Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kelumpuhan (parese) nervus fasialis merupakan kelumpuhan yang meliputi otot-otot wajah. Kelumpuhan nervus fasialis ini juga disebut bells palsy, bells palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut. Di dunia, insiden tertinggi ditemukan di Seckori, Jepang tahun 1986 dan insiden terendah ditemikan di Swedia tahun 1997. Di Amerika Serikat, insiden Bells palsy setiap tahun sekitar 23 kasus per 100.000 orang, 63% mengenai wajah sisi kanan. Insiden Bells palsy rata-rata 15-30 kasus per 100.000 populasi. Bells palsy mengenai laki-laki dan wanita dengan perbandingan yang sama. Akan tetapi, wanita muda yang berumur 10-19 tahun lebih rentan terkena daripada laki-laki pada kelompok umur yang sama. Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun lebih sering terjadi pada umur 15-50 tahun. Pada kehamilan trisemester ketiga dan 2 minggu pasca persalinan kemungkinan timbulnya Bells palsy lebih tinggi daripada wanita tidak hamil, bahkan bisa mencapai 10 kali lipat . Berdasarkan angka kesakitan diatas, maka kelompok tertarik membahas tentang pembahasan makalah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Klien Bells Palsy

B. TUJUAN UMUM Untuk memperoleh gambaran tentang pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada klien Bells palsy dengan menggunakan metode proses keperawatan.

C. TUJUAN KHUSUS 1. Mendapatkan gambaran tentang konsep penyakit Bells palsy 2. Mampu membuat pengkajian keperawatan pada klien dengan Bells palsy 3. Mampu membuat diagnosa keperawatan berdasarkan anamnesa 4. Mampu membuat rencana keperawatan berdasakan teori keperawatan

BAB II PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1. DEFINISI Paralisis1 nervus fasialis adalah suatu kelumpuhan nervus fasialis yang dapat disebabkan oleh adanya kerusakan pada akson, sel-sel schwan dan selubung mielin yang dapat mengakibatkan kerusakan saraf otak. Paralisis ini dapat menetap atau sementara, tergantung kepada penyebab dan sifat kerusakan yang terjadi. Kelumpuhan nervus fasialis (Nervus VII) adalah kelumpuhan otot-otot wajah, sehingga wajah pasien tampak tidak simetris pada waktu berbicara dan berekspresi. Bells palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis tipe lower motor neuron akibat paralisis nervus fasial perifer yang terjadi secara akut dan penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) di luar sistem saraf pusat tanpa disertai adanya penyakit neurologis lainnya. Kelumpuhan facialis perifer akibat proses non-supuratif, non-neoplasmatik, nondegeneratif primer namun sangat mungkin akibat edema jinak pada bagian nervus facialis diforamen stilomastoideus atau sedikit proksimal dari foramen2 tersebut, yang mulainya akut dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan (Priguna Sidharta, 1985)

Penderita Bells Palsy (Kelumpuhan Nervus Fasialis)


1 2

. Kelumpuhan atau hilangnya daya untuk bergerak . Lubang-lubang pada ujung ceruk-ceruk gigi di dalam tulang rahang

2. ETIOLOGI Penyebabnya tidak diketahui, umumnya dianggap akibat infeksi semacam virus herpes simpleks. Virus tersebut dapat dormant (tidur) selama beberapa tahun, dan akan aktif jika yang bersangkutan terkena stres fisik ataupun psikik. Sekalipun demikian Bell's palsy tidak menular. Bell's palsy disebabkan oleh pembengkakan nervus facialis sesisi, akibatnya pasokan darah ke saraf tersebut terhenti, menyebabkan kematian sel sehingga fungsi menghantar impuls atau rangsangnya terganggu, akibatnya perintah otak untuk menggerakkan otot-otot wajah tidak dapat diteruskan. Kongenital, infeksi (infeksi telinga tengah, infeksi intracranial), tumor (tumor intracranial atau ekstracranial), trauma kepala, gangguan pembuluh darah (thrombosis arteri karotis, arteri maksilaris, dan arteri serebri media), dan idiopatik (Bells palsy).

3. PATOFISIOLOGI Paralisis bell dipertimbangkan dengan beberapa tipe paralisis tekanan. Inflamasi dan edema saraf pada titik kerusakan atau pembuluh nutriennya tersumbat pada titik yang menyebabkan nekrosis iskemik dalam kanal yang sangat sempit, ada kelainan wajah berupa paralisis otot wajah, peningkatan lakrimasi (air mata) sensasi nyeri pada wajah, belakang telinga dan terdapat kesulitan bicara pada sisi yang terkena karena kelemahan atau otot wajah, pada kebanyakan klien, yang pertama kali mengetahui paresis pasialis adalah teman sekantor atau orang terdekat atau keluarganya. Pada observasi dapat terlihat juga bahwa gerakan kelopak mata yang tidak sehat lebih lambat jika dibandingkan dengan gerakan kelopak mata yang sehat, lipatan nasolabial pada sisi kelumpuhan mendatar. Dalam mengembungkan pipi terlihat bahwa pada sisi yang lumpuh tidak mengembung. Saat mencibir, gerakan bibir tersebut menyimpang ke sisi yang tidak sehat. Jika klien diminta untuk memperlihatkan gigi geliginya atau diminta meringis, sudut mulut sisi yang lumpuh tidak terangkat, sehingga mulut tampaknya mencong kearah yang sehat. Setelah paralisis fasialis perifer sembuh, masih sering terdapat gejala sisa, pada umumnya gejala itu merupakan proses regenerasi yang salah, sehingga timbul gerakan fasial yang berasosiasi dengan gerakan otot kelompok lain, gerakan yang mengikuti gerakan otot kelompok lain itu disebut sinkinetik. Adapun gerakan
3

sinkinetik adalah ikut terangkat nya sudut mulut pada waktu mata ditutup dan fisura palpebra sisi yang pernah lumpuh menjadi sempit, pada waktu rahang bawah ditarik keatas atau kebawah, seperti sewaktu berbicara atau mengunyah. Dalam hal ini, diluar serangan spasme fasialis, sudut mulut sisi yang pernah lumpuh tampak lebih tinggi kedudukannya daripada sisi yang sehat. Oleh karena itu, banyak kekeliruan mengenai sisi yang memperlihatkan paresis3 fasialis, terutama jika klien yang pernah mengalami stroke. Saraf otak yang paling sering rusak atau putus karena trauma kapitis adalah saraf olfaktorius, kemudian saraf fasialis, lesi traumatis tersebut hampir selamanya mengenai kanalis fasialis, yaitu fraktur tulang temporal yang tidak selalu dapat diperlihatkan oleh foto rontgen. Perdarahan dan likuor mengiringi paresis fasialis perifer traumatis, dengan auroskopi dapat dilihat adanya hematotimpani dengan atau tanpa terobeknya membrane timpani. Pada leukemia, paresis pasialis biasanya timbul setelah klien mengeluh tentang lesu letih dan demam yang bersifat hilang timbul dengan masa bebas demam selama beberapa minggu. Gejala-gejala dini tersebut sering berlangsung lama sebelum, leukemia diketahui, setelah pemeriksaan darah, leukemia dapat diidentifikasi. Gejala-gejala yang mempercepat dilakukannya pemeriksaan darah adalah pendarahan, pembengkakan kelenjar-kelenjar limfa dan splenohepatomegalia. Infiltrasi dan perdarahan dapat terjadi disusunan saraf dan tulang tengkorak. Pada karsinoma nasofarings paresis fasialis jarang menjadi manifestasi dini. Oleh karena lokasinya, karsinoma nasofaring menimbulkan sindrom penyumbatan tuba dengan tuli konduktif dengan keluhan. Perluasan infiltrative karsinoma nasofaring berikutnya membangkitkan perdarahan dan penyumbatan jalan lintasan nafas melalui hidung. Setelah itu, maka pada tahap berikutnya dapat timbul gangguan menelan dan kelumpuhan otot mata luar (paralisis ocular). Tumor intracranial yang paling sering menimbulkan paresis fasialis ialah tumor disudut serebelopontin, yaitu neurinoma akustikus, gejala dini tumor tersebut adalah tuli satu sisi yang bersifat tuli persetif yang hampir selalu disertai tinnitus dan gangguan vesribular, kemudian timbul gejala akibat gangguan terhadap traktus desendens saraf trigeminus yang dapat berupa hemihipestesia ipsilateral

. Kelumpuhan ringan pada sebelah badan

atau neuralgia trigeminus. Paresis fasialis yang dapat timbul pada tahap berikutnya jarang bersifat berat. Hal yang paling sering dijumpai adalah kombinasi paresis fasialis yang ringan sekali dengan tic fasialis. (Arif Muttaqin, 2008)

4. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis berdasarkan topografi letak lesi : a. Gejala kelumpuhan intra-temporal tergantung dari letak lesi, dapat ditemukan kelumpuhan otot-otot wajah atau muka, lagoftalmus, ada tidaknya air mata pada sisi lesi, gangguan pengecap, hiperakusis, gejala neurologis pada lesi nuklear. b. Gejala kelumpuhan ekstratemporal biasanya karena gangguan pada kelenjar parotis, seperti trauma, radang, dan tumor.

5. KOMPLIKASI Kira-kira 30% pasien Bells palsy yang sembuh dengan gejala sisa seperti fungsi motorik dan sensorik yang tidak sempurna, serta kelemahan saraf parasimpatik. Komplikasi yang paling banyak terjadi yaitu disgeusia atau ageusia, spasme4 nervus fasialis yang kronik dan kelemahan saraf parasimpatik yang menyebabkan kelenjar lakrimalis tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi infeksi pada kornea.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk menentukan letak lesi dan menentukan derajat kelumpuhannya, apakah harus dirujuk ke rumah sakit. Dilakukan pemeriksaan fungsi motor, pemeriksaan gustometer, tes Schirmer (meletakkan kertas lakmus pada bagian inferior konjungtiva dan dihitung banyaknya sekresi kelenjar lakrimalis), pemeriksaan eksitabilitas saraf kiri dan kanan, pemeriksaan refleks stapedius, audivestibular, radiologi, dan elektromiografi. a. Pemeriksaan Fisik Kelumpuhan nervus fasialis mudah terlihat hanya dengan pemeriksaan fisik tetapi yang harus diteliti lebih lanjut adalah apakah ada penyebab lain yang

. Kejang

menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis. Pada lesi supranuklear, dimana lokasi lesi di atas nukleus fasialis di pons, maka lesinya bersifat UMN. Pada kelainan tersebut, sepertiga atas nervus fasialis normal, sedangkan dua pertiga di bawahnya mengalami paralisis. Pemeriksaan nervus kranialis yang lain dalam batas normal. b. Pemeriksaan Laboratorium Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk menegakkan diagnosis Bells palsy. c. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiologi bukan indikasi pada Bells palsy. Pemeriksaan CTScan dilakukan jika dicurigai adanya fraktur atau metastasis neoplasma ke tulang, stroke, sklerosis multipel dan AIDS pada CNS. Pemeriksaan MRI pada pasien Bells palsy akan menunjukkan adanya penyangatan (Enhancement) pada nervus fasialis, atau pada telinga, ganglion genikulatum.

7. PENATALAKSANAAN Terapi pertama yang harus dilakukan adalah penjelasan kepada penderita bahwa penyakit yang mereka derita bukanlah tanda stroke, hal ini menjadi penting karena penderita dapat mengalami stress yang berat ketika terjadi salah pengertian. a. Istirahat terutama pada keadaan akut b. Medikamentosa Selain itu, dari tinjauan terbaru menyimpulkan bahwa pemberian kortikosteroid dalam tujuh hari pertama efektif untuk menangani Bells palsy. Pemberian sebaiknya selekas-lekasnya terutama pada kasus bell's palsy yang secara elektrik menunjukkan denervasi. Tujuannya untuk mengurangi udem dan mempercepat reinervasi. Dosis yang dianjurkan 3 mg/kg BB/hari sampai ada perbaikan, kemudian dosis diturunkan bertahap selama 2 minggu. c. Fisioterapi Sering dikerjakan bersama-sama pemberian prednison, dapat dianjurkan pada stadium akut. Tujuan fisioterapi untuk mempertahankan tonus otot yang lumpuh. 1) Penanganan mata Bagian mata juga harus mendapatkan perhatian khusus dan harus dijaga agar tetap lembab, hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian pelumas
6

mata setiap jam sepanjang hari dan salep mata harus digunakan setiap malam. 2) Latihan wajah Komponen lain yang tidak kalah pentingnya dalam optimalisasi terapi adalah latihan wajah. Latihan ini dilakukan minimal 2-3 kali sehari, akan tetapi kualitas latihan lebih utama daripada kuantitasnya. Sehingga latihan wajan ini harus dilakukan sebaik mungkin. Pada fase akut dapat dimulai dengan kompres hangat dan pemijatan pada wajah, hal ini berguna mengingkatkan aliran darah pada otot-otot wajah. Kemudian latihan dilanjutkan dengan gerakan-gerakan wajah tertentu yang dapat

merangsang otak untuk tetap memberi sinyal untuk menggerakkan otototot wajah. Sebaiknya latihan ini dilakukan di depan cermin.

B. PROSES KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN a. Riwayat kesehatan 1) Keluhan Utama Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien meminta pertolongan kesehatan dalah berhubungan dengan kelumpuhan otot wajah terjadi pada satu sisi. 2) Riwayat penyakit saat ini Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk menunjang keluhan utama klien. Disini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh, atau bertambah buruk. Pada pengkajian klien Bells palsy biasanya didapatkan keluhan kelumpuhan otot wajah pada satu sisi. Kelumpuhan fasialis ini melibatkan semua otot wajah sesisi. Bila dahi dikerutkan, lipatan kulit dahinya hanya tampak pada sisi yang sehat saja. Bila klien disuruh memejamkan kedua matanya, maka pada sisi yang tidak sehat, kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata dan berputarnya bola mata keatas dapat disaksikan. Fenomena tersebut dikenal sebagai tanda bell.

3) Riwayat penyakti dahulu Pengkajian penyakit yang pernah dialami klien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah klien mengalami penyakit iskemia vaskuler, otitis media, tumor intrakranial, truma kapitis, penyakit virus (herpes simplek, herpes zoster), penyakit autoimun, atau kombinasi semua faktor ini. Pengkajian pemakaian obat-obatan yang sering digunakan klien, pengkajian kemana klien sudah meminta pertolongan dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya. 4) Pengkajian psiko-sosio-spiritual Pengkajian psikologis klien Bells palsy meliputi beberapa penilaian yang memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kognisi dan perilaku klien. Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga penting untuk menilai respons emosi klien terhadap kelumpuhan otot wajah sesisi dan perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga atau masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul pada klien, yaitu timbul ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Pengkajian mengenai mekanisme koping yang secara sadar biasa digunakan klien selama masa stress meliputi kemampuan klien untuk mendiskusikan masalah kesehatan saat ini yang telah diketahui dan perubahan perilaku akibat stres. Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini memberi dampak pada status ekonomi klien, karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan dana yang tidak sedikit. Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap fungsi neurologis dengan dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya hidup individu. Perspektif keperawatan dalam mengkaji terdiri dari dua masalah, yaitu keterbatasan yang diakibatkan oleh deficit neurologis dalam hubungannya dengan peran sosial klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung

adaptasi pada gangguan neurologis didalam sistem dukungan individu. (Arif Muttaqin, 2008)

b. Pemeriksaan Fisik Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien. Pada klien Bells palsy biasanya didapatkan tanda-tanda vital dalam batas normal. 1) B1 (breathing) Bila tidak ada penyakit lain yang menyertai pemeriksaan inspeksi didapatkan klien tidak batuk, tidak sesak napas, tidak ada penggunaan otot bantu napas dan frekuensi pernapasan dalam batas normal. Palpasi biasanya taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Perkusi didapatkan resonan pada seluruh lapangan paru. Auskultasi tidak didengar bunyi napas tambahan. 2) B2 (Blood) Bila tidak ada penyakit lain yang menyertai pemeriksaan nadi dengan frekuensi dan irama yang normal. TD dalam batas normal dan tidak terdengar bunyi jantung tambahan 3) B3 (Brain) Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya. a) Tingkat kesadaran Pada Bells palsy biasanya kesadaran klien composmetis. b) Fungsi serebri Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara klien, observasi ekspresi wajah dan aktivitas motorik yang pada klien Bells palsy biasanya statul mental klien mengalami perubahan.

c) Pemeriksaan saraf kranial i. Saraf I Biasanya pada klien bells palsy tidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan. ii. Saraf II Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal iii. Saraf III, IV, VI Penurunan gerakan kelopak mata pada sisi yang sakit

(lagoftalmos). iv. Saraf V Kelumpuhan seluruh otot wajah sesisi, lipatan nasolabial pada sisi kelumpuhan mendatar, adanya gerakan sinkinetik. v. Saraf VII Berkurangnya ketajaman pengecapan, mungkin sekali edema nervus fasialis ditingkat foramen stilomastoideus meluas sampai bagian nervus fasialis, dimana khorda timpani menggabungkan diri padanya. vi. Saraf VIII Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi vii. Saraf IX & X Paralisis otot orofaring, kesukaran berbicara, menguyah dan menelan. Kemampuan menelan kurang baik, sehingga mengganggu pemenuhan nutrisi via oral viii. Saraf XI Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Kemampuan mobilisasi leher baik. ix. Saraf XII Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra pengecapan mengalami kelumpuhan dan

pengecapan pada 2/3 lidah sisi kelumpuhan kurang tajam. d) Sistem motorik Bila tidak melibatkan disfungsi neurologis lain, kekuatan otot normal, kontrol keseimbangan dan koordinasi pada Bells palsy tidak ada kelainan.
10

e) Pemeriksaan refleks Pemeriksaan refleks dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum atau periosteum derajat refleks pada respons normal. f) Gerakan involunter Tidak ditemukan adanya tremor, kejang dan distonia. Pada beberapa keadaan sering ditemukan Tic fasialis. g) Sistem sensorik Kemampuan penilaian sensorik raba, nyeri dan suhu tidak ada kelainan. 4) B4 (Blader) Pemeriksaan pada sistem perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume haluaran urine, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal. 5) B5 (bowel) Mulai sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien bells palsy menurun karena anoreksia dan kelemahan otot-otot pengunyah serta gangguan proses menelan menyebabkan pemenuhan via oral menjadi berkurang. 6) B6 (Bone) Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobilitas klien secara umum. Dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien lebih banyak dibantu oleh orang lain. (Arif Muttaqin, 2008)

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan perubahan bentuk wajah karena kelumpuhan satu sisi pada wajah b. Anseitas yang berhubungan dengan prognosis penyakit c. Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan

11

3. INTERVENSI a. Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan perubahan bentuk wajah karena kelumpuhan satu sisi pada wajah Intervensi :

1) Kaji dan jelaskan kepada klien tentang keadaan paralisis wajahnya 2) Bantu klien menggunakan mekanisme koping yang positif 3) Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan Libatkan system pendukung dalam perawatan klien (Arif Muttaqin, 2008)

b. Anseitas yang berhubungan dengan prognosis penyakit Intervensi :

1) Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, dampingi klien dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak. 2) Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat. 3) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan kecemasannya. 4) Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat (Arif Muttaqin, 2008)

c. Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan
1) Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses

penyakit yang spesifik


2) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan

dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.


3) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan

cara yang tepat


4) Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat 5) Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat 6) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat 7) Hindari harapan yang kosong 8) Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara

yang tepat
9) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk

mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
12

10) Diskusikan pilihan terapi atau penanganan 11) Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion

dengan cara yang tepat atau diindikasikan


12) Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat 13) Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan cara yang

tepat
14) Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada

pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat. (NIC NOC)

13

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa Bells Palsy adalah suatu kelainan pada saraf wajah (nervus fasialis atau N. VII) yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot wajah. Nervus ini sering mengalami gangguan karena mempunyai perjalanan yang panjang berkelok-kelok, berada di dalam saluran tulang yang sempit dan kaku. Pengobatan yang diberikan pada pasien Bells Palsy berupa kostikosteroid. Secara teori regimen dosis ini memaksimalkan aktivitas anti inflamasi sementara meminimalkan efek samping dan konsisten dengan antiinflamasi yang efektif pada hipersensitiv akut, autoimun, dan kelainan inflamasi lainnya.

B. SARAN 1. Sebaiknya seorang perawat dapat melaksanakn asuhan keperawatan kepada klien kelumpuhan nervus fasialis perifer (Bells Palsy) sesuai dengan indikasi penyakit 2. Sebaiknya seorang perawat dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien Bells Palsy dengan baik dan benar

14

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan System Persarafan. Jakarta; Salemba Medika Maisel RH, Levine SC. Gangguan Saraf Fasialis. Dalam : Adams dkk. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit EGC, 1997 NANDA, NIC & NOC. 2010. Pengantar Proses Keperawatan. Jakarta; EGC

Sumber Lain :

http://wikimed.blogbeken.com/kelumpuhan-nervus-fasialis-perifer http://www.scribd.com/doc/43595347/Bell-s-Palsy-sudibio

15