Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada praktikum mata kuliah Instalasi Listrik Industri semester 5 ini, praktikan
diberikan salah satu contoh dari sekian banyak hasil rancangan yang kini telah
banyak digunakan pada gedung modern dan di industri-industri, yaitu Waste Water
Pump Station yang berfungsi untuk memindahkan limbah dari kolam penampungan
pertama ke kolam penampungan berikutnya secara otomatis untuk menjalani proses
pengolahan air limbah selanjutnya.
Sistem ini mempunyai tiga sensor (menggunakan floating switch) untuk
mengukur tingkat ketinggian limbah pada tangki penampungan

sekaligus

memberikan sinyal, pompa mana dan berapa pompa yang harus bekerja. Sistem ini
pun dilengkapi pula dengan indikasi gangguan, yaitu gangguan No Flow (tidak ada
aliran air), Over Load pompa. Selain mempunyai indikasi gangguan, sistem ini pun
memiliki indikasi jika Volume Limbah lebih besar dari Volume tangki penampungan
itu sendiri (Indikasi

Level Over Limit). Untuk pegontrolan sistem agar dapat

dioperasikan secara otomatis yaitu dengan menggunakan teknik pengontrolan


Kontaktor Logic.
Waktu yang diberikan untuk melaksanakan seluruh aktifitas praktikum
termasuk uji coba dan presentasi yaitu kurang lebih 13 kali pertemuan.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sabagai berikut :
1) Setelah praktek mahasiswa diharapkan mampu merancang dan merangkai
rangkaian kontrol yang ada di industri-industri

2) Mahasiswa diharapkan mampu melakukan penelusuran atau menganalisa jika


pada sistem terjadi gangguan (trouble).
3) Menumbuhkan kepercayaan diri pada mahasiswa jika di lapangan berhadapan
dengan masalah (trouble).
1.3 Sistematika Penulisan
Pada penulisan laporan ini, mempunyai sistematika penulisan sebagai berikut:
1) Bab satu, pendahuluan, membahas tentang latar belakang, tujuan, ruang lingkup
bahasan dan sistematika penulisan.
2) Bab dua, alat dan bahan, berisikan peralatan yang digunakan, bahan yang
digunakan, komponen dan kegunaannya serta komponen proteksi.
3) Bab tiga, langkah dan prinsip kerja, berisikan langkah kerja, definisi kerja
rangkaian (keadaan normal, tidak normal dan overload).
4) Bab empat, evaluasi pemasangan, berisikan penerapan standar, labeling, wiring
dan system proteksi.
5) Bab lima, kesimpulan, berisi tentang kesimpulan dari laporan.

BAB II
ALAT DAN BAHAN

2.1 Peralatan
1) Obeng + & - semua ukuran
2) Tang Lancip
3) Tang Kombinasi
4) Tang Potong
5) Tang Pengupas
6) AVO Meter
7) Test Pen
8) Cutter/Gunting
9) Penggaris

2.2 Bahan
No

NAMA BAHAN

SPESIFIKASI

JUMLAH

SATUAN

MCB 3 FASA

3 kutub,10A

Buah

Sekring

6A, set lengkap

Set

Sekring

2A, set lengkap

Set

Saklar

25A, tipe Rotari, tiga kutub,

Buah

Buah

Buah

V kontak 220V
5

Kontaktor

220V, 5NO,Teg. kontak :


220V

Kontaktor

220V,3NO, Teg. kontak :


220V

Relay

220V, 2NO, set lengkap

Set

Relay

220V, 2NO, 2NC, set lengkap

Set

Relay

48V, 2No, 1NC, set lengkap

Set

10

Relay

48V, 1NO, set lengkap

Set

11

Relay

48V 3NO, set lengkap

Set

12

TOLR

1 12A, 1NO

Buah

13

Non Return Valve

220V

Buah

14

Hour Counter

220V

Buah

15

Lampu Indikator

48V, merah, set lengkap

Set

16

Lampu Indikator

48V, hijau, set lengkap

Set

17

Dioda

IN 4005

Buah

18

Alarm

220V

Buah

19

Trafo

220/48V, 50VA

Buah

20

Saklar Impuls

220V, 1NO

Buah

21

Line Up Terminal

36

Buah

22

Push Botton

NO, hijau

Buah

20

Push Botton

NC, merah

Buah

21

Hand Impuls

SPDT

Buah

22

Fitting Lampu

220V

Buah

23

Lampu

220V, 5Watt

Buah

24

Wire duct plast

43x43 mm, 395 mm

Secukupnya

Meter

24

Profil C

Secukupnya

Meter

25

Kabel NYA

1,5 mm hijau

Secukupnya

Meter

26

Kabel NYA

2,5 mm , merah, kuning,

Secukupnya

Meter

hitam, biru, kuning strip hijau

2.3 Komponen
Pada pembuatan insalasi pengolahan limbah ini terdiri dari beberapa komponen
saling bekerja sama antara satu dengan yang lainnya baik itu komponen utama
maupun komponen sebagai simulasi. Adapun komponen dan fungsi untuk
penggoperasian pengolahan air limbah ini adalah :
1) Saklar utama , digunakan sebagai pemutus aliran listrik dari sumber PLN ke
panel
2) MCB tiga Fasa, digunakan sebagai pengaman arus hubung singkat dan beban
lebih motor pompa.
3) Fuse, sebagai pengaman komponen dari kerusakan dan pengaman gangguan atau
hubung singkat.
4) Grounding, sebagai pengaman terhadap tegangan sentuh.
5) Kontaktor, penghubung antara sumber dengan motor yang bekerja secara
elektromagnetik
6) Termal overload relay, digunakan sebagai pengaman motor dari beban lebih
(Over Load)
7) Buzzer atau alarm, untuk memberikan indikasi kepada operator bahwa pada
sistem terjadi gangguan.
8) Hand Impuls
a. Jump : digunakan untuk mengecek apakah tegangan sudah masuk kedalam
system atau belum.
b. Auto : Posisi dimana system sudah siap bekerja (standby).
9) Saklar Impuls, bekerja cukup diberi tegangan sesaat. Disini difungsikan sebagai
Change Over. Artinya pada saat terjadi pasang surut pada level satu saklar impuls
akan mengendalikan pompa supaya pompa bekerja saling bergantian.
10) Flow controller, suatu sensor yang bekerja secara mekanik yang mendeteksi
adanya aliran air atau tidak dalam pipa.

11) Non Return Valve, difungsikan agar air dalam pompa tidak kosong sehingga
pompa dapat bekerja setiap saat.
12) Floating switch, suatu sensor yang bekerja dengan memanfaatkan tinggi
rendahnya permukaaan air yang digunakan untuk mendeteksi volume air.
13) Hour Counter, menunjukan lamanya pompa beroperasi dalam satuan jam.
14) Dioda, dalam kondisi forward sebagai penyearah tetapi dalam hal ini
difungsikan sebagai pembatas arus (Bloking Current) yaitu dalam kondisi
reverse,
15) Thermistor, dibagi menjadi dua jenis yaitu :
16) Relay, merupakan saklar yang bekerja secara elektromagnetik.
2.4 Komponen Proteksi
2.4.1

MCB
MCB adalah pengaman rangkaian yang dilengkapi dengan pengaman thermis

(bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relai elektromagnetik
untuk pengaman hubung singkat. MCB banyak digunakan untuk pengaman sirkit satu
phasa dan tiga phasa. Keuntungan menggunakan MCB sebagai berikut:
1) Dapat memutuskan rangkaian tiga phasa walaupun terjadi hubung singkat pada
salah satu phasanya.
2) Dapat digunakan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung singkat
atau beban lebih.
3) Mempunyai tanggapan yang baik apabila terjadi hubung singkat atau beban
lebih.
Pada MCB terdapat dua jenis pengaman yaitu secara thermis dan
elektromagnetis, pengaman termis berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih
sedangkan pengaman elektromagnetis berfungsi untuk mengamankan jika terjadi
hubung singkat. Pengaman thermis pada MCB memiliki prinsip yang sama dengan
thermal overload yaitu menggunakan dua buah logam yang digabungkan (bimetal),

pengamanan secara thermis memiliki kelambatan, ini bergantung pada besarnya arus
yang harus diamankan, sedangkan pengaman elektromagnetik menggunakan sebuah
kumparan yang dapat menarik sebuah angker dari besi lunak. MCB dibuat hanya
memiliki satu kutub untuk pengaman satu phasa, sedangkan untuk pengaman tiga
phasa biasanya memiliki tiga kutub dengan tuas yang disatukan, sehingga apabila
terjadi gangguan pada salah satu kutub maka kutub yang lainnya juga akan ikut
terputus.
2.4.2

Sekering (Fuse)
Sekering adalah suatu peralatan proteksi yang umum digunakan untuk

memproteksi sistem atau komponen terhadap kerusakkan yang disebabkan oleh arus
berlebihan yang mengalir dan memutuskan rangkaian dengan meleburannya elemen
sekering.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan sekering :
1) Arus nominal sekering (current rating) adalah arus yang mengalir secara terus
menerus tanpa terjadi panas yang berlebihan dan kerusakan
2) Tegangan nominal (voltage rating) yaitu tegangan kerja antar konduktor yang
diproteksi atau peralatan
3) Time current protection yaitu suatu lengkung karakteristik untuk menentukan
waktu pemutusan
4) Pre-arcing time adalah waktu yang diperlukan oleh arus yang besar untuk dapat
meleburkan elemen sekering
5) Arcing time adalah waktu elemen sekering melebur dan memutuskan rangkaian
sehingga arus jatuh menjadi nol
6) Minimum fusing current adalah suatu harga minimun dari arus yang akan
menyebabkan elemen sekering beroperasi (melebur)
7) Fusing factor adalah suatu perbandingan antara minimum fusing current dengan
curret rating dari sekering. Umumnya sekering yang tergolong pada semi

enclosed mempunyai faktor 2 dan untuk type HRC mempunyai faktor serendah
mungkin 1,2 8. Total operating time adalah waktu total yang diambil oleh
sekering secara lengkap dapat mengisolasi dengan gangguan.
8) Cut off ini adalah satuan fungsi yang penting sekering HRC. Jika elemen
sekering melebur dan membatasi harga arus yang dicapai ini kita kenal dengan
sebutan arus cut off
9) Categori of duty. Sekering diklasifikasikan pada kategori kesanggupan dalam
menangani gangguan sesuai dengan harga arus prospective pada rangkaian.
Katagori A1 dan A2 untuk arus propectif. 1.0 kA dan 4.0 kA. Sedangkan untuk
kategori AC3, AC4 dan AC5 untuk arus 16,5 kA, 33 kA dan 46 kA.
Ada dua type dasar sekering :
1) Semi enclosed type adalah tipe untuk arus dengan rating yang rendah dan
category of duty yang rendah
2)

Cartridge

type

adalah

merupakan

type

yang

mempunyai

kapasitas

pemutusan yang tinggi (High-ruptring capacity) yang lebih dikenal dengan istilah
HRC fuse.
2.4.3

Grounding
Pentanahan (grounding) merupakan salah satu cara konvensional untuk

mengatasi bahaya tegangan sentuh tidak langsung yang dimungkinkan terjadi pada
bagian peralatan yang terbuat dari logam.

Untuk peralatan yang mempunyai

selungkup/ rumah tidak terbuat dari logam tidak memerlukan sistem ini. Agar sistem
ini dapat bekerja secara efektif maka baik dalam pembuatannya maupun hasil yang
dicapai harus sesuai dengan standar.
Ada dua hal yang dilakukan oleh sistem pentanahan, yaitu (1) menyalurkan
arus dari bagian-bagian logam peralatanyang teraliri arus listrik liar ke tanah melalui
saluran pentanahan, dan (2) menghilangkan beda potensial antara bagian logam
peralatan dan tanah sehingga tidak membahayakan bagi yang menyentuhnya.

BAB III
LANGKAH DAN PRINSIP KERJA

3.1 Langkah Kerja


1)

Amati dan pelajari rangkaian yang akan dirancang.

2)

Buat schedule kerja.

3)

Pembuatan BQ dengan spesifikasi komponen.

4)

Pengecekan komponen.

5)

Perancangan Tata Letak Komponen.

6)

Perakitan rangka panel.

7)

Pemasangan komponen.

8)

Labelling dan Wirring komponen.

9)

Wirring Instrument, indicator dan Metering Panel

10)

Desain plant simulator

11)

Membuat BQ simulator

12)

Pembuatan simulator

13)

Pengetesan

14)

Perbaikan troubleshooting

15)

Finishing.

3.2 Cara kerja Rangkaian


Prinsip kerja Waste Water Pumping Panel Station disini menggunakan sebuah
panel dan simulator dimana simulator ini sebagai simulasi dari aplikasinya
dilapangan, sistem ini terdiri dari tiga level yaitu level 1, level 2, level 3. pada level 1
air limbah pada posisi dasar yaitu sangat kotor, pada level 2 air limbah pada posisi
standar dan pada level 3 air limbah sudah naik dimana air akan disalurkan pada

saluran pembuangan kemudian sistem ini juga menggunakan dua tegangan yaitu 48V
dan 220V
Untuk mengoperasikan rangkaian ini posisi saklar utama harus dalam keadaan
ON (saklar menunjuk angka 1). Kemudian untuk masing-masing pompa di cek
apakah tegangan sudah masuk ke rangkaian, yaitu dengan memutar hand Impuls
menunjuk posisi jump, jika rangkaian bekerja berarti tegangan sudah masuk ke
rangkaian. Selanjutnya kedua hand Impuls untuk pompa satu dan dua putar menunjuk
posisi Auto. Ini berarti kedua pompa sudah siap bekerja (Stand By).
Apabila air dalam penampungan volumenya bertambah dan mencapai floating
switch 1 (level 1) yang disimulasikan dengan saklar tunggal, maka salah satu pompa
akan bekerja. Jika terjadi pasang surut pada limit 1 maka pompa akan bekerja secara
bergantian, yang dikendalikan oleh saklar impuls (d14). Apabila volume air dalam
penampungan terus bertambah bertambah dan mencapai Floating Switch 2 (level 2)
yang di simulasikan dengan saklar tunggal, maka pompa lain yang tidak bekerja akan
bekerja, sehingga pada level ini kedua pompa bekerja bersama-sama. Apabila pada
level ini volume air berkurang, maka pompa yang terakhir bekerja akan di matikan
kembali. Apabila volume air masih terus bertambah dan mencapai batas over limit
yang di simulasikan oleh push botton, maka alarm 1 dan lampu indicator pada panel
akan bekerja. Yang mengindikasikan bahwa air dalam penampungan mencapai over
limit untuk segera dilakukan tindakan selanjutnya. Untuk mematikan alarm ini
menggunaka push botton NC pada panel.

3.2.1 Kerja Rangkaian Keadaan Normal


Pada kondisi normal, pompa akan tetap bekerja meskipun timer d11 untuk
pompa 1 dan timer d16 untuk pompa 2 seting waktunya telah habis. Untuk
mengoperasikan agar rangakain bekerja keadaan normal, maka timer d11 dan d16
harus di setting lebih besar dari seting timer On Delay (flow controller) pada papan

simulasi. Sehingga arus yang masuk ke koil kontaktor C21 atau C23 pada saat seting
timer d11 dan d16 habis, telah di gantikan oleh flow controller, yang disimulasikan
oleh timer On Delay pada papan simulasi. Sehingga arus yang masuk ke koil
kontaktor C21 dan C23 sekarang melewati flow controller tidak lagi melewati timer
d11 dan d16. Pada kenyataannya dilapangan Setting waktu

timer On Delay pada

papan simulasi diasumsikan sebagai waktu yang diperlukan oleh air untuk naik
sampai menyentuh flow controller sehingga kontak flow controller menutup untuk
menggantikan kontak timer d11 dan d16 untuk melewatkan arus menuju koil
kontaktor C21 dan C23.
3.2.2 Kerja Rangkaian Keadaan tidak Normal
Pada kondisi tidak normal, pompa akan mati bersamaan dengan habisnya
setting waktu pada timer d11 untuk pompa 1 dan d16 untuk pompa 2. Kondisi ini
terjadi karena setting waktu timer d11 dan d16 lebih kecil dari timer On Delay pada
papan simulasi. Sehingga pada saat setting waktu timer d11 dan d16 habis arus yang
mengalir ke koil kontaktor C21 dan C23 terputus, karena kontak flow controller
belum menutup. Pada keadaan ini maka Alarm 1 dan lampu indicator No flow pada
panel akan bekerja. Untuk mematikan alarm ini dengan memutar Hand Impuls
menunjuk angka 0. Pada kenyataan dilapangan keadaan ini diartikan bahwa pada pipa
pompa tidak ada aliran.
3.2.3. Kerja Rangkaian Keadaan Over Load
Keadaan over load terjadi apabila pada motor pompa terjadi beban lebih,
artinya arus yang mengalir ke kumparan motor besar, melebihi setting TOLR yang
telah ditentukan maka motor akan berhenti bekerja dan Alarm 1 dan lampu indicator
Over load pada panel akan bekerja. Untuk mematikan alarm ini sama dengan keadaan
No Flow.
Karena kemungkinan letak antara motor dengan pompa jauh, untuk mengetahui
pompa bekerja atau tidak, maka dilengkapi dengan rangkaian tes lampu sebagai

indicator pompa 1 dan pompa 2 bekerja atau tidak. Yaitu menggunakan Off Delay,
dengan menekan tombol Test Run Pump berupa Push botton NO maka lampu
indicator akan menyala jika pompa bekerja, dan akan mati kembali sesuai setting
pada timer Off Delay-nya.
Untuk mengetahui keadaan lampu indicator pada panel baik atau tidak maka
dengan menekan tombol Test Lamp pada panel berupa push botton NO, maka semua
lampu indicator yang ada pada panel harus menyala.

BAB IV
EVALUASI PEMASANGAN

4.1 Pemasangan Label


Label dipasang dengan mengikuti petunjuk pemasangan berikut ini :
1) Label komponen
- Label dipasang di dalam panel sehingga tidak terlihat tanpa membuka cover
protection.
- Label dipasang pada body komponen atau dudukannya sedemikian rupa
sehingga mudah terlihat/ditemukan dari sisi depan panel.
- Label tidak boleh dipasang di atas name plate, plat skala ukur, tombol reset
dan knop pengatur komponen.
2) Label kawat hantaran
-

Label dipasang pada setiap ujung penghantar dengan jarak 0,5 1 cm dari
ujung isolasi hantarannya.

Setiap potong kawat penghantar memiliki nomor yang sama pada kedua
ujungnya.

Ujung-ujungnya penghantar yang bernomor sama dapat dihubungkan pada


titik sambung atau terminal yang sama. Namun hindari memasang ujung
penghantar yang berbeda nomor pada titik sambung atau terminal yang
sama.

Label direkatkan pada saat setiap potongan penghantar akan dipasang atau
dihubungkan pada titik sambungan/terminal.

3) Label fungsi
-

Label dipasang pada sisi depan plat dudukan komponen dan berdekatan
dengan komponen.

Label harus dapat dibaca dengan tanpa membuka cover protection.

Label tidak boleh menutupi plat skala atur, tombol reset dan knop pengatur
komponen.

4.2 Sistem Proteksi


Suatu sistem proteksi terdiri dari beberapa komponen peralatan yang
membentuk satu rangkaian yang masing-masing komponen mempunyai tugas sesuai
dengan fungsinya. Komponen peralatan pada sistem proteksi adalah sebagai berikut :
4.2.1

Circuit Breaker ( CB )
Circuit Breaker adalah suatu peralatan listrik yang dapat menghubungkan atau

memutuskan rangkaian listrik dalam keadaan normal (tidak ada gangguan) atau tidak
normal (terjadi gangguan) yang dilengkapi dengan alat pemadam busur api.
Dalam keadaan tidak normal ( terjadi gangguan ) circuit breaker merupakan
saklar otomatis yang dapat memisahkan rangkaian yang terganggu , dimana untuk
mengerjakan atau mengoperasikan CB dalam keadaan tidak normal ini umumnya
digunakan suatu rangkaian trip ( Tripping Coil ) yang mendapat sinyal dari suatu
rangkaian relai proteksi.
CB harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1) Dalam keadaan tertutup harus sanggup dialiri arus beban penuh untuk waktuwaktu yang panjang.
2) Bila dikehendaki CB harus dapat membuka dalam keadaan berbeban tau bila
terjadi beban lebih.
3) Harus dapat memutus secara cepat arus beban yang mungkin mengalir bila
terjadi gangguan hubung singkat.
4) Bila kontak dalam keadaan terbuka, celah ( celah udara ) harus tahan terhadap
tegangan rangkaian.
5) Untuk membebaskan gangguan dari sistem, maka kalau ada gangguan harus
segera membuka.
6) Harus tahan terhadap arus hubung singkat untuk beberapa saat sampai gangguan
dibebaskan.

7) Harus tahan terhadap efek pembusuran pada kontak-kontaknya, yang timbul pada
waktu terjadi hubung singkat.
4.2.2

Relay proteksi

Syarat-syarat relay proteksi :


1) Cepat bereaksi : top = tp + tcb
top = total waktu yang digunakan untuk memutuskan rangkaian.
tp = waktu bereaksinya relay.
tcb = waktu yang digunakan untuk pelepasan CB.
2) Selektip : kecermatan pemilihan dalam pengamanan, dalam hal ini berkaitan
dengan koordinasi proteksi.
3) Peka/sensitip : relay harus peka terhadap gangguan di daerah pengamanannya
meskipun gangguannya minimum.
4) Andal/Reliability : keandalan relay dikatakan baik bila mempunyai nilai
keandalan 90 % s/d 99 %.
5) Ekonomis dan sederhana : relay proteksi selain harus memenuhi syarat-syarat di
atas juga harus disesuaikan dengan peralatan yang diamankan.
4.2.3 Trafo Arus
Trafo arus digunakan untuk menurunkan arus yang mengalir pada jaringan
tegangan tinggi untuk keperluan pengukuran dan proteksi. Kumparan primer trafo
arus dihubungkan seri dengan jaringan atau peralatan yang akan diukur arusnya,
sedangkan kumparan sekunder dihubungkan dengan alat ukur atau relay proteksi.
Biasanya peralatan ukur atau realy proteksi membutuhkan arus 1 A atau 5 A. Trafo
arus yang digunakan untuk pengukuran biasanya 0,005 s/d 1,2 kali arus yang akan
diukur, sedangkan trafo arus untuk proteksi harus mampu bekerja lebih dari 10 kali
arus pengenalnya. Perbedaan mendasar antara trafo arus untuk pengukuran dan trafo
arus untuk proteksi adalah pada kurva magnetisasinya. Level kejenuhan trafo arus
untuk proteksi lebih tinggi dibanding level kejenuhan trafo arus untuk pengukuran.

4.2.4 Trafo tegangan


Trafo tegangan adalah trafo satu fasa step-down yang mentransformasi
tegangan tinggi atau tegangan menengah ke suatu tegangan rendah yang layak untuk
perlengkapan indikator, alat ukur, relay, dan alat sinkronisasi. Hal ini dilakukan atas
pertimbangan harga dan bahaya yang dapat ditimbulkan tegangan tinggi. Tegangan
perlengkapan seperti indikator, meter, dan relay dirancang sama dengan tegangan
terminal sekunder trafo tegangan.
4.2.5

Batere

Fungsi batere :
1) Sumber tenaga untuk alat kontrol, pengawasan, signalling dan alarm.
2) Sumber tenaga motor-motor untuk PMT, PMS, tap charging trafo tenaga dan
sebagainya
3) Sumber tenaga untuk penerangan darurat
4) Sumber tenaga untuk relai proteksi
5) Sumber tenaga untuk peralatan telekomunikasi

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan system pemompaan air
limbah ini terdapat tiga kondisi penting yaitu :
1.

Keadaan normal, pada kondisi ini semua pompa bekerja normal.

2. Keadaan tidak normal, dimana pompa akan mati setelah bekerja terlebih dahulu
beberapa saat. Pada kondisi ini diartikan bahwa pada pipa pompa tidak ada
aliran. Pada kondisi ini lampu indikator pada panel akan menyala dan alarm
berbunyi.
3. Keadaan Over Load, pompa akan berhenti bekerja karena pada pompa terjadi
beban lebih, artinya arus yang mengalir ke motor lebih besar dari arus setting
pada thermal over load relay. Pada kondisi ini lampu indicator pada panel akan
menyala dan alarm berbunyi.
5.3 Saran
Pada proses merangkai panel control, sambungan antara tiap komponen harus
kencang karena ini berpengaruh terhadap kerja system. Labeling pada kabel control
harus benar ini akan berguna pada saat terjadi trouble shooting. Masing-masing orang
harus memiliki satu set peralatan lengkap mulai dari peralatan utama peralatan bantu
dan alat ukur.

LAMPIRAN

18

ANALISA DAN JAWABAN PERTANYAAN PERSENTASI


Analisis Rangkaian
Pada analisis rangkaian ini akan di jelaskan alasan-alasan dari rangkaian tersebut
dari mulai alur kerja sistem sampai kepada penggunaan komponen dengan spesifikasi
yang ada di rangkaian itu sendiri. Dalam rangkaian ini, sistem menggunakan dua
tegangan yaitu 220 V dan 48 V, sistem bekerja secara pararel yang artinya apabila
salah satu mati maka sistem tidak akan berfungsi dan juga dalam rangkaian kontrol
2

menggunakan kabel NYA dengan ukuran 2,5 mm dengan warna hijau karena untuk
kontrol harus menggunakan kabel dengan warna selaian warna fasa, netral dan PE,
dimana sistem disuply dengan tegangan PLN 220V melewati MCB 3 karena dalam
sistem ini menggunakan motor yang spesifikasinya menggunakan tegangan 380V
dalam kenyataannya dilapangan.
tegangan

Tapi

dalam

simulasi

ini

menggunakan

220V, setelah masuk kedalam sistem, yang pertama tegangan dibagi kedalam dua
kelompok, tegangan 48V yang didapatkan dari hasil step down dengan menggunakan
trafo 220/48 V, yang kedua dari MCB dimasukan kedalam kontaktor kenapa karena
untuk dihubungkan ke motor yang berfungsi sebagai kontak dan kontrol bagi motor
itu sendiri.
Untuk mengetahui sistem berada pada level berapa maka digunakan dua buah
saklar dan satu buah push button yang berada pada papan simulator yang
dihubungkan dengan selector Pump 1 dan Pump 2 yang ada dipanel, kemudian untuk
mengontrol system dalam keadaan normal atau tidak normal maka disini
menggunakan kontaktor yang menggunakan ON Delay dan kontaktor yang
menggunakan kontak bantu dan TOLR, Fungsi dari kontaktor yang menggunakan
ON Delay yaitu kita bisa mencoba sistem dalam keadaan normal dan tidak normal
dengan mengatur antara ON Delay dalam panel dengan On Delay yang ada pada
simulator dan fungsi dari kontaktor yang menggunakan TOLR yaitu sebagai
pengaman bagi motor apabila terjadi Over Load pada motor maka dalam sistem ini
19

apabila terjadi Over Load maka sistem akan memberikan sinyal lewat alarm,
selanjutnya untuk mengatur apabila terjadi air naik turun maka disini menggukan
impuls yang dihubungkan dengan relai, kemudian untuk melihat apakah motor itu
sedang ON atau OFF maka disini menggunakan Valve yang disimulasikan dengan
lampu jadi apabila motor bekerja maka lampu tersebut akan bekerja, lampu tersebut
menggunakan tegangan 48V dengan menggunakan dioda yang berfungsi sebagai
pemblok arus yang masuk kedalam lampu tersebut, antar lampu dalam rangkaian ini
dihubungkan yang berfungsi untuk mengetest lampu apakah lampu mati atau tidak,
selanjutnya dalam rangkaian ini juga menggunakan OFF Delay yang berfungsi untuk
mematikan motor dengan waktu tertentu. Dalam rangkaian ini juga menggunakan
push button dan alarm yang berfungsi untuk Over limit artinya bila pada system
terjadi level maksimum maka alarm bekerja yang disimulasikan dengan menekan
push button.
Analisis Keseluruhan
Pada saat rangkaian dirunning test ternyata banyak sekali kesalahan karena
ketidak sesuaian antara gambar rangkaian dengan rangkaian dalam panel hal ini
disebabkan antara lain kecerobohan dan ketidak telitian dalam merangkai sistem, hal
tersebut sering terjadi dalam merangkai suatu rangkaian listrik, karena kabel-kabel
yang sebegitu banyak dengan warna yang sama, tetapi dengan melakukan prosedur
yang benar tentu hal itu tidak akan terjadi misalnya dengan mengecek lagi semua
yang telah dirangkai.
Pada analisis deskripsi ini, barangkali ada rangkaian yang tidak sesuai dengan
gambar sehingga menyebabkan sistem tidak jalan atau untuk pengetesan komponen
setelah kita mengetahui sistem tidak jalan maka kita bisa menganalisis pada
komponen apabila komponen yang kita gunakan rusak, itu tidak menutup
kemungkinan dalam penganalisisan untuk dilakukan atau bisa saja sistem tidak jalan
akibat tidak ada suplai kedalam sistem.

Pada rangkaian panel kali ini dapat dianalisis dari keadaan normal dalam arti
rangkaian tidak berjalan walaupun sudah mengeset ON Delay dalam panel lebih besar
dibanding dengan ON Delay yang ada di papan simulator, yang diharapkan air
mengalir atau dengan disimulasikan No Flow Pump tidak terjadi. Tetapi
kenyataannya lain, air tetap tidak mengalir yang artinya ON Delay tetap saja jatuh
setelah dianalisis rangkaian dari mulai pengecekan komponen ternyata komponen
dalam keadaan baik kemudian pengecekan suply ternyata juga ada, ternyata setelah
melihat gambar rangkaian yang ada dalam komponen tersebut dengan rangkaian pada
simulator ada ketidak cocokan yaitu ada satu rangkaian yang belum dirangkai setelah
dirangkai,kemudian diset normal airpun jalan.