Anda di halaman 1dari 78

0 REFERENSI

1.1 Spesifikasi teknis pekerjaan galian tanah dan gambar-gambar pelaksanaan.


1.2 Rencana Mutu Proyek
2.0 ALAT
2.1. Alat ukur (survey); Theodolit dan Autolevel
2.2. Excavator
2.3. Dump truck
2.4. Dozer
2.5. Compactor
2.6. Pompa air
2.7. Pacul
2.8. Dan lain-lain
3.0 LANGKAH KERJA
3.1. Persiapan
a. Menentukan metode yang akan digunakan, dalam arti menentukan start penggalian, akses
masuk untuk alat berat, skala prioritas penggalian serta kaitannya dengan tahapan pekerjaan lain
yang diharapkan tidak terjadi tumpukan pekerjaan yang satu dengan yang lainnya.
b. Akses masuk alat berat/ dump truck perlu diperhatikan agar disediakan akses masuk yang
baik, agar tidak terjadi tanah amblas, sehingga sirkulasi transportasi alat + dump truck menjadi
terganggu.
c. Schedule pelaksanaan dimana kaitannya terhadap penyediaan alat berat, jumlah dump truck,
faktor cuaca, kapasitas galian per hari, penentuan subkontraktor galian. Point subkontraktor
galian harus dilihat dari segi bonafiditas dan referensi yang ada, agar tidak terjadi pemutusan
hubungan kerja akibat kegagalan kontraktor yang mengerjakan sehingga berdampak terhadap
schedule.
d. Biaya:
- Analisa anggaran biaya yang tersedia untuk pekerjaan galian.
- Pelajari data hasil test tanah yang ada (sondir, dll), untuk kemudian dilanjutkan dengan metode
galian yang akan dipakai.
- Proteksi kelongsoran yang diakibatkan galian, oleh karena itu dengan melihat hasil test tanah
yang ada, serta spesifikasi tanah yang ada maka untuk mencegah kelongsoran galian dapat
dengan:
i. Permukaan galian dikamprot.
ii. Permukaan galian dikamprot (+ kawat locket)
iii. Cerucuk bambu
iv. Soil nailing
- Faktor pertimbangan kapasitas dump truck kecil = 7 m.
Faktor pertimbangan kapasitas dump truck besar = 17 m.
Durasi excavator sampai naik ke dump truck 20 sampai dengan 25 menit.

Berdasarkan survei jumlah ritase 1 dump truck/ hari = 4 sampai dengan 5 rit.
Lokasi pekerjaan, faktor cuaca, tingkat kemacetan, lokasi pembuangan tanah berpengaruh
terhadap jumlah ritase per hari.
- Korelasi dengan schedule
Lama pelaksanaan galian:
Volume galian total (m) = dump truck/ hari
Kapasitas 1 dump truck x jumlah ritase: dump truck/ hari
Jumlah dump truck per hari = Jumlah dump truck/ Waktu yang diinginkan
Waktu penyelesaian yang diinginkan
- Faktor yang harus dipertimbangkan:
i. Faktor kesulitan di lokasi penggalian lama pemuatan tanah dari excavator ke dump truck.
ii. Lamanya pembuangan tanah ke lokasi buangan, tingkat kemacetan dll, akan mempengaruhi
jumlah ritase per 1 dump truck.
iii. Kapasitas 1 buah excavator dalam 1 hari bisa mencapai 15 18 ritase/ hari 255 m - 306
m.
iv. Apabila lokasi penggalian cukup luas dan schedule pekerjaan yang sangat singkat, apabila
lokasi memungkinkan maka dapat digunakan 2 buah excavator, tetapi perlu dipertimbangkan
dari segi biaya dll, lokasi pekerjaan memungkinkan atau tidak.
3.2. Pelaksanaan
A. Turap
a. Untuk bidang penggalian yang besar dan luas/ dalam dan berbatasan dengan bangunan lain,
untuk mencegah terjadinya kelongsoran perlu disiapkan Sheet Pile, Continous Pile, H pile.
b. Untuk bidang yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu dalam dapat digunakan cerucuk bambu
dan permukaan tanah dikamprot, selama tidak terjadi hujan terus menerus cerucuk bambu ini
cukup untuk menahan kelongsoran.
c. Salah satu metode pencegah kelongsoran pun dapat menggunakan Soil Nailing yaitu dengan
pengeboran lubang pada bidang tegak, masukkan besi dan di grouting.
d. Pembuatan Caping Beam untuk turap-turap tersebut diatas.
B. Pengalian
a. Meneliti keadaan lapangan terhadap kemungkinan adanya pipa-pipa air, kabel listrik, telpon
dan lain-lain.
b. Menentukan batas daerah galian (survei dan marking koordinat serta elevasi). Perencanaan
yang matang untuk mengkorelasikan antara schedule per blok galian dengan jumlah alat berat
yang harus disediakan serta kapasitasnya.
c. Menyiapkan data kerja.
d. Perlu dibuatkan beberapa titik pemantauan kelongsoran, ditaruh di tempat yang aman,
sehingga apabila terjadi pergerakan bidang galian dapat diketahui sejak dini. Penggalian yang
sulit dijangkau oleh alat berat, harus dikombinasikan dengan menggunakan alat manual (Manual
Excavation).
e. Faktor safety terutama untuk manual excavation perlu mendapat perhatian yang lebih terutama
untuk tenaga kerja yang bekerja di lokasi galian.
f. Untuk penggalian dengan level di bawah muka air tanah, perlu disiapkan sump pit/ dewatering

untuk menjaga keseimbangan air di sekitarnya, karena apabila tidak disiapkan sistem dewatering
yang baik, maka resiko penurunan level air sekitar tinggi sekali dan kesulitan di dalam
penggalian.
3.3 Gangguan Air
a. Perlu mendapat perhatian yang besar untuk selalu mengontrol dan mengendalikan muka air
tanah dengan pompa-pompa submersible atau dewatering system.
b. Lokasi galian diusahakan harus kering.
c. Melindungi tepi-tepi/ lereng galian dari terpaan air yang terus menerus karena merupakan
faktor kelongsoran yang tinggi.
d. Harus disiapkan sump pit.
3.4 Perbaikan Pekerjaan
a. Jika terjadi pergerakan tanah atau kelongsoran segera hentikan pekerjaan.
b. Melakukan pencegahan kelongsoran selanjutnya dengan perbaikan turap yang ada ataupun
penambahan turap yang baru.
c. Jika karena gangguan air, maka air harus segera dikeringkan/ disalurkan.
d. Memeriksa keadaan Bench Mark, bangunan sekitar, jalan yang ada, agar tidak terganggu.
e. Jangan membebani tepi galian dengan penumpukan tanah galian maupun material lainnya.

4.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN


4.1. Persiapan
4.2. Batas galian
4.3. Kemiringan galian
4.4. Jenis tanah galian
4.5. Level (Awal dan akhir)
4.6. Proteksi (Jenis Sistem)
4.7. Dewatering
5.0 REKAMAN
5.1. Pemeriksaan Pekerjaan Galian Tanah
6.0 LAMPIRAN
6.1. Form Pemeriksaan Pekerjaan Galian Tanah
Diposkan oleh BRURY TALKdi 17.26

METODE PELAKSANAAN
REHABILITASI D.I. PAKU KAB. POLEWALI MANDAR
1. Pekerjaan Persiapan
1.01. Mobilisasi dan Demobilisasi
Yang dimaksud dengan mobilisasi dan demobilisasi adalah semua kegiatan yang
berhubungan dengan transportasi peralatan yang akan dipergunakan dalam melaksanakan
paket pekerjaan. Penyedia jasa harus sudah bisa memperhitungkan semua biaya yang
diperlukan
dalam
rangkaian
kegiatan
untuk
mendatangkan
peralatan
dan
mengembalikannya nanti bila pekerjaan telah selesai ke tempat semula.
Cara Pelaksanaan
a. Penyediaan Peralatan dan Personil
Penyedia Jasa harus menyediakan peralatan dan personil sesuai dengan kebutuhan seperti
yang termuat dalam kontrak untuk menyelesaikan pekerjaan.
Sebelum mobilisasi dilaksanakan, maka penyedia jasa harus segera melaporkan kepada
direksi untuk mendapatkan persetujuan, dan bila dipandang perlu, direksi dapat meminta
tambahan peralatan maupun personil atas tanggungan penyedia jasa.
b. Program dan Pemberitahuan
Penyedia Jasa harus membuat schedule mobilisasi peralatan dan personil yang dilengkapi
dengan keterangan akan jenis dan kapasitas peralatan yang akan didatangkan.
Penyedia Jasa harus membuat pemberitahuan tertulis kepada direksi perihal kedatangan
maupun pengangkutan kembali peralatan dan personil.
Penyedia jasa harus meminta persetujuan direksi atas setiap perubahan jadwal peralatan
dan penyediaan personil.
Semua peralatan yang telah berada di lokasi pekerjaan, bila sudah tidak diperlukan, dapat
dipindahkan dari areal pekerjaan dengan seijin direksi.
1.02. Pengukuran MC 0%, MC 100% dan Asbuilt Drawing
Pengukuran dilakukan untuk mengetahui ketinggian dan keadaan topograf
daereahpekerjaan secara memanjang (long section) dan secara melintang ( cross section)
sebelum pekerjaan dimulai yang disebut MC 0%. Setelah pengukuran dilaksanakan maka
akan dihasilkan gambar yang akan dilengkapi dengan rencana letak bangunan dan sebagai
acuan pekerjaan di lapangan.
Cara Pelaksanaan
a. Penyedia jasa harus menyiapkan peralatan ukur, termasuk pekerja, patok-patok, serta
peralatan lainnya yang diperlukan untuk pengukuran. Penyedia jasa harus menggunakan
alat ukur yang mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi untuk pengukuran.
b. Pekerjaan ini dimulai dengan memasang patok yang terbuat dari balok kayu 4/6 dengan
jarak yang telah ditentukan.
c. Patok patok yang telah dipasang tidak bolah goyang dan berpindah tempat karena telah
memiliki elevasi yang didasarkan pada BM sekitar setelah dilakukan Pengukuran.

d.

Setelah data pengukuran diperoleh dan diolah maka akan dihasilkan gambar kerja (working
drawing) sebagai panduan pekerejaan di lapangan yang harus disetujui terlebih dahulu oleh
direksi.
e. Setelah pekerjaan lapngan selesai maka diadakan pengecekan dan pengukuran ulang di
lokasi pekerjaan (MC 100%) untuk membuat gambar purna laksana (asbuilt drawing)
sebagai tanda pekerjaan selesai. Asbuilt drawing dinyatakan selesai bila direksi telah
menyetujui.
f. Penyedia jasa harus segera menyerahkan semua data survai serta hasil perhitungan dan
gambar-gambar dari pengukuran MC 0% dan MC 100% kepada direksi secepatnya, dengan
rincian sebagai berikut :
o Data ukur 1 (satu) asli dan 1 (satu) rekaman
o Gambar dengan ukuran A3 sebanyak 3 (satu) asli (kalkir) dan 1 (satu) rekaman serta ukuran
A3 sebanyak 2 (dua) rekaman.

a.
b.

c.
d.

1.03. Laporan
Untuk mendukung kelengkapan data administrasi teknik, maka penyedia jasa
harusmenyediakan lporan harian, mingguan dan bulanan.
Cara Pelaksanaan
Laporan dibuat setiap hari dengan mencatat pekerjaan yang dilaksanakan dalam
hariberjalan terhitung pada saat adanya SPMK.
Laporan harian berisi tentang jenis pekerjaan, volume pekerjaan yang dicapai setiap hari
lengkap dengan perhitungan dan gambar typicalnya, cuaca, jumlah tenaga, alat yang
digunakan serta jumlah dan jenis bahan yang digunakan.
Laporan mingguan berisi tentang rekapan laporan harian 1 (satu) mingguan, selain itu juga
berisi volume pekerjaan minggu lalu.
Laporan bulanan berisi tentang rekapan laporan harian dan laporan mingguan, selain tu
juga berisi volume pekerjaan bulan lalu.

1.04. Dokumentasi
Untuk mendukung kelengkapan data administrasi teknik dan sebagai bukti yang
meyakinkan di kemudian hari, maka penyedia jasa harus menyediakan foto
dokumentasipelaksanaan pekerjaan dengan menggunakan camera digital.
Cara Pelaksanaan
a. Foto dokumentasi dilakukan pada saat pelaksanaan pekerjaan masih pada posisi 0%,
mencapai bobot 50% dan 100% untuk satu titik atau lokasi pengambilan foto yang sama.
Foto 0% diambil pada saat pekerjaan belum dimulai untuk mengetahui kondisi sebenarnya
dari lokasi yang akan dikeerjakan oleh penyedia jasa.
Foto 50% diambil pada saat pekerjaan sedang berlangsung untuk melihat kondisi lapangan
pada kondisi 50%.
Foto 100% diambil pada saat pekerjaan sudah terlaksana secara tuntas untuk melihat
kondisi akhir pekerjaan.
b. Sebelum pengambilan foto-foto, maka dibuat rencana/denah yang menunjukkan lokasi,
posisi dari kamera dan arah bidikan yang kemudian diserahkan kepada direksi untuk
disetujui.

c.
1.
2.
3.
e.
f.

Foto dokumentasi tersebut di atas dicetak dengan ukuran 3R yang ditempel pada album
foto dan diberi catatan sebagai berikut :
Nama Kontrak
Nama Bangunan
Tahap/Progress Pekerjaan 0%, 50% atau 100%
Penyedia Jasa menyerahkan foto dokumentasi tersebut sebanyak 3 (tiga) rangkap bersama
1 (satu) negatifnya kepada direksi.
Pada setiap tahap pengambilan gambar untuk tiap lokasi pengambilan harus dari arah yang
sama yang sudah ditentukan sebelumnya.
1.05 Coffering dan Dewatering
Coffering dan Dewatering dilakukan untuk mengeringkan lokasi yang akan
dilaksanakan kegiatan dengan menyiapkan bahan serta menyediakan, memasang dan
mengoperasikan segala jenispompa serta peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk
keperluan pengeringan rembesan pada berbagai bagian pekerjaan sesuai dengan ketentuan
konstruks untuk setiap jenis pekerjaan

a.
b.

c.
d.

Cara Pelaksanaan
Penyedia jasa menyiapkan dan memasang bahan pembuat tanggul sementara untuk
menjaga rembesan
Penyedia jasa harus menyiapkan menyediakan, memasang dan mengoperasikan segala
jenis pompa yang mampu menghisap air yang mengandung lumpur dan pasir serta
peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk keperluan pengeringan rembesan.
Jenis dan ukuran pompa yang digunakan, disesuaikan dengan keadaan lokasi kegiatan
Penyedia Jasa perlu mengontrol kondisi lokasi kegiatan atau di tempat-tempat lain, untuk
mencegah adanya akumulasi limpasan air
2. Pekerjaan Rehabilitasi D.I. Paku
2.01. Pasangan Batu Kali/Gunung 1 : 4

a.
b.
d.
e.

Pekerjaan Pasangan batu adalah pekerjaan pasangan batu kali / gunung dengan
menggunakan campuran semen pasir yang dibentuk sesuai dengan gambar pelaksanaan
Cara Pelaksanaan
Batu yang dipakai harus batu yang bersih dan keras dan telah disetujui oleh Direksi.
Pasir yang digunakan harus yang baik dan telah disetujui Direksi.
Spesi/adukan pekerjaan pasangan batu harus dari campuran semen dan pasir dengan
perbandingan volume 1 pc : 4 psr dengan menggunakan concrete mixer
Pasangan batu harus tersusun sedemikian rupa sehingga antara batu dengan batu
terisispesi secara homogeen, sehingga batu-batu tersebut tidak saling berhimpitan /
bersentuhan.Susunan batu raen (batu muka) harus mempunyai jarak (lebar nat antara 1-2
cm)
2.02. Plesteran 1 : 3

Pekerjaan Plesteran adalah pekerjaan plestran pada bagian atas dari dinding,
ujungujung saluran pasangan batu yang sesuai dengan gambar pelaksanaan
Cara Pelaksanaan
a. Pasir yang digunakan harus yang baik dan telah disetujui Direksi.
b. Spesi/adukan pekerjaan plesteran harus dari campuran semen dan pasir dengan
perbandingan volume 1 pc : 3 psr dengan menggunakan concrete mixer
f. Pekerjaan plesteran dikerjakan secara dua lapis sampai ketebalan 2 cm. Apabila tidak
diperintahkan lain pasangan harus diplester pada bagian atas dari dinding, ujung-ujung
saluran pasangan, dan untuk 0,10 m dibawah trepi atas dinding atau sesuai dengan yang
tertera dalam gambar

g. Pekerjaan Plesteran 1 : 3 harus rata, lurus, halus dan rapi sehingga bagian
atas dari dinding, ujung-ujung saluran pasangan batu permukaan tertutupi.

a.
b.
h.
i.
j.
k.

2.03. Galian Tanah Mekanis


Galian mekanis adalah penggalian tanah dengan menggunakan alat berat seperi
Excavator PC-100 atau PC-200 (tergantung kebutuhan). Penyedia jasa harus melakukan
penggalian ini dengan mengikuti gambar rencana.
4Cara Pelaksanaan
Galian tanah yang tidak dapat dipakai sebagai bahan timbunan harus dibuang ke luar areal
kerja
Material dari hasil galian yang akan digunakan sebagai bahan timbunan harus mendapat
persetujuan dari direksi.
Setiap material yang berlebih untuk kebutuhan bahan timbunan tersebut harus dibuang
oleh penyedia jasa ke lokasi yang ditentukan oleh direksi.
Penyedia Jasa harus bertanggungjawab untuk seluruh pengaturan, perolehan ijin untuk
pembuangan material dari pemilik tanah dimana pembuangan dilakukan.
Penyedia jasa dalam melaksanakan pekerjaan galian harus diusahakan cukup aman dari
longsoran terlebih pada tempat alat berat berpijak.
Apabila pekerjaan selesai maka penyedia jasa harus memberitahukan kepada direksi untuk
pemeriksaan.

2.04. Galian Tanah Berbatu


Galian Berbatu adalah penggalian tanah yang mengandung batu lepas dengan
menggunakan alat berat seperi Excavator PC 100 / PC 200 (tergantung kebutuhan).
Penyedia jasa harus melakukan penggalian ini dengan mengikuti gambar rencana.
Cara Pelaksanaan
a. Galian tanah Berbatu yang tidak dapat dipakai sebagai bahan timbunan harus dibuang ke
luar areal kerja

b.

Material dari hasil galian yang akan digunakan sebagai bahan timbunan harus mendapat
persetujuan dari direksi.
l.
Setiap material yang berlebih untuk kebutuhan bahan timbunan tersebut harus dibuan oleh
penyedia jasa ke lokasi yang ditentukan oleh direksi.
m. Penyedia Jasa harus bertanggungjawab untuk seluruh pengaturan, perolehan ijin untuk
pembuangan material dari pemilik tanah dimana pembuangan dilakukan.
n. Penyedia jasa dalam melaksanakan pekerjaan galian harus diusahakan cukup aman dari
longsoran terlebih pada tempat alat berat berpijak.
o. Apabila pekerjaan selesai maka penyedia jasa harus memberitahukan kepada direksi untuk
pemeriksaan.
2.05. Timbunan Tanah Hasil Galian
Yang dimaksud dengan pekerjaan timbunan tanah hasil galian adalah pekerjaan
menimbun dengan menggunakan bahan timbunan dari hasil galian pada bagian konstruksi
saluran dengan tenaga manusia (Manual) kemudian dipadatkan dengan alat bantu
Cara Pelaksanaan
a. Material timbunan diambil dari hasil galian yang telah disetujui oleh pihak direksi.
b. Tanah hasil galian dihampar dan dipadatkan dengan menggunakan alat bantu
b. Ukuran serta ketinggian disesuaikan dengan gambar kerja dan disetujui oleh pihak direksi

a.
b.
p.
q.
r.

2.06 Timbunan Tanah Dari Luar


Yang dimaksud dengan pekerjaan timbunan tanah dari luar adalah kegiatan
penimbunan baik untuk tanggul maupun untuk di belakang bangunan dengan
mempergunakan bahan timbunan dari galian pada suatu lokasi borrow dengan jenis dan
kualitas tanah yang tertentu dan Penyedia Jasa mengeluarkan biaya untuk pengadaan
material tanah timbunan tersebut. Sumber dari material borrow untuk setiap timbunan
harus sesuai dengan borrow area yang telah disetujui oleh Direksi
Cara Pelaksanaan
Material timbunan diambil dari borrow area yang telah disetujui oleh pihak direksi.
Material timbunan dihampar lapis demi lapis dan apabila dibutuhkan disiram airdengan
water tank truck
Material timbunan yang dihampar kemudian dipadatkan dengan menggunakan alat berat
vibrator roller
Kepadatan timbunan kemudian ditentukan dari hasil uji laboraturium dengan melakukan tes
uji standar Proctor Compaction guna memperoleh hasil pemadatanyang baik
Ukuran dan dimensi ditentukan berdasarkan gambar.
2.07 Perapihan
Yang dimaksud perapihan adalah pembentukan pertama dan kedua pada pekerjaan
galian dan timbunan pada bagian dalam, puncak dan luar tanggul sehingga dimensi sesuai
dengan gambar kerja.
Cara Pelaksanaan

a.

perapihan dilaksanakan dengan membentuk tumpukan timbunan pada bagian dalam,


puncak dan bagian luar sehingga bentuk tanggul sesuai dengan dimensi yang diinginkan
atau sesuai dengan gambar rencana.
b. Apabila ada kelebihan material timbunan pada pelaksanaan perapihan tanggul
makadibuang disekitar pekerjaan dan dirapikan
b. Penyedia jasa harus bertanggung jawab untuk seluruh pengaturan, dan perolehan ijinuntuk
pembuangan material dari pemilik tanah dimana pembuangan dilakukan.
c. Ukuran dan dimensi ditentukan berdasarkan gambar rencana dan mendapat persetujuan
pihak direksi.
2.08 Bongkaran
Pekerjaan Bongkaran adalah pekerjaan pembongkaran pasangan yang akan
direhabilitasi dengan menggunakan alat bantu yang dikerjakan oleh Penyedia Jasa setelah
mendapat persetujuan dari Direksi.
Cara Pelaksanaan
a. Bongkaran yang dilaksanakan adalah pembongkaran pasangan baik itu pasangan batu,
beton ataupun bangunan yang ada diareal yang akan dilaksanakan rehabilitasi
b. Sampah bongkaran harus diatur dan dibuang disekitar lokasi yang dijamin tidak akan
mengganggu kegiatan pekerjaan. Pengaturan dari semua hasil bongkaran tersebut harus
sesuai petunjuk Direksi.

Metode Pelaksanaan
Gedung Tinggi
Posted on November 24, 2011 by MgCO3 - Magnesium Karbonat

9 Votes

Pelaksanaan Pekerjaan
Apartemen Pakubuwono View
Jakarta

A. Pendahuluan
Tahap pelaksanaan merupakan tahapan untuk mewujudkan setiap rencana
yang dibuat oleh pihak perencana. Pelaksanaan pekerjaan merupakan tahap
yang sangat penting dan membutuhkan pengaturan serta pengawasan
pekerjaan yang baik sehingga diperoleh hasil yang baik, tepat pada
waktunya, dan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya.

Tahap pelaksanaan pekerjaan merupakan tahap yang menentukan berhasil


tidaknya suatu proyek, oleh karena itu perlu dipersiapkan segala sesuatu
yang berhubungan dengan teknis pekerjaan, rencana kerja, serta tenaga
pelaksana khususnya tenaga ahli yang profesional yang dapat mengatur
pekerjaan dengan baik serta dapat mengambil keputusan-keputusan
mengenai masalah-masalah yang ditemui di lapangan.
Dalam pelaksanaan fsik suatu proyek bisa saja timbul masalah-masalah
yang tidak terduga dan tidak dapat diatasi oleh satu pihak saja. Untuk itulah
diperlukan adanya rapat koordinasi untuk memecahkan dan menyelesaikan
masalah bersama-sama. Dalam rapat koordinasi dihadiri oleh :

Konsultan proyek
Koordinator dan para pelaksana
Pihak pemilik (owner) jika diperlukan
Pihak perencana / arsitek jika diperlukan
Hal-hal yang dibahas dan diselesaikan dalam rapat koordinasi meliputi :

Kemajuan ( progress) pekerjaan di lapangan


Masalah-masalah dan solusinya menyangkut pelaksanaan di lapangan
Realisasi pelaksanaan pekerjaan yang telah dicapai dibandingkan
dengan time schedule yang telah direncanakan
Masalah administrasi yang menyangkut kelengkapan dokumen kontrak
Sasaran yang akan dicapai untuk jangka waktu ke depan
Dalam tahap pelaksanaan, semua pelaksanaan pekerjaan di lapangan
mengikuti rencana yang telah dibuat oleh pihak perencana. Antara lain
gambar rencana dan segala detailnya, jenis material, dan dokumen lainnya.
Tahap selanjutnya kontraktor mengerjakan shop drawing sebagai gambar
pelaksanaan dengan ruang lingkup serta detail yang lebih sempit kemudian
untuk tahap akhir kontraktor membuat as built drawing sebagai gambar
akhir sesuai dengan yang ada di lapangan yang digunakan sebagai laporan
akhir .
Dalam bab ini, pelaksanaan pekerjaan yang akan penulis uraikan adalah
tentang pekerjaan yang dilaksanakan dan dialami penulis selama kerja
praktek di proyek pembangunan Apartemen The Pakubuwono
View, pelaksanaan pekerjaan antara lain :

Pekerjaan
Pekerjaan
Pekerjaan
Pekerjaan

dewatering
ground anchor
Mat Foundation
struktur beton Kolom, Balok, Plat dan Cor

Wall pada Basement,lantai dasar dan lantai 2.


B. Peralatan
Suatu proyek agar lancar dan memenuhi targer mutu dan waktu harus
didukung oleh peralatan yang memadai. Supaya dalam penyediaan alat bias
berfungsi secara optimal perlu adanya manajem peralatan yang tertib.
Dalam manajemen ini diperhatikan masalah pengolahan peralatan proyek
terdiri dari penyewaan, pembelian dan masalah perawatan alat. Hal ini untuk
mengefektifkan keberadaan alat dilapangan.
Peraalatan pada proyek The Pakubuwono View Jakarta diantaranya termasuk
kepemilikan oleh kontraktor tersendiri, tapi untuk alat alat berat
kebanyakan dengan sewa karena biaya akan lebih murah. Perelatan pada
peralatan pada proyek akan diuraikan dibawah ini.
1. Alat alat Berat
a. Backhoe
Backhoe merupakan suatu alat yang digunakan untuk pekerjaan
tanah khususnya galian. Backhoe termasuk dalam jenis
kendaraan excavator , karena badannya dapat berputar 360o. Keuntungan
dari penggunaan Backhoe adalah dapat melakukan pekerjaan penggalian
dengan lebih cepat dan lebih efsien. Kinrja Backhoe biasanya di
kombinasikan dengan Dump Truck pada saat galian tanah. Pada proyek ini
digunakan Backhoe dengan tipe Crawel, yang mempunyai tenaga 100 HP
dengan mengguanakan bahan bakar solar.

Gambar 4.1 Backhoe


b. Conrete Pump Truk
Merupakan alat untuk memompa beton ready mix dari mixer truck ke lokasi
pengecoran. Penggunaan concrete pump truck ini untuk meningkatkan
kecepatan dan efsiensi waktu pengecoran. Alat ini digunakan untuk
pengecoran balok dan plat lantai.
Alat ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu alat utama berupa mesin pompa
yang dilengkapi dengan tenaga penggerak berupa mesin diesel, sejumlah
pipa berdiameter 15 cm serta nenerapa alat tambahan berupa klem
penyambung pipa-pipa tersebut. Penggunaan mesin pompa kecil masih
efsien untuk ketinggian 4-5 lantai, selebihnya menggunakan tower crane.
Dan untuk pompa besar dapat menjangkau lebih dari itu, dan biasa
digunakan di lantai 15 ke atas agar efsiensi biaya berkaitan dengan harga
borongan sewanya.

Gambar 4.2

Concrete Pump Truck

c. Tower Crane
Tower rane diperlukan terutama sebagai pengangkut vetikal bahan-bahan
untuk pekerjaan struktur, seperti besi beton, bekisting, beton cor,
pengangkutan material/bekas, dan material lainnya. Penempatan tower
crane harus direncanakan bisa menjangkau seluruh areal proyek konstruksi
bangunan yang akan dikerjakan dengan manuver yang aman tanpa
terhalang. Penggunaan tower crane tersebut juga harus memperhitungkan
beban maksimal yang mampu diangkatnya. Dalam proyek ini digunakan 3 TC
dengan beban maksimal yang dapat diangkut 2 ton. Operator TC harus siap
untuk mengakomodasi perintah pengangkutan dari mandor atau pengawas
di daerah jangkauannya.

Gambar 4.3.Tower Crane


d. Concrete Mixer Truck
Merupakan alat untuk memompa beton ready mix dari mixer truck ke lokasi
pengecoran. Penggunaan concrete pump truck ini untuk meningkatkan
kecepatan dan efsiensi waktu pengecoran. Alat ini digunakan untuk
pengecoran balok dan plat lantai.
Alat ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu alat utama berupa mesin pompa
yang dilengkapi dengan tenaga penggerak berupa mesin diesel, sejumlah
pipa berdiameter 15 cm serta nenerapa alat tambahan berupa klem
penyambung pipa-pipa tersebut. Penggunaan mesin pompa kecil masih
efsien untuk ketinggian 4-5 lantai, selebihnya menggunakan tower crane.
Dan untuk pompa besar dapat menjangkau lebih dari itu, dan biasa
digunakan di lantai 15 ke atas agar efsiensi biaya berkaitan dengan harga
borongan sewanya.

Gambar 4.4. Concrete Mixer Truck


e. Dum Truck
Dum Truck merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk memindahkan
atau membuang suatu material hasil galian dari lokasi proyek ke lokasi
proyek yang telah ditetapkan kemana material tersebut itu dibuang / dijual.
Pada saat membawa material hasil galian, bagian belakang dum
truck ditutup dengan terpal dengan tujuan agar material tidak terjatuh
dijalan raya dan debunya tidak menggangu pengguna jalan lain.

Gambar 4.5. Dum Truck


Dalam proyek ini kurang lebih dari 20 dum truck yang digunakan pada saat
pekerjaan galian dan mobilisasinya pada saat malam hari dengan tujuan
agar proses pemindahan / pengiriman material dapat lebih cepat dan lancar.
2. Alat alat Survey
a. Theodolith
Theodolith merupakan alat bantu dalam proyek untuk menentukan as
bangunan dan titik-titik as kolom pada tiap-tiap lantai agar bangunan yang
dibuat tidak miring. Alat ini dipergunakan juga untuk menentukan elevasi
tanah dan elevasi tanah galian timbunan. Cara operasionalnya adalah
dengan mengatur nuvo dan unting-unting di bawah theodolith. Kemudian
menetapkan salah satu titik sebagai acuan. Setelah itu, menembak titik-titik
yang lain dengan patokan titik awal yang ditetapkan tadi.

Gambar 4.6 Theodolith


b. Waterpass
Waterpass adalah alat yang digunakan untuk menetukan elevasi /
peil lantai, balok, lain lain yang membutuhkan elvasi. Alat ini sanagt
berguna untuk mengecek ketebalan lantai saat pengecoran, sehingga lantai
yang dihasilkan dapat datar. Selain itu, waterpass juga dapat digunakan
untuk pengecekan bekisting pada kolom.

Gambar 4.7 waterpass


c. Sipatan ( Marker )
Sipatan merupakan alat yang digunakan untuk memberi tanda setelah
pengukuran untuk marking setelah dilakukan. Bahan untuk sipatan ini adalah
tinta yang seing disebut tinta Cina. Tinta ini dapat bertahan dalam waktu
yang lamadan tidak mudah hilang atau luntur.

Gambar 4.8 Hasil Sipatan


3. Alat alat fabrikasi
a. Bar Bender
Bar bender Merupakan alat yang digunakan untuk membengkokkan tulangan
berdiameter besar, seperti pada pembengkokan tulangan sengkang,
pembengkokan pada sambungan/overlap tulangan kolom, juga pada
tulangan balok, plat, dan dinding geser. Bar bender dab bar cutter haruslah
ada dalam suatu proyek besar karena untuk memenuhi kebutuhan
pembesian baik itu precast atau pasang di tempat.

Gambar 4.9. Bar Bander


b.

Bar Cutter
Baja tulangan dipesan dengan ukuran-ukuran panjang standart.
Untuk keperluan tulangan yang pendek, maka perlu dilakukan pemotongan
terhadap tulangan yang ada. Untuk itu diperlukan suatu alat pemotong
tulangan, yaitu gunting tulangan yang dioperasikan secara manual dengan
menggunakan tenaga manusia.

Gambar 4.10. Bar Cutter

Bar cutter merupakan alat pemotong besi tulangan sesuai ukuran


yangdiinginkan. Menurut tenaga penggeraknya, bar cutter ada 2 jenis :
1) Bar Cutter manual
Bar Cutter manual adalah alat pemotong baja beton menggunakan
penggerak tenaga manusia dengan kapasitas maksimum diameter 16 mm.
2) Bar Cutter listrik
Keuntungan dari Bar Cutter listrik dibandingkan Bar Cutter manual
adalah Bar Cutter listrik dapat memotong besi tulangan dengan diameter
besar dengan mutu baja cukup tinggi disamping dapat mempersingkat
waktu pengerjaan. Kemampuannya memotong dapat dilakukan sekaligus
seperti tulangan diameter 10 mm dapat dilakukan pemotongan 6 buah
sekaligus, 4 buah tulangan diameter 16 mm, 2 buah tulangan diameter 19
mm, 1 buah tulangan diameter 25 mm
4. Alat alat Pelaksanaan Pengecoran
a. Vibrator
Pada pengecoran beton dibutuhkan kepadatan yang utuh sehingga tidak
terdapat rongga dalam adukan beton, karena rongga tersebut dapat
mengurangi mutu dan kekuatan beton. Dalam pelaksanaan pengecoran
dibutuhkan vibrator yang fungsinya untuk memadatkan adukan beton pada
saat setelah pengecoran.
Vibrator merupakan alat penggetar mekanik yang digunakan untuk
menggetarkan adukan beton yang belum mengeras agar menghilangkan
rongga-rongga udara, sehingga beton menjadi lebih padat. Cara
operasionalnya dengan cara memasukkan selang penggetar ke dalam
adukan beton yang telah dituang ke dalam bekisting.

Gambar 4.11.Vibrator
Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat ini adalah :

Ujung belalai vibrator dimasukkan dalam adukan beton dengna posisi

vertikal
Ujung vibrator diusahakan untuk tidak mengenai tulangan baja.
Penggetaran dilakukan sekitas 10-15 detik untuk datu posisi titik.
Penggetaran dilakukan selapis demi selapis untuk mendapatkan

pemadatan yang diinginkan.


Ujung vibrator dicabut perlahan-lahan secara perlahan-lahan dari
adukan sehingga bekasnya dapat meutup kembali.
b. Concrete Mixer
Concrete Mixer atau yang sering disebut molen berguna untuk mencampur
dan mengaduk material beton agar lebih homogen. Adanya sirip sirip pada
bagian dalam drum, memungkinkan teraduknya material dari adukan beton
secara merata pada waktu berputar. Alat ini digunakan khusus untuk volume
pekerjaan yang relatif kecil dan non struktural seperti pembuatan lantai
kerja, pmasangan batako, plesteran dan lain lain. Drum pengaduk
mempunyai dua macam kecepatan gerak, yaiti gerak untuk mengatur posisi
drum dan gerak untuk mencampur adukan.

Gambar.4.12. Concrete Mixer


c. Trowel
Trowel adalah alat yang digunakan untuk menghaluskan permukaa beton
pada plat lantai yang menggunakan floor hardener pada lapisan
permukaannya. Permukaan beton yang telah ditaburi flour
hardener diratakan dengan ruskam, kemudian trowel digunakan untuk
menghaluskan permukaan tersebut.

Gambar 4.13. Trowel.


C. Material
Didalam pelaksanaan suatu proyek, diperlukan adanya pengelolaan bahan
dan peralatan yang baik untuk menunjang kelancaran pekerjaan.
Penyimpangan terhadap bahan-bahan bangunan perlu mendapat perhatian
khusus mengingat adanya bahan-bahan bangunan yang sangat peka
terhadap kondisi lingkungan, seperti semen dan juga baja tulangan yang
peka terhadap pengaruh air dan udara sekitar. Pengaturan dan
penyimpangan bahan-bahan dan peralatan dalam proyek menjadi tanggung
jawab bagian logistik dan gudang.
Mengingat rencana pekerjaan Proyek Pembangunan yang dibatasi oleh
waktu, diusahakan penempatan material yang tepat dan seefsien mungkin
sehingga dapat mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Di samping itu,
penempatan material yang baik dan tertata rapi akan mendukung efektiftas
kerja dan keselamatan kerja.
1. Pasir (Agregat Halus)
Pasir digunakan untuk pekerjaan non struktural seperti pekerjaan pembuatan
lantai kerja, plesteran, dan digunakan untuk campuran adukan beton yang

dikerjakan di lapangan. Agregat halus yang digunakan sebagai bahan pengisi


pada proyek ini harus memenuhi beberapa syarat berikut :
1.

Butiran butiran pasir kasar, tajam dan keras, harus bersifat kekal
( tidak hancur karena pengaruh cuaca ).
1.
Pasir terdiri dari butir butir yang beraneka ragam.
2.
Pasir tidak boleh mengandung zat organik terlalu banyak.
3.
Pasir laut tidak boleh digunakan di dalam semua mutu beton,
kecuali dengan menggunakan petunjuk petunjuk dari lembaga
pemeriksaan bahan bahan yang diakui.
2.
Mendapat persetujuan dari pengawas lapangan.

Gambar.4.14. Pasir
(Agregat halus)
2. Agregat Kasar
Agregat kasar berupa butir butir yang beraneka ragam besarnya dan
apabila diayak harus memenuhi kriteria sisa di atas ayakan 31,5 mm harus 0
% berat, sisa di atas ayakan 4 mm harus berkisar antara 90 % sampai 98 %
berat dan selisih antara sisa sisa kumulatif di atas dua ayakan yang
berurutan adalah maksimum 60 % dan minimum 10 % berat.
Adapun syarat syarat dari agregat kasar adalah sebagai berikut :

Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil


desintegrasi alami dari batuan batuan atau berupa batu pecah yang
diperoleh dari pemecahan batu.

Agregat kasar harus terdiri dari butir butir yang keras dan tidak
berpori.

Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 %.


Agregat kasar tidak boleh mengandung mengandung zat zat

yang dapat merusak beton.


3. Semen
Semen digunakan sebagai bahan pengikat dalam pekerjaan konstruksi,
antara lain digunakan untuk pasangan batu bata dan plesteran. Dalam
proyek ini digunakan Semen Gresik yang telah disetujui oleh pengawas. Hal
hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan persediaan semen :
1.

Sebelum diangkut ke lapangan untuk digunakan, semen harus dijaga


agar tidak lembab.
2.
Dalam pengangkutan semen harus terlindung dari hujan dan zak
(kantong) asli dari pabriknya dalam keadaan tertutup rapat.
3.
Tinggi tumpukan maksimum tidak lebih dari 2 m atau maksimal 10
zak. Hal ini untuk menghindari rusaknya semen yang berada pada tumpukan
yang paling bawah akibat beban yang berat dalam waktu yang cukup lama
sebelum digunakan sebagai bahan bangunan.
4.
Karena penimbunan semen dalam waktu yang lama juga akan
mempengaruhi mutu semen, maka diperlukan adanya pengaturan
penggunaan semen secara teliti. Sehingga dalam hal ini semen lama harus
dipergunakan terlebih dahulu.
4. Air
Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak,
asam, alkali, garam garam, bahan bahan organis atau bahan bahan lain
yang merusak beton dan baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air
bersih yang dapat diminum. Bilamana mungkin menggunakan air PDAM.

Gambar.4.15. bahan campuran beton


D.
Kendali mutu
Pengendalian mutu dalam suatu proyek merupakan hal yang penting, sebab
akan menentukan kualitas dari hasil pelaksanaan apakah telah sesuai
dengan spesifkasi yang telah ditentukan. Tinjauan pengendalian dalam
proyek yang harus diperhatikan adalah: pengendalian mutu bahan dan
peralatan, pengendalian tenaga kerja, pengendalian waktu, teknis, biaya
serta pengendalian kesehatan keselamatan kerja (K3).
1.

1.
Pengendalian Mutu Bahan
Kualitas bahan dalam pekerjaan sangat menentukan untuk bisa mencapai
ketentuan dalam spesifkasi yang telah direncanakan, sehingga
pengendalian mutu bahan sangatlah penting akan keberhasilan
pembangunan dalam suatu proyek.
Standard yang ditetapkan oleh PT Davy Sukamta selaku konsultan perencana
untuk standard mutu bahan dalam pembangunan Apartemen Pakubuwono
View, menggunakan dari American Concrete Institute (ACI), American
Standard for Testing and Material (ASTM), Standard Nasional Indonesia (SNI).
a. Agregat
Untuk agregat yang akan digunakan untuk bahan beton dari
pihak plant akan dilakukan uji lab apakah memenuhi syarat atau tidak dan
dari pihak pelaksana akan meminta hasil tes tersebut. Jika dilakukan secara
kasat mata, untuk mengetahui pasir tersebut bagus dengan cara
menggenggam jika menggumpal berarti pasir tersebut tidak bagus.
2. Semen Portland

Pada semen porland butiran-butiran tidak boleh mengumpal keras, untuk


penyimpanannya tidak boleh dalam keadaan lembab untuk lebih menjaga
semen tetap baik maka diberi bantalan kayu sebagai tempat dibawahnya.
3. Besi
Merupakan material yang sangat penting dalam beton bertulang, sehingga
perlu dijaga mutu dan kualitasnya. Dalam hal ini PT Bona Widjaja Gemilang
bekerja sama dengan PT Master Steel selaku subkont besi tulangan. Untuk
mengetahui mutu besi baik maka harus memenuhi syarat-syarat sebagi
berikut :
1.

Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan minyak, karat, dan tidak retak atau
mengelupas.
2.
Mempunyai penampang yang sama rata.
3.
Ukuran disesuaikan dengan shop drawing.
Untuk tempat penyimpan sebaiknya diberi bantalan kayu dan tempat yang
kering unruk menghindari karat.

Gambar.4.16. Besi tulangan


4. Beton
Untuk pengujian mutu beton dilakukan dengan cara slump tes untuk
pengujian dilapangan dan uji kuat tekan jika hasil slump sesuai spesifkasi.
Untuk pengujian Crushing Test dilakukan oleh PT. PionirBeton Industri selaku
subkont untuk beton readymix sedangkan untuk pengujiannya sendiri
dilakukan di Concrete Laboratory-Pulo Gadung Plant.
a. Uji Slump

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air beton yang berhubungan
dengan mutu beton. Dalam proyek pembangunan Apartemen Pakubuwono
View untuk pondasi. Pengujian dengan menggunakan kerucut Abrams,
sebagai berikut :
1) Menyiapkan kerucut abrans dengan diameter atas 10 cm, bawah 20 cm
dan tinggi 30 cm yang diletakkan pada bidang datar namun tidak menyerap
air.
2) Adukan beton yang akan diuji dimasukkan dalam tiga lapis sambil ditusuk
25 kali dengan tongkat baja agar adukan menjadi padat.
3) Setelah kerucut dibuka, kemudian diukur pada 3 tempat kemudian diambil
rata-rata
4) Setelah kerucut dibuka, kemudian diukur pada 3 tempat kemudian diambil
rata-rata
5) Adukan beton yang tidak sesuai dengan nilai slump rencana akan
direject.
b. Uji Kuat Tekan (Crushing Test)
Tes uji kuat tekan ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton
karakteristik (kuat tekan maksimum yang dapat diterima oleh beton sampai
beton mengalami kehancuran). Cara pengujiannya :
1) Menyiapkan silinder berdiameter 15cm dengan tinggi 30 cm, yang telah
diolesi pelumas pada bagian dalam.
2) Kemudian adukan beton dimasukkan ke silinder dalam tiga lapis sambil
ditusuk-tusuk hingga 30 kali.

3) Cetakan yang telah diberi kode itu kemudian didiamkan 24 jam dan
direndam dalam air (curing) selama 7 hari. Setelah itu barulah diuji

dengancrushing test.
Gambar 4.17. Sampel Siap Uji

2.

Pengendalian Mutu Peralatan

Perawatan akan peralatan merupakan hal yang penting untuk kelancaran


pelaksanaan pekerjaan. Peran mekanik akan sangat berguna untuk
mencegah tertundanya pekerjaan akibat dari kerusakan peralatan. Akan
tetapi jika kerusakan sudah tidak dapat ditangani oleh para mekanik, maka
peralatan tersebut akan dikirim ke bengkel pusat.
Untuk menghindari penundaan waktu maka pelaksana harus mempunyai
cadangan yang dapat digunakan secara cepat seperti ketika pengecoran
dilaksanakan, concrete pump yang digunakan sebanyak 4 buah dengan
ditambah 1 buah concrete pump dalam keadaan stanby.

3.

PengendaliaN TENAGA KERJA

Tenaga kerja dalam suatu proyek merupakan hal yang mutlak. Penempatan
tenaga kerja yang sesuai dengan jumlah dan kemampuannya dapat
menunjang tercapainya efsiensi dalam suatu pekerjaan proyek, oleh karena
itu diperlukan suatu pengendalian mutu tenaga kerja. Pemilihan mandor
untuk melaksanakan pekerjaan secara borongan haruslah tepat. Maka tim

pelaksana harus hati-hati dalam pemilihan mandor, sebab akan menentukan


mutu sekaligus ketepatan waktu selesai proyek.
Setiap tenaga kerja yang dibawa oleh para mandor haruslah sudah
mempunyai pengalaman yang sesuai dengan keahliannya, seperti
pembesian, pembobokan, bekisting hingga pengecoran.

4.

Pengendalian WAKTU

Untuk menghindari adanya keterlambatan pelaksanaan maka perlunya


pengendalian waktu yang berdasarkan pada time schedule pekerjaan.
Keterlambatan pekerjaan pada suatu proyek akan berpengaruh pada cost.
Maka untuk mempermudah pelaksaan dilapangan, manager sebaiknya
membuat schedule yang lebih sederhana akan tetapi tetap mengacu
pada time schedule yang dikeluarkan oleh engineering sebab tidak semua
paham akan pembacaan master schedule. Agar dapat berlangsung tepat
waktu, maka time schedule digunakan sebagai kontrol untuk mengatur
tingkat prestasi pekerjaan dengan lamanya pelaksanaannya. Sehingga
pekerjaan apa yang harus dikerjakan lebih dahulu dan kapan harus dimulai
dapat terjadwal dengan baik, sehingga kemungkinan keterlambatan dapat
diperkecil.
Manfaat dari time schedule antara lain :
Sebagai pedoman kerja bagi pelaksana terutama menyangkut batasan

waktu dan pelaksanaan tiap pekerjaan yang dilaksanakan.


Sebagai koordinasi bagi pimpinan proyek terhadap semua pelaksanaan

pekerjaan.
Sebagai tolak ukur kemajuan pekerjaan di setiap harinya,

sehingga progress report setiap waktu dapat dilihat.


Sebagai evaluasi tahap akhir dari setiap pelaksanaan pekerjaan.

Setiap item pekerjaan pada time schedule mempunyai prosentase bobot


sendiri-sendiri sedangkan Time schedule menyatakan pembagian waktu
terperinci untuk setiap jenis pekerjaan, mulai dari permulaan sampai akhir
pekerjaan sehingga kumulatif prosentase bobot pekerjaan ini akan
membentuk kurve S. Untuk kurva S terdiri dari kurva S rencana dan kurva S
realisasi. Fungsi kurva S adalah :
Menentukan waktu penyelesaian tiap bagian pekerjaan proyek.

Menentukan besarnya biaya pelaksanaan proyek.


Mengetahui progress pekerjaan yang dihasilkan dilapangan dengan
perencanaan, sehingga dapat menjadi bahan evaluasi.

5.

Pengendalian TEKNIS PEKERJAAN

Pada pelaksanaana dilapangan biasanya akan mengalami problem pada item


pekerjaaan tertentu. Pengendalian Teknis Pekerjaan menunjukkan tahap
untuk pengawasan dan kontrol terhadap kualitas pekerjaan. Hal ini
memerlukan suatu menajemen kualitas agar hasil pekerjaan dapat tercapai
mutu sesuai rencana proyek. Jika permasalahan yang dihadapi memerlukan
perhitungan teknis maka pihak engineering akan membuat
metode repair yang kemudian akan diajukan terlebih dahulu kepada
konsultan perencana . Namun apabilaproblem yang dihadapi tidak
memerlukan perhitungan teknis seperti melendutnya bekisting, biasanya
dari pihak pelaksana dan dibantu oleh konsultan pengawas akan segera
mencari pemecahannya.Dalam pengendalian mutu ini peran QC (Quality
Control) akan sangat berperan, QC akan mendampingi supervisor dalam
pelaksanaan dilapangan.
Untuk pengendalian teknis memerlukan analisis permasalahan yang timbul
dilapangan sesuai yang diamati, begitu juga langkah yang akan diambil
sebagai penyelesaian dari problem yang ada. Adapaun beberapa problem
yang terjadi dapat dijelaskan berikut ini.

Permasalaha
n

Bekisting mat foundation melendut ke


dalam

Penyebab

Adanya tekanan ke dalam dari tanah


urug

Pemecahan

-Urugan diurug kembali


-Bekisting didorong dari dalam
kemudian
ditahan, jika perlu
bekisting dibongkar kembali
-Untuk tulangannya ditarik
menggunakanchain block.

Gambar 4.18. Penggunaan Chain Block


b

Permasalaha
n

Tulangan Pancang < 1 m

Penyebab

Pengangkatan bobok pancang yang


salah

Penambahan tulangan dengan metode


Chemset

Pemecahan

Gambar 4.19.Pengeboran

Gambar 4.20. Pembersihan lubang

Gambar 4.21 Pemberian chemical

Gambar 4.22.Pemberian Tulangan


c

Permasalaha
n

Layer atas pembesian turun

Penyebab

Kurang tingginya tulangan cakar ayam

Pemecahan

Tulangan mat foundation layer atas


ditarik dengan bantuan Tower Crane

Gambar 4.23. Pengangkatan Pembesian dengan TC


d

Permasalaha
n

Tulangan kolom bergeser

Penyebab

Tekanan dari beton saat pengecoran

Pemecahan

Perhitungan dilakukan oleh


pihak engineering(Lihat Lampiran)
1. Dengan penambahan dimensi kolom
2.Tulangan di bagian tertentu di
bending.

6.

PROGRESS REPORT

Pengendalian hasil pekerjaan di lapangan dimaksudkan untuk mengetahui


perkembangan dan permasalahan di proyek melalui laporan kemajuan dan
koordinasi proyek. Laporan kemajuan proyek dikerjakan secara berkala untuk
mengetahui sejauh mana kemajuan dari proyek itu.
a. Laporan Harian

Laporan harian dibuat setiap hari secara tertulis oleh pihak pelaksana proyek
dalam melakukan tugasnya dan dalam mempertanggungjawabkan terhadap
apa yang telah dilaksanakan serta untuk mengetahui hasil kemajuan
pekerjaannya apakah sesuai dengan rencana atau tidak. Laporan ini dibuat
untuk memberikan informasi bagi pengendali proyek dan pemberi tugas
melalui direksi tentang perkembangan proyek. Dengan adanya laporan
harian ini, maka segala kegiatan proyek yang dilakukan tiap hari dapat
dipantau.
Laporan harian berisikan data data antara lain :
1) Waktu dan jam kerja
2) Pekerjaan yang telah dilaksanakan maupun yang belum
3) Keadaan cuaca
4) Bahan bahan yang masuk ke lapangan
5) Peralatan yang tersedia di lapangan
6) Jumlah tenaga kerja di lapangan
7) Hal hal yang terjadi di lapangan
b. Laporan Mingguan
Laporan mingguan bertujuan untuk memperolah gambaran kemajuan
pekerjaan yang telah dicapai dalam satu minggu yang bersangkutan,
disusun berdasarkan laporan harian selama satu minggu tersebut. Laporan
mingguan berisikan antara lain :
1) Jenis pekerjaan yang telah diselesaikan.
2) Volume dan prosentase pekerjaan dalam satu minggu itu.
3) Catatan catatan lain yang diperlukan.

Prosentase pekerjaan yang telah dicapai sampai dengan minggu tersebut


dapat diketahui dengan memperhitungkan semua laporan mingguan yang
telah dibuat, ditambah dengan bobot prestasi pekerjaan yang telah
diselesaikan pada minggu itu. Dari prosentase pekerjaan yang telah dicapai
pada minggu ini kemudian dibandingkan dengan prosentase pekerjaan yang
telah dicapai pada minggu yang bersangkutan, maka akan diketahui
prosentase keterlambatan atau kemajuan yang telah diperoleh. Laporan
mingguan tidak dapat dipisahkan dengan time schedule pelaksanaan
pekerjaan yang telah disusun oleh pihak Kontraktor Utama dengan
persetujuan Project Manager.
c. Laporan Bulanan
Laporan bulanan pada prinsipnya sama dengan laporan mingguan, yaitu
untuk memberikan gambaran tentang kemajuan proyek. Untuk tujuan itu
dibuatlah rekapitulasi laporan mingguan maupun laporan harian dengan
dilengkapi foto foto pelaksanaan pekerjaan selama bulan yang
bersangkutan. Laporan bulanan dilaporkan kepada Pemilik Proyek (Owner).
d. Rapat Koordinasi Bulanan
Rapat koordinasi bulanan diadakan dengan dihadiri oleh panitia
pembangunan, Owner, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan
Kontraktor Utama. Dalam rapat ini dibahas hal hal yang berhubungan
dengan pelaksanaan serta masalah masalah teknis yang timbul di lokasi
proyek dan perkembangan proyek yang sedang berjalan serta koordinasi
masing masing unsur proyek yang terlibat langsung.

7.

Pengendalian BIAYA

Perlunya pengendalian biaya adalah untuk dapat mengetahui jumlah biaya


dengan realisasi pekerjaan. Fungsi dari pengendalian biaya agar dari
Rencana Anggaran Biaya (RAB) tidak membengkak dalam pelaksanaannya.
Jikapun adanya pembengkakan maka perlunya evaluasi biaya.
Salah satu penyebab terjadinya pembengkakan biaya adalah adanya
kesalahan dalam pelaksanaan dilapangan sehingga membutuhkan
perbaikan yang tentu saja menambah biaya dari segi biaya material maupun
tenaga kerja, maka untuk menghindari adanya pembengkakan biaya yaitu
dengan cara melakukan pelaksanaan dilapangan dengan baik dan hati-hati.

Pengendalian biaya ini biasanya dilakukan dengan membuat rekapitulasi


biaya yang telah dikeluarkan. Setiap dilakukan pembelian material, bagian
logistic mencatat jumlah material yang dibeli dan besarnya biaya yang
dikeluarkan. Sedangkan pengendalian biaya tenaga kerja dilakukan dengan
memeriksa daftar presensi pekerja selam satu minggu dan besarnya biaya
yang dikeluarkan untuk membayar gaji pekerja. Besar total biaya ini yang
akan selalu dikontrol dan dievaluasi sebagai pengendalian biaya. Selain itu,
total biaya yang telah dikeluarkan ini juga dapat digunakan untuk menyusun
kurva-S realisasi dan untuk mengestimasi prosentase pekerjaan proyek yang
telah dicapai.

8.

Pengendalian K3

Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja sangat diperlukan untuk


melindungi para pekerja dari segala kemungkinan terjadinya kecelakaan
kerja. Perlindungan tenaga kerja dalam suatu proyek dimaksudkan agar
tenaga kerja dapat bekerja dengan aman dalam melakukan pekerjaannya.
Target K3 sendiri adalah zero accident selama pelakasanaan di lapangan
sehingga perlunya penyusunan:
a. Safety Plan
Identifkasi bahaya kerja, dan penanggulangannya, rencana penempatan
alat-alat pengamanan seperti pagar pengaman, jarring pada tangga dan tepi
bangunan, railing serta rambu-rambu K3 serta rencana penempatan alat-alat
kebakaran (tabung pemadam api), dan lain-lain.
b. Security Plan
Prosedur keluar masuk bahan proyek, prosedur penerimaan tamu,
identifkasi daerah rawan di wilayah sekitar proyek, dan prosedur komunikasi
di proyek.
c. House Keeping
lokasi penempatan dan jumlah toilet pekerja, tempat sementara penimbunan
material bekas, pengaturan kantor, jalan sementara, gudang, barak pekerja
dan lain-lain.
Pada proyek pembangunan Apartemen The Pakubuwono View ini, hal hal
tentang kesejahteraan dan keselamatan kerja sudah diperhatikan, yaitu
dengan adanya alat alat, perlengkapan, dan fasilitas yang berhubungan

dengan masalah kesejahteraan dan keselamatan kerja. Meskipun masih


terjadi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukun oleh pekerja meski telah
diberi rambu peringatan.
E. Pembahasan Pelaksanaan
1. DEWATERING
a. Pendahuluan
Pada pembangunan gedung bertingkat yang tingginya lebih dari lima lantai
biasanya sering dibuat basement dengan alasan untuk menambah ruangan
atau sering juga digunakan sebagai lahan parkir. Untuk
melaksanakanbasement, maka penggalian tidak dapat dihindarkan dan
bilamana permukaan air tanah lebih tinggi dari rencana lantai basement,
maka pemompaan harus dilakukan sebagai upaya untuk pengeringan lahan
agar memungkinkan pelaksanaan konstruksi. Salah satu metode yang dapat
digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan
metode pengatusan dengan pemompaan, di mana sistem pemompaan
tersebut dilakukan dengandewatering sistem sumur titik ( well point
system ).
Dewatering merupakan suatu pekerjaan yang diperlukan untuk
mengeringkan lahan galian di bawah muka air tanah dan untuk mengatasi
gaya uplift selama masa konstruksi basement. Pekerjaan dewatering mutlak
diperlukan sampai bangunan selesai atau berat konstruksi bangunan dapat
mengimbangi gayauplift. Selain itu, dewatering juga diperlukan untuk
menanggulangi bila terjadi genangan pada konstruksi basement atau
pondasi, baik akibat air hujan ataupun rembesan air
tanah. Dewatering dioperasikan selama 24 jam selama pekerjaan basement.
Pada proyek Apartemen The Pakubuwono View Tower B & C ini digunakan
enam sumur dewatering, dua sumur piezometer, dan empat
sumur recharging. Masing masing sumur tersebut dibor sampai pada
kedalaman minus 20 meter dengan diameter sumur 8 dan
diameter casing PVC 6 untuk sumurdewatering; diameter sumur 4 dan
diameter casing 2,5 untuk sumur piezometer; dan diameter sumur 8 dan
diameter casing 6 untuk sumurrecharging. Penentuan banyaknya jumlah
sumur yang digunakan mengacu dari :
Data spesifkasi teknis rencana bangunan, luas galian, dan kedalaman

galian
Data penelitian tanah dan pumpimg test

Pertimbangan kondisi lahan di sekitar proyek


Pengalaman sejenis yang telah dilakukan

Gambar 4.24. Sumur Dewatering

Gambar 4.25. Sumur Piezometer

Gambar 4.26. Sumur Recharging

b. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan dan pekerjaan persiapan dewatering system well
pointdapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Penentuan Titik Dewatering
Semua titik dewatering dibuat berada di dalam area galian, di mana titik
titik tersebut ditentukan oleh pemberi tugas dengan dibantu team
surveyor agar letak sumur dewatering tidak berada pada posisi pondasi
atau pile cap.
2) Penentuan Titik Piezometer
Titik piezometer dipasang pada sisi rencana bangunan proyek.

Gambar 4.27. Lokasi Sumur Dewatering dan Piezometer


3) Pembuatan Pit dan Saluran
Pembuatan pit dan saluran dilakukan di dalam pelaksanaan galian. Dalam
hal ini, melihat kondisi lapangan pada prinsipnya saluran dan pit berguna
untuk melokalisir air agar tidak menggenang sehingga tidak mengganggu
kontraktor galian dalam bekerja atau pekerjaan lantai kerja. Saluran dibuat
disepanjang tepi galian di dalam area galian oleh kontraktor galian.

Kemudian setiap jarak 40 meter dibuatkan pit dan standby pompa


permukaan.
4) Sistem Saluran Pembuangan
Sistem saluran pembuangan dibuang sebagian ke sumur recharging dan air
pemompaan piezometer akan diendapkan di bak penampungan air.
5) Monitoring
Monitoring dilakukan selama 24 jam setiap pagi dan sore, dan dicatat
ketinggian air tanahnya. Monitoring dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui ketinggian air tanah, sehingga dapat diketahui apakah terjadi
penurunan tanah atau tidak. Selain itu, staf dewatering juga mengikuti
aktiftas pekerjaan galian untuk memindahkan jalur listrik dan jalur pemipaan
/ selang yang dapat rusak atau mengganggu kegiatan operasional galian,
dan membantu sepenuhnya pekerjaan galian agar tidak terhenti oleh
gangguan air tanah.

Gambar 4.28. Form Monitoring


c. Metode Teknis
1) Data Teknis

Data data teknis pekerjaan dewatering proyek Apartemen The Pakubuwuno


View Tower B & C adalah sebagai berikut:
Jumlah sumur dewatering
: 6 titik
Kedalaman
: minus 20 meter
Elevasi Screen
: 12 meter s.d. 18 meter
Diameter sumur dewatering
: 8 inchi
Diameter casing PVC
: 6 inchi
Filter / saringan
: G level
Kapasitas pompa
: 300 liter / menit
Jarak antara sumur dewatering : 40 meter
Dengan menurunkan permukaan air di dalam sumur sampai kedalaman
minus 14 meter dengan sistem pemompaan tersebut di atas akan dapat
mengeringkan lahan galian. Apabila di dalam pelaksanaan masih ada
genangan air tanah, maka digunakan sistem dewatering dengan pit pada
beberapa lokasi dengan dibuatkan parit parit yang berfungsi
sebagaisubdrain yang mengalirkan air ke parit parit tertentu. Parit parit
ini diisi dengan batu kerikil dan pada saat pengecoran ditutup dengan plastic
agar dapat dibuatkan lantai kerja.
2).
Konstruksi Sumur Dewatering
Pekerjaan ini dilakukan dengan tahap tahap sebagai berikut :
a) Penentuan titik dewatering dan elevasi oleh tim surveyor

b)
Pengeboran dengan alat mesin bor dengan sistem wash
boringsampai pada kedalaman minus 20 meter dengan diameter 8 inchi
c) Pemasangan casing PVC dengan diameter 6 inchi
d) Pengisian grevell antara casing dengan dinding bor yang berfungsi
sebagaifilter
e) Instalasi pompa submersible beserta perlengkapan elektroda pipa
galvanis dan kabel listrik
f) Instalasi listrik dari PLN ke panel induk dan panel otomatis pompa
g) Instalasi plumbing ( selang dan pemipaan ) dan
pemompaan dewatering siap difungsikan

Gambar 4.29. Konstruksi Sumur


Dewatering
3) Konstruksi Sumur Piezometer
Tahapan pekerjaan pembuatan sumur piezometer atau sumur pengamatan
sama halnya dengan sumur dewatering, hanya perbedaannya pada
diameterboring dan casing. Sumur piezometer ini memiliki

diameter boring 4 inchidengan diameter casing 2,5 inchi. Adapun fungsi


sumur piezometer ini untuk memantau penurunan permukaan air tanah
akibat pemompaan dewatering.

Gambar 4.30. Konstruksi Sumur Piezometer


4) Penutupan Sumur Dewatering
Penghentian sumur dewatering dilaksanakan setelah beban uplift akibat air
tanah telah seimbang dengan berat konstruksi. Oleh karena itu, penggunaan
sumur dewatering tidak digunakan kembali. Pada saat
sumur dewatering tidak digunakan kembali, maka lubang sumur tersebut
harus segera ditutup. Adapun konstruksi penutupan sumur sebagai berikut :
Gambar 4.31. Konstruksi Penutupan Sumur

2. PEKERJAAN GROUND ANCHOR


a. Pendahuluan
Ground Anchor adalah bangunan yang berfungsi sebagai penahan tanah
agar tidak mengalami longsor atau sliding akibat adanya beban yang bekerja

di sekitar tanah tersebut. Pada proyek Apartemen The Pakubuwono


View Tower B & C ini diperlukan ground anchor dan dipasang pada sisi sisi
galian karena letaknya berbatasan langsung dengan gedung gedung yang
telah ada sebelumnya ( Gedung Simprug Mobil Showroom pada sisi utara
dan SMA 29 Jakarta pada sisi selatan ). Dengan adanya ground Anchor
tersebut diharapkan tanah tidak mengalami longsor akibat beban yang
berasal dari gedung gedung sekitar dan tidak terjadi penurunan tanah
pada gedung gedung di sekitar proyek tersebut. Jumlah ground anchor
pada proyek ini ada 41 titik dan terbagi menjadi 2, yaitu 24 titk di sisi Utara
Tower C ( Simprug Mobil Showroom ) dan 17 titik di sisi Selatan Tower B
( SMA 29 Jakarta ). Pekerjaan ground anchor ini memakan waktu selama 9
hari mulai tanggal 16 Juli 2008 sampai dengan tanggal 24 Juli 2004, di mana
setiap harinya rata rata dapat diselesaikan 4 titik / alat.

Gambar 4.32. Ground


Anchor
b. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan ground anchor dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Penentuan Elevasi dan Marking
Proses ini dilakukan untuk menentukan ground anchor dan posisi capping
beam pada posisi yang sesuai dengan gambar shop drawing.
2) Pengecoran Capping Beam

Pengecoran capping beam dilakukan setelah didapat elevasi, marking, dan


pemasangan bekisting. Capping beam dibuat tiap jarak 4,2 Meter dengan
dimensi 40 x 40 cm. Mutu Beton yang digunakan K 375.
3) Pekerjaan Persiapan
Persiapan yang dilakukan adalah menyediakan alat alat yang digunakan
untuk proses drilling, grouting, maupun stressing.
4) Pekerjaan Drilling Tanah
Jenis pengeboran yang digunakan pada proyek ini adalah rotary drilling, di
mana mesin bor tersebut duduk di atas tanah / platform. Kotoran atau
Lumpur hasil pengeboran dari lubang bor dengan menyemprotkan air ke
dalam lubang bor. Diameter pengeboran 20 cm sampai kedalaman 30 meter
dengan kemiringan sudut 45.
5) Instalasi Tendon Anchor
Strand yang digunakan adalah 7 wire strand berdiameter 12,7 mm.
perakitan tendon dilakukan di proyek. Tendon dimasukkan ke dalam lubang
dengan cara manual. Sebelum instalasi tendon dilakukan, air bertekanan
disemprotkan ke dalam lubang untuk mengeluarkan lumpur sisa
pengeboran.
6) Grouting Tendon Anchor
Pekerjaan grouting dilakukan setelah pengeboran selesai dan dilakukan pada
hari yang sama atau dalam kurun waktu paling lambat satu hari setelah
pengeboran selesai. Komposisi material grouting yang digunakan adalah 1
zakportland cement ( 1 zak = 50 kg ) + 20 liter air + 225 gram grout
additive ( cebex 100 ), dengan water cement ratio 0,45.
7) Stressing Tendon Anchor
Alat yang digunakan untuk penarikan tendon anchor adalah satu
unit hydraulic pump dan satu unit Jack Freyssinet, yang sesuai dengan tipe
tendon anchor dan gaya yang bekerja pada tendon tersebut. Operasional
penarikan tendon anchordi proyek dicatat dalam suatu lampiran stressing
record yang mencatat pressuregaya pada Hydrolick Jack dan panjang
elongasi yang terjadi pada strand. Mutugrouting minimal
saat stressing adalah 30 MPa. Stressing yang dilakukan untuk setiap ground
anchor adalah dua cycle ( 125 % dari gaya yang bekerja ) dan satu lock
of ( 110 % dari gaya yang bekerja ).

Gambar.4.33. Proses
Stresing
c. Pelepasan Kepala Anchor
Setelah semua pekerjaan di atas selesai, maka ground anchor sudah
berfungsi seperti yang direncanakan. Fungsi ground anchor dapat ditiadakan
apabila bangunan sudah berdiri dan diapraghma wall sudah terhubung
dengan struktur. Biasanya head anchor akan dilepas / direalase pada
saat ground anchortidak difungsikan lagi, tapi terkadang owner tidak
menginginkan head anchoruntuk dilepas. Jadi, pekerjaan realease
anchor tergantung pihak owner.
3. MATFOUNDATION TOWER B
a. Pendahuluan
Mat Foundation adalah pondasi dangkal yang memiliki luasan / bentuk
menyerupai maras. Pekerjaan mat foundation tower B ini merupkan
pekerjaanmass concrete karena pondasi akan dicor memiliki volume 2616
m. Mass Concrete adalah pengecoran satu area dengan volume yang sangat
besar dan dilakukan secara terus menerus. Mass Concrete merupakan
salah satu alternatif pengecoran dengan volume yang sangat besar atau
kecil secara terus menerus untuk mengecor sejumlah volume beton yang
dipengaruhi oleh faktor teknik dan ekonomi.
Pertimbangan utama dalam melaksanakan penngecoran secara besar
besaran adalah kontrol terhadap panas yang dihasilkan dari proses hidrasi
akibat Massa beton yang besar yang dapat mengakibat retak dan akibat dari
waktu pengecoran yang lama dapat menimbulkan cold joint. Akibat kenaikan

temperatur dalam beton tersebut dan juga suhu keseluruhan kontruksi ketika
beton menjadi dingin secara berangsur berangsur, dapat menimbulkan
terjadinya retak. Perubahan suhu maksimum ( Thermal shock ) yang dapat
menyebabkan retak ( Thermal Cracking ) adalah 40 C antara temperature
beton dengan lingkungan dan adanya perbedaan temperature beton lebih
dari 20 C.
Sebagai upaya untuk mengantisipasi hal tersebut diatas adalah dengan
menghitung faktor faktor sebagai berikut :

Kemampuan produsen ready mixed menyediakan volume beton dalam

jumlah besar dan dalam waktu yang cepat, dengan memperhitungakan


durasi pelaksanaan dan kesiapan sumberdaya.
Karakter beton yang dipergunakan, dengan memperhitungkan

kandungan semen, jenis agregat dan kemungkinan pemakaian bahan


campuran (admixture ) dan lain lain.
Pengendalian temperatur, dengan melakukan perawatan beton
(Curing) secara efektif disesuaikan dengan keadaan cuaca sekitarnya pada
saat pengecoran, selain itu perlu pengadaan tulangan distribusi yang
memadai untuk mengontol retak awal.
b. Dasar Teori
1) Definisi Mass Concrete
Berdasarkan ACI 207 : Mass Concrete adalah segala volume beton dengan
dimensi yang cukup besar sehingga perlu pengendalian thermal terhadap
panas yang ditimbulkan oleh proses hydrasi semen
2) Retak Thermal
Terjadinya retak thermal karena bagian beton dipermukaan yang mendingin
lebih cepat oleh pelepasan panas di udara mengalami kontraksi dan menjadi
kekangan terhadap pengembangan volume beton bagian dalam yang panas.
Perbedaan suhu beton antara lapisan bawah, tengah dan atas 200 C
Sebagai upaya untuk mengatasi retak thermal tersebut, dalam mass
concrete perlu memperhitungkan faktor-faktor berikut :
a) Kontinyuitas supply yaitu kemampuan produsen readymix menyediakan
beton dalam jumlah yang besar dan dalam waktu yang cepat dengan
memperhiungkan durasi pelaksanaan dan kesiapan sumber daya.
Beberapa hal yang mempengaruhi kontinyuitas pengiriman :

1.

Persiapan alat, personel dan infrastruktur proyek (jalan akses, lahan


parkir dan maneuver truck mixer serta area cuci truck mixer).
2.
Kapasitas batching plan. Kapasitas batching plan harus 1 kapasitas
bongkar proyek.
3.
Cycle time dari batching plan ke lokasi proyek. Cycle time terdiri dari :
Waktu loading beton
1.
2.
3.
4.
5.
6.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Waktu perjalanan berangkat ke lokasi proyek


Waktu parker, manuver dan tunggu di proyek
Waktu bongkar (COR)
Waktu cuci truck mixer di proyek
Waktu perjalanan pulang dari proyek menuju batching plan
Jumlah kebutuhan minimal truck mixer.
a)
Karakter beton yang dipergunakan dengan memperhitungkan,
kandungan semen, kandungan fly ash jenis agregat dan kemungkinan
pemakaian bahan campuran (admixture), dll.
b)
Penggunaan jenis semen tertentu dapat mempengaruhi karakteristik
beton untuk mass concrete, karena itu hanya semen yang cukup sesuai
harus digunakan untuk mendapatkan kekuatan yang dikehendaki. Maka
dalam hal ini diusulkan untuk digunakan semen type I dengan fly ash dengan
prosentase sesuai persyaratan dan kebutuhan. Dalam hal ini penggunaan fly
ash adalah maksimal 25 % dari jumlah material cementitiuos.
c)
Mix Design menggunakan spesifkasi sebagai berikut (sesuai
spesifkasi teknis dan ACI 21.1.1) :

Mutu beton adalah fc. 27,5 Mpa.


Prosentase fly ash 23 %
Suhu on site 300 C.
Water Cement Ratio = 0.45
Slump 14 2 (12 16) cm.
Initial setting time 7 jam.
c. Metode Pelakasanaan
Metode pelaksanaan Mat Foundation tower B dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1.
1.
Galian Tanah Area Mat Foundation

Galian tanah area mat foundation dilaksanakan sesuai shop drawing dengan
kedalaman 250 cm dari elevasi lantai dasar basement 3, akan tetapi pada
dasar mat foundation ditambah 5 cm untuk lantai kerja dan pada galian
samping masing masing diberi penambahan 15 cm yang digunakan untuk
bekisting dari pasangan batako, galian pada area ini dilakukan dengan
bantuan backhoe, sedangkan untuk area yang sulit
dijangkau backhoedilakukan dengan tenaga manusia.

Gambar 4.34. Galian dengan menggunakan backhoe


2. Bobok dan Pemotongan Kepala Bored Pile
Setelah proses pengggalian selesai, maka akan bampak kepala kepala bore
pile yang sudah tertanam sebelumnya ( pekerjaan bored pile dikerjakan oleh
kontraktor lain ). Kemudian kepala pancang yang tampak tersebut akan
dipotong hingga ketinggian besi tulangan minimal satu meter dari dasar.
Sebelum proses pemancangan dilakukan, terlebih dahulu kepala kepala
pancang dilakukan, terlebih dahulu kepala kepala pancang tersebut di
bobok agar besi tulangannya dapat terpisah dari beton. Proses pemotangan
pancang ini dilakukan dengan bantuan tower crane dengan tujuan
mempermudah pengangkatan dari area mat foundation, selain itu juga
mempermudah waktu pelaksanaannya.

(a)

(b)
(b) Pemotongan Pancang dengan TC

Gambar 4.35. (a) Bobok Pancang


3. Penyemprotan Anti Rayap
Penyemprotan anti rayap dilakukan sebelum lantai kerja dibuat. Daerah
daerah yang disemprotkan antara lain seluruh lapisan bawah dan dinding
samping mat foundation. Penyemprotan anti rayap ini dilakukan dengan
tujuan untuk memberikan penghalang kimia atara kontruksi bangunan dan
tanah, sehinga melindungi bangunan dari serangan rayap. Material yang
digunakan adalah STEDFAST 15 EC dengan komposisi satu liter stedfast 15
EC dicampur dengan 50 liter air. Aplikasi untuk 1m memputuhkan lima liter
campuran. Pada waktu penyemprotan anti rayap ini kondisi tanah harus
kering / tidak ada genangan air.

Gambar.4.36 Stedfast penyemprot Anti rayap


4. Pekerjaan Lantai Kerja
Pekerjaan lantai kerja dilaksanakan setelah seluruh lapisan bawah mat
foundation diratakan dan disemprotkan dengan anti rayap. Pekerjaan lantai
kerja dilaksanakan selambat lambatnya satu hari setelah penyemprotan
anti rayap. Pekerjaan lantai kerja dibuat dengan ketebalan 50 mm. material
beton yang digunkan adalah material beton ready mix B-0. Mutu beton B-0
adalah K-125. Penentuan ketebalan lantai kerja diketahui dengan
menggunkan alat elevasi level dengan bantuan tim Surveyor.

Gambar.4.37. Pengecoran lantai kerja

5. Pekerjaan Bekisting
Pekerjaan Bekisting dikerjakan pada sisi mat foundation dari material batako
setinggi dua meter dan stop cor stinggi 500 mm untuk posisi starter bar
bagian pembesian slab basement 3. Pemasangan batako untuk dinding
bekisting mat foundation ini dikerjakan dalam dua tahap yaitu tahap
pertama dinding batako dipasang setinggi 1200 mm, dan tahap kedua
dinding batako dipasang lagi setinggi 800 mm dari tinggi tahap pertama. Hal
ini dilakukan untuk meghindari rubuhnya dinding dari longsoran tanah
diatasnya. Dalam pemasangan batako ini, seluruh permukaannya harus
dipasang secara rapat dan rata atau tidak beloh berongga.

Gambar.4.38. Pemasangan Batako

Gambar 4.39 . Isometri


6. Pekerjaan Pembesian
Pembesian dilaksanakan setelah seluruh area mat foundation dibersihakan
dari kotoran atau bekas bekas material yang berserakan dengan
menggunakan air compressor. Mutu besi tulangan yang digunakan adalah
U50 ( fy = 5000 kg/ cm ) dan pengikat atar besi digunakan kawat bendrat.
Pemasangan pembesian terdiri dari beberapa pekerjaan anara lain :
a . Pembesian Layer Bawah
Pembesian layer bawah terdiri dari tulangan menerus pada arah x dan
ditambah tulangan extra pada arah x dan y. penggunaan tulangan extra
berfunsi sebagai perkuatan didaerah tertentu yang mempunyai bahan lebih
besar dari daerah lain, seperti didaerah corewall yang berguna untuk
Manahan beban angina ataupun beban akibat gempa bumi. Penyusunan
tulangan tersebut disusun dalam empat lapis . lapis pertama terdiri atas
tulangan menerus arah x dan besi D32 200 mm; lapis kedua terdiri dari
tulangan menerus arah y dengan besi D32 200 mm ditambah tulangan
sebagian selain tulangan ekstra arah x dengan besi D22, D29, dan D32 tiap

jarak 400 mm; lapis keempat terdiri atas tulangan ekstra arah y dengan besi
D22, D29, dan D32 tiap jarak 400 mm

Gambar 4.40. Pembesian layer bawah


1.
b.
Pemasangan Kaki ayam
Untuk menghubungkan antara layer atas dengan layer bawah diperlukan
kaki ayam. Kaki ayam sendiri menggunakan besi D25 dengan tinggi 2
meter, dimana bagian bawah dari kaki ayam tersebut diikatkan pada
pembesian layer bawah menggunakan kawat bendrat. Kaki ayam dipasang
setiap jarak 2 meter untuk arah y dan 2,4 untuk arah x.

Gambar
4.41. Pemasangan Kaki ayam
c. Pembesian Layer Atas
Pembesian layer atas pada umumnya sama dengan layer bawah,
perbedaanya hanya pada penyusunan lapis pembesian. Penyusunan lapis
pembesian pada layer atas berkebalikan dengan layer bawah.

Gambar
4.42. Pembesian Layer atas
d. Pembesian Overstek kolom bawah dan Core wall
Pembesian Overstek tulangan kolom bawah dan corewall dikerjakan dengan
mutu besi U ( fy = 5000kg / cm ). Sebelum dilakukan pembesian, makan

perlu diberi marking agar tidak terjadi kesalahan letak pemasangan, surveor
akan mencari as tiap kolom dengan nalat theodolith dengan mengacu pada
Bench Mark (BM) yangtelah ditentukan. Tinggi penulangan stek kolom adalah
48,5 m dan tinggi penulangan stek carewall 4,5 m, semuanya itu diukur dari
TOC mat foundation.
Yang sangat perlu diperlihatkan dalam pelaksanaan pembesian dilapangan
adalah

Posisi pembesian yang seharusnya dikerjakan


Jumlah Besi
Tipe Besi
Hal tersebut untuk menghindari adanya kesalahan pemasangan yang
berakibat pembongkaran ulang sehingga dapat mengganggu schedule kerja.

Gambar 4.43. Pembesian


didaerah corewall
7. Separing ME
Sparing ME merupakan pemasangan pipa / plumbing yang dilakukan oleh
pihak ME yang berfungsi untuk saluran air. Pemasangan sparing ME pada
area mat foundation menggunakan CIP dia 2, 3, 4 berjarak (50-70) cm di
bawah TOC mat foundation. Pada pekerjaan sparing ME sangat diwajibkan
teliti dan tepat karena apabila ada kesalahan setelah pengecoran selesai

maka akan sangat sukar untuk membongkar ulang karena adanya


pembesian Mat Foudation.

Gambar 4.44. Pemasangan Pipa


8. Pemasangan ThermoCouple
Monitoring temperature beton dalam pengecoran mat foundation adalah
sesuatu hal yang sangat penting. Terjadinya perbedaan temperature yang
sangat besar akan menimbulkan efek keretakan pada beton yang akan
berakibat fatal. Alat yang dipakai untuk memonitor perbedaan temperature
tersebut adalah Thermocouple. Thermocouple dipakai selain untuk
memonitor suhu/perbedaan temperature pada tiap bagian, juga digunakan
untuk mengukur perbedaan suhu maximum yang terjadi setelah pengecoran
selesai, thermocouple menggunakan 3 layer dan 4 titik, sehingga jumlah
thermocouple 12 buah. Pengukuran thermocouple dilakukan tiap dua jam
untuk 24 jam pertama, dan setiap 3 jam untuk 24 jam berikutnya.

Gambar
445. Thermocouple
9. Pemasangan Kawat Loket / Penahan Longsoran Beton
Berdasarkan pembagian area pengecoran dan setting time beton maka
pengecoran mat foundation dibagi dalam beberapa zone, setiap pembagian
zone dipasang kawat loket/mesh (20 x 20) mm yang berfungsi untuk
menahan supaya beton tidak longsor, diamana longsoran beton tersebut
dapat mengakibatkan Could joint pada daerah beton tertentu saat
pengecoran dengan valume besar secara terus menerus.
Dengan adanya jumlah beton dengan skala besar maka diperlukan adanya
perkuatan pada kaat loket. Untuk perkuatan horizontal menggunakan besi
D13, sedangkan untuk perkuatan vertikal menggunakan besi D-22.

Gambar
4.46. Pemasangan loket kawat
10. Inspeksi Dan Survey
Dialakukan setelah pengecoran dimulai yang bertujuan mengetahui apakah
pembesian yang terpasang sesuai dengan gambar kerja, kegiatan ini akan
dilakukan oleh pihak pelaksana dengan pihak manajemen kontruksi. Daftar
pembesian / checklist akan dibawa saat inspeksi dilakukan dilapangan, check
list untuk pembesian meliputi :
1.
2.
3.
4.

Shop drawing sudah di approval


Diameter, jenis jumlah dan jarak besi sesuia shop drawing
Overlaping sambungan sesuai dengan gambar
Beton decking terpasang dengan jumlah dan diameter yang telah
ditentukan ( 4 Buah / m)
5.
Kaki ayam terpasang,diameter besi dan jarak sesuai dengan
persyaratan
6.
Ikatan besi ( ikatan silang ) dengan bendrat cukup kuat ( tidak bergetar
saat diketok )
7.
Besi bersih dari karat, oli, beton kering dan tanah
8.
Jarak bersiih pembesian minimal 45 mm
9.
Bending / bengkok besi sudah sesuai persyaratan yaitu 5D
10.
Elavasi tulangan / pembesisan sudah benar dan kuat

Ispeksi merupakan hal yang sangat penting, diharapkan ketika pengecoran


telah selesai dilakukan tidak akan ada masalah untuk pekerjaan berikutnya
dan juga menghindari adanya kecurangan yang dilakukan oleh pihak
kontraktor.

Gamba
r 4.47. Inspeksi dan survai
11. Pemasangan Stop Cor
Dilakukan pada proses pengecoran dimulai, terdiridari plywood 18 kayu
50/70 dan list kayu 40 x 40 sebagai tempat waterstop. Berfungsi agar tidak
ada kebocoran antara pertemuan beton lama dan beton baru bertemu.

Gambar 4.48. Waterstop


12. Pemasangan Tenda
Pada saat pengecoran diperlukan adanya ansipasi oeh pihak pelaksana
apabila terjadi hujan yang dapat mengganggu pengecoran dan dapat
merusak mutu beton, maka pemasangan tenda sebagai alternatif tindakan
yang dilakukan dan berfungsi juga menghindar panas sinar matahari secara
langsung. Untuk rangka tenda sebagai alternative tindakan yang dilakukan
dan berfungsi juga menghindari panas sinar matahari secara langsung.
Untuk rangka tenda menggunakan pipa besi 1 1,5. Pipa rangka
dimasukan pada tulangan besi yang telah dilas pada kaki ayam. Untuk
ketinggian terpal pada tepi tenda diberi perkuatan berupa ikatan dirangka
atas tenda kepasak.

Gambar 4.49. Detail Tenda

(a)

(b)
Gambar 4.50. (a) Rangka tenda
(b) Tenda di beri terpal
13. Pekerjaan Waterproofing

Beberapa jam sebelum dilakukan pengecoran, dinding bekisting dan lantai


kerja dari mat foundation dilapisi dengan waterproofng. Untuk lantai dengan
cara kristalisasi atau ditabur, sedangkan untuk dinding dengan cara
disemprot. Fungsi dari pelaksanaan waterproofng ini adalah agar membuat
bikisting menjadi kedap air sehingga air dari dalam tidak merembes keluar
dan begitu juga sebaliknya, air dari luar tidak bisa masuk kedalam
Pada pelaksanaannya untuk penyemprotan waterproofng dinding bekisting
menggunakan dua aplikasi. Pada aplikasi pertama dilakukan penaburan
Formdexplus 1,5 kg/m2, pelaksanaan 15 menit sebelum cor. Sedangkan pada
aplikasi kedua dilakukan penyemprotan dilakukan penyemprotan pada
dinding bekisting dalam, aplikasi ini terdiri dari lapisan dari dua lapisan yaitu
lapisan pertama dengan komposisi 0,5 kg / m, dan lapisan kedua 1 kg / m.
aplikasi kedua dilaksanakan 3 jam sebelum cor.

(a)

(b)
Gambar 4.51. (a). Bahan waterproofing (Formdexplus)
(b). Penyemprotan Waterproofing
14. Pengecoran
Pengecoran mat foundation memerlukan jumlah volume beton yang tidak
sedikit dan tentu juga memerlukan biaya yang sangat besar , sehingga
sangat penting untuk persiapan antara lain :
1.
1)

Persiapan Insfrastruktur Proyek


Jalan Akses Truk Mixer

G
2)

ambar 4.52. Jalan Akses truk Mixer


Lahan parker dan maneuver truk

3)

Gambar 4.53. Lahan parkir


dan manuever Truk
Area Cuci truk Mixer ( Washing Bay )

Gambar 4.54. Washing Bay


4)
Instalasi Listrik ( adanya genset 150 KVA sebagai backup jika listrik PLN
padam )
5)
Sistem Drainase ( Pembuangan air hujan yang jatuh dari terpal akan
dibuat saluran sementara
6)
Concrete Pump ( diperlukan cadangan Concrete Pump apabila adanya
masalah pada saat pelaksanaan Cor )

Gambar
4.55. Concrete Pump
1.

Persiapan Laboraturium
1)
Persiapan di site ( gerobak, kerucut Abrams, Rojokan, palu, senter, alat
Bantu komunikasi, meteran )
2)
Persiapan personel menggunakan shif ( kepala plan, Supervisor
produksi, staff, teknisi, dll )

Gambar 4.56. Perlengkapan pengujian


1.
Water Supply
Digunakan untuk kebutuhan cuci mixer, washing box dan lain lain.
1.
1)

Kesipan Peralatan
1. Concrete Pump

: 4 on site + 1 stand by

2)

2. Vibrator

: 4 on site + 1 stand by

3)

3. Compressor

: 2 Buah

4)

4. Pompa engine

: 2 Buah

5)

5. Pompa DAB 1

: 1 Buah

6)

6. Silinder

: 115 Buah

7)

7. Troli

: 3 Buah

8)

8. Termometer

9)

9. Kerucut Abrams

1.

: 2 Buah ( 1 cadangan )
: 2 set

1)

Kesiapan Material
Beton fc 27,5 Mpa, fa 23 % pakai es = 216 m

2)

Besi beton 281 ton

3)

Plastik sheet 1200 m

4)

Styrofoam 1200 m

5)

Kawat loket 390 m

Pengecoran Mat Foundation pada proyek The Pakubuwono View ini


mempunyai persyaratan beton sebagi berikut :
1)

Tes Slump 14 2 cm

2)

Suhu beton 30 C

3)

Perjalanan Truck Mixer dari Batching Plant ke site proyek 2,5 jam

Gambar
4.57. Jalur Sirkulasi Truk Mixer dan Penempatan CP
Gambar diatas merupakan sirkulasi keluar masuk truk mixer (TM) dan
penempatan concrete pump,TM yang masuk ke lokasi pengecoran akan
dicek waktu kedatangannya, suhu beton, dan nilainya slumnya. Bila waktu
kedatangnya, suhu , dan tes slump tidak memenuhi syarat maka TM tersebut
akan segera dipulangkan atau di reject. Pada TM yang memenuhi syarat
akan langsung menuju concrete pump untuk loading. Bila saat waktu antrian
terlalu lama maka akan diadakan tes slump lagi jika saat pengetesan gagal
maka akan direject dari pihak pelaksana.

Area pengecoran pada mat foundation dibagi menjadi 7 zona yang mana
setiap zona dibatasi oleh kawat loket. Pada saat pengecoran berlangsung
digunakan alat Vibrator untuk membantu beton agar agregat kasar dan
halus dapat menyatu, selain itu juga mengalirkan beton.
1.
15.
Finishing Trowel

Pekerjaan ini dilakukan pada saat beton mendekati setting. Finish trowel ini
dilakukan dengan tujuan untuk memperhalus permukaan lantai beton yang
telah diberi floor hardener. Pelaksanaan floor hardener sendiri dilakukan
setelah 30 menit / beton setting, dan dilaksanakan dengan system tabor.
Komposisi yang digunakan 5 kg / m dengan dua kali tabur dan dikontrol
elevasinya sesuai shop drawing. Proses penaburan dilakukan
setelah relag selesai.

Gambar
4.58. Finishing Trowel
1.
16.
Pemasangan Steryfoam
Setelah permukaan lantai mat foundation sudah mulai mengeras, maka perlu
dilakukan curing. Proses curing ini dilakukan dengan cara
pemasangansteryfoam pada permukaan beton agar perubahan suhunya
tetap terjaga. Pemasangan steryfoam ini bertujuan menghindari adanya
retak thermal pada permukaan beton akibat perubahan yang dihasilkan oleh
suhu dalam beton dengan suhu luar. Dalam hal ini steryfoam berfungsi
sebagai filter antara suhu udara luar dengan suhu dalam beton.

Gambar.
4.59. Pemasangan Stryfoam

F.

Work Breakdown Structure ( WBS )

Pelaksanaan Pekerjaan Gedung Tinggi