Anda di halaman 1dari 221

[DRAFT-1]

TERAPI LINTAH
TEORI DAN PRAKTEK
Pengalaman dan penelitian
Dokter, praktisi dan ahli biologi Jerman

Vita Sarasi

Bandung, 2011

Prakata
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Taala yang telah bersabda
dalam QS. An Nuur ayat 45 :
Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian
dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan
dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki.
Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu.

Di dunia teridentifikasi sekitar 600 jenis lintah, namun hanya


sekitar 15 jenis yang dapat digunakan untuk pengobatan, di
antaranya Hirudo medicinalis. Ibnu Sina (978-1037 M), dokter Arab
yang sangat terkenal, percaya lintah dapat mengeluarkan darah
dari bagian tubuh yang lebih dalam dibandingkan dengan bekam
basah (wet cupping) yang ditulis dalam bukunya The Canon of
Medicine (Alqanoon-fi-Tibb).
Ketika menghisap darah, lintah bekerja seperti pipet kecil yang
efisien, mengijeksi puluhan, bahkan dengan elektroforesis dua
dimensi teridentifikasi lebih dari 100 zat kimia, melalui air liurnya
ke dalam tubuh manusia. Tidak ada alat bedah mikro manapun di
dunia dapat berfungsi kompleks dengan presisi tinggi seperti ini,
demikian fakta yang banyak diakui para dokter, ahli biologi
maupun praktisi di seluruh dunia.
Memang, diperlukan model yang sangat kompleks untuk dapat
menjelaskan efek pengobatan dari air liur lintah ini, yang secara
bersamaan dapat mengurangi kekentalan darah, meningkatkan
aliran limfe, mencegah penyatuan trombosit, menghalangi infeksi
jaringan sekaligus mengeluarkan efek analgesik lokal dan anestetik,
sehingga meminimasi nyeri akibat gigitannya. Subhanallah
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 1

Terapi lintah telah dipraktekkan lebih dari 2000 tahun dalam


sistem pengobatan tradisional di Eropa, Ayurveda dan Cina. Saat ini
terapi dipraktekkan dengan cara yang tidak terlalu berbeda dari
metode yang dijelaskan Ibnu Sina 1000 tahun yang lalu. Ibnu Sina
bersikeras bahwa terapi lintah membutuhkan tidak hanya
kebersihan lintah tapi juga tempat aplikasi dan tangan terapis
(Robert dkk, 2000).
Secara historis terdapat pergeseran dalam indikasi utama terapi.
Pada masa lalu indikasi utamanya adalah penyakit jantung dan
gangguan peredaran darah, namun saat ini telah berubah menjadi
radang kronis dan rasa nyeri menahun. Hasil yang spektakuler juga
telah terbukti untuk indikasi bedah plastik dan rekonstruktif, dan
nyeri kronis karena menurunnya fungsi tulang sendi.
Untuk dapat menjelaskan bagaimana efek air liur makhluk mungil
dengan pola punggung berwarna cerah : oranye, merah, kuning
langsat dan hitam yang berulang-ulang itu dapat begitu mujarab,
kita perlu membedah struktur anatomi tubuhnya yang sangat
kompleks. Perutnya adalah ruang penyimpanan yang sangat
besar, yang dapat membuatnya bertahan untuk tidak makan
hingga dua tahun. Walaupun isi perutnya dikosongkan sekalipun,
lintah masih dapat hidup dengan unsur dalam tubuhnya. Dalam
mulutnya terdapat tiga rahang membentuk sudut 1200, mirip
simbol mobil Mercedes-Benz, dengan 180 hingga 300 gigi kecilnya.
Bentuk tiga rahang di dalam
mulut lintah (kiri) yang
membentuk sudut 120o yang
mirip simbol mobil
Mercedes-Benz (kanan)
Sumber: C. Morkel

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 2

Lima pasang pigmen mata dan ke-32 simpul syarafnya berkembang


sangat baik untuk mendeteksi musuh dan mangsa potensialnya.
Penghisap belakangnya bertekanan kuat, sekitar 0,2 atm, sehingga
lintah bisa melekat pada hampir semua jenis permukaan benda.
Buku ini mengambil sumber utama dari buku Medicinal Leech
Therapy (penerbit Thieme dari Stuttgart, Jerman tahun 2007)
yang diperkaya dengan informasi dari berbagai referensi tambahan
lainnya. Buku utama tersebut menceritakan hasil penelitian dan
pengalaman terapi lintah di Jerman dari Andreas Michalsen, MD.,
Gustav Dobos, MD, Manfred Roth, PhD. (masing-masing seorang
profesor, seorang dokter, dan seorang ahli biologi merangkap
praktisi). Buku tersebut juga menceritakan penerapan terapi lintah
di berbagai negara guna memberikan gambaran yang lebih lengkap
baik secara teoritis maupun praktis yang dibutuhkan untuk
berbagai keperluan dalam pelaksanaan terapi tersebut.

Prof. Gustav Dobos


Rumah Sakit pengobatan
integratif dan
komplementer,
Essen-Mitte, Jerman

Dr. Andreas Michalsen


Departemen pengobatan
penyakit dalam,
Rumah Sakit Essen-Mitte,
Jerman

Dr. Manfred Roth


Ahli biologi dan praktisi
peternakan lintah ZAUG,
Biebertal, Jerman

Dokter, ahli biologi dan praktisi lintah dari Jerman

Rumah Sakit (Klinik) Essen-Mitte, Kota Essen di Jerman,


lokasi riset medis untuk terapi lintah

Suasana di peternakan lintah ZAUG,


kota Biebertal di Jerman

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 3

Seperti disebutkan di atas, buku ini juga dilengkapi dan diperkaya


dengan berbagai referensi tambahan berupa paper-paper pada
jurnal ilmiah dan tulisan-tulisan ilmiah popular lainnya, misalnya
mengenai sejarah terapi lintah dari dulu hingga sekarang yang
ditulis oleh I.S. Whitaker, J.Rao, D. Izadi, P.E. Butler, berjudul
Historical Article: Hirudo medicinalis : ancient origin of, and trends
in the use of medicinal leeches throughout history, dimuat dalam
British Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, 2004, p.133-137
dan tulisan dari Dr. Nurdeen Deuraseh berjudul Health and
Medicine in The Islamic Tradition based on the Book of Medicine
(Kitab al-Tibb) of Sahih al-Bukhari, UPM, Selangor, Malaysia.
Pengayaan dengan referensi tambahan ini dituangkan pada hampir
semua bab, khususnya pada Bab 1 (Pendahuluan) dan Bab 2
(Sejarah Terapi Lintah). Secara teknis penulisan, informasi dari
sumber-sumber tambahan tersebut dituliskan dalam format kotak
(box). Untuk menjelaskan terminologi penyakit, penulis
menggunakan Kamus Kedokteran Dorland, edisi 31, 2010 yang
diterbitkan oleh EGC, penerbit buku kedokteran.
Salah satu efek samping terapi lintah adalah gatal-gatal sementara
karena pengaruh zat histamine dalam air liur lintah. Menurut Tuan
Hj. Ismail bin Hj. Ahmad, pakar herba dari Perlis, Malaysia, obat
antihistamin yang sering diresepkan dokter hanya menghilangkan
gejala alergi pada saat diminum. Bahkan ada yang menderita gatalgatal di seluruh badan atau bintik-bintik darah karena tubuhnya
menolak antibiotik kimia sintetis. Untuk itu, beliau menganjurkan
untuk mengkonsumsi herba yang mengandung akar kunyit
(Coscinium blumeanum) dimana terdapat flavanoid tinggi di
dalamnya yang berfungsi sebagai anti oksidan, mengurangi
pengeluaran histamine dan zat-zat alergi lain, sekaligus membantu
meningkatkan kadar vitamin C dalam tubuh untuk melindungi
kerusakan sel akibat radikal bebas dan menguatkan sendi.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 4

Dibandingkan pengobatan alami lainnya, terapi lintah relatif lebih


mudah dipelajari. Namun, pengembangannya memerlukan standar
kualitas sebagai prioritas utama. Jika telah terpenuhi, pengobatan
yang bermanfaat ini dapat dilanjutkan di rumah sakit maupun di
klinik, mengingat minat masyarakat semakin meningkat.
Allah bersabda dalam QS Yunus ayat 57 :
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam
dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Pada akhirnya, hanya Allahlah yang Maha Penyembuh. Oleh sebab


itu sebagai manusia kita wajib berusaha secara maksimal dengan
tetap diiringi doa kesembuhan kepada Allah SWT serta shalawat
dan salam kepada Rasulullah SAW.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak
yang mendukung penyusunan buku ini, khususnya kepada: Umi
Anna dari Thibbun Nabawi Center di Pesantren Al Quran Babussalam (Bandung) atas dorongan motivasi, diskusi, dan sharing
pengalamannya serta dr. Nahdiyati Birkic yang saat ini tinggal di
kota Frankfurt am Main (Jerman) atas bantuan dalam penyediaan
literatur utamanya.
Semoga buku ini dapat dimanfaatkan secara optimal, baik sebagai
pedoman praktis maupun pengetahuan ilmiah terapi lintah.
Bandung, Ramadhan 1432 H / Agustus 2011
Vita Sarasi

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 5

Daftar Isi
PRAKATA .................................................................................. 1
DAFTAR ISI ................................................................................ 6
1. PENDAHULUAN .............................................................. 11
Referensi Tambahan ..................................................................................12

2.

SEJARAH TERAPI LINTAH ................................................ 13

Pendahuluan ..............................................................................................13
Terapi Lintah pada Masa Eropa Kuno ........................................................15
Terapi Lintah pada Abad Pertengahan dan Modern .................................21
Terapi Lintah pada Saat Ini ........................................................................29
Terapi Lintah pada Saat ini di Indonesia ....................................................34
Referensi Tambahan ..................................................................................35

3.

BIOLOGI LINTAH ............................................................. 36

Pendahuluan ..............................................................................................36
Sejarah Lintah ............................................................................................39
Anatomi dan Fungsi ...................................................................................43
Anatomi dan Fungsi Mulut ........................................................................46
Kulit, Otot, Syaraf dan Indra ......................................................................51
Perilaku, Habitat, dan Pemeliharaan .........................................................62
Reproduksi .................................................................................................73
Memelihara lintah dan mengembangbiakkan di pusat pembiakan ..........75
Referensi Tambahan ..................................................................................80

4.

TEKNIK TERAPI LINTAH ................................................... 81

Pengukuran Kesiapan Kulit ........................................................................83


Prosedur aplikasi terapi lintah ...................................................................83
Pemilihan lintah .................................................................................... 83
Pelaksanaan terapi lintah ...................................................................... 84
Proses Makan ........................................................................................ 87
Referensi Tambahan ..................................................................................91

5.

INDIKASI TERAPI LINTAH ................................................ 92

Varises (Varicose Vein) ..............................................................................92


Prosedur praktek ................................................................................... 95
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 6

Radang vena akut (Phlebitis), penggumpalan darah permukaan


akut ....................................................................................................... 97
Gejala pembekuan darah sekunder (Postthrombotic syndrome
secondary) dan pembekuan darah di vena kaki bagian dalam (Deep
Leg Vein Thrombosis (DVT).................................................................... 97
Vena tidak berfungsi secara kronis (CVI (Chronic Venous
Inssuficiency) ......................................................................................... 98
Penyakit Vena tanpa pembengkakan abnormal (Spider-Burst) ............ 99
Nyeri Sendi (Arthrosis) ............................................................................ 100
Frekuensi penggunaan lintah untuk nyeri sendi ................................. 101
Titik aplikasi lintah dan teknik berbagai indikasi ................................. 102
Nyeri sendi Lutut (Gonarthrosis/Knee Arthrosis) ................................ 102
Nyeri Sendi Bahu (Shoulder Arthrosis) ................................................ 106
Nyeri Sendi Pinggul (Hip Arthrosis) ..................................................... 107
Nyeri sendi pergelangan kaki (Ankle Arthrosis) ................................... 108
Nyeri sendi di sambungan kecil (small joint Arthrosis) ....................... 109
Penyakit Rematik .................................................................................... 111
Nyeri sendi yang berhubungan dengan Rematik (Rheumatoid
Arthritis) .............................................................................................. 111
Gejala nyeri dan kekakuan otot dan sendi (Fibromyalgia) .................. 112
Nyeri siku (Epicondylitis) ..................................................................... 113
Gejala nyeri tulang belakang (Vertebrogenic) ........................................ 115
Nyeri Pinggang (Lumbago) .................................................................. 115
Nyeri di titik persambungan tulang pinggul (Iliosakral) ...................... 116
Gejala nyeri leher (Cervical Spine) dan nyeri leher yang menyebar
ke tulang belakang (Cervicobrachialgia) ............................................. 116
Indikasi Umum Lanjutan ......................................................................... 118
Kehilangan pendengaran tiba-tiba (Sudden Hearing Loss) ................. 118
Gangguan suara bising di telinga (Tinnitus) ........................................ 118
Peradangan telinga tengah (Media Otitis) .......................................... 119

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 7

Gangguan sirkulasi (Peripheral Circulation Disorder) dan Penyakit


terhambatnya arteri (Peripheral Occlusive Arterial) di persendian
yang jauh dari struktur sentral tubuh ................................................. 121
Bisul bengkak bernanah (Abscesses) ................................................... 122
Pembengkakan berisi darah (Hematoma)........................................... 123
Penyakit kulit herpes akut (Herpes Zoster) .......................................... 123
Terapi tambahan untuk penyakit radang organ dalam ....................... 124
Kebotakan (Alopecia) .......................................................................... 125
Referensi Tambahan ............................................................................... 125

6.

TERAPI LINTAH UNTUK PENYAKIT REMATIK ................ 126

Ketegangan Otot ..................................................................................... 126


Peradangan pada dan daerah jaringan penghubung ............................. 130
Referensi Tambahan ............................................................................... 135

7.

TERAPI LINTAH DALAM BEDAH PLASTIK ...................... 136

Teori ........................................................................................................ 136


Studi Kasus .............................................................................................. 137
Referensi Tambahan ............................................................................... 142

8.

KONTRAINDIKASI .......................................................... 143

Pembekuan darah tak terkendali (Hemophilia), pasien yang


mengkonsumsi anti pengentalan darah ................................................. 143
Kekurangan sel darah merah (anemia) .................................................. 144
Radang lambung (gastritis) yang parah dan Perdarahan potensial pada
lambung dan usus (gastrointestinal) ...................................................... 145
Infeksi akut ............................................................................................. 145
Gangguan pada organ dan imunitas tubuh yang serius
(immunosuppression) ............................................................................. 146
Alergi yang sensitif dan parah (allergic diathesis) .................................. 147
Kehamilan (pregnancy) ........................................................................... 149
Gangguan penyembuhan luka umum dan lokal ..................................... 149
Tidak ada Ijin dari Pasien ........................................................................ 149

9.

KEAMANAN DAN EFEK SAMPING DARI TERAPI


LINTAH .......................................................................... 151

Nyeri lokal selama terapi ........................................................................ 151


Gatal-gatal lokal ...................................................................................... 152
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 8

Darah rendah (hypotension) dan serangan pingsan (vasovagal) ........... 154


Kehilangan darah .................................................................................... 155
Lemahnya penyembuhan luka, superinfeksi dan alergi .......................... 156
Infeksi (sepsis) ......................................................................................... 159
Transmisi penyakit infeksi ...................................................................... 160
Luka ........................................................................................................ 161

10. DASAR ILMIAH TERAPI LINTAH ..................................... 163


Mekanisme terapi lintah dan korelasi klinis ........................................... 163
Anti pengentalan darah dan Hemodilusi ............................................. 163
Efek penghilang rasa nyeri (analgesik) dan Anti peradangan ............. 164
Efek Segmental dan Anti respon nyeri (antinosiseptif) ....................... 166
Efek pada aliran limfe dan jaringan penghubung................................ 166
Konsep tradisional dan konstitusional kemujaraban .......................... 167
Bukti keberhasilan dalam indikasi klinis tertentu ................................... 168
Bedah plastik dan rekonstruktif : Penyumbatan vena akut setelah
operasi ................................................................................................. 168
Peradangan vena akibat pembentukan thrombosis
(Thrombophlebitis) dan Varises (Varicose Vein).................................. 169
Nyeri persendian (Arthrosis), radang sendi (Arthritis), dan gejala
nyeri kronis .......................................................................................... 171
Nyeri sendi karena menurunnya fungsi (Osteoarthritis) lutut
(Gonarthritis) ....................................................................................... 171
Penyakit degeneratif pada sambungan lain dan gejala nyeri otot
dan jaringan (myofascial) .................................................................... 176
Peradangan sendi (arthritis) ................................................................ 177
Radang telinga tengah (Media Otitis), gangguan suara bising di
telinga (Tinnitus) dan penyakit telinga lain ......................................... 178
Tekanan darah tinggi (hypertension) dan penyakit jantung dan
pembuluh darah (cardiovascular) ....................................................... 179
Bagian khusus dari penelitian klinis dengan lintah ................................. 181
Referensi Tambahan ............................................................................... 182

11. BIOKIMIA AIR LIUR LINTAH ........................................... 183


Komponen air liur lintah medis .............................................................. 186
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 9

Hirudin ................................................................................................. 186


Komponen lain dari air liur lintah........................................................ 187
Komponen air liur dari lintah lain ........................................................... 190
Kombinasi ulang anti pengentalan darah ............................................... 190
Referensi Tambahan ............................................................................... 191

12. BAKTERI YANG TUMBUH DALAM TUBUH LINTAH


MEDIS (HIRUDO MEDICINALIS)..................................... 192
Simbiosis yang berkaitan dengan usus lintah medis .............................. 192
Aeromonas, simbion usus Lintah Medis ................................................. 195
Mikrobiologi Lintah................................................................................. 197
Ciri-ciri Antimikroba dalam usus lintah................................................... 199
Referensi Tambahan ............................................................................... 202

13. ASPEK HUKUM TERAPI LINTAH DI EROPA DAN


AMERIKA ....................................................................... 203
Bagaimana status hukum dari terapi lintah? .......................................... 203
Syarat apa yang harus dimiliki oleh terapis? .......................................... 205
Apakah pasien telah diberikan informasi yang tepat mengenai risiko
potensial yang dapat terjadi oleh terapis? ............................................. 206
Apakah telah dilaksanakan perlindungan terhadap hewan dan
lingkungan?............................................................................................. 207
Apakah persyaratan legal digunakan terhadap lintah setelah dipakai untuk
menerapi? ............................................................................................... 207

LAMPIRAN ............................................................................ 208


Daftar-1: Peralatan untuk Terapi Lintah ................................................. 208
Daftar-2: Prosedur Terapi Lintah ............................................................ 209
Catatan Rasa Nyeri untuk Dokumentasi Hasil Terapi Lintah .................. 210
Informasi untuk Pasien dan Formulir Perijinan ...................................... 212
Informasi sebelum Terapi Lintah untuk Pasien ...................................... 215
Prosedur Terapi Lintah ........................................................................... 216
Tentang Penulis ...................................................................................... 218

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 10

1. Pendahuluan
Sejak dahulu sampai sekarang, penggunaan lintah medis (Hirudo
medicinalis) untuk pengobatan, atau lebih dikenal dengan Terapi
Lintah, sangat menarik perhatian masyarakat. Rahasianya ada pada
air liur lintah yang sarat dengan obat berbagai penyakit. Terapi ini
telah digunakan lebih dari 2000 tahun dalam sistem pengobatan
tradisional di Eropa (Gambar 1.1), Ayurveda (India) dan Cina.
Walaupun kemujarabannya telah terbukti, evaluasi secara ilmiah
perlu terus dilakukan sesuai dengan pengetahuan terkini.
Gambar 1.1
Seorang wanita menggunakan lintah
untuk mengobati penyakitnya.
Ukiran kayu ini dibuat oleh William van
den Bossche, yang dipublikasikan dalam
Historia Medica di Brussel, tahun 1638.
Sumber: Courtesy of NLM

Menurut pengamatan terapis Jerman, I.W. Mller (2002),


walaupun terapi ini telah dijalani milyaran orang, dokumentasinya
sangatlah sedikit. Dokumentasi pertama ditemukan pada jaman
Hippocrates, abad ke-5 SM, dimana lintah digunakan untuk
mengeluarkan kelebihan darah, penyebab dari banyak penyakit.
Ada dua faktor penyebab mengapa lintah sanggup bertahan
sebagai hewan tertua di bumi ini. Pertama, darah yang dihisap
tidak membeku, kedua, gigitan lintah tidak menyakitkan. Hirudin,
zat anti pengentalan darah dalam air liur lintah telah diteliti bahkan
telah direkayasa secara genetik. Kemanjurannya telah teruji dalam
skala besar dan dikontrol dalam sejumlah indikasi.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 11

Terapi lintah telah diteliti dalam lima tahun terakhir. Diawali di


kota Essen, Jerman, lalu menyebar ke seluruh dunia. Publikasi hasil
penelitian telah dimuat antara lain di Annals of Internal Medicine
dan di The New Yorker. Ratusan sukarelawan merespon, bahkan
kadang jumlahnya sepuluh kali lipat dari kandidat yang dibutuhkan.
Terbukti lintah bukanlah makhluk menjijikkan. Bahkan di Eropa
diklasifikasikan sebagai produk medis dan di Amerika, US Food
and Drug Administration (FDA), sebuah organisasi pengelola
makanan dan obat-obatan, menggolongkannya sebagai alat
medis. Lintah telah dianggap sebagai hewan penyembuh.
Secara historis ada pergeseran dalam indikasi utama terapi,
dimana di masa lalu berupa penyakit jantung dan gangguan
peredaran darah, sedangkan saat ini berubah menjadi radang
kronis dan nyeri menahun. Hasil spektakuler telah terbukti pula
untuk bedah plastik dan rekonstruktif, serta nyeri kronis karena
menurunnya fungsi tulang sendi. Pada kenyataannya, opini
memang masih terbagi. Di satu sisi, ceritanya sukses. Namun, di sisi
lain, masalah kebersihan masih dipertanyakan. Tatkala terapi
eksotis ini dibandingkan dengan kesterilan obat, pisau bedah, dan
jarum injeksi dalam pengobatan modern, seperti layaknya seekor
burung di antara pesawat terbang. Akibatnya, untuk menenangkan
pasien yang curiga terhadap keamanan terapi ini, terapis dituntut
untuk memiliki informasi lengkap. Pengobatan yang menggunakan
hewan hidup memang perlu kualifikasi khusus.

Referensi Tambahan
1. Andreas Michalsen, Manfred Roth, Gustav Dobos, Medicinal Leech Therapy, Thieme,
Stuttgart, Germany, 2007
2. I.S. Whitaker, J.Rao, D. Izadi, P.E. Butler, Historical Article : Hirudo medicinalis : ancient
origin of, and trends in the use of medicinal leeches throughout history, British Journal
of Oral and Maxillofacial Surgery, 2004, p.133-137
3. Mller IW. Blutegeltherapie zwischen Empirie und Wissenschaft. Erfahrungsheilkunde
2002: 51(7): 462-271

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 12

2. Sejarah Terapi Lintah


Pendahuluan
Pengobatan dengan cara pengeluaran darah (bloodletting)
sangatlah tua usianya. Para arkeolog memperkirakan berkembang
pada Jaman Batu, setelah baru-baru ini ditemukan alat terapi pada
masa itu (Glasscheib, 1964). Catatan mengenai veneseksi1
ditemukan dalam koleksi Hippocrates pada abad ke-5 SM. Teknik
dan peralatan veneseksi dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Titik-titik pengeluaran darah


Hans von Gersdorff (ahli bedah),
Field book of wound medicine, 1517
Sumber : Wikipedia

1
2

Reproduksi alat veneseksi dan kauterisasi2


pada jaman Eropa abad pertengahan,
penemuan arkeolog pada masyarakat
biarawan di Saint Eutizio, Italia. Legenda:
A. Besi Kauter, 35 cm; B.Pisau dan mangkuk,
28 cm; C. Sendok medis, 14 cm; D. Pisau
dengan mata pisau tipis untuk mengeluarkan
anak panah, 20 cm.Sumber: Medieval Design.

Pengeluaran darah dengan cara penyayatan vena


Penghancuran jaringan dengan instrumen panas atau dingin, arus listrik, zat kaustik atau agen lainnya

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 13

Terapi pengeluaran darah


(Bloodletting), 1860, salah satu dari
hanya tiga foto yang ada mengenai
prosedur tersebut.

Veneseksi selama Perang Sipil


Sumber : Fullergeorgefeiis

Sumber: Wikipedia

Gambar 2.1 Teknik dan peralatan untuk pengeluaran darah

Dokter pada masa itu mengeluarkan darah untuk mengurangi


kelebihan humor3 dalam upaya menjaga kesehatan. Dalam
sistem Yunani, Hippocrates, Galen, Avicenna, Razzes, dll., para
dokter terkenal di abad pertengahan, menganggap bahwa
plethora (kelebihan) humor adalah tidak sehat (Gambar 2.2).
Gambar 2.2
Galen di antara
Hippocrates dan Ibnu
Sina, para dokter
terkenal di abad
pertengahan
Sumber : Ambassadors

Cairan atau setengah cair dalam tubuh berupa darah (blood), dahak (phlegm), empedu kuning (yellow
bile) dan empedu hitam (black bile)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 14

Terapi lintah termasuk teknik pengeluaran darah yang ditulis


pertama kali dalam bahasa Sansekerta kuno, India (Munshi, dkk,
2008). Dalam mitologi Hindu, Dhavantari, tabib yang menyebarkan
rahasia pengobatan tradisional India pada dunia, digambarkan
dengan salah satu tangan memegang nektar dan tangan lain
memegang lintah. Penjelasan lebih luas terdapat dalam tulisan
tabib Sushruta (100-600 SM). Pada masa itu, lintah membantu
mengeluarkan kelebihan darah tanpa rasa sakit.
Sekitar 5000 tahun yang lalu, ahli pengobatan di Mesir percaya,
membiarkan lintah menghisap darah pasien dapat menyembuhkan
demam hingga perut kembung. Dokumentasi lain ditemukan di
Mesir kuno, ketika dimulainya suatu peradaban. Gambar lintah
terlukis di dinding makam Dinasti Faraoh (1567-1308 SM).

Terapi Lintah pada Masa Eropa Kuno


Terapi lintah pada masa Yunani kuno banyak dipengaruhi India,
misalnya dalam puisi berjudul Alexipharmacia, gubahan Nicandros
dari Colophon (200-130 SM). Dalam pengobatan tradisional Cina,
Traditional Chinese Medicine (TCM), terapi ini juga dikenal
walaupun dianggap kurang begitu penting.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 15

Bangsa Roma juga mengenal terapi ini, bahkan memberi nama


Hirudo, walaupun secara etimologis lintah berbeda dengan
Hirudo dalam bahasa Latin. Nama Hirudo medicinalis diberikan
oleh Linnaeus (Carl von Linn) pada tahun 1758, seorang ahli
botani, dokter dan ahli hewan Swedia, peletak dasar sistematik dan
terminologi biologi modern (Gambar 2.3).

Gambar 2.3.
Carl Linnaeus (1708-1778)
Bapak Taksonomi,
yang memberi nama
Hirudo medicinalis
Sumber : Wikipedia

Plinius menggunakan lintah untuk mengobati nyeri rematik, gout4


dan semua tipe demam. Plinius menyebutnya sanguisuga; sanguis
berarti darah, sugo bermakna saya hisap.
Themisson dari Laodicea (123-43 SM), murid Aesculipius
(Asciapiades) dari Siria, pada permulaan era Nasrani menganggap
ruh setan adalah penyebab terjadinya penyakit dan pengeluaran
darah dibutuhkan agar dapat pulih kembali (Major, 1954).
Secara ilmiah, penyebab penyakit ada dua, yaitu konstriksi
(penyempitan) dan dilasi (pelebaran). Karena itu, indikasi utama
adalah penyakit kepala kronis, demam secara umum, penyakit
jiwa, epilepsi, gangguan telinga, penyakit hati, limpa, usus, nyeri
4

Nyeri kronis yang umumnya menyerang sendi lutut, tumit dan jempol kaki

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 16

pinggul (ischialgia), radang sendi (arthritis) dan gout. Sedangkan


indikasi tambahan adalah penyakit umum dengan gejala
pengerasan, penebalan, pengkakuan, penegangan, pembengkakan,
nyeri dan kram; semua itu dikenal dengan status strictus.
Para pendukung teori pneumatik5 menganggap terapi lintah
berguna untuk penyembuhan putrefaksi6 (pembusukan yang
disebabkan oleh bakteri atau jamur) dan plethora (kelebihan)
darah. Keduanya bertujuan menggantikan darah buruk dengan
darah baik. Walaupun ada perbedaan antara plethora dan
putrefaksi, keduanya dapat diatasi melalui pengeluaran darah,
dengan cara terapi lintah atau bekam.
Menurut konsep pathologi humoral, sistem organ tidak berisiko
mengalami kerusakan selama cairan tubuh tetap bergerak dan
dapat dikeluarkan secara alami. Namun, jika salah satu bagian
tubuh terkena penyakit dan menjadi kronis, maka sebaiknya aliran
humor diperbaiki. Dokter pada masa lampau menggunakan lintah
untuk mengatasi demam dan peradangan lokal. Sedangkan di
medan perang, dokter militer Roma menggunakannya untuk
menangani luka perang.
Alexander de Tralles (525-605 M) menggunakan lintah untuk
mengobati kehilangan pendengaran. Selama jaman kekuasaan
Roma, Galen (129-189 M), dokter dari Marcus Aurelius,
mengembangkan lebih jauh konsep pathologi humoral. Konsep ini
dibangun berdasarkan teori Hippocrates (460-370 SM), mengenai
hukum keseimbangan, dimana semua sistem tubuh adalah
seimbang. Penyakit terjadi karena adanya ketidakseimbangan.

5
6

Berhubungan dengan penggunaan udara atau gas yang sejenis


Dekomposisi enzimatik, khususnya terhadap protein, dengan terbentuknya senyawa-senyawa yang
berbau busuk, seperti hidrogen sulfida, amoniak, merkaptan

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 17

Galen berpikir pentingnya memelihara keseimbangan keempat


humor, yaitu darah (blood), dahak (phlegm), empedu kuning
(yellow bile) dan empedu hitam (black bile). Setiap humor
berhubungan dengan karakteristik khusus kepribadian seseorang
yaitu periang (sanguine), dingin (phlegmatic), pemarah (choleric)
dan pemurung (melancholic). Galen mengklasifikasikan lintah
sebagai bagian dari sistem elemen yaitu api, tanah, udara dan air
yang harus selalu seimbang dengan penyaluran kelebihan zat
dalam tubuh. Lintah digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit
kulit dan jiwa di antaranya penyakit melankolis yang berkaitan
dengan empedu hitam. Ilmu dokter Salernitan ini berangsur-angsur
menyebar dari Italia ke seluruh Eropa.
Pada abad pertengahan, profesi ahli bedah dirangkap tukang cukur
(barber surgeon) (Gambar 2.4.). Pada saat menerapi, mereka
menyuruh pasien menggenggam sebatang tongkat kayu, agar vena
di tangannya dapat terlihat. Beberapa mangkuk disediakan untuk
menampung lintah dan darah, juga pembalut dari kain linen.
Pembalut linen yang telah ternoda darah, membelit tongkat tukang
cukur yang berkibar tertiup angin. Itu sejarahnya mengapa di luar
beberapa salon saat ini terdapat tongkat berstrip merah putih.
Dulu di atas tongkat ada sebuah mangkuk berisi lintah, yang
sekarang berubah menjadi bola di atas tongkat (Gambar 2.4).

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 18

Ahli bedah merangkap tukang cukur,


sedang membedah bisul atau
mencukur rambut di leher pasien,
ukiran karya Lucas van Leyden, 1524

Tongkat tukang cukur berstrip merah putih


dengan bola di atasnya
Sumber : Wikipedia

Peralatan yang digunakan untuk


a) pengeluaran dan pembuangan
seluruh jaringan atau organ
(ekstirpasi) b) pengeluaran darah
c) khitan (sirkumsisi) Sumber: Bravo,
Julin. La meicina Espaola y la
medicina indigena en Marruecos. Las
Kbilas de Quebdana y Ulad Setut.
Orense, La Industrial. 1932

Gambar 2.4. Ahli bedah merangkap tukang cukur


(barber surgeon) dan peralatannya

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 19

Lintah untuk pengobatan disimpan dalam bejana khusus berisi air


yang berlubang di atasnya. Awalnya bejana ini terbuat dari kaca,
lalu dibuat juga dari keramik yang didesain sangat indah untuk
dijadikan koleksi (Gambar 2.5). Pada saat menerima panggilan ke
rumah pasien, dokter sering membawa bejana kecil yang terbuat
dari gelas atau timah yang dapat berisi selusin lintah atau lebih.

Sumber : Louis E. Kelner, Dan Beckemeyer, Erdward Kwong

Gambar 2.5.Bejana lintah terbuat dari kaca atau keramik

Pada dasarnya terapi lintah lebih dapat diterima oleh pasien


dibandingkan metode/alat lain, misalnya fleam7 atau scarifier8,
karena gigitannya dianggap tidak menyakitkan (Gambar 2.6).

Pisau bedah terbuat dari besi


(Fleam) jaman dahulu

Tiga jenis pisau bedah


(Fleam)

Sumber : Wikipedia

Sumber : Wikipedia

Scarifier,
sekitar 1840-1880,
Sumbangan : Mrs. D.
O.Bovenmyer.

Gambar 2.6 Berbagai jenis pisau bedah untuk mengeluaran darah

7
8

Pisau yang dikokang dengan pegas seperti lancet (pisau bedah yang berujung kecil dan bermata dua).
Alat yang mempunyai satu atau lebih titik tajam untuk melakukan skarifikasi, yaitu membuat banyak
goresan atau tusukan kecil dan dangkal pada kulit seperti ketika memasukkan vaksin cacar

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 20

Pada masa itu terapi lintah dilakukan untuk mengobati penyakit


pada bagian tubuh yang tidak dapat dibekam, seperti tumor di
kanal dubur (hemorrhoid), jatuh/tenggelamnya dubur (prolapses
rectum) dan radang vagina (inflamed vulva). Untuk pengobatan
pada organ berlubang, sebaiknya lintah diperhatikan agar tidak
merayap ke dalam lubang, karena dapat berakibat fatal.

Terapi Lintah pada Abad Pertengahan dan Modern


Ibnu Sina, seorang dokter Arab yang sangat terkenal pada tahun
978-1037 M, percaya lintah dapat mengeluarkan darah dari bagian
tubuh yang lebih dalam dibandingkan dengan bekam basah (wet
cupping). Dalam bukunya The Canon of Medicine (Alqanoon-fiTibb) (Gambar 2.7), Ibnu Sina menulis langkah-langkah bagaimana
lintah dapat digunakan untuk pengobatan (Grunner, 1930).

Gambar 2.7.
Kitab 'Canon of Medicine'
dari Ibnu Sina
Sumber : The Aga Khan Trust
for Culture

Terapi lintah juga ditemukan dalam Kitabul Umda Fi Jarahat yang


ditulis oleh Ibnu Maseehi (1233-1286 M). Kitab ini membahas
karakteristik lintah yang dapat digunakan untuk pengobatan, yaitu
lintah yang berwarna seperti dedak, merah agak kehitaman,
seperti hati, kuning, atau bertubuh kurus mirip ekor tikus.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 21

Pada akhir abad Galenisme, dokter menggunakan lintah terutama


untuk mengurangi cairan merugikan langsung dari bagian tubuh
yang terkena penyakit. Mereka percaya terapi ini akan menaikkan
pembakaran internal cairan tubuh yang berasal dari penyakit
secara alami. Selain itu, terapi lintah juga dijadikan sebagai
pengganti penyayatan vena (veneseksi). Abraham Zacuto (15751642), pendukung utama Galen, mengembangkan kisaran indikasi
dan dasar empiris selama beberapa tahun berikutnya.
Pada abad ke-17, konsep pathologi humoral Galen harus
berkompetisi dengan munculnya pergerakan medis baru yang
memiliki cara pengeluaran darah yang berbeda. Pendukung kimia
kedokteran (iatrochemistry) cenderung menolak semua bentuk
pengeluaran darah. Mereka percaya hal itu dapat memperpendek
usia, dan menurut kitab suci, darah adalah tempat jiwa dan sumber
energi kehidupan. Mereka percaya penyakit disebabkan archeus9,
yang dipengaruhi ideo morbus, sehingga pengeluaran darah tidak
akan menyembuhkan pikiran tak wajar, penyebab dari segala
macam penyakit. Banyak ahli kimia kedokteran kemudian
menerapkan teknik berbeda dengan pembatasan yang lebih lunak.
Sementara itu, opini pendukung fisika kedokteran (iatrophysic)
sangat berbeda. Mereka percaya terapi ini mutlak diperlukan.
Berdasarkan hukum mekanik, pengeluaran darah akan
mempengaruhi tekanan, daya tahan, dan kecepatan mengalir
darah, yang menghasilkan pendistribusian kembali darah secara
sementara dalam tubuh, yang akhirnya kembali mempengaruhi
pembuluh darah, jantung dan komposisi darah.

Prinsip aktif dari tubuh dan mediator di antara tubuh dan jiwa

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 22

Kombinasi teori mekanik kedokteran (iatromechanic) dan konsep


pathologi humor dari Galen sangat menonjol pada abad ke-18.
Berdasarkan paradigma ini, darah adalah campuran labil dari
berbagai substansi yang berbeda dan cenderung membusuk,
karena itu penting dijaga agar terus mengalir, sehingga terhindar
dari terjadinya pengentalan (thickening).
Plethora, penyebab utama penyakit dihubungkan dengan
ketidakseimbangan input makanan pada darah. Oleh karena itu,
mereka percaya, keseimbangan membutuhkan puasa dan latihan
fisik secara teliti dan intensif agar hasilnya memadai. Karena ini
sulit dilakukan, mereka lalu mencari tiruan alami yang tidak
menyebabkan berkurangnya energi (asthenia), komplikasi yang
sering terjadi pada veneseksi dan bekam basah (wet cupping).
Mereka juga menganggap veneseksi tidak efektif untuk individu
periang (plethora) atau bertubuh gemuk, karena darah mereka
terakumulasi pada pembuluh kapiler. Jika kelebihan darah ada
pada pembuluh utama, seperti pada pasien pemarah, bekam saja
tidak cukup dan terapi lintah lebih efektif. Keuntungan khusus dari
terapi lintah adalah dapat digunakan pada bagian tubuh yang tidak
mungkin untuk dibekam, seperti dahi, leher/kerongkongan,
belakang telinga, pelipis dan anus. Terapi lintah dianggap sebagai
pengobatan handal untuk pembengkakan, kram perut, nyeri
umum, rematik, radang sendi, nyeri pinggul (ischialgia), radang
buah pinggang (nephritis), asam urat dan varises (varicose vein).
F. Hoffmann (1660-1742) pendukung mekanik kedokteran
(iatromechanic), menggunakan lintah untuk mengobati penyakit
akut dan pencegahan penyakit. Berdasarkan konsep plethora,
dokter menyimpulkan terapi lintah efektif untuk penyakit
kejiwaan, depresi, kejang, radang selaput dada, asma, dan kulit.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 23

Terapi lintah menjadi populer pada abad ke-18-19 M, dan


mencapai puncaknya tahun 1830 di Perancis ketika dipraktekkan
oleh F.J.V.Broussais, dokter yang terkenal paling haus darah dalam
sejarah, juga kepala Rumah Sakit Val de Grce di Paris dan ahli
bedah di Grande Arme Napoleon, (Castiglioni, 1948). Pelopor
pengobatan psikologi ini percaya bahwa semua penyakit dapat
ditelusuri menuju ke penyebab utamanya yaitu peradangan.
Karena itu kelebihan akumulasi darah dan pengurangan rasa nyeri
membutuhkan banyak terapi lintah dan rasa lapar.

Franois-Joseph-Victor Broussais
(1772-1838)
Sumber : Whitaker, 2004

Berikan 90 lintah lagi


Sebuah karikatur abad-ke 19
Sumber : Hllander, E. Die Karikatur
und Satire in der Medizin.2nd
ed.Stutgart:1921.
Sumber : Michalsen, 2007

Gambar 2.8 Franois-Joseph-Victor Broussais dan karikaturnya

Karena lintah mengeluarkan darah dari pembuluh kapiler tempat


terjadinya peradangan, maka dianggap sebagai penyembuh
universal, khususnya untuk penyakit perut. Broussais
menggabungkan teori lama dengan konsep baru perangsangan
(eksitasi) dan teori depresi dari Brown (1735-1788), yang percaya
bahwa penyebab semua penyakit adalah kelebihan (sthenia) atau
kekurangan (asthenia) stimulasi dan perangsangan. Pengeluaran

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 24

darah penting jika energi vital atau substansi darah berlebihan dan
dapat diatasi dengan pengaturan makanan (diet).
Kelebihan darah akan menyebabkan demam, radang,
penyumbatan, kejang dan rasa nyeri, yang mengurangi stimulasi
(asthenia) secara tidak langsung dan menghambat aliran darah
pada penyakit ayan (apoplexy), asma dan kejiwaan. Sebenarnya
setiap penyakit dapat dianggap indikasi, tergantung paradigma
medis yang diterapkan.
Banyak sekali indikasi untuk terapi lintah, di antaranya radang
pangkal tenggorokan akut (laringitis), radang ginjal (nephritis),
nyeri ginjal (nephralgia), radang rahim (ovaritis) subakut,
perdarahan hidung (epistaxis), pembengkakan testis, gangguan
mata (opthalmia) dan akumulasi kelebihan darah di otak (Adams,
1988). Pada radang lambung akut (gastritis), direkomendasikan 2040 lintah. Terapi lintah juga dapat diterapkan pada batang testis
ketika terjadi radang testis (epididymitis), dan di pelipis saat
terserang radang mata (ocular inflammation).
Dokter Perancis ini biasanya meresepkan lintah pada setiap pasien
rawat inap. Akibatnya praktek menjadi berlebihan. Beberapa rekan
seangkatan menyebutnya vampirisme. Lebih dari 100 lintah
digunakan untuk satu sesi. Akibatnya, dalam setahun beberapa
juta lintah digunakan di Perancis, Inggris dan Jerman.
Broussaisisme, sebutan terapi lintah pada saat itu, terilhami desain
robes la Broussais. Lintah menjadi agen ekselen, bahkan
inspirasi mode. Gaun para wanita berasesoris bordiran lintah.
Bahkan di sebuah perkumpulan wanita, lintah dijadikan dekorasi
pakaian. Air liur lintah digunakan sebagai kosmetik untuk
memperbaiki kulit wajah yang pucat.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 25

Perancis segera kehabisan suplai lintah. Sejak habitat alaminya


secara kontinu berkurang karena meningkatnya aktivitas pertanian
dan industri, pemerintah terpaksa harus mengimpor lintah. Tahun
1828, lintah menjadi artikel terpenting dalam Materia Medica.
Sekitar 100 juta lintah digunakan setiap tahunnya, hanya di
Perancis. Akibatnya, harga lintah naik secara drastis. Banyak dokter
lalu menggunakan ulang lintah dan berusaha mengembangbiakkannya di rumah sakit yang didanai oleh Pemerintah. Di medan
perang, dokter militer merasa kuatir kekurangan lintah akan
mempengaruhi kemampuan mereka dalam menangani luka.
Di Rusia, Mudrov dan Diadkovsky melaporkan phlebotomy
(penyayatan vena) dengan lintah, ekselen dalam menangani
peradangan otak, hati dan ginjal, rematik, tuberkolosis, epilepsi,
penyakit histeris dan seksual. Kontraindikasi terapi tidak
disebutkan, tampaknya usia dan status kesehatan pasien tidak
dipedulikan.
Terapi lintah sangat populer, hingga spesies di Eropa terancam.
Pasien diresepkan hingga 80 lintah per terapi. Rusia mengkonsumsi
30 juta lintah dalam setahun. Tahun 1833, dokter Perancis
mengimpor hampir 42 juta lintah dan pemakaian setahun hampir
mendekati 100 juta lintah. Permintaan yang semakin meningkat
menjadikan harga naik. Pemerintah Perancis berinisiatif untuk
memberikan tunjangan penghargaan pada perusahaan yang dapat
meningkatkan produksi lintah, dengan pengembangan stok baru
dari rawa, sungai dan kolam. Peternakan lintah menjadi cara
populer untuk menghasilkan uang. Mereka akan berusaha pergi ke
kolam untuk mengambil lintah, menjualnya, dan tidak mau beralih
dari pekerjaan itu.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 26

Awal abad ke-19, terapi lintah menonjol dalam dunia pengobatan.


Antara tahun 1829-1836 M, sekitar 5-6 juta lintah digunakan setiap
tahun. Karena permintaan sangat tinggi, dokter Inggris terpaksa
mengimpor lintah tahun 1810. Ini mengakibatkan kendala finansial
dalam pengembangan terapi. Booming terapi ini dimulai di
Perancis, dan segera menyebar ke seluruh Eropa. Terapi ini
menggantikan plebotomi (penyayatan vena) pada hampir semua
indikasi. Seni terapi lintah segera menjadi profesi. Lintah
berhubungan sangat erat dengan dokter dan dokter pada masa itu
disebut lintah medis, karena menggunakan jutaan lintah untuk
menerapi pasien. Kata lintah (leech) diturunkan dari lce yang
dalam bahasa Anglo-Saxon berarti dokter. Istilah lintah medis
digunakan untuk menggambarkan dokter dari Inggris.
Di Jerman, sekitar 30 juta lintah per tahun dikirim ke Amerika
Serikat, dan pemerintah Jerman kuatir terhadap kemampuan
negaranya dalam memenuhi kebutuhan domestik. Lintah Eropa
(Hirudo medicinalis) lebih disukai dibandingkan dengan lintah
Amerika (Macrobdella decora), karena lintah Amerika dianggap
tidak menyayat secara dalam dan besar, sehingga hanya
mengeluarkan sedikit darah (Gambar 2.9).
(a)

Pola warna yang berbeda dari :


Lintah Eropa :
(a) Hirudo medicinalis Linnaeus
1758.
(b) Hirudo verbana Carena 1820.
Lintah Amerika :
(c) Macrobdella decora
Lintah Asia
(d) Hirudo menillensis

(b)

Sumber : Canadian Museum Nature


(c)

(d)

Gambar 2.9 Perbandingan pola warna dari Lintah Eropa dan Amerika
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 27

Amerika mengalami kesulitan mendapatkan lintah Eropa, sehingga


tahun 1835 pemerintah menawarkan hadiah sebesar $500 bagi
siapa saja yang dapat membiakkan lintah Eropa di Amerika Serikat.
Tahun 1970, dalam edisi Apotik Amerika, terdapat artikel
mengenai tata tertib pencegahan kotornya air tempat memelihara
lintah (Adams, 1988).
Referensi terapi lintah dari Inggris pada abad pertengahan ditulis
dalam bahasa Latin oleh Aldhelm dari Malmsburh (abad 7 atau 8).
Von Resenstein (1776), dalam bukunya mengenai penyakit anak,
menganjurkan terapi lintah untuk penyakit gigi, radang gigi, kejang,
demam berdarah, radang selaput paru-paru dan mata.
Menurut Thomas, tahun 1822, perdarahan dapat terjadi karena
dua hal, bekam dan terapi lintah. Menurutnya, terapi lintah dapat
digunakan pada tempat yang lembut yaitu mata, gusi, buah dada,
buah pelir (biji kemaluan), dimana terapi lain tidak dapat
dilakukan.
Karena sulit menerjemahkan sejarah, penyebab, indikasi penyakit,
dan mendefinisikan pathologi humoral dalam bahasa pengobatan
modern secara akurat, maka dilakukan metafor10 (menganalogikan
dengan hal lain yang sejenis) seperti pada konsep pengobatan Cina
(TCM) dan India yang masih berlaku hingga saat ini.

10

Mengekspresikan sesuatu dengan menganalogikannya dengan sesuatu lain yang sejenis

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 28

Terapi Lintah pada Saat Ini


Pada akhir abad ke-19, popularitas lintah hilang. Berdasarkan
catatan sebuah rumah sakit di Inggris, tahun 1832 digunakan
hampir 100.000 lintah, namun lima puluh tahun kemudian
jumlahnya menurun hingga kurang dari 2000 lintah. Efek
terapisnya tidak sesuai lagi dengan konsep modern, karena metode
eksperimen ditingkatkan dan metode empiris dibatasi secara ketat.
Dengan berkembangnya ilmu psikologi modern, patologi dan
mikrobiologi, lintah tidak diminati dokter dan pasien lagi. Selama
periode ini hanya beberapa referensi ditemukan.
Sekitar tahun 1850, lintah di Eropa tengah dimusnahkan, sehingga
harus diimpor dari Asia tengah yang harganya sangat mahal.
Konsep pathologi sel dari Virchow (1821-1902) pada
pertengahan 1850an meragukan konsep penyakit sebelumnya
sebagai justifikasi pengeluaran darah. Ia menemukan bakteri
adalah penyebab penyakit, sehingga masyarakat ketakutan
terhadap bakteri (bacteriophobia). Terapi lintah menurun secara
drastis, terutama di rumah sakit. Karena disinfeksi atau sterilisasi
tidak mungkin dilakukan tanpa membunuh lintah, sejak pendidikan
pengobatan diadakan di rumah sakit, terapi lintah jarang
diperkenalkan pada dokter, sehingga dilupakan.
Tahun 1903/04, J.B. Haycraft (1857-1922) menemukan Hirudin,
anti pengentalan darah dalam air liur lintah, yang diambil dari
bahasa Latin Hirudo. Haycraft menyetujui observasi awal dari
Profesor Diskonov di Rusia, yang dalam artikelnya berjudul
Changes of human blood in the leech (perubahan darah manusia
pada lintah) tahun 1809 membuktikan kurangnya pengentalan
darah dan pemisahan (disolusi) sel darah merah dalam pembuluh
usus lintah membuktikan adanya agen yang mencairkannya di
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 29

sana. Pada tahun 1955, Markwardt mengisolasi dan secara akurat


mengkarakterisasi Hirudin dari kelenjar tenggorokan lintah dan
tahun 1986 anti pengentalan darah ini pertama kali diproduksi
secara rekayasa genetik.
Efek khusus terapi lintah dapat didefinisikan sebagai proses kimia
yang sesuai dengan prinsip rasional dari ilmu dan pengobatan
modern. Berita ini menyebar secara perlahan, pertama di antara
komunitas peneliti. Ekspektasi utama peneliti adalah zat anti
pembekuan ini mungkin akan menghasilkan keuntungan potensial
dalam transfusi darah. Ekstraksi hirudin mungkin berguna dalam
mengatasi pembekuan darah (thrombosis11), penyumbatan arteri
(embolism12) dan kematian sel hidup karena gangguan pada
pembuluh darah (infarction).
Biaya komponen yang sangat tinggi menghalangi proses
penyebaran ekstraksi hirudin. Hampir 25 tahun setelah
penemuannya, baru tercatat penerapannya. Namun, meletusnya
Perang Dunia I dan turunnya perdagangan lintah, memaksa terapi
ini sekali lagi dilupakan.

11
12

Pembekuan darah yang bersifat stasioner di sepanjang dinding pembuluh darah


Penyumbatan arteri secara mendadak oleh bekuan darah atau benda asing yang terbawa oleh aliran
darah ke tempat tersangkutnya

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 30

Terapi lintah akhir-akhir ini kembali digunakan dalam bedah rahang


atas dan muka (maxilofascial) dan bedah mikro lainnya untuk
membantu menyelamatkan vena dari penyumbatan, termasuk
pada transplantasi kulit secara bebas (free flap13) dan bertangkai
(pedicled flap14), amputasi jari tangan atau kaki, telinga dan ujung
hidung. Berdasarkan evaluasi terbukti jaringan kulit yang
mengalami penyumbatan vena (venous congestion)15 dapat segera
diperbaiki pada aplikasi awal dari terapi ini.
Terapi lintah kembali mengalami kebangkitan pada tahun 1920an,
ketika B. Aschner (1883-1960), anggota kelompok dokter
naturopatik16 menjadi pendukung utamanya. Aschner menguraikan
teknik pengeluaran darah secara rinci dari sudut pandang baru
berdasarkan konsep pathologi humoral. Daftar indikasi medis
terapi bertambah panjang, sehingga mendorong lintah untuk
masuk dalam peringkat obat mujarab (panacea).
Daerah khusus terapi dikembangkan oleh Termier, seorang ahli
bedah. Dengan berkembangnya potensi pembedahan, maka
komplikasi pembekuan darah (thrombus) dan penyumbatan arteri
13

14

15

16

Jaringan, bersamaan dengan suplai darahnya, diambil dari donor kemudian ditransfer ke lokasi lain.
Berbagai tipe jaringan dapat ditransfer sebagai penutup kulit termasuk, kulit dan lemak, otot, syaraf,
tulang dan kombinasinya. Untuk semua jenis free flap, suplai darah dibentuk melalui bedah kecil
untuk menghubungkan kembali arteri (suplai darah ke dalam penutup kulit) dan vena (aliran darah
yang keluar dari penutup kulit). Free flap dapat menjadi sangat kompleks dan berlangsung lama,
sekitar 6 hingga 12 jam, atau lebih lama tergantung dari kompleksitasnya.
Pedicled flap melibatkan proses yang sama dengan free flap, namun pedicle (suplai darah) ke penutup
kulit tidak dipotong. Penutup kulit dapat dipindahkan secara langsung atau melalui kanal yang dibuat
di bawah kulit ke area yang rusak. Pedicled flap biasanya lebih cepat dilakukan dan lebih kuat, tetapi
tidak selalu dapat dilakukan, tergantung dari kerusakan dan anatomi.
Akumulasi cairan yang berlebihan atau abnormal seperti darah pada suatu bagian tubuh karena
obstruksi pengeluaran darah dari bagian tersebut. Disebut juga passive congesty
Suatu sistem perawatan kesehatan tanpa obat-obatan yang menggunakan banyak jenis terapi, seperti
hidroterapi, panas, pemijatan, dan herba yang tujuannya untuk mengobati seseorang seutuhnya
dengan merangsang dan membantu kapasitas penyembuhan dalam diri seseorang tersebut

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 31

(embolism) lebih sering terjadi pada pasca operasi. Karena sangat


mahal untuk mengekstraksi hirudin, Termier merekomendasikan
aplikasi langsung terapi lintah pada tahun 1922, dimana hirudin
dapat diinjeksi secara alami. Termier menyebutnya hirudinisasi
darah. Beberapa tahun kemudian, semua rumah sakit terkenal di
Eropa mulai menggunakan terapi lintah sebagai indikasi medis.
Indikasi terapi lintah masih sangat luas. Untuk itu Bottenberg
dalam publikasinya tahun 1935 mengembangkan indikasi umum
terapi lintah yaitu :
Semua proses peradangan dan penyakit rematik
Penyumbatan pasif (congesty) pada suatu bagian tubuh karena
terhalangnya pengeluaran darah dan kejang-kejang (spastic)
Pembersihan dan regenerasi darah (antidyscratic) dari toksid dan
penyakit kejiwaan
Pembekuan darah (thrombosis) dan penyumbatan arteri (embolism)
Keluarnya cairan rendah protein dari darah karena gaya hidronamik
17
(transudate ) dan pengeluaran cairan tinggi protein dari darah karena
18
peradangan (exudate )
Jika veneseksi (penyayatan vena) tidak mungkin dilakukan karena
berbagai alasan teknis, seperti pada pasien yang masih kanak-kanak,
pasien kegemukan, mengalami kontraksi di persendian, atau jika
diinginkan pengobatan pada daerah pembuluh darah tertentu.

Bottenberg juga mengkompilasi daftar mekanisme tindakan, yang


diterima tanpa kritik oleh pengikutnya.
Ketika heparin (zat anti pembekuan) dan phenprocoumon
(Marcumar, preparat anti pembekuan) ditetapkan sebagai zat
17

18

Substansi cair yang telah melewati membran atau dikeluarkan dari darah sebagai akibat gaya
hidrodinamik. Transudate berbeda dari exudate yang ditandai dengan keadaan yang sangat encer dan
rendahnya kandungan protein, sel atau bahan padat yang berasal dari sel
Keluarnya cairan sel dan debris sel dari pembuluh darah dan pengendapannya di atau pada jaringan,
yang biasa terjadi akibat radang. Exudate berbeda dari transudate, ditandai oleh sejumlah besar
kandungan protein, sel atau bahan padat yang berasal dari sel

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 32

untuk pengobatan dan pencegahan penyakit yang disebabkan


pembekuan darah (thrombosis) dan penyumbatan arteri
(embolism), setelah Perang Dunia II, terapi lintah sekali lagi
menghilang dari beberapa rumah sakit besar di Eropa tengah dan
dilupakan oleh praktisi.
Tahun 1970, terapi lintah kembali diakui secara internasional,
karena banyak digunakan pada bedah umum, plastik dan
rekonstruktif untuk mengatasi penyumbatan vena pasca operasi
dan penolakan pencangkokan. Terapi ini populer dalam
naturopatik modern di berbagai negara berbahasa Jerman.
Laporan kesuksesan dalam mengatasi rasa nyeri penyakit
persendian secara naturopatik dari departemen naturopatik
berbagai universitas secara luas diterima.
Tahun 1981, ahli biologi Row Sawyer membatalkan karir
akademisnya lalu menuju ke perusahaan Biopharm Ltd. di
Swansea, Wales, untuk mengembangkan peternakan lintah dan
pengobatan klinis baru. Biopharm mengestimasi suplai sekitar
25000 lintah ke Inggris dan Irlandia dan 60.000 lintah ke Amerika
Serikat setiap tahun.
Baru-baru ini, para peneliti yang dipimpin oleh ahli bedah kepala
dan leher, Gregory Hartig, dari Universitas Wisconsin, Madison, AS,
mengembangkan lintah mekanis (Gambar 2.9). Alat tersebut
menyebarkan secara lebih baik anti pengentalan darah heparin
untuk jaringan berbahaya. Sudut berongga kecil pada alat yang
diimplantasi di bawah kulit tersebut berotasi untuk mencegah
terjadinya pengentalan darah. Tim berpikir keuntungan terbesar
dari lintah mekanis adalah bersifat psikologis, dimana pasien lebih
menyukai untuk ditempeli sebuah mesin dibandingkan dengan
seekor makhluk hidup.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 33

Gambar 2.9
Lintah mekanis

Foto: Jeff Miller.

Lintah mekanis, di UW-Madison


dibandingkan pasangan
berdagingnya, di dalam gelas
kimia sebelah kanan. Lntah
mekanis tidak pernah kenyang
dan dapat memindahkan
sejumlah besar darah, sehingga
aliran arus darah akan meningkat
ke jaringan yang sedang diterapi

Seni kuno dari penggunaan lintah memiliki peran penting dalam


bedah rekonstruktif kontemporer, tapi apakah lintah mekanis akan
memaksa saingan hidupnya untuk beristirahat? Hanya waktu yang
akan menjawabnya!

Terapi Lintah pada Saat ini di Indonesia


Pada saat ini terapi lintah sudah mulai banyak diterapkan di
Indonesia, khususnya sebagai bagian dari Terapi Cara Islami
(Thibbun Nabawi). Namun demikian, literatur yang berkaitan
dengan terapi ini sangat jarang dijumpai. Satu di antaranya adalah
yang ditulis oleh Anna Rosdiana dari Thibbun Nabawi Center,
Pesantren Babussalam, Bandung.
-MURI PENGOBATAN LINTAH
Sejumlah pengunjung mengikuti terapi
lintah untuk pemecahan rekor MURI dalam
acara "Terapi Hirudo Terbanyak" yang
diselenggarakan Bekam Ruqyah Centre
(BRC) di lapangan KPAD Bandung, Jawa
Barat, Jumat (24/6/2011). BRC berhasil
memecahkan rekor MURI dengan terapi
lintah pada 1011 orang. Sebagian besar
peserta diterapi di titik jantung di lidah

FOTO : ANTARA/Agus Bebeng (2011)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 34

Referensi Tambahan
1.

Adams, S.L., 1988. The medicinal leech. A page from Annelids of internal medicine.
Ann. Int. Med., 109: 399-405.
2. Busing, K.H., W. Doll and K. Freytag, 1953. Die baklerien, flore der medizinischen
Blultegel. Arch. Mikrobiol., 19: 52-86.
3. Butler,et.el. Historical Article : Hirudo medicinalis : ancient origin of, and trends in the
use of medicinal leeches throughout history, British Journal of Oral and Maxillofacial
Surgery, 2004, p..133-137
4. Castiglioni, A., 1948. History of Medicine. trans. E.B. Krumbhaar. 2nd Edn., Knopf, New
York, pp: 672-698.
5. Glasscheib, H.S., 1964. The March of Medicine. 1st Edn. GP Putnams Sons, New York,
pp: 153-166.
6. Grunner, O.C., 1930. A Treatise on the Canon of Medicine of Avicenna Incorporating a
Translation of the First Book. 1st Edn., Luzac and Co., London, pp: 513-514.
7. Major, R.H., 1954. A History of Medicine. Thomas, 1: 146-146.
8. Munshi, Y., I. Ara, H. Rafique and Z. Ahmad, 2008. Leeching in the history-a review.
Pak. J. Biol. Sci., 11: 1650-1653
9. Rosdiana, A., 2011. Terapi Lintah. Seri Buku-57, Thibbun Nabawi Center, Pesantren Al
Quran Babussalam, Bandung.
10. Von Rosenstein, N.R., 1776. The Diseases of Children and their Remedies. 1st Edn., T.
Cadell London pp: 313.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 35

3. Biologi Lintah
Pendahuluan
Ada sekitar 600 jenis lintah telah teridentifikasi, namun hanya
sekitar 15 jenis yang dapat digunakan untuk pengobatan (Arndt,
1940) (Gambar 3.1).

Sumber : Department of Biological Sciences, University of Alberta

Gambar 3.1 Berbagai jenis lintah

Lintah di sini adalah lintah medis yang selama berabad-abad


telah digunakan oleh terapis, terutama di Eropa dan Amerika. Dulu,
diasumsikan hanya ada satu jenis lintah medis dengan warna
berbeda, yaitu Hirudo medicinalis medicinalis dan Hirudo
medicinalis officinalis. Namun, berdasarkan penelitian ilmiah,
perbedaan pola permukaan tubuh lintah ternyata mengindikasikan
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 36

ada dua jenis lintah medis yang berbeda, yaitu Hirudo medicinalis
Linnaeus, 1758, dan Hirudo verbana Carena, 1829, yang saat ini
dapat diuji dengan analisis DNA (Gambar 3.2).

Gambar 3.2. Hirudo medicinalis dan Hirudo verbana


Foto : Kutschera U, Moscow, 2004

Kedua jenis lintah selama ini tidak pernah dibedakan, karena


keduanya digunakan secara bersamaan dan tidak ada perbedaan
pada aktivitas dan komposisi air liurnya. Namun, karena suplai
Hirudo medicinalis menjadi langka akibat eksploitasi intensif pada
abad ke-19, Hirudo verbana kemudian menjadi satu-satunya jenis
lintah yang digunakan selama berabad-abad di seluruh dunia.
Karena kedua jenis ini dulu diasumsikan sebagai satu jenis dengan
variasi warna, maka banyak penulis menyebut keduanya sebagai
Hirudo medicinalis, tanpa membedakan di antara keduanya.
Secara terminologi, lintah bukan cacing. Istilah cacing (vermis)
tidak digunakan lagi dalam zoology19, karena dulu hewan yang
dikelompokkan sebagai vermis adalah binatang seperti cacing
dari kelompok yang sama sekali berbeda. Lintah saat ini
diklasifikasikan sebagai Annelida atau cacing bercincin, yang
memiliki kedekatan dengan cacing tanah (Gambar 3.3). Menurut
kamus Jerman, Duden, cacing juga berarti menggeliat-geliut.
19

Ilmu tentang hewan, klasifikasi dan ciri-cirinya

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 37

Sumber : Royal Society

Gambar 3.3 Klasifikasi Hirudinidae

Pada kenyataannya banyak orang salah konsep mengenai lintah.


Di Jerman, lintah disebut Blutegel, mengingatkan pada kata
Ekel (menjijikkan), walaupun memiliki akar kata yang sangat
berbeda. Egel diturunkan dari bahasa Yunani echis, yang
berhubungan dengan Igel (landak). Igel artinya bukan ular,
berarti sesuatu yang baik, atau ular berdarah. Walaupun secara
zoology tidak dapat dibuktikan, penyebutan ini mungkin dapat
memperbaiki image terhadap lintah. Dalam bahasa Swedia lintah
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 38

disebut igle. Peran lintah sebagai penghisap darah ditekankan


pada berbagai bahasa, contohnya sangsue di Perancis,
sanguijuela di Spanyol, sanguisuga di Italia, bloedzuiger di
Belanda, dan sanguisugolam di Latvia, nama yang terdengar
melodis dan merdu. Di Inggris, lintah diturunkan dari kata Inggris
kuno, lce yang berarti dokter di abad pertengahan.

Sejarah Lintah
Lintah diasumsikan telah digunakan lebih awal dari yang
terdokumentasi, termasuk bukan oleh manusia. Karena lintah
adalah makhluk tanpa tulang belakang, penemuan Hirudinea
dalam fosil menjadi jarang.
Hanya ada dua penemuan pada periode Jurassic (sekitar 145 juta
tahun lalu), yaitu Epitrachys rugosus (Ehlers, 1869) dan
Palaeohirudo eichstaettensis (Kozur, 1970), yang membuktikan
struktur umum dari lintah pada jaman Jurassic sama dengan lintah
modern.
Berdasarkan penelitian, ternyata darah lintah dan manusia secara
mengejutkan memiliki kesamaan yaitu mengandung hemoglobin,
pembawa oksigen, yang larut dalam cairan pernafasan lintah,
namun disimpan dalam lapisan sel darah merah (erythrocyt)
manusia. Pada saat lintah menggigit manusia, ia akan memasukkan
kombinasi sekitar 30 zat kimia. Saat ini baru delapan zat yang
teridentifikasi struktur dan mekanismenya.
Calin adalah zat lain dalam air liur lintah. Fungsi utama dari protein
ini menimbulkan perdarahan lanjutan yang dapat berlangsung
hingga 12 jam. Sepintas, kita merasa heran mengapa lintah perlu
memproduksi cairan yang mengakibatkan perdarahan relatif lama.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 39

Lintah akan melepaskan diri dalam satu jam atau kurang dan tidak
lagi terhubung dengan suplai darah pasien, sehingga tidak memiliki
keuntungan langsung dari aliran darah tersebut.
Namun Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada manfaatnya.
Jawaban teka-teki ini mungkin adalah perdarahan lanjutan didesain
untuk menarik lintah lain, sebagai alat pemelihara kelangsungan
hidup populasi lintah. Namun, pergerakan air adalah tanda yang
telah dikenal untuk tujuan itu, sehingga tidak ada perlunya
memproduksi protein dengan fungsi yang sama. Jawaban lain
adalah perdarahan ditujukan untuk membantu pasien
membersihkan lukanya atau sebagai alat disinfeksi. Hal tersebut
dapat mengurangi risiko terjadinya infeksi (sepsis20).
Hewan dan manusia memerlukan jutaan tahun untuk belajar
menghargai lintah sebagai terapis. Binatang ternak yang sendi
tulangnya sakit terlihat pergi ke tempat berair yang dikerumuni
lintah. Berdasarkan laporan dari Yunani dan India, binatang ternak
membiarkan dirinya digigit lintah selama beberapa lama, agar
dapat pergi dengan langkah yang lebih ringan. Banyak anjing
berdiam diri (Gambar 3.4) ketika lintah ditaruh di tubuhnya, karena
secara instinct21 tahu lintah akan menolongnya. Pada jaman batu,
manusia mengembangkan berbagai teknik mengeluarkan darah,
dengan atau tanpa lintah. Mereka menganggapnya sebagai
metode sederhana untuk mengeluarkan ruh jahat.

20

21

Adanya mikroorganisme patogen (pembawa penyakit) atau toksin di dalam darah atau jaringan lain
yang dapat masuk melalui infeksi, misalnya Aeromonas, atau melalui kontaminasi kedua.
Pola bawaan berupa perilaku responsif terhadap rangsangan khusus

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 40

Sumber : Biebertaler Blutegelzucht

Gambar 3.4. Terapi lintah pada hewan (Vaterinary)

Suplai lintah medis tidak pernah bermasalah serius sebelum abad


ke-19, dimana seluruh populasi lintah dibinasakan. Hal ini didukung
oleh pengajaran Broussais, seorang dokter Perancis, dimana terapi
lintah meledak pada abad ke-19, yang dikenal sebagai lintah
mania atau vampirisme di Eropa. Pada masa itu, lintah
dikembalikan ke dekat kolam setelah dipakai. Tidak ada ketakutan
terhadap transfer penyakit melalui mikroorganisme, karena orang
tidak tahu mikroba itu ada. Lalu terjadilah pengurangan drastis
suplai lintah domestik. Tidak ada pembatasan perpindahan lintah
dengan kapal dari habitat alaminya, dari Hamburg ke Perancis,
Amerika, Australia dan Inggris. Diasumsikan banyak lintah mati
setelah pengobatan dan tidak pernah kembali ke siklus alaminya.
Pebisnis Jerman pernah mengusulkan dibentuknya perusahaan
yang menjual lintah, the Actiengesellschaft Hirudinea tahun
1863. Peluang bisnisnya menjanjikan, sayang idenya terlambat.
Pada jaman Koch, Pasteur, dan Virchow, terapi lintah menghilang
hingga akhir abad ke-19. Menurunnya populasi lintah
menyebabkan perlu waktu untuk mengembalikan popularitasnya
selama abad ke-20. Minat dokter akhirnya muncul lagi pada dua
pertiga abad tersebut.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 41

Saat ini mekanisme terapi lintah relatif dikenal, selektif dan


biasanya dalam jumlah sedikit. Selang waktu selama abad ke-20
tidak cukup untuk mengembalikan populasi lintah Eropa, karena
tanah basah untuk sementara waktu hilang melalui sistem
pengairan atau tidak sesuai lagi untuk kehidupan lintah. Sejumlah
besar biotop22 telah dimusnahkan, dan lintah yang tersisa tidak
menemukan mamalia lagi untuk reproduksi. Selain itu, racun
lingkungan membuat lebih sulit bagi organisme sensitif ini untuk
berkembang di Eropa. Jumlah habitat lintah di alam yang saat ini
masih ada di Eropa sangat sedikit.
Kebanyakan lintah di Eropa tengah diimpor dari Turki dan jarang
dikembangkan. Karena unsur aktif dalam air liur lintah adalah
ramuan efektif pembuatan salep dan produk lokal lainnya, maka
populasi lintah Turki dimonitor sangat ketat, hidup atau mati.
Beberapa ton lintah, segar maupun beku, diimpor ke Eropa setiap
tahun. Bagian konservasi berharap kombinasi hirudin yang
dihasilkan dari bakteri yang dimodifikasi secara genetik dan ragi
akan segera mengurangi tekanan populasi lintah, tetapi harapan ini
belum terpenuhi, karena variasi unsur dan mekanisme kompleks
air liur lintah hidup lebih efektif daripada hirudin murni dalam
sejumlah kasus. Jumlah lintah hidup yang dipakai di Jerman sekitar
300.000-400.000 per tahun. Jika diasumsikan setiap lintah memiliki
berat sekitar 3 g, maka dibutuhkan sekitar 1,2 ton lintah per tahun.
Pada 24 Juli 2004, FDA (American Food and Drug Administration)
secara resmi menyetujui lintah medis sebagai alat pengobatan
berdasarkan pengamatan ilmiah kemujaraban terapi ini pada
penyakit seperti radang sendi (osteoarthritis) lutut.
Ironisnya, adaptasi pada manusia akhirnya merugikan bagi lintah.
Berdasarkan pertimbangan efek menguntungkan dari terapi ini,
22

Kolam dangkal di padang rumput

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 42

muncul diskusi apakah lintah lebih tepat diklasifikasikan sebagai


simbiotis dibandingkan dengan parasitis atau ektoparasitis.
Peran lintah memang telah berubah: saat ini lintah diparasiti
manusia. Dengan pertimbangan hampir punahnya lintah berulang
kali, maka diperlukan pengembangan strategi baru untuk
meyakinkan kelangsungan hidupnya, sehingga Hirudo medicinalis
dimasukkan dalam Appendiks II dari undang-undang mengenai
jenis hewan langka dalam Washington Endangered Species, yang
didesain untuk pajak penjualan lintah. Setiap orang yang membeli
atau menjual lintah wajib menyerahkan laporan pada CITES
(Convention on International Trade in Endangered Spesices of Wild
Fauna and Flora). Ijin tertulis untuk melaksanakan transaksi harus
didokumentasikan pada CITES kapanpun lintah diimpor atau
diekspor. Di Jerman, undang-undang yang berlaku dikontrol dan
dilaksanakan oleh agen Pemerintah untuk Konservasi Alam
(BfN=Federal Agency for Nature Conservation).
Cara melindungi jenis makhluk langka penting ketika berhadapan
dengan kebutuhan kita sendiri, termasuk dukungan untuk
peternakan pembiakan Hirudo medicinalis dan Hirudo verbana.
Pengembangan strategi untuk kelangsungan hidup mereka, dan
perencanaan kebijaksanaan terapi lintah sebaiknya dilakukan
dengan penuh rasa kemanusiaan.

Anatomi dan Fungsi


Agar dapat mengerti konsep struktur anatomi lintah dari sudut
pandang biologi, maka sebaiknya melihat perilaku alaminya di
kolam berisi air dengan siklus kejadian berulang berikut ini:
a. Secara diam-diam lintah akan mencari makanan dan mengamati
mangsa sambil berenang perlahan dan mengambang dekat permukaan
air selama beberapa waktu: ini bisa terjadi berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun;
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 43

b. Lintah menempel pada mangsa dan menghisap darah dalam rangkaian


gerakan yang cepat; proses makan biasanya selesai dalam beberapa
menit;
c. Lintah membenamkan diri pada tempat tersembunyi di kedalaman air
untuk beristirahat dan mencerna makanan: periode istirahat mungkin
berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Biasanya perubahan dari bagian (c) ke (a) terjadi sangat halus dan
perlahan.
Setiap kali makan, lintah dapat menghisap banyak darah, hingga 10
kali berat badannya. Ini membuat lintah dapat bertahan hingga
dua tahun di antara waktu makan. Cara makan yang hemat ini
berhubungan dengan keterbatasan suplai mamalia dan
direfleksikan melalui struktur tubuh yang sederhana namun sangat
menguntungkan (Gambar 3.5). Tubuh Hirudo hampir seluruhnya
terdiri dari dinding ganda berupa tabung pencernaan.

Sumber : What-when-how, in depth informatin

Gambar 3.5.Anatomi lintah medis

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 44

Usus depan, usus tengah (perut) dan usus belakang adalah organ
yang memiliki volume terbesar, dalam keadaan kosong maupun
penuh. Usus depan meliputi mulut, kerongkongan, dan esophagus
(antara kerongkongan dan perut), panjangnya kira-kira dua
persepuluh tubuh. Usus tengah (perut) terdiri dari 10 pasang
kantung tidak berlubang yang panjangnya lima persepuluh tubuh.
Bagian ketiga, usus belakang, panjangnya tiga persepuluh tubuh.
Hanya ada satu jenis bakteri dalam perut lintah yang dapat hidup
untuk jangka panjang, yang diperlukan lintah untuk mencerna
makanannya yaitu Aeromonas biovar sobria veronii (dulu disebut
Pseudomonas hirudinis dan beberapa nama lain).
Perut lintah adalah ruang penyimpanan yang sangat besar,
sehingga memungkinkan lintah bertahan selama beberapa tahun
tanpa makanan. Ini berhubungan dengan usus belakang, tempat
pencernaan berenergi rendah dilakukan tanpa memerlukan
oksigen bebas (anaerobik). Walaupun isi perut lintah dikosongkan,
ia dapat hidup beberapa bulan dengan unsur di dalam tubuhnya.
Lintah memiliki penghisap kecil di bagian depan yang mengelilingi
mulutnya sebagai titik tertinggi. Anus ada di bagian atas penghisap
belakangnya. Lintah juga memiliki organ pengeluaran (nephridia)
dan organ reproduksi hermaphrodit (jantan dan betina).
Pernafasan dilakukan melalui dinding tubuh. Hemoglobin larut
dalam oksigen yang diangkut ke seluruh tubuh melalui jaringan
kapiler yang dapat mengerut. Sebagai hewan invertebrata, lintah
memiliki tubuh lembut tanpa tulang belakang. Struktur tubuh dari
Hirudinea mirip dengan cacing tanah (Annelida, Oligochaeta),
menunjukkan adanya segmentasi. Tubuh lintah terdiri dari 34
segmen. Segmen ke 9-11 membentuk clitellum, organ yang
bertanggung jawab untuk mengeluarkan kepompong yang hanya
terjadi pada musim panas. Tujuh segmen terakhir membentuk
penghisap besar di bagian belakang.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 45

Lapisan cincin kedua, terdiri dari 105 cincin luar (annuli) yang
menutupi segmen dalam. Setiap segmen diselubungi lima cincin
luar, yang dapat membentang seperti akordion, terdiri dari kulit
untuk menampung sejumlah besar darah yang dihisap selama
proses makan. Annuli juga membantu lintah bergerak. Dari luar
terlihat pembagian segmen dalam berupa pola oranye merah,
kuning langsat, hitam yang berulang-ulang dari Hirudo verbana dan
Hirudo medicinalis. Tidak ada dua pola yang benar-benar sama. Di
bagian dalam, pembagian segmen ditunjukkan oleh pengaturan 32
syaraf, kandung kemih, organ pengeluaran (nephridia) dan kantung
berisi benih (seminal vesicle).
Tidak seperti anatomi besar lintah yang sederhana, ternyata
struktur individunya sangat kompleks. Sistem syaraf pusat penting
untuk keberhasilan perburuan, menentukan lokasi musuh, dan
koordinasi umum yang dikembangkan dengan spesialisasi sangat
sempurna. Bagian kepala bertugas untuk melekat, menggigit,
mengeluarkan, menghisap, juga berfungsi sebagai penggerak yang
terdiri dari indra perasa, penerima suhu, dan mata, yang
terhubung dengan syaraf kerongkongan yang letaknya lebih
rendah. Otot dinding tubuh yang kuat membantu lintah untuk
berenang, merayap, bernafas dan melekat pada mangsa dan
struktur lainnya.

Anatomi dan Fungsi Mulut


Anatomi dan fungsi mulut lintah memiliki peran penting dalam
terapi. Agar dapat menentukan titik tepat untuk menggigit, lintah
perlu untuk menyelidiki kulit mangsanya. Lintah menggunakan zat
kimia sangat sensitif dan panas serta indra penyentuh di daerah
bibir atas untuk memeriksa kulit agar sesuai dengan karakteristik
yang diinginkan. Lintah akan merasakan kadar darah, gula darah,
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 46

peluh, temperatur antara 350-400 dan pergerakan denyut arteri,


sampai menemukan titik yang tepat. Rongga mulut utama
(penghisap mulut) dipisahkan oleh langit-langit mulut (velum),
yang terdiri dari rahang (Gambar 3.6).
Gambar 3.6
Penampang melintang penghisap mulut
j rahang
r otot radial
c otot annular berbentuk cincin
l ruangan hampa (lacuna)
ph kerongkongan (pharynx)
s pembuluh air liur (saliva duct)
lm otot longitudinal
ns sistem syaraf (nervous)
v langit-langit mulut (velum)
Sumber : Michalsen, dkk, 2007

Sebelum makan, lintah mulai memompa udara kedalam dan keluar


rongga dan memposisikan rahang pada mangsanya. Selama proses
makan, lintah meluncurkan rahang yang banyak giginya, lalu
menyayat kulit mangsanya dengan gerakan menggergaji.
Sementara itu lubang kerongkongan berkontraksi dan melebar
secara berirama. Gerakan memompa menciptakan kevakuman
yang menghasilkan daya hisap darah. Ini dapat dilihat terutama
pada tahap akhir penghisapan. Penghisap mulut membentuk bibir
atas (prostomium), yang terdiri dari indra perasa. Zat pelekat
(mucus=lendir) yang dikeluarkan penghisap mulut dan mekanisme
memompa kerongkongan membantu penghisap depan dan
belakang mencapai tekanan hisap yang kuat (sekitar 0,2 atm23).
Akibatnya lintah dapat melekat pada setiap jenis permukaan yaitu
amplas, kaca, kain, kawat kasar atau halus, plastik, bahkan
memanjat pada permukaan vertikal yang dilapisi vaselin.
23

Atmosfer adalah satuan tekanan yang dihasilkan oleh atmosfer bumi pada permukaan laut, 1 atm
5
setara dengan 1,01325x10 pascal (sekitar 760 mm Hg)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 47

Lintah yang sedang makan mengunci rahangnya sangat erat,


sehingga sangat sulit dicabut dan sebaiknya tidak dilakukan, karena
berisiko terkena infeksi. Dengan sistem pelekatan efisien, tidak
mudah bagi mangsanya untuk mengusir lintah yang tubuhnya
ditutupi berbagai lapisan. Usaha sekuat tenaga untuk menarik atau
menghentikan lintah yang sedang makan dapat menyebabkan
tubuh lintah pecah. Lintah dapat memuntahkan (regurgitasi) zat
yang baik, termasuk bakteri lintah, Aeromonas, kedalam luka, yang
dapat berakibat infeksi. Penyebab infeksi, bukan karena pemisahan
seluruh giginya secara paksa, namun lebih mungkin karena
pecahnya gigi yang tertinggal dalam luka.
Mulut lintah ada di penghisap depan. Dalam mulut ada tiga rahang
yang ketiga sisinya membentuk sudut 1200, mirip simbol mobil
Mercedes-Benz. Gambar 3.7.a menunjukkan penghisap mulut
lintah yang sedang melekat di kaca. Daerah cembung pada kedua
sisinya, berwarna oranye kuning, adalah bibirnya yang terdiri dari
gumpalan keras otot rahang. Rahangnya berbentuk seperti mata
pisau, dengan 60-100 gigi kecil pada setiap sudutnya, sehingga
total giginya berjumlah 180-300 (Gambar 3.7.b). Dengan mikroskop
elektron, pori-pori gigi tempat keluarnya air liur lintah dapat
diidentifikasi (Gambar 3.7.c).

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 48

Gambar 3.7.a
Penghisap mulut
menempel di kaca. Otot
kerongkongan
berkontraksi berirama
menciptakan tekanan
menghisap.
Foto : C. Morkel

Gambar 3.7.b
Gambar 3.7.c
Segmen rahang lintah
memiliki hingga
80-100 gigi kecil yang kuat,
dilihat dari sudut pandang
belakang.

Segmen rahang lintah,


memperlihatkan pori-pori
antar gigi, tempat air liur dan
zat-zat yang dikeluarkan
Foto : C. Morkel

Foto : E. Schulte

Air liur lintah diproduksi dalam sel kelenjar yang terpancar dan
terpisah membentuk kelenjar besar. Pembukaan luar yang
bersilangan dengan pertemuan gigi di antara pasangan gigi adalah
pori-pori akhir saluran pusat, yaitu bagian akhir pembuluh
pengeluaran sel kelenjar. Otot yang berlawanan pada dasar rahang
bekerja bersama menggerakkan bagian belakang rahang dengan
gerakan setengah lingkaran. Melalui aktivitas otot ini, daerah
kontak relatif kecil dari rahang berbentuk lengkungan setengah
lingkaran menembus kulit semakin dalam dan dalam. Penembusan
yang berturutan ini memiliki dua keuntungan berbeda : pertama,
membutuhkan tenaga lebih sedikit dibandingkan dengan rahang
yang berbentuk lurus. Kedua, mangsanya merasa lebih nyaman
dan tidak merasakan gigitan, sehingga ada kesempatan lebih besar
bagi lintah untuk pergi tanpa terlihat. Air liur lintah juga
mengandung zat bius (anestetik). Secara mekanis, struktur anatomi
bekerjanya seperti pipet kecil efisien, mengijeksi zat kimia ke
dalam luka. Tidak ada alat bedah mikro dapat berfungsi kompleks
dengan presisi tinggi seperti ini.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 49

Kerongkongan menghubungkan rongga mulut dengan esophagus24.


Kelompok otot ini berinteraksi menghasilkan aktivitas otot
kerongkongan yang berirama pada saat makan. Pada fase pertama
makan (menghisap), otot berbentuk seperti roda memperlebar
kerongkongan. Pada fase kedua (pengangkutan), otot berbentuk
cincin yang memfasilitasi kerongkongan untuk berkontraksi,
memulai pergerakan dengan frekuensi 2,4 Hz25 atau kurang,
menuju akhir proses makan.
Lintah kadang-kadang terlihat ketiduran ketika sedang makan.
Sentuhan lembut pada kepala atau kerongkongan dapat
membantu mereka untuk bangun. Karena lintah biasanya akan
membebaskan mangsanya secara sukarela dalam waktu sekitar 2060 menit, maka lebih baik menunggu proses alami makan ini
sampai selesai. Jika tidak terjadi, sebaiknya pertama kali pisahkan
penghisap belakang untuk menipu lintah agar ia berpikir akan
jatuh. Dalam banyak kasus, lintah akan segera melepaskan
penghisap mulutnya. Namun jika tidak, maka penghisapnya dapat
secara hati-hati dilepaskan dengan menggunakan alat yang datar
(atau kuku yang dilindungi sarung tangan dari karet).
Ketika lintah telah merasa kenyang, biasanya ia akan membuka
rahangnya dan melepaskan diri dari mangsanya. Jika hal ini terjadi,
sebaiknya handuk, kapas atau sejenisnya telah ada di tangan
terapis. Sebaiknya disediakan sebuah tempat tidak tembus air yang
diisi dua pertingganya dengan air (disarankan berupa air suling
yang ditambah 1 g garam laut per liter), beserta penutup yang
rapat untuk menyimpan lintah yang sekarang ukuran tubuhnya
telah bertambah menjadi 10 kali lipat ukuran semula.
24

25

Lapisan otot/urat yang terdiri dari urat/otot yang berbentuk annular (cincin), longitudinal
(memanjang/garis bujur) dan radial (roda), yang memiliki konsentrasi tertinggi dari tipe otot yang
berbeda dalam tubuh lintah.
1 Hertz yaitu 1 siklus tiap detik

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 50

Kulit, Otot, Syaraf dan Indra


Dinding tubuh lintah memiliki bentuk yang mudah dikenali, sesuai
dengan kebutuhan hidupnya yaitu :

sangat elastis
berfungsi untuk pernafasan
sebagai penghalang untuk melawan zat merugikan dan infeksi
berwarna untuk tujuan penyamaran
26
untuk osmoregulasi dan regulasi pertukaran zat kimia dan gas
berfungsi seperti organ tunggal indra yang sempurna
untuk melawan serangan mekanis
pelindungi lapisan luar (cuticula)
alat untuk mengenali jenis
untuk menghindari dehidrasi dan melindungi lintah selama
hibernasi di musim dingin dan periode istirahat di musim panas

Keseluruhan tubuh termasuk kerongkongan, rongga mulut dan


rahang, sebagian ditutupi lapisan lendir (epithelium). Sel epithelial
terhubung erat, sehingga dapat bertahan terhadap tekanan kuat
selama dan setelah proses makan. Kulit lintah terlipat seperti
akordion pada saat perut kosong, tapi dapat membentang besar
sekali untuk menampung darah yang dihisap selama makan.
Lapisan kulit bagian luar (kulit epidermis) terdiri dari matriks
collagen berongga kecil, ditutupi lapisan yang mengeluarkan
jaringan tanduk (cuticula), memancar setiap 3-10 hari dengan
gerakan seperti gelombang (peristaltis). Frekuensi berganti kulit
ditentukan oleh temperatur, kualitas air dan makanan. Kulit lintah
mengelupas seperti selubung putih, mengambang di air,
menempel pada tumbuhan, atau seperti cincin putih di dasar.
26

Pemeliharaan konsentrasi partikel yang bersifat osmosis aktif di dalam suatu larutan dinyatakan dalam
bentuk osmol solut per liter larutan oleh organisme sederhana atau oleh sel tubuh dengan menjaga
medium sekelilingnya

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 51

Lapisan lendir terdiri dari mucopolysaccharides, terletak di atas


serat sangat halus dari lapisan luar (cuticula), yang ikut berganti
selama proses penggantian kulit. Lapisan lendir rangkap ini
melindungi lintah dari bakteri tumbuhan air yang langsung
menempel pada kulit epidermis. Bakteri juga dikurangi setiap ganti
kulit sebagai cara alami untuk menjaga kebersihan.
Lintah sebaiknya diberikan alat untuk proses pergantian kulitnya.
Ketika mengganti air, semua kulit terkelupas harus dibuang.
Pergantian kulit yang tidak sempurna dapat mengakibatkan luka
serius bahkan kematian. Sisa kulit tua dapat menyebabkan luka
pada kulit epidermis dan bakteri dapat masuk melalui bagian
bawah cincin keras lapisan luar tubuh. Luka yang telah sembuh,
akan berbentuk seperti cincin. Benda keras, seperti batu berujung
tajam dan tanaman berdaun keras perlu diletakkan untuk
membantu proses pergantian kulit. Kadang-kadang kulit tuanya
dapat dibantu untuk ditarik secara lembut. Dahulu, seikat rambut
kuda ditaruh di tempat lintah untuk membantu pergantian kulit.
Pernafasan dan pertukaran gas hampir seluruhnya dilakukan
melalui dermis dan jaringan kapiler cuticula. Kulit mengatur masuk
dan keluar air dan pertukaran ion dan garam, sebagai organ
pengeluaran. Transportasi dapat dilakukan secara pasif (dengan
perubahan konsentrasi) dan aktif (melawan perubahan
konsentrasi). Fungsi osmoregulasi kulit, yang berhubungan dengan
nephridial (organ pengeluaran), sangat penting karena perubahan
konsentrasi ekstrim antara lingkungan dalam dan luar harus diatur
selama proses makan. Lintah yang sedang makan harus memeras
dan mengurangi air dari darah yang telah dihisap, karena
menghalangi aliran masuk air. Karena itu memelihara lintah dalam
cairan yang mengandung garam secara tepat adalah penting.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 52

Ketika dipenuhi darah, rongga dalam harus dilindungi dari semua


jenis musuh. Sel tunggal mucopolysaccharide yang memproduksi
sel lendir dan didistribusikan secara tidak teratur melalui kulit
adalah elemen penting bagi perlindungan diri. Menurut Sawyer
(1985), lendir yang diproduksi sel ini memiliki beberapa fungsi
penting yaitu menghindarkan dehidrasi, melindungi dari serangan
fisik dan mikroba, membantu pernafasan, osmoregulasi, hibernasi
di musim dingin, istirahat di musim panas dan organ pengeluaran.
Zat kimia khusus dalam lendir membantu lintah untuk saling
mengenali satu sama lain dari jenis yang sama.
Produksi lendir yang meningkat dapat merupakan tanda lintah
sedang berusaha untuk melindungi dirinya dari sesuatu, seperti
ketidakseimbangan zat kimia luar dalam parameter yang sensitif
(pH, amoniak, kekerasan air, dll.), perubahan temperatur, adanya
gangguan, stres karena tempat dipindahkan, panasnya cahaya
matahari, kelebihan mikroba, dll. Produksi lendir yang berlebihan
biasanya terjadi pada akhir hibernasi di musim dingin. Sikap
pengeluaran lendir yang berlebihan bukan berarti penyakit, tetapi
tanda bahwa ada sesuatu dalam lingkungan yang mengganggu dan
sebaiknya dipindahkan. Pada banyak kasus, ada beberapa solusi
sederhana, misalnya mencuci lintah di aliran air suam-suam kuku
atau mengganti air (1g garam laut per liter air suling).
Kulit lintah terdiri dari sejumlah sel sensor dengan berbagai
kualitas penerimaan. Walaupun terdistribusi pada seluruh
tubuhnya, sebagian besar tersentralisasi di bagian kepala. Kulit
lintah dapat dianggap sebagai organ indra tunggal, karena
rangsangan diterima melalui struktur syaraf yang terintegrasi dan
terkoordinasi. Dengan indra yang sangat tajam tersebut, lintah
dapat menemukan mangsanya.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 53

Kulit epidermis dicirikan dengan segmentasi pola yang


membedakan antar individu dan mudah dikenali dengan alat
pembesar. Sebagian besar pigmen adalah hasil samping
pengeluaran. Karena pewarnaan eksternal ini, kulit lintah dapat
disesuaikan dengan warna lantai kolam atau daun di permukaan
air. Kamuflase (penyamaran) membantu lintah untuk bersembunyi
dari musuh alami dan mangsa potensialnya (Gambar 3.8). Ketika
mengkonsumsi darah hingga 10 kali berat badannya, lintah akan
terasa lezat dan bergizi bagi burung dan hewan pengerat. Jadi,
kamuflase adalah penting. Namun, lintah dapat membalikkan
keadaan walaupun lawannya lebih besar dari tubuhnya. Ketika
penyerang dilukai lintah, bekas darah di air akan menarik perhatian
lintah-lintah lapar, yang pada akhirnya dapat membunuhnya.

Gambar 3.8
Pola kamuflase
dari Hirudo verbana.
Foto : M. Roth

Warna kuning langsat, coklat kemerah-merahan, oranye, dan


hitam bergantian membentuk pola umum bagian belakang lintah.
Hirudo medicinalis cenderung didominasi oleh warna kuning
kemerahan, sedangkan Hirudo verbana cenderung lebih hijau
gelap. Pewarnaan dari kedua tipe ini sangat jelas dibagian perut :
Hirudo medicinalis memiliki noda hijau kehitaman yang tidak
beraturan, dimana daerah perut Hirudo verbana homogen hijau
kuning langsat dengan dua strip sepanjang tepinya (Gambar 3.9).
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 54

Gambar 3.9
Hirudo verbana (kiri)dapat dibedakan secara jelas denganHirudo medicinalis
(kanan)berdasarkan pada perbedaan pola warna pada permukaan tubuhnya
Sumber : Michalsen, dkk, 2007

Daya hisap dan daya pompa kerongkongan sangat kuat, karena


otot yang mengelilingi dinding tubuh didesain dengan sangat
sempurna (Gambar 3.6). Rahang lintah dibentuk dengan lapisan
kalsium yang memperkeras otot, menunjukkan bentuk lain dari
spesialisasi otot. Pembuluh otot dinding tubuh biasanya terdiri dari
empat lapisan (Gambar 3.11):

Lapisan paralel dari otot longitudinal (membujur)


Lapisan ganda dari otot diagonal (sudut-menyudut)
Lapisan otot transversal (melintang)
Lapisan otot dorsoventral (membentang sepanjang punggung
hingga perut, digunakan untuk membuat tubuh rata)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 55

Foto : Mller IW., 2000

Gambar 3.11
Diagram bagian tengah tubuh lintah medis

Konfigurasi otot menunjukkan adanya empat jenis pergerakan :


Pada permukaan keras, lintah mengulurkan dan mengerutkan
seluruh badannya secara bergantian. Penghisap besar belakangnya
melekat pada suatu benda, penghisap depannya mengulur ke depan
dan bergerak maju membuat gerakan mencari pada benda/zat atau
di udara. Lintah dapat mengulurkan tubuhnya memanjang hingga
beberapa kali panjang tubuhnya saat beristirahat. Ketika bergerak
maju, penghisap depan menempel kembali dan penghisap belakang
meluncur ke depan melewati kepala, lalu menempel kembali.
Tipe gerakan kedua seperti cara pertama yaitu menempelkan
penghisap depan, kemudian menggerakkan penghisap belakangnya
maju, membentuk loop selama fase pendek. Ini mirip dengan cara
ulat pengukur merayap. Karena lintah selalu bergerak maju,
kepalanya mudah dikenali, berupa penghisap depan yang lebih
kecil tetapi berkembang lebih baik.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 56

Pada saat berenang, lintah menggerakkan tubuhnya naik dan turun


seperti lumba-lumba atau kurva sinus. Lumba-lumba berenang
dengan penyeimbang di ekornya, sedangkan lintah meratakan dan
mengulurkan tubuhnya agar dapat memindahkan sebanyak
mungkin air selama bergerak ke bawah dengan daya tahan minimal.
Dalam air yang oksigennya sedikit, lintah mengguncang air yang
menuju dan melewati tubuhnya, lalu membuat gerakan seperti
cambuk dengan tubuhnya, dimana frekuensinya disesuaikan dengan
kebutuhan, agar dapat bergerak cepat dan lincah, sehingga lebih
banyak air kaya oksigen menuju tubuhnya. Ini juga berfungsi untuk
membangkitkan peredaran udara (undulating ventilation).

Lintah dapat mengubah ukuran tubuhnya secara dramatis, karena


kulitnya dapat berkerut dan konfigurasi otot leher sangat elastis.
Otot dorsoventral membuat lintah dapat meratakan tubuhnya
ketika bersembunyi di celah yang sempit. Tubuhnya memiliki
kapasitas mengagumkan untuk mengulur di dalam dan di luar air.
Ia dapat mengangkat seluruh tubuhnya kecuali penghisap belakang
ke permukaan air, misalnya ketika sedang menghirup udara
untuk memeriksa sekelilingnya. Ketika lintah telah menggigit
korbannya, ia dapat membesar dua bahkan tiga kali panjang
normal tubuhnya dengan menarik ujung ekornya. Ini menunjukkan
kekuatan luar biasa dari penghisap untuk bertahan dan berubah.
Lintah dapat mengubah bentuknya secara dramatis, karena itu
tempat penyimpanan sebaiknya selalu tertutup dan lubang
udaranya berukuran kecil, sehingga lintah tidak dapat dapat
melarikan diri melalui celah kecil tersebut.
Sistem syaraf Hirudinea mewarisi sistem syaraf seperti tangga dari
cacing tanah. Sistem itu terdiri dari simpul syaraf otak, rangkaian
simpul syaraf ventral yang terdiri dari 21 pasang simpul syaraf yang
masing-masing terdiri dari 200 pasang neuron, dan simpul syaraf
posterior pada penghisap belakang. Rangsangan diterima berbagai
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 57

penerima sensor yang terintegrasi dan tersentralisasi dalam 21


segmentasi simpul syaraf, simpul syaraf pharyngeal besar bagian
bawah dan simpul syaraf caudal. Simpul syaraf pharyngeal bagian
bawah terdiri dari empat simpul syaraf gabungan, sedangkan
simpul syaraf caudal terdiri dari tujuh simpul syaraf gabungan.
Neuron besar lintah telah dipelajari dan digunakan sebagai model
kinerja dari syaraf hewan yang kelasnya lebih tinggi. Sangatlah
mudah untuk menghubungkan aktivitas biokimia di dalam dan di
antara sel lintah dengan perilakunya di luar. Pada tingkat tertentu,
proses biokimia, struktur, tipe sel dan syaraf pengangkut lintah
identik dengan beberapa mamalia, termasuk manusia. Serotonin,
dapat ditemukan dalam sel retzius, syaraf terbesar dan sebagai
media perilaku berburu lintah. Kadar serotonin yang tinggi
menyebabkan lintah mengkonsumsi banyak makanan (hingga
sepertiga lebih banyak), lebih berhasrat untuk menggigit,
melembutkan dinding tubuh, merangsang produksi air liur, dan
mengurangi waktu respon lintah untuk mengakhiri waktu
istirahatnya dan berenang menuju pusat rangsangan (mangsa).
Penemuan bahwa syaraf lintah dapat memecahkan masalah
matematika membangkitkan sedikit perasaan mendebarkan.
Dalam sebuah penelitian, sebuah komputer dihubungkan dengan
syaraf dua ekor lintah hidup, sehingga mereka dapat
berkomunikasi satu sama lain melalui komputer. Ketika satu syaraf
memberikan masalah penambahan sebagai input, syaraf tersebut
mengirimkan pada syaraf kedua, solusi sebagai output.
Kemampuan ini adalah dasar utama modulasi dan transmisi
dorongan elektrik dalam bentuk potensial tindakan, misalnya, saat
lintah mengatur tekanan darah melalui detak jantungnya.
Lintah memiliki lima pasang pigmen mata berbentuk mangkuk
(ocelli) untuk mendeteksi bayangan, dan yang paling penting,
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 58

pergerakan bayangan. Ocelli tertanam dalam kulit di bagian


belakang daerah kepala. Sel ocelli memiliki sikat berdampingan
(microvilli) dan lubang pada pusat tubuh yang transparan. Setiap
sel ringan berpori ini seluruhnya dikelilingi cincin pigmen hitam.
Adanya konfigurasi sel membuat lintah dapat mengidentifikasi
sudut datangnya cahaya dan pergerakan bayangan di sekitarnya.
Sebagai bukti, naikkan satu tangan untuk membuat bayangan di
atas kepala lintah yang sedang beristirahat. Sebagai respon
terhadap rangsangan ini, dalam beberapa detik lintah akan maju
menuju bayangan.
Pada daerah mulut, khususnya pada kulit bibir atas (prostomium),
terdapat indra penerima panas dan dua tipe indra sensor lain yang
berfungsi sebagai indra kimia untuk berbagai perbedaan zat. Para
ahli menemukan zat tertentu yang juga menyebabkan reaksi
pertahanan spontan ketika mereka menyentuh kulit bagian
belakang lintah. Asap rokok, contohnya, dikenal menyebabkan
reaksi ketakutan pada lintah jika ditaruh di tempat yang
berdekatan dengan penghisap depan. Jika kulit belakang diberi
asap rokok, lintah juga akan segera kembali ke dalam air, bahkan
jika kepalanya tenggelam dalam air. Penjelasan untuk respon ini
adalah distribusi luas indra penerima bahan kimia (chemoreceptor)
yang membuat lintah seperti lidah mengambang dan menjadi
alat orientasi dalam menentukan secara kasar lokasi mangsanya.
Sensor papilla (pucuk) yang merespon cahaya dan juga sentuhan,
pergerakan air, dan rasa nyeri (noniceptive tangoreceptor)
tertanam dalam annuli. Sel sensor didistribusikan melalui seluruh
permukaan tubuh dan dihubungkan dengan tombol simpul syaraf,
yang mengumpulkan semua sinyal sensor. Karena sensor papilla
berlokasi di sepanjang pertemuan annuli, sensor tersebut
menerima sinyal bahkan kalau lintah dalam posisi berkontraksi
penuh. Namun, kontraksi dapat membuat lipatan kulit mendesak
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 59

tenaga memotong dari indra penyentuh yang terletak dalam


lipatan, sehingga dapat mengirimkan sinyal informasi yang salah.
Indra pendeteksi gerakan (vibrasi) dapat digunakan lintah untuk
berburu. Memukul air dengan tangan atau tongkat akan membuat
ombak kecil sepusat. Lintah akan merasakan vibrasi, kadangkadang bahkan dari jarak yang relatif jauh (beberapa meter) dan
akan bergerak bergerombol langsung menuju daerah gerakan air.
Mereka secara cepat bertemu pada satu pusat kegaduhan, yang
mungkin merupakan mangsanya. Lintah tidak akan menggigit
temuannya dengan segera, melainkan akan mengevaluasi terlebih
dahulu apakah mangsanya itu dapat dimakan. Hanya objek
bergerak yang sesuai dengan kriteria (yang berbeda tergantung
usia lintah), akan dipilih sebagai mangsa. Lintah muda puas dengan
hewan berdarah dingin selama temperatur tubuhnya sesuai
dengan temperatur yang menyelubunginya, sedangkan lintah tua
lebih menyukai mangsa berdarah hangat seperti mamalia.
Lintah adalah makhluk unik dalam dunia kerajaan hewan, karena
satu-satunya jenis dengan kepala yang didesain untuk makan
sekaligus sebagai fungsi penggerak (lokomotif). Kepala lintah terdiri
dari taktil (indra perasa), indra kimia, indra panas, untuk merayap,
dan organ yang sangat efisien untuk menempel. Ini konfigurasi
anatomi yang sangat berguna bagi hewan yang harus makan
dengan cepat. Jika lintah memerlukan waktu lama untuk menggigit
dan makan, mangsa akan meninggalkan air sebelum lintah selesai.
Struktur kepalanya yang berbentuk khusus membuat lintah dapat
menggigit mangsanya dan menempelkan dirinya, dan dengan
segera sensornya akan memberikan tempat tepat untuk menggigit.
Spesialisasi meningkat daerah chepalic (bagian kepala) dengan
koneksi pada sistem syaraf pusat adalah hasil dari proses evolusi
chepalization.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 60

Karena memiliki sistem syaraf yang berkembang dengan baik,


lintah adalah hewan yang sangat sensitif. Penanganan yang kurang
tepat dan gangguan lingkungan, seperti perubahan tiba-tiba pada
cuaca, temperatur ekstrem, variasi cahaya dan masuknya berbagai
bahan kimia dapat mengakibatkan efek sangat merugikan. Lintah
tidak akan menggigit jika terapis atau pasien sangat gelisah.
Terapis yang kurang berpengalaman biasanya menggunakan cara
yang kasar dengan tangan atau tang penjepit untuk
menghindarkan lintah melarikan diri atau berusaha agar lintah
menghisap pada titik tertentu. Penanganan yang kasar sebaiknya
dihindari, karena hanya akan memicu indra rasa nyeri dan
membangkitkan respon berkelahi atau melarikan diri pada arah
yang berlawanan.
Terapis sebaiknya tidak menyentuh bagian chepalic (kepala) lintah,
khususnya titik mata dan daerah bibir atas, tapi sebaiknya
menggenggam sekurang-kurangnya 2 cm di bawah kepala dan
membujuknya untuk makan pada titik yang tepat. Berapa tetes
gula seringkali dilakukan sebagai trik. Sebagai alternatif, kulit
pasien dapat ditusuk dengan jarum/lancet untuk mengeluarkan
beberapa tetes darah atau mengusap daerah target dengan
handuk basah yang hangat.
Bau saripati minyak dapat membuat lintah melepaskan
pegangannya dan bereaksi bertahan. Jika beberapa tetes minyak
pohon teh diberikan pada sebatang kaca dan meletakkannya dekat
bibir atas, yang dilengkapi indra sensitif terhadap bau dan rasa,
lintah akan segera meninggalkan mangsanya. Namun, rangsangan
yang kuat sekali dapat membuat lintah muntah, sehingga dapat
mengkontaminasi luka dengan bakteri Aeromonas.
Sebelum terapi, daerah gigitan yang diinginkan sebaiknya
dibersihkan dengan air biasa. Sabun tanpa parfum dapat digunakan
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 61

jika diperlukan. Nikotin yang meresap ke dalam kulit dapat


merintangi gigitan, demikian juga bau alkohol dan bawang putih
(bagaimanapun lintah adalah vampir) Untuk mengetahui
seberapa sensitifnya indra pengecap (gustatory) pada lintah, coba
teteskan parfum dekat kepala lintah. Lintah akan segera membuka
rahangnya, menggeliat kesakitan, membalikkan atau menjatuhkan
daerah chepalic (kepala) jauh ke belakang, dan melepaskan
penghisap belakangnya.
Kegagalan lintah untuk makan tidak selalu berarti lintah tidak lapar
(pusat pembiakan biasanya mengirimkan lintah yang lapar).
Keengganan ini dapat berhubungan dengan aroma menjijikkan
(parfum, nikotin, dll) atau tidak berselera makan (di musim panas,
biasanya lintah memilih untuk bereproduksi). Jika semua usaha
gagal, maka sebaiknya tidak memaksa lintah untuk makan tetapi
mencoba keberuntungan dengan lintah yang lain.
Agar lintah berhenti makan, dapat dibantu dengan meletakkan
beberapa kristal garam pada cairan yang dikeluarkan dekat kepala
lintah, tapi hindari dosis berlebihan yang akan menyebabkan lintah
memuntahkan zat baiknya. Untuk memelihara atau meningkatkan
nafsu makan, lintah sebaiknya dipelihara di tempat yang dingin,
gelap dan sedapat mungkin tanpa gangguan. Ini akan
menenangkan perasaannya, sehingga mereka dapat bereaksi
dengan lebih intensif terhadap rangsangan (kimia, temperatur,
cahaya) yang memicu instink berburu ketika telah mengetahui
tempat mangsa yang sesuai.

Perilaku, Habitat, dan Pemeliharaan


Memahami perasaan lintah penting untuk proses terapi yang tepat
dan sukses. Sebaiknya tidak memegang lintah dengan tang
penjepit atau memperlakukan mereka tidak lebih hanya sebagai
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 62

alat terapi. Tidaklah cukup untuk memelihara hewan pada


tingkat penghidupan yang minimum jika seseorang menginginkan
hasil terapi yang optimal dengan efek samping yang minimal.
Untuk menjaga vitalitas, kuantitas dan komposisi air liur lintah
dengan kadar bakteri yang rendah, pemeliharaan secara tepat dan
persiapan terapi yang cukup sangatlah penting. Namun,
persyaratan terapi harus sesuai dengan kebutuhan hewan.
Menurut pengalaman pusat pembiakan lintah di Jerman,
memelihara lintah dengan kondisi yang tepat adalah kunci sukses
terapi.
Karena polusi lingkungan dan kelebihan panen, terutama pada
abad ke-19, habitat alami lintah menjadi agak jarang. Di Eropa
tengah, hanya ada beberapa tempat yang tersisa dimana lintah
dapat ditemukan di alam bebas. Suasana sepi, kolam eutropik27
dangkal, kedalaman sekitar 1-1,5 m, dasar yang subur (misalnya
tanah dekat sungai), dan berlokasi jauh dari jalan yang biasa dilalui
adalah biotop28 yang ideal untuk lintah. Lintah menyimpan
kepompong, terdiri dari 10-30 telur pada tanah di pinggir kolam,
karena itu profil, komposisi mineral, flora dan fauna pematang
kolam berperanan penting dalam reproduksi lintah. Peletakan
kepompong di daerah pematang dilakukan agar lintah terlindungi
dari dehidrasi dan kemungkinan tenggelam (Gambar 3.12), dapat
diinterpretasikan sebagai bentuk awal perlindungan anak. Setelah
menetas, lintah muda awalnya hidup dari zat makanan dalam
kepompong, lalu kembali ke tempat darimana mereka menetas
untuk mencari makan. Lintah muda mulai makan organisme
plankton dari dasar sungai, lalu menjadi amphibi, dan akhirnya
berkembang menjadi pemangsa mamalia.

27
28

Kolam dengan kadar nutrisi yang normal/baik


Kolam dangkal di padang rumput

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 63

Gambar 3.12

Foto : M.Roth

Kepompong baru tergeletak di tepi kolam


pembiakan. Di sampingnya diletakkan
uang 1 untuk perbandingan ukuran.
Warnanya coklat kekuningan, kenyal dan
berongga, berisi 10-30
30 telur, yang akan
menjadi lintah muda dalam beberapa
minggu.

Lintah menyukai tempat


empat teduh untuk beristirahat dan
d berburu.
Lintah yang lapar mencari mangsa di permukaan
ukaan air. Ia suka
menempel di daun mengambang, tangkai, atau daun tumbuhan
yang tenggelam. Ketika berburu, lintah menggunakan indra
penerima vibrasi dan lima pasang matanya untuk menentukan
lokasi pergerakan air atau bayangan.
Karena berganti kulit beberapa kali sebulan (tiap 3--10 hari), lintah
memerlukan tanaman berdaun keras seperti alang-alang
alang
air
Kanada (Elodea canadiensis) atau benda keras lain (cabang, karang,
dll) di dasar kolam untuk membantu melepaskan kulitnya. Jika
proses ganti kulit tidak berhasil, cincin tajam cuticula
ula yang sudah
tua dapat mengencangkan tubuhnya seperti sabuk, mengoyak dan
mencekik, dan dapat mengancam kehidupan. Jika proses ini belum
terlalu jauh, kita dapat secara hati-hati
hati menarik keluar kulit tuanya
tua
dengan tangan dan kuku.
Pengencangan akan menjadi kronis dan membentuk formasi luka
yang dalam, tapi bukan berarti lintah akan mati. Ketika tubuhnya
berbentuk jam pasir (mengecil di tengah), lintah masih dapat
bertahan beberapa waktu walaupun kemampuan berenangnya
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1]] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 64

melemah dan sempoyongan dalam air. Ini tergantung pada tingkat


kerusakan sistem syaraf, juga tanda kelumpuhan. Bagian atas
pengencangan biasanya relatif lengkap, sedangkan bagian bawah
pengencangan mungkin lumpuh sama sekali. Luka ini segera akan
berakhir dengan kematian, dimana pengencangan anatomi
khususnya dapat merusak pencernaan. Beberapa luka dapat
diterapi dengan meninggalkan lintah terluka tanpa diganggu di
lingkungan yang sesuai. Karena lintah memiliki kapasitas tinggi
untuk regenerasi, banyak yang hampir sembuh total dari luka
ringan ini. Tanpa terduga, istirahat berperan penting dalam
menerapi hampir semua penyakit lintah.
Dalam masalah makan dan reproduksi, kolam lintah yang ideal
sebaiknya berisi beberapa tipe amphibi dan ikan, dan sebaiknya
berfungsi sebagai tempat berair untuk hewan darat bertulang
belakang berdarah hangat. Bagi lintah, zat organik tinggi tidak
bermasalah, seperti halnya produk pengeluaran (termasuk dari
lintah), seperti amonium dan nitrit, atau logam berat dan racun
lingkungan lainnya. Karena lintah sangat sensitif pada logam berat,
lintah dapat digunakan sebagai indikator dari tingkat keracunan air.
Lintah juga sangat sensitif terhadap disinfektan (obat pembasmi
kuman). Kandungan chlorin yang sangat rendah dapat berakibat
fatal. Air kolam sebaiknya memiliki ph<7 dan selembut mungkin.
Jika kandungan oksigen terlalu rendah, lintah dapat memperoleh
oksigen melalui pernafasan kulit (di udara terbuka, oksigen dapat
masuk melalui dinding tubuhnya).
Selama proses pemeliharaan, lintah biasanya tinggal dekat
permukaan air, penghisap depan menempel di luar air dan
penghisap belakang di bawah permukaan (pada saat istirahat atau
merasa lapar). Lintah dapat merayap mencari makanan atau
menempel pada dinding bejana. Lintah sering menempelkan diri
pada permukaan horisontal (seperti penutup bejana) beberapa jam
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 65

pada suatu waktu. Lalu, mereka memposisikan dua penghisapnya


dengan kejauhan berbeda-beda satu sama lain, sehingga mirip
seperti lingkaran atau ayunan yang bergantung (Gambar 3.13.a).
Belum diketahui apakah aktivitas bergantung ini karena
pengeluaran energi pompa vakum penghisap dan kerongkongan
atau efek melekat khusus karena pengeluaran lendir yang lengket.
Namun, kelihatannya lintah relaks pada saat sedang bergantung.

Gambar 3.13.a

Gambar 3.13.b

Bentuk lintah saat baru saja


menggigit. Panjang totalnya
kira-kira 4 cm. Penghisap
depan (kanan) menghisap
dan penghisap belakang
(kiri) hanya berfungsi untuk
melekat.

Penampakan selama proses


makan. Penghisap depan
(kanan) tegak lurus
(perpendicular) terhadap
permukaan kulit, seperti
kail. Darah ditranspor ke
dalam perut dengan ritme
kontraksi gelombang.
Pada tahap awal makan,
kulit masih berlipat seperti
akordion. Permukaannya
bercahaya karena
pengeluaran komponen
cairan dari darah.

Foto : E.Schulte

Gambar 3.13.c
Penampakan lintah saat
hampir selesai makan.
Panjang total kira-kira 10
cm. Diameter penghisap
depan (kiri) kira-kira 0,6 cm.
Kulit menggelembung dan
lembut karena makanan
yang dihisap. Permukaan
kulit basah, karena tetesan
kecil lembab dari cairan
serum manusia. Ketika
perutnya penuh, berat lintah
dapat sepuluh kali berat
semula

Lintah tidak hanya meningkatkan aktivitas berenangnya pada saat


berburu, tetapi juga jika kandungan oksigen atau temperatur air
berubah. Pada masa lalu, ini dianggap sebagai respon atas
turunnya tekanan udara sebelum terjadi perubahan cuaca
mendadak dan lintah karenanya dipuji sebagai barometer
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 66

hidup(Gambar 3.14). Tahun 1851 di London, lintah dijadikan


peramal topan badai pada pameran besar peralatan industri dari
beberapa negara. Sayangnya, sejauh ini tidak seorang pun dapat
membuktikan pengakuan tersebut. Terapis melaporkan lintah
biasanya lebih aktif sebelum terjadi hujan lebat yang disertai angin
dan kilat dan jelas lebih ketakutan selama hujan angin tersebut.
Gambar 3.14
Lintah dapat merasakan ketika badai
akan datang. Berdasarkan hal itu
(belum dibuktikan sepenuhnya),
Dr. George Merrywheather
mempresentasikan barometer
lintah pada pameran besar di
London. Barometer ini terdiri dari 12
toples berisi lintah. Ketika tekanan
atmosfer berubah tiba-tiba, lintah
akan merayap ke atas dan
menyentuh pengungkit yang
dihubungkan dengan bel melalui
mekanisme perangkap tikus.
Sayangnya sistem peringatan cuaca
ini tidak begitu populer.
Foto : M. Packer

Aktivitas fisik dan pencernaan hewan poikilotermis (berubah-ubah


sesuai lingkungan) ini pada dasarnya seperti fungsi temperatur.
Pergerakan bayangan juga membuat lintah menjadi lebih aktif,
dipicu oleh instink berburu. Terlalu lama terkena cahaya matahari
dapat mematikan bagi lintah. Ironisnya, mereka kadang-kadang
tinggal di daerah yang terkena terangnya cahaya matahari pada
tepi sungai yang setengah kering hingga mereka menjadi kering
dan mati. Kelihatannya setelah mereka terkena radiasi dan
temperatur di ambang batas tertentu, instink perlindungan
terhadap diri sendiri melemahkan mereka. Seperti halnya semua
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 67

hewan poikilotermis, lintah menyukai terkena radiasi matahari.


Namun, sebaiknya dalam dosis sedang untuk menghindari
kematian yang tidak pada waktunya.
Lintah kadang-kadang naik ke permukaan tanpa alasan jelas dan
berenang bergelombang di daerah yang terkena matahari (jika air
kolam dan vegetasi mengizinkan). Ketika berenang, lintah tidak
menciptakan gelombang horisontal seperti kebanyakan ikan
melakukannya, tetapi seperti lumba-lumba, yaitu gelombang sinus
yang vertikal dengan tubuh mereka yang diulur panjang dan
mendatar. Aktivitas berenang ini adalah tanda lintah sedang lapar.
Lintah kenyang berperilaku sangat berbeda dari lintah lapar.
Setelah makan, lintah akan segera kembali ke dasar kolam dan
merayap ke bawah daun atau karang atau menyelip ke dalam celah
gelap untuk mencerna makanannya dengan tenang. Lintah yang
telah penuh darah memerlukan tempat bersembunyi yang aman
dan gelap untuk melindunginya dari musuh lapar dari jenisnya atau
jenis yang berbeda. Jika seseorang ingin memelihara lintah yang
telah selesai makan, lintah harus dipisahkan letaknya untuk
melindunginya dari temannya yang lapar. Karena terpisah dari
kolam, bejana sebaiknya menyediakan tempat bersembunyi
(karang, dll) untuk lintah.
Sebagai tambahan untuk mendeteksi pergerakan, temperatur, dan
bayangan, pancaran cairan khusus dari darah tampaknya berperan
penting bagi lintah dalam menentukan lokasi mangsa. Ini didukung
oleh pengamatan kira-kira dua hingga tiga minggu setelah makan,
lintah yang telah kenyang tidak lagi diserang oleh lintah lain.
Diasumsikan karena mereka tidak lagi mengeluarkan zat. Perilaku
kanibal mungkin berfungsi untuk menolong pembiakan lintah pada
saat makanan yang tersedia terbatas. Jika diserang hanya oleh satu
lintah, lintah yang diserang memiliki kesempatan baik untuk
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 68

bertahan, karena kapasitas regenerasi yang istimewa. Setelah atau


selama penyerangan, lintah yang menyerang secara tiba-tiba
biasanya memuntahkan darah yang dihisapnya. Lintah itu berbuat
demikian mungkin karena menciptakan pengalihan untuk
melarikan diri cepat-cepat. Strategi sama dapat diamati pada lintah
yang lebih tua ketika berusaha melindungi diri dari serangan kasar
lintah muda. Ini merupakan salah satu alasan mengapa tas linen
atau air dimana lintah ditransportasikan mungkin berlumuran
darah. Jika ada lebih dari satu penyerang, yang dapat terjadi pada
populasi padat, lintah biasanya mati karena luka atau komplikasi
yang terjadi setelahnya.
Fase awal pencernaan dapat berlangsung selama tiga bulan yang
diakhiri dengan muncul kembalinya nafsu makan dan produksi air
liur yang mencapai puncaknya. Jika telah betul-betul kenyang,
lintah akan bertahan hingga dua tahun atau lebih tanpa makan
lagi. Tergantung usia lintah, perlu sekitar 3-18 bulan untuk
menyelesaikan proses pencernaan dan 4-21 bulan untuk
mengosongkan perut. Cara hidup tenang memungkinkan lamanya
periode lapar. Pemanfaatan makanan secara optimal dicapai
melalui divertikulasi perut yang menghasilkan daerah ekstrim besar
untuk menyimpan makanan dan merendahkan metabolisme pada
periode istirahat.
Suasana yang aman dan tenang penting untuk daya tahan dan
reproduksi lintah. Jika dipelihara di akuarium bulat seperti bola,
lintah biasanya mencari tempat bersembunyi yang terlindung,
gelap, tenang di antara karang di dasar akuarium. Mereka juga
lebih menyukai tempat teduh ketika mencari mangsa. Pada
pandangan sekilas, kolam lintah kelihatan kosong hingga seseorang
membuat gelombang di air. Dalam beberapa detik, ratusan lintah
akan mulai berenang menuju sumber gangguan.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 69

Lintah harus makan dan menjatuhkan diri secepatnya sebelum


mangsanya meninggalkan kolam. Jika tidak, ada risiko terdampar di
tanah kering dan lintah akan mati karena dehidrasi yang terjadi
dalam waktu relatif pendek (beberapa jam). Akibatnya, lintah
harus cepat membandingkan rasa, temperatur, dan karakteristik
gerakan dari mangsa potensialnya dengan profil mangsa target
untuk menentukan apakah dapat dimakan. Lintah harus merasakan
panas saat menggigit. Temperatur ideal adalah sekitar 35-400C,
tergantung temperatur tubuh mamalia. Jika ukuran parameter
telah sesuai dengan profil mangsa yang diinginkan, lintah akan
langsung menggigit target. Lintah menempelkan penghisap
mulutnya tegak lurus dengan kulit dari sisa tubuhnya yang
menggantung ke bawah, membentuk karakteristik pengait. Bentuk
pengait ini tanda pasti bahwa lintah telah menggigit. Berikutnya
akan terlihat tiga rahang ovalnya bergerak berirama ke depan dan
belakang menyayat kulit, rata-rata dua kali per detik, dibantu
gerakan peristaltis yang sinkron dengan kerongkongan. Lintah terus
makan hingga reseptor di dinding tubuhnya memberikan tanda
saatnya untuk berhenti.
Sulit untuk menghentikan lintah yang sedang makan, walaupun
dengan menarik atau rangsangan keras lainnya. Jika seseorang
menghentikan lintah yang sedang makan, maka darah dapat
mengalir keluar tubuhnya. Lintah akan terus makan untuk
beberapa jam. Tindakan ini digunakan dalam bdellotomy29.
Pertama praktek ini kejam. Kedua, nilai terapi dipertanyakan,
karena tidak meningkatkan kuantitas air liur yang keluar dan
membuat luka terbuka selama beberapa jam, apapun yang terjadi.

29

Aplikasi bedah lintah; praktek memotong lintah untuk mengosongkan darahnya ketika mereka sedang
terus menghisap

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 70

Setelah terapi, atau waktu makan, lintah dapat memuntahkan


darah atau bahkan mati. Tidak ada korelasi antara kejadian ini dan
komposisi darah yang dihisap berdasarkan literatur yang tersedia
atau laporan yang diterima para ahli. Salah satu alasan mungkin
karena pengaturan klinik mengijinkan lintah makan dengan aman,
lebih daripada di habitat alaminya. Akibatnya, lintah cenderung
makan lama dan kelebihan. Kelebihan makan dihubungkan dengan
risiko gumpalan besar darah yang terbentuk di dalam perut lintah.
Karena air liur anti pengentalan darah tidak cukup tersisa untuk
melarutkan gumpalan darah, lintah harus memuntahkannya. Jika
tidak berfungsi, gumpalan darah sering membentuk noda keras
dan kencang, yang sering berakibat fatal bagi lintah.
Pada saat memeriksa air dalam bejana, perubahan merah darah
karena muntah harus dibedakan dengan coklat kehijauan karena
pengeluaran kotoran. Untuk membantu pencernaan lintah,
pemelihara dapat melarutkan 1-2 g garam laut dalam air bejana.
Penolakan untuk makan tidak berarti lintah tidak lapar. Setelah
kenyang lintah merubah perilakunya secara keseluruhan. Ia akan
menghindari tempat yang hangat, tidak bereaksi pada pergerakan
air dan perangsang kimia seperti darah atau keringat, dan mencari
tempat yang gelap di dasar air.
Lintah membutuhkan temperatur minimum 280C untuk
bereproduksi. Fluktuasi temperatur yang besar sebaiknya dihindari.
Di alam, lintah bertahan terbakar pada musim panas dan dingin
ekstrem di musim dingin di kolam pegunungan. Variasi temperatur
beraturan berguna bagi lintah. Revitalisasi populasi sering diamati
setelah dingin di musim dingin. Aktivitas lintah yang meningkat dan
menurun tergantung temperatur, sebaiknya dipertimbangkan
dalam perencanaan terapi. Dianjurkan untuk melaksanakan terapi
di tempat dingin pada saat hari panas dan sebaliknya. Panas dapat
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 71

membuat lintah sangat aktif, sedangkan dingin membuatnya


lamban. Temperatur optimal untuk perawatan jangka panjang dan
tujuan terapi adalah 4-80C, temperatur ruangan juga dapat
diterima. Fakta bahwa tingkat tumbuh bakteri juga meningkat dan
menurun sesuai temperatur adalah faktor lain untuk
dipertimbangkan.
Lintah dapat belajar. Jika kita mendorongnya ke dalam air pada
saat mereka berusaha keluar dari bejana, mereka pada akhirnya
akan berhenti untuk melarikan diri. Proses belajar ini terjadi dalam
tiga tahap. Tahap pertama, ketika pertama kali diletakkan dalam
bejana, mereka akan gelisah dan terus berusaha keluar. Lintah
benar-benar artis melarikan diri. Mereka dapat merubah ukuran
tubuhnya, sehingga pas melalui lubang dan celah kecil. Tutuplah
bejana erat-erat pada tahap ini. Tahap kedua, lintah tidak terlalu
gelisah. Usaha untuk melarikan diri gagal dan mereka belajar
bahwa tidak mungkin melarikan diri, walaupun tetap berusaha saat
kesempatan ada di depan mata. Ketiadaan penutup biasanya tidak
diperhatikan. Jika mereka berusaha untuk melarikan diri, kepala
lintah akan berada pada tempat persembunyian yang gelap,
dimana mereka akan mati karena dehidrasi jika tidak cepat
ditemukan. Karena menyusut ketika kehilangan air, mereka jadi
mudah terlihat. Pada tahap ketiga, lintah telah hampir sepenuhnya
putus asa terhadap ide melarikan diri. Sekarang kita dapat
membiarkan bejana terbuka, walaupun seharian, lintah tidak akan
berusaha melarikan diri. Memori mereka menghapus fakta ada
jalan keluar. Jika ditinggalkan tanpa gangguan dalam akuarium
untuk satu atau dua bulan, walaupun lapar dan sangat aktif lintah
akan melupakan ada kesempatan walaupun kita membuat
gelombang di air. Lintah akan berenang mengelilingi akuarium. Jika
salah satu lintah tiba-tiba punya ide berenang ke atas, yang lain
akan mengikuti. Jadi, jangan pernah meninggalkan bejana dalam
keadaan terbuka.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 72

Reproduksi
Hirudo medicinalis dan Hirudo verbana tidak bersifat
hermaphroditic secara simultan, namun protandrous. Dengan kata
lain, lintah pertama kali berkelamin jantan, kemudian betina.
Lintah mencapai kematangan seksualnya pada usia dua hingga
empat tahun, tergantung frekuensi dan kualitas makanan yang
dikonsumsi. Darah mamalia penting untuk kematangan seksualnya.
Lintah tidak bereproduksi dengan menghamili diri sendiri tapi
bersetubuh dengan lintah lainnya. Persetubuhan biasanya terjadi
di bulan musim panas, baik di dalam maupun di luar air dan dapat
berlangsung selama 18 jam. Karena lintah dapat menyimpan
sperma di dalam kandung telurnya, waktu antara persetubuhan
dan peletakan telur dapat berkisar antara satu hingga sembilan
bulan. Telur diletakkan dalam kepompong, biasanya disimpan
dalam lubang yang digali di tanah pinggir kolam. Kepompong
diproduksi oleh clitellum, daerah kaya kelenjar yang berlokasi di
depan tubuh lintah. Dengan kontraksi otot yang cepat, cairan
berlimaph yang keluar dari clitellum dikocok dan berubah jadi krim.
Lintah lalu menginjeksi 10-30 telur dan zat putih telur hirudoin
yang bergizi ke dalam kepompong. Setelah lintah mencabut
injeksinya, hirudoin berangsur-angsur menjadi keras dan berubah
menjadi putih dan coklat kekuningteluran. Kepompong yang
tersimpan memiliki lapisan yang halus dan terisi oleh zat protein
kenyal berwarna coklat kekuningteluran. Kepompong menyimpan
air dan melindungi embrio dari dehidrasi.
Ketika bermunculan dari kepompong, ibu lintah membuat dua
lubang kecil pada masing-masing kepompong yang sekarang
berbentuk oval. Lubang berdiameter sekitar 0,5-1 mm, menolong
lintah muda untuk membebaskan diri dari kepompong. Setelah
perkembangan mencapai kesempurnaan, lintah yang baru menetas
memiliki panjang 1-2 cm dan diameter 1-1,5 mm. Mereka tidak
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 73

mengalami metamorphosis (perubahan bentuk) setelah menetas.


Ketika lintah menetas, tubuhnya sama dengan tubuh lintah
dewasa, namun tanpa organ seks. Lamanya kejadian embrio
tergantung dari temperatur, dan berakhir selama beberapa hari
atau selama musim dingin. Pada usia sekitar tiga minggu, lintah
muda telah dapat menusuk kulit mangsanya. Para ahli telah
melihat bagaimana lintah muda dapat bertahan tanpa makanan
hingga enam bulan setelah menetas. Lintah muda akan kembali ke
dekat kepompong, mungkin untuk makan kuning telur.
Sekelompok lintah muda kadang-kadang membentuk klaster
(kelompok) dalam tanah di pinggir kolam, mungkin merupakan
lanjutan dari kebiasaannya (Gambar 3.15).

Gambar 3.15
Klaster lintah muda berusia kira-kira 4 minggu. Panjangnya 2 cm.
Mereka telah berkembang sempurna, walaupun belum memiliki organ seks.
Mereka tidak akan mengalami metamorphosis. Lintah muda dan tua membentuk klaster
berdasarkan kondisi yang berbeda. Foto : M.Roth

Lintah dewasa meletakkan delapan atau lebih kepompong dalam


periode 5-12 hari selama satu musim panas. Seperti semua parasit,
mereka memproduksi banyak keturunan, karena akan mengalami
beberapa kali serangan yang membahayakan hidupnya. Jika seekor
lintah dapat meletakkan empat kepompong berisi 15 telur setiap
tahun, maka akan ada 60 keturunan per tahun, yang akan mati
sebelum sempurna perkembangannya karena kelaparan,
perburuan dan penyakit.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 74

Memelihara lintah dan mengembangbiakkan di pusat pembiakan


Lintah sebaiknya dipesan lebih awal, sehingga cukup waktu
untuk beristirahat, dua hingga tiga hari sebelum dipergunakan
untuk terapi. Pemesanan suplai lintah yang berlebihan tidak
direkomendasikan, kecuali tersedia orang atau peralatan untuk
memelihara secara tepat
Lintah mati atau sakit harus dikeluarkan pada saat datang.
Gejalanya yaitu berbau busuk, berkulit lembek dan kendur,
pucat, bernoda keras, berkutil kecil, tubuhnya mengecil secara
abnormal, kepala membengkak, berbisul, berjerawat, berbibir
merah, diselubungi lendir putih, ada bekas luka atau darah.
Ketika akan dipindahkan dari tempat pengiriman, lintah
sebaiknya dicuci dengan semprotan lembut air suam-suam kuku
Ukuran lintah awal tergantung status usia dan makannya. Lintah
berukuran sedang, 5-7 cm dipilih untuk terapi pada manusia.
Lintah yang lebih kecil biasanya digunakan untuk terapi pada
bagian wajah, untuk mengindari terjadinya luka. Lintah yang
lebih besar digunakan untuk pengobatan pada hewan, misalnya
kuda.
Peralatan yang direkomendasikan untuk memelihara lintah :

1. Bejana lintah dan asesorisnya


Bejana dapat dibeli atau dibuat sendiri. Bejana dari kaca
memudahkan untuk memeriksa lintah, sedangkan bejana dari
tanah liat dapat disterilisasi dengan cara dipanaskan. Setiap kali
dicuci, semua sisa disinfektan atau deterjen harus dihilangkan.
Bejana dengan volume dua hingga tiga liter diisi tiga
perempatnya dengan air dapat dijadikan tempat penyimpanan
sementara. Satu liter air cukup untuk penyimpanan 15-20 lintah
dalam jangka pendek (maksimum dua hingga tiga minggu
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 75

dengan penggantian air yang sering). Untuk penyimpanan


jangka panjang, jumlah lintah harus dikurangi. Batu bebas
kalsium berujung tajam sebaiknya diletakkan di dasar tempat
penyimpanan, untuk membantu lintah berganti kulit. Karena
lintah dapat melarikan diri melalui celah kecil, penutup
sebaiknya dari terbuat dari kain kasa yang ujungnya diikat erat
dengan plester elastis. Perusahaan peternakan lintah ZAUG, di
Biebertal, Jerman menyediakan dua jenis bejana lintah. Pertama
terbuat dari gelas, dinamakan Leach Eye (mata lintah)
(Gambar 3.16.a), kedua terbuat dari tanah liat dinamakan
Leach Pot (bejana lintah) (Gambar 3.16.b).

Gambar 3.16.a
Akuarium lintah bernama Mata Lintah
buatan perusahaan ZAUG, Biebertal, Jerman
dapat menampung hingga 20 lintah.
Sistem yang terbuat dari lensa ini selain
indah dilihat juga cocok untuk penyimpanan
jangka panjang.
Foto : M.Roth

Gambar 3.16.b
Bejana lintah terbuat dari tanah liat,
dapat menampung hingga 30 lintah.
Lubang-lubang di dalamnya memiliki
permukaan tajam, untuk membantu
lintah berganti kulit. Bagian luarnya diisi
air, bagian dalamnya dapat dimasukkan
dan dikeluarkan sesuai kebutuhan,
sehingga mudah mengganti air.
Foto : M.Roth

Alas akuarium berfungsi seperti lensa optis. Sistem ini dilengkapi


batu-batuan dan alang-alang air, tanaman berdaun keras, untuk
memfasilitasi proses ganti kulit. Tanaman juga menyerap produk
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 76

metabolisme lintah dan memproduksi oksigen. Di dalamnya


dapat diisi dengan 30 lintah untuk jangka panjang dengan sedikit
atau tanpa perawatan sama sekali. Keuntungannya melalui lensa
kita dapat selalu memandang lintah dengan warna warni yang
indah. Ini membantu pasien merubah kecurigaan atau
kekuatirannya terhadap lintah. Akuarium ini juga merupakan
hiasan yang menarik perhatian. Bejana lintah direkomendasikan
karena kepraktisan dengan kapasitas yang besar. Keuntungannya
dapat lebih mudah dalam membersihkan dan memindahkan
lintah. Lubang-lubang di dalamnya berujung tajam untuk
membantu lintah menggosok dan melucuti kulit tuanya. Karena
ada kecenderungan kanibalistis, status makan dari semua lintah
yang disimpan dalam satu tempat sebaiknya sama.
Air yang kualitasnya harus memenuhi persyaratan :
-bebas chlorin
-kekerasan karbon < 9dGH (sistem Jerman)
-ph < 7
-kadar ammonium<0,5 mg?L
-kadar nitrat <25mg/L, nitrit <0,4 mg/L
-tidak mengandung logam berat
Air hujan adalah sumber air yang baik sekali, karena biasanya
memiliki pH rendah dan kurang kalsium. Mata air dan air sumur
mungkin memiliki konsentrasi kalsium tinggi, karena itu sebelum
digunakan, harus diuji kandungan kimia dan mikrobiologinya. Jika
air pancuran di rumah tidak sesuai untuk lintah, tanyalah pada
perusahaan pensuplai mengenai komposisi air. Kita dapat
membuat air yang kandungannya tepat untuk lintah sebagai
berikut : air yang dideionisasi atau disuling dapat digunakan,
namun perlu ditambah mineral. Tambahkan sekitar 0,3-0,5 gr
garam laut (di toko akuarium) pada setiap liter air suling.
Hasilnya akan sama dengan air kolam buatan. Jika tingkat
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 77

penyerapan oksigen dari air sangat rendah, lintah akan naik ke


permukaan. Bagian tubuh bawahnya akan tetap berada dalam
air, sedangkan bagian atas tubuhnya berada di udara terbuka
untuk pernafasan kulit. Karena lintah dapat beralih ke
pernafasan kulit pada saat kekurangan oksigen, maka tidak
diperlukan pompa oksigen

2. Pembersihan dan penggantian air


Status mikrobiologi lintah juga penting untuk terapi. Semakin
rendah jumlah bakteri, semakin baik untuk pasien. Namun,
jumlah bakteri yang semakin tinggi, semakin sehat untuk lintah.
Semakin besar tingkat sterilisasi, semakin tinggi stres biologis
hewan. Aeromonas biovar sobria, bakteri utama lintah, penting
bagi pencernaan lintah. Lintah mengeluarkan bakteri hidup di
dinding bejana. Jika akan digunakan satu hingga tiga hari setelah
kedatangan, lintah sebaiknya dicuci di bawah pancuran air suamsuam kuku ketika dipindahkan dari bejananya, dua hingga tiga
jam sebelum terapi.
Jika lintah akan dipelihara untuk periode waktu yang lama, air
sebaiknya diganti tiap keesokan harinya. Bersihkan bejana
sebelum pengisian kembali agar mengurangi kepadatan bakteri.
Gunakan bejana lain (misalnya satu digunakan untuk mengisolasi
lintah sebelum digunakan) untuk memudahkan prosedur.
Gantilah air sekurang-kurangnya keesokan harinya untuk
meminimasi jumlah bakteri (khususnya Aeromonas). Untuk
penyimpanan lintah jangka panjang, awalnya cukup diganti
seminggu sekali, lalu setiap hari dan lakukan disinfeksi secara
teratur (sekali seminggu). Jika memungkinkan, gunakan air
mendidih untuk mensterilisasi bejana.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 78

Kulit luar lintah yang mengelupas saat berganti kulit membentuk


selubung abu-abu hingga putih, tergantung pada kandungan
lendir dalam air, yang kadang-kadang dapat dilihat ketika
mengganti air. Kulit ini dapat secara mudah dibuang dengan
menuangkan air melalui penyaring kecil. Hindari memasukkan
lintah pada air dengan perbedaan temperatur yang tinggi setelah
mengganti air. Perubahan warna air menjadi merah darah
mungkin berhubungan dengan darah yang dimuntahkan atau
terjadinya kanibalisme (lintah sebaiknya ditempatkan dengan
lintah lain yang memiliki status makan yang sama untuk
menghindari kanibalisme). Air sebaiknya diganti, jika masalah ini
terdeteksi. Jika kanibalisme terjadi, lintah yang melakukannya
harus diidentifikasi dan dipindahkan. Perubahan air menjadi
coklat kehijauan (hijau rumput) terjadi karena pembuangan
kotoran lintah. Dalam kasus ini, air juga sebaiknya diganti.

3. Makanan lintah
Karena lintah dapat bertahan hingga dua tahun tanpa makanan,
umumnya tidak perlu memberi makan mereka.

4. Temperatur dan cahaya


Perubahan ekstrem temperatur dan cahaya dapat merugikan
lintah. Mereka akan hidup tenang dan sehat di tempat yang agak
gelap dan dingin (idealnya sekitar 8oC) untuk penyimpanan
jangka panjang.

5. Suasana sepi adalah penting bagi lintah


Jika dibiarkan tanpa gangguan, lintah dapat berkembang biak
sangat cepat, membutuhkan lebih rendah oksigen, berkembang
biak lebih sering, dan lebih mau makan. Lintah menghasilkan
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 79

kotoran lebih sedikit di air karena metabolisme terbatas. Setelah


menyelesaikan tugasnya, terapis dapat mengembalikan lintah ke
pusat pembiakan yang memiliki kolam peristirahatan. Jika
lintah yang telah digunakan akan dibunuh, para ahli
merekomendasikan metode lembut pembekuan makhluk
berdarah dingin. Setelah dibekukan, lintah dapat diletakkan
dalam larutan alkohol 90% jika diinginkan.

Referensi Tambahan
1. Arndt W., Die Rohstoffe des Tierreichts- Als Heilmittel gebrauchte Stoffe (Bd.2. Blutegel).
Berlin : 1940.
2. Kutschera U. Species concepts: leeches versus bacteria. Lauterbornia : 52 :1-5.
3. Mller IW. Handbuch der Blutegeltherapie. Heidelberg : Haug : 2000

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 80

4. Teknik Terapi Lintah


Terapi lintah tidak perlu dilakukan pada waktu yang khusus.
Namun lebih baik dilakukan pada pagi atau tengah hari, karena
lintah memerlukan waktu hingga dua jam untuk menyelesaikan
proses makannya. Terapi pagi hari juga memudahkan dalam
memonitor pasien selama beberapa jam, menjawab berbagai
pertanyaan, dan menyediakan perawatan tambahan jika
dibutuhkan. Pasien yang telah dapat diandalkan dan
berpengalaman memonitor lintah sendiri dapat diskedulkan pada
siang hari, jika hanya beberapa lintah yang digunakan.
Kondisi cuaca tertentu dapat mempengaruhi perilaku lintah. Lintah
tidak mau makan saat cuaca sangat lembab atau terjadi badai.
Kelembaban dan perubahan tekanan udara juga dapat
mempengaruhi pasien dengan tekanan darah rendah, yang
bermasalah dalam pengaturan sistem syaraf otonomi dan sirkulasi.
Prosedur terapi sebaiknya diatur sehingga dapat dilakukan secara
tenang dan efisien tanpa diburu-buru waktu, karena kegelisahan
terapis dapat menyebar ke semua proses terapi.
Dalam melakukan persiapan, pasien perlu mengetahui prosedur
terapi secara detail, sehingga dapat mengetahui dengan tepat apa
yang diharapkan dan apa yang harus dilakukan selama dan setelah
terapi. Pengukuran dan pengenduran syaraf pasien juga dapat
dilakukan untuk menentramkan. Sifat terlalu cemas dapat
menyebabkan terjadinya penurunan aliran darah dan temperatur
secara ekstrem (sympatheticotonia). Sulit membuat lintah mau
menghisap pada bagian yang jauh dari struktur utama tubuh,
misalnya pada bagian sambungan tangan dan kaki. Terapi panas
untuk menghangatkan daerah target dapat membantu.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 81

Peralatan berikut dibutuhkan dan sebaiknya disiapkan sebelum


memulai terapi (Gambar 4.1.):
Lintah yang segar, belum pernah dipakai dan bersih (dikirim
sekurang-kurangnya 24 jam sebelumnya)
Bejana kecil dengan penutup untuk lintah yang telah digunakan;
sebaiknya sebagian diisi air
Handuk dan kapas tahan air
Alas dari kain, gulungan pembalut dengan daya serap cairan tinggi
Plester yang melekat
Air panas dan dingin
Gunting, pisau cukur sekali pakai
Sarung tangan bedah
Pipa dari kaca, mangkuk kecil atau alat penyemprot sekali pakai
jika dibutuhkan
Alat pengukur tekanan darah
Obat-obatan alergi, alat injeksi, pisau bedah/lancet, atau jarum

Sumber : Michalsen, dkk, 2007

Gambar 4.1.
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk terapi lintah,
yang harus dikumpulkan sebelum terapi dimulai
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 82

Pengukuran Kesiapan Kulit


Parfum, obat kimia dan obat luar sebaiknya tidak digunakan pada
kulit yang akan diterapi minimal dua hari sebelumnya. Bau
disinfektan (obat pembasmi kuman) dapat membuat lintah tidak
mau menggigit. Kondisi aseptik (steril) tidak mungkin dicapai tanpa
membunuh lintah. Rambut di tempat aplikasi perlu dicukur,
janggut sebaiknya dicukur bersih, karena rambut yang masih
pendek dan tajam dapat menghalangi lintah. Gosoklah kulit hingga
kering dan kemerah-merahan, kelebihan darah pada suatu organ
(hiperemisasi) membantu lintah cepat menggigit. Alat untuk
merangsang aliran darah dan memperlembut kulit (spons atau alas
kain panas, cahaya merah, merendam tangan atau kaki pada air
hangat atau panas) dapat membujuk lintah untuk menggigit, tetapi
jarang diperlukan kecuali jika terapi dilakukan pada tempat yang
jauh dari bagian tengah tubuh (peripheral) seperti pada
sambungan tangan atau kaki (misalnya nyeri tulang sendi tangan
rhizarthrosis30). Terapi bekam (cupping) juga tepat untuk
menstimulasi aliran darah sebelum terapi. Kulit yang basah
memudahkan lintah untuk menempelkan penghisapnya, dan
memfasilitasi proses makannya. Tidak perlu memakai air bergula
untuk memikat lintah.

Prosedur aplikasi terapi lintah


Pemilihan lintah
Terapis sebaiknya hanya menggunakan lintah yang sehat dan aktif,
tidak sedang berganti kulit atau istirahat tanpa energi pada dasar
bejana.
30

Berkurangnya fungsi sambungan tulang sendi tangan, cirinya adalah goresan yang mengakibatkan
kemerosotan secara cepat permukaan sambungan dengan tulang baru di persambungan

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 83

Lintah yang ideal adalah:

Berenang dengan cepat dan aktif dalam air


Segera menempel jika diletakkan dalam bejana
Segera membentuk huruf O jika disentuh, dan mengulurkan
kepala maju untuk mencari arah gerakan

Lintah berukuran kecil dan sedang sebaiknya digunakan, karena


gigitan lintah kecil biasanya tidak menyakitkan dan cenderung lebih
cepat sembuh.

Pelaksanaan terapi lintah


Terapi lintah saat ini tidak terlalu berbeda dari metode yang
dijelaskan Ibnu Sina 1000 tahun yang lalu. Ibnu Sina bersikeras
tidak hanya pada kebersihan lintah, tapi juga tempat aplikasi dan
tangan terapis (Robert et al., 2000).
Lintah sebaiknya dikeluarkan dari bejana dengan tangan. Sarung
tangan dapat melindungi tangan dari gigitan lintah. Alas dari kain
dapat memudahkan untuk menggenggam lintah. Jika lintah
menempel pada sarung tangan, pindahkan secara perlahan
penghisapnya. Jangan menggunakan pinset atau alat tajam yang
dapat melukai lintah.
Jika akan menerapi daerah yang relatif besar, misalnya nyeri di
bagian punggung, beberapa lintah dapat digunakan pada satu
waktu. Pegang alas kain yang besar pada satu tangan dan letakkan
satu hingga tiga lintah pada kain, letakkan lintah secara lembut
pada daerah target dan turunkan sudut kain. Lepaskan kain setelah
pasien merasakan gigitan beruntun atau nyeri lokal yang berirama.
Gerakan berdenyut dapat dilihat pada lengkungan leher lintah.
Jaga agar daerah target tetap hangat dan gelap dengan
menutupnya memakai handuk atau material lain.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 84

Jika akan menerapi daerah yang kecil, lintah yang digunakan hanya
satu ekor. Genggam bagian ekor lintah di antara jempol dan jari
telunjuk secara lembut, dengan kain jika diperlukan, dan
rendahkan kepalanya (lebih sempit dan ujungnya lancip) ke arah
target. Kemudikan lintah kembali pada target sampai ia menggigit
dan mulai makan. Tempat aplikasi yang basah, kadang-kadang
membantu lintah menggigit lebih cepat.
Jika lintah menempelkan penghisap pada tempat yang salah tetapi
belum menggigit, terapis dapat dengan hati-hati memasukkan
kuku jari di pinggir bawah penghisap untuk melepaskannya. Tipuan
lain adalah potongan lubang film dan plester yang diatur hingga
lubang berada di atas tempat yang diinginkan (misalnya
persambungan jempol pada pasien dengan rhizarthrosis). Pipa kaca
kecil, alat semprot sekali pakai yang bagian bawahnya dipotong
(Gambar 4.2) atau mangkuk kecil dapat digunakan, agar dapat
menyeleksi satu atau lebih lintah pada satu atau lebih daerah
target secara selektif. Sebelum memindahkan mangkuk, terapis
perlu memeriksa apakah lintah sudah mulai makan.

Sumber : Clinic of immunology and allergology "Forpost"

Gambar 4.2
Alat semprot sekali pakai untuk membantu
lintah menggigit di titik yang tepat

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 85

Jika akan menggunakan pipa penyemprot terbuka (2 ml, atau 5 ml,


tergantung pada ukuran lintah), potonglah bagian bawahnya, apa
adanya atau serong, lalu perhaluslah ujungnya di bawah api. Tarik
keluar pipa penyemprot dan biarkan lintah merayap di punggung.
Gunakan pipa penyemprot atau potongan kain kasa untuk
membantu lintah yang telah merayap jauh agar kepalanya masih
menyentuh daerah aplikasi. Ketika lintah mulai makan, lepaslah
alat penghisap, sehingga ada cukup ruangan untuk membesar pada
saat makan. Jika lintah gagal untuk menggigit tanpa alasan yang
jelas, tusuklah kulit pasien dengan jarum atau lancet steril untuk
mengeluarkan beberapa tetes darah yang dapat menarik lintah
untuk makan.
Catatan : Jika lintah telah ada kontak dengan darah pasien tetapi
gagal menggigit, maka sebaiknya, dengan alasan apapun, tidak
menggunakannya pada pasien lain dan juga jangan dikembalikan
pada bejana tempat penyimpanan lintah segar lainnya.
Menurut Ibnu Sina dan al-Baghdadi dalam kitabnya al-Qanun fi alTibb dan al-Mukhtarat fi al-Tibb, lintah dapat dipakai secara
berulang tetapi harus berhati-hati terhadap risiko infeksi-silang.
Karena ada kemungkinan risiko menggunakan lintah secara
berlebihan, al-Baghdadi dan dokter muslim lainnya menyarankan
lintah perlu dibersihkan. Kotoran atau debu yang melekat pada
tubuh lintah sebaiknya diseka sebelum terapi. Ketika lintah telah
menghisap darah dan akan jatuh ke bawah, garam sebaiknya
ditaburkan di bagian tubuh yang luka. Berikut ini kata-kata alBaghdadi : Ketika lintah akan digunakan, mereka harus disimpan selama
sehari baru dipakai. Jika lintah tidak mau menempel, darah segar sebaiknya
dituangkan atau dialirkan atau tanah liat yang diremukkan atau dilumatkan
dipercikkan di bagian luka dan jika tubuh telah bebas dari luka, tubuh sebaiknya
diusap hingga merah.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 86

Proses Makan
Lintah sebaiknya tidak diganggu pada saat makan. Jika
memungkinkan, sebaiknya ditutupi kain dan kapas untuk
melindungi lintah dari dingin dan cahaya, juga melindungi kulit
pasien dari kedinginan. Material yang menutupi juga menyerap
cairan encer yang dikeluarkan lintah pada saat makan (air dan
kelebihan serum darah). Pasien sebaiknya berada dalam posisi
yang nyaman dan lintah memiliki cukup tempat untuk makan
tanpa risiko lepas atau remuk.
Catatan : serum darah yang dikeluarkan lintah berpotensi untuk
menyebabkan infeksi sebagaimana darah itu sendiri. Karena itu,
terapis sebaiknya melakukan pencegahan yang diperlukan.
Setelah selesai makan, lintah akan segera meninggalkan pasien,
biasanya memerlukan waktu sekitar 20-60 menit. Pada bagian
tubuh yang berlimpah dengan darah, lintah dapat selesai makan
dalam waktu 10 menit, tetapi pada kondisi yang tidak diinginkan,
lintah dapat makan lebih dari dua jam. Kadang-kadang lintah yang
telah kenyang akan tetap menempel dan tanpa gerakan. Tepukan
atau sentuhan lembut dengan kain dapat menolong lintah untuk
bangun dan meneruskan makan atau melepaskan diri. Jangan
menggunakan kekerasan untuk membuat lintah melepaskan
gigitannya. Ini dapat mengakibatkan komplikasi infeksi. Kekerasan
juga dapat membuat lintah memuntahkan isi perutnya ke dalam
luka, yang menyebabkan infeksi. Cara yang tepat untuk membuat
lintah melepaskan diri adalah menggoyangkan dengan lembut
seluruh tubuhnya beberapa kali atau melepaskan penghisap
belakangnya dengan kuku jari secara lembut, sehingga lintah akan
terdorong ke bawah dengan berat badannya. Lintah lalu
menjatuhkan diri dari pasien dengan kemauannya sendiri. Para ahli
menyarankan tidak menggunakan garam atau bahan lain untuk
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 87

membuat lintah pergi, melukai atau mengejutkannya. Hal ini dapat


membuat lintah memuntahkan isi perutnya ke dalam luka, yang
dapat menyebabkan luka menjadi infeksi.

Setelah terapi
Tiga rahang lintah membuat bekas luka tiga gigitan. Setelah lintah
melepaskan diri, biasanya terjadi perdarahan akibat luka bekas
gigitan, yang akan berhenti sekitar 3-12 jam. Perdarahan lanjutan
dapat terjadi lebih dari 24 jam jika digunakan lintah yang lebih
besar. Pengeringan darah secara perlahan adalah bagian penting
dari terapi. Menurut pengalaman pada ahli, pemberhentian
perdarahan lebih dini biasanya akan membawa efek terapi yang
lebih buruk dan tingkat infeksi yang lebih tinggi. Aliran darah
mengurangi penyumbatan vena dan mencegah komplikasi dengan
mengeluarkan bakteri yang mungkin memasuki luka.
Jika aliran darah yang keluar lancar, maka terapis dapat menutup
luka secara longgar, dan memeriksa tingkat perdarahan 15-30
menit kemudian. Jika memuaskan, pasien dapat mengenakan
pembalut longgar. Pengurangan dan peningkatan gejala sebagai
respon terapi menyebabkan pasien bergerak berlebihan dan dapat
meningkatkan perdarahan. Sebagai pencegahan, pasien disarankan
agar tidak mengkonsumsi cairan, karena dapat merangsang aliran
darah, sehingga meningkatkan pengeluaran air. Pasien juga
diperingatkan bahwa tekanan darahnya akan sedikit lebih rendah
setelah terapi, karena pengaruh istirahat dan terjadinya
perdarahan pada luka.
Pembalut utama sebaiknya terdiri dari kain steril yang ditutupi
dengan beberapa cm kain kasa yang cukup besar dan tebal untuk
dapat menyerap semua darah yang keluar dari luka. Lapisan kain
sebaiknya longgar dengan pembalut kasa yang tidak ketat agar
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 88

tidak menghalangi aliran darah. Ketika akan menerapi daerah yang


luas, khususnya di bagian tubuh, lebih mudah untuk menguatkan
pembalut dengan handuk yang dikaitkan dengan peniti atau
plester tambahan. Pasien sebaiknya disarankan untuk mengenakan
pakaian yang mudah digunakan dan cukup longgar. Biasanya
perdarahan akan berhenti pada hari berikutnya, dan pakaian
normal dapat digunakan. Perdarahan kecil dapat terjadi jika
pakaian mengenai kerak luka yang telah mengering dan dapat tibatiba terlepas ketika berganti pakaian.
Kerak kering luka akan terlepas dengan sendirinya setelah satu
minggu atau lebih. Luka sebaiknya ditutup dengan plester untuk
menghindarkan terjadinya infeksi karena garukan jika luka mulai
terasa gatal dan untuk melindungi luka dari tarikan dan ikatan
pakaian. Pasien juga sebaiknya menghindari pemakaian air yang
berlebihan dalam beberapa hari agar kerak kering pada luka tidak
lepas sebelum waktunya. Plester kedap air terbukti efektif untuk
pasien yang melakukan terapi air atau berenang beberapa hari
setelah pelaksanaan terapi lintah. Setelah itu plester kedap air
dapat diganti dengan plester normal.
Para ahli merekomendasikan untuk memberikan surat edaran
berisi instruksi (lihat Lampiran) yang menjelaskan apa yang
sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan; terapis juga sebaiknya
memperhatikan surat edaran instruksi pada catatan pasien.
Sebagai tambahan, pasien diberikan telepon emergensi agar dapat
menelepon jika terjadi efek yang merugikan.
Luka gigitan tentunya adalah konsekuensi yang tidak dapat
dihindarkan dari terapi lintah, dan mungkin meninggalkan luka
pada pasien yang cenderung mengembangkan keloid31. Tergantung
31

Jaringan parut dengan bentuk tidak teratur yang jelas meninggi dan membesar secara progresif, akibat
pembentukan kolagen yang berlebihan dalam lapisan korium selama perbaikan jaringan ikat

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 89

pada jenis kulit, hilangnya zat pewarna tubuh (depigmentasi32)


biasanya terjadi di daerah gigitan dan berlangsung dalam periode
waktu tak tentu. Sisi luka bekas tiga gigi akan mengalami
pembengkakan selama 12-48 jam, dimana pasien mungkin
merasakan sedikit kenaikan tekanan darah, panas dan kemerahan,
karena pelebaran pembuluh darah. Sedikit koyakan dan denyutan
mungkin akan juga dirasakan. Daerah luka akan berubah warna
seperti luka memar. Pada awalnya menjadi merah pudar dan ungu,
lalu berubah menjadi kuning setelah sekitar dua minggu.
Perubahan warna adalah normal dan bukan merupakan tanda
infeksi, jadi tidak memerlukan terapi. Luka bekas gigitan akan
segera mengecil ukurannya, menjadi pudar dan tidak dapat dilihat
lagi setelah beberapa minggu. Gigitan lintah yang menyembuhkan
seringkali berhubungan dengan tingkat rasa gatal, sama dengan
gigitan nyamuk besar. Kain yang dicelup dengan cuka, rendaman
air atau dadih susu kental untuk dibuat keju dapat menghindarkan
rasa gatal (Gambar 4.3).

Gambar 4.3. Dadih (curd)


Foto : David B. Fankhauser, Ph.D

Perdarahan yang berlebihan adalah komplikasi yang jarang terjadi


pada terapi lintah. Kasus-kasus yang dapat dikenal secara historis
32

Pembuangan atau hilangnya pigmen (zat pewarna yang normal atau abnormal pada tubuh)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 90

dapat disebabkan oleh penggunaan lintah yang berlebihan dan


kontraindikasi yang tidak dipedulikan. Lintah besar dapat
menyebabkan kehilangan banyak darah jika ditempatkan di
pembuluh darah utama dekat permukaan tubuh. Cara sederhana
dan dapat dipercaya untuk menghentikan perdarahan adalah
dengan menekan plester luka. Jika dibutuhkan, penjahitan atau
kauterisasi (penempelan besi panas, pembakaran atau
pembekuan) adalah lebih efisien.
Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi sekunder, karena
pemberhentian perdarahan lebih dini atau kerak kering luka lepas
akibat pasien berganti pakaian atau digaruk, dimana bakteri kulit
dapat masuk ke dalam luka. Jadi, mental pasien disiapkan agar
tidak menggaruk dan menghindarkan garukan dengan memakai
baju yang sesuai. Peringatan khusus dibutuhkan jika luka berlokasi
di bagian tempat yang merangsang keinginan untuk menggaruk,
misalnya di tempat pakaian seringkali menyapu kulit.

Referensi Tambahan
1.
2.

Dr. Nurdeen Deuraseh, Health and Medicine in The Islamic Tradition based on the Book
of Medicine (Kitab al-Tibb) of Sahih al-Bukhari, UPM, Selangor, Malaysia
E. Wittke-Michalsen, The Technique of Leech Therapy, Medicinal Leech Therapy,
Thieme, Germany, 2007.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 91

5. Indikasi Terapi Lintah


Varises (Varicose Vein)
Penyakit varises33 (Gambar 5.1) adalah salah satu indikasi terapi
lintah yang paling tepat. Banyak kasus dan penelitian telah
dilaporkan termasuk kemujaraban terapi lintah untuk pencegahan
terjadinya pembekuan darah (trombosis34) setelah operasi. Ini
terjadi sebelum adanya obat kimia sintetis, heparin, yang saat ini
menjadi standar untuk pencegahan varises.

Sumber : Wikipedia

Gambar 5.1 Varises (Varicose Vein)

Terapi lintah yang dilakukan setelah operasi untuk pencegahan


pembekuan darah diusulkan oleh ahli bedah Perancis, Termier,
tahun 1920an. Rekomendasinya diadopsi pertama kali di Perancis,
kemudian diimplementasikan secara sukses di beberapa rumah
sakit di seluruh dunia. Selain memiliki efek menghilangkan
33

34

Varicose vein adalah vena yang bengkak dan berkenjal-kenjal, biasanya terjadi di kaki (paha dan betis),
pergelangan kaki dan telapak kaki. Penyebabnya adalah sirkulasi darah yang melalui anggota tubuh
yang lebih rendah tidak kembali lagi ke jantung dan berkumpul di vena yang menggelembung. Dialami
oleh 40% wanita dan 20% pria yang menderita kelelahan, nyeri dan bengkak di tubuh bawah.
Pembentukan thrombus (bekuan darah yang bersifat stasioner di sepanjang dinding pembuluh darah)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 92

penggumpalan darah (fibrinolitis35) dan pengentalan darah


(viskositas), air liur lintah juga berfungsi untuk mencegah
pertumbuhan mikroorganisme penyebab terjadinya infeksi
(bakterisidal) dan mengurangi kontraksi otot yang mendadak dan
keras yang disertai dengan rasa nyeri dan pengurangan fungsi
organ tubuh (spasmolitis). Karena berefek positif pada pasien
secara umum, walaupun relatif membutuhkan banyak waktu,
terapi lintah menjadi permanen dilakukan pada banyak rumah
sakit selama beberapa tahun (Gambar 5.2).

Sumber : Alicja Kolyszko and ALA-MED Hirudotherapy

Gambar 5.2
Perbandingan hasil terapi lintah, laser dan bedah pada varises

Walaupun tidak ada studi perbandingan mengenai efek air liur


lintah pada pencegahan penyumbatan pembuluh darah
(tromboembolis36) pada periode ini, namun dapat diasumsikan
berdasarkan ilmu obat-obatan (farmakokinetis37), terdapat efek
anti pengentalan darah pada air liur lintah.

35
36

37

Pelarutan fibrin oleh kerja enzimatik, menghilangkan gumpalan darah


Menghalangi pembuluh darah dengan bahan trombotik yang dibawa oleh aliran darah dari tempat
asalnya untuk menyumbat pembuluh darah lainnya
Aktivitas atau nasib obat di dalam tubuh dalam satu periode waktu, termasuk proses penyerapan,
distribusi, lokalisasi di dalam jaringan, perubahan kimia suatu senyawa dalam tubuh (biotransformasi)
dan pengeluaran.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 93

Setelah ada obat kimia sintetis, heparin, terapi lintah kehilangan


tempat berpijak dalam pencegahan penyakit penggumpalan darah
dan tidak digunakan lagi. Untuk mengatasi penggumpalan darah
pada vena bagian dalam, efek sistemik pelarutan fibrin pada terapi
lintah tidaklah cukup. Pada pengobatan modern, penggunaan
terapi lintah untuk penyakit tersebut tidak dapat dijustifikasi,
karena obat-obatan anti pengentalan darah yang dikonsumsi
pasien sebelumnya adalah kontraindikasi untuk terapi lintah.
Selain varises, terapi lintah juga dapat direkomendasikan untuk
pengobatan peradangan vena di permukaan yang akut (phlebitis)
dan tidak bekerjanya vena secara kronis (CVI : chronic venous
insufficiency) yang berhubungan dengan varises dan gejala
kompleks yang terjadi setelah penggumpalan darah.
Walaupun tidak dapat menghilangkan pelebaran vena dan
mengatasi tidak bekerjanya katup karena pembengkakan
abnormal, terapi lintah berguna untuk menghilangkan nyeri secara
cepat pada gejala penyakit. Pada banyak kasus, pembengkakan,
nyeri, terasa berat di daerah pelebaran atau jaringan sekitar vena
(perivenus), meningkat signifikan setelah terapi. Para dokter
menekankan, terapi sebaiknya dilakukan bersamaan dengan
pengobatan lain, khususnya untuk melegakan penyumbatan vena.
Dasar pengobatan tidak bekerjanya vena secara kronis (CVI) adalah
normalisasi berat (untuk pasien yang gemuk sekali), terapi fisik dan
terapi air (hidroterapi) Kneipp38. Untuk hasil optimal, diperlukan
syarat tambahan, seperti kaos kaki dan pembalut yang tepat.
38

Penggunaan air untuk meregenerasi, merawat, dan memulihkan kesehatan, meliputi sauna, mandi uap,
berendam sambil duduk, merendam kaki dan aplikasi kompres air panas dan air dingin. Father
Sebastian Kneipp, rahib Bavaria abad ke-19, disebut sebagai Bapak Hidroterapi. Kneipp percaya
penyakit dapat disembuhkan dengan air untuk mengeliminasi sampah tubuh. Hidroterapi populer di
Eropa dan Asia dimana orang mengambil air pada pemandian air panas dan mineral. Di Amerika Utara
direkomendasikan sebagai perawatan tubuh oleh dokter naturopatik

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 94

Spider burst39 (pelebaran vena tanpa pembengkakan abnormal)


perlu dibedakan dari varises. Kebanyakan pasien adalah wanita
dengan alasan kosmetik yang mengharapkan adanya peningkatan
penampilan. Terapi lintah sebenarnya dapat meningkatkan
penampilan vena yang melebar, tapi tidak ada data pendukung
hasil terapi yang dapat dipercaya. Pasien perlu diperingatkan,
terapi lintah tidak akan merubah penampilan dan gigitan lintah
bahkan dapat menghasilkan luka kecil atau hilangnya pigmen
(depigmentasi).
Pada banyak kasus, terapi lintah berefek positif signifikan pada
radang vena permukaan (phlebitis). Pasien seringkali merasakan
penyembuhan gejala penyakit segera setelah terapi. Efek yang
segera tersebut berupa penyembuhan radang, pengenceran darah,
peningkatan cairan limfe, pengurangan pembengkakan dan nyeri
dan pelonggaran pembuluh darah di tempat penyumbatan.
Pada radang vena akut (phlebitis), pengalaman para dokter di
Rumah Sakit Essen-Mitte menunjukkan terapi dengan banyak
lintah pada satu kali perawatan akan mencapai hasil terbaik.
Namun pada penyakit vena kronis lainnya, lebih baik menggunakan
sejumlah kecil lintah pada rangkaian terapi yang berurutan.

Prosedur praktek
Identifikasi target tubuh yang akan diterapi sebaiknya dilakukan
ketika pasien dalam posisi berdiri, agar pembuluh darah berada
pada kondisi maksimum. Lintah tidak dianjurkan digunakan pada
vena yang terlihat jelas atau dapat diraba, tetapi sebaiknya di
tempat yang hampir mendekati (proksimal) atau di samping
39

Garis-garis yang memancar pada kapiler-kapiler di ekstremitas bawah, disebabkan oleh dilatasi
(pelebaran) vena, namun tanpa varikositas (pembengkakan abnormal) yang tegas

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 95

(lateral) vena. Setelah target teridentifikasi, lintah dapat digunakan


ketika pasien berbaring. Segera setelah perdarahan berhenti dan
permukaan keras berwarna gelap terbentuk, sepotong kapas
dingin dapat diletakkan pada bekas gigitan. Para dokter di Rumah
Sakit Essen Mitte, Jerman menemukan curd (dadih susu yang
mengental untuk dibuat keju) dan potongan jeruk limun (Gambar
5.3.a) atau (di Indonesia parutan kunyit (5.3.b)) efektif untuk
mengurangi atau menghilangkan gatal dan bengkak yang sering
terjadi setelah terapi. Pasien sebaiknya menjaga agar kakinya
terangkat selama dua hari pertama setelah terapi dan tidak
menggaruk pada atau sekitar gigitan, karena dapat mengakibatkan
peradangan dan hilangnya zat pewarna tubuh (depigmentasi) pada
bekas gigitan.

Sumber : Lemon Law for


California

Sumber : Ramuan Obat Tanaman


Herbal Tradisional Indonesia

Gambar 5.3.a

Gambar 5.3.b

Jeruk limun

Kunyit

Selanjutnya, dosis terapi di bawah ini dapat dijadikan referensi,


namun perlu disesuaikan dengan kebutuhan tiap pasien, misalnya
berdasarkan pengalaman para dokter, terapi lintah sebaiknya tidak
dilakukan pada pasien dengan penyakit vena ketika hari sedang
panas terik, kecuali jika sangat diperlukan.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 96

Radang vena akut


permukaan akut

(Phlebitis),

penggumpalan

darah

Enam sampai sepuluh lintah yang saling berdekatan diletakkan


dekat vena. Terapi sebaiknya dilakukan dua hingga tiga kali dalam
periode kira-kira satu minggu hingga gejala penyakit berkurang
sepenuhnya. Perhitungan mengenai jumlah darah sebaiknya
dipertimbangkan sebelum pengulangan terapi dilaksanakan.

Gambar 5.4
Phlebitis akut
Foto : Maryland Vein
Professionals

Gejala pembekuan darah sekunder (Postthrombotic


syndrome secondary) dan pembekuan darah di vena
kaki bagian dalam (Deep Leg Vein Thrombosis (DVT))
Penyakit DVT adalah penggumpalan darah di vena kaki bagian
dalam, yang terjadi di dalam otot (Gambar 5.5).

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 97

Sumber : Maryland Vein Professionals

Gambar 5.5. Radang vena yang disertai thrombosis (DVT)

Lintah sebaiknya diletakkan pada daerah keluhan sebagai terapi


tambahan ringan, setelah terapi dengan obat-obatan
(farmakologi40)
selesai
dilakukan.
Pengulangan
terapi
dipertimbangkan jika terapi pertama telah menghasilkan
penyembuhan gejala penyakit dan bersifat jangka panjang. Lintah
sebaiknya tidak diletakkan langsung pada daerah yang terkena
penyakit kulit (dermatitis) atau bisul (ulceration).

Vena tidak berfungsi secara kronis (CVI


(Chronic Venous Inssuficiency)
CVI (Gambar 5.6) terjadi jika darah di vena kaki tidak dapat
mengalir kembali ke jantung. Gejalanya berupa perasaan berat,
nyeri, bengkak, dan gatal, biasanya terjadi setelah tekanan posisi
berdiri tegak (ortostatis). Kebutuhan terapi tergantung dari
menghebatnya gejala, kecuali penampilan kosmetik.

40

Ilmu yang mempelajari asal, sifat kimia, efek dan penggunaan obat

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 98

Gambar 5.6.
Chronic Venous Insufficiency
Ketidakmampuan katup vena untuk
menghindari arus balik darah
menyebabkan terjadinya
pengumpulan darah dan
peningkatan tekanan, yang akhirnya
bisa menjadi varises atau bisul vena
(venous ulcers)
Sumber : Scientia Advisors LLC

Empat hingga enam lintah disebarkan di samping (lateral) vena


yang nyeri. Terapi sebaiknya diulang dengan interval empat hingga
enam minggu, setelah efek terapi berkurang. Pada kasus
pembengkakan abnormal (varikosis), perlu ditambah beberapa
lintah (10-12) di sekeliling vena agar cukup untuk menutupi daerah
gejala. Jumlah darah sebaiknya diperhatikan pada saat dilakukan
terapi awal, terapi kedua atau pengulangan terapi.
Rekomendasi khusus diberikan untuk bisul vena pada betis dan
kaki depan, dimana terapis sebaiknya tidak meletakkan lintah
langsung pada bisul, walaupun keberhasilan telah dilaporkan pada
kasus terpisah. Sebaiknya lintah diletakkan pada kulit yang sehat 210 cm mendekati (proksimal) dan di samping (lateral) luka bisul.

Penyakit Vena tanpa pembengkakan abnormal


(Spider-Burst)
Beberapa lintah digunakan tergantung pada tingkat pelebaran
vena. Menurut aturan, tidak lebih dari empat hingga lima lintah
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 99

dibutuhkan untuk area titik vena spider burst41 (Gambar 5.7).


Lintah dapat diletakkan langsung pada atau di sekitar spider burst.
Gambar 5.7
Vena Spider-Burst
Sumber : Michael A.
Jazayeri, M.D. Plastic
and Reconstructive
Surgery

Nyeri Sendi (Arthrosis)


Gejala nyeri kronis berhubungan dengan penurunan fungsi sendi
yang ditandai dengan rusaknya tulang rawan yang disertai
peradangan sendi, juga rusaknya sejumlah struktur di sekelilingnya
yang mendukung fungsi sendi, sistem otot, dan perubahan lanjutan
dalam jaringan penyambung sekitar sendi (periartikular). Dua
terapi fisik yang telah terbukti efektif untuk penyakit degeneratif
sendi ini adalah terapi panas (termoterapi42) dan pengurutan, yang
targetnya adalah bagian luar tubuh.
Injeksi zat kimia dalam air liur lintah pada jaringan yang nyeri di
sekeliling persendian meningkatkan efek anti peradangan lokal dan
sirkulasi air liur lintah pada jaringan yang nyeri dan proses
metabolisme. Sebagai tambahan, pengaliran darah dan limfe43 ke
pelebaran lokal adalah efek menguntungkan lainnya.

41

Garis-garis yang memancar pada kapiler-kapiler di ekstremitas bawah, disebabkan oleh dilatasi
(pelebaran) vena, namun tanpa varikositas (pembengkakan abnormal) yang tegas
42
0
Terapi penyakit menggunakan panas, biasanya dengan cara menaikkan suhu tubuh sampai di atas 45 C
43
Cairan bening dan sedikit kekuningan dalam pembuluh limfatik dan berasal dari cairan jaringan

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 100

Model Pischinger dapat menjelaskan terapi lintah. Menurut


Pischinger, protein disimpan dalam bentuk dasar seperti collagen,
proteoglycan, glycosaminoglycan. Jika jumlah simpanan protein
melebihi kapasitas, alternatif pengangkutan ekstraselular harus
digunakan, dan penyakit pembuluh darah atau sistem limfatik di
pembuluh darah kecil (microangiopathy), pembuluh darah besar
(macroangiopathy), dan peradangan harus dikembangkan.
Penyimpanan tersebut meliputi metabolisme protein yang tidak
dapat dipecah lagi. Faktor ini berperan penting dalam penyakit
degeneratif kronis yang berhubungan dengan pemompaan cairan
ke dalam organ (perfusi) kapiler yang rusak dan pembuluh darah
(vaskular44) yang berkurang, yaitu fungsi endothelial45. Akibatnya,
pengaruh terapi lintah pada perubahan menjadi spekulatif. Namun,
kita dapat berasumsi bahwa efek kombinasi dari zat yang berbeda
dalam air liur lintah dan efek dekongesti lokal terapi lintah
berpengaruh positif pada lingkungan sel, dan air liur lintah berefek
positif pada aktivitas metabolisme di daerah sekitar sendi.

Frekuensi penggunaan lintah untuk nyeri sendi


Frekuensi terapi lintah ditentukan berdasarkan respon pasien pada
terapi pertama. Pada sebagian besar pasien, gejala meningkat
setelah terapi pertama. Terapi diulang setelah efek terapi pertama
menghilang. Penelitian ilmiah dilakukan di Rumah Sakit EssenMitte, Jerman, dimana sekitar 400 pasien dengan nyeri sendi
(arthrosis) lutut diterapi. Terapi pertama tidak signifikan pada 15%
pasien, efek positif yang berakhir pada tiga hingga empat bulan
terjadi pada 35% pasien, dan efek positif yang berakhir enam
hingga lebih dari 12 bulan terjadi pada 50% pasien. Pada porsi kecil
pasien (< 10%) efek signifikan terapi pertama diteliti setelah terapi
kedua. Jika respon pertama adalah tidak puas, maka terapi diulang
44
45

Berkenan dengan pembuluh, khususnya pembuluh darah, disebut juga vasal


Lapisan sel epitel yang melapisi rongga jantung, lumen pembuluh darah dan limfe, serta rongga tubuh.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 101

satu atau dua kali, tidak lebih dari delapan minggu setelah terapi
pertama. Jika pasien tidak merespon pada usaha terapi ketiga,
terapi selanjutnya juga tidak akan direspon, maka sebaiknya tidak
dilakukan. Karena lintah dapat digunakan beberapa kali (dua atau
tiga kali, tapi tidak lebih) pada pasien yang merespon terapi, maka
terapi dapat digunakan untuk menangani gejala nyeri sendi jangka
panjang. Namun tidak ada studi klinis yang membandingkan
keefektifan terapi lintah dibandingkan dengan terapi konvensional.
Pada prakteknya, sering pasien memberitahu terapis saat efek
terapi pertama telah hilang dan membuat perjanjian untuk terapi
selanjutnya. Interval antar terapi dua kali setahun adalah efektif
untuk banyak pasien dengan penyakit sendi. Alergi jarang
ditemukan, tapi dapat merupakan efek samping, jadi penting
melihat tanda-tandanya. Jika reaksi kulit meningkat setelah
beberapa terapi, maka interval terapi perlu ditambah dan
sebelumnya pasien diberikan anti alergi. Jika reaksi kulit semakin
buruk, terapi lintah harus dihentikan.

Titik aplikasi lintah dan teknik berbagai indikasi


Nyeri sendi Lutut (gonarthrosis/knee arthrosis)
Sebanyak empat hingga enam lintah digunakan di sekitar
persendian yang terasa nyeri (Gambar 5.8.a,b).

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 102

Gambar 5.8.a.b
Lintah medis diletakkan di mata lutut
Foto : Rumah Sakit Essen-Mitte, Jerman

Satu atau dua lintah diletakkan di titik nyeri maksimum yang


spontan dirasakan atau yang dapat diraba. Kebanyakan terapis
menggunakan empat titik yang berjarak sama disebut mata lutut
sebagai titik aplikasi. Titik aplikasi juga dapat merupakan jaringan
penghubung yang terasa nyeri ketika dicubit. Untuk alasan praktis,
teknik menggulung kulit dari Kibler sebaiknya dilakukan sebelum
memilih titik aplikasi (Gambar 5.9).

Gambar 5.9
Palpasi dan menggulung
lipatan kulit
(tes lipatan kulit Kibbler)
Foto: Rumah Sakit Essen-Mitte,
Jerman

Posisi sambungan juga menentukan tempat yang paling nyeri.


Pasien penderita nyeri sendi lutut (gonarthritis) dengan genu
valgum (berbentuk X) (Gambar 5.10.a) cenderung memiliki nyeri
yang lebih besar pada struktur sambungan di samping sendi

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 103

(periartikular lateral) dan ketika terjadi salah urat (muscle


insertion), sehingga lebih banyak lintah diletakkan di titik ini. Pasien
dengan genu varum (berbentuk O) (Gambar 5.10.a) memiliki rasa
nyeri pada struktur sambungan dalam (medial), khususnya pes
anserinus46 (Gambar 5.10.b), karena itu bagian inilah yang menjadi
target. Jika di bagian mangkuk lutut terasa nyeri (retropatellar47),
lintah dapat digunakan di sepanjang ujung tempurung lutut
(patella48) (Gambar 5.10.c). Jaringan di bawah kulit epidermis, yaitu
subkutaneus, harus cukup tebal untuk keberhasilan terapi.

Gambar 5.10.a
Kaki genu valgum
dan genu varum
Sumber : Oxford

Gambar 5.10.b
Pes anserinus
(daerah nyeri
ada dalam lingkaran)
Sumber : Core Concept

Gambar 5.10.c
Titik terapi lintah
untuk Gonarthritis
Sumber : Dr.Meher Prakash

Pasien dengan nyeri sendi lutut sebaiknya disarankan melakukan


latihan fisik untuk keberhasilan terapi. Latihan lutut didesain untuk
memperkuat otot kuadriseps49 (Gambar 5.11), yang biasanya
berkurang ukuran dan kekuatannya karena penggunaan yang
46

Disebut juga "kaki angsa" yaitu gabungan tiga otot dalam permukaan tibia (dua tulang kaki yang paling
dalam dan tebal di antara lutut dan pergelangan kaki)
Retro Patellar Knee Pain adalah nyeri fisik dan atau perubahan biomekanikal pada persambungan lutut,
area di belakang lutut dimana patella (tulang berbentuk segitiga di depan lutut) dan femur (tulang
paha) bertemu. Nyeri ini dapat memburuk dengan aktivitas fisik dan duduk terlalu lama.
48
Patella, juga dikenal dengan pelindung lutut (knee cap) atau (knee pan) adalah tulang tebal berbentuk
lingkaran segitiga yang bergabung dengan tulang paha (femur) dan menutupi serta melindungi di
sekitar permukaan depan dari persambungan lutut. Ini adalah tulang lingkaran terbesar dalam tubuh.
49
Otot berkepala empat yang terletak di paha
47

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 104

terbatas. Hilangnya rasa nyeri setelah terapi biasanya disertai


peningkatan fungsi sambungan, sehingga meningkatkan kondisi
umum untuk melakukan latihan. Pasien sebaiknya diingatkan
pentingnya meneruskan olah raga untuk kesuksesan jangka
panjang, namun tetap menahan diri agar tidak terlalu banyak
menggerakkan sambungan pada beberapa hari pertama setelah
terjadi peningkatan, karena mengurangi efektivitas pengobatan.

Gambar 5.11
Otot berkepala empat
(kuadriseps)
Sumber : MendMeShop

Walaupun lokalisasi nyeri penting pada saat memilih titik aplikasi,


namun terapi tetap dapat dilakukan dengan nyaman tanpa rasa
nyeri. Pada kasus ini, empat titik di sekeliling lutut sebaiknya
digunakan sebagai tempat aplikasi standar. Saat ini, tidak ada data
penelitian yang menghubungkan antara kasus nyeri sendi lutut
dengan keefektifan terapi lintah. Pada kasus pengobatan dengan
radiasi (radiologikal50), tingkat keberhasilan yang dicapai pasien
pada nyeri sendi lutut berat dan ringan atau pada permulaan dan
ketika terasa nyeri adalah sama baiknya. Sebelum memulai terapi,
penelitian keberhasilan terapi sebaiknya dilakukan untuk
mengkonfirmasi diagnosis. Pengalaman menunjukkan pasien
dengan nyeri lutut yang berkaitan dengan penyebab lain,

50

Cabang ilmu kesehatan yang berkaitan dengan zat radioaktif dan energi pancaran serta diagnosis dan
pengobatan dengan memakai radiasi pengion (mis sinar X) maupun bukan pengion (mis ultrasound)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 105

khususnya trauma peradangan sendi


meniscopathy) kurang memberi respon.

lutut

(traumatic

Cyst (kantung) Baker51 adalah kasus kedua yang sering ditemukan


pada pasien dengan nyeri sendi lutut. Praktek klinis menunjukkan
terapi lintah sering secara signifikan mengurangi ukuran kantung
dan meningkatkan penyembuhan gejala ketika diaplikasikan dekat
(proksimal) atau langsung pada kantung (cyst) (Gambar 5.12).

Gambar 5.12
Kantung Baker dengan MRI
(magnetic resonance
imaging)
Sumber : Wikipedia

Nyeri Sendi Bahu (shoulder arthrosis)


Karena struktur yang kompleks pada persambungan bahu, jadi
tidak cukup hanya dengan istilah peradangan bahu dan siku
(humeroscapular periarthritis52). Pada terapi lintah, dapat
direkomendasikan pengobatan nyeri secara terbatas pada daerah
tertentu. Sebanyak empat hingga delapan lintah diletakkan di
sekitar persambungan bahu dimana titik target adalah nyeri
maksimum dan titik pemicu. Titik nyeri biasanya berasal dari kapsul
depan (anterior) dan belakang (posterior) dan dekat (proksimal)
51

52

Juga dikenal dengan popliteal cyst, yaitu pembengkakan tidak kronis dari semi membran atau synovial
bursa yang terletak di belakang sambungan lutut. Ini diberi nama sesuai nama belakang seorang ahli
bedah yang pertama kali mengenalkannya, William Morran Baker (1838-1896)
Humerus : tulang yang memanjang dari bahu ke siku; scapula : tulang pipih berbentuk segitiga di
belakang bahu; periarthritis : peradangan jaringan di sekitar aorta (pembuluh darah yang keluar dari
ventrikel kiri jantung ke arteri cabang)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 106

urat biseps depan. Lintah didistribusikan di depan dan belakang


bahu (Gambar 5.13). Ketika melakukan terapi pada pasien rawat
jalan, teknik baju yang tepat sulit dilakukan karena kompleksitas
persambungan bahu.

Gambar 5.13
Tempat terapi lintah pada bahu
Foto : Schnke M., dkk, Stutgart, Jerman, 2005

Nyeri Sendi Pinggul (hip arthrosis)


Sambungan pinggul sulit diakses sekresi lintah, karena tertanam
dalam jaringan otot. Terapi di pinggul biasanya berhasil jika pasien
bertubuh kurus atau ada keterlibatan otot dan urat permukaan
pada gejala nyeri secara keseluruhan. Untuk pasien yang sangat
gemuk, sekresi lintah tidak dapat masuk ke jaringan di bawah kulit
epidermis yang tebal untuk sampai ke dekat tempat
persambungan. Berdasarkan ukuran sambungan pinggul (dan tes
darah awal), delapan hingga sepuluh lintah dapat diletakkan di
sambungan pinggul dan tulang paha (trochanter53) yang lebih besar
(Gambar 5.14). Dua terapi awal cukup untuk memeriksa respon
pasien.

53

Salah satu dari kedua cuatan di bawah leher femur (tulang paha yang memanjang dari pelvis ke lutut)
merupakan tulang terpanjang dan terbesar dalam tubuh

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 107

Gambar 5.14
Titik terapi lintah pada pinggul
Foto : Schnke M., dkk, Stutgart,
Jerman, 2005

Nyeri sendi pergelangan kaki (ankle arthrosis)


Terapi pada pergelangan kaki terbukti sukses. Tiga atau enam
lintah diletakkan di bagian dalam dan luar pergelangan kaki
(Gambar 5.15).

Gambar 5.15 Titik terapi lintah pada pergelangan kaki


Foto : Ullrich+Company, Renningen, Jerman), Rumah Sakit Essen-Mitte, Jerman

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 108

Nyeri sendi di sambungan kecil (small joint arthrosis)


Pada prinsipnya, terapi lintah dapat digunakan pada
persambungan yang jauh dari struktur sentral atau bagian tengah
tubuh (peripheral), yaitu nyeri sendi tangan dan kaki (arthrosis).
Lintah sebaiknya tidak diletakkan di daerah sambungan jari tangan
dan kaki yang tidak ditutupi oleh sejumlah jaringan subkutaneus di
bawah kulit epidermis yang cukup. Jika diterapkan di daerah yang
memiliki kutaneus dan subkutaneus tipis, efek terapi biasanya tidak
memadai, penyembuhan luka tertunda dan mungkin terjadi
komplikasi. Terapi pada persambungan pergelangan tangan
(metacar-pophalangeal54) yang kurang dari digit kedua hingga
kelima, satu atau dua lintah adalah normal digunakan. Terapi lintah
bekerja baik pada nyeri sendi di persambungan sadel ibu jari
(rhizartrosis). Satu hingga tiga lintah diletakkan di jempol, dan satu
atau dua lintah langsung dekat struktur berbentuk pelana (saddle
joint55) (Gambar 5.16) atau pertemuan antara pertengahan
pertama dan kedua titik akupunktur L1-4 (Gambar 5.17).

Gambar 5.16
Titik terapi lintah pada saddle joint di jempol (untuk rhizarthrosis)
Foto : Schnke M., dkk, Stutgart, Jerman, 2005
54

Metacarpus : bagian tangan antara pergelangan tangan dan jari, yang kerangkanya berupa lima tulang
silindris (metacarpal) dari carpus (persendian antara lengan bawah dan tangan yang terbentuk dari
delapan buah tulang) hingga phalanges (setiap tulang jari tangan atau jari kaki)
55
Saddle : struktur berbentuk pelana; joint : sambungan antara dua atau lebih tulang rangka terutama
tempat sambungan yang memungkinkan pergerakan satu atau lebih tulang

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 109

Gambar 5.17
Tulang belakang bagian pinggang:
Jumlahnya ada 5, strukturnya
lebih besar dan lebih kuat
dibanding tulang lain.
Tulang tersebut diberi nama
L1, L2, L3, L4, dan L5.
Sumber : Sasikhrisna

Terapi lintah juga efisien untuk nyeri sendi di sambungan


pergelangan kaki (metatarsophalangeal56) dan gout (podagra57).
Penting untuk menghangatkan dan menstimulasi aliran darah pada
bagian sekitar sendi sebelum terapi dengan merendam tangan
atau kaki dalam air hangat.
Terapi lintah tidak terlalu efektif dalam meningkatkan gejala
polyarthrosis di jari (herberden arthrosis58) dan biasanya tidak
direkomendasikan untuk daerah jari karena kulitnya sangat tipis.

56

Metatarsus : bagian kaki antara tarsus (daerah persendian antara kaki dan tungkai bawah) dan jari kaki,
kerangkanya merupakan lima tulang panjang mulai dari tarsus sampai phalanges
57
Podagra atau gout (juga disebut penyakit orang kaya atau penyakit raja adalah penyakit yang
terjadi berhubungan dengan meningkatnya asam uric dalam darah yang ditandai serangan arthritis
kronis yang cirinya adalah berulang-ulangnya pembengkakan, halus dan merah. Biasanya menyerang
jempol kaki. Selain jari kaki, lutut, dan tumit, area lain yang diserang adalah jari dan pergelangan
tangan. Penyakit ini juga dapat terjadi dalam bentuk tophi (kristal asam uric yang keras dan tidak
menyakitkan), batu ginjal atau pembentukan batu asam urat kronis (urate nephropathy)
58
Pembengkakan pada persambungan interphalangeal, terdekat dengan ujung jari tangan dan kaki. Ini
merupakan tanda osteoarthritis dan disebabkan pembentukan osteophytes (tonjolan bertulang
berkapur) dari sambungan tulang rawan sebagai respon dari trauma sambungan yang berulang

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 110

Gambar 5.18
Polyarthrosis di jari
(Herbenden arthrosis)
di jari kedua tangan
kanan
Sumber : Wikipedia

Penyakit Rematik
Nyeri sendi karena rematik (rheumatoid arthritis)
Nyeri sendi karena rematik (polyarthritis kronis) bukan merupakan
indikasi jelas untuk terapi lintah. Penelitian yang lebih tua tidak
cukup membedakan antara peradangan dan pengaktifan daerah
yang fungsi sambungannya menurun, sedangkan penelitian yang
lebih baru menyarankan lintah sebaiknya tidak digunakan untuk
peradangan sambungan akut pada pasien dengan nyeri sendi
karena rematik. Gejala awal berupa pembengkakan dekat
(proksimal) sambungan yang lebih besar, tanpa ada peradangan
yang jelas terlihat dalam tes laboratorium, adalah indikasi
potensial untuk terapi lintah.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 111

Gejala nyeri dan kekakuan otot dan sendi (Fibromyalgia)


Terapi lintah dilaporkan berhasil baik pada pasien dengan keluhan
nyeri dan kekakuan otot dan sendi (fibromyalgia59) berulang kali.
Namun, karena nyeri terjadi di banyak lokasi dan penyebab
penyakit yang tidak jelas, terapi lintah secara lokal kurang
diprioritaskan. Alternatif pengobatan utama adalah metode
naturopatik klasik seperti olah raga sedang, terapi air (hidroterapi),
dan pengobatan pikiran dan tubuh (psikosomatis60) dengan teknik
relaksasi, pengurangan stres, dan terapi kesadaran pada penyakit.
Terapi lintah berguna pada pasien dengan beberapa penyakit
ringan terlokalisasi, misalnya pes anserinus (kaki angsa) pada
sambungan lutut atau sambungan tulang pinggul (iliosacral61).
Diagnosis fibromyalgia dengan 18 lokasi (Gambar 5.19) tidak harus
selalu berhubungan dengan lokasi optimal lintah. Terapi lintah
sebaiknya selalu dihubungkan dengan keseluruhan konsep terapi
sebagai pelengkap dari terapi utama.

Gambar 5.19
Lokasi sembilan pasang titik
yang ditentukan pada tahun 1990
oleh American College of
Rheumatology
untuk fibromyalgia
Sumber : Teresa Kaldis, MD

59

60

61

Nyeri dan kekakuan otot dan sendi yang bersifat difus (menyebar luas melalui jaringan atau struktur)
atau mempunyai beberapa titik picu
Berkenaan dengan hubungan jiwa tubuh, memperlihatkan gejala-gejala jasmaniah yang berasal dari
psikis, emosional ataupun mental.
Ilium dan sacrum, tiga tulang yang membentuk tulang pinggul

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 112

Peradangan otot dan sarungnya (Tendovaginitis/


Lateral Epicondylitis) dan Radang sendi (Tendinitis)
Nyeri siku (Epicondylitis)
Nyeri siku samping (Epicondylitis lateral62) adalah masalah umum
yang sering kurang direspon pada pengobatan konservatif biasa.
Tindakan baru dilakukan jika penyakit kambuh dengan cara
meningkatkan pembatasan fungsi lengan. Terapi lintah biasanya
akan berpengaruh dalam beberapa hari, dan mencapai
peningkatan gejala signifikan dan tahan lama dibandingkan dengan
terapi konvensional. Untuk nyeri siku akut, tiga hingga enam lintah
dapat diletakkan langsung di seluruh tonjolan tulang (condyle63)
siku samping yang meradang dan jaringan di sekitarnya untuk
menghindari vena-vena di sekelilingnya (Gambar 5.20). Setelah
terapi, pasien sebaiknya menahan diri untuk menggunakan tangan
selama beberapa hari dan tangan terangkat sesering mungkin
untuk menghindarkan efek samping lokal.

Gambar 5.20
Terapi lintah di siku (untuk epicondylitis lateral)
Foto : Ulrich+Company, Rumah Sakit Essen-Mitte, Jerman

62

63

Radang pada tonjolan pada tulang di sebelas atas kondilusnya (tonjolan bulat pada tulang biasanya
untuk membentuk sambungan dengan tulang lainnya)
Tonjolan bundar tulang yang terbentuk dari gabungan dengan tulang lainnya

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 113

Jika nyeri siku samping menjadi kronis, pengencangan dapat


menyebarkan nyeri dan akhirnya melibatkan radang pada tonjolan
tengah tubuh (medial epicondyle), tulang bahu dan siku (humeral)
dan otot tulang lengan (ulnar). Jadi, daerah ini juga sebaiknya
diterapi untuk pasien dengan nyeri siku kronis (chronic tennis
elbow). Keefisienan terapi lintah tidak begitu jelas dalam nyeri siku
tengah murni (golvers elbow)64. Terapi lintah adalah pengobatan
lokal yang efektif sederhana untuk radang sendi (insertion
tendopathies65) yang menyakitkan. Peradangan pada tulang paha
(trochanter) yang lebih besar, umum terjadi. Gejala ketegangan
pada otot paha (tensor fasciae latae66) (Gambar 5.21) juga secara
mudah diterapi dengan meletakkan beberapa lintah pada daerah
jaringan di bawah kulit (fascia67) yang nyeri hebat.

Gambar 5.21
Tensor fasciae latae
dan otot di sekitarnya
Sumber : Wikipedia

64

Siku Golfer, atau medial epicondylitis, adalah kondisi peradangan siku yang mirip dengan tennis elbow.
Lateral epicondylitis, juga dikenal dengan tennis elbow, shooter's elbow dan archer's elbow, yaitu
kondisi dimana bagian luar dari siku menjadi nyeri dan rapuh. Biasanya berhubungan dengan
permainan tenis dan olah raga dengan raket lainnya, yang dapat terjadi pada setiap orang
65
Reaksi peradangan otot pada titik masuknya, dengan kerapuhan regional
66
Otot paha. Tensor : setiap otot yang meregangkan atau membuat tegang; Logat daerah menyebutnya
the coffee muscle (otot kopi) karena "latae" bunyinya seperti "latte
67
Selembar atau sehelai jaringan fibrosa seperti yang membentang di bawah kulit atau membentuk
pembungkus bagi otot dan berbagai organ tubuh

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 114

Gejala nyeri tulang belakang (Vertebrogenic)


Terapi lintah adalah alternatif ekselen untuk gejala nyeri tulang
belakang (vertebrogenic68), khususnya jika dilakukan uji fisik
terhadap rasa nyeri yang menghebat pada otot dan jaringan
penghubung di samping tulang belakang (paravertebral). Terapi
lintah sering dapat meringankan penderitaan nyeri tulang belakang
dengan segera, sehingga meningkatkan kondisi tubuh untuk
melakukan terapi fisik atau latihan pasif dan aktif (kinesiterapi69).
Pada pasien rawat inap sebaiknya tidak melakukan terapi fisik
basah atau terapi panas (termoterapi70) lokal untuk beberapa hari
setelah terapi lintah. Jika lintah diletakkan pada tulang belakang
(vertebral), terapis sebaiknya menjelaskan secara hati-hati teknik
terapi pada pasien yang merasa tidak aman karena tidak dapat
melihat lintah.

Nyeri Pinggang (Lumbago)


Pasien dapat berbaring tengkurap atau miring secara nyaman, dan
terapis meletakkan enam hingga delapan lintah pada pinggang,
sehingga dapat mencapai otot yang mengeras paling hebat
(Gambar 5.22). Terapi lintah dapat menjadi tambahan untuk
mengatasi nyeri pinggang (lumboischialgia) dan nyeri kronis yang
berhubungan dengan pecahnya jaringan otot halus karena
penonjolan struktur tubuh (lumbar disc herniation). Pada kasus ini
efek anti radang (antiphlogistic) yang kuat dari air liur lintah dapat
sangat menguntungkan.
68

Timbul di dalam tulang belakang atau columna vertebralis, mulai dari cranium (tempurung kepala)
sampai coccyx (tulang ekor)
Kinesitherapy : pengobatan penyakit dengan gerakan pasif dan aktif seperti pengurutan dan olah raga,
juga disebut kinesiatric
70
Terapi panas, juga disebut thermotherapy, adalah penerapan panas pada tubuh untuk menghilangkan
nyeri dan meningkatkan kesehatan, dapat berbentuk kain panas, air panas, ultrasound, bantalan yang
dipanaskan, kemasan hydrocollator, pemandian pusaran air, dll
69

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 115

Gambar 5.22
Terapi lintah pada pinggang (lumbago)
Foto : Schnke M., dkk, Stutgart, Jerman,
2005

Nyeri di titik persambungan tulang pinggul (Iliosakral)


Dua hingga empat lintah diletakkan pada kedua sisi tubuh secara
identik (bilateral) pada sambungan tulang pinggul (iliosacral) yang
menyakitkan (biasanya pasien dalam keadaan berbaring).

Gejala nyeri leher (Cervical Spine) dan nyeri leher yang


menyebar ke tulang belakang (Cervicobrachialgia)
Terapi lintah sangat tepat untuk pasien yang mengalami kelebihan
tekanan elastis otot rangka (muscular hypertonia71) dan nyeri yang
memancarkan panas pada daerah lengan (brachial) juga nyeri leher
dan kepala (cervical chephalalgia). Pasien duduk secara nyaman
dan lintah-lintah diletakkan pada kedua sisi tubuh secara identik
(bilateral) pada otot sabuk bahu yang nyeri dan di samping tulang
belakang (paravertebral) sampai level C3-C5 (Gambar 5.23).

71

Berlebihnya tonus otot rangka, sehingga terjadinya peningkatan tahanan otot terhadap peregangan
pasif dan seringkali timbul refleks yang berlebihan

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 116

Gambar 5.23
Lintah diletakkan secara bilateral pada otot
sabuk bahu yang nyeri dan secara
paravertebral sampai level C3-C5
Sumber : Quizlet

Sebelum meletakkan lintah pada daerah nuchal (belakang leher),


terapis memeriksa ketebalan jaringan di bawah kulit epidermis.
Pada saat menerapi nyeri bahu hingga siku (brachialgia)72 dan
gejala nyeri lengan karena syaraf terjepit (tunnel carpal73) disertai
dengan beberapa nyeri otot (muscular) pada daerah sabuk bahu,
biasanya berhasil diatasi dengan meletakkan lintah pada dan
sekitar titik akupuntur GB-21 (Gambar 5.24).

Gambar 5.24 Titik akupunktur GB-21


Sumber : Lakarhandboken
72

Rasa nyeri pada leher yang menyebar ke ekstremitas atas akibat penekanan akar syaraf pada medulla
spinalis cervicalis
73
Carpal tunnel syndrome adalah kondisi nyeri yang hebat pada lengan dan pergelangan tangan yang
disebabkan oleh syaraf terjepit. Sejumlah faktor dapat berkontribusi termasuk anatomi pergelangan
tangan seseorang, dan pola penggunaan tangan.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 117

Indikasi Umum Lanjutan


Kehilangan pendengaran tiba-tiba (Sudden Hearing Loss)
Terapi lintah dapat dipertimbangkan untuk pengobatan kehilangan
pendengaran tiba-tiba (Gambar 5.25), walaupun tidak ada data
ilmiah pada subjek ini yang dipublikasikan hingga saat ini. Pada
beberapa kasus, dua lintah diletakkan, satu di belakang telinga
(Gambar 5.26), yang lain di sudut rahang depan telinga (Gambar
5.27). Seluruhnya dua hingga tiga kali terapi dapat dilakukan
dengan interval tiga-empat hari.

Gambar 5.25
Kehilangan pendengaran dapat
terjadi jika gelombang suara
tidak mencapai telinga dalam
dan tidak diproses secara tepat

Gambar 5.26
Titik terapi lintah untuk
gangguan telinga di
belakang telinga

Gambar 5.27
Titik terapi lintah untuk
gangguan telinga di
sudut rahang depan
telinga

Sumber : Mehdi leech therapist, Sydney

Gangguan suara bising di telinga (Tinnitus)


Data yang tersedia mengenai hubungan terapi lintah dan terapi
komplementer tidak cukup karena respon pasien terhadap gejala
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 118

sulit dilakukan dan penyebab penyakit yang tidak jelas. Banyak


terdengar laporan keberhasilan terapi lintah, namun, mekanisme
tindakan terapi tidak jelas, dan efek tidak spesifik (efek placebo)
juga sebaiknya dipertimbangkan. Dengan pertimbangan adanya
fakta kemungkinan pengobatan gangguan suara bising di telinga
(tinnitus74) terbatas, maka terapi dapat dilakukan pada beberapa
kasus. Tempat aplikasi terapi sama dengan pada terapi kehilangan
pendengaran tiba-tiba. Terapi dapat dilakukan dengan enam lintah
dan interval satu hingga dua minggu.
Gambar 5.28
Kebanyakan tinnitus
berkaitan
dengan kerusakan
cochlea (nomer 9)
Sumber : Timothy C. Hain,
M.D

Peradangan telinga tengah (Media Otitis)


Praktek terapi lintah untuk otitis dan media otitis (Gambar 5.29)
khususnya tersebar di Eropa Timur dan sebagian didukung data
penelitian. Aplikasi untuk peradangan telinga tengah sama dengan
pada gangguan kehilangan pendengaran dan suara bising (tinnitus).
Terapi dilakukan dua kali yang diselingi tiga sampai empat hari.

74

Suara bising di telinga seperti deringan, dengung, raungan atau bunyi klik, biasanya bersifat subjektif

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 119

Gambar 5.29

Gambar 5.29.b

Perbandingan antara bagian tengah telinga yang


normal dan yang terkena infeksi (otititis media)

Telinga bagian tengah

Sumber: Mehdi, leech therapist, Sydney

Gangguan sirkulasi mata (ocular circulation disorder)


Untuk gangguan mata, jika pasien tidak mengkonsumsi pengencer
darah, dua hingga tiga lintah dapat diletakkan pada pelipis
(Gambar 5.30). Untuk penyakit pada pembuluh darah kecil
(microangiopathy), rangkaian tiga terapi perlu dilakukan dengan
interval tiga hingga empat hari. Terapi dapat dilakukan dengan
interval dua minggu, kemudian empat minggu untuk kelancaran
peredaran darah di mata (ocular perfusion) dalam jangka panjang,

Gambar 5.30 Titik terapi lintah untuk gangguan mata


Foto : Mehdi, leech therapist, Sydney

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 120

Gangguan sirkulasi (peripheral circulation disorder) dan


terhambatnya arteri (peripheral occlusive arterial) di
persendian yang jauh dari struktur sentral tubuh
Penyakit terhambatnya arteri di sekitar sendi yang jauh dari
struktur sentral tubuh (peripheral occlusive arterial75) adalah salah
satu dari indikasi pengerasan/penebalan jaringan dinding arteri
(arteriosclerosis). Terapi lintah tidak menghasilkan peningkatan
signifikan pada luka pembuluh darah (vascular), penyebab
terjadinya gangguan ini. Efek sementara dari terapi lintah pada
kekentalan (viskositas) darah dan fisik (rheology76) darah, akan
muncul minor dibandingkan pilihan terapi obat-obatan kimia
sintetis. Pasien melaporkan terapi lintah meningkatkan kondisi
kelumpuhan yang tidak kontinu (intermittent), sehingga akan
memperpanjang jarak berjalan. Terapi lintah berfungsi untuk
mengatasi peningkatan nyeri secara abnormal (hyperalgesia) atau
nyeri pinggang yang turun ke kaki (pseudoradicular77). Empat
hingga enam lintah hanya dilakukan untuk pasien pada tahap
Fontane I-II78 (Tabel 5.1) dan sebaiknya tidak digunakan untuk
pasien tahap IV dengan kematian jaringan (gangren79). Jika
digunakan untuk penyakit kulit (dermatosis) dengan kekurangan
darah (ischemia80) sekunder, lintah dapat diletakkan dekat
75

Penghalangan arteri besar tidak di dalam koronari, aorta atau otak, dapat terjadi akibat atherosclerosis,
proses peradangan karena penyumbatan abnormal, pembentukan thrombus, embolis yang
menyebabkan kekurangan suplai darah (ischemia) kronis/akut
76
Ilmu perubahan bentuk dan aliran bahan seperti aliran darah melalui jantung dan pembuluh darah
77
Nyeri pinggang yang turun ke kaki biasanya dibagi dua: radicular dan pseudoradicular. Radicular adalah
tekanan pada akar syaraf yang menyebabkan nyeri syaraf. Jenis nyeri ini menjalar hingga ke lutut.
Pada pseudoradicular, nyeri turun ke kaki tapi tidak melewati lutut. Sumber nyeri tidak menekan
syaraf, tapi karena menurunnya fungsi atau peradangan karena perubahan sambungan.
78
Prosedur Fontane, atau Fontane/Kreutzer, adalah prosedur bedah yang dapat meringankan nyeri tanpa
pengobatan, digunakan untuk anak dengan kerusakan jantung bawaan kompleks. Ini meliputi
pengalihan darah vena dari atrium kanan ke arteri pulmonary tanpa melewati struktur ruang paruparu. Prosedur ini dijelaskan tahun 1971 oleh Dr Ren Fontaine dan Dr Kreutzer secara terpisah
sebagai teknik bedah katup tidak normal antara ventrikel kanan dan atrium kanan (tricuspid atresia)
79
Kematian jaringan, biasanya dalam jumlah besar, umumnya disebabkan oleh kehilangan suplai vascular
(nutrisi) dan diikuti invasi bakteri dan pembusukan
80
Defisiensi darah biasanya disebabkan konstriksi fungsional atau obstruksi aktual pembuluh darah

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 121

(proximal) daerah penyakit. Terapis harus berhati-hati pada obat


kimia sintetis, seperti clopidogrel, phenprocoumon (Marcumar),
yang sering diresepkan untuk penyakit ini (Gambar 5.31).
Tabel 5.1
Tahap Fontane

Sumber : the American


Academy of Family Psysicians

Penjelasan:
1. Nyeri ringan ketika berjalan
(claudication), gangguan
pembuluh darah yang tidak
sempurna;
2. Nyeri hebat ketika berjalan
dalam jarak pendek,
(intermittent claudication), nyeri
dipicu oleh jalan setelah jarak
>150 m pada tahap II-a dan
setelah <150 m pada tahap II-b;
3. Nyeri di kaki ketika beristirahat
(rest pain), meningkat ketika
anggota badan dinaikkan;
4. Jaringan biologis hilang
(gangrene) dan sulit berjalan.

Gambar 5.31
Peripheral Occlusive Arterial
Sumber : Wikipedia

Bisul bengkak bernanah (Abscesses)


Beberapa kasus dilaporkan mengenai keberhasilan penggunaan
tiga hingga empat lintah yang diletakkan pada bisul yang merah
dan meradang dengan interval beberapa hari (Gambar 5.32).

Gambar 5.32.a

Gambar 5.32.b

Terapi lintah untuk bisul

Perbandingan antara kulit normal dan


terjadi abses

Sumber : Klinik Multi Hirudo, Jakarta

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 122

Pembengkakan berisi darah (Hematoma)


Jika luka memar besar tidak hilang dalam beberapa minggu dan
menyebabkan ketidaknyamanan, maka terapi lintah dapat
dipertimbangkan.

Gambar 5.33
Hematoma
Sumber :
Graphicshunt

Pada beberapa kasus hematoma (Gambar 5.33) satu kali


pengobatan dengan empat hingga enam lintah diletakkan langsung
pada luka memar telah mencukupi.

Penyakit kulit herpes akut (herpes zoster)


Terapi lintah dapat dijadikan alternatif bagi penyakit kulit herpes
zoster81 (Gambar 5.34.a,b), walaupun data penelitian ilmiah tidak
tersedia. Terapi ini dilakukan hendaknya tidak lebih dari tujuh hari
setelah kemunculan gejala penyakit. Jika tidak, kemungkinan
keberhasilannya relatif kecil. Terapi lintah dilakukan di samping
tulang belakang pada daerah terkena penyakit kulit (dermatom)
dan hanya di bagian punggung, walaupun luka berada pada tubuh
81

Herpes zoster (nama lain: shingles atau cacar ular, cacar api) adalah penyakit yang disebabkan virus
varicella-zoster. Setelah menderita cacar air, virus varicella-zoster akan menetap dalam kondisi
dorman (tidak aktif atau laten) pada satu atau lebih ganglia (pusat saraf) posterior (belakang). jika
imunitas seluler menurun, maka virus aktif kembali dan menyebar melalui saraf tepi ke kulit . Di kulit,
virus akan memperbanyak diri (multiplikasi) dan membentuk bintil-bintil kecil berwarna merah, berisi
cairan, dan menggembung pada daerah sekitar kulit yang dilalui virus. Herper zoster cenderung
menyerang orang lanjut usia dan penderita penyakit imunosupresif (sistem imun lemah) seperti
penderita AIDS, leukemia, lupus, dan limfoma.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 123

depan. Pengobatan dilakukan empat hingga lima kali secara


berurutan dengan interval tiga hingga empat hari, di bagian yang
jauh dari tengah tubuh (dorsal) atau dekat tengah tubuh (ventral).

Gambar 5.33.a
Herpes zoster
melepuh
di leher dan bahu
Sumber : Wikipedia

Gambar 5.33.b
Perkembangan herpes zoster. Kelompok
benjolan kecil (1) berubah melepuh
(2).Lepuhan yang berisi limfe pecah (3),
berkerak (4), dan akhirnya hilang
Postherpetic neuralgia kadang terjadi yang
berhubungan dengan kerusakan syaraf (5)

Terapi tambahan untuk penyakit radang organ dalam


Terapi lintah dapat dilakukan sebagai terapi tambahan terhadap
terapi utama. Empat sampai enam lintah diletakkan pada daerah
organ besar khususnya di organ cutivisceral82 (perut) yang terkena
penyakit. Tergantung dari kekerasan penyakit dan respon pasien,
terapi lintah dapat diulangi setiap tiga sampai tujuh hari.

82

Cutis : kulit; viscus : berbagai organ dalam besar pada salah satu di antara tiga rongga tubuh khususnya
abdomen (perut)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 124

Kebotakan (Alopecia)
Alopecia (Gambar 5.34), atau kebotakan, tidak berkaitan dengan usia, tapi karena
infeksi jamur atau ketombe. Sekitar 100 rambut secara alami hilang dari kepala
setiap hari, meskipun kulit kepala manusia rata-rata berisi antara 100.000 dan
150.000 rambut. Kebotakan genetik disebabkan kegagalan tubuh menghasilkan
rambut yang memadai. Penyakit ini umumnya lebih mempengaruhi pria
dibandingkan wanita, meskipun wanita juga dapat memiliki pola karakteristik
rambut rontok. Sekitar seperempat pria telah mengalami kerontokan saat berusia
30 tahun, sekitar dua pertiganya menjadi gundul atau botak.

Gambar 5.34 Terapi lintah untuk kebotakan

Terapi lintah dapat memperbaiki sirkulasi darah pada titik botak (bald
spot), karena perkembangbiakan jamur di daerah tersebut. Terapi lintah
secara umum tidak terkait dengan perawatan terhadap alopecia, tetapi
tetap sangat efektif untuk meningkatkan sirkulasi darah sebagai hasil dan
pertahanan alami tubuh terhadap infeksi jamur.
Sumber : Klinik Multi Hirudo, Jakarta

Referensi Tambahan
1.
2.

Pischinger A. Das System der Grundregulation. Stuttgart: Haug:2004.


Klinik Multi Hirudo Jakarta, Terapi Lintah untuk Alopecia.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 125

6. Terapi Lintah untuk Penyakit Rematik


Terapi lintah juga direkomendasikan untuk pengobatan penyakit
rematik dan gejala nyeri kronis pada sistem pergerakan organ
melalui otot dan rangka (musculoskeletal83), sebagaimana
pengalaman selama 35 tahun dengan terapi ini.

Ketegangan Otot
Otot membentuk 42% berat tubuh. Sekitar 424 jaringan otot
melintang membentuk organ jaringan utama (parenchymatous)
tubuh manusia. Dalam kerangka mekanis, otot membentuk
hubungan antara aktivitas statis (diam) dan motor (bergerak).
Hampir semua penyakit pada sistem kerangka otot ditandai
dengan rusaknya fungsi otot. Ketegangan otot dapat didefinisikan
sebagai variasi abnormal antara ketegangan dan pola otot.
Klasifikasi kuantitatif dari ketegangan otot dapat berguna untuk
menilai kecocokan terapi lintah pada pasien dengan nyeri kronis
dan ketegangan otot tulang belakang (vertebrogenik) (Tabel 6.1).
Tabel 6.1 Klasifikasi dari ketegangan otot
Tingkat

Klasifikasi

Penemuan uji fisik

0
I

Normal
Ketegangan otot ringan

II

Ketegangan otot menengah

Lembut, tidak ada ketegangan


Perlawanan ketegangan
agak meningkat
Ditandai dengan
perlawanan ketegangan
Keras, perlawanan ketegangan maksimum

III

Ketegangan otot berat

Sumber : Michalsen, dkk, Rumah Sakit Essen-Mitte, Jerman, 2007

Dalam terminologi medis, lokasi daerah pengerasan otot disebut


myogelosis, sebaiknya dibedakan dengan ketegangan otot
83

Sistem musculoskeletal (juga dikenal sebagai sistem lokomotor) adalah sistem organ yang memberikan
kemampuan untuk bergerak melalui sistem rangka dan otot. Sistem musculoskeletal menyediakan
bentuk, dukungan, kestabilan, dan pergerakan pada tubuh

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 126

sebenarnya, dimana kelompok otot atau tali otot menunjukkan


tingkat ketegangan otot yang bervariasi. Ketegangan otot
diklasifikasikan menurut otot utama, dekat permukaan tubuh yang
terkena penyakit. Kekerasan ketegangan otot biasanya
berhubungan dengan respon terhadap terapi lintah lokal.
Titik pemicu nyeri otot (myofascial84) penting untuk daerah target
terapi. Ada dua jenis titik pemicu : aktif dan tersembunyi (laten).
Pemicu aktif menunjukkan nyeri spontan tanpa rangsangan luar,
sedangkan pemicu tersembunyi akan terasa sakit jika ditekan. Titik
pemicu harus dibedakan dari ke-18 titik sensitif yang digunakan
untuk mendiagnosis nyeri dan kekakuan otot dan sendi
(fibromyalgia) yang bukan merupakan titik khusus untuk aplikasi
lintah (Gambar 5.19).
Daerah nyeri otot berguna untuk menentukan lokasi nyeri dan
sebaiknya dievaluasi sebelum terapi. Pengerasan otot (myogelosis)
ditandai dengan perubahan dua sisi substansi partikel kecil dan tak
larut (colloidal85) dalam otot. Jika pengerasan otot terus ada
selama periode waktu lama, perusakan serabut otot terjadi yang
ditandai dengan peningkatan inti, kehilangan pita melintang dan
penurunan fungsi tali pembentuk karakter otot (myofibril86).
Ketika mengevaluasi seorang pasien, penting untuk dicatat bahwa
otot tonik87 dan phasik88 berbeda berdasarkan tipe kontraktilitas

84

85
86
87

Myofascial pain syndrome (MPS), juga dikenal sebagai Chronic myofascial pain (CMP), adalah kondisi
yang ditandai dengan kronis, pada beberapa kasus, nyeri yang sangat hebat. Ini berhubungan dengan
benjolan titik pemicu yang terlokalisasi dan kadang-kadang sangat nyeri dalam otot tubuh atau
jaringan penghubung yang dikenal dengan fascia. Gejala lain termasuk yang berkaitan dengan nyeri,
gerakan yang terbatas, dan gangguan tidur
Yang bersifat seperti koloid, berupa zat yang terdiri partikel yang kecil dan tak larut
Salah satu dari tali yang berkontraksi membentuk karakter otot
Otot tonic lebih lambat dari otot kejang sejak dimulai rangsangan hingga terjadinya tindakan, waktu
oto untuk beristirahat penuh akan menghentikan rangsangan dan kecepatan perpendekan maksimal

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 127

dan metabolisme yang berhubungan dengannya. Nyeri, tidak aktif,


terlalu aktif, penggunaan tidak tepat, gaya tidak teratur, trauma
dapat menyebabkan pemendekan otot tonik dan pelemahan otot
phasik. Ketegangan otot yang mengalami perangsangan tapi tanpa
gerakan maksimum (isometrik89) dalam kelompok serabut otot
tonik lebih besar dibandingkan dengan otot phasik. Namun,
peningkatan ketegangan lebih cepat pada otot phasik. Kehilangan
elastisitas seringkali terjadi pada kelompok otot tonik, sedangkan
otot phasik lebih cepat lelah.
Kebanyakan otot kerangka memiliki fraksi otot tonik dan phasik
yang kira-kira sama besarnya. Otot pinggul belakang atau dalam
(iliopsoas90) adalah contoh yang baik dari kecenderungan
pemendekan otot tonik. Karena letaknya berdekatan dengan
banyak organ di perut (abdomen) dan tulang pinggul (pelvis), maka
respon dipercepat terhadap gangguan fungsi fisiologis (functional
disorder) dari suatu organ (misalnya penyakit di usus besar dan
daerah pengeluaran (urogenital91). Otot pinggul belakang dapat
dites dengan mudah tapi sulit dipalpasi (diraba) dan dokter sering
lupa untuk memeriksa terjadinya pemendekan tulang pinggul
belakang. Pemendekan ini berperanan penting pada banyak proses
nyeri. Di daerah pinggang (lumbar spinal) pemendekan tulang
(psoas) dapat menyebabkan tulang berayun kebelakang
(hyperlordosis92) secara kronis, yang disertai dengan gejala nyeri
88

Otot phasic bekerja pada panggul (menggerakkan kaki bagian bawah dari bagian tengah ke sisi) dan
pemutaran bagian dalam. Otot phasic terdiri dari serabut otot kejang-cepat, dan lebih sesuai untuk
bergerak. Namun mudah mengalami hambatan dan cepat merasa lelah
89
Otot terangsang, tapi tidak ada pergerakan pada persambungan. Pada tipe konstraksi otot ini, tidak ada
perubahan panjang otot, dan tidak ada gerakan pada persambungan tetapi serabut otot terangsang.
Contoh dari gerakan isometric adalah mendorong dinding.
90
Iliopsoas adalah kombinasi dari tiga tulang: psoas major, psoas minor, iliacus. Otot ini berbeda dalam
abdomen (perut) tapi tidak berbeda pada paha. Kadang disebut otot pinggul belakang" atau"otot
pinggul dalam "
91
Berhubungan dengan sistem pengeluaran (air seni) dari tubuh
92
Lumbar hyperlordosis adalah kondisi yang terjadi jika punggung mengalami stres atau berat ekstra dan
ditahan di titik nyeri atau kejang otot. Lumbar lordosis adalah posisi postur tubuh yang biasa dimana

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 128

karena tulang memendek (facet93) dan penyakit Baastrup94


(pembesaran tulang bokong) pada orang yang sudah tua. Nyeri
lokal pada daerah pinggul umum terjadi. Pada pengamatan lebih
detail, beberapa kasus berubah menjadi nyeri pinggul depan
(iliopectineal bursitis95).

Gambar 6.1
Perbandingan antara
tulang belakang normal
dan Lordosis
Sumber : Innova Pain Clinic

Gambar 6.2
Facet syndrome

Gambar 6.3
Iliopectineal bursa
Sumber : Elsevier

Sumber : NeckSolutions

Otot di leher dan daerah pinggang sering digunakan untuk


memelihara postur tubuh, sehingga mengakibatkan nyeri dan kaku
di leher dan bahu (cervicobraschialgia96). Mekanisme postural
daerah pinggang memiliki ruang yang lebih besar untuk diatasi.
Otot yang didesain untuk kontraksi secara aktif dan mendukung
tubuh menghalangi efek pengungkit normal pada tulang belakang
yang terjadi selama aktivitas harian.
kurva alami dari daerah pinggang tertekan secara sedikit atau dramatis. Biasanya dikenal sebagai
swayback (berayun ke belakang) yang umum pada penari balet
93
Tulang bagian depan biasanya mulai mengalami penurunan fungsi. Tinggi tulang yang semakin
berkurang menempatkan persambungan tidak pada tempatnya, sehingga menyebabkan peradangan
tambahan dan rasa sakit jika bergerak
94
Gejala Baastrup, atau mencium tulang belakang kissing spine, adalah gangguan ortopedis dan
radiografis pada orang tua, dicirikan dengan pembesaran proyeksi tulang belakang bagian bokong
95
Iliopsoas atau iliopectineal bursitis adalah nyeri pinggul depan atau celah kangkang. Penyebab nyeri
adalah iritasi dari otot iliopsoas pada iliopectineal eminence.
96
Cervicobrahial syndrome biasanya ditunjukkan dengan nyeri, kaku, bengkak di daerah leher dan bahu.
Ini dapat disebabkan oleh tekanan pembuluh darah, atau tekanan serabut.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 129

Jika sistem otot rusak, maka postur pasif dan mekanisme dukungan
harus mengarah pada penanggungan sepenuhnya tindakan
pengungkit tersebut. Pada semua gejala nyeri, tujuan utama terapi
adalah memutuskan lingkaran setan dari gejala yang terus
memburuk (Gambar 6.4).
Kontraksi sebagian dari bagian
tubuh yang bergerak

Rasa nyeri

Penghindaran gerakan
yang menambah nyeri

Merangsang
ketegangan otot
Reaksi otomatis
jaringan segmental

Gambar 6.4 Lingkaran setan dari gejala yang terus memburuk


Sumber : Michalsen, dkk, Rumah Sakit Essen-Mitte, Jerman, 2007

Mekanisme otomatis memiliki efek penahan nyeri yang membatasi


kisaran gerakan dan nyeri yang terus ada setelah penyebab
dihilangkan, misalnya disc hernation (pecahnya jaringan otot). Jika
dimasukkan sebagai bagian terapi fisik seimbang dan program
latihan, terapi lintah dengan gejala khusus dan lokal sering
mencapai efek sangat lama, yang dapat berguna pada tahap awal
terapi multidisiplin. Gejala nyeri tulang belakang (vertebrogenik)
kronis dan nyeri pada sambungan yang berhubungan dengan
gangguan rematik degeneratif dan luka olah raga adalah beberapa
area praktis dari aplikasi lintah.

Peradangan pada dan daerah jaringan penghubung


Jaringan penghubung berperanan penting dalam proses kekronisan
rasa nyeri, jadi penting juga dalam perencanaan terapi. Gangguan
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 130

metabolisme lokal sering dianggap sebagai penyebab terjadinya


pengerasan otot (myogelosis), gejala khas yang sering menemani.
Proses nyeri kronis tidak hanya mempengaruhi otot, tapi juga
jaringan penghubung di bawah kulit epidermis (subkutaneus) dan
jaringan lemak. Gejala nyeri syaraf yang mendalam dan
ketegangan (karena misalnya penyakit organ perut) juga dapat
mengakibatkan perubahan rasa nyeri (indurasi) dalam jaringan
penghubung, sebagaimana dalam otot. Penyebab dari nyeri karena
pengerasan jaringan penghubung dan peran dari gerakan spontan
pembuluh darah (vasomosi97) yang dikendalikan oleh ketegangan
elastis dari sistem syaraf yang meningkat (simpatikotonik98) belum
sepenuhnya dimengerti. Perubahan trophik dalam jaringan
menghasilkan gejala klinis kurangnya suplai cairan (perfusi) kapiler.
Pengerasan pes anserinus yang berhubungan dengan nyeri sendi
lutut (gonarthrosis) adalah contoh umum dari jaringan
penghubung kronis atau perubahan nyeri pada jaringan
penghubung. Keadaan saling mempengaruhi antara jaringan otot
aktif dan pasif yang bebannya berlebihan di lutut mengakibatkan
iritasi konstan. Ini khususnya terjadi pada daerah lutut tibial,
dimana daerah lutut tengah yang mengeras dapat diraba. Daerah
ini menunjukkan pengurangan gerakan, pengerasan dan nyeri
bahkan dengan tekanan lembut. Nyeri lebih sering terjadi sebagai
respon untuk mengangkat atau menggulung lipatan kulit pada
daerah tersebut. Ini disebut sebagai respon positif dari tes lipatan
kulit Kibler (Gambar 5.9). Melalui inspeksi visual, kulit di daerah
yang terkena penyakit, terlihat berwarna ungu kehitaman dan
pucat serta berbeda jelas dari sekitarnya. Proses yang sama dapat
diteliti pada insersi otot panggul yang lebih besar dan dapat diraba.

97

98

Gerakan berkontraksi dan melebar yang spontan dari pembuluh darah, tidak tergantung dari detak
jantung, syaraf atau pernafasan. Vasomosi pertama kali diteliti oleh Jones tahun 1852
Kondisi dimana ketegangan elastis dari sistem syaraf simpatetik (pusat) meningkat, ditandai dengan
ketegangan pembuluh darah

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 131

Suatu hal yang mengejutkan ketika banyak pasien dengan nyeri


pinggul (coxarthrosis) satu sisi tidak mengalami nyeri hebat di sisi
pinggul yang sakit, tapi di sisi salah sebaliknya. Ini
mengkonfirmasi asumsi bahwa nyeri yang berhubungan, tidak
terlalu banyak disebabkan oleh perubahan morfologi dalam
sambungan sebagaimana elemen aktif dan pasif pergerakan pada
sisi yang menyebabkan ketegangan tambahan. Perubahan penyakit
spesifik dalam jaringan penghubung, khususnya pada daerah di
samping tulang belakang (paravertebral), adalah indikasi tepat
untuk terapi lintah.
Secara empiris, banyak terapis akan mengkonfirmasi nyeri pada
jaringan penghubung yang berhubungan dengan keberhasilan
tinggi terapi lintah. Prosedur klinis untuk diagnosis daerah jaringan
penghubung dapat dilihat ringkasannya pada Tabel 6.2.
Tabel 6.2 Diagnosis zona jaringan penghubung
1. Pemeriksaan warna kulit dan vasomosi (gerakan syaraf dan otot yang menyebabkan
pembuluh darah berkontraksi atau membesar) : penampakan biru kehitaman,
pucat, penyumbatan, pembengkakan (edema) atau pengecilan jaringan (atrophy)
2. Palpasi (misalnya tes lipatan kulit Kibler)
Cek apakah ada pelekatan jaringan yang memisahkan otot/organ
Bandingkan volume lipatan kulit dari kedua sisi tubuh
Penilaian konsistensi lipatan kulit
3. Penilaian nyeri
Nyeri cubitan (keras, epikritis), kadang-kadang nyeri yang nyaman/menyenangkan

Pada prakteknya, perabaan pada daerah tulang belakang


(vertebrogenik) atau di sekitar sendi (periartikular) umumnya
memberikan petunjuk tepat dimana lintah sebaiknya diletakkan,
dibantu dengan tes lipatan kulit Kibler.
Pasien dengan nyeri sendi akut, khususnya yang berhubungan
dengan rematik, di Rumah Sakit Essen-Mitte belum diterapi
dengan lintah sampai saat ini, karena secara rasional tidak mungkin
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 132

ada penambahan keenceran atau pelebaran pembuluh darah


(vasodilator) di tempat pengisian pembuluh darah.
Bottenberg (1983) menjelaskan metode terapi lintah untuk infeksi
bakteri pada kulit epidermis (erysipelas) yang layak diterapkan
untuk menerapi pasien dengan nyeri sendi (arthritis) akut.
Menurut metode Bottenberg, lintah diletakkan 5 cm di bagian
kepala dekat otak pada batas daerah proses agar meningkatkan
pengembalian vena dan limfe. Setelah gejala kemerahan dan panas
berkurang sebagai respon dari terapi fisik dan farmakoterapi,
terapi lintah dapat sangat berguna untuk mengurangi atau
menghilangkan nyeri pada pasien dengan peradangan sendi
(arthritis) karena rematik. Namun, terapi antirematik primer
sebaiknya tidak diinterupsi selama terapi.
Penebalan dan pengerasan jaringan (indurasi) yang diawali
peradangan juga mendapat respon baik setelah diterapi dengan
empat hingga enam lintah.
Bahu adalah sambungan dengan kisaran gerak terbesar, dimana
otot dan urat bergerak dalam beberapa arah yang berbeda. Proses
peradangan lokal sering terjadi pada sambungan sistem kerangka
otot aktif, yang menghasilkan kisaran terbatas dari gerak bahu.
Terjadinya peradangan disertai dengan pengembangan segmen
kapsul caudal pasif dan aktif, yang terlipat dan tidak terlipat seperti
akordion. Pada penamaan secara universal (nomenclature), kondisi
ini disebut periarthropathia humeroscapularis99. Penamaan
universal dibutuhkan karena keragaman penyebab dan masalah
pengistilahan dapat terjadi ketika mendiagnosis lebih detail. Area
pengerasan dapat diraba sepanjang sisi kelompok otot yang telah
dijelaskan di atas. Periarthropathia humeroscapularis dapat
99

Periarthropathia humeroscapularis (PHS) adalah malfungsi (gagal berfungsi normal) dari sabuk bahu
karena penyakit pada jaringan periartikular dan kapsul sambungan

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 133

diterapi dengan kombinasi pengurutan, terapi fisik dan pengukuran


yang meningkatkan sirkulasi. Terapi lintah juga dapat digabungkan
dengan konsep terapi dan keefektifannya minimal sama.
Titik sensitif dalam insersi nyeri otot yang melingkar pada bahu
(deltoid100) (Gambar 6.2.a) disebut sebagai gejala fibromialgia. Otot
pectoral (Gambar 6.2.b) berkembang dari scapula (tulang pipih
berbentuk segitiga di belakang bahu) melintasi persambungan
bahu, dan struktur tubuh membentuk pelindung lembut dari
persambungan bahu. Gangguan biomekanis dari persambungan
bahu menyebabkan struktur tubuh pektoral dan rotator (Gambar
6.2.c) sensitif terhadap peradangan. Terapi lintah dapat
direkomendasikan untuk terapi peradangan seperti ini jika otot
yang nyeri dapat dicapai oleh lintah.

Gambar 6.2.a

Gambar 6.2.b

Otot deltoid

Otot pectoral

Gambar 6.2.c
Otot rotator

Sumber : Wikipedia

Sumber : Wikipedia

Sumber : MedlinePlus

Ketidakcukupan gerakan otot menyebabkan terjadinya pengerasan


atau ketebalan jaringan (indurasi). Indurasi mungkin terjadi pada
sistem kerangka otot, juga vena permukaan dan jaringan
sekelilingnya. Terapi lintah adalah metode efisien untuk menerapi
radang vena (phlebitis) dan indurasi residual dalam kedekatan
sedang dengan proses peradangan. Pelegaan vena dari tekanan
100

Dalam anatomi manusia, otot deltoid adalah otot yang membentuk kontur melingkar pada bahu.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 134

ortostatis (karena proses berdiri tegak) selama dan hingga 24 jam


penting dilakukan setelah terapi lintah. Ini dapat dicapai dengan
menempelkan plester elastis pada atau dengan mengangkat kaki.
Pasien diinstruksikan untuk mengaktifkan pompa otot dengan
mengkontraksi dan merelaksasikan otot betis dan paha selama 10
menit setiap jam ketika kaki diangkat. Daerah indurasi terlihat lebih
lembut dan berwarna ungu kehitaman yang gelap serta menjadi
lebih pucat setelah tiga hingga empat kali terapi dengan paling
banyak enam lintah. Efek analgesik (penghilang rasa nyeri)
sebaiknya diperhatikan setelah sesi pertama.
Secara ringkas, gejala nyeri kerangka otot yang berhubungan
dengan ketegangan otot sekunder, daerah jaringan penghubung,
dan myogelosis (pengerasan otot) adalah indikasi sesuai untuk
terapi lintah. Pada terapi yang komprehensif sebaiknya secara ideal
terapi lintah dikombinasikan dengan terapi fisik dan latihan olah
raga fisik. Efek analgesik (penghilang rasa nyeri) yang cepat dari
terapi lintah akan menghasilkan prasyarat fungsional yang lebih
baik untuk pengukuran terapi fisik. Daerah aplikasi lintah sebaiknya
dipilih berdasarkan penemuan lokal, khususnya di titik pemicu dan
daerah nyeri yang disebabkan ketegangan otot dan pengerasan
otot (myogelosis).

Referensi Tambahan
Bottenberg H. Die Blutegelbehandlung, 3rd ed. Stutgart: Hippokrates, 1983.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 135

7. Terapi Lintah dalam Bedah Plastik


Teori
Pada pengobatan modern, bedah plastik adalah indikasi utama
untuk merekonstruksi kerusakan kulit akibat kecelakaan, terbakar,
reseksi tumor atau gangguan penyembuhan luka pasca operasi.
Dalam sejarah, kesuksesan penggunaan lintah, khususnya Hirudo
medicinalis untuk menerapi terhambatnya aliran darah pada kulit
yang ditransplantasi (flap) setelah operasi plastik, terutama pada
bedah wajah, telah dikenal selama lebih dari satu abad. Laporan
pertama mengenai keberhasilan penerapan lintah adalah untuk
memperbaiki sirkulasi darah dalam tranplantasi kulit hidung (nasal
skin graft) (Blandin, 1836) dan kulit yang ditransplantasi (skin flap)
karena penyumbatan vena (Derganc, 1960). Dieffenbach (17921847) ahli bedah Berlin, Jerman dipercaya sebagai salah satu bapak
ahli bedah wajah modern, menjelaskan 17 kasus keberhasilan
penggunaan lintah setelah bedah plastik.
Saat ini lintah medis sering digunakan untuk menyembuhkan
komplikasi pasca operasi di kulit yang ditransplantasi secara lokal
(free plap), transplantasi kulit bertangkai (pedicle flap) dan
transplantasi bedah kecil yang biasanya dilakukan di daerah wajah.
Lintah digunakan jika penyembuhan transplantasi berisiko karena
komplikasi hemodinamis atau tidak berfungsinya vena.
Penyumbatan vena adalah komplikasi kritis yang membutuhkan
perhatian, biasanya terjadi segera setelah operasi. Terapi lintah
berguna untuk memulihkan aliran darah di jaringan yang rusak. Jika
pemompaan darah lokal telah diperbaiki, penyembuhan luka dan
integrasi dari transplantasi dapat berproses.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 136

Studi Kasus
Kasus 1
Seorang pasien wanita menderita tumor ganas (carcinoma) dekat
ujung hidung. Terapi yang dilakukan terdiri dari pembedahan dan
perbaikan lokasi kulit yang ditransplantasi (flap island). Setelah
pembedahan, terdapat tanda-tanda penyumbatan vena. Dua ekor
lintah diletakkan pada ujung hidung yang ditransplantasi untuk
mengalirkan kelebihan darah. Sirkulasi darah segera meningkat
secara signifikan dan pasien sembuh total tanpa ada komplikasi
lebih lanjut (Gambar 7.1-7.3).

Gambar 7.1-7.3.
Dua lintah diletakkan pada ujung hidung yang ditransplantasi (Kiri). Pada tahap
penyembuhan, bekas di daerah terapi masih terlihat, situasi sirkulasi dinormalkan dan
transplantasi dijalankan secara penuh (tengah). Setelah enam bulan proses penyatuan
berjalan sempurna (kanan) Foto : University Hospital Eppendorf, Hamburg, Jerman.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 137

Kasus 2
Seorang gadis pipi kanannya terluka karena digigit kuda. Gigi depan
kuda mengoyak penuh kekuatan penutup jaringan kulit di pipi
kanan dan meremukkan jaringan di daerah penutup tengah. Luka
langsung diterapi dan dijahit. Namun, penyumbatan vena
berkembang, menjadi ungu kehitaman, karena kekurangan darah
pada jaringan yang remuk. Terapi dengan satu gigitan lintah segera
dilakukan dan situasi sirkulasi menjadi normal kembali (Gambar
7.4-7.7). Setelah beberapa tahun, syaraf muka berfungsi normal
dan tidak ada kontraksi luka pada saat gadis itu tersenyum.

Gambar 7.4.
Seekor kuda menggigit pipi kanan seorang gadis
hingga terkoyak dan remuk

Gambar 7.6.
LIntah diletakkan di daerah bermasalah pada
penutup kulit (skin flap)

Gambar 7.5.
Perubahan ungu kehitaman di sepanjang sisi luka,
karena kekurangan darah secara serius dan
kematian sel (necrosis) pada jaringan yang terluka

Gambar 7.7.
Setelah beberapa tahun, seluruh penutup kulit dan
fungsi syaraf wajah utuh kembali. Tidak ada
kontraksi pada saat pasien tersenyum

Foto : University Hospital Eppendorf, Hamburg, Jerman

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 138

Kasus 3
Kulit penutup bertangkai (flap pedicle) digunakan untuk
memperbaiki bagian tubuh pasien yang cacat. Penyumbatan vena
dapat terjadi bahkan sebelum dilakukan penggantian kulit. Setelah
terapi lintah dilakukan beberapa kali, sirkulasi darah meningkat
dan kondisi transplantasi menjadi terkendali. Teknik transplantasi
jaringan kulit bertangkai (flap pedicled tubed), dimana jaringan
suplai darah tidak dipotong tapi dibiarkan tetap melekat di tubuh
donor, dijelaskan oleh dokter gigi asal Berlin, Hugo Ganzer, pada
tahun 1917. Teknik ini saat ini jarang digunakan, tapi masih
berguna dalam sejumlah kecil indikasi (Gambar 7.8).

Gambar 7.8
Setelah terjadi perubahan warna ungu
kehitaman, dua lintah diletakkan di daerah
terjauh dari jaringan kulit penutup
Foto : University Hospital Eppendorf, Hamburg,
Jerman

Kasus 4
Seorang pasien yang terkena kanker ganas (sarcoma) dibedah kaki
kanannya. Kerusakan pada kaki kanan ditutupi oleh kulit penutup
yang dirotasi secara lokal. Kekurangan suplai darah menuju luka
(hypoperfusion) terjadi setelah operasi dalam daerah kritis
transplantasi. Terapi lintah segera dilakukan, menghasilkan
sirkulasi yang kembali normal. Keseluruhan organ yang
ditransplantasi berada dalam kondisi terkendali (Gambar 7.9 dan
7.10).

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 139

Gambar 7.9
Pemompaan darah yang buruk di daerah
kulit sepanjang batas transplantasi

Gambar 7.10
Terapi lintah menghentikan
pembatasan progresif karena proses
transplantasi dan menghindarkan
kematian jaringan (flap necrosis).

Foto : University Hospital Eppendorf, Hamburg, Jerman

Kasus 5
Pasien memiliki kanker ganas (carcinoma) di daerah wajah bagian
kanan (Gambar 7.11). Terapi yang dilakukan terdiri dari
pemotongan dan rekonstruksi. Penutup kulit multilapis digunakan
untuk merekonstruksi bagian pipi dan pulau penutup kulit diambil
dari garis tawa (nasolabial)101 untuk merekonstruksi daerah dekat
lubang hidung dimana pipi bertemu dengan ujung hidung (nasal
alar)102. Suplai darah ke dalam pulau menjadi terhambat setelah
pembedahan. Lintah kemudian diletakkan di daerah pulau yang
suplai darahnya kurang. Akhirnya, penyembuhan luka dapat
diproses dengan signifikan, tanpa adanya kehilangan kulit.

101

Lipatan nasolabial, biasanya dikenal dengan "garis senyum" atau "garis tawa ", adalah bagian wajah.
Terdisi dari dua lipatan kulit yang ada di masing-masing sisi hidung menuju ke sudut mulut. Lipatan itu
memisahkan pipi dari bibir atas. Istilah nasolabial diturunkan dari bahasa Latin nasus yang berarti
"hidung" dan labium yang berarti "bibir"
102
Nasal alar adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan daerah dekat lubang hidung dimana pipi
bertemu dengan ujung hidung. Biasanya itu ditempat garis senyum atau tawa (nasolabial) dimulai

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 140

Gambar 7.11
Seekor Lintah medis diletakkan di bekas operasi jaringan flap
Foto : University hospital Eppendorf, Hamburg, Jerman

Kasus 6
Pasien yang sedang dimasukkan pipa ke dalam saluran rongga
tubuhnya (intubasi), atau tracheostoma (Gambar 7.12) menjalani
pembedahan tumor besar di daerah kepala dan leher. Kekurangan
suplai darah menuju lidah terjadi setelah pembedahan, yang
berhasil diatasi dengan meletakkan seekor lintah pada lidah.
Lubang mulut dihalangi dengan sebuah tampon untuk
menghindarkan lintah masuk ke dalam perut dan usus. Seorang
petugas mengawasi secara kontinu tempat diletakkannya lintah.

Gambar 7.12
Hipoperfusi (kurangnya sulai darah) dengan
perubahan warna biru kehitaman pada
lidah. Lintah diletakkan dekat dengan ujung
lidah.
Foto : University Hospital Eppendorf, Hamburg,
Jerman

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 141

Referensi Tambahan
1. Derganc M.Zdravic F. Venour congestion of flaps treated by application of leeches,
British Journal of Plastic Surgery 1960; 13:187-192
2. Sawyer RT. Johann Friedrich Dieffenbach. Successful use of leeches in plastic surgery.
British Journal of Plastic Surgery 2000; 63:245-247

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 142

8. Kontraindikasi
Pengetahuan mengenai kontraindikasi, atau jika pada pasien
ditemukan ada indikasi atau gejala penyakit berikut ini, maka
terapi lintah tidak dianjurkan, untuk menghindarkan terjadinya
kesalahan praktek yang dapat berakibat negatif.

Pembekuan darah tak terkendali (Hemophilia),


pasien yang mengkonsumsi anti pengentalan darah
Terapi lintah tidak dapat diterapkan pada pasien yang menderita
hemophilia, yaitu perdarahan yang tidak terkendali, baik bawaan
sejak lahir maupun adopsi. Terapi lintah juga tidak dapat
diterapkan pada pasien yang mengkonsumsi obat kimia sintetis
anti pengentalan darah seperti Marcumar, warfarin, heparin atau
heparinoid. Pasien sebaiknya secara khusus ditanya apakah mereka
memiliki kecenderungan memiliki perdarahan secara tidak normal.
Sebuah penelitian pernah dilakukan di Rumah Sakit Essen-Mitte,
Jerman, dimana pasien mengalami perdarahan ekstrem yang
berlangsung lama akibat gigitan lintah. Penelusuran ke belakang
membuktikan bahwa pasien tidak memperhatikan kecenderungan
perdarahan yang meningkat pada dirinya.
Pasien yang mengkonsumsi aspirin dan clopidogrel secara terpisah
dapat menjalani terapi lintah, tetapi jumlah lintah yang digunakan
sebaiknya dikurangi pada sesi pertama pengobatan, dan pasien
perlu ditanya mengenai kecenderungan perdarahan yang
dialaminya. Namun jika pasien mengkonsumsi clopidogrel dan
aspirin bersamaan, maka clopidogrel harus dihentikan lima hari
sebelum terapi lintah, jika secara medis memungkinkan.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 143

Jika pasien mengkonsumsi minyak ikan dosis tinggi (Gambar 8.1.a)


atau produk gingko biloba103 (Gambar 8.1.b), perdarahan setelah
terapi lintah dapat sangat signifikan lamanya. Pasien tersebut
untuk sementara waktu sebaiknya menghentikan konsumsi obatobatan ini sebelum menjalani terapi lintah.

Gambar 8.1.a

Gambar 8.1.b

Minyak ikan

Daun Ginko

Sumber : Media Indonesia

Sumber : Wikipedia

Kekurangan sel darah merah (anemia)


Pasien yang menderita kekurangan sel darah merah (anemia) atau
penyakit penekanan sum-sum tulang belakang (bone-marrow
suppression), tidak dapat menjalani pengobatan yang sifatnya
melakukan perpindahan darah, seperti terapi lintah.

103

Ginkgo (Gingko Biloba) merupakan spesies tunggal dari salah satu divisio anggota tumbuhan berbiji
terbuka yang pernah tersebar luas di dunia. Pada masa kini tumbuhan ini diketahui hanya tumbuh liar
di Asia Timur Laut, namun telah tersebar luas di berbagai tempat beriklim sedang lainnya sebagai
pohon penghias taman atau pekarangan. Bentuk tumbuhan modern ini tidak banyak berubah dari
fosil-fosilnya yang ditemukan.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 144

Radang lambung (gastritis) yang parah dan


perdarahan potensial pada lambung dan usus
(gastrointestinal)
Perdarahan pada lambung dan usus bagian atas terjadi pada pasien
keesokan hari setelah menjalani terapi lintah di sebuah rumah
sakit di Jerman, dimana pasien tersebut menderita radang
lambung parah. Kejadian merugikan ini juga dilaporkan pada
pasien lain dengan penyakit coronary artery104, yang mengelilingi
jantung. Pasien tersebut mengkonsumsi aspirin untuk mencegah
pengumpulan trombosit. Terapi lintah sebaiknya tidak dilakukan
pada pasien yang menderita peradangan lambung yang parah
karena efek sistemik dari hirudin pada air liur lintah berpotensi
meningkatkan risiko perdarahan pada lambung dan usus.
Gambar 8.2
Gambar mikro dari coronary
artery dengan bentuk yang
paling umum yaitu penyakit
atherosclerosis ditandai
dengan penyumbatan dinding
arteri. Sumber : Wikipedia

Infeksi akut
Pengalaman menunjukkan terapi lintah pada penyakit infeksi akut
akan mengakibatkan kelemahan pada pasien dan gangguan dalam
penyembuhan lukanya. Berdasarkan konsep yang lebih luas dari
104

Coronary artery disease (CAD); atau penyakit jantung atherosclerotic adalah hasil akhir dari akumulasi
bercak karena pengumpulan lemak secara tidak normal di selaput arteri (atheromatous plaques) yang
mensuplai myocardium (otot jantung) dengan oksigen dan nutrisi. Kadang-kadang disebut juga dengan
coronary heart disease (CHD), walaupun CAD adalah penyebab utama CHD dan bukan satu-satunya

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 145

pengobatan naturopatik dan patologi humoral, setiap pengobatan


yang mengeluarkan darah pada pasien yang menderita infeksi
biasanya bersifat kontraproduktif dan tidak direkomendasikan.
Pada bedah plastik dan rekonstruktif, dimana terapi lintah
dilakukan pada pasien dengan beberapa infeksi, maka pasien juga
dianjurkan untuk menggunakan antibiotik bersamaan dengan
terapi lintah.

Gangguan pada organ dan imunitas tubuh yang


serius (immunosuppression)
Terapi lintah tidak direkomendasikan pada pasien yang memiliki
beberapa gangguan atau ketidakstabilan organ (chemotherapy)105,
penyakit keras dan kronis yang menyerang organ statis seperti
cirrhosis106 (penyakit hati kronis, gangguan pengentalan darah),
gangguan jaringan penghubung, yang sedang menjalani cuci darah
(dialysis107), tidak berfungsinya kekebalan tubuh (imunitas), dan
gangguan pada organ penghasil darah.

105

Chemotherapy (kadang disebut cancer chemotherapy) adalah penanganan kanker dengan obat
antineoplastic atau dengan kombinasi obat ke dalam regimen penanganan yang terstandarisasi.
Umumnya chemotherapy membunuh sel yang berkembang sangat cepat, salah satu ciri kebanyakan
sel kanker. Ini berarti juga sel yang merugikan dan berkembang di dalam lingkungan normal yaitu sel
tulang belakang, saluran pencernaan dan kantung rambut. Efek samping berupa myelosuppression
(produksi sel darah berkurang), saat ini juga berkurangnya kekebalan tubuh (immunosuppression),
mucositis (peradangan dalam jalur pencernaan) dan alopecia (kerontokan rambut).
106
Sirosis hati adalah jenjang akhir dari proses fibrosis hati yang merupakan konsekuensi dari penyakit
kronis hati yang ditandai dengan adanya penggantian jaringan normal dengan jaringan fibrous,
sehingga sel-sel hati akan kehilangan fungsinya. Sirosis ini paling sering disebabkan oleh minuman
keras, hepatitis B dan C dan gemuk penyakit hati tetapi telah banyak kemungkinan penyebab lain.
107
Dalam dunia pengobatan, dialysis (dari bahasa Latin "dialusis", berarti disolusi, "dia", artinya melalui,
and "lysis" artinya membebaskan, adalah proses untuk membuang sampah dan kelebihan air dalam
darah, dan digunakan untuk penggantian buatan dari fungsi ginjal pada orang yang gagal ginjal.
Dialysis dapat digunakan pada orang yang mengalami gangguan ginjal akut stadium 5. Bentuk
selanjutnya dapat berkembang selama bulanan atau tahunan hingga transplantasi ginjal dapat
dilaksanakan atau kadang-kadang ini adalah satu-satunya dukungan pengukuran bagi orang yang tidak
dapat menerima transplantasi ginjal

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 146

Terapi lintah dapat dilakukan bersamaan dengan terapi antibiotik


jika pasien memiliki kekentalan darah yang normal, kecuali jika
pasien menderita anemia atau kurangnya respon imunitas pada
tubuhnya, jika ada indikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Terapi lintah adalah kontraindikasi untuk penderita infeksi HIV,
cachexia108, yaitu kelainan kesehatan karena keadaan malnutrisi
yang buruk. Terapi lintah dapat dilakukan pada pasien yang sedang
mengkonsumsi corticosteroid dosis rendah dan sedang, dan jika
pasien tidak memiliki sejarah gangguan pada penyembuhan luka
atau perubahan kulit yang berhubungan dengan cortisone, dikenal
dengan cortisone skin.109

Gambar 8.3
Kulit cortisone
Sumber : Dermaclub

Alergi yang sensitif dan parah (allergic diathesis)


Pada pasien yang alergi terhadap protein tertentu, kemungkinan
akan bereaksi juga terhadap protein asing pada air liur lintah.
Terapi lintah tidak direkomendasikan pada pasien dengan sejarah
alergi yang sensitif dan reaksi sistemik yang parah. Terapi lintah
dapat dilakukan bersamaan dengan terapi antihistamin, jika pasien
hanya memiliki reaksi yang ringan atau intoleransi (ketidaksabaran
terhadap gangguan) yang tidak pasti.

108

109

Cachexia berasal dari bahasa Yunani kakos "buruk" and hexis "kondisi")[1] atau gejalanya
adalah kehilangan berat badan, pengecilan otot, kelelahan, kelemahan dan kehilangan nafsu makan.
Cortisone adalah hormon steroid. Salah satu dari hormon utama yang dilepaskan oleh kelenjar
adrenalin sebagai respon terhadap stres

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 147

Alergi
Alergi merupakan gangguan kepekaan atau reaksi yang berlebihan dari tubuh
terhadap benda-benda tertentu (alergen). Alergi sering menyerang orang yang
tubuhnya sensitif terhadap rangsangan-rangsangan dari luar ataupun dari dalam
tubuh. Reaksi yang berlebihan tersebut terulang kembali jika tubuh kemasukan
lagi benda asing (alergen) yang sama.
Penyebab
Alergen berupa bahan makan tertentu, debu, serbuk sari bunga, bulu binatang,
bantal kapuk, atau obat-obatan tertentu. Bahan allergen masuk ke dalam tubuh
melalui saluran pencernaan, saluran pernafasan, suntikan atau terpapar kulit.
Gejala dan tanda-tanda
1. Gatal-gatal di kulit dengan bentol-bentol yang besar, atau kulit merah, panas
pada mata, rangsangan pada tenggorokan, sesak nafas, atau asma
2. Alergi yang berat menimbulkan kejutan alergi yang dapat membuat penderita
pingsan
Perawatan :
Hindari benda-benda yang dapat menyebabkan alergi. Jika disebabkan oleh
makanan atau obat-obatan tertentu, hentikan pemakaiannya
Pengobatan herba:
Untuk diminum : 15 g sambiloto, 30 g temulawak, kupas, potong-potong, 30 g
meniran, cuci bersih rebus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc lalu saring,
minum dua kali sehari. Atau 100 cc cuka beras hitam (rice vinegar), 30 g jahe
ditumbuh, gula merah secukupnya. Rebus semua bahan dengan 300 cc air hingga
mendidih, minum hangat-hangat.
Pemakaian luar : 60 g patikan Cina, 10 lembar daun sirih, cuci bersih, lalu rebus
dengan 600 cc air hingga mendidih, setelah dingin, gunakan untuk mencuci ruam
kulit yang gatal karena alergi. Atau 25 g kunyit yang tua, kupas, 30 g sambiloto
segar, cuci kunyit dan sambiloto hingga bersih, haluskan. Oleskan pada bagian
kulit yang gatal karena alergi.
Sumber : Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, Ramuan lengkap herbal taklukkan
penyakit, Pustaka Bunda, 2008.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 148

Kehamilan (pregnancy)
Terapi yang melibatkan pengambilan darah secara umum bersifat
kontraindikasi pada kehamilan. Selain itu, terapi lintah dapat
mengakibatkan efek samping yang membutuhkan penanganan
dengan obat kimia sintetis.

Gangguan penyembuhan luka umum dan lokal


Gigitan lintah dapat menjadi komplikasi lokal pada pasien dengan
gangguan pada penyembuhan luka, misalnya diabetes mellitus
(kencing manis). Sejarah pasien harus dievaluasi untuk
menentukan apakah ada kontraindikasi. Pada pasien dengan area
terlokalisasi yang mengalami gangguan penyembuhan luka,
misalnya bisul di kaki, lintah tidak dianjurkan untuk diletakkan
langsung pada luka, karena berpotensi munculnya bisul baru.

Tidak ada Ijin dari Pasien


Terapi lintah tidak dapat dilakukan tanpa ijin dari pasien, sebab itu
direkomendasikan untuk menggunakan bentuk ijin tertulis yang
sama dengan pada pengobatan yang bersifat pelukaan lainnya.
Pada konsultasi pertama, terapis perlu mendapatkan tanda tangan
pasien dan memberikan pasien informasi tertulis yang menjelaskan
mengenai prosedur terapi lintah (lihat Lampiran).

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 149

Binahong :
Obat luka super ampuh !!
Cara pemakaian : daun dan batang
ditumbuk halus kemudian dioleskan
pada bagian yang sakit. Bahan ini dapat
digunakan untuk menyembuhkan
memar karena terpukul, kena api
(panas), rheumatik, pegal linu, nyeri
urat, perawatan kulit.

Anredera cordifolia tanaman menjalar


famili basellaceae yang lebih dikenal
dengan nama Binahong sejak lama
telah digunakan masyarakat luas untuk
membantu proses penyembuhan
berbagai penyakit. Antara lain untuk
mengeringkan luka, menambah
stamina, mengobati rheumatic,
mempercepat penyembuhan stroke,
dll. Beberapa penelitian mendapati
kandungan saponin triterpenoid,
flavonoid-senyawa yang memiliki
berbagai bioaktivitas, termasuk
analgesik dan antiinflamasi-, dan
minyak atsiri dalam daun binahong.
Terlebih tanaman binahong juga
terbukti mengandung anti bakteri dan
antivirus.

Jauh di Vhavenda Afrika Selatan,


Binahong dipercaya memiliki daya
sembuh yang luar biasa khususnya
untuk pengobatan penyakit seksual
(PMS) dan AIDS. Sedangkan di daratan
Cina sejak ribuan tahun lalu tanaman
yang dikenal dengan nama Dheng San
Chi ini telah dikonsumsi oleh sebagian
besar masyarakat. Konon tanaman ini
juga wajib dikonsumsi oleh warga
Vietnam ketika melawan tentara
Amerika Serikat. Mereka percaya
mengkunsumsi binahong secara rutin
ternyata dapat meningkatkan stamina
dan menyembuhkan luka luar maupun
dalam akibat tembakan maupun
goresan senjata tajam.
Dari berbagai sumber

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 150

9. Keamanan dan efek samping dari


terapi lintah
Komplikasi yang serius jarang ditemukan pada terapi lintah. Jika
prosedur terapi dijalankan secara tepat dan memperhatikan
kontraindikasi, maka efek sampingnya akan minimal. Efek samping
yang biasanya terjadi adalah rasa nyeri lokal dan rasa gatal
sementara. Karena itu sebelum diterapi, pasien sebaiknya
menandatangani formulir perijinan yang menjelaskan efek samping
terapi. Analisis berikut disusun berdasarkan dokumentasi
keberhasilan, laporan kasus dan pengamatan pribadi, termasuk
data pengendalian kualitas beberapa efek samping terapi pada
penyakit persendian karena menurunnya fungsi organ tubuh.

Nyeri lokal selama terapi


Persepsi dari nyeri lokal ini bervariasi. Kebanyakan pasien
menggambarkan rasa nyeri yang berlarut-larut segera setelah
lintah menggigit dan lamanya sekitar satu hingga lima menit.
Semakin banyak air liur memasuki jaringan, efek anestetis (mati
rasa) mulai bereaksi. Kuatnya nyeri gigitan lintah biasanya
digambarkan sebagai terasa lembut atau dapat diabaikan,
tergantung ambang rasa sakit tiap orang. Beberapa pasien
merasakan nyeri yang semakin hebat, mirip sengatan lebah.
Kisaran penilaian nyeri mulai dari sulit dirasakan, terasa lembut
(seperti terkena tanaman berdaun gatal) hingga sama dengan
sengatan lebah (sangat jarang). Sedikit (kadang-kadang lebih kuat)
sensasi menarik secara ritmis biasanya dirasakan dalam satu
hingga tiga menit pertama gigitan.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 151

Apakah gigitan dirasakan sebagai nyeri atau tidak dirasakan


sama sekali tergantung dari kepribadian masing-masing, namun
juga konsentrasi pada gigitan atau pendapat mengenai terapi
lintah. Ukuran rahang, kuatnya gigitan dan hisapan, volume dan
komposisi air liur lintah, semua sangat berperan. Kebanyakan
orang bahkan tidak memperhatikan gigitan lintah, misalnya ketika
digigit di dalam air dan perhatiannya terfokus pada sesuatu yang
lain. Seringkali, semakin pasien terfokus pada kekuatiran terhadap
gigitan lintah, semakin tinggi persepsi nyerinya. Terapis sebaiknya
mengingat hal ini selama tahap persiapan dan selama terapi.
Pengalihan terhadap sesuatu yang lain kadang-kadang dapat
membantu atau dapat juga membiarkan pasien mengenal lintah
terlebih dulu dan diyakinkan pada kehandalan terapi.

Gatal-gatal lokal
Gatal-gatal sementara pada bekas gigitan lintah dalam beberapa
hari pertama setelah terapi adalah biasa dan jangan dianggap
sebagai reaksi alergi. Pada penelitian mengenai keberhasilan terapi
lintah terhadap pasien penderita nyeri karena menurunnya fungsi
sendi (osteoarthritis110) lutut, kira-kira 70% pasien yang diterapi
merasakan gatal-gatal lokal yang berakhir rata-rata dua hari
setelah terapi. Frekuensi gatal-gatal lebih kuat terjadi pada
persendian yang jauh dari struktur sentral atau bagian tengah
tubuh (peripheral), misalnya jempol. Berdasarkan penilaian
empiris, terjadinya gatal-gatal ini lebih berkurang pada persendian
besar dan daerah tulang belakang (vertebrogenik).
Pasien sebaiknya diberitahu efek samping terapi, sehingga tidak
menggaruk bekas gigitan lintah, khususnya setelah penutupan luka
110

Kerusakan tulang rawan yang kronis pada persambungan terjadi biasanya di usia pertengahan

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 152

awal, karena sering dapat menunda penyembuhan. Para ahli


merekomendasikan obat lokal yang mendinginkan (seperti diberi
dadih (bagian kental susu untuk dibuat keju), pembalut lembab
yang dingin, atau cuka. Untuk beberapa rasa gatal, produk
antigatal atau obat antihistamin dapat digunakan. Beberapa
terapis memberi resep antihistamin untuk pasien dengan sejarah
reaksi gatal dan kulit merah. Laporan terpisah menjelaskan adanya
pengulangan gatal-gatal ringan pada situasi tertentu (misalnya
temperatur tinggi) dalam beberapa bulan setelah rangkaian terapi.

Habbatussauda (Jinten Hitam) anti Histamin alami


Habbatussauda/jinten hitam diresepkan oleh Nabi Muhammad SAW. Imam
Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa ia pernah
mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: "Sungguh
dalam habbatus sauda' itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam."
Saya bertanya, "Apakah as-sam itu?" Beliau menjawab, "Kematian".
Manfaat Habbatussauda:
Menguatkan sistem kekebalan tubuh
Meningkatkan daya ingat dan konsentrasi
Menetralkan racun dalam tubuh
Mengatasi gangguan tidur dan stress
Anti histamin. Histamin adalah sebuah zat yang dilepaskan oleh jaringan tubuh
yang memberikan reaksi alergi seperti pada asthma bronkial. Minyak yang dibuat
dari Habbatussauda' dapat mengisolasi dithimoquinone. Minyak ini sering disebut
nigellone yang berasal dari volatile nigella. Pemberian minyak ini berdampak
positif terhadap penderita asthma bronkial.
Memperbaiki saluran pencernaan
Melancarkan air susu ibu
Memiliki zat anti tumor dan anti kanker
Sumber : Thibbun Nabawi dan HPA

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 153

Darah rendah (hypotension) dan serangan pingsan


(vasovagal)
Pasien dengan sejarah serangan vasovagal111 atau sinkop (pingsan)
sebelum dilakukan metode terapi pelukaan (invasif) lainnya
mungkin juga akan bereaksi sama di awal atau selama terapi lintah.
Sebuah survei menunjukkan serangan vasovagal terjadi pada satu
dari 1000 terapi lintah yang dilakukan di sebuah rumah sakit di
Jerman. Jadi, terapis sebaiknya selalu bertanya mengenai sejarah
serangan pingsan sebelumnya pada pasien sebelum prosedur
seperti pengambilan sampel darah atau akupunktur. Untuk
mencegah terjadinya serangan pingsan, pasien sebaiknya minum
banyak cairan sebelum dan selama terapi, dan terapi sebaiknya
dilakukan pada situasi yang tenang ketika pasien sedang berbaring.
Kasus dua pasien rawat jalan yang memiliki tekanan darah rendah
dan kehilangan kesadaran sementara waktu (vasodepresor
sinkop112) setelah terapi lintah juga diteliti. Kedua pasien diketahui
memiliki tekanan darah tinggi yang berhubungan dengan
penyumbatan arteri, dan minum obat antihipertensi tiga buah,
dimana mereka meminumnya seperti biasa. Beberapa jam setelah
terapi, kedua pasien mengalami serangan pingsan ringan. Penting
untuk diingat, terapi lintah memiliki efek antihipertensi. Pasien
sebaiknya minum banyak cairan. Jika arus darah yang keluar dari
bekas gigitan lintah kuat, tekanan darah pasien sebaiknya
dimonitor dan obat antihipertensi dikonsumsi sesuai dengan
kebutuhan.
111

112

Vasovagal episode atau vasovagal response atau vasovagal attack (juga disebut neurocardiogenic
syncope) adalah ketidaknyamanan fisik karena adanya pengaruh syaraf campuran (vagus nerve). Jika
mengarah pada syncope (pingsan) dinamakan vasovagal syncope, tipe pingsan paling umum terjadi
Vasodepressor syncope: kehilangan kesadaran sementara waktu dalam jenis situasi yang khusus.
Situasi yang memicu terjadinya reaksi ini adalah berbeda-beda termasuk ketika diambil darah,
ketegangan sampai membuang air seni (urinating), gerakan usus atau batuk. Reaksi ini dapat juga
berhubungan dengan stres emosional atau nyeri

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 154

Kehilangan darah
Terapi lintah selalu berhubungan dengan tingkat kehilangan darah
tertentu, dimana secara medis tidak berbahaya dalam banyak
kasus. Pada percobaan klinis oleh Michelsen dkk, rata-rata
kehilangan hemoglobin adalah 0,7 mg/dL. Namun, pengamatan
yang diteliti secara terpisah berupa terjadinya perdarahan lanjutan
(afterbleeding) yang kuat dan turunnya hemoglobin113, karena
lintah secara tidak sengaja diletakkan langsung di vena permukaan.
Berdasarkan catatan Rumah Sakit Essen-Mitte, penurunan
hemoglobin yang secara klinis berbahaya adalah >3 mg/dL terjadi
setelah terapi lintah pada dua pasien, dimana salah satu pasien
membutuhkan transfusi darah (setelah diterapi dengan enam
lintah untuk nyeri karena penurunan fungsi (osteoarthritis) lutut.
Setelah ditelusuri ke belakang, salah satu pasien mengatakan
pernah mengalami perdarahan lama akibat luka di masa lalu. Pada
kasus yang lain, perdarahan lanjutan dari gigitan lintah berakhir
setelah 36 jam dan harus dihentikan dengan jahitan di kulit. Tes
pengentalan darah yang panjang lebar dilakukan tapi tidak
memperlihatkan adanya gangguan spesifik pengentalan darah.
Anamnesa (pengetahuan riwayat pasien) atas kejadian sebelumnya
mengenai gangguan perdarahan adalah penting, dan pasien
sebaiknya secara khusus ditanya mengenai hal itu. Jika anti
pengentalan darah diresepkan, maka sejumlah kecil lintah (tiga
hingga empat) sebaiknya digunakan pada awal terapi. Tekanan
darah sebaiknya selalu diukur sebelum melakukan terapi lintah dan
terapis sebaiknya tidak menggunakan lebih dari 12 lintah dalam
satu kali terapi.

113

Senyawa protein yang terdiri dari heme dan globin yang memberikan karakteristik warna ada sel darah
merah, berfungsi utama mentransfer oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 155

Lemahnya penyembuhan luka, superinfeksi dan


alergi
Setelah lintah menjatuhkan diri, luka berbentuk tiga gigitan
biasanya akan membengkak selama 24-48 jam disertai dengan
perasaan ketegangan lokal, panas, dan memerah. Noda darah kecil
(ecchymoses)114 berkembang di bawah kulit di sekeliling gigitan
lintah. Pengumpulan darah yang lebih besar biasanya jarang
terjadi. Seperti pada luka memar di permukaan, noda darah diawali
dengan ungu kemerahan, lalu berubah menjadi kuning dan
akhirnya hilang dalam waktu sekitar dua minggu. Peradangan lokal
kadang-kadang disertai adanya puncak jerawat pada gigitan,
biasanya merupakan masalah yang relatif umum terjadi disertai
dengan rasa gatal. Peradangan ini biasanya reda secara cepat
ketika didinginkan dan tidak diganggu. Penyebab gangguan
penyembuhan luka ini tidak diketahui. Penanganan tidak tepat,
khususnya pemberhentian dini perdarahan luka lanjutan, pemijitan
kepala lintah dengan tang penjepit, pemindahan lintah dengan
kekerasan sebelum selesai makan, dan pemeliharaan lintah di air
yang tidak segar, seringkali menjadi penyebab potensial. Namun,
ini telah diteliti terjadi setelah penanganan lintah secara tepat
dalam kasus terpisah.
Secara teoritis, infeksi lokal dengan Aeromonas hydrophilla adalah
penyebab potensial, namun tidak ada kejadian mikrobiologi sejauh
ini dari keberadaan Aeromonas hydrophilla dalam luka pasien yang
diterapi. Beberapa peradangan lokal sering disebabkan
kontaminasi luka lanjutan atau iritasi mekanis, seperti garukan dan
gosokan. Berdasarkan survei rumah sakit, banyak peradangan lokal
terjadi dalam tiga kasus terpisah: satu pasien menderita infeksi
114

Istilah medis untuk perdarahan di subkutaneus lebih besar 1 cm atau hematoma, biasanya disebut luka
memar, dapat berlokasi di kulit atau dalam jaringan lendir

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 156

bakteri terhadap kulit epidermis (erysipelas115) (Gambar 9.1.a) dan


dua
pasien
menderita
peradangan
saluran
limfatik
116
(lymphangitis ) (Gambar 9.1.b) menengah. Semua kasus
diselesaikan dengan cepat dengan terapi antibiotik cephalosporin
dan atau anti gyrase.
Pematuhan yang ketat terhadap peraturan kontraindikasi dan
rekomendasi tempat aplikasi yang tepat akan meminimasi risiko
peradangan lokal. Pada kasus yang kurang jelas dimana pasien
mengalami kulit memerah yang nyeri dan berkelanjutan,
khususnya jika berhubungan dengan peningkatan temperatur,
terapis sebaiknya memberikan antibiotik secepatnya. Penyakit
yang tergolong tidak ganas, tapi memiliki gambaran klinis dan
historis yang ganas (pseudolymphomas) mungkin jarang terjadi,
pengkristalisasian jerawat disebabkan reaksi gigitan serangga
(arthropod reaction) pada gigitan lintah. Saat ini, tidak ada data
untuk menilai frekuensi akurat dari efek samping ini. Menurut para
ahli, tiga dokumentasi dan konfirmasi kasus telah dilaporkan.
Sulit untuk membedakan gangguan penyembuhan luka lanjutan
dari reaksi alergi potensial. Data akurat mengenai frekuensi reaksi
alergi pada gigitan lintah tidak tersedia. Rasa gatal lokal, efek
samping yang biasa terjadi, sebaiknya tidak diinterpretasikan
sebagai reaksi alergi. Reaksi alergi yang pasti seperti gigitan
serangga dan pembengkakan pada organ penggerak (lokodistan)
dilaporkan pada kasus terpisah yang sedikit. Namun, gejala
terlokalisasi, misalnya kemerahan kulit karena luka, infeksi atau
radang (reflex erythema117) (Gambar 9.1.c), kulit cepat memerah
115

Infeksi bakteri streptococcus terhadap epidermis dalam dengan penyebaran Lymphatic


Peradangan saluran lymphatic yang terjadi sebagai hasil dari infeksi pada jarak yang jauh dari saluran.
Kasus yang umum terjadi untuk lymphangitis pada manusia ialah Streptococcus pyogenes (Group A
strep). Lymphangitis juga kadang-kadang disebut "keracunan darah (blood poisoning)
117
Dari bahasa Yunani erythros artinya merah, yaitu kemerahan pada kulit, disebabkan hyperemia dari
kapiler dalam lapisan kulit yang lebih rendah, terjadi jika kulit mengalami luka, infeksi atau
peradangan. Erythema tidak berkaitan dengan wajah menjadi merah karena malu (nervous blushes)
116

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 157

(urticarial dermographism118) (9.1.d) pada individu yang memiliki


emosi abnormal (psychovegetative119) atau labil telah diteliti lebih
sering terjadi. Kasus yang lebih lama menjelaskan kejadian alergi
yang hipersensitif (shock anaphylastic120) (Gambar 9.1.e) jangka
pendek setelah aplikasi enam lintah pada pelipis.

Gambar 9.1.a.
Erysipelas di wajah
karena serbuan bakteri
Streptococcus

Gambar 9.1.c
Gambar 9.1.b.
Lymphangitis
Sumber : Academic of Lymphatic Study

Sumber : Wikipedia

Sumber : Wikipedia

Gambar 9.1.d
Dermatographic urticaria kadang-kadang
disebut "skin writing" (tulisan kulit)
Sumber : Wikipedia

Karakteristik ruam
mata sapi dari
erythema

Gambar 9.1.e
Ruam di punggung orang yang menderita
anaphylaxis.Sumber : Wikipedia

118

Dermatographic urticaria juga dikenal dengan dermographism, dermatographism, atau "skin writing"
adalah gangguan kulit pada 45% dari populasi dan salah satu tipe urticaria (kulit gatal) paling umum,
dimana kulit menjadi naik dan meradang jika dipukul, digores, digosok dan kadang ditampar
119
Menurut beberapa peneliti penderita gangguan psikovegetatif adalah 10-20% dari populasi. Gejala
yang umum adalah gelisah, tegang, gangguan tidur, lekas marah, dan reaksi emosi yang tidak normal.
120
Anaphylaxis adalah multisistem yang akut, reaksi alergi hipersensitif tipe I. Istilah berasal dari bahasa
Yunani ana, melawan, dan phylaxis, perlindungan

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 158

Beberapa terapis lintah memberikan antihistamin secara sistemik


untuk mengatasi reaksi alergi lokal (secara empiris) dan berhasil
dengan baik. Namun, tingkat respon keberhasilan antihistamin
tidak terbukti pada setiap penyebab alergi, tingkat tertentu dari
respon placebo pada antihistamin juga perlu dipertimbangkan.
Kemungkinan adanya pujian (hanya iklan) terhadap antibiotik
alergi pada terapi lintah juga dinyatakan dalam sebuah kasus.
Jika hendak menginterpretasikan reaksi lokal yang terjadi setelah
terapi lintah, penting diingat bahwa enzim protease dalam air liur
lintah menyingkirkan berbagai jenis mediator nonimunologis. Lebih
jauh, reaksi diperburuk oleh faktor emosi abnormal
(psikovegetatif). Hanya beberapa kasus yang menghubungkan
antara terapi lintah dan kejadian reaksi alergi dibuktikan dengan
cukup pasti. Namun, reaksi alergi mungkin potensial terjadi setelah
dimasukkan suatu protein asing. Penyakit kulit (dermatitis) juga
telah diteliti setelah penggunaan salep lintah.
Reaksi pembengkakan jangka pendek dan atau mudah rusaknya
kelenjar sel darah di daerah yang dekat lokasi penyakit (proksimal)
telah dilaporkan pada suatu saat, tapi lebih umum terjadi pada
pasien dengan penyembuhan luka yang lama. Gejala ini terjadi
paling sering di selangkangan setelah penggunaan lintah untuk
menerapi sambungan lutut, sambungan pinggul atau varises.
Hilangnya pembengkakan kelenjar sel darah secara cepat dan tidak
terperhatikan dijelaskan pada semua laporan kasus tersebut.

Infeksi (sepsis)
Sepsis yang disebabkan oleh infeksi sistemik dari Aeromonas
hydrophila telah berulang-ulang diteliti yang terjadi setelah
penerapan terapi lintah dalam indikasi bedah rekonstruktif, tetapi
tidak dalam masalah terkait lain. Hal ini mendukung kesimpulan
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 159

bahwa risiko infeksi Aeromonas hydrophila meningkat hanya pada


pasien dengan beberapa penyakit yang dideritanya atau tekanan
terhadap imunitas tubuh, yang biasanya merupakan kasus dalam
kandidat pembedahan. Para ahli merekomendasikan penggunaan
antibiotik secara bersamaan pada semua pasien bedah yang
menerima terapi lintah. Pada bidang penggunaan lain, terapi
antibiotik utama tidak diperlukan berdasarkan status pengetahuan
saat ini tetapi kontraindikasi yang relevan harus diteliti.

Antibiotik pada terapi lintah


Terapi antibiotik minimal enam jam sebelum terapi
direkomendasikan untuk semua pasien bedah. Dalam semua
indikasi, pengalaman menunjukkan terapi antibiotik saat ini tidak
dibutuhkan. Pasien dengan berbagai penyakit tambahan
(comorbidity121) dapat mengkonsumsi antibiotik selama tiga hari
(anti gyrase122 seperti ciprofloxacin atau Ciprobay). Anti gyrase juga
indikasi peradangan parah atau radang jaringan penghubung
(phlegmonous123) atau radang kelenjar limfatik (limphangitis).

Transmisi penyakit infeksi


Saat ini lintah biasanya hanya digunakan sekali, sehingga tidak ada
risiko transfer langsung penyakit infeksi dari satu pasien ke pasien
lain. Infeksi utama oleh Aeromonas hydrophila secara klinis hanya
berbahaya jika lintah digunakan untuk bedah pencangkokan.
Penggunaan antibiotik secara bersamaan direkomendasikan untuk

121

Dalam dunia pengobatan, comorbidity adalah kehadiran satu atau lebih gangguan (penyakit) sebagai
tambahan pada penyakit atau gangguan primer, atau efek dari gangguan atau penyakit tambahan
122
DNA gyrase, sering disebut gyrase saja, adalah enzim yang membebaskan dari ketegangan ketika DNA
strip ganda dibebaskan oleh kelompok enzim
123
Phlegmonous abscess berhubungan dengan peradangan jaringan penghubung subkutaneus akut

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 160

pencegahan infeksi (prophylaxis124). Transmisi dari bakteri lain atau


penyakit vital pada manusia dalam terapi lintah belum diteliti
sampai sejauh ini. Terapis sebaiknya membeli lintah dari pensuplai
yang membiakkan lintah pada kondisi tertentu (misalnya
perusahaan ZAUG di Jerman).

Luka
Jika luka akibat gigitan lintah tidak diganggu, maka biasanya cepat
mengering hingga sulit dilihat atau hanya berupa tanda bekas tiga
gigitan yang tidak terlihat dan akan hilang sama sekali dalam satu
hingga tiga minggu. Namun, jika penyembuhan luka terganggu
karena garukan atau infeksi luka lanjutan, maka luka akan tetap
terlihat untuk periode waktu yang lama. Perubahan kulit
berjerawat untuk beberapa bulan juga telah dilaporkan dalam
kasus terpisah. Pada suatu kasus, reaksi arthropod125 (Gambar 9.2)
permanen juga dilaporkan terjadi setelah terapi lintah.

Gambar 9.2
Reaksi gigitan serangga
Sumber : Skinsight

Luka yang parah mungkin terjadi terutama jika lintah digunakan


pada area dengan kulit yang tipis dan lapisan tipis dari jaringan sub
kulit epidermis atau daerah persambungan dimana kulit bergerak
secara konstan. Penggunaan pakaian yang membatasi gerak

124

125

Bahasa Yunani "" artinya menjaga atau melindungi sebelum terjadi adalah prosedur
medis atau kesehatan publik dimana tujuannya adalah untuk mencegah daripada mengobati penyakit
Reaksi seperti gigitan atau sengatan serangga (arthropods)

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 161

setelah terapi, misalnya di sekitar lutut, juga dapat menghasilkan


luka.
Untuk alasan estetika, penahanan diri disarankan jika
menggunakan lintah di daerah muka atau yang dapat jelas terlihat
dan bagian yang berhubungan secara kosmetik (kecantikan) dari
tubuh. Disini, para ahli menegaskan bahwa perlu untuk
memberitahu secara keseluruhan dan mendapatkan ijin tertulis
dari pasien sebelum melanjutkan terapi.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 162

10. Dasar ilmiah terapi lintah


Pada bab ini, indikasi klinis akan dikelompokkan berdasarkan
mekanisme utama yang terlibat. Tipe klasifikasinya murni teoritis.
Lebih jauh, data terkini menunjukkan tindakan simultan dari
mekanisme ganda mungkin bertanggung jawab pada keefektifan
terapi lintah secara klinis dalam indikasi non bedah.

Mekanisme terapi lintah dan korelasi klinis


Anti pengentalan darah dan Hemodilusi
Ketika lintah menggigit, luka gigitannya segera mulai berdarah dan
terus berdarah hingga beberapa jam. Perdarahan yang lama ini
disebabkan oleh hirudin dan zat anti pengentalan darah lainnya
dalam air liur lintah dan itu adalah mekanisme yang paling
berhubungan dari terapi lintah dalam bedah plastik dan
rekonstruktif. Terapi lintah meningkatkan pengaliran vena lokal
secara ekstensif dan meningkatkan karakteristik perdarahan
(hemoreologis), sehingga menghalangi secara efektif pelebaran
vena pasca operasi dan kematian lokal jaringan yang dapat terjadi.
Walaupun hirudin hanya menunjukkan injeksi jaringan lokal, efek
sistemik dari hirudin juga dianggap terjadi.
Pada percobaan yang terdiri dari 23 pasien, pengurangan dari
kecenderungan pengentalan dan elastisitas (viskoelastisitas) dan
pengelompokan (agregasi) dari darah diteliti selama empat minggu
setelah diterapi dengan satu lintah di area pinggang (lumbar),
antara tulang rusuk dan pinggul, dimana nilai proporsi
(hematokrit)126 dan viskositas (kekentalan) plasma tidak berubah.
126

Proporsi volume sampel darah dengan sel darah merah yang padat diukur dalam ml per dl dari darah
keseluruhan atau dalam persen

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 163

Dengan mempertimbangkan daur kehidupan plasma yang singkat


dari hirudin, para ahli menyarankan rangsangan yang berbeda
dilakukan pada pembuatan eritrosit di sum-sum tulang
(erythropoiesis) yang bertanggungjawab sebagai parameter
modulasi jangka panjang dari terjadinya perdarahan
(hemoreoligis). Namun, efek sistemik seperti ini tidak begitu
penting dalam indikasi bedah terapi lintah.
Terapi lintah tidak direkomendasikan lagi untuk mencegah dan
mengobati pembekuan darah (thrombosis). Obat modern seperti
heparin dan coumarin memiliki efek yang dapat dipercaya dan
dapat dikontrol dan sekarang lebih disukai untuk indikasi ini.

Efek penghilang rasa nyeri (analgesik) dan Anti peradangan


Studi terkini mengenai hirudin dan anti-thrombin menghasilkan
efek anti peradangan langsung pada zat ini ditambahkan pada efek
anti pengentalan yang diketahui. Studi eksperimen di Universitas
Lausanne mengundang banyak perhatian. Investigator awalnya
memproduksi antigen yang diinduksi pada peradangan di daerah
sambungan dalam percobaan pada hewan dan kemudian menerapi
hewan pada subkutaneus dengan kombinasi ulang PEG hirudin
selama 13 hari. Pengurangan skintigrafik127 signifikan pada
peradangan dan reduksi struktur mikroskopik jaringan (histological)
penebalan synovial128 terjadi dalam 7 hari. Penemuan ini
membuktikan efek pencegahan dari hirudin tidak hanya bereaksi
pada sistem thrombin tapi juga proses peradangan pada tingkat
sel. Pada studi yang lain, mereka menunjukkan hirudin

127

128

Timbulnya bayangan dua dimensi distribusi radioaktivitas dalam jaringan setelah pemberian
radionuklida internal, bayangan diperoleh dengan kamera skintilasi
Cairan kental transparan alkalis yang menyerupai putih telur, disekresi oleh membran sinovial dan
terdapat di dalam rongga-rongga sendi, bursa, dan selubung tendo

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 164

menghambat sejumlah cytokine129 pro peradangan pada cairan


synovial. Pada terapi lintah, penting untuk diingat gigitan lintah
merepresentasikan hanya sekali injeksi hirudin dan separuh masa
hidup hirudin alami lebih pendek dari kombinasi ulang hirudin PEG.
Seperti telah dijelaskan, hirudin normal bekerja dalam kombinasi
dengan banyak zat anti peradangan lain dalam air liur lintah. Efek
aditif ini diasumsikan sangat sifnifikan.
Rahang lintah menyayat kulit, sehingga zat aktif biologi dapat
masuk hingga ke jaringan yang lebih dalam. Hyaluronidase (faktor
penyebar), enzim dalam air liur, kemudian memfasilitasi penetrasi
dan difusi dari zat aktif farmakologi ke dalam jaringan. Data
penelitian eksperimen pada penggunaan biasa obat anti radang
dan demam (antiflogistik topikal130) dapat digunakan untuk
menggambarkan kesimpulan umum tertentu mengenai akumulasi
zat yang dihasilkan secara lokal dalam jaringan tubuh. Setelah
aplikasi pada daerah tertentu (topical) dari gel diclofenac pada
lutut pasien yang mengalami pengaliran cairan (efusi) pada
sambungan lutut, maka obat dapat dideteksi dalam jaringan sekitar
sendi (periartikular) dalam dan ruang tubuh.
Dengan tambahan efek menyebar (hyaluronidase), sangat mungkin
zat anti radang (antiflogistik) dalam air liur lintah dapat masuk
cukup dalam untuk menghasilkan efek signifikan dalam struktur
sekitar sendi yang berhubungan dengan jaringan otot
(myofascial131 periarticular), bahkan mungkin pada struktur di
dalam sendi (intra-articular). Studi terkini menunjukkan struktur
sekitar sendi yang berhubungan dengan jaringan otot (myofascial
periarticular) penting dalam pengembangan nyeri sambungan
kronis dan gejala nyeri regional pada pasien dengan nyeri sendi
129

Protein nonantibodi yang dilepaskan oleh satu populasi sel ketika berkontak dengan antigen spesifik
yang bertindak sebagai perantara antar sel seperti pada pembentukan respon imun
130
Mengatasi radang dan demam di daerah permukaan tertentu
131
Berkenaan atau dengan melibatkan fasia sekitarnya dan berhubungan dengan jaringan otot

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 165

karena menurunnya fungsi organ (osteoarthritis). Efek anti


peradangan sistemik pada terapi lintah kurang masuk akal,
terutama pada efek perdarahan yang lama dari satu gigitan lintah.

Efek Segmental dan Anti respon nyeri (antinosiseptif)


Sesuai aturan, setiap terapi yang menyebabkan iritasi pada kutis
dan subkutis akan memicu pada efek lokal anti respon nyeri
(antinosiseptif132) dan segmental. Ini alasan rasional di belakang
penggunaan capsaicin (merica Spanyol) untuk menerapi rasa nyeri.
Mekanisme ini juga terlibat dalam akupunktur dan teknik stimulasi
kulit yang digunakan dalam pengobatan Eropa tradisional (Teknik
Braunscheidt, bekam, dll). Tingkat dimana satu gigitan lintah dapat
mengaktifkan mekanisme tersebut tidak diketahui dan sulit untuk
ditentukan model eksperimennya. Namun, kelihatan masuk akal
bahwa efek anti respon nyeri pada gigitan lintah meningkatkan
mekanisme primer lain dalam terapi lintah.

Efek pada aliran limfe dan jaringan penghubung


Beberapa peneliti membuktikan terapi lintah meningkatkan aliran
limfe. Data tersedia untuk studi ini tersebar dan berasal dari studi
yang lebih tua. Tidak ada laporan empiris dari efek spesifik terapi
lintah pada penyakit yang berkaitan dengan (concomittan)
pembengkakan (edema) satu atau dua sisi (lymphedema133).
Beberapa terapis mengatakan terapi lintah lokal secara khusus
efektif untuk pasien dengan radang pada daerah jaringan
penghubung. Namun, analisis lanjutan pada dua studi besar
mengenai terapi lintah untuk nyeri karena menurunnya fungsi
(osteoarthritis) lutut tidak menunjukkan korelasi antara tingkat
132
133

Menghalangi atau menurunkan sensitivitas terhadap stimulus nyeri


Edema unilateral atau bilateral kronis pada ekstremitas yang disebabkan oleh penimbunan cairan
interstisial statis pada limfe sekunder, obstruksi pembuluh limfe atau gangguan kelenjar getah bening

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 166

zona jaringan penghubung lokal dan kemanjuran klinis dari terapi.


Berdasarkan tingkat pengetahuan terkini, efek terapi lintah pada
aliran limfe dan jaringan penghubung kelihatannya sedikit relevan
dibandingkan rasa nyeri, tetapi perangsangan pada aliran limfe
mungkin lebih penting pada terapi gejala varises. Penelitian klinis
lanjutan dibutuhkan untuk menilai efek ini secara handal.

Konsep tradisional dan konstitusional kemujaraban


Dalam sistem pengobatan Eropa, Arab, juga di Ayurveda dan Cina
tradisional (TCM), terapi lintah sangat berhubungan erat dengan
teori konstitusional dan konsep penyakit. Pada sistem pengobatan
tersebut, pernyataan sistemik dan lokal dari surplus dan defisit,
panas dan dingin, dipertimbangkan jika menilai pasien. Semua
sistem ini menjelaskan terapi yang melibatkan iritasi kulit lokal dan
penyayatan vena (veneseksi) sebagai pengaliran kelebihan cairan.
Secara teoritis, dengan menggunakan metodologi ini sulit untuk
menganalisis pasien. Pertama-tama kecukupan standardisasi dari
terminologi yang relevan dan klasifikasi klinis yang kurang. Kedua,
analisis responden memerlukan sejumlah besar kasus dan desain
studi yang memungkinkan untuk analisis.
Pada studi Rumah Sakit Essen-Mitte, para ahli tidak dapat
mendemonstrasikan korelasi antara kemujaraban terapi lintah dan
tingkat proporsi sampel darah (hematokrit) awal, tingkat darah
yang dihisap lintah, atau indeks ukuran tubuh (Body Mass Index),
yang digunakan sebagai parameter untuk pembentukan dasar
pengobatan. Namun, tidak ada teknik spesifik dalam pengobatan
dasar (misalnya diagnosis lidah) digunakan untuk mengevaluasi
pasien. Jadi, tidak memungkinkan untuk menilai respon terapi
lintah berdasarkan konsep tradisional dari pengobatan dasar pada
saat ini. Walaupun konsep tradisional yang mendasari model saat
ini memiliki kebijakan dalam mengekspresikan sesuatu dengan
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 167

menunjuk pada yang lain (metaforikal), lebih banyak yang tidak


memenuhi konsep gangguan fungsi (patofiologis) modern dan
prinsip tindakan, fakta bahwa pasien dilayani sebagai basis untuk
terapi lintah yang lebih tepat dan sukses selama berabad-abad
perlu ditekankan. Analisis ilmiah yang komprehensif untuk terapi
lintah sebaiknya mempertimbangkan aspek tersebut jika
memungkinkan.

Bukti keberhasilan dalam indikasi klinis tertentu


Bedah plastik dan rekonstruktif : Penyumbatan vena akut setelah
operasi
Terapi lintah digunakan untuk mengatasi penyumbatan vena akut
setelah operasi sejak 1960an. Pada indikasi ini, terapi lintah adalah
teknik internasional yang dapat diklasifikasikan sebagai metode
pengobatan standar. Penggunaan yang sukses dari terapi lintah
untuk menerapi penyumbatan vena setelah bedah plastik dan
rekonstruktif disebutkan oleh Dieffenbach awal tahun 1827.
Publikasi internasional yang komprehensif pertama kali pada
subjek ini ditulis oleh Derganc dan Zuravic, yang mendeskripsikan
hasilnya pada rangkaian perawatan 20 pasien pada tahun 1960.
Pembuktian tujuan dari peningkatan aliran darah dibuktikan
kemudian oleh studi laser134 Doppler yang dilakukan oleh Hayden.
Berbagai eksperimen terhadap hewan, beberapa diantaranya
adalah desain studi yang acak, membuktikan bahwa terapi lintah
meningkatkan pemompaan cairan (perfusi) pada daerah penutup
kulit yang ditransplantasi dan unggul dibandingkan terapi lain yang
134

Singkatan dari Light amplification by stimulated emission of radiation, suatu alat yang memancarkan
cahaya dengan frekuensi berbedabeda menjadi sinar yang sangat kuat, kecil dan hampir tidak
berpencar dari radiasi monokromatik pada daerah yang dapat dilihat dengan semua gelombangnya
dalam satu fase. Digunakan sebagai alat pada tindakan pembedahan, diagnosis dan penelitian fisiologi

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 168

digunakan untuk menyediakan suplai darah normal dan


pengalirannya. Namun, studi klinis yang dikontrol masih kurang.
Kemungkinan untuk menyediakan percobaan yang terkontrol
terbatas, karena sulit menstandarisasi indikasi dan prosedur terapi
untuk penyumbatan vena pasca operasi. Karena terapi lintah saat
ini adalah bentuk yang valid untuk indikasi ini, kelihatannya secara
etis tidak dapat dipertahankan untuk tidak menginformasikan
terapi dari pasien dalam kelompok kontrol suatu studi. Akibatnya,
tidak dapat dipercaya bahwa studi seperti ini pernah dilaksanakan.
Situasi yang sama terdapat pada sejumlah indikasi bedah dimana
terapi dipandang sebagai metode terapi standar walaupun, kurang
pembuktian berkualitas tinggi dari keberhasilan yang didefinisikan
dengan kriteria pengobatan berdasarkan fakta (kesaksian).
Sejumlah studi observasi dan rangkaian kasus dari penggunaan
terapi lintah untuk penyumbatan vena akut dipublikasikan dalam
literatur internasional sejak 1960. Meskipun studi yang dikontrol
kurang jumlahnya, namun dapat disimpulkan bahwa ada bukti
klinis yang cukup dari kemujaraban terapi lintah untuk indikasi ini.

Peradangan vena akibat pembentukan thrombosis


(Thrombophlebitis) dan Varises (Varicose Vein)
Sebelum kedatangan heparin, terapi lintah adalah metode yang
ditetapkan untuk terapi akut pada pembekuan darah (thrombosis)
vena kaki dalam dan peradangan vena akibat pembentukan
thrombosis (thrombophlebitis) di permukaan. Banyak dokter dan
suster dari departemen yang berbeda-beda mengingat telah
menggunakan lintah untuk menangani kasus ini. Dengan
kedatangan heparin, sebelum masa studi yang dikontrol tersebut,
terapi lintah yang dulunya signifikan dengan cepat menghilang,
tapi masih bertahan signifikan sebagai aplikasi yang sesuai untuk

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 169

gejala varises dan peradangan vena akibat pembentukan


thrombosis permukaan dalam praktek medis.
Buku Bottenberg mengenai terapi lintah adalah buku yang
berkuasa pada saat itu. Peneliti dari India menggunakan metode
berbasis teknologi untuk mengklasifikasi efek terapi lintah pada
percobaan klinis tidak terkontrol yang lebih baru, pada 20 pasien
dengan bisul vena (venous ulcer) dan varises yang kompleks.
Aplikasi satu ekor lintah dilaporkan memiliki efek antipembengkakan dengan akumulasi cairan berlebihan (edema) pada
19 dari 20 pasien dan menghasilkan penyembuhan pada bisul vena
yang sulit disembuhkan (refraktori) sebelumnya pada semua
pasien yang diteliti.
Karena kurangnya kelompok kontrol, tidak mungkin untuk
menentukan apakah efek dari terapi lintah adalah efek yang
spesifik. Tidak ada studi yang terkontrol atau tidak terkontrol lain
mengenai subjek ini. Seperti banyak penyakit lainnya, kesuksesan
tahunan dari praktek tradisonal menyediakan kejadian empiris
yang luas dari kemujaraban terapi, tetapi hanya sedikit kejadian
yang memenuhi kriteria pengobatan berdasarkan fakta (evidencebesed medicine). Studi terkontrol perlu dilakukan untuk
mengumpulkan lebih banyak penilaian kemujaraban yang spesifik.
Karena terapi lintah tidak memiliki efek kosmetik pada varises dan
karena metode fisik efektif untuk edema telah tersedia, studi ini
sebaiknya terfokus pada kemujaraban dari terapi lintah untuk
menghindari gejala varises dan mengobati bisul vena. Namun, studi
ini tidak dapat dilaksanakan tanpa dukungan finansial. Pendanaan
penelitian yang cukup adalah penting untuk mencapai bukti ilmiah
dari kemujaraban terapi lintah.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 170

Nyeri persendian (Arthrosis), radang sendi (Arthritis), dan


gejala nyeri kronis
Ini adalah indikasi paling dominan untuk terapi lintah dalam
praktek medis modern. Dalam sejarah, lintah digunakan terutama
untuk menerapi gout (arthritis urica) dan pembengkakan penyakit
pada sambungan yang terinfeksi. Berdasarkan alasan transmisi dan
kontrol penyakit (epidemiologi), maka penyakit pada daerah
sambungan karena menurunnya fungsi organ tubuh (degeneratif)
lazim di populasi Eropa pada saat ini. Karena frekuensinya
meningkat secara teratur, maka penyakit ini menjadi lebih dan
lebih dominan pada terapi lintah klinis dalam dekade terakhir.

Nyeri sendi karena menurunnya fungsi (Osteoarthritis) lutut


(Gonarthritis)
Gejala gonarthritis adalah salah satu indikasi yang diteliti paling
baik untuk terapi lintah. Klinik rawat jalan dan rumah sakit seperti
Departemen Pengobatan Naturopatik (Naturopathic Medicine)
pada Rumah Sakit Moabit di Berlin, terapi lintah mencapai
kesuksesan sangat tinggi setelah aplikasi sekali terapi pada daerah
di sekitar sendi (periartikular) pada pasien dengan nyeri sendi
(osteoarthritis) di lutut.
Tim penelitian mempublikasikan studi awal dari kemujaraban
terapi lintah dalam mengobati rasa nyeri sendi (osteoarthritis) di
lutut tahun 2001. Enam belas pasien berturut-turut, yang memberi
konfirmasi pada kasus jangka panjang nyeri gonathrosis yang
memburuk pada satu sisi tubuh, dimasukkan dalam studi. Terapi
tunggal dengan empat hingga enam lintah dilakukan pada 10
pasien, dan pengobatan standar diteruskan pada enam lainnya.
Pada studi yang dikontrol tapi tidak random ini, terapi lintah
mencapai pengurangan rasa nyeri yang cepat dan signifikan (kiraVita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 171

kira 60%) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Perbedaan


dalam pengurangan rasa sakit secara statistik signifikan tiga hari
setelah terapi dan bahkan lebih tegas dinyatakan terjadi empat
minggu setelah terapi. Pada akhir studi, intensitas nyeri dari
kelompok terapi lintah diberi nilai 1 dari skala 0-10. Rangkaian
nyeri pada daerah sambungan yang diteliti sepanjang waktu dapat
dilihat pada Gambar 10.1.

Gambar 10.1
Hasil dari studi awal terkontrol
dari pasien dengan osteoarthritis pada lutut.
Rangkaian nilai nyeri pasien yang diterapi dengan lintah
dibandingkan dengan terapi standar
Sumber : Rumah Sakit Essen-Mitte, Jerman

Didorong oleh hasil yang menjanjikan, para peneliti memulai studi


random yang lebih besar pada Rumah Sakit Essen-Mitte dengan
dana dari the Karl and Veronica Carstens Foundation. Ke-51
pasien yang terlibat dalam studi, secara radiologis (dengan sinar X
atau alat radiasi lain) dan klinis telah dikonfirmasi memiliki nyeri
sendi (osteoarthritis) pada lutut untuk jangka waktu yang lama.
Pasien secara random dimasukkan ke dalam kelompok yang
menerima terapi lintah saja (n=24 orang) atau terapi gel anti
radang lokal diclofenac (n=27). Terapi dengan diclofenac yang
standar dan konvensional dilakukan beberapa kali dalam sehari
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 172

selama total empat minggu. Pasien menjalaninya selama total tiga


bulan. Gejala didokumentasi secara detail dan menggunakan
kuesioner yang telah disusun dan divalidasi, menggunakan skala
analog visual WOMAC (the Western Ontario and McMaster
Universities Osteoarthritis Index), sebuah indeks nyeri sendi di
Universitas McMaster dan Ontario bagian barat. Kuesioner
WOMAC diselesaikan pada hari ketiga, ketujuh, 28 dan 90. Nilai
total WOMAC juga dianalisis.
Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai rasa nyeri, nilai
fungsi sambungan, nilai kekakuan pada pagi hari, dan nilai total.
Pengurangan signifikan pada rasa nyeri terjadi tiga hari setelah
terapi, dan maksimum kelegaan nyeri diukur pada hari ke tujuh.
Pada akhir bulan ketiga, nilai nyeri masih lebih rendah daripada
nilai dasar. Terapi lintah jelas unggul dibandingkan terapi yang
direkomendasikan pada dua tanggal sampling pertama, walaupun
signifikansi perbedaan secara statistik menurun setelah itu.
Selama periode studi secara keseluruhan, fungsi sambungan,
kekakuan pagi hari dan nilai total dari pasien yang menerima terapi
lintah secara konsisten dari WOMAC lebih baik daripada pasien
dalam kelompok kontrol. Kualitas kehidupan, yang dinilai selama
satu bulan, juga signifikan lebih baik pada kelompok terapi lintah.
Tidak ada efek samping yang serius terjadi. Gatal lokal sedang yang
berakhir pada dua hingga tiga hari sering dilaporkan. Rangkaian
dari nilai nyeri dan nilai fungsi sambungan WOMAC sepanjang
waktu dapat dilihat pada Gambar 10.2 dan 10.3.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 173

Gambar 10.2

Gambar 10.3.

Studi mengenai keberhasilan terapi lintah


pada 51 pasien dengan osteoarthritis pada
lutut. Penilaian nyeri dari WOMAC

Studi mengenai keberhasilan terapi lintah


pada 51 pasien dengan osteoarthritis pada
lutut. Penilaian fungsi sambungan WOMAC

Sumber : Rumas Sakit Essen-Mitte, Jerman

Studi random mendemonstrasikan terapi lintah merupakan


metode yang sangat efektif dan handal untuk menerapi nyeri sendi
(osteoarthritis) pada lutut. Fakta bahwa pengurangan nyeri absolut
agak lebih rendah dibandingkan pada studi awal dapat
dihubungkan dengan desain studi yang bersifat acak.
Pada studi awal, pasien diberikan metode terapi yang mereka
inginkan untuk diterima, dimana pada studi kedua pasien secara
random diberikan terapi yang berbeda. Untuk menguji hipotesis,
semua pasien pada studi lebih lanjut ditanya mengenai
ekspektasinya pada hasil terapi langsung setelah diatur secara acak
(randomisasi). Tidak mengejutkan pasien pada kelompok terapi
lintah memiliki ekspektasi lebih tinggi dibandingkan dengan
kelompok diclofenac. Hasil ekspektasi termasuk dalam analisis
statistik yang telah disesuaikan, yang menunjukkan bahwa pasien
tidak dipengaruhi hasil terapi atau perbedaan kelompok yang
diobservasi. Ini membuat peneliti dapat menyimpulkan bahwa efek
placebo atau sugestif tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada
hasil terapi.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 174

Studi intervensi ketiga dengan perbandingan desain studi yang


dikontrol dan diacak dilakukan peneliti di Universitas Free di Berlin,
Jerman. Sejumlah total 52 pasien (umur rata-rata : 68 tahun)
terlibat dalam studi ini. Pasien dalam kelompok terapi lintah (n=26)
menerima terapi lintah, sedangkan pada kelompok kontrol (n=26)
menerima terapi Transcutaneous Electrical Neuromuscular
Stimulation (TENS) (stimulasi otot dan syaraf dengan alat listrik
yang ditempelkan pada kulit). Peneliti menggunakan desain studi
silang dimana periode dua-tiga minggu terapi dipisahkan dari
periode tiga minggu berikutnya yang meletihkan. Gejala dievaluasi
dengan menggunakan indek Lequesne yang telah divalidasi,
dibandingkan dengan indeks WOMAC. Studi Universitas Free juga
mendemonstrasikan bahwa terapi lintah menyebabkan
pengurangan nyeri yang signifikan dan peningkatan pada fungsi
sambungan dan efek terapi lintah masih diukur sembilan bulan
setelah terapi.
Sebagai ringkasan, tiga studi mendemonstrasikan keberhasilan
klinis yang baik dari terapi lintah untuk nyeri sendi (osteoarthritis)
pada lutut yang telah dilakukan sejauh ini. Dua dari tiga penelitian
diacak, percobaannya dikontrol. Berdasarkan kriteria pengobatan
berdasarkan fakta, ini dapat diklasifikasikan sebagai fakta yang
sangat dapat dipercaya.
Studi tinjauan ke belakang (retrospektif) dilakukan di Rumah Sakit
Essen-Mitte, Jerman, dimana kira-kira 400 pasien dengan nyeri
sendi (osteoarthritis) di lutut menerima satu kali terapi lintah
sebagai data awal untuk efek jangka panjang dari terapi lintah.
Sembilan puluh persen dari pasien mengalami penurunan nyeri
yang signifikan, dimana berlangsung satu hingga tiga bulan pada
27% kasus, empat hingga sembilan bulan pada 33% kasus, dan 10
bulan ke atas pada 26% kasus. Kebutuhan akan obat penghilang

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 175

rasa nyeri (analgesik) menurun pada 72% dari keseluruhan pasien,


dan menurun untuk durasi lebih dari satu tahun sebesar 32%.
Di samping rasa gatal secara lokal yang sering terjadi dan kulit yang
kadang-kadang memerah, efek samping lain jarang terjadi. Saat ini
dapat disimpulkan terapi lintah berguna dan merupakan metode
yang aman untuk menerapi gejala nyeri sendi lutut (gonarthrosis).
Keterkaitan klinis dari terapi lintah menjadi yang terpenting dalam
efek samping yang telah dikenal yang berhubungan dengan
penggunaan jangka panjang dari obat anti radang nonsteroid
(NSAIDs) dan anti COX-2.

Penyakit degeneratif pada sambungan lain dan gejala nyeri


otot dan jaringan (myofascial)
Pada praktek klinis, lintah digunakan untuk menerapi penyakit
sambungan degeneratif dalam banyak lokasi lain selain lutut.
Berdasarkan survei terhadap terapi lintah, sambungan utama yang
diterapi pada kondisi ini adalah bahu, jempol, dan pergelangan
kaki. Terapi pada nyeri pinggul (coxarthrosis) memungkinkan tapi
kurang menjanjikan karena pinggul kurang dapat dicapai oleh
lintah. Lebih jauh, peradangan otot (insersi tendinopati) dan
penyakit otot (miopati) kurang berperan penting sebagai penyebab
penyakit pada nyeri pinggul (coxarthrosis) dibandingkan nyeri sendi
lutut (gonarthrosis). Terapi lintah di jari tangan dan jari kaki
umumnya tidak direkomendasikan, karena risiko tertundanya
penyembuhan luka. Namun memungkinkan, jika jaringan di bawah
kulit kulit epidermis (subkutaneus) cukup tebal dan risiko potensial
dan keuntungan dari terapi dipertimbangkan.
Percobaan dilakukan juga di University of Moscow, Rusia, tahun
2002 yang dipresentasikan pada Kongres Rematologis Eropa,
menganalisis efek terapi lintah pada nyeri sekitar sendi
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 176

(periartikular)/titik pemicu, nyeri sendi (arthralgia), kualitas


sambungan, kekakuan pagi hari pada 51 pasien dengan nyeri
karena penurunan fungsi sambungan di berbagai lokasi dan pada
51 pasien dengan radang (arthritis) karena rematik. Terapi lintah
mencapai peningkatan signifikan pada fungsi, nyeri sendi
(arthralgia), dan kekakuan pagi hari pada hampir semua pasien
dalam kedua kelompok diagnosis.
Situasinya sama untuk gejala nyeri otot dan jaringan (myofascial).
Gejala nyeri punggung bagian bawah dan gejala nyeri sambungan
tulang pinggul (iliosakral) adalah dua kondisi yang secara umum
dan sukses (secara subjektif) diterapi dengan lintah, tetapi data
yang berhubungan dari percobaan klinis adalah kurang. Radang
pada tulang bahu hingga siku (Humerolateral epikondilitis) adalah
indikasi yang sering terjadi lainnya untuk terapi lintah. Tidak ada
penilaian klinis/ilmiah dari kemujaraban dari terapi lintah pada
penyakit ini yang memungkinkan saat ini.
Pada literatur klasik, terapi lintah sering direkomendasikan untuk
luka memar (kontusi) dan keseleo (sprain). Pengurangan bengkak
dan nyeri sebagai respon dari terapi lintah diteliti dalam studi
kasus dan pengalaman praktis. Penggunaan lintah dalam
pengobatan olah raga (misalnya sepak bola profesional)
meningkat. Berdasarkan observasi ini, secara aman dapat
disimpulkan bahwa terapi lintah efektif, tetapi percobaan klinis
yang dikontrol harus dilakukan untuk mendapatkan bukti ilmiah
dari kemujarabannya.

Peradangan sendi (arthritis)


Gout (Arthritis urica) adalah satu dari indikasi utama terapi lintah
yang ditentukan pada literatur tua. Bottenberg menjelaskan
sejumlah kasus berhasil yang mendukung penggunaan lintah untuk
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 177

indikasi ini. Pada saat itu obat seperti ibuprofen dan allopurinol,
yang jadi standar pengobatan saat ini, belum tersedia. Di sisi lain,
studi klinis modern mengenai keefektifan terapi lintah untuk
radang sendi (arthritis) adalah kurang. Akibatnya, penggunaan
lintah hanya untuk kasus kronis dan penyakit yang sulit diatasi.
Artikel pada literatur tua dan yang lebih baru bertentangan satu
sama lain dalam hubungan dengan penggunaan terapi untuk
polyarthritis kronis (cP) dan arthritis rematik (rA). Sebuah pusat
penyakit rematik yang mengkhususkan pada terapi lintah
mengambil pendekatan yang tepat dalam menggunakan lintah
untuk menerapi cP. Pada studi yang telah disebutkan sebelumnya
terapi lintah menghasilkan peningkatan signifikan pada penyakit
pada daerah sambungan karena rematik dan pengurangan yang
menyertainya dalam parameter peradangan. Pada saat ini, data
dalam literatur tidak menyediakan bukti yang cukup dari
kemujaraban terapi. Para dokter di Rumah Sakit Essen-Mitte
menyarankan untuk menggunakan lintah langsung pada daerah
sambungan yang terkena peradangan akut, tetapi terapi lintah
dapat dicoba dengan tahap berselang setelah peradangan akut
mereda.

Radang telinga tengah (Media Otitis), gangguan suara bising


di telinga (Tinnitus) dan penyakit telinga lain
Penyakit telinga, khususnya radang telinga tengah (media otitis),
adalah indikasi utama untuk terapi lintah pada literatur tua dan
buku Bottenberg. Lintah diaplikasikan pada daerah belakang
telinga (mastoid) atau tonjolan di sebelah depan lubang telinga
luar (tragus).
Tim Baskova dari University of Moscow melakukan studi klinis
terapi lintah pada penyakit telinga. Pada studi yang menarik ini,
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 178

273 pasien yang memiliki penyakit radang telinga tengah (media


otitis), radang telinga (otitis) luar, gangguan suara bising di telinga
(tinnitus) dibagi dalam tiga kelompok terapi. Kelompok 1 diterapi
dengan lintah saja. Kelompok 2 menerima injeksi lokal dari ekstrak
air liur lintah segar. Kelompok 3 menerima terapi standar normal
(antibiotik untuk infeksi telinga, hemodilusi135 untuk tinnitus).
Terapi lintah menunjukkan keunggulan signifikan dalam
meringankan penderitaan gejala otitis luar dan tinnitus tapi tidak
dalam kasus media otitis. Efek dari injeksi ekstrak air liur lintah
sekitar sepertiga lebih rendah dibandingkan terapi lintah alami.
Meskipun hasil positif dicapai dalam otitis luar dan tinnitus, hasil
studi ini sebaiknya diinterpretasikan secara hati-hati, khususnya
pada kasus tinnitus. Sangat sering, keberhasilan yang
didemonstrasikan pada studi obat dan akupunktur sebelumnya
tidak dapat dikonfirmasi kemudian dalam percobaan klinis yang
diatur secara acak dalam skala besar. Namun, laporan dari efek
positif pada terapi lintah dalam tinnitus sering terdengar dalam
praktek. Studi klinis pada subjek ini sangat diharapkan.

Tekanan darah tinggi (hypertension) dan penyakit jantung


dan pembuluh darah (cardiovascular)
Penyakit cardiovascular (Gambar 10.4) adalah indikasi utama dari
terapi lintah selama berabad-abab. Pada setengah bagian pertama
abad ke-20, adalah normal melakukan terapi lintah untuk serangan
stroke dan jantung. Mekanisme dasar yang terlibat adalah efek anti
pengentalan yang sistemik dari hirudin dan stimulasi dari
mekanisme refleks segmental dari gigitan lintah. Setelah
kedatangan aspirin yang digunakan untuk pelarutan atau
pemecahan trombus (thrombolisis) dan pencegahan penyatuan
135

Peningkatan kandungan cairan darah sehingga menurunkan konsentrasi eritrositnya

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 179

trombosit, arti penting dari terapi lintah secara cepat menurun.


Kombinasi ulang hirudin kemudian digunakan dan diinvestigasi
dalam terapi pembentukan area berhentinya pembekuan jaringan
(infarksi) pada jaringan otot tengah dinding jantung (myocardial)
modern. Tidak seperti heparin, anti thrombin langsung seperti
hirudin tidak memerlukan antitrombin III sebagai kofaktor. Hirudin
juga dapat menonaktifkan thrombin yang terikat pada fibrin.
Karena potensi anti pengentalan yang kuat dari zat biokimia ini,
peristiwa berjangkitnya efek samping perdarahan terjadi pada
studi awal yang menggunakan analog kombinasi ulang hirudin yang
pertama (desidurin, lepidurin). Hirudin oleh sebab itu pada
mulanya tidak dapat menjadi obat primer yang ditentukan untuk
menerapi myocardial infarction. Hirudin asing (bivalirudin)
sementara itu mencapai hasil yang sangat menjanjikan dalam
percobaan klinis. Thrombocytopenia tipe II (HIT-2) yang
ditimbulkan oleh heparin adalah indikasi untuk hirudin saat ini. Anti
thrombin untuk menerapi dan mencegah pembekuan darah
(thrombosis) pada vena dan arteri (ximelagatran, melagatran) juga
merupakan turunan hirudin.
Sehubungan dengan penggunaan terapi lintah alami untuk gejala
serangan jantung (coronary) dan pembekuan darah (thrombosis),
kurangnya bukti keberhasilan, standarisasi farmakologi dan kontrol
pencegahan menghalangi penggunaan terapi ini pada pasien.

Gambar 10.4 Terapi lintah untuk gangguan jantung


Sumber : Mehdi leech therapist, Sydney

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 180

Di masa lalu, terapi lintah umumnya digunakan untuk menerapi


hipertensi arteri. Efek antihipertensi akut jangka menengah dari
veneseksi menengah yang berulang diketahui dan didokumentasi
dalam berbagai studi. Terapi antihipertensi modern meliputi
sejumlah obat antihipertensi yang handal dan efektif, juga
perubahan gaya hidup. Akibatnya, terapi lintah saat ini dianggap
sebagai terapi tambahan daripada terapi utama.
Literatur yang lebih tua menunjukkan keuntungan khusus dari
terapi lintah pada terapi tekanan darah tinggi (hipertensi) dengan
dasar kelebihan cairan dalam tubuh (konstitusi pletoris). Aplikasi
dari lintah pada area khusus dari tubuh (zona hipertensi segmental,
daerah leher, dll) juga dideskripsikan. Namun, data studi pada
subjek ini tidak tersedia. Pada prinsipnya, pertimbangan aspek
pengklasifikasian penyakit (nosologikal) dalam studi keberhasilan
potensial dari terapi lintah pada pasien dengan hipertensi arteri
yang sulit diatasi juga diharapkan.

Bagian khusus dari penelitian klinis dengan lintah


Fakta bahwa saat ini tidak mungkin untuk melakukan percobaan
klinis buta pada terapi lintah merupakan masalah prinsip dalam hal
menilai keberhasilan. Karakteristik alami dan berlarut-larut dari
terapi lintah tidak memberikan kemungkinan untuk melakukan
terapi buta. Pada penelitian klinis modern, percobaan buta tidak
lagi menjadi prasyarat mutlak sepanjang percobaan acak dilakukan.
Efektivitas adalah jumlah dari keseluruhan efek spesifik dan tidak
spesifik (seperti placebo). Tidak seperti keberhasilan, maka
efektivitas sangat valid dalam menjelaskan tingkat klinis
sebenarnya dari efek metode terapi sebagaimana juga dinilai
dalam praktek. Studi yang tidak buta mendefinisikan efektivitas
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 181

dari metode terapi. Untuk mendefinisikan efek placebo, pasien


sebaiknya ditanyakan mengenai ekspektasinya sebelum terapi.
Ekspektasi hasil kemudian dapat dimasukkan dalam analisis
statistik mengenai efek terapi. Hal itu juga berguna untuk
membandingkan intensitas terapi lintah dalam studi yang berbeda.
Ini akan menghasilkan data dosis yang lebih presisi dan berguna
untuk menilai efek spesifik dan tidak spesifik dari terapi lintah.

Referensi Tambahan
Bottenberg H. Die Blutegelbehandlung. Stuttgart: Hippokrates, 1935.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 182

11. Biokimia air liur lintah


Ketika melakukan atau menjalani terapi lintah, tentunya kita perlu
mengetahui secara ilmu pengobatan (farmakologi) mengenai zat
aktif yang terkandung dalam air liur lintah. Efek paling jelas dari
gigitan lintah adalah penyayatan vena (veneseksi). Namun,
dibandingkan dengan efek pengobatan (farmakologi), maka
pengeluaran darah adalah kepentingan sekunder.
Selama proses makan, lintah mengeluarkan campuran kompleks
dari berbagai zat aktif secara biologis dan farmakologis ke dalam
luka. Komponen air liur diproduksi dalam sel kelenjar air liur yang
terpencar yang tidak menyatu untuk membentuk kelenjar yang
lebih tepat. Tubuh sel berlokasi di daerah kerongkongan. Saluran
pengeluaran dari sel kelenjar didistribusikan melintasi punggung
gigi dalam rahang dan menyatu di antara setiap gigi-gigi kecil keras
lintah yang mengandung kapur. Tidak ada mikroorganisme
teridentifikasi dalam air liur lintah selama ini. Berbagai zat aktif
dalam air liur lintah menghasilkan berbagai efek pada tubuh yang
dihisapnya (Gambar 11.1 dan Tabel 11.1) Selain manusia, mangsa
lintah sebagian besar adalah mamalia, burung dan hewan
poikilotermik (yang temperatur tubuhnya mengikuti lingkungan).
Efek karakteristik gigitan lintah pada manusia adalah timbulnya
perdarahan yang lama, yang membersihkan luka bekas gigitan.
Walaupun perdarahan bekas gigitan lintah ini berhenti setelah 30
menit pada kebanyakan hewan berdarah hangat, pada manusia
rata-rata baru berhenti setelah 12 jam.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 183

Tabel 11.1 Komponen dalam air liur lintah medis


Zat
Hirudin
Calin (saratin)

Efek pada tubuh pasien

Eglins

Anti Faktor Xa

Anti komplemen

Anti carboxipeptidase A
Zat yang
diperkirakan
komponen air liur
Zat seperti
histamine

Mencegah pengentalan darah dengan mengikat pada thrombin


Mencegah pengentalan darah dengan
menghalangi pengikatan faktor Willebrand pada collagen
Menghambat penyatuan thrombocyt yang dimediasi collagen
Aktivitas monomerasi
Melarutkan fibrin
Efek thrombolytic
(Serine proteinase)
Anti kallikrein, trypsin, chymotrypsin, dan neutrophilic
chatepsin G
Anti peradangan
Anti trypsin, plasmin, dan acrosin
Efek menyebar
Meningkatkan kekentalan struktur kecil di antara jaringan atau
bagian organ tubuh (interstitial)
Antibiotik
Anti Tryptase, sumber dan pengembangan penyakit berupa
reaksi peradangan dan alergi yang berhubungan dengan fungsi
sel yang rusak. Triptase juga terlibat dalam penyakit asma,
arthritis rematik, dan sakit kulit kronis (psoriasis).
Menghambat enzim proteolitis pada sel tubuh pasien
Anti peradangan
Menghambat aktivitas -chymotrypsin, chymase, subtilisin,
elastase, dan cathepsin G.
Mencegah aktivitas pengentalan faktor Xa dengan membentuk
jumlah molekul atau molaritas yang sama (equimolar complex)
Mungkin menggantikan anti komplemen natural jika tidak
mencukupi
Meningkatkan aliran darah pada daerah gigitan

Memiliki efek pada tubuh yang dihisap

Destabilase

Hirustasin

Bdellins
Hyaluronidase

LDTI (Leechderived tryptase


inhibitor)

Mengandung zat yang menyebabkan pelebaran pembuluh


darah (vasodilator)
Meningkatkan aliran darah pada daerah gigitan.
Acetylcholine
Mengandung zat yang menyebabkan pelebaran pembuluh
darah (vasodilator)
Zat anesthetic
Mengandung zat pemati rasa
Data : Baskova, 2001; Mller, 2000; Harsfalvi, 1995; Sawyer, 1986

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 184

(10)

(5) Kerongkongan (Ph) berkontraksi


secara ritmis (peristalsis) memompa
darah melalui tiga luka gigi ke dalam
perut. Zat kimia dalam air liur lintah
diproduksi sel air liur yang
memancar (Sz) berlokasi di jaringan
penghubung. Pembuluh berbentuk
tabung dari air liur menghubungkannya dengan rahang

(5)

(10) Hyaluronidase berfungsi sebagai faktor penyebar. Zat ini memfasilitasi


perpindahan mucopolysaccharides dari struktur antar jaringan/organ, sehingga
membuka pintu untuk biokemikal. Hyaluronidase juga memiliki efek antibiotik.
(11) Carboxypeptidase, sebuah zat anti seperti histamine melebarkan kapiler
di sekitar gigitan, sehingga meningkatkan aliran darah ke dalam daerah gigian
(12) Zat anti peradangan, eglins dan bdellins turut mendukung penyembuhan
(9) Air liur lintah mengandung hirudin,
zat kimia pencegah pengentalan darah.
Juga mengandung calin, zat yang menjaga
luka terbuka sekitar 12 jam dengan
mengikat faktor Willebrand (membuat
tidak aktif). Rembesan darah dari luka
(efek veneseksi), mengeluarkan efek
pembersihan luka tambahan.

(9)

(8)

(7) Gigi lintah adalah


struktur kalsium
tertanam dalam otot
keras dari rahang
lintah. Mereka
menunjukkan bentuk
hati dalam sisi
melintang seperti
tetesan air mata
yang memanjang

(7)

(6)
(8) Pori-pori di antara pasangan gigi
individu membentuk pembukaan
pembuluh pengeluaran sel air liur, dilalui
berbagai zat kimia air liur yang dikeluarkan
ke dalam luka gigitan.

(4)
(3)

(4) Rahang 3 bagian


dari lintah dilihat
dari atas, pusat
mekanisme terapi

(2)
(3) Dalam waktu 2 tahun,
darah telah dicerna dan lintah
mulai mengkonsumsi cairan
dalam tubuhnya. Koloni
Aeromonas sebagian besar
hilang dan bakteri lain
mungkin membuat koloni di
perut dan usus lintah

(6) Sel air liur tidak


bersatu membentuk
sel kelenjar lain. Sel
tersebut bebas kuman

(1)

Ph = Faring
Sz = Sel air liur
(2)
Serum dan Amoniak dikeluarkan selama darah
dikonsumsi. Produksi air liur dan nafsu makan
lintah mencapai titik tertinggi pertama kira-kira
3 bulan setelah mengkonsumsi darah. Perlu
waktu 2 tahun untuk mencerna makanan.
Lintah yang telah digunakan sebaiknya tidak
digunakan lagi

Darah mamalia dipercaya penting untuk


memproduksi keturunan dan kepompong
lintah. Lintah meletakkan kepompongnya di
tanah basah pada pinggir air. Setiap
kepompong terdiri dari 10 hingga 30 lintah
muda, yang tidak lagi mengalami
metamorfosis

(1). Efek veneseksi (penyayatan vena) dari


lintah terdiri dari pengeluaran/
pengambilan 10 hingga 50 mililiter darah
dalam kisaran 20 hingga 120 menit. Kirakira dalam jumlah yang sama darah keluar
dari luka selama sekitar 12 jam setelah fase
perdarahan. Darah disimpan dalam 10
pasang usus besar lateral (ke samping)
dalam perut lintah. Lintah dapat
mengkonsumsi darah hingga 5-10 kali berat
tubuhnya
Sumber : Michalsen, dkk, 2007

Gambar 11.1 Interaksi biologis antara lintah dan pasien

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 185

Komponen air liur lintah medis


Hirudin
Hirudin adalah zat terkenal yang terkandung dalam air liur lintah.
Zat ini diberi nama oleh Jakobj sekitar tahun 1903-1904 (Mller,
200). Hirudin kadang-kadang digunakan untuk mendeskripsikan
semua zat aktif dalam air liur lintah. Pada kenyataannya, hirudin
hanya menunjuk pada satu zat aktif spesifik (Gambar 11.1).
Kemampuan air liur lintah untuk mencegah pengentalan darah
ditemukan hampir satu abad yang lalu (Kraemer, 1988). Pertama
kali diisolasi dan diidentifikasi oleh Markwardt (Graf, 2000) pada
pertengahan 1950-an. Molekul hirudin terdiri dari rantai 65 asam
amino dengan proporsi tinggi dari asam aspartik dan asam
glutamik, keduanya adalah asam aminodikarbonik. Zat ini
mencegah pengentalan darah dengan cara pengikatan secara
selektif pada trombin (Markwardt, 1985).
Hirudin bertindak sama dengan heparin (zat kimia sintetis anti
pengentalan darah), tapi hirudin memiliki beberapa keunggulan :
1. Tidak seperti antitrombin III dan heparin, hirudin tidak
memerlukan kofaktor (zat yang harus bergabung dengan zat
lain untuk memproduksi hasil yang ditentukan)
2. Hirudin dipilih secara eksklusif untuk trombin (zat anti
pengentalan darah)
3. Hirudin tidak dipengaruhi peptida dan enzim lain dalam darah
4. Hirudin dikeluarkan dalam bentuk yang tidak berubah melalui
air seni
Kekurangan dari hirudin adalah tidak diketahui antagonisnya. Jika
dosis hirudin terlalu banyak, artinya tidak ada penangkalnya.
Namun, dosis hirudin tidak akan terlalu banyak jika lintah
digunakan berdasarkan standar yang direkomendasikan.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 186

Komponen lain dari air liur lintah


Zat anesthetik (pemati rasa) dan zat yang berfungsi seperti
histamine dalam air liur lintah mulai bekerja melebarkan pembuluh
darah sebelum hirudin dimasukkan ke dalam luka. Zat tersebut
melebarkan pembuluh darah di sekitar luka bekas gigitan, sehingga
meningkatkan volume darah yang dihisap di daerah tersebut. Air
liur lintah juga mengandung calin, protein yang berfungsi:
(a) menghambat atau menghentikan penyatuan dan
pelekatan trombosit136 yang dimediasi kolagen (protein
dalam tulang, tulang rawan, otot dan jaringan)
(b) menghentikan pelekatan trombosit, yang bergantung pada
faktor Willebrand, dengan kolagen dalam dinding
pembuluh darah, sehingga mencegah penutupan luka
(Gambar 11.2).

Gambar 11.2 Diagram yang menunjukkan titik serang Calin.


Pengikatan dengan penghalang calin dari faktor Willebrand
menghasilkan perdarahan luka yang lama.
Sumber : Michaelsen, dkk, 2000 , Rumah Sakit Essen-Mitte

Ini merupakan dasar biokimia terjadinya perdarahan lanjutan dari


bekas gigitan lintah, yang normalnya sekitar 12 jam. Secara teoritis
perdarahan ini memiliki fungsi membersihkan luka, sehingga

136

Protoplasma dalam tubuh makhluk bertulang belakang yang berguna untuk penggumpalan darah

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 187

melindungi pasien dari potensi terjadinya sepsis (infeksi) yang


mematikan.
Destabilase, enzim monomer yang juga terkandung dalam air liur
lintah, yang menghambat fungsi fibrin137, sejenis enzim protein.
Enzim proteinase138 dan antinya, seperti dijelaskan Baskova dan
Zavalova (2001), sebagian berkumpul di permukaan pembuluh
darah pasien yang rusak, dan sebagian lagi bercampur dengan
darah yang keluar dari luka. Beberapa enzim protein juga
dikeluarkan bakteri simbiotis (Aeromonas sobria) dalam
pencernaan lintah. Dinding usus lintah juga memproduksi dan
mengeluarkan anti enzim proteolitis. Anti protein dari lintah medis
termasuk kelompok protein yang menghalangi aktivitas katalitis
dari enzim proteolitis yang berbeda. Beberapa protein (misalnya
bdellins), ditemukan dalam usus lintah dan mirip air liur. Protein ini
menghambat fungsi tripsin, plasmin dan akrosin.
Tergantung dari sulit tidaknya ditangkap dalam perubahan ion
kromatografi maka bdellins dibagi ke dalam dua tipe utama, bdellin
A dan B, keduanya dapat membentuk banyak sub tipe. Bdellin, juga
bdellostasin dan eglin, dapat merangsang peradangan syaraf,
kadang-kadang disertai rasa nyeri dan tidak berfungsinya organ
tubuh. Hirustatin adalah enzim anti proteinase dalam air liur lintah
medis. Komponen ini termasuk kelompok protein asam amino,
yang terbentuk dalam dua jenis dan dibedakan hanya oleh satu
asam amino. Hirustatin menghentikan fungsi kalikrein, tripsin,
kimotripsin dan neutrofilis katepsin G.

137

Protein putih berbentuk selaput yang tidak mudah larut dibentuk oleh aktivitas thrombin pada
fibrinogen ketika darah menggumpal, ia membentuk jaringan yang memerangkap sel darah merah dan
trombosit.
138
Setiap enzim yang mengkatalisasi (percepatan reaksi kimia yang ditimbulkan keberadaan material yang
secara kimiawi tidak berubah pada akhir reaksi) pemisahan protein ke dalam fraksi peptide dan asam
amino yang lebih kecil dengan proses proteolisis

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 188

Anti Triptase juga diisolasi dari ekstrak lintah medis. Triptase


berfungsi sebagai sumber dan pengembangan penyakit berupa
reaksi peradangan dan alergi yang berhubungan dengan fungsi sel
yang rusak. Triptase juga terlibat dalam penyakit asma, arthritis
rematik, dan sakit kulit kronis (psoriasis).
LDTI (Leech-derived tryptase inhibitor = anti triptase yang
diperoleh dari lintah) adalah salah satu anti triptase yang dianalisis
lebih baik. Fungsi biologis LTDI dapat digambarkan sebagai berikut:
lintah mengeluarkan LTDI untuk menghambat enzim proteolitis
(triptase) yang dikeluarkan oleh sel pasien ketika lintah menggigit
kulit. Ini adalah cara lintah melindungi dirinya dari enzim proteolitis
di daerah mulut ketika sedang makan.
Eglins adalah kelompok protein lain dengan berat molekul rendah
dan anti radang yang diisolasi dari air liur lintah. Eglins
menghambat aktivitas enzim yang mempercepat proses ikatan kimotripsin, kimas, subtilisin, neutrofilis protein elastase dan
katepsin G.
Anti Faktor Xa adalah komponen air liur lintah yang bereaksi pada
pengentalan. Faktor Xa merubah konversi protrombin menjadi
trombin selama proses pengentalan darah. Faktor Za membentuk
kompleks ekuimolar stabil dengan Faktor Xa, sehingga
menghentikan aktivitasnya.
Anti karboksipeptidase A meningkatkan darah yang mengandung
kinin selama lintah makan. Zat ini juga membantu menghalangi
pengentalan darah yang terbentuk ketika lintah makan.
Anti komplemen juga diisolasi dari air liur lintah. Zat ini berguna
untuk pasien dengan kekurangan zat anti (inhibitor) alami. Juga
bisa menghalangi aktivasi komplemen yang tidak diinginkan seperti
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 189

terjadi dalam reaksi alergi hipersensitif (shock anafilastis),


peradangan kronis dan infeksi (sepsis).
Hyaluronidase (orgelase) enzim lain air liur lintah, termasuk dalam
pencernaan asam hyaluronis. Sebagai faktor penyebar, enzim ini
membuka struktur antar jaringan atau organ, menyediakan jalan
bagi zat aktif lain untuk mencapai jaringan yang lebih dalam. Dalam
percobaan dengan tikus, hyaluronidase juga ditemukan memiliki
antibiotik.
Baskova dkk, 2004, menggunakan metode yang berbeda-beda
untuk mendemonstrasikan sejumlah zat yang belum teridentifikasi
dalam air liur lintah. Dengan elektroforesis dimensi satu, mereka
mengidentifikasi lebih dari 60 zat dengan berat molekul berkisar
antara 11 hingga 483 kD. Elektroforesis dua dimensi
mengindikasikan lebih dari 100 zat. Perbandingan dari data
spektrometri dengan data protein mengindikasikan ada delapan
protein dalam air liur lintah yang diketahui.

Komponen air liur dari lintah lain


Air liur lintah jenis lain juga mengandung beberapa anti
pengentalan darah, misalnya Haementaria, namun mencegah
pengentalan darah dengan cara yang berbeda dengan Hirudo.

Kombinasi ulang anti pengentalan darah


Selama beberapa tahun, hirudin alami diekstraksi (Gambar 11.3)
dari Hirudo medicinalis, dimana suplainya sangat terbatas. Hirudin
adalah komponen yang relatif kecil dengan komposisi sederhana.
Jadi, para peneliti berhasil mengkloning molekul dalam ragi roti
dan memproduksi kombinasi hirudin. Hirudin sintetis ini
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 190

diharapkan dapat identik fungsinya dengan hirudin alami, memiliki


karakteristik biokimia dan farmakologi yang diharapkan sama
dengan hirudin dari Hirudo medicinalis.. Modifikasi komposisi asam
amono dari hirudin yang dikombinasi ulang meningkatkan
karakteristik farmakologikanya. Enzim protein
rotein dari air liur lintah
lain juga direkayasa, misalnya dari jenis Haementeria ghillianii.
ghillianii

Gambar 11.3
Ekstrak hirudin dan industri pengguna
Foto : Agrotek BK Enterprise

Masih perlu diteliti apakah komponen yang disintesa dari lintah


medis akan sama dengan lintah hidup. Namun yang pasti air liur
lintah medis mengandung banyak zat bioaktif yang berkhasiat,
karena itu dideskripsikan sebagai kombinasi obat alami.

Referensi Tambahan
1.
2.
3.

4.

Baskova IP, Zavalova II. Proteinase inhibitors from the medicinal leech Hirudo
medicinalis. Biochemistry 2001: 66 : 703-714.
Kraemer BA, et.al. Use of leeches in plastic and reconstructive surgery : a review:
J. Reconstr Mocrosurg 1988 : 4: 381-386
Markwardt F. Pharmacology of hirudin : One hundred years after the first report
of the anticoagulant agent in medicinal leeches. Biomed Biochim Acta 1985:
44:1007-1013.
Mller IW. Handbuch der Blutegeltherapie.. Heidelberg: Haug:2000

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1]] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 191

12. Bakteri yang tumbuh dalam tubuh


lintah medis (Hirudo medicinalis)
Kemujaraban dan keamanan terapi lintah pada berbagai penyakit
yang berbeda merupakan isu penting. Pengalaman klinis dan studi
ilmiah menunjukkan, rasa nyeri terapi umumnya ringan dan efek
samping dari air liur lintah jarang terjadi. Demikian juga,
kemungkinan transfer bakteri atau infeksi virus saat ini merupakan
pertimbangan klinis yang relevan. Kewajiban untuk membuang
lintah setelah digunakan, efektif untuk mengurangi kemungkinan
pasien terkena penyakit yang disebabkan transfer mikroba dari
satu pasien ke pasien lainnya. Namun, bakteri normal yang ada di
dalam pencernaan lintah juga dapat ditransfer ke pasien dan
mungkin mengakibatkan risiko potensial dari infeksi bakteri.
Karena itu pada bab ini akan dijelaskan mengenai mikrobiologi
lintah medis dan didiskusikan diagnosis dan pengaruh
penyembuhan dari mikrooganisme ini.

Simbiosis yang berkaitan dengan usus lintah medis


Dokter modern menyukai pelaksanaan pengobatan dengan kondisi
yang presisi dan steril. Namun, jika dilaksanakan dengan
menggunakan hewan hidup, tidak mungkin untuk mencapai tingkat
sterilisasi yang biasa karena semua hewan dikolonisasi (hidup
bersama) bakteri alami. Simbiosis139 ini membantu hewan dalam
menghasilkan nutrisi yang penting untuk mencerna makanan dan
membunuh bakteri yang merugikan (Hooper, 2001; Vollaard,
1990). Usus manusia mengandung berbagai macam bakteri yang
mengagumkan. Ratusan jenis kelompok bakteri yang berbeda
139

Hubungan di antara dua makhluk yang saling bergantungan, dimana satu sama lain saling memberikan
keuntungan

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 192

dipisahkan dari usus manusia berdasarkan metode yang


tergantung pengembangan kuman dan metode yang tidak
tergantung dari pengembangan kuman, menunjukkan jumlah
kelompok bakteri yang ada dalam usus dua kali lipat lebih banyak
(Hayashi, 2002; Hooper, 2001). Usus lintah medis juga dikolonisasi
oleh bakteri tetapi dengan keragaman yang sangat kecil
dibandingkan dengan hewan lainnya (Graf, 2000). Dalam bab ini
akan dijelaskan perkembangan ilmu bakteri dan mekanisme anti
mikroba dari usus Hirudo medicinalis.
Perut (tembolok) lintah yang sebagian besar merupakan ruang
pencernaan, berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah yang
dihisap (Sawyer, 1986). Perut lintah tidak sama dengan hewan
bertulang belakang, dimana menyerap air dan garam dari darah.
Cara bekerja usus lintah sama dengan usus manusia, dimana
terjadi penyerapan cairan dan garam. Perut lintah juga dapat
menyimpan sel darah merah yang dihisap. Proses sebenarnya dari
pencernaan dan penyerapan nutrisi terjadi di usus (Roters, 1992),
yang jauh lebih kecil dari perut. Hal ini tidak selalu pasti dapat
ditentukan, karena singkatnya penjelasan metode studi.
Hal yang mengejutkan adalah hanya ada satu jenis bakteri yang
diisolasi dari perut lintah pada studi mikrobiologi pertama yang
dilaporkan. Bakteri simbiosis ini dinamakan Bacterium
hirudinicolum oleh Lehmensick dan Hornborstel pada tahun 1941
(Lehmensick, 1941). Sepuluh tahun kemudian, Bssing, dkk.
memberi nama bakteri itu dengan Pseudomonas hirudinis (Bssing,
1951, 1953). Keberadaan hanya satu jenis bakteri dalam perut
lintah sangat kontras dengan keberagaman bakteri dalam
pencernaan sebagian besar hewan lainnya. Bakteri yang diisolasi
dari lintah diuji dengan hemolisis140-beta dan hasilnya positif, serta
140

Peleburan dari eritrosit dengan pelepasan hemoglobin

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 193

ditemukan lintah memproduksi enzim protease dan lipase di luar


sel. Karena pengembangan yang murni dari enzim ini, yang
diperlukan untuk pencernaan darah, maka bakteri ini
diklasifikasikan sebagai simbion (saling menguntungkan).
Peran yang tepat dari bakteri simbiotis dalam simbiosis ini belum
sepenuhnya dipahami, tetapi ada tiga fungsi potensial yang telah
pasti (Bssing, 1953; Graf, 2000, 2002) yaitu:
1.
2.
3.

Bakteri tersebut membantu pencernaan darah yang dihisap


Bakteri tersebut memproduksi nutrisi penting untuk lintah
Bakteri tersebut mencegah tumbuhnya bakteri lain

Pembuktian klasik bahwa bakteri terlibat dalam pencernaan darah


atau produksi nutrisi adalah tidak berfungsinya antibiotik pada
bakteri. Uji kepekaan antibiotik dapat digunakan untuk
menentukan apakah bakteri terlibat dalam produksi nutrisi seperti
vitamin B12, yang ada dalam konsentrasi rendah dalam darah. Dua
kelompok peneliti menyelidiki efek dari antibiotik yang berbeda
pada psikologi pencernaan lintah. Bssing dkk (1953), yang
memberikan chloramphenicol pada lintah medis (1 mg per ml
darah), memperlihatkan adanya pengurangan kehilangan air dan
pengeluaran nitrogen setelah proses makan. Dua faktor yang
dipertimbangkan yaitu :
1.
2.

Chloramphenicol menghilang relatif cepat dari usus ke dalam


darah (setidaknya pada manusia)
Hewan diberikan dosis relatif tinggi dari obat tersebut.

Akibat, tidak mungkin untuk memastikan apakah antibiotik


sebenarnya memiliki efek langsung pada lintah. Zebe, dkk, meneliti
pengurangan penerimaan oksigen dan pengeluaran NH3 pada
lintah yang dberikan kanamycin (Zebe, 1986). Dosis yang sangat
tinggi dari obat diberikan (1 mg per ml kanamycin). Namun, tidak
seperti chloramphenicol, kanamycin kurang diserap oleh usus,

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 194

sehingga efeknya lebih kecil pada hewan (Graf, 2002). Penemuan


ini setidaknya menyimpulkan bahwa simbion141 mempengaruhi
metabolime dan psikologi dari lintah medis.

Aeromonas, simbion usus Lintah Medis


Pada tahun 1960an, simbion dari lintah medis ditemukan oleh
Lehmensick dan diberi nama Aeromonas hydrophila (Jennings,
1967). Taksonomi Aeromonas telah mengalami perubahan
kompleks dan banyak species baru ditemukan. Identifikasi biokimia
klasik tidak selalu jelas dan perbedaan yang nyata dalam urutan
gen 16S rRNA dari kelompok yang berbeda harus dideteksi.
Masalah lain yang umum terjadi adalah identifikasi yang tidak
tepat dari jenis Aeromonas lain dengan alat tes komersial,
khususnya dengan sistem yang lebih tua. Sebagian besar
investigator yang mempelajari bakteri dari lintah medis di masa
lalu hanya menggunakan alat tes komersial untuk mengidentifikasi
simbion, dan kebanyakan mengidentifikasinya sebagai Aeromonas
hydrophila (Buiting, 1990; Eroglu, 2001; Lineaweaver, 1991, 1992;
Mackay, 1999; Nonomura, 1996; Sartor, 2002; Snower, 1989); Di
beberapa tempat dinamakan Aeromonas sobria (Fenollar, 1999;
Mackay, 1999), mungkin sebaiknya diklasifikasikan sebagai
Aeromonas veronii biovar sobria karena urutan gen 16S rRNA-nya
berbeda. Kelompok ahli dari Jerman mengidentifikasi simbion
sebagai Aeromonas veronii biovar sobria dengan menggunakan alat
tes komersial didukung dengan tes tambahan; identifikasi tersebut
dikonfirmasi dengan urutan gen 16S rRNA. Analisisnya
memperlihatkan banyak jenis yang diisolasi dari perut lintah
memiliki reaksi tes biokimia tidak teratur yang konsisten dengan
Aeromonas hydrophila. Sebagai contoh, satu kelompok simbion
menguji positif untuk hidrolisis esculin, dimana karakteristiknya
141

Makhluk yang hidup dalam keadaan simbiosis

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 195

adalah Aeromonas hydrophila, tetapi urutan gen 16S rRNA identik


dengan Aeromonas veronii biovar sobria. Penelitian lain baru-baru
ini melaporkan kesulitan yang sama dalam identifikasi biokimia dari
kelompok Aeromonas. Lebih jauh, lintah dari tempat pembiakan
lain atau dari daerah lain mungkin dikolonisasi jenis bakteri lain.
Identifikasi taksonomi yang tepat sebenarnya kurang begitu
penting dalam pengobatan klinis, karena Aeromonas hydrophila
dan Aeromonas veronii biovar sobria menyebabkan infeksi yang
sama pada manusia dan pencegahan keamanan yang sama
diterapkan untuk kedua jenis lintah. Selama ini tidak ada laporan
mengenai infeksi yang penting untuk diperhatikan terjadi setelah
terapi lintah pada bagian yang pemompaan cairannya (perfusi) baik
dari tubuh individu dengan sistem imun lengkap.
Jika suplai darah pada bagian yang diterapi kurang, maka risiko
infeksi luka meningkat, namun dapat dihindari dengan penerapan
antibiotik yaitu prophyilastic. Antibiotik quinolone seperti
ciprofloxacin dan ofloxacin atau cephalosporin generasi ketiga
seperti ceftriaxone sebaiknya digunakan untuk tujuan ini. Generasi
pertama penicillin dan cephalosporin tidak direkomendasikan
karena kekebalan terhadap antibiotik ini merupakan masalah yang
luas. Kekebalan dari antibiotik yang direkomendasikan dapat juga
berkembang. Pembedaan akurat antara kedua jenis Aeromonas
penting untuk ahli mikrobiologi karena investigator belum berhasil
membedakan mana jenis Aeromonas yang mematikan dan mana
jenis yang tidak membahayakan. Kedua jenis Aeromonas tersebar
luas. Keduanya berkembang di dalam air dan endapan sungai dan
danau. Keduanya dapat menyebabkan infeksi pada manusia.
Dari 15 jenis Aeromonas yang diketahui, tiga yang paling sering
menyebabkan penyakit pada manusia adalah :
1. Aeromonas hydrophila
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 196

2. Aeromonas media
3. Aeromonas veronii biovar sobria (sering dikelirukan dengan
Aeromans sobria).
Dibandingkan dengan jenis bakteri penyebab penyakit lainnya,
jenis Aeromonas bukan merupakan kepentingan klinis utama.
Penyakit yang biasa terjadi akibat infeksi Aeromonas adalah diare
dan infeksi luka. Diare biasanya dapat disembuhkan tanpa
antibiotik, sedangkan infeksi biasanya terjadi pada luka yang kecil
yang terjadi karena air danau atau sungai terkontaminasi.
Walaupun relatif tidak biasa, rangkaian infeksi yang berat dapat
terjadi pada pasien yang sistem imunnya rendah karena
pembedahan, trauma berulang kali, penyakit hati kronis (cirrhosis),
atau alasan lain. Penelitian yang lebih luas dari data tersedia pada
subjek ini telah dipublikasikan.

Mikrobiologi Lintah
Bakteri dalam usus Hirudo medicinalis dapat dinilai dengan
mengembangkan bakteri atau analisis DNA dari sampel yang
diambil dari usus lintah. Pada sebagian besar studi yang dijelaskan
dalam literatur, alat tes komersial digunakan untuk
mengidentifikasi aspek biokimia dari bakteri yang dikembangkan.
Aeromonas diisolasi dari lintah medis pada semua studi yang
relevan. Jenis yang diisolasi biasanya diidentifikasi sebagai
Aeromonas hydrophila kemudian diikuti oleh Aeromonas veronii
biovar sobria.
Pada studi yang dilakukan di Klinik Essen-Mitte, Jerman, 99,5% dari
bakteri yang dikembangkan diidentifikasi sebagai Aeromonas
veronii biovar sobria. Pada beberapa studi pengembangan bakteri,
Aeromonas adalah satu-satunya jenis yang diidentifikasi, tetapi
beberapa investigator menemukan lain. Tanpa data kuantitatif
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 197

pada jumlah yang diisolasi, sulit untuk menilai peran bakteri ini
bagi lintah. Untuk menentukan apakah risiko infeksi disebabkan
oleh bakteri potensial, maka perlu diketahui apakah bakteri ini
berkoloni di usus lintah, permukaan tubuh, atau organ lain. Untuk
itu perlu dikumpulkan data kuantitatif bakteri.
Walaupun mereka secara metabolis aktif, sebagian besar jenis
bakteri tidak dapat dikembangkan di laboratorium. Sebagai contoh,
hanya 0,1% dari jenis bakteri yang ada di air danau dapat diisolasi
dengan dikembangkan. Walaupun sebagian besar penyebab
penyakit pada manusia dapat dikembangkan, hanya 30-50% dari
semua bakteri usus dapat dikembangkan dalam kondisi
laboratorium. Akibatnya, bakteri lain yang sulit hingga tidak
mungkin untuk dikembangkan dalam kondisi laboratorium,
mungkin ada di lintah. Para ahli di klinik Essen Mitte mengisolasi
DNA dari usus dan perut lintah, diberi keterangan lebih detail gen
16S rRNAnya dan dibiakkan dalam plasmid. Dengan pengaturan
plasmid individual, para ahli dapat mengetahui secara mendalam
mengenai bakteri dari lintah tanpa pengembangan bakteri.
Analisis awal menyarankan, sebagai tambahan pada A.veronii
biovar sobria, perut lintah mungkin juga dikolonisasi oleh jenis
bakteri lain yang berhubungan jauh dengan simbion pada usus
manusia, yaitu Bacteroides. Penemuan ini membuktikan perut
lintah mungkin dikolonisasi lebih dari jumlah mikroorganisme yang
sebelumnya diasumsikan. Tapi, jumlah jenis bakteri secara
mengejutkan sangat kecil. Jenis bakteri lain yang berkolonisasi
dalam usus lintah yang mendominasi adalah A.veronii dan
Bacteroides yang disebutkan di atas.
Laporan mengenai penggunaan baru dari lintah medis untuk
mengobati kerusakan pada pemompaan cairan (perfusi) vena,
meningkat sebagaimana komplikasi dari bedah plastik dan
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 198

pembuluh darah kecil (microvascular) yang telah dipublikasikan


sejak awal 1980an. Konsekuensi utama dari aliran darah yang
terganggu adalah pelemahan sistem imun lokal dari pasien. Karena
tekanan imun lokal, bakteri dapat dengan mudah mengkolonisasi
luka bedah dan menyebabkan infeksi. Infeksi bakteri yang
mengikuti terapi lintah pada jaringan yang pemompaan cairannya
lemah telah dilaporkan dalam beberapa kasus. Infeksi ini dapat
dihindari dengan pemakaian antibiotik secara bersamaan. Dua hal
penting perlu diingat :
1. Gangguan pada peredaran darah membuat pasien peka
terhadap infeksi luka.
2. Banyak lintah perlu diterapkan pada banyak sesi
pengobatan.
Pada indikasi ini, tidak ada pengobatan yang seefisien terapi lintah.
Ini membuat perfusi jaringan yang rusak secara jelas dibedakan
dari banyak indikasi lainnya dari terapi lintah. Tes mikrobiologi
mengidentifikasi A. hydrophyla atau A.veronii biovar sobria adalah
penyebab dari infeksi luka yang ada hubungannya dengan lintah
pada hampir semua kasus yang dilaporkan. Vibrio fluvialis dan
Serratia marcescens dipertimbangkan sebagai penyebab dalam
masing-masing kasus.

Ciri-ciri Antimikroba dalam usus lintah


Kontras dengan keragaman bakteri dalam usus sebagian besar
hewan, data terbaru membuktikan hanya sedikit sekali jenis
bakteri yang berkolonisasi dalam usus lintah medis. Kurangnya
keragaman ini berfungsi untuk peningkatan keamanan terapi lintah
pada manusia. Lebih jauh, penemuan terkini menyarankan zat
tertentu dalam perut lintah mencegah tumbuhnya banyak bakteri
atau bahkan membunuh bakteri, yang sangat menarik dari
perspektif terapi. Zat anti bakteri mungkin diproduksi oleh lintah
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 199

itu sendiri atau simbionnya. Sebagai alternatif, zat anti bakteri


mungkin juga telah ada dalam darah yang dihisap.
Indergand dan Graf meneliti kemampuan isolasi klinis dari
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus
aureus untuk mengkolonisasi lintah medis. Lintah diberi makan
bakteri yang dikembangkan murni (dilarutkan dalam darah), dan
konsentrasi bakteri dalam lintah diukur pada berbagai waktu
sampling. Menariknya, konsentrasi E.coli dalam usus lintah
menurun sepanjang waktu. Dalam eksperimen terkendali, darah
yang sama tidak diberikan pada hewan tapi diinkubasi dalam
lingkungan sintetis dan diselidiki dengan kondisi tes identik yang
lain. Ini membuktikan zat antimikroba dalam darah hewan
senantiasa aktif.
Sistem komplemen, pertahanan yang penting melawan infeksi,
dapat diaktivasi dengan cara komplemen alternatif atau klasik.
Karena komplemen bersifat labil terhadap pemanasan, maka terapi
panas pada darah membuat komplemen tidak aktif dan
mengizinkan E.coli untuk tumbuh dalam tubuh lintah dan darah
yang dihisap. Studi yang berkaitan membuktikan komplemen
(dalam darah yang dihisap) terus aktif dan membunuh bakteri
sensitif dalam pencernaan lintah untuk periode waktu tertentu.
Hipotesis ini didukung kejadian dari studi eksperimental dengan
mutan A.veronii yang dibuat tidak mampu mensintesis
lipopolysaccharides, sehingga membuat mereka sensitif untuk
pembunuhan yang dimediasi komplemen. Mutan tidak dapat
mengkolonisasi lintah kecuali jika darah dipanaskan, dan
komplementasi mutan dengan keseluruhan operon dipulihkan
kemampuannya untuk mengkolonisasi lintah. Hasil ini
mengindikasikan komplemen dalam darah segar yang dihisap terus
aktif dalam sistem pencernaan lintah dan membunuh bakteri
sensitif.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 200

Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus, dua jenis


bakteri lain diinvestigasi oleh Indergand dan Graf, dapat bertahan
dalam usus lintah tetapi perkembangannya dihambat secara
signifikan. Penemuan ini membuktikan darah yang dihisap harus
dimodifikasi oleh lintah, simbion usus lintah, atau keduanya dan
modifikasi ini mencegah pertumbuhan bakteri, setidaknya bakteri
yang diinvestigasi. Segera setelah penghisapan, pengeluaran air
dan garam dari darah yang dihisap terjadi dalam pencernaan
lintah, porsi yang diambil kemudian dikeluarkan melalui nephridia
(organ pengeluaran). Secara teoritis, semua proses dapat
mempengaruhi pertumbuhan bakteri yang diinvestigasi. Sebagai
alternatif, atau penambahan, lintah atau simbionnya dapat
memproduksi zat yang dapat mencegah pertumbuhan bakteri.
Salah satu tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan efek dari
proses ini pada bakteri dari lintah dan mengidentifikasi setiap zat
anti mikroba yang mungkin terlibat. Para ahli kemudian melakukan
eksperimen berdasarkan perkembangan cepat dari A.veronii dalam
perut lintah. Jumlah simbion Aeromonas dalam perut lintah naik
dua kali lipat kira-kira satu kali setiap jam pada suhu 210C, yang
sama dengan tingkat pertumbuhan dalam media pengembangan
yang kaya. Pengembangan berakhir pada konsentrasi akhir 5x1071x108 unit pembentukan koloni (CFU = colony-forming unit) per
mL. Penemuan ini membuktikan simbion resistan (bertahan) pada
zat antimikroba. Jika mutan yang tidak dapat mengkolonisasi usus
lintah dapat ditemukan, maka petunjuk penting untuk
mengindentifikasi zat aktif yang berhubungan dalam usus lintah
dapat diperoleh dengan menganalisis mutan.
Studi yang tersedia mengindikasi bahwa ada penghalang untuk
mengkolonisasi pada beberapa level dimana kejadian secara alami
simbion lintah dapat mengatasinya tapi banyak jenis bakteri lain
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 201

tidak dapat mengatasinya. Jenis bakteri lain dapat mengkolonisasi


usus lintah dengan kondisi tertentu, misalnya jika darah yang
dihisap tidak segar atau lintahnya sedang lemah, karena periode
kelaparan yang diperpanjang. Penelitian ini disponsori oleh Swiss
National Fund, The National Science Foundation dan Sandoz
Foundation.

Referensi Tambahan
1.

Buiting AG, Horbach JM, Petit PL, An unusual hospital infection : Aeromonas
hydrophila due to the use of leeches. Ned Tijdschr Geneeskd 1990; 134 : 21032105.
2. Bssing KH. Pseudomonas hirudinis ein bakterieller Darmsymbiont des Blutegels
(Hirudo officinalis). Zentralbi Bakteriol 1951: 157:478-585.
3. Eroglu C et.al. Bacterial flora of Hirudo medicinalis and their antibiotic
sensitivities in the middle Black Sea region, Turkey. Ann Plast Surg 200147:7073.
4. Graf J. The effect of the symbionts on the physiology of Hirudo medicinalis,the
medicinal leech, Int J. Reprod Biol 2002; 41:269-275
5. Hayashi H, Sakamoto M, Benno Y Phylogenetic analysis 16S rDNA clon libraries
and strictly anerobic culture-based methods. Microbiol Immunol 2002; 46:535548
6. Indergand S, Graf J. Ingested blood contributes to the specificity of the symbiosis
of Aeromonas veronii biovar sobria and Hirudo medicinalis, the medicinal leech.
Appl Environ Microbiol 2000: 66:4735-4741.
7. Lehmensick R. Ueber einen neuen bakteriellen Symbionten im Darm von Hirudo
officinalis L. Zentralbi Bakteriol 1941 : 317-321.
8. Mackay DR et.al. Aeromonas species isolated from medicinal leeches. Ann Plas
Surg 1990; 42:275-279.
9. Sawyer RT : Leech biology and behavior. Oxford : Clarendon Press; 1986.
10. Zebe E. Roters FJ, Kaiping B, Metabolic changes in the medicinal leech Hirudo
medicinalis following feeding Comp Biochem Physiol 1986; 84A:49-55.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 202

13. Aspek hukum terapi lintah di Eropa


dan Amerika
Sebagaimana kita ketahui ada perbedaan antara klasifikasi lintah di
Amerika dan Eropa. Di Amerika lintah dianggap sebagai alat
medis sedangkan di Eropa dikategorikan sebagai obat/produk
medis. Standar kedua sistem terhadap hukum pengobatan
memang berbeda. Sistem medis di Amerika dan Eropa dibentuk
secara berbeda, demikian juga di berbagai negara di Eropa. Aturan
khusus hanya dapat diterapkan di negara tertentu. Untuk itu
terapis harus mempertimbangkan aspek hukum tertentu yang
penting dari terapi, karena terapis dapat dihadapkan pada masalah
tanggung jawab, peraturan, hukum kriminal, yang mengemukakan
risiko hukum pada profesi. Di sisi lain, pasien mengharapkan
menerima terapi yang terbaik dengan keamanan dan keefektifan
pengobatan. Untuk melindungi pasien dan terapis dari akibat tidak
langsung dari hukum, beberapa pertanyaan berikut sebaiknya
dijawab sebelum memulai terapi lintah:

Bagaimana status hukum dari terapi lintah?


Amerika
Pada tahun 2004 lintah medis disetujui oleh FDA (Food and Drug
Administration) sebagai tambahan dalam pengobatan jaringan
transplantasi jika masalah penyumbatan vena akan menunda
penyembuhan atau mengatasi masalah penyumbatan vena karena
perdarahan lokal yang berlangsung lama. Keputusan untuk
mengklasifikasi lintah medis sebagai alat medis didasarkan pada
penggunaan lintah medis pada tahun sebelum tahun 1976, pada
percobaan klinis, proses manufaktur, dan penggunaan klinis di
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 203

masa lalu. Penggunaan lintah untuk penelitian, pendidikan atau


ekstraksi dari zat aktif tidak diatur oleh FDA. Lintah dapat dibeli
dari Amerika berdasarkan alasan ilmiah atau pensuplai medis
seperti Leeches USA. Karena Hirudo medicinalis termasuk jenis
yang langka, proses import tidak hanya berada di bawah kekuasaan
hukum Amerika tapi juga US Fish and Wildlife Service (Jasa
pengurusan ikan dan hewan liar). Kedua agen harus dikontak
sebelumnya untuk mengimpor hewan agar dapat dijamin
keselamatannya.

Eropa (Jerman sebagai contoh)


Lintah medis tidak secara komprehensif diklasifikasikan sebagai
alat medis hingga tahun 2004. Di Jerman, penjualan lintah medis
dikontrol oleh pemerintah. Jika efek samping terjadi selama terapi,
perusahaan obat diwajibkan untuk mencatat dan mengevaluasi,
dan jika perlu melaporkan pada kantor monitor obat negara.
Perusahaan tersebut juga wajib untuk menginformasikan terapis
dan pasien terhadap perkembangan baru dan efek samping
potensial.

Mengapa hukum obat di Amerika dan Eropa


mengklasifikasikan lintah medis secara berbeda?
Definisi yang berbeda tidak berarti pengklasifikasian lintah media
yang berbeda dalam hukum perobatan. Salah satu pendekatan
yang dapat dijelaskan adalah mungkin penguasa pengobatan di
Amerika dan Eropa memiliki pandangan yang berbeda mengenai
mekanisme terapi lintah. Daya hisap atau fungsi membiarkan dari
lintah medis cenderung pada klasifikasi sebagai alat medis di
Amerika. Di sisi lain, fungsi medis dari agen aktif mendukung
klasifikasi lintah medis sebagai produk medis, di Eropa. Dengan

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 204

semakin berkembangnya minat terhadap terapi lintah dan


potensial lintah sebagai terapi alami yang efektif, maka
harmonisasi pandangan internasional diharapkan pada beberapa
tahun ke depan.

Syarat apa yang harus dimiliki oleh terapis?


Profesional perawat kesehatan, dokter dan praktisi non medis
terdidik memiliki autorisasi formal (dalam hukum Jerman) untuk
menyelenggarakan terapi lintah pada pasien jika pasien menyetujui
untuk diterapi. Namun, terapi lintah belum termasuk dalam
kurikulum nasional (di Jerman) untuk dokter, tidak ada peraturan
pelatihan nasional untuk praktisi nonmedis. Pelatihan untuk
praktisi nonmedis dalam hal teknik terapi lintah berada pada
kebijaksanaan dari institusi pelatihan. Dengan mempertimbangkan
tanggung jawab dan isu malpraktek, dokter dan praktisi nonmedis
disarankan untuk menyelesaikan program pelatihan yang dapat
dipercaya dalam terapi lintah sebelum menyelenggarakan terapi
pertama jika di sekolah tidak menyediakan pelatihan yang
komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai terapi
llintah. Mereka kemudian dapat memberikan bukti kualifikasinya
jika diperdebatkan.
Banyak terapis fisik juga berminat dalam menyelenggarakan terapi
lintah sebagai terapi tambahan. Namun, terapis fisik tidak diijinkan
untuk menyelenggarakan terapi yang sifatnya menusuk/ menyayat
pada pasien, mereka akan terkena risiko hukum yang tidak
terhitung jika melakukan hal itu. Dalam hukum Jerman dinyatakan
bahwa jika seorang bekerja sebagai praktisi nonmedis tanpa lisensi
maka dapat didenda atau dipenjara selama satu tahun.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 205

Apakah pasien telah diberikan informasi yang tepat


mengenai risiko potensial yang dapat terjadi oleh
terapis?
Terapi lintah dihubungkan dengan risiko tertentu, dan terapis
diwajibkan secara komprehensif menginformasikan pasien
mengenai potensi terjadinya risiko kerugian. Semua pasien harus
diinformasikan mengenai risiko umum yang berkaitan dengan
terapi lintah (reaksi alergi, peradangan primer dan sekunder, bekas
luka) sebelum menyelenggarakan terapi. Risiko spesifik harus
dijelaskan kasus demi kasus jika memungkinkan, khususnya jika
lintah diletakkan di tempat kritis di daerah wajah atau leher.
Terapis harus mendapatkan ijin secara jelas pada terapi yang
diusulkan dengan bukti bahwa pasien telah diinformasikan
mengenai risiko potensial terapi (lihat Lampiran Informasi untuk
Pasien).

Apakah pasien telah diinformasikan secara tepat


bagaimana mengenali efek samping yang potensial
terjadi?
Sebagai tambahan untuk menjelaskan efek samping yang potensial
terjadi pada terapi lintah, terapis harus menginstruksikan pada
pasien bagaimana cara berekasi jika efek samping tersebut terjadi.
Pasien sebaiknya selalu dapat mengontak terapis sehingga reaksi
efek samping dapat diperiksa dan diatasi secepat mungkin.
Beberapa reaksi efek samping yang membutuhkan resep dokter
adalah jarang. Obat-obatan yang dibutuhkan untuk menerapi
komplikasi ini hanya dapat diresepkan oleh dokter. Untuk itu, jika
terapis adalah praktisi nonmedis, ia harus menginformasikan dan
memperoleh asisten seorang dokter dengan segera.
Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 206

Apakah telah dilaksanakan perlindungan terhadap


hewan dan lingkungan?
Lintah medis adalah alat medis (Amerika) dan produk medis
(Eropa). Walaupun hukum perlindungan terhadap hewan berada
pada posisi lebih rendah, namun tidak dapat dilalaikan atau
diabaikan, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan
perlindungan lingkungan, kebersihan dan pengendalian penyakit.
Melepaskan lintah medis ke daerah liar merupakan pelanggaran
dalam hukum obat, hukum perlindungan lingkungan dan peraturan
pembuangan sampah yang berbahaya (hukum Jerman).

Apakah persyaratan legal digunakan terhadap


lintah setelah dipakai untuk menerapi?
Pada dasarnya ada tiga cara untuk membuang lintah yang telah
digunakan sesuai hukum (hukum Jerman). Lintah yang telah
digunakan dapat:
1. Dikembalikan ke kolam peristirahatan lintah (telah
dilarang pemerintah sejak Juli 2006)
2. Dibunuh dengan dibekukan
3. Dibunuh dengan dicelupkan dalam alkohol
Setelah lintah dibunuh, lintah sebaiknya dibuang sebagai material
sampah berbahaya karena berpotensi menyebabkan infeksi. Klinik
kecil yang tidak memiliki sistem pembuangan sampah dapat
menempatkan lintah di tempat tertutup rapat dan membuangnya
bersamaan dengan sampah umum mereka.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 207

Lampiran
Daftar-1: Peralatan untuk Terapi Lintah
Lintah yang segar, belum pernah dipakai dan bersih (dikirim
sekurang-kurangnya 24 jam sebelumnya)
Bejana kecil dengan penutup untuk lintah yang telah digunakan;
sebaiknya sebagian diisi air
Handuk dan kapas tahan air
Alas dari kain, gulungan pembalut dengan daya serap cairan
tinggi
Plester yang melekat
Air panas dan dingin
Gunting, pisau cukur sekali pakai
Sarung tangan bedah
Pipa dari kaca, mangkuk kecil atau alat penyemprot sekali pakai
jika dibutuhkan
Alat pengukur tekanan darah
Obat-obatan alergi, alat injeksi, pisau bedah/lanset, atau jarum

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 208

Daftar-2: Prosedur Terapi Lintah


Setelah menginformasikan pasien dengan seksama mengenai
terapi, periksa kontraindikasi dan pasien diminta untuk
menandatangani formulir persetujuan
Antarlah pasien ke kamar mandi sebelum mulai prosedur
Bukalah daerah target dan posisikan pasien pada permukaan
yang dilindungi bahan tahan air
Lokasikan dan awasi tempat aplikasi lintah. Tandai batas aplikasi
dengan plester jika dibutuhkan
Gunakan lampu yang redup untuk menciptakan lingkungan yang
sepi dan temaram
Pilihlah lintah dan aplikasikan dengan bantuan mangkuk bekam
atau alat penyemprot yang dimodifikasi
Jika lintah tidak mau mengigit dalam waktu lima menit, basahi
dan hangatkan kulit pasien (celupkan dalam air hangat atau
gunakan handuk hangat, dll).
Jika lintah tetap tidak mau menggigit, gunakan lancet untuk
menusuk kulit pasien
Monitor pasien secara kontinu sampai lintah menjatuhkan diri,
atau berikan pasien bel untuk dibunyikan jika lintah jatuh.
Sediakan tempat untuk lintah yang telah selesai digunakan.
Tutuplah luka secara longgar, dan periksalah tingkat perdarahan
15-30 menit kemudian, jika memuaskan, tutuplah dengan
pembalut penghisap yang tebal
Ingatkan pasien mengenai perdarahan lanjutan dari bekas
gigitan lintah dan yakinkan pasien memiliki nomer telepon
terapis yang dapat dihubungi.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 209

Catatan Rasa Nyeri untuk Dokumentasi Hasil Terapi


Lintah
Alamat praktek medis
:.
Nama pasien
:
Alamat
:
Jenis penyakit yang diderita: .
Jumlah dan lokasi lintah :

Hasil Terapi:
1. Apakah ada keluhan setelah terapi lintah dilakukan?
Jika ada, maka:
Jenis keluhan :
1. ..
2. ..
3. ..
Waktu terjadi :
Lamanya
:
Catatan lain
:
2. Apakah terasa ada penyembuhan setelah terapi lintah
dilakukan?
Jika ada, maka :
Jenis penyembuhan :
1.
2..
3.
Waktu terjadi : .
Catatan lain
: .

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 210

Kuesioner Intensitas Rasa Nyeri


Bapak, ibu yang terhormat,
mohon memasukkan data berikut selama tiga hari setelah terapi
lintah dilakukan. Isilah tingkat rasa nyeri yang dirasakan setiap hari
dengan menandai (X) angka dalam skala nyeri berikut :
Contoh :
Tidak ada rasa nyeri
0
1
2
3

Nyeri sekali
8
9
10

CATATAN :
Angka 0 = tidak ada rasa nyeri;
Angka 10 = rasa nyeri maksimum atau nyeri sekali

Hari pertama (waktu diterapi lintah)


Tidak ada rasa nyeri
0
1
2
3
4
5
Hari kedua
0
1
2
3
4
5
Hari ketiga
0
1
2
3
4
5

Nyeri sekali
9
10

10

10

Terima kasih atas kerjasamanya. Semoga data ini dapat


bermanfaat bagi peningkatan kualitas terapi selanjutnya.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 211

Informasi untuk Pasien dan Formulir Perijinan


Bapak, Ibu yang terhormat,
Anda telah dijadualkan untuk melakukan terapi lintah. Terapi ini
dapat memiliki efek samping sementara.
Efek samping yang mungkin dapat terjadi adalah :
Efek samping yang umum :
Nyeri ringan selama terapi
Perdarahan lanjutan akibat gigitan lintah
Gatal-gatal dan kulit memerah di sekitar gigitan lintah
(seperti reaksi alergi)
Efek samping yang jarang terjadi :
Infeksi kulit
Pembesaran kelenjar limfatik untuk sementara waktu
Gangguan pigmentasi/luka pada bekas gigitan lintah
Pembengkakan sementara pada tubuh, tangan atau kaki
yang diterapi
Beberapa efek samping membutuhkan penanganan (pembalut
untuk mengompres luka, obat-obatan untuk infeksi dan alergi). Jika
efek samping semakin berkembang, silakan mengontak kami
dengan telepon atau dapat datang langsung ke klinik.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 212

Kontraindikasi
Terapi lintah sebaiknya tidak dilakukan untuk pasien dengan :
Kebiasaan mengkonsumsi obat-obat pengencer darah
Penyakit Hemofili (perdarahan tidak terkendali) atau
penyakit yang berkaitan dengan darah atau organ
pembentuk darah lainnya
Bisul akut atau radang lambung yang parah
Penyakit Anemia (kekurangan darah)
Kekurangan imun tubuh karena AIDS, kemoterapi, dll
Penyakit kronis yang berat (kanker stadium tinggi, cuci
darah, dll)
Sejarah penyembuhan luka yang lama (karena penyakit
kencing manis, kegemukan, terapi kortison jangka panjang)
Alergi terhadap salah satu zat dalam air liur lintah
Berkencerungan mengalami keloid atau luka
Setelah Terapi
Kami merekomendasikan pada Anda untuk datang pada hari Anda
menjalani Terapi Lintah.
Anda sebaiknya datang lagi untuk pemeriksaan tiga hingga tujuh
hari setelah terapi atau lebih cepat jika terjadi komplikasi.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 213

Formulir Perijinan
Saya menyetujui untuk melakukan Terapi Lintah dan Pengukuran
setelah Terapi Lintah.
Dr/Bapak/Ibu . telah menjelaskan pada saya efek
samping yang potensial terjadi. Berdasarkan pengetahuan saya,
saya tidak memiliki kontraindikasi sebagaimana yang telah
disebutkan di atas.
.
Tempat dan tanggal penandatanganan

..
Tanda tangan pasien
..
Tempat dan tanggal penandatanganan

..
Tanda tangan dokter/terapis

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 214

Informasi sebelum Terapi Lintah untuk Pasien


Bapak, Ibu yang terhormat,
Anda telah dijadualkan untuk melakukan Terapi Lintah pada hari/
tanggal jam
Informasi penting berikut ini sebaiknya dibaca sebelum terapi
dilakukan.
Jangan menggunakan semua jenis parfum, lotion, sabun mandi
dan salep atau obat sehari sebelum terapi atau pada saat
terapi dilakukan.
Anda harus memberitahu terapis jika mengkonsumsi obatobatan pengencer darah.
Keseluruhan prosedur terapi akan berlangsung selama dua
hingga tiga jam. Silakan mengatur waktu Anda. Pada saat
terapi dilakukan, Anda sebaiknya beristirahat dan sedapat
mungkin meninggikan posisi tubuh yang terkena penyakit.
Lanjutkan sekurang-kurangnya dua hari setelah terapi.
Kami merekomendasikan untuk membawa pakaian ganti dan
hadir untuk pemeriksaan tiga hingga tujuh hari setelah terapi.
Ketika lintah telah melepaskan diri, gigitan lintah akan ditutupi
oleh pembalut tebal yang menyerap yang mungkin akan
membatasi gerak Anda. Gunakan baju longgar dan sepatu yang
terbuka bagian depannya.
Tidak disarankan untuk menyetir kendaraan setelah terapi.
Asuransi biasanya tidak akan mengganti biaya terapi.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan
menghubungi kami pada jam kerja:
Telepon :
Salam,

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 215

Prosedur Terapi Lintah


Bapak/Ibu yang terhormat,
Anda telah mempercayai kami untuk melakukan Terapi Lintah pada
Anda, dan dokter/terapis yang akan melakukannya telah
menjelaskan pada Anda mengenai efek samping dan
kontraindikasi. Informasi berikut ini akan memberikan Anda data
penting mengenai penanganan lebih lanjut.
Setelah lintah selesai menghisap darah, luka bekas gigitan akan
dibungkus dengan pembalut tebal, yang sebaiknya digunakan
hingga keesokan harinya. Kami merekomendasikan Anda untuk
menjauhkan diri dari semua aktivitas yang membutuhkan banyak
tenaga pada hari terapi dan tinggikan posisi tubuh yang diterapi
sesering mungkin.
Anda akan diberikan material pembalut tambahan. Jika pembalut
pertama telah penuh dengan rembesan darah, gantilah
pembalutnya dengan pembalut tambahan. Kontaklah klinik jika
perdarahan terus berlangsung atau jika Anda kuatir terhadap salah
satu efek samping. Teleponlah ke nomer berikut ini selama jam
kerja: .
Pembalut sebaiknya diganti pada keesokan harinya setelah terapi
dan sebaiknya dilakukan di klinik.
Rasa gatal dan kulit yang memerah di sekitar gigitan lintah
mungkin terjadi. Gejala ini biasanya merugikan dan dianggap
sebagai bagian dari efek terapi. Gejala ini biasanya akan hilang
dengan metode sederhana yaitu mengkompresnya dengan dadih
(susu kental untuk dibuat keju), atau jeruk lemon.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 216

Kontaklah kami atau terapi lainnya segera ketika efek samping


semakin memburuk (demam, kedinginan, masalah sirkulasi, dll).
Kira-kira satu minggu setelah terapi, kami akan mengontak Anda
untuk meyakinkan bahwa terapi telah dilakukan secara tepat.
Pengukuran kualitas dilakukan untuk keamanan Anda dan sebagai
data untuk penelitian kami.
Jika Anda masih memiliki pertanyaan lanjutan mengenai rangkaian
terapi, silakan mengontak kami di nomer :
Hormat kami,
Terapis

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 217

Tentang Penulis

Vita Sarasi dilahirkan di Balikpapan tanggap 17 September 1968.


Gelar Sarjana Ekonomi bidang Manajemen dan Magister Teknik
bidang Manajemen Industri diraihnya di Unpad dan ITB. Penulis
saat ini sedang menyelesaikan program doktornya di Universitas
Johann Wolfgang Goethe, Frankfurt am Main, Jerman.
Ibu dari dua anak ini sejak 2002 hingga saat ini mengajar ilmu-ilmu
manajemen dan ekonomi syariah di Program Studi Manajemen,
Fakultas Ekonomi, Universitas Padjadjaran, Bandung. Penulis
menekuni bidang pengobatan cara Islam (Thibbun Nabawi) sejak
Februari 2011 ketika mengikuti Pelatihan Bijak Cemerlang (PBC)
yang dilaksanakan oleh Herba Penawar Alwahida (HPA) di Hotel
Poster Mice, Bandung. Berbagai pelatihan dan seminar pengobatan
Islam telah diikutinya. Penulis juga aktif menjadi anggota ABI
(Asosiasi Bekam Indonesia) untuk wilayah Jawa Barat mulai tahun
2011. Terapi lintah termasuk salah satu jenis pengobatan yang
dijalankannya di Warung Sehat Konstitusi, Jalan Konstitusi no 2,
Bandung, yang Alhamdulillah, dengan ijin Allah cukup berhasil
menangani beberapa pasien dengan berbagai keluhan, mulai dari
nyeri persendian hingga stroke.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 218

Terapi Lintah telah mengalami jaman keemasan selama beberapa


tahun, dan hingga kini kemujaraban dari air liurnya dalam
mengobati berbagai macam penyakit terus digali dan diteliti oleh
para ahli.
Ibnu Sina, dokter Arab yang sangat terkenal pada periode 9781037 M, percaya lintah dapat mengeluarkan darah dari bagian
tubuh yang lebih dalam dibandingkan dengan bekam basah (wet
cupping) yang ditulis dalam bukunya The Canon of Medicine
(Alqanoon-fi-Tibb). Terapi lintah pada saat ini tidak terlalu berbeda
dari metode yang dijelaskan Ibnu Sina 1000 tahun yang lalu. Ibnu
Sina bersikeras tidak hanya pada kebersihan lintah tapi juga
tempat aplikasi dan tangan terapis (Robert dkk, 2000).
Buku ini mengenalkan prinsip dasar penggunaan lintah dalam
praktek klinis, dan secara jelas menerangkan tahap demi tahap
metodologi dan aplikasinya yang sangat potensial.
Instruksi yang ekselen dalam penggunaan lintah meliputi spektrum
penuh kemungkinan aplikasinya, tentunya juga mendorong
pengembangan baru dalam bidang penelitian. Petunjuk yang
berharga mengenai terapi yang penting ini diperoleh dari para ahli
yang sangat berpengalaman dalam bidangnya.

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 219

HERBA JAWI
Herba akar kunyit (Coscinium blumeanum) hidup menjalar dan tinggi tidak melebihi 10 kaki.
Kandungan flavanoid yang tinggi menjadikan herba ini sebagai antioksidan yang mengurangi
pengeluaran histamin dan zat-zat alergi lainnya, membantu meningkatkan kadar vitamin C
dalam tubuh untuk melindungi kerusakan sel akibat radikal bebas serta menguatkan sendi.
Bagi penderita alergi, hindari sementara makanan sumber alergi seperti: cumi, ayam, udang,
terasi, kepiting, dan lain-lain.
Madu asli memiliki aroma khas dan tingkat kekentalan yang sangat tinggi, kaya akan protein
dan karbohidrat. Khasiat madu : sebagai antibiotik alami, meningkatkan stamina dan vitalitas,
pencegahan penyakit, mempercepat penyembuhan penyakit, mengeluarkan racun tubuh,
sumber energi, sumber vitamin dan mineral yang lengkap
Omega 3 dihasilkan dari ikan yang memiliki kadar Omega 3 tinggi. Fungsi utama adalah nutrisi
otak dan pembersih darah. Manfaat lain : mencegah radang sendi (rhematoid arthritis), asma,
serangan kanker penyakit kulit, migren, kesemutan, dingin di kaki dan tangan, mencegah
serangan jantung akibat penyumbatan (artherosklerosis) dan darah tinggi, menjaga
penglihatan, meningkatkan kandungan oksigen dalam darah, sehingga metobolisme optimal
Teh herba mengandung Hydrocotyle asiatica dan Hydrocotyle sibthorpiodes, keduanya dari
keluarga pegagan. Khasiatnya antara lain : meredakan peradangan sendi (arthritis),
menurunkan asam urat (gout), membuang racun terutama di hati, ampasnya jika ditempelkan
di kulit dapat menyembuhkan gangren, kandungan glycosidesnya berfungsi sebagai penawar
luka, kandungan asiaticoside (triterpene glycoside) dalam pegagan dapat merangsang
pembentukan lipid dan protein yang amat berfungsi untuk kesehatan kulit, Asiaticosides
diklasifikasikan sebagai antibiotik, anti radang, mengandung seponin yang menghambat keloid
pada jaringan bekas luka, mencegah varises dan salah urat.
Rimpang kunyit secara umum mengandung minyak atsiri, zat damar, dan pati serta tannin,
yang berkhasiat menjaga kesehatan kulit, antiseptik. Ini adalah agen antiseptik dan antibakteri
alami, berguna dalam desinfektan luka dan luka bakar, mengurangi resiko leukemia, racun hati
alami, mencegah dan memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer dengan
menghilangkan penumpukan plak amyloyd di otak, mencegah metastasis dari terjadi dalam
berbagai bentuk kanker, anti-inflamasi tanpa efek samping, menghambat multiple sclerosis,
penghilang rasa sakit alami dan cox-2 inhibitor, membantu dalam metabolisme lemak,
pengobatan alami untuk arthritis dan rheumatoid arthritis, meningkatkan efek paclitaxel
kemoterapi obat dan mengurangi efek samping, menghentikan pertumbuhan pembuluh darah
baru pada tumor,mempercepat penyembuhan luka dan membantu dalam perbaikan kulit
rusak,membantu dalam pengobatan psoriasis dan kondisi kulit inflamasi.

Rosella mengandung Hibiscus sabdariffa, vitamin C dosis tinggi. Rosella berkhasiat sebagai
antibodi alami dari kuman atau virus. Khasiat lain : pencegah penyakit kardiovaskular, kanker,
alergi, demam, masalah kulit.

Habbatussauda (jinten hitam) berkhasiat membantu meningkatkan sistem imunitas tubuh,


anti histamine, anti tumor, anti bakteri

Sumber: Tn. Haji Ismail bin Haji Ahmad, Jawi Medicinal Herbs. HPA Industries SDN. BHD, 2009

Vita Sarasi, 2011. [Draft-1] Terapi Lintah: Teori dan Praktek - 220