Anda di halaman 1dari 8

Ivanna Octaviani - 0712010021

KANKER LARING
Kanker Laring adalah keganasan pada pita suara, kotak suara (laring) atau daerah
lainnya di tenggorokan. Kanker di laring hampir selalu merupakan karsinoma sel skuamosa.
Ia kanker yang biasa terjadi pada perokok. Di Amerika Serikat setiap tahun dilaporkan
adanya 10.000 kasus baru.kanker laring bukan satu, tetapi merupakan beberapa penyakit,
tergantung atas lokasinya. Kanker pita suara sejati, berbeda dengan karsinoma supraglotis
dan subglotis, biasanya ditemukan dini karena dampaknya pada suara. Bila kanker pita suara
terdiagnosis dini, maka dapat dicapai angka penyembuhan 98% dengan operasi singkat,
tanpa keperluan trakeostomi permanen atau kehilangan suara. Sebaliknya pada kasus lanjut,
mungkin memerlukan terapi yang lama, kehilangan laring dan kadang-kadang reseksi bedah
yang mencakup faring atau laher. Kanker supraglotis mula-mula timbul sebagai kesulitan
menelan; serak merupakan tanda lanjut. Kanker subglotis dapat mengobstruksi saluran
pernapasan sebelum menyebabkan serak. Karsinoma epitel di tempat manapun di laring
dapat berulserasi, dan ulkus ini dapat terinfeksi yang menyebabkan nyeri. Serak dan sakit
tenggorokan tidak boleh disebut sebagai laryngitis hanya karena ia berespon dengan
antibiotika.
Pada orang dewasa perokok, serak yang menetap lebih dari 6 minggu harus dianggap
kanker pita suara, sampai terbukti lain. Kanker kecil tampak sama seperti leukoplakia.
Kanker yang agak besar tampak seperti laryngitis kronika, leukoplakia dan fiksasi pita suara.
Kanker yang sangat besar jelas tampak sebagai kanker, ia berulserasi, fungasi dan
menginyasi struktur sekitarnya.
Metastasis ke leher dari kanker pita suara dini jarang terjadi. Tetapi kanker yang
cukup besar untuk memfikasi pita suara menyebar ke nodus limfatikus sevikalis pada
sejumlah besar kasus.
ETIOLOGI
1. Asap rokok dan alcohol
Etiologi karsinoma laring belum diketahui dengan pasti. Dikatakan oleh para ahli bahwa
perokok dan peminum alcohol merupakan kelompok orang-orang dengan resiko tinggi
karsinoma laring. Penelitian epidemiologic menggambarkan beberapa hal yang diduga
menyebabkan terjadinya karsinoma laring yang kuat adalah rokok, alcohol dan terpajan oleh
sinar radioaktif.

Ivanna Octaviani - 0712010021


2. Karsinogen lingkungan
Arsen (pabrik, obat serangga), asbes (lingkungan, pabrik, tambang), gas mustar (pabrik),
serbuk nikel (pabrik, lingkungan), polisiklik hidrokarbon (pabrik, lingkungan), vinil klorida
(pabrik),dan nitrosamin (makanan yang diawetkan, ikan asin).
3. Infeksi laring kronis
Kuman, rangsangan terus menerus (asap) menyebabkan radang kronis mukosa laring
selanjutnyaterjadi hiperplasia, hiperkeratosis, leukoplakia, eritroplakia, sel atipik dan
akhirnya menjadi sel kanker.
4. Human papilloma virus (HPV)
Predileksi di korda vokalis. Awalnya tumbuh jaringan berupa papil-papil (papiloma)
kemudian terjadi perubahan maligna menjadi karsinoma verukosa (verrucous carcinoma).
5. Genetik
Interaksi faktor etiologi & host berbeda-beda tiap individu. Aktivasi pra karsinogen &
inaktivasi karsinogen amat bervariasi individual
KLASIFIKASI Tumor Ganas Laring ( AJCC dan UICC 1988 ):3
Tumor primer ( T )
Supraglotis
Tis : karsinoma insitu
T1 : tumor terdapat pada satu sisi suara / pita suara palsu (gerakan masih baik).
T2 : Tumor sudah menjalar ke 1 dan 2 sisi daerah supraglotis dan glotis masih bisa bergerak
(tidak terfiksir).
T3 : tumor terbatas pada laring dan sudah terfiksir atau meluas ke daerah ke krikod bagian
belakang, dinding medial dari sinus piriformis, dan kearah rongga preepiglotis.
T4 : Tumor sudah meluas keluar laring, menginfiltrasi orofaring jaringan lunak pada leher
atausudah merusak tulang rawan tiroid.
Glotis
Tis : karsinoma insitu.
T1 : Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita suara masih baik,
atautumor sudah terdapat pada kommisura anterior atau posterior

Ivanna Octaviani - 0712010021


T2 : Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara masih dapat bergerak
atausudah terfiksir ( impaired mobility ).
T3 : Tumor meliputi laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau sudah keluar dari laring.
Subglotis
Tis : Karsinoma insitu.
T1 : Tumor terbatas pada daerah subglotis.
T2 : Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir.
T3 : Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan ke luar laring atau dua duanya.
Penjalaran ke kelenjar limfe ( N )
Nx : Kelenjar limfe tidak teraba.
N0 : Secara klinis kelenjar tidak teraba.
N1 : Secara klinis teraba satu kelenjar limfe dengan ukuran diameter 3 cm homolateral.
N2 : Teraba kelenjar limfe tunggal, ipsilateral dengan ukuran diameter 3-6 cm.
N2a : Satu kelenjar limfe ipsilateral, diameter lebih dari 3 cm tapi tidak lebih dari 6 cm.
N2b : Multipel kelenjar limfe ipsilateral, diameter tidak lebih dari 6 cm. 10
N2c : Metastasis bilateral atau kontralateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.
N3 : Metastasis kelenjar limfe lebih dari 6 cm.
Metastasis jauh ( M )
Mx : Tidak terdapat / terdeteksi.
M0 : Tidak ada metastasis jauh.
M1 : Terdapat metastasis jauh.
Staging (Stadium)
ST1 : T1 N0 M0
ST II : T2 N0 M0
ST III : T3 N0 M0 atau T1/T2/T3 N1 M0
ST IV : T4 N0/N1 M0
T1/T2/T3/T4 N2/N3
T1/T2T3/T4 N1/N2/N3 M1

Ivanna Octaviani - 0712010021


MANIFESTASI KLINIS
1. Serak : Gejala utama Ca laring, merupakan gejala dini tumor pita suara. Hal ini
disebabkankarena gangguan fungsi fonasi laring.Kualitas nada sangat dipengaruhi oleh
besar celah glotik, besar pita suara, ketajaman tepi pita suara, kecepatan getaran dan
ketegangan pita suara.Padatumor ganas laring, pita suara gagal berfungsi secara baik
disebabkan oleh ketidak teraturan pitasuara, oklusi atau penyempitan celah glotik,
terserangnya otot-otot vokalis, sendi dan ligamentkrikoaritenoid dan kadang-kadang
menyerang saraf. Adanya tumor di pita suara akanmengganggu gerak maupun getaran kedua
pita suara tersebut. Serak menyebabkan kualitas suaramenjadi semakin kasar, mengganggu,
sumbang dan nadanya lebih rendah dari biasa.Kadang-kadang bisa afoni karena nyeri,
sumbatan jalan nafas atau paralisis komplit.Hubungan antaraserak dengan tumor laring
tergantung pada letak tumor.Apabila tumor laring tumbuh pada pitasuara asli, serak
merupakan gejala dini dan menetap. Apabila tumor tumbuh di daerah ventrikellaring,
dibagian bawah plika ventrikularis atau dibatas inferior pita suara, serak akan
timbulkemudian. Pada tumor supraglotis dan subglotis, serak dapat merupakan gejala akhir
atau tidak timbul sama sekali. Pada kelompok ini, gejala pertama tidak khas dan subjektif
seperti perasaantidak nyaman, rasa ada yang mengganjal di tenggorok. Tumor hipofaring
jarang menimbulkanserak kecuali tumornya eksentif.
2. Suara bergumam (hot potato voice): fiksasi dan nyeri menimbulkan suara bergumam.
3. Dispnea dan stridor : Gejala yang disebabkan sumbatan jalan nafas dan dapat timbul pada
tiaptumor laring. Gejala ini disebabkan oleh gangguan jalan nafas oleh massa tumor,
penumpukankotoran atau secret maupun oleh fiksasi pita suara. Pada tumor supraglotik dan
transglotik terdapat kedua gejala tersebut.Sumbatan yang terjadi perlahan-lahan dapat
dikompensasi. Pada umunya dispnea dan stridor adalah tanda prognosis yang kurang baik.
4. Nyeri tenggorok : keluhan ini dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa nyeri yang
tajam.
5. Disfagia: Merupakan ciri khas tumor pangkal lidah, supraglotik, hipofaring dan sinus
piriformis. Keluhan ini merupakan keluhan yang paling sering pada tumor ganas
postkrikoid.Rasa nyeri ketika menelan (odinofagia): menandakan adanya tumor ganas
lanjutyang mengenai struktur ekstra laring.

Ivanna Octaviani - 0712010021


6. Batuk dan hemoptisis: Batuk jarang ditemukan pada tumor ganas glotik, biasanya timbul
dengan tertekanya hipofaring disertai secret yang mengalir ke dalam laring. Hemoptisis
sering terjadi pada tumor glotik dan tumor supraglotik.
7. Nyeri tekan laring adalah gejala lanjut yang disebabkan oleh komplikasi supurasi tumor
yangmenyerang kartilago tiroid dan perikondrium.
DIAGNOSIS
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan suara parau yang diderita sudah cukup
lama, tidak bersifat hilang - timbul meskipun sudah diobati dan bertendens makin lama
menjadi berat. Penderita kebanyakan adalah seorang perokok berat yang juga kadang
kadang adalah seorang yang juga banyak memakai suara berlebihan dan salah (vocal abuse),
peminum alcohol atau seorang yang sering atau pernah terpapar sinar radioaktif, misalnya
pernah diradiasididaerah lain. Pada anamnesis kadang kadang didapatkan hemoptisis, yang
bisa tersamar bersamaan dengan adanya TBC paru, sebab banyak penderita menjelang tua
dan dari sosial - ekonomi yang lemah.
Sesuai pembagian anatomi, lokasi tumor laring dibagi menjadi 3 bagian yakni
supraglotis, glottis dan subglotis, dan gejala serta tanda tandanya sesuai dengan lokasi
tumor tersebut. Dari pemeriksaan fisik sering didapatkan tidak adanya tanda yang khas dari
luar, terutama pada stadium dini / permulaan, tetapi bila tumor sudah menjalar ke kelenjar
limfe leher, terlihat perubahan kontur leher, dan hilangnya krepitasi tulang rawan tulang
rawan laring.
Pemeriksaan untuk melihat kedalam laring dapat dilakukan dengan cara tak langsung
maupun langsung dengan menggunakan laringoskop unutk menilai lokasi tumor,
penyebaran tumor yangterlihat (field of cancerisation), dan kemudian melakukan biopsi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium darah,
juga pemeriksaan radiologik. Foto toraks diperlukan untuk menilai keadaan paru , ada atau
tidaknya proses spesifik dan metastasis diparu. Foto jaringan lunak (soft tissue) leher dari
lateral kadang kadang dapat menilai besarnya dan letak tumor, bila tumornya cukup besar.
Apabila memungkinkan, CT scan laring dapat memperlihatkan keadaan tumor dan laring
lebih seksama,misalnya penjalaran tumor pada tulang rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis
serta metastasekelenjar getah bening leher.

Ivanna Octaviani - 0712010021


Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi-anatomik dari bahan biopsi
laring, dan biosi jarum-halus pada pembesaran kelenjar limfe dileher. Dari hasil patologi
anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa.
PENATALAKSANAAN
Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma laring yaitu pembedahan,
radiasi dan sitostatika, ataupun kombinasi, tergantung pada stadium penyakit dan keadaan
umum pasien.
A. Laringektomi
1.Laringektomi parsial.
Tumor yang terbatas pada pengangkatan hanya satu pita suara dantrakeotomi
sementara yang di lakukan untuk mempertahankan jalan napas. Setelahsembuh dari
pembedahan suara pasien akan parau.
2. Hemilaringektomi atau vertikal.
Bila ada kemungkinan kanker termasuk pita suara satu benar dan satu salah. Bagian
ini diangkat sepanjang kartilago aritenoid dan setengah kartilago tiroid. Trakeostomi
sementara dilakukan dan suara pasien akan parau setelah pembedahan.
3. Laringektomi supraglotis atau horisontal.
Bila tumor berada pada epiglotis atau pita suara yang salah, dilakukan diseksi leher
radikal dan trakeotomi. Suara pasien masih utuh atau tetap normal. Karena epiglotis
diangkat maka resiko aspirasi akibat makanan peroral meningkat.
4. Laringektomi total.
Kanker tahap lanjut yang melibatkan sebagian besar laring, memerlukan
pengangkatan laring, tulang hihoid, kartilago krikoid, 2-3 cincin trakea, dan otot
penghubung ke laring. Mengakibatkan kehilangan suara dan sebuah lubang (stoma)
trakeostomi yang permanen. Dalam hal ini tidak ada bahaya aspirasi makanan peroral,
dikarenakan trakea tidak lagi berhubungan dengan saluran udara pencernaan. Suatu
sayatan radikal telah dilakukan dileher pada jenis laringektomi ini. Hal ini meliputi
pengangkatan pembuluh limfatik, kelenjar limfe di leher, otot sternokleidomastoideus,vena
jugularis interna, saraf spinal asesorius, kelenjar salifa submandibular dan sebagiankecil
kelenjar parotis (Sawyer, 1990). Operasi ini akan membuat penderita tidak dapat bersuara
atau berbicara. Tetapi kasus yang dermikian dapat diatasi dengan mengajarkan pada mereka

Ivanna Octaviani - 0712010021


berbicara menggunakan esofagus (Esofageal speech), meskipun kualitasnya tidak sebaik bila
penderita berbicara dengan menggunakan organ laring. Untuk latihan berbicara dengan
esofagus perlu bantuan seorang binawicara.
B. Diseksi Leher Radikal
Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1 T2) karena kemungkinan
metastase ke kelenjar limfe leher sangat rendah.Sedangkan tumor supraglotis, subglotis dan
tumor glottis stadium lanjut sering kali mengadakan metastase ke kelenjar limfe leher
sehingga perlu dilakukan tindakan diseksi leher. Pembedahan ini tidak disarankan bila telah
terdapat metastase jauh.
2. Radioterapi
Radioterapi digunakan untuk mengobati tumor glotis dan supraglotis T1 dan T2
denganhasil yang baik (angka kesembuhannya 90%). Keuntungan dengan cara ini adalah
laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. Dosis yang dianjurkan adalah
200 rad perharisampai dosis total 6000 7000 rad.
3. Kemoterapi
Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvant ataupun paliatif. Obat
yangdiberikan adalah cisplatinum 80 120 mg/m2 dan 5 FU 800 1000 mg/m2.
4. Rehabilitasi Suara
Laringektomi total yang dikerjakan untuk mengobati karsinoma laring menyebabkan
cacat pada penderita. Dengan dilakukannya pengangkatan laring beserta pita-suara yang ada
dalamnya,maka penderita akan menjadi afonia dan bernafas melalui stoma permanent di
leher.
Untuk itu diperlukan rehabilitasi terhadap pasien, baik yang bersifat umum, yakni
agar pasiendapat memasyarakat dan mandiri kembali, maupun rehabilitasi khusus yakni
rehabilitasi suara(voice rehabilitation), agar penderita dapat berbicara (bersuara), sehingga
berkomunikasi verbal.Rehabilitasi suara dapat dilakukan dengan pertolongan alat bantu
suara, yakni semacam vibrator yang ditempelkan di daerah submandibula, ataupun dengan
suara yang dihasilkan dari esophagus(eso-phageal speech) melalui proses belajar. Banyak
faktor yang mempengaruhi suksesnya proses rehabilitasi suara ini, tetapi dapat disimpulkan
menjadi 2 faktor utama, ialah faktor fisik dan faktor psiko-sosial.

Ivanna Octaviani - 0712010021


Suatu hal yang sangat membantu adalah pembentukan wadah perkumpulan guna
menghimpun pasien-pasien tuna-laring guna menyokong aspek psikis dalam lingkup yang
luas dari pasien, baik sebelum maupun sesudah operasi.
PROGNOSIS
Tergantung dari stadium tumor, pilihan pengobatan, lokasi tumor dan kecakapan
tenaga ahli. Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma laring stadium I 90
98%, stadium II 75 85%, stadium III 60 70% dan stadium IV 40 50%. Adanya
metastase kekelenjar limfe regional akan menurunkan 5 year survival rate sebesar 50%.