Anda di halaman 1dari 8

SEMINAR TUGAS AKHIR

Sang Pejaja Senyum: Sebuah Studi Tentang Industri Prostitusi

Oleh: Randy Rudiananda 0806463870

Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia 2012

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Jakarta adalah ibukota dari negara Indonesia dan merupakan kota metropolitan yang memiliki daya tarik tersendiri bila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Makasar, Jogjakarta, dll. Gedung-gedung tinggi dan monumenmonumen merupakan beberapa simbol yang menarik bagi masyarakat yang bertempat tinggal di luar Jakarta. Tempat-tempat hiburan dan pusat keramaian ikut memberikan warna kehidupan di kota Jakarta seperti mall, stasiun, taman rekreasi, club malam, panti pijat, dll. Salah satu aktivitas yang ada pada siang dan malam hari adalah panti pijat. Keberadaan panti pijat di merupakan salah satu kebutuhan yang digunakan oleh masyarakat terutama di kota Jakarta berhubungan dengan kesehatan. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman panti pijat terlihat sebagai tempat hiburan. Pelayanan di panti pijat biasanya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Tetapi terdapat panti pijat yang pelayanannya hanya perempuan dan pengunjunganya hanya laki-laki, misalnya Fortune Spa, My Place Spa, Delta Spa, dan lain sebagainya. Pada umumnya panti pijat yang hanya diminati oleh kaum pria banyak melakukan penyimpangan dari fungsi yang sebenarnya. Panti pijat yang melakukan penyimpangan tersebut memiliki fasilitas yang tidak hanya sebagai pemijatan saja, melainkan juga dapat memberikan pelayanan seks untuk pengunjungnya. Hal tersebut merupakan suatu ajang pelacuran atau prostitusi yang terjadi di dalam masyarakat. Berdasarkan buku yang berjudul Kejahatan Berdimensi Baru, penyusupan kejahatan terorganisasi yang paling kentara ke dalam prostitusi pada dua dasawarsa yang lalu adalah melalui panti pijat. Dimanapun terdapat dinas pemerintahan yang korup maka akan segera diikuti oleh koloni panti pijat atau jenis-jenis yang lebih lincah yang masing-masing aktif menghubungkan pelacur dengan pelanggan panti pijat adalah bisnis-bisnis multi juta dollar yang langsung menjadi petunjuk adanya dinas pemerintahan yang korup.1 Sebagai sarana hiburan panti pijat yang pelayanannya banyak dikunjungi masyarakat seperti halnya tempat-tempat hiburan lainnya yang salah satunya adalah Delta Spa yang merupakan panti pijat di daerah Jakarta Selatan. Adanya beberapa aturan hukum yang

Kunarto, Kejahatan Berdimensi Baru, Jakarta: Cipta Manunggal, 1999, hal. 214

melarang prostitusi dimana masyarakat juga memandang prostitusi sebagai perbuatan kotor. Namun adanya penyimpangan yang terjadi di panti pijat menunjukan adanya sesuatu yang terselubung dari pemerintah maupun masyarakat. I.2 Permasalahan Banyaknya pelaku prostitusi di daerah perkotaan yang dalam hal ini berada di Jakarta Selatan, dapat melakukan aktivitasnya secara bebas. Oleh karena itu munculah pertanyaan penelitian penelitian: Bagaimana hubungan sosial yang terjadi antara germo dan wanita pemijat di panti pijat Delta Spa? I.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan pertanyaan permasalahan, maka tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan sosial apa sajakah yang terjadi antara germo dengan wanita pemijat di panti pijat delta spa. I.4 Signifikansi penelitian Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi secara umum bagi para masyarakat, pendidik, maupun para pemerhati pendidikan untuk mengetahui sebenarnya apa yang melatarbelankangi wanita pemijat bisa terjun ke dalam pekerjaan prostitusi terselubung dan secara lengkap dapat melihat hubungan sosial antara germo dengan wanita pemijat. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan terutama yang terkait dengan hubungan social yang terjadi antara germo dan wanita pemijat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu penelitian dapat digunakan untuk wacana dan referensi penelitian dan berbagai karya akademis lainnya yang terkait.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 jaringan sosial pelacuran di prumpung, jatinegara. Metodologi pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan dengan melakukan observasi serta wawancara. Penelitian menggambarkan tentang fakta yang terjadi di prumpung, jatinegara karena adanya pihak-pihak yang mendukung bertahannya pelacuran di tempat tersebut. Dengan demikian yang menjadi permasalahan utama adalah adanya jaringan sosial yang mendukung praktik pelacuran di prumpung, jatinegara. Pertanyaan penelitian dalam skripsi ini adalah aktor-aktor siapa sajakah yang terlibat di dalam jaringan pelacuran di prumpung, jatinegara.

II.2 Kerangka Konsep II.2.i Hubungan Patron dan Klien Hubungan patron klien adalah pertukaran hubungan antara kedua peran yang dapat dinyatakan sebagai kasus khusus dari ikatan yang melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan status sosio-ekonominya yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber dayanya untuk menyediakan perlindungan, serta keuntungan-keuntungan bagi seseorang dengan status yang dianggapnyanya lebih rendah (klien). Klien kemudian membalasnya dengan menawarkan dukungan umum dan bantuan termasuk jasa pribadi kepada patronnya. Sebagai pola pertukaran yang tersebar, jasa dan barang yang dipertukarkan oleh patron dan klien mencerminkan kebutuhan yang timbul dan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Patron selain menggunakan kekuatanya untuk melindungi kliennya, ia juga dapat menggunakan kekuatannya untuk menarik keuntungan/hadiah dari kliennya sebagai imbalan atas perlindungannya. Jasa patron secara kolektif. Secara internal patron sebagai kelompok dapat melakukan fungsi ekonomisnya secara kolektif. Yaitu mengelola berbagai bantuan secara kolektif bagi kliennya. Bagi klien, unsur kunci yang mempengaruhi tingkat ketergantungan dan penlegitimasiannya kepada patron adalah perbandingan antara jasa yang diberikannya kepada patron dan dan hasil/jasa yang diterimannya. Makin besar nilai yang diterimanya dari patron dibanding biaya yang harus ia kembalikan, maka makin besar kemungkinannya ia melihat ikatan patron-klien itu menjadi sah dan legal. Dalam suatu kondisi yang stabil, hubungan kekuatan antara patron dan klien menjadi suatu norma yang mempunyai kekuatan moral tersendiri dimana didalamnya berisi hak-hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Norma-norma tersebut akan dipertahankan sejauh memberikan jaminan perlindungan dan keamanan dasar bagi klien. Usaha-usaha untuk merusmuskan kembali hubungan tersebut kemudian dianggap sebagai usaha pelanggaran yang mengancam struktur interaksi itu sehingga sebenarnya kaum

elitlah/patronlah yang selalu berusaha untuk mempertahankan sistem tersebut demi mempertahankan keuntungannya. Hubungan ini adalah berlaku wajar karena pada dasarnya hubungan sosial adalah hubungan antar posisi atau status dimana masing-masing membawa perannya masing-masing. Peran ini ada berdasarkan fungsi masyarakat atau kelompok, ataupun aktor tersebut dalam masyarakat, sehingga apa yang terjadi adalah hubungan antar posisi dikeduanya.2 II.2.ii Prostitusi 1. Prostitusi adalah bentuk penyimpangan seks dengan pola organisasi impuls atau dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi, dalam bentuk pelampiasan nafsu seks tanpa kendali dengan banyak orang disertai eksploitasi komersialisasi seks. 2. pelacuran adalah peristiwa penjualan diri (persundalan) dengan jalan memperjualbelikan badan, kehormatan, kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu seks, dengan imbalan pembayaran. 3. pelacuran adala perbuatan perempuan atau laki-laki yang menyerahkan badannya untuk berbuat cabul secara seksual dengan mendapatkan upah3

2 3

Scott, patron client politics and political change in south east asia, 1977 Kartono, patologi sosial, jilid 1, jakarta: raja grafindo persada, 1999, hal. 185

BAB III METODOLOGI III.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Bogdan dan taylor penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Alston dan Bowles juga menyebutkan bahwa penelitian kualitatif adalah riset yang lebih tertarik pada usaha memahami bagaimana pengalaman hidup lain, dalam mengintepretasikan fenomena makna social dan pada eksplorasi konsep-konsep baru serta mengembangkan teori-teori baru. III.2 Sifat Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu merupakan bentuk penelitian yang menggambarkan dan mempelajari suatu situasi atau kejadian. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail dan spesifik tentang suatu situasi, setting social, atau sebuah hubungan. (Newman 2000:21) III.3 Metode Pengumpulan Data a. Studi Kepustakaan Studi kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian (Suhartono 1995:70). Jadi melalui referensi ataupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan topic yang ditulis. b. Wawancara mendalam Wawancara mendalam adalah percakapan dengan suatu tujuan spesifik, yaitu percakapan antara peneliti dan informan yang difokuskan pada persepsi informan akan hadirnya kehidupan dan pengalaman, dan diekspresikan dalam kata-katany sendiri. (Moleong 2005:186). Informan yang akan peneliti wawancara adalah wanita pemijat di delta spa dan patron dari wanita pemijat tersebut.

c. Observasi Observasi adalah proses mengamati, mendengarkan, kemudian mencatat atau merekam secara hati-hati serta penuh perhatian terhadap setting atau keadaan fisip untuk bisa

menangkap atmosfer suatu tempat atau kejadian, mengamati orang atau tindakan mereka, informasi social yang diungkapkan, dialek, perarasaan-perasaan, dan sikap melalui komunikasi non verbal seperti ekspresi wajah, gerak isyarat, dan bagaimana dia berdiri dan duduk, dimana ekspresi orang berhubungan dengan bagaimana posisi mereka sendiri dalam keluarga dan melalui kontak mata. (Sukandarrumidi 2002:69). Observasi yang akan dilakukan adalah dengan melihat bagaimana hubungan sosial antara wanita pemijat di delta spa dengan patronnya.

DAFTAR PUSTAKA Kunarto, Kejahatan Berdimensi Baru, Jakarta: Cipta Manunggal, 1999 Scott, patron client politics and political change in south east asia, 1977 Kartono, patologi sosial, jilid 1, jakarta: raja grafindo persada, 1999