Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Dari 60 persen populasi di dunia mengalami permasalahan rambut
berketombe. Di Indonesia sendiri, angkanya dapat lebih tinggi karena iklim tropis,
polusi, kebiasaan hidup, serta penggunaan penutup kepala seperti jilbab maupun
helm yang dapat memengaruhi permasalahan kulit kepala selaku media
pertumbuhan rambut. Gangguan kulit kepala seperti sensitif, berminyak dan
berketombe, yang mengganggu pertumbuhan rambut secara normal seringkali
terjadi. Kerontokan rambut pun menjadi permasalahan kulit kepala lebih serius.
Kesadaran untuk merawat kulit kepala memang tidak setinggi kesadaran untuk
merawat kulit wajah. Sementara itu, masalah rambut berawal dari akarnya yakni
kulit kepala. Masalah kulit kepala yang paling umum ialah kulit kepala bersisik-
sisik halus atau ketombe, dan populasi jamur yang semakin subur jika kondisi
kulit kepala terlalu berminyak.
Sampo adalah sejenis cairan, seperti sabun, yang berfungsi untuk
meningkatkan tegangan permukaan kulit kepala sehingga dapat membersihkan
kotoran di kulit kepala. Kegiatan membersihkan kulit kepala dan rambut ini
disebut keramas. Dalam pengertian ilmiahnya sampo didefinisikan sebagai
sediaan yang mengandung surfaktan dalam bentuk yang cocok dan berguna untuk
menghilangkan kotoran dan lemak yang melekat pada rambut dan kulit kepala
agar tidak membahayakan rambut, kulit kepala, dan kesehatan pemakai.
Sampo pada umumnya digunakan dengan mencampurkannya dengan air
dengan tujuan untuk melarutkan minyak alami yang dikeluarkan oleh tubuh
untuk melindungi rambut dan membersihkan kotoran yang melekat. Namun
tidak semua sampo berupa cairan atau digunakan dengan campuran air, ada juga
sampo kering berupa serbuk yang tidak menggunakan air.
Formulasi untuk sampo harus mengandung bahan-bahan yang berfungsi
sebagai surfaktan, foaming agent, stabilizer, viscosity modifier, dan pengawet.
Bahan-bahan dalam sampo harus aman dan mudah terdegradasi sebagaimana
kosmetik (Mottram, 2000).

I.2 Tujuan Percobaan
- Untuk mengetahui fungsi dari shampo
- Untuk mengetahui bahan-bahan yang harus digunakan dalam sediaan
formula shampoo
- Untuk mengetahui evaluasi dari sediaan shampo
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Shampo
Shampo adalah sabun cair yang digunakan untuk mencuci rambut dan
kulit kepala yang terbuat dari campuran bahan bahan alami ( tumbuhan )
atau zat-zat kimia. Pengertian lain dari sampo yaitu sediaan yang
mengandung surfaktan dalam bentuk yang cocok berguna untuk
menghilangkan kotoran dan lemak yang melekat pada rambut dan kulit
kepala tidak membahayakan rambut, kulit kepala, dan kesehatan pemakai.
Semula sampo dibuat dari berbagai jenis bahan yang diperoleh dari
sumber alam, seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, dan sari abu merang
(sekam padi). Sampo yang menggunakan bahan alam sudah banyak
ditinggalkan, dan diganti dengan sampo yang dibuat dari detergen, yakni zat
sabun sintetik, sehingga saat ini jika orang berbicara mengenai sampo yang
dimaksud adalah sampo yang dibuat dari detergen. Dan untuk sampo yang
dibuat dari bahan lain, biasanya diberikan penjelasan seperlunya, misalnya
sampo merang. Agar sampo berfungsi sebagaimana disebutkan di atas, sampo
harus memiliki sifat berikut :
1. Sampo harus membentuk busa yang berlebih, yang terbentuk dengan
cepat, lembut dan mudah dihilangkan dengan membilas dengan air
2. Sampo harus mempunyai sifat detergensi yang baik tetapi tidak
berlebihan, karena jika tidak, kulit kepala menjadi kering.
3. Sampo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi
dapat mengganti lemak natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang
ada di dalam komposisi sampo. Kotoran rambut yang dimaksud tentunya
sangat kompleks yaitu : sekret dari kulit, sel kulit yang rusak, kotoran
yang disebabkan oleh lingkungan dan sisa sediaan kosmetika.
4. Tidak mengiritasi kulit kepala dan mata.
5. Sampo harus tetap stabil. Sampo yang dibuat transparan tidak boleh
menjadi keruh dalam penyimpanan. Viskositas dan pH-nya juga harus
tetap konstan, sampo harus tidak terpengaruh oleh wadahnya ataupun
jasad renik dan dapat mempertahankan bau parfum yang ditambahkan ke
dalamnya.
Detergen yang digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan
sampo memiliki sifat fisikokimia tersendiri yang umumnya tidak
sepenuhnya searah dengan ciri sifat yang dikehendaki untuk sampo.
Umumnya, detergen dapat melarutkan lemak dan daya pembersih kuat,
sehingga jika digunakan untuk keramas rambut, lemak rambut dapat
hilang, rambut menjadi kering, kusam, dan mudah menjadi kusut,
menyebabkan sukar diatur. Sifat detergen yang terutama dikehendaki
untuk sampo adalah kemampuan membangkitkan busa. Jenis detergen
yang paling lazim diedarkan tergolong alkil sulfat, terutama Na laurel
sulfat, juga alkohol monohidrat dengan rantai C 10 - 18.
Di samping itu detergen yang digunakan untuk pembuatan sampo,
harus memiliki sifat berikut :
1. harus bebas reaksi iritasi dan toksik, terutama pada kulit dan mata
atau mukosa tertentu.
2. Tidak boleh memberikan bau tidak enak, atau bau yang tidak
mungkin ditutupi dengan baik.
3. Warnanya tidak boleh menyolok.
Zat tambahan sampo Zat tambahan sampo terdiri dari berbagai jenis zat,
yang dikelompokkan sesuai dengan kesamaan fungsi yang diharapkan
dalam formulasi sampo. Alkilbromida asam lemak digunakan untuk
meningkatkan stabilitas busa dan memperbaiki viskositas. Zat ini
merupakan hasil kondensasi asam lemak dengan monoetanolamina
(MEA), dietanolamina (DEA), atau isopropanolamina yang sesuai. Zat ini
juga menunjukkan sifat dengan mendispersi kerak sabun kalisium atau
magnesium, dan mencegah pengerakan kedua jenis sabun itu pada kulit
kepala dan rambut.
Lemak bulu domba, lanolin atau salah satu derivatnya, kolesterol,
oleil alkohol, dan asetogliserida digunakan untuk maksud memperbaiki
efek kondesioner detergen dasar sampo yang digunakan, sehingga rambut
yang dikeramas akan mudah diatur dan memberikan penampilan rambut
yang serasi. Lanolin atau serbuk telur seringkali digunakan sebagai zat
tambahan sampo dan dinyatakan khusus untuk maksud memberikan
rambut berkilau dan mudah diatur. Asam amino terutama asam amino
esensial digunakan sebagai zat tambahan sampo dengan harapan, setelah
rambut dikeramas, zat ini akan tetap tertinggal pada kulit kepala dan
rambut, dan berfungsi sebagai pelembab, karena asam amino memiliki
sifat higroskopik yang akan memperbaiki kelembaban rambut.
Zat tambahan sampo lain, terdiri dari berbagai jenis zat, umumya
diharapkan untuk menimbulkan efek terhadap pembentukan dan
stabilisasi busa; meliputi zat golongan glikol, polivinilpirolidon,
karboksimetilselulosa, dan silikon cair, terutama yang kadarnya lebih
kurang 4%. PenyajianSampo disajikan dalam bebagai bentuk, meliputi
bubuk, emulsi, krim atau pasta, dan larutan. Selain itu juga dapat
disajikan dalam :
A. Sampo bubuk Sebagai dasar sampo digunakan sabun bubuk,
sedangkan sebagai zat pengencer biasanya digunakan natrium
karbonat, natrium bikarbonat, natrium seskuikarbonat, dinatrium
fosfat atau boraks. Sampo jenis ini dapat dikombinasikan dengan zat
warna alam hena atau kamomil, sehingga dapat memberikan sedikit
efek pewarnaan pada rambut. Agar dalam air sadah dapat berbusa,
biasanya bubuk sabun diganti dengan natrium lauril sulfat.
B. Sampo emulsi sampo ini mudah dituang, karena konsistensinya tidak
begitu kental. Tergantung dari jenis zat tambahan yang digunakan,
sampo ini diedarkan dengan berbagai nama seperti sampo lanolin,
sampo telur, sampo protein, sampo brendi, sampo susu, sampo lemon
atau bahkan sampo strawberry.
C. Sampo krim atau pasta sebagai bahan dasar digunakan natrium
alkilsulfat dari jenis alkohol rantai sedang yang dapat memberikan
konsistensi kental. Untuk membuat sampo pasta dapat digunakan
malam seperti setilalkohol sebagai pengental. Dan sebagai pemantap
busa dapat digunakan dietanolamida minyak kelapa atau
isopropanolamida laurat.
D. Sampo larutan merupakan larutan jernih. Faktor yang harus
diperhatikan dalam formulasi sampo ini meliputi, viskositas, warna,
keharuman, pembentukan dan stabilitas busa dan pengawetan.
Zat pengawet yang lazim digunakan meliputi, 0,2% larutan
formaldehida 40%, garam fenilraksa; kedua zat ini sangat beracun,
sehingga perlu memperhatikan batas kadar yang ditetapkan
pemerintah.
Parfum yang digunakan berkisar antara 0,3%-1,0%, tetapi
umumnya berkadar 0,5%.Cara pembuatan
a. Sampo krim atau pasta. Detergen dipanaskan dengan air pada suhu
pada lebih kurang 800 dalam panci dinding rangkap, sambil terus
diaduk. Tambahkan zat malam, terus diaduk lebih kurang 15 menit.
Biarkan campuran ini pada suhu lebih kurang 40-500C. Tambahkan
parfum, aduk terus hingga homogen; lanjutkan pengadukan untuk
menghilangkan udara. Wadahkan selagi panas.
b. Sampo larutan . Jika digunakan alkilolamida, mula-mula zat ini
dilarutkan dalam setengah bagian detergen yang digunakan dengan
pemanasan hati-hati. Kemudian tambahkan sisa detergen sedikit demi
sedikit, sambil terus diaduk, tambahkan zat warna yang telah
dilarutkan dalam air secukupnya, jika masih terdapat sisa air
tambahkan sedikit demi sedikit, sambil terus diaduk untuk mencegah
terjadinya busa. Shampoo yang baik harus dapat mencuci rambut dan
kulit kepala dengan bersih dan tidak menimbulkan rangsangan
harus mempunyai sifat detergen yang baik tetapi tidak membuat kulit
kepala menjadi kering Harus dapat menghasilkan rambut yang halus,
mengkilat, tidak kasar, tidak mudah patah, serta mudah diatur
harus memiliki konsistensi yang stabil, dapat menghasilkan busa
dengan cepat, lembut, dan mudah dihilangkan dengan pembilasan
Bahan Utama Bahan utama pada shampoo adalah surfaktan
(sabun dan detergent). Sabun adalah garam dan asam lemak. Hasil
reaksi antara lemak dan minyak hewan dan tumbuhan dengan alkali
(cth. NaOH, KOH) Kekurangan : tidak membentuk busa oleh air
sadah, diatasi dengan penambahan chelating agent Surfactant.
Surfaktan Utama
Fungsi utama : pembersih rambut & penghasil busa utama
Surfaktan kationik : daya bersih baik, busa banyak, rambut mjd
mudah diatur, mengkilat tanpa ada muatan
elektrostatis, toksik, berbahaya bagi mata
jarang digunakan
Surfaktan anionik : daya bersih & busa cocok untuk shampo
Surfaktan nonionik : daya bersih baik, busa rendah
Surfaktan amfolitik : daya bersih baik, busa rendah, mahal, hanya
sebagai surfaktan sekunder, mrp kondisioner
rambut yang baik
Surfaktan Sekunder
Golongan :
Surfaktan anionic
Surfaktan amfolitik
Fungsi :
Meningkatkan busa
Memperbaiki kondisi rambut (sbg kondisioner)
Contoh Golongan :
1. Alkil sulfat sekunder
2. Monogliserida sulfat
3. Turkey red oil
4. Alkil sulfosuksinat
5. Metil taurida
6. Asam lemak alkanolamida
7. Surfaktan amfolitik lain : amin oksida
- meningkatkan sifat kondisioning
8. Surfaktan nonionik
- untuk kombinasi dng surfaktan.anionik
Ketombe
Merupakan abnormalitas dari kulit kepala, stratum corneum tidak powder
off namun membentuk lapisan-lapisan tebal yang terlihat oleh mata
Penyebab
Gangguan mekanik / kimiawi
Infeksi jamur : Pityriasis simplex, P. sicca, P. ovale
Penyakit : psoriasis
Faktor internal : Ketidakseimbangan hormonal, dll.
Pengobatan
Kulit kepala kering
shampo di+ bahan humektan, emolien, losion utk mengatasi
kekeringan yg mrp penyebab timbulnya ketombe
Kulit kepala berminyak
shampo di+ germisidal (resorsinol, timol, fenol lain, sulfur,
turunan selenium)
Kategori Shampo
Kategori shampo yg beredar di perdagangan :
Shampo cair bening
Shampo sabun cair (soap shampoos)
Shampo krim
Shampo gel
Shampo kering
Shampo aerosol
Shampo khusus : pengobatan & antiketombe

Kategori shampo berdasarkan jenis rambut :
1. Shampo untuk rambut normal
2. Shampo untuk rambut kering
Shampo untuk rambut berminyak
Setelah digunakan rambut menjadi :
Lembut
Mengkilat
Wangi
Mudah diatur
Bersih tanpa kering berlebihan (tidak menghilangkan semua lap. lemak
rambut) Tanpa membuat kasar tangan
Bahan yang meningkatkan kualitas, volume, dan stabilitas busa.
Membantu meningkatkan stabilitas dan efek kondisioner. Contoh : dodecyl
benzene sulfonate, lauroyl monoethanolomide Conditioning agent,
merupakan bahan berlemak yang memudahkan rambut untuk disisir.
Conditioning agent melapisi helai rambul halus dan mengkilap. Harus
mudah dibilas, tidak meninggalkan rasa berminyak (lengket) di rambut.
Contoh lanolin, minyak mineral, telur, polipeptida Opacifying agent Bahan
yang memberikan warna buram pada shampoo. Penting pada pembuatan
shampoo jenis krim & losio. Contoh : Cetyl alcohol, stearyl alcohol,
spermaceti, glycol monodistearate, Mg stearate Clarifying agent bahan
yang digunakan untuk mencegah kekeruhan pada shampoo terutama untuk
shampoo dengan bahan utama sabun. Penting pada pembuatan shampoo
cair (likuid shampoo). Contoh : butil alkohol, isopropil alkohol etil
alkohol, metilen glikol, EDTA Cleating agen Sequestering agent
Bahan yang mencegah terbentuknya sabun Ca atau Mg karena air sadah.
Contoh : asam sitrat, EDTA. Dapat digantikan oleh surfaktan non-ionik
Thickening agent. Bahan yang meningkatkan viskositas shampoo. Contoh
: gom akasia, tragakan, CMC, Methocel.
Kekurangan : dapat membentuk lapisan film pada helai rambut
Preservatif. Bahan yang berguna melindungi sampo dari mikroba yang
dapat menyebabkan rusaknya sampo, Harus dipilih. Contoh : formadehid,
etil alkohol, ester parahidroksibenzoat Antidandruff agent Antidandruff
agent umumnya bersifat antimikroba, ditambahkan ke dalam shampoo
dalam jumlah kecil. Contoh : Sulfur, Asam Salisilat, Resorsinol, Selenium
Sulfida, Zink Piriton Penunjang Stabilitas Bahan-bahan tertentu dapat
ditambahkan ke dalam shampo dengan tujuan menunjang stabilitas
shampoo (stability additive)
Antioksidan
Mencegah perubahan warna dan bau sediaan akibat oksidosi,
Sunsreen
Melindungi sediaan dari sinar matahari, Contoh : Benzophenon
Suspending agent
Contoh : veegum, bentonit
pH control agen (larutan dapar)
Mencegah perubahan warna dan bau sediaan akibat perubahan pH
Cosmetics additive. Bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sampo
dengan tujuan memperbaiki tampilan shampoo (cosmetics adihtive).
Perfume campurarn minyak atsiri atau sintetik
Pewarna (dye) Pewarna yang digunakan harus terdaftar pada Federal
Food, Drug, and Cosmetics Act
Pearlescent pigements
Mekanisme Pembersihan Rambut
Masalah utama : penghilangan lap. lemak rambut tempat kotoran
menempel
Mekanisme pembersihan : detergensi
Tahap-tahap detergensi :
1. Pembasahan pengotor & keratin rambut shg tegangan permukaan
turun
2. Partikel/minyak pengotor digantikan oleh larutan detergen (shampo)
3. Partikel pengotor tetap terdispersi dalam larutan detergen hingga
rambut dibilas terbawa

Struktur Rambut

Batang rambut dilapisi dengan
sebum, hasil sekresi kelenjar
sebaceous, berfungsi :
1. Mencegah pertumbuhan
mikroorganisme patogen
2. Melumasi rambut
Pembersihan rambut
harus dapat membersihkan
lapisan sebum yang mirip
tempat menempelnya kotoran
& debu tanpa menghilangkan
seluruh lapisan lemaknya
digantikan kondisioner

II. 2 Uraian Bahan
1. Na Lauril Sulfat ( Rps 18
th
: 1307, FI III : 713)
Nama Resmi : Sodium lauryl sulfate
Nama Lain : Natrium lauril sulfat
BM / RM : 288.38 / C
12
H
25
NaO
4

Pemerian : Kristal putih atau kuning muda, memiliki
bau yang khas, bungkahan hablur putih
Kelarutan : 1 g dalam 10 ml air, membentuk suatu
Suatu larutan yang sangat muda larut dalam
air, membentuk larutan berkabut, larut
dalam etanol (95%) P
Incompabilitas : Bereaksi dengan bahan aktif, permukaan
kationik dengan kehilangan aktivitas,
dengan konsentrasi yang terlalu rendah
menyebabkan pengendapan. Na lauril sulfat
bersifat kompatibel dengan larutan asam,
ion natrium dan mg.
Kegunaan : Sebagai pembersih (Detergent sintetik
anionik )
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan terlindung
dari cahaya
Kosentrasi : 7-13 %
2. Asam Stearat ( FI III : 57, Exp : 298 )
Nama Resmi : Acidum stearicum
Nama Lain : Asam stearat
BM / RM : 284,47 / C
18
H
36
O
2

Pemerian : Cairan kental, kekuningan sampai coklat
muda, baud an rasa khas.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, mudah larut
dalam etanol (95%) P, dalam kloroform P,
dalam eter P dan dalam minyak tanah
Kestabilan : Stabil dalam bentuk murni, mengandung
hidroksi tanena terbulasi (0,005 %)
Incompabilitas : Kebanyakan dengan metal hidroksida
Kegunaaan : Pengatur pH
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan terlindung
dari cahaya
Kosentrasi : 2-10 %
3. Na Klorida ( FI III : 403)
Nama Resmi : Natrium chloridum
Nama Lain : Natrium klorida
BM / RM : 32,04 / Nacl
Pemerian : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau
serbuk hablur putih, rasa asin.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, sedikit lebih mudah
larut dalam air mendidih, larut dalam
gliserin, agak larut dalam etanol
Kegunaan : Pengatur Viskositas
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kosentrasi : 1-2 %
4. Asam sitrat ( FI III : 50 )
Nama Resmi : Acidum citricum
Nama Lain : Asam sitrat
BM / RM : 210,14 / C
6
H
8
0
7
. H
2
O
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk putih,
tidak berbau rasa sangat asam, agak
higroskopik, merapung dalam udara kering
atau panas
Kelarutan : Larut dalam kurang 1 bagian air dalam 1,5
etanol (95 %) dan sukar larut dalam eter
Kegunaan : Pengatur pH
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kosentrasi : 1 %
5. TEA ( FI III : 612, Exp : 334 )
Nama Resmi : Trietanolamin
Nama Lain : Trihidroksietilamin, TEA
BM / RM : 149, 19 / ( CHO-CH
2
CH
3
)
3
= N
Pemerian : Cairan kental jernih, tidak berwarna atau
kuning lemah, dan bau seperti amonia
Kelarutan : Bercampur dengan air, methanol dan
aseton
Kestabilan : Akan berwarna jika ada absorbsi dari 0
2

tidak masalah jika ditangani secara normal
Incompabilitas : Akan bereaksi dengan asam untuk
membentuk garam dengan ester. TEA
bereaksi dengan tembaga untuk membentuk
garam yang komleks. Perubahan warna
terjadi jika ada logam berat
Kegunaan : Sebagai emulgator
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan terlindung
dari cahaya dan suhu tidak lebih dari 30
o
C
Kosentrasi : 2 - 5 %
6. Metil Paraben ( FI III : 378, Exp : 284 )
Nama Resmi : Methylis Parabenum
Nama Lain : Metil paraben
BM / RM : 152, 15 / C
8
H
8
O
3

Pemerian : Serbuk hablur halus putih, hamper tidak
berbau, tidak mempunyai rasa.
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dan 20 bagian
air mendidih. Dalam 3,5 ml etanol (95%) p
dan dalam 3 bagian aseton, mudah larut
dalam eter dan dalam larutan alkali
hidroksida, larut dalam 600 bagian gliserol
panas dan dalam 40 bagian minyak lemak
nabati panas
Kestabilan : Metil paraben harus disimpan di simpan
dalam wadah yang tertutup bai. Larutan
berair pada Ph 5-6 disterilkan pada 120 o C
selama 20 menit tanpa penguraian larutan
berair pada Ph 3 -6 stabil (kurang dari 10 %
penguraian ) selama hamper 4 tahun pada
suhu kamar
Incompabilitas : Bahan antimikroba dari bahan metil
paraben di kurangi dengan adanya surfaktan
non ionik
Kegunaan : Sebagai Pengawet
Penyimpanan : Dalam wadah tertutu baik
Kosentrasi : 0,05 5 %
7. Menthol
Nama Resmi : Mentholum
Nama Lain : Menthol
BM / RM : 156, 30 / C
16
H
20
O
Pemerian : Hablur berbentuk jarum atau prisma, tidak
berwarna, bau tajam seperti minyak
permen, rasa panas dan aromatic disertai
rasa dingin
Kelarutan : Sukar larut dalam air, sangat mudah larut
dalam etanol, dalam CHCL3 dan dalam
eter, mudah larut dalam paraffin cair dan
dalam minyak atsiri
Incompabilitas : Menghasilkan cairan atau massa yang
lembut ketika digerus dengan champor,
kloralhidrat, resorsinol, timol dan substansi
lainnya.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kosentrasi : 0,05- 10 %
8. Alpa Tokoferol
Nama Resmi : Tocopherolum
Nama Lain : tokoferol, vitamin E
BM / RM : C
29
H
50
0
2

Pemerian : Tidak berbau atau sedikit berbau, tidak
berasa, cairan seperti minyak kuning dan
jernih
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dalam etanol
(95%) p, dan dapat bercampur dengan eter
dan aseton, dengan minyak nabati dan
kloroform
Kestabilan : Tidak stabil di udara dan cahaya terutama
dalam suaasana alkalis
Kegunaan : Sebagai antioksidan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan terlindung
dari cahaya
Kosentrasi : 0,001- 0,1 %
9. Minyak Zaitun
Nama Resmi : Oleum olive
Nama Lain : Minyak zaitun
Pemerian : Cairan, kuning pucat atau kuning
kehijauan; bau lemah tidak tengik ; rasa
khas.
Kelarutan : Sukar larut dalam etanol (95%) p; larut
dalam kloroform P, dalam eter p dan
dalam minyak tanah p
Kegunaan : Sebagai pembawa minyak
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
10. Na EDTA
Nama Resmi : Disodium adetat
Nama Lain : Na- EDTA
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna atau kuning;
bau mirip amoniak
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam kloroform dan
eter, sedikit larut dalam etanol (95%) p
Kestabilan : Garam adetat lebih satbil dari pada asam
Bebas
Kegunaan : Chelating agent
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup rapat pada
tempat yang sejuk dan kering



11. Aquadest ( FI III : 96)
Nama Resmi : Aqua destilata
Nama Lain : Air suling
BM / RM : 18,02/ C
8
H
8
0
3

Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau
dan tidak mempunyai rasa
Kegunaan : Sebagai pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat



















BAB V
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
- Fungsi dari shampo yaitu untuk menghilangkan kotoran dan lemak yang
melekat pada rambut agar rambut dapat rambut dapat terlihat sehat dan
berkilau
- Bahan-bahan yang digunakan dalam formula shampo dapat berfungsi
sebagai detergent (surfaktan), Foaming agent, chelating agent selain itu
juga ditambahkan bahan yang berfungsi sebagai pengawet,pengatur Ph,
pengatur viskositas,parfum dan antimikroba
- Evaluasi shampoo meliputi evaluasi penampilan fisik, pH, viskositas, dan
kemampuan menghasilkan busa
III. 2 Saran
- Lab
Sebaiknya alat-alat lab lebih dilengkapi lagi agar praktikum dapat
berlangsung dengan baik
- Praktikan
Sebaiknya pada saat praktikum berlangsung praktikan harus
mengerjakan dengan hati-hati dan teliti agar tidak terjadi hal-hal yang
tidak di inginkan
- Dosen
Sebaiknya lebih memperhatikan proses berlangsungnya praktikum
agar tidak terjadi kesalahan pada saat praktikum berlangsung





DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM. 1979. Farmakope Edisi III. Jakarta. Departemen Kesehatan RI.
Mottram, F, J, Leas. 2000. Hair shampoos in poucher perfunes cosmetics and
soaps 10 th edn, butles, H (ed), Kluwer academic
publisherprinted in great Britain.

Rowe C Raymond, dkk. 2009. Handbook of pharmaceutical excipients.
London. Pharmaceutical press.



















LAMPIRAN
























Bahan untuk formula
shampo

Metil paraben dan Na- cmc
di stirer
Dipanaskan pembawa air
dan pembawa minyak

Dimasukkan bahan untuk
fase minyak























Dimasukkan bahan untuk
fase air

Dimasukkan fase minyak
kedalam fase air

Di campur semua bahan

Dimasukkan kedalam
wadah

Shampoo Shanas