Kota “Melek” Mangga Besar Mangga Besar adalah sebuah daerah di Jakarta Barat yang terkenal akan dunia

malamya. Saya adalah seorang saksi dari daerah yang terkenal ini. Sudah 15 tahun saya tinggal di daerah ini, bahkan nenek, kakek, ibu, bapak dan saudara-saudaranya lebih lama lagi tinggal di daerah ini. Mangga Besar merupakan daerah pusat tempat hiburan malam seperti discotik, pub, spa bahkan “hotel bintang goyang”. Banyak pula tempat-tempat prostitusi yang berada di daerah ini, bahkan tempat persinggahan para pelacur dan pekerja seks ada di sekitar tempat ibadah maupun sekolah-sekolah. Mangga Besar sering di kenal pula dengan nama kota yang tak pernah mati, pagi ramai, siang ramai, malam ramai bahkan subuh pun ramai. Pemandangan yang sangat mengasingkan memang bila tidak terbiasa. Di sepanjang jalan Mangga Besar terdapat penjual-penjual obat kuat dari yang impor sampai yang lokal, dari jenis yang paling murah sampai yang paling mahal. Di sepanjang jalan ini juga banyak Hotel-hotel yang menyediakan kamar-kamar murah, mereka menyediakan kamar untuk praktek prostitusi. Harga penyewaan kamar berkisar dari Rp. 150.000 sampai Rp. 1.500.000. Orangorang sekitar daerah Mangga Besar menganggap hal ini bukanlah sesuatu yang tabuh, tetapi sesatu biasa. Jadi jangan kaget bila anda datang ke daerah ini anda akan disambut dengan pemandangan yang luar biasa memanjakan mata khususnya bagi kaum Adam. Rok pendek, baju terbuka, salam hangat bahkan kedipan mata yang sangat menggoda. Incaran para Daerah Mangga Besar sudah sering menjadi bahan pembicaraan mulai dari kaum muda sampai kaum tua, dari masyarakat biasa sampai para pejabat. Ayah saya pernah bilang bahwa dulu daerah Mangga Besar sama seperti Kelapa Gading, namun karena daerah Kelapa Gading dan sekitarnya mulai berkembang banyak orang yang pindah ke daerah-daerah tersebut karena lebih strategis dan meyakinkan. Walapun begitu, pamor daerah Mangga Besar tidak pernah turun yaitu “KOTA HIDUP”. Kalau dalama Kitab Suci daerah ini bagaikan Sodom dan Gomora, kota yang dikutuk Yesus. Namun, dibalik hal ini semua masih banyak hal-hal positif yang terdapat di daerah ini. Daerah Mangga Besar juga merupakan tempat wisata kuliner, khususnya Chinese Food. Diantaranya seperti Kwetiauw Sapi 68, Kwetiauw Sapi Aciap, Bubur Agoan dan lain-lain. Harganya pun cukup terjangkau. Satu hal lagi yang sangat tidak bisa dilepaskan dari daerah Mangga Besar adalah daerah dengan mayoritas orang keturunan Tiong Hoa sampai 85%. Makanya banyak rumah ruko yang dibawah toko, diatas tempat tinggal. Contoh kongkret kepositifan lainnya dari daerah Mangga Besar adalah kerukunan umat beragama. Di Mangga Besar terdapat banyak tempat ibadah seperti Vihara (karena mayoritas orang keturuan Tiong Hoa), Gereja Katolik, Gereja Protestan dan tentu saja Masjid. Gereja SS. Petrus dan Paulus, Mangga Besar adalah sebuah Gereja Katolik yang berdiri tahun 1940 dan berdiri diapit oleh 3 buah diskotik, walaupun begitu umat tetap banyak yang beribadah di tempat ini. Para pastor yang bertugas di gereja ini adalah para pastor Jesuit. Mereka tetap setia menggembalakan umat gereja ini dari awal berdiri sampai sekarang ini. Gereja Mangga Besar amat ramai bila pada perayaan Natal dan Paskah, umat beragama lain juga banyak yang membantu dalam kelancaran berjalannya acara ini. Keberadaan diskotik-diskotik di Mangga Besar sebenarnya memiliki sisi positif juga, namun banyak orang yang hanya memandang sisi negatifnya. Diskotik di Mangga Besar menyumbangkan banyak pajak untuk pemerintah. Diskotik itu juga memberikan hiburan bagi para pendatangnya. Sebenarnya hiburan itu perlu, diskotik itu tempat berdansa dan menari tetapi orang menyelewengkannya menjadi ajang pencariian kepuasan nafsu maupun tempat jual beli barang-barang terlarang. Dulu

tahun 2006 di daerah diskotik di sebelah Rumah Sakit Husada. nama yang diambil menandai peristiwa terjadinya persaingan antara AS dan Uni Soviet dalam meluncurkan sputnik ke luar angkasa di kurun 1960-an. Lokalisasi ini ditutup pada awal abad ke-20 karena sering terjadi keributan. Tapi kata soehian tidak pernah hilang dalam dialek Betawi untuk menunjukkan kata sial: "Dasar Suwean" (sialan). mengambil nama sandiwara Prancis Aligot yang pada 1930an manggung di Batavia. Walaupun belum sempat meledak namun kepanikan sudah merajalela. Cabo Menurut sejarah. Karena para pelacurnya didatangkan dari Macao oleh jaringan germo Portugis dan Cina. Diskotik-diskotik dan hotel-hotel ini tidak perlu lah ditutup. Setelah penyerahan kedaulatan. walaupun sampai awal 1980-an masih beroperasi. Di Sawah Besar terdapat kompleks pelacuran Kaligot. Lokalisasi pelacuran ini memang untuk kalangan atas. Di Planet Senen. yang kemudian dikenal sebagai raja singa atau sipilis. Dalam sejarah Betawi tidak dikenal pekerjaan serupa baik pada masa pra Islam maupun di masa Islam. Sedang di daerah Senen terdapat kompleks pelacuran Planet. Sebaiknya pemerintah mengembangkan lagi daerah Mangga Besar menjadi tempat wisata ataupun tempat investasi. yaitu orang berduit keturunan Cina. Orang Betawi menyebutnya dengan cabo yang merupakan adaptasi dan bahasa Cina caibo dan maler berasal dari bahasa Portugis atau dengan sebutan lain kupu-kupu malam. Karenanya kalau sakit 'perempuan' kala itu disebut 'sakit mangga'. praktek prostitusi ini . Di Macao Po konsumennya adalah para petinggi VOC yang dikenal korup dan para taipan. Akan baik bila pengembangan ini dimaksimalkan dan menjadi saingan dari daerah-daerah berkembang seperti Bumi Serpong Damai dan Kelapa Gading. Jangan sampai malah oknumoknum yang berkuasa terjerumus juga dalam hal negatif ini. hanya perlu diawasi keberadaannya agar fungsi dari diskotik dan hotel ini dapat sejalan dengan kodratnya. Orang Betawi sendiri pada awalnya tidak mengenal istilah pelacur yang kemudian dilunakkan sebutannya jadi WTS (Wanita Tuna Susila) dan kini lebih diperlunak lagi jadi PSK (Pekerja Seks Komersial). masih di kawasan Glodok terdapat pelacuran kelas rendah Gang Mangga. Sampai-sampai warga pun menjadi “parno”. pelacuran kelas bawah ini berlangsung di gerbong-gerbong kereta api antara Stasiun Senen hingga Jl. sipilis termasuk penyakit yang sulit disembuhkan karena saat itu belum ditemukan antibiotik. Di dekat Macao Po. Selain itu. Di abad ke-19. Tempat konsentrasi pelacuran pertama di Batavia adalah Macao Po yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasion Beos (Jakarta Kota). Sejak dulu tempat operasi para cabo selalu dekat dengan kawasan niaga dan perhotelan. Tanah Nyonya (Gunung Sahari) yang panjangnya beberapa ratus meter. II. seperti Gang Hauber di Petojo yang terdiri dari Gang Hauber I. pelacuran di Jakarta sudah dikenal sejak awal datangnya VOC. Semoga. Kompleks pelacuran ini kemudian tersaingi rumah-rumah bordil yang didirikan orang Cina yang disebut soehian. kompleks pelacuran terdapat di berbagai tempat. Jalan Mangga Besar Raya pernah ada bom yang ditaruh di depannya. seperti Mangga Besar yang berdekatan Glodok sekarang. dan III yang oleh Walikota Sudiro untuk mengubah citranya pada pertengahan 1950-an diganti Gang Sadar.

Suatu perkecualian dibuat bagi pegawai tinggi yang diizinkan membawa istri dan anak-anak mereka. . kemudian Pecenongan menjadi daerah bisnis. menyebutkan. 2009 oleh alwishahab Tepatnya sekitar tahun 1880-an atau 120 tahun lalu. Di Batavia orang Belanda memakai istilah mestizen untuk menyebut orang berdarah campuran antara Asia dan Eropa. Juga di Mangga Besar. Karena itulah mereka (orang-orang Belanda) mengawini para budak untuk dijadikan nyai. Raffles tidak memperbolehkan warga Betawi tinggal di kawasan Noordwijk (Jl Juanda) dan Risjwijk (Jl Veteran) serta Risjwijkstraat (Harmoni). dan lahirlah keturunan Indo-Belanda. Jakarta Utara. dipenuhi pepohonan rimbun di kiri kanan dan belum diaspal itu adalah Jalan Pecenongan. Akibatnya. Mereka memakai bahasa Portugis. Sampai abad ke-19 penisilin belum ditemukakan. Jakarta Barat. Sejak masa Inggris (1808. Karena menempuh perjalanan jauh dan penuh risiko. pada tahun 1630 pemerintah kolonial di Belanda melarang untuk mengirim wanitanya ke Asia. Tempat pelacuran yang setiap harinya didatangi ribuan orang ini dibersihkan pada masa Gubernur Ali Sadikin (1971) dan pekerja seksnya dipindahkan ke lokalisasi Kramat Tunggak. Sulit dipercaya daerah yang ketika itu sunyi senyap. Tentu saja tempatnya sekitar Pelabuhan Sunda Kalapa atau di sekitar Menara Syahbandara. Tapi. Dengan demikian terjadi hubungan keluarga di antara keluarga-keluarga penting yang mempengaruhi masa depan seseorang. umumnya bahasa yang dipakai pada abad ke-19 di Batavia. tempat pelacuran disebut macaupo. Lamanya perjalanan dari Belanda ke Batavia dengan kapal layar berbulan-bulan mengakibatkan rumah bordir banyak berdiri di Batavia sejak abad ke-17. Mungkin inilah awal kata ejekan sowean untuk seseorang dengan kata kasar. diperbolehkan tinggal di Pecenongan yang berdekatan dengan ketiga kawasan elite tersebut. terdapat tempat pelacuran yang sama. Karena jalan orang yang terkena penyakit itu ngengkang. Batavia menjadi daerah dengan banyak lelaki dan hanya sedikit wanita berkulit putih. Hans Bonke. Mereka yang terkena penyakit kelamin disebut terkena raja singa. Orang Tionghoa menyebut pelacur sebagai suhian. karena para PSK-nya didatangkan dari Macau.1811). mereka disebut pehong — berasal dari kata Tionghoa pehyong. Sejarawan Belanda. janda-janda kaya dari pegawai Kompeni sangat disukai sebagai istri seorang bujangan yang ambisius. Pecenongan Menjelang Abad ke-20 Juni 19. Di Mangga Besar.berlangsung dengan ngamar di rumah-rumah kardus dekat rel kereta api. Jakarta Pusat. Dan.

Pecenongan menjadi salah satu pusat show room jual beli mobil. pernah tinggal H Abdul Manaf.Di ujung selatan Jl Pecenongan. Tapi. dan mantan wagub DKI. H Abdul Manaf adalah tokoh NU sampai akhir hayatnya. terdapat penjual nasi uduk yang juga ramai didatangi pengunjung. Java Bode. BSA. kwetiaw. Di Krekot yang berdekatan dengan Pecenongan. Demikian pula dengan putranya. Di masa Belanda —sebelum berdirinya Gramedia dan Gunung Agung—Van Dorp merupakan toko buku terbaik di Jakarta. selain asesoris dan perkakas motor. Silsilah jalan pecenongan ini menguak kisah seorang konglomerat yang pernah berjaya dengan usaha di bidang otomotif motor. Percetakan besar dengan ratusan pekerja warga Betawi ini. kini daerah ini menjadi pusat makanan yang ramai dikunjungi kawan Jakarta. Sebelumnya. Para pembelinya yang sebagian besar bermobil siap nongkrong menikmatinya. Namun kini. Fauzi Bowo juga mengikuti jejak kakek dan kedua pamannya di organisasi keagamaan NU. Pada 1950-an. kakek Gubernur DKI Fauzi Bowo. Triump. Java. Mulai sore hingga menjelang dini hari. Di Jalan Pecenongan No 35. bakmi. Van Dorp kehilangan pamor dan beralih fungsi jadi PT Astra. dulu merupakan kediaman tante Ditje (Sarah Thamrin). detak kehidupan tidak pernah berhenti berdenyut di Pecenongan. Para pedagang motor sebagian besar warga Tasikmalaya. juga ditemui berbagai bengkel maupun show room mobil terkenal. dari pihak ibu. Sehingga dari daerahnya kita dapat melihat banyak sekali ditemukan ruko-ruko yang menjual asesoris dan perkakas motor. banyak menerbitkan buku bermutu dan mengalami nasib yang sama setelah dinasionalisasi. . Kawasan Pecenongan Minggu. dan Fuch. terletak kantor perusahaan mobil Astra. Van Dorp. Hebatnya lagi. Koran ini dilarang terbit setelah hubungan RIBelanda memburuk pada 1950-an. H Syah Manaf. Kolff juga menerbitkan surat kabar terkenal dalam bahasa Belanda. 22 Juni 2008 “ Brendesch Laan” Begitulah nama jalan ini pada masa penjajahan Belanda. kakak mendiang pahlawan nasional kelahiran Betawi. Boleh dikata. Terdapat dua buah hotel berbintang di Pecenongan ‘Red Topp’ dan Hotel Imperium. Asmawi Manaf. Mohammad Husni Thamrin. dan setelah kemerdekaan diambil alih pemerintah RI. tempat itu merupakan toko buku dan percetakan milik Belanda. Sepeda motor buatan Jepang belum diproduksi. Kini. martabak dan berbagai jajanan juga tersedia di kawasan kuliner ini. DKW. Pecenongan merupakan salah satu pusat perdagangan sepeda motor di Jakarta. motor buatan Barat seperti Norton. puluhan pedagang membuka makanan Chinese Food. Berbelok ke kiri dari Peconangan melalui Jl Juanda terdapat Jl Batutulis. Tempat makan yang ada disini cukup beragam dari mulai nasi goreng. Sesudah dinasionalisasi. Di sini. Demikian pula. di Pecenongan ketika itu terdapat Percetakan Kolff & Co.

suasana nongkrong sambil ngobrol bisa dengan santai dilakukan disini. Tidak kurang dari setengah jam. Malam telah tiba. kita hanya akan melihat nuansa pertokoan yang hidup di kawasan ini. Nuansa sore yang indah diwarnai dengan bunyi panci dan kobaran api yang terdengar seperti lantunan musik kuliner. Hirupan udara yang penuh asap kendaraan pun mulai tergantikan dengan asap masakan yang membuka lembaran pesona wisata kuliner di Jakarta. selain karena porsi menu chinese food yang cukup besar. keluarga maupun petualang kuliner meramaikan suasana di kawasan pecenongan. Namun. menandakan dimulainya pembangunan tenda-tenda biru yang berhamparan di seluruh penghujung jalan. Selamat menikmati kawan . Bagi kawan Jakarta yang hendak bertamasya kuliner bersama dengan keluarga ataupun secara rombongan sangat tepat untuk mengunjungi kawasan ini.Kalau kita datang ke daerah pecenongan. Selera demi selera mengarahkan pilihan kawan Jakarta untuk bersinggah di salah satu tempat makan idaman. Kawasan yang hidup dari sore hingga subuh dini hari ini cukup terkenal dengan hidangan chinese foodnya. berbagai tenda megah maupun tenda kecil sudah selesai didirikan. Rombongan kendaraan baik anak muda. memang yang namanya pengamen tetap sesekali menghampiri untuk uji suara. namun saat matahari mulai bergerak ke barat di sore hari.

ff¯¾ ©ff f f  °f½  ©ff°¾ ½f f½f f¯f¾f½f¾f¯¯f½° ¯f¾f¾f¯ f°– f¾ ° ½f fff°f f¯ °– °f¾f½ fnf°– ¯ f° °ff°¾ f°°f ©f J@%Jf°f@°f¾f% f°°  ½ °ff–©f 9%9  ©f ¾¯ ¾f% f°– f¯ ° °f °–f°nf f°–¯ ½ff°f f½f¾ f° ff¾f.

f°––f ¾ff°–  ff° ¾ ff°– @ ¯½f°¾ °f¾½ fnf°½ f¯f  fff f ff.fnf ©f°–f°– ¯9–¾ f°.°fnf  f°¯f  f¾f f ff¾f9–¾ff °–f°¾ f°f°½ ½¯ff¯   ©f  ¯½f½ f¾½ffnf ¾ f f °–f°ff¾f°°f–f f°½  f° ¾ ½  .fnf9f°–ff  ff° °–f°     ½f°f¾° ¾%ffff%  f¾f¾½ fnf°°¯ ¯f°–°ff°–f°ff¾ f °f½ff½ fn°f  ff°–f° f .

°f .fnf9°¾¯ °°ff ff½ff½ °––I.

 f°–  °f½ f°½fff½f° ff°–   °f°.

f°––f  f °f°fff¾f ½  ¯½f° ff ¾  ¾f¯f°––f f°– ¯ f°  °f¾ f–f f©f¾°–fff¾½¾ f f   ¾½¾ ¯f¾½ °ff°–¾ ¾ ¯ f°f °f¾ff ¯  ¯f°f°  ¯½ ¾½ fnf°° ¯ f° ¾f°–¯f ¯f  f°–  f°f°–.fnf9 ¯f¾ ff¾f°   f½f½ fnf° f¾ ° ff°–.°f   f.

°ff°– ¾ ¾ f° f¾f¾° ½½f ffff f  f °f¾ °–  ©f   f° @f½ff¾ f° f½ °ff°– ff¯ f  f°¯ °°©f° ff¾f  f¾f f° %¾ff°%    f½ ° ff° fff° ¯½ ¾½ fnf°  f½f   f–f ¯½f ¾ ½ f°– f  9 ©f°–   ff°–f    f°f°– Jff ° ¯ °– fnf°f½f f½  °–ff° f° –f°f°–f f ff½°¾f¯½fff f° ¯f¾ ½ f¾ ff ¾f  f½f¯½ ¾½ fnf°f– ¯ °–f¯ °f¯f¾f° ff 9f°n¾–f°–½f ff°¯f°––°–  fff  f°–  f f ° °  f½f¯½ ¾ ½ fnf°9f°  °f¯ff°– f¯ ¯ °f° f½ ¾f ©f °f½ ¾f°–f°f°ff f°D°   ff¯¯ °nf°¾½° ff°–f¾f ° f° 9f°  ° ° ½ fnf°  f¾ ff° f°–¾°– –  °– –  °–  ff½f°fff¾° ° °°––f @f°f -°f%°°–ff%f°–½f°©f°–°f f½ff¾¯    f° ½f ½¾¾°  .

f°––f ¾f fff ff   f½f  ¯½f½ fnf°f°–¾f¯f  f°–@°–f¯ ° ½ fn¾ f–f¾f° . °fff f° ff –f .  ff°–  °f½ °f f¯° ¾    °ff©f¾°–f f °f©ff°f°–f°–  °f½ °f°– °–f°– ¯  f ¾ ½ °–  f¾f fff@°–f½ °–   9 n °°–f°.f°––f ¾f  ¯½f½ fnf° ¾ ¯fnf½ f °f½ff 9 °f  ff°–f° f. f°–¾°– °–f°°–f¯f ¯f ¯ff ¾ f   ff½ @ ¯½f½ fnf°f°– ¾ f½f°f  ff°– f°f°–°  ¾f°½f f¯f¾f °f °%% f° ½  ©f¾ ¾°f ½° ff° f¾f¾f¯f@°––f fffDff  f °f¯ ° ¯½½ ©ff°f°©f f°½ °¾ ½f ff°½ ¯ °f°f  f° f¯ ff°–°¯ °–¯f°f°f ¾f f½  nff°  f f–½ –ff°–– f°– °f°¯ ¯ ff¾ f°f°f f°f¯  f   f°f  fff¯ °©f  f f °–f° f°f f f°f°f¾ f°f ½  f °ff¯  f%f°– f°– f° f%¯ °–f°½ff  f° ©f f°°f  f° ff °f°°  f° f   ffff°– f° f¯ ¯ff¾f¯ ¾ °°¯ ° f°–  ffnf¯½f° f°ff¾f f°½f .  f¯ ¯ff ff¾f9–¾ ¯¯°f ff¾ff°– ½ff½f ff f     fff   ©fff° f° f f°¾ ° ¯ ° f° ©f° f ©f° fff f½ –ff¯½ °¾f°–f ¾f¾ f–f¾¾ f°– ©f°–f°f°–f¯ ¾¾  °–f° ¯f° ©f  °–f° f–f  f°ff f–f  f–f½ °°–f°–¯ ¯½ °–f¯f¾f ½f°¾ ¾ f°–  f¯f°f½ ©ff°f° f f° f  fff °–f°f½fff  f° f°¯ °–f ff° ¯f   f°f    fff¾ ©ff f   @ °¾f©f ¯½f°f¾ f9 f f° ° fff½fff ¾ f.fnf   f¯½ff f  ½ °¾° ¯  ¯ff° . °© f°– f   °  f¾ff  @ ½f°f¾ ff° f°fff°f  ½ nff f ff°– f¾° ¾ °f½  ½ °½ ½°f°¯ ° f°f° f° ¯ f¾½ff ffff°9 n °°–f°  fff9¾f  ©f¯f¾f°––¾% % f€€ ¾ f¯ ¯½   f°f–f f°––f ff¾f°- ©%f° f% f°¾©©%I  f°%¾ f¾©©¾ff%f¯°% @f½  ½   f°°––f 9 n °°–f°f°–  ff° °–f° –fff¾f°   ¾  f°   ¯ f°9 n °°–f°¯ °©f  f f ¾°¾  .°–°°fffff © f°¾ f°° ¾ ¾ f°– °–f°fff¾f .

©°–¾ ff°9 n °°–f°   ff°½ ¾fff°¯ ¾f  ¯°f  ¯½f ¯ ½ff°  f°½ n ff°¯ f° f If°½  f°¾  f ¯  ff° f¯  f½ ¯ °f ¯f¾f f° f ¾ ¯  °ff¯ f f°°°––°– If°½ ¯ ½ff°   f fff  ¾ f °f¾°f¾f¾ If°½ f°–f°½f¯ f° f€°–¾©f 9@¾f   ¯f°½f  9 n °°–f° f  f½f9 n ff°€€ .

 9 n ff° ¾f °–f° f¾f°½  ©ff–f f°  f°f¯ °  f°  ¯ f°¯ °–ff¯°f¾ f°– ¾f¯f¾  f °f¾°f¾f¾ €€©–f¯ °  f°¾ff f  °f ff¯ ff¾f f° f  ff  f°° ff°–  ¾  f °–f° f° f¯ ¯ ½f f f°  9f f f° 9 n °°–f°¯ ½ff°¾ff¾f½¾f½  f–f°–f°¾ ½ f¯ fff @f½  ¯ ff° ff¾ ½ -° ff J @¯½    f°n  ½ f¯ ff° ½f°– ¯ ½ ¾ 9ff½ f–f°–¯¾ f–f° ¾ff–f@f¾¯fff ° 9 n °°–f° ¯ °©f ¾ff¾f½¾f¾¯©f ¯   ff°9 n °°–f°-  ¯ ½ff° f¯f°f° © %ff@f¯°% ff¯ ° f°– ½fff°°f¾°f ff° f .f¾ °––f¯ °© f°– °f ½f° ½ f–f°–¯ ¯ f¯ff°f°.f¯¯f ¾°@f¯°    ff  f  ½f°  f½ °f  °  ° 9 n °°–f° .

f°f€ f  ©–f¯ °–© ©ff  f° f½f¯f°°f –f°¾f¾ f–f¯ff°-D   ff¾f°9 n °°–f° .f°f€  f°¯f°f°f–  ¾¯f.° ¾    9ff½ ¯ °ff°–¾ f–f° ¾f ¯ ¾f½°°–°–¯ °¯f°f  f°–  ff° °–f°9 n °°–f°   f½f½ °©f°f¾ f°–©–ff¯f  ff°–½ °–°©°–  @  f½f f f   °f°– 9 n °°–f°# @½½# f° ¯½ ¯     f9 n°f°–f°¯ ff° f  f½f f¾ ¾° ½ °f°––f .f°f€ f   °f   f½f   .f°f€f ff-D¾f¯½ffff°f   ¯f°½f °–f°½f°f f.°–– ° #  ° ¾nff°# –f°f¯f©ff°°½f f¯f¾f½ °©f©ff° f° f ¾f©ff°½ n °°–f°°¯ °–f¾f ¾ f°–°–¯ ff°–½ °f ©ff °–f°¾ff   f°–¯€¯  °––f f f f°ff f½f¯ f f°f¾ f  ¯f° f°–¯ °©ff¾ ¾¾ f° ½ ff¾¯ -f¯°° ¾ f°f¾ ¾¾ f°½ ff¾¯ ©–f  ¯  f–f °–  ¯f½°¾¯¯   °f   f°ff– ° f f°¯ °©f ½¾f¯ff°f°f°–f¯f °©°–ff°fff @ ¯½f ¯ff°f°–f f ¾°n½ f–f¯ f¯f°f¾– °–  f¯  f ¯ff f f°  f–f©f©f°f°©–f ¾ f ff¾f°° °    .

ff¯ f f ¯ °–f° ° fff° ff°f¯ f  f–f¯f½°½ ff°–°  ¯ f¯ff°¾f¾f°f ff¾f°½ n °°–f°   f ¯¾  f¯ °–fff°½f°ff° fff° ¾°––f ¾ff¾f ¯½f¯ff° f¯f°  ff¾f°f°– ½ f¾ °––f¾  °f°n½  °f °–f° f°–f°n° ¾  € °f  f–ff°ffff°– ° f f¯f¾f°  ¾f¯f °–f° f–fff½° ¾ nff¯ °–f°¾f°–f ½f°¯ °–°©°–ff¾f°° ¾ f°f °f½¾¯ °n° ¾  € f°–n½ ¾f ¾f¾f°f°°–°–¾f¯ °–  ¾f °–f°¾f°f ff° ¾°  -f¯° ¯ ¯f°–f°–°f¯f°f½ °–f¯ ° f½¾ ¾ f¯ °–f¯½°©¾ff  f¯f ¯ °¯fff° .fff ff°–  f f½ n °°–f° ff°fff°¯ f°f°¾f½ f°f°– ½  ff¾f°° °f¯°¾ff¯fff¯f – f  ff ¾ f ¯ °f° ff° ¯f°f ½ ¯ f°–°f° ° f  ° f f°– f¯½ff° ¾ ½ °–©°–©ff° @ ff°– f ¾  °–f©f¯   f–f ° f¯ –f¯f½° ° f n¾ f¾  ¾f  f° -f°¾f¾ f°– ° f f°f °–f° °½f°n f° ff°f½f°–  °–f¾ ½ f°°f°¯¾°   ½f° fff°–½ °f¾f½ ° fff°½°¯f –f°f° °–f°f¾f½¯f¾ff°f°– ¯ ¯ f ¯ ff°½ ¾°f¾ff°  fff  .