Akreditasi Puskesmas

http://ruhyana.wordpress.com/2011/08/22/akreditasi-puskesmas/ Posted on Agustus 22, 2011 Salah satu cara untuk meningkatkan manajemen Puskesmas yaitu dengan dilaksanakannya akreditasi, dimana petugas puskesmas melaksanakan selft assesment. Adapun kegiatan yang di akreditasi ada 7 (tujuh) indikator/standar yang terdiri dari 25 parameter. Saat ini Kabupaten Cirebon akan mengakreditasi sebanyak 10 (sepuluh) Puskesmas. Hambatan yang dirasakan selama ini adalah kebiasaan petugas puskesmas, dimana petugas tersebut biasanya tidak pernah mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang mereka laksanakan, namun dengan adanya akreditasi semua pekerjaan harus terdokumentasi, dalam artian hasil kinerja kita harus bisa dibuktikan secara administrasi, kerana dengan berbasis bukti manajemen skill akan terwujud. Awalnya petugas puskesmas merasakan bahwa akreditasi adalah sebagai beban … karena tugas pokok belum terselesaikan ditambah adanya akreditasi…dan bahkan akreditasi menjadi tugas pokok bukan lagi tugas sampingan karena ada target harus “lulus” walaupun kata itu tidak terucapkan…sehingga sering lembur dan berusaha membuat program yang belum pernah dikerjakan……….capek..pusing..jengkel..ngedumel sendiri..saling menyalahkan..sering muncul dan hari-hari begitu cepat berlalu…. Dari pengalaman tidak pernah mendokumentasikan kegiatan menjadi budaya yang harus dilakukan…sulit tapi setelah dilaksanakan ternyata hasilnya memuaskan..kinerja menjadi terukur dan terstruktur …..hasil kegiatan begitu nyata tidak mengada-ada…. dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan ….jam kerja tak pernah kosong lagi bahkan kurang. 150 jam yang tersedia selama sebulan dengan perhitungan 120 jam untuk menyelesaikan tugas pokok dan 30 jam untuk melaksanakan tugas tambahan terasa kurang…. Tapi….itu dulu waktu waktu akan ada penilaian akreditasi…setelah selesai penilaian dan dinyatakan lulus… akankah budaya tulis menulis itu masih berlangsung??? itu yang menjadi pertanyaan.. Bila memang budaya itu terus dipupuk dan dikembangkan maka Akreditasi ada manfaatnya…tapi kalau semuanya hanya copy paste…akreditasi hanya berupa topeng belaka…lulus tapi sebenarnya tidak lulus…lebih baik tidak terakreditasi dari pada lulus hanya formalitas..yah nggak???

22 September 2011 . artinya satu puskesmas punya 1-3 dokter. namun jumlah inipun belum tentu dapat tercapai karena tergantung pada kesiapan dana. Jalan Pasteur. kelengkapan peralatan. Alma menjamin mutunya akan mengalami peningkatan. Dari segi tenaga kesehatan.” jelasnya. Standardisasi ini perlu dilakukan karena menurut Alma. di mana satu desa 2-3 bidan.041 puskesmas yang ada di Jabar.” ujarnya.” ungkapnya. 15. Namun. Kota Bandung. sebanyak 56 orang di Jabar melakukan pengobatan pertama ke puskesmas. Untuk itu.888 desa. Sehingga pelayanan yang diberikan pada masyarakat bisa maksimal.puskesmas di Jabar sudah memenuhi standar. setiap tahun di-updatedan ditingkatkan.ahmadheryawan. Puskesmas yang telah diakreditasi dan komponen penilaiannya telah sesuai standar tetap akan melakukan pelayanan seperti biasanya.Dinkes Dorong Akreditasi Puskesmas http://www.com/lintas-jabar/lintas-jawa-barat/kesehatan/938-dinkes-dorongakreditasi-puskesmas Published on Friday. “Yang akan diakreditasi antara lain program pelayanan kesehatan. “Dulu penyakit lupus hanya bisa dideteksi oleh dokter spesialis. Setiap tahunnya ada sekitar 52 puskesmas yang diakreditasi. namun kita tingkatkan dan diperluas jangkauannya.000 bidan di 5. Pengawasan dari segi peralatan juga perlu diperhatikan. dan sumber daya manusianya. Ini menjadi pertanggungjawaban pemerintah sehingga ada jaminan mutu untuk masyarakat. Misalnya.” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Alma Lucyati saat ditemui di sela-sela workshop “Lupus dan Penatalaksanaannya bagi Dokter Puskesmas se-Jabar” di auditorium gedung Bapelkes. dari standar minimal menjadi standar kelas satu dan seterusnya. (masita ulfah) Sumber: Harian Seputar Indonesia . 23 September 2011 07:00 Written by bowo BANDUNG – Untuk memberikan layanan kesehatan dengan mutu baik. peralatan yang sudah habis masa pakainya harus segera diganti. “1. tapi sekarang bisa dideteksi oleh dokter di puskesmas. kita punya 2. Program ini telah dimulai selama dua tahun dan terus dilakukan untuk meningkatkan standar pelayanan. “Hampir semua puskesmas sudah mendapatkan sertifikat. Dinkes Provinsi Jawa Barat melakukan akreditasi untuk seluruh puskesmas di Jabar.Kamis.000 dokter.

kabupaten/kota memenuhi semua dana akreditasi disertai pendampingan penuh. Beberapa di antaranya. Ketiga. belum dipersiapkan secara matang. tidak ada kegiatan akreditasi di puskesmas. eksistensinya saat ini justru perlu dipertanyakan. BPTPK Gombong selaku tim . penilaian. tim akreditasi kabupaten/ kota mempunyai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pembinaan. meskipun sudah berjalan sekitar enam tahun yakni sejak tahun 2003.Puskesmas. Meskipun.Adapun BPTPK Salaman dan Dinas Kesehatan Provinsi Jateng berperan sebagai penilai akreditasi. merekomendasikan bila puskesmas siap dinilai. dari 856 puskesmas di Jateng. per Mei 2009. dan pembiayaan. dengan diwajibkan mencarikan anggaran untuk biaya persiapan. kabupaten/kota memberi dana lewat APBD II tapi sangat minim. pertama Dinkes Jateng diharapkan bisa menginstruksikan dinkes kabupaten/kota untuk bisa berperan sesuai tupoksinya. Kedua. mempunyai tupoksi sebagai tim pendamping/pembimbing akreditasi kepada puskesmas yang membutuhkan. pada satu sisi akreditasi adalah sukarela. kabupaten/kota tidak melaksanakan akreditasi sama sekali. kabupaten/kota melakukan pendampingan dan keempat. Betapa tidak.php/read/cetak/2009/12/28/93003/Puskesmas-antara-ISO-danAkreditasi  Oleh Prio Nurono AKREDITASI puskesmas yang selama ini digembar-gemborkan sebagai metode tepercaya untuk mengukur kinerja. Pelaksanaan yang waktunya sangat terbatas itu menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang sangat berguna dalam pelaksanaan akreditasi. Kemudian Balai Pelatihan Teknis Profesi Kesehatan (BPTPK) Gombong selaku institusi yang dipercaya menangani akreditasi puskesmas. Saat ini posisi kabupaten/kota terhadap akreditasi bisa dikelompokkan menjadi empat.75 %) yang terakreditasi penuh. perangkat yang mendukungnya juga masih terkesan acak-acakan. Bukan saja metode yang digunakan di Provinsi Jawa Tengah banyak menemui kendala dalam praktiknya di lapangan. Pertama. Kedua. antara ISO dan Akreditasi http://suaramerdeka. Guna mendapatkan masukan dan pijakan yang lebih objektif dalam pelaksanaan akreditasi. Ada apa dengan akreditasi puskesmas? Kebijakan mengenai akreditasi ditengarai jelas adanya nuansa ketidakkonsisten-an.com/v1/index. Tidak heran. sampai mempertahankan apabila sudah terakreditasi. namun di sisi lain secara bertahap seluruh puskesmas (jika memungkinkan) akan diakreditasi. kabupaten/kota tidak memberi dana APBD II sehingga puskesmas melaksanakan akreditasi secara mandiri. sudah ada ketentuan agar kabupaten/kota mengembangkan prinsip-prinsip kemandirian organisasi. baru 23 yang dinilai dan baru 15 puskesmas (1. Dinkes Provinsi Jateng mengadakan workshop yang berlangsung pada 19 Maret 2009. Jika dilihat dengan terbatasnya anggaran di provinsi maka keinginan mengakreditasikan seluruh puskesmas kiranya hanya akan menjadi isapan jempol. Dari masing-masing elemen yang terlibat.

Semua data dalam komputer disegel. akreditasi merupakan masa lalu. Penulis mencatat lebih dari 50 verifikasi yang tidak bisa diterapkan di puskesmas. 2. termasuk pembagian personel. Ketiga. instrumen akreditasi secara kuantitas banyak yang tidak bisa diterapkan di puskesmas sehingga seharusnya banyak instrumen yang dikurangi. Terlebih adanya adanya ISO yang saat ini lebih menjanjikan. program akreditasi puskesmas hidup segan mati tak mau. Tanpa Pendampingan Salah satunya adalah Puskesmas Gombong I. Jadi. sehingga dibutuhkan penyederhanaan bahasa. namun baru 1. Hal ini dikarenakan beberapa hal. Partisipasi kabupaten/kota juga sangat sedikit terutama kelompok 1. akreditasi sudah berjalan enam tahun. Sehingga puskesmas bingung apakah memilih ISO atau akreditasi karena pendamping konsentrasinya terbelah antara ISO dan akreditasi. dan 3. Kelima. Secara kualitas instrumen ini juga perlu ditingkatkan. dan sekali penilaian langsung lulus untuk ketujuh kelompok kerja (pokja). (10) — Dokter Prio Nurono. sehingga pada penilaian tidak mempunyai standar penilaian yang sama. tidak semua tim penilai menguasai instrumen akreditasi. Kemudian di tingkat provinsi pun. instrumen akreditasi adalah nyawa akreditasi. di Puskesmas Gombong I. Kebumen. mengingat harus membina akreditasi dan ISO. Untuk prestasi tersebut. akreditasi di Gombong saat ini sudah dihentikan. terutama yang bisa langsung dilihat dan dirasakan oleh pelanggan. Kondisi tersebut tampak pada beberapa hal misalnya. Motivasi semua pelaksana akreditasi sangat tinggi. Lalu untuk instrumen secara kuantitas banyak yang tidak bisa di terapkan di Puskesmas Gombong I (lebih dari 50 verifikasi). Semua dokumen dimasukkan dalam suatu ruangan dan dikunci. Puskesmas Gombong I memperoleh reward mewakili puskesmas terakreditasi penuh untuk paparan saat workshop di Provinsi Jateng pada 19 Maret 2009.pendamping sebaiknya per kelompok kerja (pokja) sehingga hasil lebih berkualitas. Namun. Sulitnya akreditasi sebenarnya dikarenakan bahasa yang dipakai sulit dimengerti oleh semua orang. Kepala Puskesmas Gombong I Kabupaten Kebumen . Keempat. termasuk juga dibutuhkan dana untuk mempertahankan status akreditasi.75 % yang terakreditasi penuh. Instrumen sampai sekarang belum nampak ada perbaikan. di antaranya adalah akibat dana dari APBD II sampai sekarang tetap belum ada. Puskesmas ini telah terakreditasi penuh tanpa biaya APBD II dan tanpa pendampingan dari Dinkes Kabupaten. Untuk persiapan sampai penilaian diperlukan banyak dana secara mandiri.