Anda di halaman 1dari 18

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

KEPERAWATAN JIWA II
DEFISIT PERAWATAN DIRI

Disusun Oleh
KELOMPOK VII

M.yusuf
M.rijoi Novian arvyan dinata

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM 2010

LAPORAN PENDAHULUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI A. Definisi Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004). Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya (Tarwoto dan Wartonah 2000). B. Jenis-Jenis Perawatan Diri 1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri. 2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias. Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri. 3. Kurang perawatan diri : Makan Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan. 4. Kurang perawatan diri : Toileting Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ). C. Etiologi Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut :

1. Kelelahan fisik 2. Penurunan kesadaran Menurut Dep Kes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah : 1. Faktor prediposisi a. Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu. b. Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri. c. Kemampuan realitas turun Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri. d. Sosial Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri. 2. Faktor presipitasi Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. Menurut Depkes (2000: 59) Faktor faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah: 1. Body Image Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya. 2. Praktik Sosial Pada anak anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. 3. Status Sosial Ekonomi

Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya. 4. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya. 5. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan. 6. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain- lain. 7. Kondisi fisik atau psikis Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya. Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene. 1. Dampak fisik Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku. 2. Dampak psikososial Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial. D. Tanda Dan Gejala Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:

1.

Fisik Badan bau, pakaian kotor. Rambut dan kulit kotor. Kuku panjang dan kotor Gigi kotor disertai mulut bau Penampilan tidak rapi

2.

Psikologis Malas, tidak ada inisiatif. Menarik diri, isolasi diri. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.

3.

Sosial Interaksi kurang. Kegiatan kurang Tidak mampu berperilaku sesuai norma. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri. Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah : a. Data subyektif 1. 2. 3. 1. 2. 3. 4. 5. Pasien merasa lemah Malas untuk beraktivitas Merasa tidak berdaya. Rambut kotor, acak acakan Badan dan pakaian kotor dan bau Mulut dan gigi bau. Kulit kusam dan kotor Kuku panjang dan tidak terawatt

b. Data obyektif

E. Mekanisme Koping 1. Regresi 2. Penyangkalan 3. Isolasi diri, menarik diri 4. Intelektualisasi

F. Rentang Respon Kognitif Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri sendiri adalah : a. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri. Bina hubungan saling percaya. Bicarakan tentang pentingnya kebersihan. Kuatkan kemampuan klien merawat diri. b. Membimbing dan menolong klien merawat diri. Bantu klien merawat diri Ajarkan ketrampilan secara bertahap Buatkan jadwal kegiatan setiap hari c. Ciptakan lingkungan yang mendukung Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya, kamar mandi yang dekat dan tertutup. G. Pohon Masalah Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri

Isolasi sosial

Defisit perawatan diri : mandi, toileting, makan, berhias

H. .Diagnosa Keperawatan Berdasarkan data didapat, masalah keperawatannya adalah defisit perawatan diri :Personal Higiene,berhias,makan,dan eliminasi. I. Tindakan keperawatan a. Tindakan Keperawatan pada pasien 1) Tujuan keperawatan

Pasien mampu melakukan keberishan diri secara mandiri Pasien mampu melakukan berhias secara baik Pasien mampu melakukan makan dengan baik Pasien mampu melakukan eliminasi secara mandiri

2) Tindakan keperawatan pada pasien a) Melatih pasien cara perawatan kebersihan diri dengan cara : diri Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri Melatih pasien mempraktikkan cara menjaga Menjelaskan pentingnya menjaga akebersihan diri Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan

kebersihan diri b) Membantu pasien latihan berhias Latihan berhias pada pria harus dibedakan dengan wanita. Pada pasien laki-laki, latihan meliputi latihan berpakaian, menyisir rambut dan bercukur, sedangkan pada psien perempuan latihan meliputi latihan berpakaian, menyisir rambut dan berhias ataua berdandan. c) Melatih pasien makan secara mandiri dengan cara : Menjelaskan cara mempersiapkan makan Menjelaskan cara makan yang tertib Menjelaskan cara merapikan peralatan makan Mempraktikkan cara makan yang baik

setelah makan d) Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri dengan cara : Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai Menjelaskan cara membersihan diri setelah Menjelaskan cara membersikan tempat BAB/BAK

BAB/BAK b. Tindakan keperawatan pada keluarga 1) Tujuan Keperawatan

Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami defisit perawatan diri. 2) Tindakan keperawatan Untuk memantau pasien dalam melakukan cara perawatan diri yang baik, perawat harus melakukan tindakan agar keluarga dapat meneruskan melatih dan mendukung pasien sehingga kemampuan pasien perawatan diri meningkat . Tindakan yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain : a) Diskusikan dengan keluarga tentang masalah yang dihadapi oleh keluarga dalam merawat pasien b) Jelaskan pentingnya perawatan diri untuk mengurasi stigma c) Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas perawatan diri yang dibutuhkan oleh pasien untuk menjaga perawat diri pasien d) Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam melakukan perawatan diri pasien dan membantu mengingatkan pasien untuk perawatan diri. e) Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan pasiendalam merawat diri f) Bantu keluarga dalam melatih merawat pasien drefisit perawata diri. J. FOKUS INTERVENSI

1. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri. a. Tujuan Umum Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri. b. Tujuan Khusus 1) TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. a) Kriteria evaluasi Dalam berinteraksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat :

klien. diri.

Wajah cerah, tersenyum Mau berkenalan Ada kontak mata Menerima kehadiran perawat Bersedia menceritakan perasaannya Berikan salam setiap berinteraksi. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi Buat kontrak interaksi yang jelas. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan Penuhi kebutuhan dasar klien.

b) Intervensi

tujuan perawat berkenalan.

berinteraksi.

empati. 2) TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan a) Kriteria evaluasi Klien dapat menyebutkan kebersihan diri pada waktu 2 kali pertemuan, mampu menyebutkan kembali kebersihan untuk kesehatan seperti mencegah penyakit dan klien dapat meningkatkan cara merawat diri. b) Intervensi Bina hubungan saling percaya dengan Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik. diri dengan cara menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda- tanda bersih.

Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali

kebersihan diri. pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri. Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri Beri reinforcement positif setelah klien mampu Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri. mengungkapkan arti kebersihan diri. seperti: mandi 2 kali pagi dan sore, sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur), keramas dan menyisir rambut, gunting kuku jika panjang. 3) TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat. a) Kriteria evaluasi Klien berusaha untuk memelihara kebersihan diri seperti mandi pakai sabun dan disiram pakai air sampai bersih, mengganti pakaian bersih seharihari, dan merapikan penampilan. b) Intervensi Motivasi klien untuk mandi. Beri kesempatan untuk mandi, beri kesempatan

klien untuk mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar. Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari. Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk

merapikan rambut. pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri, seperti mandi dan kebersihan kamar mandi.

Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan

fasilitas kebersihan diri seperti odol, sikat gigi, shampoo, pakaian ganti, handuk dan sandal. 4) TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri. a) Kriteria evaluasi Setelah satu minggu klien dapat melakukan perawatan kebersihan diri secara rutin dan teratur tanpa anjuran, seperti mandi pagi dan sore, ganti baju setiap hari, penampilan bersih dan rapi. b) Intervensi Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur, ingatkan untuk mencuci rambut, menyisir, gosok gigi, ganti baju dan pakai sandal. 5) TUK V : Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri. a) Kriteria evaluasi Klien selalu tampak bersih dan rapi. b) Intervensi Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri.

6) TUK VI : Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri. a) Kriteria evaluasi Keluarga selalu mengingatkan halhal yang berhubungan dengan kebersihan diri, keluarga menyiapkan sarana untuk membantu klien dalam menjaga kebersihan diri, dan keluarga membantu dan membimbing klien dalam menjaga kebersihan diri. b) Intervensi Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang Diskusikan bersama keluarga tentang minatnya klien menjaga kebersihan diri. tindakanyang telah dilakukan klien selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di RS. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana Diskusikan bersama keluarga cara membantu stimulasi terhadap kemajuan yang telah dialami di RS. yang lengkap dalam menjaga kebersihan diri klien. dalam menjaga kebersihan diri. klien dalam menjaga kebersihan diri. Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya: mengingatkan pada waktu mandi, sikat gigi, mandi, keramas, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC. Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa. Kaplan Sadoch. 1998. Sinopsis Psikiatri. Edisi 7. Jakarta : EGC Keliat. B.A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC Keliat. B.A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC Rasmun S. Kep. M 2004. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto Stuart, Sudden, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta : EGC Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, 2005 2006. Jakarta : Prima Medika. Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC. Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta. Townsend, Marry C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Perawatan Psikiatri edisi 3. Jakarta. EGC

STRATEGI PELAKSANAAN
1. 2. 3.

M.yusuf sebagai pasien. M.rijoi sebagai keluarga pasien. Novian arvyan dinata sebagai perawat.

Sp 1 pasien: Mendiskusikan pentingnya kebersihan diri, cara-cara merawat diri dan melatih pasien tentang cara-cara perawatan kebersihan diri. a. Orientasi Perawat : Selamat pagi, kenalkan saya perawat vyan. Pasien : Selamat pagi juga. Perawat : Siapa namanya dan senang dipanggil apa? Pasien : Nama saya m. yusuf pak, dan saya lebih senang dipanggil pak yusuf. Perawat : saya dinas pagi di ruangan ini dari jam 7 pagi sampai 2 siang. Selama di rumah sakit ini saya yang akan merawat pak yusuf. Perawat : Kira-kira apa bapak siap? Pasien : Iya saya siap pak. Perawat : Dari tadi, saya lihat pak yusuf menggaruk-garuk badannya, gatal iya pak,,? Pasien : Iya ne pak, saya tidak bisa tidur dari tadi malam. Perawat : Ok sudah, bagaimana kalau kita bicara tentang kebersihan diri? Perawat : Apakah pak yusuf bersedia? Pasien : Iya saya bersedia pak. Perawat : Kira-kira bapak maunya berapa menit,,,?? Pasien : Terserah pak perawat saja. Perawat : Bagaimana kalau kita bicara 20 menit saja, apa bapaksiap? Pasien : Oke pak, saya siap. Perawat : Ok bapak maunya dimana? Pasien : Di sinin saja pak.

b. Kerja Perawat : Berapa kali bapak yusuf mandi dalam sehari.? Pasien : Biasanya sih 3 kali sehari, tapi saat-saat ini 1 kali dalam sehari. Perawat : Apakah bapak udah mandi hari ini? Pasien : Belum pak.? Perawat :Menurut bapak apa kegunaan mandi? Pasien : Tidak tau pak Perawat : Ok sudah. jadi gini pak, kegunaan kita mandi itu adalah agar kita bersih, jauh dari bau yang tidak sedap, disenangi orang lain, dan yang lebih penting adalah kita tidak terkena penyakit kulit sperti gatal-gatal dll. Perawat : Ngomong-ngomong kenapa bapak belum mandi? Pasien : Saya tidak bisa mandi sendiri pak. Perawat : Apa alasan bapak tidk bisa mandi sendiri? Pasien : Saya sudah lama tidak bisa mandi sendiri pak, karena adagangguan pada diri saya. Perawat : Menurut bapak, apa manfaatnya kalau kita menjaga kebersihan diri? Pasien : Tidak tau pak. Perawat : Ok sudah, jadi manfaatnya kalau kita menjaga kebersihan diri adalah segala penyakit tidak mendekati kita, disenangi orang lain, selalu bersih dll. Perawat : Kira-kira tanda-tanda orang yang tidak merawat diri dengan baik seperti apa? Pasien : badan gatal-gatal, mulut bau. Perawat : Apa lagi? Pasien : Itu aja saya tau pak. Perawat : Ok sudah, jadi tanda-tanda orang yang tidak merawat diri dengan baik itu, gatal-gatal, mulut bau, kudisan dll. Perawat : Apa yang bapak lakukan untuk merawat rambut dan muka? Pasien : Pakai sisir, sabun dan sampho. Perawat : Iya betul. Pinteeeer. Perawat : Apa maksud atau tujauan bapak menyisir dan merias rambut? Pasien : Agar bersih, rapi, indah disenangi oleh orang lain dll. Perawat :Ok sudah, sekarang bapak coba mandi,kemudian ganti pakaian, merias muka dan menyisir rambut iya. Pasien: Iya pak.

c. Terminasi Perawat : Bagaimana perasaan bapak setelah mandi dan mengganti pakaian? Pasien : Alhamudulillah perasaan saya terasa nyaman pak. Perawat : Bagaimana perasaan bapak setelah kita mendiskusikan tentang pentingnya kebersihan diri tadi? Pasien Perawat Pasien Perawat Perawat Pasien Perawat Perawat : Sungguh menyenangkan pak. : Sekarang coba bapak ulangi tanda-tanda bersih dan rapi. : cakep, bersih, rapi, indah, disenangi oleh orang lain dll. : Bagus sekali! : Mau berapa kali bapak mandi dan sikat gigi dalam sehari. : Dua kali, pagi dan sore pak. : Ok, mari kita masukkan dalam jadwal aktivitas harian! : Nah lakukan ya pak.., dan beri tanda M (mandiri) kalau dilakukan tanpa disuruh, B (bantuan) kalu diingatkan baru dilakuykan, dan T (tidak) melakukan. Pasien Perawat Pasien Perawat Pasien : Iya pak. : Baik, besok kita latihan berdandan, apa bapak siap.? : Iya siap pak, tapi jam berapa pak.? : jam 7 pagi ya, siap? : Iya siap pak.

Sp 1 keluarga : memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang masalah perawatan diri dan cara merawat anggota keluarga yang mengalami masalah defisit perawatan diri. a. Orientasi Perawat :Selamat pagi pak/bu, saya perawat vyan, perawat yang merawat bapak yusuf. Bagaimana kabar bapak/ibu pagi ini? Keluarga : Selamat pagi juga pak, alhamdulillah kami baik-baik saja. Perawat : Hari ini kita akan berdiskusi tentang masalah yang dialami bapak yusuf dan bantuan apa yang dapat diberikan. Apakah bapak/ibu siap? Keluarga Perawat Keluarga Perawat Keluarga Perawat b. Kerja Perawat : Apa saja masalah yang bapak/ibu rasakan dalam merawat bapak yusuf? Keluarga : Anak kami itu sulit mau mandi pak. Perawat : ohhh..?? jadi, PERAWATAN diri yang utama adalah kebersihan diri, berdandan, makan dan BAB/BAK. Perawat : Perilaku yang ditunjukkan sama bapak yusuf itu dikarenakan gangguan jiwanya yang membuat bapak yusuf tidak memiliki minat untuk mengurus diri sendiri. Keluarga : Oh,? Kira-kira bisa sembuh iya pak? Perawat : Insya Allah pasti bisa. Perawat : Baik, saya akan jelaskan; untuk kebersihan diri, kami telah melatih pak yusuf untuk mandi, keramas, gosok gigi, ganti baju, dan potong kuku. Kami harap bapak/ibu dapat menyediakan peralatannya. Keluarga : Baik pak. Perawat : bapak yusuf juga sudah memiliki jadwal pelaksanaan untuk berhias. Kami harapkan motivasi sehabis mandi untuk sisiran yang rapi. Keluarga : Baik pak. Perawat : Bapak/ibu juga perlu mendampingi pak yusuf pada saat merawat diri sehingga dapat diketahui apakah bapak yusuf : Iya kami siap pak. : Berapa lama waktu bapak/ibu yang tersedia? :Kurang lebih 40 menit lah. : Bagaimana kalau 30 menit.? : Oke sudah. : Mari kita duduk di kantor perawat.

sudah mandiri atau mengalami hambatan dalam melakukannya. Dan jangan lupa berikan pujian pada bapak yusuf. Keluarga : Baik pak. Perawat : Ada yang bapak/ibu tanyakan? Keluarga : Tidak ada pak. c. Terminasi Perawat : Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap? Keluarga : Alhamdulillah lumayan nyaman, dan kami sudah tau sedikit cara merawat anak kami. Perawat : Dan dirumah nanti, coba bapak/ibu mendampingi dan membantu bapak yusuf saat membersihkan diri. Keluarga : Baik pak. Perawat : Dua hari lagi kita akan ketemu, dan bapak/ibu akan saya dampingi untuk memotivasi bapak yusuf dalam merawat diri. Apa bapa/ibu bersedia? Keluarga : Iya kami bersedia pak. Terima kasih banyak pak. Perawat : Iya sama-sama pak/bu.