100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan22 halaman

Askep PK

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa yang ditandai dengan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain. Asuhan keperawatan pada pasien ini dilakukan melalui pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal."

Diunggah oleh

Chika Fransisca II
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan22 halaman

Askep PK

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa yang ditandai dengan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain. Asuhan keperawatan pada pasien ini dilakukan melalui pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal."

Diunggah oleh

Chika Fransisca II
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Dosen : Hj Darti, Ns, S.Kep, M.

Kes

ASKEP RESPON PERILAKU KEKERASAN

disusun : Askar Fransiska Dumatubun Muh. Hasyim Stiven

PROGRAM JURUSAN S1 KEPERAWATAN STIKES RUMAH SAKIT UMUM DAYA KOTA MAKASSAR 2013

KATA PENGANTAR
Kami memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa II ini. Meskipun kami tahu masih ada kekurangan didalamnya tapi kami masih bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah sederhana ini lahir dengan bahan-bahan yang diambil dari buku-buku yang berkaitan dengan mata kuliah tersebut dan juga dari searching di internet. Dalam makalah ini kami membahas tentang perilaku kekerasan. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dalam proses belajar mengajar dalam kelas dan tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Dosen Keperawatan Jiwa II serta teman-teman yang ikut dalam berpartisipasi hingga makalah ini bisa terselesaikan. Dengan rendah hati kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan yang bisa membangun untuk kedepannya.

April 2013

Kelompok III

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I. PENDAHULUAN a. b. c. d. e. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penulisan Maanfaat Penulisan Sistematika Penulisan

BAB II. KONSEP MEDIS a. b. c. d. e. f. Defenisi Etiologi Manifestasi Klinis Penatalaksanaan Komplikasi Pohon Masalah

BAB III. KONSEP KEPERAWATAN a. b. c. d. Pengkajian Diagnosa Perencaan Tindakan Keperawatan Evaluasi

BAB IV. PENUTUP a. KESIMPULAN b. SARAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk, 2008). Menurut Stuart dan Laraia (1998), perilaku kekerasan dapat dimanifestasikan secara fisik (mencederai diri sendiri, peningkatan mobilitas tubuh), psikologis (emosional, marah, mudah tersinggung, dan menentang), spiritual (merasa dirinya sangat berkuasa, tidak bermoral). Perilaku kekerasan merupakan suatu tanda dan gejala dari gangguan skizofrenia akut yang tidak lebih dari satu persen (Purba dkk, 2008). Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. WHO (2001) menyatakan, paling tidak ada satu dari empat orang di dunia mengalami masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Pada masyarakat umum terdapat 0,2 0,8 % penderita skizofrenia dan dari 120 juta penduduk di Negara Indonesia terdapat kira-kira 2.400.000 orang anak yang mengalami gangguan jiwa (Maramis, 2004 dalam Carolina, 2008). Data WHO tahun 2006 mengungkapkan bahwa 26 juta penduduk Indonesia atau kira-kira 12-16 persen mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta orang (WHO, 2006). Berdasarkan data yang diperoleh seorang peneliti melalui survey awal penelitian di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara bahwa jumlah pasien gangguan jiwa pada tahun 2008 tercatat sebanyak 1.814 pasien rawat inap yang keluar masuk rumah sakit dan 23.532 pasien rawat jalan. Pada tahun 2009 tercatat sebanyak 1.929 pasien rawat inap yang keluar masuk rumah sakit dan 12.377 pasien rawat jalan di rumah sakit tersebut. Sedangkan untuk pasien rawat inap yang menderita skizofrenia paranoid sebanyak 1.581 yang keluar masuk rumah sakit dan 9.532 pasien rawat jalan. Pasien gangguan jiwa skizofrenia paranoid dan gangguan psikotik dengan gejala curiga berlebihan, galak, dan bersikap bermusuhan. Gejala ini merupakan tanda dari pasien yang mengalami perilaku kekerasan (Medikal Record, 2009). Peran perawat dalam membantu pasien perilaku kekerasan adalah dengan memberikan asuhan keperawatan perilaku kekerasan. Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan pasien, keluarga dan atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Keliat dkk, 1999).

Berdasarkan standar yang tersedia, asuhan keperawatan pada pasien perilaku kekerasan dilakukan dalam lima kali pertemuan. Pada setiap pertemuan pasien memasukkan kegiatan yang telah dilatih untuk mengatasi masalah kedalam jadwal kegiatan. Diharapkan pasien akan berlatih sesuai jadwal kegiatan yang telah dibuat dan akan dievaluasi oleh perawat pada pertemuan berikutnya. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan akan dinilai tingkat kemampuan pasien dalam mengatasi masalahnya yaitu mandiri, bantuan, atau tergantung. Tingkat kemampuan mandiri, jika pasien melakukan kegiatan tanpa dibimbing dan tanpa disuruh, tingkat kemampuan bantuan, jika pasien sudah melakukan kegiatan tetapi belum sempurna dan dengan bantuan pasien dapat melaksanakan dengan baik, tingkat kemampuan tergantung, jika pasien sama sekali belum melaksanakan dan tergantung pada bimbingan perawat.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan beberapa rumusan masalah yang akan dibahas pada bab selanjutnya: 1. Bagimana konsep teori perilaku kekerasan? 2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan?

C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan umum Penulis dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal.

2. Tujuan khusus Penulis dapat mengidentifikasikan hambatan dalam perawatan pasien marah agresif sehingga dapat dicari pemecahan masalahnya Penulis dapat mengganbarkan hasil pengkajian keperawatan pada pasian dangan prilaku kekerasan Penulis dapat mendiskripsikan hasil analisa data yang diperoleh pada pasein dengan prilaku kekerasan penulis dapat mendiskripsikan diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan prilaku kekerasan penulis dapat mendiskripsikan implementasi yang telah dilakukan pada pasien dengan prilaku kekerasan penulis dapat mendiskripsikam hasil evaluasi yang berhasil dilakukan

D. MANFAAT PENULISAN Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat : 1. Memberikan informasi mengenai perilaku kekerasan 2. Memberikan informasi penyusunan asuhan keperawatan dengan pasien perilaku kekerasan.

E. SISTEMATIKA Untuk menghindari luas masalah maka dalam penyusunan makalah ini kelompok mengkhususkan pembahasan tentang penatalaksanaan pada pasien dengan perilaku

kekerasan. Asuhan keperawatan ini hanya menerapkan proses keperawatan melalui tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, implementasi, dan evaluasi pada kasus perilaku kekerasan.

BAB II KONSEP MEDIS A. Defenisi Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung ( Sunaryo, 2004 ). Kekerasan adalah kekuaan fisik yang digunakan untuk meyerang atau merusak diri sendiri atau orang lain. Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak adil dan sering mengakibatkan cedera fisik ( Ann Isaacs, 2005 ). Menurut Iyus Yosep (2007) Perilaku kekeraan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain

B. Etiologi 1. Faktor Predisposisi Faktor pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan faktor predisposisi, artinya mungkin terjadi/ mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu: Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau saksi penganiayaan. Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan. Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan yang diterima (permissive). Bioneurologis, kerusakan sistem limbik, lobus frontal, lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan.

2. Faktor Prespitasi Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam, baik berupa injury secara fisik, psikis, atau ancaman konsep diri. Beberapa faktor pencetus perilaku kekerasan adalah sebagai berikut: 1) Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kehidupan yang penuh agresif, dan masa lalu yang tidak menyenangkan. 2) Interaksi : Penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik, merasa terancam, baik internal dari perusahaan diri klien sendiri maupun eksternal dari lingkungan.

C. Rentan Respon Marah Menurut Iyus Yosep, 2007 bahwa respons kemarahan berfluktuasi dalam rentang adaptif maladaptif. Skema 1.1. Rentang Respon Kemarahan Respon Adaptif Respon maladaptif

I-------------------I------------------I----------------------I-------------------I Asertif frustasi pasif agresif kekerasan

o Perilaku asertif yaitu mengungkapkan rasa marah atau tidak setuju tanpa menyalahkan atau meyakiti orang lain, hal ini dapat menimbulkan kelegaan pada individu. o Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena yang tidak realistis atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan. o Pasif merupakan perilaku individu yang tidak mampu untuk mengungkapkan perasaan marah yang sekarang dialami, dilakukan dengan tujuan menghindari suatu tuntunan nyata. o Agresif merupakan hasil dari kemarahan yang sangat tinggi atau ketakutan / panik. Agresif memperlihatkan permusuhan, keras dan mengamuk, mendekati orang lain dengan ancaman, memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai. Umumnya klien dapat mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain. o Kekerasan sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk. Perilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakutkan, memberi kata-kata ancaman, melukai

pada tingkat ringan sampa pada yang paling berat. Klien tidak mampu mengendalikan diri.

D. Manifestasi Klinis Perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala perilaku kekerasan: a. Fisik o Muka merah dan tegang o Mata melotot atau pandangan tajam o Tangan mengepal o Rahang mengatup o Postur tubuh kaku o Pandangan tajam o Mengatupkan rahang dengan kuat o Mengepalkan tangan o Jalan mondar-mandir

b.

Verbal o Bicara kasar o Suara tinggi, membentak atau berteriak o Mengancam secara verbal atau fisik o Mengumpat dengan kata-kata kotor o Suara keras o Ketus o Melempar atau memukul benda/orang lain o Menyerang orang lain o Melukai diri sendiri/orang lain o Merusak lingkungan o Amuk/agresif

c. Emosi Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.

d. Intelektual Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme. e. Spiritual Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli dan kasar. f. Sosial Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

E. Penatalaksanaan Farmakoterapi 1. Obat anti psikosis, phenotizin (CPZ/HLP) 2. Obat anti depresi, amitriptyline 3. Obat anti ansietas, diazepam, bromozepam, clobozam 4. Obat anti insomnia, phneobarbital Terapi Modalitas 1) Terapi keluarga Berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi masalah klien dengan memberikan perhatian: o Jangan memancing emosi klien o Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan keluarga o Memberikan kesempatan pada klien dalam mengemukakan pendapat o Anjurkan pada klien untuk mengemukakan masalah yang dialami o Mendengarkan keluhan klien o Membantu memecahkan masalah yang dialami oleh klien o Hindari penggunaan kata-kata yang menyinggung perasaan klien o Jika klien melakukan kesalahan jangan langsung memvonis

Jika terjadi PK yang dilakukan adalah: o Bawa klien ketempat yang tenang dan aman o Hindari benda tajam o Lakukan fiksasi sementara

o Rujuk ke pelayanan kesehatan

2) Terapi kelompok Berfokus pada dukungan dan perkembangan, ketrampilan social atau aktivitas lain dengan berdiskusi dan bermain untuk mengembalikan kesadaran klien karena masalah sebagian orang merupakan perasaan dan tingkah laku pada orang lain.

F. Pohon Masalah

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Perilaku kekerasan / amuk

Marah

Gangguan Konsep Diri : Harga diri sendiri

Frustasi

BAB III KONSEP TEORI ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian Pengkajian adalah proses untuk tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan terdiri dari pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikumpulkan melalui data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokkan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa factor presipitasi, predisposisi, penilaian terhadap streesor, sumber koping dan kemampuan yang dimiliki klien.

a. Identitas Klien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, tanggal pengkajian, tanggal dirawat, No. MR.

b. Alasan masuk Alasan klien datang ke RS, biasanya klien memukul anggota keluarga atau orang lain, merusak alat RT dan marah.

c. Factor predisposisi Biasanya klien pernah mengalami gangguan jiwa dan kurang berhasil dalam pengobatan. Pernah mengalami aniaya fisik, penolakan dan kekerasan dalam keluarga. Klien dengan perilaku kekerasan bisa herediter. Pernah mengalami trauma masa lalu yang sangat mangganggu.

d. Fisik Pada saat marah tensi biasanya meningkat. e. Psikososial 1) Genogram Pada genogram biasanya ada terlihat ada anggota keluarga yang mengalami kelainan jiwa, pada komunikasi klien terganggu begitupun dengan pengambilan keputusan dan pola asuh.

2) Konsep diri Gambaran diri Klien biasanya mengeluh dengan keadaan tubuhnya, ada bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai. Identitas Klien biasanya tidak puas dengan status dan posisinya baik sebelum maupun ketika dirawat tapi klien biasanya puas dengan statusnya sebagai laki-laki/perempuan. Peran Klien biasanya menyadari peran sebelum sakit, saat dirawat peran klien terganggu. Ideal diri Klien biasanya memiliki harapan masa lalu yang tidak terpenuhi. Harga diri Klien biasanya memiliki harga diri rendah sehubungan dengan sakitnya.

3) Hubungan social Meliputi interaksi social, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, mengajuhkan diri dari orang lain, menolak mengikuti aturan.

4) Spiritual Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan linngkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa.

f. Status mental Penampilan Biasanya penampilan diri yang tidak rapi, tidak cocok/serasi dan berubah dari biasanya. Pembicaraan Biasanya pembicaraannya cepat dan kasar Aktivitas motoric Aktivitas motorik meningkat klien biasanya terganggu dan gelisah Alam perasaan Berupa suasana emosi yang memanjang akibat dari factor presipitasi misalnya: sedih dan putus asa. Afek Afek klien biasanya sesuai Interaksi selama wawancara Selama berinteraksi dapat dideteksi sikap klien yang tampak bermusuhan dan mudah tersinggung. Persepsi Klien dengan perilaku kekerasan biasanya tidak memiliki kerusakan persepsi. Proses pikir Biasanya klien mampu mengorganisir dan menyusun pembicaraan logis dan koheren. Isi pikir Keyakinan klien konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Tingkat kesadaran Biasanya klien tidak mengalami disorientasi terhadap orang, tempat dan waktu. Memori Tidak terjadi ganggguan daya ingat jangka panjang maupun jangka pendek klien mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Tingkat konsentrasi dan berhitung Klien biasanya tidak mengalami gangguan konsentrasi dan berhitung.

Kemampuan penilaian Biasanya klien mampu mengambil keputusan jika menghadapi masalah yag ringan, klien mampu menilai dan mengevaluasi diri sendiri. Daya tilik diri Klien biasanya mengingkari penyakit yang diderita dan tidak memerlukan pertolongan, klien juga seringmenyalahkan hal-hal diluar dirinya.

g. Kebutuhan persiapan pulang 1) Makan: pada keadaan berat, klien cenderung tidak memperhatikan dirinya termasuk tidak peduli makanan karena tidak memiliki minat dan kepedulian. 2) BAB/BAK: observasi kemampuan klien untuk BAB/BAK serta kemampuan klien untuk membersihkan dirinya. 3) Mandi : biasnya klien mandi berulang/ tidak mandi sama sekali 4) Berpakaian : biasanya tidak rapi, tidak sesuai dan tidak diganti. 5) Istirahat: observasi tentang lama dan waktu tidur siang dan malam, biasanya istirahat klien terganggu karena klien gelisah dengan masalah yang dihadapi. 6) Sistem pendukung: untuk pemeliharaan kesehatan klien selanjutnya, peran keluarga dan system pendukung sangat menentukan. 7) Aktifitas dalam rumah: klien mampu melakukan aktivitas dalam rumah seperti menyapu.

h. Mekanisme koping Biasanya Mekanisme yang dicapai oleh klien adalah maladaptif, klien mengatakan kalau ada masalah pengennya marah-marah, merusak barang dan keluyuran.

Daftar Masalah Keperawatan 1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan 2. Perilaku kekerasan 3. Gangguan konsep diri: harga diri rendah 4. Gangguan pemeliharaan kesehatan 5. Defisit perawatan diri : mandi dan berhias 6. Ketidakefektifan koping keluarga merawat klien dirumah 7. Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik

B. Diagnosa keperawatan 1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan b/d perilaku kekerasan 2. Perilaku kekerasan b/d harga diri rendah 3. Gangguan konsep diri: HDR b/d koping individu inefektif.

C. Rencana Asuhan Keperawatan Dx 1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan b/d perilaku kekerasan Tujuan umum : Klien tidak mencederai diri / orang lain / lingkungan. Tujuan khusus : a. Klien dapat membina hubungan saling percaya b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. c. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan. d. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekekerasan yang biasa dilakukan. e. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. f. Klien dapat melakukan cara berespons terhadap kemarahan secara konstruktif. g. Klien dapat mendemonstrasikan sikap perilaku kekerasan. h. Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan. i. Klien dapat menggunakan obat yang benar.

Tindakan keperawatan : a. Bina hubungan saling percaya. Salam terapeutik, perkenalan diri, beritahu tujuan interaksi, kontrak waktu yang tepat, ciptakan lingkungan yang aman dan tenang, observasi respon verbal dan non verbal, bersikap empati. Rasional : Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. b. Beri kesempatan pada klien untuk mengugkapkan perasaannya. Rasional : Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu kien dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif. c. Bantu untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal. Rasional : pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam akan menolong pasien untuk sampai kepada akhir penyelesaian persoalan. d. Anjurkan klien mengungkapkan dilema dan dirasakan saat jengkel Rasional : Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari penyelesaian masalah yang konstruktif pula. e. Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien. Rasional : mengetaui perilaku yang dilakukan oleh klien sehingga memudahkan untuk intervensi.

f. Simpulkan bersama tanda-tanda jengkel / kesan yang dialami klien. Rasional : memudahkan klien dalam mengontrol perilaku kekerasan. g. Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Rasional : memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien. h. Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Rasional : mengetahui bagaimana cara klien melakukannya. i. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai. Rasional : membantu dalam memberikan motivasi untuk menyelesaikan masalahnya. j. Bicarakan akibat / kerugian dan perilaku kekerasan yang dilakukan klien. Rasional : mencari metode koping yang tepat dan konstruktif. k. Bersama klien menyimpulkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan. Rasional : mengerti cara yang benar dalam mengalihkan perasaan marah. l. Tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat. Rasional : menambah pengetahuan klien tentang koping yang konstruktif. m. Berikan pujian jika klien mengetahui cara yang sehat. Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang positif, meningkatkan harga diri klien. n. Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien. Rasional : memotivasi klien dalam mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. o. Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang telah dipilih. Rasional : mengetahui respon klien terhadap cara yang diberikan. p. Bantu klien untuk menstimulasikan cara tersebut. Rasional : mengetahui kemampuan klien melakukan cara yang sehat. q. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut. Rasional : meningkatkan harga diri klien. r. Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel / marah. Rasional : mengetahui kemajuan klien selama diintervensi. s. Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini. Rasional : memotivasi keluarga dalam memberikan perawatan kepada klien. t. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien. Rasional : menambah pengetahuan bahwa keluarga sangat berperan dalam perubahan perilaku klien. u. Jelaskan cara-cara merawat klien. Terkait dengan cara mengontrol perilaku kekerasan secara konstruktif. Sikap tenang, bicara tenang dan jelas. v. Bantu keluarga mengenal penyebab marah. w. Rasional : meningkatkan pengetahuan keluarga dalam merawat klien secara bersama.

Dx II. Perilaku kekerasan b/d harga diri rendah Tujuan umum : klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain Tujuan khusus : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya. 2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif yang dimiliki. 3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan. 4. Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki. 5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya. 6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Tindakan keperawatan: a. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik. Rasional : hubungan saling percaya memungkinkan klien terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. b. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien. Rasional : mengidentifikasi hal-hal positif yang masih dimiliki klien. c. Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif. Rasional : pemberian penilaian negatif dapat menurunkan semangat klien dalam hidupnya. d. Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan aspek positif klien. Rasional : meningkatkan harga diri klien. e. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan. Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat digunakan. f. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya di rumah sakit. Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat dilanjutkan. g. Berikan pujian. Rasional : meningkatkan harga diri dan merasa diperhatikan. h. Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit. Rasional : agar klien dapat melakukan kegiatan yang realistis sesuai kemampuan yang dimiliki. i. Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh. Rasional : menuntun klien dalam melakukan kegiatan. j. Beri pujian atas keberhasilan klien. Rasional : meningkatkan motivasi untuk berbuat lebih baik. k. Diskusikan jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih. Rasional : mengidentifikasi klien agar berlatih secara teratur. l. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan. Rasional : tujuan utama dalam penghayatan pasien adalah membuatnya menggunakan respon koping mal adaptif dengan yang lebih adaptif. m. Beri pujian atas keberhasilan klien. Rasional : meningkatkan harga diri klien. n. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah.

Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan. o. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah. Rasional : meningkatkan pengetahuan keluarg a dalam merawat klien secara bersama. p. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat. Rasional : meningkatkan peran serta keluarga dalam membantu klien meningkatkan harga diri rendah. q. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah. Rasional : memotivasi keluarga untuk merawat klien

Dx III. Gangguan konsep diri: HDR b/d koping individu tidak efektif Tujuan Umum: Klien mampu berinteraksi dengan lingkungan Tujuan Khusus: 1. Membina Hubungan saling percaya 2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan 4. Klien dapat menetapkan perencanaan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Tindakan Keperawatan: a. Bina hubungan saling percyaya dengan menggunakan prinsip komunikasi teraupetik, sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal. Rasional: Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk hubungan interaksi selanjutnya. b. Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien Rasional: mengingatkan bahwa klien manusia biasa c. Bantu klien menilai kemampuan klien yang masih dapat digunakan Rasional: Memberi kesempatan klien untuk menilai dirinya. d. Bantu klien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai kemampuan klien. Rasional: membantu klien dalam membentuk harapan yang realita e. Latih pasien sesuai kemampuan yang dipilih. Rasional: meningkatkan harga diri klien f. Berikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan klien. Rasional: memberikan harapan dan meningkatkan rasa percaya diri klien

D. Evaluasi: Evaluasi dilakukan untuk mengukur tujuan dan kriteria yang sudah tercapai dan yang belum sehingga dapat menentukan intervensi lebih lanjut. Bentuk evaluasi yang positif adalah sebagai brikut : a. Identifikasi situasi yang dapat membangkitkan kemarahan. b. Bagaimana keadaan klien saat marah dan benci pada orang tersebut. c. Sudahkah klien menyadari akibat dari marah dan pengaruhnya pada orang lain. d. Buatlah komentar yang kritikal. e. Apakah klien sudah mampu mengekspresikan sesuatu yang berbeda. f. Klien mampu menggunakan aktifitas secara fisik untuk mengurangi perasaan marahnya. g. Konsep diri klien sudah meningkat. h. Kemandirian berpikir dan aktivitas meningkat.

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat membahayakan orang, diri sendiri baik secar fisik, emosional, dan atau sexua litas ( Nanda, 2005 ). Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi. Depkes (2000) mengemukakan bahwa stress, cemas dan marah merupakan bagian kehidupan sehari -hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan yang mengarah pada perilaku kekerasan. Respon terhadap marah dapat diekspresikan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal dapat berupa perilaku kekerasan sedangkan secara internal dapat berupa perilaku depresi dan penyakit fisik. Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons aktual dan potensial dari individu, keluarga, atau masyarakat terhadap masalah kesehatan sebagai proses kehidupan. (Carpenito, 1995).

B. SARAN Bagi perawat diperlukan pendekatan yang optimal pada klien dengan masalah perilaku kekerasan untuk memberikan perawatan secara optimal agar klien dapat melakukan marah secara asertif dan dapat mengontrol emosinya saat marah. Bagi institusi rumah sakit untuk menunjang keberhasilan keperawatan klien dengan perilaku kekerasan perlu ditingkatkan lagi hubungan kerja sama antara pihak rumah sakit dan keluarga dalam perawatan klien baik di rumah sakit maupun sudah pulang di rumah Bagi keluarga diharapkan memberik motivasi kepada klien dengan perilaku kekerasan dengan cara inilah rasa optimisme dan perasaan positif terhadap diri sendiri ataupun orang lain akan muncul sehingga pasien dapat mengontrol emosinya saat marah Bagi institusi pendidikan agar senantiasa mengembangkan sayap melalui secara aktual dalam menyelesaikan masalah klien dengan perilaku kekerasan

DAFTAR PUSTAKA http://www.slideshare.net/fitrayagami/askep-perilaku-kekerasan http://elnurch.blogspot.com/2012/10/askep-perilaku-kekerasan.html http://sixxmee.blogspot.com/2012/10/askep-jiwa-dengan-perilaku-kekerasan-pk.html http://barryvanilow.blogspot.com/p/asuhan-keperawatan-jiwa-klien-dengan.html

Anda mungkin juga menyukai