Anda di halaman 1dari 14

Taurat Dan Kitab-Kitab Perjanjian Lama.

Kata Taurat berasal dari verba Yurih yang berarti


mengajar atau mengarahkan. Pada mulanya tidak mempunyai
arti tertentu hingga digunakan untuk menyatakan pesan,
hukum, ilmu, perintah atau ajaran. Dengan demikian, umat
Yahudi menggunakannya untuk menyatakan Yudaisme secara
keseluruhan. Dalam perkembangan selanjutnya, kata ini
dipakai untuk menyatakan Pentateukh atau kitab Musa yang
lima, yaitu: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan
Ulangan. Hal ini untuk membedakannya dengan kitab-kitab
nabi-nabi, kitab-kitab kebijaksanaan dan kidung. Maksud dari
kata Taurat itu kemudian lebih meluas lagi hingga mencakup
seluruh Perjanjian Lama untuk membedakannya dengan
tafsiran para robi. Selain itu, kata Taurat juga dipakai untuk
menyatakan maksud hukum atau syariat. Suatu pemakaian
yang sepertinya timbul karena pengaruh naskah Septuaginta5
yang menerjemahkan kata Taurat dengan kata Yunani Nomos
yang berarti hukum atau undang-undang. Dan sepertinya
penggunaan ini juga sangat populer dalam terjemahan-
terjemahan Alkitab yang beredar hingga saat ini. Sedang yang
dimaksud dalam buku ini adalah Pentateukh atau kitab Musa
yang lima.
Perjanjian Lama adalah nama yang digunakan untuk
menyatakan sejumlah kitab umat Yahudi yang disucikan oleh
umat Kristen. Termasuk di dalamnya Taurat Musa yang baru
saja kita bicarakan. Nama ini digunakan untuk pertama kali
pada awal abad kelima belas Masehi. Pada waktu itu, umat
Kristen telah mengukuhkan dua puluh tujuh kitab suci yang
kemudian mereka sebut dengan Perjanjian Baru. Jadi
penamaan Perjanjian Lama tadi adalah untuk membedakan
dua kumpulan kitab suci ini. Yang pertama adalah perjanjian
lama yang kembali ke zaman Musa sedang yang kedua adalah
perjanjian baru yang dimulai setelah munculnya Almasih.
Selanjutnya, terdapat perbedaan dalam Perjanjian Lama.
Orang Protestan dan orang Yahudi non-Sumerian mengakui
Alkitab Perjanjian Lama sebanyak 39 kitab; sementara
Perjanjian Lama orang Katolik, berjumlah 46 kitab. Secara
sederhana, kita dapat mengatakan demikian: ada tujuh kitab
dan tambahan dua kitab dari Perjanjian Lama yang terdapat
dalam Kitab Suci Katolik, tetapi tidak ada dalam Kitab Suci
Protestan. Ketujuh kitab tersebut, yaitu Tobit, Yudit, I Makabe,
II Makabe, Yesus Sirakh, Kebijaksanaan Salomo dan Barukh.
Sedang tambahan dari kitab itu adalah beberapa bagian dari
kitab Daniel dan Ester. Orang Katolik menyebutnya kitab-kitab
Deuterokanonika, sedang orang Protestan menyebutnya
Apokrip.
Persoalannya cukup rumit. Namun secara garis besar dapat
dikatakan demikian: kitab-kitab tersebut tersimpan dalam
bahasa Yunani, bukan dalam bahasa Ibrani atau Arami. Kitab-
kitab itu dikenal orang Kristen melalui Septuaginta, yaitu Kitab
Suci Perjanjian Lama dalam bahasaYunani, yang
diterjemahkan oleh orang Yahudi sebelum Kristus dan menjadi
Kitab Suci yang diterima secara umum oleh Gereja Perdana.
Dalam usaha menerjemahkan Kitab Suci dari bahasabahasa
asli, para pendukung Reformasi sangat curiga terhadap kitab-
kitab yang tidak tersedia dalam bahasa Ibrani dan Arami
tersebut. Kebanyakan dari mereka menolak kitab-kitab itu.
Persoalannya tambah rumit, karena para teolog Katolik justru
menggunakan kitab-kitab itu sebagai acuan doktrin-doktrin
yang ditolak oleh para pendukung Reformasi.
Adapun kitab-kitab Perjanjian Lama yang disepakati tiga
semua kelompok itu adalah:
Bagian pertama: Taurat, Pentateukh atau kitab Musa yang
lima, yaitu: Kejadian, Keluaran, Ulangan, Hakim-Hakim
(dinamakan juga dengan orang-orang Lewi) dan Bilangan.
Kitab-kitab ini diyakini telah ditulis sendiri oleh Musa.
Kitab Keluaran menceritakan sejarah dunia sejak penciptaan
langit dan bumi hingga menetapnya Yakub atau Israel di tanah
Mesir. Di dalamnya, cerita tentang Adam dan Hawa, Nuh,
topan dan anak turun Sam, salah satu putra Nuh yang
menurunkan bangsa Israel, terutama Ibrahim, Ishak, Yakub
dan anak-anaknya diceritakan secara terperinci. Sedang
cerita-cerita lain dituturkan secara global saja.
Kitab Keluaran menuturkan sejarah Bani Israel di Mesir, kisah
Musa, misinya, keluarnya dari Mesir bersama Bani Israel dan
sejarah mereka pada masa tih di padanga gurun Sinai yang
memakan waktu empat puluh tahun. Selain itu, kitab Keluaran
juga membahas beberapa hukum agama Yahudi tentang
ibadah, muamalah dan hukuman.
Adapun kitab Ulangan sebagian besarnya membahas syariat
Yahudi yang berkaitan dengan peperangan, politik, ekonomi,
muamalah, hukuman dan ibadah. Dinamakan Ulangan karena
menyebut kembali ajaran-ajaran yang diterima oleh Musa dari
Tuhannya dan diperintahkan agar disampaikan kepada Bani
Israel.
Kitab Hakim-Hakim sebagian besarnya membahas masalah-
masalah ibadah, terutama yang berkaitan dengan korban,
makanan-makanan yang diharamkan dari jenis daging hewan
dan burung. Orang-orang Lewi adalah anak turun Lewi, salah
seorang anak Yakub. Di antara mereka adalah Musa dan
Harun. Mereka ini adalah pengurus rumah suci dan
penanggung jawab atas urusan mezbah, korban dan undang-
undang umat Yahudi. Kitab ini disandangkan kepada mereka
karena sebagian besarnya membahas ibadah-ibadah dan
muamalah-muamalah yang mereka urusi.
Kitab Bilangan sebagian besarnya, membahas sensus kabilah-
kabilah Bani Israel, tentara dan harta mereka serta urusan dan
hukum peribadatan dan muamalah mereka yang bisa
disensus.
Bagian kedua: dinamakan dengan kitab-kitab sejarah.
Jumlahnya dua belas buah. Membahas sejarah Bani Israel
sejak pendudukan mereka atas negeri Kanaan dan mapan di
Palestina, menceritakan sejarah hakim, raja dan peristiwa-
peristiwa penting mereka. Yang termasuk dalam bagian ini
adalah: Yosua, Hakim-Hakim, Rut, Samuel I dan II, RajaRaja I
dan II, Tawarikh I dan II, Ezra, Nehemia dan Ester.
Bagian ketiga: dinamakan dengan kitab-kitab nyanyian atau
syair. Sebagian besarnya berupa nyanyian dan nasihatnasihat
agama. Disusun dalam bentuk syair dengan struktur yang
indah. Jumlah ada lima, yaitu: Ayub, Mazmur Daud, Amsal
Salomo, Pengkhotbah dan Kidung Agung.
Bagian keempat: dinamakan dengan kitab nabi-nabi.
Jumlahnya ada tujuh belas. Yaitu: Yesaya, Yeremia, Ratapan
Yeremia, Yehezkial, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus
atau Yunan, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai,
Zakharia dan Maleakhi.
Semua nabi ini diutus kepada Bani Israel kecuali nabi Yunus
yang terlihat dari keterangan yang ada dalam kitabnya diutus
kepada penduduk Niniveh.
Sedang tujuh kitab yang disucikan oleh umat Katolik dan tidak
disucikan oleh umat Yahudi dan Protestan adalah:
Tobit: menuturkan kehidupan seorang Yahudi bernama
Tobit dan anaknya. Mereka berdua jatuh dalam tawanan
pada abad ketujuh sebelum Masehi.
Yudit: Yudit adalah janda Yahudi kaya dan saleh. Kitab
ini menuturkan kemenangan Yahudi atas panglima
Asyuria berkat bantuannya.
Kebijaksanaan Salomo: berisi amsal-amsal bijak dan
nasihat-nasihat Salomo. Ditulis untuk membendung arus
paganisme.
Sirakh: kumpulan amsal-amsal bijak yang mirip dengan
Amsal Salomo.
Barukh: Barukh adalah murid Yeremia. Yeremia
mendiktekan kepadanya nubuat-nubuatnya. Kitab ini
berisi doa-doa agama Yahudi. Disusun dengan struktur
yang sangat indah. Muncul pertama kali pada sekitar
abad keenam sebelum Masehi.
Makabe I dan II: Makabe adalah penguasa nasionalis
Palestina pada masa Romawi pada abad kedua
sebelum Masehi. Nama mereka ini diambil dari
semboyan yang selalu mereka bawa pada saat perang,
yaitu: “Me Kamukho Bijuyyim Yehova” yang artinya:
“Siapa yang menyerupai Kamu di antara bangsa-bangsa
wahai Tuhanku?” Dari ungkapan ini diambil huruf-huruf
pertama dari setiap kata, hingga didapatkan kata: “M-
Ka-B-Y” yang kemudian digabungkan menjadi
“Makabe’:
Selain itu masih ada perselisihan lagi di kalangan umat
Yahudi sendiri. Seperti umat Yahudi Sumerian yang
mempunyai Taurat khusus. Menolak Taurat dan kitab-kitab lain
yang ada dalam Perjanjian Lama sekarang. Beberapa bagian
dari Taurat ini berbeda dengan Taurat versi Masorti6 dan
Septuaginta.

Kritik Kitab Suci


Sebelum menganalisa Taurat dan kitab-kitab Perjanjian
Lama satu per satu, lebih dulu, Spinoza menyampaikan
metode penafsiran kitab suci atau sebenarnya yang dia
maksud adalah metode kritik historis kitab suci (Fasal satu).
Dalam hal ini, dia berpegang pada prinsip Protestan, Sola
Scriptura (Alkitab saja), tanpa mempertimbangkan institusi
para pendeta atau warisan pemikiran Kristen sepanjang
zaman. Oleh karena itu, dia memenuhi buku ini dengan
banyak sekali dalil naqli dan tidak menyebutkan dalil-dalil lain,
kecuali beberapa tradisi pemikiran Yahudi atau teori filsafat
Ibnu Ezra, Ibnu Maimun dan Bakkar yang kadang-kadang dia
nukil ketika membahas sejarah bangsa Ibrani.
Spinoza betul-betul menolak tafsiran yang berdasarkan
hawa nafsu, takhayul atau ilusi. Semua itu adalah bidah yang
diklaim sebagai firman Tuhan kemudian dipaksakan kepada
orang lain. Sebagian tafsiran itu ada juga yang berlindung
kepada kedaulatan tuhan agar tidak ada yang berani
menyalahkannya. Ada juga mempercayai takhayul dan
merendahkan akal. Dan terakhir ada juga yang berpegang
pada rahasia, ambiguitas, takwil, mengartikan kata atau
ungkapan dengan tidak semestinya dan menciptakan
keyakinan-keyakinan irasional yang dihasilkan oleh emosi jiwa.
Untuk itu, Spinoza menawarkan metode lain untuk
menafsirkan kitab suci, yaitu metode penafsiran alam/materi.
Seperti diketahui, metode ini bergantung pada pengamatan,
percobaan, pengumpulan data, membuat hipotesa dan
menyimpulkan hasil. Dalam kasus kitab suci, metode ini
berupa pencarian fakta-fakta historis yang meyakinkan dan
berakhir dengan ditemukannya pikiran para penulis kitab.
Dengan demikian, kita bisa menjamin akurasi hasil yang kita
dapatkan.
Selanjutnya, penilitian historis ini terdiri dari tiga langkah,
yaitu:

1. Mengetahui ciri-ciri bahasa yang dipakai untuk


menulis kitab suci dan dipakai oleh penulisnya.7
Pengetahuan ini memungkinkan kita untuk mengetahui
arti teks sesuai dengan pemakaian yang berlaku.
Karena bahasa Ibrani adalah bahasa percakapan dan
tulisan maka untuk memahami Perjanjian Lama dan
Baru bahasa itu harus diketahui.
Tetapi langkah ini sulit dilakukan, sebagaimana
juga memerlukan syarat yang sulit dipenuhi. Kita tidak
memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai bahasa
Ibrani. Para pendahulu tidak meninggalkan kepada kita
sesuatu yang berarti. Tidak ada kamus atau buku-buku
yang darinya kita bisa mengetahui dasar-dasar bahasa
Ibrani, gramatika atau retorikanya. Nama-nama
tumbuhan banyak yang hilang, demikian juga dengan
nama-nama hewan, burung dan ikan. Dalam Taurat juga
terdapat banyak kata kerja yang sebetulnya sangat
terkenal tetapi artinya tidak diketahui atau diragukan.
Dengan demikian kita tidak bisa mengetahui arti lafal
menurut pemakaian yang berlaku. Selain itu, tabiat
bahasa ini sendiri juga membuatnya tidak jelas. Adapun
sebabsebabnya adalah:
1. Sering disalingtukarnya huruf-huruf yang
mempunyai makhraj (artikulasi) sama, misalnya
huruf ahlef dalam kata “ (a-I)” yang berarti “ke”
diganti dengan huruf ‘ayen yang mempunyai
makhraj sama, hingga mengubah kata itu menjadi
“ (`a-I)” yang berarti di atas.
2. Tidak adanya unsur masa (sekarang, lalu tidak
sempurna, lalu sempurna dan mendatang sudah
lewat) dalam bentuk berita, tidak adanya semua
unsur masa kecuali sekaranq dalam bentuk
perintah atau infinitif dan tidak adanya semua
unsur masa dalam bentuk diksi.
3.Tidak memiliki huruf vokal
4.Tidak memiliki titik, harakat (sandangan;
diakritik) dan tanda baca. Sedang yang ada
sekarang ini dibuat pada masa yang jauh
kemudian hingga membuat kita meragukan
bacaan yang ada saat ini.
Terakhir, masih ada kesulitan bahasa yang lebih
penting lagi, yaitu kita tidak memiliki beberapa kitab
dalam bahasa aslinya, terutama Perjanjian Baru. Injil
Matius dan Surat Paulus kepada Orang Ibrani mula-
mula ditulis dalam bahasa Ibrani, tetapi naskah aslinya
telah hilang. Selain itu, kita juga tidak tahu dalam
bahasa apa, Kitab Ayub pertama kali ditulis. Seperti
diceritakan oleh Ibnu Ezra, kitab itu diterjemahkan ke
dalam bahasa Ibrani dari bahasa lain.

2. Pengelompokan ayat-ayat kitab suci secara tematis


u,ntuk memudahkan penggunaan ayat-ayat yang
bertema sama. Selain secara tematis, ayat-ayat itu juga
harus diklasifikasikan menurut derajat kejelasan dan
ketakjelasannnya (muhkam dan mutasyabih atau
mujmal dan mubayyan). Ayat-ayat yang jelas dijadikan
satu kelompok demikian juga dengan ayat-ayat yang
tidak jelas. Yang dimaksud jelas di sini adalah jelas
menurut konteks kalimat bukan menurut logika. Dengan
demikian harus dihindari pencampuradukan antara
makna ayat dengan fakta yang sesungguhnya. Tugas
kita di sini hanya memahami teks berdasarkan bahasa
atau penyimpulan-pnyimpulan berdasarkan Alkitab.
Misalnya, Allah adalah api adalah ayat yang jelas jika
dipahami berdasarkan konteks kalimat, meskipun
menurut logika sangat janggal. Maka menurut prinsip ini,
ayat-ayat semacam ini harus diletakkan dalam kelompok
ayat yang jelas (muhkam). Contoh lain, ayat
menyatakan dengan jelas bahwa matahari berputar
mengelilingi bumi juga tidak boleh ditafsirkan secara
paksa, artinya disembunyikan atau diganti dengan arti
lain. Dalam hal ini, Yosua bin Nun yang mengeluarkan
pernyataan ini belum mengetahui ilmu falak.8

3. Mengetahui situasi penyerta penulisan riwayat dalam


kitab. Yakni: mengetahui kehidupan, kebiasaan dan
karakter penulis, tujuan, momen, waktu dan bahasa
penulisan, kemudian nasib kitab itu selanjutnya, juga
mengetahui proses pengumpulan, trasmisi dan
penyalinan, dan terakhir mengetahui perbedaan
antarnaskah dan proses pemasukannya ke dalam kitab
kanonik.9 Ini semua dimaksudkan untuk memungkinkan
pembedaan antara ayat-ayat hukum dengan etika,
menghindari dicampuradukkannya ajaran-ajaran
temporal dengan firman tuhan yang abadi, dan akhirnya
bisa diketahui nilai kitab suci dan kemungkinannya untuk
bisa dipercaya karena barangkali saja ada tangan-
tangan jahil yang mengubahnya secara sengaja atau
tangan-tangan saleh yang membenarkan kesalahan
dengan niat baik.

Tetapi, langkah ini menghadapi banyak kendala. Kita


tidak mengetahui situasi khusus yang menyertai semua kitab
suci. Selain itu, juga tidak mengenal para penyusun atau
penulisnya, tidak mengetahui dalam kesempatan apa dan
kapan ditulis, tidak mengetahui siapa penuturnya, tangan-
tangan siapa saja yang pernah memegangnya, jumlah naskah,
perbedaan-perbedaan yang ada antara naskah itu dan
sumber-sumbernya, terutama jika suatu teks menuturkan
masalah-masalah tak jelas dan tak bisa dipahami atau
dipercaya tanpa mengetahui tujuan penulisnya. Sebaliknya,
jika semua ini bisa kita ketahui, kita bisa terbebas dari
penilaian-penilaian terdahulu kemudian memahami suatu teks
sesuai dengan maksud penulis dan tidak tergesa-gesa
menilainya sebagai mitologis, politis atau agamais.
Sampai di sini timbul pertanyaan, mampukah metode
Spinoza ini untuk menjelaskan seluruh kandungan kitab
Perjanjian Lama? Jawabannya adalah tidak. Banyak masalah
dalam Perjanjian Lama yang tidak bisa dijelaskan dengan
metode ini. Namun menurut Spinoza, yang tidak bisa
dijelaskan itu tidak terlalu penting. Bagian-bagian yang bisa
dijelaskan, khususnya masalah ajaran etika sudah cukup untuk
dijadikan tuntunan.
Selesai membahas metode penafsiran ini, Spinoza
mulai beranjak ke analisa kritisnya terhadap Taurat dan kitab-
kitab lain dari Perjanjian Lama. Pertama-tama, dia mengkaji
dengan sangat teliti situasi umum dan khusus yang menyertai
proses penyimpanan, penuturan dan transmisi kitab-kitab.
Adapun pertanyaan-pertanyaan terpenting yang dia ajukan
dalam hal ini bisa dihimpun dalam poin-poin berikut:
Apakah penyandangan Taurat (Pentateukh; lima kitab)
kepada Musa itu benar? Atau dengan kata lain: apakah Musa
benar-benar menulis lima kitab yang disandangkan kepada
dirinya itu? Autentikkah kandungan Perjanjian Lama? Ditulis
oleh satu atau banyak orangkah kitab-kitab itu? Apa sajakah
dasar-dasar untuk memahami kitab suci? Apa pula kesulitan-
kesulitan yang dihadapi oleh pengkaji nya?
Tentang kritiknya terhadap Taurat (Pentateukh) bisa
dibagi menjadi dua, yaitu: pertama, penjelasan teka-teki imam
Ibnu Ezra dan kedua, catatan-catatan pribadinya.
Pertama: Penjelasan teka-teki Ibnu Ezra
Dalam tafsirannya atas kitab Ulangan, terdapat
beberapa kata yang sengaja dia sebutkan dengan sangat
samar, sehingga lebih mendekati teka-teki atau kata sandi
daripada gaya kajian ilmiah.
Oleh Spinoza, kata-kata itu disebutkan kembali dalam
buku ini, dengan mengatakan:
“Inilah kata-kata Ibnu Ezra, “Di seberang sungai.
Yordan.., kalau saja kamu mengetahui rahasia dua belas…
Hukum Taurat dituliskan oien Musa….waktu iru orang Kanaan
diam di neqeri itu… Di atas gunung TUHAN, akan
disediakan… ranjangnya adalah ranjang dari besi, saat itu
kamu akan mengetahui kebenaran. “
Kemudian komentarnya:
“Dengan kata-kata yang sedikit ini dia menjelaskan
sekaligus membuktikan bahwa Musa bukanlah penulis kitab
yang lima, sebaliknya penulisnya adalah orang lain yang hidup
jauh setelahnya, sedangkan Nabi Musa sendiri telah menulis
kitab lain yang betul-betul berbeda.”
Inilah tiga kesimpulan yang dia ambil dari perkataan
Ibnu Ezra yang telah lalu. Kesimpulan ini telah merangkum
pendapat Ibnu Ezra tentang kitab-kitab ini sekaligus
merangkum pendapatnya sendiri tentang kitab-kitab itu juga.
Selengkapnya, tiga kesimpulan itu adalah:
1.Musa tidak pernah menulis kitab-kitab
yang oleh orang Yahudi dan Nasrani
disandangkan kepada dirinya.
2.Penulis asli kitab-kitab ini adalah
seseorang yang hidup jauh setelah Musa.
3.Musa menulis kitab lain yang berbeda
dengan lima kitab yang sekarang beredar
ini.
Adapun penjelasan Spinoza terhadap teka-teki itu
adalah:
1.Musa tidak pernah menulis mukadimah
kitab U langan karena tidak pernah
menyeberangi sungai Yordan.
2.Kitab Musa tertulis pada dinding mezbah
yang tersusun dari dua belas buah batu
saja. Yakni kitab itu jauh lebih kecil daripada
yang ada pada kita saat ini.
3. Dalam kitab Ulangan disebutkan, “hukum
Taurat dituliskan oleh Musa” yang tidak
mungkin ditulis oleh Musa.
4. Dalam kitab Kejadian, si penulis
memberikan komentar dengan mengatakan,
“waktu itu oranq Kanaan diam di negeri
itu… “. Komentar ini menunjukkan bahwa
kondisi pada waktu kitab itu ditulis sudah
berubah. Yakni setelah Musa meninggal
dan orang Kanaan diusir. Dengan demikian
penulis kitab itu bukan Musa.
5.Dalam kitab Kejadian gunung Moria
dinamakan gunung Tuhan, padahal nama
ini baru digunakan setelah pendirian kuil.
6.Dalam kitab Ulangan terdapat kisah Og,
raja Basan dengan gaya penuturan
peristiwa yang terjadi pada masa yang
sangat lampau.
Kedua: catatan-catatan pribadi Spinoza:
1.Kitab-kitab itu ditulis dengan
menggunakan kata ganti orang ketiga
2.Terdapat kisah kematian dan pemakaman
Musa, berkabung selama tiga puluh hari
dan membandingkannya dengan nabi-nabi
yang datang setelahnya.
3.Penamaan beberapa tempat dengan
nama-nama yang berbeda dengan nama-
nama yang digunakan pada masa M usa.
4.Peristiwa yang terjadi kisah itu terus
berlanjut hingga zaman setelah Musa.
Selain itu, Musa juga pernah membacakan Kitab
Perjanjian di depan rakyat. Kitab ini telah diwahyukan oleh
Allah dalam pertemuan yang sangat singkat. Suatu hal yang
menunjukkan bahwa kitab yang ditulis Musa jauh lebih kecil
daripada kitab yang ada pada kita saat ini. Kitab pertama ini
kemudian dia terangkan. Selanjutnya, keterangan ini pun dia
catat dalam Taurat Allah. Di kemudian hari, Yosua
menambahkan penjelasan lain dan mencatatnya di dalam
Taurat Allah ini juga.
Yosua juga tidak pernah menulis kitab yang memakai
namanya. Sebaliknya, kitab ini ditulis oleh orang lain yang
ingin menulis riwayat hidupnya dan ingin memperlihatkan
kelebihan dan kemasyhurannya. Peristiwa yang dituturkan di
dalamnya pun berlanjut hingga berabad-abad setelah
kematiannya. Sebagian dari kitab ini juga ada yang tersebut
dalam kitab Hakim-Hakim. Suatu hal yang menunjukkan
bahwa dulu ada riwayat-riwayat yang yang dihimpun dalam
Perjanjian Lama sebagai sejarah atau dokumen nasional Bani
Israel.
Selanjutnya tidak akan ada orang normal yang
mengatakan bahwa para hakim sendirilah yang menulis kitab
mereka. Mukadimah fasal dua puluh satu menunjukkan bahwa
kitab ini ditulis oleh satu orang saja. Penulis ini menyatakan
bahwa pada masanya tidak ada raja
Bani Israel. Hal ini berarti kitab ini ditulis sebelum masa
raja-raja.
Samuel juga tidak pernah menulis kitabnya. Peristiwa
yang dituturkan di dalamnya terus berlanjut hingga berabad-
abad setelah kematianya.
Raja-raja juga tidak menulis sendiri kitab mereka.
Sebaliknya, berdasarkan kesaksian kitab itu sendiri, telah
dinukil dari Kitab Kebijaksanaan Salomo, Sejarah Rajaraja
Yehuda dan Sejarah Raja-raja Israel.
Setelah membuktikan bahwa semua kitab ini tidak ditulis
oleh orang-orang yang selama ini diyakini sebagai penulisnya,
Spinoza membuktikan bahwa kitab-kitab itu ditulis oleh satu
orang saja. Orang ini ingin menceritakan sejarah bangsa Ibrani
sejak mula pertama hingga penghancuran kota Yerusalem
untuk yang pertama kalinya. Hal ini terlihat jelas dari
keberangkaian penuturan, pertalian satu sama lain dan adanya
tujuan tertentu. Spinoza menyangka bahwa satu orang yang
menulis itu adalah Ezra karena semua peristiwa yang
dituturkan di dalam kitab-kitab itu berakhir sebelumnya.
Sementara itu, menurut kesaksian Alkitab, Ezra telah memeras
semua tenaganya untuk mengkaji Taurat dan menyiarkannya.
Sedang dalam kitab yang memakai namanya, Ezra juga
memberikan kesaksian bahwa dia telah mengabdikan dirl
untuk memurnikan Taurat dan menyampaikannya.
Tetapi, apakah Ezra ini adalah orang yang membuat
rumusan terakhir dari kitab-kitab itu? Bukan. Yang membuat
rumusan terakhir itu bukanlah Ezra. Pekerjaannya hanya
sebatas pengumpulan riwayat dari buku-buku lain, penulisan
dan transmisi tanpa diurutkan atau diperiksa kembali.
Selanjutnya, jika kita memeriksa satu per satu kitabkitab
Perjanjian Lama yang lain, kita akan mendapatkan bahwa
kitab Tawarikh ditulis lama setelah Ezra meninggal, bahkan
bisa jadi setelah renovasi kuil. Kita tidak tahu penulisnya,
otoritasnya, manfaatnya dan kandungannya. Bahkan kita
heran, mengapa kitab seperti ini dimasukkan ke dalam kitab
suci, sementara kitab Kebijaksanaan Salomo, kitab Tobit dan
beberapa kitab lain tidak dimasukkan.
Kitab Mazmur disusun dan dibagi menjadi lima setelah
pembangunan kuil (kuil Salomo).
Amsal juga dibukukan dalam waktu yang sama. Oleh
sebagian robi, kitab ini ingin dikeluarkan dari daftar kitab suci
bersama dengan kitab Pengkhotbah. Sebagai gantinya akan
dimasukkan kitab-kitab lain yang sama sekali tidak kita kenal.
Adapun kitab nabi-nabi telah dinukil dari buku lain.
Menggunakan urutan waktu yang berbeda dengan urutan
waktu kemunculan mereka atau urutan keluarnya sabda dan
tulisan-tulisan mereka. Di samping itu juga tidak memuat
seluruh nabi dan tidak memuat semua nubuat nabi yang
disebutkan itu.
Nubuat Yesaya terus berlanjut hingga kitab Yeyasa
selesai. Jadi kitab ini kurang.
Kitab Yeremia adalah kumpulan tulisan yang diambil
dari berbagai sumber. Maka dari itu tampak semrawut dan
tidak memperhatikan urutan waktu. Beberapa fasal bahkan
ada yang diambil dari kitab Barukh. Hal ini berarti tidal<
adanya pemisah yang tegas antara kitab-kitab para nabi. Juga
menunjukkan adanya beberapa sumber lain yang diletakkan di
kitab ini atau itu. Selanjutnya juga diketahui mengapa ada
pengulangan pembahasan dalam berbagai kitab.
Adapun Kitab Barukh konan Yeremia sendiri yang
mendiktekan kepadanya. Kitab ini juga hanya menyebutkan
sebagian nubuat Barukh saja.
Fasal-fasal terakhir dari kitab Yehezkial menunjukkan
bahwa kitab ini sekadar cuplikan-cuplikan sebagaimana terlihat
dari banyak kata penghubung pada bagian-bagian yang
kurang. Bahkan pembukaan kitab ini menunjukkan lanjutan
nubuat dan bukan permulaannya. Dalam sejarahnya, Yusuf
juga pernah menyebutkan beberapa kejadian tentang
Yehezkial yang tidak disebutkan sama sekali dalam kitab ini.
Kemudian karena pertentangannya dengan Pentateukh,
sebagian robi cenderung menolaknya dan mengeluarkannya
dari kitab kanonik.
Kitab Hosea ditulis lama setelah kematian Hosea
sendiri. Selain itu juga hanya menyebutkan sebagian kecil dari
nubuatnya. Padahal nabi ini hidup selama delapan puluh
empat tahun.
Sedang kitab Yunan (Yunus) hanya menyebutkan
nubuatnya untuk orang Niniveh saja. Padahal dia juga
bernubuat untuk orang Israel.
Kitab Ayub ada yang menyangka banwa Musa
sendirilah yang menulisnya dan semua kisah yang ada di
dalamnya sekadar permisalan. Yang berpendapat seperti ini
adalah Musa bin Maimun dan beberapa orang robi. Tetapi ada
juga yang berbendapat bahwa kisah Ayub ini adalah kisah
nyata. Terlepas dari itu semua, Ibnu Ezra berpendapat bahwa
kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa lbrani dari bahasa
lain. Namun demikian, dia tidak menjelaskan lebih jauh lagi
tentang masalah ini.
Nabi Daniel menulis kitabnya mulai fasal delapan.
Sedang tujuh fasal pertama tidak diketahui siapa penulisnya.
Ada kemungkinan ditulis dalam bahasa Kaldea. Di sini,
Spinoza menyatakan bahwa ditulisnya tujuh fasal ini dalam
bahasa selain Ibrani tidak mengurangi derajat kesuciannya.
Kitab Ezra disebutkan langsung setelah kitab Daniel
sebagai episode lanjutannya. Menceritakan sejarah orang
Ibrani sejak masa tawanan pertama. Ada indikasi bahwa kitab
ini ditulis oleh orang yang sama dengan peulis kitab Daniel.
Kitab Ester bertalian dengan kitab Ezra. Cara
mempertalikan antarkeduanya menunjukkan hal itu. Kitab ini
juga bukan kitab yang ditulis oleh Mordekhai. Menurut Ibnu
Ezra kitab yang terakhir ini telah hilang. Sebaliknya kitab ini
ditulis oleh penulis yang sama dengan kitab Daniel, Ezra dan
Nehemia yang dinamakan juga dengan kitab Ezra II. Jadi
empat kitab ini ditulis oleh satu orang saja. Penulis ini
mengambil data-datanya dari catatan para robi, hakim dan
wali-wali negeri yang menyimpan riwayat hidup mereka seperti
yang dilakukan oleh para raja. Catatan-catatan ini tersebut
dalam dalam kitab Raja-Raja juga dalam kitab Nehemia dan
kitab I Makabe. Besar kemungkinan, kitab ini adalah karangan
kelompok Saduki. Dan inilah sebabnya kenapa orang Farisi
menolaknya. Terlepas dari itu semua, kitab ini berisi mitologi-
mitologi, yang dikarang secara sengaja. Bisa jadi tujuan kitab-
kitab ini adalah untuk membuktikan terwujudnya nubuat
Daniel. Tetapi, kitab-kitab ini penuh dengan kesalahan-
kesalahan yang disebabkan oleh tergesa-gesanya juru tulis.
Pada catatan-catatan pinggirnya terdapat banyak dari
kesalahan kesalahan ini. Naskah-naskah ini juga diambil dari
sumber sumber yang salah atau tidak bisa dipercaya,
sebagaimana dinyatakan oleh Imam Salomo. Dengan
demikian semua usaha untuk memadukan antar kitab-kitab itu
akan menunjukkan lebih banyak kesalahan lagi.
Terakhir, pengkanonan kitab-kitab Perjanjian Lama tidak
dilakukan sebelum masa orang Makabe. Kitab-kitab itu
diseleksi dalam kuil kedua. Imam-imam kuil ini juga menyusun
bacaan-bacaan dalam salat. Orang Farisi sendiri pernah
menyinggung perkumpulan mereka untuk membahas
keputusan pengkanonan sesuai dengan doktrin mereka.