0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
494 tayangan53 halaman

TA POMADE Samuel pdf-1

pembuatan pomade
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
494 tayangan53 halaman

TA POMADE Samuel pdf-1

pembuatan pomade
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PERBANDINGAN RBDPO DAN VCO

TERHADAP KARAKTERISTIK POMADE

TUGAS AKHIR

Disusun Oleh

SAMUEL PANDAPOTAN NAINGGOLAN


NIM. 202111048

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK PENGOLAHAN SAWIT


POLITEKNIK KAMPAR
2024
PENGARUH PERBANDINGAN RBDPO DAN VCO
TERHADAP KARAKTERISTIK POMADE

Laporan Tugas Akhir ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi


salah satu syarat kelulusan Diploma III Politeknik Kampar

Disusun Oleh

SAMUEL PANDAPOTAN NAINGGOLAN


NIM. 202111048

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK PENGOLAHAN SAWIT


POLITEKNIK KAMPAR
2024
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS

Tugas Akhir ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua
sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : SAMUEL PANDAPOTAN NAINGGOLAN

NIM : 202111048

Tanda Tangan :

Tanggal :

i
LEMBAR PENGESAHAN

Judul TA : Pengaruh Perbandingan RBDPO dan VCO terhadap


karakteristik pomade
Nama : Samuel Pandapotan Nainggolan
NIM : 202111048
Program studi : Teknik Pengolahan Sawit
Tanggal lulus ujian :

Laporan Tugas Akhir ini telah disetujui dan disahkan sebagai salah satu
syarat kelulusan Program Diploma – III Politeknik Kampar

Dewan Penguji
Pembimbing I Pembimbing II

Sri Wahyuni, S.P.,M.Si Hanifah Khairiah, S.ST.,M.T


NRP. 110907028 NRP. 130809039

Penguji I Penguji II

Mengetahui,

Wakil Direktur I Ketua Program Studi


Bidang Akademik & Kemahasiswaan Teknik Pengolahan Sawit

Fenty Kurnia Otorina, S.T., M.Sc Fatmayati, S.T., M.Si


NRP. 110306006 NRP. 110306005

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Atas rahmatNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Pengaruh
Perbandingan RBDPO dan VCO Terhadap Karakteristik Pomade”. Laporan
tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakasanakan di
Laboratorium Program Studi Teknik Pengolahan Sawit Politeknik Kampar. Laporan
Tugas Akhir ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan
Diploma III Politeknik Kampar. Untuk kesempurnaan laporan tugas akhir ini,
penulis mengharapkan kritik dan saran. Penulis berharap laporan tugas akhir ini
berguna untuk menambah wawasan serta pengetahuan. Semoga laporan ini
bermanfaat bagi penulis khususnya. Mahasiswa Politeknik Kampar. Atas
perhatianya, Penulis ucapkan terima kasih kepada:

1. Kepada kedua orang tua saya yaitu Bapak Juliston Nainggolan dan Ibu Hotmauli
br Sirait. Yang telah memberi doa restu serta dukungan penuh kepada penulis
untuk terus termotivasi dalam menyelesaikan penelitian ini.
2. Ibu Sri Wahyuni, S.P., M.Si selaku dosen pembimbing I saya yang telah
memberikan motivasi dorongan, arahan, dan masukan selama penelitian dan
penyusunan Tugas Akhir.
3. Ibu Hanifah Khairiah, S.ST.,M.T selaku dosen pembimbing II dan wali dosen
saya yang telah memberikan motivasi dorongan, arahan, dan masukan selama
penelitian dan penyusunan Tugas Akhir.
4. Ibu Nina Veronika, S.T., M.Sc sebagai Direktur Politeknik Kampar.
5. Ibu Fatmayati, ST., M.Si selaku Ketua Program Studi Teknik Pengolahan Sawit
yang telah memberikan motivasi dan masukan selama penelitian Tugas Akhir.
6. Ibu Ferafat, A. Md. T selaku Instruktur Laboratorium Teknik Pengolahan Sawit
Politeknik Kampar.

iii
7. Damaiyona br Nainggolan dan Eben Haezer Nainggolan selaku adik penulis
yang menjadi penyemangat dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
8. Terima Kasih kepada Sapri Pardede dan Rosa Situmorang sahabat saya yang
sangat menyemangati dalam mengerjakan Tugas Akhir.
9. Terima kasih kepada teman push rank game (Mahendra, Doiwan, dan Milleven)
yang telah membantu saya mencapai rank glory, dan menghilangkan lelah dalam
menyelesaikan Tugas Akhir.
10. Terima kasih kepada Iyan dan Windu yang telah membantu dalam proses
pembuatan tugas akhir.
11. Terimakasih kepada teman-teman kelas TPS B mahasiswa Politeknik Kampar
angkatan 2021 atas doa dan juga semangatnya kepada penulis.

Bangkinang, 31 Januari 2024

Penulis

iv
ABSTRAK

SAMUEL PANDAPOTAN, Pengaruh Perbandingan PKO dan VCO Terhadap


Karakteristik Pomade.

Pomade merupakan suatu sediaan kosmetik yang masuk dalam kategori wax based
cream yang sedang diminati para pria untuk dapat membuat penampilan rambut yang
rapi. Pomade yang dibuat menggunakan bahan alam memberikan rasa aman pada
penggunaannya. Pada penelitian kali ini menggunakan bahan baku berupa minyak
sawit hasil rafinasi dan fraksinasi atau RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm
Oil) dan VCO (Virgin Coconut Oil). Penelitian ini bertujuan mengatuhi cara
pembuatan pomade dari RBDPO dan VCO, mengetahui apakah pomade yang di
produksi telah sesuai dengan SNI 06-2578-1992, mengetahui formula terbaik
perbandingan RBDPO dan VCO terhadap karakteristik pomade dan mengetahui
tanggapan dari responden terhadap pomade yang dihasilkan. Pada penelitian ini
proses pembuatan pomade ini dilakukan dengan cara pencampuran bahan, pemanasan
dan pengadukan menggunakan variabel RBDPOO dan VCO, yaitu variabel 1
(0%:10%), variabel 2 (2,5%:7,5%), variabel 3 (5%:5%), variabel 4 (7,5%:2,5%),
variabel 5 (10%:%). Pomade yang dihasilkan sudah sesuai dengan SNI 06-2578-
1992. Berdasarkan SNI dan uji organoleptik formula terbaik diperoleh dari variabel 3
dengan karakteristik sebagai berikut, yaitu kadar pH 5, kadar abu 0,0099%, titik cair
45°C dan uji organoleptik dengan hasil ratarata warna 83%, tekstur 67% dan aroma
97%.

Kata Kunci : Pomade, RBDPO, VCO, Bahan, VariabeL

v
ABSTRACT

SAMUEL PANDAPOTAN, Comparative Effect of PKO and VCO on Pomade


characteristics.

Pomade is a cosmetic preparation that is included in the wax-based cream category


that is in demand by men to be able to create a neat hair appearance. Pomade made
using natural ingredients provides a sense of security in its use. In this study using
raw materials in the form of refined and fractionated palm oil or RBDPO (Refined
Bleached Deodorised Palm Oil) and VCO (Virgin Coconut Oil). This study aims to
determine how to make pomade from RBDPO and VCO, determine whether the
pomade produced is in accordance with SNI 06-2578-1992, determine the best
formula for the comparison of RBDPO and VCO on the characteristics of pomade
and determine the responses of respondents to the pomade produced. In this study,
the process of making pomade was carried out by mixing ingredients, heating and
stirring using RBDPOO and VCO variables, namely variable 1 (0%:10%), variable 2
(2.5%:7.5%), variable 3 (5%:5%), variable 4 (7.5%:2.5%), variable 5 (10%:%). The
resulting pomade is in accordance with SNI 06-2578-1992. Based on SNI and
organoleptic test, the best formula was obtained from variable 3 with the following
characteristics, namely pH level 5, ash content 0.0099%, liquid point 45°C and
organoleptic test with average results of 83% colour, 67% texture and 97% aroma.

Keywords: Pomade, RBDPO, VCO, Ingredients, Variables

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS ............................................................ i

LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................................... ii

KATA PENGANTAR ................................................................................................. iii

ABSTRAK .................................................................................................................... v

ABSTRACT ................................................................................................................... vi

DAFTAR ISI ............................................................................................................... vii

DAFTAR TABEL ......................................................................................................... x

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................... xi

BAB I ............................................................................................................................ 1

PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 2

1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................ 3

1.4 Batasan Masalah ............................................................................................. 3

BAB II ........................................................................................................................... 4

TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 4

2.1 Rambut ........................................................................................................... 4

2.1.1 Definisi Rambut (Barigina,E dan Zahida 2001) ........................................ 4

2.1.2 Anatomi Rambut ..................................................................................... 5

2.2 Pomade ........................................................................................................... 6

2.2.1 Jenis-jenis Pomade .................................................................................. 8

vii
2.2.2 Pembuatan Pomade ............................................................................... 10

2.3 Bahan Baku Pomade .................................................................................... 11

2.3.1 Refined Bleached Deodorized Palm (RBDPO)..................................... 11

2.3.2 Virgin Coconut Oil (VCO) .................................................................... 12

2.3.3 Minyak Zaitun ....................................................................................... 13

2.3.4 Castor Oil (Minyak Jarak) .................................................................... 14

2.3.5 Beeswax ................................................................................................. 15

2.3.6 Petroleum Jelly...................................................................................... 15

2.3.7 Microwax (Microcrystalline wax) ........................................................ 16

2.3.8 Pewarna ................................................................................................. 16

2.3.9 Pewangi ................................................................................................. 17

2.4 Pengujian Kualitas Pomade .......................................................................... 17

2.4.1 Uji Organoleptik.................................................................................... 17

2.4.2 Uji pH .................................................................................................... 18

BAB III ....................................................................................................................... 19

METODE PELAKSANAAN ..................................................................................... 19

3.1 Waktu dan Tempat ....................................................................................... 19

3.2 Alat dan Bahan ............................................................................................. 19

3.3 Metode Percobaan ........................................................................................ 19

3.3.1 Pembuatan Pomade ............................................................................... 19

3.3.2 Rancangan Percobaan ........................................................................... 21

3.3.3 Pengujian Pomade ................................................................................. 21

BAB IV ....................................................................................................................... 22

viii
HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................... 22

4.1 Proses Pembuatan Pomade ........................................................................... 22

4.2 Karakteristik Pomade dari Minyak RBDPO dan VCO ................................ 23

4.2.1 Uji pH .................................................................................................... 23

4.2.2 Kadar Abu ............................................................................................. 24

4.2.3 Titik Cair ............................................................................................... 25

4.3 Uji Organoleptik ........................................................................................... 27

4.3.1 Warna .................................................................................................... 27

4.3.2 Tekstur................................................................................................... 28

4.3.3 Aroma .................................................................................................... 29

BAB V......................................................................................................................... 30

PENUTUP ................................................................................................................... 30

5.1 Kesimpulan ................................................................................................... 30

5.2 Saran ............................................................................................................. 30

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 31

LAMPIRAN ................................................................................................................ 35

ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Karakteristik Pomade (SNI 06-2578-1992) ................................................. 8
Tabel 2. 2 Kandungan asam lemak RBDPO ............................................................... 12
Tabel 2. 3 Kandungan asam lemak VCO .................................................................... 13
Tabel 2. 4 Kandungan asam lemak minyak zaitun ..................................................... 14
Tabel 2. 5 Kandungan asam lemak castor oil (minyak jarak) ..................................... 15
Tabel 3. 1 Variabel Bebas ........................................................................................... 21
Tabel 3. 2 Variabel Tetap ............................................................................................ 21
Tabel 4. 1 Pengujian Terhadap pH .............................................................................. 24

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3. 1 Diagram Alir Proses Pembuatan Pomade .......................................................... 20


Gambar 4. 1 Pengaruh rasio formula RBDPO dan VCO terhadap kadar abu
pomade............225
Gambar 4. 2 Pengaruh rasio formula RBDPO dan VCO terhadap titik cair pomade............26
Gambar 4. 3 Hasil Uji Organoleptik Tingkat Kesukaan Pada Warna......................................27
Gambar 4. 4 Hasil Uji Organoleptik Tingkat Kesukaan Pada Tekstur....................................28
Gambar 4. 5 Hasil Uji Organoleptik Tingkat Kesukaan Pada Aroma.....................................29

xi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri kosmetik semakin berkembang dari tahun ke tahun. Pada saat ini
kosmetik sudah menjadi sebuah kebutuhan penting bagi wanita maupun pria, yang
akhirnya akan berdampak pada semakin meningkatnya industri kosmetik di dunia,
termasuk di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan tingginya produksi kosmetik
di Indonesia dari tahun ke tahun. Dari segi penjualannya juga semakin meningkat,
baik kosmetik produksi dalam negeri maupun kosmetik impor. Kementerian
Perindustrian menyatakan telah menjadikan industri kosmetik sebagai sektor andalan
yang dituangkan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional pada tahun
2015-2035. Industri kosmetik di dalam negeri bertambah sebanyak 153 perusahaan
pada tahun 2017 (Saputri, 2017).
Salah satu produk kosmetik atau perawatan yang semakin berkembang pesat
adalah Pomade sebagai produk perawatan rambut. Masyarakat Indonesia
menganggap rambut adalah mahkota yang sangat penting bagi penampilan. Sebagian
pria menjadi kurang percaya diri karena masalah rambut dan kulit kepala. Pomade
merupakan salah satu dari berbagai produk perawatan rambut yang semakin digemari
oleh kalangan pria di Indonesia.
Pomade merupakan salah satu produk penata rambut yang mempunyai massa
lembek homogen dan lembut sehingga mudah dioleskan. Sediaan pomade bertujuan
untuk membuat rambut tampak mengkilap, licin, rapih dan tampak basah alami.
Sediaan pomade memiliki keuntungan yaitu memberikan rasa nyaman ketika
dioleskan, pemakaiannya lebih disenangi karena rambut lebih mudah ditata dengan
rapih, dan dapat bertahan lama dibanding dengan sediaan kosmetik lainnya. Water
based dan oil based merupakan dua jenis pomade. Oil based merupakan produk
pomade klasik yang mengandung minyak dan wax, sedangkan pomade yang modern

1
adalah water based yang mengandung larut air dan wax/minyak (Dewi, 2016).
Kualitas Pomade dipengaruhi oleh bahan baku Pomade yang digunakan
Produksi pomade dapat menggunakan bahan baku Refined Bleached
Deodorized Palm Oil (RBDPO) dan Virgin Coconut Oil (VCO). RBDPO ialah
produk hasil rafinasi dan fraksinasi Crude Palm Oil (CPO) yang digunakan sebagai
minyak goreng sawit. RBDPO memiliki manfaat untuk melembabkan rambut,
membuat rambut lebih lembut dan mudah diatur, membuat rambut berkilau, dan
melindungi rambut agar tidak rusak akibat terlalu kering. VCO adalah minyak yang
diperoleh dari daging buah kelapa (Cocos nucifera L.) tua yang segar dan diproses
dengan diperas dengan atau tanpa penambahan air, tanpa pemanasan atau pemanasan
tidak lebih dari 60°C. VCO memiliki manfaat untuk menutrisi rambut, meningkatkan
pertumbuhan rambut dan membuatnya menjadi elastis dan kuat, sehingga rambut
tidak mudah patah.
Pembuatan pomade umumnya menggunakan bahan dasar dari petroleum
seperti lanolin, beeswax dan petroleum jelly. Saat ini telah banyak dilakukan
penelitian pembuatan pomade dengan menggunakan bahan dasar dari minyak nabati
diantaranya, Palm Kernel Oil, Refined Bleached Deodorized Palm Oil, Vurgin
Coconut Oil, Castor Oil minyak zaitun, dan minyak kemiri. Sebagai bahan dasar,
pomade minyak nabati yang dapat digunakan tidak hanya dari jenis PKO dan minyak
kemiri, RBDPO dan VCO dapat juga digunakan minyak nabati jenis lainnya yang
memiliki manfaat untuk kesehatan rambut.
Berdasarkan latar belakang, maka penulis tertarik membuat tugas akhir yang
berjudul “Pengaruh Perbandingan RBDPO dan VCO Terhadap Karekteristik
Pomade”

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara pembuatan pomade dengan bahan dasar RBDPO dan VCO?
2. Bagaimana pengaruh perbandingan RBDPO dan VCO terhadap karateristik
Pomade yang dihasilkan?

2
3. Bagaimana karakteristik Pomade yang dihasilkan berdasarkan Standar Nasional
Indonesia (SNI 062578-1992)?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui cara pembuatan pomade dari RBDPO dan VCO.
2. Mengetahui perbandingan RBDPO dan VCO terhadap karakteristik Pomade.
3. Mengetahui karakteristik Pomade yang diproduksi telah sesuai dengan SNI.

1.4 Batasan Masalah


1. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pomade adalah RBDPO dan
VCO.
2. Variabel penelitian menggunakan minyak zaitun sebagai variabel tetap, serta
RBDPO dan VCO sebagai variabel bebas dengan perbandingan (0%:10%),
(2,5%:7,5%), (5%:5%), (7,5%:2,5%), (10%:0%).
3. Pengujian kualitas pomade meliputi uji pH, kadar abu, dan titik cair, dan
organoleptik.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rambut
2.1.1 Definisi Rambut (Barigina,E dan Zahida 2001)
Rambut adalah struktur epidermal khusus yang terdiri satu akar di dalam
dermis dan satu batang yang menonjol keluar permukaan. Ada dua jenis rambut yaitu
rambut terminal dan rambut velus. Rambut terminal adalah rambut kasar yang
mengandung pigmen, terdapat di kepala, alis, bulu mata, ketiak, dan alat kelamin.
Sedangkan rambut velus adalah rambut halus yang sedikit mengandung pigmen
terdapat hamper di seluruh bagian tubuh. Potongan melintang rambut dari luar ke
dalam dapat dibagi menjadi: Kutikutel, Korteks medulla, Korteks medulla, Bulbus
dan Sel matriks, Papilla dermis.
Rambut terdiri dari akar yang terdiri dari sel sel tanpa keratin, batang rambut
terdiri dari bagian rambut yang muncul dari permukaan kulit, akar dan bagian bawah
kandung rambut mengandung selsel matriks, rambut bagian dermis yang masuk
kedalam kandung rambut yang disebut dengan papil. Melanosit yang terdapat di
bagian atas kandung rambut menghasilkan pigmen yang memberikan warna pada
rambut.
Pigmen yang memberi warna pada rambut adalah melanin yang memberikan
warna coklat hitam dan phemelanin yang memberikan warna kuning dan merah,
warna setiap batang rambut seseorang tidak sama tergantung konsentrasi granul
pigmen yang dikandungnya. Komposisi rambut terdiri dari karbon 50,60%, hydrogen
6,36%, nitrogen 17.14%, sulfur 5%, dan oksigen 20,80 Kandungan kimia rambut:
Karbohidrat, Lipid, Senyawa senyawa organik seperti( Ca,Zn, Fe), Zat-zat pigmen,
Triptofen dan Sistein.
Kelainan kelainan pada rambut dapat terjadi pada batang rambut atau pada
akar rambut dimana penyebabnya dapat berasal dari luar maupun dari dalam tubuh.
Apabila kelainan tersebut kurang diperhatikan maka akan dapat menyebabkan

4
terjadinya penyakit pada kulit kepala.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rambut adalah Keadaan
fisiologikmeliputi Hormone (androgen estrogen, tiroksin dan kortikosteroid),
Metabolisme, Nutrisi sangat menpengaruhi pada pertumbuhan rambut terutama
nutrisi protein dan kalor). Selanjutnya adalah keadaan patologik yang meliputi:
Peradangan system atau setempat, dan obat-obatan.

2.1.2 Anatomi Rambut


1. Ujung rambut
Pada rambut yang baru tumbuh atau tidak pernah dipotong mempunyai ujung
rambut yang runcing.

2. Batang rambut
Batang rambut adalah bagian rambut yang berbeda diatas permukaan kulit
berupa benang benang halus yang terdiri dari zar tanduk (keratin). Pada potongan
melintang batang rambut dapat dibedakan menjadi tiga lapisan yang tersususn teratur
secara konsentris, yaitu:
a. Selaput rambut (kutikula)
Kutikula adalah lapisan paling luar rambut yang terdiri dari atas sel-sel tanduk
yang gepeng atau pipih yang tersusun seperti sisik ikan, bagian bawah menutupi
bagian yang atas, kutikula berfungsi melindungi bugim dalam dari batang rambut.
b. Kulit rambut (korteks)
Kulit rambut adalah lapisan tengah dari rambut yang terdiri atas sel-sel tanduk
yang membentuk kumparan, tersusun secara memanjang dan mengandung butir-butir
melamin, komposisinya mempengaruhi warna, kekuatan, elastisitas, pertumbuhan,
dan besar tekstur rambut.

5
c. Sumsum rambut (medulla)
Medulla adalah lapisan terdalam dari rambut yang tersusun dari keratin-
keratin halus yang sangat renggang sehingga terdapat rongga- rongga yang berisi
udara, tetapi tidak memiliki peran penting.

3. Akar rambut
Akar rambut adalah rambut yang tertenam didalam di dalam kulit. Akar
rambut tertanam miring di dalam kulit dan terselubung oleh kantong rambut (folikel).
Bagian-bagian dari akar rambut adalah sebagai berikut:
a. Kantong rambut (folikel)
Kantong rambut merupakan suatu saluran yang mempinyai tabung dan
berfungsi untuk melindungi akar rambut.
b. Papil rambut
Papil rambut adalah bulatan kecil yang bentuknya melengkung terletak
dibagian terbawah dari folikel rambut dan menjorok masuk ke dalam umbi rambut.
Papil rambut berfungsi dan bertugas memproduksi atau membuat bermacam-macam
zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan rambut, misalnya sel-sel tunas rambut, zat
protein pembentuk keratin, zat makanan untuk rambut, zat melanosit untuk
memmbentuk melanin, oksigen, karbon, zat lemak dan lain-lain.

2.2 Pomade
Pomade berasal dari istilah bahasa Perancis “pommade” yang artinya salep.
Pada zaman modern pomade sudah banyak dicampur dengan pewangi. Penggunaan
pomade dimulai sejak tahun 1800-an dan bahan dasar yang digunakan pada saat itu
adalah minyak beruang. Pada tahun 1900-an minyak babi digunakan sebagai bahan
dasar pembuatan pomade. Pada tahun 2000 sampai sekarang penggunaan minyak
babi diganti bahan alami seperti petroleum jelly dan beeswax sebagai bahan dasarnya.
Sifat kaku pomade digunakan untuk membuat style rambut seperti pompadour atau
quiff (Shafat, 2015).

6
Pomade merupakan suatu sediaan kosmetik yang berkaitan dengan perawatan
rambut, pomade adalah suatu produk berbentuk semi padat dari bahan utama mineral
lilin (wax) dengan penambahan bahan lain dan digunakan untuk merapikan rambut
(BSN, 1992). Secara garis besar pembuatan pomade tidak memiliki formula baku,
pada umumnya dalam pomade terdapat mineral lilin (wax), emulsifier, minyak,
aroma, dan pewarna. Efek tahan lama dan bersinar atau klimis dari kosmetik yang
pertama kali muncul pada awal abad ke 19 ini, lelaki kembali beralih ke produk
pomade (Aminuloh, 2016).
Bahan pembuatan pomade yang selama ini digunakan adalah parffin wax
sintetis dan bahan kimia lainnya. Namun, paraffin wax dan bahan kimia lainnya
memiliki dampak negatif pada kesehatan apabila terjadi proses penguapan. Sekarang
bahan pembuatan pomade dapat menggunakan bahan alami yang bisa digunakan
sebagai pengganti kimia, seperti PKO, VCO, minyak zaitun, castor oil, beeswax,
petroleum jelly, microwax, pewarna, dan pewangi (Prasetyo, 2018).
Mujiono (2020) menyatakan pomade dapat bertahan lebih lama dalam
penataan rambut dari kebanyakan produk perawatan rambut lainnya. Pembuatan
pomade saat ini telah menggunakan lanolin, beeswax, vaselin putih dan bahan-bahan
organik lain sebagai bahan dasarnya. Pomade yang dibuat menggunakan bahan alam
memberikan rasa aman pada penggunaannya. Liquid oil yang digunakan sebagai
dasar utama pembuatan pomade yang dapat diperoleh dari tumbuh-tumbuhan.
Syarat pomade telah diatur oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) pada
tahun 1992. Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada SNI 06-2578-1992 dengan
parameter sebagai berikut.

7
Tabel 2. 1 Karakteristik Pomade (SNI 06-2578-1992)

No Uraian Persyaratan
1 Reaksi Terhadap Lakmus Netral
2 Kadar Abu Maks. 0,1%
3 Cemaran Logam (Pb,Cu,Hg) Negatif
4 Arsen Negatif
5 Titik Cair 38 C-48 C
(Sumber: BSN 1992).

2.2.1 Jenis-jenis Pomade


Auliasari (2018) menyatakan saat ini setidaknya ada 3 jenis pomade
berdasarkan bahan pembuatan nya yang beredar dipasaran, ketiga jenis pomade
tersebut sebagai berikut:

1. Pomade oil based


Pomade ini dibuat dengan berbahan dasar minyak. Pomade oil based memiliki
tingkat daya lengket yang kuat sehingga cocok untuk mereka yang mempunyai
rambut panjang. Ciri khas tersebut yang dimanfaatkan untuk membuat tatanan rambut
tetap rapi sepanjang hari meski menjalankan aktifitas di luar ruangan dan kepala
berkeringat atau tertimpah air hujan. Namun, karena memiliki daya lengket yang kuat
dan berbahan dasar minyak itulah membuat pomade jenis ini sulit untuk dibersihkan.
Agar dapat dibersihkan butuh keramas dengan shampo serta mengguyurnya dengan
air berulang kali.

2. Pomade water based


Pomade yang dibuat dengan berbahan dasar air. Meski daya lengketnya tidak
seperti pomade oil based, namun tidak terlalu direkomendasikan untuk dipakai
beraktifitas di luar ruangan. Terlebih untuk mereka yang melakukan aktifitas berat
dan banyak mengeluarkan keringat. Karena daya lengket tidak sekuat pomade oil

8
based, pomade ini sangat mudah dibersihkan. Hanya sekali keramas dengan shampo
dan dibilas dengan air, rambut akan kembali normal.

3. Mix based pomade


Mix Based pomade dibuat dengan bahan campuran minyak dan air.
Menjadikan pomade ini memiliki ciri khas antara pomade oil based dan water based.
Daya lengketnya tidak kuat seperti oil based, namun lebih kuat jika di bandingkan
dengan water based. Tingkat peminat mix based pomade ini sangat kurang, maka
produk ini jarang ditemukan dipasaran.
Prasetyo (2018) menyatakan berdasarkan jenis-jenis pomade yang sudah di
jelaskan. Pomade juga memiliki 3 varian tekstur, yaitu soft, medium hold, dan heavy
hold untuk menyesuaikan perminataan konsumen. Berikut penjelasan 3 varian tekstur
pomade.

4. Soft
Teksturnya yang lembut membuatnya sangat mudah diambil dari wadah dan
diratakan di tangan. Begitu pula saat diaplikasikan, tidak perlu harus menjambak
rambut dan sangat mudah ketika disisir. Soft pomade juga menghasilkan shine atau
daya klimis yang sangat tinggi. Karakteristik lainnya dari soft pomade adalah tingkat
holdnya yang lemah dalam arti tidak mampu menahan tatanan rambut dalam waktu
yang relatif lama. Itu sebabnya pomade jenis ini lebih cocok untuk dipakai oleh
mereka yang berambut pendek.
1. Medium hold
Sesuai dengan namanya pomade jenis ini memiliki tingkat hold yang sedang,
tingkat ketahanannya tidak terlalu lemah dan juga tidak terlalu kuat. Pomade varian
ini cocok untuk orang-orang yang suka dengan gaya simple namun tetap dapat
menunjukkan gaya dari tampilan rambutnya. Pomade rambut ini memiliki tekstur
padat dipermukaannya namun terasa lembut saat disentuh. Karena padat, saat
diratakan di telapak tangan terasa cukup susah namun relatif masih mudah. Begitu

9
juga dengan pemakaiannya, memiliki tingkat kesulitan yang sedang dengan sesekali
melakukan jambakan pada rambut agar penataannya sesuai dengan yang diinginkan.
Tingkat shine yang dihadirkan pomade tipe medium hold juga pada kategori sedang,
sehingga tidak terlalu mengkilap tapi juga tidak terlalu natural.
2. Heavy hold
Tipe pomade jenis ini memiliki tingkat hold dan ketahanannya yang paling
tinggi dibandingkan dua varian yang telah disebutkan sebelumnya. Karena itu tipe
heavy lebih cocok untuk mereka yang menginginkan efek hold yang maksimal bagi
rambut mereka. Tekstur yang dimiliki tipe heavy hold terutama pomade yang
berbahan dasar minyak dan sangat keras, sehingga butuh sedikit tenaga untuk
mengambilnya dari wadah serta saat meratakannya di telapak tangan. Begitu juga
dalam pemakaiannya, diperlukan jambakan pada rambut yang lumayan sering untuk
bisa memperoleh tatanan rambut sesuai dengan yang diinginkan, termasuk saat proses
penyisiran karena rambut dalam keadaan kesat. Untuk efek klimis yang dihasilkan,
tipe heavy hold cenderung menghasilkan efek matte finish alias natural.

2.2.2 Pembuatan Pomade


Pembuatan pomade dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan
memanaskan campuran vaselin, lanolin, cera alba, gliserin, sorbitan seskuinoleat
hingga suhu 70°c, kemudian larutkan zat pengawet dalam air bersuhu 70°c. tuangkan
perlahan-lahan kedalam campuran vaselin sambil diaduk, dan bisa juga dengan cara
mencampurkan semua bahan kedalam wadah kemudian panaskan dalam dandang
sampai semua bahan mencair, aduk perlahan sampai homogen (Dep Kes RI 1985).
Menurut Fadlisyah (unploud) pembuatan pomade dilakukan dengan
memanaskan beeswax, petroleum jelly, microwax, dan castor oil, diatas hotplate
dengan suhu tetap dijaga 500C dan pengadukan menggunakan mixer dengan
kecepatan 200 rpm selama 30 menit. Setelah campuran bahan homogen tambahkan
PKO, VCO dan minyak Zaitun. Tambahkan pewarna dan pewangi tanpa

10
memberhentikan pengadukan sampai semua bahan tercampur homogen. Tuangkan
bahan yang telah tercampur homogen kedalam wadah pomade yang telah disediakan.

2.3 Bahan Baku Pomade


2.3.1 Refined Bleached Deodorized Palm (RBDPO)
Minyak yang berasal dari kelapa sawit ada 2 macam yaitu dari daging buah
yang dikeluarkan melalui perebusan dan pemerasan (pressan) dan dikenal dengan
minyak kasar atau Crude Palm Oil (CPO) sedangkan minyak yang berasal dari inti
sawit dikenal dengan minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO) (Fauzi, dkk,
2008).
Olein ialah produk hasil rafinasi dan fraksinasi Crude Palm Oil (CPO) yang
digunakan sebagai minyak goreng. Minyak yang mengandung asam lemak tidak
jenuh lebih banyak daripada asam lemak jenuh dikategorikan sebagai minyak yang
baik (Fanani dan Ningsih, 2018).
Kandungan utama dari minyak goreng adalah asam lemak yang tersusun dari
asam lemak jenuh (saturated fatty acids) seperti asam plamitat, asam stearat, dan
asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acids) seperti asam oleat (omega 9) dan
asam linoleat (omega 6). Asam lemak tak jenuh inilah yang mempunyai ikatan
karbon rangkap yang mudah terurai serta bereaksi oleh senyawa lain hingga
mendapatkan komposisi stabil berupa asam lemak jenuh. Terdapat kandungan lemak
di dalam minyak goreng yang memiliki manfaat mencegah rambut rusak. Lemak
memiliki peranan penting untuk melembapkan sekaligus melindungi rambut agar
tidak rusak akibat terlalu kering. kandungan asam lemak dapat dilihat pada Tabel 2.2

11
Tabel 2. 2 Kandungan asam lemak RBDPO

No. Asam Lemak Jumlah (%)


1 Miristat 1,1-2,5
2 Palmitat 40-46
3 Stearat 3,6-4,7
4 Oleat 39-45
5 Linoleat 7-11
Sumber : Eckey, S.W. (1955) dalam Mukarromah (2017)

2.3.2 Virgin Coconut Oil (VCO)


Tanaman kelapa merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang
diperoleh dari hasil olahan daging buah kelapa tua yang segar. Hampir dari semua
bagian pada kelapa dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut (Dai
dan Asnawi, 2018) Buah kelapa yang terdiri atas sabut, tempurung, daging buah dan
air kelapa tidak ada yang terbuang dan dapat dibuat untuk menghasilkan produk
industri, antara lain sabut kelapa dibuat keset, sapu, dan matras.
Minyak kelapa merupakan salah satu produk turunan dari daging kelapa yang
diproduksi oleh industry-industry kecil dan menengah. Menurut (Hansang et al. 2022)
Kandungan kelapa pada daging kelapa tua sekitar 33-35%. VCO diolah dari daging
buah kelapa segar dan proses pembuatannya dilakukan pada suhu yang relatif rendah.
Beberapa metode yang saat ini banyak digunakan dalam pembuatan VCO adalah:
metode pemanasan bertahap, metode pemancingan minyak dan metode fermentasi
(Susilowati, 2009). Metode pemanasan bertahap dilakukan dengan memanaskan
santan pada suhu < 90 ºC kemudian minyak yang diperoleh dipanaskan kembali
dengan suhu rendah.
Minyak kelapa memiliki manfaat untuk mempercepat pertumbuhan rambut.
Sebab, di dalam minyak kelapa mengandung asam lemak yang berfungsi untuk
menyehatkan kulit kepala serta membantu merangsang pertumbuhannya.
Asam lemak ini memiliki peran dalam meningkatkan sirkulasi darah ke kulit kepala,

12
sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan rambut dan mencegahnya dari
kerontokan. Kandungan asam lemak yang terkandung didalam VCO dapat di lihat
pada tabel 2.3.

Tabel 2. 3 Kandungan asam lemak VCO

No. Asam Lemak Jumlah (%)


1 Laurat 44-52
2 Miristat 13-19
3 Palmitat 7,5-10,5
4 Arakidat 0-0,4
4 Stearat 1-3
5 Oleat 5-8
6 Linoleat 1,5-2,5
Sumber: (Maulinda et al., 2018).

2.3.3 Minyak Zaitun


Minyak zaitun memiliki manfaat antara lain sebagai sumber squalene, dan
kaya antioksidan. Minyak zaitun mengandung senyawa seperti fenol, tokoferol,
sterol, pigmen, dan squalene, yang berperan penting dalam kesehatan. Salah satu
komponen terpenting minyak zaitun adalah tokoferol (vitamin E), yang terdiri
tokoferol alfa, beta, gama, dan delta. Jenis alfa paling tinggi konsentrasinya hampir
mencapai 90 persen dari total tokoferol. Karena itu, minyak ini sangat ideal sebagai
antioksidan (Kinanthi, 2009).

13
Minyak zaitun adalah minyak yang didapat dari buah zaitun (Olea Europaea)
yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan rambut. Manfaat yang bisa diperoleh
dari minyak zaitun di antaranya yaitu mengangkat kotoran pada rambut, mengatasi
kulit kepala kering, melembapkan rambut, mengatasi rambut yang susah diatur,
mengatasi rambut patah dan bercabang, mengurangi ketombe, menguatkan rambut,
mencegah kerontokan, menghilangkan gatal pada rambut, merawat kulit kepala, dan
memperhalus rambut (Kinanthi, 2009). Jimenez-lopez (2020), menyatakan
kandungan asam lemak di dalam minyak zaitun dapat dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2. 4 Kandungan asam lemak minyak zaitun

No. Asam Lemak Jumlah (%)


1 Asam Mitristat 0,05
2 Asam Palmitat 9,4-19,5
3 Asam Stearat 1,4-3
4 Asam Arakidat 0,3-0,4
5 Asam Oleat 63,1-79,7
6 Asam Linoleat 6,6-14,8
Sumber: (Jimenez-lopez, 2020)

2.3.4 Castor Oil (Minyak Jarak)


Castor oil atau minyak jarak merupakan trigliserida dari berbagai asam-asam
lemak. Beberapa diantaranya adalah asam ricinoleat, asam oleat, asam linoleat, asam
palmitat, asam stearat, dan dihidroksi stearat (Ismarani et al., 2011). Castor Oil
adalah minyak nabati yang diperoleh dari biji tanaman jarak melalui proses ekstraksi,
yang merupakan cairan kuning, sedikit kental yang memiliki bau lemak alami. Castor
oil dikenal sebagai salah satu pelembab dan memberikan efek klimis alami terbaik
saat ini, selain itu bermanfaat untuk melembutkan kulit dan rambut. (Ahmad, et al.,
2020). Ogunniyi (2006), menyatakan kandungan asam lemak dalam castor oil bisa
dilihat dalam Tabel 2.5.

14
Tabel 2. 5 Kandungan asam lemak castor oil (minyak jarak)

No. Asam Lemak Jumlah (%)


1 Ricinoleat 89
2 Palmitat 1
3 Oleat 2
4 Linoleat 4,2
6 Stearat 1
Sumber: (Ogunniyi, 2006)
2.3.5 Beeswax
Beeswax atau yang dikenal dengan lilin lebah adalah suat zat lilin yang dapat
mengemulsi antara minyak dengan air. Beeswax digunakan dalam pembuatan pomade
karena memliki kandungan dan manfaat yang berguna untuk rambut dan beeswax
terbuat dari bahan alami. Malam lebah (beeswax) dihasilkan lebah dari genus Apis.
Malam lebah (beeswax) diekskresikan dari kelenjar lilin lebah itu sendiri. Lebah
madu menggunakan malam lebah (beeswax) untuk membuat konstruksi sisiran.
Malam lebah (beeswax) murni akan berwarna putih, tetapi akan menjadi kuning
karena kontaminasi malam lebah dengan serbuk sari bunga yang dibawa oleh lebah.
Malam lebah (beeswax) yang berwarna kuning adalah yang paling tersedia di
pasaran. Malam lebah (beeswax) memiliki zat stabil dan kimia kompleks.
Mengandung ester dari asam lemak tinggi, alkohol rantai panjang, pigmen serbuk
sari, propolis dan lain sebagainya (Mishra, et al. 2017).

2.3.6 Petroleum Jelly


Petroleum jelly adalah hasil sampingan berupa lilin dari proses pengolahan
minyak bumi. Lilin atau wax ini kemudian di distilasi vakum menjadi jelly yang
disebut petroleum. Dalam temperatur ruangan, petroleum berubah menjadi semi
padat. Bahan ini memiliki kandungan hidro karbon yang tidak berbau (Julaiha, 2003).

15
Julaiha (2003), menyatakan awalnya petroleum dipasarkan sebagai salep luka
bakar tetapi sebenarya lebih bermanfaat menghindari kontaminasi atau infeksi dari
luka bakar terbuka. Dalam perkembangan petroleum jelly dapat digunakan sebagai
bahan dasar kosmetik. Dalam pembuatan pomade yang akan dilakukan, manfaat
petroleum jelly ini untuk pelembab dan membuat tekstur pomade menjadi lembut,
dan kental, bila terlalu banyak digunakan, petroleum akan merusak kandungan murni
pada beeswax.

2.3.7 Microwax (Microcrystalline wax)


Microcrystalline wax adalah campuran padatan halus, hidrokarbon alifatik
jenuh, dan diproses dengan de-oiling certain fraction dari proses penyulingan
petroleum. De-oiling certain fraction adalah proses pengurangan jumlah minyak cair
yang terkandung didalam lilin padat melalui proses pemanasan perlahan lahan
sehingga menetes keluar atau dapat juga dengan penggunaan pelarut.
Microcrystalline wax berbeda dengan sulingan paraffin wax dalam struktur
molekulnya lebih bercabang dan rantai hidrokarbon yang panjang (berat molekul
yang lebih besar). Oleh karena itu struktur microcrystalline wax jauh lebih halus
daripada paraffin wax, dan secara langsung berdampak banyak pada sifat fisiknya.
Microcrystalline wax lebih keras, lebih elastis dan umumnya memiliki titik lebur
yang lebih tinggi dari pada paraffin wax. Struktur kristal yang halus juga
memungkinkan microcrystalline wax untuk mengikat minyak, dan mencegah cairan
keluar dari komponen (The International Group, 2015).

2.3.8 Pewarna
Pewarna pada pomade dibagi menjadi dua, yaitu pewarna alami dan pewarna
sintetis. Pewarna alami lebih aman jika dibandingkan dengan pewarna sintetis, tetapi
kekuatan pewarnanya lebih lemah, tidak tahan cahaya dan pembuatannya sulit.
Intensitas warna zat sintetis lebih kuat tetapi memiliki derajat toksisitas yang perlu
diperhatikan. Toksisitas dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu zat pewarna yang hanya

16
boleh digunakan di dalam kosmetik dan makanan, hanya digunakan pada kosmetik,
dan hanya digunakan pada kosmetik untuk pemakaian luar (Tranggano dan Latifah,
2007). Pewarna ditambahkan pada proses pembuatan minyak rambut pomade untuk
menghasilkan produk yang beraneka warna, bahan pewarna yang digunakan adalah
berupa bahan pewarna untuk kosmetik (Khairiah, 2015).

2.3.9 Pewangi
Pada umumnya parfume yang digunakan dalam pembuatan pomade adalah
minyak esensial (essential oil) dan bibit parfume. Minyak esensial merupakan bahan
yang sensitif terhadap panas, sehingga harus ditambahkan pada temperatur yang
rendah. Pencampuran antara parfume dengan sample harus tetap dengan komposisi
yang sewajarnya. Karena apabila parfume yang diberikan itu terlalu banyak atau
berlebihan, maka dapat menimbulkan masalah pada kulit kepala. Menurut (Rieger
2000) Minyak ini biasanya digunakan dalam jumlah yang kecil sehingga tidak
menyebabkan iritasi.

2.4 Pengujian Kualitas Pomade


2.4.1 Uji Organoleptik
Uji organoleptik dilakukan secara visual dan dilihat secara langsung bentuk,
warna, tekstur dan bau dari sampel pomade yang dibuat. Menurut Farmakope
Indonesia edisi III, syarat sebuah formulasi pomade berbentuk krim harus
mengandung air tidak kurang dari 60% serta memiliki bentuk semi padat yang lembut
(Departemen Kesehatan, 1979).
Warna merupakan visualisasi suatu produk yang langsung terlihat lebih
dahulu dibandingkan dengan variabel lainnya. Warna secara langsung akan
memengaruhi persepsi panelis. Menurut Winarno (2002), secara visual faktor warna
akan tampil lebih dahulu dan sering kali menentukan nilai suatu produk.

17
Tekstur produk merupakan parameter penting untuk berbagai jenis produk.
Tekstur merupakan salah faktor yang menentukan mutu produk makanan. Kisaran
mutu dalam produk pangan sangatlah luas, dan berawal dari kualitas pangan yang
buruk (Yuwono, 2014). Penelitian Rahayu (2004) menyebutkan bahwa penambahan
malam lebah kuning dalam krim tangan dan badan dapat meningkatkan viskositas
dan kestabilan emulsi.
Uji bau bertujuan untuk melihat kemampuan panelis dalam mengenali dan
membedakan rasa dasar dan aroma sederhana. Penelitian Rahayu (2004) peningkatan
konsentrasi 19 malam lebah yang ditambahkan pada formulasi krim tangan tidak
mengubah kesukaan panelis terhadap bau.

2.4.2 Uji pH
Uji pH dilakukan pada suhu kamar (25 ℃-30 ℃). pH pomade mendekati pH
rambut dan minyak pada kulit kepala manusia (sebum) yaitu 4,5 - 5,5 (BPOM RI,
2011).

18
BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat


Penelitian ini di lakukan di Laboratorium Kimia, Teknik Pengolahan Sawit
Politeknik Kampar. Waktu penelitian dimulai pada bulan Oktober 2023 sampai bulan
Februari 2024, dari penelusuran Jurnal, percobaan di laboratorium, dan dalam
penyusunan Tugas Akhir.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah hotplate, mixer (mesin
pengaduk), timbangan analitik, gelas piala, gelas ukur, pipet tetes, spatula, batang
pengaduk, thermometer, wadah pomade, furnace, pipa kapiler, melting point.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah RBDPO, VCO, Minyak
zaitun, beeswax, petroleum jelly, microwax, castor oil, pewangi, pewarna.

3.3 Metode Percobaan


Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap, yaitu tahap yang pertama pembuatan
pomade. Tahap kedua analisis atau pengujian pomade yang di hasilkan. Diagram alir
tahap proses pembuatan pomade dapat dilihat pada gambar 3.1.

3.3.1 Pembuatan Pomade


Pertama timbang beeswax, petroleum jelly, microwax, dan castor oil sesuai
pada variabel tetap dan masukan ke dalam gelas piala 500ml. Panaskan campuran
bahan diatas hotplate dengan suhu tetap dijaga 500C, dan pengadukan dengan mixer
200 rpm selama 30 menit. Timbang RBDPO dan VCO sesuai pada tabel variabel
bebas pada gelas piala 50 ml, dan minyak zaitun sesuai variabel tetap. Setelah
campuran bahan homogen tambahkan formula RBDPO, VCO, dan minyak zaitun.

19
Tambahkan pewangi dan pewarna sesuai pada tabel variabel tetap, tanpa
memberhentikan pengadukan menggunakan mixer dengan kecepatan 200 rpm sampai
semua bahan tercampur hingga homogen. Tuangkan bahan yang telah tercampur
hingga homogen kedalam wadah pomade yang telah disediakan. Lakukan pembuatan
pomade untuk variabel berikutnya dengan prosedur yang sama. Setelah semua
prosedur telah selesai, lakukan pengujian sesuai parameter yang telah ditentukan.

Beeswax Microwax
Petroleum jelly Castor oil

Pencampuran tahap 1 suhu 500


selama 30 menit

Pengadukan kecepatan 200


rpm
Pencampuran RBDPO,
Pewangi
VCO, Minyak Zaitun
Pewarna

Pencampuran tahap 2 suhu


500C hingga homogen

Pomade

Analisis karakteristik pomade

Gambar 3. 1 Diagram Alir Proses Pembuatan Pomade

20
3.3.2 Rancangan Percobaan
Pada penelitian menggunakan Rancangan Penelitian dengan menggunakan
beberapa variabel, yaitu variabel bebas dan variabel tetap. Formula bahan baku dapat
dilihat pada tabel 3.1 dan tabel 3.2.

Tabel 3. 1 Variabel Bebas

No. RBDPO VCO Total


1. 0% (0 gr) 10% (20 gr) 10 % (20 gr)
2. 2,5% (5 gr) 7,5% (15 gr) 10 % (20 gr)
3. 5% (10 gr) 5% (10 gr) 10 % (20 gr)
4. 7,5% (15 gr) 2,5% (5 gr) 10 % (20 gr)
5. 10% (20 gr) 0% (0 gr) 10 % (20 gr)

Tabel 3. 2 Variabel Tetap

No. Bahan Massa Persentasi


1. Beeswax 60 gr 30 %
2. Petroleum Jelly 50 gr 30 %
3. Castor oil 30 gr 10 %
4. Microwax 20 gr 10 %
5. Minyak Zaitun 10 gr 5%
6. Pewangi 5 gr 2,5 %
7. Pewarna 5 gr 2,5 %
Jumlah 180 gr 90%

3.3.3 Pengujian Pomade


Syarat mutu analisis pengujian pomade berdasarkan SNI 06-2578-1992,
terhadap beberapa parameter yaitu: uji pH, kadar abu, dan titik cair. Selain itu
dilakukan juga uji organoleptik (uji sensori) terhadap warna, tekstur, dan aroma. Cara
kerja dan hasil pengujian Pomade dapat dilihat dilampiran 1 dan 2.

21
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Proses Pembuatan Pomade


Pada penelitian ini bertujuan untuk memproduksi dan mengetahui kualitas
pomade dari RBDPO dan VCO serta memperoleh formula pomade terbaik dari
minyak sawit. Pomade yang dibuat dalam penelitian ini yaitu jenis oil based pomade
atau pomade dengan dasar minyak. Dalam hal ini minyak yang digunakan yaitu
minyak sawit yang sudah mengalami pemucatan (RBDPO). RBDPO memiliki
kandungan asam palmitat dan oleat yang dapat mencegah terjadinya rambut kering,
dan dapat menutrisi lapisan luar rambut, sehingga lebih halus dan sehat. selain itu
digunakan minyak lain untuk meningkatkan kualitas serta manfaat terhadap rambut
seperti VCO yang mengandung asam laurat dapat meluruskan, melembutkan, dan
menjaga kelembapan rambut. Minyak zaitun yang mengandung oleat dapat
merangsang pertumbuhan rambut, melembabkan rambut, dan mencegah terjadinya
rambut kering, dan minyak jarak (castor oil) yang memiliki kandungan asam
ricinoleat dapat membantu mencegah rambut rontok.
Tahapan proses pembuatan pomade ini dilakukan dengan cara pencampuran
bahan, pemanasan dan pengadukan. Saat dilakukan pemanasan dan pencampuran
bahan suhu harus dijaga pada suhu 500C agar bahan tetap mencair, jika suhu tidak
dijaga maka bahan akan mengeras dalam suhu ruang. Apabila suhu terlalu tinggi
dapat menyebabkan bahan akan menjadi gosong. Pada penelitian ini terdapat dua fase
pencampuran bahan. Fase pertama penambahan beeswax yang berfungsi sebagai
pengeras. Penambahan petroleum jelly yang berfungsi sebagai pelembut tekstur.
Microwax untuk mengikat minyak (emulsifier), dan mencegah cairan keluar dari
komponen. Bahan lainnya castor oil yaitu berfungsi sebagai pelembab rambut dan
memberikan efek klimis pada rambut. Dengan menjaga suhu tidak terlalu tinggi.
Selanjutnya fase kedua ditambahkan RBDPO, VCO, minyak zaitun yang merupakan
bahan baku utama pembuatan pomade oil based juga memliki berbagai manfaat

22
seperti mencegah terjadinya rambut kering, mengatasi masalah ketombe,
melembutkan rambut, mengatasi rambut bercabang dan untuk menjaga kesuburan
rambut. Kemudian yang terakhir penambahan pewangi dan pewarna. Pewangi
berguna untuk memberi kesan aroma khas pada pomade dan pewarna sebagai daya
tarik agar memberi kesan warna yang diinginkan. Pomade yang dihasilkan pada
percobaan ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Variabel 1 Variabel 2 Variabel 3 Variabel 4 Variabel 5

Gambar 4. 1Variabel pomade berbahan baku RBDPO dan VCO

4.2 Karakteristik Pomade dari Minyak RBDPO dan VCO


Pengujian penelitian mutu pomade meliputi uji pH berdasarkan (BPOM RI,
2011). Uji kadar abu, dan titik cair, Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI)
tahun 1992, selain ini juga dilakukan uji sensori (uji organoleptik) terhadap warna,
tekstur, dan aroma.

4.2.1 Uji pH
Uji pH bertujuaan untuk mengetahui nilai pH suatu sediaan pomade apakah
dapat diterima oleh kulit. pH rambut dan minyak kulit kepala manusia (sebum)
berkisar antara 4,5 hingga 5,5.
Pemeriksaan pH dilaksanakan untuk memeriksa kadar keasaman produk
pomade guna menjamin produk tersebut tidak memicu iritasi pada kulit kepala. Jika
kadar keasaman terlalu tinggi, kulit akan mengalami iritasi, sedangkan jika terlalu
rendah, kulit akan mengalami pengelupasan (Mujiono dan Ismedsyah, 2020; Riyanta
dan Amananti, 2020). Berikut adalah hasil pengujian pH dapat dilihat pada tabel 4.1.

23
Tabel 4. 1 Pengujian Terhadap pH

No Variabel Bahan pH SNI 06-2578-1992 BPOM RI 2011


1 Variabel 1 5 Netral
2 Variabel 2 5 Netral
3 Variabel 3 5 Netral 4,5-5,5
4 Variabel 4 5 Netral
5 Variabel 5 5 Netral

Berdasarkan pH yang dimiliki pada produksi pembuatan pomade memiliki


tingkat keasaman yang sama, dimana pH yang dimiliki pada masing- masing variabel
bernilai 5. Dan dapat disimpulkan bahwa pomade yang diproduksi tidak sesuai
dengan SNI 06-2578-1992. Akan tetapi bila menurut BPOM RI 2011 pH yang baik
adalah ph yang sama atau mendekati ph rambut dan minyak pada kulit kepala yang
berkisar antara 4,5 – 5,5, sehingga pH pomade yang diperoleh sudah memenuhi
persyaratan dari BPOM RI 2011.
Pomade yang memiliki pH dibawah 4,5 dapat mengakibatkan iritasi pada kulit
kepala, sedangkan pomade yang memiliki pH diatas 5,5 dapat membuat rambut
menjadi kering.

4.2.2 Kadar Abu


Uji kadar abu dilakukan untuk memberikan gambaran kandungan mineral
internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya sediaan
pomade. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui persentase komponen anorganik
atau mineral yang terdapat pada suatu bahan, yang mana bahan yang dapat diabukan
tersebut berarti bahan tersebut memiliki komponen alami atau mineral, minyak
rambut pomade diabukan menggunakan furnace dengan suhu tinggi hingga minyak
rambut pomade tersebut menjadi abu, kemudian hasil abu tersebut ditimbang

24
beratnya (Budiman, 2008). Hasil pengujian kadar abu pada percobaan ini dapat
dilihat dilampiran dan gambar berikut ini gambar 4.2.

0,018

0,015
Kadar Abu (%)

0,0119 0,0119
0,012 0,0099
0,0099 0,0099
0,009

0,006

0,003

0
Variabel 1 Variabel 2 Variabel 3 Variabel 4 Variabel 5

Variabel Pomade bahan baku RBDPO dan VCO

Gambar 4. 1 Pengaruh rasio formula RBDPO dan VCO terhadap kadar abu
pomade
Berdasarkan gambar 4.1 hasil pengujian dari kelima variabel pomade kadar
abu yang dihasilkan 0,0099-0,0119%. Kandungan abu yang lebih tinggi menandakan
banyak mineral yang terkandung dalam sampel, mineral yang berlebih tidak
disarankan ada di dalam pomade. Berdasarkan hasil diatas untuk pengujian kadar abu
pada Variabel 1,2,3,4, dan 5 sangat memenuhi persyaratan SNI 06-2578-1992
pomade yaitu dengan hasil maksimal 0,1%.

4.2.3 Titik Cair


Titik cair merupakan suhu ketika fase padat dan cair sama-sama berada dalam
kesetimbangan. Titik cair bertujuan untuk mengetahui temperatur dimana sampel
menjadi cair. Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya zat tersebut
mencair adalah kandungan bahan, banyaknya sampel, dan pengemasan dalam kapiler
(Ketaren, 2003). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh titik
leleh pada pomade dapat di lihat pada gambar 4.2.

25
48
47 46 46
Titik Cair (0C) 46 45 45 45
45
44
43
42
41
40
Variabel 1 Variabel 2 Variabel 3 Variabel 4 Variabel 5

Variabel Pomade bahan baku RBDPO dan VCO

Gambar 4. 2 Pengaruh rasio formula RBDPO dan VCO terhadap titik cair
pomade
Berdasarkan gambar 4.2 dapat dilihat titik cair dari seluruh sampel nilainya
dari suhu 45°C sampai suhu 46°C. Pomade dengan variabel 4 dan 5 memiliki titik
cair lebih tinggi dibandingkan dengan titik cair variabel 1, 2, dan 3 karena kandungan
asam stearat pada RBDPO dan VCO mempengaruhi titik cair pomade. Farmakope
(1979) menyatakan bahwa titik cair asam stearat 54°C. Semakin banyak jumlah
kandungan asam stearat maka titik cair pomade semakin tinggi (Hilmarni, 2021).
Kandungan asam oleat juga berpengaruh terhadap titik cair pomade. Menurut Sulastri
(2011) asam oleat memiliki titik cair yang rendah, yaitu 16°C. Kandungan asam oleat
yang berjumlah banyak sehingga titik cair pada pomade lebih rendah (Sandri dkk,
2016). Syarat mutu pengujian pomade berdasarkan SNI 06-2578-1992 yaitu, 38°C-
48°C, yang berarti pomade dengan bahan baku RBDPO dan VCO ini telah sesuai
SNI 06-2578-1992 dengan hasil 45°C-46°C.

26
4.3 Uji Organoleptik
Uji organoleptik atau uji indra atau uji sensori merupakan cara pengujian
dengan menggunakan indra manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya
penerimaan terhadap produk. Pengujian organoleptik mempunyai peranan penting
dalam penerapan mutu. Hasil uji Organoleptik warna, tekstur, dan aroma pada
pomade yang didapat dari penilaian 30 orang panelis yang sesuai dengan kriteria.

4.3.1 Warna
Warna merupakan salah satu parameter mutu secara fisik yang tentukan.
Warna juga menjadi faktor utama yang dipertimbangkan manusia dalam memilih
suatu produk. Pewarna yang digunakan adalah warna merah muda dengan kadar 2,5%
dari keseluruhan bahan sehingga dihasilkan produk yang memiliki warna orange.
Hasil pengujian kadar abu pada percobaan ini dapat dilihat dilampiran dan gambar
berikut ini.

90 83
80
77 77
Jumlah Responden (%)

80 73
70
60
50
40
30 27
23
20 20
20 17

10 3
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0
Variabel 1 Variabel 2 Variabel 3 Variabel 4 Variabel 5

Sangat Tidak Suka Tidak Suka Cukup Suka Suka Sangat Suka

Variabel Pomade bahan baku RBDPO dan VCO

Gambar 4. 3 Hasil Uji Organoleptik Tingkat Kesukaan Pada Warna

27
Hasil keselurhan organoleptik warna pada semua variable, yaitu variabel 1
80%, variabel 2 80%, variabel 3 83%, variabel 4 77%, variabel 5 73%. Tanggapan
terbaik pada parameter penilaian organoleptik tekstur adalah variabel 3 dengan hasil
ratarata 83%

4.3.2 Tekstur
Tekstur adalah nilai raba pada suatu permukaan, suatu permukaan mungkin
kasar, halus, keras, lunak, kasar atau lembut. Tekstur merupakan karakter nilai raba
yang bisa dirasakan secara fisik.

80
67
Jumlah Responden (%)

70 63
60
60 57
50
50 47
40 40
40 37
33
30

20

10 3 3
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0
Variabel 1 Variabel 2 Variabel 3 Variabel 4 Variabel 5

Sangat Tidak Suka Tidak Suka Cukup Suka Suka Sangat Suka

Variabel Pomade bahan baku RBDPO dan VCO

Gambar 4. 4 Hasil Uji Organoleptik Tingkat Kesukaan Pada Tekstur

Hasil pengujian keseluruhan organoleptik tekstur pada semua variabel, yaitu


variabel 1 60%, variabel 2 63%, variabel 3 67%, variabel 4 60%, variabel 5 50%.
Tanggapan terbaik pada parameter penilaian organoleptik tekstur adalah variabel 3
dengan hasil rata-rata 67%.

28
4.3.3 Aroma
Aroma adalah wewangian yang dirasakan oleh hidung akibat adanya
rangsangan yang diberikan sehingga tercium oleh syaraf-syaraf olfaktori dalam
rongga hidung. Aroma atau bau merupakan hal subyektif serta tak dapat diukur,
karena setiap individu mempunyai sensitivitas yang berbeda. Aroma yang digunakan
pada produk ini yaitu fragrance apple.

90 83
80 80 80
80
Jumlah Responden (%)

70
60
60
50
40
30 23
20
20 17 17 17
10
10 7
3 3
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0
Variabel 1 Variabel 2 Variabel 3 Variabel 4 Variabel 5

Sangat Tidak Suka Tidak Suka Cukup Suka Suka Sangat Suka

Variabel Pomade bahan baku RBDPO dan VCO

Gambar 4. 5 Hasil Uji Organoleptik Tingkat Kesukaan Pada Aroma

Hasil pengujian keseluruhan organoleptik tekstur pada semua variabel, yaitu


variabel 1 83%, variabel 2 90%, variabel 3 97%, variabel 4 80%, variabel 5 83%.
Hasil yang mendapat tanggapan terbaik dari panelis adalah variabel 3 dengan nilai
rata-rata 97%. Berdasarkan hasil keseluruhan pengujian organoleptik yan telah
dilakukan, menunjukan variabel 3 memiliki penilaian tertinggi diantara variabel
lainnya pada uji organoleptik. Dengan hasil kesukaan warna 83%, tekstur 67%, dan
aroma 97%.

29
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Proses pembuatan pomade ini dilakukan dengan tahapan pencampuran bahan
PKO, VCO, beeswax, petroleum jelly, castor oil, minyak zaitun, microwax,
pewangi dan pewarna. Pemanasan dengan suhu 80°C , dan pengadukan dengan
kecepatan 200 rpm.
2. Formula terbaik terdapat pada variabel 3 dengan hasil uji reaksi terhadap pH 5,
kadar abu 0,0099%, titik cair 45°C, dan uji organoleptik warna 83%, tekstur
67%, aroma 97%.
3. Pomade yang dihasilkan sesuai dengan SNI 06-2578-1992. Dengan hasil
pengujian reaksi terhadap kertas pH 5, kadar abu 0,0099%-0,0119%, dan titik
cair 45°C-46°C dan uji organoleptik meliputi parameter warna, tekstur, dan
aroma pada semua variabel dengan rata rata, yaitu variabel 1 (warna 80%, tektur
60%, aroma 83%), variabel 2 (warna 80%, tekstur 63%, aroma 90%), variabel 3
(warna 83%, tekstur 67%, aroma 97%), variabel 4 (warna 77%, tekstur 60%,
aroma 96%), variabel 5 (warna 73%, tekstur 50%, aroma 83%).

5.2 Saran
Sebaiknya dilakukan pengujian lanjutan terhadap judul “Pengaruh
Perbandingan RBDPO dan VCO Terhadap Karekteristik Pomade” pengujian
arsen , dan cemaran logam (Pb, Cu, Hg).

30
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad MH, Ibrahim WA, Sazali J, Izhab I, Hassan Z., 2020. Thermal process of
castor and plant based oil. Indones J Chem. 20(1):238–40.
Aminuloh, Faisal., 2016. Pengembangan formulasi herbal cousmeceutical pomade
dari minyak kemiri sebagai penyubur rambut, Bandung: Sekolah Tinggi
Farmasi Bandung, 1-12.
Auliasari, N., Akmal, A., & Efendi, C., 2019. Formulasi Dan Uji Stabilitas Fisik
Sediaan Pomade Yang Mengandung Minyak (Olea europaea). Jurnal Ilmiah
Farmako Bahari, 9(2), 45-561.
Badan Pusat Statistika, “Produksi, Konsumsi, Ekspor dan Impor RBD Olein,” 2018.
[Online]. Available: https://www.bps.go.id/all_newtemplate.php.
Badan Standardisasi Nasional., 1992. Minyak Rambut Jenis Pomade (SNI 06- 2578-
1992). BSN. Jakarta.
Barigina, E dan Zahida, 2001, Perawatan dan Penataan Rambut, Adicita, Jakarta.
(BPOM RI, 2011). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor:
HK. 03.1.23.07.11. 6662 Tentang Analisis Kosmetika. Jakarta.
Budiman, H., 2008. Uji Stabilitas Kosmetika,. Jakarta A UI.
Departemen Kesehatan RI, 1979, Farmakopi edisi III, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI, 1985, Formularium Kosmetika Indonesia, Jakarta.
Dewi, D. P.M.S., 2016. Pengaruh Konsentrasi Pengawet Natrium Benzoat Terhadap
Karakteristik, Stabilitas Fisika & pH Pada Water Based Pomade Yang
Mengandung Ekstrak Aloe Vera. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Universitas Surabaya, 5(1), 1–12.
Eckey, S.W. (1955). Vegetable fat and oil. dalam Mukarromah (2017): Komposisi
Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit Dan Minyak Inti Kelapa Sawit.
Fadlisyah T. 2023. Pengaruh Perbandingan PKO dan VCO Terhadap Kualitas
Pomade. unpload.

31
Fanani N., Ningsih E. 2018. Analisis Kualitas Minyak Goreng Habis Pakai yang
Digunakan oleh Pedagang Penyetan didaerah Rungkut Surabaya Ditinjau dari
Kadar Air dan Kadar Asam Lemak Bebas (ALB). Jurnal IPTEK – Volume 22
Nomer 2, Desember 2018: 59-66. DOI: 10.31284/j.iptek.2018.v22i2 .436
Farmakope Indonesia., 1979. Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta. 6-7, 93-94, 265, 338-339, 691.
Fauzi, Y., Y, E, Widyastuti., I, Satyawibawa., dan R. Hartono. 2008. Kelapa sawit
Budi Daya Pemanfaatan Hasil & Limbah Analisis Usaha & Pemasaran. Edisi
Revisi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hilmarni., Suci Fauzana., dan Riki Ranova., 2021. Formulasi Sediaan Lilin
Aromaterapi dari Ekstrak Kecombrang (Etlingera elatior), Sereh Wangi
(Cymbopogon nardus L), dan Cengkeh (Syzygium Aromaticum). Journal Of
Pharmacy.
Ismarani, Muharam S, Nomosatryo S., 2011. Karakterisasi dan Komposisi Biodiesel
dari Minyak Jarak Pagar (jatropha curcas L .). Jurnal Agribisnis dan
Pengembangan Wilayah. 2(2):24.
Jimenez-lopez C, Carpena M, Lourenço-lopes C, Gallardo-gomez M, Lorenzo JM,
Barba FJ,. 2020. Bioactive Compounds and Quality of Extra Virgin Olive Oil.
Food 9(8):1–31.
Julaiha., 2003. Efektifitas Penggunaan White Petroleum Jelly Unuk Perawatan Iuka
Tekan Stage I di Ruang Dirawat Inap Siloham Hopitals Lippo Village.
Jakarta: Universitas Esa Unggul.
Kementrian Perindustrian. (2015). Ekspor Kosmetik Indonesia Rp 11 Triliun.
https://www.wartaekonomi.co.id. Diakses pada tanggal 3 Maret 2018
Ketaren, S., 1995. Pengantar Teknologi Atsiri. Balai Pustaka Jakarta.
Ketaren, S., 2003. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Khairiah, H., 2015. Penuntunan Praktikum Praktek Produksi I. Program Studi Teknik
Pengolahan Sawit, Bangkinang: Politeknik Kampar.

32
Kinanthi., 2009. Minyak Zaitun (Sumber Lemak Nabati),.Retrieved September Rabu,
2016, from http://kinanthidiah.multiply.com/journal/item/4.htm.
Lucida., 2008. Uji daya peningkat penetrasi virgin coconut oil (VCO) dalam basis
krim. Jurnal Sains & Teknologi Farmasi, 13 (1).
Mangoensoekarjo, S. dan H. Semangun., 2005. Manajemen Agrobisnis Kelapa
Sawit. Jakarta: Gadjah Mada University Press.
Mishra, A.K., Krishnapriya, N.V. Ramesh., 2017. Therapeutic uses bees wax in
ayurveda and its physico chemical analyses: a review. International Journal
Res.
Mujiono, R. A. and Ismedsyah., I. 2020. Formulasi Dan Uji Stabilitas Pomade Lidah
Buaya (Aloe vera var.chinensis), in Seminar Nasional Teknologi Komputer &
Sains (SAINTEKS), pp. 549–552.
Ogunniyi, D.S., 2006. Castor oil: A vital industrial raw material, Bioresour Technol.,
97 (9), 1086–1091.
Pontoh, J, & Buyung, N.T., 2011. Analisa Asam Lemak Dalam Minyak Kelapa
Murni (Vco) Dengan Dua Peralatan Kromatografi Gas. Jurnal Ilmiah Sains,
15(1).
Prasetyo, G., 2018. Pengaruh Persentase Penggunaan Malam Lebah (Beeswax)
Terhadap Mutu Organoleptik Pomade Propolis, Malang: Universitas
Brawijaya.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit., 2009. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit dan
Produk Turunannya. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.
R.H.V. Corley & P.B. Tinker., 2003. The Oil Palm (Fourth edition). WileyBlackwell.
ISBN 0-632-05212-0.
Rieger M.., 2000. Harry’s Cosmeticology 8th Edition. New York: Chemical
Publishing Co Inc.
Rindengan., 2007. Minyak Kelapa Murni: Pembuatan dan Pemanfaatan. Jakarta:
Swadaya.
Salirawati, Das., 2005. Kontekstual Sains Kimia SMP. Jakarta: Erlangga.

33
Sandri, Dwi., Fatimah, Erfan al dhani., Lisda Erlinda, 2016. Optimasi
PenambahanMinyak Atsiri Bunga Kamboja terhadap Lilin Aromaterapi dari
Lilin Sarang Lebah. Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol. 3 No.1.
Saputri, A.M., 2019. Pengaruh Peningkatan Volume Penjualan Kosmetik Impor
Tehadap Pendapatan Pedagang Kosmetik Lokal di Kota Palangkaraya.
Skripsi. IAIN Palangkaraya.
Setiaji, Bambang., dan Prayugo, Surip., 2006. Membuat VCO Berkualitas Tinggi,
Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Shafat, Y.A.S., 2015. Proses Pembuatan Pomade dari Minyak Kelapa dengan
Menggunakan Alat Screw Press. Skripsi: 7. Fakultas Teknik. Universitas
Diponegoro.
Sujadi, Hasibuan, H. A. & Rivani, M., 2017. Karakterisasi minyak selama pematagan
buah pada tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) varietas D X P
Simalungun. J. Pen. Kelapa Sawit, 25(2), 5970.
Sulastri., 2011. Uji Sifat Fisiko-Kimia dan Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Biji
Mahoni (Swietenia mahagoni (L). Jacq). Tesis. Fakultas MIPA. Universitas
Indonesia. Depok.
Tranggano, R.I.S. & Latifah, F., 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik,
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hal 90-92, 100-101.
Winarno, FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia. Jakarta.

34
LAMPIRAN

Lampiran 1. Prosedur Pembuatan Pomade

1. Uji pH
Syarat mutu Penentuan uji pH dilakukan berdasarkan acuan (BPOM RI, 2011)
yaitu 4,5 - 5,5
Prosedur Pengujian:
1. Tuangkan Pomade yang masih mencair dan panas kedalam wadah
2. Masukkan ketas ph kedalam wadah
3. Warna kertas pH akan Berubah
4. Samakan warna pada kertas dengan indicator pH

2. Uji Kadar Abu


Penentuan kadar abu untuk pengujian ini dilakukan berdasarkam acuan SNI
06- 2578-1992 kadar abu maksimal 0,1%.

Prosedur Pengujian:

1. Siapkan 5 cawan penguap.


2. Timbang cawan penguap dan dicatat.
3. Timbang bahan 5gr kedalam semua cawan penguap.
4. Masukan kelima cawan berisi bahan ke furenace selama 3 jam pada suhu 600 0C.
5. Keluarkan bahan masukan ke desikator, tunggu hingga dingin.
6. Timbang dan catat hasil pengujian kadar abu.

3. Uji Titik Leleh


Syarat mutu pengujian titik cair mengacu pada SNI 06-2578-1992 tentang
minyak rambut pomade dengan syarat mutu titik leleh 380C - 480C.

35
Prosedur pengujian:
1. Ambil bahan secukupnya.
2. Masukan bahan kedalam pipa kapiler.
3. Masukan pipa kapiler kedalam electrothermal.
4. Setting suhu electrothermal 2-5 di bawah titik cair bahan.
5. Kemudian tekan tombol GO TO. Tunggu sampai bunyi beep 3 kali.
6. Massukkan pipa kapiler berisikan sampel kedalam oven tepat ditengah
7. Tekan tombol enter sekali, masukkan angka range rate atau nilai kenaikan suhu
dengan kenaikan 10C, kemudian tekan GO TO
8. Amati perubahan sampel dimulai dari mulai mencair, mencair sebagian, dan
mencair seluruhnya. Setiap perubahan biarkan dengan menekan tombol GO TO
sebanyak 3 kali.
9. Jika bahan sudah mencair seluruhnya, hentikan pemanasan dengan menekan
tombol clear 2 kali. Kemudian tekan tombol GO TO untuk melihat rekaman.
10. Catat suhu titik cair sampel.

4. Uji Organoleptik
Pengujian organoleptik dapat memberikan indikasi penerapan mutu yang
diinginkan konsumen terhadap suatu produk. Hasil uji Organoleptik warna, bau, dan
tekstur pada pomade yang didapat dari penilaian 30 orang panelis yang sesuai dengan
kriteria.
Prosedur pengujian:
1. Panelis menuliskan identitas pada form pengujian.
2. Panelis atau responden diberikan produk yang akan di uji.
3. Panelis memberikan pernyataan mengenai penilaian terhadap produk dengan
jujur menggunakan indra dengan rentang nilai 1-5 dari sangat tidak baik sampai
dengan sangat baik.

36
Lampiran 2. Hasil Pengujian Pomade
1. Uji pH
No Variabel Bahan pH SNI 06-2578-1992 BPOM RI 2011

1 Variabel 1 5 Netral

2 Variabel 2 5 Netral

3 Variabel 3 5 Netral 4,5-5,5

4 Variabel 4 5 Netral

5 Variabel 5 5 Netral

2. Uji Kadar Abu


Perhitungan kadar abu

Berat (Gram)

No Data Variabel Variabel Variabel Variabel Variabel


1 2 3 4 5

1 Berat Cawan Kosong 25,3043 10,1672 18,6011 17,9932 14,3920

2 Berat Bahan 5,0023 5,0042 5,0031 5,0016 5,0028

Berat Cawan
3 25,3049 10,1678 18,6011 17,9932 14,3920
Dipanaskan

4 Berat Abu 0,0006 0,0006 0,0006 0,0005 0,0005

37
Rumus perhitungan:
Berat Abu
Kadar abu V1 (%) = Berat Bahan 𝑥 100
0.0006
= 5,0023 𝑥 100%

= 0,0119 %

3. Uji Titik Cair

No Variabel Bahan Titik Cair

1 Variabel 1 45

2 Variabel 2 45

3 Variabel 3 45

4 Variabel 4 46

5 Variabel 5 46

4. Uji Organoleptik
Pengujian organoleptik pada pomade oil based dari RBDPO dan VCO

Warna Tekstur Aroma


No
Responden
V V V V V V V V V V V V V V V
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1. Sangat Tidak Suka 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2. Tidak Suka 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0
3. Cukup Suka 20 20 17 23 27 40 37 33 40 47 17 10 3 20 17
4. Suka 77 80 83 77 73 57 63 67 60 50 88 83 80 80 60
5. Sangat Suka 3 0 0 0 0 3 0 0 0 0 3 7 17 0 23

38
Rumus nilai rata- rata uji organoleptik:
Jumlah Penilaian warna pomade
V1= 𝑥 100%
Jumlah Panelis

23
V1= 30 𝑥 100%

V1= 77%

Keterangan:

V1= Variabel 1 V3= Variabel 3 V5= Variabel 5

V2= Variabel 2 V4= Variabel 4

39
Lampiran 3. Dokumentasi

Prose pembuatan pomade

Pengujian kadar pH pomade Pengujian kadar abu pada pomade

40

Anda mungkin juga menyukai