Anda di halaman 1dari 11

TUGAS INDIVIDU

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I


KUMBAH LAMBUNG

Oleh :
II Reguler A
Gerishela Wimanda Putri (P27820113015)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SURABAYA


PRODI D-III KEPERAWATAN KAMPUS SOETOMO
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

KUMBAH LAMBUNG
A. Pengertian
Kumbah lambung adalah membersihkan lambung dengan cara memasukan dan
mengeluarkan air dari lambung dengan menggunakan NGT (Naso Gastric Tube).
(Kholida dan Nila.2013.Prosedur Praktik Keperawatan Medikal Bedah.hlm : 87)
B. Tujuan
a. Membuang racun yang tidak terabsorbsi setelah racun yang masuk saluran
pencernaan.
b. Mendiagnosa perdarahan lambung.
c. Membersihkan lambung sebelum prosedur endoscopy.
d. Membuang cairan atau partikel dari lambung.
e. Mengosongkan isi lambung.
(Kholida dan Nila.2013.Prosedur Praktik Keperawatan Medikal Bedah.hlm : 87)
C. Indikasi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Pasien yang keracunan makanan atau obat tertentu


Persiapan operasi lambung
Persiapan tindakan pemeriksaan lambung
Tidak ada refleks muntah
Gagal dengan terapi emesis
Pasien dalam keadaan sadar
Persiapan untuk pembedahan
Perdarahan gastrointestinal
Kelebihan dosis obat-obatan

(Krisanty, Paula.2009.Asuhan Keperawatan Gawat Darurat.hlm : 89)


D. Kontraindikasi
a. Kumbah lambung tidak dilakukan secara rutin dalam penatalaksanaan pasien
dengan keracunan. Kumbah lambung dilakuakan ketika pasien menelan
substansi toksik yang dapat mengancam nyawa, dan prosedur dilakukan dalak
60 menit setelah tertelan.
b. Kumbang lambung dapat mendorong tablet ke dalam duodenum selain
mengeluarkan tablet tersebut.
c. Kumbah lambung dikontraindikasikan untuk bahan-bahan toksik yang tajam
dan terasa membakar (risiko perforasi esophageal). Kumbah lakukan tidak

dilakukan untuk bahan toksik hidrokarbon (risiko respirasi), misalnya:


camphor, hidrokarbon, halogen, hidrokarbon aromatik, pestisida.
d. Kumbah lambung dikontrindikasikan untuk pasien yang menelan benda tajam
dan besar.
e. Pasien tanpa gerak refleks atau pasien dengan pingsan (tidak sadar)
membutuhkan intubasi sebelum kumbah lambung untuk mecegah inspirasi.
f. Pasien kejang
g. Tumor paru-paru
h. Menginsersi tube melalui nasal bila ada fraktur
i. Menelan alkali kuat
(Rosyidi, kholid.2013.Buku Saku Keperawatan Medikal Bedah. Hal 348)
E. Persiapan Klien
1. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan, mengadakan pendekatan kepada anak
atau keluarga dengan memberikan penjelasan tentang tindakan yang akan
dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan berkomunikasi.
2. Pasien harus duduk senyaman mungkin di tempat tidur. Tanyakan pasien apakah
lubang hidungnya hidungnya tersumbat atau bila ada kesulitan bernapas melalui
hidung.
3. Pasien berbaring pada sisi kiri atau kanan dengan kepala dimiringkan ke bawah
200, walaupun saat lavase lambung dilakukan sebelum operasi pasien dapat
didudukkan dengan kemiringan 450. Pasien dan staf harus memakai jubah yang
tidak tembus air.
( Smith, Jean.2010.Buku Saku Prosedur Klinis Keperawatan Edisi 5.Hal 536 )
F. Persiapan Alat
1. Aplikator berujung kapas
2. Spuit berujung kateter atau Luer-Lok, berukuran 30 ml atau lebih
3. Pelindung kulit , jika diindikasikan
4. Salin normal
5. Sabun dan air hangat
6. Handuk dan waslap
7. Plester sekali pakai
8. Plester
9. Kassa kotak berukuran 4x4 atau kassa gulung
10. Sarung tangan sekali pakai (beberapa pasang)
11. Stetoskop
12. Peniti untuk menuliskan jam dan memberikan label di balutan
13. Pompa infus untuk pemberian makan continu, jika diindikasikan
14. Strip Ph
15. Air berjumlah 50-75 ml dalam cangkir atau wadah irigasi

(Smith, Jean.2010.Buku Saku Prosedur Klinis Keperawatan Edisi 5.hal: 536)


G. Prosedur dan Rasional

a. Gastric Lavage Intermitten atau system terbuka.


1. Jelaskan prosedur kepada klien.
R : Mengurangi kecemasan; meningkatkan kerja sama dan partisipasi.
2. Membawa alat-alat ke dekat pasien.
R : Meningkatkan efesiensi.
3. Atur posisi dalam sikap semi fowler bila sadar.
R : Menfasilitasi slang masuk ke esofagus dan bukan trakea.
4. Pasang sampiran.
R : Menjaga privasi pasien.
5. Pasang pengalas; satu dibawah dagu klien yang dipenitikan dibagian
punggung dan satu diletakkan pada sisi dimana ember diletakkan.
R : Menjaga kebersihan dan kenyamanan pasien.
6. Letakkan ember diatas kain pel dibawah tempat tidur.
R: Menjaga kebersihan dan mencegah kontaminasi silang.
7. Perawat cuci tangan dan pakai sarung tangan.
R : Mengurangi transfer mikroorganisme.
8. Ambil selang sonde lambung dan keluarkan air dari dalam selang.
R : Memungkinkan cairan membersihkan slang.
9. Selang sonde diukur dari epigasterika-mulut ditambah dari mulutkebawah telinga (40-45 cm) kemudian tandai lokasi pada slang
sengan sepotong plester kecil.
R : Mengindikasikan jarak dari pintu masuk hidung ke area faring
dan kemudian ke lambung. Plester mengindikasikan kedalaman
slang yang harus dimasukkan.
10. Memasang selang lambung yang telah diklem perlahan-lahan
kedalam lambung melalui mulut.
R : Untuk proes pengosongan lambung.
11. Pastikan apakah selang lambungbenar-benar telah masuk kedalam
lambung dengan cara memasukkan pangkalnya kedalam air dan klem
dibuka. Jika tidak ada gelembung udara yang keluar, selang sudah

masuk dalam lambung. Sebaliknya jika ada udara yang keluar berarti
sonde masuk ke paru-paru, segera cabut selang lambung.
R : Untuk mengetahui ketepatan tempat.
12. Tempatkan pasien pada posisi lateral kiri dengan kepala diturunkan
(trendelenburg)
R : Posisi ini menurunkan pasase isi lambung ke dalam duodenum
selama lavase dan meminimalkan kemungkinan aspirasi ke dalam
paru.
13. Kosongkan isi lambung dengan cara merendahkan dan mengarahkan
sonde ke dalam ember.
R : Untuk mempermudah irigasi pembuangan isi lambung.
14. Jepit selang dan sambungkan saluran /seperti corong , ke ujung
selang, atau gunakan spuit 50ml untuk menginjeksikan larutan lavase
dalam selang lambung.
R : Pengisian berlebihan lambung dapat menyebabkan regurgitasi dan
aspiran atau kekuatan isi lambung melalui pilorus.
15. Tinggikan saluran di atas pasien dan tuang kira-kira 150 sampai 200
ml larutan ke dalam saluran.(pada anak-anak 50-100 ml dengan air
hangat atau NaCl) ke dalam lambung
R : Pada anak-anak jika menggunakan air biasa untuk mebilas
lambung akan berpotensi hiponatremi karena merangsang
muntah.
16. Sebelum cairan terakhir dalam corong habis, turunkan selang NGT
agar cairan keluar dan sedot isi lambung ke dalam wadah dengan
menggunakan spuit 50ml , sampai sejumlah cairan yang masuk.
R : Memudahkan cairan untuk keluar (gravitasi)
17. Prosedur ini diulang sampai keluar cairan yang jernih (sesuai dengan
warna normal cairan lambung) dan tidak terlihat bahan partikel
R : Cairan yang jernih menandakan bahwa lambung sudah bersih
18. Keluarkan selang lambung perlahan-lahan dengan cara menarik
sonde perlahan-lahan, kemudian selang dan corong dimasukkan
dalam kom.
R : Mengurangi rasa sakit dan mengurangi iritasi mukosa lambung.

19. Beri air untuk kumur kepada klien, kemudian mulut dan sekitarnya
dibersihkan dengan tisu.
R: Kebersihan hygiene pasien untuk menghindari infeksi nosokomial
pada pasien.
20. Angkat pengalas dan rapikan klien.
R : Menjaga kenyamanan klien.
21. Alat-alat dirapikan dan cuci tangan.
R : Mempertahankan lingkungan yang rapi dan menghilangkan
mikroorganisme
22. Mencatat tindakan serta hasil termasuk jumlah dan jenis karakter
irrigant digunakan, output lambung dan jumlah, dan kondisi klien
dan toleransi dari prosedur.
R : Untuk bukti bahwa tindakan sudah dilakukan dan untuk selalu
memonitor keadaan pasien setiap saat.
NB : Kumbah lambung system terbuka atau Intermitten , hanya perlu dilakukan
1 kali sampai lambung pasien bersih. Biasanya dilakukan sebelum dilakukan
pemeriksaan endoskopi
b. Gastric Lavage Continous atau system tertutup.
1. Jelaskan prosedur kepada klien.
R : Mengurangi kecemasan; meningkatkan kerja sama dan partisipasi.
2. Membawa alat-alat ke dekat pasien.
R : Meningkatkan efesiensi.
3. Atur posisi dalam sikap semi fowler bila sadar.
R : Menfasilitasi slang masuk ke esofagus dan bukan trakea.
4. Pasang sampiran.
R : Menjaga privasi pasien.
5. Pasang pengalas; satu dibawah dagu klien yang dipenitikan dibagian
punggung dan satu diletakkan pada sisi dimana ember diletakkan.
R : Menjaga kebersihan dan kenyamanan pasien.
6. Letakkan ember diatas kain pel dibawaah TT.

R: Menjaga kebersihan dan kenyamanan pasien.


7. Perawat cuci tangan dan pakai sarung tangan.
R : Mengurangi transfer mikroorganisme.
8. Ambil selang sonde lambung dan keluarkan air dari dalam selang.
R : Memungkinkan cairan membersihkan selang.

9. Selang sonde diukur dari epigasterika-mulut ditambah dari mulutkebawah telinga (40-45 cm) kemudian tandai lokasi pada slang
sengan sepotong plester kecil.
R : Mengindikasikan jarak dari pintu masuk hidung ke area faring
dan kemudian ke lambung. Plester mengindikasikan kedalaman
slang yang harus dimasukkan.
10. Memasang selang lambung yang telah diklem perlahan-lahan
kedalam lambung melalui mulut.
R : Menjaga kebersihan dan kenyamanan pasien.
11. Pastikan apakah selang lambungbenar-benar telah masuk kedalam
lambung dengan cara memasukkan pangkalnya kedalam air dan klem
dibuka. Jika tidak ada gelembung udara yang keluar, selang sudah
masuk dalam lambung. Sebaliknya jika ada udara yang keluar berarti
sode masuk ke paru-paru, segera cabut selang lambung.
R : Untuk mengetahui ketepatan tempat.
12. Tempatkan pasien pada posisi lateral kiri dengan kepala diturunkan
(trendelenburg)
R : Posisi ini menurunkan pasase isi lambung ke dalam duodenum
selama lavase dan meminimalkan kemungkinan aspirasi ke
dalam paru.

13. Hubungkan kantong atau botol larutan irigasi dengan normal saline
fisiologis ke tabung nasogastrik menggunakan konektor Y , yang
disambungkan

dengan

drainase

atau

tabung

hisap

untuk

menyambung lengan lainnya dari konektor.


R : Larutan isotonic mempertahankan tekanan osmotic dan
meminimalkan kehilangan elektrolit dari lambung

14. Gunakan penjepit atau klem suction penguras tabung untuk


mematikan alat hisap, lalu masukkan cairan normal saline(lavase)
dari selang pertama , sementara selang kedua diklem . Masukkan
cairan sekitar 50 sampai 200 ml untuk dialirkan menuju kedalam
lambung dengan gravitasi.
R : Meninggikan saluran untuk melancarkan cairan , sesuai dengan
gaya gravitasi.
15. Jika cairan yang masuk sudah sekitar 50-200ml dan atau maksimal
500ml cairan yang masuk ke dalam lambung , segera klem selang
pertama dan buka klem pada selang kedua yang menghubungkan ke
alat sunction.
R : untuk melancarkan proses kumbah lambung ,dan agar cairan
yang sudah terkontaminasi tidak kembali atau tidak bercampur
ke selang yang pertama.
16. Hentikan aliran cairan tersebut jika cairan sudah tidak merah
kehitaman atau agak bersih.
R : cairan berubah warna menjadi merah muda atau sudah tidak
kehitaman menandakan cairan lambung sudah bersih.
17. Beri air untuk kumur kepada klien, kemudian mulut dan sekitarnya
dibersihkan dengan tisu.

R : kebersihan hygiene pasien untuk menghindari infeksi


nosokomial pada pasien.
18. Angkat pengalas dan rapikan klien.
R : Menjaga kenyamanan klien.
19. Alat-alat dirapikan dan cuci tangan.
R : mempertahankan lingkungan yang rapi dan menghilangkan
mikroorganisme.
20. Mencatat tindakan serta hasil termasuk jumlah dan jenis karakter
irrigant digunakan, output lambung dan jumlah, dan kondisi klien
dan toleransi dari prosedur.
R : Untuk bukti bahwa tindakan sudah dilakukan dan untuk selalu
memonitor keadaan pasien setiap saat.
NB : Kumbah lambung system tertutup atau secara continuos ini dilakukan berkali-kali
biasanya 1 hari 3 kali atau setiap 4-5 jam karena kondisi lambung pasien yang masih
mengalami perdarahan.Sistem tertutup , meminimalkan risiko kontak dengan cairan
tubuh untuk perawat , pengukuran output lambung sangat penting dalam memantau
keseimbangan cairan dan mengetahui perkembangan cairan lambung pasien yang
mengalami perdarahan.
Prosedur kumbah lambung dengan cara ini lebih efisien jika menggunakan alat hisap
atau sunction.
(Smith, Jean.2010.Buku Saku Prosedur Klinis Keperawatan Edisi 5. Hal 536)
H. Hal-hal yang perlu diperhatikan
Periksa selang lambung sebelum digunakan, apakah tidak tersumbat, dan tidak rapuh
1. Suhu cairan tidak boleh > 37C untuk mencegah iritasi pada selaput lender
lambung
2. Bila terjadi reaksi batuk-batuk / sianosis pada saat memasukkan sonde, segera
cabut
3. Bila pasien memakai gigi palsu harus dikeluarkan
4. Bila cairan yang keluar bercampur darah, pengumbah lambung harus segera
dihentikan
5. Perhatikan cairan yang keluar, warnanya, kepekatannya, dan lain-lain
6. Bila ada rintangan/hambatan pada saat memasang sonde, tidak boleh dipaksakan
7. Catat reaksi pasien sebelum, sesaat, dan sesudah pelaksanaaan prasat, waktu dan
lamanya pelaksanaan prasat.
8. Jumlah cairan yang masuk dan keluar beserta warnanya
9. Petugas yang melaksanakan

(Paula dkk.2009.Asuhan Keperawatan Gawat Darurat.hlm : 350)


I. Evaluasi
Apakah hasil yang diharapkan tercapai?Contoh evaluasi antara lain:
1. Hasil tercapai : Area insersi tetap bebas dari infeksi; tidak ada tanda-tanda
iritasi atau drainase
2. Hasil tercapai : Klien tidak mengalami regurgitasi atau tidak menunjukkan
tanda-tanda aspirasi
3. Hasil tercapai : Klien dan pemberi perawatan mengungkapkan informasi
yang berhubungan dengan perawatan slang dan area insersi
(Jean dan Joyce.2010.Buku Saku Prosedur Klinis Keperawatan Edisi 5.hlm: 540)

J. Dokumentasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Catat tanggal dan waktu.


Catat jenis jumlah cairan irigasi.
Catat penempatan spesimen.
Catat karakteristik cairan lambung.
Catat toleransi pasien terhadap prosedur.
Catat penjelasan pada pasien atau keluarga yang diperlukan.
Catat sifat cairan atau spesimen.

(Kholida dan Nila.2013.Prosedur Praktik Keperawatan Medikal Bedah.hlm : 88-89)

DAFTAR PUSTAKA
Kholida dan, Nila.2013.Prosedur Praktik Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:EGC
Mancini, Mary.1994.Prosedur Keperawatan Darurat.Jakarta:EGC
Smith, Jean.2010.Buku Saku Prosedur Klinis Keperawatan Edisi 5.Jakarta: EGC
Paula dkk.2009 Asuhan Keperawatan Gawat Darurat.Jakarta : Trans Info Media
http://membentukmasyarakatbaru.blogspot.com/2013/04/prosedur-lavagelambung.html&docid=g350f1DbHVC7iM&imgurl 23 oktober jam 19:02
http://catatanharianindah.com/pengertian-indikasi-dan-tujuan-dilakukan-irigasingt.htm&docid=RPkgJ58-d9CNMM&imgurl 23 oktober jam 19:21