Anda di halaman 1dari 17

5

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medis


1. Anatomi Fisiologi
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian. Bahan
interseluler adalah cairan yang disebut plasma dan didalamnya terdapat unsur-
unsur, yaitu sel darah. Sel darah normal berbentuk cakram bikonfaf,
konfigurasinya mirip dengan bola lunak yang dipijat diantara dua jari. Dalam
setiap milimeter kubik darah terdapat 5.000.000 sel darah, kalau dilihat satu
persatu warnanya kuning tua pucat, tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah
dan memberi warna pada darah. Strukturnya terdiri atas pembungkus luar atau
stroma, berisi massa hemoglobin. Sel darah merah dewasa tersusun terutama
oleh hemoglobin, yang menyusun sampai 95% masa sel. Adanya sejumlah
besar hemoglobin memungkinkan sel ini menjalankan fungsi utamanya,
transport okseigen antara paru dan jaringan. Pigmen pembawa oksigen
hemoglobin merupakan protein yang berat molekulnya 64.000. Darah
keseluruhan normalnya mengandung 15% hemoglobin per 100 ml/darah atau
30 µm hemoglobin perseribu eritrosit.
Eritrosit muncul dri sel stem primitif dalam sumsum tulang. Eritrosit
adalah sel berinti yang dalam proses pematangan di sumsum tulang
menimbun hemoglobin dan secara bertahap kehilangan intinya. Pada tahap
ini, sel dikenal sebagai retikulosit. Pematangan lebih lanjut menjadi eritrosit,
disertai dengan menghilangnya material berwarna gelap dan sedikit
penyusutan ukuran. Eritrosit matang kemudian dilepaskan dalam sirkulasi.
Untuk produksi eritrosit normal, sumsum tulang memerlukan besi, vitamin
B12, asam folat, piridoksin (vitamin B6) dan faktor lainnya. Defisiensi faktor-

5
6

faktor tersebut selama eritrosit mengakibatkan penurunan produksi sel darah


merah dan anemia.
Rata-rata rentang sel darah yang bersirkulasi adalah 120 hari. Sel
darah merah tua dibuang dari darah oleh sistem retikuloendotelial, khususnya
hati dan limpa. Sel retikuloendotelial menghasilkan pigmen yang disebut
bilirubin, berasal dari hemoglobin yang dilepaskan dari sel darah merah rusak.
Bilirubin merupakan hasil sampah yang diekskresikan dalam empedu. Besi
yang dibebaskan dari hemoglobin selama pembentukan bilirubin, diangkat
dalam plasma ke sumsum tulang dalam keadaan pada protein yang dinamakan
transferin, yang kemudian diolah lagi untuk menghasilkan hemoglobin baru.
Fungsi utama sel darah merah adalah membawa oksigen dari paru ke
jaringan. Eritrosit mempunyai kemampuan khusus melakukan fungsi ini
karena kandungan hemoglobinnya tinggi. Apabila tidak ada hemoglobin,
kapasitas pembawa oksigen darah dapat berkurang sampai 90% dan tentunya
tidak mencukupi kebutuhan metabolisme tubuh. Fungsi penting hemoglobin
adalah kemampuannya mengikat oksigen dengan longgar dan reversibel.
Lekosit dibagi dalam dua kategori, granulosit dan sel mononuklear
(agranulosit). Dalam darah normal jumlah total lekosit adalah 5.000 – 10.000
sel per mm3. lekosit dengan mudah dapat dibedakan dari eritrosit dengan
adanya inti, ukurannya yang besar dan perbedaan kemampuan mengikat
warna. Fungsi lekosit adalah melindungi tubuh terhadap invasi bakteri atau
benda asing lainnya.
Trombosit merupakan partikel kecil, berdiameter 2 – 4 μm yang
terdapat dalam sirkulasi plasma darah. Karena dapat mengalami disintegrasi
cepat dan mudah, jumlahnya selalu berubah antara 150.000 dan 450.000 per
mm3 darah. Tergantung jumlah yang dihasilkan, bagaimana digunakan dan
kecepatan kerusakan. Dibentuk oleh fragmentasi sel raksasa sumsum tulang,
yang disebut megakariosit. Produksi trombosit diatur oleh trombopoetin.
7

Trombosit berperan penting dalam mengontrol perdarahan, apabila terjadi


cedera vaskuler trombosit mengumpul pada tempat cedera tersebut.
(Smeltzer dan Bare, 2001)

2. Pengertian
a. Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk di sumsum
tulang yang dapat menimbulkan kematian, pada keadaan ini jumlah sel-sel
darah yang dihasilkan tidak memadai. (Patofisiologi, edisi 4)
b. Anemia aplastik merupakan keadaan yang disebabkan berkurangnya sel
hematopoetik dalam darah tepi seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit
akibat terhentinya pembentukan sel hemapoetik dalam sumsum tulang
(Kapita Selekta, Jilid 2)

3. Etiologi
a. Faktor genetik
b. Obat-obatan dan bahan kimia
Yang sering menyebabkan anemia aplastik adalah kloramfenikol
sedangkan bahan kimianya ialah senyawa benzen.
c. Radiasi
d. Faktor individu
e. Idiopatik
(Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II)

4. Patofisiologi
Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk di sumsum
tulang yang dapat menimbulkan kematian pada keadaan ini jumlah sel-sel
darah yang dihasilkan tidak memadai. Penderita mengalami pansitopenia yaitu
kekurangan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Secara marfologis
sel-sel darah merah terlihat normositik dan normokrom, hitung retikulosit
8

rendah atau hilang dan biopsi sumsum tulang menunjukkan suatu keadaan
yang disebut “fungsi kering” dengan hipoplasia yang nyata dan terjadi
penggantian dengan jaringan lemak. Langkah-langkah pengobatan terdiri dari
identifikasi dan menghilangkan agen penyebab, namun pada beberapa
keadaan tidak dapat ditemukan agen penyebabnya dan keadaan ini disebut
idiopatik. Beberapa kasus seperti ini di duga merupakan keadaan imunologis.
Kompleks gejala anemia aplastik berkaitan dengan pansitopenia.
Tanda dan gejala anemia sudah dibicarakan. Gejala-gejala lain yang berkaitan
adalah defisiensi trombosit dan sel darah putih. Defisisensi trombosit dapat
mengakibatkan ptekie (Perdarahan dalam kulit). Perdarahan saluran cerna.
(Price, S.A dan Wilson, L.M 1995)
9

Faktor genetik Obat-obatan dan bahan Radiasi Faktor Idiopatik


kimia individu

Gangguan pola sel-sel


induk di sumsum tulang

Pensitopenia

Kekurangan sel darah Kekurangan sel darah Kekurangan trombosit


merah? putih
Perdarahan saluran
Gangguan perfusi jaringan Hipoplasia cerna

Pembuluh darah gagal Penggantian sumsum Gangguan sistem


mengirim O2 tulang dengan lemak pencernaan

Otot jantung kekurangan


Absorpsi makanan
O2
berkurang

Intoleransi
Perubahan
aktivitas
pola nutrisi

(Sumber Price S.A. dan Wilson L.M. 1995)

5. Manifestasi Klinis
10

a. Perdarahan
b. Lemah badan
c. Pusing
d. Jantung berdebar
e. Demam
f. Nafsu makan berkurang
g. Pucat
h. Sesak napas
i. Penglihatan kabur
j. Telinga berdengung
(Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II)

6. Tes Diagnostik
a. Uji kadar hemoglobin dan hematokrit: untuk menentukan jenis dan
penyebab anemia.
b. Indeks sel darah merah
c. Penelitian sel darah putih
d. Hitung trombosit
e. Kadar folat dan vitamin B12 : membantu mendiagnosa anemia sehubungan
dengan defisiensi masukan / absorpsi.
Aselerasi sumsum tulang dan biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam
jumlah ukuran, bentuk dan dapat membedakan tipe anemia.
(Smeltzer and Base, 2001)

7. Penatalaksanaan
11

a. Transpalasi sumsum tulang


b. Pemberian obat imunosupresif
c. Transfusi darah
d. Istirahat yang banyak
e. Makan-makanan yang banyak mengandung nutrisi dan protein
(Smeltzer and Bare, 2001)

8. Komplikasi
a. Gagal jantung
b. Parestesia
c. Kejang
d. Infeksi
(Smeltzer dan Bare, 2001)

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Fisik
a. Aktivitas
Gejala : - Keletihan, kelemahan, malaise umum
- Kehilangan produktivitas; penurunan semangat untuk bekerja
- Toleransi terhadap latihan rendah
- Kebutuhan untuk tidur dan istirahat banyak
Tanda : - Takikardia/takipnea, dispnea pada bekerja/istirahat
- Latergi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada
sekitarnya
- Kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
- Ataksia, tubuh tidak tegak
- Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda-
tanda lain yang menunjukkan keletihan.
b. Sirkulasi
12

Gejala : - Riwayat kehilangan darah kronis


- CHF (akibat kerja jantung berlebihan)
Tanda : - Ekstremitas (warna): Pucat pada kulit dan membran mukosa
(konjungtiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku.
- Rambut: kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara
prematur.
c. Integritas ego
Gejala : - Keyakinan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan
Tanda : - Depresi
d. Eliminasi
Gejala : - Diare atau konstipasi
- Penurunan haluaran urine
Tanda : - Distensi abdomen
- Urine warna kemerahan
e. Makanan/Cairan
Gejala : - Penurunan masukan diet
- Nyeri mulut/lidah, kesulitan menelan
- Penurunan berat badan
Tanda : - Membran mukosa kering, pucat
- Lidah tampak merah
- Bibir pecah-pecah
f. Hygiene
Tanda : - Kurang bertenaga, penampilan tak rapi
g. Neurosensori
Gejala : - Sakit kepala, berdenyut, pusing, ketidakmampuan
berkonsentrasi
- Penurunan penglihatan
- Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki gajah.
h. Nyeri/kenyamanan
13

Gejala : - Nyeri abdomen, sakit kepala.


i. Pernapasan
Gejala : - Napas pendek pada istirahat dan aktivitas
Tanda : - Takipnea, dispnea
- Ronki
- Penurunan bunyi napas
j. Pernapasan
Gejala : - Riwayat infeksi saat ini/dahulu
Tanda : - Demam, menggigil, berkeringat malam
- Perdarahan gusi
k. Seksualitas
Gejala : - Perubahan libido
- Impoten
- Perubahan aliran menstruasi, menoragia pada penyakit
Tanda : - Serviks dan dinding vagina pucat

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan
respon manusia dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akuntabilitas dapat mengidentifikasikan dan memberikan informasi secara
pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan
mengubah (Carpenito, 2000).
Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial
Aktualisasi
dimana berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai
kewenangan memberikan tindakan keperawatan (Nursalam dikutip dari
Harga diri
Gordon, 1976).

Mencintai dan dicintai

Rasa aman dan nyaman

Kebutuhan fisiologis/biologi
14

Menurut Doenges (2000) diagnosa keperawatan yang mungkin timbul


adalah:
a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen (pengiriman) dan kebutuhan
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan mencerna makanan/absorpsi nutrient yang diperlukan
c. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan
perfusi jaringan akibat anemia.
d. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen
akibat destruksi eritrosit.
e. Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit, kondisi dan program
pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

3. Perencanaan Keperawatan
15

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, langkah berikutnya


adalah menetapkan perencanaan keperawatan. Pencernaan meliputi
pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi
masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai
setelah menentukan diagnosa keperawatan dan penyimpulan rencana
dokumentasi.
Beberapa komponen yang perlu diperhatikan untuk mengevaluasi
rencana tindakan keperawatan meliputi menentukan prioritas, menentukan
kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan dokumentasi (Nursalam 2001
hal. 52).
Adapun rencana tindakan dari diagnosa keperawatan yang muncul
pada anemia menurut Doenges (2000 hal 573-580) adalah sebagai berikut:
a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen (pengiriman) dan kebutuhan
Tujuan : Melaporkan peningkatan toleransi aktivita (termasuk
aktivitas sehari-hari)
Kriteria hasil : - Klien melaporkan berkurangnya kelelahan dan
dispnea saat beraktivitas
- Frekuensi nadi 60-100x/menit, pernapasan 12-
20x/menit
Rencana Tindakan:
1) Kaji kemampuan klien untuk melakukan tugas/ADL,
catat laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas.
Rasional:
Mempengaruhi pilihan/intervensi
16

2) Kaji kehilangan/gangguan keseimbangan gaya jalan,


kelemahan otot
Rasional:
Menunjukkan perubahan neurologi karena defisiensi vitamin B12
mempengaruhi keamanan pasien
3) Awasi TD, nadi, pernapasan selama dan sesudah
aktivitas
Rasional:
Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk
membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.
4) Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk
meningkatkan istirahat.
Respon:
Mempertahankan tingkat energi dan meningkatkan regangan pada
sistem jantung dan pernapasan.
5) Rencanakan kemajuan aktivitas dengan pasien,
termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. Tingkatkan tingkat
aktivitas sesuai toleransi.
Rasional:
Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan
memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kehamilan.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan mencerna makanan/absorpsi nutrien yang diperlukan.
Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan atau berat badan
stabil
Kriteria hasil : - Tidak mengalami tanda malnutrisi
- Menunjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk
meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang
sesuai.
17

Rencana Tindakan:
1) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional:
Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan konsumsi
makanan
2) Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional:
Mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi
makanan
3) Timbang berat badan tiap hari
Rasional:
Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi.
4) Berikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau
makan diantara waktu makan.
Rasional:
Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan
pemasukan juga mencegah distensi gaster.
5) Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan
gejala lain yang berhubungan.
Rasinoal:
Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.
c. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan
perfusi jaringan akibat anemia.
Tujuan : Mempertahankan integritas kulit
Kriteria hasil : Mengidentifikasi faktor resiko/perilaku individu untuk
mencegah cedera dermal.
18

Rencana Tindakan:
1) Kaji integritas kulit, catat perubahan pada turgor, gangguan warna,
hangat lokal, eritema, ekskoriasi.
Rasional:
Kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan imobilisasi.
Jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak.
2) Ubah posisi secara periodik dan pijat permukaan tulang bila pasien
tidak bergerak atau di tempat tidur.
Rasional:
Meningkatkan sirkulasi kesemua area kulit membatasi iskemia
jaringan/mepengaruhi hipoksia seluler.
3) Ajarkan permukaan kulit kering dan bersih
Rasional:
Area lembab, terkontaminasi memberikan media yang sangat baik
untuk pertumbuhan organisme patogenik.
4) Bantu untuk latihan rentang gerak pasif atau aktif
Rasional:
Meningkatkan sirkulasi jaringan, mencegah statis
d. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen
akibat destruksi eritrosit.
Tujuan : Menunjukkan perfusi jaringan adekuat
Kriteria hasil : - Tanda-tanda vital stabil
- Membran mukosa merah muda
- Pengisian kapiler baik
19

Rencana Tindakan:
1) Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/membran
mukosa, dasar kuku.
Rasional:
Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan
dan membantu menentukan kebutuhan intervensi.
2) Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi
Rasional:
Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk
kebutuhan seluler.
3) Awasi upaya pernapasan, auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi
adventisius.
Rasional:
Dispnea, gemericik menunjukkan GJK karena regangan jantung
lama/peningkatan kompensasi curah jantung.
4) Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi,
gangguan memori, bingung
Rasional:
Dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia atau
defisiensi vitamin B12.
5) Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh
hangat sesuai indikasi.
Rasional:
Vasokontriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer.
20

e. Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit, kondisi dan program


pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Menyatakan pemahaman proses penyakit, prosedur
diagnostik dan rencana pengobatan.
Kriteria hasil : Klien dan keluarga mengungkapkan bahwa sudah
mengerti penjelasan yang diberikan.

Rencana Tindakan:
1) Berikan informasi tentang anemia spesifik. Diskusikan kenyataan
bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya anemia.
Rasional:
Memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat
pilihan yang tepat.
2) Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostik.
Rasional:
Ansietas/takut tentang ketidaktahuan meningkatkan tingkat stres yang
selanjutnya meningkatkan beban jantung.
3) Jelaskan bahwa darah yang diambil untuk pemeriksaan laboratorium
tidak akan memperburuk anemia.
Rasional:
Ini sering merupakan kekuatiran yang tidak diungkapkan yang dapat
memperkuat ansietas pasien.
4) Tinjau perubahan diet yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
diet khusus (ditentukan oleh tipe anemia/defisiensi)
Rasional:
21

Daging merah, hati, kuning telur, sayuran berdaun hijau, biji bersekam
dan buah yang dikeringkan adalah sumber besi. Sayuran hijau, hati
dan buah asam adalah sumber asam folat dan vitamin C.

5) Kaji sumber-sumber (mis: keuangan dan memasak)


Rasional:
Sumber tidak adekuat dapat mempengaruhi kemampuan untuk
membuat/menyiapkan makanan yang tepat.

4. Perencanaan
Perencanaan pulang dilakukan dari sejak klien pertama masuk Rumah
Sakit. Hal-hal yang perlu diberitahukan kepada klien sehubungan dengan
perencanaan pulang:
a. Pengetahuan tentang penyakit anemia.
b. Pengetahuan tentang penyebab penyakit anemia.
c. Pengetahuan tentang penanganan penyakit anemia.
d. Pengetahuan tentang pencegahan penyakit anemia, meliputi:
- Mendorong asupan nutrisi yang esensial
- Penggunaan terapi/obat medis
Menurut Doenges 2000, hal 573 hal-hal tujuan pemulangan adalah
sebagai berikut:
a. Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi mandiri atau dengan bantuan
orang lain
b. Komplikasi tercegah/minimal
c. Proses penyakit/prognosis dan program terapi dipahami