Anda di halaman 1dari 11

PERAN DIPLOMASI PUBLIK INTERNASIONAL

I. LATAR BELAKANG Secara umum diplomasi publik dipahami sebagai suatu upaya untuk mempengaruhi publik internasional (negara lain) demi tercapainya kepentingan nasional suatu negara. Upaya ini biasanya dilakukan dengan membentuk sebuah jaringan komunikasi sebagai wadah promosi kebijakan luar negeri. Dengan dikoordinasi oleh pemerintah, pihak-pihak yang terlibat dalam upaya ini adalah non-state actors seperti NGO, media massa, kelompok masyarakat, partai politik, parlemen, individu (tokoh agama, wartawan, artis), dll. Banyak pihak melihat bahwa diplomasi publik adalah propaganda, nation-branding, atau pertukaran seni dan budaya. Namun, diplomasi publik pada hakikatnya tidak terbatas pada hal-hal tersebut tetapi mencakup kegiatan-kegiatan yang lebih luas dan lebih substantif. Dalam konteks Indonesia, diplomasi publik sedikit berbeda dengan praktek yang banyak dilakukan oleh negara-negara lain khususnya negara maju. Indonesia melaksanakan diplomasi publik tidak hanya kepada publik internasional tetapi juga kepada publik domestik. Praktek ini dipengaruhi oleh faktor bahwa politik internasional banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor internal sebuah negara dan di sisi lain, dinamika politik dalam negeri juga banyak dipengaruhi oleh berbagai isu-isu internasional. Untuk itulah diperlukan sebuah mekanisme yang bisa menjembatani dinamika luar negeri untuk kemajuan dalam negeri. Dengan demikian, publik dalam negeri diharapkan dapat semakin mengerti berbagai masalah internasional khususnya isu-isu yang melewati batas-batas negara (borderless) di dalam dunia internasional yang semakin terbuka.

II. PEMBAHASAN Dewasa ini, aktivitas diplomasi menunjukkan peningkatan peran yang sangat signifikan seiring dengan semakin kompleksnya isu-isu dalam hubungan internasional. Hubungan internasional pun tidak lagi semata-mata dipandang sebagai hubungan antar negara namun juga meliputi hubungan antar masyarakat internasional. Dengan demikian, diplomasi tradisional atau yang dikenal dengan istilah first track diplomacy yang hanya melibatkan peran pemerintah dalam menjalankan misi diplomasi, tentu saja tidak akan efektif dalam rangka menyampaikan pesan-pesan diplomasi terhadap suatu negara. Oleh karena itu, aktivitas diplomasi publik yang melibatkan peran serta publik akan sangat dibutuhkan dalam rangka melengkapi aktivitas diplomasi tradisional. Alasan utama dari keterlibatan publik ini didasarkan pada asumsi yang cukup sederhana yaitu pemerintah tidak selalu dapat menjawab berbagai tantangan dalam isu-isu diplomasi yang kini semakin kompleks terlebih sifat khas yang melekat dari pemerintah adalah sangat kaku (rigid). Melalui peningkatan aktivitas diplomasi publik, pemerintah berharap bahwa upaya diplomasi akan berjalan lebih efektif dan memberikan dampak yang lebih luas dan besar pada masyarakat internasional. Di samping itu, pemerintah pun berharap bahwa keterlibatan publik ini dapat membuka jalan bagi negosiasi yang dilakukan wakil-wakil pemerintah sekaligus dapat memberikan masukkan dan cara yang pandang yang berbeda dalam memandang suatu masalah. Definisi dari diplomasi publik sangat beragam. Diplomasi publik didefinisikan sebagai upaya mencapai kepentingan nasional suatu negara melalui understanding, informing, and influencing foreign audiences.Dengan kata lain, jika proses diplomasi tradisional dikembangkan melalui mekanisme government to government relations, maka diplomasi publik lebih ditekankan pada government to people atau bahkan people to people relations.

Tujuannya adalah agar masyarakat internasional mempunyai persepsi baik tentang suatu negara, sebagai landasan sosial bagi hubungan dan pencapaian kepentingan yang lebih luas. Lebih khusus lagi, Deplu AS menyatakan: public diplomacy seeks to promote the national interest and the national security of the United States through understanding, informing, and influencing foreign publics and broadening dialogue between American citizens and institutions and their counterparts abroad. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Menteri Luar Negeri RI, Hassan Wirrajuda mengatakan bahwa diplomasi publik bertujuan untuk mencari teman di kalangan masyarakat negara lain, yang dapat memberikan kontribusi bagi upaya membangun hubungan baik dengan negara lain. Diplomasi publik juga dikenal dengan istilah second track diplomacy yang secara umum didefinisikan sebagai upaya-upaya diplomasi yang dilakukan oleh elemen-elemen non-pemerintah secara tidak resmi (unofficial). Tetapi second track diplomacy bukan bertindak sebagai pengganti first track diplomacy. Dengan kata lain, upaya-upaya yang dilakukan dalam second track diplomacy harus melancarkan jalan bagi negosiasi dan persetujuan dalam rangka first track diplomacy dengan cara mendorong para diplomat untuk memanfaatkan informasi penting yang diperoleh pelaku-pelaku second track diplomacy. Dengan kata lain, diplomasi total dengan melibatkan diplomasi publik (multitrack diplomacy) sangat dibutuhkan dalam rangka mencapai kesuksesan dalam menjalankan misi politik luar negeri. Diplomasi publik (second-track diplomacy) melibatkan berbagai aktor dengan bidangnya masing-masing. Diplomasi publik antara lain dilakukan oleh kaum bisnis atau profesional, warga negara biasa, kaum akademisi (peneliti, pendidik, dll), organisasi non pemerintah, lembaga-lembaga keagamaan dan keuangan, dan yang paling penting adalah jalur kesembilan yakni media massa. Media massa memiliki fungsi yang sangat strategis karena memainkan peran sebagai pemersatu seluruh aktor diplomasi publik melalui aktivitas komunikasi. Tujuan lainnya dari diplomasi publik adalah mengurangi atau menyelesaikan konflik melalui pemahaman komunikasi dan saling pengertian serta mempererat jalinan hubungan antar aktor internasional; mengurangi ketegangan, kemarahan, ketakutan, dan salah persepsi; menambah pengalaman dalam berinteraksi; mempengaruhi pola pikir dan tindakan pemerintah dengan menjelaskan akar permasalahan,

perasaan, kebutuhan, dan mengeksplorasi pilihan-pilihan diplomasi tanpa prasangka; dan terakhir adalah memberikan landasan bagi terselenggaranya negosiasi-negosiasi yang lebih formal serta merancang kebijakan pemerintah. Intinya, publik memegang peranan yang semakin vital dalam menjalankan misi diplomasi sebuah negara terlebih pada situasi yang semakin terintegrasi dengan beragam bidangnya yang sangat variatif. Bagaimanapun juga, misi diplomasi tidak akan pernah berjalan dengan efektif tanpa keterlibatan publik. Oleh karena itu, setiap negara kini berlomba-lomba menjalankan diplomasi total (multi-track diplomacy) dengan meningkatkan peran publik dalam aktivitas diplomasinya dalam rangka melengkapi first track diplomacy demi tercapainya kesuksesan politik luar negeri. Hal ini terlihat dengan keberadaan divisi diplomasi publik di hampir seluruh Departemen Luar Negeri di dunia serta semakin menonjolnya peran publik dalam bediplomasi. Yang menarik dari pelaksanaan diplomasi publik ini adalah faktor-faktor dominan yang mempengaruhi Indonesia untuk melakukan diplomasi publik secara komprehensif, diantaranya: 1. Tragedi WTC pada 11 September 2001. Pasca peristiwa tersebut, banyak bermunculan perspektif negatif terhadap Islam yang pada akhirnya menyalahkan Islam atas peristiwa tersebut serta muncul berbagai pandangan yang mengidentikkan Islam dengan kekerasan. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia sangat berkepentingan dengan perkembangan isu stereotype negatif tersebut. Maka perlu diselenggarakan berbagai kegiatan kerjasama lintas agama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan baik dari luar maupun dalam negeri. Pada akhirnya, publik akan mengerti bagaimana sebenarnya posisi agama dan kebudayaan dalam berbagai konflik dan teror yang sering menyalahkan agama sebagai penyebabnya. 2. Berkembangnya pandangan bahwa demokrasi merupakan sistem terbaik untuk mencapai kemajuan. Dalam konteks ini, Indonesia yang dianggap sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia juga berpendapat hal yang sama. Namun, nilai-nilai demokrasi yang sebaiknya dipahami disini adalah nilai-nilai demokrasi yang bertumbuh dari nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat negara itu sendiri (home-grown democracy) bukan nilai-nilai demokrasi yang dikembangkan oleh negara lain. Diplomasi publik dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan kepada masyarakat supaya lebih mengerti

mengenai demokrasi. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai fasilitas untuk membagi pengalaman kepada negara-negara sahabat mengenai praktek berdemokrasi. Dengan dilaksanakannya praktek diplomasi publik ini, diharapkan akan muncul sebuah pemahaman komprehensif mengenai berbagai isu-isu internasional sehingga publik akan dapat memahami langkah-langkah kebijakan luar negeri yang dipilih oleh pemerintah. Tujuan ideal yang hendak dicapai pada nantinya adalah lahirnya kemitraan antara negara/pemerintah dan non-state actors yang berkepentingan.

Diplomasi Publik Menjembatani Persepsi Domestik dan Internasional Dunia telah berubah begitu cepat. Baik lingkungan domestik maupun lingkungan internasional telah terjadi pergeseran. Dengan perkembangan ini, Departemen Luar Negeri dan mesin diplomasinya dituntut melakukan penyesuaian sehingga diharapkan mesin diplomasi tersebut mampu menghadapi tantangan-tantangan baru. Mengantisipasi perubahan ini, Departemen luar negeri R.I melakukan restrukturisasi yang di istilahkan dengan Benah diri Deplu. Langkah penting yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja Deplu, adalah dengan merubah struktur, dari pendekatan sektoral kearah pendekatan integrative, yaitu dengan tujuan untuk menyeimbangkan pandanganpandangan masalah bilateral, regional dan internasional. Dengan keseimbangan ini diharapkan bahwa Deplu tidak lagi terikat dengan sektor-sektor, tetapi lebih mengarah pada yang sifatnya integratif. Tiga hal yang menjadi fokus pembenahan Deplu, pertama restrukturisasi organisasi departemen, kedua restrukturisasi perwakilan dan ketiga, Pembenahan profesi Diplomasi. Dari pembenahan ini maka lahir struktur baru diantaranya Direktorat Informasi dan Diplomasi Publik (IDP). Sebelumnya, direktorat ini tidak ada. Ditengah gelombang globalisasi dimana didalamnya terdapat arus lalu lintas informasi yang begitu intens dan dahsyat, informasi menjadi sesuatu yang kwantitasnya semakin banyak, lalu lintasnya

semakin besar dan jangkauannya semakin jauh. Ironinya dengan jumlah informasi yang demikian banyak dan tak terbendung, kadang kala perhatian orang terhadap informasi semakin kecil. Ini namanya terjadi paradox of Plenty. Informasi bukanlah sesuatu yang tiba-tiba turun dari langit. Setiap informasi pasti ada yang menciptakan dan senetral apapun informasi tidak terlepas dari kepentingan pembuatnya. Meski di dunia global yang katanya menjadikan bumi yang kita huni menjadi satu kampung kecil dan tak berbatas, namun faktanya dunia ini masih ada kotak-kotak yang namanya negara. Sehingga loyalitas individu, sosial dan ideologi tetap saja kepada negara. Artinya kita harus melihat bahwa negara sebagai pembuat informasi, penghasil informasi dan pengelola informasi sudah seharusnya membuat informasi yang menimbulkan persepsi positif serta bisa menarik perhatian publik. Dalam paradox of plenty negara atau pemerintah dituntut untuk dapat membuat berita atau informasi yang mampu menarik perhatian publik, namun masalahnya di era seperti ini dalam suatu negara pembuat berita itu bukan hanya pemerintah saja. Aktor pembuat informasi itu bisa dari LSM, Ormas, Tokoh, DPR, DPD, media dan lain-lain. Sehingga dalam satu hari audience mendengar atau membaca berbagai macam informasi dengan berbagai kepentingan. Padahal dalam konteks negara atau pemerintah akan terdengar aneh jika disatu negara terdapat informasi yang tidak sama atau tidak satu suara, karena akan berimplikasi pada kredibilitas negara atau pemerintah tersebut. Fungsi dari diplomasi publik diantaranya adalah bagaimana menjembatani informasi yang berkembang di lingkungan domestik dan yang terjadi didunia internasional. Dulu, diplomasi dilihat sebagai ujung tombak kepentingan nasional keluar negeri. Sekarang tidak bisa begitu, diplomasi harus juga mengkomunikasikan apa yang terjadi diluar negeri kedalam negeri. Contohnya seperti kampanye anti korupsi. Saat presiden SBY terpilih sebagai presiden R.I, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan pembenahan birokrasi yang bersih dari KKN. Kampanye pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintah ternyata sesuai dengan trend dunia dimana berbagai negara juga tengah melakukan kampanye anti korupsi. Sehingga apa yang telah dilakukan pemerintah terkait dengan perang melawan korupsi tidak bisa dipandang sebagai hanya sekedar ikut-ikutan

trend atau karena adanya tekanan dari pihak luar. Hal-hal seperti ini yang harus kita komunikasikan kepada publik. Begitu juga dengan Climate Change atau pemanasan global, para pengusaha kayu inginnya menebang kayu terus, karena untungnya besar tapi perkembangan diluar banyak perubahan iklim yang disebabkan oleh rusaknya hutan dunia, sehingga Alaska semakin runtuh, gunung es mulai mencair, pulau-pulau kecil hilang, semua ini harus kita sampaikan kepada publik dalam negeri, agar hutan tidak terus digunduli. Baik isu dalam negeri maupun isu internasional memiliki saling keterkaitan. Ini yang diistilahkan dengan sebutan intermestik. Dalam kasus perang Irak, perangnya terjadi di Irak akan tetapi dampaknya terasa sampai Indonesia. Karena itu antara pemerintah dan rakyat harus satu suara untuk menjaga kredibilitas pemerintah sendiri. Dalam kasus nuklir Iran mestinya juga demikian, pemerintah dan masyarakat bisa satu suara, tapi faktanya tidak demikian. Persepsi yang terbentuk dimasyarakat adalah awalnya kita memuji Iran tapi akhirnya kita ikut Amerika. Padahal kalau persepsinya bisa dijembatani dulu dan disampaikan kepada Iran agar dalam membuat nuklir mengikuti aturan main yang berlaku, mungkin ceritanya akan berbeda. Dalam konteks inilah diplomasi publik bermain. Kalau diplomasi tradisional komunikasinya negara dengan negara, pemerintah dengan pemerintah. Sekarang tidak bisa seperti ini, karena aktor diplomasi bukan hanya pemerintah. Apalagi jarak antara masyarakat internasioanal dengan audience domestik semakin dekat, sehingga suara selain pemerintah mejadi penting. Karena itu diplomasi harus bisa menjangkau kelompokkelompok atau aktor-aktor diluar pemerintah, baik didalam maupun luar negeri. Pentingnya diplomasi publik Revolusi teknologi yang menandai lahirnya abad ke-21 secara mendasar telah mengubah tatanan dunia. Dalam bidang diplomasi, teknologi telah membuat peran diplomat menjadi kurang signifikan dibandingkan masa sebelumnya. Teknologi transportasi dan informasi menyebabkan waktu dan tempat kehilangan relevansinya sehingga diplomasi tradisional sudah harus ditinggalkan.

Aktivitas diplomasi publik dipicu kenyataan bahwa upaya-upaya pemerintah dalam diplomasi jalur pertama konflik antarnegara. Kegagalan diplomasi jalur pertama telah mengembangkan pemikiran untuk meningkatkan diplomasi publik sebagai cara alternatif untuk penyelesaikan konflik. Kegiatan diplomasi publik sangat berbeda dengan propaganda. Jika kegiatan propaganda biasa memutarbalikkan fakta, bahkan melakukan kebohongan untuk mendapatkan efek yang diharapkan, dalam kegiatan diplomasi publik kuncinya justru kejujuran dengan tujuan mendapatkan dukungan yang tulus (to win the hearts and minds). Diplomasi publik mensyaratkan kerja sama yang erat dengan media massa internasional. Diplomasi tradisional dan instrumen-instrumen militer tidak lagi mencukupi untuk menyelesaikan masalah-masalah politik dan keamanan. Berhasilnya suatu kebijakan juga menuntut dukungan rakyat dan pemimpin dari negara lain. Para diplomat harus berhasil memobilisasi dukungan yang luas bagi kebijakan mereka, termasuk mempertimbangkan tekanan publik di negara lain. Karena teknologi informasi memungkinkan pernyataan-pernyataan para diplomat dipublikasikan secara instan, maka penjelasan kebijakan mereka harus konsisten dan persuasif bagi rakyat di dalam dan luar negeri. Menjual citra negara juga merupakan bagian dari diplomasi publik. Namun, upaya ini harus diikuti upaya-upaya perbaikan terus-menerus di dalam negeri. penyampaian informasi secara cepat dan kredibel saja belum cukup. Apalagi di tengah proses reformasi kita yang menghadirkan semakin banyak aktor hubungan luar negeri, baik dalam jumlah maupun ragamnya. Terdapat keperluan untuk menjalin kemitraan dan melibatkan berbagai komponen bangsa dalam diplomasi. Menurut Hasan Wirajuda ada tiga kesalahan persepsi tentang diplomasi publik yang masih sering ditemui, bahkan di kalangan pejabat Departemen Luar Negeri. Pertama, diplomasi publik bukanlah propaganda. Propaganda adalah komunikasi langsung kepada publik dengan tujuan memengaruhi pikiran melalui upaya mempersempit atau bahkan menutup perspektif khalayak yang menjadi target. Adapun diplomasi publik justru diarahkan untuk membuka dan memperluas wawasan publik melalui informasi dan edukasi.

Kalaupun berniat melakukan propaganda, kita akan mengalami kesulitan karena apa yang terjadi di dalam negeri secara instan dapat diketahui di luar negeri. Kedua, diplomasi publik bukan nation-branding meskipun sangat erat terkait dengan upaya promosi identitas nasional. Dasar bekerjanya memang sama, yaitu mencapai pertukaran informasi, mengurangi kesalahan persepsi, membangun itikad baik, dan membangun citra. Namun, berbeda dengan pelaku kehumasan yang bisa membanjiri pasar dengan informasi tentang produk atau perusahaan, para diplomat tidak bisa memperlakukan publik dunia sebagai pasar.

CONTOH KASUS Sebelumnya, perlu diingat bahwa acara music Dahsyat merupakan acara musik yang bisa dibilang sangat merakyat dengan anak-anak muda di Indonesia, dan di bawakan setiap harinya oleh Luna Maya, Rafi Ahmad, dan Olga Syahputra. Tapi yang dikategorikan anakanak muda di sini merupakan anak-anak muda yang menyukai dan menjadi korban bandband baru Indonesia sekarang. Ya intinya, Dahsyat itu acara yang sangat merakyatlah, sangat berbeda dari acara-acara musik MTV. Kehadiran Hillary Clinton di Dahsyat sudah digembar-gemborkan sejak beberapa hari sebelum hari H nya. Awalnya gue berpikir kalo kehadiran mentri luar negeri AS itu adalah salah satu trik untuk mengangkat rating Dahsyat yang memang bersaing dengan banyak acara sejenis dari stasiun TV lainnya. Alasan ini memang masuk akal. Tapi setelah menonton wawancara ekslusif (yang tidak disiarkan secara langsung) yang dipandu oleh Luna Maya dan Isyana Bagoes Oka (news anchor-nya RCTI), gue malah kagum sendiri dengan kehadiran Hillary Clinton di Dahsyat. Iya gue memang kagum dengan Hillary secara personal, atau dengan Isyana Bagus Oka, dan gue juga ga nyangka kalo Luna Maya yang bakal mewawancarai Hillary. Tapi gue lebih memuji kehadiran Hillary yang merupakan diplomasi publik yang sangat hebat.

Apa dan bagaimana Diplomasi Publik sudah pernah saya tuliskan di blog ini. Berdasarkan penjabaran dari tulisan itu, saya mencoba menganalisis dengan singkat diplomasi publik yang tercipta melalui kehadiran Hillary Clinton di Dahsyat itu. Ada dua hal yang didiplomasikan dalam acara itu. Yang pertama adalah usaha dari AS melalui menlu nya untuk membangun kembali citra negara tersebut, dari citra penuh interfensi ala Bush menjadi citra lebih bersahabat dan diplomatis ala Obama. Untuk membangun citra tersebut, memang bisa saja jika hanya dilakukan melalui interaksi G2G (antar pemerintah ke-2 negara) saja. Namun usaha ini menjadi lebih gencar lagi jika dilakukan juga langsung kepada masyarakat negara yang bersangkutan. Untuk Indonesia misalnya, kalangan diplomat di departemen luar negeri, atau orangorang (mahasiswa, dosen, dan peneliti) yang memang mempelajari ilmu hubungan internasional sudah pasti akrab dengan yang namanya kebijakan luar negeri negara-negara, tanpa perlu dipopulerkan lebih lanjut melalui tokoh-tokoh ternama. Tapi bagaimana dengan masyarakat awam yang tidak akrab dengan kebijakan luar negeri negara-negara lain. Cara yang dilakukan oleh pihak AS dan RCTI melalui program Dahsyat ini bisa saja berhasil menjelaskan kepada masyarakat awam bahwa Indonesia merupakan mitra penting bagi AS. Dalam tayangan itu, Hillary mengemukakan bahwa Indonesia merupakan tempat yang menjanjikan di masa yang akan datang, tempat dimana demokrasi akan berjalan dengan baik. Hal kedua yang didiplomasikan dalam kehadiran Hillary Clinton di Dahsyat adalah pelajaran politik bagi masyarakat Indonesia. Seperti yang kita ketahui, bulan April mendatang Pemilu akan dimulai di Indonesia. Dalam wawancara itu, Hillary secara tidak langsung menyajikan pelajaran akan demokrasi kepada masyarakat Indonesia yang akan mengikuti Pemilu 2009 ini. Ia menyatakan bahwa kalah dan menang merupakan hal yang wajar bagi penyelenggaraan demokrasi di suatu negara. Semoga saja melalui pernyataan beliau itu bisa ditangkap oleh mesyarakat Indonesia dan tidak akan melakukan keributan jika pilihan mereka tidak memenangkan Pemilu mendatang. Jarang sekali seorang politisi dunia sekelas Hillary Clinton tampil di dalam suatu program musik di negara lain. Ternyata usut punya usut, tim Hillary melakukan survey

dulu lho acara apa yang bagus di Indonesia, karena beliau tidak mau hadir di acara talkshow biasa. Dahsyat, atau yang disebutnya Awesome itu dipilih karena memang acara musik yang memiliki rating tertinggi di Indonesia. 10 menit Hillary Clinton hadir di Dahsyat, merupakan diplomasi publik yang sangat menawan yang pernah saya lihat! Awesome!