Anda di halaman 1dari 6

MODUL 3 TERMOELEKTRIK

Grasia Meliolla, A. Wiliardy, A. Bilqis, N. Atiqah, Anshanty, A. R. Isroi 10211019, 10211030, 10211020, 10211032, 10211036, 10211056 Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia E-mail: grasia.meliolla@students.itb.ac.id Asisten: CH. A. Andre Mailoa/10210026 Tanggal Praktikum: 21-10-2013
Abstrak Efek termoelektrik merupakan suatu peristiwa dimana terjadi konversi perbedaan temperatur menjadi beda potensial (tegangan) serta sebaliknya. Efek termoelektrik terdiri atas efek Seebeck, efek Peltier dan efek Thomson. Pada eksperimen kali ini dilakukan percobaan efek Seebeck dan efek Peltier terhadap suatu bahan konduktif. Percobaan pertama dilakukan dengan memberi gradien temperatur pada logam yang disambung dengan semikonduktor untuk menentukan koefisien Seebecknya. Diperoleh bahwa tegangan yang timbul di kedua sis sebanding dengan beda temperatur. Dilakukan juga percobaan kedua yaitu mengamati efek Peltier dengan mengalirkan arus pada bahan. Koefisien Seebeck yang diperoleh dari percobaan ini memiliki beberapa nilai yang berbeda yakni 0,0184 V/K, -0,0296 V/K, -0,0275 V/K serta 0,1249 V/K. Kata Kunci: Efek Peltier, Efek Seebeck, Tegangan, Temperatur, Termoelektrik

I. Pendahuluan Termoelektrik merupakan suatu fenomena dimana tegangan dan temperatur pada suatu bahan saling mempengaruhi. Bahan yang bersifat konduktif secara listrik dapat mengalami tiga efek termoelektrik, yakni efek Seebeck, efek Peltier dan efek Thomson. Efek Seebeck pertama kali ditemukan pada tahun 1822 oleh Thomas Seebeck yang mengamati pergeseran jarum kompas yang berada di sekitar sambungan dua logam berbeda dalam rangkaian tertutup dengan perbedaan temperatur di kedua sisinya. Jarum kompas ini mengalami pergeseran oleh karena medan magnet yang dihasilkan oleh aliran arus pada sambungan kedua logam dalam loop. Efek Seebeck adalah konversi perbedaan temperatur secara langsung menjadi aliran arus listrik atau dengan kata lain menghasilkan tegangan. Beda potensial listrik yang muncul di kedua titik pada bahan konduktor atau semikondukor ini sebanding dengan beda temperatur di kedua titik tersebut[1]. Jika beda temperatur diperbesar, maka tegangan yang dihasilkan akan semakin besar. Besar dari efek Seebeck ini dapat dinyatakan dalam koefisien Seebeck, yaitu perbandingan antara tegangan dan beda temperatur di kedua titik pada bahan. Secara matematis, hubungan antara parameterparameter tersebut dapat dituliskan[1] sebagai: = (1)

Keterangan : koefisien Seebeck (V/K) : beda potensial (V) : selisih temperatur di kedua titik (K) Persamaan (1) dapat dituliskan juga sebagai: = (2) atau = (3) Koefisien Seebeck pada suatu bahan memiliki nilai yang bergantung pada temperatur dan sifat listrik bahan. Koefisien Seebeck dapat bernilai negatif jika arah gerak elektron sebagai pembawa muatan adalah dari daerah panas menuju daerah dingin, sehingga menyebabkan potensial negatif. Untuk meningkatkan konversi energi, digunakan bahan semikonduktor tipe p dan tipe n. Berikut ini ilustrasi rangkaian efek Seebeck:

Gambar 1. Skema rangkaian efek Seebeck[2]

J. C. A Peltier melakukan percobaan pada tahun 1834 dan menemukan efek termoelektrik yang merupakan kebalikan dari efek Seebeck. Efek ini dinamakan sebagai efek Peltier. Efek Peltier adalah munculnya pemanasan atau pendinginan (aliran kalor) pada sambungan dua bahan konduktif berbeda ketika dialiri arus listrik. Ketika arus dialirkan pada bahan, kalor dapat dibangkitkan atau disingkirkan, sehingga salah satu sisi logam temperaturnya lebih tinggi dari sisi yang lain. Berikut ini rangkaian efek Peltier:

Gambar 2. Skema rangkaian efek Peltier[3]

Pada ekseprimen ini dilakukan percobaan efek Seebeck untuk menentukan koefisien Seebeck dengan memanfaatkan persamaan (3). Efek Seebeck juga dapat teramati dengan melakukan percobaan efek Peltier, lalu dihentikan pemberian arus listrik pada rangkaian. II. Metode Percobaan Percobaan pertama bertujuan untuk menentukan koefisien Seebeck dari suatu bahan konduktif. Dari persamaan (3), dengan memberikan perlakuan beda temperatur pada suatu bahan konduktif dan mengukur tegangan yang dihasilkannya, nilai koefisien Seebeck bahan dapat dihitung menggunakan regresi linear kumpulan data. Percobaan 1 dilakukan dengan memberi perlakukan beda temperatur pada kedua sisi logam pada Reversible Thermoelectric Demonstrator (Cenco Physics, CAT.NO.32729). Salah satu ujung logam direndam pada gelas yang berisi air panas dengan temperatur awal 80 oC, sedangkan ujung yang lain dicelupkan pada air berisi es batu. Pemilihan jenis zat cair penghantar panas berupa air ini dilakukan karena kalor jenis air yang relatif tinggi,

sehinggan beda temperatur dapat teramati. Beda potensial listrik yang dihasilkan diukur dengan menggunakan kabel yang menghubungkan dua titik pada logam dengan multimeter secara paralel. Beda potensial dan temperatur antara kedua sisi diukur setiap 5 detik selama 3 menit. Pada percobaan 1(a), beda temperatur diukur pada kedua kaki logam Reversible Thermoelectric Demonstrator, sedangkan pada percobaan 1(b), beda temperatur diukur pada kedua gelas berisi air panas dan air dingin. Hasil yang diperoleh dapat dibandingkan untuk menentukan kualitas pengukuran antara percobaan 1(a) dan 1(b). Diberikan hipotesis bahwa koefisien Seebeck bahan adalah koefisien Seebeck untuk bahan normal yakni bernilai positif. Juga dihipotesis bahwa kualitas pengukuran beda temperatur yang lebih tinggi diberikan oleh percobaan 1(a) yakni pengukuran yang dilakukan pada kaki logam. Setelah itu dilakukan juga percobaan 1(c) yakni pengamatan efek termoelektrik yakni aliran arus pada kincir yang dipasang pada Reversible Thermoelectric Demonstrator oleh karena beda temperatur antara kedua sisi logam. Diberikan hipotesis sesuai teori, yakni kincir akan berputar karena terdapat aliran arus yang dihasilkan oleh efek Seebeck. Percobaan 2 adalah pengamatan efek Peltier pada bahan. Pada percobaan ini diberikan tegangan sebesar 6 V pada Reversible Thermoelectric Demonstrator. Arus yang mengalir pada rangkaian diatur sebesar 0,8 A. Kedua kaki logam direndam selama 45 menit dalam gelas berisi air dimana temperatur air pada kedua gelas dibuat sama. Dengan mengalirkan arus pada bahan, diharapkan akan muncul perbedaan temperatur pada air dalam kedua gelas dan pada kedua sisi logam sesuai teori efek Peltier. Setelah sumber arus listrik dihilangkan, diamati efek Seebeck oleh perbedaan temperatur antara kedua sisi ini. Lalu dilakukan pengukuran perbedaan temperatur dan tegangan antara kedua sisi seperti metode percobaan 1(a) dan 1(b) untuk menghitung koefisien Seebeck bahan. Diberikan hipotesis bahwa koefisien bahan yang diperoleh bernilai positif dan sama dengan yang diperoleh dari percobaan 1 karena bahan yang digunakan untuk kedua percobaan adalah sama.

III. Data dan Pengolahan Dari percobaan 1(a) diperoleh data selisih temperatur ( ) dan beda potensial ( ) antara sisi panas dan sisi dingin dari kaki logam. Data di tabulasikan pada Tabel A Lampiran. Data tersebut diolah dengan melakukan regresi linear terhadap (persamaan y = bx + a) dengan menggunakan persamaan 3 yakni = , dengan S sebagai gradien garis atau nilai b. Diperoleh grafik yang ditampilkan di Gambar 3.

Diperoleh nilai koefisien Seebeck yakni S = -0,0296 V/K. Dari percobaan 2 diperoleh data selisih temperatur ( ) dan beda potensial ( ) antara sisi panas dan sisi dingin dari kaki. Data di tabulasikan pada Tabel B Lampiran. Data tersebut diolah dengan melakukan regresi linear terhadap , dan diperoleh grafik yang ditampilkan di Gambar 5.

R = 0,7968

R = 0,9929

Gambar 5. Grafik regresi linear terhadap dengan pengukuran temperatur di kaki logam (Percobaan 2)

Gambar 3. Grafik regresi linear terhadap dengan pengukuran temperatur di kaki logam (Percobaan 1)

Diperoleh nilai koefisien Seebeck yakni S = 0,0184 V/K. Dari percobaan 1(b) diperoleh data selisih temperatur ( ) dan beda potensial ( ) antara gelas dengan air panas dan gelas dengan air dingin. Data di tabulasikan pada Tabel A Lampiran. Data tersebut diolah dengan melakukan regresi linear terhadap , dan diperoleh grafik yang ditampilkan di Gambar 4.

Diperoleh nilai koefisien Seebeck yakni S = -0,0275 V/K. Diperoleh juga data selisih temperatur ( ) dan beda potensial ( ) antara gelas dengan air panas dan gelas dengan air dingin. Data di tabulasikan pada Tabel B Lampiran. Data tersebut diolah dengan melakukan regresi linear terhadap , dan diperoleh grafik yang ditampilkan di Gambar 6.

R = 0,1172

R = 0,983

Gambar 6. Grafik regresi linear terhadap dengan pengukuran temperatur di gelas berisi air (Percobaan 2) Gambar 4. Grafik regresi linear terhadap dengan pengukuran temperatur di gelas berisi air (Percobaan 1)

Diperoleh nilai koefisien Seebeck yakni S = 0,1249 V/K.

Berikut ini tabel data koefisien Seebeck yang diperoleh dari percobaan 1 dan 2 dengan metode pengambilan data temperatur yang berbeda (di kaki logam dan di gelas berisi air).
Tabel 1. Perbandingan nilai koefisien Seebeck yang diperoleh dari beberapa percobaan

Percobaan 1 2

Kaki logam 0,0184 V/K -0,0275 V/K

Gelas -0,0296 V/K 0,1249 V/K

IV. Pembahasan Dari percobaan 1(a), 1(b) dan 2 diperoleh hasil yang berbeda yakni koefisien Seebeck percobaan 1(a) dengan pengukuran temperatur pada kaki logam S1(a) = 0,0184 V/K, percobaan 1(b) dengan pengukuran temperatur dalam gelas berisi air S1(b) = 0,0296 V/K, percobaan 2 dengan pengukuran temperatur pada kaki logam S2(a) = -0,0275 V/K dan percobaan 2 dengan pengukuran temperatur pada kaki logam S2(b) = 0,1249 V/K. Dari percobaan 1(a) diperoleh nilai S positif yang menunjukkan bahwa jika beda temperatur antara kedua titik di bahan konduktif (dalam hal ini kaki logam) semakin besar maka beda tegangannya pun akan semakin besar. Sebaliknya, jika beda temperatur di kedua kaki logam semakin kecil maka beda tegangannya juga akan semakin kecil atau dengan kata lain perubahan beda temperatur sebanding dengan tegangan yang dihasilkan. Dapat dilihat pada Tabel A Lampiran bahwa nilai kaki dan semakin bertambah seiring bertambahnya waktu. Penambahan nilai ini disebabkan karena aliran kalor dari air panas menambah temperatur logam sisi panas yang semula lebih rendah dari air panas serta aliran kalor dari logam sisi dingin menambah temperatur air dingin dan sebaliknya menurunkan temperatur logam sisi dingin. Aliran kalor ini terus terjadi sampai terjadi keseimbangan termal. Dari percobaan 1(b) diperoleh S negatif karena data percobaan (lihat Tabel A Lampiran) menunjukkan bahwa gelas menurun sedangkan bertambah seiring bertambahnya waktu. Oleh karena itu regresi linear antara dan gelas menunjukkan gradien yang negatif. Penurunan nilai

gelas terjadi karena peristiwa aliran kalor yakni dari air panas ke logam, dan dari logam ke air dingin, sehingga temperatur air panas berkurang sedangkan temperatur air dingin bertambah. Dari percobaan 2 dengan pengukuran beda temperatur pada kaki logam diperoleh nilai negatif yang menunjukkan bahwa kaki menurun sedangkan bertambah seiring bertambahnya waktu. Oleh karena itu regresi linear antara dan kaki menunjukkan gradien yang negatif. Penurunan nilai kaki terjadi karena setelah efek Peltier, sisi yang memiliki temperatur tinggi adalah sisi panas bagian kaki logam. Temperatur kaki logam lebih tinggi dari temperatur pada air panas oleh karena aliran arus dari sumber tegangan melalui logam mendisipasi panas ke logam tersebut. Karena temperaturnya lebih tinggi, maka kalor mengalir dari kaki logam ke air (pada sisi panas). Oleh karena itu temperatur kaki logam menurun. Sedangkan, pada sisi dingin aliran kalor berasal dari kaki logam yang suhunya lebih dingin ke air dingin, sehingga suhunya juga turun. Hal inilah yang menyebabkan kaki menurun dan S negatif. Dari percobaan 2 dengan pengukuran beda temperatur pada air di gelas diperoleh nilai positif yang menunjukkan bahwa gelas dan bertambah seiring bertambahnya waktu. Oleh karena itu regresi linear antara dan kaki menunjukkan gradien yang positif. Aliran kalor dari logam sisi panas ke air panas serta dari logam sisi dingin ke air dingin menambah beda temperatur antara air dalam kedua gelas tersebut. Oleh karena itu diperoleh nilai S yang positif. Metode yang paling baik untuk menentukan nilai S adalah metode percobaan 1(a) dengan mengukur pada kaki logam dengan aliran kalor dari air panas ke air dingin. Hal ini ditunjukkan oleh hasil yang paling akurat dengan koefisien korelasi regresi linear yang paling baik dibandingkan percobaan 1(b) dan percobaan 2 (lihat Gambar 3, 4, 5 dan 6). Hal ini disebabkan karena untuk hasil yang akurat yang diukur haruslah berada pada titik pengukuran , dalam hal ini di logam demonstrator. Seebeck mengamati fenomena pergeseran jarum kompas yang berada di sekitar sambungan dua logam berbeda dalam rangkaian tertutup dengan perbedaan

temperatur di kedua sisinya. Jarum kompas ini mengalami pergeseran oleh karena medan magnet yang dihasilkan oleh aliran arus pada sambungan kedua logam dalam loop. Peltier mengamati fenomena terjadinya pemanasan dan pendinginan (aliran kalor) pada sambungan dari rangkaian logam berbeda oleh karena arus listrik yang dialirkan pada rangkaian tersebut. Efek Seebeck terjadi karena adanya beda temperatur pada kedua titik di bahan konduktif. Gradien/perbedaan temperatur yang diberikan pada suatu bahan konduktif akan menyebabkan pembawa muatannya (elektron atau hole) mengalami vibrasi termal/fonon dengan energi yang berbeda. Pembawa muatan pada daerah panas akan memiliki energi kinetik yang lebih tinggi dibanding pembawa muatan pada daerah lebih dingin. Oleh karena terjadi difusi pembawa muatan dari daerah panas (densitas partikel lebih tinggi) ke daerah dingin (densitas partikel lebih rendah). Difusi inilah yang menyebabkan aliran pembawa muatan atau arus listrik. Koefisien Seebeck negatif menunjukkan potensial dari daerah dingin terhadap daerah panas dan dipengaruhi oleh sifat bahan. Jika pembawa muatan yang berdifusi dari daerah panas ke daerah dingin adalah elektron, maka daerah dingin akan lebih negatif dibanding daerah panas dan koefisien Seebecknya negatif. S negatif ini dipengaruhi oleh sifat bahan dan juga pembawa muatan mayoritasnya. Pada semikonduktor tipe p, pembawa muatan yang berdifusi dari daerah panas ke daerah dingin adalah hole dan menyebabkan koefisien Seebecknya positif. Efek Peltier terjadi karena ketika arus dialirkan, pembawa muatan menyebabkan terjadinya transpor kalor. Sehingga ketika arusnya dibalik sisi yang mengalami pemanasan/pendinginan akan terbalik. Salah satu aplikasi dari termokopel yang digunakan untuk sebagai sensor suhu. Cara kerjanya adalah dengan memanfaatkan efek Seebeck, yakni mengukur beda temperatur dengan mengukur tegangannya. Untuk mengukur beda temperatur ini, objek pengukuran dihubungkan dengan voltmeter secara paralel dan juga ke probe lain. Perhitungan temperaturnya dilakukan dengan teknik kompensasi sambungan dingin.

V. Simpulan Metode yang paling baik digunakan untuk mengukur beda temperatur dalam penentuan koefisien Seebeck adalah pada kaki kedua logam. Koefisien Seebeck yang diperoleh dari beberapa percobaan memiliki nilai dan tanda yang berbeda, dan nilai paling akurat adalah dari percobaan 1(a) yaitu S = 0,0184 V/K. VI. Pustaka [1] S. O. Kasap. Thermoelectric Effects in Metals: Thermocouples. Materials; 2001. [2] Skema rangkaian efek Seebeck. Disadur dari URL: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Th ermoelectric_Generator_Diagram.sv g. Diakses tanggal 24 Oktober 2013, pukul 17.00. [3] Skema rangkaian efek Peltier. Disadur dari URL: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Th ermoelectric_Cooler_Diagram.svg. Diakses tanggal 24 Oktober 2013, pukul 17.00.

LAMPIRAN
Tabel A. Data percobaan 1 Tabel B. Data percobaan 2

t (s) 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 105 110 115 120 125 130 135 140 145 150 155 160 165 170 175 180

T kaki (K) 17,42295473 17,98692609 18,33530066 18,92945395 19,42295168 19,77395401 20,35089389 20,8561722 21,24997583 21,76824811 22,20744747 22,54333772 22,79102254 23,00710442 23,16891578 23,36363139 23,40629513 23,55574967 23,76502977 23,88972599 24,02962991 24,09277361 24,20675552 24,26695614 24,46246389 24,58126743 24,76361852 24,75858906 24,93034219 24,90206314 25,06570141 24,99530276 24,9678483 25,14794201 25,04251237 25,2423243 25,10170744

T gelas (K) 78,32144357 78,18314799 78,19719952 78,01694458 77,70077382 77,55364407 77,31673188 77,17845705 77,22562661 77,04201333 76,86379172 76,61866297 76,52304 76,42786559 76,35816411 76,23176404 76,1676148 76,07740281 75,95321882 75,71355424 75,53519193 75,41313525 75,3518672 75,14441248 74,88099711 74,82189905 74,67277881 74,70218688 74,38146647 74,4100727 74,03340404 74,00465297 74,03466068 73,66045712 73,77655165 73,46172927 73,57926821

V (V) -1,2134 -1,2078 -1,2032 -1,1964 -1,1888 -1,1801 -1,1744 -1,1643 -1,1638 -1,1594 -1,155 -1,1501 -1,1441 -1,1393 -1,1357 -1,1325 -1,129 -1,1263 -1,124 -1,122 -1,1188 -1,1155 -1,125 -1,1067 -1,1038 -1,098 -1,095 -1,0906 -1,0866 -1,0814 -1,0777 -1,0728 -1,0691 -1,0672 -1,0674 -1,0683 -1,0684

t (s) T kaki (K) 0 8,42740123 5 8,21594469 10 8,3336091 15 8,21494221 20 8,12269381 25 7,90971976 30 7,93215083 35 7,72236201 40 7,6498881 45 7,43948134 50 7,43948134 55 7,11118629 60 7,15692305 65 6,89976823 70 6,82757248 75 6,6167655 80 6,47699087 85 6,47595352 90 6,19511406 95 6,17193732 100 6,03160621 105 5,96035374 110 5,67945533 115 5,58675419 120 5,56222354 125 5,25871268 130 5,18875432 135 5,2821346 140 5,07150003 145 4,93199559 150 5,02492036 155 4,8377581 160 4,7674173 165 4,53467673 170 4,5578502 175 4,51036074 180 4,32407191

T gelas (K) V (V) 1,809647031 -0,2355 1,972038918 -0,21496 1,809594322 -0,20256 1,786501525 -0,19106 1,948906218 -0,17046 1,995212429 -0,16772 1,809594322 -0,15044 2,01851417 -0,15005 1,763300517 -0,14274 1,972007236 -0,1364 1,809355072 -0,13081 1,995150306 -0,12584 1,786205534 -0,12156 2,06486248 -0,11783 1,855993944 -0,11382 1,902425908 -0,11075 2,041630768 -0,10808 1,78642081 -0,10582 2,018354639 -0,1035 2,018428947 -0,10145 2,041630768 -0,09954 1,855941724 -0,09797 1,92559942 -0,09674 2,064833415 -0,09554 1,855916801 -0,09397 2,088097767 -0,09299 2,111241232 -0,09177 1,948828317 -0,09053 1,902368586 -0,08971 2,134446425 -0,08891 1,902241665 -0,08817 1,87914114 -0,08758 1,902505004 -0,08669 2,134668289 -0,08648 2,064752386 -0,08592 1,832695897 -0,08538 1,902505004 -0,08458