Anda di halaman 1dari 24

Kamis, 19 September 2013

Amerika Memiliki Hutang 57 ribu Ton Emas Kepada Indonesia


"The Green Hilton Memorial Agreement" di Geneva pada 14 November 1963

Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah perjanjian yang menyebabkan
terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy (JFK) 22 November 1963.
Inilah perjanjian yang kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari kursi
kepresidenan oleh jaringan CIA yang menggunakan ambisi Soeharto. Dan inilah perjanjian yang
hingga kini tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah ummat manusia.
Perjanjian "The Green Hilton Memorial Agreement" di Geneva (Swiss) pada 14 November 1963
Dan, inilah perjanjian yang sering membuat sibuk setiap siapapun yang menjadi Presiden RI.
Dan, inilah perjanjian yang membuat sebagian orang tergila-gila menebar uang untuk
mendapatkan secuil dari harta ini yang kemudian dikenal sebagai "salah satu" harta Amanah
Rakyat dan Bangsa Indonesia. Inilah perjanjian yang oleh masyarakat dunia sebagai Harta Abadi
Ummat Manusia. Inilah kemudian yang menjadi sasaran kerja tim rahasia Soeharto menyiksa
Soebandrio dkk agar buka

mulut. Inilah perjanjian yang membuat Megawati ketika menjadi Presiden RI menagih janji ke
Swiss tetapi tidak bisa juga. Padahal Megawati sudah menyampaikan bahwa ia adalah Presiden
RI dan ia adalah Putri Bung Karno. Tetapi tetap tidak bisa. Inilah kemudian membuat SBY
kemudian membentuk tim rahasia untuk melacak harta ini yang kemudian juga tetap mandul.
Semua pihak repot dibuat oleh perjnajian ini.
Perjanjian itu bernama "Green Hilton Memorial Agreement Geneva". Akta termahal di dunia ini
diteken oleh John F Kennedy selaku Presiden AS, Ir Soekarno selaku Presiden RI dan William
Vouker yang mewakili Swiss. Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel Hilton Geneva pada 14
November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU yang dilakukan tahun 1961. Intinya adalah,
Pemerintahan AS mengakui keberadaan

emas batangan senilai lebih dari 57 ribu ton emas murni yang terdiri dari 17 paket emas dan
pihak Indonesia menerima batangan emas itu menjadi kolateral bagi dunia keuangan AS yang
operasionalisasinya dilakukan oleh Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland
(UBS).

Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas penggunaan kolateral tersebut AS
harus membayar fee sebesar 2,5% setahun kepada Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul
pemimpinan yang korup di Indonesia, maka pembayaran fee tersebut tidak bersifat terbuka.
Artinya hak kewenangan pencairan fee

tersebut tidak berada pada Presiden RI siapa pun, tetapi ada pada sistem perbankkan yang sudah
dibuat sedemikian rupa, sehingga pencairannya bukan hal mudah, termasuk bagi Presiden AS
sendiri.
Account khusus ini dibuat untuk menampung aset tersebut yang hingga kini tidak ada yang tahu
keberadaannya kecuali John F Kennedy dan Soekarno sendiri. Sayangnya sebelum Soekarno
mangkat, ia belum sempat memberikan mandat pencairannya kepada siapa pun di tanah air.
Malah jika ada yang mengaku bahwa dialah yang dipercaya Bung Karno untuk mencairkan
harta, maka dijamin orang tersebut bohong, kecuali ada tanda-tanda khusus berupa dokumen
penting yang tidak tahu siapa yang menyimpan hingga kini.
Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan niat tersebut kepada

Vatikan, Paus sempat bertanya apakah Indonesia telah menyetujuinya.


Kabarnya, AS hanya memanfaatkan fakta MOU antara negara G-20 di Inggris dimana Presiden
Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut menanda tangani suatu kesepakatan untuk
memberikan otoritas kepada keuangan dunia IMF dan World Bank untuk mencari sumber
pendanaan alternatif. Konon kabarnya, Vatikan berpesan agar Indonesia diberi bantuan. Mungkin
bantuan IMF sebesar USD 2,7 milyar dalam fasilitas SDR (Special Drawing Rights) kepada
Indonesia pertengahan tahun lalu merupakan realisasi dari kesepakatan ini, sehingga ada isyu
yang berkembang bahwa bantuan tersebut tidak perlu dikembalikan.
Oleh Bank Indonesia memang bantuan IMF sebesar itu dipergunakan untuk memperkuat

cadangan devisa negara. Kalau benar itu, maka betapa nistanya rakyat Indonesia. Kalau benar itu
terjadi betapa bodohnya Pemerintahan kita dalam masalah ini. Kalau ini benar terjadi betapa tak
berdayanya bangsa ini, hanya kebagian USD 2,7 milyar. Padahal harta tersebut berharga ribuan
trilyun dollar Amerika.
Aset itu bukan aset gratis peninggalan sejarah, aset tersebut merupakan hasil kerja keras nenek
moyang kita di era masa keemasan kerajaan di Indonesia.
Asal Mula Perjanjian "Green Hilton Memorial Agreement"
Setelah masa perang dunia berakhir, negara-negara timur dan barat yang terlibat perang mulai
membangun kembali infrastrukturnya. Akan tetapi, dampak yang telah diberikan oleh perang
tersebut bukan secara materi saja tetapi juga secara psikologis

luar biasa besarnya. Pergolakan sosial dan keagamaan terjadi dimana-mana. Orang-orang
ketakutan perang ini akan terjadi lagi. Pemerintah negara-negara barat yang banyak terlibat pada
perang dunia berusaha menenangkan rakyatnya, dengan mengatakan bahwa rakyat akan segera
memasuki era industri dan teknologi yang lebih baik. Para bankir Yahudi mengetahui bahwa
negara-negara timur di Asia masih banyak menyimpan cadangan emas. Emas tersebut akan di
jadikan sebagai kolateral untuk mencetak uang yang lebih banyak yang akan digunakan untuk
mengembangkan industri serta menguasai teknologi. Karena teknologi Informasi sedang menanti
di zaman akan datang.
Sesepuh Mason yang bekerja di Federal Reserve (Bank Sentral di Amerika) bersama bankirbankir dari Bank of International Settlements / BIS (Pusat

Bank Sentral dari seluruh Bank Sentral di Dunia) mengunjungi Indonesia. Melalui pertemuan
dengan Presiden Soekarno, mereka mengatakan bahwa atas nama kemanusiaan dan pencegahan
terjadinya kembali perang dunia yang baru saja terjadi dan menghancurkan semua negara yang
terlibat, setiap negara harus mencapai kesepakatan untuk mendayagunakan kolateral Emas yang
dimiliki oleh setiap negara untuk program-program kemanusiaan. Dan semua negara menyetujui
hal tersebut, termasuk Indonesia. Akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa emas-emas milik
negara-negara timur (Asia) akan diserahkan kepada Federal Reserve untuk dikelola dalam
program-program kemanusiaan. Sebagai pertukarannya, negara-negara Asia tersebut menerima
Obligasi dan Sertifikat Emas sebagai tanda kepemilikan. Beberapa negara yang terlibat
diantaranya Indonesia, Cina dan Philippina. Pada masa itu, pengaruh Soekarno sebagai
pemimpin dunia timur sangat besar, hingga Amerika

merasa khawatir ketika Soekarno begitu dekat dengan Moskow dan Beijing yang notabene
adalah musuh Amerika.
Namun beberapa tahun kemudian, Soekarno mulai menyadari bahwa kesepakatan antara negaranegara timur dengan barat (Bankir-Bankir Yahudi dan lembaga keuangan dunia) tidak di jalankan
sebagaimana mestinya. Soekarno mencium persekongkolan busuk yang dilakukan para Bankir
Yahudi tersebut yang merupakan bagian dari Freemasonry.
Tidak ada program-program kemanusiaan yang dijalankan mengunakan kolateral tersebut.
Soekarno protes keras dan segera menyadari negara-negara timur telah di tipu oleh Bankir
International.
Akhirnya Pada tahun 1963, Soekarno membatalkan perjanjian dengan para Bankir Yahudi

tersebut dan mengalihkan hak kelola emas-emas tersebut kepada Presiden Amerika Serikat John
F.Kennedy (JFK). Ketika itu Amerika sedang terjerat utang besar-besaran setelah terlibat dalam
perang dunia. Presiden JFK menginginkan negara mencetak uang tanpa utang.
Karena kekuasaan dan tanggung jawab Federal Reserve bukan pada pemerintah Amerika
melainkan di kuasai oleh swasta yang notabene nya bankir Yahudi. Jadi apabila pemerintah
Amerika ingin mencetak uang, maka pemerintah harus meminjam kepada para bankir yahudi
tersebut dengan bunga yang tinggi sebagai kolateral. Pemerintah Amerika kemudian melobi
Presiden Soekarno agar emas-emas yang tadinya dijadikan kolateral oleh bankir Yahudi di
alihkan ke Amerika. Presiden Kennedy bersedia meyakinkan Soekarno untuk membayar bunga
2,5% per tahun dari nilai emas yang digunakan dan mulai berlaku 2 tahun setelah perjanjian
ditandatangani. Setelah dilakukan MOU sebagai tanda persetujuan, maka dibentuklah Green
Hilton Memorial Agreement di Jenewa (Swiss) yang ditandatangani Soekarno dan John
F.Kennedy. Melalui perjanjian itu pemerintah Amerika mengakui Emas batangan milik bangsa
Indonesia sebesar lebih dari 57.000 ton dalam kemasan 17 Paket emas.
Melalui perjanjian ini Soekarno sebagai pemegang mandat terpercaya akan melakukan reposisi
terhadap kolateral emas tersebut, kemudian digunakan ke dalam sistem perbankan untuk
menciptakan Fractional Reserve Banking terhadap dolar Amerika. Perjanjian ini difasilitasi oleh
Threepartheid Gold Commision dan melalui perjanjian ini pula kekuasaan terhadap emas
tersebut berpindah tangan ke pemerintah Amerika. Dari kesepakatan tersebut, dikeluarkanlah
Executive Order bernomor 11110, di tandatangani oleh Presiden JFK yang memberi kuasa penuh
kepada Departemen Keuangan untuk mengambil alih hak menerbitkan mata uang dari Federal
Reserve. Apa yang pernah di lakukan oleh Franklin, Lincoln, dan beberapa presiden lainnya,
agar Amerika terlepas dari belenggu sistem kredit bankir Yahudi juga diterapkan oleh presiden
JFK. salah satu kuasa yang diberikan kepada Departemen keuangan adalah menerbitkan
sertifikat uang perak atas koin perak sehingga pemerintah bisa menerbitkan dolar tanpa utang

lagi kepada Bank Sentral (Federal Reserve)


Tidak lama berselang setelah penandatanganan Green Hilton Memorial Agreement tersebut,
presiden Kennedy di tembak mati oleh Lee Harvey Oswald. Setelah kematian Kennedy, tangantangan gelap bankir Yahudi memindahkan kolateral emas tersebut ke International Collateral
Combined Accounts for Global Debt Facility di bawah pengawasan OITC (The Office of
International Treasury Control) yang semuanya dikuasai oleh bankir Yahudi. Perjanjian itu juga
tidak pernah efektif, hingga saat Soekarno ditumbangkan oleh gerakan Orde baru yang didalangi
oleh CIA yang kemudian mengangkat Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Sampai
pada saat Soekarno jatuh sakit dan tidak lagi mengurus aset-aset tersebut hingga meninggal
dunia. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan, yang berkaitan dengan Green Hilton Memorial
Agreement tersebut adalah sebuah buku bersandi yang menyembunyikan ratusan akun dan subakun yang digunakan untuk menyimpan emas, yang terproteksi oleh sistem rahasia di Federal
Reserve bernama The Black screen. Buku itu disebut Buku Maklumat atau The Book of codes.
Buku tersebut banyak di buru oleh kalangan Lembaga Keuangan Dunia, Para sesepuh Mason,
para petinggi politik Amerika dan Inteligen serta yang lainnya. Keberadaan buku tersebut
mengancam eksistensi Lembaga keuangan barat yang berjaya selama ini.
Sampai hari ini, tidak satu rupiah pun dari bunga dan nilai pokok aset tersebut dibayarkan pada
rakyat Indonesia melalui pemerintah, sesuai perjanjian yang disepakati antara JFK dan Presiden
Soekarno melalui Green Hilton Agreement.
Padahal mereka telah menggunakan emas milik Indonesia sebagai kolateral dalam mencetak
setiap dollar.
Hal yang sama terjadi pada bangsa China dan Philipina. Karena itulah pada awal tahun 2000-an
China mulai menggugat di pengadilan Distrik New York. Gugatan yang bernilai triliunan dollar
Amerika Serikat ini telah mengguncang lembaga-lembaga keuangan di Amerika dan Eropa.
Namun gugatan tersebut sudah lebih dari satu dasawarsa dan belum menunjukkan hasilnya.
Memang gugatan tersebut tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran yang tinggi, karena bukan saja
berhadapan dengan negara besar seperti Amerika, tetapi juga berhadapan dengan kepentingan
Yahudi bahkan kabarnya ada kepentingan dengan Vatikan. Akankah Pemerintah Indonesia
mengikuti langkah pemerintah Cina yang menggugat atas hak-hak emas rakyat Indonesia yang
bernilai Ribuan Trilyun Dollar (bisa untuk membayar utang Indonesia dan membuat negri ini
makmur dan sejahtera)?
sumber : lintasgaul.blogspot.com
21
Nov
12

Keuangan : Green Hilton Memorial Agreement Geneva 1963 (?)

By jakarta45 1 Comment
Categories: Jiwa Semangat Nilai-nilai 45
Tags: Economics, Finance, Leadership, Nation & Character Building, politics

Journalist Independent safari_ans@yahoo.com


0inShare

Green Hilton Memorial Agreement Geneva 1963


REP | 02 January 2010 | 12:23 Dibaca: 6935

Komentar: 37

1 Menarik

Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah perjanjian yang menyebabkan
terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy 22 November 1963. Inilah
perjanjian yang kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari kursi kepresidenan
oleh jaringan CIA yang menggunakan ambisi Soeharto. Dan inilah perjanjian yang hingga kini
tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah ummat manusia.

Perjanjian The Green Hilton MemorialAgreement di Genva pada 14 November 1963


Dan, inilah perjanjian yang sering membuat sibuk setiap siapapun yang menjadi Presiden RI.
Dan, inilah perjanjian yang membuat sebagian orang tergila-gila menebar uang untuk
mendapatkan secuil dari harta ini yang kemudian dikenal sebagai salah satu harta Amanah
Rakyat dan Bangsa Indonesia. Inilah perjanjian yang oleh masyarakat dunia sebagai Harta Abadi
Ummat Manusia. Inilah kemudian yang menjadi sasaran kerja tim rahasia Soeharto menyiksa

Soebandrio dkk agar buka mulut. Inilah perjanjian yang membuat Megawati ketika menjadi
Presiden RI menagih janji ke Swiss tetapi tidak bisa juga. Padahal Megawati sudah
menyampaikan bahwa ia adalah Presiden RI dan ia adalah Putri Bung Karno. Tetapi tetap tidak
bisa. Inilah kemudian membuat SBY kemudian membentuk tim rahasia untuk melacak harta ini
yang kemudian juga tetap mandul. Semua pihak repot dibuat oleh perjnajian ini.
Perjanjian itu bernama The Green Hilton Memorial Agreement Geneva. Akta termahal di dunia
ini diteken oleh John F Kennedy selaku Presiden AS, Ir Soekarno selaku Presiden RI dan
William Vouker yang mewakili Swiss. Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel Hilton Geneva
pada 14 November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU yang dilakukan tahun 1961. Intinya
adalah, Pemerintahan AS mengakui keberadaan emas batangan senilai tak kurang dari 57 ribu
ton yang terdiri dari 17 paket emas dan pihak Indonesia menerima batangan emas itu menjadi
kolateral bagi dunia keuangan AS yang operasionalisasinya dilakukan oleh Pemerintahan Swiss
melalui United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku tiga tahun kemudian alias
14 November 1965 (gambar di atas hanya salah satu dari sekian lembar perjanjian).
Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas penggunaan kolateral tersebut AS
harus membayar fee sebesar 2,5% setahun kepada Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul
pemimpinan yang korup di Indonesia, maka pembayaran fee tersebut tidak bersifat terbuka.
Artinya hak kewenangan pencairan fee tersebut tidak berada pada Presiden RI siapapun, tetapi
ada pada sistem perbankkan yang sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga pencairannya bukan
hal mudah, termasuk bagi Presiden AS sendiri.
Account khusus ini dibuat untuk menampung aset tersebut yang hingga kini tidak ada yang tau
keberadaannya kecuali John F Kennedy dan Soekarno sendiri. Sayangnya sebelum Soekarno
mangkat, ia belum sempat memberikan mandat pencairannya kepada siapapun di tanah air.
Malah jika ada yang mengaku bahwa dialah yang dipercaya Bung Karno untuk mencairkan
harta, maka dijamin orang tersebut bohong, kecuali ada tanda-tanda khusus berupa dokumen
penting yang tidak tau siapa yang menyimpan hingga kini. Demikianlah dokumen penting yang
penulis baca dan hasil wawancara penulis dengan nara sumber dengan para tetua di dalam negeri
dan wawancara dengan narasumber di Belanda, Prancis, Jerman, Singapura, Malaysia dan Hong
Kong.
Bagi AS, perjanjian Green Hilton adalah perjanjian terbodoh bagi AS, karena AS mengakui aset
tersebut yang sebetulnya merupakan harta rampasan perang. Menurut dokumen yang penulis
baca. Harta tersebut berasal dari sitaan AS ketika menaklukkan Jerman dalam perang dunia.
Jerman juga mengakui bahwa harta tersebut disita Jerman ketika menyerang Belanda. Belanda
pun mengakui bahwa harta tersebut merupakan rampasan harta yang dilakukan VOC ketika
menjajah Indonesia.
Berdasarkan fakta yang dijumpai di lapangan, harta ini sudah pernah mau dicairkan pada 19861987 tapi gagal, lalu ada percobaan lagi awal 2000, juga gagal. Kini, ketika krisis menerpa AS
dan dunia yang hampir membunuh sebagian besar rakyat AS, pemerintah Obama mencoba
meyakinkan dunia melalui titah Puas di Vatikan bahwa AS berhak mencairkan harta ini. Atas
dasar untuk kepentingan ummat manusia, agaknya hati Vatikan mulai luluh. Konon kabarnya,
Vatikan telah memberikan restu itu tanpa mengabaikan bantuan kepada rakyat Indonesia.

Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan niat tersebut kepada
Vatikan, Puas sempat bertanya apakah Indonesia telah menyetujuinya. Kabarnya, AS hanya
memanfaatkan fakta MOU antara negara G-20 di Inggris dimana Presiden Indonesia SBY ikut
menandatangani suatu kesepakatan untuk memberikan otoritas kepada keuangan dunia IMF dan
World Bank untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Konon kabarnya, Vatikan berpesan agar
Indonesia diberi bantuan. Mungkin bantuan IMF sebesar USD 2,7 milyar dalam fasilitas SDR
(Special Drawing Rights) kepada Indonesia pertengahan tahun lalu merupakan realisasi dari
kesepakatan ini, sehingga ada isyu yang berkembang bahwa bantuan tersebut tidak perlu
dikembalikan. Oleh Bank Indonesia memang bantuan IMF sebesar itu dipergunakan untuk
memperkuat cadangan devisa negara. Penulis pikir DPR RI harus ikut mengklarifikasi soal status
uang bantuan IMF ini.
Kalau benar itu, maka betapa nistanya rakyat Indonesia. Kalau benar itu terjadi betapa bodohnya
Pemerintahan kita dalam masalah ini. Kalau ini benar terjadi betapa tak berdayanya bangsa ini,
hanya kebagian USD 2,7 milyar. Padahal harta tersebut berharga ribuan trilyun dollar AS. Aset
itu bukan aset gratis peninggalan sejarah, aset tersebut merupakan hasil kerja keras nenek
moyang kita di era masa keemasan kerajaan di Indonesia. Sebab dulu, beli beras saja pakai
balokan emas sebagai alat pembayarannya. Bahkan kerajaan China membeli rempah-rempah ke
Indonesia menggunakan balokan emas.
Lalu bagaimana nasib tersebut, kita sebagai bangsa yang besar masih perlu mengkaji lebih lanjut.
Pemerintah bersama rakyat perlu membentuk Tim Besar dan lobby yang besar ditingkat
internasional untuk menduduk kembali soal harta yang disepakati dalam The Green Hilton
Memorial Agreement ini. Karena ini sudah menjadi fakta sejarah yang tidak bisa dilewatkan
begitu saja. Pemerintahan SBY tidak bisa melakukan penyelidikan harta ini secara diam-diam
dan hanya kalangan terbatas. Sebab harta ini milik rakyat dan bangsa Indonesia. Bukan milik
pribadi Bung Karno. Keberhasilan lobby politik Bung Karno yang luar biasa ini harus diteruskan
dan jangan dimentahkan begitu saja.
(safari_ans@yahoo.com)

Kamis, 30 Juli 2009


THE GREEN HILTON AGREEMENT (Geneva 1963)
lanjutan

Perjanjian itu berkop surat Burung Garuda bertinta emas di bagian atasnya yang kemudian
menjadi pertanyaan besar pengamat Amerika. Yang ikut serta menekan dalam perjanjian itu
tertera John F. Kennedy selaku Presiden Amerika Serikat dan William Vouker yang berstempel
The President of The United State of America dan dibagian bawahnya tertera tandatangan
Soerkarno dan Soewarno berstempel Switzerland of Suisse. Yang menjadi pertanyaan kita
bersama adalah, mengapa Soekarno tidak menggunakan stempel RI. Pertanyaan itu sempat
terjawab, bahwa beliau khawatir harta itu akan dicairkan oleh pemimpin Indonesia yang korup,
kelak.
Perjanjian yang oleh dunia moneter dipandang sebagai pondasi kolateral ekonomi dunia hingga
kini, menjadi perdebatan panjang yang tak kunjung selesai pada kedua negara, Indonesia dan
Amerika. Banyak para tetua dan kini juga anak muda Indonesia dengan bangganya menceritakan
bahwa Amerika kaya karena dijamin harta rakyat Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan,
Amerika berhutang banyak pada rakyat Indonesia, karena harta itu bukan punya pemerintah dan
bukan punya negara Indonesia, melainkan harta rakyat Indonesia. Tetapi, bagi bangsa Amerika,
perjanjian kolateral ini dipandang sebagai sebuah kesalahan besar sejarah Amerika.
(http://safari2009.wordpress.com/)
oh ya, sebelumnya saya pernah menulis bahasan yang sama di :
http://lisnosetiawan.blogspot.com/2008/11/green-hilton-agreement-geneva-1963.html
semoga berguna bagi bangsa dan negara.

IndonesiaN*TreasurY
Apr 25

Posted by spsw nusantoro


~ IndonesiaN*Tre asurY~
Mungkin belum banyak yang tahu kalau ada sebuah perjanjian maha penting yang dibuat
Presiden I RI Ir Soekarno dan Presiden ke 35 AS John Fitzgerald Kennedy. Konon penembakan
John F Kennedy pada November 1963 yang membuatnya tewas secara tragis lantaran
menandatangani perjanjian tersebut.
Konon pula penggulingan Ir Soekarno dari kursi kepresidenan wajib dilakukan jaringan intelijen
AS disponsori komplotan Jahudi (Zionis Internasional) yang tidak mau AS bangkrut dan hancur
karena mesti mematuhi perjanjian tersebut juga tidak rela melihat RI justru menjadi kuat secara
ekonomi di samping modal sumber daya alamnya yang semakin menunjang kekuatan ekonomi
RI. selain itu ada beberapa tujuan lain yang harus dilaksanakan sesuai agenda Zionis
Internasional. Berikut ini saya coba tulis hasil penelusuran pada tahun 1994 s/d 1998, berlanjut
tahun 2006 s/d 2010, ditambah informasi dari beberapa sumber. Tapi mohon diingat, anggap saja
tulisan ini hanya penambah wawasan belaka.
Perjanjian itu biasa disebut sebagai salah satu Dana Revolusi, atau Harta Amanah Bangsa
Indonesia, atau pun Dana Abadi Ummat Manusia. Sejak jaman Presiden Soeharto hingga
Presiden Megawati cukup getol menelisik keberadaannya dalam upaya mencairkannya.
Perjanjian The Green Hilton Memorial Agreement Geneva dibuat dan ditandatangani pada 21
November 1963 di hotel Hilton Geneva oleh Presiden AS John F Kennedy (beberapa hari
sebelum dia terbunuh) dan Presiden RI Ir Soekarno dengan saksi tokoh negara Swiss William
Vouker. Perjanjian ini menyusul MoU diantara RI dan AS tiga tahun sebelumnya. Point penting
perjanjian itu; Pemerintahan AS (selaku pihak I) mengakui 50 persen keberadaan emas murni
batangan milik RI, yaitu sebanyak 57.150 ton dalam kemasan 17 paket emas dan pemerintah RI
(selaku pihak II) menerima batangan emas itu dalam bentuk biaya sewa penggunaan kolateral
dolar yang diperuntukkan pembangunan keuangan AS.
Dalam point penting lain pada dokumen perjanjian itu, tercantum klausul yang memuat perincian
; atas penggunaan kolateral tersebut pemerintah AS harus membayar fee 2,5 persen setiap
tahunnya sebagai biaya sewa kepada Indonesia, mulai berlaku jatuh tempo sejak 21 November
1965 (dua tahun setelah perjanjian). Account khusus akan dibuat untuk menampung asset
pencairan fee tersebut. Maksudnya, walau point dalam perjanjian tersebut tanpa mencantumkan
klausul pengembalian harta, namun ada butir pengakuan status koloteral tersebut yang bersifat
sewa (leasing). Biaya yang ditetapkan dalam dalam perjanjian itu sebesar 2,5 persen setiap tahun
bagi siapa atau bagi negara mana saja yang menggunakannya.
Biaya pembayaran sewa kolateral yang 2,5 persen ini dibayarkan pada sebuah account khusus
atas nama The Heritage Foundation (The HEF) yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh
Bung Karno sendiri atas restu Sri Paus Vatikan. Sedang pelaksanaan operasionalnya dilakukan
Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku dalam
dua tahun ke depan sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut, yakni pada 21 November 1965.

Namun pihak-pihak yang menolak kebijakan John F. Kennedy menandatangani perjanjian itu,
khususnya segelintir kelompok Zionis Internasional yang sangat berpengaruh di AS bertekat
untuk menghabisi nyawa dan minimal karir politik kedua kepala negara penandatangan
perjanjian itu sebelum masuk jatuh tempo pada 21 November 2965 dengan tujuan menguasai
account The HEF tersebut yang berarti menguasai keuangan dunia perbankan.
Target sasaran pertama, menyelesaikan pihak I selaku pembayar, yakni membuat konspirasi
super canggih dengan ending menembak mati Presiden AS JF Kennedy itu dan berhasil. Sudah
mati satu orang penandatangan perjanjian, masih seorang lagi sebagai target ke II, yakni Ir
Soekarno. Kaki tangan kelompok Zionis Internasional yang sejak awal menentang kesepakatan
perjanjian itu meloby dan menghasut CIA dan Deplu AS untuk menginfiltrasi TNI-AD yang
akhirnya berpuncak pada peristiwa G30S disusul penahanan Soekarno oleh rezim Soeharto.
Apesnya lagi, Soekarno tidak pernah sempat memberikan mandat pencairan fee penggunaan
kolateral AS itu kepada siapa pun juga !! Hingga beliau almarhum beneran empat tahun
kemudian dalam status tahanan politik.
Sedangkan kalangan dekat Bung Karno maupun pengikutnya dipenjarakan tanpa pengadilan
dengan tudingan terlibat G30S oleh rezim Soeharto. Mereka dipaksa untuk mengungkapkan
proses perjanian itu dan bagaimana cara mendapatkan harta nenek moyang di luar negeri itu.
Namun usaha keji ini tidak pernah berhasil.
Hal Ikhwal Perjanjian
Sepenggal kalimat penting dalam perjanjian tersebut => Considering this statement, which was
written andsigned in Novemver, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the
ownership, then the following total volumes were justobtained.
Perjanjian hitam di atas putih itu berkepala surat lambing Garuda bertinta emas di bagian atasnya
dan berstempel The President of The United State of America dan Switzerland of Suisse.
Berbagai otoritas moneter maupun kaum Monetarist, menilai perjanjian itu sebagai fondasi
kolateral ekonomi perbankan dunia hingga kini. Ada pandangan khusus para ekonom, AS dapat
menjadi negara kaya karena dijamin hartanya rakyat Indonesia, yakni 57.150 ton emas murni
milik para raja di Nusantara ini. Pandangan ini melahirkan opini kalau negara AS memang
berutang banyak pada Indonesia, karena harta itu bukan punya pemerintah AS dan bukan punya
negara Indonesia, melainkan harta raja-rajanya bangsa Indonesia.
Bagi bangsa AS sendiri, perjanjian The Green Hilton Agreement merupakan perjanjian paling
tolol yang dilakukan pemerintah AS. Karena dalam perjanjian itu AS mengakui asset emas
bangsa Indonesia. Sejarah ini berawal ketika 350 tahun Belanda menguasai Jawa dan sebagian
besar Indonesia. Ketika itu para raja dan kalangan bangsawan, khususnya yang pro atau tunduk
kepada Belanda lebih suka menyimpan harta kekayaannya dalam bentuk batangan emas di bank
sentral milik kerajaan Belanda di Hindia Belanda, The Javache Bank (cikal bakal Bank
Indonesia). Namun secara diam-diam para bankir The Javasche Bank (atas instruksi
pemerintahnya) memboyong seluruh batangan emas milik para nasabahnya (para raja-raja dan
bangsawan Nusantara) ke negerinya di Netherlands sana dengan dalih keamanannya akan lebih

terjaga kalau disimpan di pusat kerajaan Belanda saat para nasabah mempertanyakan hal itu
setelah belakangan hari ketahuan.
Waktu terus berjalan, lalu meletuslah Perang Dunia II di front Eropa, dimana kala itu wilayah
kerajaan Belanda dicaplok pasukan Nazi Jerman. Militer Hitler dan pasukan SS Nazi-nya
memboyong seluruh harta kekayaan Belanda ke Jerman. Sialnya, semua harta simpanan para raja
di Nusantara yang tersimpan di bank sentral Belanda ikut digondol ke Jerman.
Perang Dunia II front Eropa berakhir dengan kekalahan Jerman di tangan pasukan Sekutu yang
dipimpin AS. Oleh pasukan AS segenap harta jarahan SS Nazi pimpinan Adolf Hitler diangkut
semua ke daratan AS, tanpa terkecuali harta milik raja-raja dan bangsawan di Nusantara yang
sebelumnya disimpan pada bank sentral Belanda. Maka dengan modal harta tersebut, Amerika
kembali membangun The Federal Reserve Bank (FED) yang hampir bangkrut karena dampak
Perang Dunia II, oleh pemerintahnya The FED ditargetkan menjadi ujung tombak sistem
kapitalisme AS dalam menguasai ekonomi dunia.
Belakangan kabar penjarahan emas batangan oleh pasukan AS untuk modal membangun
kembali ekonomi AS yang sempat terpuruk pada Perang Dunia II itu didengar pula oleh Ir
Soekarno selaku Presiden I RI yang langsung meresponnya lewat jalur rahasia diplomatic untuk
memperoleh kembali harta karun itu dengan mengutus Dr Subandrio, Chaerul saleh dan Yusuf
Muda Dalam walaupun peluang mendapatkan kembali hak sebagai pemilik harta tersebut sangat
kecil. Pihak AS dan beberapa negara Sekutu saat itu selalu berdalih kalau Perang Dunia masuk
dalam kategori Force Majeur yang artinya tidak ada kewajiban pengembalian harta tersebut oleh
pihak pemenang perang.
Namun dengan kekuatan diplomasi Bung Karno akhirnya berhasil meyakinkan para petinggi AS
dan Eropa kalau asset harta kekayaan yang diakuisisi Sekutu berasal dari Indonesia dan milik
Rakyat Indonesia. Bung Karno menyodorkan fakta-fakta yang memastikan para ahli waris dari
nasabah The Javache Bank selaku pemilik harta tersebut masih hidup !!
Nah, salah satu klausul dalam perjanjian The Green Hilton Agreement tersebut adalah membagi
separoh separoh (50% & 50%) antara RI dan AS-Sekutu dengan bonus belakangan satelit
Palapa dibagi gratis oleh AS kepada RI. Artinya, 50 persen (52.150 ton emas murni) dijadikan
kolateral untuk membangun ekonomi AS dan beberapa negara eropa yang baru luluh lantak
dihajar Nazi Jerman, sedang 50 persen lagi dijadikan sebagai kolateral yang membolehkan bagi
siapapun dan negara manapun untuk menggunakan harta tersebut dengan sistem sewa (leasing)
selama 41 tahun dengan biaya sewa per tahun sebesar 2,5 persen yang harus dibayarkan kepada
RI melalui Ir.Soekarno. Kenapa hanya 2,5 persen ? Karena Bun Karno ingin menerapkan aturan
zakat dalam Islam.
Pembayaran biaya sewa yang 2,5 persen itu harus dibayarkan pada sebuah account khusus a/n
The Heritage Foundation (The HEF) dengan instrumentnya adalah lembaga-lembaga otoritas
keuangan dunia (IMF, World Bank, The FED dan The Bank International of Sattlement/BIS).
Kalau dihitung sejak 21 November 1965, maka jatuh tempo pembayaran biaya sewa yang harus
dibayarkan kepada RI pada 21 November 2006. Berapa besarnya ? 102,5 persen dari nilai pokok

yang banyaknya 57.150 ton emas murni + 1.428,75 ton emas murni = 58.578,75 ton emas murni
yang harus dibayarkan para pengguna dana kolateral milik bangsa Indonesia ini.
Padahal, terhitung pada 21 November 2010, dana yang tertampung dalam The Heritage
Foundation (The HEF) sudah tidak terhitung nilainya. Jika biaya sewa 2.5 per tahun ditetapkan
dari total jumlah batangan emasnya 57.150 ton, maka selama 45 tahun X 2,5 persen = 112,5
persen atau lebih dari nilai pokok yang 57.150 ton emas itu, yaitu 64.293,75 ton emas murni
yang harus dibayarkan pemerintah AS kepada RI. Jika harga 1 troy once emas (31,105 gram
emas ) saat ini sekitar 1.500 dolar AS, berapa nilai sewa kolateral emas sebanyak itu ?? Hitung
sendiri aja !!
Mengenai keberadaan account The HEF, tidak ada lembaga otoritas keuangan dunia manapun
yang dapat mengakses rekening khusus ini, termasuk lembaga pajak. Karena keberadaannya
yang sangat rahasia. Makanya, selain negara-negara di Eropa maupun AS yang memanfaatkan
rekening The HEF ini, banyak taipan kelas dunia maupun penjahat ekonomi kelas paus dan hiu
yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus ini agar terhindar dari pajak. Tercatat orangorang seperti George Soros, Bill Gate, Donald Trump, Adnan Kasogi, Raja Yordania, Putra
Mahkota Saudi Arabia, bangsawan Turko dan Maroko adalah termasuk orang-orang yang
menitipkan kekayaannya pada rekening khusus tersebut.
George Soros dengan dibantu ole CIA berusaha untuk membobol account khusus tersebut.
Bahkan, masih menurut sumber yang bisa dipercaya, pada akhir 2008 lalu, George Soros pernah
mensponsori sepasukan kecil yang terdiri dari CIA dan MOSSAD mengadakan investigasi
rahasia dengan berkeliling di pulau Jawa demi untuk mendapatkan user account dan PIN The
HEF tersebut.
Selain itu, George Soros dibantu dinas rahasia CIA pernah berusaha membobol account khusus
tersebut, namun gagal. Bahkan akhir 2008 lalu, George Soros pernah mensponsori sepasukan
kecil agen CIA dan MOSSAD (agen rahasia Israel) mengadakan investigasi rahasia dengan
berkeliling di pulau Jawa demi untuk mendapatkan user account dan PIN The HEF tersebut
termasuk untuk mencari tahu siapa yang diberi mandat Ir Soekarno terhadap account khusus itu.
Padahal Ir Soekarno atau Bung Karno tidak pernah memberikan mandat kepada siapa pun.
artinya pemilik harta rakyat Indonesia itu tunggal, yakni Bung Karno sendiri. Sampai saat ini !!
Penjahat Perbankan Internasional Manfaatkan Saat Ada Bencana Alam Besar
Sialnya, CUSIP Number (nomor register World Bank) atas kolateral ini bocor. Nah, CUSIP inilah
yang kemudian dimanfaatkan kalangan bankir papan atas dunia yang merupakan penjahat kerah
putih (white collar crime) untuk menerbitkan surat-surat berharga atas nama orang-orang
Indonesia. Pokoknya siapa pun dia, asal orang Indonesia berpassport Indonesia dapat dibuatkan
surat berharga dari UBS, HSBC dan bank besar dunia lainnya. Biasanya terdiri dari 12 lembar,
diantaranya ada yang berbentuk Proof of Fund, SBLC, Bank Guaranted, dan lainnya. Nilainya
pun fantastis, rata-rata di atas 500 juta dolar AS hingga 100 miliyar dolar AS.
Ketika dokumen tersebut dicek, maka kebiasaan kalangan perbankan akan mengecek CUSIP
Number. Jika memang berbunyi, maka dokumen tersebut dapat menjalani proses lebih lanjut.

Biasanya kalangan perbankan akan memberikan bank officer khusus bagi surat berharga
berformat Window Time untuk sekedar berbicara sesama bank officer jika dokumen tersebut
akan ditransaksikan. Sesuai prosedur perbankan, dokumen jenis ini hanya bisa dijaminkan atau
dibuatkan rooling program atau private placement yang bertempo waktu transaksi hingga 10
bulan dengan High Yield antara 100 persen s/d 600 persen per tahun.
Nah, uang sebesar itu hanya bisa dicairkan untuk proyek kemanusiaan. Makanya, ketika terjadi
musibah Tsunami di Aceh dan gempa di DIY, maka dokumen jenis ini beterbangan sejagat raya
bank. Brengseknya, setiap orang Indonesia yang namanya tercantum dalam dokumen itu, masih
saja hidup miskin blangsak sampai sekarang. Karena memang hanya permainan bandit bankir
kelas hiu yang mampu mengakali cara untuk mencairkan aset yang terdapat dalam rekening
khusus itu.
Di sisi lain, mereka para bankir curang juga berhasil membentuk opini, dimana sebutan orang
stress, sarap atau yang agak halus terobsesi kerap dilontarkan apabila ada seseorang yang
mengaku punya harta banyak, miliyaran dollar AS yang berasal dari Dana Revolusi atau Harta
Amanah Bangsa Indonesia. Opini yang terbentuk ini bagi pisau bermata dua, satu sisi
menguntungkan bagi keberadaan harta yang ada pada account khusus tersebut tidak terotak-atik,
namun sisi lainnya para bankir bandit dapat memanfaatkannya demi keuntungan pribadi dan
komplotannya ketika ada bencana alam besar di dunia, seperti bencana Tsunami di Jepang barubaru ini. Tapi yang paling berbahaya, tidak ada pembelaan rakyat, negara dan pemerintah
Indonesia ketika harta ini benar-benar ada dan mesti diperjuangkan bagi kemakmuran rakyat
Indonesia.
Kaitannya dengan Satria Piningit, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, Ratu Adil
Penulis punya pengertian, ketika Satrio Piningit sudah melaksanakan fungsinya sebagai
pemimpin maka beliau menjadi Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu (SPSW) karena kecintaannya
yang teramat sangat kepada TUHAN ALLAH.
Takut akan TUHAN dengan mencintai-NYA dengan segenap hatinya menjadi awal setiap
langkah beliau dalam melaksanakan tugas membawa rakyat Nusantara maupun umat manusia
menuju kesejahteraan dan kemakmuran yang hakiki. Ketika semua umat manusia pada umumnya
dan rakyat Nusantara pada khususnya sudah mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran yang
hakiki itu, maka beliau mendapat sebutan sang Ratu Adil.
Kami juga berkeyakinan, sang SPSW yang mampu mendapatkan kembali harta abadi rakyat
Nusantara, bagaimana pun prosesnya. Karena kepemimpinannya memang mendapat bimbingan
langsung TUHAN Pemilik Semesta Alam. Semua harta itu akan diserahkan kepada negara yang
dipimpinnya untuk dikelola demi kesejahteraan dan kemakmuran segenap pemilik sejatinya,
yakni bangsa Nusantara ini !!
~ Dives ultro indonesiA ~
By- wongireng, rekan kerja kigendengbanget

Bagikan ke Teman Anda

Mengingat Kembali 47 Tahun Green Hilton Agreement, 14


November 1963
REP | 14 November 2010 | 23:17 Dibaca: 2090 Komentar: 1 Nihil
14 november 1963, Bung Karno dan Presiden Kennedy menandatangi perjanjian yang sangat
dikenang oleh dunia International, Green Hilton Agremeent, hari ini tepat 47 tahun yang lalu.
Ini adalah adalah bentuk perjanjian penyerahan emas sebanyak Empat puluh delapan ribu ton
emas kepada America untuk menyelamatkan perekonomian dunia dari ambang kehancuran dan
untuk mencegah terjadinya perang dunia ke-3. Jumlah yang fantastis, jika 1 kg emas dihargai
USD 43989 (link http://www.goldprice.org/gold-price-per-kilo.html) maka total nilainya adalah
USD 2111.472 milyar.
Tepat hari ini juga, G20 bertemu untuk membahas permasalahan ekonomi dunia dan beberapa
minggu sebelumnya Amerika mengucurkan dana perbaikan ekonominya sebanyak USD 600
milliar yang berarti menggunakan cadangan emas sekitar dua puluh delapan persen dari jumlah
yang pernah ditandatangani antara Soekarno dengan Kennedy, alias 15348 ton emas.
Tulisan ini sekedar mengingatkan bahwa perjanjian tersebut sangat berarti bagi dunia dan
khusunya bagi rakyat Indonesia. Di dalam perjanjian juga dicantumkan bahwa Soekarno
mendapat hak sekitar 2 persen bunga pertahun dalam bentuk obligasi atas jasa diplomasi beliau
mengumpulkan emas Nusantara yang kemudian disebut Soekarno sebagai dana Revolusi, .
Setelah 47 tahun berlalu, berarti total bunga yang menjadi hak Soekarno sekitar USD 1900
milyar, nilai yang begitu fantastis (http://ayemmo.wordpress.com/2010/04/29/the-green-hiltonagreement-geneva-1963/).
Perjanjian ini seolah dilupakan Amerika, tetapi dunia tidak pernah melupakanya seperti yang
sudah di ikrarkan dalam Perjanjian Bangkok yang dikenal dengan, Recognizing the Rights
Treaty, Bangkok, Thailand, dated 2003. http://ayemmo.wordpress.com/2010/04/29/the-greenhilton-agreement-geneva-1963/.
Sampai sekarang hak Bung Karno tersebut tidak jelas rimbanya, keluarga Soekarno juga tidak
memiliki document untuk mencairkan dana tersebut, terlebih lagi Kennedy mati terbunuh 10 hari
setelah perjanjian tersebut ditandatangani. Menurut hukum Swiss (tempat perjanjian tersebut
ditandatangi) maka yang berhak mencairkan dana tersebut adalah Soekarno dan keturunanya
(karena bentuk obligasi yang dikuasakan kepada keturunananya), namun Soekarno tidak pernah

menitipkan document tersebut kepada keturunanya, melainkan ke Negara Indonesia yang konon
masih dirahasikaan guru spiritual Bung Karno. Jika dana tersebutkan dicairkan, maka semua
hutang Indonesia tidak ada artinya, alias terbayar lunas!. Namun ingat, itu bunga obligasi adalah
hak Bung Karno dan keturunanya, namun kebaikan Soekarno lah yang mengingkan itu menjadi
milik Indonesia, lihatlah dengan jelas bahwa kecintaan Soekarno untuk Indonesia begitu besar.

MISTERI EMAS BATANGAN IR. SOEKARNO


Posted on Juni 18, 2012 | 38 Komentar
Sumber : http://indonesian-treasury.blogspot.com/2012/06/misteri-emas-batangan-irsoekarno.html

Misteri Emas Batangan Ir. Soekarno


Mungkin belum banyak yang tahu kalau ada sebuah perjanjian maha penting yang dibuat
Presiden I RI Ir Soekarno dan Presiden ke 35 AS John Fitzgerald Kennedy. Konon penembakan
John F Kennedy pada November 1963 yang membuatnya tewas secara tragis lantaran
menandatangani perjanjian tersebut.
Konon pula penggulingan Ir Soekarno dari kursi kepresidenan wajib dilakukan jaringan intelijen
AS disponsori komplotan Jahudi (Zionis Internasional) yang tidak mau AS bangkrut dan hancur
karena mesti mematuhi perjanjian tersebut juga tidak rela melihat RI justru menjadi kuat secara
ekonomi di samping modal sumber daya alamnya yang semakin menunjang kekuatan ekonomi
RI. selain itu ada beberapa tujuan lain yang harus dilaksanakan sesuai agenda Zionis
Internasional. Berikut ini saya coba tulis hasil penelusuran pada tahun 1994 s/d 1998, berlanjut
tahun 2006 s/d 2010, ditambah informasi dari beberapa sumber. Tapi mohon diingat, anggap saja
tulisan ini hanya penambah wawasan belaka.
Perjanjian itu biasa disebut sebagai salah satu Dana Revolusi, atau Harta Amanah Bangsa
Indonesia, atau pun Dana Abadi Ummat Manusia. Sejak jaman Presiden Soeharto hingga
Presiden Megawati cukup getol menelisik keberadaannya dalam upaya
mencairkannya.Perjanjian The Green Hilton Memorial Agreement Geneva dibuat dan
ditandatangani pada 21 November 1963 di hotel Hilton Geneva oleh Presiden AS John F
Kennedy (beberapa hari sebelum dia terbunuh) dan Presiden RI Ir Soekarno dengan saksi tokoh
negara Swiss William Vouker. Perjanjian ini menyusul MoU diantara RI dan AS tiga tahun
sebelumnya. Point penting perjanjian itu; Pemerintahan AS (selaku pihak I) mengakui 50 persen
keberadaan emas murni batangan milik RI, yaitu sebanyak 57.150 ton dalam kemasan 17 paket
emas dan pemerintah RI (selaku pihak II) menerima batangan emas itu dalam bentuk biaya sewa
penggunaan kolateral dolar yang diperuntukkan pembangunan keuangan AS.
Dalam point penting lain pada dokumen perjanjian itu, tercantum klausul yang memuat perincian
; atas penggunaan kolateral tersebut pemerintah AS harus membayar fee 2,5 persen setiap
tahunnya sebagai biaya sewa kepada Indonesia, mulai berlaku jatuh tempo sejak 21 November
1965 (dua tahun setelah perjanjian). Account khusus akan dibuat untuk menampung asset
pencairan fee tersebut. Maksudnya, walau point dalam perjanjian tersebut tanpa mencantumkan
klausul pengembalian harta, namun ada butir pengakuan status koloteral tersebut yang bersifat
sewa (leasing). Biaya yang ditetapkan dalam dalam perjanjian itu sebesar 2,5 persen setiap tahun
bagi siapa atau bagi negara mana saja yang menggunakannya.

Biaya pembayaran sewa kolateral yang 2,5 persen ini dibayarkan pada sebuah account khusus
atas nama The Heritage Foundation (The HEF) yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh
Bung Karno sendiri atas restu Sri Paus Vatikan. Sedang pelaksanaan operasionalnya dilakukan
Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku dalam
dua tahun ke depan sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut, yakni pada 21 November
1965.Namun pihak-pihak yang menolak kebijakan John F. Kennedy menandatangani perjanjian
itu, khususnya segelintir kelompok Zionis Internasional yang sangat berpengaruh di AS bertekat
untuk menghabisi nyawa dan minimal karir politik kedua kepala negara penandatangan
perjanjian itu sebelum masuk jatuh tempo pada 21 November 2965 dengan tujuan menguasai
account The HEF tersebut yang berarti menguasai keuangan dunia perbankan.Target sasaran
pertama, menyelesaikan pihak I selaku pembayar, yakni membuat konspirasi super canggih
dengan ending menembak mati Presiden AS JF Kennedy itu dan berhasil. Sudah mati satu orang
penandatangan perjanjian, masih seorang lagi sebagai target ke II, yakni Ir Soekarno. Kaki
tangan kelompok Zionis Internasional yang sejak awal menentang kesepakatan perjanjian itu
meloby dan menghasut CIA dan Deplu AS untuk menginfiltrasi TNI-AD yang akhirnya
berpuncak pada peristiwa G30S disusul penahanan Soekarno oleh rezim Soeharto. Apesnya
lagi, Soekarno tidak pernah sempat memberikan mandat pencairan fee penggunaan kolateral AS
itu kepada siapa pun juga !! Hingga beliau almarhum beneran empat tahun kemudian dalam
status tahanan politik.Sedangkan kalangan dekat Bung Karno maupun pengikutnya dipenjarakan
tanpa pengadilan dengan tudingan terlibat G30S oleh rezim Soeharto. Mereka dipaksa untuk
mengungkapkan proses perjanian itu dan bagaimana cara mendapatkan harta nenek moyang di
luar negeri itu. Namun usaha keji ini tidak pernah berhasil.
Hal Ikhwal Perjanjian
Sepenggal kalimat penting dalam perjanjian tersebut => Considering this statement, which was
written andsigned in Novemver, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the
ownership, then the following total volumes were justobtained.
Perjanjian hitam di atas putih itu berkepala surat lambing Garuda bertinta emas di bagian atasnya
dan berstempel The President of The United State of America dan Switzerland of Suisse.
Berbagai otoritas moneter maupun kaum Monetarist, menilai perjanjian itu sebagai fondasi
kolateral ekonomi perbankan dunia hingga kini. Ada pandangan khusus para ekonom, AS dapat
menjadi negara kaya karena dijamin hartanya rakyat Indonesia, yakni 57.150 ton emas murni
milik para raja di Nusantara ini. Pandangan ini melahirkan opini kalau negara AS memang
berutang banyak pada Indonesia, karena harta itu bukan punya pemerintah AS dan bukan punya
negara Indonesia, melainkan harta raja-rajanya bangsa Indonesia.Bagi bangsa AS sendiri,
perjanjian The Green Hilton Agreement merupakan perjanjian paling tolol yang dilakukan
pemerintah AS. Karena dalam perjanjian itu AS mengakui asset emas bangsa Indonesia. Sejarah
ini berawal ketika 350 tahun Belanda menguasai Jawa dan sebagian besar Indonesia. Ketika itu
para raja dan kalangan bangsawan, khususnya yang pro atau tunduk kepada Belanda lebih suka
menyimpan harta kekayaannya dalam bentuk batangan emas di bank sentral milik kerajaan
Belanda di Hindia Belanda, The Javache Bank (cikal bakal Bank Indonesia). Namun secara
diam-diam para bankir The Javasche Bank (atas instruksi pemerintahnya) memboyong seluruh
batangan emas milik para nasabahnya (para raja-raja dan bangsawan Nusantara) ke negerinya di
Netherlands sana dengan dalih keamanannya akan lebih terjaga kalau disimpan di pusat kerajaan
Belanda saat para nasabah mempertanyakan hal itu setelah belakangan hari ketahuan.Waktu terus
berjalan, lalu meletuslah Perang Dunia II di front Eropa, dimana kala itu wilayah kerajaan
Belanda dicaplok pasukan Nazi Jerman. Militer Hitler dan pasukan SS Nazi-nya memboyong

seluruh harta kekayaan Belanda ke Jerman. Sialnya, semua harta simpanan para raja di
Nusantara yang tersimpan di bank sentral Belanda ikut digondol ke Jerman.
Perang Dunia II front Eropa berakhir dengan kekalahan Jerman di tangan pasukan Sekutu yang
dipimpin AS. Oleh pasukan AS segenap harta jarahan SS Nazi pimpinan Adolf Hitler diangkut
semua ke daratan AS, tanpa terkecuali harta milik raja-raja dan bangsawan di Nusantara yang
sebelumnya disimpan pada bank sentral Belanda. Maka dengan modal harta tersebut, Amerika
kembali membangun The Federal Reserve Bank (FED) yang hampir bangkrut karena dampak
Perang Dunia II, oleh pemerintahnya The FED ditargetkan menjadi ujung tombak sistem
kapitalisme AS dalam menguasai ekonomi dunia.
Belakangan kabar penjarahan emas batangan oleh pasukan AS untuk modal membangun
kembali ekonomi AS yang sempat terpuruk pada Perang Dunia II itu didengar pula oleh Ir
Soekarno selaku Presiden I RI yang langsung meresponnya lewat jalur rahasia diplomatic untuk
memperoleh kembali harta karun itu dengan mengutus Dr Subandrio, Chaerul saleh dan Yusuf
Muda Dalam walaupun peluang mendapatkan kembali hak sebagai pemilik harta tersebut sangat
kecil. Pihak AS dan beberapa negara Sekutu saat itu selalu berdalih kalau Perang Dunia masuk
dalam kategori Force Majeur yang artinya tidak ada kewajiban pengembalian harta tersebut oleh
pihak pemenang perang.Namun dengan kekuatan diplomasi Bung Karno akhirnya berhasil
meyakinkan para petinggi AS dan Eropa kalau asset harta kekayaan yang diakuisisi Sekutu
berasal dari Indonesia dan milik Rakyat Indonesia. Bung Karno menyodorkan fakta-fakta yang
memastikan para ahli waris dari nasabah The Javache Bank selaku pemilik harta tersebut masih
hidup !!Nah, salah satu klausul dalam perjanjian The Green Hilton Agreement tersebut adalah
membagi separoh separoh (50% & 50%) antara RI dan AS-Sekutu dengan bonus belakangan
satelit Palapa dibagi gratis oleh AS kepada RI. Artinya, 50 persen (52.150 ton emas murni)
dijadikan kolateral untuk membangun ekonomi AS dan beberapa negara eropa yang baru luluh
lantak dihajar Nazi Jerman, sedang 50 persen lagi dijadikan sebagai kolateral yang membolehkan
bagi siapapun dan negara manapun untuk menggunakan harta tersebut dengan sistem sewa
(leasing) selama 41 tahun dengan biaya sewa per tahun sebesar 2,5 persen yang harus dibayarkan
kepada RI melalui Ir.Soekarno. Kenapa hanya 2,5 persen ? Karena Bun Karno ingin menerapkan
aturan zakat dalam Islam.
Pembayaran biaya sewa yang 2,5 persen itu harus dibayarkan pada sebuah account khusus a/n
The Heritage Foundation (The HEF) dengan instrumentnya adalah lembaga-lembaga otoritas
keuangan dunia (IMF, World Bank, The FED dan The Bank International of Sattlement/BIS).
Kalau dihitung sejak 21 November 1965, maka jatuh tempo pembayaran biaya sewa yang harus
dibayarkan kepada RI pada 21 November 2006. Berapa besarnya ? 102,5 persen dari nilai pokok
yang banyaknya 57.150 ton emas murni + 1.428,75 ton emas murni = 58.578,75 ton emas murni
yang harus dibayarkan para pengguna dana kolateral milik bangsa Indonesia ini.Padahal,
terhitung pada 21 November 2010, dana yang tertampung dalam The Heritage Foundation (The
HEF) sudah tidak terhitung nilainya. Jika biaya sewa 2.5 per tahun ditetapkan dari total jumlah
batangan emasnya 57.150 ton, maka selama 45 tahun X 2,5 persen = 112,5 persen atau lebih dari
nilai pokok yang 57.150 ton emas itu, yaitu 64.293,75 ton emas murni yang harus dibayarkan
pemerintah AS kepada RI. Jika harga 1 troy once emas (31,105 gram emas ) saat ini sekitar 1.500
dolar AS, berapa nilai sewa kolateral emas sebanyak itu ?? Hitung sendiri aja !!
Mengenai keberadaan account The HEF, tidak ada lembaga otoritas keuangan dunia manapun
yang dapat mengakses rekening khusus ini, termasuk lembaga pajak. Karena keberadaannya
yang sangat rahasia. Makanya, selain negara-negara di Eropa maupun AS yang memanfaatkan
rekening The HEF ini, banyak taipan kelas dunia maupun penjahat ekonomi kelas paus dan hiu

yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus ini agar terhindar dari pajak. Tercatat orangorang seperti George Soros, Bill Gate, Donald Trump, Adnan Kasogi, Raja Yordania, Putra
Mahkota Saudi Arabia, bangsawan Turko dan Maroko adalah termasuk orang-orang yang
menitipkan kekayaannya pada rekening khusus tersebut.
George Soros dengan dibantu ole CIA berusaha untuk membobol account khusus tersebut.
Bahkan, masih menurut sumber yang bisa dipercaya, pada akhir 2008 lalu, George Soros pernah
mensponsori sepasukan kecil yang terdiri dari CIA dan MOSSAD mengadakan investigasi
rahasia dengan berkeliling di pulau Jawa demi untuk mendapatkan user account dan PIN The
HEF tersebut.Selain itu, George Soros dibantu dinas rahasia CIA pernah berusaha membobol
account khusus tersebut, namun gagal. Bahkan akhir 2008 lalu, George Soros pernah
mensponsori sepasukan kecil agen CIA dan MOSSAD (agen rahasia Israel) mengadakan
investigasi rahasia dengan berkeliling di pulau Jawa demi untuk mendapatkan user account dan
PIN The HEF tersebut termasuk untuk mencari tahu siapa yang diberi mandat Ir Soekarno
terhadap account khusus itu. Padahal Ir Soekarno atau Bung Karno tidak pernah memberikan
mandat kepada siapa pun. artinya pemilik harta rakyat Indonesia itu tunggal, yakni Bung Karno
sendiri. Sampai saat ini !!
Penjahat Perbankan Internasional Manfaatkan Saat Ada Bencana Alam Besar
Sialnya, CUSIP Number (nomor register World Bank) atas kolateral ini bocor. Nah, CUSIP inilah
yang kemudian dimanfaatkan kalangan bankir papan atas dunia yang merupakan penjahat kerah
putih (white collar crime) untuk menerbitkan surat-surat berharga atas nama orang-orang
Indonesia. Pokoknya siapa pun dia, asal orang Indonesia berpassport Indonesia dapat dibuatkan
surat berharga dari UBS, HSBC dan bank besar dunia lainnya. Biasanya terdiri dari 12 lembar,
diantaranya ada yang berbentuk Proof of Fund, SBLC, Bank Guaranted, dan lainnya. Nilainya
pun fantastis, rata-rata di atas 500 juta dolar AS hingga 100 miliyar dolar AS.Ketika dokumen
tersebut dicek, maka kebiasaan kalangan perbankan akan mengecek CUSIP Number. Jika
memang berbunyi, maka dokumen tersebut dapat menjalani proses lebih lanjut. Biasanya
kalangan perbankan akan memberikan bank officer khusus bagi surat berharga berformat
Window Time untuk sekedar berbicara sesama bank officer jika dokumen tersebut akan
ditransaksikan. Sesuai prosedur perbankan, dokumen jenis ini hanya bisa dijaminkan atau
dibuatkan rooling program atau private placement yang bertempo waktu transaksi hingga 10
bulan dengan High Yield antara 100 persen s/d 600 persen per tahun.Nah, uang sebesar itu hanya
bisa dicairkan untuk proyek kemanusiaan. Makanya, ketika terjadi musibah Tsunami di Aceh dan
gempa di DIY, maka dokumen jenis ini beterbangan sejagat raya bank. Brengseknya, setiap
orang Indonesia yang namanya tercantum dalam dokumen itu, masih saja hidup miskin blangsak
sampai sekarang. Karena memang hanya permainan bandit bankir kelas hiu yang mampu
mengakali cara untuk mencairkan aset yang terdapat dalam rekening khusus itu.
Di sisi lain, mereka para bankir curang juga berhasil membentuk opini, dimana sebutan orang
stress, sarap atau yang agak halus terobsesi kerap dilontarkan apabila ada seseorang yang
mengaku punya harta banyak, miliyaran dollar AS yang berasal dari Dana Revolusi atau Harta
Amanah Bangsa Indonesia. Opini yang terbentuk ini bagi pisau bermata dua, satu sisi
menguntungkan bagi keberadaan harta yang ada pada account khusus tersebut tidak terotak-atik,
namun sisi lainnya para bankir bandit dapat memanfaatkannya demi keuntungan pribadi dan
komplotannya ketika ada bencana alam besar di dunia, seperti bencana Tsunami di Jepang barubaru ini. Tapi yang paling berbahaya, tidak ada pembelaan rakyat, negara dan pemerintah
Indonesia ketika harta ini benar-benar ada dan mesti diperjuangkan bagi kemakmuran rakyat
Indonesia.Kaitannya dengan Satria Piningit, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, Ratu Adil

Penulis punya pengertian, ketika Satrio Piningit sudah melaksanakan fungsinya sebagai
pemimpin maka beliau menjadi Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu (SPSW) karena kecintaannya
yang teramat sangat kepada TUHAN ALLAH.
Takut akan TUHAN dengan mencintai-NYA dengan segenap hatinya menjadi awal setiap
langkah beliau dalam melaksanakan tugas membawa rakyat Nusantara maupun umat manusia
menuju kesejahteraan dan kemakmuran yang hakiki. Ketika semua umat manusia pada umumnya
dan rakyat Nusantara pada khususnya sudah mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran yang
hakiki itu, maka beliau mendapat sebutan sang Ratu Adil.
Kami juga berkeyakinan, sang SPSW yang mampu mendapatkan kembali harta abadi rakyat
Nusantara, bagaimana pun prosesnya. Karena kepemimpinannya memang mendapat bimbingan
langsung TUHAN Pemilik Semesta Alam. Semua harta itu akan diserahkan kepada negara yang
dipimpinnya untuk dikelola demi kesejahteraan dan kemakmuran segenap pemilik sejatinya,
yakni bangsa Nusantara ini !!

Anda mungkin juga menyukai