Anda di halaman 1dari 29

BAB I

TEORI

Shampoo adalah sabun cair yang digunakan untuk mencuci rambut dan kulit kepala yang terbuat
dari campuran bahan bahan alami ( tumbuhan ) atau zat-zat kimia. Pengertian lain dari sampo
yaitu sediaan yang mengandung surfaktan dalam bentuk yang cocok berguna untuk
menghilangkan kotoran dan lemak yang melekat pada rambut dan kulit kepala tidak
membahayakan rambut, kulit kepala, dan kesehatan Si pemakai.
Semula sampo dibuat dari berbagai jenis bahan yang diperoleh dari sumber alam, seperti sari biji
rerak, sari daging kelapa, dan sari abu merang (sekam padi).
Sampo yang menggunakan bahan alam sudah banyak ditinggalkan, dan diganti dengan sampo
yang dibuat dari detergen, yakni zat sabun sintetik, sehingga saat ini jika orang berbicara
mengenai sampo yang dimaksud adalah sampo yang dibuat dari detergen. Dan untuk sampo yang
dibuat dari bahan lain, biasanya diberikan penjelasan seperlunya, misalnya sampo merang.
Agar sampo berfungsi sebagaimana disebutkan di atas, sampo harus memiliki sifat berikut :
1. Sampo harus membentuk busa yang berlebih, yang terbentuk dengan cepat, lembut dan mudah
dihilangkan dengan membilas dengan air.
2. Sampo harus mempunyai sifat detergensi yang baik tetapi tidak berlebihan, karena jika tidak
kulit kepala menjadi kering.
3. Sampo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi dapat mengganti lemak
natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang ada di dalam komposisi sampo. Kotoran rambut
yang dimaksud tentunya sangat kompleks yaitu : sekret dari kulit, sel kulit yang rusak, kotoran
yang disebabkan oleh lingkungan dan sisa sediaan kosmetika.
4. Tidak mengiritasi kulit kepala dan mata.
5. Sampo harus tetap stabil. Sampo yang dibuat transparan tidak boleh menjadi keruh dalam
penyimpanan. Viskosita dan pH-nya juga harus tetap konstan, sampo harus tidak terpengaruh
oleh wadahnya ataupun jasadrenik dan dapat mempertahankan bau parfum yang ditambahkan ke
dalamnya.
Detergen yang digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan sampo memiliki sifat
fisikokimia tersendiri yang umumnya tidak sepenuhnya searah dengan ciri sifat yang
dikehendaki untuk sampo. Umumnya, detergen dapat melarutkan lemak dan daya pembersih
kuat, sehingga jika digunakan untuk keramas rambut, lemak rambut dapat hilang, rambut
menjadi kering, kusam, dan mudah menjadi kusut, menyebabkan sukar diatur.
Sifat detergen yang terutama dikehendaki untuk sampo adalah kemampuan membangkitkan
busa. Jenis detergen yang paling lazim diedarkan tergolong alkil sulfat, terutama laurilsulfat,
juga alkohol monohidrat dengan rantai C 10 18.
Di samping itu detergen yang digunakan untuk pembuatan sampo, harus memiliki sifat berikut :
1. harus bebas reaksi iritasi dan toksik, terutama pada kulit dan mata atau mukosa tertentu.
2. Tidak boleh memberikan bau tidak enak, atau bau yang tidak mungkin ditutupi dengan baik.
3. Warnanya tidak boleh menyolok.

Zat tambahan sampo
Zat tambahan sampo terdiri dari berbagai jenis zat, yang dikelompokkan sesuai dengan
kesamaan fungsi yang diharapkan dalam formulasi sampo.

Alkilbromida asam lemak
Digunakan untuk meningkatkan stabilitas busa dan memperbaiki viskosita. Zat ini merupakan
hasil kondensasi asam lemak dengan monoetanolamina (MEA), dietanolamina (DEA), atau
isopropanolamina yang sesuai. Zat ini juga menunjukkan sifat dengan mendispersi kerak sabun
kalisium atau magnesium, dan mencegah pengerakan kedua jenis sabun itu pada kulit kepala dan
rambut.


Lemak bulu domba, lanolin atau salah satu derivatnya, kolesterol, oleilalkohol, dan
asetogliserida
Digunakan untuk makud memperbaiki efek kondesioner detergen dasar sampo yang digunakan,
sehingga rambut yang dikeramas-sampokan akan mudah diatur dan memberikan penampilan
rambut yang serasi.
Lanolin atau serbuk telur acapkali digunakan sebagai zat tambahan sampo dan dinyatakan
khusus untuk maksud memberikan rambut berkilau dan mudah diatur.
Asam amino
Terutama asam amino esensial digunakan sebagai zat tambahan sampo dengan harapan, setelah
rambut dikeramas-sampokan, zat ini akan tetap tertinggal pada kulit kepala dan rambut, dan
berfungsi sebagai pelembab, karena asam amino memiliki sifat higroskopik yang akan
memperbaiki kelembaban rambut.
Zat tambahan sampo lain
Terdiri dari berbagai jenis zat, umumya diharapkan untuk menimbulkan efek terhadap
pembentukan dan stabilisasi busa; meliputi zat golongan glikol, polivinilpirolidon,
karboksimetilselulosa, dan silikon cair, terutama yang kadarnya lebih kurang 4%.
Penyajian
Sampo disajikan dalam bebagai bentuk, meliputi bubuk, emulsi, krim atau pasta, dan larutan.
Selain itu jga dapat disajikan dalam :
A. Sampo bubuk
Sebagai dasar sampo digunakan sabun bubuk, sedangkan sebagai zat pengencer biasanya
digunakan natrium karbonat, natrium bikarbonat, natrium seskuikarbonat, dinatrium fosfat atau
boraks. Sampo jenis ini dapat dikombinasikan dengan zat warna alam hena atau kamomil,
sehingga dapat memberikan sedikit efek pewarnaan pada rambut.
Agar dalam air sadah dapat berbusa, biasanya bubuk sabun diganti dengan natrium laurilsulfat.
B. Sampo emulsi
Sampo ini mudah dituang, karena konsistensinya tidak begitu kental. Tergantung dari jenis zat
tambahan yang digunakan, sampo ini diedarkan dengan berbagai nama seperti sampo lanolin,
sampo telur, sampo protein, sampo brendi, sampo susu, sampo lemon atau bahkan sampo
strawberry.
C. Sampo krim atau pasta
Sebagai bahan dasar digunakan natrium alkilsulfat dari jenis alkohol rantai sedang yang dapat
memberikan konsistensi kental. Untuk membuat sampo pasta dapat digunakan malam seperti
setilalkohol sebagi pengental. Dan sebagai pemantap busa dapat digunakan dietanolamida
minyak kelapa atau isopropanolamida laurat.
D. Sampo larutan
Merupakan larutan jernih. Faktor yang harus diperhatikan dalam formulasi sampo ini meliputi,
viskosita, warna, keharuman, pembentukan dan stabilitas busa dan pengawetan.
Zat pengawet yang lazim digunakan meliputi, 0,2% larutan formaldehida 40%, garam fenilraksa;
kedua zat ini sangat beracun, sehingga perlu memperhatikan batas kadar yang ditetapkan
pemerintah.
Parfum yang digunakan berkisar antara 0,3%-1,0%, tetapi umumnya berkadar 0,5%.

Cara pembuatan
a. Sampo krim atau pasta
Detergen dipanaskan dengan air pada suhu pada lebih kurang 800 dalam panci dinding rangkap,
sambil terus diaduk. Tambahkan zat malam, terus diaduk lebih kurang 15 menit. Biarkan
campuran ini pada suhu lebih kurang 40-500C. Tambahkan parfum, aduk terus hingga homogen;
lanjutkan pengadukan untuk menghilangkan udara. Wadahkan selagi panas.
b. Sampo larutan
Jika digunakan alkilolamida, mula-mula zat ini dilarutkan dalam setengah bagian detergen yang
digunakan dengan pemanasan hati-hati. Kemudian tambahkan sisa detergen sedikit demi sedikit,
sambil terus diaduk; tambahkan zat warna yang telah dilarutkan dalam air secukupnya; jika
masih terdapat sisa air tambahkan sedikit demi sedikit, sambil terus diaduk untuk mencegah
terjadinya busa.
Shampoo yang baik
Harus dapat mencuci rambut dan kulit kepala dengan bersih dan tidak menimbulkan
rangsangan
Harus mempunyai sifat detergent yang baik tetapi tidak membuat kulit kepala menjadi kering
Harus dapat menghasilkan rambut yang halus, mengkilat, tidak kasar, tidak mudah patah, serta
mudah diatur
Harus memiliki konsistensi yang stabil, dapat menghasilkan busa dengan cepat, lembut, dan
mudah dihilangkan dengan pembilasan

Jenis-jenis Shampoo
- Liquid Shampoo (Sampo Cair)
- Lotion Shampoo (Sampo Losio)
- Creme paste Shampoo (Sampo Pasta Krim)
- Gel Shampoo (Sampo Jeli)
- Aerosol Shampoo (Sompo Erosol)
- Dry Shampoo (Sampo Serbuk)

Bahan Utama
Bahan utama pada shampoo adalah surfaktan (sabun dan detergent). Sabun adalah garam dan
asam lemak. Hasil reaksi antara lemak dan minyak hewan dan tumbuhan dengan alkali (cth.
NaOH, KOH)
Kekurangan : tidak membentuk busa oleh air sadah, diatasi dengan penambahan chelating agent
Surfactant (1)
a. Anionik
Gol. Alkyl benzene sulfonat
Mis. Sodium dodecyl benzene sulfonate
Gol. Primary alkyl sulfat
Mis. Triethanolamine lauryl sulfate
Gol. Secondary alkyl sulfat
Mis. Lauryc monoglyceride ammonium sulfate
Gol. Sarcosine
Mis. Laurosyl sarcoine, Cocoyl sarcosine
Surfaktan
b. Kationik
Garam amonium kuarterner
Mis. Dstearyl dimethyl ommonium chloride, dilauryl dimethyl ammonium chloride, cetyl
trimethyl ammonium bromide
c. Amfoterik
Mis. Miranol
d. Non Ionik
Mis. Tween, Pluronic F-68
Bagaimana Shampoo bekerja
Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air meningkatkan kemampuan air untuk
membasahi kotoran yang melekat (Ingat Makin kecil nilai tegangan permukaan air, makin besar
kemampuan air membasahi benda).
Surfoktan bergerak di bawah lapisan berminyak mengangkat dan permukaan partikel
berbentuk bola.
Bahan Tambahan
Ditambahkan ke dalam sampo untuk menghasilkan sampo yang aman memiliki viskositas yang
baik, busa yang stabil, dan dapat mengoptimalkan kerja detergent
o Opocifying agen
o Clarifying agen
o Foam builder
o Conditioning agen
o Thickening agen
o Chelating agen
o Preservotif
o Active agent
Foam Builder
Bahan yang meningkatkan kualitas, volume, dan stabilitas busa. Membantu meningkatkan
stabilitas dan efek kondisioner. Contoh : dodecyl benzene sulfonate, lauroyl monoethanolomide
Conditioning agent
Merupakan bahan berlemak yang memudahkan rambut untuk disisir. conditioning agent melapisi
helai rambul halus dan mengkilap. Harus mudah dibilas, tidak meninggalkan rasa berminyak
(lengket) di rambut. Contoh lanolin, minyak mineral, telur, polipeptida
Opacifying agent
Bahan yang memberikan warna buram pada shampoo. Penting pada pembuatan shampoo jenis
krim & losio. Contoh : Cetyl alcohol, stearyl alcohol, spermaceti, glycol monodistearate, Mg
stearate
Clarifying agent
Bahan yang digunakan untuk mencegah kekeruhan pada shampoo terutama untuk shampoo
dengan bahan utama sabun. Penting pada pembuatan shampoo cair (likuid shampoo). Contoh :
butil alkohol, isopropil alkohol etil alkohol, metilen glikol, EDTA
Cleating agen Sequestering agent
Bahan yang mencegah terbentuknya sabun Ca atau Mg karena air sadah. Contoh : asam sitrat,
EDTA. Dapat digantikan oleh surfaktan non-ionik
Thickening agent
Bahan yang meningkatkan viskositas shampoo. Contoh : gom akasia, tragakan, CMC, Methocel.
Kekurangan : dapat membentuk lapisan film pada helai rambut
Preservatif
Bahan yang berguna melindungi sampo dari mikroba yang dapat menyebabkan rusaknya sampo,
Harus dipilih. Contoh : formadehid, etil alkohol, ester parahidroksibenzoat
Antidandruff agent
Antidandruff agent umumnya bersifat antimikroba, ditambahkan ke dalam shampoo dalam
jumlah kecil. Contoh : Sulfur, Asam Salisilat, Resorsinol, Selenium Sulfida, Zink Piriton
Penunjang Stabilitas
Bahan-bahan tertentu dapat ditambahkan ke dalam sampo dengan tujuan menunjang stabilitas
shampoo (stability additive)
Antioxidant
Mencegah perubahan warna dan bau sediaan akibat oksidosi,
Sunsreen
Melindungi sediaan dari sinar matahari, Contoh : Benzophenon
Suspending agent
Contoh : veegum, bentonit
pH control agen (larutan dapar)
Mencegah perubahan worna dan bau sediaan akibat perubahan pH
Cosmetics additive
Bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sampo dengan tujuan memperbaiki tampilan shampoo
(cosmetics adihtive)
Perfume
campurarl minyak atsiri atau sintetik
Pewarna (dye)
Pewarna yang digunakan harus terdaftar pada Federal Food, Drug, and Cosmetics Act
Pearlescent pigements















BAB II
RESEP

Resep Sampo
R/ TEA lauryl sulfat 40
Aqua 59,8
Nipagin qs
Parfum qs

2.1. Penimbangan Bahan
Sediaan dibuat = 100 gram
Bahan yang ditimbang :
- TEA lauryl sulfat = 40 g
- Aqua = 59,8 g
- Nipagin = 0,1% x 100g = 0,1 g
- Parfum (Ol. Jasmine) = 0,1% x 100g = 0,1 g

2.2. Prosedur Pembuatan
- Disimpan alat dan bahan yang akan digunakan
- Ditimbang masing-masing bahan
- Dilarutkan TEA, lauryl sulfat, dan nipagin dalam air panas
- Dicampurkan
- Ditambahkan parfum setelah dingin
- Dikocok hingga homogen
- Dimasukkan kedalam wadah

2.3. Evaluasi Sediaan
Evaluasi sediaan sampo dilakukan dengan menghitung pH dan viskositas sediaan sampo.
a. pH
pH sediaan didapatkan dengan menggunakan alat pH meter, dan diperoleh pH sediaan = 10.9
b. Viskositas
Viskositas sediaan didapatkan dengan menggunakan alat viskosimeter Hoppler / Bola Jatuh.
Sediaan dimasukkan dalam viskosimeter kemudian bola dijatuhkan ke dalam sediaan dan
dihitung waktu yang digunakan bola untuk melewati batas yang satu dengan berikutnya.
Sebelum menggunakan sediaan dihitung dahulu viskositas air.
Hasil:
taquadest = 1.59 ; 1.63 ; 1.68
rata rata = 1.63
tsediaan = 4.37 ; 4.2 ; 4.29
rata rata = 4.28


Ket :
1 = viskositas air (aquadest)
2 = viskositas sediaan
d1 = massa jenis air (aquadest)
d2 = massa jenis sediaan
t1 = waktu air (aquadest)
t2 = waktu sediaan










BAB III
KESIMPULAN

1. Sediaan shampoo dapat dibuat dengan formula TEA lauryl sulfat, Aqua, Nipagin, dan parfum.
2. Bahan pembentuk sabunnya adalah TEA Lauryl sulfat.
Diposkan oleh Ninda Tane M. Sihombing, S.


FORMULASI SEDIAAN SHAMPO
Filed under: Kosmetika Alami, Laporan Praktikum Tempoe Kuliah dulu Leave a comment
December 10, 2011
Sampo adalah sediaan kosmetik untuk mengeramas rambut, hingga kulit kepala dan rambut
bersih, sedapat mungkin rambut menjadi bersih, berkilau, indah dan mudah diatur.
Semula bahan-bahan yang sering digunakan untuk sampo adalah berbagai bahan dari alam
seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, sari abu merang (sekam padi). Dewasa ini yang
digunakan adalah detergen (zat sabun sintetik).
Sampo dapat dikemas dalam berbagai bentuk sediaan, bubuk, larutan,jernih, larutan pekat,
larutan berkilat, krim, gel, atau aerosol, dengan jenis:
1. Sampo dasar (basic shampoo), yaitu sampo yang dibuat sesuai dengan kondisi rambut,
kering, normal, berminyak
2. Sampo bayi (baby shampoo), yaitu sampo yang tidak menggunakan bahan yang
mengiritasi mata dan mempunyai daya bersih sedang karena kulit dan rambut bayi masih
minim sebumnya
3. Sampo dengan pelembut (coditinioner), 2 in 1, 3 in 1
4. Sampo profesional; yang mempunyai konsentrasi bahan aktif lebih tinggi sehingga harus
diencerkan sebelum pemakaian
Sampo medik (medicated shampoo); yang mengandung antiketombe ( sulfur, tar, asam salisilat,
sulfida, plivinil, pirolidon, ) dan tabir surya (PABA, non-PABA)
Isi sampo meliputi:
1. Surfaktan
Surfaktan adalah bahan aktif sampo yang berupa deterjen pembersih sintesis yang cocok untuk
kondisi rambut pemakai. Deterjen bekerja dengan cara menurunkan tegangan permukaan cairan
karena bersifat amfibilik, sehingga dapat melarutkan kotoran yang melekat pada permukaan
rambut. Biasanya dipilih surfaktan anionik yaitu fatty alcohol sulfate, antara lain:
1. Lauril sulfat (natrium, amonium, trietanolamin), merupakan pembersih yang baik namun
mengeraskan rambut.
2. Lauret sulfat (natrium, amonium, trietanolamin), pembentuk busa yang baik dan
kondisioner yang baik.
3. Sarkosinat (natrium lauril, lauril), daya bersih kurang, kondisioner yang baik.
4. Sulfasuksinat (dinatrium oleamin, natrium dioktil), pelarut lemak yang kuat untuk rambut
berminyak.
Biasanya digunakan lebih dari satu surfaktan dalam sampo, yang utama disebut surfaktan primer,
selebihnya adalah surfaktan pelengkap atau sekunder. Surfaktan yang dipilih dapat dari golongan
yang sama atau dari golongan surfaktan lain.
2. Pelembut (conditioner)
Pelembut membuat rambut lebih mudah disisir dan diatur oleh karena dapat menurunkan friksi
antarrambut, mengkilapkan rambut oleh karena memperbaiki refleksi cahaya yang mengenai
batang rambut, dan memperbaiki keadaan rambut yang rusak akibat overshampooed, overdried,
overbrushed, overcombed, keriting, pewarna, pemutih, atau styling yang menyebabkan
kerusakan pada korteks rambut yang merupakan kekuatan dari rambut. Bahan pelembut yang
sering digunakan adalah lemak, protein, polimer atau silikon, adeps, lanolin, oleialkohol, dan
asetogliserida.
3. Pembentuk busa
Pembentuk busa adalah bahan surfaktan yang masing-masing berbeda daya pembuat busanya.
Busa adalah emulsi udara dalam cairan. Kemampuan membentuk busa tidak menggambarkan
kemampuan membersihkan. Busa yang terbentuk akan segera terikat dengan lemak sebum
sehingga rambut yang lebih bersih akan menimbulkan busa yang lebih banyak pada pengulangan
pemakaian shampoo. Busa yang terbentuk lazim diberi penguat yang menstabilkan busa agar
lebih lama terjadi, misalnya dengan menambahkan alkanolamid atau aminoksida.
4. Pengental (thickener) dan pengeruh (opacifier)
Bahan ini ditambahkan untuk menyenangkan konsumen, keduanya tidak menggambarkan daya
bersih dan konsentrasi bahan aktif dalam sampo. Zat pengental biasanya gom sintetik/alam :
tragakan, gom akasia, hidroksietilselulosa.
Opacifyng agents:
a. alkohol (rantai panjang) : stearil, setil
b.cairan magnesium : stearat, silikat, gom
5. Pemisah logam
Dibutuhkan keberadaannya untuk mengikat logam berat (K, Mg) yang terdapat dalam air
pencuci rambut, misalnya etilen diamin tetra asetat (EDTA).
6. pH balance
Diperlukan agar menetralisasi reaksi basa yang terjadi dalam penyampoan rambut, misalnya
asam sitrat.
7. Pemberi warna dan bau
Bahan ini ditambahkan untuk memberi kesan nyaman bagi konsumen yang memakai.
8. Bahan tambahan
1. Vitamin (vitamin E, antenol/B5).
2. Minyak mink, rempah-rempah, minyak kelapa, llilin.
3. Protein (RNA, kolagen, plasenta, susu).
4. Tabir surya kimia.
5. Antiketombe, misalnya : tar, sulfur, seng pirition, dan selenium sulfida (mencegah
segum yang menyebabkan rambut pecah dan berketombe).
6. Balsam, wortel, madu, jojoba, aloe (lidah buaya).
Pengawet : formaldehid, metilhidroksibenzoat, propilhidroksibenzoat, alkil anisol, butil hidroksi
benzoat
Daucus carota
Kandungan
Daucus carota mengandung pirolidina, dausina, daukostenin dan minyak menguap yaitu limonen
pinen dan sineol ( Perry, 1980). Umbi wortel juga mengadung zat warna kuning yang disebut
dengan karoten (Anonim, 1977)
Taksonomi dari Daucus carota
Divisi : Spermatophyta
Anak Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Apiales
Suku : Apiaceae
Marga : Daucus
Jenis : Daucus carota
Formula
Ekstrak wortel 0,5 g
Na. Lauril sulfat 50 g
Cocomide DEA 12,5 g
Cocoamidapropyl betain 12 g
Asam sitrat q.s
NaCl 2,5 g
Parfum green tea q.s
Pewarna Rosela q.s
Aquabides 163 ml
Nipagin 0,5 g
Cara Kerja
Panaskan Aqua dan ekstrak wortel sampai panas, tambahkan Na. Lauril sulfat, aduk hingga
homogen

Tambahkan cocoamide, aduk sampai merata
Tambahkan NaCl dan Asam sitrat, aduk

Tambahkan pewarna, aduk hingga homogen

Setelah dingin tambahkan parfum, aduk hingga homogen

Pengadukan dilanjutkan hingga diperoleh larutan yang jernih
Analisa Hasil
1. Pengukuran kemampuan membusa
Larutan shampo diencerkan sampai konsentrasi 1% (10 ml ad 1000ml)

Siapkan bejana reservoir yang dipasang tegak di atas gelas ukur 1 liter

Sebagian shampo dimasukkan bejana sampai batas 15 cm dari kran reservoir

Tuang secara hati-hati, jangan sampai berbentuk busa, 500 ml larutan yang sama

Tuang 50 ml larutan ke dalam gelas ukur

Alirkan larutan shampo melalui kran bejana sebanyak 500 ml

Catat tinggi busa yang terbentuk setelah 30 detik, 3 menit, 5 menit, dan 7 menit (ulangi sebanyak
3x pada suhu kamar)
2. Pengukuran stabilitas busa
Bandingkan tinggi busa setelah 3,5,7 menit terhadap 30 detik dari data pada pengamatan
kemampuan membusa
3. Tes Stabilitas
Ambil sampel produk, masukkan dalam kemasan

Setelah selang penyimpanan di amati : kenampakan, bau, dan busa (pencatatan sampai terjadi
penyimpangan)
4. Analisis Hasil
Warna : Hijau tua-bening
Bau : Green tea
Konsistensi : Kental cair
Pengukuran stabilitas busa
Waktu Tinggi busa (replikasi) Rata-rata
I II III
30 detik 2,8 2,9 2,7 2,8
3 menit 2,8 2,8 2,6 2,73
3 menit 2,6 2,6 2,6 2,6
7 menit 2,4 2,6 2,4 2
Pembahasan
Umbi wortel digunakan dalam shampo karena wortel mempunyai efek pendingin yang cocok
untuk rambut ynag kering juga karena adanya karetonoid yang berwarna sindur merah yang
digunakan sebagai pewarna alami sehingga mempercantik penampilan sampo. Ekstrak wortel,
yang kaya akan unsur karoten, vitamin A dan phospholipid yang sangat efektif merawat rambut
agar tidak kering dan bercabang. Shampoo ini untuk jenis rambut kering agar rambut tidak
mengalami kekeringan, kemerahan dan pecah-pecah
Surfaktan yang digunakan adalah Na Lauril sulfat. Surfaktan ini termasuk surfaktan anionik.
Surfaktan ini dikenal sebagai detergent yang mempunyai gugus hidrofilik dan gugus lipofilik.
Gugus lipofilik (yaitu asam laurat) akan mengikat minyak dan kotoran yang ada di rambut,
sedangkan Na adalah gugus hidrofilik yang membuat kotoran-kotoran tersebut mudah larut
dalam air saat pembilasan setelah proses penyampoan. Jadi Fungsi utama dari Surfaktan ini
adalah untuk membersihkan kotoran yang ada di rambut. Namun kelemahan dari surfaktan ini
adalah dapat mengeraskan rambut
Di dalam formula ini digunakan lebih dari satu jenis surfaktan. Na Lauril sulfat merupakan
surfaktan primer,dan surfaktan lainnya disebut dengan surfaktan pelengkap. Surfaktan pelengkap
yang dipakai adalah coca amido propil betain. Surfaktan pelengkap ini bersifat amfoterik yang
tidak mengiritasi mata.
CAB-30 di dalam formula sampo berfungsi sebagai bahan pembusa. Asam sitrat berfungsi
sebagai pH balance, diperlukan agar menetralisasi reaksi basa yang terjadi dalam penyampoan
rambut. Karena bila sampo bersifat basa, akan merusak rambut. Penambahan asam sitrat jangan
terlalu berlebihan, karena jika terlalu asam akan mengiritasi kulit kepala.
Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami yaitu dari infus rosella yang memberika warna
orange-merah. Infus rosella yang digunakan sebanyak 30 tetes sehingga warna yang dulunya
kuning jernih berubah menjadi hijau jernih akibat penambahan infus rosella yang terlalu banyak.
Parfum yang digunakan adalah parfum alami yaitu minyak atsiri green tea. Penambahan parfum
harus dalam keadaan dingin karena komponen-komponen dalam parfum dapat rusak pada suhu
yang tinggi.
Dalam proses pembuatan shampo, perlu diperhatikan pengadukan dan suhu pemanasan.
Pencampuran Na lauril sulfat dengan air dilakukan perlahan-lahan. Penambahan bahan-bahan
lain dilakukan dalam kondisi pemanasan. Suhu pemanasan dijaga agar tidak terlalu besar atau
tidak terlalu rendah. Selama proses, suhu diusahakan konstan, kira-kira 80
o
C. Pengadukan
selama pencampuran sebisa mungkin konstan, tidak dengan pengadukan keras, agar tidak
terbentuk busa yang berlebihan.
Hasil yang diperoleh adalah sampo berwarna hijau tua jernih, beraroma teh hijau, dan
konsistensinya kental semi cair. Dalam shampo tersebut tidak terdapat busa yang berlebihan.
Sediaan shampo yang dihasilkan perlu diuji kemampuan membusa dan pengukuran stabilitas
busa
Busa adalah dispersi gas dalam suatu cairan. Busa terbentuk selam pengguanaan bahn pembersih
dan merupakan efek samping yang tidak begitu penting tetapi sangat diinginkan konsumen.
Sebab konsumen mempunyai anggapan bahwa dengan busa yang melimpah akan menambah
aksi dalam membersihkan. Sebenarnya busa tidak dapat digunakan sebagai ukuran aksi atau daya
membersihkan, misalnya surfaktan non ionik memberikan reaksi pembersihan yang baik dengan
sedikit atau tanpa busa. Metode yang umum diguanakan untuk mengukur tinggi busa dan
stabilitas adalah dari Rose Miles. Dari hasil uji pengukuran stabilitas busa, sampo mampu
menghasilkan busa yang stabil karena perbedaan tinggi busa per waktu tidak jauh berbeda.
Kesimpulan
1. Bahan aktif yang digunakan dalam sediaan shampo adalah ekstrak wortel
2. Surfaktan yang dipakai adalah Na Lauril sulfat
3. Sediaan shampo yang dihasilkan berwarna hijau tua bening, beraroma teh hijau dan
viskositasnya kental semi cair
4. Dari hasil uji pengukuran stabilitas busa, sampo mampu menghasilkan busa yang stabil
5. Perlu penggunaan suhu terukur dan pengadukan yang diperhitungkan untuk
menghasilkan sediaan sampo yang diharapkan
6. Tidak perlu penambahan zat warna infuse rosella karena shampo ekstrak wortel sudah
memberi warna yang menarik yaitu kuning dari beta-karoten
7. Perlu digunakan zat warna alami yang sesuai, karena dengan penambahan sedikit infus
rosela tidak begitu mempengaruhhi warna sampo dan bila penambahan terlalu besar akan
mempersuram warna shampo
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Shampo adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud keramas rambut, sehingga setelah itu
kulit kepala dan rambut menjadi bersih, dan sedapat mungkin menjadi lembut, mudah diatur dan
berkilau. Dan merupakan produk perawatan rambut yang digunakan untuk menghilangkan minyak,
debu, serpihan kulit, dan kotoran lain dari rambut..
Kata shampoo berasal dari bahasa Hindi champo, bentuk imperatif dari champna, "memijat". Di
Indonesia dulu shampoo dibuat dari merang yang dibakar menjadi abu dan dicampur dengan air.
Shampoo adalah suatu zat yang terdiri dari surfaktan, pelembut, pembentuk busa, pengental dan
sebagainya yang berguna untuk membersihkan kotoran yang melekat pada rambut seperti sebum,
keringat, sehingga rambut akan kelihatan lebih bersih, indah dan mudah ditata.
Shampoo banyak jenis dan typenya, formulanya dan klasifikasi preparat seperti liquid, krim, pasta,
shampoo anti dandruff, shampoo untuk anak-anak dan sebagainya.
Sebuah formulasi shampoo yang baik mempunyai kemampuan khusus yang dapat meminimalisasi iritasi
mata, mengontrol ketombe (dandruff) serta dapat memperbaiki struktur rambut secara keseluruhan.
Preparat shmapo harus meninggalkan kesan harum pada rambbut, lembut dan mudah diatur, memiliki
performance yang baik (warna dan viskositas yang baik) harga yang murah dan terjangkau. Secara
spesifik suatu shampoo harus:
1. Mudah larut dalam air, walapun air sadah tanpa mengalami pengendapan
2. Memiliki daya bersih yang baik tanpa terlalu banyak menghilangkan minyak dari kulit kepala
3. Menjadikan rambut halus, lembut serta mudah disisir
4. Cepat bebusa dan mudah dibilas serta tidak menimbulkan iritasi jika kontak dengan mata
5. Memiliki pH yang baik netral maupun sedikit basa
6. Tidak iritasi pada tangan dan kulit kepala
7. Memiliki performa yang baik
Antidandruffshampoo merupakan shampoo yang ditujukan untuk mengontrol sel kulit mati dikulit
kepala, formulasinya hamper sama seperti shampoo lain tetapi ditambahkan bahan aktif seperti senium
sulfide, zinc pirythion, sulfur.


I.2 Tujuan Percobaan

1. Mengetahui cara membuat sediaan shampoo yang aman dan nyaman digunakan
2. Mengetahui metode-metode krim yang tepat
3. Mampu mengevaluasi sediaan shampo



BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Shampo

Rambut memang mahkota bagi semua orang dan bisa dianggap sebagai bingkai untuk wajah anda.
Karena keindahan rambut sangat bisa menunjang kecantikan dan keseluruhan penampilan anda.
Mencuci rambut memang persoalan mudah tetapi mungkin anda mengalami kesulitan saat memilih
jenis shampo yang cocok untuk diri anda sendiri. Karena memang banyak sekali produsen shampo
menawarkan kepada anda..
Shampoo, bila dicampur dengan air, dapat melarutkan minyak alami yang dikeluarkan oleh tubuh untuk
melindungi rambut. Setelah mencuci rambut dengan shampoo, biasanya digunakan produk conditioner
agar rambut mudah ditata kembali.
Shampoo untuk bayi dibuat sedemikian rupa sehingga tidak perih di mata. Shampoo untuk binatang juga
dapat mengandung insektisida untuk membunuh kutu. Beberapa shampoo manusia tidak dapat
digunakan untuk binatang karena mengandung seng (misalnya shampoo anti ketombe). Logam ini tidak
beracun bagi manusia, namun berbahaya bagi binatang.
Selain itu terdapat juga shampoo dalam bentuk padat, yang lebih ringkas dan mudah dibawa namun
kurang praktis untuk rambut panjang.
Pada awalnya shampo dibuat dari berbagai jenis bahan yang diperoleh dari sumber alam, seperti sari biji
rerak, sari daging kelapa, sari abu merang ( sekam padi ). Shampo yang menggunakan bahan alam
sudah banyak ditinggalkan, dan diganti dengan shampo yang dibuat dari detergen.
Agar shampo berfungsi sebagaimana disebutkan diatas, shampo harus memiliki sifat sebagai berikut :
1. Shampo harus dapat membentuk busa yang berlebih, yang terbentuk dengan cepat, lembut dan
mudah dihilangkan dengan membilas dengan air.
2. Shampo harus mempunyai sifat detergensi yang baik tetapi tidak berlebihan, karena jika tidak kulit
kepala menjadi kering.
3. Shampo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi dapat mengganti lemak
natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang ada didalam komposisi shampo. Kotoran rambut yang
dimaksud tentunya sangat kompleks yaitu : sekret dari kulit, sel kulit yang rusak, kotoran yang
disebabkan oleh lingkungan dan sisa sediaan kosmetik.
4. Tidak mengiritasi kulit kepala dan juga mata.
5. Shampo harus tetap stabil. Shampo yang dibuat transparan tidak boleh menjadi keruh dalam
penyimpanan. Viskositas dan pHnya juga harus tetap konstan, shampo harus tidak terpengaruh oleh
wadahnya ataupun jasad renik dan dapat mempertahankan bau parfum yang ditambahkan kedalamnya.
Detergen yang digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan shampo memiliki sifatfisikokimia
tersendiri yang umumnya tidak sepenuhnya searah dengan ciri sifat yang dikehendaki untuk
shampo. Umumnya, detergen dapat melarutkan lemak dan daya pembersihnya kuat, sehingga jika
digunakan untuk keramas rambut, lemak rambut dapat hilang, rambut menjadi kering, kusam dan
mudah menjadi kusut, menyebabkan sukar diatur.
Sifat detergen yang terutama dikehendaki untuk shampo adalah kemampuan membangkitkan
busa. Jenis detergen yang paling lazim diedarkan tergolong alkil sulfat, terutama laurilsulfat, juga
alkohol monohidrat dengan rantai C10 18. Sifat detergen ini tergantung pada panjang rantai alkohol
lemak yang digunakan. Homolog rendah seperti C12 ( lauril ) dan C14 ( miristil ) memiliki sifat yang lebih
baik dibandingkan dengan homolog yang lebih tinggi seperti C16 ( palmitil ) dan C18 ( stearil ) dalam hal
memberikan busa dan basah dengan sifat pembersih yang baik, meskipun suhu rendah. Detergen
alkilsulfat yang dibuat dari alkohol lemak, kelarutannya menurun dengan meningkatnya homolog rantai
karbonnya, sehingga shampo yang dibuat dari detergen alkilsulfat dengan atom C16-18 tidak dapat
disimpan pada suhu rendah. Kelarutan detergen alkilsulfat dalam air berkurang, sehingga tidak begitu
berbusa, lagipula detergen ini dipengaruhi oleh efek air sadah.
Detergen alkilsulfat dengan alkohol lemak dengan rantai karbon kurang dari 10 seperti C8 ( kaprilil ) dan
C10 ( kapril ) lebih condong menunjukkan sifat iritasi.
Detergen alkilsulfat dengan rantai karbon 12 14 adalah noniritan, memberikan cukup busa pada suhu
kamar, dan tidak mudah rusak dalam penyimpanan.
Trietanolamina( TEA ) laurilsulfat dianggap paling luas dapat diterima untuk digunakan dalam
pembuatan shampo, disamping itu dalam penyimpanan tetap stabil. Amonium alkilsulfat, meskipun
memiliki keaktifan pembersih yang sedang, tetapi jarang digunakan untuk pembuatan shampo, karena
suhu padatnya tinggi. Biasanya senyawa ini digunakan sebagai campuran detergen seperti nampak pada
amonium monoetanolamina atau amonium trietanolamina alkilsulfat. Shampo dengan formulasi
tersebut memiliki pembersih dan pembusa yang baik, rambut yang dikeramas dengan shampo ini masih
mudah diatur.
Di samping itu detergen yang digunakan untuk pembuatan shampo, harus memiliki sifat berikut :
1. Harus bebas reaksi iritasi dan toksik, terutama pada kulit dan mata atau mukosa tertentu.
2. Tidak boleh memberikan bau tidak enak, atau bau yang tidak mungkin ditutupi dengan baik.
3. Warnanya tidak boleh menyolok.

Zat tambahan shampo
Untuk memperbaiki sifat detergen yang menunjukkan pengaruh jelek terhadap rambut, perlu
ditambahkan zat tambahan shampo dalam formulasi shampo.
1. Alkolobromida asam lemak
Digunakan untuk meningkatkan stabilitas busa dan memperbaiki viskosita. Zat ini merupakan hasil
kondensasi asam lemak dengan monoetanolamina ( MEA ), dietanolamina ( DEA ), atau
isopropanolamina yang sesuai.
2. Lemak bulu domba, lanolin atau salah satu derivatnya, kolesterol, oleilalkohol, dan asetogliserida
Digunakan untuk maksud memperbaiki efek condisioner detergen dasar shampo yang digunakan,
sehingga rambut yang dikeramasshampokan akan mudah diatur dan memberikan penampilan rambut
yang serasi.
3. Asam amino
Terutama asam amino essensial, digunakan sebagai zat tambahan shampo dengan harapan, setelah
rambut dikeramas-shampokan, zat ini akan tetap tertinggal pada kulit kepala dan rambut, dan berfungsi
sebagai pelembab, karena asam amino memiliki sifat higroskopik yang akan memperbaiki kelembaban
rambut.
4. Zat tambahan shampo lain
Terdiri dari berbagai jenis zat, umunya diharapkan untuk menimbulkan efek terhadap pembentukan dan
stabilisasi busa ; meliputi zat golongan glikol, provinilpirolidon, karboksimetilselulosa, dan silikon cair,
terutama yang kadarnya lebih kurang 4%.

Jenis-jenis shampo
1. Shampo bubuk
Sebagai dasar shampo digunakan sabun bubuk, sedangkan zat pengencer biasanya digunakan natrium
karbonat, natrium bikarbonat, natrium seskuikarbonat, dinatrium fosfat, atau boraks.
2. Shampo emulsi
Shampo ini mudah dituang, karena konsistensinya tidak begitu kental. Tergantung dari jenis zat
tambahan yang digunakan, shampo ini diedarkan dengan berbagai nama seperti shampo lanolin,
shampo telur, shampo protein, shampo brendi, shampo lemon, shampo susu atau bahkan shampo
strawberry.
3. Shampo krim atau pasta
Sebagai bahan dasar digunakan natrium alkilsulfat dari jenis alkohol rantai sedang yang dapat
memberikan konsistensi kuat. Untuk membuat shampo pasta dapat digunakan malam seperti
setilalkohol sebagai pengental. Dan sebagai pemantap busa dapat digunakan dietanolamida minyak
kelapa atau isopropanolamida laurat.
4. Shampo larutan
Merupakan larutan jernih. Faktor yang harus diperhatikan dalam formulasi shampo ini meliputi
viskosita, warna keharuman, pembentukan dan stabilitas busa, dan pemgawetan.
Zat pengawet yang lazim digunakan meliputi 0,2 % larutan formaldehid 40 %, garam fenilraksa; kedua
zat ini sangat racun, sehingga perlu memperhatikan batas kadar yang ditetapkan pemerintah. Parfum
yang digunakan berkisar antara 0,3 1,0 %, tetapi umumnya berkadar 0,5 %.

II.2 Zat Tambahan

1. Sodium lauryl sulfate
v Sinonim : Natrii lauryl sulphate
v Rumus molekul : C
12
H
25
NaO
4

v Berat molekul : 288.38
v Pemerian : serbuk putih, atau cream sampai Kristal kuning
v Fungsi : surfaktan anionic, emulsifying agent (0.5-2,5%), detergen pada shampoo
(10%)
v pH : 7.0-9,5
v kelarutan : sangat larut dalam air, praktis tidak larut dalam eter dan kloroforom
v OTT : garam alkaloid, dan mengendap dengan garam potassium.
2. Oleic acid
v Sinonim : asam oleat
v Rumus molekul : C
18
H
34
O
2

v Berat molekul : 282,47
v Fungsi : emulsifying agent
v Kelarutan : sangat larut dalam benzene, kloroforom, ethanol 95%, eter, heksan,praktis tidak
larut dalam air
v OTT : aluminium, kalsium, logam berat, larutan iodine,, asam perklorat, dan zat
pengoksidasi
3. Triethanolamin
v Sinonim : TEA
v Rumus molekul : C
6
H
15
NO
3

v Berat molekul : 149,19
v Fungsi : emulsifying agent
v pH : 10,5
v Kelarutan : tidak larut dalam aceton, etanol, methanol, dan air, benzene 1 in 24, larut dalam
kloroform.
v OTT : asam mineral, asam lemak, copper, tionyl klorida
4. Methyl paraben
v Sinonim : nipagin
v Rumus molekul : C
8
H
8
O
3

v Berat molekul : 153,13
v Fungsi : antimikroba( topical 0,02-0,3%)
v Pemerian : serbuk berwarna putih, tidak berwarna, serbuk Kristal
v Kelarutan : sangat larut dalam aseton,etanol 1 in 2, etanol 95% 1 in 3, eter 1 in 10 air 1 in 400
v OTT : surfaktan nonionic
5. Sulfur
v Sinonim : belerang
v Pemerian : tidak berbau,, tidak berasa, serbul lembek, bebs butiran, kuning keabuan pucat atau
kuning kehijeuan pucat.
v Kelarutan ; praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam karbondisulfida P, sukar larut
dalam minyak zaitun,sangat sukar larut dalam etanol 955
v Khasiat : antiskabies
6. Acidium salicycum
v Sinonim : asam salisilat
v Pemerian : hablur ringan tidak berwarna atau serbuk putih, hampir tidak berbau, rasa agak
manis dan tajam
v Kelarutan : larut dalam 550 bagian air, dan dalam 4 bagian etanol 955, mudah larut dalam
kloroform, dan dalam eter, larut dalam larutan ammonium asetat,
v Fungsi : keratolitikum
7. Steararic acid
v Sinonim : asam stearat
v Rumus molekul : C
15
H
36
O
2

v Berat molekul : 284,47
v Fungsi : emulsifying agent 91-20%)
v Pemerian : keras, putih,, Kristal putih, atau putih kekuningan, serbuk.
v Kelarutan : sangat larut dalam benzene, karbon tetraklorida, kloroform, dan eter, larut dalam
etanol, heksan dan propilenglikol, praktis tidak larut dalam air
v OTT : logam hidroksida dan zat pengoksidasi
8. White wax
v Sinonim : lilin putih
v Fungsi : emulsifying agent
v Kelarutan : larut dalam kloroform, eter,fixed oil, minyak yang mudah menguap, dan karbon
disulfide, praktis tidak larut dalam air
v OTT : zat pengoksidasi
9. Cetyl alcohol
v Sinonim : cetil alcohol
v Rumus molekul : C
16
H
34
O
v Berat molekul : 242,44
v Fungsi : coating agent, emulsifying agent
v OTT : zat pengoksidasi kuat



BAB III
MATERI DAN METODE

III.1 Alat
1. Erlenmeyer
2. Cawan porselen
3. Beker glass
4. Mortir
5. Lumpang
6. Penangas
7. Spatula

III.2 Bahan
1. Asam salisilat 3%
2. Natrium lauryl sulfat 30%
3. Asam oleat 20%
4. Trietanolamin 10%
5. Nipagin 0,2%
6. Parfum qs
7. Aquadest ad 50 gram

III.3 Prosedur Kerja
1. Asam oleat, Na lauryl sulfat dan aquadest dipanaskan diatas waterbath hingga 60 C
2. Ditambahkan TEA perlahan lahan sambil diaduk.
3. Dimasukkan kedalam botol dan dibiarkan dingin.
4. Ditambahkan parfum pada suhu 35
0
C


BAB IV
DATA DAN HASIL PENGAMATAN

I.1 Formula

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Kelompok 5 Kelompok 6
Na Lauryl
sulfat 40%
Asam salisilat
3%
Sulfur 2% Sulfur 2% Lilin putih 15% Lilin putih 10%
Asam oleat
20%
Na lauryl sulfat
30%
Na lauryl sulfat
25%
Na lauryl sulfat
30%
Adeps lanae
5%
Adeps lanae
10%
TEA 10% asam oleat
20%
Asam stearat
7%
Asam stearat
7%
Cetil alcohol
5%
Cetil alcohol
8%
Nipagin 0,2% TEA 10% NaOH 1% NaOH 1% Na lauryl sulfat
10%
Na lauryl sulfat
10%
Parfum Nipagin 0,2% Nipagin 0,3% Nipagin 0,3% Parfum Parfum
Aquadest ad
50 gr
Parfum Parfum Parfum Nipagin 0,2% Nipagin 0,2%

Aquadest ad
50 gr
Aquadest ad
50gr
Aquadest ad
50gr
Aquadest ad
50gr
Aquadest ad
50gr

IV.2 Hasil Pengamatan
Formula/evaluasi 1 2 3 4 5 6
viskositas kental kental Kental kental encer encer
pH 9 8 9 10 6,5 7
homogenitas homogen homogen homogen homogen homogen homogen
Karakteristik
produk
Wangi,
putih
Wangi,
putih
Wangi,
putih
Wangi,
putih
Wangi,
putih
Wangi,
putih
Pembentukan
busa
Terbentuk
banyak
busa
Terbentuk
banyak
busa
Terbentuk
banyak
busa
Terbentuk
banyak
busa
Terbentuk
banyak
busa
Terbentuk
banyak
busa


BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini kami mebuat sediaan sampo, sampo merupakan salah satu hair care, yang
banyak digunakan oleh masyarakat luas. Sampo adalah suatu sediaan yag terdiri dari surfactan,
pelembut, pembentuk busa, pengental dan bahan tambahan lainnya. Sampo mempunyai fungsi untuk
membersihkan kotora yang ada di kulit kepala.
Praktikum kali ini dicobakan 3 formula sampo dalam bentuk sediaan yang berbeda yaitu cream sampo,
liquid sampo dan conditioner. Formula yang pertama terdiri dari asam salisilat sebagai zat aktif yang
mempunyai khasiat sebagai keratolitik dan biasa digunakan dalam sampo anti ketombe. Dalam
formulasi ini digunakan asam salisilat sebesar 3%, asam salisilat. Formula yang dikerjakan oleh kelompok
1 dan 2 dibedakan dalam hal konsentrasi natrium lauril sulfat yang digunakan, untuk kelompok 1
konsentrasi natrium lauril sulfat sebesar 20%, sedangkan kelompok 2 sebesar 30%. Natrium lauril sulfat
merupakan surfactan anionic yang biasa digunakan dalam body care maupun hair care, selain sebagai
surfactan Na lauril sulfat pun dapat digunakan sebagai pembentuk busa. Surfactan ini berfungsi untuk
mengangkat kotoran yang ada di kulit. Di beberapa negara eropa, Na lauril sulfat ini sudah dimodifikasi
menjadi bentuk Na laureth ester sulfat yang tingkat iritasi kulitnya lebih rendah. Asam oleat yang
digunakan dalam formulasi merupakan fase minyak yang berfungsi sebagai zat pengemulsi, begitu pula
dengan TEA (trietanolamin) yang merupakan zat pengemulsi yang larut air (fase air), kedua sediaan ini
yang berperan dalam pembentukan cream sampo ini. Pengawet yang digunakan dalam sediaan ini
adalah nipagin atau metil paraben, yang merupakan pengawet larut air. Pengawet ini biasa digunakan
dalam sediaan farmasi oral maupun topikal, namun untuk sediaan sampo yang menggunakan surfactan
base seperti pada sediaan ini nipagin kurang efectiv digunakan karena dalam periode beberapa bulan
saja sediaan akan berjamur. Sediaan ini pun merupakan cream W/O, sehingga nipagin ini kurang efektif.
Hasil dari formula ini menghasilkan sediaan cream sampo yang memiliki pH sekitar 7-8 dengan
kehomogenitasan yang baik, dan busa yang terbentuk cukup banyak dan tahan lama, viskositas sediaan
juga sangat baik. Perbedaan sediaan antara hasil formula kelompok 1 dan 2 adalah masalah pH, untuk
formula pertama dengan konsentrasi Na lauril sulfat sebanyak 25% memilki pH sekitar 7 dan busa yang
dihasilkan lebih sedikit, sedangkan formula 2 dengan konsentrasi Na lauril sulfat 30%, pH nya sekitar 8
dan busa yang dihasilkan lebih banyak, karena dengan kadar Na lauril sulfat yang tinggi akan
meningkatkan kebasaan dari sediaan dan Na lauril sulfat juga sebagai pembentuk busa, maka dengan
tingginya kadar Na lauril sulfat busa yang terbentuk juga lebih banyak. Hanya saja sediaan cream sampo
ini jarang ditemui di pasaran dan kurang praktis digunakan. Efek setelah penggunaan cream sampo ini
adalah berminyak/lengket pada rambut sehingga kurang menyenangkan untuk digunakan, selain itu
sediaan ini kurang praktis dalam penggunaannya.
Formula yang kedua adalah liquid sampo yang terdiri dari sulfur sebagai antidandruff. Sulfur yang
digunakan adalah sebesar 2% . Pada formula ini juga digunakan Na lauril sulfat sebagai surfactan dan
foam booster (pembentuk busa), dan asam stearat sebagai zat pengemulsi. NaOH yang digunakan
berfungsi sebagai viscosity modifier, jadi NaOH ini akan memperbaiki struktur polimer sehingga
viskositas dari sampo menjadi lebih baik. Hasil dari formula ini kurang baik dengan pH basa yaitu sekitar
10 dan sulfur tidak bercampur dengan baik dalam sediaan tersebut, sehingga kehomogenitasan dari
sediaan ini sangat kurang. Bau dari sulfur sendiri kurang menyenangkan sehingga sediaan mempunyai
bau yang kurang baik meskipun telah ditambahkan parfum. Nipagin pun kurang cocok dalam formula ini
karena sediaan ini merupakan sampo basis surfactan.
Formula yang ketiga adalah formula conditioner, perbedaan antara conditioner dan sampo adalah,
conditioner mempunyai viscositas yang lebih tinggi dan tidak menghasilkan busa yang banyak seperti
sampo, dan pH cenderung netral hingga sedikit asam. Untuk menambah viskositas dari sediaan sampo
sehingga menjadi conditioner biasanya ditambahkan wax, wax yang ditambahkan pada formulasi ini
adalah lilin putih dan adeps lanae. Surfactan yang digunakan sama seperti formula lainnya yaitu Na lauril
sulfat, pada formula ini digunakan cetil alkohol sebagai zat pengemulsi dan cetyl alkohol ini larut dalam
air. Pada formula ini juga digunakan propilenglikol segai humectan dan peningkat penetrasi sediaan.
Nipagin pun kurang efectiv jika digunakan dalam sediaa ini kecuali jika dikombinasikan dengan
pengawet lainnya.
Perbedaan antara formula 3 kelompok 6 (a) dan 7 (b) adalah dalam hal konsentrasi lilin putih, adeps
lanae, cetyl alkohol dan propilenglikol. Konsentasi lilin putih pada formulasi a lebih banyak 5%, dan
konsentrasi adeps lanae pada formula a lebih sedikit 5%, untuk cetyl alkohol pada formula a lebih sedikit
2% dibandingkan formula b. Dengan formula ini seharusnya hasil sediaan dari formula a mempunyai
viskositas yang lebih tinggi dari formula b, namun ternyata formula a hasilnya lebih encer dari formula b,
sedangkan formula b mempunyai viskositas dan homogenitas yang baik, dan mempunyai kesan lembut.
Hal-hal yang menyebabkan terhadinya sediaan yang encer ini antara lain, panas yang digunakan kurang
maksimal sehingga sediaan menjadi encer dan faktor pengadukan juga sangat mempengaruhi.


BAB VI
KESIMPULAN

1. Sampo merupakan salah satu sediaan hair care yang umum digunakan. Bentuk fisik sampo ada
beberapa macam antara lain, cream, liquid dan pasta.
2. Formulasi sampo yang paling mendasar adalah penggunaan surfactan seperti Na lauril sulfat, dan jika
terdiri dari 2 fasa sangat diperlukan adanya zat pengemulsi.
3. Pembuatan sampo harus sangat diperhatikan penggunaan suhu saat pencampuran dan lamanya
pengadukan agar dihasilkan sampo dengan konsistensi dan homogenitas yang baik.
4. Evaluasi yang dapat dilakukan terhadap sediaan sampo antara lain: viskositas, pH, homogenitas,
bobot jenis, uji mikrobiologi, daya bersih, pembentukan busa dan karakteristik produk.



DAFTAR PUSTAKA

http://www.resep.web.id/tips/kenali-istilah-shampo-anda,htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Shampoo
http://id.shvoong,com/exact-sciences/physics/1819623-tips-memilih-shampoo/
Anonim. 1985. Formularium Kosmetik Indonesia. Jakarta : Depkes RI
Anonym. 1979. Farmakope Edisi Ketiga. Jakarta: Depkes RI

Wade, Ainkey, Paul, J.Walker.1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients Second Edition. London:
Pharmaceutical Press

Source : http://chocolate-purplepharmacy.blogspot.com


Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Links to this post