Anda di halaman 1dari 37

c c 


: Setelah mempelajari topik perkuliahan


ini mahasiswa akan dapat :


1. Menjelaskan pengertian dosis dan
respon dalam toksikologi
2. Menjelaskan hubungan antara dosis dan
respon dalam toksikologi
3. Menghitung dosis dan respon, letal dan
subletal.
c c 

] idak ada zat kimia yang benar-benar aman dan


tidak ada zat kimia yang dianggap benar-benar
berbahaya.

] at kimia apapun diijinkan untuk bersentuhan


dengan suatu mekanisme biologi, tanpa
menimbulkan efek tertentu asalkan kadar zat
kimia tersebut berada di bawah tingkat efektif
minimal.

] Segala zat kimia dapat menimbulkan efek yang


tidak diinginkan jika kadarnya cukup besar.
Satu-satunya faktor yang paling menentukan
potensi bahaya atau amannya suatu senyawa
hubungan antara kadar zat kimia itu dan efek
yang ditimbulkannya atas mekanisme biologi
tertentu.
] ntara efek akhir yang diwujudkan sebagai ` `
  `  ` ` `   terdapat
suatu kisaran kadar zat yang akan memberikan
suatu efek bertingkat diantara dua jenis titik
ekstrim tersebut (ada dan tidak ada respon)

PERCOB PEE P SR OSS


  
c 

] Perkiraan dampak pencemar terhadap lingkungan


memerlukan pengetahuan yang luas tentang dosis dan
dampak.
] c  umlah materi atau substansi yang dihirup,
dicerna atau diserap lewat kulit atau juga jumlah yang
suntikan atau dimasukkan.
] asil konferensi Stockhom (U.., 1972) menyebutkan
pengertian dosis sebagai      atau pendedahan
jumlah agen fisik atau kimiawi yang mencapai sasaran atau
target.
] Menurut ordberg (1976), dosis jumlah atau
konsentrasi dari suatu senyawa kimia yang ada pada lokasi
dampak pada setiap saat setelah pengambilan  ` 
tunggal atau pada permulaan pengambilan kronis.
] da 2 istilah penting yang berkaitan dengan
dosis ini yaitu intake dan uptake.
] ntake masuknya suatu senyawa ke
paru-paru, organ
pencernaan makanan atau
jaringan subkutan dari hewan.
asib dari senyawa ini
ditentukan oleh proses
penyerapan.
] Uptake penyerapan dari suatu senyawa
ke dalam cairan ekstra
seluler. asib dari senyawa
yang diserap akan
ditentukan oleh proses
metabolisme.
] osis dapat dihitung dengan cara ES RUS
dan O-ES RUS (tidak langsung)
] Secara tidak langsung dosis dapat diukur dari
perhitungan uptake atau Persamaan Retensi
atau konsentrasi yang ada di ekskreta atau
perhitungan distribusi yang ada di berbagai
jaringan tubuh.
] aju dosis w   fungsi dari
konsentrasi
] osis total w  konsentrasi X
waktu
c        

C (x) = onsentrasi pada waktu 
C (t) = onsentrasi pada waktu 
Q (t) = umlah [encemar di dalam massa 
pada waktu 
m = Massa dari tubuh/organ
] andungan pencemar dalam organ/tubuh
menurut Butler (1972) dapat dihitung dengan
persamaan
q (t) = 0œt (s) Rs (t ± s) ds
q (t) = jumlah pencemar dalam tubuh
pada waktu 
(s) = aju Uptake pada waktu
Rs    = Fraksi sisa dari uptake tunggal
setelah waktu   
BEBERP CO O UP E
 ` ` ` `
Î Manusia bisa tercemar udara, sehingga fraksi
partikel yang ikut bersama pernafasan sesuai
ukuran partikel.
Î Partikel yang masuk bersama pernapasan dibagi ke
dalam tiga kelas berdasarkan lamanya tinggal di
paru-paru, yaitu :  (hari); W (minggu); dan Y
(tahun)
Î Persamaan dari partikel yang diserap adalah
sebagai berikut :
Mc   !" #   M
M    #   M
M    #  $ M
M  ` ` ` % &`  ` ` ` 
 `%` '``  ` %% 
 ` ` `
Î aju pengambilan pencemar via makanan
tergantung dari laju metabolisme dan
pertumbuhan
 (t)penc = Cf (0,25 m 0,8 + 2  ) fr (g/hari)
 (t)penc = aju penyerapan dari usus (g/hari)
Cf = onsentrasi pencemar dalam
makanan (g/g)
m = Massa tubuh (g)
dm/dt = aju pertumbuhan (g/hari)
fr = Bagian yang diserap dari usus
Penyerapan pencemar via insang ikan air tawar
tergantung laju metabolisme (20º C)
 (t)Resp = 1000 X m 0,8 + Cw X fr (g/hari)
 (t)Resp = aju penyerapan via insang (g/hari)
m = Massa tubuh (g)
Cw = aju pertumbuhan (g/hari)
Fr = Bagian yang diserap dari insang
¢ ` ` ```
Î Salah satu data dari penyerapan pencemar
oleh tanaman darat didapat dari studi 90Sr yang
berbahaya bagi kesehatan manusia (Burton 

1960)
C = Pd Fd + Pr Fr
C = onsentrasi rata-rata 90Sr dalam susu
sapi (pCi/g)
Pd = Faktor tanah
Fd = eposit menyeluruh 90Sr dalam tanah
(mCi/km2)
Pr = Faktor laju
Fr = aju jatuhan tahunan dari 90Sr
(mCi/km2)
] Pada tanaman air, penyerapan
pencemar air oleh batang dan
daun > penting dari akar
4``` ¢
4`
= Waktu tumbuh (hari)


 

Efek toksik terjadi bila bahan kimia
mencapai organ target pada konsentrasi
dan lama waktu yang cukup
erjadinya respons toksik tergantung :
1. Sifat kimia dan fisik bahan toksik
2. Situasi pemaparan dan
3. erentanan sistem biologis dari subjek
Faktor utama yang mempengaruhi
toksisitas yang berhubungan dengan
situasi pemaparan terhadap bahan kimia
adalah :
Ô       
 
 
    
 UR MSU  EMP PEMPR
alur utama bahan toksik masuk ke tubuh :
1. Saluran pencernaan (ingesti);
2. Paru-paru (inhalasi);
3. ulit (topikal) dan
4. alur parenteral lain.
] Penyebab efek paling besar dan respons cepat
intravena > inhalasi > intra peritonial > subkutan
> intramuskular > intradermal > oral > topikal
] Bahan kimia yang didetoksifikasi di hati akan <
toksik bila diberikan via oral d/p via inhalasi
] Pemaparan bahan toksik di lingkungan industri
inhalasi dan topikal, sedangkan keracunan
akibat kecelakaan/bunuh diri ingesti oral
Ô(
 
) c *
) 
Empat kategori pemaparan bahan kimia :
1. kut < 24 jam
2. Sub ± akut pemaparan berulang ”
1 bulan
3. Sub ± kronik pemaparan berulang >
1 - 3 bulan
4. ronik pemaparan berulang > 3
bulan
Efek toksik setalah pemaparan tunggal
berbeda dengan efek pemaparan
berulang
Ex : Benzene tunggal toksik akut
depresi ssp
Benzene berulang leukemia
 
4

] Efek dari dua bahan kimia yang diberikan
secara bersamaan bisa berdampak aditif,
sinergis atau antagonis
] Efek c * efek gabungan dari
dua bahan kimia sama dengan jumlah dari
efek masing-masing bila diberikan sendiri-
sendiri (2 + 3 = 5)
Ex : ua pestisida OP terhadap
penghambatan ChE
] Efek  
OS dua bahan
kimia diberikan bersama, efeknya
saling mempengaruhi
(4 + 0 = 1) (4 + 6 = 8), 4 + (-4) = 0
] PO ESS suatu senyawa
kimia tidak mempunyai efek toksik
terhadap sistem organ tertentu,
namun bila ditambahkan ke bahan
kimia lain akan > toksik
0 + 2 = 10
Ex : sopropanol (tidak bersifat
hepatotoksik) namun bila diberikan
di samping pemberian CC 4
efek hepatotoksik CC 4 >
c    
] arakteristik pemaparan dan spektrum efek
secara bersamaan membutuhkan
UBU
 OSS ± RESPOS
konsep dasar toksikologi
] Beberapa asumsi yang harus
dipertimbangkan dalam hubungan dosis ±
respon (
b.1)
] Respon timbul karena bahan kimia yang
diberikan merupakan hubungan sebab
akibat atau kausal.
] Respon pada kenyataannya berhubungan
dengan dosis.

ambar 1. iagram hubungan osis ± Respons (dosis dalam mg/kg
diplot dalam skala logaritma)

Respon Merupakan asil ari Berbagai osis Yang


iberikan ubungan Sebab kibat arus
iketahui
] arus ada metode kuantitatif untuk mengukur
dan mengemukakan secara tepat toksisitas dari
suatu bahan kimia.
] alam toksikologi kurva yang menghubungkan
dosis zat kimia dengan presentase kumulatif
organisme yang meberikan respon URV
OSS ± RESPO (
b.2) dosis kecil tidak
ada respon, dosis besar merespon semua
Persen angka kematian dikonversikan menjadi probit
angka kematian 50 % = probit 5; 50 % 1
S = probit 6 atau 4; 50 % 2 S = probit 7 atau 3

(`+` 
` c    +` ` ` `  ` 
&` + ` ` ` `  %`    +% &`
``
OSEP S  S   50
] Sebagian besar kurva dosis respons adalah
linier timbulnya resepon berkaitan
dengan dosis Berbahaya/mannya
senyawa kimia tergantung pada dosisnya
] 50 dosis tunggal dari suatu zat yang
secara statistik dapat diharapkan untuk
menyebabkan kematian sebanyak
50 % organisme uji.
] iperoleh secara statistika (Metode
rafik
itchifield dan Wilcoxon, 1949; Metode ertas

rafik Probit ogaritma Miller & ainer, 1994)
] 16 50 ± 1 S
] 64 50 + 1 S
Persen angka kematian dikonversikan menjadi probit
angka kematian 50 % = probit 5; 50 % 1
S = probit 6 atau 4; 50 % 2 S = probit 7 atau 3

 ``,
arga 50 senyawa B> senyawa 
senyawa B kurang toksik dari pada  atau
senyawa  > bahaya dari B
berdasarkan dosis dan letalitas untuk
menggambarkan toksisitas relatif 2
senyawa perlu ada hubungan
antara dosis yang diperlukan untuk
menimbulkan efek yang setingkat.
PO ES W OSS S

] 50 senyawa B > 50 senyawa 


senyawa B < poten d/p  (
b. 2)
] Bila dosis dan letalitas, merupakan satu-satunya
pertimbangan senyawa  > toksik d/p B

Potensi (dipandang dari segi kuantitas zat yang


terlibat), sedang toksisitas (dipandang dari segi
berbahayanya) merupakan hubungan relatif
yang hanya digunakan dengan zat kimia
lainnya.
Penggolongan toksisitas berdasar jumlah
besarnya zat kimia yang menimbulkan bahaya :
1. uar biasa toksik (” 1 mg/kg)
2. Sangat toksik ( 1 -50 mg/kg)
3. Cukup toksik (50 ± 500 mg/kg)
4. Sedikit toksik (0,5 ± 5 g/kg)
5. idak toksik (5 ± 15 g/kg)
6. Relatif kurang berbahaya (> 15 g/kg)
] Bila dasar anggapan sifat ³sangat toksik´ itu
karena dosis letalnya kecil c
akan ditarik garis batas untuk memisahkan yang
toksik dari yang non toksik ? (
b.3)
] onsep toksisitas sebagai fenomena
relatif hanya benar bila slop kurva
kekerabatan dosis ± respons untuk
berbagai senyawa tersebut identik.
] 50 senyawa C < d/p 50 senyawa
, tetapi 5 senyawa  < 5
senyawa C
(+ ¢ c`` 4+` c      &``  % +-
'` ` ` ` &`` 
et :
] 50 senyawa  dan B sama 8 mg/kg tapi
dosis setengah 50 (4 mg/kg) yang terpapar
senyawa  20 % mengalami kematian
] Perlu ditentukan batas keamanan memisahkan
yang toksik dan non toksik
] Bila dosis merupakan satu-satunya
pertimbangan, bisa jadi C < toksik 
( 5C < 5)
] Pada sisi lain C > toksik  respons
paling nyata berkaitan dengan
perbandingan toksisitas relatif dua
senyawa.

 

] Batas keamanan besaran
kisaran dosis yang dilibatkan yang
bergerak dari suatu dosis tidak efektif
sampai dosis letal (
b. 4)
(`+` ¢`
` c     4   +` ` ` ` 
` c &` + ` ` ` `  %`    +% &`
``.
 

] Batas keamanan besaran
kisaran dosis yang dilibatkan yang
bergerak dari suatu dosis tidak efektif
sampai dosis letal (
b. 4)
] Slop dari kurva dosis ± respons merupakan
indeks batas keamanan.
] Batas keamanan (bagi ahli farmakologi)
] isaran dosis yang menimbulkan efek letal
dengan dosis yang menimbulkan efek yang
diinginkan (
b. 5)
ndeks erapi = rc indeks terapi tinggi
c efek letal sedikit
E = efek terapi obat
E = efek dosis respons terapi kumulatif
 = efek letal obat
 = etal osis respon letal kumulatif
E50 dan 50 bagi 50 % hewan uji
(`+` !
` c     4   +` ` ` ` 
* ` ( &` + ` ` ` `  %`    +%
&` ``

 `` ,
] Senyawa E kisaran dosis cukup
besar yang bergerak antara tanpa efek dan
efek 100 % yang tidak timbal balik
] Senyawa F kisaran lebih kecil dari
E
] Senyawa
dosis harus sangat
kecil supaya efeknya kurang dari letal

 %` : senyawa E memiliki batas
keamanan yang lebih besar dari senyawa

dan F

ambar 5. urva osis ± Respons bagi suatu obat yang diberikan
pada populasi hewan yang seragam. urva  melukiskan efek terapi
dan kurva B melukiskan efek letal.

 ``,
] alau kurva letalitas digeser ke kiri sehingga
mendekati kurva efektif maka rasio indeks
terapinya menjadi lebih kecil batas
keamanan berkurang toksisitas
senyawanya bertambah.
``  ```
] isaran dosis yang menimbulkan efek letal dan
dosis yang menimbulkan efek yang diinginkan.
ERM S
 S
PER Y