Anda di halaman 1dari 6

POST CRANIOTOMY (CRANIOPHARYNGIOMA)

A. DEFINISI
Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung
kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan
otak.
B. KOMPLIKASI POST OPERASI
1. Edema cerebral
2. Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral
3. Hypovolemik syok
4. Hydrocephalus
5. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH

atau

Diabetes

Insipidus)
6. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi.
Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari
dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke
paru-paru,

hati,

dan

otak.

Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif


dini.
7. Infeksi. Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi.
Organisme
stapilokokus

yang

paling

aurens,

sering

menimbulkan

organisme;

gram

infeksi

positif.

adalah

Stapilokokus

mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang


paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik
dan antiseptik.
8. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau
eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.
9. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.
Faktor

penyebab

dehisensi

atau

eviserasi

kesalahan menutup waktu pembedahan

adalah

infeksi

luka,

C. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
2. Mempercepat penyembuhan.
3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum
operasi.
4. Mempertahankan konsep diri pasien.
5. Mempersiapkan pasien pulang.
Perawatan pasca pembedahan :
1. Tindakan keperawatan post operasi
a. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
b. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
c. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati,
jangan sampai drain tercabut.
d. Perawatan luka operasi secara steril.
2. Makanan
Pada pasien pasca pembedahan biasanya

tidak

diperkenankan

menelan makanan sesudah pembedahan. makanan yang dianjurkan


pada pasien post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin
C.

Protein

sangat

diperlukan pada

proses

penyembuhan

luka,

sedangkan vitamin C yang mengandung antioksidan membantu


meningkatkan

daya

tahan

tubuh

untuk

pencegahan

infeksi.

pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral).


Biasanya makanan baru diberikan jika:
a. Perut tidak kembung
b. Peristaltik usus normal
c. Flatus positif
d. Bowel movement positif
3. Mobilisasi
Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar
keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga
harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus.
Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk
melakukan ambulasi dini.
4. Pemenuhan kebutuhan eliminasi
a. Sistem Perkemihan.

1) Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam post


anesthesia inhalasi, IV, spinal.
2) Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi retensio urine.
3) Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi abdomen bawah (distensi
buli-buli).
4) Dower catheter kaji warna, jumlah urine, out put urine < 30 ml /
jam komplikasi ginjal.
b. Sistem Gastrointestinal.
1) Mual muntah 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama
dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat
meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO
2)
3)
4)
5)

meningkat.
Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus.
Kaji paralitic ileus suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.
jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam.
Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif

dengan decompresi dan drainase lambung.


6) Meningkatkan istirahat.
7) Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
8) Memonitor perdarahan.
9) Mencegah obstruksi usus.
10) Irigasi atau pemberian obat.
Proses penyembuhan luka
1. Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak /
rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana
serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.
2. Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh
pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru
tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
3. Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul
jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
4. Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.
Upaya untuk mempercepat penyembuhan luka
1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin C.

2.
3.
4.
5.

Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.


Pencegahan infeksi.
Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan
latihan napas dan batuk efektif, latihan mobilisasi dini.

D. Kriteria Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;
1. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
2. Luka insisi normal tanpa infeksi.
3. Tidak timbul komplikasi.
4. Pola eliminasi lancar.
5. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.
6. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.
7. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :
a. Pengobatan lanjutan.
b. Jenis obat yang diberikan.
c. Diet.
d. Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.

E. PENGKAJIAN
1. Primary Survey
a. Airway
1) Periksa jalan nafas dari sumbatan benda asing (padat, cair)
setelah dilakukan pembedahan akibat pemberian anestesi.
2) Potency jalan nafas, meletakan tangan di atas mulut atau
hidung.
3) Auscultasi paru keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.
b. Breathing
1) Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama
jantung, sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman,
frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau
Ataxia breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing
( kemungkinana karena aspirasi), cenderung terjadi peningkatan
produksi sputum pada jalan napas.
2) Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR < 10
X / menit depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal gangguan
cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang meningkat.

3) Inspeksi: Pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu


pernafasan diafragma, retraksi sternal efek anathesi yang
berlebihan, obstruksi.
c. Circulating
1) Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah
bervariasi. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan
transmisi

rangsangan

parasimpatik

ke

jantung

yang

akan

mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda


peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan frekuensi jantung
(bradikardia,

takikardia

yang

diselingi

dengan

bradikardia,

disritmia).
2) Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit,
balutan.
d. Disability : berfokus pada status neurologi
1) Kaji tingkat kesadaran pasien, tanda-tanda respon mata, respon
motorik dan tanda-tanda vital.
2) Inspeksi respon terhadap rangsang, masalah bicara, kesulitan
menelan, kelemahan atau paralisis ekstremitas, perubahan visual
dan gelisah.
e. Exposure
Kaji balutan bedah pasien terhadap adanya perdarahan
2. Secondary Survey : Pemeriksaan fisik
a. KU, Kesadaran, GCS, TTV
b. Abdomen.
Inspeksi adanya asites, palpasi hati dan pembesaran limpa, bising
usus, distensi abdominal dan peristaltic usus adalah pengkajian
yang harus dilakukan pada gastrointestinal.
c. Ekstremitas
Kemampuan mengangkat tangan dan

kaki,

kekuatan

otot

ekstremitas atas dan ekstremitas bawah, akral (dingin dan pucat).


d. Integumen.
Warna kulit, turgor kulit
e. Pemeriksaan neurologis
Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi
gangguan pada nervus cranialis, maka dapat terjadi :

1) Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian,


konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku
dan memori).
2) Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia,
kehilangan sebagian lapang pandang, foto fobia.
3) Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada
mata.
4) Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh.
5) Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus
vagus menyebabkan kompresi spasmodik diafragma.
6) Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh
kesalah satu sisi, disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan.
3. Tersiery Survey
a. Kardiovaskuler
Klien nampak lemah, kulit dan kunjungtiva pucat dan akral hangat.
Tekanan darah 120/70 mmhg, nadi 120x/menit, kapiler refill 2 detik.
Pemeriksaan laboratorium: HB = 9,9 gr%, HCT= 32 dan PLT = 235.
b. Brain
Klien dalam keadaan sadar, GCS: 4-5-6 (total = 15), klien nampak
lemah, refleks dalam batas normal.
c. Blader
d. Klien terpasang doewer chateter urine tertampung 200 cc, warna
kuning kecoklatan.
F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ganggguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi.
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka insisi.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan higiene luka yang buruk.
4. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan pendarahan.
5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan post
operasi.
6. Pola nafas inefektif berhubungan dengan efek anastesi
7. Bersihan jalan napas inefektif berhubungan dengan penumpukan
secret.
8. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan efek anastesi.
9. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual
muntah.