LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PNEUMOTORAK
oleh
Karina Diana Safitri
NIM 132310101019
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan ini telah disetujui dan diperiksa sebagai Laporan Akhir Komprehensif 1
Diketahui Oleh
Disetujui Oleh
Sekertaris 1 PSIK UNEJ
PJMK Komprehensif 1
Ns. Wantiyah, M.Kep
Ns. Siswoyo, S.Kep M.Kep
NIP 19810712200604201
NIP.198004122006041002
Disahkan Oleh
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Jember
Ns. Lantin Sulistyorini, M. Kes
NIP. 197803232005012002
BAB 1. LAPORAN PENDAHULUAN
1.1 Pengertian
Pneumotorak merupakan suatu keadaan dimana terdapat akumulasi udara
ekstrapulmoner dalam rongga pleura, antara plura visceral dan parinteral, yang
dapat menyebabkan timbulnya kolaps paru. Pada keadaan normal rongga pleura
tidak berisi udara, supaya paru paru leluasa mengembang terhadap rongga dada.
(Rahajoe, 2012)
Klasifikasi Menurut penyebabnya, pneumotoraks dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu:
1. Pneumotoraks spontan yaitu setiap pneumotoraks yang terjadi secara tibatiba. Pneumotoraks tipe ini dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua jenis,
yaitu:
a. Pneumotoraks spontan primer, yaitu pneumotoraks yang terjadi
secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya atau tanpa penyakit
dasar yang jelas. Lebih sering pada laki-laki muda sehat
dibandingkan wanita. Timbul akibat ruptur bulla kecil (12 cm)
subpleural, terutama di bagian puncak paru.
b. Pneumotoraks spontan sekunder, yaitu pneumotoraks yang terjadi
dengan didasari oleh riwayat penyakit paru yang telah dimiliki
sebelumnya, Tersering pada pasien bronkitis dan emfisema
yang mengalami ruptur emfisema subpleura atau bulla. Penyakit
dasar lain: Tb paru, asma lanjut, pneumonia, abses paruatau Ca
paru. fibrosis kistik, penyakit paru obstruktik kronis (PPOK),
kanker paru-paru, asma, dan infeksi paru.
2. Pneumotoraks traumatik, Yaitu pneumotoraks yang terjadi akibat adanya
suatu trauma, baik trauma penetrasi maupun bukan, yang menyebabkan
robeknya pleura, dinding dada maupun paru.
Pneumotoraks tipe ini juga dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua jenis,
yaitu :
a. Pneumotoraks traumatik non-iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang
terjadi karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada,
barotrauma.
b. Pneumotoraks traumatik iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang terjadi
akibat komplikasi dari tindakan medis. Pneumotoraks jenis ini pun
masih dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Pneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental Adalah suatu
pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis karena
kesalahan atau komplikasi dari tindakan tersebut, misalnya pada
parasentesis dada, biopsi pleura.
2) Pneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial (deliberate) Adalah
suatu pneumotoraks yang sengaja dilakukan dengan cara
mengisikan udara ke dalam rongga pleura. Biasanya tindakan ini
dilakukan untuk tujuan pengobatan, misalnya pada pengobatan
tuberkulosis sebelum era antibiotik, maupun untuk menilai
permukaan paru.
Dan berdasarkan
jenis
fistulanya,
maka
pneumotoraks
dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu :
a. Pneumotoraks Tertutup (Simple Pneumothorax) Pada tipe ini, pleura
dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka pada dinding dada),
sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar. Tekanan di dalam rongga
pleura awalnya mungkin positif, namun lambat laun berubah menjadi
negatif karena diserap oleh jaringan paru disekitarnya. Pada kondisi
tersebut paru belum mengalami re-ekspansi, sehingga masih ada rongga
pleura, meskipun tekanan di dalamnya sudah kembali negatif. Pada waktu
terjadi gerakan pernapasan, tekanan udara di rongga pleura tetap negatif.
b. Pneumotoraks Terbuka (Open Pneumothorax), Yaitu pneumotoraks
dimana terdapat hubungan antara rongga pleura dengan bronkus yang
merupakan bagian dari dunia luar (terdapat luka terbuka pada dada).
Dalam keadaan ini tekanan intrapleura sama dengan tekanan udara luar.
Pada pneumotoraks terbuka tekanan intrapleura sekitar nol. Perubahan
tekanan ini sesuai dengan perubahan tekanan yang disebabkan oleh
gerakan pernapasan. Pada saat inspirasi tekanan menjadi negatif dan pada
waktu ekspirasi tekanan menjadi positif. Selain itu, pada saat inspirasi
mediastinum dalam keadaan normal, tetapi pada saat ekspirasi
mediastinum bergeser ke arah sisi dinding dada yang terluka (sucking
wound).
c. Pneumotoraks Ventil (Tension Pneumothorax) Adalah pneumotoraks
dengan tekanan intrapleura yang positif dan makin lama makin bertambah
besar karena ada fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil. Pada waktu
inspirasi udara masuk melalui trakea, bronkus serta percabangannya dan
selanjutnya terus menuju pleura melalui fistel yang terbuka . Waktu
ekspirasi udara di dalam rongga pleura tidak dapat keluar . Akibatnya
tekanan di dalam rongga pleura makin lama makin tinggi dan melebihi
tekanan atmosfer. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura ini dapat
menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal napas.
Sedangkan
menurut
luasnya
paru
yang
mengalami
kolaps,
maka
pneumotoraks dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
a. Pneumotoraks parsialis, yaitu pneumotoraks yang menekan pada
sebagian kecil paru (< 50% volume paru).
b. Pneumotoraks totalis, yaitu pneumotoraks yang mengenai sebagian besar
paru (> 50% volume paru)
1.2 Etiologi
Pneumothorax spontan dibagi menjadi dua jenis: primary, yang terjadi tanpa
adanya penyakit paru-paru diketahui, dan sekunder, yang terjadi pada seseorang
dengan penyakit paru-paru yang mendasari. Penyebab pasti pneumotoraks
spontan primer tidak diketahui tetapi faktor risiko termasuk jenis kelamin lakilaki, merokok , dan sejarah keluarga dari pneumotoraks. yang diduga berbagai
mekanisme yang mendasari dibahas di bawah ini .
Pneumotoraks spontan sekunder terjadi pada pengaturan dari berbagai
penyakit paru-paru\Yang paling umum adalah penyakit paru obstruktif kronikyang
menyumbang sekitar 70% dari kasus. Diketahui penyakit paru-paru yang dapat
meningkatkan risiko untuk pneumotoraks adalah:
a. Penyakit pada saluran udara : Penyakit paru obstruktif kronis(terutama
ketika emfisema dan bula paru-paru yang hadir), akut berat asma , cystic
fibrosis
b. Infeksi paru-paru: pneumonia (PCP), tuberkulosis , necrotizing pneumonia
c.Penyakit
paru-paru
interstisial : sarkoidosis , fibrosis
paru
idiopatik ,histiocytosis X , lymphangioleiomyomatosis (LAM)
1.3 Patofisiologi
Rongga dada mempunyai dua struktur yang penting dan digunakan untuk
melakukan proses ventilasi dan oksigenasi, yaitu pertama tulang, tulang tulang
yang menyusun struktur pernapasan seperti tulang klafikula, sternum, scapula.
Kemudian yang kedua adalah otot-otot pernapasan yang sangat berperan pada
proses inspirasi dan ekspirasi. Jika salah satu dari dua struktur tersebut mengalami
kerusakan, akan berpengaruh pada proses ventilasi dan oksigenasi. contoh
kasusnya, adanya fraktur pada tulang iga atau tulang rangka akibat kecelakaan,
sehingga bisa terjadi keadaaan flail chest atau kerusakan pada otot pernapasan
akibat trauma tumpul, serta adanya kerusakan pada organ viseral pernapasan
seperti, paru-paru, jantung, pembuluh darah dan organ lainnya 4 di abdominal
bagian atas, baik itu disebabkan oleh trauma tumpul, tajam, akibat senapan atau
gunshot. Tekanan intrapleura adalah negatif, pada proses respirasi, udara tidak
akan dapat masuk kedalam rongga pleura. Jumlah dari keseluruhan tekanan
parsial dari udara pada kapiler pembuluh darah rata-rata (706 mmHg). Pergerakan
udara dari kapiler pembuluh darah ke rongga pleura, memerlukan tekanan pleura
lebih rendah dari -54 mmHg (-36 cmH2O) yang sangat sulit terjadi pada keadaan
normal. Jadi yang menyebabkan masuknya udara pada rongga pleura adalah
akibat trauma yang mengenai dinding dada dan merobek pleura parietal atau
visceral, atau disebabkan kelainan konginetal adanya bula pada subpleura yang
akan pecah jika terjadi peningkatan tekanan pleura.
Akibatnya dari trauma tersebut pasien pneumotorak akan merasakan sesak
napas akibat udara yang mulai masuk mengisi rongga pleura. Jika terus berlanjut
penderita akan terlihat gelisah akibat kesulitan bernapas. Usaha dari tubuh untuk
mengkompensasi akibat sesak napas yang terjadi adalah bernapas yang cepat
(takipneu) dan denyut nadi yang meningkat (takikardia). Udara yang masuk
kedalam rongga pleura ini akan menyebakan terjadi pendesakan pada parenkim
paru- paru hingga menjadi kolaps, jadi yang mengisi rongga dada yang
mengalami pneumotoraks adalah udara, pada saat diperiksa dengan mengetuk
dinding dada akan terdengar suara hipersonor, akibat akumulasi udara pada
rongga pleura. Kolapsnya paru-paru yang terdesak oleh udara yang berada di
rongga pleura ini menyebabkan proses ventilasi dan oksigenasi berkurang atau
malah tidak terjadi, sehingga jika didengarkan dengan stetoskop suara napas tidak
terdengar
1.4 Manifestasi Klinis
Gejala dan tandanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah udara yang
masuk ke dalam rongga pleura dan luasnya paru-paru yang mengalami kolaps.
Gejalanya bisa berupa :
1. Sesak nafas
2. Nyeri dada kejam yang timbul secara tiba-tiba dan semakin nyeri jika
penderita menarik nafas dalam atau terbatuk.
3. Dada terasa sempit
4. Mudah lelah
5. Denyut jantung cepat
6. Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen.
7. Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat akan tidur.
8. Gejala lain yang mungkin ditemukan :
9. Hidung tampak kemerahan
10. Cemas, stress, tegang
11. Tekanan darah rendah (hipotensi)
12. Tension pneumotorak
-
Hipoksemia (tanda awal)
Ketakutan
Gawat napas (takipneu berat)
Peningkatan tekanan jalan napas puncak dan merata, penurunan
komplians, dan auto-tekanan ekspirasi akhir positif (auto-PEEP) pada
pasien yang terpasang ventilasi mekanis.
Kolaps kardiovaskuler (frekunsi jantung >140x/menit pada setiap hal
berikut : sianosis perifer, hipotensi, aktivitas lintrik tanpa denyut nadi).
Morton, 2012
1.5 Komplikasi dan Prognosis
1.5.1 Komplikasi
Pneumathoraks dapat menyebabkan pembuluh darah kolaps, akibatnya
pengisian jantung menurun sehingga tekanan darah menurun. Paru yang sehat
juga dapat terkena dampaknya.
Selain itu pneumothoraks dapat menyebabkan hipoksia dan dispnea berat.
Kematian menjadi akhir dari pneumothoraks jika tidak ditangani dengan cepat.
Gambaran ancaman terhadap kehidupan pada pasien ekstrim yaitu pertimbangan
tension pneumothoraks, nafas pendek, hypotensi, tachykardy, trachea berubah.
1.5.2 Prognosis
Pneumotorak pada orang dewasa muda prognosisnya sangat baik. Hal ini
diakibatkan karena jaringan parunya sendiri masih cukup baik, kecuali daerah
tempat terjadinya kebocoran dengan terapi yang tepat, kesembuhan yang dicapai
selalu sempurna dan kemungkinan kambuh prkatis kecil sekali, tgerkecuali bila
penderita kemudian hari menjadi seorang perokok, juga bila terapi terhadap
penyakit dasarnya (TB) tidak sempurna.
Sebaliknya pneumotorak pada orang dewasa setengah tua atau memang
sudah tua, apabila kalau dia seorang peroko, maka pada sudah ada emfisema paru
dengan tekanan udara intrapulmonal yang tinggi, maka pada keadaan sedemikian
kesembuhan dapat disusul dengan suatu kekambuhan yang bahkan dapat sampai
berkali-kali (Halim Danusantoso, 2000)
1.6 Pemeriksaan Penunjang
a. Analisa Gas Darah
Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengaruhi,
gangguan mekanisme pernapasan dan kemampuan mengkompesasi. P4 Co2
mungkin normal atau menurun, saturasi O2 biasanya menurun.
b. Rontgen
Bayangan udara dalam rongga pleura memberikan bayangan
radiolusen yang tanpa struktur jaringan paru (avascular pattern) dengan batas
paru berupa garis radioopak tipis yang berasal dari pleura visceral. Pada foto
terlihat bayangan udara dari pneumothoraks yang berbentuk cembung, yang
memisahkan pleura parietalis dengan pleura viseralis. Bila penumothoraksnya
tidak begitu besar, foto dengan pernafasan dalam (inspirasi penuh) pun tidak
akan menunjukkan kelainan yang jelas.
Dalam hal ini dianjurkan
membuat foto dada dengan inspirasi
dan
ekspirasi
penuh.
Selama
ekspirasi maksimal udara dalam
rongga pleura lebih didorong ke
apeks, sehingga rongga intrapleura di
apeks jadi lebih besar. Selain itu
terdapat perbedaan densitas antara
jaringan paru dan udara intrapleura sehingga memudahkan dalam melihat
pneumothoraks, yakni terdapatnya kenaikan densitas jaringan paru selama
ekspirasi tapi tidak menaikkan densitas pneumothoraks.
d. Pemeriksaan darah vena untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit. Hb :
mungkin menurun, menunjukkan kehilangan darah
1.7 Penatalaksanaan Medis
1. Chest wound/sucking chest wound
Luka tembus perlu segera ditutup dengan pembalut darurat atau balutan
tekan dibuat kedap udara dengan petroleum jelly atau plastik bersih. Pembalut
plastik yang steril merupan alat yang baik, namun plastik pembalut kotak
rokok (selofan) dapat juga digunakan. Pita selofan dibentuk segitiga salah satu
ujungnya dibiarkan tebuka untuk memungkinkan udara yang terhisap dapat
dikeluarkan. Hal ini untuk mencegah terjadinya tension pneumothoraks. Celah
kecil dibiarkan terbuka sebagai katup agar udara dapat keluar dan paru-paru
akan mengembang.
2. Blast injury or tention
Jika udara masuk kerongga pleura disebabkan oleh robekan jaringan
paru, perlu penanganan segera. Sebuah tusukan jarum halus dapat dilakukan
untuk mengurangi tekanan agar paru dapat mengembang kembali.
3. Penatalaksanaan WSD ( Water Sealed Drainage )
4. Perawatan Per-hospital
Beberapa paramedis mampu melakukan needle thoracosentesis untuk
mengurangi tekanan intrapleura. Jika dikehendaki intubasi dapat segera
dilakukan jika keadaan pasien makin memburuk. Perwatan medis lebih lanjut
dan evaluasi sangat dianjurkan segera dilakukan. Termasuk dukungan ventilasi
mekanik.
5. Pendekatan melalui torakotomi anterior, torakomi poskerolateral dan
skernotomi mediana, selanjutnya dilakukan diseksi bleb, bulektonomi, subtotal
pleurektomi.
Parietalis
dan
Thoracoscopic Surgery (VATS).
1.8 Clinical Pathway
Aberasi
pleura
melalui
Video
Assisted
Pecahnya blebs
Luka tembus dada IntervensiMedismedis
Trauma / cedera
BAB 2. ASUHAN KEPERAWATAN
Pneumathoraks spontan, traumatic, iatrogenik
2.1 Identitas Klien
Udara masuk ke dalam kavum pleura
Pergeseran
Sucking
chest
Pada identitas klien berisikan
tentang
nama,wound
alamat, jenis kelamin,
tempat Mediastinum
tanggal lahir, umur, tanggal MRS.
2.2 Keluhan Utama
hipoksia
Meningkatkan tekanan intra pleura
Penyumbatan aliran vena kava superior da
Keluhan sesak napas sering kali datang mendadak dan semakin lama
Kehilangan
kesadaran
semakin berat. Nyeri dada dirasakan
pada sisi
yang sakit, rasa berat, tertekan dan
terasa lebih nyeri pada gerakan pernapasan.
Kemampuan dilatasi alveoli menurun
Nyeri
akut
Mengurangi Cardiac Preload
koma
2.3 Riwayat Kesehatan Sekarang
Menurunkan cardiac output
Intoleransi
aktivitas
atelektasis
Keluhan sesak napas sering kali datang mendadak dan semakin lama
semakin berat. Nyeri dada dirasakan pada sisi yang sakit, rasa berat, tertekan dan
terasa
lebih nyeri pada gerakan pernapasan. Melakukan pengkajian apakah ada
Sesak
napas
riwat trauma yang mengenai rongga dada seperti peluru yang menembus dada dan
Pola Napasparu,
tidak
efektif
ledakan
yang menyebabkan tekanan pada paru meningkat, kecelakaan lalu
Intoleransi aktivitas
Nafsu makan menurun
lintas biasanya menyebabkan trauma tumpul di dada atau tusukan benda tajam
Intoleransi aktivitas Napas tidak efektif
langsung menembus pleura.
Gangguan pola tidur
Nutrisi
kurang
dari kebutuhan tubuh
2.4 Riwayat
Kesehatan
Dahulu
Perlu ditanyakan apakah klien pernah menderita penyakit seperti TB Paru
dimana sering terjadi pada pneumothorax spontan.
2.5 Riwayat Kesehatan Keluarga
Perlu ditanyakan adakah anggota keluarga yang menderita penyakit
yang mungkin menyebabkan pneumothorax seperti kanker paru, asma, TB
paru dan lain-lain.
2.6 Pemeriksaan Fisik
a. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat
b. Sirkulasi
Tanda : Takikardia, frekuensi tak teratur/disritmia, irama jantung gallop.
Nadi apical berpindah, hipertensi, hipotensi.
c. Integritas Ego
Tanda : Ketakutan, gelisah, bingung, ansietas
d. Makanan / Cairan
Tanda : Adanya pemasangan IV vena sentral / infuse tekanan
e. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri dada unilateral, meningkat karena pernapasan, batuk, tibatiba gejala sementara batuk atau regangan.
Tajam dan nyeri, menusuk yang diperberat oleh napas dalam.
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit
a. Perilaku distraksi
b. Mengerutkan wajah
f. Pernapasan
Gejala : Kesulitan bernapas, lapar napas
a. Batuk
b. Riwayat bedah dada/trauma, inflamasi/infeksi paru
c. Pneumothorak spontan sebelumnya, PPOM
Tanda : Takipnea, bunyi napas menurun atau tidak ada
a. Peningkatan kerja napas
b. Fremitus menurun
c. Hiperresonan (udara), bunyi pekak (cairan)
d. Gerakan dada tidak sama
e. Kulit : pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subkutan
f. Terapi PEEP
g. Keamanan
Gejala : Adanya trauma dada
a. Radiasi / kemoterapi untuk keganasan
h. Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : Riwayat faktor risiko keluarga : TBC, Kanker
a. Bukti kegagalan membaik
2.7 Pengkajian B6
1. B1 (Breathing)
a. Inspeksi
Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan serta penggunaan otot
bantu pernapasan. Gerakan pernapasan ekspansi dada yang asimetris
(pergerakan dada tertinggal pada sisi yang sakit), iga melebar, rongga dada
asimetris (lebih cembung disisi yang sakit). Pengkajian batuk yang
produktif dengan sputum yang purulen. Trakhea dan jantung terdorong ke
sisi yang sehat.
b. Palpasi
Taktil fremitus menurun disisi yang sakit. Disamping itu, pada palpasi
juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang
sakit. Pada sisi yang sakit, ruang antar iga bisa saja normal atau melebar.
c. Perkusi
Suara ketuk pada sisi yang sakit hipersonor sampai timpani. Batas
jantung terdorong ke arah thoraks yang sehat apabila tekanan intrapleura
tinggi.
d. Auskultasi
Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi yang sakit.
2. B2 (Blood)
Perawat perlu memonitor dampak pneumothoraks pada status
kardiovaskular yang meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan
darah dan pengisian kapiler/CRT.
3. B3 (Brain)
Pada inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji. Selain itu, diperlukan
juga pemeriksaan GCS, apakah compos mentis, samnolen atau koma.
4. B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan.
Perawat perlu memonitor adanya oliguri yang merupakan tanda awal dari
syok.
5. B5 (Bowel)
Akibat sesak napas, klien biasanya mengalami mual dan muntah,
penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan.
6. B6 (Bone)
Pada trauma di rusuk dada, sering didapatkan adanya kerusakan otot
dan jaringan lunak dada sehingga meningkatkan risiko infeksi. Klien
sering dijumpai mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan seharihari disebabkan adanya sesak napas, kelemahan dan keletihan fisik secara
umum.
2.9 Prioritas Diagnostik
No.
1.
Diagnosa Keperawatan
Pola napas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru (akumulasi
2.
udara), gangguan muskuloskeletal, nyeri/ansietas, proses inflamasi
Nyeri akut b/d trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan
3.
akan ketahanan nyeri.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
4.
anoreksia
2.10
ursing Care Plan
No
1.
Diagnosa
Pola
Tujuan & kriteria
hasil
napas Setelah dilakukan 2.
Intervensi
Rasional
Identifikasi 1. Pemahaman
etiologi/faktor
penyebab kolaps
tidak efektif tindakan
pencetus (kolaps
paru perlu untuk
b/d
keperawatan pola
paru).
pemasangan
penurunan
nafas pasien paten 3.
Evalusi fungsi
selang dada yang
pernapasan,
catat
tepat dan memilih
ekspansi paru dengan
kriteria
kecepatan/pernapa
tindakan
(akumulasi
hasil:
san serak, dispnea.
terapeutik lain.
udara),
kesesuaian 2. distres pernapasan
1. GDA dalam batas 4.Awasi
pola
pernapasan
dan
perubahan
normal (70-150
gangguan
bila menggunakan
pada tanda vital
muskuloskel mg/dl)
ventilasi mekanik.
dapat
terjadi
2. Bebas sianosis
etal,
sebagai
akibat
3. Bebas dari tanda 5. Kaji fremitus
6.
Awasi/gambarkan
stres
fisiologi
dan
nyeri/ansieta dan gejala hipoksia
seri GDA
nyeri/dapat
s,
proses 4. Tidak ada
7.Berikan
oksigen
menunjukan
penggunaan otot
inflamasi
tambahan melaui
terjadinya
syok
aksesoris
kanula/masker
sehubung dengan
pernapasan
sesuai indikasi.
hipoksia.
3. kesulitan bernapas
dengan ventilator
dan/atau
peningkatan
4.
5.
6.
2.
Nyeri
b/d
akut Setelah
dilakukan 1.
trauma tindakan
lakukan 1.
pengkajian
tekanan
jalan
napas
diduga
memburuknya
kondisi/terjadinya
komplikasi.
suara dan taktil
fremitus menurun
pada
jaringan
yang terisi cairan
Mengkaji status
pertukaran
gas
dan
ventilasi,
perlu
untuk
kelanjutan terapi.
alat
dalam
menurunkan kerja
napas.
nyeri trauma ada
nyeri dalam
jaringan dan keperawatan
secara komprehensif derajat.
reflek
termasuk
masalah
lokasi, 2.
beberapa
perubahan
spasme otot Nyeri sudah teratasi karakteristik, durasi, frekuensi
sekunder
dengan
frekuensi,
kriteria hasil :
dan
1.
kualitas atau TD menunjukan
factor bahwa
melaporkan presipitasi.
bahwa
jantung
pasien
mengalami nyeri.
nyeri 2. pantau tanda 3.
berkurang
dengan tanda vital
dapat
menghilangkan
menggunakan
3. Berikan tindakan ketidaknyamanan dan
manajemen nyeri
nyaman,
2. mampu
relaksasi,
mengenali nyeri
napas.
(skala, intensitas,
4.
frekuensi dan tanda
pemberian analgesik meningkatkan
nyeri)
sesuai indikasi.
3.
merasakan 5.
misalnya, memperbesar
efek
latihan terapi analgesik.
4.menekan batuk non
kolaborasikan produktif,
berikan
rasa
nyaman.
terapi 5. pemberian oksigen
nyaman
setelah oksigen
nyeri berkurang
sesuai dapat
indikator
membantu
menghilangkan
rasa
nyeri.
3.
Intoleransi
Setelah
dilakukan 1. Tingkatkan tirah 1.
aktivitas
tindakan
baring atau duduk, istirahat
berhubungan
keperawatan
jaga
dengan
masalah intoleransi tenang
2. Tirah baring lama
kelemahan
aktivitas sudah
nenurunkan
umum,
teratasi
penurunan
kriteria hasil :
akan
1.
ketahanan
melakukan aktivitas rentang gerak sendi persendian
nyeri.
tanpa
dan
lingkungan ketenangan
2.Tingkatkan
dengan aktivitas
pasien
meningkatkan
sesuai kemampuan
toleransi
3.Membantu
dapat 3. Bantu melakukan meregangkan
bantuan pasif/aktif
perawat
atau 4.
keluarga
(sesuai sesuai
toleransi)
4. Membantu dalam
Berikan
obat manajemen
indikasi, keterbukaan
sedative, agen anti kebutuhan tidur
ansietas
Perubahan
Setelah
nutrisi
tindakan
kurang
dilakukan
1. Awasi perawatan
diet.
Beri
makan sulit untuk mengatur
dari keperawatan nutrisi sedikit tapi sering
kebutuhan
pasien
tercukupi 2.
tubuh
kriteria hasil :
berhubungan
1.
dengan
berat badan
anoreksia
2.
bertambah
bila pasien anoreksia
Berikan 2
perawatan
Menghilangkan
mulut rasa
peningkatan sebelum makan.
porsi
1. makanan banyak
tidak
meningkatkan
enak,
nafsu
3. Anjurkan makan makan
makan pada posisi tegak
4.
konsul
3. menurunkan rasa
dengan penuh pada abdomen
ahli
diet,
sesuai 4.
kebutuhan
5.
Berikan
berguna
membuat
untuk
program
obat diet klen
sesuai indikasi
5. dapat menurunkan
dan
meningkatkan
toleransi makanan
Referensi
Danu santoso, Halim, 2000, Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta : Hipokrates
Halim Dabusantoso (2000) Ilmu penyakit paru, jakarta ; Hipocrates
Nurarif,Amin Huda. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan NANDA, NIC-NOC Jilid 2.
Punarbawa, I Wayan,dkk. (Tanpa Tahun). Identifikasi Awal dan Bantuan Hidup
Dasar pada Pneumotorak. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
[Jurna]
http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=82536&val=970 diakses pada tanggal 11 Mei 2015 pukul 15.00
Rahajoe Nastini, Supriyanto Bambang. 2012. Buku Ajar Respirologi anak Edisi 1.
IDAI
Udjianti, Juni Wajan . 2010 . Keperawatan Kardiovaskular . Jakarta : Salemba
Medika
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC