Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN

HARGA DIRI RENDAH

I.

Kasus (Masalah Utama)


Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah (Situasional)

i.

Proses Terjadinya Masalah


Definisi

Konsep diri
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan
pendirian

yang

diketahui

individu

tentang

dirinya

dan

mempengaruhi individu dalanm berhubungan dengan orang


lain (Stuart & Sundeen, 1991).
Konsep diri terdiri atas komponen:
Identitas diri, ideal diri, citra diri, peran & harga diri

Identitas Diri
Identitas

Diri

adalah

pengenalan,

pemahaman,

ide

seseorang tentang dirinya, bahwa ia adalah individu yang unik,


mempunyai ciri-ciri khusus dan terpisah dari individu lain.
Gangguan Identitas diri adalah kekaburan/ketidak pastian
memadang diri sendiri, penuh keraguan, sukar mentapkan
kemampuan dan tidak mampu mengambil keputusan.

Ideal Diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana dia
harus berperilaku berdasarkan standar, tujuan atau nilai pribadi
tertentu. Ideal diri sering disebut sama dengan cita-cita,
keinginan dan harapan tentang diri sendiri.
Gangguan Ideal diri adalah ideal diri yang terlalu tinggi,
sukar dicapai, tidak realistis.Ideal diri yang samar & tidak jelas
dan cenderung menuntut.

Citra Diri (Body Image)


Citra

diri

adalah

sikap,

persepsi,

keyakinan

dan

pengetahuan individu secara sadar atau tidak sadar terhadap


tubuhnya yaitu ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan,
makna dan objek yang kontak secara terus-menerus (misal:
anting, pakaian) baik masa lalu maupun sekarang.
Gangguan Citra diri adalah perubahan persepsi tentang
tubuh

yang

diakibatkan

oleh

perubahan ukuran,

bentuk,

struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan objek yang sering


kontak dengan tubuh.

Peran
Peran adalah Persepsi individu tentang dirinya sebagai
individu yang mampu atau tidak mampu melaksanakan fungsi
sesuai dengan status yang disandangnya. Sangat dipengaruhi
oleh rasa pencapaian diri.
Gangguan

Penampilan

Peran

adalah

berubah

atau

berubah fungsi peran yang disebabkan oleh penyakit, proses


menua, putus sekolah, PHK.

Harga Diri (Self Esteem)


Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian
diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan
ideal diri.Persepsi, pikiran, dan perasaan sebagai individu yang
punya nilai dan berharga dibandingkan dengan orang lain.
Apabila ideal diri tercapai maka harga diri juga akan semakin
tinggi.
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan
yang negative terhadap
diri sendiri, hilanfg kepercayaan diri, merasa gagalmencapai
keinginan.

Harga diri rendah (HDR)

adalah perasaan negative

terhadap diri sendiri, termasuk kehilangan rasa percaya diri,


tidak berharga, tidak berharga, tidak berguna, pesimis, tidak
ada harapan dan putus asa.
Gangguan harga diri: harga diri rendah dapat terjadi secara
situasional & kronik :
1. Situasional : yaitu terjadi tiba-tiba, misalnya karena
kecelakaan, perpisahan dengan pasangan hidup, PHK,
perasaan malu karena suatu peristiwa.
Pada klien yang dirawat dapat terjadi HDR karena:
-

privacy yang kurang diperhatikan

harapan akan struktur, bentuk, dan fungsi tubuh yang


tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit

perlakuan

petugas

kesehatan

yang

tidak/kurang

menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan


tanpa

penjelasan

dan

berbagi

tindakan

tanpa

penjelasan
2. Kronik, yaitu perasaan negative yang sudah berlangsung
lama, sebelu sakit/dirawat.
RENTANG RESPON KONSEP DIRI

Respon Adaptif
Maladptif

Respon

Aktualisasi Diri
Kerancuan Identitas

Konsep Diri Positif

Harga Diri Rendah

Depersonalisasi

a. Kepribadian Yang Sehat:


1) Konsep diri positif
2) Citra diri yang positif & akurat
3) Ideal diri yang realistis
4) Harga diri tinggi
5) Penampulan kerja memuaskan
6) Identitas diri jelas

b. Etiologi
Ada banyak faktor yang dapat menimbulkan gangguan pada
konsep diri : HDR, meliputi faktor predisposisi dan faktor
presipitasi serta mekanisme koping.
c. Faktor Predisposisi
1) Faktor yang meperngaruhi harga diri, termasuk penolakan
orang tua, harapan orang tua tidak realistis
2) Faktor yang mempengaruhi penampilan peran, yaitu
peran yang sesuai dengan jenis kelamin, peran dalam
pekerjaan dan peran yang sesuai dengan kebudayaan
3) Faktor yang mempengaruhi identitas diri, yaitu orang tua
yang tidak percaya pada anak, tekanan teman sejawat
d.

Faktor Presipitasi
Dapat disebabkan oleh factor eksternal atau internal individu
1) Trauma
2) Ketegangan peran
3) Transisi peran perkembangan

4) Transisi peran situasional


5) Transisi sehat sakit
e.

Mekanisme Koping
1) Aktivitas lari dari krisis identitas : berlatih fisik berat,
musik rock
2) Aktivitas pengganti sementara: kegiatan politik, agama,
politik
3) Aktivitas yang menambah rasa percaya diri: kompetisi
olahraga, pencapaian akademik, kontes popularitas.

f.

Tanda dan Gejala


Tanda & gejala

pada HDR adalah karakteristik perilaku.

Perilaku klien dengan HDR (Stuart & Sundeen, 1995) adalah:


1) Mengkritik diri sendiri atau orang lain
2) Produktifitas menurun
3) Destruktif pada orang lain
4) Gangguan berhubungan
5) Merasa tidak layak
6) Rasa bersalah
7) Mudah marah & mudah tersinggung
8) Perasaaan negative terhadap diri sendiri
9) Pandangan hidup yang pesimis
10)

Keluhan fisik

11)

Mengingkari kemampuan diri sendiri

12)

Mengejek diri sendiri

13)

Menciderai diri sendiri

14)

Isolasi social

15)

Penyalahgunaan zat

16)

Menarik diri dari realitas

17)

Khawatir

18)

Ketegangan peran

III.

Masalah
Perubahan Penampilan Peran

Isolasi Sosial : Menarik Diri

Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah Situasional (Core


Problem)

Gangguan Citra Tubuh


V. Diagnosa Keperawatan
1. Harga Diri Rendah (Situasional)
2. Perubahan Penampilan Peran
3. Isolasi sosial : menarik diri
4. Gangguan citra tubuh
VI.

Rencana Keperawatan (Intervensi)

DP.1 Harga diri rendah


TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan Keperawatan
1.1 Bina hubungan saling percaya :
-

Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.

Perkenalkan diri dengan sopan.

Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai

klien.
-

Jelaskan tujuan pertemuan / interaksi.

Jujur dan menepati janji.

1.2 Pertahankan kontak mata, tunjukkan rasa empati dan dorong


serta

berikan

perasaannya.

kesempatan

klien

untuk

mengungkapkan

TUK 2 : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek


positif yang dimiliki yang dapat digunakan di RS dan rumah
Tindakan Keperawatan
2.1. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan, khususnya
mengenai cara klien memandang atau berpikir mengenai
dirinya.
2.2. Dorong klien untuk menyebutkan aspek positif yang ada pada
dirinya.
2.3. Perjelas berbagai kesalahan konsep individu mengenai dirinya.
TUK 3 : Klien dapat menilai kemampuan diri dalam menyelesaikan
masalah yang dapat digunakan di RS dan di rumah.
Tindakan Keperawatan
3.1. Kaji status koping yang dimiliki klien

Tentukan

kapan

mulai

menggunakan

koping

tersebut

sampai keadaan sekarang.

Gali perasaan klien saat menggunakan koping tersebut.

3.2. Diskusikan koping yang telah digunakan oleh klien dan


efektivitasnya.
3.3. Hindarkan

memberi

penilaian

negative

dan

utamakan

memberi pujian yang realistis.


3.4. Diskusikan strategi koping yang lebih efektif.
3.5. Gali kekuatan dan sumber kekuatan yang dimiliki klien.
TUK 4 :

Klien dapat menyusun atau merencanakan kegiatan

sesuai dengan kemampuan yang dimiliki di RS maupun dirumah.


Tindakan Keperawatan
4.1 Bantu klien mengidentifikasi kegiatan yang selama ini dilakukan di RS atau
dirumah.

4.2 Motivasi klien untuk dapat memutuskan rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan di RS atau dirumah.
4.3 Beri reinforcement (+) terhadap keputusan klien terhadap
rencana yang akan dibuat.
4.4 Diskusikan dengan klien untuk menentukan rencana kegiatan
yang akan dilakukan minimal 3 kegiatan/hari.
4.5 Beri reinforcement (+) tentang rencana kegiatan yang telah
dipilih klien.
4.6 Bantu klien untuk menyusun kegiatan setiap hari selama 1
minggu.
4.7 Bantu klien untuk menyusun kegiatan dalam 1 minggu.
4.8 Diskusikan bersama klien jadwal yang telah disusun atau
dibuat.
4.9 Beri reinforcement (+) terhadap pencapaian klien.
TUK 5 : Klien dapat melakukan kegiatan sesuai jadwal secara
bertahap.
Tindakan Keperawatan
5.1 Beri contoh dalam melakukan kegiatan
5.2 Dorong klien untuk mendemonstrasikan kembali kegiatan di
RS misal membereskan tempat tidur, melipat pakaian.
5.3 Dorong klien melaksanakan kegiatan sehari-hari sesuai jadwal.
5.4 Beri reinforcement (+) terhadap yang dilakukan klien.
5.5 Beri

kesempatan

pada

klien

untuk

mengungkapkan

perasaannya setelah melakukan kegiatan.


5.6 Beri kesempatan pada klien untuk menyampaikan manfaat
yang ia rasakan setelah melakukan kegiatan.
TUK

6:

Klien

mendapatkan

dukungan

keluarga

dalam

meningkatkan harga dirinya. Dorong kunjungan teman/orang


terdekat dengan keluarga.
Tindakan Keperawatan

6.1. Anjurkan keluarga melakukan kontak dengan klien dengan


sikap empati dan apa adanya.
6.2. Anjurkan keluarga untuk mengkritik yang tidak bersifat
negative.
6.3. Anjurkan keluarga untuk memberikan dukungan yang dapat
meningkatkan harga diri klien dengan reinforcement atas hal
yang dicapai klien.
6.4. Anjurkan pada keluarga untuk memotivasi klien bila ada
masalah :

Bersikap terbuka.

Membiarakan dengan orang lain.

Meminta bantuan bila tidak mau menghadapi sendiri.

6.5. Anjurkan keluarga untuk menginformasikan pada klien bahwa


semua orang pasti ada kelebihan dan kekurangan.

LAPORAN PENDAHULUAN
DEPRESI

A.

MASALAH UTAMA
Gangguan alam perasaan : Depresi

B.

PROSES TERJADINYA MASALAH


1. Pengertian

Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang


ditandai

dengan

perasaan

sedih

dan

berduka

yang

berlebihan dan berkepanjangan.

Depresi merupakan respon emosional yang berat dan


dapat dikenal melalui itensitas dan pengaruhnya terhadap
fisik individu dan fungsi social.

Depresi merupakan reaksi yang normal jika berlangsung


dalam waktu yang pendek dengan faktor pencetus yang
jelas dan lama maupun. Bila keadaan kesedihan ini
berlangsung dalam waktu yang lama maka individu yang
bersangkutan

dapat

berkembang

ke

depresi.

Reaksi

berduka yang memanjang merupakan penyangkalan yang


menetap dan memanjang, tetapi tidak tampak reaksi
emosional terhadap kehilangan. Reaksi berduka yang
memanjang ini dapat terjadi beberapa tahun

Respons
Adaptif

Respons
Maladaptif

Responsif

Reaksi kehilangan

Supresi

Reaksi kehilangan

Depresi
yang wajar

yang memanjang

Keterangan :

Pada rentang ini individu dapat berpartisipasi dengan dunia


eksternal dan internal.

Responsif adalah respon emosional individu yang terbuka


dan sadar akan perasaaanya.

Reaksi kehilangan yang wajar merupakan posisi rentang


yang normall dialami individu yang mengalami kehilangan.

Pada

rentang

ini

individu

menghadapi

realita

dari

kehilangan dan mengalami proses kehilangan, misalnya


sedih, berfokus pada diri sendiri, berhenti melakukan
kegiatan sehari-hari. Reaksi kehilangan tersebut tidak
berlangsung lama.

Supresi merupakan tahap awal respon emosional yang


maladaptive,

individu

menginternalisasi

semua

menyangkal,
aspek

menekan

perasaanya

atau

terhadap

lingkungan.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi depresi
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor Genetik
Faktor genetik mengemukakan, transmisi gangguan
alam perasaan diteruskan melalui garid keturunan.
Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada
kembar monozigote.
2) Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri

Mengemukakan

bahwa

depresi

diakibatkan

oleh

perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri. Freud


mengatakan bahwa kehilangan objek/orang, ambivalen
antara perasaan benci dan cinta dapat berbalik menjadi
perasaan menyalahkan diri sendiri.
3) Teori Kehilangan
Berhubungan dengan faktor perkembangan, misalnya
kehilangan orangtua yang sangat dicintai. Individu tidak
berdaya mengatasi kehilangan.

4) Teori Kepribadian
Mengemukakan

bahwa

tipe

kepribadian

tertentu

menyebabkan seseorang mengalami depresi.


5) Teori Kognitif
Mengemukakan

bahwa

depresi

merupakan

msalah

kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian terhadap diri


sendiri, lingkungan dan masa depan.
6) Model Belajar Ketidakberdayaan
Mengemukakan bahwa depresi dimulai dari kehilangan
kendali

diri

lalu

menghadapi

menjadi

masalah.

pasif

dan tidak

Kemudian

individu

mampu
timbul

keyakinan akan ketidakmampuannya mengendalikan


kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan
respons yang adaptif.
7) Model Perilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya
reinforcemant
lingkungan.
8) Model Biologis

positif

selama

berinteraksi

dengan

Mengemukakan bahwa dalam keadaan depresi terjadi


perubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak
berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol.
b. Faktor Presipitasi
Stressor

yang

dapat

menyebabkan

gangguan

alam

perasaan meliputi faktor biologis, psikologis dan sosial


budaya.
1) Faktor Biologis
Meliputi perubahan fisiologis yang disebakan oleh obatobatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi,
neoplasma, dan ketidakseimbangan metabolisme.
2) Faktor Psikologis
Meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan
cinta, seseorang dan kehilangan harga diri.
3) Faktor Sosial Budaya
Meliputi kehilangan peran, perceraian, kehilangan pekerjaan.
2. Prilaku dan mekanisme koping
a. Perilaku
Perilaku yang berhubungan dengan depresi :
1) Afektif

Sedih, cemas, apatis, murung

Kebencian, kekesalan, marah

Persaan ditolak, perasaan bersalah.

Merasa tidak berdaya, putus asa.

Merasa sendirian

Merasa rendah diri

Merasa tidak berharga

2) Kognitif

Ambivalensi, ragu-ragu, buingung.

Tidak mampu berkonsentrasi

Hilang perhatian dan motivasi

Menyalahkan diri sendiri

Pikiran merusak diri

Rasa tidak menentu

Pesimis.

3) Fisik
Sakit perut, anoreksia, mual, muntah
Gangguan pencernaan, konstipasi
Lemah, lesu, nyeri kepala, pusing
Insomnia, nyeri dada, overakting
Perubahan berat badan, gangguan selera makan
Gangguan menstruasi, impoten
Tidak berespon terhadap seksual
4) Tingkah Laku
Agresif, agitasi, tidak toleran
Gangguan tingkat aktifitas
Kemunduran psikomotor
Menarik diri, isolasi sosial.
Iritabel (mudah marah, nangis, tersinggung)
Berkesan menyedihkan
Kurang spontan
Gangguan kebersihan
b. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan
yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini untuk
menghindari tekanan yang hebat. Depresi, yaitu perasaan
berduka yang belum terselesaikan, mekanisme koping yang
digunakan aalah represi, supresi, denial, dan disosiasi.

C.

POHON MASALAH
Isolasi sosial : Menarik Diri
Depresi
Berduka disfungsional

1.

DIAGNOSA
KEPERAWATAN

D.

Depresi.

Isolasi sosial : menarik diri


RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Diagnosa : Depresi
Tujuan :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
2. Klien dapat mengenal penyebab depresinya
3. Klien dapat mengontrol alam perasaannya
4. Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol alam
perasaannya
5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
Tindakan Keperawatan :
TUK 1 :
1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan
diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang
tenang, buat kontrak yang jelas pada tiap pertemuan (topik
yang

akan

dibicarakan,

waktu

berbicara,

dan

tempat

berbicara).
2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya
3. Dengarkan ungkapan klien dengan empati

TUK 2 :
1. Lakukan kontak sering dan singkat (untuk mengurangi kontak
klien dengan halusinasinya).
2. Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya :
bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang ke kiri/ke
kanan/ke depan seolah-olah ada teman bicara.
3. Bantu klien untuk mengenal halusinasinya :

Jika menemukan klien sedang halusinasi, tanyakan :


Apakah ada suara yang didengar?

Jika klien menjawab : ada, lanjutkan : Apa yang dikatakan?

Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara


itu, namun perawat sendiri tidak mendengarnya (dengan
nada bersahabat tanpa menuduh/menghakimi).

Katakan bahwa klien lain juga ada seperti klien

Katakan bahwa perawat akan membantu klien

LAPORAN PENDAHULUAN
PERILAKU KEKERASAN

I.

Masalah Utama
Perilaku Kekerasan

II.

Proses Terjadinya Masalah


Umumnya klien dengan perilaku kekerasan dibawa dengan
paksa ke rumah sakit jiwa. Sering tampak klien di ikat secara tidak
manusiawi disertai bentakan dan pengawalan oleh sejumlah
anggota keluarga bahkan polisi.
Perilaku kekerasan seperti memukul anggota keluarga/orang
lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan
alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga.
Penanganan

yang

dilakukan

oleh

keluarga

belum

memadai

sehingga selama perawatan klien seyogyanya keluarga mendapat


pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien (manajemen
perilaku kekerasan).
Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respons
terhadap kecemasan / kebutuhan yang tidak terpenuhi yang
dirasakan sebagi ancaman (Stuart dan Sundeen, 1995). Perasaan
marah

normal

bagi

dimanifestasikan

oleh

tiap

individu,

perasaan

namun

marah

perilaku

dapat

yang

berfluktuasi

sepanjang rentang adaptif dan maladaptif.


Respons

Respons

Adaptif

Asertif

Maladaptif

Frustasi

Pasif

Agresif

Kekerasan
Gambar : Rentang respons marah

Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan


respon pasif dan melarikan diri atau respons melawan dan
menantang.

Respons

melawan

dan

menantang

merupakan

respons yang maladaptif yaitu agresif-kekerasan. Perilaku yang


ditampakkan mulai dari yang rendah sampai tinggi, yaitu :
Agresif : Memperlihatkan permusuhan, keras dan menuntut,
mendekati orang lain dengan ancaman, memberi kata-kata
ancaman tampa niat melukai. Umumnya klien masih dapat
mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain.
Kekerasan : Sering juga disebut gaduh-gelisah atau amuk.
Perilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara
menakutkan, memberi kata-kata ancaman melukai serta melukai
pada tingkat ringan dan yang paling berat adalah melukai,
merusak secara serius. Klien mampu mengendalikan diri.
Faktor predisposisi
Sebagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan
faktor predisposisi, artinya mungkin terjadi/mungkin tidak terjadi
perilaku kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu :
1. Psikologis
Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang
kemudian dapat timbul agresif/amuk. Masa kanak-kanak yang
yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina,
dianiaya atau saksi penganiayaan.
2. Perilaku
Reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan,
sering mengobservasi kekerasan di rumah atau diluar rumah,
semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi kekerasan.
3. Sosial Budaya
Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan
kontrol sosial yang tidak pasti terhadap pelaku kekerasanakan
menciptakan
(permisive).
4. Bioneurologis

seolah-olah

perilaku

kekerasan

diterima

Banyak pendapat bahwa kerusakan sistem limbik, lobus frontal,


lobus temforal dan ketidakseimbangan neurotransmiter turut
berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan.

Faktor presipitasi
Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau
interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik,
(penyakit fisik), keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri
yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan.
Demikian pula dengan situasi lingkungan yang ribut, padat,
kritikan yang yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang
yang dicinyai / pekerjaan dan kekerasan merupakan faktor
penyebab yang alin. Interaksi sosial yang provokatif dan konflik
dapat pula memicu perilaku kekerasan.
Tanda dan Gejala
Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan pertama klien
dibawa ke rumah sakit adalah perilaku kekerasan di rumah.
Kemudian perawat dapat melakukan pengkajian dengan cara :
Observasi : muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada
suara tinggi, berdebat. Sering pula tampak klien memaksakan
kehendak : merampas makanan, memukul jika tidak senang.
Wawancara : diarahkan pada penyebab marah, perasaan marah,
tanda-tanda marah yang dilakukan klien.
III.

Pohon Masalah
Risiko menciderai orang lain/lingkungan
Perilaku kekerasan

Gangguan harga diri : harga diri rendah

IV.

Diagnosa Keperawatan

Perilaku kekerasan

Harga diri rendah.

V.

Rencana

tindakan

keperawatan
Diagnosa : Perilaku kekerasan.
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
3. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan
5. Klien dapat mengidentifikasi cara yang konstruktif dalam
berespons terhadap kemarahan.
6. Klien dapat mendemonstrasikan perilaku yang terkontrol
7. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku
8. Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Tindakan Keperawatan :
TUK 1 :
1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan
diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,
buat kontrak yang jelas pada tiap pertemuan (topik yang akan
dibicarakan, waktu berbicara, dan tempat berbicara).
2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya

3. Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab (orang lain,


situasi, diri sendiri)
TUK 2 :
1.

Anjurkan

klien

mengungkapkan

yang

dialami

dan

dirasakan saat jengkel / kesal : tanda-tanda, agresif, kekerasan.


2. Observasi tanda perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien
3. Simpulkan

bersama

klien

tanda-tanda

jengkel/kesal

yang

dialami klien.
TUK 3 :
1. Anjurkan klien mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan klien
2. Bantu klien unyuk bermain peran dengan perilaku kekerasan
yang biasa dilakukan (yang tidak membahayakan).
3. Bicarakan dengan klien : apakah dengan cara yang klien
lakukan masalahnya selesai.
TUK 4 :
1. Bicarakan akibat, kerugian cara yang digunakan klien
2. Bersama klien menyimpulkan cara yang digunakan klien
3. Tanyakan pada klien Apakah ia ingin mempelajari cara baru
yang sehat?
TUK 5 :
1. Tanyakan pada klien apakah ia mengetahui cara lain yang
sehat?
2. Berikan pujian jika klien mengetahui cara lain yang sehat.
3. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat :
Secara fisik : tarik napas jika sedang kesal atau memukul bantal
atau olah raga, atau pekerjaan yang memerluka tenaga.

Secara

verbal

Katakan

bahwa

anda

sedang

kesal/tersinggung/jengkel : saya kesal anda berkata seperti


itu : saya marah karena mama tidak memenuhi keinginan
saya
Secara sosial : Latihan dalam kelompok cara-cara marah yang
sehat : latihan asertif, latihan manajemen perilaku kekerasan
(MPK).
Secara spiritual : sembahyang, berdoa atau ibadah lain :
meminta pada tuhan untuk diberi kesabaran, mengadu pada
tuhan kekesalan / kejengkelan. (diskusi ini dapat dilakukan
dalam beberapa kali pertemuan).
TUK 6 :
1. Bantu klien memilih cara yang disukai / cocok untuk klien
2. Anjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari pada
saat klien jengkel / kesal.
3. Diskusikan dengan klien manfaat cara yang telah digunakan
4. Beri pujian terhadap keberhasilan klien

TUK 7 :
1. Buat kontrak dengan keluarga pada saat membawa klien
dirawat di rumah sakit

Pertemuan rutin dengan perawat

Pertemuan keluarga-keluarga

2. Bantu keluarga mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

Siapa yang dapat merawat klien

Fasilitas yang dimiliki keluarga di rumah

3. Jelaskan cara-cara merawat klien pada keluarga


4. Latih keluarga cara-cara merawat klien di rumah termasuk obat

TUK 8 :
1. Jelaskan dan tunjukkan obat yang harus diminum klien pada
klien dan keluarga
2. Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti obat
tanpa izin dokter
3. Jelaskan prinsip benar minum obat dengan prinsip 5 (lima)
benar (benar pasien, benar obat, benar dosis, benar cara, benar
waktu).
4. Anjurkan klien minta obat dan minum obat tepat waktu
5. Anjurkan klien melapor pada perawat/dokter jika merasakan
efek yang tidak menyenangkan.
6. Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.