P. 1
Sejarah Mangga besar

Sejarah Mangga besar

|Views: 794|Likes:
Dipublikasikan oleh Jennifer_Tjahj_2251

More info:

Published by: Jennifer_Tjahj_2251 on Oct 09, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2012

pdf

text

original

Kota “Melek” Mangga Besar Mangga Besar adalah sebuah daerah di Jakarta Barat yang terkenal akan dunia

malamya. Saya adalah seorang saksi dari daerah yang terkenal ini. Sudah 15 tahun saya tinggal di daerah ini, bahkan nenek, kakek, ibu, bapak dan saudara-saudaranya lebih lama lagi tinggal di daerah ini. Mangga Besar merupakan daerah pusat tempat hiburan malam seperti discotik, pub, spa bahkan “hotel bintang goyang”. Banyak pula tempat-tempat prostitusi yang berada di daerah ini, bahkan tempat persinggahan para pelacur dan pekerja seks ada di sekitar tempat ibadah maupun sekolah-sekolah. Mangga Besar sering di kenal pula dengan nama kota yang tak pernah mati, pagi ramai, siang ramai, malam ramai bahkan subuh pun ramai. Pemandangan yang sangat mengasingkan memang bila tidak terbiasa. Di sepanjang jalan Mangga Besar terdapat penjual-penjual obat kuat dari yang impor sampai yang lokal, dari jenis yang paling murah sampai yang paling mahal. Di sepanjang jalan ini juga banyak Hotel-hotel yang menyediakan kamar-kamar murah, mereka menyediakan kamar untuk praktek prostitusi. Harga penyewaan kamar berkisar dari Rp. 150.000 sampai Rp. 1.500.000. Orangorang sekitar daerah Mangga Besar menganggap hal ini bukanlah sesuatu yang tabuh, tetapi sesatu biasa. Jadi jangan kaget bila anda datang ke daerah ini anda akan disambut dengan pemandangan yang luar biasa memanjakan mata khususnya bagi kaum Adam. Rok pendek, baju terbuka, salam hangat bahkan kedipan mata yang sangat menggoda. Incaran para Daerah Mangga Besar sudah sering menjadi bahan pembicaraan mulai dari kaum muda sampai kaum tua, dari masyarakat biasa sampai para pejabat. Ayah saya pernah bilang bahwa dulu daerah Mangga Besar sama seperti Kelapa Gading, namun karena daerah Kelapa Gading dan sekitarnya mulai berkembang banyak orang yang pindah ke daerah-daerah tersebut karena lebih strategis dan meyakinkan. Walapun begitu, pamor daerah Mangga Besar tidak pernah turun yaitu “KOTA HIDUP”. Kalau dalama Kitab Suci daerah ini bagaikan Sodom dan Gomora, kota yang dikutuk Yesus. Namun, dibalik hal ini semua masih banyak hal-hal positif yang terdapat di daerah ini. Daerah Mangga Besar juga merupakan tempat wisata kuliner, khususnya Chinese Food. Diantaranya seperti Kwetiauw Sapi 68, Kwetiauw Sapi Aciap, Bubur Agoan dan lain-lain. Harganya pun cukup terjangkau. Satu hal lagi yang sangat tidak bisa dilepaskan dari daerah Mangga Besar adalah daerah dengan mayoritas orang keturunan Tiong Hoa sampai 85%. Makanya banyak rumah ruko yang dibawah toko, diatas tempat tinggal. Contoh kongkret kepositifan lainnya dari daerah Mangga Besar adalah kerukunan umat beragama. Di Mangga Besar terdapat banyak tempat ibadah seperti Vihara (karena mayoritas orang keturuan Tiong Hoa), Gereja Katolik, Gereja Protestan dan tentu saja Masjid. Gereja SS. Petrus dan Paulus, Mangga Besar adalah sebuah Gereja Katolik yang berdiri tahun 1940 dan berdiri diapit oleh 3 buah diskotik, walaupun begitu umat tetap banyak yang beribadah di tempat ini. Para pastor yang bertugas di gereja ini adalah para pastor Jesuit. Mereka tetap setia menggembalakan umat gereja ini dari awal berdiri sampai sekarang ini. Gereja Mangga Besar amat ramai bila pada perayaan Natal dan Paskah, umat beragama lain juga banyak yang membantu dalam kelancaran berjalannya acara ini. Keberadaan diskotik-diskotik di Mangga Besar sebenarnya memiliki sisi positif juga, namun banyak orang yang hanya memandang sisi negatifnya. Diskotik di Mangga Besar menyumbangkan banyak pajak untuk pemerintah. Diskotik itu juga memberikan hiburan bagi para pendatangnya. Sebenarnya hiburan itu perlu, diskotik itu tempat berdansa dan menari tetapi orang menyelewengkannya menjadi ajang pencariian kepuasan nafsu maupun tempat jual beli barang-barang terlarang. Dulu

Tanah Nyonya (Gunung Sahari) yang panjangnya beberapa ratus meter. Sebaiknya pemerintah mengembangkan lagi daerah Mangga Besar menjadi tempat wisata ataupun tempat investasi. Di Sawah Besar terdapat kompleks pelacuran Kaligot. nama yang diambil menandai peristiwa terjadinya persaingan antara AS dan Uni Soviet dalam meluncurkan sputnik ke luar angkasa di kurun 1960-an. II. seperti Mangga Besar yang berdekatan Glodok sekarang. pelacuran kelas bawah ini berlangsung di gerbong-gerbong kereta api antara Stasiun Senen hingga Jl. Semoga. Karenanya kalau sakit 'perempuan' kala itu disebut 'sakit mangga'. Setelah penyerahan kedaulatan. mengambil nama sandiwara Prancis Aligot yang pada 1930an manggung di Batavia. Lokalisasi pelacuran ini memang untuk kalangan atas. Di Planet Senen. Tapi kata soehian tidak pernah hilang dalam dialek Betawi untuk menunjukkan kata sial: "Dasar Suwean" (sialan). praktek prostitusi ini . pelacuran di Jakarta sudah dikenal sejak awal datangnya VOC. Di abad ke-19. Kompleks pelacuran ini kemudian tersaingi rumah-rumah bordil yang didirikan orang Cina yang disebut soehian. Akan baik bila pengembangan ini dimaksimalkan dan menjadi saingan dari daerah-daerah berkembang seperti Bumi Serpong Damai dan Kelapa Gading. sipilis termasuk penyakit yang sulit disembuhkan karena saat itu belum ditemukan antibiotik. Jalan Mangga Besar Raya pernah ada bom yang ditaruh di depannya. Orang Betawi sendiri pada awalnya tidak mengenal istilah pelacur yang kemudian dilunakkan sebutannya jadi WTS (Wanita Tuna Susila) dan kini lebih diperlunak lagi jadi PSK (Pekerja Seks Komersial). yang kemudian dikenal sebagai raja singa atau sipilis. seperti Gang Hauber di Petojo yang terdiri dari Gang Hauber I. Di Macao Po konsumennya adalah para petinggi VOC yang dikenal korup dan para taipan. Selain itu.tahun 2006 di daerah diskotik di sebelah Rumah Sakit Husada. Walaupun belum sempat meledak namun kepanikan sudah merajalela. hanya perlu diawasi keberadaannya agar fungsi dari diskotik dan hotel ini dapat sejalan dengan kodratnya. Sampai-sampai warga pun menjadi “parno”. masih di kawasan Glodok terdapat pelacuran kelas rendah Gang Mangga. Sejak dulu tempat operasi para cabo selalu dekat dengan kawasan niaga dan perhotelan. kompleks pelacuran terdapat di berbagai tempat. Orang Betawi menyebutnya dengan cabo yang merupakan adaptasi dan bahasa Cina caibo dan maler berasal dari bahasa Portugis atau dengan sebutan lain kupu-kupu malam. Di dekat Macao Po. Dalam sejarah Betawi tidak dikenal pekerjaan serupa baik pada masa pra Islam maupun di masa Islam. Tempat konsentrasi pelacuran pertama di Batavia adalah Macao Po yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasion Beos (Jakarta Kota). Karena para pelacurnya didatangkan dari Macao oleh jaringan germo Portugis dan Cina. Cabo Menurut sejarah. Lokalisasi ini ditutup pada awal abad ke-20 karena sering terjadi keributan. walaupun sampai awal 1980-an masih beroperasi. Diskotik-diskotik dan hotel-hotel ini tidak perlu lah ditutup. yaitu orang berduit keturunan Cina. dan III yang oleh Walikota Sudiro untuk mengubah citranya pada pertengahan 1950-an diganti Gang Sadar. Sedang di daerah Senen terdapat kompleks pelacuran Planet. Jangan sampai malah oknumoknum yang berkuasa terjerumus juga dalam hal negatif ini.

Karena itulah mereka (orang-orang Belanda) mengawini para budak untuk dijadikan nyai. Lamanya perjalanan dari Belanda ke Batavia dengan kapal layar berbulan-bulan mengakibatkan rumah bordir banyak berdiri di Batavia sejak abad ke-17. Akibatnya. dipenuhi pepohonan rimbun di kiri kanan dan belum diaspal itu adalah Jalan Pecenongan. tempat pelacuran disebut macaupo. Dan. Tapi. menyebutkan. Sampai abad ke-19 penisilin belum ditemukakan. Mungkin inilah awal kata ejekan sowean untuk seseorang dengan kata kasar. Di Mangga Besar. Tempat pelacuran yang setiap harinya didatangi ribuan orang ini dibersihkan pada masa Gubernur Ali Sadikin (1971) dan pekerja seksnya dipindahkan ke lokalisasi Kramat Tunggak. Raffles tidak memperbolehkan warga Betawi tinggal di kawasan Noordwijk (Jl Juanda) dan Risjwijk (Jl Veteran) serta Risjwijkstraat (Harmoni). Juga di Mangga Besar.berlangsung dengan ngamar di rumah-rumah kardus dekat rel kereta api. Orang Tionghoa menyebut pelacur sebagai suhian. kemudian Pecenongan menjadi daerah bisnis. Tentu saja tempatnya sekitar Pelabuhan Sunda Kalapa atau di sekitar Menara Syahbandara. Mereka memakai bahasa Portugis. 2009 oleh alwishahab Tepatnya sekitar tahun 1880-an atau 120 tahun lalu. diperbolehkan tinggal di Pecenongan yang berdekatan dengan ketiga kawasan elite tersebut. dan lahirlah keturunan Indo-Belanda. Dengan demikian terjadi hubungan keluarga di antara keluarga-keluarga penting yang mempengaruhi masa depan seseorang. Jakarta Utara. karena para PSK-nya didatangkan dari Macau. Jakarta Pusat. janda-janda kaya dari pegawai Kompeni sangat disukai sebagai istri seorang bujangan yang ambisius. pada tahun 1630 pemerintah kolonial di Belanda melarang untuk mengirim wanitanya ke Asia. Di Batavia orang Belanda memakai istilah mestizen untuk menyebut orang berdarah campuran antara Asia dan Eropa.1811). Suatu perkecualian dibuat bagi pegawai tinggi yang diizinkan membawa istri dan anak-anak mereka. Sejarawan Belanda. Jakarta Barat. Hans Bonke. Karena menempuh perjalanan jauh dan penuh risiko. Mereka yang terkena penyakit kelamin disebut terkena raja singa. mereka disebut pehong — berasal dari kata Tionghoa pehyong. Sulit dipercaya daerah yang ketika itu sunyi senyap. . Sejak masa Inggris (1808. Karena jalan orang yang terkena penyakit itu ngengkang. Pecenongan Menjelang Abad ke-20 Juni 19. terdapat tempat pelacuran yang sama. Batavia menjadi daerah dengan banyak lelaki dan hanya sedikit wanita berkulit putih. umumnya bahasa yang dipakai pada abad ke-19 di Batavia.

Kawasan Pecenongan Minggu. Silsilah jalan pecenongan ini menguak kisah seorang konglomerat yang pernah berjaya dengan usaha di bidang otomotif motor. Hebatnya lagi. Kini. selain asesoris dan perkakas motor. dulu merupakan kediaman tante Ditje (Sarah Thamrin). banyak menerbitkan buku bermutu dan mengalami nasib yang sama setelah dinasionalisasi. juga ditemui berbagai bengkel maupun show room mobil terkenal. Koran ini dilarang terbit setelah hubungan RIBelanda memburuk pada 1950-an. Pecenongan menjadi salah satu pusat show room jual beli mobil. Kolff juga menerbitkan surat kabar terkenal dalam bahasa Belanda. Percetakan besar dengan ratusan pekerja warga Betawi ini. dari pihak ibu. detak kehidupan tidak pernah berhenti berdenyut di Pecenongan. terdapat penjual nasi uduk yang juga ramai didatangi pengunjung. Demikian pula. H Syah Manaf. Di Jalan Pecenongan No 35. Mulai sore hingga menjelang dini hari. dan Fuch. kwetiaw. Java Bode.Di ujung selatan Jl Pecenongan. Fauzi Bowo juga mengikuti jejak kakek dan kedua pamannya di organisasi keagamaan NU. Sepeda motor buatan Jepang belum diproduksi. terletak kantor perusahaan mobil Astra. Berbelok ke kiri dari Peconangan melalui Jl Juanda terdapat Jl Batutulis. bakmi. Di masa Belanda —sebelum berdirinya Gramedia dan Gunung Agung—Van Dorp merupakan toko buku terbaik di Jakarta. kini daerah ini menjadi pusat makanan yang ramai dikunjungi kawan Jakarta. puluhan pedagang membuka makanan Chinese Food. Di Krekot yang berdekatan dengan Pecenongan. motor buatan Barat seperti Norton. kakak mendiang pahlawan nasional kelahiran Betawi. Pecenongan merupakan salah satu pusat perdagangan sepeda motor di Jakarta. tempat itu merupakan toko buku dan percetakan milik Belanda. Demikian pula dengan putranya. H Abdul Manaf adalah tokoh NU sampai akhir hayatnya. Pada 1950-an. Sehingga dari daerahnya kita dapat melihat banyak sekali ditemukan ruko-ruko yang menjual asesoris dan perkakas motor. Triump. dan mantan wagub DKI. Boleh dikata. Namun kini. DKW. Para pembelinya yang sebagian besar bermobil siap nongkrong menikmatinya. Di sini. Para pedagang motor sebagian besar warga Tasikmalaya. Tempat makan yang ada disini cukup beragam dari mulai nasi goreng. Sebelumnya. Sesudah dinasionalisasi. Mohammad Husni Thamrin. Van Dorp. Asmawi Manaf. pernah tinggal H Abdul Manaf. Terdapat dua buah hotel berbintang di Pecenongan ‘Red Topp’ dan Hotel Imperium. 22 Juni 2008 “ Brendesch Laan” Begitulah nama jalan ini pada masa penjajahan Belanda. Java. martabak dan berbagai jajanan juga tersedia di kawasan kuliner ini. Tapi. kakek Gubernur DKI Fauzi Bowo. BSA. Van Dorp kehilangan pamor dan beralih fungsi jadi PT Astra. dan setelah kemerdekaan diambil alih pemerintah RI. di Pecenongan ketika itu terdapat Percetakan Kolff & Co. .

suasana nongkrong sambil ngobrol bisa dengan santai dilakukan disini. Rombongan kendaraan baik anak muda. namun saat matahari mulai bergerak ke barat di sore hari. Selera demi selera mengarahkan pilihan kawan Jakarta untuk bersinggah di salah satu tempat makan idaman. Bagi kawan Jakarta yang hendak bertamasya kuliner bersama dengan keluarga ataupun secara rombongan sangat tepat untuk mengunjungi kawasan ini. Selamat menikmati kawan . Namun. Tidak kurang dari setengah jam. Nuansa sore yang indah diwarnai dengan bunyi panci dan kobaran api yang terdengar seperti lantunan musik kuliner. Kawasan yang hidup dari sore hingga subuh dini hari ini cukup terkenal dengan hidangan chinese foodnya. kita hanya akan melihat nuansa pertokoan yang hidup di kawasan ini. Malam telah tiba. selain karena porsi menu chinese food yang cukup besar.Kalau kita datang ke daerah pecenongan. memang yang namanya pengamen tetap sesekali menghampiri untuk uji suara. menandakan dimulainya pembangunan tenda-tenda biru yang berhamparan di seluruh penghujung jalan. keluarga maupun petualang kuliner meramaikan suasana di kawasan pecenongan. Hirupan udara yang penuh asap kendaraan pun mulai tergantikan dengan asap masakan yang membuka lembaran pesona wisata kuliner di Jakarta. berbagai tenda megah maupun tenda kecil sudah selesai didirikan.

ff¯¾ ©ff f f  °f½  ©ff°¾ ½f f½f f¯f¾f½f¾f¯¯f½° ¯f¾f¾f¯ f°– f¾ ° ½f fff°f f¯ °– °f¾f½ fnf°– ¯ f° °ff°¾ f°°f ©f J@%Jf°f@°f¾f% f°°  ½ °ff–©f 9%9  ©f ¾¯ ¾f% f°– f¯ ° °f °–f°nf f°–¯ ½ff°f f½f¾ f° ff¾f.

fnf ©f°–f°– ¯9–¾ f°.f°––f ¾ff°–  ff° ¾ ff°– @ ¯½f°¾ °f¾½ fnf°½ f¯f  fff f ff.°fnf  f°¯f  f¾f f ff¾f9–¾ff °–f°¾ f°f°½ ½¯ff¯   ©f  ¯½f½ f¾½ffnf ¾ f f °–f°ff¾f°°f–f f°½  f° ¾ ½  .fnf9f°–ff  ff° °–f°     ½f°f¾° ¾%ffff%  f¾f¾½ fnf°°¯ ¯f°–°ff°–f°ff¾ f °f½ff½ fn°f  ff°–f° f .

°f .fnf9°¾¯ °°ff ff½ff½ °––I.

 f°–  °f½ f°½fff½f° ff°–   °f°.

fnf9 ¯f¾ ff¾f°   f½f½ fnf° f¾ ° ff°–.f°––f  f °f°fff¾f ½  ¯½f° ff ¾  ¾f¯f°––f f°– ¯ f°  °f¾ f–f f©f¾°–fff¾½¾ f f   ¾½¾ ¯f¾½ °ff°–¾ ¾ ¯ f°f °f¾ff ¯  ¯f°f°  ¯½ ¾½ fnf°° ¯ f° ¾f°–¯f ¯f  f°–  f°f°–.°f   f.

°ff°– ¾ ¾ f° f¾f¾° ½½f ffff f  f °f¾ °–  ©f   f° @f½ff¾ f° f½ °ff°– ff¯ f  f°¯ °°©f° ff¾f  f¾f f° %¾ff°%    f½ ° ff° fff° ¯½ ¾½ fnf°  f½f   f–f ¯½f ¾ ½ f°– f  9 ©f°–   ff°–f    f°f°– Jff ° ¯ °– fnf°f½f f½  °–ff° f° –f°f°–f f ff½°¾f¯½fff f° ¯f¾ ½ f¾ ff ¾f  f½f¯½ ¾½ fnf°f– ¯ °–f¯ °f¯f¾f° ff 9f°n¾–f°–½f ff°¯f°––°–  fff  f°–  f f ° °  f½f¯½ ¾ ½ fnf°9f°  °f¯ff°– f¯ ¯ °f° f½ ¾f ©f °f½ ¾f°–f°f°ff f°D°   ff¯¯ °nf°¾½° ff°–f¾f ° f° 9f°  ° ° ½ fnf°  f¾ ff° f°–¾°– –  °– –  °–  ff½f°fff¾° ° °°––f @f°f -°f%°°–ff%f°–½f°©f°–°f f½ff¾¯    f° ½f ½¾¾°  .

 ff°–  °f½ °f f¯° ¾    °ff©f¾°–f f °f©ff°f°–f°–  °f½ °f°– °–f°– ¯  f ¾ ½ °–  f¾f fff@°–f½ °–   9 n °°–f°.f°––f ¾f  ¯½f½ fnf° ¾ ¯fnf½ f °f½ff 9 °f  ff°–f° f.f°––f ¾f fff ff   f½f  ¯½f½ fnf°f°–¾f¯f  f°–@°–f¯ ° ½ fn¾ f–f¾f° .°–°°fffff © f°¾ f°° ¾ ¾ f°– °–f°fff¾f . f°–¾°– °–f°°–f¯f ¯f ¯ff ¾ f   ff½ @ ¯½f½ fnf°f°– ¾ f½f°f  ff°– f°f°–°  ¾f°½f f¯f¾f °f °%% f° ½  ©f¾ ¾°f ½° ff° f¾f¾f¯f@°––f fffDff  f °f¯ ° ¯½½ ©ff°f°©f f°½ °¾ ½f ff°½ ¯ °f°f  f° f¯ ff°–°¯ °–¯f°f°f ¾f f½  nff°  f f–½ –ff°–– f°– °f°¯ ¯ ff¾ f°f°f f°f¯  f   f°f  fff¯ °©f  f f °–f° f°f f f°f°f¾ f°f ½  f °ff¯  f%f°– f°– f° f%¯ °–f°½ff  f° ©f f°°f  f° ff °f°°  f° f   ffff°– f° f¯ ¯ff¾f¯ ¾ °°¯ ° f°–  ffnf¯½f° f°ff¾f f°½f . °fff f° ff –f .fnf   f¯½ff f  ½ °¾° ¯  ¯ff° . °© f°– f   °  f¾ff  @ ½f°f¾ ff° f°fff°f  ½ nff f ff°– f¾° ¾ °f½  ½ °½ ½°f°¯ ° f°f° f° ¯ f¾½ff ffff°9 n °°–f°  fff9¾f  ©f¯f¾f°––¾% % f€€ ¾ f¯ ¯½   f°f–f f°––f ff¾f°- ©%f° f% f°¾©©%I  f°%¾ f¾©©¾ff%f¯°% @f½  ½   f°°––f 9 n °°–f°f°–  ff° °–f° –fff¾f°   ¾  f°   ¯ f°9 n °°–f°¯ °©f  f f ¾°¾  .  f¯ ¯ff ff¾f9–¾ ¯¯°f ff¾ff°– ½ff½f ff f     fff   ©fff° f° f f°¾ ° ¯ ° f° ©f° f ©f° fff f½ –ff¯½ °¾f°–f ¾f¾ f–f¾¾ f°– ©f°–f°f°–f¯ ¾¾  °–f° ¯f° ©f  °–f° f–f  f°ff f–f  f–f½ °°–f°–¯ ¯½ °–f¯f¾f ½f°¾ ¾ f°–  f¯f°f½ ©ff°f° f f° f  fff °–f°f½fff  f° f°¯ °–f ff° ¯f   f°f    fff¾ ©ff f   @ °¾f©f ¯½f°f¾ f9 f f° ° fff½fff ¾ f.

©°–¾ ff°9 n °°–f°   ff°½ ¾fff°¯ ¾f  ¯°f  ¯½f ¯ ½ff°  f°½ n ff°¯ f° f If°½  f°¾  f ¯  ff° f¯  f½ ¯ °f ¯f¾f f° f ¾ ¯  °ff¯ f f°°°––°– If°½ ¯ ½ff°   f fff  ¾ f °f¾°f¾f¾ If°½ f°–f°½f¯ f° f€°–¾©f 9@¾f   ¯f°½f  9 n °°–f° f  f½f9 n ff°€€ .

f¾ °––f¯ °© f°– °f ½f° ½ f–f°–¯ ¯ f¯ff°f°.f¯¯f ¾°@f¯°    ff  f  ½f°  f½ °f  °  ° 9 n °°–f° . 9 n ff° ¾f °–f° f¾f°½  ©ff–f f°  f°f¯ °  f°  ¯ f°¯ °–ff¯°f¾ f°– ¾f¯f¾  f °f¾°f¾f¾ €€©–f¯ °  f°¾ff f  °f ff¯ ff¾f f° f  ff  f°° ff°–  ¾  f °–f° f° f¯ ¯ ½f f f°  9f f f° 9 n °°–f°¯ ½ff°¾ff¾f½¾f½  f–f°–f°¾ ½ f¯ fff @f½  ¯ ff° ff¾ ½ -° ff J @¯½    f°n  ½ f¯ ff° ½f°– ¯ ½ ¾ 9ff½ f–f°–¯¾ f–f° ¾ff–f@f¾¯fff ° 9 n °°–f° ¯ °©f ¾ff¾f½¾f¾¯©f ¯   ff°9 n °°–f°-  ¯ ½ff° f¯f°f° © %ff@f¯°% ff¯ ° f°– ½fff°°f¾°f ff° f .

f°f€f ff-D¾f¯½ffff°f   ¯f°½f °–f°½f°f f.°–– ° #  ° ¾nff°# –f°f¯f©ff°°½f f¯f¾f½ °©f©ff° f° f ¾f©ff°½ n °°–f°°¯ °–f¾f ¾ f°–°–¯ ff°–½ °f ©ff °–f°¾ff   f°–¯€¯  °––f f f f°ff f½f¯ f f°f¾ f  ¯f° f°–¯ °©ff¾ ¾¾ f° ½ ff¾¯ -f¯°° ¾ f°f¾ ¾¾ f°½ ff¾¯ ©–f  ¯  f–f °–  ¯f½°¾¯¯   °f   f°ff– ° f f°¯ °©f ½¾f¯ff°f°f°–f¯f °©°–ff°fff @ ¯½f ¯ff°f°–f f ¾°n½ f–f¯ f¯f°f¾– °–  f¯  f ¯ff f f°  f–f©f©f°f°©–f ¾ f ff¾f°° °    .f°f€ f   °f   f½f   .° ¾    9ff½ ¯ °ff°–¾ f–f° ¾f ¯ ¾f½°°–°–¯ °¯f°f  f°–  ff° °–f°9 n °°–f°   f½f½ °©f°f¾ f°–©–ff¯f  ff°–½ °–°©°–  @  f½f f f   °f°– 9 n °°–f°# @½½# f° ¯½ ¯     f9 n°f°–f°¯ ff° f  f½f f¾ ¾° ½ °f°––f .f°f€  f°¯f°f°f–  ¾¯f.f°f€ f  ©–f¯ °–© ©ff  f° f½f¯f°°f –f°¾f¾ f–f¯ff°-D   ff¾f°9 n °°–f° .

ff¯ f f ¯ °–f° ° fff° ff°f¯ f  f–f¯f½°½ ff°–°  ¯ f¯ff°¾f¾f°f ff¾f°½ n °°–f°   f ¯¾  f¯ °–fff°½f°ff° fff° ¾°––f ¾ff¾f ¯½f¯ff° f¯f°  ff¾f°f°– ½ f¾ °––f¾  °f°n½  °f °–f° f°–f°n° ¾  € °f  f–ff°ffff°– ° f f¯f¾f°  ¾f¯f °–f° f–fff½° ¾ nff¯ °–f°¾f°–f ½f°¯ °–°©°–ff¾f°° ¾ f°f °f½¾¯ °n° ¾  € f°–n½ ¾f ¾f¾f°f°°–°–¾f¯ °–  ¾f °–f°¾f°f ff° ¾°  -f¯° ¯ ¯f°–f°–°f¯f°f½ °–f¯ ° f½¾ ¾ f¯ °–f¯½°©¾ff  f¯f ¯ °¯fff° .fff ff°–  f f½ n °°–f° ff°fff°¯ f°f°¾f½ f°f°– ½  ff¾f°° °f¯°¾ff¯fff¯f – f  ff ¾ f ¯ °f° ff° ¯f°f ½ ¯ f°–°f° ° f  ° f f°– f¯½ff° ¾ ½ °–©°–©ff° @ ff°– f ¾  °–f©f¯   f–f ° f¯ –f¯f½° ° f n¾ f¾  ¾f  f° -f°¾f¾ f°– ° f f°f °–f° °½f°n f° ff°f½f°–  °–f¾ ½ f°°f°¯¾°   ½f° fff°–½ °f¾f½ ° fff°½°¯f –f°f° °–f°f¾f½¯f¾ff°f°– ¯ ¯ f ¯ ff°½ ¾°f¾ff°  fff  .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->