu
0oC
400oC
1000oC
2000oC

Energi aktivasi, E
10.000 cal 40.000 cal 70.000 cal
11oC
3 oC
2 oC
70
17
9
273
62
37
1037
197
107

LATIHAN SOAL:
1. Suatu reaksi kimia dengan persamaan stokhiometri adalah sebagai berikut:
2 NO2 + O2 N2O5, jelaskan hubungan antara kecepatan pembentukan produk
dan kecepatan menghilangnya reaktan untuk ketiga komponen pada reaksi tsb.
2. Suatu reaksi dengan persamaan kecepatan reaksi: -rA = 0.005 CA2, mol.cc.menit,
Jika konsentrasi dinyatakan dalam mol/liter dan waktu dalam jam, tentukan nilai
dan satuan dari konstanta kecepatan reaksinya.
3. Pirolisis dari etana memberikan nilai energi aktivasi sekitar 75.000 cal. Hitung
berapa kali perbandingan kecepatan dekomposisi pada suhu 650oC terhadap
500oC.

TRK 1 II-27