Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN

(PENYULUHAN) BENIGNA PROSTAT HIPERLASIA (BPH) DI


UPTD PUSKESMAS KOPELMA DARUSSALAM
BANDA ACEH
I.

Latar Belakang
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau dalam bahasa umumnya

dinyatakan sebagai pembesaran prostat jinak (PPJ), merupakan suatu penyakit


yang biasa terjadi. Ini di lihat dari frekuensi terjadinya BPH di dunia, di Amerika
secara umum dan di Indonesia secara khususnya.
Di dunia, diperkirakan bilangan penderita BPH adalah seramai 30 juta,
bilangan ini hanya pada kaum pria kerana wanita tidak mempunyai kalenjar
prostat, maka oleh sebab itu, BPH terjadi hanya pada kaum pria. Jika dilihat
secara epidemiologinya, di dunia, dan kita jaraskan menurut usia, maka dapat di
lihat kadar insidensi BPH, pada usia 40-an, kemungkinan seseorang itu menderita
penyakit ini adalah sebesar 40%, dan setelah meningkatnya usia, yakni dalam
rentang usia 60 hingga 70 tahun, persentasenya meningkat menjadi 50% dan
diatas 70 tahun, persen untuk mendapatkannya bisa sehingga 90%. Akan tetapi,
jika di lihat secara histology penyakit BPH, secara umum membabitkan 20% pria
pada usia 40-an, dan meningkat secara dramatis pada pria berusia 60-an, dan 90%
pada usia 70 .
Di indonesia, penyakit pembesaran prostat jinak menjadi urutan kedua
setelah penyakit batu saluran kemih, dan jika dilihat secara umumnya,
diperkirakan hampir 50 persen pria Indonesia yang berusia di atas 50 tahun,
dengan kini usia harapan hidup mencapai 65 tahun ditemukan menderita penyakit
PPJ atau BPH ini. Selanjutnya, 5 persen pria Indonesia sudah masuk ke dalam
lingkungan usia di atas 60 tahun. Oleh itu, jika dilihat, dari 200 juta lebih bilangan
rakyat indonesia, maka dapat diperkirakan 100 juta adalah pria, dan yang berusia
60 tahun dan ke atas adalah kira-kira seramai 5 juta, maka dapat secara umumnya
dinyatakan bahwa kira-kira 2.5 juta pria Indonesia menderita penyakit BPH atau
PPJ ini. Indonesia kini semakin hari semakin maju dan dengan berkembangnya
sesebuah negara, maka usia harapan hidup pasti bertambah dengan sarana yang

11

makin maju dan selesa, maka kadar penderita BPH secara pastinya turut
meningkat.
II. Lokasi dan waktu
Tempat: Posyandu Cut Nyak Dien Desa Kaye Adang Ie Masen
Waktu
: Rabu, 2 Juli 2014
Peserta
: Pasien dan keluarga pasien yang datang ke puskesmas
Kopelma Darussalam
III.

Metode penyuluhan
Dilakukan penyuluhan kepada pasien dan keluarganya yang datang

kepuskesmas yang sebelumnya telah dibagikan brosur tentang Benigna prostat


hiperplasia. Terlebih dahulu disampaikan secara ringkas mengenai Benigna
prostat hiperplasia, kemudian dilakukan tanya jawab

IV.

Penjelasan masalah kesehatan


Di indonesia, penyakit pembesaran prostat jinak menjadi urutan kedua

setelah penyakit batu saluran kemih, dan jika dilihat secara umumnya,
diperkirakan hampir 50 persen pria Indonesia yang berusia di atas 50 tahun,
dengan kini usia harapan hidup mencapai 65 tahun ditemukan menderita penyakit
PPJ atau BPH ini.
V.

Manfaat Penyuluhan

Masyarakat dapat mengetahui tentang BPH


Masyarakat dapat membedakan BPH dan Kanker Prostat
Masyarakat mengetahui akibat dari BPH
Masyarakat memahami gejala gejala BPH

VI.

Tujuan Penyuluhan

12

Untuk mengetahui secara umum tentang kesehatan saluran kemih pada


pria yang sudah berusia diatas 60 tahun sehingga dapat meningkatkan kualitas
hidupnya dengan segera menjumpai petugas medis.
VII.

Materi Penyuluhan

1.

Menjelaskan pengertian BPH


Benigna Prostat Hiperplasia (BPH), secara umumnya boleh dinyatakan

sebagai pembesaran prostat jinak. Maka jelas dari pengertian secara umum
sebelumnya,

terdapatnya

seuatu

yang

menyebabkan

prostat

membesar.

Hiperplasia adalah penambahan ukuran suatu jaringan yang disebabkan oleh


penambahan jumlah sel yang membentuknya. Maka dapat kita nyatakan bahwa
hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang jinak bervariasi berupa
hiperplasia kelenjar. Namun orang sering menyebutnya dengan hipertrofi prostat,
namun secara histologi yang dominan adalah hiperplasia dibanding hipertrofi.
Pengertian BPH secara klinikal, menurut NCI: Definition of Cancer
Terms, BPH adalah suatu pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh
hyperplasia beberapa atau semua komponen dari prostat yang meliputi jaringan
dari kalenjar maupun jaringan fibromuskuler yang menyebabkan terjadinya
penyumbatan uretra prostat dan brsifat non-kanker.
Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa BPH
adalahpembesaran yang terjadi pada kelenjar prostat yang dapat menyebabkan
prostat membesar, jika dilihat secara patologi anatomi, pembesaran ini
menganggu baik kalenjar itu sendiri dan boleh berpoliferasi dan membesar ke
bagian bersebelahan.

2.

Epidemiologi

13

BPH merupakan bagian yang normal dari proses penuaan pada pria. BPH
merupakan penyakit yang sering diderita oleh pria. Berdasarkan angka autopsi
perubahan mikroskopik pada prostat sudah dapat ditemukan pada usia 30-40
tahun. Bila perubahan mikroskopik ini terus berkembang, maka akan terjadi
perubahan patologi anatomik. Di klinik 50% penderita BPH dengan gejala bladder
outlet obstruction (BOO) dijumpai pada kalangan usia 60-69 tahun. Angka ini
meningkat sampai 90% pada usia 85 tahun. Karena proses pembesaran prostat
perlahan-lahan maka efek perubahan juga terjadi perlahan-lahan.
3.

Etiologi
Penyebab pasti BPH ini masih belum diketahui, penilitian sampai tingkat

biologi molekuler belum dapat mengugkapkan dengan jelas etiologi terjadinya


BPH. BPH erat kaitannya dengan ketidakseimbangan hormonal yang dipengaruhi
oleh proses penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya
hiperplasia prostat adalah sebagai berikut:

Teori dihidrotestosteron
Salah satu teori ialah teori Testosteron (T) yaitu T bebas yang dirubah
menjadi Dehydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5 a reduktase yang
merupakan bentuk testosteron yang aktif yang dapat ditangkap oleh
reseptor DHT didalam sitoplasma sel prostat yang kemudian bergabung
dengan reseptor inti sehingga dapat masuk kedalam inti untuk
mengadakan inskripsi pada RNA sehingga akan merangsang sintesis
protein. Teori yang disebut diatas menjadi dasar pengobatan BPH dengan

inhibitor 5a reduktase.
Ketidakseimbangan antara esterogen-testosteron
Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun sedangkan kadar
esterogen relatif tetap, sehingga perbandingan antara esterogen dan
testosteron relatif meningkat. Telah diketahui bahwa esterogen di dalam
prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat
dengan cara meningkatkan sensitivitas sel-sel prostat terhadap rangsangan
hormon

androgen,

meningkatkan

jumlah

reseptor

androgen

dan

menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis). Hasil akhir dari


semua ini adalah, meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat

14

rangsangan testosteron menurun, tetapi sel-sel prostat yang telah ada

mempunyai umur lebih panjang sehingga massa prostat menjadi besar.


Interaksi stroma-epitel
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat tidak secara langsung
dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator tertentu. Setelah selsel stroma mendapatkan stimulasi dari dihidrotestosteron dan estradiol,
sel-sel stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya
mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri secara intrakin dan autokrin, serta
mempengaruhi sel-sel epitel secara parakrin. Stimulasi itu menyebabkan

terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun stroma.


Berkurangnya kematian sel prostat
Program kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme
fisiologik untuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada
jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan
kematian sel. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami
apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi
meningkat sehingga menyebabkan pertambahan massa prostat.
Sampai sekarang belum dapat diterangkan secara pasti factor-faktor yang
menghambat proses apoptosis. Diduga hormone androgen berperan
dalama menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi,
terjadi peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat. Esterogen
diduga mampu memperpanjang usia sel-sel prostat, sedangkan factor

pertumbuhan TGF-b berperan dalam proses apoptosis.


Teori stem sel
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk
sel-sel baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu stem sel, yaitu sel
yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan
sel ini sangat tergantung pada keberadaan hormone androgen, sehingga
jika hormon ini kadarnya menurun seperti yang terjadi pada kastrasi,
menyebabkan terjadinya apoptosis. Terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH
dipostulasikan sebagai ketidaktepatannya aktivitas sel stem sehingga
terjadi produksi yang berlebihan pada sel stroma maupun sel epitel.

4.

Patofisiologi

15

Karena proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan, efek perubahan


juga terjadi perlahan. Pada tahap awal pembesaran prostat menyebabkan
penyempitan lumen uretra pars prostatika. Keadaan ini menyebabkan tekanan
intravesikal meningkat, sehingga untuk mengeluarkan urin, kandung kemih harus
berkontraksi lebih kuat untuk melawan tahanan tersebut. Kontraksi yang terus
menerus ini menyebabkan perubahan anatomik yaitu hipertrofi otot detrusor. Fase
penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi dinding otot. Apabila keadaan
berlanjut, otot detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi
dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi.
Apabila kandung kemih menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin
sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin di dalam kandung kemih,
dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut, pada
suatu saat akan terjadi kemacetan total, sehingga penderita tidak mampu lagi
miksi. Karena produksi urin terus terjadi, pada suatu saat kandung kemih tidak
mampu lagi menampung urin sehingga tekanan intravesika terus meningkat.
Apabila tekanan kandung kemih menjadi lebih tinggi daripada tekanan sfingter
dan obstruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks. Retensi kronik menyebabkan
refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan
ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi, penderita sering kali
mengedan sehingga lama-kelamaan bisa menyebabkan hernia atau hemoroid.
Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Gejala dan
tanda obstruksi saluran kemih adalah penderita harus menunggu keluarnya kemih
pertama, miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi lemah
dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensitivitas otot
detrusor yaitu bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan dan
disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi dengan cukup
kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala
iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau
pembesaran prostat merangsang kandung kemih sehingga sering berkontraksi
meskipun belum penuh. Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu
endapan di dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan
menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistitis dan bila

16

terjadi refluks, dapat terjadi pielonefritis. Gejala dan tanda ini dievaluasi
menggunakan International Prostate Symptom Score (IPSS) untuk menentukan
beratnya keluhan klinis. Analisis gejala ini terdiri atas 7 pertanyaan yang masingmasing memiliki nilai 0 hingga 5 yang memiliki nilai maksimum 35. Keadaan
pasien BPH dapat digolongkan berdasarkan skor yang diperoleh sebagai berikut:

Skor 0-7: bergejala ringan


Skor 8-19: bergejala sedang
Skor 20-35: bergejala berat

Selain 7 pertanyaan diatas, di dalam daftar pertanyaan IPSSterdapat satu


pertanyaan tunggal mengenai kualitas hidup (Quaility of Life atau QoL) yang juga
terdiri dari 7 kemungkinan jawaban.

Dalam 1 bulan

Tidak

Kurang

Kurang

Kadang-

Lebih

Hamp

terakhir

pernah

dari

dari

kadang

dari

ir

sekali

setengah

(sekitar

setengah

selalu

dalam

Skor

50%)

lima
kali
1.Seberapa sering
anda merasa masih
ada sisa selesai
kencing?

2.Seberapa sering
Anda harus kembali
kencing dalam
waktu kurang dari 2
jam setelah selesai
kencing?

3.Seberapa sering
Anda

mendapatkan
bahwa Anda
kencing terputus-

17

putus?
4.Seberapa sering
pancaran kencing
Anda lemah?

5.Seberapa sering
pancaran kencing
Anda lemah?

6.Seberapa sering
Anda harus
mengejan untuk
mulai kencing?

7.Seberapa sering
Anda harus bangun
untuk kencing,
sejak mulai tidur
pada malam hari
hingga bangun di
pagi hari?

Skor IPSS total (pertanyaan 1 sampai 7)=


Senang
sekali

Senang

Pada

Campura

Pada

Tidak

Buruk

umumnya

n antara

umum

bahagia

sekali

puas

puas dan

nya

tidak

tidak
puas

Seandainya
Anda harus
menghabiskansi
sa hidup dengan
fungsi
kencingseperti
saat ini,
bagaimana
perasaan Anda?

Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap epitel.


Kalau pada prostat normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1, maka
pada BPH rasionya meningkat menjadi 4:1, sehingga terjadi peningkatan tonus
otot polos prostat. Dalam hal ini massa prostat yang menyebabkan obstruksi
komponen statik, sedangkan tonus otot polos yang merupakan komponen dinamik
sebagai penyebab obstruksi prostat.
18

5.

Gejala Klinis (Tanda-tanda BPH)


gejala pada saluran kemih bagian bawah terdiri atas sejak obstruksi dan iritatif

yang umumnya meliputi :


a. ingin miksi tapi tidak jadi (Hesistansi).
b. Aliran kemih menjadi lemah, tidak lancar, volume sedikit.
c. Sering miksi di malam hari (nocturia)
d. Masih ada tetesan air kemih setelah miksi (terminal dribbling).
e. Frekuensi miksi bertambah (polakisuria).
f. Adanya perasaan kandung kemih belum kosong semua pada waktu miksi.
g. Perasaan ingin miksi, yang tidak bisa ditahan (urgensi).
h. Kadang kadang miksi tidak dapat ditahan sama sekali (urgen inkontinensia).
i. Perasaan nyeri pada saat kencing (disuria).
j. Retensi urine.
Gejala pada saluran kemih bagian atas :
Keluhan akibat penyulit hiperplasia prostat pada saluran bagia atas berupa
gejala obstruksi antara lain ; nyeri pinggang, benjolan dipinggang (yang merupakan
tanda dari Hydroneprhosis) atau demam yang merupakan tanda dari infeksi atau
urosepsis.
Gejala diluar saluran kemih.
Tidak jarang pasien berobat kedokter karena mengeluh adanya hernia
inguinalis dan hemoroid akibat sering mengejan pada saat meningkatkan tekanan
intra abdomen. Selain itu pada pemeriksaan fisik mungkin di dapat buli - buli yang
terisi penuh dan teraba massa kistik di daerah supra simphisis akibat retensi urine.
Pada pemeriksaan colok dubur didapatkan konsistensi prostat kenyal seperti mraba
ujung hidung, lotus kanan dan kiri simetris dan tidak di dapatkan nodul.

6.

Penatalaksanaan
Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah:
Memperbaiki keluhan miksi
Meningkatkan kualitas hidup
Mengurangi obstruksi infravesika
Mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal

19

Mengurangi volume residu urin setelah miksi


Mencegah progresifitas penyakit
Pilihan terapi adalah mulai dari:
Tanpa terapi (watchful waiting)
Medikamentosa
Terapi intervensi
Di Indonesia, tindakan transurethral resection of the prostate (TURP) masih
merupakan pengobatan terpilih bagi penderita BPH.
Observasi

Watchful
watching

Medikamentosa

Antagonis
adrenergik-

Terapi intervensi
Pembedahan

Invasif minimal

Prostatektomi
terbuka

TUMT

Endourologi:

TUNA

TURP

Stent uretra

TUIP

HIFU

TULP

TUBD

Elektrovaporisasi
Inhibitor reduktase5
Fitoterapi

Namun tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalani tindakan


medik. Kadang penderita yang mengeluh LUTS ringan dapat sembuh tanpa
mendapatkan terapi apapun. Namun di antara mereka akhirnya ada yang
membutuhkan terapi medikamentosa atau tindakan medik lain karena keluhannya
semakin parah.
Terapi non bedah dianjurkan bila nilai IPSS kurang dari 15 dan dianjurkan
tetap melakukan kontrol dengan menentukan nilai IPSS. Terapi bedah dianjurkan
bila nilai IPSS diatas 25 atau bila timbul obstruksi.

20

Prostat dibagi dalam empat derajat dengan tujuan untuk menentukan


penanganannya, yaitu:
Derajat

Colok dubur

Sisa volume urin

Penonjolan prostat, batas


atas mudah diraba

< 50 mL

II

III

Penonjolan prostat jelas,


batas atas dapat dicapai

50.100

Batas atas prostat tidak


dapat diraba

>100 mL

Retensi urin total

IV

Derajat I biasanya belum memerlukan tindakan bedah dan diberikan


pengobatan konservatif seperti antagonis adrenergik-a. Keuntungan antagonis
adrenergi-a adalah

efek positif

segera terhadap

keluhan,

tetapi

tidak

mempengaruhi proses hiperplasia prostat sama sekali. Kekurangannya adalah obat


ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.
Derajat II merupakan indikasi untutk dilakukannya pembedahan. Biasanya
dianjurkan TURP. Kadang derajat II dapat dicoba dengan pengobatan konservatif.
Pada derajat III apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga
reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam, sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka.
Pada derajat IV, tindakan pertama yang harus segera dilakukan adalah
pembebasan retensi urin total dengan memasang kateter atau sistostomi. Setelah
itu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnosis, kemudian
tentukan terapi definitif.
Watchful waiting
Watchful waiting artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi
perkembangan penyakitnya tetap diawasi oleh dokter. Pilihan tanpa terapi ini
ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7, yaitu keluhan ringan
yang tidak menggangu aktivitas sehari-hari. Pada watchful waiting, pasien tidak

21

mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal
yang mungkin dapat memperburuk keluhannya, misalnya:
Jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah
makan malam
Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan iritasi pada
buli-buli (kopi atau cokelat)
Batasi

penggunaan

obat-obat

influenza

yang

mengandung

fenilpropanolamin
Kurangi makanan pedas dan asin
Jangan menahan kencing terlalu lama
Setiap 6 bulan, pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya dan
diperiksa tentang perubahan keluhan yang dirasakan, IPSS, pemeriksaan
laboratorium pemeriksaan laju pancaran urine, maupun volume residual urine.
Jika keluhan miksi bertambah jelek daripada sebelumnya, mungkin perlu
dipikirkan untuk memilih terapi yang lain.
Medikamentosa
Sebagai patokan jika skor IPSS >7 berarti pasien perlu mendapatkan terapi
medikamentosa atau terapi lain. Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha
untuk:
Mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik
penyebab obstruksi infravesika dengan obat-obatan penghambat adrenergik-a
Mengurangi volume prostat sebagai komponen statik dengan cara
menurunkan kadar hormon testosteron atau dihidrotestosteron melalui
penghambat 5a-reduktase
Selain kedua cara diatas, sekarang banyak dipakai terapi menggunakan
fitofarmaka yang mekanismenya belum jelas.
a.Penghambat reseptor adrenergik-
Pengobatan dengan antagonis adrenergik- bertujuan menghambat
kontraksi otot polos prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher buli-buli
dan uretra. Fenoksibenzamine adalah obat antagonis adrenergik- non selektif
yang pertama kali diketahui mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan

22

mengurangi keluhan miksi. Namun obat ini tidak disenangi oleh pasien karena
menyebabkan komplikasi sistemik yang tidak diharapkan, diantaranya adalah
hipotensi postural dan menyebabkan penyulit lain pada sistem kardiovaskuler.
Diketemukannya obat antagonis adrenergik-1 dapat mengurangi penyulit
sistemik yang diakibatkan oleh efek hambatan pada-2 dari fenoksibenzamin.
Beberapa golongan obat antagonis adrenergik-1 yang selektif mempunyai durasi
obat yang pendek (short acting) diantaranya adalah prazosin yang diberikan dua
kali sehari, dan durasi obat yang panjang (long acting) yaitu terazosin, doksazosin,
dan alfuzosin yang cukup diberikan sekali sehari.
Akhir-akhir ini telah diketemukan pula golongan penghambat adrenergik1A, yaitu tamsulosin yang sangat selektif terhadap otot polos prostat. Dilaporkan
obat ini mampu memperbaiki pancaran miksi tanpa menimbulkan efek terhadap
tekanan darah maupun denyut jantung.
b.Penghambat 5-reduktase
Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron
(DHT) daro testosteron yang dikatalisis oleh enzim 5-reduktase di dalam sel
prostat. Menurunnya kadar DHT menyebabkan sintesis protein dan replikasi sel
prostat menurun.
Dilaporkan bahwa pemberian obat ini (finasteride) 5 mg sehari yang
diberikan sekali setelah 6 bulan mampu menyebabkan penurunan prostat hingga
28%, dan hal ini memperbaiki keluhan miksi dan pancaran miksi.
c.Fitofarmaka
Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk
memperbaiki gejala akibat obstruksi prostat, tetapi data-data farmakologik tentang
kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat
ini belum diketahui secara pasti. Kemungkinan fitoterapi bekerja sebagai: antiesterogen, anti-androgen, menurunkan kadar sex hormone binding globulin
(SHBG), inhibisi basic fibroblast growth factor (bFGF) dan epidermal growth
factor (EGF), mengacaukan metabolisme prostaglandin, efek anti inflamasi,
menurunkan outflow resistance, dan memperkecil volume prostat. Diantara

23

fitoterapi yang banyak dipasarkan adalah: Pygeum africanum, Serenoa repens,


Hypoxis rooperi, Radix urtica dan masih banyak lainnya.
Pembedahan
Penyelesaian masalah pasien BPH jangka panjang yang paling baik saat
ini adalah pembedahan, karena pemberian obat-obatan atau terapi non invasif
lainnya membutuhkan jangka waktu yang sangat lama untuk melihat hasil terapi.
Desobstruksi kelenjar prostat akan menyembuhkan gejala obstruksi dan
miksi yang tidak terlampias. Pembedahan direkomendasikan pada pasien BPH
yang:
Tidak menunjukkan perbaikan setelah terapi medikamentosa
Mengalami retensi urin
Infeksi saluran kemih berulang
Hematuria
Gagal ginjal
Timbulnya batu saluran kemih atau penyulit lain akibat obstruksi saluran
kemih bagian bawah
a.Prostatektomi terbuka
Beberapa macam teknik operasi prostatektomi terbuka adalah metode dari
Millin yaitu melakukan enukleasi kelenjar prostat melalui pendekatan retropubik
infravesika, Freyer melalui pendekatan suprapubik transvesika, atau transperineal.
Prostatektomi terbuka adalah tindakan yang paling tua yang masih banyak
dikerjakan saat ini, paling invasif, dan paling efisien sebagai terapi BPH.
Prostatektomi terbuka dapat dilakukan melalui pendekatan suprapubik transvesika
atau infravesika. Prostatektomi terbuka dianjurkan untuk prostat yang sangat besar
(>100 gram).
Penyulit yang dapat terjadi setelah prostatektomi terbuka adalah
inkontinensia urin, impotensi, ejakulasi retrograd, dan kontraktur buli-buli.
Dibandingkan dengan TURP dan TUIP, penyulit yang terjadi berupa striktura
uretra dan ejakulasi retrograd lebih banyak dijumpai pada prostatektomi terbuka.
Perbaikan gejala klinis sebanyak 85-100% dan angka mortalitas sebanyak 2%.

24

b.Endourologi
Saat ini tindakan TURP merupakan operasi paling banyak dikerjakan di
seluruh dunia. Operasi ini lebih disenangi karena tidak diperlukan insisi pada kulit
perut, masa perawatan lebih cepat, dan memberikan hasil yang tidak banyak
berbeda dengan tindakan operasi terbuka. Pembedahan endourologi transuretra
dapat dilakukan dengan memakai tenaga elektrik TURP atau dengan memakai
energi laser. Operasi terhadap prostat berupa reseksi (TURP), insisi (TUIP), atau
evaporasi. Pada TURP, kelenjar prostat dipotong menjadi bagian-bagian jaringan
prostat yang dinamakan cip prostat yang akan dikeluarkan dari buli-buli melalui
evakuator Ellik.
b.1.TURP (transurethral resection of the prostate)
Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dengan mempergunakan
cairan pembilas agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup
oleh darah. Cairan yang digunakan adalah berupa larutan non ionic, yang
dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Cairan yang
sering dipakai dan harganya cukup murah yaitu H2O steril (aquades).
Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga
cairan ini dapat masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang
terbuka pada saat reseksi. Kelebihan H2O dapat menyebabkan terjadinya
hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma
TURP. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah, kesadaran
somnolen, tekanan darah meningkat, dan terdapat bradikardi. Jika tidak segera
diatasi, pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh ke dalam koma
dan meninggal. Angka mortalitas sindroma TURP ini adalah sebesar 0,99%.
Untuk mengurangi resiko timbulnya sindroma TURP operator harus
membatasi diri untuk tidak melakukan reseksi lebih dari 1 jam. Di samping itu
beberapa operator memasang sistostomi suprapubik terlebih dahulu sebelum
reseksi diharapkan dapat mengurangi penyerapan air ke sirkulasi sistemik.
Penggunaan cairan non ionic lain selain H2O yaitu glisin dapat mengurangi resiko
hiponatremia pada TURP, tetapi karena harganya cukup mahal beberapa klinik
urologi di Indonesia lebih memilih pemakaian aquades sebagai cairan irigasi.

25

Selain sindroma TURP beberapa penyulit bisa terjadi pada saat operasi,
pasca bedah dini, maupun pasca bedah lanjut. Penyulit saat operasi meliputi
perdarahan, sindroma TURP, dan perforasi. Penyulit pasca bedah dini meliputi
perdarahan dan infeksi lokal atau sistemik. Penyulit pasca bedah lanjut meliputi
inkontinensia urin, disfungsi ereksi, ejakulasi retrograd, dan striktura uretra.
b.2.TUIP (transurethral incision of the prostate)
TUIP atau insisi leher buli-buli (bladder neck insicion) direkomendasikan
pada prostat yang ukurannya kecil (kurang dari 30 cm3), tidak dijumpai
pembesaran lobus medius, pada pasien yang umurnya masih muda, dan tidak
diketemukan adanya kecurigaan karsinoma prostat. Teknik ini dipopulerkan oleh
Orandi pada tahun 1973, dengan melakukan mono insisi atau bilateral insisi
mempergunakan pisau Colling mulai dari muara ureter, leher buli-buli-sampai ke
verumontanum. Insisi diperdalam hingga kapsula prostat. Waktu yang dibutuhkan
lebih cepat, dan lebih sedikit menimbulkan komplikasi dibandingkan dengan
TURP. TUIP mampu memperbaiki keluhan akibat BPH dan meningkatkan Qmax
meskipun tidak sebaik TURP. Sebelum melakukan tindakan ini, harus
disingkirkan kemungkinan adanya karsinoma prostat dengan melakukan colok
dubur, melakukan pemeriksaan USG transrektal, dan pengukuran kadar PSA.
b.3.Laser prostatektomi
Terdapat 4 jenis energi yang dipakai, yaitu: Nd:YAG, Holmium:YAG,
KTP: YAG, dan diode yang dapat dipancarkan melalui bare fibre, right angle
fibre, atau intersitial fibre. Kelenjar prostat pada suhu 600-650C akan mengalami
koagulasi dan pada suhu yang lebih dari 1000C mengalami vaporisasi.
Jika dibandingkan dengan pembedahan, pemakaian Laser ternyata lebih
sedikit

menimbulkan

komplikasi,

dapat

dikerjakan

secara

poliklinis,

penyembuhan lebih cepat dan dengan hasil yang kurang lebih sama, tetapi
kemampuan dalam meningkatkan perbaikan gejala miksi maupun pancaran
maksimal tidak sebaik TURP. Disamping itu terapi ini membutuhkan terapi ulang
2% setiap tahun. Kekurangannya adalah tidak dapat diperoleh jaringan untuk
pemeriksaan patologi (kecuali pada Ho:YAG), sering banyak menimbulkan
disuria pasca bedah yang dapat berlangsung sampai 2 bulan, tidak langsung dapat

26

miksi spontan setelah operasi, dan peak flow rate lebih rendah dari pada pasca
TURP.
Penggunaan pembedahan dengan energi Laser telah berkembang dengan
pesat akhir-akhir ini. Penelitian klinis memakai Nd:YAG menunjukkan hasil yang
hampir sama dengan cara desobstruksi TURP, terutama dalam perbaikan skor
miksi dan pancaran urine. Meskipun demikian efek lebih lanjut dari Laser masih
belum banyak diketahui. Teknik ini dianjurkan pada pasien yang memakai terapi
antikoagulan dalam jangka waktu lama atau tidak mungkin dilakukan tindakan
TURP karena kesehatannya.
b.4.Elektrovaporasi
Cara elektrovaporisasi prostat hampir mirip dengan TURP, hanya saja
teknik ini memakai roller ball yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang
cukup kuat, sehingga mampu membuat vaporisisai kelenjar prostat. Teknik ini
cukup aman, tidak banyak menimbulkan perdarahan pada saat operasi, dan masa
tinggal di rumah sakit lebih singkat. Namun teknik ini hanya diperuntukkan pada
prostat yang tidak terlalu besar (<50 gram) dan membutuhkan waktu operasi yang
lebih lama.
Tindakan invasif minimal
Selain tindakan invasif, saat ini sedang dikembangkan tindakan invasif
minimal yang terutama ditujukan untuk pasien yang mempunyai resiko tinggi
terhadap pembedahan. Tindakan invasif minimal itu diantaranya:
TUMT (transurethral microwave thermotherapy)
TUNA (transurethral needle ablation of the prostate)
Pemasangan stent (prostacath), HIFU ( high intensity focused ultrasound),
dan dilatasi dengan balon (TUBD atau transurethral balloon dilatation)
a.Thermotherapy
Termoterapi kelenjar prostat adalah pemanasan dengan gelombang mikro
pada frekuensi 915-1293 MHz yang dipancarkan melalui antena yang diletakkan
di dalam uretra. Dengan pemanasan > 450C sehingga menimbulkan destruksi
jaringan pada zona transisional prostat karena nekrosis koagulasi. Makin tinggi

27

suhu di dalam jaringan prostat makin baik hasil klinik yang didapatkan, tetapi
makin banyak menimbulkan efek samping. Prosedur ini seringkali tidak
memerlukan perawatan di rumah sakit, namun masih harus memakai kateter
dalam jangka waktu lama. Sering kali diperlukan waktu 3-6 minggu untuk menilai
kepuasan pasien terhadap terapi ini. Tidak banyak menimbulkan perdarahan
sehingga cocok diindikasikan pada pasien yang memakai terapi antikoagulansia.
Energi yang dihasilkan oleh TUMT berasal dari gelombang mikro yang disalurkan
melalui kateter ke dalam kelenjar prostat sehingga dapat merusak kelenjar prostat
yang diinginkan. Jaringan lain dilindungi oleh sistem pendingin guna menghindari
dari kerusakan selama proses pemanasan berlangsung. Morbiditasnya rendah dan
dapat dikerjakan tanpa pembiusan. TUMT terdiri atas energi rendah dan energi
tinggi. TUMT energi rendah diperuntukkan bagi adenoma yang kecil dan
obstruksi ringan, sedangkan TUMT energi tinggi untuk prostat yang besar dan
obstruksi yang lebih berat. TUMT energi tinggi menghasilkan respon terapi yang
lebih baik, tetapi menimbulkan morbiditas yang lebih besar daripada yang energi
rendah.
b.TUNA (transurethral needle ablation of the prostate)
Teknik ini memakai energi dari frekuensi radio yang menimbulkan panas
sampai mencapai 1000C, sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat. Sistem
ini terdiri atas kateter TUNA yang dihubungkan dengan generator yang dapat
membangkitkan energi pada frekuensi radio 490 kHz. Kateter dimasukkan ke
dalam uretra melalui sistoskopi dengan pemberian anastesi topikal xylocaine
sehingga jarum yang terletak pada ujung kateter terletak pada kelenjar prostat.
Pasien seringkali masih mengeluh hematuria, disuria, kadang-kadang retensi urin,
dan epididimo-orkitis.

c.Stent uretra
Stent prostat dipasang pada uretra pars prostatika untuk mengatasi
obstruksi karena pembesaran prostat. Strent dipasang intraluminal di antara leher
buli-buli dan di sebelah proksimal verumontetum sehingga urin dapat leluasa
melewati lumen uretra pars prostatika. Stent dapat dipasang secara temporer atau

28

permanen. Yang temporer dipasang selama 3-36 bulan dan terbuat dari bahaan
yang tidak diserap dan tidak mengadakan reaksi dengan jaringan. Alat ini
dipasang dan dilepas kembali secara endoskopi.
Stent yang permanen terbuat dari anyaman dari bahan logam super alloy,
nikel atau titanium. Dalam jangka waktu lama bahan ini akan diliputi oleh
urotelium sehingga jika suatu saat ingin dilepas harus membutuhkan anastesi
umum atau regional.
Pemasangan alat ini diperuntukkan bagi pasien yang tidak mungkin
menjalani operasi karena resiko pembedahan yang cukup tinggi. Seringkali stent
dapat terlepas dari insersinya di uretra posterior atau mengalami enkrustasi.
Sayangnya setelah pemasangan kateter ini, pasien masih merasakan keluhan miksi
berupa gejala iritatif, perdarahan uretra, atau rasa tidak enak pada daerah penis.
d.HIFU (high intensity focused ultrasound)
Energi panas yang ditujukan untuk menimbulkan nekrosis pada prostat
berasal dari gelombang ultra dari transduser piezokeramik yang mempunyai
frekuensi 0,5-10MHz. energy dipancarkan melalui alat yang diletakkan transrektal
dan difokuskan ke kelenjar prostat. Teknik ini memerlukan anastesi umum. Data
klinis menunjukkan terjadi perbaikan gejala klinis 50-60% dan Qmax rata-rata
meningkat 40-50%. Efek lebih lanjut dari tindakan belum diketahui, dan
sementara tercatat bahwa kegagalan terapi terjadi sekitar 10% setiap tahun.
VIII. Tanya jawab dengan peserta.
Pertanyaan : Apakah sama benigna prostat hyperplasia dengan kanker prostat ?
Jawab : Beda, BPH atau benigna prostat hyperplasia adalah pembesaran kelenjer
prostat yang bersifat jinak yang di pengaruhi oleh beberapa teori seperti usia,
ketidak seimbangan hoemon testosterone dan estrogen sedangkan kanker prostat
adalah keganasan dari kelenjar prostat yang bersifat invasive dan menyebar
keseluruh tubuh yang berdasarkan staging kanker.
IX.

Penutup

29

Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh


penuaan. Istilah hiperplasia prostat jinak (BPH) sebenarnya merupakan istilah
histopatologis, yaitu terdapat hiperplasia sel-sel stroma dan sel-sel epitel kelenjar
prostat yang biasanya timbul di periuretral dan zona transisi dari kelenjar yang
kemudian menekan kelenjar normal yang tersisa. Pembesaran ini akan
menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan uretra pars prostatika, yang
mengakibatkan berkurangnya aliran kemih dari kandung kemih.
Namun tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalani tindakan
medik. Kadang penderita yang mengeluh LUTS ringan dapat sembuh tanpa
mendapatkan terapi apapun. Namun di antara mereka akhirnya ada yang
membutuhkan terapi medikamentosa atau tindakan medik lain karena keluhannya
semakin parah.
Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah memperbaiki keluhan
miksi,

meningkatkan

kualitas

hidup,

mengurangi

obstruksi

infravesika,

mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal, mengurangi volume residu
urin setelah miksi, dan mencegah progresifitas penyakit.

Banda Aceh, 2 Juli 2014


Disetujui oleh :
Kepala UPTD Puskesmas
Kopelma Darussalam

dr. Amalia
NIP. 19800428 201001 2 014

DokterPembimbing

dr. Oryza Savitri


Peg. 800/SKP/2940/201

Dokumentasi Kegiatan

30

31