Anda di halaman 1dari 22

Untukmenghitung kapasitas pendinginan dari sebuah mesin pendingin (chiller) atau

refrigerator, diperlukan beberapa data. Data tersebut adalah temperatur air pen
dingin (chilled cooling water) yang masuk ke mesin, temperatur air pendingin yan
g kita perlukan dan laju alir air pendingin.
Kemudian, bagaimana cara menghitung kapasitas chiller yang kita butuhkan? Langka
hnya sangat sederhana, seperti dikutip dari waterchiller.com. Apapun aplikasinya
nanti, kapasitas chiller dapat dihitung dengan cara:
Langkah-1. Hitung selisih temperatur (dT) antara air pendingin yang masuk chill
er dan temperatur air pendingin yang kita perlukan.
Langkah-2. Hitung panas yang harus diserap oleh chiller dalam BTU per jam, yait
u: laju alir (gallon per jam) x 8.33 x dT F
Langkah-3. Hitung kapasitas pendinginan dalam tons: panas yang harus diserap (BT
U/jam) 12,000
Langkah-4. Tambahkan allowance (oversize) kapasitas pendinginan dari kondisi ide
al yang dihitung di Langkah-3 sebesar 20% (ton): Tons x 1.2.
Kapasitas chiller telah selesai kita hitung. Namun, disarankan untuk memperhatik
an rule of thumb yang mungkin ada, sesuai dengan jenis penggunaan (area aplikasi
) chiller nantinya
========================
Uuh panas betul siang ini. Apalagi letak proyek ini berada di daerah tambak gara
m tepi pantai. Untung aja di kontainer proyek, ada AC bekas, dapat hadiah dari r
enovasi rumah.
AC (Air Conditioner) telah ditemukan saat musim panas tahun 1902, oleh seorang
insinyur muda dari New York Amerika, bernama Willis Haviland Carrier. Melalui pe
nyempurnaan dari penemuan sebelumnya.
Dia mendesain mesin yang dapat menghembuskan udara melewati pipa beku, yang dap
at menurunkan kelembaban udara. Tetapi penemuan tersebut bukan untuk kepentingan
manusia melainkan untuk keperluan bisnis.
Bila teman-teman ingin menghitung kebutuhan AC, minimal belajar :
Teknik Termodinamika tentang perpindahan kalor
Teknik HVAC (= Heating, Ventilation, dan Air-Conditioning system)
Mesin-mesin pendingin seperti : Chiller, Cooler, Conderser juga Refrigrater
Cara menghitung kebutuhan AC.
AC dihitung dalam satuan BTU (British Thermal Unit)
Rumus :
Kebutuhan AC = Luas Ruangan * Koeffisien
dimana : koeffisien 1 m2 = 500 BTU/hr.
untuk ruangan dengan tinggi standard 2.5 - 3.5m.
Misalnya ruangan dengan ukuran 3m x 4m.
Kebutuhan AC adalah
= (3m x 4m) * 500 BTU/hr
= 12 m2 / 500 BTU/hr
= 6000 BTU/hr

Artinya kebutuhan AC untuk ruangan 3m x 4m = 6000 BTU/hr.


1 PK kompresor AC bisa menghasilkan antara 8.000 - 10.000 Btu/hr.
supaya tidak bingung, ambil cara praktis, 1 PK setara 9.000 Btu/hr.
Bila hitungan = 6000 Btu/hr setara dengan 0.6667 PK.
Disarankan menggunakan 0.75 PK = 3/4 PK = 7000 BTU/hr, karena bila terjadi penu
runan kapasitas AC masih tetap mampu mendinginkan ruangan.
Cara praktis pakai tabel dibawah ini :
Kapasitas AC setara dengan untuk ruangan
1/2 PK
3/4 PK
1 PK
1,5 PK
2 PK
2,5 PK
3 PK
5 PK 5.000 Btu/hr
7.000 Btu/hr
9.000 Btu/hr
12.000 Btu/hr
18.000 Btu/hr
24.000 Btu/hr
27.000 Btu/hr
45.000 Btu/hr uk 3 x 3 m
uk 3 x 4 m
uk 4 x 4 m
uk 4 x 6 m
uk 6 x 8 m
uk 8 x 8 m
uk 10 x 8 m
uk 10 x 10 m
Catatan :
Standard konversi baku.
1 PK (paar de kraft) = 745 watt
1 Watt = 3.412 BTU (=British Thermal Unit)
1 PK = 2546.699 BTU/hr
Angka BTU di Air Conditioner itu adalah energy output.
Pada AC 1 PK daya input 2547 BTU/hr, maka daya kompresor mampu menghasilkan 9.0
00 Btu/hr sebagai besar beban pendinginan yg mampu diserap oleh evaporator.
Mungkin saja di masa depan dengan teknologi pendingin yang baru, ditemukan AC 1
PK bisa menghasilkan 20.000 Btu/hr.
Penurunan kapasitas AC bisa diakibatkan
filter yang jarang dibersihkan
isi freon yang sudah habis
komponen yang sudah tua
Ada banyak jasa servis panggilan AC.
Ongkos membersihkan filter AC biasanya Rp. 25 ribu
Ongkos isi freon AC biasanya Rp. 50 ribu
Bila di rumah mempunyai banyak AC, tinggal mengalikan Ongkos dengan jumlah AC yan
g ingin dibersihkan.

===============
Pengertian BTU pada AC dan Cara menghitung kebutuhan PK AC pada suatu ruangan

BTU (British Thermal Unit) adalah perhitungan suatu kebutuhan kapasitas pendingi
n AC untuk kebutuhan ruangan yang akan digunakan agar diperoleh hasil yang hemat
dan optimal.

Cara menghitung kebutuhan kapasitas AC pada suatu ruangan :

Rumus Kebutuhan (BTU/h) = (W x H x I x L x E )/60


Keterangan :

W
H
I

: panjang ruangan dalam feet (kaki)


: tinggi ruangan dalam feet (kaki)
: isikan nilai angka 10 jika ruangan berinsulasi,berada di lantai bawah,ata
u berhimpit dengan
ruangan lain dan isikan nilai angka 18 jika ruangan be
rada di lantai atas atau tidak berinsulasi.
L
: panjang ruangan dalam feet (kaki)
E
: isikan angka 16 jika dinding terpanjang menghadap utara,17 jika menghad
ap timur,18 menghadap selatan,dan 20 jika menghadap barat.

1 meter =3,28 feet (kaki)

Contoh cara menghitung kebutuhan kapasitas AC :


1.Ruang berukuran 5M x 3M atau (16 kaki x 10 kaki),tidak berinsulasi,dinding pan
jang menghadap ke barat,kebutuhan BTU = (16x10x18x10x20)/60 =9600 BTU.
2.Ruangan berukuran 3M x 3M atau (10kaki x10 kaki),ventilasi minim,berinsulasi,d
inding menghadap utara,,kebutuhan BTU =(10x10x10x10x16)/60 =2666,6 BTU

Kapasitas AC yang umum di pasaran adalah berdasarkan daya listrik(PK/HP) atau ka


lau dapat digambarkan equivalen dengan kapasitas AC dalam BTU/h yaitu :

AC 1/2 PK = 5000
AC 3/4 PK = 7000

BTU/h
BTU/h

AC 1 PK
= 9000 BTU/h
AC 1,5 PK = 12000 BTU/h
AC 2 PK
= 18000 BTU/h

Sebagai contoh Daya AC 1/2 PK/HP artinya 1/2 paard kracht/horse power =373 watt
(1 PK=745,7=746watt)
Kapasitas pendingin 5000 BTU/h_1,47 KW Artinya = Menunjukan kapasitas pendingin
ruangan =5000 BTU per jam dan kapasitasnya setara dengan 1470 watt.
===============
Efisiensi sistem pendingin : COP atau EER ?
Bicara tentang COP ataupun EER, menarik karna konsep ini memberikan pengertian y
ang kalau dikembangkan akan menunjukkan kenapa perawatan itu penting, kenapa mes
in ini lebih efisien atau kenapa mesin itu lebih boros energi dan lain sebagainy
a.
Tulisan ini sebenarnya sudah saya posting di milis refrigerasi@yahoogroups.com a
taupun di teknisi_airconditioning@yahoogroups.com

Buka FUNDAMENTAL 2005 chapter 1. hal 1.3 disitu disebutkan :

Performance of a refrigeration cycle is usually described by a coefficient of pe


rformance (COP), defined as the benefit of the cycle (amount of heat removed) di
vided by the required energy input to operate the cycle:

COP = Useful refrigerating effect / Net energy supplied from external sources

Sedangkan EER, di ASHRAE 2008 System and Equipment Chapter 49, halaman 49.2 dise
butkan :

Efficiency
Efficiency is capacity in watts divided by input in watts. For room air conditio
ners, it may be called energy efficiency ratio (EER) or coefficient of performan
ce (COP). To convert EER to COP, multiply EER by 0.2931.

Kalau begitu sami mawon khan ? Cuma beda satuan. COP (tanpa satuan karena Watt/W

att, atau Btuh/Btuh) sedangkan EER satuannya Btuh/Watt, makanya muncul pengali 0
,2931

Perhatikan di ASHRAE 2006 Refrigeration, chapter 46 hal 46.16 di situ dituliskan


:

Energy Efficiency. A typical supermarket includes one or more medium-temperature


parallel compressor systems for meat, deli, dairy, and produce refrigerators an
d medium-temperature walk-in coolers. The system may have a satellite compressor
for the meat or deli refrigerators, or all units may have a single compressor.
Energy efficiency ratios (EERs) typically range from grouped on one or more para
llel systems, with ice cream refrigerators on a satellite or on a single compres
sor. EERs range from 2.3 to 2.6 W/W for the main load. Low-temperature refrigera
tors and coolers are 1.2 to 1.5 W/W for frozen-food units to as low as 1.0 to 1.
2 W/W for ice cream units.Cutting and preparation rooms are most economically pl
aced on a single unit because the refrigeration EER is nearly 2.9 W/W. Aircondit
ioning compressors are also separate because their EERs can range up to 3.2 W/W
Lho kok beda ? Sepertinya tidak konsisten dengan pernyataan sebelumnya..Pada tek
s paragraf terakhit itu sebenarnya kalau ASHRAE mau konsisten seharusnya dia men
gatakan COP. Perhatikan figure-nya. Disitu disebutnya COP bukan EER, (berbeda de
ngan teks di atas.)

Bingung ? Ndak apa khan, yang penting pengertiannya yang ditangkap.

Salam

Kita teruskan ceritanya,

Jika definisi COP atau EER adalah Efek pendinginan yang termanfaatkan dibandingk
an terhadap Kerja yang harus kita berikan, maka sudah pasti kita berharap COP at
au EER yang dipunyai dari sistem kita adalah sebesar-besarnya.
Apa mungkin ?
Ternyata yang menjadi pembatasnya adalah COP Carnot. (untuk temperatur kerja ata
u temp. saturasi baik kondensasi maupun evaporasi, yang sama), Karena untuk temp
eratur kerja yang sama maka COP maksimum dari sistem yang bisa diperoleh adalah
COP Carnot.

Muncul kemudian definisi efisiensi refrigerasi Efisiensi Refrigerasi = COP seben


arnya dibagi COP Carnot.

Sekarang Bagaimana kita mengukur COP. Ini yanh sering jadi perdebatan. Untuk men
gukur COP sebenarnua seharusnya sistem diuji, Diukur berapa kapasitas pendingina
nnya dan juga berapa energi/kerja yang diperlukannya. baru didapatlah COP atau E
ER.
Ruang pengujian sistem refrigerasi ini disebut dengan Kalorimeter atau ada juga
yang bilang psychrometric room, apapun itu, fungsinya untuk menguji performance
sistem.

Lantas bagaimana dengan pengalaman kita sewaktu kuliah ? COP cukup dihitung dari
diagram P-h. Hal ini tidaklah tepat, karena kita memasukkan beberapa asumsi, ta
pi cukuplah untuk memberikan pemahaman pada mahasiswa. Tentu saja hasil perhitun
gan ini bersifat teoritis.

Saya banyak menemukan keganjilan dalam perhitungan COP ini, terutama saat sidang
TA.

Udah dulu ahhh

Salam
WHM
Dear Pak Windy dan rekan2 millist,
Menarik sekali nih bahasannya, sebelum ikut nimbrung di COP & EER, mungkin saya
mau coba mempertajam terlebih dulu tentang 1 PK = 9000 btu/hr.
Yang saya dapati bahwa korelasi 1 PK = 9000 btuh merupakan claim yang akhirnya m
enjadi standar umum, namun hanya berlaku KHUSUS AC dimana dengan energi 1 PK aka
n menghasilkan efek pendinginan SEKITAR 9000 btuh. Ok kenapa saya tekankan khusu
s AC dan saya gunakan kalimat sekitar adlah sbb :
o Dikatakan khusus AC krn memang 1 PK = 9000 btuh hanya berlaku untuk AC yang be
rmain di Evap temp 7-10 C, sebab akan berbeda jika Evap temp -10 C maka 1 PK = 6
200 btuh bahkan jika Evap Temp nya -35 C maka 1 PK = 2500 btuh (lihat tabel diba
wah). Ternyata itu semua kembali sangat erat hubungannya dengan COP/EER yang dib
ahas pak Windy sebelumnya. Namun tentu itu hanya berlaku untuk system kompresi u
ap dengan piston compressor. Tentu akan berbeda kalo compressor screw, dimana CO
P screw utk AC bisa mengalahkan piston, tapi untuk refrigerasi COP screw tidak b
isa mengalahkan piston.
o Saya nyatakan sekitar, karena seperti yang Pak Windy bilang ternyata masing-ma
sing compressor memiliki COP yang berbeda, sehingga energi 1 PK masing2 akan men
ghasilkan btuh yang tidak sama, namun semuanya akan memposisikan diangka yang ti
dak jauh dari 9000 btuh.
Dan ini memang menarik, dari tabel yang saya coba simulasikan dibawah ini juga m

emberikan gambaran bahwa dimana munculnya 1 TR = 12000 btuh berdasarkan pada per
hitungan COP yang sama dengan hitungan 9000 btuh. COP yang saya tempatkan diatas
adalah COP standard dari hasil kajian beberapa merk comp jikalau diambil data t
abelnya, dengan asumsi Condensing temp sama 50 C dan refrigerant yang sama R22,
juga tanpa ada proses lain seperti subcooling, liquid overfeed, multi stage dsbn
ya. Karena dengan beberapa proses, tentunya COP bisa diangkat. Misalnya untuk AC
, COP bisa diangkat ke angka 4 bahkan lebih. Dan yang menarik lagi adalah, trik
untuk mengangkat COP di low temp (refrigerasi) lebih bervariasi dan punya peluan
g yang lebih besar dibanding high temp (AC). Sehingga agak sulit menentukan stan
dar umum seperti di AC berapa btuh yang dihasilkan 1 PK di system refrigerasi
Dan dari tabel dibawah juga tergambar bahwa kita mesti hati2 dalam memilih TXV.
Krn biasanya TXV itu selalu berdasarkan TR, sebab misal walaupun sama2 menggunak
an comp 10 PK, untuk AC dan Refrigerasi akan berbeda type TXVnya, kenapa ? karen
a 10 PK utk AC dan Refrigerasi akan menghasilkan efek pendinginan (TR) yang berb
eda.
Dari hal ini, tentu saja akan banyak terbuka peluang diskusi yang lebih lebar da
n lebih dalam lagi. Saya yakin kita masing2 tentu sudah punya pengalaman yang bi
sa di share dalam forum ini.
Dan tentu saja saya pribadi mengucapkan banyak terimakasih pada pak Windy dan do
sen lainnya yang telah meletakkan dasar RHVAC pada para lulusan RA Polban.

No
Spesifikasi Pemakaian
COP
Faktor Pembagi untuk 1 HP Cooling Capacity
Condensing Temperature 50 C

1
Air Conditioning
3.52
746 Watt x 3,52x 3,41
= 8.954 Btu/hr

(Evap. Temp. 7 C)

1 HP equivalen dengan
= 9.000 Btu/hr

High Temperature

1 Kw = 1 Ton Ref atau

1000 Watt x 3,52 x 3,41


= 12.003 Btu/hr

Jadi 1 Ton Ref equivalen dengan


= 12.000 Btu/hr

2
Chiller
2.43
746 Watt x 2,43 x 3,41
= 6.182 Btu/hr

(Evap. Temp. -10 C)

1 HP equivalen dengan
= 6.200 Btu/hr

Medium Temperature

3
Freezer
0.97
746 Watt x 0,97 x 3,41
= 2.468 Btu/hr

(Evap. Temp. -35 C)

1 HP equivalen dengan
= 2.500 Btu/hr

Low Temperature

Salam
========================

JENIS SISTEM PENGKONDISIAN UDARA


Tujuan pengkondisian udara adalah untuk mendapatkan kenyamanan bagi penghuni yan
g berada didalam ruangan. Kondisi udara yang dirasakan nyaman oleh tubuh manusia
adalah berkisar antara :
Suhu dan kelembaban : 200C hingga 260C, 45% hingga 55%
Kecepatan udara : 0.25 m/s
Ada beberapa system pengkondisian udara yang dapat dilakukan, yaitu :
Sistim ekspansi langsung
Dengan sistim ini, pendinginan secara langsung dilakukan oleh refrigerant yang d
iekspansikan melalui koil pendingin, sedangkan udara disirkulasikan dengan cara
menghembuskannya dengan menggunakan blower / fan melintasi koil pendingin terseb
ut. Sistim ini biasanya dipergunakan untuk beban pendinginan udara yang tidak te
rlalu besar seperti keperluan ruangan di rumah
Sistim Pengkondisian Udara secara Sentral
Secara singkat sistim Central Air Conditioning System ( Sistim Pengkondisian Uda
ra secara sentral ), yang biasa di rancang pada bangunan dapat di jelaskan sebag
ai berikut : Unit pendingin utama di gunakan 2 unit Water Cooled Water Chiller d
imana satu unit beroperasi dan satu unit sebagai cadangan, unit Chiller beropera
si dengan menggunakan Primary Refrigerant berupa refrigerant R123 pada unit Chille
r & R 134A pada unit purging yang sudah ramah lingkungan, nantinya akan mendingi
nkan Secondary Refrigerant berupa air, dimana air yang sudah didinginkan ini di si
rkulasikan oleh Chilled Water Pump ke AHU dan FCU di LQB.
Pada unit AHU air dingin akan mengkondisikan / mendinginkan udara segar dari lua
r gedung sehingga mencapai temperature dan kelembaban yang cukup dan untuk selan
jutnya di distribusikan ke koridor
koridor di ruangan setiap lantainya dan kamar
- kamar pada masing-masing lantai. Pada setiap lantai akan ditangani oleh 2 unit
AHU yang memiliki kapasitas pendinginan yang sama, begitu pula dengan 2 lantai
diatasnya memiliki masing-masing 2 unit AHU yang memiliki kapasitas pendinginan
yang sama dengan lantai dasar. Sedangkan proses pertukaran kalor yang terjadi di
masing-masing kamar akan ditangani oleh Fan Coil Unit yang telah mendapatkan di
stribusi udara segar yang telah didinginkan oleh AHU sehingga kerja FCU tidak te
rlalu berat. Dikarenakan lantai dasar, satu dan lantai dua memiliki kapasaitas p

endinginan yang sama dan jenis bangunana yang sama pula, maka perhitungan luasan
sistim ducting akan diwakilkan di salah satu lantai, yaitu lantai dasar.
Water Cooled Water Chiller
Unit Chiller yang digunakan pada sistim ini merupakan jenis Water Cooled Water C
hiller dengan menggunakan kompresor jenis sentrifugal 3 tahap / 3 stage centrifu
gal compressor ( Kompresor sentrifugal 3 tingkat ), yang diproduksi oleh salah s
atu pabrikan unit AC yang cukup terkenal yaitu Trane Company. Unit ini berkapasi
tas 320 Ton Refrigerant / 320 TR, dengan menggunakan sistim negative pressure, d
imana jika terjadi kebocoran pada unit Chiller maka refrigerant yang terdapat di
dalamnya tidak akan terbuangan ke udara, melainkan udara luar yang akan masuk ke
dalam sistim. Didalam sistim Chiller sendiri terdapat satu unit pembuang udara y
ang masuk saat terjadi kebocoran tadi yang dinamakan Purging Unit. cara kerja pu
rging seperti ini : saat Chiller mengalami kebocoran, maka udara luar akan masuk
kedalam sistim chiller sehingga refrigerant atau freon akan bercampur dengan ud
ara luar yang mengandung uap air, sensor pada purging unit akan membaca perbedaa
n tekanan pada sistim dan kelembaban refrigerant pada sistim sehingga akan menga
ktifkan purging unit tersebut.
Saat purging unit bekerja, Chiller tetap beroperasi sebagaimana mestinya tanpa t
erganggu. Udara yang terhisap masuk kedalam sistim akan di tekan keluar oleh pur
ging unit, sehingga tekanan pada sistim mengalami kondisi stabil barulah unit Ch
iller dapat di perbaiki. Untuk media pendingin yang digunakan oleh unit Chiller
yaitu refrigerant jenis R 123 dan untuk Purging unit berjenis R 134 A, kedua sud
ah ramah lingkungan.
Chilled Water & Condenser Water Pump
Guna keperluan mensirkulasikan air yang sudah didinginkan oleh unit Chiller ke A
HU maupun air yang mendinginkan unit condenser di Chiller ke Cooling Tower, maka
di gunakan masing-masing sistim satu paket Pompa sirkulasi air dingin dan Pompa
sirkulasi air pendingin. Jenis kedua pompa ini adalah sama, yaitu digunakan jen
is End Suction Centrifugal Pump dengan tekanan kerja pompa adalah 10 kg/cm2.
Pada sistim ini, sistim Chilled Water atau air yang didinginkan menggunakan 2 bu
ah pompa yang beroperasi sekaligus, hal ini dirancang agar umur pompa dapat lebi
h lama mengingat jarak antara ruang pompa dan lokasi hotel cukup jauh. Sedangkan
untuk sistim air pendinginan hanya di gunakan satu buah pompa sirkulasi, mengin
gat jarak ruang pompa dan unit Cooling Tower cukup dekat.
Cooling Tower Unit
Unit ini berfungsi sebagai pendingin unit condenser pada unit Chiller dengan med
ia yang digunakan adalah air, dimana sistim kerja Cooling Tower dapat di jelaska
n sebagai berikut : condenser di unit Chiller akan memiliki temperature dan teka
nan yang tinggi akibat tekanan kerja dari Kompresor, sehingga diperlukan media p
endingin untuk merubah fase refrigerant di condenser tersebut, untuk itu dibuat
suatu sistim pendinginan dengan menggunakan media air yang disirkulasikan oleh p
ompa ke unit Cooling Tower, dimana air yang disirkulasikan tersebut akan membawa
kalor dari condenser untuk kemudian di lepaskan kalornya ke udara di Cooling To
wer, sehingga air akan mengalami penurunan temperature dan kembali disirkulasika
n kembali ke unit condenser.
Unit Cooling Tower sendiri terdiri dari : satu unit casing Cooling Tower, Motor
Blower, Basin dan Water Filler atau jika diartikan menjadi sirip
sirip pendingin
air.
Air Handling Unit dan Fan Coil Unit

Baik Air Handling Unit maupun Fan Coil Unit memiliki kesamaan fungsi, Air Handil
ing unit di fokuskan untuk menangani kapasitas pendinginan yang lebih besar seda
ngkan Fan Coil Unit di fokuskan untuk kapasitas pendinginan yang lebih kecil, da
lam sistim ini AHU di gunakan untuk mengkondisikan fresh air (udara segar) dari
udara luar yang akan di distribusikan sebagai tambahan udara segar untuk FCU dan
kamar juga sebagai distribusi suplai udara dingin guna keperluan koridor di mas
ing-masing lantai.
Komponen
komponen dari AHU maupun FCU sebernanya cukup sederhana yang terdiri da
ri : Casing, Koil, Filter Udara dan Motor Blower.
Penggolongan Sistim Pengkondisian Udara
Jenis yang mendasari adalah sistim pengkondisian udara sentral. Untuk menjamin p
engaturan pengkondisian udara ruangan yang di teliti, maka sesuai dengan kemajua
n teknik pengkondisian udara yang telah dicapai sampai pada saat ini, dapat dike
mbangkan beberapa sistim. Hal tersebut terutama menyangkut perkembangan elemen p
endinginnya.
Jenis

jenis sistim penghantar udara adalah sebagai berikut :

1. Sistim Udara Penuh


2. Sistim Saluran Tunggal
Sistim ini merupakan sistim penghantar udara yang paling banyak dipergunakan. ca
mpuran udara ruangan didinginkan dan dilembabkan, kemudian dialirkan kembali ked
alam ruangan melalui saluran udara.
Keuntungan dari sistim ini adalah :
Sederhana, mudah perancangannya, pemasangan, pemakaian dan perawatannnya.
Biaya awal lebih rendah dan murah.
Kerugian dari sistim ini adalah :
Saluran utama berukuran besar, sehingga memerlukan tempat yang lebih besar.
Kesulitan dalam mengatur temperature dan kelembaban dari ruangan yang sedang dik
ondisikan, karena beban kalor dari ruangan yang berbeda satu dengan yang lainnya
.
Pada dasarnya sistim pengaturan untuk sistim saluran tunggal menyangkut pengatur
an temperature udara melalui bagian-bagian utama dari saluran. Dalam hal tersebu
t, laju aliran air dingin, laju aliran air panas atau uap ke koil udara, diatur
sedemikian rupa sehingga temperature udara dapat diubah. Sistim ini dinamakan si
stim volume konstan temperature variable, yang sudah banyak dipergunakan dalam s
istim penghantar udara.
Dalam keadaan dimana beban kalor dari beberapa ruangan yang akan dilayani ini be
rbeda-beda, boleh dikatakan tidak mungkin mempertahankan udara ruangan pada suat
u temperature tertentu, kecuali bagi beberapa ruangan utama saja. Jadi masalah t
ersebut dapat dipecahkan dengan melayani ruangan dengan beban kalor yang sama ol
eh satu pengolah udara secara sentral.
Sistim saluran udara tunggal yang lain adalah sistim pemanasan ulang, dimana uda
ra segar yang mengalir didalam saluran utama tersebut dapat dipertahankan konsta
n, pada temperature yang rendah. Kemudian udara tersebut masuk kedalam ruangan m
elalui alat pemanas yang dipasang pada saluran- saluran cabang masing-masing. Pe

manas tersebut memanaskan udara dan diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh te
mperature udara tang sesuai dengan temperature udara ruangan yang di inginkan. S
istim ini dinamakan sistim pemanasaan ulang terminal dan banyak digunakan untuk
melayani beberapa ruangan pribadi yang ada didalam gedung perkantoran umum.
Ada pula sistim saluran tunggal yang bekerja dengan volume variable dimana jumla
h aliran udara dapat diubah sesuai dengan beban kalornya, jadi, volume aliran ud
ara akan berkurang dengan turunnya beban kalor dari ruangan yang harus dilayani.
pengaturab volume aliran udara dilakukan dengan mengatur posisi damper atau deng
an unit volume variable damper. Ada beberapa macam unit volume variable damper.
Salash satu diantaranya seperti gambar dibawah ini
Pada hal tersebut terakhir terdapat dua saluran; satu saluran menyalurkan jumlah
udara yang minimal diperlukan, sedangkan saluran lainnya menyalurkan jumlah uda
ra sesuai dengan pembukaan katup udara yang diatur oleh thermostat. Pemasukan ud
ara diatur oleh tekanan udara yang bekerja pada tirai dari alat pengatur volume
konstan dan gaya pegas. Pemasukan udara minimum harus diatur supaya distribusi u
dara didalam ruangan dapat berlangsung sebaik-baiknya, dengan jumlah ventilasi u
dara yang minimal. Jumlah udara masuk akan berkurang dengan turunnya beban kalor
, sehingga apabila jumlah udara masuk menjadi lebih kecil daripada jumlah udara
masuk yang minimal, maka temperature udara masuk akan berubah.
Dalam sistim volume variable, putaran atau sudu isap dari kipas udara dapat diat
us sesuai dengan perubahan pemasukan udara yang diinginkan. Sistim pengaturan ki
pas udara tersebut diatas memungkinkan penghematan daya listrik yang diperlukan
untuk menggerakan kipas udara pada beban parsial.
Sistim Dua Saluran
Selain sistim saluran tunggal, terdapat pula sistim dua saluran yang dapat menut
upi kekurangan daru sistim saluran tunggal. Sistim ini kebanyakan digunakan di g
edung-gedung besar, dalam hal tersebut udara panas dan udara dingin dihasilkan s
ecara terpisah oleh mesin penyegar udara yang bersangkutan. Kedua jenis udara it
upun disalurkan melalui saluran yang terpisah satu sama lain. Tetapi kemudian di
campur sedemikian rupa sehingga tercapai tingkat keadaan yang sesuai dengan beba
n kalor dari ruangan yang akan disegarkan. Sesudah itu disalurkan kedalam ruanga
n yang bersangkutan. Sistim ini dinamakan sistim dua saluran.
Dalam sistim ini, alat yang diperlukan untuk mencampur udara panas dan udara din
gin dalam perbandingan jumlah aliran yang ditetapkan untuk memperoleh kondisi ak
hir yang diinginkan, dinamai alat pencampur. Sistim dua saluran dapat memberikan
hasil pengaturan yang lebih teliti. Tetapi memerlukan lebih banyak energi kalor
dan lebih tinggi harga awalnya. Ada dua jenis sistim dua saluran, yaitu sistim
volume konstan dan sistim volume variabel.
Sistim Air Udara
Ciri-ciri Sistim Air Udara
Dalam sistim air udara, unit koil kipas udara atau unit induksi dipasang didalam
ruagan yang akan dikondisikan. Air dingin dialirkan kedalam unit tersebut, seda
ngkan udara ruangan dialirkan melalui unit tersebut sehingga menjadi dingin. Sel
anjutnya udara tersebut bersirkulasi didalam ruangan. Demikian pula untuk keperl
uan ventilasi, udara luar yang telah didinginkan dan dikeringkan atau udara luar
yang telah dipanaskan dan dilembabkan dialirkan dari mesin pengolah udara jenis
sentral keruangan yang akan di kondisikan.
Oleh karena berat jenis dan kalor spesifik air lebih besar dari pada udara, maka
baik daya yang diperlukan untuk mengalirkan maupun ukuran pipa yang diperlukan
untuk memindahkan kalor yang sama adalah lebih kecil. Dengan demikian, untuk men

gatasi beban kalor dari ruangan yang akan di kondisikan, banyaknya udara yang me
ngalir dari mesin pengolah udara jenis sentral adalah lebih kecil. Disamping itu
, ukuran mesin pengolah udara maupun daya yang diperlukan adalah lebih kecil jik
a dibandingkan dengan yang diperlukan oleh sistim udara penuh.
Unit Koil Kipas Udara dan Unit Induksi
Unit ini dinamakan unit terminal dan dipasang didalam ruangan. Semua unit terseb
ut merupakan bagian dari sistim penghantar udara yang berfungsi sama. Didalam un
it tersebut Koil udara ditempatkan didalam kabinet kecil, dimana dialirkan air d
ingin. Pada unit koil kipas udara, udara dialirkan oleh kipas udara yang dipasan
g didalam unit tersebut. Pada unit induksi, udara primer berkecepatan tinggi di
alirkan melalui beberapa nosel. Selanjutnya dengan efek induksi secara primer, u
dara ruangan terisap masuk kedalam unit dan didinginkanoleh koil udara, kemudian
disirkulasikan kembali kedalam ruangan.

AC System
Posted: 20 December 2012 in AC SYSTEM
Tags: AC
0
Mengetahui Kebutuhan PK AC dan Daya Pendingin (BTU/hr)
Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan saat kita memutuskan akan mengguna
kan air conditioner adalah bagaimana cara mengetahui PK AC yang sesuai dengan ru
angan kita? Hal ini perlu mendapat perhatian karena hubungannya dengan besaran p
emakaian listrik yang harus kita bayar tiap bulannya. Unit air conditioner yang
terlalu besar dibanding luas ruangan akan membuat pemakaian listrik menjadi boro
s, begitu juga dengan unit air conditioner yang terlalu kecil. Unit air conditio
ner yang terlalu kecil dibanding luas ruangan akan membutuhkan waktu yang lama u
ntuk mendinginkan ruangan, hal ini tentu juga membuat tagihan listrik menjadi be
sar.
Ada 3 faktor yang perlu diperhatikan pada saat menentukan kebutuhan PK AC, yakni
daya pendinginan AC (BTU/hr
British Thermal Unit per hour), daya listrik (watt)
, dan PK compressor AC. Sebagian dari kita mungkin lebih mengenal angka PK (Paar
d Kracht/Daya Kuda/Horse Power (HP)) pada AC. Sebenarnya PK itu adalah satuan da
ya pada compressor AC bukan daya pendingin AC. Namun PK lebih dikenal ketimbang
BTU/hr di masyarakat awam. Lalu bagaimana cara menghitung dan menyesuaikan daya
pendingin air conditioner dengan ruangan Anda? Untuk menyiasatinya, maka kita ko
nversi dulu PK BTU/hr
luas ruangan (m2).
1 PK = 9.000-10.000 BTU/h
1 m2 = 600 BTU/hr
3 mx = 10 kaki > 1 m = 3.33 kaki
Daya Pendingin AC berdasarkan PK AC :
BTU/hr
PK

5.000

7.000
9.000
12.000
18.000

1
1
2

Untuk menghitung kebutuhan BTU digunakan rumus:


(W x H x I x L x E) / 60 = kebutuhan BTU/h
W
= panjang ruang (dalam feet)
H
= tinggi ruang (dalam feet)
I
= nilai 10 jika ruang berinsulasi (berada di lantai bawah, atau berhimpit denga
n ruang
lain). Nilai 18 jika ruang tidak berinsulasi (di lantai atas).
L
= lebar ruang (dalam feet)
E
= nilai 16 jika dinding terpanjang menghadap utara; nilai 17 jika menghadap tim
ur;
nilai 18 jika menghadap selatan; dan nilai 20 jika menghadap barat.
Contoh :
Ruang berukuran 3mx6m atau (10 kaki x 20 kaki), tinggi ruangan 3m (10 kaki) tid
ak berinsulasi, dinding panjang menghadap ke timur. Kebutuhan BTU = (10 x 20 x 1
8 x 10 x 17) / 60 = 10.200 BTU alias cukup dengan AC 1 PK.
Agar air conditioner memberikan hasil yang maksimal dalam menyediakan udara yang

segar berikut beberapa tips yang dapat dilakukan:


Sesuaikan ukuran ruangan dengan kapasitas air conditioner.
Jangan diletakkan tepat di depan pintu, karena udara akan lebih mudah keluar ke r
uangan lain.
Jangan letakkan air conditioner terlalu dekat dengan atap. Air conditioner mengam
bil udara dari atas, maka bila terlalu dekat dengan plafon, ruang yang sempit me
nyebabkan udara yang masuk tidak maksimal.
Cuci filter air conditioner 1 bulan sekali.
Lakukan pencucian evaporator AC 3 bulan sekali.
=====================

Contoh menghitung kebutuhan BTU AC


.
11 Desember 2010 pukul 13:45

Kebanyakan rumus menghitung kebutuhan BTU sebuah kamar, umumnya didapat secara e
mpiris yang artinya diramu dari data-data di lapangan atau dari pengalaman, lal
u... sim sala bim... jadilah sebuah formula ajaib
Misalnya rumus empiris yang paling sederhana...
kapasitas BTU/h = luas kamar x 500
contoh :
kamar ukuran 3x3 butuh 4500 BTU/h, yang artinya butuh AC 1/2pk dengan kapasitas
max 5000 BTU/h

Pada Formula Empiris ini tentu saja ada batasan2nya, dimana rumus masih relevan
untuk digunakan, misalnya kondisi iklim seperti kota Jakarta, asumsi tinggi plaf
on kamar 3m, tembok kamar dari bata, isi kamar max. 2 orang per 10m2, dsb.

Apakah tidak ada rumus yang berlaku secara universal, baik untuk kota Bandung, S
urabaya, atau Sydney sekalipun? Bagaimana jika tinggi plafonnya 2m atau 4m? Sebe
rapa perbedaan kebutuhan BTU/h nya jika dindingnya bata, hebel, kaca atau plat b
aja?

Untuk itu butuh ilmu thermodynamic...


'Menghitung BTU' secara thermodynamic jauh lebih ruwet
Bagi yang tertarik untuk belajar ini, silakan lanjutkan...
Bagi yang tidak, lebih baik stop sampai disini... (hanya bikin pusing)

Diantara pembaca yang SMA nya jurusan IPA atau A1, mungkin masih ingat pelajaran
fisika tentang kalor jenis , energi yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sebesa
r 1 derajat Celcius untuk setiap 1 kg berat materialnya.
Contohnya : kalor jenis air 4190 Joule/(kg 'C)
artinya, 1 kg air butuh energi 4190 Joule supaya suhunya naik sebesar 1'C
atau sebaliknya.. air seberat 1 kg suhunya akan turun 1'C jika energinya diambil
sebesar 4190 Joule.

Idem seperti air, udara juga mempunyai kalor jenis.


Maka dengan rumus :

?Q - Penambahan atau pengurangan Energi


c - kalor jenis (kalor jenis udara : 1005 Joule/(kg 'C)
m - massa atau berat = volume x berat jenis (berat jenis udara : 1.2 kg/m3)
?T - perbedaan suhu (suhu akhir - suhu awal)

dapat dihitung berapa energi/panas yang harus diambil dari udara, supaya kamar u
kuran 3x3x3m suhunya dari 30'C turun menjadi 25'C.

Dengan rumus di atas didapat :

?Q = 1005 x 27 x 1.2 x (25 - 30) = - 162810 Joule

dengan 1 Joule = 0.00095 BTU

?Q = - 155 BTU

Tanda minus ( - ) menandakan energi harus diambil/dibuang dari dalam kamar.

Dengan AC 1/2pk yang kemampuan membuang panas sebesar 5000 BTU/jam, maka suhu ud

ara kamar akan turun dari 30'C ke 25'C dalam waktu 112 detik....
Oppst!!! Apa yang salah? Realitanya tidak akan pernah secepat itu.

Tidak ada yang salah dengan rumus dan angka diatas. Itu bisa saja terjadi apabil
a udara di dalam kamar tidak mendapat tambahan energi (panas) sama sekali, entah
dari dinding kamar (dengan asumsi suhu dinding kamar 30'C sama dengan suhu udar
a mula-mula), lantai atau plafon.

Berapa besar tambahan panas yang masuk ke dalam udara tsb, seandainya suhu udara
di dalam kamar 25'C dan di luar kamar 30'C.

Untuk itu kita naik ke level berikutnya..... (break dulu, silakan ambil snack!!)

Hukum Thermodynamic (dalam bahasa gaul) sbb:

Hukum no. 0 (why zero? Dunno)


berbunyi : Seimbang secara thermodynamic artinya suhunya sama. Jika sebuah benda
menempel pada benda lain, maka pada titik kontak pertemuan kedua benda tsb terj
adi keseimbangan thermodynamic, memiliki suhu yang sama.

Hukum no. 1
berbunyi : energi tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan. Tapi hanya berubah da
ri bentuk yang satu ke bentuk yang lain.

Hukum no. 2
berbunyi : panas akan mengalir secara alamiah dari suhu yang lebih tinggi ke suh
u yang lebih rendah.

Hukum no. 3
berbunyi : pada suhu -273.15 derajat Celcius atau 0 Kelvin (K --> Satuan Tempera
tur Standar Internasional), maka semua atom materi berhenti.
Definisi temperatur absolut nol, dimana materi sudah tidak mempunyai panas dan k
ondisi ini tidak mungkin dapat dicapai.

Sepertinya kita harus mulai dari Hukum no.2 yang langsung berkaitan dengan topik
ini.

Bagaimana cara panas mengalir dari suhu yang lebih tinggi ke suhu yang lebih ren
dah?
Hanya melalui 3 cara, konduksi (benda padat), konveksi (cair atau gas) dan radia
si (lewat gelombang, tanpa perlu materi)

Besarnya arus panas secara konduksi dihitung berdasarkan rumus :

? - koefisien daya hantar panas material secara konduksi


A - Luas permukaan dinding
l - tebal dinding
?T - perbedaan suhu dinding T2 dan T1

Sementara arus panas yang melalui benda cair atau gas, seperti udara di dalam ka
mar, mempunyai Temperatur profil yang tidak linear.
Korelasi antara arus panas dan perbedaan suhunya dapat disederhanakan seperti ru
mus konduksi, berbeda di koefisiennya.

h - koefisien daya hantar panas (cairan atau gas)


A - Luas permukaan dinding
?T - perbedaan suhu T3 dan T2

Tidak seperti ? yang merupakan karakteristik material, artinya nilainya pasti un


tuk material tertentu, maka besarnya koefisien daya hantar panas untuk cairan at
au gas (h) juga tergantung pada : ada tidaknya aliran, jenis alirannya (turbulen
atau searah) dan juga kecepatan alirannya.
Secara umum, untuk udara dalam ruangan tertutup, nilai koefisiennya bisa diasums
ikan h= 7.7 W/(m K)

Berdasarkan hukum Thermodynamic no.0, maka dinding kamar merupakan gabungan anta
ra konduksi dan konveksi.

dan dengan sedikit utak-atik rumusnya (spt rangkaian seri dalam elektronika) aka
n didapat

Untuk panas yang melalui radiasi beranjak dari hukum Thermodynamic no.3.
Semua benda memiliki panas, karena suhunya pasti > 0 K, dan yang memiliki panas
berarti juga memancarkan radiasi.
Misalnya : Benda A (T = 100'C = 373K) berhadapan dengan benda B (T = 27'C = 300K
), maka A memancarkan radiasi ke B dan juga B ke A. Namun karena temperatur yang
lebih tinggi, A memancarkan panas lebih banyak daripada B.
Secara total, B menerima radiasi panas dari A, yang merupakan selisih radiasi pa
nas dari keduanya.
Penghitungan radiasi panas menggunakan formula Stefan-Boltzmann. (yg penasaran s
ilakan google sendiri)
Pengaruh radiasi panas baru signifikan pada kasus-kasus dengan temperatur yang s
angat tinggi.
Dalam kasus ini dapat diabaikan.

Nah... setelah lengkap dasar penghitungannya, maka untuk menyelesaikan masalah i


ni, harus dibuat terlebih dulu energy balance sheet (neraca energi) seperti laya
knya neraca keuangan, ada uang keluar dan uang masuk, demikian juga pada neraca
energi ada energi keluar dan energi masuk, seperti pada ilustrasi dibawah ini

Dari ilustrasi di atas maka :

Q (AirCond) = Q (Wall) + Q (Ceiling) + Q (Floor) + Q (Window) + Q (Human) + Q (O


thers)

Contoh:
Sebuah kamar penjara lantai 2 dari bangunan 4 lantai dengan posisi di tengah ban
gunan penjara, ukuran 3x3x3m dengan dinding tebal 20cm dari bata ?=0.8 W/(m K),
lantai dan langit-langit tebal 60cm cor beton ?=2.1W/(m K) dan sebuah pintu besi
?=50W/(m K) setebal 5cm ukuran 1x2m, dihuni oleh 6 napi yang mengeluarkan panas
sebanyak 120W per orang.
Atas dasar peri kemanusiaan, akan dipasang sebuah AC agar suhu di dalam kamar pe
njara menjadi 23'C.

Pertanyaan : berapa kebutuhan BTU/h nya, dengan asumsi suhu dinding luar kamar p
enjara 30'C?

Pintu besi :
A = 2 m
?T = 7 K
d = 0.05 m
?= 50 W/(m K)
h= 7.7 W/(m K)
===> Q - pintu = 107 W

Dinding :
A = 34 m
?T = 7 K
d = 0.2 m
?= 0.8 W/(m K)
h= 7.7 W/(m K)
===> Q - dinding = 627 W

Lantai dan langit langit :


A = 18 m
?T = 7 K
d = 0.6 m
?= 2.1 W/(m K)
h= 7.7 W/(m K)
===> Q - lantai = 303 W

Napi :
===> Q - napi = 6x @120 W = 720w

Q(AC) = Q(pintu) + Q(dinding) + Q(lantai dan langit2) + Q(napi) = 1757 Watt

dengan 1 Watt = 3.412 BTU/h

Q(AC) = 5995 BTU/h

BING