Kota “Melek” Mangga Besar Mangga Besar adalah sebuah daerah di Jakarta Barat yang terkenal akan dunia

malamya. Saya adalah seorang saksi dari daerah yang terkenal ini. Sudah 15 tahun saya tinggal di daerah ini, bahkan nenek, kakek, ibu, bapak dan saudara-saudaranya lebih lama lagi tinggal di daerah ini. Mangga Besar merupakan daerah pusat tempat hiburan malam seperti discotik, pub, spa bahkan “hotel bintang goyang”. Banyak pula tempat-tempat prostitusi yang berada di daerah ini, bahkan tempat persinggahan para pelacur dan pekerja seks ada di sekitar tempat ibadah maupun sekolah-sekolah. Mangga Besar sering di kenal pula dengan nama kota yang tak pernah mati, pagi ramai, siang ramai, malam ramai bahkan subuh pun ramai. Pemandangan yang sangat mengasingkan memang bila tidak terbiasa. Di sepanjang jalan Mangga Besar terdapat penjual-penjual obat kuat dari yang impor sampai yang lokal, dari jenis yang paling murah sampai yang paling mahal. Di sepanjang jalan ini juga banyak Hotel-hotel yang menyediakan kamar-kamar murah, mereka menyediakan kamar untuk praktek prostitusi. Harga penyewaan kamar berkisar dari Rp. 150.000 sampai Rp. 1.500.000. Orangorang sekitar daerah Mangga Besar menganggap hal ini bukanlah sesuatu yang tabuh, tetapi sesatu biasa. Jadi jangan kaget bila anda datang ke daerah ini anda akan disambut dengan pemandangan yang luar biasa memanjakan mata khususnya bagi kaum Adam. Rok pendek, baju terbuka, salam hangat bahkan kedipan mata yang sangat menggoda. Incaran para Daerah Mangga Besar sudah sering menjadi bahan pembicaraan mulai dari kaum muda sampai kaum tua, dari masyarakat biasa sampai para pejabat. Ayah saya pernah bilang bahwa dulu daerah Mangga Besar sama seperti Kelapa Gading, namun karena daerah Kelapa Gading dan sekitarnya mulai berkembang banyak orang yang pindah ke daerah-daerah tersebut karena lebih strategis dan meyakinkan. Walapun begitu, pamor daerah Mangga Besar tidak pernah turun yaitu “KOTA HIDUP”. Kalau dalama Kitab Suci daerah ini bagaikan Sodom dan Gomora, kota yang dikutuk Yesus. Namun, dibalik hal ini semua masih banyak hal-hal positif yang terdapat di daerah ini. Daerah Mangga Besar juga merupakan tempat wisata kuliner, khususnya Chinese Food. Diantaranya seperti Kwetiauw Sapi 68, Kwetiauw Sapi Aciap, Bubur Agoan dan lain-lain. Harganya pun cukup terjangkau. Satu hal lagi yang sangat tidak bisa dilepaskan dari daerah Mangga Besar adalah daerah dengan mayoritas orang keturunan Tiong Hoa sampai 85%. Makanya banyak rumah ruko yang dibawah toko, diatas tempat tinggal. Contoh kongkret kepositifan lainnya dari daerah Mangga Besar adalah kerukunan umat beragama. Di Mangga Besar terdapat banyak tempat ibadah seperti Vihara (karena mayoritas orang keturuan Tiong Hoa), Gereja Katolik, Gereja Protestan dan tentu saja Masjid. Gereja SS. Petrus dan Paulus, Mangga Besar adalah sebuah Gereja Katolik yang berdiri tahun 1940 dan berdiri diapit oleh 3 buah diskotik, walaupun begitu umat tetap banyak yang beribadah di tempat ini. Para pastor yang bertugas di gereja ini adalah para pastor Jesuit. Mereka tetap setia menggembalakan umat gereja ini dari awal berdiri sampai sekarang ini. Gereja Mangga Besar amat ramai bila pada perayaan Natal dan Paskah, umat beragama lain juga banyak yang membantu dalam kelancaran berjalannya acara ini. Keberadaan diskotik-diskotik di Mangga Besar sebenarnya memiliki sisi positif juga, namun banyak orang yang hanya memandang sisi negatifnya. Diskotik di Mangga Besar menyumbangkan banyak pajak untuk pemerintah. Diskotik itu juga memberikan hiburan bagi para pendatangnya. Sebenarnya hiburan itu perlu, diskotik itu tempat berdansa dan menari tetapi orang menyelewengkannya menjadi ajang pencariian kepuasan nafsu maupun tempat jual beli barang-barang terlarang. Dulu

Jalan Mangga Besar Raya pernah ada bom yang ditaruh di depannya. mengambil nama sandiwara Prancis Aligot yang pada 1930an manggung di Batavia.tahun 2006 di daerah diskotik di sebelah Rumah Sakit Husada. Setelah penyerahan kedaulatan. Dalam sejarah Betawi tidak dikenal pekerjaan serupa baik pada masa pra Islam maupun di masa Islam. Sebaiknya pemerintah mengembangkan lagi daerah Mangga Besar menjadi tempat wisata ataupun tempat investasi. Di Macao Po konsumennya adalah para petinggi VOC yang dikenal korup dan para taipan. Lokalisasi pelacuran ini memang untuk kalangan atas. Di Sawah Besar terdapat kompleks pelacuran Kaligot. pelacuran kelas bawah ini berlangsung di gerbong-gerbong kereta api antara Stasiun Senen hingga Jl. praktek prostitusi ini . hanya perlu diawasi keberadaannya agar fungsi dari diskotik dan hotel ini dapat sejalan dengan kodratnya. Sedang di daerah Senen terdapat kompleks pelacuran Planet. Jangan sampai malah oknumoknum yang berkuasa terjerumus juga dalam hal negatif ini. Selain itu. Orang Betawi menyebutnya dengan cabo yang merupakan adaptasi dan bahasa Cina caibo dan maler berasal dari bahasa Portugis atau dengan sebutan lain kupu-kupu malam. Cabo Menurut sejarah. Di Planet Senen. kompleks pelacuran terdapat di berbagai tempat. Lokalisasi ini ditutup pada awal abad ke-20 karena sering terjadi keributan. sipilis termasuk penyakit yang sulit disembuhkan karena saat itu belum ditemukan antibiotik. II. Di abad ke-19. masih di kawasan Glodok terdapat pelacuran kelas rendah Gang Mangga. Kompleks pelacuran ini kemudian tersaingi rumah-rumah bordil yang didirikan orang Cina yang disebut soehian. Di dekat Macao Po. seperti Gang Hauber di Petojo yang terdiri dari Gang Hauber I. nama yang diambil menandai peristiwa terjadinya persaingan antara AS dan Uni Soviet dalam meluncurkan sputnik ke luar angkasa di kurun 1960-an. Sejak dulu tempat operasi para cabo selalu dekat dengan kawasan niaga dan perhotelan. Karena para pelacurnya didatangkan dari Macao oleh jaringan germo Portugis dan Cina. yang kemudian dikenal sebagai raja singa atau sipilis. Sampai-sampai warga pun menjadi “parno”. Karenanya kalau sakit 'perempuan' kala itu disebut 'sakit mangga'. Orang Betawi sendiri pada awalnya tidak mengenal istilah pelacur yang kemudian dilunakkan sebutannya jadi WTS (Wanita Tuna Susila) dan kini lebih diperlunak lagi jadi PSK (Pekerja Seks Komersial). Walaupun belum sempat meledak namun kepanikan sudah merajalela. walaupun sampai awal 1980-an masih beroperasi. Semoga. dan III yang oleh Walikota Sudiro untuk mengubah citranya pada pertengahan 1950-an diganti Gang Sadar. Akan baik bila pengembangan ini dimaksimalkan dan menjadi saingan dari daerah-daerah berkembang seperti Bumi Serpong Damai dan Kelapa Gading. Tanah Nyonya (Gunung Sahari) yang panjangnya beberapa ratus meter. seperti Mangga Besar yang berdekatan Glodok sekarang. Diskotik-diskotik dan hotel-hotel ini tidak perlu lah ditutup. pelacuran di Jakarta sudah dikenal sejak awal datangnya VOC. Tapi kata soehian tidak pernah hilang dalam dialek Betawi untuk menunjukkan kata sial: "Dasar Suwean" (sialan). yaitu orang berduit keturunan Cina. Tempat konsentrasi pelacuran pertama di Batavia adalah Macao Po yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasion Beos (Jakarta Kota).

dipenuhi pepohonan rimbun di kiri kanan dan belum diaspal itu adalah Jalan Pecenongan. kemudian Pecenongan menjadi daerah bisnis. Karena jalan orang yang terkena penyakit itu ngengkang. Di Mangga Besar. Tapi. Sampai abad ke-19 penisilin belum ditemukakan. Karena menempuh perjalanan jauh dan penuh risiko. mereka disebut pehong — berasal dari kata Tionghoa pehyong. pada tahun 1630 pemerintah kolonial di Belanda melarang untuk mengirim wanitanya ke Asia. Sejarawan Belanda. tempat pelacuran disebut macaupo.berlangsung dengan ngamar di rumah-rumah kardus dekat rel kereta api. Mungkin inilah awal kata ejekan sowean untuk seseorang dengan kata kasar. Suatu perkecualian dibuat bagi pegawai tinggi yang diizinkan membawa istri dan anak-anak mereka. menyebutkan. umumnya bahasa yang dipakai pada abad ke-19 di Batavia. Jakarta Pusat. . Mereka memakai bahasa Portugis. Pecenongan Menjelang Abad ke-20 Juni 19. 2009 oleh alwishahab Tepatnya sekitar tahun 1880-an atau 120 tahun lalu. Lamanya perjalanan dari Belanda ke Batavia dengan kapal layar berbulan-bulan mengakibatkan rumah bordir banyak berdiri di Batavia sejak abad ke-17. Karena itulah mereka (orang-orang Belanda) mengawini para budak untuk dijadikan nyai. terdapat tempat pelacuran yang sama. Akibatnya. Di Batavia orang Belanda memakai istilah mestizen untuk menyebut orang berdarah campuran antara Asia dan Eropa. Orang Tionghoa menyebut pelacur sebagai suhian. Dan. diperbolehkan tinggal di Pecenongan yang berdekatan dengan ketiga kawasan elite tersebut. janda-janda kaya dari pegawai Kompeni sangat disukai sebagai istri seorang bujangan yang ambisius. Mereka yang terkena penyakit kelamin disebut terkena raja singa. Sejak masa Inggris (1808. Sulit dipercaya daerah yang ketika itu sunyi senyap. Dengan demikian terjadi hubungan keluarga di antara keluarga-keluarga penting yang mempengaruhi masa depan seseorang. Juga di Mangga Besar. Jakarta Barat. dan lahirlah keturunan Indo-Belanda. Jakarta Utara. Hans Bonke. Tempat pelacuran yang setiap harinya didatangi ribuan orang ini dibersihkan pada masa Gubernur Ali Sadikin (1971) dan pekerja seksnya dipindahkan ke lokalisasi Kramat Tunggak.1811). Batavia menjadi daerah dengan banyak lelaki dan hanya sedikit wanita berkulit putih. Tentu saja tempatnya sekitar Pelabuhan Sunda Kalapa atau di sekitar Menara Syahbandara. Raffles tidak memperbolehkan warga Betawi tinggal di kawasan Noordwijk (Jl Juanda) dan Risjwijk (Jl Veteran) serta Risjwijkstraat (Harmoni). karena para PSK-nya didatangkan dari Macau.

Namun kini. dari pihak ibu. puluhan pedagang membuka makanan Chinese Food. Di masa Belanda —sebelum berdirinya Gramedia dan Gunung Agung—Van Dorp merupakan toko buku terbaik di Jakarta. terletak kantor perusahaan mobil Astra. Mulai sore hingga menjelang dini hari. Percetakan besar dengan ratusan pekerja warga Betawi ini. Para pembelinya yang sebagian besar bermobil siap nongkrong menikmatinya. kini daerah ini menjadi pusat makanan yang ramai dikunjungi kawan Jakarta. Mohammad Husni Thamrin. Tempat makan yang ada disini cukup beragam dari mulai nasi goreng. Koran ini dilarang terbit setelah hubungan RIBelanda memburuk pada 1950-an. Sepeda motor buatan Jepang belum diproduksi. Sesudah dinasionalisasi. Triump. juga ditemui berbagai bengkel maupun show room mobil terkenal. Para pedagang motor sebagian besar warga Tasikmalaya. Kini. Di Krekot yang berdekatan dengan Pecenongan. DKW. kakak mendiang pahlawan nasional kelahiran Betawi. . banyak menerbitkan buku bermutu dan mengalami nasib yang sama setelah dinasionalisasi. detak kehidupan tidak pernah berhenti berdenyut di Pecenongan. selain asesoris dan perkakas motor. Tapi. 22 Juni 2008 “ Brendesch Laan” Begitulah nama jalan ini pada masa penjajahan Belanda. dulu merupakan kediaman tante Ditje (Sarah Thamrin). Pecenongan menjadi salah satu pusat show room jual beli mobil. Di Jalan Pecenongan No 35. Van Dorp. Kolff juga menerbitkan surat kabar terkenal dalam bahasa Belanda.Di ujung selatan Jl Pecenongan. Pada 1950-an. dan setelah kemerdekaan diambil alih pemerintah RI. dan Fuch. kwetiaw. BSA. Asmawi Manaf. Terdapat dua buah hotel berbintang di Pecenongan ‘Red Topp’ dan Hotel Imperium. terdapat penjual nasi uduk yang juga ramai didatangi pengunjung. Silsilah jalan pecenongan ini menguak kisah seorang konglomerat yang pernah berjaya dengan usaha di bidang otomotif motor. Pecenongan merupakan salah satu pusat perdagangan sepeda motor di Jakarta. Java Bode. Java. pernah tinggal H Abdul Manaf. Sehingga dari daerahnya kita dapat melihat banyak sekali ditemukan ruko-ruko yang menjual asesoris dan perkakas motor. kakek Gubernur DKI Fauzi Bowo. Van Dorp kehilangan pamor dan beralih fungsi jadi PT Astra. Sebelumnya. Demikian pula. Kawasan Pecenongan Minggu. dan mantan wagub DKI. bakmi. Berbelok ke kiri dari Peconangan melalui Jl Juanda terdapat Jl Batutulis. Demikian pula dengan putranya. Fauzi Bowo juga mengikuti jejak kakek dan kedua pamannya di organisasi keagamaan NU. motor buatan Barat seperti Norton. di Pecenongan ketika itu terdapat Percetakan Kolff & Co. H Syah Manaf. Hebatnya lagi. tempat itu merupakan toko buku dan percetakan milik Belanda. Boleh dikata. H Abdul Manaf adalah tokoh NU sampai akhir hayatnya. Di sini. martabak dan berbagai jajanan juga tersedia di kawasan kuliner ini.

keluarga maupun petualang kuliner meramaikan suasana di kawasan pecenongan. Selamat menikmati kawan . suasana nongkrong sambil ngobrol bisa dengan santai dilakukan disini. memang yang namanya pengamen tetap sesekali menghampiri untuk uji suara. Malam telah tiba. namun saat matahari mulai bergerak ke barat di sore hari. selain karena porsi menu chinese food yang cukup besar. Selera demi selera mengarahkan pilihan kawan Jakarta untuk bersinggah di salah satu tempat makan idaman. kita hanya akan melihat nuansa pertokoan yang hidup di kawasan ini. Kawasan yang hidup dari sore hingga subuh dini hari ini cukup terkenal dengan hidangan chinese foodnya. Bagi kawan Jakarta yang hendak bertamasya kuliner bersama dengan keluarga ataupun secara rombongan sangat tepat untuk mengunjungi kawasan ini. Tidak kurang dari setengah jam.Kalau kita datang ke daerah pecenongan. Nuansa sore yang indah diwarnai dengan bunyi panci dan kobaran api yang terdengar seperti lantunan musik kuliner. Rombongan kendaraan baik anak muda. berbagai tenda megah maupun tenda kecil sudah selesai didirikan. Hirupan udara yang penuh asap kendaraan pun mulai tergantikan dengan asap masakan yang membuka lembaran pesona wisata kuliner di Jakarta. Namun. menandakan dimulainya pembangunan tenda-tenda biru yang berhamparan di seluruh penghujung jalan.

ff¯¾ ©ff f f  °f½  ©ff°¾ ½f f½f f¯f¾f½f¾f¯¯f½° ¯f¾f¾f¯ f°– f¾ ° ½f fff°f f¯ °– °f¾f½ fnf°– ¯ f° °ff°¾ f°°f ©f J@%Jf°f@°f¾f% f°°  ½ °ff–©f 9%9  ©f ¾¯ ¾f% f°– f¯ ° °f °–f°nf f°–¯ ½ff°f f½f¾ f° ff¾f.

f°––f ¾ff°–  ff° ¾ ff°– @ ¯½f°¾ °f¾½ fnf°½ f¯f  fff f ff.fnf9f°–ff  ff° °–f°     ½f°f¾° ¾%ffff%  f¾f¾½ fnf°°¯ ¯f°–°ff°–f°ff¾ f °f½ff½ fn°f  ff°–f° f .°fnf  f°¯f  f¾f f ff¾f9–¾ff °–f°¾ f°f°½ ½¯ff¯   ©f  ¯½f½ f¾½ffnf ¾ f f °–f°ff¾f°°f–f f°½  f° ¾ ½  .fnf ©f°–f°– ¯9–¾ f°.

fnf9°¾¯ °°ff ff½ff½ °––I.°f .

 f°–  °f½ f°½fff½f° ff°–   °f°.

°f   f.f°––f  f °f°fff¾f ½  ¯½f° ff ¾  ¾f¯f°––f f°– ¯ f°  °f¾ f–f f©f¾°–fff¾½¾ f f   ¾½¾ ¯f¾½ °ff°–¾ ¾ ¯ f°f °f¾ff ¯  ¯f°f°  ¯½ ¾½ fnf°° ¯ f° ¾f°–¯f ¯f  f°–  f°f°–.fnf9 ¯f¾ ff¾f°   f½f½ fnf° f¾ ° ff°–.

°ff°– ¾ ¾ f° f¾f¾° ½½f ffff f  f °f¾ °–  ©f   f° @f½ff¾ f° f½ °ff°– ff¯ f  f°¯ °°©f° ff¾f  f¾f f° %¾ff°%    f½ ° ff° fff° ¯½ ¾½ fnf°  f½f   f–f ¯½f ¾ ½ f°– f  9 ©f°–   ff°–f    f°f°– Jff ° ¯ °– fnf°f½f f½  °–ff° f° –f°f°–f f ff½°¾f¯½fff f° ¯f¾ ½ f¾ ff ¾f  f½f¯½ ¾½ fnf°f– ¯ °–f¯ °f¯f¾f° ff 9f°n¾–f°–½f ff°¯f°––°–  fff  f°–  f f ° °  f½f¯½ ¾ ½ fnf°9f°  °f¯ff°– f¯ ¯ °f° f½ ¾f ©f °f½ ¾f°–f°f°ff f°D°   ff¯¯ °nf°¾½° ff°–f¾f ° f° 9f°  ° ° ½ fnf°  f¾ ff° f°–¾°– –  °– –  °–  ff½f°fff¾° ° °°––f @f°f -°f%°°–ff%f°–½f°©f°–°f f½ff¾¯    f° ½f ½¾¾°  .

f°––f ¾f  ¯½f½ fnf° ¾ ¯fnf½ f °f½ff 9 °f  ff°–f° f.  ff°–  °f½ °f f¯° ¾    °ff©f¾°–f f °f©ff°f°–f°–  °f½ °f°– °–f°– ¯  f ¾ ½ °–  f¾f fff@°–f½ °–   9 n °°–f°. °© f°– f   °  f¾ff  @ ½f°f¾ ff° f°fff°f  ½ nff f ff°– f¾° ¾ °f½  ½ °½ ½°f°¯ ° f°f° f° ¯ f¾½ff ffff°9 n °°–f°  fff9¾f  ©f¯f¾f°––¾% % f€€ ¾ f¯ ¯½   f°f–f f°––f ff¾f°- ©%f° f% f°¾©©%I  f°%¾ f¾©©¾ff%f¯°% @f½  ½   f°°––f 9 n °°–f°f°–  ff° °–f° –fff¾f°   ¾  f°   ¯ f°9 n °°–f°¯ °©f  f f ¾°¾  . f°–¾°– °–f°°–f¯f ¯f ¯ff ¾ f   ff½ @ ¯½f½ fnf°f°– ¾ f½f°f  ff°– f°f°–°  ¾f°½f f¯f¾f °f °%% f° ½  ©f¾ ¾°f ½° ff° f¾f¾f¯f@°––f fffDff  f °f¯ ° ¯½½ ©ff°f°©f f°½ °¾ ½f ff°½ ¯ °f°f  f° f¯ ff°–°¯ °–¯f°f°f ¾f f½  nff°  f f–½ –ff°–– f°– °f°¯ ¯ ff¾ f°f°f f°f¯  f   f°f  fff¯ °©f  f f °–f° f°f f f°f°f¾ f°f ½  f °ff¯  f%f°– f°– f° f%¯ °–f°½ff  f° ©f f°°f  f° ff °f°°  f° f   ffff°– f° f¯ ¯ff¾f¯ ¾ °°¯ ° f°–  ffnf¯½f° f°ff¾f f°½f .  f¯ ¯ff ff¾f9–¾ ¯¯°f ff¾ff°– ½ff½f ff f     fff   ©fff° f° f f°¾ ° ¯ ° f° ©f° f ©f° fff f½ –ff¯½ °¾f°–f ¾f¾ f–f¾¾ f°– ©f°–f°f°–f¯ ¾¾  °–f° ¯f° ©f  °–f° f–f  f°ff f–f  f–f½ °°–f°–¯ ¯½ °–f¯f¾f ½f°¾ ¾ f°–  f¯f°f½ ©ff°f° f f° f  fff °–f°f½fff  f° f°¯ °–f ff° ¯f   f°f    fff¾ ©ff f   @ °¾f©f ¯½f°f¾ f9 f f° ° fff½fff ¾ f.f°––f ¾f fff ff   f½f  ¯½f½ fnf°f°–¾f¯f  f°–@°–f¯ ° ½ fn¾ f–f¾f° . °fff f° ff –f .fnf   f¯½ff f  ½ °¾° ¯  ¯ff° .°–°°fffff © f°¾ f°° ¾ ¾ f°– °–f°fff¾f .

©°–¾ ff°9 n °°–f°   ff°½ ¾fff°¯ ¾f  ¯°f  ¯½f ¯ ½ff°  f°½ n ff°¯ f° f If°½  f°¾  f ¯  ff° f¯  f½ ¯ °f ¯f¾f f° f ¾ ¯  °ff¯ f f°°°––°– If°½ ¯ ½ff°   f fff  ¾ f °f¾°f¾f¾ If°½ f°–f°½f¯ f° f€°–¾©f 9@¾f   ¯f°½f  9 n °°–f° f  f½f9 n ff°€€ .

f¾ °––f¯ °© f°– °f ½f° ½ f–f°–¯ ¯ f¯ff°f°. 9 n ff° ¾f °–f° f¾f°½  ©ff–f f°  f°f¯ °  f°  ¯ f°¯ °–ff¯°f¾ f°– ¾f¯f¾  f °f¾°f¾f¾ €€©–f¯ °  f°¾ff f  °f ff¯ ff¾f f° f  ff  f°° ff°–  ¾  f °–f° f° f¯ ¯ ½f f f°  9f f f° 9 n °°–f°¯ ½ff°¾ff¾f½¾f½  f–f°–f°¾ ½ f¯ fff @f½  ¯ ff° ff¾ ½ -° ff J @¯½    f°n  ½ f¯ ff° ½f°– ¯ ½ ¾ 9ff½ f–f°–¯¾ f–f° ¾ff–f@f¾¯fff ° 9 n °°–f° ¯ °©f ¾ff¾f½¾f¾¯©f ¯   ff°9 n °°–f°-  ¯ ½ff° f¯f°f° © %ff@f¯°% ff¯ ° f°– ½fff°°f¾°f ff° f .f¯¯f ¾°@f¯°    ff  f  ½f°  f½ °f  °  ° 9 n °°–f° .

f°f€ f   °f   f½f   .° ¾    9ff½ ¯ °ff°–¾ f–f° ¾f ¯ ¾f½°°–°–¯ °¯f°f  f°–  ff° °–f°9 n °°–f°   f½f½ °©f°f¾ f°–©–ff¯f  ff°–½ °–°©°–  @  f½f f f   °f°– 9 n °°–f°# @½½# f° ¯½ ¯     f9 n°f°–f°¯ ff° f  f½f f¾ ¾° ½ °f°––f .f°f€  f°¯f°f°f–  ¾¯f.°–– ° #  ° ¾nff°# –f°f¯f©ff°°½f f¯f¾f½ °©f©ff° f° f ¾f©ff°½ n °°–f°°¯ °–f¾f ¾ f°–°–¯ ff°–½ °f ©ff °–f°¾ff   f°–¯€¯  °––f f f f°ff f½f¯ f f°f¾ f  ¯f° f°–¯ °©ff¾ ¾¾ f° ½ ff¾¯ -f¯°° ¾ f°f¾ ¾¾ f°½ ff¾¯ ©–f  ¯  f–f °–  ¯f½°¾¯¯   °f   f°ff– ° f f°¯ °©f ½¾f¯ff°f°f°–f¯f °©°–ff°fff @ ¯½f ¯ff°f°–f f ¾°n½ f–f¯ f¯f°f¾– °–  f¯  f ¯ff f f°  f–f©f©f°f°©–f ¾ f ff¾f°° °    .f°f€ f  ©–f¯ °–© ©ff  f° f½f¯f°°f –f°¾f¾ f–f¯ff°-D   ff¾f°9 n °°–f° .f°f€f ff-D¾f¯½ffff°f   ¯f°½f °–f°½f°f f.

ff¯ f f ¯ °–f° ° fff° ff°f¯ f  f–f¯f½°½ ff°–°  ¯ f¯ff°¾f¾f°f ff¾f°½ n °°–f°   f ¯¾  f¯ °–fff°½f°ff° fff° ¾°––f ¾ff¾f ¯½f¯ff° f¯f°  ff¾f°f°– ½ f¾ °––f¾  °f°n½  °f °–f° f°–f°n° ¾  € °f  f–ff°ffff°– ° f f¯f¾f°  ¾f¯f °–f° f–fff½° ¾ nff¯ °–f°¾f°–f ½f°¯ °–°©°–ff¾f°° ¾ f°f °f½¾¯ °n° ¾  € f°–n½ ¾f ¾f¾f°f°°–°–¾f¯ °–  ¾f °–f°¾f°f ff° ¾°  -f¯° ¯ ¯f°–f°–°f¯f°f½ °–f¯ ° f½¾ ¾ f¯ °–f¯½°©¾ff  f¯f ¯ °¯fff° .fff ff°–  f f½ n °°–f° ff°fff°¯ f°f°¾f½ f°f°– ½  ff¾f°° °f¯°¾ff¯fff¯f – f  ff ¾ f ¯ °f° ff° ¯f°f ½ ¯ f°–°f° ° f  ° f f°– f¯½ff° ¾ ½ °–©°–©ff° @ ff°– f ¾  °–f©f¯   f–f ° f¯ –f¯f½° ° f n¾ f¾  ¾f  f° -f°¾f¾ f°– ° f f°f °–f° °½f°n f° ff°f½f°–  °–f¾ ½ f°°f°¯¾°   ½f° fff°–½ °f¾f½ ° fff°½°¯f –f°f° °–f°f¾f½¯f¾ff°f°– ¯ ¯ f ¯ ff°½ ¾°f¾ff°  fff  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful