Anda di halaman 1dari 18

Isolasi Sosial ( ISOS )

Januari 5, 2013 by Efra Dianto tagged Isolasi Sosial


BAB I
PENDAHULUAN

1. A.

Latar Belakang

Pada masa peradaban telah terdapat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa manusia sudah
mengenal dan mengobati gangguan jiwa. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya berbagai
tengkorak yang dilubangi di Negara Peru. Diperkirakan tengkorak tersebut adalah tengkorak
seorang penderita penyakit ayan atau seorang yang menunjukan perilaku kekerasan, tindakan
tersebut diharapkan dapat mengeluarkan roh jahat yang memasuki tubuh penderita. Usaha
pengobatan untuk mengusir roh tersebut dipengaruhi oleh sistem magik-keagamaan ini dapat
dipandang sebagai usaha untuk memakai pemikiran rasional.
Di Yunani, Hippocrates ( 460 357 SM ), yang sekarang dianggap sebagai bapak ilmu
kedokteran membantah anggapan bahwa penyakit ayan disebabkan oleh roh atau mahkluk
halus, tetapi karena adanya gangguan pada otak. Hippocrates juga menerangkan perubahan
perilaku pada gangguan mental disebabkan oleh perubahan hormon dan cairan tubuh yang
dapat menghasilkan panas, kering dan kelembaban. ( Riya dan Purwanto, 2009 halaman 5 ).
Menurut American Nurse Association ( ANA ), keperawatan jiwa adalah area khusus dalam
praktik keperawatan yang menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan
menggunakan diri sendiri sebagai cara terapeutik dalam meningkatkan, memepertahankan,
serta memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan mental masyarakat di mana klien
berada. Fokusnya
adalah penggunaan diri sendiri secara terapeutik, artinya perawat jiwa membutuhkan alat atau
media untuk melakukan perawatan. Alat yang digunakan selain keterampilan selain teknik
dan alat klinik, yang terpenting adalah menggunakan dirinya sendiri. Sebagai contoh gerak
tubuh, mimik wajah, bahasa, tatapan mata, pendengaran, sentuhan, nada suara, dan
sebagainya.
Sikap ini merupakan suatu sikap yang baik terhadap diri sendiri, yaitu tidak merasakan harga
diri yang rendah, tidak memiliki pemkiran negatif tentang kondisi kesehatan diri, dan selalu
optimis terhadap kemampuan diri. ( Farida dan Yudi, 2011 halaman 2 ).
Kemampuan individu dalam kelompok dan lingkungannya dalam berinteraksi dengan orang
lain sebagai cara untuk mencapai kesejahteraan, perkembangan yang optimal, dengan
menggunakan kemampuan mental yang dimilikinya ( kognisi, afeksi, relasi ) memiliki
prestasi individu serta kelompoknya konsisten dengan hukum yang berlaku. ( Australian
Health Minister, Mental health nursing Practice, 1996. dalam Yosep, 2011 halaman 1 ).

Kesehatan jiwa menurut Roshadi ( 1999 ) adalah kondisi seseorang yang terus tumbuh
berkembang dan mempertahankan keselarasan dalam pengendalian diri, terbebas dari stress
yang serius. ( dikutip Oleh Ade Herman, 2011 halaman 1 ).
Menurut WHO, masalah gangguan jiwa di seluruh dunia sudah menjadi masalah yang sangat
serius. WHO menyatakan paling tidak ada 1 dari 4 orang di dunia mengalami masalah
mental, diperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan kesehatan
jiwa. Permasalahan gangguan jiwa tidak hanya berpengaruh terhadap produktivitas manusia,
juga berkaitan dengan kasus bunuh diri. Temuan WHO menunjukkan, diperkirakan 873.000
orang bunuh diri setiap tahun. Lebih dari 90% kasus bunuh diri berhubungan dengan
gangguan jiwa seperti Depresi, Skizofrenia, dan ketergantungan terhadap alkohol. ( Febriani,
2008 ).
Berdasarkan data yang diperoleh penulis dari Rumah Sakit Khusus Duren Sawit Jakarta
Timur, bekerja sama dengan diklat keperawatan didapat data selama 6 bulan terkahir dari
bulan Januari 2012 sampai dengan Juni 2012, jumlah pasien sebanyak 340 orang yang
meliputi kasus : Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi sebanyak 277 orang ( 81,47 % ),
Isolasi Sosial sebanyak 27 orang ( 7,94 % ), Defisit Perawatan Diri sebanayak 7 orang ( 2,05
% ), Waham sebanyak 3 orang ( 0,88 % ), Harga Diri Rendah 0 orang ( 0 % ) dan Perilaku
Kekerasan sebanyak 26 orang ( 7,64 % ). Dilihat dari data di atas prevalensi Isolasi Sosial
sebanyak 27 orang, sehingga penulis perlu melakukan pendekatan yang lebih dalam kepada
klien dengan Isolasi Sosial.
Melihat data tersebut jika klien dengan isolasi sosial tidak diatasi akan menyebabkan
munculnya perilaku halusinasi yang diakibatkan dari perasaan tidak berharga yang dalami
oleh klien yang latar belakang penuh dengan permasalaahan, dapat menyebabkan klien makin
sulit mengembangkan hubungan sosial dengan orang lain dan lingkuangan, tidak
memperlihatkan kebersihan diri seperti personal hygiene dan nutrisi, aktivitas motorik
kurang.
Adapun peran perawat jiwa yang harus dilakukan meliputi : peran perawat promotif adalah
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan/menurunkan angka kesakitan dengan cara
memberikan penyuluhan tentang kesehatan, peran perawat preventiv adalah mengidentifikasi
prilaku khusus dan menghindari kegagalan peran, peran perawat kuratif adalah menyediakan
linkungan yang kondusif, memecahkan masalah, merawat kesehatan fisik/mencegah usaha
bunuh diri melalui terapi psikoterapi dan terapi medik, peran perawat rehabilitatif adalah
dengan mengikutsertakan klien dalam kelompok, mendorong tanggung jawab klien terhadap
lingkungan dan melatih keterampilan klien sehingga isolasi sosial dapat terkontrol dengan
baik.
Melihat data di atas , penulis tertarik dan berminat untuk membahas kasus Asuhan
Keperawatan pada Tn. S.K dengan Isolasi Sosial di ruang Dukuh Rumah Sakit Khusus Duren
Sawit Jakarta Timur .
1. B.

Tujuan
1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini agar penulis memperoleh gambaran
pengalaman langsung serta mampu memahami dan memberikan asuhan keperawatan pada
Tn. S.K dengan isolasi sosial dengan pendekatan proses keperawatan.

1. Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian pada Tn. S.K di Ruang Dukuh Rumah Sakit
Khusus Duren Sawit.
2. Mampu merumuskan diagnosa pada Tn. S.K di Ruang Dukuh Rumah Sakit
Khusus Duren Sawit.
3. Mampu merencanakan tindakan keperawtan pada Tn. S.K di Ruang Dukuh
Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
4. Mampu melaksanakn tindakan keperawatan pada Tn. S.K di Ruang Dukuh
Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
5. Mampu melakukan evaluasi pada Tn. S.K di Ruang Dukuh Rumah Sakit
Khusus Duren Sawit.
6. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus
yang terdapat di ruang Dukuh Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
7. Mampu mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat serta
mencari solusinya di ruang Dukuh Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
8. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Tn. S.K di ruang Dukuh
Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
9. C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penulisan karya tulis ilmiah ini adalah Asuhan Keperawatan pada Tn. S.K di
Ruang Dukuh Rumah Sakit Khusus Duren Sawit. Selama 4 hari,yang dimulai pada tanggal
19 Juli sampai dengan tanggal 21 Juli 2012.
1. D.

Metode Penulisan

Metode penulisan dalam karya tulis ilmiah ini adalah deskriptif dan metode kepustakaan.
Metode deskriptif pendekatan yang digunakan yaitu metode ilmiah yang bersifat
mengumpulkan data, menganalisa data serta menarik kesimpulan, dan studi kasus. Dalam
penulisan ilmiah ini, data didapat dengan cara : studi kepustakaan, yaitu penulis
menggunakan beberapa buku sebagai referensi dalam penysunan makalah ilmiah ini,
mengadakan observasi dan wawancara dengan Tn. S.K serta perawat ruangan, studi kasus,
yaitu dengan penerapan Asuhan Keperawatan serta langsung pada kasus dengan masalah
Isolasi Sosial, dan studi dokumentasi, yaitu mempelajari data-data klien dari rekam medik.
Dan selanjutnya disajikan dalam bentuk narasi yang akan menjadi bahan pembahasan.
1. E.

Sitematika Penulisan

Sistematika penulisan pada karya tulis ilmiah dengan Asuhan Keperawatan Tn. S.K dengan
Isolasi Sosial yang terdiri dari lima BAB yaitu :
BAB I : Pendahuluan terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Ruang Lingkup,
Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan. BAB II : Tinjauan Teori terdiri dari konsep
dasar meliputi Pengertian, Psikodinamika, Rentang Respon, Pengkajian Keperawatan,
Diagnosa Keperawatan, Intervensi Keperawatan, dan Evaluasi Keperawatan. BAB III :
Tinjauan Kasus terdiri dari Pengkajian, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan,
Implementasi, dan Evaluasi. BAB IV : Penutup terdiri dari Kesimpulan, dan Saran.
BAB II
TINJAUAN TEORI

Pada bab ini penulis akan menguraikan konsep dasar dan konsep asuhan keperawatan sebagai
tinjauan teoritis pada kasus yang akan penulis bahas.
1. A.

Pengertian

Kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gangguan interpersonal yang terjadi akibat
adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu
fungsi seseorang dalam hubungan sosial ( Depkes RI, 2000. Dikutip oleh Ade Herman, 2011
halaman 122 ).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami seseorang karena orang lain
menyatakan sikap yang negatif dan mengancam ( Towndsend, 1998. Dikutip oleh Farida dan
Yudi, 2011 halaman 122 ).
Menururt Keliat (1998), Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan
orang lain ( dalam Iyus Yosep, 2011 halaman 229 ).
Menurut Stuart dan Sundeen (1998), kerusakan interaksi sosial adalah satu gangguan yang
tidak fleksibel, tingkah maladaptif, dan mengganggu individu dalam hubungan sosialnya (
dalam Ade Herman, 2011 halaman 122 ).
1. B.

Psikodinamika
1. Etiologi

Terjadinya gangguan jiwa seperti ini dipengaruhi oleh faktor prediposisi diantaranya
perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat mengkibatkan individu tidk percaya pada
diri, tidak percaya pada orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap orang lain,
tidak mampu merumuskan keinginan dan tertekan. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku
tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai berdiam diri, meghindar dari
orang lain,dan kegiatan sehari-hari terabaikan.
1. Proses Terjadinya Isoslasi Sosial
Salah satu gangguan berhubungan sosial adaalah menarik diri atau isolasi sosial yang
disebabkan oleh perasaan tidak berharga, yang dialami oleh klien yang latar belakang penuh
dengan permasalahan, ketegangan, kekecewaan, dan kecemasan. Perasaan tidak berharga
menyebabkan klien makin sulit mengembangkan hubungan sosial dengan orang lain dan
lingkungan. Klien semakin tenggelam dalam perjalanan dan tingkah laku masa lalu serta
tingkah laku primitif, antara lain pembicaraan yang autistik dan tingkah laku yang tidak
sesuai dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi halusinasi.
1. Komplikasi
Isolasi sosial apabila tidak ditangani secara komprehensif melalui asuhan keperawatan dan
terapi medik maka keadaan tersebut akan berlanjut menjadi :
a) Asupan makanan dan minum klien terganggu.
b) Klien kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya.

c) Aktivitas klien menurun.


d) Defisit perawatan diri dan curiga.
e) Tidak ada atau kurang komunikasi verbal.
f)

Halusinasi.
1. C.

Rentang Respon

Adaptif

Psikososial

Maladaptif

Menyendiri

Merasa sendiri

Menarik diri

Otonomi

Depedensi

Ketergantungan

Bekerjasama

Curiga

Manipulasi

Interdependen

Curiga
Gambar Rentang Respons Isolasi Sosial

Sumber : Townsend ( 1998 ) dikutif oleh Ade Herman ( 2011 )


Berikut ini akan dijelaskan tentang rentang respons yang terjadi pada isolasi sosial :
1. Respons Adaptif
Respons adaptif adalah respons yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
kebudayaan secara umum yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut masih dalam
batas normal ketika menyelesaikan masalah. Berikut ini adalah sikap yang termasuk ke
dalam respons adaptif :
1. Menyendiri, respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah
terjadi di lingkungan sosialnya.
2. Otonomi, kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide, pikiran,
dan perasaan dalam hubungan sosial.
3. Bekerja sama, kemampuan individu yang membutuhkan satu sama lain.
4. Interdependen, saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam
membina hubungan interpersonal.
5. Respons psikososial
1. Merasa sendiri, keadaan seseorang yang merasa dirinya sendiri atau tanpa
orang lain.
2. Depedensi, keadaan bergantung kepada orang lain karena belum dapat hidup
sendiri.
3. Curiga, seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.
6. Respons maladaptif
Respons maladaptif adalah respons yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan di
suatu tempat. Berikut ini adalah perilaku yang termasuk ke dalam respons maladaptif :

1. Menarik diri, seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara
terbuka dengan orang lain.
2. Ketergantungan, seseorang yang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap diri
sendiri sehingga tergantung dengan orang lain.
3. Manipulasi, seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga
tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
4. Curiga, seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.

1. D.

Asuhan Keperawatan

Menurut Ade Herman, 2011. Asuhan keperawatan terdiri atas :


1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dalam proses keperawatan. Tahap
pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah, atas
permasalahan klien, pengkajian yang dilakukan pada klien isolasi sosial meliputi data :
1. Prediposisi
1)

Faktor tumbuh kembang

Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi
agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini
tidak terpenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat
menimbulkan masalah.
Tahap Perkembangan
Tugas
Masa Bayi
Menetapkan rasa percaya terhadap orang lain,
bayi sangat tergantung pada orang lain dalam
biologis dan psikologis. Bayi umumnya
menggunakan komuniksi yang sangat sederhana
dalam menyampaikan kebutuhannya, misalnya
menangis untuk kebutuhan. Respon lingkungan
(Ibu atau pengasuh) terhadap kebutuhan bayi akan
respon atau perilakunya dan rasa percaya bayi
terhadap orang lain.
Masa Bermain
Mengembangkan otonomi dan awal perilaku
mandiri.
Masa pra sekolah
Belajar menunjukan inisiatif, rasa tanggung
jawab, dan hati nurani. Anak pra sekolah mulai
memperluas hubungan sosialnya di luar
lingkungan keluarga khususnya Ibu (pengasuh).
Anak menggunakan kemampuan berhubungan
dengan lingkungan di luar keluarga. Dalam hal ini

Masa sekolah

Masa pra remaja


Masa remaja

Masa dewasa muda

Masa tengah baya

Masa dewasa tua

anak membutuhkan dukungan dan bantuan dari


keluarga khususnya pemberian yang positif
terhadap perilaku anak yang adaptif. Hal ini
merupakan dasar rasa otonomi anak yang berguna
untuk mengembangkan kemampuan hubungan
independen.
Belajar berkompensasi, bekerjasama, dan
berkompromi. Anak mulai mengenal hubungan
yang lebih luas khususnya lingkungan sekolah.
Pada usia ini anak mulai mengenal bekerja,
kompetisi, kompromi. Konflik yang terjadi
dengan orang tua karena pembahasan dan
dukungan yang tidak konsisten. Berteman dengan
orang dewasa di luar keluarga (guru, orangtua,
teman) merupakan sumber pendukung yang
penting bagi anak.
Menjalin hubungan intim dengan teman sesama
jenis kelamin.
Menjadi intim dengan teman lawan jenis atau
bergantung. Pada usia ini anak mengembangkan
hubungan intim dngan teman sebaya dan
umumnya mempunyai sahabat karib. Hubungan
dengan teman sangat tergantung sedangkan
hubungan dengan orang tua mulai independen.
Kegagalan membina hubungan dengan teman dan
kurangnya dukungan orang tua akan
mengakibatkan keraguan akan identitas.
Ketidakmampuan mengidentifi- kasi karir dan
rasa percaya diri yang kurang.
Menjadi saling bergantung antara orang tua dan
teman, mencari pasangan, dan punya anak. Pada
usia ini individu mempertahankan hubungan
independen dengan orang tua dan teman sebaya.
Individu belajar mengambil keputusan dengan
memperhatikan saran dan pendapat orang lain
seperti : memilih pekerjaan, memilih karier dan
melangsungkan perkawinan.
Belajar menerima hasil kehidupan yang sudah
dilalui. Individu pada masa tengah baya
umumnya telah pisah tempat tinggal dengan
orang tua. Khususnya individu yang telah
menikah. Jika telah menikah maka peran menjadi
orang tua dan mempunyai hubungan antar orang
dewasa merupakan situasi tempat menguji
kemampuan hubungan independen.
Berduka karena kehilangan dan mengembangkan
keterikatan dengan budaya. Pada usia ini individu
akan mengalami kehilangan, baik itu kehilangan
fungsi fisik, kegiatan, pekerjaan, teman hidup

(teman sebaya dan pasangan), anggota keluarga


(kematian orang tua). Individu tetap memerlukan
hubungan yang memuaskan dengan orang lain.
Individu yang mempunyai perkembangan yang
baik dapat menerima kehilangan yang terjadi
dalam kehidupan dan bahwa dukungan orang lain
dapat membantu dalam menghadapi
kehilangannya.
Sumber : Stuart dan Sundeen ( 1995 ), dikutip oleh Ade Herman ( 2011 )
2)

Faktor komunikasi dalam keluarga

Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan


dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi
sehingga menimbulkan ketidakjelasan yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga
menrima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekpresi emosi yang
tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar
keluarga.
3)

Faktor sosial budaya

Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkuang sosial merupakan suatu faktor
pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh normanorma yang salah dianut oleh keluarga, diamana setiap anggota keluarga yang tidak produktif
seperti usia lanjut, penyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan
sosialnya.
4)

Faktor biologis

Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam
hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan
sosial adalah otak, misalnya pada pasien skizofrenia yang mengalami masalah dalam
hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta
perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbik dan daerah kortikal.
1. Faktor presipitasi
Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan
eksternal seseorang. Faktor stressor presipitasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1)

Faktor eksternal

Contohnya adalah stressor sosial budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial
budaya seperti keluarga.
2)

Faktor internal

Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu stress terjadi akibat ansietas atau kecemasan yang
berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan indidvidu untuk

mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat
atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.
1. Manipestasi klinis
1)

Apatis, ekspresi wajah sedih, afek tumpul.

2)

Menghindar dari orang lain (menyendiri), klien memisahkan diri dari orang lain.

3)

Komunikasi kurang, klien tampak tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat.

4)

Tidak ada kontak mata atau kontak mata kurang

5)

Klien lebih sering menunduk dan berdiam di kamar.

6)

Menolak berhubungan dengan orang lain dan tidak melakukan kegiatan seahri-hari.

7)

Meniru posisi janin pada saat tidur.

8)

Menjawab dengan singkat dengan kata-kata ya , tidak , dan tidak tahu.


1. Sumber koping

Sumber koping adalah suatau evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Contoh
sumber koping yang berhubungan dengan respons maladaptif termasuk :
1)

Keterlibatan dalam berhubungan yang luas dalam keluarga dan teman.

2)

Hubungan dengan hewan peliharaan.

3) Gunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian,


musik, tulisan, atau olahraga.
1. Mekanisme koping
Mekanisme koping adalah segala usaha yang diarahkan untuk menanggulangi stress. Usaha
ini dapat berorientasi pada tugas dan meliputi usaha pemecahan masalah langsung :
1) Regresi : kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari
suatu taraf perkembangan yang dini.
2) Represi : pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls atau ingatan yang
menyakitkan atau bertentangan, dari kesadaran seseorang merupakan pertahanan ego primer
yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.
3)
Isolasi : pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat
sementara atau jangka panjang.
1. Pohon masalah

Risti mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan


Defisit Perawatan Diri

Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi


Isolasi Sosoal
Intoleransi Aktivitas
Harga Diri Rendah Kronis

Koping Individu Tidak Efektif

Koping Keluarga Tidak Efektif

1. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pohon masalah adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Isolasi sosial
Harga diri rendah kronis
Gangguan sensori persepsi : halusinasi
Koping individu tidak efektif
Koping keluarga tidak efektif
Intoleransi aktivitas
Defisit perawantan diri
Risiko tinggi mencederai dir, orang lain dan lingkungan

1. Perencanaan
Rencana tindakan keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan
rencana tindakan keperawatan. Tujuan umum berfokus pada penyelesaian masalah, tujuan
umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai. Tujuan khusus merupakan
rumusan kemampuan klien yang perlu dicapai atau dimiliki oleh klien. Rencana tindakan
merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan khusus.
1. Konsep dasar keperawatan jiwa
Isolasi sosial
Tujuan umum
halusinasi.
1)

: klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi

Tujuan khusus I : klien dapat membina hubungan saling percaya

Kriteria evaluasi
: klien dapat mengungkapkan perasaan dan keberadaannya secara
verbal : klien mampu menjawab salam, klien mau berjabat tangan, mau menjawab
pertanyaan, ada kontak mata, klien mau duduk berdampingan dengan perawat.
Rencana tindakan keperawatan :
a)

Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan komunikasi terapeutik.

(1) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
(2) Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan dengan sopan.
(3) Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
(4) Jelaskan tujuan pertemuan.
(5) Buat kontrak yang jelas.
(6) Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi.
(7) Tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya.
(8) Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
(9) Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien.
2)

Tujuan Khusus 2

: klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri.

Kriteria evaluasi
: klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang bersal dari
; diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
Rencana tindakan keperawatan :
(1) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
(2) Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri
atau tidak mau bergaul.
(3) Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda dan gejalanya.
(4) Berikan pujian terhadap kemampuan klien tentang mengungkapkan perasaannya.
3) Tujuan khusus 3
: klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan
orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Kriteria evaluasi
: klien dapat menyebutkan keuntungan dari berinteraksi dengan
orang lain, misal banyak teman, tidak sendiri, bisa diskusi, dan lain-lain. Klien dapat
menyebutkan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, misalnya seperti tidak punya
teman, sepi, dan lain-lain.
Rencana tindakan keperawatan :
(1) Kaji pengetahuan klien tentang keuntungan dan manfaat bergaul dengan orang lain.
(2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang keuntungan
berhubungan dengan orang lain.
(3) Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.

(4) Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
(5) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak
berhubungan dengan orang lain.
(6) Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan oang lain.
(7) Beri pujian positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain.
4)

Tujuan khusu 4

: klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap.

Kriteria evaluasi : klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial secara bertahap ; klienperawat, klien-perawat-perawat lain, klien-perawat-pearawat lain-klien lain, klien-kelompok
kecil, dan klien-keluarga/kelompok/masayarakat.
Rencana tindakan keperawatan :
(1) Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain .
(2) Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
(a) Klien-perawat
(b) Klien-perawat-perawat lain
(c) Klien-perawat-perawat lain-klien lain
(d) Klien-kelompok lain
(e) Klien-keluarga/kelompok/masyarkat
(3) Beri pujian positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
(4) Bantu klien mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain.
(5) Diskusikan jadwal kegiatan harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi
waktu.
(6) Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok sosialisasi.
(7) Beri pujian atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.
5) Tujuan khusus 5
: klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah
berhubungan dengan orang lain.
Kriteria evaluasi
: klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan
dengan orang lain untuk ; diri sendiri, orang lain.
Rencana tndakan keperawatan :

(1) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain.
(2) Diskusikan dengan klien manfaat berhubungan dengan orang lain.
(3) Beri pujian positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat
berhubungan dengan orang lain.
6) Tujuan khusus 6
: klien dapat meberdayakan sistem pendukung yang ada
(klien dapat memanfaatkan obat dengan baik).
Kriteria evaluasi
: klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada antara
lain ; klien dapat menyebutkan manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat, nama,
warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat. klien dapat mendemonstrasikan penggunaan
obat dengan benar, klien dapat menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi
dokter.
Rencan tindakan keperawatan :
(1) Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna,
dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat.
(2) Pantau klien saat penggunaan obat.
(3) Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar.
(4) Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter.
(5) Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter / perawat jika terjadi hal hal yang tidak
diinginkan.
1. Penatalaksanaan medis
1. Psiofarmaka
a)

Clorpromazine ( CPZ )

1)

Indikasi

Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realita, kesadaran
diri terganggu, daya nilai norma sosial dan daya tilik diri terganggu, berdaya berat dalam
fungsi fungsi mental : waham, halusinasi, gangguan perasaan dan prilaku yang aneh atau
tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari hari, tidak mampu bekerja,
hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
2)

Mekanisme kerja

Memblokade dopamine pada reseptor panca sinap diotak khususnya system ekstra pyramidal.
3)

Efek samping

Sedasi, gangguan otonomik (hypotensi, antikolinergik / parasimpatik, mulut kering, kesulitan


dalam miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi,
gangguan irama jantung), gangguan ekstra pyramidal (distonia akut, akatshia, sindroma
parkinsontremor, bradikinesia rigiditas), gangguan endokrin (amenorhoe, ginekomasti),
metabolic (jaundice), hematologic, agranulosis biasanya untuk pemakaian jangka panjang.
4)

Kontra indikasi

Penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat,
penyakit SSP.
b)

Haloperidol (HLP)

1)

Indikasi

Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalm fungsi netral serta dalam fungsi
kehidupan sehari hari.
2)

Mekanisme kerja

Obat anti psikosis dalam memblokade dopamine pada reseptor paska sinaptik neuron diotak
khususnya sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal.
3)

Efek samping

Sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi, anti kolinergik /


parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defikasi, hidung tersumbat, mata kabur,
gangguan irama jantung).
4)

Kontra indikasi

Penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat,
penyakit SSP, gangguan kesadaran.
c)

Trihexyphenidyl ( THP )

1)

Indikasi

Segala jenis penyakit Parkinson, termasuk paska ensepalitis dan idiopatik, sindrom Parkinson
akibat obat misalnya reserpina dan fenotiazine.
2)

Mekanisme kerja

Sinergis dengan kinidine, obat anti depresan trisiklik dan anti kolinergik lainnya.
3)

Efek samping

Mulut kering, penglihatan kabur, pusing, mual, muntah, bingung, agitasi, konstipasi,
takhikardia, dilatasi, ginjal, retensi urine.

4)

Kontra indikasi

Hypersensitif terhadap trihexyperidyl, glaucoma sudut sempit, psokosis berat, psikoneurosis,


hypertropi prostat, dan obstruksi saluran cerna.
1. Psikomatik
a)

Terapy kejang listrik/Electro Convulsive Therapy (ECT)

Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik
digunakan pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal
kepala (pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang
berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik, pada pasien skizofrenia dibarikan 30 kali.
ECT biasanya diberikan tiga kali seminggu walaupun biasanya diberikan jarang atau lebih.
Respons bangkitan listriknya di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia
dalam otak.
Indikasi :
(1) Depresi mayor
(a) Klien depresi berat dengan retardasi mental, waham, tidak ada perhatian lagi terhadap
dunia sekelilingnya, kehilangan berat badan yang berlebihan dan adanya ide bunuh diri yang
menetap.
(b) Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikan respon membaik pada
ECT.
(c) Klien depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatan antidepresan atau klien tidak
dapat menerima antidepresan.
(2) Maniak
Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lain atau terapi lain berbahaya
bagi klien.
(3) Skizofrenia
Terutama akut, tidak efektif untuk skizofrenia kronik, tetapi bermanfaat pada skizofrenia
yang sudah lama tidak kambuh.
b)

Psikoterapi

Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses
terapeutik, upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang,
menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien apa adanya,
memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah,
sopan dan jujur kepada klien.
c)

Terapi Okupasi

Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan
aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat
dan meningkatkan harga diri seseorang.
d)

Pemeriksaan Penunjang

(1) Minnesolla Multiphasic Personality Inventory (MMPI) adalah suatu bentuk pengujian
yang dilakukan oleh psikiater dan psikolog dalam menentukan kepribadian seseorang yang
terdiri dari pernyataan benar atau salah.
(2) Elektroensefalografik(EEG), Suatu pemeriksaan dalam psikiatri untuk membantu
membedakan antara etiologi fungsional dan organic dalam kelainan mental.
(3) Test Laboratorium kromosom,darah untuk mengetahui apakah gangguan jiwa
disebabkan oleh genetik.
(4) Rontgen kepala untuk mengetahui apakah gangguan jiwa disebabkan kelainan struktur
anatomi tubuh.
1. Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan merupakan proses keperawatan yang mengikuti rumusan dari
rencana keperawatan. Pelaksanaan keperawatan mencakup melakukan, memberikan askep
untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien, mencatat serta melakukan pertukaran
informasi yang relevan dengan perawatan kesehatan berkelanjutan dari klien.
Proses pelaksanaan keperawatan mempunyai lima tahap, yaitu :
1. Mengkaji ulang klien
Fase pengkajian ulang terhadap komponen implementasi memberikan mekanisme bagi
perawat untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang diusulkan masih sesuai.
1. Menelaah dan modifikasi rencana asuhan keperawatan yang ada.
Modifikasi rencana asuhan yang telah ada mencakup beberapa langkah:
1) Pertama, data dalam kolom pengkajian direvisi sehingga mencerminkan status
kesehatan terbaru klien.
2) Kedua, diagnosa keperawatan direvisi. Diagnosa keperawatan yang tidak relevan
dihapuskan, dan diagnosa keperawatan yang terbaru ditambah dan diberi tanggal.
3) Ketiga, metoda implementasi spesifik direvisi untuk menghubungan dengan diagnosa
keperawatan yang baru dan tujuan klien yang baru.
1. Mengidentifikasi bidang bantuan
Situasi yang membutuhkan tambahan tenaga beragam. Sebagai contoh, perawat yang
ditugaskan untuk merawat klien imobilisasi mungkin membutuhkan tambahan tenaga untuk

membantu membalik, memindahkan, dan mengubah posisi klien karena kerja fisik yang
terlibat.
1. Mengimplementasikan intervensi keperawatan
Berikut metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan :
1)

Membantu dalam melakukan aktivitas sehari hari

2)

Mengonsulkan dan menyuluhkan pasien dan keluarga

3)

Mengawasi dan mengevaluasi kerja anggota staf lainnya.

(Sujono,2009).
1. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan
kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya. Tujuan evaluasi
adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Hal ini biasa dilakukan
dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respons klien terhadap tindakan
keperawatan yang diberikan. Pada tahap ini ada 2 evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh
perawat yaitu evaluasi formatif yang bertujuan untuk menilai hasil implementasi: secara
bertahap sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sesuai pelaksanaan dan evaluasi sumatif
yang bertujuan menilai secara keseluruhan terhadap pencapaian diagnosa keperawatan
apakah rencana diteruskan, diteruskan sebagian, diteruskan dengan perubahan
intervensi/dihentikan (Suprayitno, 2004) keperawatan yaitu :
1. Evaluasi proses (Formatif)
Aktifitas dari proses keperawatan dari hasil kualitas pelayanan tindakan keperawatan.
Evaluasi proses harus dilakukan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk
membantu keefektifan terhadap tindakan. Evaluasi formatif terus menerus dilaksanakan
sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai.
1. Evaluasi Hasil (Sumatif)
Faktor evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada akhir
tindakan perawatan klien. Tipe evaluasi ini dilaksanakan pada akhir tindakan secara
paripurna. Adapun metode pelaksanaan evaluasi sumatif terdiri dari : interview akhir
pelayanan, pertemuan akhir pelayanan, dan pertanyaan kepada klien dan keluarga. Evaluasi
sumatif bisa menjadi suatu metode dalam memonitor kualitas dan efesiensi tindakan yang
telah diberikan.
Evaluasi juga dilakukan dengan berfokus pada perubahan perilaku klien setelah diberikan
tindakan keperawatan. Keluarga juga perlu dievaluasi karena merupakan sisitem pendukung
yang terutama, bahkan dapat dikatakan keluarga merupakan indikator dari keberhasilan
perawatan klien.
Evaluasi disusun dengan mengunakan SOAP yang operasional dengan pengertian.

S :
Adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh klien
dan keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
O :
Adalah keadaan objektif yang didefinisikan oleh perawat menggunakan
pengamatan yang objektif setelah implementasi keperawatan.
A :
Adalah merupakan analisis perawat setelah mengetahui respons subjektif dan
objektif klien yang dibandingkan dengan kriteria dan standar yang telah ditentukan mengacu
pada tujuan rencana keperawatan klien.
P :

Adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis.