Anda di halaman 1dari 14

TUGAS OPERASI TEKNIK KIMIA I

Perpindahan Panas Secara Konduksi


Oleh :

ULLIA NURUL ISMALA

1507123812

DOSEN PENGAMPU :

KOMALASARI ST, MT

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA S1

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU

2017
Perpindahan Panas Secara Konduksi

1.1 Hukum dasar konduksi

Konduksi mudah diamati saat terjadi aliran panas pada benda padat yang
homogen isotropis, karena tidak terjadi konveksi dan efek radiasi dapat diabaikan
jika benda tidak tembus gelombang elektromagnetik.

1.1.1 Fouriers Law

Hubungan dasar dari perpindahan panas konduksi adalah perbandingan


antara laju alir panas yang melalui permukaan isotermal dan perbedaan temperatur
pada permukaan. Hal ini berlaku untuk sembarang titik di suatu benda, disebut
dengan Fouriers Law. Yang dirumuskan dengan :

..................................................(10.1)

Persamaan di atas meski digunakan pada benda permukaan isotermal,


namun bisa digunakan pada permukaan lainnya, asal nilai luas area dan jarak
permukaan terukur. Untuk aliran dua dan tiga dimensi sangan diperlukan
penambahan hukum fourier. Berikut adalah bentuk hukum Fourier lain dalam tiga
arah/dimensi pada material yang isotropis :

Pada persamaan di atas menyatakan bahwa vektor fluks dq/dA adalah


sebanding dengan beda temperatur dengan arah berbeda. Pada koordinat silindris
persamaan menjadi,

sementara pada koordinat spherical persamaan menjadi


One-dimensional heat flow, contoh kasus ini ditunjukkan pada gambar
10.1 [1] (dinding pembatas air pendingin pada furnace). Mulanya dinding
bersuhu 25 C setimbang dengan air pendingin dengan suhu tang sama. Distribusi
suhu pada keadaan ini digambarkan oleh Line I. Pada posisi setimbang, suhu
dipengaruhi oleh jarak/posisi dan waktu. Kemudian salah satu sisi lainnya dari
dinding tersebut dipaparkan gas panas dari furnace bersuhu 700 C. Pada kasus ini
yang dibandingkan hanya resistansi termal pada dinding, resistansi termal gas
panas pada dinding dan air pendingin pada dinding diabaikan. Sisi dinding yang
bersentuhan dengan hot gas suhunya meningkat hingga 700 C, sementara sisi
yang berkenaan dengan air pendingin suhunya tetap 25 C. Setelah beberapa saat
terjadi heat flow, distribusi suhu menjadi seperti yang ditampilkan kurva II.
Temperatur pada titik tertentu (sebagai contoh titik c) meningkat dan temperatur
ini akan bergantung pada waktu dan posisi titik tersebut. Keadaan ini disebut
unsteady-state conduction. Persamaan 10.1 berlaku untuk setiap titik pada suatu
slab tiap satuan waktu.

Jika dinding terus bersentuhan untuk waktu yang lama dengan gas panas
dan air pendingin, maka distribusi suhunya akan menjadi seperti kurva III,
keadaan distribusi suhunya akan tetap dan tidak berubah terhadap waktu. Kondisi
ini disebut stedy-state conduction. Pada keadaan steady-state temperatur hanya
berupa fungsi posisi/jarak, laju flow heat pada titik konstan. Sehingga untuk
keadaan steady state dirumuskan :

..................................................(10.2)

1.1.2 Konduktivitas Termal

Konduktivitas termal (k) merupakan sifat sebuah material berupa


perbandingan yang konstan, dengan satuan W/ m. C dan Btu/ h. ft. F dengan
dimensi [M] [L] [T]-3 []-1. Dalam persamaan 10.2 nilai q/A merupakan
perbandingan laju heat flow dengan area yang dikenai, dT/dn merupakan
perubahan suhu pada titik tertentu, dari keadaan yang berubah-ubah tersebut nilai
k di sini berperan sebagai konstanta pembanding yang tetap untuk jenis material
yang sama. Nilai k biasanya tidak dipengaruhi perbedaan temperatur, kecuali
untuk padatan berpori. Namun di sisi lain k sebenarnya merupakan suatu fungsi
waktu dengan pengaruh yang tidak begitu besar. Untuk T kecil k akan bernilai
konstan, sementara untuk T besar k akan berubah sesua rumus berikut :
Pada gambar 10.1 [1] yang merupakan benda padat utuh nilai b = 0,
sehingga nilai k tidak bergantung pada temperatur.

Konduktivitas termal pada logam berkisar dari 17 W/ m C untuk stainless


steel dan 45 W/ m C untuk mild steel, hingga 380 W/ m C untuk tembaga dan
415 W/ m C untuk perak. Untuk kaca dan material non-pori umumnya berkisar
0,35 W/ m C hingg 3,5 W/ m C. Semetara itu untuk cairan memiliki
konduktivitas termal yang lebih rendah dari padatan, sekita 0,17 W/ m C dan
terus berkurang 3 hingga 4 % setiap kenaikan temperatur 10 C.

1.2 Konduksi Steady-State

Kasus sederhana konduksi steady-state terjadi pada lempengan datar


seperti pada contoh gambar 10.1 [1] seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya
dan gambar 4.1 [2]

Sebuah dinding datar yang terdapat pendinganin dengan suhu -10 C, sementara
itu suhu di luar tangki adalaj 28 C. Suhu kemudian turun secara linear melalui
sekat sebagai heat flow dari udara luar ke pendingin. Beberapa saat selanjutnya
terdapat penurunan temperature pada sejumlah besar udara dan permukaan luar
sekat, tapi hal ini dapat diabaikan pada kasus gambar (a). Pada kasus gambar (b)
tampak tank serupa yang mengandung 100 C boiling water, yang melepas panas
ke 20 C udara. Sama sebelumnya, profil suhu pada sekat linear namun heat flows
berasal dari arah berlawanan dan nilai x dengan persamaan 10.1 harus diukur dari
dalam keluar permukaan. Perubahan temperature pada udara dekat tangki juga
diabaikan.

Asumsikan k tidak bergantung pada temperature (seperti dijelaskan pada contoh


gambar 10.1). Pada kondisi steady-state tidak terdapat akumulai dam deplesi
panas antar slab, maka q sepanjang aliran panas akan bernilai konstan. Jika x
merupakan jarak dari sisi yang panas maka didapatkan persamaan menjadi :

kemudian diintegrasikan menghasilkan;


Jika nilai k berubah secara linear terhadap temperature, maka nilai rata-rata
dapat dihitung pada tiap temperaturnya kemudian dirata-ratakan secara aritmatis.
Persamaannya akan menjadi :

Dimana R adalah nilai k dari benda padat antar titik 1 dan 2.

Contoh soal :

1) Dari buku edisi ke-7

2) Dari buku edisi ke-5


Resistansi Senyawa yang tersusun seri, Berdasarkan dinding datar bersusun seri
pada gambar 10.2 [3]. Ketebalan tiap lapisan adalah BA, BB dan BC dan
konduktivitas rata-ratanya secara berurutan. Tidak terdapat beda
suhu yang melalui permukaan antar layer, karena tiap layer diasumsikan kontak
secara sempurna sehingga T dirumuskan sebagai:

Kita ingin menurunkan persamaan yang menghitung laju heat flow melalui tiap
deret resistansi kemudian menunjukan laju dapat dihitung dengan rasio T
keselurhan terhadap resistansi keseluruhan.

Persamaan untuk tiap layer dapat ditulis sebagai berikut:

Nilia qA, qB dan qC dapat ditulis dengan q karena semua panas yang melalui
resistansi pertama harus melalui resistansi kedua dan berakhir pada resistansi
ketiga. Sehingga rumusnya menjadi:
Nilai perbandingan beda suhu dengan resistan secara overall akan sebanding
dengan perbandingan beda suhu dan resistan komponen/layer.

Contoh soal :

a) Edisi ke-lima
b) Edisi ke-7
Aliran panas melalui silinder. Sebuah silinder berongga dengan panjang L dan
jari-jari dalam ri dan jari- jari luar ro terbuat dari material dengan konduktivitas
termal k. Suhu di luar permukaan To dan di dalam permukaan Ti dimana Ti > To.
Persamaan aliran panas yang terbentuk berdasarkan keterangan di atas adalah

Setelah diintegrasikan persamaan menjadi;

Untuk dinding silinder yang tebal, dapat dirumuskan sebagai berikut:

Nilai AL dapat ditentukan dengan:

dari sini kita dapat menghitung jari-jari silinder dengan:


Contoh Soal :

a) Edisi kelima

b) Edisi ketujuh
1.3 Konduksi Unsteady-state

1.3.1 Persamaan untuk konduksi one-dimensional

Pada gambar 10.5 [4] menampilkan sebuah lempengan besar dengan tebal
2s, mula-mula dengan suhu seragam Tn. Ketika mulai dipanaskan temperatur
kedua sisi dengan cepat meningkat dan kemudian berada pada temperatur Ts. Pola
kenaikan temperatur tampak pada gambar 10.5 [4]. Heat balancenya dapat
dituliskan sebagai berikut :

merupakan thermal diffusivity benda padat.

Solusi umum konduksi unsteady-state tersebut dapat berbentuk macam-


macam seperti pada infinite slab, silinder infinit dan bola. Seperti contoh
pengintegrasian persamaan di atas akan menghasilkan solusi untuk infinite slab
dengan tebal yang diketahui dan temperatur permukaan yang konstan :
sementara itu untuk silinder infinit menggunakan persamaan

dan untuk bentuk bola menggunakan persamaan

Jika Nfo besar dari 0,1 maka dibutuhkan t (waktu) untuk berubah dari Ta menjadi
maka untuk menghitung waktu digunakan persamaan :

a) Slab infinit

b) Silinder infinit

c) Bola

Total panas yang pindah pada benda padat dalam waktu t melalui luas area
tertentu untuk infinite slab dirumuskan dengan :
untuk silinder infinit

dan untuk bentuk bola

1.3.2 Semi-infinit solid

Terkadang suatu padatan dipanaskan atau didinginkan maka pemanasan


atau pendinginan tersebut hanya terbatas di salah satu sisi seperti pada cerobong
asap. Kejadian itu dapat dirumuskan dengan

distribusi suhunya dapat dilihat pada gambar 10.7 [5]

Untuk menemukan total panas yang dipindahkan pada permukaan atau


suatu sisi dapat menggunakan diferensiasi persamaan berikut
Setelah substitusi dQ/dt persamaan di atas dapat diintegrasikan untuk
mendapatkan QT/A dalam waktu tT menghasilkan persamaan berikut

Referensi Gambar

[1] McCabe, W. L., Smith, J. C., & Harriott, P. (1993). Unit operations of
chemical engineering (5th ed.). New York ; London: McGraw-Hill (hal 290)

[2] McCabe, W. L., Smith, J. C., & Harriott, P. (1993). Unit operations of
chemical engineering (7th ed.). New York ; London: McGraw-Hill (hal 165)

[3] McCabe, W. L., Smith, J. C., & Harriott, P. (1993). Unit operations of
chemical engineering (5th ed.). New York ; London: McGraw-Hill (hal 294)

[4] McCabe, W. L., Smith, J. C., & Harriott, P. (1993). Unit operations of
chemical engineering (5th ed.). New York ; London: McGraw-Hill (hal 300)