Anda di halaman 1dari 19

Journal Reading

Paparan Inhalasi Isosianat pada Pekerja Bengkel Body Repair dan


Industri Pengecatan

Putu Phalguna Purna Nugraha


13014101334
Masa KKM 29 September 2014 9 November 2014

Pembimbing
dr. Gustaf A. E. Ratag, MPH

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2014

LEMBAR PENGESAHAN

Telah di koreksi dan dibacakan


Pada tanggal

September 2014

Mengetahui Pembimbing

dr. Gustaf A. E. Ratag, MPH

Paparan Inhalasi Isosianat pada Pekerja Bengkel Body Repair dan


Industri Pengecatan
Sebagai bagian dari penelitian epidemiologi, kerja paparan isosianat dinilai sebagai
pengaruh pengecatan pada lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk menilai senyawa mana yang berkontribusi terhadap paparan isosianat di
bengkel

body

repair

dan

perusahaan

industry

pengecatan,

dan

untuk

mengidentifikasi pekerjaan dengan resiko tinggi terkena paparan isosianat. Sampel


perorangan berasal dari pekerja (n = 566) yang diambil dari 24 bengkel body
repair mobil dan lima perusahaan industry pengecatan menggunakan senyawa
toulena (pengencer cat). Sampel dianalisis menggunakan LC-S untuk monomer
isosianat, oligomer dan degradasi termal produk. Dari 23 sampel yang dianalisis,
20 terdeteksi isosianat. Penyelidikan faktor analisis menunjukan HDI, TDI dan
MDI faktor dengan gradasi termal produk terbagi atas TDI dan MDI faktor. Faktor
HDI terutama berisi oligomer HDI dan mendominasi pada frekuensi dan level
paparan di kedua industry. Pengecatan dengan cara menyemprot dari PU pernis
menghasilkan paparan tertinggi untuk faktor HDI (<LOD2643 mg/m3
NCO),dengan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua industry. Level
yang lebih rendah dari paparan faktor HDI ditemuukan selama pekerjaan yang
terkait dengan pengecetan dan pekerjaan tanpa paparan langsung dari cat. Paparan
dari faktor TDI tetap ditemukan pada bengkel body repair mobil daripada
perusahaan industry pengecatan. Paparan pada faktor MDI ditemukan secara tidak
sengaja selama penemprotan dan pengelasan pada bengkel body repair mobil
(<LOD0.5 mg/m3 NCO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengecatan
adalah sumber terpenting dan contributor pokok dari paparan isosianat di kedua
industry dengan paparan tertinggi selama penyemprotan PU. Bagaimanapun, sejak
proteksi sistem pernafasan kurang digunakan secara intensif selama melakukan

pekerjaan lain, paparan level rendah selama melakukan pekerjaan lain mungkin
juga berkontribusi secara signifikan pada internal dosis.
Kata pengantar
isosianat adalah bahan kimia industry yang mengandung N=C=O
grup tidak jenuh yang mana digunakan pada produk poliuretan
(PU) seperti busa, cat, tinta, bahan isolasi, pernis, dan vulkanisir
agen. (Lesage et al., 1992). Di Negara barat, molekul kecil dan
ringan ini diidentifikasi sebagai allergen yang menyebabkan asma
pekerja (Vandenplaset al.,1993b;Bernstein,1996;Wisnewski and
Redlich, 2001) yang beresiko tinggi pada para pengecat dengan
cara menyemprot.
Pengeras

pernis

mengandung
diisosianat

PU

umumnya

heksametilina
(IPDI).

Untuk

digunakan

diisosianat
mengurangi

(HDI)

senyawa
dan

bahaya

yang

isoporin

uap

yang

berhubungan dengan monomer HDI, monomer HDI sebagian


besar telah diganti dengan oligomernya. Selain itu, toulena
diisosianat (TDI) dan metelin bispenil isosianat (MDI) terdapat
pada produk kit, lem, pasta dan isolasi.
Metode penelitian
Strategi Populasi dan sampel terhadap Penilaian Paparan dilakukan sebagai bagian
dari Studi epidemiologis pada paparan isosianat dan efek kesehatan dalam tubuh
pekerja bengkel body repair mobil dan industry pengecatan semprot di Belanda.
Penelitian ini melibatkan 520 pekerja yang berasal dari 100 perusahaan. Bengkel
body repair yang terdaftar menggunakan data dari cabang organisasi (informasi
tertulis pada desain studi dan permintaan untuk berpartisipasi

dalam paparan serta penilaian kesehatan bagian dari studi dikirim


ke 763 perusahaan; Tingkat respon positif: 11%). Pengukuran udara
dilakukan secara acak dari perusahaan- perusahaan ini.
Pada 24 bengkel bodi mobil, total 475 sampel berbasis tugas yang diambil selama
tugas berikut: persiapan / pekerjaan finishing, pengamplasan / grinding bagian
dicat, pencampuran pernis, penyemprotan PU pernis, penyemprotan berbasis air
pernis warna, membersihkan pistol semprot, pengelasan, perakitan dan penggunaan
isosianat yang mengandung perekat, kit dan pasta.
Analisis statistic
Perangkat lunak statistik SAS (SAS Sistem untuk Windows, versi 8.02, SAS
Institute, Cary, NC) digunakan untuk analisis data. Paparan digambarkan oleh
frekuensi mendeteksi dan minimum, median dan maksimum konsentrasi untuk
sampel di atas LOD.
Hasil penelitian
Dekskripsi tugas dan Kontrol tindakan
Tabel 1 memberikan gambaran lokasi dimana tugas dilakukan dan langkah-langkah
kontrol yang digunakan selama pengukuran.
Bengkel body repair mobil.

Pada

penyemprotan,

1-

siklus

penyemprotan terjadi terdiri dari pengamplasan / grinding mobil


(bagian), masking, dasar penyemprotan lapisan (PU), warna
lapisan (berbasis air) dan lapisan bersih (PU) dan penutup.
Perusahaan industry pengecatan. Benda yang dicat bervariasi, mulai dari kapal
sampai bagian kecil dari Derek. Akibatnya, pekerja pengecatan lebih lama (7 jam

per hari) dan pencampuran dan pembersihan pistol semprot


frekuensinya lebih jarang (12 per hari) daripada di bengkel body
repair mobil. Pekerja bekerja sendiri atau dengan asisten. Objek
dicat di aula atau di luar ruangan. Pernis dicampur di area yang
sama di mana sering
ruangan yang sama.

juga pekerja lain (pengamat) ada di

Senyawa isosianat
Sebanyak 566 sampel udara dikumpulkan dari 29 perusahaan. Dalam sampel, 23
senyawa isosianat dianalisis dimana 20 dapat dideteksi. Dalam banyak contoh,
sebagian besar senyawa berada dibawah LOD. Pada bengkel body repair mobil dan
industry pengecatan, senyawa yang paling dominan, pada frekuensi dan
konsentrasinya, adalah oligomer HDI dan monomer HDI.
Diskusi
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai senyawa mana yang
berkontribusi terhadap paparan isosianat di bengkel body repair dan perusahaan
industry pengecatan, dan untuk mengidentifikasi pekerjaan dengan resiko tinggi
terkena paparan isosianat.
Dari 23 senyawa isosianat yang dianalisia, 20 dapat dideteksi. Hasil menunjukkan
oligomer HDI adalah yang lebih sering hadir dan dengan tingkat paparan yang
lebih tinggi dibandingkan semua senyawa lain di kedua bengkel body repair mobil
dan industry perusahaan pengecatan.

Meskipun

relatif

pentingnya

intensitas, durasi dan frekuensi paparan dalam kaitannya dengan


pengembangan penyakit, belum dipahami dengan baik, paparan
standar baru untuk isosianat tampaknya ditujukan untuk jangka
pendek tingkat tinggi

daripada kronis dengan paparan tingkat

rendah. Puncak paparan jangka pendek, yang mungkin menjadi


kontributor penting untuk perkembangan penyakit, lebih mudah
diidentifikasi dengan menggunakan pengukuran berbasis tugas.
Perbedaan tingkat paparan antara bengkel body repair mobil dan industry
pengecatan semprot tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa ventilasi
mungkin tidak menjadi faktor penting dari paparan isosianat.

Paparan alifatik polyisocyanates pada kulit di Bengkel body repair


Mobil dan Refinishing Industri: Sebuah Penilaian kualitatif
Tujuan : meskipun paparan isosianat pada sistem pernafasan telah menjadi
perhatian utama, paparan pada kulit juga bisa menjadi dan mungkin berkontribusi
pada sensitivitas dan asma. Metodelogi untuk menilai paparan isosianat pada kulit
di tempat kerja sangat terbatas dan datanya juga langka. Sasaran dari penelitian ini
adalah : 1. Untuk mengevaluasi validasi kolorometri indicator isosianat. 2. untuk
mengevaluasi sejauh mana kontaminasi isosianat dan paparan pada kulit diantara
pekerja bengkel mobil. 3. untuk mengevaluasi faktor-faktor paparan isosianat pada
kulit.
Metodelogi : indicator kolorometri dibandingkan dengan kromatografi cair kinerja
tinggi, analisa kuantitative berdasarkan nasional institute untuk keselamatan dan
kesehatan kerja menggunakan sampel laboratorium. Indicator kolorometrik
tersebut kemudian digunakan untuk menilai kontaminasi permukaan tanah dan
paparan kulit pada isosianat alifatik di 35 bengkel bodi mobil dan 124 pekerja
sebagai bagian dari studi epidemiologi. sampel yang positif menjadi dasar untuk
menilai pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja. Intensitas warna dari indicator
kolorometrik dinilai pada skala 0 (warna kuning) sampai 5 (warna merah) .
Hasil : laboratorium dan evaluasi lapangan di validasi menggunakan indicator
kolorimetrik. Tingkat positif sampel permukaan tanah isosianat adalah 46% (n 5
145/313). 34 persen (73/216) dari sampel positif untuk kulit yang tidak terproteksi
dan 20% (n 5 22/111) untuk kulit dibawah sarung tangan lateks. Nilai positif
tertinggi pada sampel kulit diperoleh setelah mencampur cat dan penyemprotan.
Kehadiran kontaminasi permukaan tanah dan pekerjaan yang berkaitan dengan
pengecatan adalah faktor utama dari paparan isosianat pada kulit.

Kesimpulan : pada penelitian ini mendokumentasikan luas kontaminasi alifatik


poliisosianat pada permukaan tanah dan paparan pada kulit, termasuk di bawah
sarung tangan, selama proses pengecatan dan pencampuran cat pada pekerja
bengkel bodi mobil. Kontaminasi permukaan tanah dan endapan aerosol pada
waktu pengecatan kedunya mungkin berkontribusi pada paparan terhadap kulit.
Indicator kolorimetrik adalah cara yang mudah, praktis dan murah, tetapi tidak
memiliki sensitivitas yang tinggi.
PENDAHULUAN
Tukang cat bengkel bodi otomotif dan teknisi perbaikan menggunakan cat
poliuretan untuk pemolesan semprot akhir. Komponen pengeras cat tersebut
sebagian besar terdiri dari spesies oligomerik volatilitas rendah dari heksametil
diisosianat (HDI) dan isoforon diisosianat (IPDI) yang berkontribusi sebesar .99%
dari total kelompok fungsional isosianat (NCO). 1% sisanya dari monomer HDI
dan/atau IPDI (Bello et al., 2004; Sparer et al., 2004; Pronk et al., 2006a). Istilah
polimer akan dipergunakan untuk menyebut semua oligomer dan terutama
spesies yang terpolimerasi sebagian (yang disebabkan oleh reaksi isosianat dengan
polyol), yang mengandung kelompok isosianat bebas. Isosianat monomer dan
polimer dapat menyebabkan sensitisasi dan asma pada pekerja yang terpapar
(Vandenplas et al., 1993; Redlich et al., 2006). Pengecat semprot dalam industry
bodi otomotif berada pada resiko yang lebih besar akan asma isosianat daripada
pekerjaan lainnya (Di Stefano et al., 2004). Industri bodi otomotif di Amerika
Serikat mempekerjakan 205.000 pekerja pada 35.500 bengkel bodi otomotif (Biro
Sensus Amerika Serikat, 2002). Tradisionalnya,penilaian dan strategi pencegahan
paparan isosianat telah terfokus pada paparan penghirupan, yang cenderung
berkaitan dengan asma isosianat yang menjadi perhatian utama gangguan
kesehatan, serta tendensi riwayat untuk memperhatikan paparan kulit. Namun,

studi hewan dan manusia menunjukkan peran paparan kulit isosianat dalam
mengembangkan sensitisasi, dengan paparan penghirupan sekuensial yang
menuntun pada asma (Bello et al., 2007a). Terlebih lagi, isosianat dapat menjadi
iritan kulit dan allergen kontak (Goossens et al., 2002; Redlich et al., 2006).
Metode untuk mengukur paparan isosianat pada kulit terbatas dan hanya sedikit
yang telah dilakukan untuk mengevaluasi paparan kulit terhadap isosianat dalam
tatanan pekerjaan. Sebagai bagian dari studi epidemiologis lintas bidang, Survei
Pengecat dan Bengkel Bodi Otomotif oleh Yale (SPRAY), paparan udara dari
polisosianat alifatik dikuantifikasi untuk tugas yang berbeda dan determinan
paparan yang diidentifikasi (Sparer et al., 2004; Woskie et al., 2004; Liu et al.,
2006). Sebuah studi perintis mendemonstrasikan kelayakan penilaian kontaminasi
permukaan dan paparan kulit terhadap isosianat menggunakan indicator
SWYPE_colorimatric (CLI), Des Plains, IL) (Liu et al., 2000). Teknik ini tidak
mahal, memberikan hasil yang segera dan mudah untuk digunakan, membuatnya
layak untuk mendeteksi kontaminasi isosianat pada permukaan kerja dan menilai
paparan kulit potensial dalam tempat kerja. Beberapa validasi laboratorium telah
dilakukan untuk memeriksa interferensi dan sensitivitas dari permukaan SWYPE_
saat berhubungan dengan isosianat aromatic (OSHA, 1997), namun laboratorium
ulasan rekan dan data lapangan dari indicator colorimetrik dengan isosianat alifatik
ini kurang. Evaluasi dari indicator colorimetric terutama diperlukan untuk menilai
kinerjanya dan kegunaannya dalam kondisi kerja yang sebenarnya. Studi ini
dilakukan untuk (i) mengevaluasi dan memvalidasi indicator colorimetric isosianat
dalam laboratorium dan di lapangan terhadap kadar logam kuantitatif, (ii)
mengevaluasi taraf kontaminasi permukaan isosianat dalam bengkel bodi otomotif
dan paparan kulit dalam pekerja bengkel bodi otomotif dan (iii) mengevaluasi
determinan paparan kulit isosianat. Artikel ini melaporkan hasil penilaian paparan
kami yang dikumpulkan dengan indicator colorimetric kualitatif. Penilaian

kuantitatif dari paparan kulit juga dilakukan dan akan disajikan dalam artikel
pendamping. Penemuan ini akan memajukan perkembangan model berbasis tugas
untuk memperkirakan paparan kulit isosianat pada pekerja bengkel bodi otomotif.
MATERIAL DAN METODE
Proses kerja dan potensi untuk paparan kulit
Pekerjaan bengkel bodi otomotif melibatkan sejumlah tugas pengecatan dan non
pegecatan. Pekerjaan pengecatan meliputi pencampuran cat, pengecatan semprot
dan terakhir pelapisan bening. Paparan kulit saat tugas pencampuran,
penyemprotan cat dan pembersihan penyemprot mungkin terjadi disebabkan oleh
kontak langsung dengan produk isosianat dalam jumlah yang besar, dari kontak
dengan permukaan yang terkontaminasi atau dari deposisi uap isosianat dan
aerosol pada kulit yang tidak terlindungi. Tugas non pengecatan meliputi perbaikan
penyok memiliki potensi yang lebih kecil untuk paparan kulit. Setelah pendasaran,
bagian-bagian otomotif diampelas kering maupun basah. Setelah pelapisan akhir,
material yang menutupi dihilangkan dan mobil disusun ataupun digosok. Tugas ini
juga memberikan kesempatan untuk paparan kulit terhadap isosianat, terutama jika
cat tidak seluruhnya diperbaiki.
Rancangan studi dan populasi
Penilaian permukaan dan paparan kulit isosianat ini merupakan bagian integral dari
studi SPRAY. evaluasi kualitatif dilaksanakan dalam 35 bengkel, dan penilaian
kuantitatif emntargetkan 22 bengkel ini karena hambatan finansial dan waktu.
kontaminasi permukaan dan paparan kulit, termasuk paparan di bawah sarung
tangan, pakaian pelindung dan respirator cartridge setengah wajah, dievaluasi
berdasarkan pada panduan dari OSHA Amerika Serikat (1997) dengan modifikasi.
Protokol studi ini disetujui oleh Komite Investigasi Manusia pada Universitas Yale.

Persetujuan tertulis didapatkan dari tiap partisipan. Data pada determinan paparan
potensial dikumpulkan dari manajer/pemilik bengkel dan pekerjanya, seperti yang
sebelumnya dijelaskan, termasuk ukuran bengkel, jenis cat, ventilasi bengkel dan
perlengkapan perlindungan pribadi.
Evaluasi laboratorium indicator colorimetric SWYPE
Sebelum studi lapangan, teknik SWYPE kualitatif dibandingkan dengan
pengukuran kadar kuantitatif kromatografi cair kinerja tinggi (HLPC) yang
berdasarkan pada Institut Nasional untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(NIOSH) metode 5525 untuk isosianat alifatik total di udara (NIOSH 2003) dengan
modifikasi (Bello et al., 2002) untuk menilai reprodusibilitas pembacaan intensitas
warna, menentukan batasan deteksi dan mengkalibrasikan tingkat warna SWYPE
dengan jumlah isosianat yang dipulihkan. dengan penghitungan kadar kuantitatif.
bantalan SWYPE, berukuran 2,5x2,5 dari CLI (gambar 1), ditusuk dengan pipet
dengan jumlah campuran isosianat yang diketahui kadarnya (campuran polimer
HDI dan IPDI) dalam kelipatan tiga, pada delapan pemuatan permukaan yang
meliputi seluruh intensitas warna SWYPE (<1-17 g NCO per SWYPE). volume
isosianat yang sama disuntikkan dalam duplikat dalam larutan derivative 1(90anthracenylmethyl) piperazine (MAP) dalam acetonitrile dan dianalisa dengan
HPLC. indicator SWYPE dibaca oleh investigator yang sama yang kemudian
membacanya di lapangan. investigator yang bekerja dengan kuantifikasi dan
membaca indicator SWYPE ini tidak diberitahukan jumlah isosianat yang
disuntikkan. Konsistensi rating SWYPE dinilai oleh investigator menggunakan
sampel replika.

Penilaian lapangan kontaminasi permukaan


Permukaan yang cenderung sering memiliki kontak dengan pekerja
dievaluasi, meliputi (i) yang kemungkinan memiliki kontaminasi tinggi oleh
produk dan cat yang mengandung isosianat, seperti wadah pengeras, alat
pencampur dan peralatan mengecat, (ii) permukaan dengan kemungkinan
kontaminasi, seperti bangku kerja teknisi bodi dan peralatan (iii) permukaan
dengan antisipasi kontaminasi rendah atau tidak terkontaminasi, seperti permukaan
kantor.
Penilaian kontaminasi permukaan. indicator SWYPE permukaan yang sama
(gambar 1) seperti yang dinilai pada pengujian kalibrasi laboratorium, digunakan
menurut spesifikasi CLI dan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Investigator
menggunakan sepasang sarung tangan nitril bebas tepung N-Dex selama
pengambilan sampel. Sarung tangan yang bersih digunakan setelah setiap sampel
positif untuk menghindari kontaminasi silang. Permukaan yang terpilih diseka
dengan bantalan SWYPE tiga kali menggunakan ibu jari, telunjuk dan jari tengah
yang memegang bantalan dan ditekan dengan kuat, dimulai dari luar ke dalam
secara

konsentris.

Wilayah

yang

diseka

distandarisasi

5x5

cm

ketika

memungkinkan seperti permukaan bangku. Penggaris pencampur disekakan pada


area seluas 2,5x7,6 cm pada tiap sisinya. Untuk permukaan yang lebih kecil dan
tidak beraturan, seperti tutup wadah pengeras, keseluruhan wilayah diseka dan
diukur. Bantalan kemudian diinspeksi untuk perubahan warna apapun. Warna
oranye hingga merah emngindikasikan adanya isosianat alifatik (gambar 1).
Intensitas warna dinilai secara semi kuantitatif pada skala 0-5 (dicatat - hingga
+++++ di lapangan) dengan 0 (-) tanpa perubahan warna (kuning pucat, warna
asli bantalan), 1 (+) oanye muda, 2 (++) oranye, 3 (+++) oranye tua, 4 (++
++) oranye kemerahan dan 5 (+++++) merupakan intensitas warna tertinggi

(merah tua). Semua penilaian warna dilakukan oleh investigator yang sama.
Duapuluh sampel permukaan kualitatif ditargetkan pada tiap bengkel.
Penilaian lapangan paparan kulit
Pemilihan subyek dan tugas. Semua pengecat atau teknisi bodi yang
ditugaskan untuk mengecat atau mendasari dengan cat yang mengandung isosianat
selama minggu survey dan satu hingga dua teknisi bodi dan pekerja kantor/manajer
yang tidak mengecat atau mendasari dipilih dari tiap bengkel/ Pengambilan sampel
penyekaan kulit untuk penilaian paparan berbasis tugas, sama dengan strategi
pengambilan sampel udara. Tugas pengecatan termasuk pencampuran cat,
pengecatan semprot, pembersihan penyemprot cat dan tugas-tugas yang berkaitan
dengannya (melepaskan material penutup, pengampelasan kering atau basah dari
bagian dan komponen yang baru dicat). tugas non pengecatan termasuk menutup
motor, pekerjaan mekanis, pengasahan dan pengelasan, perbaikan penyok,
pengawasan bengkel dan pekerjaan kantor.
Paparan kulit yang tidak terlindungi. Indikator SWYPE kulit digunakan
seperti yang sebelumnya dijelaskan dan menurut petunjuk CLI. SWYPE kulit terdii
dari 2 porsi: 2,5x5,0 cm bantalan pengambil sampel kain yang menempel pada
strip berlapis reagen (gambar 2). Setelah pekerja menyelesaikan tugasnya, wilayah
kulit yang terpapar diseka dua kali menggunakan bantalan SWYPE kain untuk
kulit. Kedua sisi tangan atau keseluruhan lengan diseka. Untuk dahi, wilayah yang
terpapar di luar pelindung kepala diseka; untuk wajah atau leher di luar respirator
cartridge pelindung, wilayah seluar 5,0x5,0 cm diseka. Setelah pengambilan
sampel, bantalan SWYPE kulit ditempatkan pada cangkir plastic, sisi antalan di
bawah, dan larutan pengembang dari minyak mineral dituangkan ke dalam cangkir,
mencapai ~0,6 cm tingginya. Larutan ini bermigrasi menuju strip yang dipenuhi

reagen, membawanya menuju isosianat yang dikumpulkan pada bantalan. Reaksi


isosianat dengan reagen akan menghasilkan warna oranye/merah, biasanya setelah
~5 menit. Intensitas warnanya dinilai dengan cara yang sama dalam pengambilan
sampel permukaan oleh investigator yang sama. Duapuluh sampel sekaan kulit
kualitatif ditargetkan untuk tiap bengkel.

Informasi sampel
Untuk tiap permukaan, sampel kulit atau PPE yang diambil, informasi
dikumpulkan tentang bengkel individual dan subyek, jenis dan lokasi permukaan,
wilayah permukaan dan kulit yang diseka, jenis PPE, informasi pengecatan (lokasi
dan durasi tugas,kuantitas cat, jumlah lapisan, merek pengeras dan wilayah
permukaan yang dicat) dan ventilasi (jenis ruang dan pembuangan local). Variabel
ini digunakan dalam analisis regresi untuk mengevaluasi determinan paparan kulit
yang utama.
Penilaian kuantitatif kontaminasi permukaan dan kulit
Potongan sekaan kain (5x5 cm) diberi sedikit glikol polypropylene (PPG) yang
disediakan oleh CLI. lap yang diberi PPG memberikan pemulihan yang baik
isosianat yang tidak terikat dari permukaan. Investigator menggunakan sepasang
sarung tangan N-Dex nitrile yang bersih selama pengambilan sampel. Setelah
wilayah permukaan atau kulit diseka, bantalan pengambil sampel ditempatkan
dalam wadah yang berisi larutan MAP dalam methylene klorida untuk ekstraksi
segera dan derivatisasi. Sampel disimpan dingin di lapangan dan dikirim dalam
wadah pendingin ke laboratorium untuk analisa kuantitatif seperti yang dijelaskan
di atas.

Evaluasi lapangan indicator colorimetric SWYPE


Sejumlah 151 permukaan SWYPE kualitatif berpasangan dan sampel kuantitatif
dan 98 SWYPE kulit berpasangan dan sampel kualitatif diambil beriringan untuk
mengevaluasi hubungan antara kedua metode pada limit deteksi (LOD),
sensitivitas (kemampuan untuk mendeteksi kntaminasi ketika ada) dan spesifisitas
(kemampuan untuk mendeteksi tidak adanya kontaminasi ketika tidak ada), positif
dan negative palsu (nilai yang tidak terdeteksi) dari indicator SWYPE, dan untuk
menentukan konsentrasi isosianat kira-kira dimana tumpukan produk isosianat
muncul lebih tersebar merata, dan padawilayah kulit lengan serta wajah dimana
kontaminasi dari penyemprotan berlebih deposisi aerosol sianggap lebih seragam.
Setengah dari permukaan atau wilayah kulit (setengah tangan atau lengan) diseka
untuk penilaian kualitatif dan setengahnya lagi untuk pengukuran kuantitatif.
Kesimpulan
Penelitian ini telah menunjukkan utilitas kualitatif Indikator SWYPE_ sebagai
indikator terpercaya, cepat dan murah, tapi tidak memiliki sensitifitas yang tinggi,
alat deteksi untuk mengidentifikasi kontaminasi permukaan tanah isosianat dan
paparan kulit di tempat kerja, segera

setelah penggunaan produk yang

mengandung isosianat. paparan kulit yang tidak terlindung adalah umum selama
melakukan

tugas pengecatan, sarung tangan tidak secara rutin dipakai seperti

pada pengamplasan basah dan kering. Isosianat juga terdeteksi di bawah sarung
tangan karet yang digunakan. Permukaan tanah yang terkontaminasi dan deposisi
aerosol penyemprotan yang berlebihan mungkin berkontribusi paparan isosianat
pada kulit pekerja tersebut.
meskipun efek kesehatan dari paparan kulit isosianat tetap jelas dan menjamin
penelitian lebih lanjut, adalah bijaksana untuk mengembangkan strategi yang lebih

baik untuk mengurangi eksposur tersebut. Meskipun indikator kualitatif memiliki


keterbatasan, mereka dapat memfasilitasi kesadaran, penelitian dan pencegahan
terhadap paparan isosianat pada kulit.

Tingkat Pb, Fe, Cd dan Co pada Tanah di bengkel mobil


Negara Osun , Nigeria
Abstrak : Pembuangan limbah dari semua jenis bengkel mobil di Nigeria sangat
mengkhawatirkan. Penelitian bertujuan untuk melihat kontribusi bengkel mobil
terhadap

polusi logam berat di tanah. Tiga puluh dua sampel tanah yang

dikumpulkan pada bengkel mobil di Osogbo, Ikirun, Iragbiji dan di Negara Osun
Iree untuk kobalt, besi, timbal dan kadmium di bagian yang berbeda yaitu: automekanik unit, unit otomatis pengelasan, Unit auto listrik dan unit pengecatan
dengan menggunakan serapan atom spectrophotometer. Konsentrasi kobalt
tertinggi diperoleh di Iree di unit auto las (17.25 1.10mg/kg), besi memiliki level
tertinggi di Ikirun di unit auto-mekanik (43.937 35mg / kg), konsentrassi timah
tertinggi di Iree pada tempat pengelasan. cadmium dengan konsentrasi tertinggi di
Iree pada auto Unit las juga (2.02 1.01 mg / kg). daerah sampel yang di teliti
memiliki kadar logam yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah control.
Kecenderungan umum dari penyebaran kontaminasi logam dalam profil tanah
adalah besi >> timah >> kobalt> cadmium. Analisis statistik menunjukkan terdapat
korelasi antara timah / besi (r = 0.636)

p<0.01. penelitian ini menyajikan

kontribusi penting sebagai database untuk kualitas tanah di Nigeria.

Metode Penelitian
Pengambilan sampel: sampel tanah untuk penelitian ini diambil dari bengkel mobil
di empat kota di Negara Osun, Nigeria. sampel dikumpulkan pada unit yang
berbeda dari bengkel mobil yang terdiri dari Unit automechanic, Unit auto las, auto
listrik Unit dan Unit pengecatan. Tiga puluh dua sampel tanahdikumpulkan dari
empat unit yang berbeda dalam empat kota pada kedalaman 1 cm dengan sendok
plastik untuk menghindari kontaminasi silang dan diberi label.
Kesimpulan
Penyelidikan dalam penelitian ini terungkap bahwa tanah di bengkel mobil yang
terdiri dari unit auto-mekanik dan lainnya adalah sangat tercemar dengan besi dan
timah.