Isolasi Sosial
Isolasi Sosial
1. A.
Latar Belakang
Pada masa peradaban telah terdapat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa manusia sudah
mengenal dan mengobati gangguan jiwa. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya berbagai
tengkorak yang dilubangi di Negara Peru. Diperkirakan tengkorak tersebut adalah tengkorak
seorang penderita penyakit ayan atau seorang yang menunjukan perilaku kekerasan, tindakan
tersebut diharapkan dapat mengeluarkan roh jahat yang memasuki tubuh penderita. Usaha
pengobatan untuk mengusir roh tersebut dipengaruhi oleh sistem magik-keagamaan ini dapat
dipandang sebagai usaha untuk memakai pemikiran rasional.
Di Yunani, Hippocrates ( 460 357 SM ), yang sekarang dianggap sebagai bapak ilmu
kedokteran membantah anggapan bahwa penyakit ayan disebabkan oleh roh atau mahkluk
halus, tetapi karena adanya gangguan pada otak. Hippocrates juga menerangkan perubahan
perilaku pada gangguan mental disebabkan oleh perubahan hormon dan cairan tubuh yang
dapat menghasilkan panas, kering dan kelembaban. ( Riya dan Purwanto, 2009 halaman 5 ).
Menurut American Nurse Association ( ANA ), keperawatan jiwa adalah area khusus dalam
praktik keperawatan yang menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan
menggunakan diri sendiri sebagai cara terapeutik dalam meningkatkan, memepertahankan,
serta memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan mental masyarakat di mana klien
berada. Fokusnya
adalah penggunaan diri sendiri secara terapeutik, artinya perawat jiwa membutuhkan alat atau
media untuk melakukan perawatan. Alat yang digunakan selain keterampilan selain teknik
dan alat klinik, yang terpenting adalah menggunakan dirinya sendiri. Sebagai contoh gerak
tubuh, mimik wajah, bahasa, tatapan mata, pendengaran, sentuhan, nada suara, dan
sebagainya.
Sikap ini merupakan suatu sikap yang baik terhadap diri sendiri, yaitu tidak merasakan harga
diri yang rendah, tidak memiliki pemkiran negatif tentang kondisi kesehatan diri, dan selalu
optimis terhadap kemampuan diri. ( Farida dan Yudi, 2011 halaman 2 ).
Kemampuan individu dalam kelompok dan lingkungannya dalam berinteraksi dengan orang
lain sebagai cara untuk mencapai kesejahteraan, perkembangan yang optimal, dengan
menggunakan kemampuan mental yang dimilikinya ( kognisi, afeksi, relasi ) memiliki
prestasi individu serta kelompoknya konsisten dengan hukum yang berlaku. ( Australian
Health Minister, Mental health nursing Practice, 1996. dalam Yosep, 2011 halaman 1 ).
Kesehatan jiwa menurut Roshadi ( 1999 ) adalah kondisi seseorang yang terus tumbuh
berkembang dan mempertahankan keselarasan dalam pengendalian diri, terbebas dari stress
yang serius. ( dikutip Oleh Ade Herman, 2011 halaman 1 ).
Menurut WHO, masalah gangguan jiwa di seluruh dunia sudah menjadi masalah yang sangat
serius. WHO menyatakan paling tidak ada 1 dari 4 orang di dunia mengalami masalah
mental, diperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan kesehatan
jiwa. Permasalahan gangguan jiwa tidak hanya berpengaruh terhadap produktivitas manusia,
juga berkaitan dengan kasus bunuh diri. Temuan WHO menunjukkan, diperkirakan 873.000
orang bunuh diri setiap tahun. Lebih dari 90% kasus bunuh diri berhubungan dengan
gangguan jiwa seperti Depresi, Skizofrenia, dan ketergantungan terhadap alkohol. ( Febriani,
2008 ).
Berdasarkan data yang diperoleh penulis dari Rumah Sakit Khusus Duren Sawit Jakarta
Timur, bekerja sama dengan diklat keperawatan didapat data selama 6 bulan terkahir dari
bulan Januari 2012 sampai dengan Juni 2012, jumlah pasien sebanyak 340 orang yang
meliputi kasus : Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi sebanyak 277 orang ( 81,47 % ),
Isolasi Sosial sebanyak 27 orang ( 7,94 % ), Defisit Perawatan Diri sebanayak 7 orang ( 2,05
% ), Waham sebanyak 3 orang ( 0,88 % ), Harga Diri Rendah 0 orang ( 0 % ) dan Perilaku
Kekerasan sebanyak 26 orang ( 7,64 % ). Dilihat dari data di atas prevalensi Isolasi Sosial
sebanyak 27 orang, sehingga penulis perlu melakukan pendekatan yang lebih dalam kepada
klien dengan Isolasi Sosial.
Melihat data tersebut jika klien dengan isolasi sosial tidak diatasi akan menyebabkan
munculnya perilaku halusinasi yang diakibatkan dari perasaan tidak berharga yang dalami
oleh klien yang latar belakang penuh dengan permasalaahan, dapat menyebabkan klien makin
sulit mengembangkan hubungan sosial dengan orang lain dan lingkuangan, tidak
memperlihatkan kebersihan diri seperti personal hygiene dan nutrisi, aktivitas motorik
kurang.
Adapun peran perawat jiwa yang harus dilakukan meliputi : peran perawat promotif adalah
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan/menurunkan angka kesakitan dengan cara
memberikan penyuluhan tentang kesehatan, peran perawat preventiv adalah mengidentifikasi
prilaku khusus dan menghindari kegagalan peran, peran perawat kuratif adalah menyediakan
linkungan yang kondusif, memecahkan masalah, merawat kesehatan fisik/mencegah usaha
bunuh diri melalui terapi psikoterapi dan terapi medik, peran perawat rehabilitatif adalah
dengan mengikutsertakan klien dalam kelompok, mendorong tanggung jawab klien terhadap
lingkungan dan melatih keterampilan klien sehingga isolasi sosial dapat terkontrol dengan
baik.
Melihat data di atas , penulis tertarik dan berminat untuk membahas kasus Asuhan
Keperawatan pada Tn. S.K dengan Isolasi Sosial di ruang Dukuh Rumah Sakit Khusus Duren
Sawit Jakarta Timur .
1. B.
Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini agar penulis memperoleh gambaran
pengalaman langsung serta mampu memahami dan memberikan asuhan keperawatan pada
Tn. S.K dengan isolasi sosial dengan pendekatan proses keperawatan.
1. Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian pada Tn. S.K di Ruang Dukuh Rumah Sakit
Khusus Duren Sawit.
2. Mampu merumuskan diagnosa pada Tn. S.K di Ruang Dukuh Rumah Sakit
Khusus Duren Sawit.
3. Mampu merencanakan tindakan keperawtan pada Tn. S.K di Ruang Dukuh
Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
4. Mampu melaksanakn tindakan keperawatan pada Tn. S.K di Ruang Dukuh
Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
5. Mampu melakukan evaluasi pada Tn. S.K di Ruang Dukuh Rumah Sakit
Khusus Duren Sawit.
6. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus
yang terdapat di ruang Dukuh Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
7. Mampu mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat serta
mencari solusinya di ruang Dukuh Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
8. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Tn. S.K di ruang Dukuh
Rumah Sakit Khusus Duren Sawit.
9. C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penulisan karya tulis ilmiah ini adalah Asuhan Keperawatan pada Tn. S.K di
Ruang Dukuh Rumah Sakit Khusus Duren Sawit. Selama 4 hari,yang dimulai pada tanggal
19 Juli sampai dengan tanggal 21 Juli 2012.
1. D.
Metode Penulisan
Metode penulisan dalam karya tulis ilmiah ini adalah deskriptif dan metode kepustakaan.
Metode deskriptif pendekatan yang digunakan yaitu metode ilmiah yang bersifat
mengumpulkan data, menganalisa data serta menarik kesimpulan, dan studi kasus. Dalam
penulisan ilmiah ini, data didapat dengan cara : studi kepustakaan, yaitu penulis
menggunakan beberapa buku sebagai referensi dalam penysunan makalah ilmiah ini,
mengadakan observasi dan wawancara dengan Tn. S.K serta perawat ruangan, studi kasus,
yaitu dengan penerapan Asuhan Keperawatan serta langsung pada kasus dengan masalah
Isolasi Sosial, dan studi dokumentasi, yaitu mempelajari data-data klien dari rekam medik.
Dan selanjutnya disajikan dalam bentuk narasi yang akan menjadi bahan pembahasan.
1. E.
Sitematika Penulisan
Sistematika penulisan pada karya tulis ilmiah dengan Asuhan Keperawatan Tn. S.K dengan
Isolasi Sosial yang terdiri dari lima BAB yaitu :
BAB I : Pendahuluan terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Ruang Lingkup,
Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan. BAB II : Tinjauan Teori terdiri dari konsep
dasar meliputi Pengertian, Psikodinamika, Rentang Respon, Pengkajian Keperawatan,
Diagnosa Keperawatan, Intervensi Keperawatan, dan Evaluasi Keperawatan. BAB III :
Tinjauan Kasus terdiri dari Pengkajian, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan,
Implementasi, dan Evaluasi. BAB IV : Penutup terdiri dari Kesimpulan, dan Saran.
BAB II
TINJAUAN TEORI
Pada bab ini penulis akan menguraikan konsep dasar dan konsep asuhan keperawatan sebagai
tinjauan teoritis pada kasus yang akan penulis bahas.
1. A.
Pengertian
Kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gangguan interpersonal yang terjadi akibat
adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu
fungsi seseorang dalam hubungan sosial ( Depkes RI, 2000. Dikutip oleh Ade Herman, 2011
halaman 122 ).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami seseorang karena orang lain
menyatakan sikap yang negatif dan mengancam ( Towndsend, 1998. Dikutip oleh Farida dan
Yudi, 2011 halaman 122 ).
Menururt Keliat (1998), Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan
orang lain ( dalam Iyus Yosep, 2011 halaman 229 ).
Menurut Stuart dan Sundeen (1998), kerusakan interaksi sosial adalah satu gangguan yang
tidak fleksibel, tingkah maladaptif, dan mengganggu individu dalam hubungan sosialnya (
dalam Ade Herman, 2011 halaman 122 ).
1. B.
Psikodinamika
1. Etiologi
Terjadinya gangguan jiwa seperti ini dipengaruhi oleh faktor prediposisi diantaranya
perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat mengkibatkan individu tidk percaya pada
diri, tidak percaya pada orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap orang lain,
tidak mampu merumuskan keinginan dan tertekan. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku
tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai berdiam diri, meghindar dari
orang lain,dan kegiatan sehari-hari terabaikan.
1. Proses Terjadinya Isoslasi Sosial
Salah satu gangguan berhubungan sosial adaalah menarik diri atau isolasi sosial yang
disebabkan oleh perasaan tidak berharga, yang dialami oleh klien yang latar belakang penuh
dengan permasalahan, ketegangan, kekecewaan, dan kecemasan. Perasaan tidak berharga
menyebabkan klien makin sulit mengembangkan hubungan sosial dengan orang lain dan
lingkungan. Klien semakin tenggelam dalam perjalanan dan tingkah laku masa lalu serta
tingkah laku primitif, antara lain pembicaraan yang autistik dan tingkah laku yang tidak
sesuai dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi halusinasi.
1. Komplikasi
Isolasi sosial apabila tidak ditangani secara komprehensif melalui asuhan keperawatan dan
terapi medik maka keadaan tersebut akan berlanjut menjadi :
a) Asupan makanan dan minum klien terganggu.
b) Klien kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya.
Halusinasi.
1. C.
Rentang Respon
Adaptif
Psikososial
Maladaptif
Menyendiri
Merasa sendiri
Menarik diri
Otonomi
Depedensi
Ketergantungan
Bekerjasama
Curiga
Manipulasi
Interdependen
Curiga
Gambar Rentang Respons Isolasi Sosial
1. Menarik diri, seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara
terbuka dengan orang lain.
2. Ketergantungan, seseorang yang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap diri
sendiri sehingga tergantung dengan orang lain.
3. Manipulasi, seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga
tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
4. Curiga, seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.
1. D.
Asuhan Keperawatan
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi
agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini
tidak terpenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat
menimbulkan masalah.
Tahap Perkembangan
Tugas
Masa Bayi
Menetapkan rasa percaya terhadap orang lain,
bayi sangat tergantung pada orang lain dalam
biologis dan psikologis. Bayi umumnya
menggunakan komuniksi yang sangat sederhana
dalam menyampaikan kebutuhannya, misalnya
menangis untuk kebutuhan. Respon lingkungan
(Ibu atau pengasuh) terhadap kebutuhan bayi akan
respon atau perilakunya dan rasa percaya bayi
terhadap orang lain.
Masa Bermain
Mengembangkan otonomi dan awal perilaku
mandiri.
Masa pra sekolah
Belajar menunjukan inisiatif, rasa tanggung
jawab, dan hati nurani. Anak pra sekolah mulai
memperluas hubungan sosialnya di luar
lingkungan keluarga khususnya Ibu (pengasuh).
Anak menggunakan kemampuan berhubungan
dengan lingkungan di luar keluarga. Dalam hal ini
Masa sekolah
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkuang sosial merupakan suatu faktor
pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh normanorma yang salah dianut oleh keluarga, diamana setiap anggota keluarga yang tidak produktif
seperti usia lanjut, penyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan
sosialnya.
4)
Faktor biologis
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam
hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan
sosial adalah otak, misalnya pada pasien skizofrenia yang mengalami masalah dalam
hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta
perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbik dan daerah kortikal.
1. Faktor presipitasi
Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan
eksternal seseorang. Faktor stressor presipitasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1)
Faktor eksternal
Contohnya adalah stressor sosial budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial
budaya seperti keluarga.
2)
Faktor internal
Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu stress terjadi akibat ansietas atau kecemasan yang
berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan indidvidu untuk
mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat
atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.
1. Manipestasi klinis
1)
2)
Menghindar dari orang lain (menyendiri), klien memisahkan diri dari orang lain.
3)
Komunikasi kurang, klien tampak tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat.
4)
5)
6)
Menolak berhubungan dengan orang lain dan tidak melakukan kegiatan seahri-hari.
7)
8)
Sumber koping adalah suatau evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Contoh
sumber koping yang berhubungan dengan respons maladaptif termasuk :
1)
2)
1. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pohon masalah adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Isolasi sosial
Harga diri rendah kronis
Gangguan sensori persepsi : halusinasi
Koping individu tidak efektif
Koping keluarga tidak efektif
Intoleransi aktivitas
Defisit perawantan diri
Risiko tinggi mencederai dir, orang lain dan lingkungan
1. Perencanaan
Rencana tindakan keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan
rencana tindakan keperawatan. Tujuan umum berfokus pada penyelesaian masalah, tujuan
umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai. Tujuan khusus merupakan
rumusan kemampuan klien yang perlu dicapai atau dimiliki oleh klien. Rencana tindakan
merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan khusus.
1. Konsep dasar keperawatan jiwa
Isolasi sosial
Tujuan umum
halusinasi.
1)
Kriteria evaluasi
: klien dapat mengungkapkan perasaan dan keberadaannya secara
verbal : klien mampu menjawab salam, klien mau berjabat tangan, mau menjawab
pertanyaan, ada kontak mata, klien mau duduk berdampingan dengan perawat.
Rencana tindakan keperawatan :
a)
(1) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
(2) Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan dengan sopan.
(3) Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
(4) Jelaskan tujuan pertemuan.
(5) Buat kontrak yang jelas.
(6) Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi.
(7) Tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya.
(8) Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
(9) Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien.
2)
Tujuan Khusus 2
Kriteria evaluasi
: klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang bersal dari
; diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
Rencana tindakan keperawatan :
(1) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
(2) Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri
atau tidak mau bergaul.
(3) Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda dan gejalanya.
(4) Berikan pujian terhadap kemampuan klien tentang mengungkapkan perasaannya.
3) Tujuan khusus 3
: klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan
orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Kriteria evaluasi
: klien dapat menyebutkan keuntungan dari berinteraksi dengan
orang lain, misal banyak teman, tidak sendiri, bisa diskusi, dan lain-lain. Klien dapat
menyebutkan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, misalnya seperti tidak punya
teman, sepi, dan lain-lain.
Rencana tindakan keperawatan :
(1) Kaji pengetahuan klien tentang keuntungan dan manfaat bergaul dengan orang lain.
(2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang keuntungan
berhubungan dengan orang lain.
(3) Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
(4) Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
(5) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak
berhubungan dengan orang lain.
(6) Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan oang lain.
(7) Beri pujian positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain.
4)
Tujuan khusu 4
Kriteria evaluasi : klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial secara bertahap ; klienperawat, klien-perawat-perawat lain, klien-perawat-pearawat lain-klien lain, klien-kelompok
kecil, dan klien-keluarga/kelompok/masayarakat.
Rencana tindakan keperawatan :
(1) Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain .
(2) Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
(a) Klien-perawat
(b) Klien-perawat-perawat lain
(c) Klien-perawat-perawat lain-klien lain
(d) Klien-kelompok lain
(e) Klien-keluarga/kelompok/masyarkat
(3) Beri pujian positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
(4) Bantu klien mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain.
(5) Diskusikan jadwal kegiatan harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi
waktu.
(6) Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok sosialisasi.
(7) Beri pujian atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.
5) Tujuan khusus 5
: klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah
berhubungan dengan orang lain.
Kriteria evaluasi
: klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan
dengan orang lain untuk ; diri sendiri, orang lain.
Rencana tndakan keperawatan :
(1) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain.
(2) Diskusikan dengan klien manfaat berhubungan dengan orang lain.
(3) Beri pujian positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat
berhubungan dengan orang lain.
6) Tujuan khusus 6
: klien dapat meberdayakan sistem pendukung yang ada
(klien dapat memanfaatkan obat dengan baik).
Kriteria evaluasi
: klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada antara
lain ; klien dapat menyebutkan manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat, nama,
warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat. klien dapat mendemonstrasikan penggunaan
obat dengan benar, klien dapat menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi
dokter.
Rencan tindakan keperawatan :
(1) Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna,
dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat.
(2) Pantau klien saat penggunaan obat.
(3) Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar.
(4) Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter.
(5) Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter / perawat jika terjadi hal hal yang tidak
diinginkan.
1. Penatalaksanaan medis
1. Psiofarmaka
a)
Clorpromazine ( CPZ )
1)
Indikasi
Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realita, kesadaran
diri terganggu, daya nilai norma sosial dan daya tilik diri terganggu, berdaya berat dalam
fungsi fungsi mental : waham, halusinasi, gangguan perasaan dan prilaku yang aneh atau
tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari hari, tidak mampu bekerja,
hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
2)
Mekanisme kerja
Memblokade dopamine pada reseptor panca sinap diotak khususnya system ekstra pyramidal.
3)
Efek samping
Kontra indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat,
penyakit SSP.
b)
Haloperidol (HLP)
1)
Indikasi
Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalm fungsi netral serta dalam fungsi
kehidupan sehari hari.
2)
Mekanisme kerja
Obat anti psikosis dalam memblokade dopamine pada reseptor paska sinaptik neuron diotak
khususnya sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal.
3)
Efek samping
Kontra indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat,
penyakit SSP, gangguan kesadaran.
c)
Trihexyphenidyl ( THP )
1)
Indikasi
Segala jenis penyakit Parkinson, termasuk paska ensepalitis dan idiopatik, sindrom Parkinson
akibat obat misalnya reserpina dan fenotiazine.
2)
Mekanisme kerja
Sinergis dengan kinidine, obat anti depresan trisiklik dan anti kolinergik lainnya.
3)
Efek samping
Mulut kering, penglihatan kabur, pusing, mual, muntah, bingung, agitasi, konstipasi,
takhikardia, dilatasi, ginjal, retensi urine.
4)
Kontra indikasi
Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik
digunakan pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal
kepala (pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang
berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik, pada pasien skizofrenia dibarikan 30 kali.
ECT biasanya diberikan tiga kali seminggu walaupun biasanya diberikan jarang atau lebih.
Respons bangkitan listriknya di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia
dalam otak.
Indikasi :
(1) Depresi mayor
(a) Klien depresi berat dengan retardasi mental, waham, tidak ada perhatian lagi terhadap
dunia sekelilingnya, kehilangan berat badan yang berlebihan dan adanya ide bunuh diri yang
menetap.
(b) Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikan respon membaik pada
ECT.
(c) Klien depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatan antidepresan atau klien tidak
dapat menerima antidepresan.
(2) Maniak
Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lain atau terapi lain berbahaya
bagi klien.
(3) Skizofrenia
Terutama akut, tidak efektif untuk skizofrenia kronik, tetapi bermanfaat pada skizofrenia
yang sudah lama tidak kambuh.
b)
Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses
terapeutik, upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang,
menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien apa adanya,
memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah,
sopan dan jujur kepada klien.
c)
Terapi Okupasi
Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan
aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat
dan meningkatkan harga diri seseorang.
d)
Pemeriksaan Penunjang
(1) Minnesolla Multiphasic Personality Inventory (MMPI) adalah suatu bentuk pengujian
yang dilakukan oleh psikiater dan psikolog dalam menentukan kepribadian seseorang yang
terdiri dari pernyataan benar atau salah.
(2) Elektroensefalografik(EEG), Suatu pemeriksaan dalam psikiatri untuk membantu
membedakan antara etiologi fungsional dan organic dalam kelainan mental.
(3) Test Laboratorium kromosom,darah untuk mengetahui apakah gangguan jiwa
disebabkan oleh genetik.
(4) Rontgen kepala untuk mengetahui apakah gangguan jiwa disebabkan kelainan struktur
anatomi tubuh.
1. Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan merupakan proses keperawatan yang mengikuti rumusan dari
rencana keperawatan. Pelaksanaan keperawatan mencakup melakukan, memberikan askep
untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien, mencatat serta melakukan pertukaran
informasi yang relevan dengan perawatan kesehatan berkelanjutan dari klien.
Proses pelaksanaan keperawatan mempunyai lima tahap, yaitu :
1. Mengkaji ulang klien
Fase pengkajian ulang terhadap komponen implementasi memberikan mekanisme bagi
perawat untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang diusulkan masih sesuai.
1. Menelaah dan modifikasi rencana asuhan keperawatan yang ada.
Modifikasi rencana asuhan yang telah ada mencakup beberapa langkah:
1) Pertama, data dalam kolom pengkajian direvisi sehingga mencerminkan status
kesehatan terbaru klien.
2) Kedua, diagnosa keperawatan direvisi. Diagnosa keperawatan yang tidak relevan
dihapuskan, dan diagnosa keperawatan yang terbaru ditambah dan diberi tanggal.
3) Ketiga, metoda implementasi spesifik direvisi untuk menghubungan dengan diagnosa
keperawatan yang baru dan tujuan klien yang baru.
1. Mengidentifikasi bidang bantuan
Situasi yang membutuhkan tambahan tenaga beragam. Sebagai contoh, perawat yang
ditugaskan untuk merawat klien imobilisasi mungkin membutuhkan tambahan tenaga untuk
membantu membalik, memindahkan, dan mengubah posisi klien karena kerja fisik yang
terlibat.
1. Mengimplementasikan intervensi keperawatan
Berikut metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan :
1)
2)
3)
(Sujono,2009).
1. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan
kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya. Tujuan evaluasi
adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Hal ini biasa dilakukan
dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respons klien terhadap tindakan
keperawatan yang diberikan. Pada tahap ini ada 2 evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh
perawat yaitu evaluasi formatif yang bertujuan untuk menilai hasil implementasi: secara
bertahap sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sesuai pelaksanaan dan evaluasi sumatif
yang bertujuan menilai secara keseluruhan terhadap pencapaian diagnosa keperawatan
apakah rencana diteruskan, diteruskan sebagian, diteruskan dengan perubahan
intervensi/dihentikan (Suprayitno, 2004) keperawatan yaitu :
1. Evaluasi proses (Formatif)
Aktifitas dari proses keperawatan dari hasil kualitas pelayanan tindakan keperawatan.
Evaluasi proses harus dilakukan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk
membantu keefektifan terhadap tindakan. Evaluasi formatif terus menerus dilaksanakan
sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai.
1. Evaluasi Hasil (Sumatif)
Faktor evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada akhir
tindakan perawatan klien. Tipe evaluasi ini dilaksanakan pada akhir tindakan secara
paripurna. Adapun metode pelaksanaan evaluasi sumatif terdiri dari : interview akhir
pelayanan, pertemuan akhir pelayanan, dan pertanyaan kepada klien dan keluarga. Evaluasi
sumatif bisa menjadi suatu metode dalam memonitor kualitas dan efesiensi tindakan yang
telah diberikan.
Evaluasi juga dilakukan dengan berfokus pada perubahan perilaku klien setelah diberikan
tindakan keperawatan. Keluarga juga perlu dievaluasi karena merupakan sisitem pendukung
yang terutama, bahkan dapat dikatakan keluarga merupakan indikator dari keberhasilan
perawatan klien.
Evaluasi disusun dengan mengunakan SOAP yang operasional dengan pengertian.
S :
Adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh klien
dan keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
O :
Adalah keadaan objektif yang didefinisikan oleh perawat menggunakan
pengamatan yang objektif setelah implementasi keperawatan.
A :
Adalah merupakan analisis perawat setelah mengetahui respons subjektif dan
objektif klien yang dibandingkan dengan kriteria dan standar yang telah ditentukan mengacu
pada tujuan rencana keperawatan klien.
P :