Anda di halaman 1dari 20

BAB 1. BATUAN BEKU

Batuan beku (Igneous Rock) adalah batuan yang terbentuk langsung oleh pembekuan magma baik di atas permukaan bumi maupun di bawah permukaan bumi. Magma adalah cairan atau larutan silikat pijar yang terbentuk secara alaamiah, bersifat mudah bergerak, bersuhu antara 900°C 1200°C dan berasal ataau terbentuk pada kerak bumi bagian bawah hingga selubung bagian atas. Proses pembekuan tersebut merupakan proses perubahan fase dari cair menjadi padat. Proses pembekuan magma sangat berpengaruh terhadap tekstur dan struktur primer batuan sedangkan komposisi batuan sangat dipengaruhi oleh sifat magma asal. Pada saat suhu mengalami penurunan akan terjadi tahapan perubahan fase dari cair ke padat. Apabila cukup energi pembentukan kristal maka akan terbentuk kristal- kristal mineral berukuran besar sedangkan bila energi pembentukan rendah akan terbentuk kristal yang berukuran halus. Bila pendinginan berlangsung sangat cepat maka kristal tidak akan terbentuk dan cairan magma tersebut membeku menjadi gelas.

1.1 Proses Terbentuknya

Batuan beku berasal dari hasil pendinginan dan pembekuan magma, dimana magma ini merupakan suatu lelehan pijar yang terdiri dari zat-zat yang mobil yang panas bersuhu antara 9000-12000 terbentuk secara alamiah yang merupakan senyawa silikat dan magma juga mengandung gas. Magma berasal dari asteonosfer bumi, yaitu dibawah kerak bumi bagian bawah dan diatas mantel bumi bagian atas. Magma dapat naik kepermukaan bumi adalah akibat gaya-gaya yang terjadi didalam kerak bumi, yaitu pergerakan- pergerakan lempeng. Lempeng yang bergerak saling menjauh akan mengakibatkan pemekaran kerak samudra sehingga memberikan kesempatan magma yang diasteonosfer naik kepermukaan. Magma yang berasal dari asteonosfer akan bersifat lebih basa daripada magma hasil dari pergesekan antara dua lempeng. Ini dipengaruhi oleh komposisi dari masing-masing lempeng yang bergesekan.

1.1.1 Evolusi Magma

Magma utama atau magma primer dapat berubah komposisinya untuk

menghasilkan suatu variasi batuan beku. Ada empat cara yang mengakibatkan perubahan-perubahan tersebut, yaitu :

• Diffrensiasi Magma Merupakan suatu proses dimana magma yang homogen terpisah dalam fraksi-

fraksi dengan komposisi yang berbeda-beda. Barth melakukan perubahan pada diagram yang dibuat oleh Bowen yang menunjukkan adanya reaksi yang pokok, yaitu Discontinous series dan Continous series.

• Assimilasi Evolusi magma dapat juga dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dengan batuan sekitarnya (Wall Rock). Jika magma yang menerobos kepermukaan yang

temperature temperaturnya lebih tinggi daripada batuan sekitarnya sehhingga akan mempengaruhi komposisi magma tersebut, sering terjadi terutama pada magma plutonik karena letaknya yang jauh dari permukaan bumi.

• Proses Pencampuran

Proses Pencampuran terjadi antara dua batuan yang terbentuknya ditempat yang berbeda, seperti batuan vulkanik dan batuan intrusi dangkal dapatjuga dihasilkan dari campuran sebagian kristalisasi, yaitu kristalisasi magma. Contohnya adalah batuan Basalt, Andesit, dan Rhyolit di kolorado dihasilkan dari pergantian erupsi yang cepat dari suatu lubang erupsi.

• Pembekuan magma Mineral-mineral yang pertama terbentuk dari magma biasanya mineral yang anhydrous, pada temperatur tinggi yang hanya mengandung sedikit bahan-bahan atau unsure volatile. Mineral-mineral semacam ini disebut minera-mineral pyrogenetik. Setelah pembentukan mineral-mineral tersebut maka sisa magma akan relatif kaya akan bahan-bahan volatile dan selanjutnya terbentuklah hidroksil. Mineral seperti amphibol dan mika yang disebut hydratogenetik.

1.2 Klasifikasi dan Penamaan

1.2.1

Klasifikasi

A. Berdasarkan tempat kejadiannya (genesa)

1. Batuan beku dalam (plutonik), terbentuk jauh di bawha permukaan bumi. Proses pendinginan sangat lambat sehingga batuan seluruhnya terdiri atas Kristal-kristal (struktur hipokristalin). Contoh: Granit, Granodiorit, dan Gabro.

2. Batuan beku korok (hypabisal), terbentuk pada celah-ceah atau pipa gunung api. Proses pendinginanya berlangsung relative cepat sehingga batuannya terdiri atas Kristal-kristal yang tidak sempurna dan bercampur dengan massa dasarsehingga membentuk struktur porfiritik. Contoh :

Granit porfir, Diorit porfir. 3. Batuan beku luar (ekstrusif) terbentuk di dekat permukaan bumi. Proses pendinginannya berlangsung sangat cepat sehingga tidak sempat membentuk kristal. Struktur batuan ini dinamakan amorf. Contoh:

Obsidian, Riolit dan Batuapung.

B. Berdasarkan komposisi kimia

1. Batuan beku ultrabasa memiliki kandungan silika kurang drai 45 %.

2. Batuan beku basa memiliki kandungan silika 45%-52%

3. Batuan beku intermediet, memiliki kandungan silika antara 52%-66%.

4. Batuan beku asam, memiliki kandungan silika lebih dari 66%.

C. Batuan Beku Non Fragmental Pada umumnya batuan beku nonfragmental berupa batuan beku intrusif

ataupun aliran lava yang tersusun atas kristal-kristal mineral

D. Batuan Beku Fragmental

Batuan beku ini juga dikenal dengan nama batuan piroklastik yang merupakan bagian dari batuan vulkanik. Batuan fragmental secara khusus terbentuk oleh proses vulkanik yang eksplosif (letusan). Bahan-bahan yang diletuskan dari erupsi kemudian mengalami lithifikasi sebelum atau sesudah mengalami perombakan oleh air atau es. Secara genetik batuan beku fragmental

dapat di bagi menjadi 3 tipe utama,yaitu :

endapan jatuhan piroklastik

endapan aliran piroklastik

pyroclastic surge deposits

1.2.2 Penamaan Penamaan batuan beku ditentukan berdasarkan dari komposisi mineral- mineral utama (ditentukan berdasarkan persentase volumenya) dan apabila dalam penentuan komposisi mineralnya sulit ditentukan secara pasti, maka analisis kimia dapat dilakukan untuk memastikan komposisinya. Yang dimaksud dengan klasifikasi batuan beku disini adalah semua batuan beku yang terbentuk seperti yang diuraikan diatas (volkanik, plutonik, extrusive, dan intrusive). Dan batuan beku ini mungkin terbentuk oleh proses magmatik, metamorfosa, atau kristalisasi metasomatism. Penamaan batuan beku didasarkan atas Tekstur Batuan dan Komposisi Mineral. Tekstur batuan beku adalah hubungan antar mineral dan derajat kristalisasinya. Tekstur batuan beku terdiri dari 3 jenis, yaitu Aphanitics (bertekstur halus), Porphyritics (bertekstur halus dan kasar), dan Phanerics (bertekstur kasar). Pada batuan beku kita mengenal derajat kristalisasi batuan: Holohyaline (seluruhnya terdiri dari mineral amorf/gelas)), holocrystalline (seluruhnya terdiri dari kristal), dan hypocrystalline (sebagian teridiri dari amorf dan sebagian kristal). Sedangkan bentuk mineral/butir dalam batuan beku dikenal dengan bentuk mineral: Anhedral, Euhedral, dan Glass/amorf. Komposisi mineral utama batuan adalah mineral penyusun batuan (Rock forming Mineral) dari Bowen series, dapat terdiri dari satu atau lebih mineral. Komposisi mineral dalam batuan beku dapat terdiri dari mineral primer (mineral yang terbentuk pada saat pembentukan batuan / bersamaan pembekuan magma) dan mineral sekunder (mineral yang terbentuk setelah pembentukan batuan). Dalam Tabel diperlihatkan jenis batuan beku Intrusif dan batuan beku Ekstrusif dan batuan Ultramafik beserta komposisi mineral utama dan mineral sedikit yang menyusun pada setiap jenis batuannya.

Tabel Batuan beku berdasarkan kandungan mineral utama dan minor mineral

 

GRANITIS

ANDESITIS

BASALTIS

ULTRAMAFIS

Intrusive

Granite

Diorite

Gabro

Peridotite

Extrusive

Rhyolite

Andesite

Basalt

 

Kuarsa

Amphibole

   

Komposisi

K-Feldspar

Intermediate

Ca-

Olivine

Mineral

Plagioclase

Plagiclase

Na-

Pyroxene

Utama

Plagioclase

(Andesine)

Biotite

Pyroxene

 

Muscovite

     

Mineral

Biotite

Pyroxene

Olivine

Ca-Plagioclase

Sedikit

Amphibole

Amphibole

(Anorthite)

1.3 Komposisi Mineral

Secara garis besar mineral pembentuk batuan dibagi dalam tiga kelompok, yaitu mineral utama, mineral skunder dan mineral tambahan.

1.3.1 Mineral Utama

Mineral-mineral utama penyusun kerak bumi disebut mineral pembentuk batuan, teruutama mineral golongan silikat. Golongan mineral yang berwarna tua/gelap disebut mineral mafik yang kaya akan unsur Mg dan Fe. Sedangkan golongan mineral yang berwarna muda/terang disebut mineral felsik yang miskin

akan unsur Mg dan Fe. Berdasarkan warna dan densitas dikelompokkan menjadi dua yaitu :

1. Mineral felsik (mineral bewarna terang) yaitu :

Kuarsa (SiO2)

Kelompok feldspar,terdiri dari seri feldspar alkali (Kna) AlSi3O8 dan seri plagioklas, anorthoklas, adularia dan mikrolin. Seri plagioklas terdiri dari albit, oligoklas, andesit, labradoriot, bitownit dan labradorit.

Keompok feldspatoid (Na, K alumina silika) terdiri dari nefelin, sodalit, leusit.

2. Mineral mafik (mineral warna gelap) yaitu :

Kelompok olivine terdiri dari fayalite dan forsterite.

Kelompok piroksen terdiri dari enstatit, hiperstein, augite, pigeonit, diopsid.

Kelompok mika terdiri dari biotit muscovite plogopite.

Kelompok ampibol terdiri dari anthofilit, cumingtonit, hornblende, rieberkit, tremolit, aktinolit, gluacofan.

hornblende, rieberkit, tremolit, aktinolit, gluacofan. Gambar Bowen Reaction’s Series 1.3.2 Mineral Sekunder

GambarBowen Reaction’s Series

1.3.2 Mineral Sekunder

Mineral sekunder adalah mineral-mineral yang dibentuk kemudian dari mineral-mineral utama oleh proses pelapukan, sirkulasi air atau larutan dan metamorfosa. Suatu contoh yang baik adalah mineral klorit yang biasanya terbentuk dari mineral biotit oleh proses pelapukan. Mineral ini terdapat pada batuan-batuan yang telah lapuk dan batuan sedimen dan juga pada batuan metamorf. Mineral sekunder terdiri dari:

Kelompok kalsit (kalsit, dolomite, magnesit, siderite) terbentuk dari hasil ubahan mineral plagioklas. Kelompok serpentin (antigorit dan krisotil) terbentuk dari hasil ubahan mineral mafik (terutama kelompok olivine dan piroksen).

Kelompok klorit (proklor, penin talk) umumnya terbentuk dari ubahan kelompok plagioklas. Kelompok sericit sebagai ubahan mineral plagioklas. Kelompok kaolin (kaolin, hallosyte) umumnya ditemukan sebagai hail pelapukan batuan beku.

1.3.3 Mineral Tambahan

Mineral tambahan adalah mineral-mineral yang terbentuk oleh kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah yang sedikit sekali. Umumnya kurang dari 5% sehingga kehadiran atau ketidakhadirannya tidak mempengaruhi sifat dan penamaan dari batuan tersebut. Contohnya adalah mineral magnetit, suatu oksidabesi yang berwarna hitam mempunyai sifat magnetit kuat dan terdapat dalam jumlah yang sedikit dalam batuan beku. Mineral-mineral tambahan dari batuan beku adalah zircon, sphen, magnetit, ilmenit, hematite, apatit, pyriot, rutil, corundum dan garnet.

BAB 2. BATUAN SEDIMEN

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan. (Danang Endarto, 2005). Pada umumnya batuan sedimen dapat dikenali dengan mudah dilapangan dengan adanya perlapisan. Perlapisan pada batuan sedimen disebabkan oleh (1) perbedaan besar butir, seperti misalnya antara batupasir dan batulempung; (2) Perbedaan warna batuan, antara batupasir yang berwarna abu-abu terang dengan batulempung yang berwarna abu-abu kehitaman. Disamping itu, struktur sedimen juga menjadi penciri dari batuan sedimen, seperti struktur silang siur atau struktur gelembur gelombang. Ciri lainnya adalah sifat klastik, yaitu yang tersusun dari fragmen-fragmen lepas hasil pelapukan batuan yang kemudian tersemenkan menjadi batuan sedimen klastik. Disamping itu kandungan fosil juga menjadi penciri dari batuan sedimen, mengingat fosil terbentuk sebagai akibat dari organisme yang terperangkap ketika batuan tersebut diendapkan.

2.1 Sedimen Klastik

Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf dan sedimen itu sendiri. Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis, terbagi dalam dua golongan besar dan pembagian ini berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk dilingkungan darat maupun dilingkungan laut. Batuan yang ukurannya besar seperti breksi dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan di endapkan disekitar gunung tersebut dan dapat juga diendapkan dilingkungan sungai dan batuan batupasir bisa terjadi dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk ke dalam golongan detritus kasar. Sementara itu, golongan detritus halus terdiri dari batuan lanau, serpih dan batua lempung dan napal. Batuan yang

termasuk golongan ini pada umumnya di endapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam. Fragmentasi batuan asal tersebut dimulaiu dari pelapukan mekanis maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan. Setelah pengendapan berlangsung sedimen mengalmi diagenesa yakni, proses proses proses yang berlangsung pada temperatur rendah di dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi. Hal ini merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras. Proses diagenesa antara lain :

1. Kompaksi Sedimen

Yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar

butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat.

2. Sementasi

Yaitu turunnya material material di ruang antar butir sedimen dan secara kimiawi mengikat butir butir sedimen dengan yang lain. Sementasi makin efektif

bila derajat kelurusan larutan pada ruang butir makin besar. Bahan- bahan semen yang lazim adalah : Klasit, oksida, solomit, silika, sulfat, siderit

3. Rekristalisasi

Yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atu sebelumnya.

Rekristalisasi sangat umum terjadi pada pembentukan batuan karbonat.

4. Autiqenesis

Yaitu terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu sedimen. Mineral autigenik ini

yang umum diketahui sebagai berikut : karbonat, silica, klorit, gypsum dll.

5. Metasomatisme Yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa

pengurangan volume asal.

Secara umum, komposisi batuan sedimen klastik dapat berupa :

Klastika/litik (Clasts) (pecahan yang besar, contohnya pasir dan kerikil).

Matrik (Matrix ) (lumpur atau sedimen halus lain yang mengelilingi butiran klastika/fragmen).

Semen ( Cement ) (bahan / mineral yang memegang atau mengikat klastika dan matrik, merupakan produk diagenesis).

2.2 Sedimen Nonklastik

Batuan sedimen non-klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari proses kimiawi, seperti batu halit yang berasal dari hasil evaporasi dan batuan rijang sebagai proses kimiawi. Batuan sedimen non-klastik dapat juga terbentuk sebagai hasil proses organik, seperti batugamping terumbu yang berasal dari organisme yang telah mati atau batubara yang berasal dari sisa tumbuhan yang terubah. Batuan ini terbentuk sebagai proses kimiawi, yaitu material kimiawi yang larut dalam air (terutamanya air laut). Material ini terendapkan karena proses kimiawi seperti proses penguapan membentuk kristal garam, atau dengan bantuan proses biologi (seperti membesarnya cangkang oleh organisme yang mengambil bahan kimia yang ada dalam air).

Dalam keadaan tertentu, proses yang terlibat sangat kompleks, dan sukar untuk dibedakan antara bahan yang terbentuk hasil proses kimia, atau proses biologi (yang juga melibatkan proses kimia secara tak langsung). Jadi lebih sesuai dari kedua-dua jenis sedimen ini dimasukan dalam satu kelas yang sama, yaitu sedimen endapan kimiawi / biokimia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah sedimen evaporit (evaporites), karbonat (carbonates), batugamping dan dolomit (limestones and dolostone), serta batuan bersilika (siliceous rocks), rijang (chert).

2.2.1 Batuan Sedimen Evaporit

Batuan evaporit atau sedimen evaporit terbentuk sebagai hasil proses penguapan (evaporation) air laut. Proses penguapan air laut menjadi uap mengakibatkan tertinggalnya bahan kimia yang pada akhirnya akan menghablur apabila hampir semua kandungan air manjadi uap. Proses pembentukan garam dilakukan dengan cara ini. Proses penguapan ini memerlukan sinar matahari yang cukup lama.

Batuan garam (Rock salt) yang berupa halite (NaCl).

Batuan gipsum (Rock gypsum) yang berupa gypsum (CaSO 4 .2H 2 0)

2.2.2 Batuan Sedimen Karbonat

Batuan sedimen karbonat terbentuk dari hasil proses kimiawi, dan juga proses biokimia. Kelompok batuan karbonat antara lain adalah batugamping dan dolomit. Mineral utama pembentuk batuan karbonat adalah: Kalsit (Calcite) (CaCO 3 ) dan Dolomit (Dolomite) (CaMg(CO 3 ) 2 ). Nama-nama batuan karbonat:

a. Mikrit (Micrite) (microcrystalline limestone), berbutir sangat halus, mempunyai warna kelabu cerah hingga gelap, tersusun dari lumpur karbonat (lime mud) yang juga dikenali sebagai calcilutite.

b. Batugamping oolitik (Oolitic limestone) batugamping yang komponen utamanya terdiri dari bahan atau allokem oolit yang berbentuk bulat

c. Batugamping berfosil (Fossiliferous limestone) merupakan batuan karbonat hasil dari proses biokimia. Fosil yang terdiri dari bahan / mineral kalsit atau dolomit merupakan bahan utama yang membentuk batuan ini.

d. Chalk terdiri dari kumpulan organisme planktonic seperti coccolithophores; fizzes readily in acid

e. Batugamping kristalin (Crystalline limestone)

f. Batugamping intraklastik (intraclastic limestone), pelleted limestone

2.2.3 Batuan Silika

Batuan sedimen silika tersusun dari mineral silika (SiO 2 ). Batuan ini terhasil dari proses kimiawi dan atau biokimia, dan berasal dari kumpulan organisme yang berkomposisi silika seperti diatomae, radiolaria dan sponges. Kadang-kadang batuan karbonat dapat menjadi batuan bersilika apabila terjadi reaksi kimia, dimana mineral silika mengganti kalsium karbonat. Kelompok batuan silika adalah:

a. Diatomite, terlihat seperti kapur (chalk), tetapi tidak bereaksi dengan asam. Berasal dari organisme planktonic yang dikenal dengan diatoms (Diatomaceous Earth).

b. Rijang (Chert), merupakan batuan yang sangat keras dan tahan terhadap proses lelehan, masif atau berlapis, terdiri dari mineral kuarsa mikrokristalin, berwarna cerah hingga gelap. Rijang dapat terbentuk dari hasil proses biologi (kelompok organisme bersilika, atau dapat juga dari proses diagenesis batuan karbonat.

2.2.4 Batuan Organik

Endapan organik terdiri daripada kumpulan material organik yang akhirnya mengeras menjadi batu. Contoh yang paling baik adalah batubara. Serpihan daun dan batang tumbuhan yang tebal dalam suatu cekungan (biasanya dikaitkan dengan lingkungan daratan), apabila mengalami tekanan yang tinggi akan termampatkan, dan akhirnya berubah menjadi bahan hidrokarbon batubara.

BAB 3. BATUAN METAMORF

Batuan metamorf merupakan batuan hasil malihan dari batuan yang telah ada sebelumnya yang ditunjukan dengan adanya perubahan komposisi mineral, tekstur dan struktur batuan yang terjadi pada fase padat (solid rate ) akibat adanya perubahan temperatur, tekanan dan kondisi kimia di kerak bumi. ( Ehlers & Blatt, 1982 )

Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan perubahan fundamental batuan yang sebelumnya telah ada. Panas yang intensif yang dipancarkan oleh suatu massa magma yang sedang mengintrusi menyebabkan metamorfosa kontak. Metamorfosa regional yang meliputi daerah yang sangat luas disebabkan oleh efek tekanan dan panas pada batuan yang terkubur sangat dalam.

3.1 Proses Terbentuknya

Menurut Endarto (2004), proses metamorfisme meliputi:

Proses-proses perubahan fisik yang menyangkut struktur dan tekstur oleh tenaga kristaloblastik (tanaga dari sedimen-sedimen kimia untuk menyusun susunannya sendiri)

2. Proses-proses perubahan susunan mienralogi, sedangkan susunan

kimiawinya tetap (isokimia). Tidak ada perubahan komposisi kimiawi tetapi hanya perubahan ikatan kimia Sedangkan tahap-tahap metamorfisme:

1.

1. Rekristalisasi

Proses ini dibentuk oleh tenaga kristaloblastik. Di sini terjadi penyusunan kristal-kristal dimana elemen-elemen kimia sudah ada sebelumnya. Rekristalisasi

biasanya terbentuk pada batuan monomineralik seperti batulempung, kuarsit, dan dunit (Raymond, 2002).

2. Reorientasi

Proses ini dibentuk oleh tenaga kristaloblastik, di sini pengorentasian kembali dari susunan kristal-kristal, dan ini akan berpengaruh pada tekstur dan struktur yang ada.

3. Pembentukan mineral baru Proses ini terjadi dengan penyusunan kembali elemen-elemen kimiawi yang sebelumnya telah ada.

Batuan metamorf terjadi karena adanya perubahan yang disebabkan oleh proses metamorfosa. Proses metamorfosa merupakan suatu proses pengubahan batuan akibat perubahan tekanan, temperatur dan adanya aktifitas kimia fluida/gas atau variasi dari ketiga faktor tersebut. Prosese metamorfosa merupakan proses isokimia, dimana tidak terjadi penambahan unsur-unsur kimia pada batuan yang mengalami metamorfosa. Temperatur berkisar antara 200 0 C - 800 0 C, tanpa melalui fase cair.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya metamorfosa adadalah perubahan temperature, tekanan dan adanya aktifitas kimia fluida atau gas (Huang WT, 1962).

Perubahan temperatur dapat terjadi oleh karena berbagai macam sebab, antara lain oleh adanya pemanasan akibat intrusi magmatit dan perubahan gradien geothermal. Panas dalam skala kecil juga dapat terjadi akibat adanya gesekan atau friksi selama terjadinya deformasi suatu massa batuan. Pada batuan silikat batas bawah terjadinya metamorfosa pada umumnya pada suhu 150 0 C + 50 0 C yang ditandai dengan munculnya mineral-mineral Mg - carpholite, Glaucophane, Lawsonite, Paragonite, Prehnite atau Slitpnomelane. Sedangkan batas atas terjadinya metamorfosa sebelum terjadi pelelehan adalah berkisar 650 0 C-1100 0 C, tergantung pada jenis batuan asalnya.

Tekanan yang menyebabkan terjadinya suatu metamorfosa bervariasi dasarnya. Metamorfosa akibat intrusi magmatik dapat terjadi mendekati tekanan permukaan yang besarnya beberapa bar saja. Sedangkan metamorfosa yang terjadi pada suatu kompleks ofiolit dapat terjadi dengan tekanan lebih dari 30-40 kBar.

Aktivitas kimiawi fluida dan gas yang berada pada jaringan antara butir batuan, mempunyai peranan yang penting dalam metamorfosa. Fluida aktif yang banyak berperan adalah air beserta karbon dioksida, asam hidroklorik dan

hidroflorik. Umumnya fluida dan gas tersebut bertindak sebagai katalis atau solven serta bersifat membentuk reaksi kimia dan penyetimbang mekanis.

3.2 Klasifikasi dan Penamaan

3.2.1 Klasifikasi

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat dari proses metamorfosa pada batuan yang sudah ada karena perubahan temperatur (T), tekanan

(P), atau Temperatur (T) dan Tekanan (P) secara bersamaan. Klasifikasian tersebut adalah sebagai berikut, yaitu :

a. Berdasarkan Komposisi Kimia Disini ditinjau terhadap unsur-unsur kimia yang terkandung didalam batuan

metamorf, yang akan mencirikan batuan asal sebelum batuan metamorf tersebut terbentuk yang dicirikan dengan kelebihan atau kekurangan kandungan SiO2. Berdasarkan komposisi kimianya, maka batuan metamorf terbagi menjadi lima kelompok, yaitu sebagai berikut.

1. Calcic Metamophic Rock Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang bersifat kalsik

(kaya unsur Al), umumnya terdiri dari batu lempung dan serpih. Contoh :

batu sabak dan phylitic.

2. Quartz Feldpathic Rock

Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang kaya akan unsur kuarsa dan felspar, batuan asal umumnya terdiri dari batu pasir, batuan

beku basa dan lain-lain. Contoh : gneiss.

3. Calcareous Metamorphic Rock

Adalah batuan metamorf yang berasal dari batu gamping dan dolomit. Contoh : marmer (batugamping termetamorfosakan secara kontak maupun regional).

4. Basic Metamorphic Rock

Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan beku basa, semi basa dan menengah. Serta tufa atau batuan sedimen yang bersifat napalan

dengan kandungan unsur-unsur K, Al, Fe, dan Mg.

5. Magnesian Metamorphic Rock Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang kaya akan unsur Mg. Contoh : serpentinit, skiss, klorite.

b. Berdasarkan asosiasi di lapangan

Dipakai kriteria lapangan dan asosiasi mineral serta tekstur yang berhubungan dengan alam, dan penyebab tekanan dan temperatur. Misalnya pada suatu zona sesar kita dapatkan batuan metamorf dengan struktur kataklastik, maka dari sini kita bisa memperkirakan jenis metamorfosanya.

3.2.2 penamaan

Kebanyakan nama batuan metamorf didasarkan pada kenampakan struktur dan teksturnya. Untuk memperjelas banyak dipergunakan kata tambahan yang menunjukkan ciri khusus batuan metamorf tersebut, misalnya keberadaan mineral pencirinya (contohnya sekis, klorit) atau nama batuan beku yang mempunyai komposisi yang sama (contohnya granite, gneiss).

Beberapa nama batuan juga berdasarkan jenis mineral penyusun utamanya (contohnya kuarsit) atau dapat pula dinamakan berdasarkan fasies metamorfiknya (misalnya granulit). Selain batuan yang penamaannya berdasarkan struktur, batuan metamorf lainnya yang banyak dikenal antara lain :

a. Amphibolit yaitu batuan metamorf dengan besar butir sedang sampai kasar dan mineral utama penyusunnya adalah amfibol (umumnya hornblende) dan plagioklas. Batuan ini dapat menunjukkan schystosity bila mineral prismatiknya terorientasi.

b. Eclogit yaitu batuan metamorf dengan besar butir sedang sampai kasar dan mineral penyusun utamanya adalah piroksen ompasit (diopsid kaya sodium dan aluminium) dan garnet kaya pyrope.

c. Granulit, yaitu tekstur batuan metamorf dengan tekstur granoblastik yang tersusun oleh mineral utama kuarsa dan felspar serta sedikit piroksen dan garnet. Kuarsa dan garnet yang pipih kadang dapat menunjukkan struktur gneissic.

d. Serpentinit, yaitu batuan metamorf dengan komposisi mineralnya hampir semuanya berupa mineral kelompok serpentin. Kadang dijumpai mineral tambahan seperti klorit, talk dan karbonat yang umumnya berwarna hijau.

e. Marmer, yaitu batuan metamorf dengan komposisi mineral karbonat (kalsit atau dolomit) dan umumnya bertekstur granoblastik.

f. Skarn, yaitu marmer yang tidak murni karena mengandung mineral calc- silikat seperti garnet, epidot. Umumnya terjadi karena perubahan komposisi batuan disekitar kontak dengan batuan beku.

g. Kuarsit, yaitu batuan metamorf yang mengandung lebih dari 80% kuarsa.

h. Soapstone, yaitu batuan metamorf dengan komposisi mineral utama talk.

i. Rodingit, yaitu batuan metamorf dengan komposisi calc-silikat yang terjadi akibat alterasi metasomatik batuan beku basa didekat batuan beku ultrabasa yang mengalami serpentinitasi.

Penamaan batuan metamorf lainnya dapat didasarkan pada :

a. Berdasarkan tekstur dan struktur. Contoh : batusabak / slate, filit, gneiss, skiss, granulit.

b. Berdasarkan komposisi mineral penyusun yang dominan. Contoh : kwarsit, aphiboit, marmer.

c. Berdasarkan jenis batuan asal dengan menambahkan kata ”meta” didepannya. Contoh : meta batupasir, meta batugamping

3.3 Komposisi Mineral

Mineral-mineral yang terdapat pada batuan metamorf dapat berupa mineral yang berasal dari batuan asalnya maupun dari mineral baru yang terbentuk akibat proses metamorfisme sehingga dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut :

1. Mineral yang umumnya terdapat pada batuan beku dan batuan metamorf seperti kuarsa, felspar, muskovit, biotit, hornblende, piroksen, olivin dan bijih besi.

2. Mineral yang umumnya terdapat pada batuan sedimen dan batuan metamorf seperti kuarsa, muskovit, mineral-mineral lempung, kalsit dan dolomit.

3. Mineral indeks batuan metamorf seperti garnet, andalusit, kianit, silimanit, stautolit, kordierit, epidot dan klorit.

Proses pertumbuhan mineral saat terjadinya metamorfosa pada fase padat dapat dibedakan menjadi secretionary growth, concentrionary growth dan replacement (Ramberg, 1952 dalam Jackson, 1970). Secretionary growth merupakan pertumbuhan kristal hasil reaksi kima fluida yang terdapat pada batuan yang terbentuk akibat adanya tekanan pada batuan tersebut. Concentrionary growth adalah proses pendesakan kristal oleh kristal lainnya untuk membuat ruang pertumbuhan.

Sedangkan replacement merupakan proses penggantian mineral lama oleh mineral baru. Kemampuan mineral untuk membuat ruang bagi pertumbuhannya tidak sama satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat ditunjukkan dengan oleh percobaan Becke, 1904 (Jackson, 1970).

Percobaan ini menghasilkan Seri Kristaloblastik yang menunjukkan bahwa mineral pada seri yang tinggi akan lebih mudah membuat ruang pertumbuhan dengan mendesak mineral pada seri yang lebih rendah. Mineral dengan kekuatan kristaloblastik tinggi umumnya besar dan euhedral.

Tekanan merupakan faktor yang mempengaruhi stabilitas mineral pada batuan metamorf (Huang, 1962). Dalam hal ini dikenal dua golongan mineral yaitu stress mineral dan antistress mineral. Mineral-mineral tersebut umumnya merupakan penciri batuan yang terkena deformasi sangat kuat. seperti sekis.

1. Mineral Stress

Mineral stress adalah suatu mineral yang stabil dalam kondisi tekanan (tahan terhadap tekanan) , dimana mineral dapat terbentuk pipih / tabular, prismatik, maka mineral tersebut akan tumbuh tegak lurus terhadap arah gaya / stress.

Contoh : Mica, Zeolit, Trenmolit, aktinolit, Glaukovan, Hornblende, Klorit, Serpentine, Epidote, Sillimenite, Staurolit, Klanit, Antofilit.

2. Mineral Antistress

Mineral antistress adalah mineral yang terbentuk dalam kondisi tekanan dan biasanya berbentuk equidimensional.

Contoh : Kuarsa, Kalsit, Felspar, Kordierit, Garnet.

Selain mineral stress dan mineral antistress ada juga mineral yang khas dijumpai pada batuan metamorf, antara lain :

Contoh : Sillimenit (1), Garnet (1), Kianit (1), Grafit (2), Epidote (3), Klorit

(3).

Keterangan :

(1) mineral khas dari metamorfosa regional (2) mineral yang khas dari metamorfosa thermal (3) mineral yang khas yang dihasilkan oleh efek larutan kimia.

DAFTAR PUSTAKA

Noor, Djauhari. 2008. Pengantar Geologi. Bogor : Universitas Pakuan.

Tim Asisten Geologi Fisik dan Dinamik. 2011. Panduan Praktikum Geologi Fisik dan Dinamik. Semarang : Universitas Dipenogoro.

KM HMG “ARC-SINKLIN”. 2010. Responsi Geologi Dasar. Bandung : Universitas Padjadjaran.