Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR PEMULIAAN TANAMAN


ACARA II
KASTRASI DAN HIBRIDISASI

DISUSUN OLEH:
NAMA

: YULI SARMIASIH

NIM

: 11098

GOLONGAN

: C6

HARI/TGL

: SENIN, 20 APRIL 2009

ASISTEN

: 1. BAYU SETYAWAN
2. WIJAYA

LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN


JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

2009
ACARA II
KASTRASI DAN HIBRIDISASI
I. INTISARI
Dalam pemuliaan tanaman, persilangan tanaman merupakan hal yang penting diketahui terutama untuk
mendapatkan varietas baru. Hibridisasi merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan varietas
baru tersebut. Hibridisasi dapat diterapkan pada tanaman allogam maupun autogam. Teknik hibridisasi ini
terbukti banyak sekali keunggulannya, antara lain dapat meningkatkan produksi tanaman, umur tanam yang
relatif lebih pendek, dan varietas baru yang tahan terhadap hama dan penyakit. Praktikum dasar-dasar
pemuliaan tanaman ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengetahui teknik kastrasi dan hibridisasi serta
aplikasinya di lapangan. Praktikum Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman Acara II yang berjudul Kastrasi dan
Hibridisasi ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 21 April 2009 di Seturan, Sleman, Yogyakarta.
Kastrasi dilakukan efektif pada pagi hari pukul 06.30-07.00 atau sore hari (15.00), sedangkan hibridisasi
dilaksanakan setelah kastrasi pada pukul 08.00-10.00. Metode yang dilaksanakan adalah metode forcing dan
clipping. Dari pengamatan terhadap hasil praktikum yang dilaksanakan didapatkan bahwa kastrasi
memperoleh tingkat keberhasilan sebanyak 100% (kastrasi berhasil semua) dan hibridisasi tingkat
keberhasilannya 20 % untuk metode Clipping, 0% untuk metode Forcing, dan 70 % untuk kontrolnya.
Berdasarkan hasil percobaan tersebut maka dapat dikatakan bahwa hibridisasi yang dilakukan tidak berhasil
karena dari kedua metode baik Clipping maupun Forcing menunjukkan presentase keberhasilan kurang dari
50%.

II. PENDAHULUAN
A. TUJUAN
Pelaksanaan Praktikum Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman Acara II yang berjudul
Kastrasi dan Hibridisasi ini bertujuan untuk mengetahui teknik kastrasi dan hibridisasi
serta aplikasinya di lapangan.
B. LATAR BELAKANG
Semakin berkembangnya kehidupan manusia mengakibatkan kebutuhan akan
pangan semakin meningkat. Tidak hanya dalam hal kuantitas, tetapi juga dalam hal kualitas
produk. Oleh karena itu, hal ini menuntut para pemulia tanaman untuk menghasilkan
varietas tanaman yang lebih baik. Hasil tanaman/panen yang menurun dan kualitasnya pun
menurun memberikan ruang bagi pemulia untuk memberikan kontribusi dalam
perbaikannya. Pemuliaan tanaman bertujuan untuk menghasilkan kombinasi genetik baru
dan melalui seleksi menghasilkan peningkatan tanaman yang mempunyai kondisi lebih
baik. Untuk mencapai tujuan tersebut, gamet jantan dan betina dari genotipe induk yang
diinginkan harus disilangkan. Hasil persilangan menjadi tahapan penting dalam program
pemuliaan. Persilangan ditujukan untuk meningkatkan variabilitas genetik. Tingkat
variabilitas yang dihasilkan pada suatu kegiatan pemuliaan tergantung pada pemilihan

tetua-tetua yang digunakan. Hibridisasi merupakan menyilangkan 2 tanaman/lebih yang


mempunyai sifat genetis yang berbeda, sedangkan kastrasi merupakan mengambil ala
kelamin jantan (serbuk sari) sebelum pecahnya kepala sari.
C. TINJAUAN PUSTAKA
Dalam rangka mendapatkan jenis-jenis tanaman baru yang mempunyai sifat-sifat
lebih unggul dibanding tanaman sebelumnya, banyak cara yang telah ditempuh oleh
pemulia tanaman (breeder). Salah satunya dengan cara mengawinkan dua tanaman atau
lebih yang mempunyai sifat genetis berbeda (hibridisasi) (Sucipto, 1993).
Penyerbukan adalah pemindahan serbuk sari dari anther ke stigma. Perpindahan
serbuk sari di dalam bunga yang sama (atau setiap bunga pada tanaman atau kelon sama)
dikenal dengan istilah penyerbukan sendiri (self-pollination). Pemindahan serbuk sari
kepada bunga dari suatu tanaman yang berbeda susunan genetiknya disebut penyerbukan
silang (cross-pollination) (Harjadi, 2002).
Hibridisasi adalah menyilangkan dua tetua untuk mendapatkan F1, dalam generasi
selanjutnya diadakan seleksi diantara keturunan untuk memilih sifat kombinasi dari
tetuanya. Keberhasilan dari pemuliaan dengan hybridisasi ini tergantung dari kesesuaian
pilihan tetua-tetua yang akan disilangkan untuk mengahsilkan kombinasi genetic sesuai
dengan sifat-sifat yang diharapkan. Metode hybridisasi pada tanaman penyerbuk sendiri
dilaksanakan dengan menyilangkan dua tetua untuk mendaptkan kombinasi sifat-sifat yang
baik kedalam suatu genotip superior (Soetarso dan Mitoyat, 1977).
Hibridisasi adalah menyilangkan 2 tanaman/ lebih yang mempunyai sifat genetis
berbda. Hibridisasi dapat dilakukan pada tanaman allogami atau autogami, karena pada
tanaman allogami bunga betina dan bunga jantannya terpisah sehingga tidak perlu
dilakukan kastrasi, sedangkan pada tanaman autogami, bunga jantan dan bunga betinanya 1
rumah /bunga lengkap sehingga perlu dilakukan kastrasi sebelum melakukan hibridisasi
(Bhandari, 1979).
Untuk menjaga keragaman genetik diperlukan usaha isolasi atau pemisahan antara
suatu spesies dan pengembangan secara terpisah antara genotip yang terpilih. Penelitian
dan pengujian dalam usaha memperbanyak genotip yang dikehendaki sangat diperlukan
yang dapat dicari dengan pengukuran fenotip individu atau kelompok individu sejenis.
Penilaian terhadap keragaman genotip dapat dilaksanakan dengan perkawinan-perkawinan
untuk memperbanyak. Kemurnian genotip dapat diperoleh dengan teknik pengawasan agar
diketahui pengaruh komponen lingkungan (Jennings et al., 1979).

Pembentukan varietas yang adaptif merupakan salah satu usaha meningkatkan


produksi. Sebagai langkah awal adalah melakukan persilangan atau menyeleksi varietas
introduksi dua varietas lokal hasil persilangan berupa genotit yang mempunyai keragaman
genetik. Oleh karena itu perlu dilakukan observasi terhadap beberapa karakter penting,
seperti morfologi tanaman dan hasil biji yang digunakan sebagai kriteria seleksi (Sabran,
1995).
Kastrasi, mengebiri bunga dan emaskuli adalah tindakan membuang semua benang
sari yang muda atau yang belum masak dari sebuah kuncup bunga dari tanaman induk
betina. Biasanya kastrasi dilakukan satu atau dua hari sebelum kuncup mekar (Daryanto
dan Satifah, 1982).
Waktu yang tepat untuk melakukan kastrasi sebaiknya dilakukan sebelum bunga
mekar (beberapa jam sebelumnya). Pada tanaman-tanaman yang mekarnya bunga di waktu
malam hari, maka kastrasi dilakukan pada sore hari sebelumnya, bunga yang telah
dikastrasi ditutup dengan kantong kertas atau kantong plastik untuk mencegah tepung sari
asing yang tidak dikehendaki (Roesmarkam, 1981).
Keberhasilan program pemuliaan sangat ditunjang dengan banyaknya variasi
genetik dari bahan yang tersedia. Dalam hal ini benyaknya variasi genetik tersebut akan
memberi kemungkinan yang lebih besar dalam usaha perakitan suatu varietas baru. Dengan
kata lain penciptaan suatu varietas baik variatas hibrida maupun variatas sintetik akan
ditentukan oleh sifat genetik dari galur-galur sebagai tetuanya ( Purwantoro et al., 1991 ).
III. METODOLOGI
Praktikum Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman Acara II yang berjudul Kastrasi dan
Hibridisasi ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 21 April 2009 di Seturan, Sleman,
Yogyakarta. Adapun bahan yang digunakan adalah tanaman padi (Oryza sativa) varietas
Ciherang dan Sri Putih. Sedangkan alat-alat yang diperlukan meliputi, alat tulis, gunting,
pinset, kantong kertas, tali, dan pentil.
Praktikum dilakukan dengan metode clipping (clipping method) dan forcing
(forcing method). Cara kerja metode clipping yaitu sepertiga atau setengah bagian dari
palea atau lemma dipotong hingga kepala sari kelihatan. Bidang potong dibuat miring ke
arah lemma. Benang sari kemudian dibuang secara hati-hati dengan menggunakan pinset.
Kemudian setelah selesai ditutup dengan menggunakan kantong kertas agar tidak terjadi
persilangan yang tidak diinginkan hingga tiba saatnya penyerbukan silang. Persilangan

pada metode ini dilakukan dengan cara menaburkan serbuk sari dari varietas lain ke atas
bunga yang sudah dikastrasi kemudian bunga ditutup lagi dengan menggunakan kantong
kertas. Penaburan serbuk sari dilakukan pada waktu bunga membuka (pada pukul 09.30
WIB). Dan hasilnya dapat dilihat setelah kurang lebih sekitar 1 minggu dari persilangan.
Cara kerja dari metode forcing yaitu bunga dibuka paksa secara hati-hati melalui
lemma dan palea menggunakan pinset, kenudian keenam benang sari diambil secara hatihati dengan bantuan pinset. Kemudian setelah selesai ditutup dengan menggunakan
kantong kertas agar tidak terjadi persilangan yang tidak diinginkan hingga tiba saatnya
penyerbukan silang (hibridisasi). Persilangan pada metode ini dilakukan dengan cara
menaburkan serbuk sari dari varietas lain ke atas bunga yang sudah dikastrasi atau dengan
memasukkan serbuk sari dari varietas lain ke bunga yang digunakan sebagai induk betina.
Setelah itu bunga ditutup lagi dengan menyatukan lemma dan palea menggunakan pentil.
Terakhir bunga ditutup lagi dengan kantong kertas, dan hasil persilangannya dapat dilihat
setelah kurang lebih sekitar 1 minggu dari persilangan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENGAMATAN
Tanggal Kastrasi

: 20 April 2009

Tanggal Hibridisasi

: 21 April 2009

Tetua

: Ciherang X Sri Putih

No
Perlakuan
1
Clipping
2
Forcing
3
Kontrol
Contoh perhitungan:

Jumlah Bulir (A)


20
20
20

Presentase Keberhasilan

Bulir yang berhasil (B)


4
0
14

Keberhasilan (%)
20 %
0%
70 %

= B/A x 100%

Diketahui:
pada metode Clipping diperoleh 4 bulir yang berhasil dari 20 bulir yang di kastrasi dan
hibridisasi, maka presentase keberhasilannya = 4/20 x 100%

= 20 %

B. PEMBAHASAN
Padi merupakan tanaman yang penting, terutama bagi penduduk Asia karena
tanaman ini merupakan sumber makanan pokok utama yang banyak dikonsumsi. Di
Indonesia beras merupakan bahan makanan pokok penghasil karbohidrat. Padi merupakan

tanaman yang menyerbuk sendiri karena gamet jantan dan betinanya berada pada 1
tanaman (hermafrodit) sehingga untuk melakukan kastrasi harus dilakukan hati-hati dan
teliti, yang dilakukan sebelum tepung sari bunganya masak karena bila tidak hati-hati maka
putik dapat ikut terpotong dan dapat juga terpengaruhi faktor luar (penyerbukan asing yang
tidak dikehendaki).

Kastrasi dan hibridisasi pada tanaman padi dilakukan untuk

memperoleh suatu varietas unggul tanaman dengan perlakuan metode forcing, clipping dan
kontrol maka dapat dibandingkan antara tanaman yang disilangkan dengan yang tidak
disilangkan.
Karena sangat pentingnya untuk pangan masyarakat dunia, perlu diadakan
peningkatan mutu varietas padi. Untuk melakukan persilangan atau hibridisasi digunakan
varietas padi yang memiliki keunggulan tertentu agar mendapatkan varietas yang lebih
bagus. Varietas padi yang digunakan dalam percobaan kastrasi dan hibridisasi ini adalah
varietas padi lokal Ciherang dan Sri Putih. Padi Ciherang adalah padi bibit unggulan petani
sawah, memiliki keunggulan seperti mutunya baik, padi jenis Ciherang memiliki umur
tanam yang cukup singkat dari pada tanaman padi lainnya, hanya membutuhkan waktu
sekitar 3 bulan, padi Ciherang sudah bisa dipanen. Selain umurnya yang relatif pendek,
hasil bulir padinya bagus di setiap tangkainya. Padi berbuah lebat dan kwalitas biji padi
cukup baik (Subagio, 2007). Padi ini berasal dari propinsi Jawa Barat. Sri Putih merupakan
padi varietas lokal plasma nutfah yang menjadi koleksi Balai Penelitian Sukamandi, Sri
Putih adalah varietas padi lokal yang berasal dari propinsi Jawa Tengah, letaknya di
kabupaten Sukoharjo.Varietas Sri Putih merupakan salah satu varietas padi yang memiliki
reaksi agak tahan terhadap hama wereng coklat yang berasal dari Pati dan Demak. Varietas
Sri Putih dan Ciherang merupakan varietas padi yang agak tahan dari wereng coklat selain
varietas IR64, IR6, Cisadane, Sri Putih Jateng, Bondoyudo, Kalimas, dan Membramo.
Dari percobaan persilangan antara tetua jantan varietas Sri Putih dan tetua betina
varietas Ciherang, didapat data tentang persentase keberhasilan persilangan. Persilangan
antar varietas ini dilakukan untuk mendapatkan varietas baru yang memiliki keunggulan
sehingga lebih tahan penyakit dan produksi tinggi.
Metode clipping dilakukan dengan memotong ujung dari palea dan lemma sehingga
kepala sari kelihatan. Bidang potong miring ke bawah kearah lemma, kemudian benang
sari dibuang menggunakan pinset. Setelah bunga pada satu malai (MS20) selesai di kastrasi
selanjutnya malai dibungkus dengan kertas transparan dan menunggu sampai waktu bunga
mekar (pada praktikum ini dilakukan pukul 09.30 WIB). Setelah bunga mekar dilakukan

hibridisasi denngan cara menaburkan serbuk sari dari varietas lain (MS30), dan dibungkus
lagi.
Metode clipping memiliki kelebihan antara lain merupakan metode yang sangat
sederhana dan dapat dilaksanakan hampir semua pemuliaan tanaman. Metode ini juga
dapat memungkinkan polenisasi dapat segera terjadi dan cukup efisien, dan hasil dari
polenisasi dapat mencapai 50% atau lebih dibandingkan dengan metode yang lain. Namun
untuk melaksanakan metode ini pemulia tanaman harus sabar dan teliti agar bagian bunga
yang penting tidak rusak. Kendala yang muncul dari metode ini ialah pada ketepatan
pemotongan porsi lemma dan palea. Porsi pemotongan berpengaruh terhadap persentase
jumlah biji yang jadi. Apabila pemotongan terlalu tinggi emaskulasi menjadi sulit terjadi
karena serbuk sari menjadi terlalu jauh menyebabkan pollen sulit sampai ke stigma pada
saat penyerbukan, tetapi jika pemotongan terlalu rendah dapat melukai stigma.
Pemotongan miring ke arah lemma menyebabkan benang sari yang berada di dekat lemma
menjadi lebih terbuka daripada benang sari yang berada di dekat palea, sehingga
pengambilan benang sari yang berada di dekat palea menjadi lebih sulit karena benang sari
tertutup palea. Pengambilan kepala sari yang berada di dekat palea memerlukan kehatihatian dan ketelitian yang tinggi agar tidak terjadi kerusakan pada stigma, karena tinggi
benang sari sama atau lebih rendah daripada stigma dan keadaan benang sari yang tertutup
palea. Salah satu hal yang menjadi kendala/ penghambat dalam metode ini adalah saat
pengambilan benangsari harus hati-hati, karena jika tidak hati-hati dapat melukai bagianbagian lain terutama stigma.
Forcing method dilakukan dengan membuka bunga dengan paksa secara hati-hati
melalui lemma dan palea menggunakan sebuah jarum atau pinset. Kedua ujung lemma dan
palea dipegang dengan hati-hati dan ditekan sehingga membuka sebelah, lalu keenam
benang sari diambil dengan hati-hati dengan menggunakan pinset. Pada metode forcing ini
dalam membuka palea dan lemma harus hati-hati dan tidak mudah karena dalam
membukanya dengan menggunakan tangan. Masalah yang timbul dari metode ini ialah
pembukaan paksa lemma dan palea yang beresiko terhadap kerusakan stigma atau putik.
Hal tersebut terjadi akibat adanya penekanan pada bunga. Putik dapat rusak akibat
pembukaan bunga secara paksa melebihi batas membukanya bunga padi. Kastrasi
dilakukan pada bunga padi yang belum mengalami penyerbukan sendiri, yaitu bunga yang
memiliki panjang benang sari maksimal setengah panjang bunga. Keadaan tersebut dapat
menyebabkan tinggi benang sari hampir sama dengan tinggi putik atau lebih rendah dari

putik sehingga pengambilan benang sari menjadi lebih sulit. Hibridisasi dengan metode
forcing dilakukan sekali pada tiap bunganya, agar pembukaan paksa tidak terjadi berulang
kali, untuk menghindari tingkat kerusakan putik yang lebih besar.
Digunakan 20 bulir padi untuk persilangan, setelah dilakukan kastrasi, dipisahkan
dengan benang sarinya, padi Ciherang disilangkan dengan padi Sri Putih, tetua jantan
menggunakan vareitas Sri Putih, tetua betina dengan Ciherang. Dari 20 bulir padi untuk
masing-masing metode kastrasi dan hibridisasi, untuk metode clipping jumlah bulir yang
berhasil ada 4 bulir padi yang terisi beras atau cairan seperti susu sehingga persentase
keberhasilannya adalah sebesar 20%, untuk metode Forcing jumlah bulir padi yang
berhasil ada 0 bulir sehingga persentase keberhasilannya 0%. Untuk kontrol, jumlah sekam
yang berisi beras atau cairan susu ada 14 bulir sehingga persentasenya 70%. Pada metode
Hal ini dikarenakan, benang sari Sri Putih tidak menempel sempurna pada kepala putik
padi Ciherang ketika dilakukan hibridisasi sehingga tidak terjadi pembuahan. Selain tidak
menempelnya benang sari ke kepala putik dapat disebabkan karena pada saat kastrasi
kepala putik terkoyak dan tidak dapat berkembang ketika dilakukan hibridisasi. Dapat juga
disebabkan karena dalam melakukan hibridisasi serbuk sari yang tersedia tidak cukup
banyak sehingga ada beberapa bunga yang tidak diserbuki. Hibridisasi untuk perlakuan
Clipping dan Forcing ini dianggap tidak berhasil karena persentase keberhasilan kurang
dari 50 %.
Kastrasi adalah salah satu cara untuk melakukan persilangan pada tanaman
penyerbuk sendiri, karena tanaman penyerbuk sendiri, bunga memiliki alat kelamin jantan
dan alat kelamin betina pada satu bunga. Pada tanaman penyerbuk sendiri dilakukan
kastrasi yaitu membuang benang sari dan menyisakan putik di dalam bulir padi tersebut,
sehingga hanya ada satu alat kelamin pada bunga tersebut. Kastrasi dilakukan untuk
menghindari terjadinya persilangan yang tidak diinginkan. Metode-metode kastrasi yang
dapat dilakukan adalah, Forcing method, Clipping method, Sucking method, dan Hot water
treatment. Metode Forcing adalah bunga dibuka dengan paksa dan secara hati-hati melalui
lemma dan palea menggunakan sebuah pinset. Kedua ujung dipegang dengan hati-hati dan
tekan sehingga membuka sebelah, kemudian benang sari dikeluarkan dengan hati-hati.
Metode ini memiliki kelebihan yaitu tidak terjadi persilangan yang tidak diinginkan karena
setelah dibuka palea dan lemma dikatupkan kembali dengan karet. Kekurangan metode ini
adalah terlalu rumit karena harus membuka satu-persatu dan mengambil benang sari pada
masing-masing bulir, perlu kehati-hatian karena lemma atau palea mudah patah. Metode

Clipping yaitu metode memotong pucuk palea dan lemma dengan gunting kira-kira -
dari panjangnya, kemudian buang benang-benang sarinya dengan jarum. Kelebihan dari
metode ini adalah lebih mudah dari Forcing karena dibantu dengan gunting untuk
memotong secara banyak, tidak perlu satu-satu untuk memotong bulirnya. Kelemahannya
adalah dapat terjadi persilangan yang tidak diinginkan karena bagian ujung bulir terbuka
dan benang sari dari tanaman padi varietas lain dapat masuk. Metode Sucking adalah
metode menggunakan pompa hisap, ujung bunga dipotong kemudian benang sari diambil
dengan pompa hisap, kelebihan metode ini adalah lebih cepat pengerjaan kastrsinya,
kelemahan dari metode ini adalah masih ada sisa-sisa benang sari yang tidak terhisap
dengan pompa, dan alat pompa mahal harganya, perlu ketelitian untuk menghisap benang
sari agar tidak ada yang tertinggal. Terakhir adalah Hot Water treatment, metode ini
menggunakan air panas untuk menghilangkan benang sari, karena benang sari tidak tahan
panas dibanding alat kelamin betina. Setelah kastrasi selesai bulir-bulir padi ditutup dengan
kantong kertas. Kelebihan dari alat ini adalah efisien tidak banyak alat untuk mengkastrasi,
namun kelemahannya adalah bila air terlalu panas maka tidak hanya benang sari yang
hilang tapi kelamin betina menjadi rusak juga sehingga ketika dilakukan hibridisasi tidak
terjadi pembuahan.
Pembangunan pertanian tanaman pangan bertujuan untuk meningkatkan dan
memantapkan ketahanan pangan nasional, baik secara kuantitas maupun kualitas (mutu dan
gizi), dan meningkatkan kesejahteraan petani. Oleh sebab itu, sasaran utama perbaikan
sistem produksi padi ditujukan untuk: 1) meningkatkan produksi padi agar mampu
mendukung ketahanan pangan, terutama melalui peningkatan produktivitas dan perluasan
areal panen, dan 2) meningkatkan nilai tambah ekonomi sistem produksi, terutama melalui
peningkatan efisiensi produksi, perbaikan mutu produk, diversifikasi, pengembangan
sistem, dan usaha agribisnis padi (Anonim, 2005). Kegiatan penelitian di bidang pemuliaan
tanaman mencakup studi genetik, pemuliaan dan pemanfaatan penanda molekuler untuk
mempercepat pemuliaan tanaman konvensional yang bertujuan untuk mengembangkan
varietas unggul baru untuk tanaman hortikultura dan tanaman pangan melalui perbaikan
daya hasil, perbaikan kualitas dan perbaikan adaptasi terhadap cekaman biotik dan abiotik.
Kegiatan pemuliaan untuk perbaikan daya hasil antara lain dilakukan pada pemuliaan
varietas padi tipe baru dengan daya hasil yang tinggi (Anonim, 2007).
Pada dasarnya varietas unggul itu adalah kumpulan dari keanekaragaman genetik
spesifik yang diinginkan dan dapat diekspresikan. Dalam melakukan hibridisasi untuk

mendapatkan varietas unggul dapat dilakukan dengan metode konvensional yaitu


persilangan pada umumnya, dan metode non konvensional atau modern dengan transgenik.
Untuk metode konvensional dalam perakitan varietas unggul sangat tergantung oleh tipe
tanaman yang akan disilangkan tanaman menyerbuk sendiri atau tanaman menyerbuk
silang, berkaitan erat dengan morfologi dan biologi bunga, struktur bunga. Dalam
upayanya yaitu kastrasi dan hibridisasi dalam perakitan varietas unggul dilakukan
persilangan dengan mentaati persyaratan tersebut dan dapat dilakukan dengan cara seleksi
populasi, penggabungan karakter yang diinginkan melalui persilangan. Secara non
konvensional atau modern dapat dilakukan dengan transgenik yaitu dengan cara perluasan
variasi genetik melalui mutasi (bila karakter yang diinginkan tidak ada di alam), atau
penyisipan gen untuk memproduksi tanaman transgenik.
V. KESIMPULAN
1. Dari percobaan menggunakan metode Clipping menghasilkan bulir padi dengan tingkat
keberhasilan 20%, dan persentase metode Forcing sebesar 0%.
2. Berdasar hasil percobaan metode Forcing dan Clipping, hibridisasi tidak berhasil
karena persentase keberhasilan kurang dari 50 %.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Program Penelitian Balai Besar Penelitian Tanaman


<http://www.google.co.id/balitpa>. Diakses tanggal 30 April 2009.

Padi.

______.
2007.
Mencari
Dewi
Sri
Tahan
Kering.
<http://www.google.co.id/tempo_interaktif>. Diakses tanggal 30 April 2009.
Bhandari, M. M. 1979. Pratical in Plant Breeding. Oxford and IBH Publishing Co., New
Delhi.
Darjanto dan S. Satifah. 1982. Biologi Bunga dan Teknik Penyerbukan Silang Buatan.
Gramedia, Jakarta.
Harjadi, S. 2002. Pengantar Agronomi. Gramedia Pustaka Utama, Yogyakarta.
Jennings, P.R., W.R. Coffman, H. E. Kauffman. 1979. Rice Improvement. IRRI, Los
Banos.
Purwantoro, A., W. Mangoendijojo dan Lilik. 1991. Analisis diallel untuk daya gabung
tanaman jagung (Zea mays), pada tingkat kerapatan tanaman. Agricultural Sci 4 :
291-293
Roesmarkam, S. 1981. Cara Menyilangkan Tanaman. Trubus. XII (139): 250-251.
Sabran, M. 1995. Risalah Hasil Penelitian Pemuliaan Palawija. Balai Penelitian Tanaman
Pangan Rawai Banjarbaru, Banjarmasin.
Soetarso dan R. E. Mitoyat. 1977. Ilmu Pemuliaan Tanaman. Pusat Latihan Kerja dan
Pengembangan Tanaman Serat Delangu. Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta.
Subagio, N. 2007. Petani 3 Desa Mulai Panen Padi. <http://www.radarlamsel.com>.
Diakses tanggal 30 April 2009.
Sucipto, A. 1993. Sekilas Tentang Hibridisasi pada Tanaman Padi (Oryza sativa). Buletin
Ilmu Terpadu. IV (21) : 2 7.