Anda di halaman 1dari 22

Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular

A. Pengertian
1. Penyakit Menular
Adalah penyakit yang disebabkan oleh agent infeksi atau toksinnya, yang beraasal dari
sumber penularan atau reservoir, yang ditularkan/ ditansmisikan kepada pejamu (host) yang
rentan.
2. Kejadian Luar Biasa (KLB)
Adalah kejadian kesakitan atau kematian yang menarik perhatian umum dan mungkin
menimbulkan kehebohan/ketakutan di kalangan masyarakat, atau menurut pengamatan
epidemiologik dianggap adanya peningkatan yang berarti (bermakna) dari
kejadiankesakitan/kematian tersebut kepada kelompok penduduk dalam kurun tertentu.
3. Wabah Penyakit Menular
Adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan
daerah tertentu serta dapat mennnimbulkan malapetaka (U.U. No. 4 tahun 1984 tentang
wabah penyakit yang mennular)
4. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular (P2M)
Penanggulangan KLB penyakit menular dilaksanakan dengan upaya-upaya :
a. Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun pos-pos
kesehatan di tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana obat yang memadai
termasuk rujukan.
b. Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi pada KLB, DBD,
Kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB diare, dsb.
c. Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan , pengamatan/pemantauan
(surveinlans ketat) dan logistik.
5. Program Pencegahan
Adalah mencegah agar penyakit menular tidak menyebar didalam masyarakat, yang
dilakukan antara lain dengan memberikan kekebalan kepada host melalui kegiatan
penyuluhan kesehatan dan imunisasi.
6. Cara Penularan Penyakit Menular
Dikenal beberapa cara penularan penyakit menular yaitu:
a. Penularan secara kontak
b. Penularan melalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang tercemar
c. Penularan melalui vektor
d. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik dan tato.
7. Surveilans Evidemiologi Penyakit Menular
Adalah suatu kegiatan pengumpulan data/informasi melalui pengamatan terhadap
kesakitan/kematian dan penyebarannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya secar
sistematik, terus menerus dengan tujuan untuk perencanaan suatu program, mengevaluasi
hasil program, dan sistem kewaspadaan dini. Secara singkat dapat dikatakan: Pengumpulan
Data/Informasi Untuk Menentukan Tindakan (Surveillance For Action).

B. Program Pemberantasan Penyakit Menular
a. Program imunisasi
b. Program TB paru dengan kegiatan penemuan penderita TBC
c. Program malaria dengan angka insiden malaria (AMI)
d. Program ISPA dengan frekuensi penemuan dan penaggulangan pneumonia
e. Program diare meliputi frekuensi penanggulangan diare
f. Program rabies
g. Program Surveilans
h. Pemberantasan P2B2 demam berdarah


Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

A. Pengertian Penyakit Menular, Kejadian Luar Biasa (KLB), dan Wabah Penyakit Menular
Penyakit menular ialah penyakit yang disebabkan oleh agent infeksi atau toksinnya, yang
berasal dari sumber penularan atau reservoir, yang ditularkan/ ditansmisikan kepada pejamu
(host) yang rentan. Penyakit menular (Communicable Desease) adalah penyakit yang disebabkan
oleh adanya agen penyebab yang mengakibatkan perpindahan atau penularan penyakit dari
orang atau hewan yang terinfeksi, kepada orang atau hewan yang rentan (potential host), baik
secara langsung maupun tidak langsung melalui perantara (vector) atau lingkungan hidup.
Kejadian Luar Biasa (KLB) ialah kejadian kesakitan atau kematian yang menarik perhatian
umum dan mungkin menimbulkan kehebohan/ ketakutan di kalangan masyarakat, atau menurut
pengamatan epidemiologik dianggap adanya peningkatan yang berarti (bermakna) dari kejadian
kesakitan/ kematian tersebut kepada kelompok penduduk dalam kurun tertentu. Selain itu, KLB
adalah kejadian yang melebihi keadaan biasa, pada satu/ sekelompok masyarakat tertentu atau
terjadinya peningkatan frekuensi penderita penyakit, pada populasi tertentu, pada tempat dan
musim atau tahun yang sama. Termasuk dalam KLB ialah kejadian kesakitan/ kematian yang
disebabkan oleh penyakit-penyakit baik yang menular maupun yang tidak menular dan kejadian
bencana alam yang disertai wabah penyakit.
Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan
daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (U.U. No. 4 tahun 1984 tentang wabah
penyakit yang menular).Suatu wabah dapat terbatas pada lingkup kecil tertentu (disebut
outbreak, yaitu serangan penyakit) lingkup yang lebih luas (epidemi) atau bahkan lingkup global
(pandemi).Kejadian atau peristiwa dalam masyarakat atau wilayah dari suatu kasus penyakit
tertentu yang secara nyata melebihi dari jumlah yang diperkirakan.

B. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Program Pencegahannya
Penanggulangan KLB penyakit menular dilaksanakan dengan upaya-upaya:
1. Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun pos-pos kesehatan di
tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana obat yang memadai termasuk rujukan.
2. Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi pada KLB, DBD,
kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB diare, dsb.
3. Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan, pengamatan/ pemantauan (surveinlans
ketat) dan logistik.
Sedangkan untuk program pencegahan ialah mencegah agar penyakit menular tidak
menyebar di dalam masyarakat, yang dilakukan antara lain dengan memberikan kekebalan
kepada host melalui kegiatan penyuluhan kesehatan dan imunisasi.

C. Macam Penyakit-Penyakit Menular
Penyakit-penyakit menular dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yaitu:
1. Penyakit menular potensial mewabah
Ke dalam kelompok ini dimasukkan sejumlah penyakit menular berikut:
a. Diare
b. Demam berdarah dengue
c. Malaria (di daerah endemik tinggi)
d. Filaria (di daerah endemik tinggi)
2. Penyakit menular endemik tinggi
Ke dalam kelompok ini dimasukkan sejumlah penyakit berikut:
a. Tuberkulosis paru
b. Lepra (Morbus Hansen)
c. Patek (Framboesia)
d. Anjing gila (Rabies)
e. Antraks
3. Penyakit menular penting lain
Ke dalam kelompok ini dimasukkan sejumlah penyakit berikut:
a. Penyakit menular seksual
1) Sifilis (Raja Singa)
2) Gonorhoe (kencing nanah)
3) HIV/ AIDS
b. Penyakit menular lain
1) Hepatitis-B
2) Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

D. Cara Penularan Penyakit Menular
Dikenal beberapa cara penularan penyakit menular yaitu:
1. Penularan secara kontak, baik kontak langsung maupun kontak tidak langsung (benda-benda
bekas dipakai pasien).
2. Penularan melalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang tercemar.
3. Penularan melalui vector.
4. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik, dan tato.

E. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular
Surveilans epidemiologi suatu penyakit dapat diartikan sebagai kegiatan pengumpulan
data/ informasi melalui pengamatan terhadap kesakitan/ kematian dan penyebarannya serta
faktor-faktor yang mempengaruhinya secar sistematik, terus menerus dengan tujuan untuk
perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil program, dan sistem kewaspadaan dini. Secara
singkat dapat dikatakan: Pengumpulan Data/ Informasi Untuk Menentukan Tindakan
(Surveillance For Action). Untuk dapat memonitor/ mengamati distribusi penyakit menular di
dalam masyarakat wilayah kerja Puskesmas, dilakukan pencatatan peristiwa kesakitan dan
kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular tersebut.
Pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data mengenai peristiwa kesakitan
dan kematian penyakit menular/ penyakit tidak menular ini di dalam wilayah kerja serta
menggunakannya sebagai informasi untuk monitoring/ pengamatan distribusi penyakit dan
mengambil tindakan di dalam wilayahnya disebut surveilans.Puskesmas harus mempunyai
sistem surveilans untuk penyakit-penyakit ini, serta menggunakan informasi yang dapat
diungkapkan untuk memonitor masalah penyakit menular di dalam masyarakat wilayah kerja.
Untuk pemantauan penyakit menular tertentu yang menjadi masalah kesehatan di wilayah
Puskesmas disajikan dalam PWS Mingguan Penyakit (contoh PWS penyakit campak, diare, DBD,
dll).Dengan penggunaan PWS penyakit secara mingguan ini dapat dikenali/ diketahui secara dini
kenaikan/ distribusi suatu penyakit menular tertentu menurut tempat (Desa), dan waktu adalah
Minggu.

F. Program Pemberantasan Penyakit Menular
1. Tujuan
Program ini bertujuan menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat
penyakit menular dan tidak menular.
a. Penyakit menular yang diprioritaskan dalam program ini adalah: malaria, demam
berdarah dengue, tuberkulosis paru, HIV/ AIDS, diare, polio, filaria, kusta, pneumonia,
dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), termasuk penyakit
karantina dan risiko masalah kesehatan masyarakat yang memperoleh perhatian dunia
internasional (public health risk of international concern).
b. Penyakit idak menular yang diutamakan adalah: penyakit jantung, kanker, diabetes
melitus dan penyakit metabolik, penyakit kronis dan degeneratif, serta gangguan akibat
kecelakaan dan cedera.
2. Sasaran
a. Persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization(UCI) sebesar 98%.
b. Angka Case Detection Rate penyakit TB sebesar 70% dan angka keberhasilan
pengobatan TB di atas 85%.
c. Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP) diharapkan 2/100.000 anak usia kurang dari 15
tahun.
d. Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditangani sebesar 80%.
e. Penderita malaria yang diobati sebesar 100%.
f. CFR diare pada saat KLB adalah < 1,2%.
g. ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) mendapat pengobatan ART sebanyak 100%.
h. Tersedianya dan tersosialisasikannyakebijakan dan pedoman, serta hukum kesehatan
penunjang program yang terdistribusi hingga ke desa.
i. Terselenggaranya sistem surveilans dan kewaspadaan dini serta penanggulangan
Kejadian Luar Biasa (KLB)/ wabah secara berjenjang hingga ke desa.
3. Kebijakan Pelaksanaan:
a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mendorong peran,
membangun komitmen, dan menjadi bagian integral pembangunan kesehatan dalam
mewujudkan manusia Indonesia yang sehat dan produktif terutama bagi masyarakat
rentan dan miskin hingga ke desa.
b. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diselenggarakan melalui penatalaksanaan
kasus secara cepat dan tepat, imunisasi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat,
serta pengendalian faktor risiko baik di perkotaan dan di perdesaan.
c. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mengembangkan dan
memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah
setempat dan kewaspadaan dini, guna mengantisipasi ancaman penyebaran penyakit
antar daerah maupun antar negara yang melibatkan masyarakat hingga ke desa.
d. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mengembangkan sentra
rujukan penyakit, sentra pelatihan penanggulangan penyakit, sentra regional untuk
kesiapsiagaan penanggulangan KLB/ wabah dan bencana maupun kesehatan matra,
serta kemampuan untuk melakukan rapid assessement dan rapid respons.
e. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk memantapkan jejaring
lintas program, lintas sektor, serta kemitraan dengan masyarakat termasuk swasta
untuk percepatan program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
melalui pertukaran informasi, pelatihan, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan
pemanfaatan sumberdaya lainnya.
f. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk dilakukan melalui
penyusunan, review, sosialisasi, dan advokasi produk hukum penyelenggaraan
program pencegahan dan pemberantasan penyakit di tingkat pusat hingga desa.
g. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk meningkatkan
profesionalisme sumberdaya manusia di bidang pencegahan dan pemberantasan
penyakit sehingga mampu menggerakkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat
secara berjenjang hingga ke desa.
h. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk menyiapkan,
mengadakan, dan mendistribusikan bahan-bahan yang esensial untuk mendukung
penyelenggaraan program pencegahan dan pemberantasan penyakit hingga ke desa.
i. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk meningkatkan cakupan,
jangkauan, dan pemerataan pelayanan penatalaksanaan kasus penyakit secara
berkualitas hingga ke desa.
4. Kegiatan pokok dan kegiatan indikatif program ini meliputi:
a. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko:
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-
undangan, dan kebijakan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko dan
diseminasinya;
2) Menyiapkan materi dan menyusun rencana kebutuhan untuk pencegahan dan
penanggulangan faktor resiko;
3) Menyediakan kebutuhan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko sebagai
stimulam;
4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman
pencegahan dan penanggulangan faktor risiko;
5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan
pencegahan dan penanggulangan faktor risiko;
6) Melakukan bimbingan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pencegahan dan
penanggulangan faktor risiko;
7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan
konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor risiko;
8) Melakukan kajian program pencegahan dan penanggulangan faktor risiko;
9) Membina dan mengembangkan UPT dalam pencegahn dan penanggulangan
faktor risiko;
10) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan pencegahan
dan pemberantasan penyakit.
b. Peningkatan imunisasi:
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-
undangan, dan kebijakan peningkatan imunisasi, dan diseminasinya;
2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatan
imunisasi;
3) Menyediakan kebutuhan peningkatan imunisasi sebagai stimulan yang ditujukan
terutama untuk masyarakat miskin dan kawasan khusus sesuai dengan skala
prioritas;
4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/protap program
imunisasi;
5) Menyiapkan dan mendistribusikan sarana dan prasarana imunisasi;
6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan
program imunisasi
7) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan imunisasi;
8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan
konsultasi teknis peningkatan imunisasi;
9) Melakukan kajian upaya peningkatan imunisasi;
10) Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan imunisasi;
11) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan imunisasi.
c. Penemuan dan tatalaksana penderita:
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan
perundangundangan, dan kebijakan penemuan dan tatalaksana penderita dan
diseminasinya;
2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan penemuan dan
tatalaksana penderita;
3) Menyediakan kebutuhan penemuan dan tatalaksana penderita sebagai stimulan;
4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program
penemuan dan tatalaksana penderita;
5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan
program penemuan dan tatalaksana penderita;
6) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan penemuan dan
tatalaksana penderita;
7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan
konsultasi teknis penemuan dan tatalaksana penderita;
8) Melakukan kajian upaya penemuan dan tatalaksana penderita;
9) Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya penemuan dan tatalaksana
penderita;
10) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan penemuan
dan tatalaksana penderita.
d. Peningkatan surveilens epidemiologi dan penanggulangan wabah:
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-
undangan, dan kebijakan peningkatan surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah dan diseminasinya;
2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatan
surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;
3) Menyediakan kebutuhan peningkatan surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah sebagai stimulan;
4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program
surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;
5) Meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan menanggulangi KLB/ wabah,
termasuk dampak bencana;
6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan
program surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;
7) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan surveilans
epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;
8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan
konsultasi teknis peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan
KLB/wabah;
9) Melakukan kajian upaya peningkatan surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah;
10) Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan surveilans
epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.
11) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan surveilans
epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.
e. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan
penyakit:
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-
undangan, dan kebijakan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)
pencegahan dan pemberantasan penyakit dan diseminasinya;
2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatan
komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan
penyakit.
3) Menyediakan kebutuhan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)
pencegahan dan pemberantasan penyakit sebagai stimulan;
4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program
komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan
penyakit;
5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan
program komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan
penyakit;
6) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan komunikasi informasi
dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit;
7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan
konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)
pencegahan dan pemberantasan penyakit;
8) Melakukan kajian upaya peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)
pencegahan dan pemberantasan penyakit;
9) Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan komunikasi
informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit;
10) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan komunikasi
informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.
5. Program Nasional Pemberantasan Penyakit Menular
a. PROGRAM PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR
Pokok Persoalan dan Tantangan:
Pemerintah Indonesia telah mengubah sistem pemerintahannya menjadi sistem
desentralisasi yang membahayakan sistem pengawasan Penyakit Menular.
Sasaran:
Memperkuat pengawasan penyakit yang menular melalui hubungan seksual (STI).
Memperkuat pengawasan HIV.
b. PROGRAM PENCEGAHAN, PEMBERANTASAN DAN PENGAWASAN TERHADAP
PENYAKIT MENULAR
Pokok Persoalan dan Tantangan:
Infeksi Filariasis dan penularannya selalu terdapat di banyak daerah tanpa kegiatan
pengawasan yang cukup.Proyek percobaan untuk ELF memperlihatkan hasil yang
menjanjikan yang perlu ditingkatkan ke tingkat propinsi, sesuai dengan komitmen
untuk target penghapusan global (Mekhong Plus).
Infeksi Dengue dan komplikasinya seperti demam berdarah terus meningkat di daerah
kota dan pinggir kota dengan meningkatnya angka kesakitan namun menurunnya
angka kematian yang menjanjikan. Partisipasi dan jaringan masyarakat diperlukan
untuk memulai pengawasan dari penularan dengue (terutama di perkotaan) dan
filariasis (terutama di pedesaan).
Leptospirosis tetap menjadi hal yang serius meskipun tidak ada laporan yang
mengancam.Rabies dan Japanese Encephalitis adalah masalah utama yang
memerlukan dukungan dari sistem pemerintahan untuk memperkuat pengawasan dan
vaksin pencegahan.
Frambesia dan kusta adalah penyakit menular yang dapat diobati, namun dengan
penularan utama yang terjadi di daerah yang miskin, terpencil, kurang pelayanannya,
diperlukan kesadaran yang ditingkatkan dan dukungan dari pemerintah setempat, dan
juga tingkat daerah.Helminthiasis yang sangat umum dan sangat endemis dengan
pengaruh kesehatan yang kronik yang dapat secara luas ditingkatkan melalui
pemberantasan cacing yang berulang-ulang secara masal, yang harus dikoordinasikan
dengan perawatan ELF dimanapun memungkinkan.
Sasaran:
Meningkatkan dan mempertahankan kualitas dari komponen-komponen terpilih
dan bidang-bidang yang termasuk dalam program nasional untuk mencegah,
mengawasi, dan menghapuskan penyakit-penyakit yang ditargetkan, termasuk
ELF, partisipasi dan jaringan masyarakat untuk pengawasan dengue dan arbovirus
lainnya, anti-helminthiasis deworming, leptospirosis, rabies, yaws dan kusta.
c. PROGRAM PEMBERANTASAN MALARIA
Pokok Persoalan dan Tantangan:
Malaria tetap menjadi salah satu penyakit menular yang utama di sebagian besar daerah di
Indonesia.Ancaman yang muncul kembali telah terjadi di daerah-daerah pengawasan efektif
sebelumnya.Angka kesakitan dan kematian Malaria secara bermakna mempengaruhi bagian-
bagian yang lebih miskin di negara.Sebuah rencana pembangunan telah dikembangkan,
bersama dengan meningkatnya pendanaan yang baru-baru ini disetujui melalui Global Fund
untuk AIDS, TB dan Malaria, namun pelaksanaanya belum dimulai.Kini desentralisasi sedang
berjalan yang memerintahkan pelaksanaan tanggung jawab di tingkat daerah dan propinsi.
Unit Malaria di DepKes meneruskan kebutuhan untuk memperkuat fungsinya sebagai
koordinator dari "Gebrak Malaria" dan GFATM. Kebijakan perawatan obat-obatan perlu
terus diawasi dengan timbulnya kembali pola resistansi.
Sasaran:
Meningkatkan dan memelihara kualitas dari komponen-komponen terpilih dan daerah-
daerah yang terjangkau oleh rencana kerjasama "Gebrak Malaria" untuk dilaksanakan
dibawah GFATM dan sumber donatur lainnya.

d. PROGRAM PEMBERANTASAN TUBERCULOSIS
Pokok Persoalan dan Tantangan:
Indonesia telah mengembangkan dan memulai penerapan rencana pembangunan lima
tahun untuk pemberantasan TB (2002-2006). Telah ada peningkatan marginal dalam kasus
tingkat deteksi selama dua tahun terakhir hanya karena Pusat Kesehatan telah
melaksanakan DOTS.Untuk memperbaiki hal ini, Badan Swasta dan Tempat Kesehatan
Masyarakat lainnya harus terlibat dalam pelaksanaan DOTS. Kualitas pelaksanaan DOTS,
terutama sistem pencatatan dan pelaporan, pada saat ini mengalami beberapa kekurangan
yang perlu diatasi dengan memperkuat dan meluruskan kegiatan DOTS di tingkat pusat,
propinsi dan daerah. Agar dapat menyediakan dukungan teknis yang berkesinambungan
untuk mengatasi hal ini, maka penting untuk memperkuat dukungan teknis dalam negeri
dengan menambah staf di tingkat nasional dan lapangan.
Sasaran:
Memperbaiki pelaksanaan pelayanan DOTS di seluruh negeri dengan membentuk
kemitraan yang efektif dengan provider kesehatan di sektor lain (publik-gabungan publik
& publik - gabungan swasta), dan penyediaan dukungan teknis yang berkesinambungan.


Program Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)
Ruang Lingkup Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit:
Imunisasi
Surveilans epidemiologi
TBC
Malaria
Kusta
DBD
Penanggulangan KLB
ISPA/Pnemonia
Filariasis
AFP
Diare
Rabies/Gigitan Hewan Penular Rabies (HPR)
Kesehatan Matra (Haji dan P. Bencana)
Frambusia
Leptospirosis
HIV/AIDS
Penyakit tidak menular (DM, hipertensi, dll).

Definisi epidemiologi menurut WHO (1989) adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan
determinan dari peristiwa kesehatan dan peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan yang menimpa
sekelompok masyarakat dan menerapkan ilmu tersebut untuk memecahkan masalah-masalah
kesehatan.
Pengertian Surveilans (WHO) adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan
interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang
membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.
Surveilans epidemiologi adalah kegiatan aalisis secara sistematis dan terus menerus terhadap
penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan
dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tinakan
penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan
penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.

Tujuan surveilans:
1. Menentukan data dasar/besarnya masalah kesehatan
2. Memantau atau mengetahui kecenderungan penyakit
3. Mengidentifikasi adanya kejadian luar biasa
4. Membuat rencana, pemantauan, penilaian atau evaluasi program kesehatan.

Subsistem surveilans epideiologi kesehatan:
1. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular
2. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
3. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku
4. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan
5. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentan Pedoman Penyelenggaraan
Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan.
Jenis-jenis penyakit yang diamati di Puskesmas (STP):
Kolera
Diare
Diare Berdarah
Tifus perut klinis
TB Paru BTA +
TB Paru Klinis
Kusta PB
Kusta MB
Campak
Difteri
Batuk Rejan
Tetanus
Hepatitis Klinis
Malaria Klinis
Malaria Vivax
Malaria Falsifarum
Malaria mix
Demam Berdarah Dengue
Demam Dengue
Pnemonia
Sifilis
Gonore
Frambusia
Filariasis
Influenza

Kejadian Luar Biasa (KLB) =
Definisi Kejadian Luar Biasa (KLB) = adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan/kematian yang bermakna secara epidmiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu.

Kriteria Kerja KLB:
1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut
menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkan dengan periode
sebelumnya.
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikkan dua kali lipat atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih
dibanding dengan angka rata-rata perbulan dari tahun sebelumnya.
6. Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkan
kenaikan 50% atau lebih, dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
7. Proposional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua
kali atau lebih periode yang sama dalam kurun waktu/tahun sebelumnya.
8. Beberapa penyakit khusus: kolera, DBD/DSS:
- Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis)
- Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah
tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
9. Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita: keracunan makanan, keracunan
pestisida.


Macam penyakit menular:
Penyakit karantina atau wabah (UU No.1 dan 2 tahun 1962): Kolera, Pes, Demam kuning,
Deman bolak-balik, Tifus Bercak Wabah, Poliomielitis dan Difteri).
Penyakit menular dengan potensi wabah tinggi: DBD, Diare, Campak, Pertusis dan Rabies, Avian
Influenza, HIV/AIDS.
Penyakit menular dengan potensi wabah rendah: malaria, meningitis, frambusia, keracunan,
influenza, ensefalitis, antraks, tetanus neonatorum dan tifus abdominalis.
Penyakit menular yang tidak berpotensi wabah : kecacingan, lepra, TBC, Sifilis, Gonore dan
Filariasis.

Penyelidikan epidemiologi KLB yaitu semua kegiatan yang dilakukan untuk memastikan adanya
penderita penyakit yang dapat menimbulkan KLB, mengenai sifat-sifat penyebabnya dan faktor-fator
yang mempengaruhi terjadinya dan penyebarluasannya.
Tujuan Penyelidikan Epidemiologi KLB adalah untuk menentukan jenis penyakit yang menimbulkan
KLB dan cara-cara mencegah meluasnya daerah/populasi yang terkena dan caracara
pemberantasannya.

3 M Plus adalah tindakan yang dilakukan secara teratur untuk memberantas jentik dan menghindari
gigitan nyamuk Demam Berdarah dengan cara :
1. Menguras tempat-tempat penampungan air seperti : bak mandi / WC, tempayan, ember, vas
bunga, tempat minum burung dan lain-lain seminggu sekali.
2. Menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong, drum dan lain-lain.
3. Mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar / di luar rumah yang dapat
menampung air hujan.
Plus tindakan memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk.
Membunuh jentik nyamuk Demam Berdarah di tempat air yang sulit dikuras atau sulit air dengan
menaburkan bubuk Temephos (abate) atau Altosid 2 3 bulan sekali dengan takaran 1 gram
abate untuk 10 liter air atau 2,5 gram Altosid untuk 100 liter air. Abate dapat diperoleh/dibeli di
puskesmas atau di apotik.
Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk.
Mengusir nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk
Mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok
Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.
Tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar.

ERADIKASI CAMPAK
Penyakit campak sering juga disebut penyakit morbili atau measles. Definisi kasus campak
klinis adalah kasus dengan gejala bercak kemerahan di tubuh berbentuk makulo papular selama 3
hari atau lebih disertai panas badan 38 derajat C atau lebih (teraba panas) dan disertai salah satu
gejala batuk pilek atau mata merah (WHO).
Pada sidang CDC/PAHO/WHO, tahun 1996 menyimpulkan bahwa penyakit campak dapat
dieradikasi, karena satu-satunya pejamu (host) /reservoir campak hanya pada manusia, serta
tersedia vaksin dengan potensi yang cukup tinggi yaitu effikasi vaksin 85%, dan diperkirakan
eradikasi dapat dicapai 10-15 tahun setelah eliminasi.
WHO mencanangkan beberapa tahapan dalam upaya pemberantasan campak, dengan
tekanan strategi yang berbeda-beda pada setiap tahap yaitu :
1.Tahap Reduksi
Tahap ini dibagi dalam 2 tahap :
a.Tahap pengendalian campak
Pada tahap ini ditandai dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak rutin dan upaya
imunisasi tambahan di daerah dengan morbiditas campak yang tinggi. Daerah-daerah ini masih
merupakan daerah endemis campak, tetapi telah terjadi
penurunan insiden dan kematian, dengan pola epidemiologi kasus campak menunjukkan 2 puncak
setiap tahun.
b.Tahap Pencegahan KLB
Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi > 80% dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan
kematian, insiden campak telah bergeser kepada umur yang lebih tua, dengan interval KLB antara 4-
8 tahun.
2. Tahap Eliminasi
Cakupan imunisasi sangat tinggi > 95% dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah
sangat kecil jumlahnya. Kasus campak sudah jarang dan KLB hampir tidak pernah terjadi.
Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imuniasi campak.
3. Tahap Eradikasi.
Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata, serta kasus campak sudah tidak ditemukan. Transmisi
virus campak sudah dapat diputuskan, dan negara-negara di dunia sudah memasuki tahap eliminasi.


Surveilans campak dilakukan untuk mengetahui permasalahan dalam penanggulangan campak yang
meliputi :
1. Kelompok umur kasus campak
2. Status imunisasi kasus campak
3. Wilayah yang bermasalah serta waktu kejadian kasus campak
4. Memprediksi terjadinya KLB campak

Kegunaan data surveilans campak bagi program imunisasi :
1. Untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan imunisasi campak
2. Memberikan arahan bagi program imunisasi dalam menentukan kebijakan imunisasi campak dan
perencanaan dimasa mendatang secara tepat sesuai dengan permasalahan yang ditemukan oleh
surveilans.
Peran petugas kesehatan dalam surveilans campak:
1. Melakukan pengobatan
2. Mencatat dan melaporkan setiap kasus campak ke Puskesmas / Dinas Kesehatan setempat
menggunakan form C1
3. Pastikan status imunisasi campak penderita telah tercatat.
4. Menanyakan pada keluarga penderita apakah ada penderita campak lain di wilayahnya
5. Jika terdapat kasus, keluarga disarankan untuk membawa penderita campak ke Puskesmas /
pelayanan kesehatan setempat

Tatalaksana kasus campak:
1. Pengobatan simptomatik (atipiretik)
2. Pemberian antibiotik bila ada komplikasi, bila berat segera dirujuk ke RS
3. Pemberian vitamin A dosis tinggi (sesuai umur)
4. Perbaikan gizi
5. meningkatkan cakupan imunisasi campak/ring vaksinasi (program cepat,sweeping) pada desa-
desa risiko tinggi.
Peran Puskesmas dalam Penanggulangan KLB Campak:
1. Setiap kasus campak yang datang ke Puskesmas, harus dicatat dalam formulir C1, laporkan setiap
bulan ke Kabupaten.
2. Setelah itu tanyakan apakah ada anak lain di sekitar penderita yang mempunyai penyakit dengan
gejala yang sama, bila ada, lakukan pelacakan.
3. Bila terdapat lebih dari 5 penderita dalam 4 minggu berturut-turut mengelompokkan secara
epidemiologis di wilayah puskesmas, lakukan penyelidikan KLB menggunakan formulir C1 dan C2.

Definisi Kasus Campak Konfirmasi:
1. Pemeriksaan laboratorium serologis (IgM positip atau kenaikan titer antibodi 4 kali) dan atau
isolasi virus campak positip.
2. Kasus campak yang mempunyai kontak langsung (hubungan epidemiologi) dengan kasus
konfirmasi, dalam periode waktu 1-2 minggu.

Definisi KLB campak
1. Tersangka KLB Campak
Adanya 5 atau lebih kasus tersangka campak dalam waktu 4 minggu berturut-turut mengelompok
dan mempunyai hubungan epidemiologis satu sama lain.
2. KLB Campak Pasti
Apabila minimum 2 spesimen positif IgM campak dari hasil pemeriksaan kasus pada tersangka KLB
campak.

Tindakan Puskesmas bila terjadi tersangka KLB campak ?
1. Laporkan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota
2. Lacak penderita bersama Kab/Kota menggunakan formulir C1 dan C2
3. Ambil specimen darah penderita sesuai pedoman, segera kirim ke Dinkes Kabupaten / Kota
4. Analisa data, buat kesimpulan seperti tertera dalam peran Puskemas
5. Laporkan hasil penyelidikan KLB dan diskusikan dengan staf Puskesmas dan Kabupaten
6. Buat laporan lengkap KLB setelah tidak ada lagi kasus tambahan selama 2x masa inkubasi (22
minggu). Laporkan ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota.

Menurut WHO, apabila ditemukan satu (1) kasus pada satu wilayah, maka kemungkinan ada 17-20
kasus di lapangan pada jumlah penduduk rentan yang tinggi.

Pada tahap reduksi campak dengan pencegahan KLB :
Pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap 10 - 15 kasus baru pada setiap KLB.
Populasi rentan (susceptible) atau tak terlindungi imunisasi campak dapat dihitung dengan rumus :
Prc = Px - 0,85 ( Cix .Px ) - BS - AM
Prc = Jumlah populasi rentan campak pada tahun (x)
Px = Jumlah populasi bayi pada tahun (x)
Ci.x = % cakupan imunisasi tahun (x)
BS = Jumlah Bayi sakit campak selama periode thn x
AM = Jurnlah Bayi meninggal selama periode tahun (x)
Cara pengambilan specimen darah pada tersangka KLB campak ?
1. Darah : ambil 3 5 ml darah vena pada tersangka penderita campak sebelum 28 hari setelah
timbul rash, menggunakan syring 5 ml. Diamkan dalam suhu kamar selama 1 jam. Ambil
serum,masukkan ke dalam tabung khusus. Lalu masukkan ke dalam spesimen carier pada suhu 2 8
C.
2. Segera kirim ke propinsi atau laboratorium campak nasional



PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR PADA PELAYANAN PRIMER/PUSKESMAS

Pencegahan penyakit menular di tingkat pelayanan primer/puskesmas dilakukan melalui program :
1. P2 TBC
2. P2 IMS HIV/AIDS
3. P2 Kusta
4. P2 ISPA
5. P2 Malaria
6. P2 Flu Burung
7. P2 DBD
8. P2 DIARE
9. Pencegahan Penyakit / Imunisasi
10. Surveilens Epidemiologi

Program pencegahan penyakit menular yang ada di puskesmas tidak semua masuk dalam
standar pelayanan minimal (SPM) kesehatan berdasarkan kepmenkes RI tahun 2008 yang menjadi
target dalam standar pelayanan minimal tersebut adalah penyakit TBC,DIARE,ISPA Dan DBD serta
imunisasi, sedangkan malaria merupakan pogram global dunia yang masuk dalam millenium
development goals.
Upaya yang dilakukan dirjen P2PL depkes dalam rangka pencegahan penyakit menular yaitu
dengan menyusun program indikator dan target kegiatan 2010-1015 yaitu sebagai berikut: