Anda di halaman 1dari 137

KORELASI EFEKTIFITAS PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI

DALAM SISTEM ADMINISTRASI PERPAJAKAN MODERN


DENGAN KINERJA KANTOR PELAYANAN PAJAK
PRATAMA JAKARTA GROGOL PETAMBURAN

Oleh
YULITA ARFIANA
NIM:105082002689

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H/2008 M

KORELASI EFEKTIFITAS PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI


DENGAN KINERJA KANTOR PELAYANAN PAJAK
PRATAMA JAKARTA GROGOL PETAMBURAN

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Untuk Memenuhi Syaratsyarat Untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh
YULITA ARFIANA
NIM:105082002689

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing I
Pembimbing II

DR. Yahya Hamja, MM

Yessi Fitri, SE, Ak., M.Si

NIP: 130 676 334

NIP: 150 377 440

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H / 2008 M

Hari ini Kamis, Tanggal 19 Bulan Juni Tahun Dua Ribu Delapan telah dilakukan
Ujian Skripsi atas nama Yulita Arfiana NIM: 105082002689 dengan judul Skripsi
KORELASI EFEKTIFITAS PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI
DALAM SISTEM ADMINISTRASI PERPAJAKAN MODERN DENGAN
KINERJA KANTOR PELAYANAN

PAJAK PRATAMA JAKARTA

GROGOL PETAMBURAN. Memperhatikan kemampuan keilmuan mahasiswa


tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 19 Juni 2008

Tim Penguji Ujian Skripsi

DR. Yahya Hamja, MM


Ketua

Yessi Fitri SE, Ak., M.Si


Sekretaris

Afif Sulfa, SE, Ak., M.Si


Penguji Ahli

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


DATA PRIBADI
Nama
Jenis Kelamin
Tempat/Tanggal Lahir
Agama
Alamat

Telepon/ Hp
E-mail

Yulita Arfiana
Perempuan
Jakarta, 11 Juli 1986
Islam
Jl. Nurul Huda No. 30 RT/RW
001/04 Kampung Utan
Kelurahan Cempaka Putih
Kecamatan Ciputat Tangerang
(021) 7425930/ (021) 99225957
iul_wonderwoman@yahoo.com

RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL


1.
2.
3.
4.
5.

TK Melati Ciputat
SD Negeri Kampung Utan 1 Ciputat
SMP Negeri 2 Ciputat
SMA Negeri 108 Jakarta
S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Jurusan Akuntansi

Lulus tahun 1992


Lulus tahun 1998
Lulus tahun 2001
Lulus tahun 2004
Lulus tahun 2008

PENGALAMAN ORGANISASI
1.

BEM FEIS

3.

KINEKLUB UIN Syarif


Hidayatullah Jakarta
UKM FORSA
BEM FEIS

4.
5.

6.

ANGGOTA DIVISI
KESENIAN DAN OLAH
RAGA (KESORGA)
Sekretaris

2004-2005

Bendahara Divisi Basket


Anggota Divisi Kesenian
dan Olah Raga (Kesorga)
Basket
FACTORY (Festival Akustik Ketua
Cinta Anak Negeri dan
Kampanye Anti
NARKOBA) FEIS

2005-2006
2006-2007

2005-2006

2006

Correlation Of The Effective Of Application Information Of Technology In


Modern Tax Administration System With KPP Pratama Jakarta
Grogol Petamburan Ability Performance
By:
Yulita Arfiana
ABSTRACT

The purpose of this research is to know how big correlation of the effective
of application information of technology in modern tax administration system with
KPP Pratama Jakarta Grogol Petamburan ability performance.
The variable used in this research effective of application information of
technology in modern tax administration system (X) as an independent variable
and KPP Pratama Jakarta Grogol Petamburan ability performance (Y) as a
dependent variable.
The research has been done by means of filling out questionnaires by tax
employees and to used to secondary data too. The responders are tax employees
in KPP Pratama Jakarta Grogol Petamburan, the samples included are 70
responders. For analyzing the data researcher usage SPSS version 12.
The result of this research shows that the correlation between the effective
of application information of technology in modern tax administration system with
KPP Pratama Jakarta Grogol Petamburan ability performance have a value
coefficients correlation 0,734 which means coefficients correlation between the
effective of application information of technology in modern tax administration
system with KPP Pratama Jakarta Grogol Petamburan ability performance is
significant positive.

Keywords: The Effective Of Application Information Of Technology In Modern


Tax Administration System and KPP Pratama Jakarta Grogol
Petamburan Ability Performance.

ii

Korelasi Efektifitas Penerapan Teknologi Informasi Dalam Sistem Administrasi


Perpajakan Modern Dengan Kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Jakarta Grogol Petamburan
Oleh:
Yulita Arfiana
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar korelasi


efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan
modern dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan. Variabel yang menjadi fokus penelitian ini adalah efektifitas
penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern (X)
sebagai variabel bebas dan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta
Grogol Petamburan (Y) sebagai variabel terikat.
Penelitian dilakukan melalui pengisian kuesioner oleh aparat pajak dan
data sekunder yang dapat mendukung penelitian. Responden penelitian adalah
para aparat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan, sampel
diambil sebanyak 70 responden. Untuk metode analisis dan uji hipotesis
menggunakan korelasi, lalu perhitungannya menggunakan program SPSS versi
12.
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa korelasi antara efektifitas
penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern
dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan
memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0,734 yang berarti koefisien korelasi
antara efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi
perpajakan modern dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta
Grogol Petamburan adalah kuat.

Kata kunci: Efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi


perpajakan modern dan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Jakarta Grogol Petamburan.

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan


rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat serta salam senatiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta
keluarga dan para sahabatnya yang selalu dijadikan suri tauladan bagi umat Islam
di muka bumi ini yang mengubah keadaan dunia menjadi damai dan tentram.
Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat-syarat
meraih gelar Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Kedua orang tua tercinta, hartaku yang paling berharga atas kesejukan cinta
dan kasih sayang yang selalu di berikan di setiap hembusan nafasnya, serta
limpahan doa yang slalu dipanjatkan di setiap untaian kalimatnya. Senyum
serta semangat dari papa dan mama yang memotivasi penulis untuk selalu
mejadi anak yang lebih baik. Terima kasih ya Ma., Pa.

2.

Kakakku Maya Evasari, Syaiful Anwar (alm) dan Jamilah yang sekaligus
menjadi guru, sahabat serta pelindung bagiku. Kasih sayang, semangat, serta
tawa canda kalian yang membuat penulis menjadi adik bungsu paling
beruntung di dunia. I love You all. Teruntuk Abangku, yang selalu memberi
semangat dan memotivasi penulis hingga akhir hayatnya serta cita-cita
terakhir beliau agar penulis dapat menyelesaikan kuliah di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, terima kasih BangWe miss you so much

3.

Bapak DR. Yahya Hamja MM, selaku pembimbing I yang telah memberikan
perhatian dan waktunya dengan segala profesionalitas dan kesabaran, semoga
segala kebaikan yang Bapak berikan menjadi amal jariah.

4.

Ibu Yessi Fitri, SE, Ak, M.Si, selaku pembimbing II atas segala motivasi dan
waktu yang telah diberikan, semoga ilmu yang Ibu berikan menjadi ilmu
yang bermanfaat.

5.

Bapak Drs. Moh. Faisal Badroen, MBA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
dan Ilmu Sosial.
iv

6.

Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS, selaku Pudek bidang akademik.

7.

Bapak Drs. Abdul Hamid Cebba, Ak, MBA selaku ketua jurusan akuntansi.

8.

Bapak Amilin, SE, Ak, M.Si, selaku sekretaris jurusan akuntansi.

9.

Seluruh dosen yang telah memberikan ilmunya, semoga Allah SWT


membalas kebaikan Bapak dan Ibu.

10. Staf Akademik FEIS atas pelayanan yang diberikan, sukses untuk kalian.
11. Tempat penelitian yaitu KPP Pratama Jakarta Grogol Petamburan dan KPP
Pratama Jakarta Cempaka Putih yang telah memberikan izin penelitian
terutama kepada Bu Kewa, Mba Lila, Pak Zaini, Pak Dedi, Pak Joko, Bu
Tuti, Mas Utsin, Bu Rini serta para aparat pajak yang menyediakan waktunya
dalam mengisi kuesioner.
12. Keponakanku tersayang (my little angels) Firyal Naifa Mayendra dan Khansa
Syahirah yang selalu membuat hari-hari penulis menjadi lebih ceria, hope all
can be a better person in the future. Serta kakak iparku Bang Hend dan Da
Andi terima kasih untuk semangat, doa, serta perhatian yang diberikan.
13. Spesial untuk yang terindah Satrioku, yang selalu setia mendoakan,
mendampingi dan memberi semangat kepada penulis. Kiranya Tuhan
memberikan rencana yang indah untuk kita.
14. Sahabat-sahabatku tersayang, serta rekan sejawat Fakultas Ekonomi dan Ilmu
Sosial yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Tetap semangat untuk
kalian.
Tak ada gading yang tak retak. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa
skripsi ini masih belum mendekati kesempurnaan. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya skripsi ini.

Jakarta, Juni 2008

Yulita Arfiana

DAFTAR ISI

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

ABSTRACT..

ii

ABSTRAK....

iii

KATA PENGANTAR.....

iv

DAFTAR ISI....

vi

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR GAMBAR .

xii

DAFTAR LAMPIRAN

xiii

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian...

B. Perumusan Masalah

C. Tujuan dan Manfaat

TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistem Administrasi Perpajakan Modern

10

1. Pengertian Administrasi.

10

2. Administrasi Perpajakan

11

3. Reformasi Administrasi Pajak

13

B. Teknologi Informasi Dalam Sistem Administrasi Perpajakan


Modern

16

C. Penerapan Sistem Administrasi Perpajakan Modern..

21

D. Program Penerapan Teknologi Informasi Dalam Sistem


Administrasi Perpajakan Modern....

27

1. Struktur Organisasi.....

28

2. Modernisasi Prosedur Organisasi...

31

3. Sistem Monitoring Pelaporan dan Pembayaran Pajak (ePayment)...


4. Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak (e-Registration)
vi

34
35

5. Pelaporan Surat Pemberitahuan (e-SPT) .......

35

6. Pengiriman Atau Panyampaian Surat Pemberitahuan (e-

BAB III

BAB IV

Filing) ...

36

7. Modernisasi Budaya Organisasi.....

36

E. Kinerja.

38

1. Pengertian Kinerja..

38

2. Standar Kinerja...

39

3. Aspek-Aspek Kinerja.....

40

F. Efektifitas Organisasi Kantor Pelayanan Pajak...

43

G. Kerangka Pemikiran....

46

METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian...

47

B. Metode Pemilihan Sampel.

47

C. Metode Pengumpulan Data.

48

1. Data Primer

48

2. Data Sekunder

49

D. Metode Analisis dan Pengolahan Data...

50

1. Metode Analisis..

50

2. Uji Kualitas Data....

51

3. Uji Hipotesis...

53

E. Variabel dan Pengukurannya..

54

1. Variabel Independen (X)

54

2. Variabel Dependen (Y)..

54

PENEMUAN DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Umum Objek Penelitian

60

1. Sejarah Berdirinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama


Jakarta Grogol Petamburan...

60

2. Fungsi Kantor Pelayanan Pajak Modern....

61

3. Wilayah Kerja....

62

vii

B. Bagan Organisasi dan Uraian Tugas...

63

C. Struktur Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta

BAB V

Grogol Petamburan.

66

D. Hasil Uji Instrumen Penelitian

67

1. Hasil Try Out......

67

2. Pasca Try Out.

72

E. Hasil Pembahasan...

75

1. Deskripsi Data

75

2. Analisis dan Pembahasan...

78

3. Hasil Korelasi Pearson...

119

4. Hasil Uji Hipotesis Korelasi Pearson.

120

PENUTUP
A. Kesimpulan.....

121

B. Implikasi.

121

C. Saran...

123

DAFTAR PUSTAKA... 125

viii

DAFTAR
LAMPIRAN

Lampiran 1

Kuesioner............................................................................................. 128

Lampiran 2

Skor Jawaban Responden Try Out....................................................... 133

Lampiran 3

Skor Jawaban Responden Pasca Try Out ............................................ 135

Lampiran 4

Uji Validitas dan Reliabilitas Data Try Out ........................................ 139

Lampiran 5

Uji Validitas dan Reliabilitas Data Pasca Try Out .............................. 143

Lampiran 6

Uji Korelasi Pearson ............................................................................ 147

Lampiran 7

Surat Keterangan Riset ........................................................................ 148

Lampiran 8

Surat Pernyataan Wawancara .............................................................. 151

Lampiran 9

Nilai r tabel .......................................................................................... 155

x
i
i

BAB
I
PENDAHULUA
N

A. Latar Belakang Penelitian


Sejak awal tahun 1980-an, pajak merupakan primadona penerimaan
negara dan mempunyai peranan yang dominan dalam pos penerimaan
negara. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) terdiri dari
penerimaan minyak dan gas bumi, penerimaan pajak dan penerimaan
bukan pajak, sedangkan penerimaan negara dari minyak dan gas bumi
tidak dapat diharapkan karena pada awal 1980-an harga minyak bumi di
pasaran dunia sulit diprediksi dan cenderung menurun, pemakaian dalam
negeri sudah tinggi dan minyak bumi merupakan sumber daya alam yang
tidak dapat diperbaharui (non renewal resources).
Setiap

pemerintah

selalu memberlakukan

dilihat
pajak

dari

zaman

kepada

warga

ke

zaman

negaranya

umumnya

untuk

dana

pelaksanaan kegiatan pemerintahan. Pemerintah dalam hal ini Direktorat


Jenderal Pajak mendesain
menerapkan

suatu

reformasi perpajakan

sistem
dalam

meningkatkan penerimaan pajak, serta

perpajakan

baru

pemungutan

meningkatkan

dengan

pajak

pelayanan

guna
dan

kepatuhan Wajib Pajak. Tugas mulia administrasi perpajakan, diemban


oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagai salah satu instansi pemerintah yang
secara struktural berada di bawah Departemen Keuangan. Visi menjadi
model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan

dibanggakan masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak menetapkan salah satu


misinya, yaitu misi fiskal, adalah untuk menghimpun penerimaan dalam
negeri dari sektor pajak yang mampu menunjang kemandirian pembiayaan
pemerintah berdasarkan undang-undang perpajakan dengan tingkat efektifitas
dan efisiensi yang tinggi.
Direktorat Jenderal Pajak mengumpulkan penerimaan negara dari sektor
pajak dengan membawahi Kantor Pelayanan Pajak yang melaksanakan tugas
di lapangan dan berhubungan langsung dengan Wajib Pajak. Organisasi
Kantor Pelayanan Pajak dahulu menggunakan pasal-pasal dalam undangundang sebagai dasar pembentukan seksi. Seiring dengan arus globalisasi yang
menghendaki pelayanan secara cepat dan tepat kepada pelanggan (Wajib
Pajak) Direktorat Jenderal Pajak mulai melakukan perubahan struktur
organisasi Kantor Pelayanan Pajak berdasarkan fungsi agar setiap seksi dapat
melayani secara optimal kepada Wajib Pajak.
Struktur organisasi Kantor Pelayanan Pajak yang lama terdiri dari 8
(delapan) seksi, yaitu subbagian umum, seksi tata usaha perpajakan, seksi
pengolahan data dan informasi, seksi penerimaan dan keberatan, seksi
penagihan, seksi pajak penghasilan orang pribadi dan seksi pemotongan dan
pemungutan, seksi pajak penghasilan badan dan seksi pajak pertambahan
nilai. Pada struktur tersebut administrasi pelayanan tersebar di seluruh seksi
menyebabkan pelayanan dan pengawasan kepada Wajib Pajak kurang efektif
dan efisien. Untuk satu urusan di bidang perpajakan dengan urusan lain akan
dilayani oleh seksi yang berbeda.

Berdasarkan permasalahan di atas, Direktorat Jenderal Pajak telah


melakukan perubahan administrasi dan organisasi dengan tujuan agar dapat
memberikan pelayanan prima kepada Wajib Pajak sekaligus mengawasi hak
dan kewajiban pajak secara komperehensif. Perubahan administrasi dan
organisasi dikenal dengan sistem administrasi perpajakan modern yang
memiliki karakteristik antara lain: struktur organisasi dirancang berdasarkan
permasalahan fungsi yang jelas antara Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan
Pajak bertanggung jawab melaksanakan fungsi pelayanan, pengawasan,
penagihan, dan pemeriksaan sedangkan Kantor Wilayah bertanggung jawab
melaksanakan fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan operasional Kantor
Pelayanan Pajak, keberatan dan banding serta penyidikan.
Perubahan baik dari sisi organisasi maupun teknologi informasi yang
dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada dasarnya sudah mulai sejak
tahun 1983 sebagai titik balik perubahan sistem official assesment ke sistem
self assesment. Perubahan tersebut sebagai wujud reformasi kebijakan
perpajakan yang pada saat ini sampai pada reformasi administrasi perpajakan
berupa modernisasi administrasi perpajakan jangka menengah dengan tujuan
tercapainya tingkat kepatuhan sukarela yang tinggi dan produktifitas pegawai
perpajakan yang tinggi. (Subiyantoro dan Riphat, 2004:218).
Salah satu sistem pemungutan pajak adalah official assesment yaitu sistem
pemungutan pajak yang memberi wewenang kapada aparat pajak untuk
menentukan besarnya pajak yang harus dibayar atau pajak yang terhutang oleh
Wajib Pajak, sedangkan self assesment yaitu sistem pemungutan pajak yang

memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya


pajak terhutang. (Mardiasmo, 2003:12).
Pada saat yang sama, dunia terus berubah seiring dengan bergulirnya arus
globalisasi yang membawa perubahan di segala sisi kehidupan yang menuntut
peran serta semua pihak baik masyarakat sebagai individu maupun pemerintah
Indonesia. Reformasi sistem administrasi perpajakan dilakukan karena
banyaknya kelemahan pada sistem administrasi yang berlaku. Upaya ini
dilakukan guna mengantisipasi perkembangan teknologi informasi yang
demikian pesat di dunia bisnis maupun sektor publik, sebagai layanan
administrasi secara manual menjadi ketinggalan, disamping itu juga akan
meningkatkan mutu layanan kepada masyarakat Wajib Pajak yang diharapkan
akan mendorong akselerasi pertambahan jumlah Wajib Pajak dan pada
akhirnya efek yang terjadi secara tidak langsung adalah meningkatnya
penerimaan pajak bagi negara serta terciptanya prinsip Good Governance.
Langkah terobosan yang telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak
adalah reformasi teknologi informasi dalam perpajakan yang diharapkan
terciptanya peningkatan kepatuhan sukarela dan menumbuhkan kepercayaan
Wajib

Pajak

terhadap

administrasi

perpajakan

serta

meningkatkan

produktifitas aparat pajak. Teknologi informasi yang canggih merupakan


faktor kunci keberhasilan pelaksanaan kebijakan perpajakan diharapkan
mampu meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat Wajib Pajak dan
menjamin peningkatan penerimaan pajak negara.

Program dan kegiatan reformasi administrasi perpajakan diwujudkan


dalam penerapan sistem administrasi perpajakan modern yang memiliki ciri
khusus antara lain struktur organisasi berdasarkan fungsi, perbaikan pelayanan
bagi setiap Wajib Pajak melalui pembentukan Account Representative dan
complaint center untuk menampung keberatan Wajib Pajak. Sistem
administrasi perpajakan modern juga merangkul kemajuan teknologi terbaru
di antaranya melalui pengembangan Sistem Informasi Perpajakan (SIP)
dengan pendekatan fungsi menjadi Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu
(SAPT) yang dikendalikan oleh case management system dalam workflow
system dengan berbagai modul otomasi kantor serta berbagai pelayanan
dengan basis e-system seperti e-SPT, e-filing, e-payment, Taxpayers Account,
e-registration, dan e-Counceling dan sistem modern yang lainnya yang
diharapkan meningkatkan mekanisme kontrol yang lebih efektif ditunjang
dengan penerapan kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang mengatur
perilaku pegawai dalam melaksanakan tugas. (Sofyan, 2005:4).
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hernita (2006:14) dengan
judul Analisis Efektifitas Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Sistem
Administrasi Perpajakan Modern Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.
perumusan masalah apakah penerapan e-payment memiliki pengaruh terhadap
kepatuhan Wajib Pajak, apakah penerapan e-SPT memiliki pengaruh terhadap
kepatuhan Wajib Pajak, apakah penerapan e-filing memiliki pengaruh
terhadap kepatuhan Wajib Pajak, apakah penerapan e-registration memiliki
pengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak, dan apakah terdapat pengaruh e-

payment, e-SPT, e-filing, dan e-registration secara bersama-sama terhadap


kepatuhan Wajib Pajak.
Sofyan (2006:8) dengan judul Pengaruh Penerapan Sistem Administrasi
Perpajakan Modern Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Pada Kantor Pelayanan
Pajak di Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak
Besar. Perumusan masalah sejauh mana penerapan sistem administrasi
perpajakan modern pada Kantor Pelayanan Pajak di Lingkungan Kanwil
Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar dan bagaimana pengaruh
penerapan sistem administrasi perpajakan modern yang meliputi modernisasi
struktur organisasi, modernisasi prosedur organisasi, modernisasi strategi
organisasi, dan modernisasi budaya organisasi Kantor Pelayanan Pajak di
Lingkungan Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar terhadap
kepatuhan Wajib Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kanwil
Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar.
Witarto (2006:12) dengan judul Memahami Sistem Administrasi
Perpajakan Modern (studi kasus pada Kantor Pelayanan Pajak Penanaman
Modal Asing Tiga). Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah
penerapan sistem administrasi perpajakan modern telah mendorong kepatuhan
Wajib Pajak, apakah penerapan sistem administrasi perpajakan modern telah
membantu pelaksanaan tugas aparat pajak dan konsultan pajak, bagaimana
kinerja sistem administrasi perpajakan modern dan apa kendalanya, dan upaya
apakah yang perlu dilakukan dalam memperbaiki sistem administrasi

perpajakan modern guna meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dan


penerimaan pajak.
Penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya menyimpulkan
sistem

administrasi

perpajakan

modern

yang

dilakukan

dengan

mengimplementasikan teknologi informasi mutakhir diharapkan dapat


mendukung kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan serta dapat mengoptimalkan penerimaan pajak dan meningkatkan
pelayanan serta pengawasan terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Sistem
informasi modern (mutakhir) mempunyai korelasi yang positif terhadap
kinerja Kantor Pelayanan Pajak, namun seberapa besar korelasi dimaksud
belum diketahui secara pasti, untuk itu penulis mencoba menelitinya dalam
bentuk skripsi yang berjudul, Korelasi Efektifitas Penerapan Teknologi
Informasi Dalam Sistem Administrasi Perpajakan Modern Dengan
Kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka perumusan
masalah yang dapat penulis rumuskan yaitu untuk membuktikan seberapa
besar korelasi efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem
administrasi perpajakan modern dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Jakarta Grogol Petamburan?

C. Tujuan dan Manfaat


1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar korelasi
penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan
modern dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan.
2. Manfaat penelitian
Penulis mengharapkan

penelitian ini dapat memberikan manfaat

diantaranya adalah:
a. Bagi Penulis
1) Untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana ekonomi pada
program studi akuntansi.
2) Sebagai langkah penerapan ilmu pengetahuan yang diperoleh
dibangku kuliah yang berupa teori-teori dengan kenyataan yang
terjadi dilapangan, sehingga teori yang diperoleh dapat digunakan
pada kondisi yang sesungguhnya.
3) Untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis
berkaitan dengan korelasi efektifitas penerapan teknologi informasi
dalam sistem administrasi perpajakan modern dengan kinerja
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan.
b. Bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan, yaitu
dapat

meningkatkan

memaksimalkan

kinerja

aparat

penerapan teknologi

pajak

khususnya

dalam

informasi dalam

sistem

administrasi perpajakan modern dan memberikan kontribusi bagi


organisasi

Kantor

Pelayanan

Pajak

Pratama

Jakarta

Grogol

Petamburan agar dapat melaksanakan perbaikan administrasi dengan


lebih baik untuk meningkatkan pengawasan terhadap Wajib Pajak.
c. Bagi Pembaca
1) Memberikan gambaran mengenai korelasi efektifitas penerapan
teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern
dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan.
2) Sebagai informasi dan referensi bagi penelitian selanjutnya
terutama yang berkaitan dengan Sistem Administrasi Perpajakan
Modern.
d. Bagi Lembaga Pendidikan
Dalam hal ini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
khususnya Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, penulis dapat
memberikan sumbangan pikiran tentang korelasi efektifitas penerapan
teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern
dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Administrasi Perpajakan Modern


1. Pengertian Administrasi
Administrasi menurut pendapat Dunsire (1989) yang telah dikutip oleh
Donovan dan Jackson (1991) dikemukakan kembali oleh Keban (2004:2)
yaitu:
Administrasi diartikan sebagai arahan, pemerintahan, kegiatan,
implementasi, mengarahkan, penciptaan prinsip-prinsip implementasi
kebijakan, kegiatan melakukan analisis, menyeimbangkan dan
mempresentasikan keputusan, pertimbangan-pertimbangan kebijakan,
sebagai pekerjaan individual dan kelompok dalam menghasilkan
barang dan jasa publik, dan sebagai arena bidang kerja akademik dan
teoritis.
Mengutip pendapat Trecker (1990):
Administrasi merupakan suatu proses yang dinamis dan
berkelanjutan, yang digerakkan dalam rangka mencapai tujuan dengan
cara memanfaatkan orang dan material melalui koordinasi dan
kerjasama.
Definisi-definisi di atas

menunjukkan beberapa batasan istilah

administrasi yang secara langsung menepis anggapan bahwa administrasi


selalu diartikan sebagai kegiatan ketatausahaan yang berkaitan dengan
pekerjaan

mengatur

berkas,

membuat laporan

administratif,

dan

sebagainya. Mengutip Chandler and Plano (1988), dalam The Public


Aministration Dictionary definisi administrasi adalah proses dimana
keputusan dan kebijakan diimplementasikan. (Keban, 2004:2).

10

10

2. Administrasi Perpajakan
Menurut Ensiklopedi perpajakan yang ditulis oleh Harahap (2004:94),
administrasi perpajakan (Tax Administration) ialah cara-cara atau
prosedur pengenaan dan pemungutan pajak. Mengenai peran administrasi
perpajakan, Jantscher (1997) seperti dikutip Gunadi, menekankan peran
penting administrasi perpajakan dengan menuju pada kondisi terkini, dan
pengalaman di berbagai negara berkembang, kebijakan perpajakan (tax
policy) yang dianggap baik (adil dan efisien) dapat saja kurang sukses
menghasilkan penerimaan
administrasi

atau

mencapai

sasaran

perpajakan tidak mampu

lainnya

karena

melaksanakannya.

(http://www.infopajak.com/berita/170504bil.htm).
Administrasi perpajakan memerlukan sistem informasi yang efektif
untuk menghindari ketimpangan, dan sistem administrasi perpajakan
berdasarkan undang-undang perpajakan Indonesia menurut Harahap
(2004:96) meliputi:
a. Identifikasi dan registrasi (pendaftaran) Wajib Pajak;
b. Perhitungan pajak yang terhutang;
c. Pemungutan pajak dari Wajib Pajak;
d. Penegakan hukum;
e. Pencatatan dan pemeriksaan;
f. Pelaporan yang dilakukan dengan Surat Pemberitahuan (SPT).
Menurut Silvani (1992) seperti dikutip Gunadi, administrasi pajak
dikatakan efektif bila mampu mengatasi masalah-masalah:

11

a. Wajib Pajak yang tidak terdaftar (unregistered taxpayers)


Administrasi pajak mampu mendeteksi dan mengambil tindakan
terhadap anggota masyarakat yang belum terdaftar sebagai Wajib Pajak
walau seharusnya yang bersangkutan sudah memenuhi ketentuan untuk
menjadi Wajib Pajak. Penambahan jumlah Wajib Pajak secara
signifikan akan meningkatkan jumlah penerimaan pajak, dalam hal ini
penerapan sanksi yang tegas perlu diberikan terhadap mereka yang
belum mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak.
b. Wajib Pajak yang tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT)
Menyikapi

Wajib

Pajak

yang

sudah

terdaftar

tetapi

tidak

menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT), atau disebut juga stop


filing taxpayers, misalnya dengan melakukan pemeriksaan pajak.
c. Penyelundup pajak (tax evaders)
Penyelundup pajak (tax evaders) yaitu Wajib Pajak yang
melaporkan pajak lebih kecil dari yang seharusnya menurut ketentuan
perundang-undangan. Keberhasilan sistem self assessment yang
memberi kepercayaan

sepenuhnya

kepada Wajib Pajak

untuk

menghitung, memperhitungkan, menyetor, dan melaporkan sendiri


pajak yang terutang, sangat tergantung dari kejujuran Wajib Pajak.
d. Penunggak pajak (delinquent tax pavers)
Dari tahun ke tahun tunggakan pajak jumlahnya semakin besar.
Upaya pencairan tunggakan pajak dilakukan melalui pelaksanaan
tindakan penagihan secara intensif.

12

Apabila kebijakan perpajakan yang ada mampu mengatasi masalahmasalah di atas secara efektif, maka administrasi perpajakannya sudah
dapat dikatakan baik sehingga tax ratio akan meningkat. Dasar bagi
terwujudnya suatu administrasi pajak yang baik adalah diterapkannya
prinsip-prinsip manajemen modern yaitu Planning, Organizing, Actuating
dan Controlling, terdapatnya kebijakan perpajakan yang jelas dan
sederhana sehingga memudahkan Wajib Pajak untuk melaksanakan
kewajibannya, tersedianya pegawai pajak yang berkualitas dan jujur serta
pelaksanaan

penegakan

hukum

yang

tegas

dan

konsisten.

(http://www.infopajak.com/berita/170504bil.htm).

3. Refomasi Administrasi Pajak


Reformasi administrasi bertujuan untuk memperbaiki administrasi dan
mengantisipasi perbaikan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Motivasi
dilakukannya reformasi perpajakan adalah untuk meningkatkan penerimaan
negara yang digunakan untuk membiayai pengeluaran negara. Definisi
reformasi administrasi sangat luas karena adanya berbagai macam aktifitas
terlibat di dalamnya.
Menurut Nasucha (2004:37) reformasi administrasi perpajakan adalah
penyempurnaan atau perbaikan kinerja administrasi, baik secara individu,
kelompok, maupun kelembagaan agar lebih efisien, ekonomis, dan cepat.
Bird dan Jantscer (1992) seperti dikutip Nasucha (2004:63) mengemukakan
bahwa agar reformasi administrasi perpajakan dapat berhasil, dibutuhkan:

13

(1) struktur pajak disederhanakan untuk kemudahan, kepatuhan, dan


administrasi, (2) strategi reformasi yang cocok harus dikembangkan, (3)
komitmen politik yang kuat terhadap peningkatan administrasi perpajakan.
Gunadi (2002:2) mengemukakan bahwa tujuan reformasi pajak adalah:
(1) peningkatan dan responsivitas dan stabilitas penerimaan; (2) lebih
meningkatkan keadilan; (3) mengurangi inefisiensi dan distorsi ekonomi;
(4) penyederhanaan administrasi dan struktur pajak; (5) mengurangi biaya
kepatuhan dan peningkatan kesadaran masyarakat; dan (6) mengurangi
dorongan penghindaran dan penyelundupan pajak.
Tanzi dan Pallechio (1995) dalam Ott (2001) seperti dikutip Nasucha
(2004:66) berkenaan dengan elemen dasar reformasi administrasi
perpajakan dinyatakan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Komitmen politik yang berkelanjutan.
b. Staf yang mampu berkonsentrasi terhadap pekerjaan dalam jangka
panjang.
c. Strategi yang tepat dan didefinisikan dengan baik karena tidak ada
strategi yang cocok untuk semua negara.
d. Pendidikan dan pelatihan pegawai.
e. Tersedia dana dan sumber daya lain yang cukup.
Dua tugas utama reformasi administrasi perpajakan menurut Nasucha
(2004:67) dengan mengutip Ott (2001) adalah untuk mencapai efektifitas
yang tinggi, yaitu kemampuan untuk mencapai tingkat kepatuhan yang
tinggi dan efisiensi berupa kemampuan untuk membuat biaya administrasi

14

per unit penerimaan pajak sekecil-kecilnya. Efektifitas dan efisiensi


kadang-kadang menciptakan kontradiksi sehingga diperlukan koordinasi,
diperlukan ukuran-ukuran khusus untuk meningkatkan efektifitas dan
efisiensi

administrasi

perpajakan.

Dalam

meningkatkan

efektifitas

digunakan ukuran:
a. Kepatuhan pajak sukarela.
b. Prinsip-prinsip self assessment.
c. Menyediakan informasi kepada Wajib Pajak.
d. Kecepatan dalam menemukan masalah-masalah yang berhubungan
dengan Surat Pemberitahuan (SPT) dan pembayaran.
e. Peningkatan dalam kontrol dan supervisi.
f. Sanksi yang tepat.
Peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dapat distimulasi
dengan:
a. Penyediaan unit-unit khusus untuk perusahaan besar.
b. Peningkatan perpajakan khusus untuk Wajib Pajak kecil.
c.

Penggunaan jasa perbankan untuk pemungutan pajak, dan lain-lain.


Dengan mendasarkan pada teori Caiden (1991), menurut Nasucha

(2004:69), empat dimensi reformasi administrasi perpajakan, yaitu:


a. Struktur organisasi
Mengutip Adiwisatra (1998), dijelaskan Nasucha (2004:69) bahwa
struktur organisasi adalah unsur yang berkaitan dengan pola-pola peran
yang sudah ditentukan dan hubungan antar peran, alokasi kegiatan

15

kepada subunit-subunit terpisah, pendistribusian wewenang di antara


posisi administratif, dan jaringan komunikasi formal.
b. Prosedur organisasi
Prosedur

organisasi

berkaitan

dengan

proses

komunikasi,

pengambilan keputusan, pemilihan prestasi, sosialisasi dan karir.


Pembahasan dan pemahaman prosedur organisasi berpijak pada
aktivitas organisasi yang dilakukan secara teratur.
c. Strategi organisasi
Strategi organisasi dipandang sebagai siasat, sikap pandangan dan
tindakan yang bertujuan memanfaatkan segala keadaan, faktor,
peluang, dan sumber daya yang ada sedemikian rupa sehingga tujuan
organisasi dapat dicapai dengan berhasil dan selamat. Strategi
berkembang dari waktu ke waktu sebagai pola arus keputusan yang
bermakna.
d. Budaya organisasi
Budaya organisasi didefinisikan sebagai sistem penyebaran
kepercayaan dan nilai-nilai yang berkembang dalam organisasi dan
mengarahkan

perilaku

anggota-anggotanya.

Budaya

organisasi

mewakili persepsi umum yang dimiliki oleh anggota organisasi.

B Teknologi Informasi Dalam Sistem Administrasi Perpajakan Modern


Kurzweil (1999:20) mengemukakan teknologi berasal dari bahasa Yunani,
tekhe, yang berarti: alat atau seni dan kata logia, yang berarti studi atau

16

ilmu tentang sesuatu. Teknologi kemudian dimaknai sebagai ilmu tentang


peralatan, di mana kata peralatan tersebut mengacu pada pembentukan dan
pemanfaatan

sumber

daya

untuk

kepentingan

praktis.

Dalam

perkembangannya, teknologi juga kerap dimaknai sebagai penciptaan alat


untuk meningkatkan kendali atas lingkungan. Anthony dan Dearden (1980)
dalam Hernita (2006:18) mendefinisikan informasi sebagai data yang diolah
menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.
Sumber dari informasi adalah data. Data sendiri merupakan bentuk jamak dari
bentuk tunggal datum atau data-item. Data adalah kenyataan yang
menggambarkan suatu kejadian dan kesatuan nyata.
Anthony dan Dearden (1980) dalam Hernita (2006:18) mengemukakan
Saat ini dan di masa mendatang, kegiatan administrasi pemerintahan tanpa
dapat dihindarkan, akan makin banyak dilakukan dengan memanfaatkan jasa
jaringan komputer dan telekomunikasi elektrik. Jasa komputer dan
telekomunikasi elektronik ini nantinya akan makin memperoleh posisi yang
sentral dalam kegiatan umat manusia sehari-hari.
Menurut Wahyudi (1992) dalam Hernita (2006:18) teknologi komputer
memiliki dua aspek sebagai berikut:
1. Aspek perangkat keras (hardware), komputer merupakan suatu perangkat
elektronik yang bekerja secara otomatis, terintegrasi dan terkoordinasi
sehingga dengan prosedur dapat mengingat dan menampilkan hasil proses
tersebut.

17

2. Aspek perangkat lunak (software), yang meliputi dasar informasi untuk


menggerakkan perangkat keras tersebut. Tanpa software, sebuah komputer
tidak akan berguna. Komputer membutuhkan software untuk beroperasi
dan membutuhkan sistem operasi atau program-program untuk membuat
komponen-komponen bekerja sama dengan baik.
Purnomo, dalam Subiyantoro dan Riphat (2004:219) mengemukakan
bahwa sejak tahun 2001 Direktorat Jenderal Pajak telah memulai beberapa
langkah reformasi administrasi perpajakan yang menjadi landasan bagi
terciptanya administrasi perpajakan yang modern, efisien, dan dipercaya
masyarakat. Reformasi moral dan etika untuk seluruh pegawai, kampanye
sadar dan peduli pajak, pembangunan Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan
Pajak percontohan, penerapan teknologi informasi terkini dalam pelayanan
perpajakan (online payment, e-SPT, e-registration, dan Sistem Informasi
Direktorat Jenderal Pajak (SI DJP)). Seiring dengan itu, Direktorat Jenderal
Pajak juga melakukan kampanye sadar dan peduli pajak, pengembangan bank
data serta langkah-langkah lainnya yang sedang dan terus dikembangkan
merupakan beberapa langkah reformasi yang telah dimulai oleh Direktorat
Jenderal Pajak.
Sejalan dengan semakin berkembangnya pemanfaatan sistem informasi
pada organisasi pemerintahan, dengan penerapannya untuk meningkatkan
efektifitas dan efisiensinya, maka dari sinilah dikenal istilah e-Government.
Tuban et al (2002:451) memberikan pengertian e-Government dengan
menyatakan sebagi berikut:

18

e-Government encompasses applications of various technologies to


provide citizens and organizations with more convenient access to
government information and services; and to provide delivery of public
services to citizens, business partners and suppliers, and those working in
the public sector.
e-Government meliputi aplikasi-aplikasi dari berbagai macam
teknologi untuk memberikan warga negara dan organisasi-organisasi
mendapatkan informasi dan pelayanan pemerintah yang lebih baik dan
juga untuk memberikan penerimaan pelayanan publik untuk warga negara,
partner-partner bisnis, dan juga yang bekerja dalam sektor publik itu.
e-Government menjadi sangat populer bersamaan dengan berkembangnya
teknologi informasi dan komunikasi (information and communication
technologyICT). E-Government bertujuan meningkatkan kualitas kinerja
pemerintahan terutama dalam lingkup pelayanan masyarakat sehingga dapat
bermanfaat bagi segenap warga negaranya.
McFarlan dan McKenny (1983) dalam Hernita (2006:22) mengemukakan
penerapan e-Government menjanjikan setidaknya tiga perubahan dasar:
1. Proses otomatisasi: mengubah peran manusia dalam menjalankan proses
yang

meliputi

menerima,

menyimpan,

processing,

output,

dan

mengirimkan informasi.
2. Proses informasi: mendukung peran manusia dalam menjalankan proses
informasi, misalnya mendukung alur proses pengambilan keputusan,
komunikasi dan implementasi.
3. Proses transformasi: membuat ICT baru untuk menjalankan proses
informasi. Contohnya adalah membuat metode baru dalam pelayanan
publik.

19

Manfaat langsung yang diperoleh oleh organisasi pemerintah dalam


penggunaan ICT, yaitu:
1. Internal: memperbaiki citra publik dan atau menyediakan manfaat dalam
memotivasi staf pemerintahan dan kontrol publik yang lebih baik.
2. Eksternal: ICT dapat dinikmati oleh populasi yang

luas karena

penyampaiannya yang murah serta pelayanan yang baik.


Teknologi informasidalam
mempunyai

sistem

ciri-ciri

administrasi
berikut

perpajakan

modern

(http//:www.taxone-

info.com/modernisasi_pajak.ppt):
1. Seluruh Wajib Pajak diwajibkan membayar melalui kantor penerima
pembayaran online.
2. Seluruh

Wajib

Pajak

diwajibkan

untuk

melaporkan

kewajiban

perpajakannya dengan menggunakan media komputer (e-SPT) atau dengan


menggunakan jaringan komunikasi data (e-filing).
Training dan aplikasi e-SPT akan diberikan oleh Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Jakarta. (http//:www.taxone-info.com/modernisasi_pajak.ppt)
1. Seluruh kegiatan administrasi dilaksanakan melalui Sistem Administrasi
Perpajakan Terpadu (SAPT).
2. Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) menerapkan konsep
monitoring secara terpadu mulai dari pelayanan, pengawasan, pembayaran,
dan pelaporan yang dikontrol oleh case management system (workflow
system).

20

3. Dengan Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT), masing-masing


Wajib Pajak dapat diawasi secara berkesinambungan dalam rekening
khusus yang disebut dengan Taxpayers Account.
Adapun keunggulan teknologi informasi dalam sistem administrsi
perpajakan

modern

adalah

sebagai

berikut

(http//:www.taxone-

info.com/modernisasi_pajak.ppt):
1. Penerimaan pembayaran pajak dapat dimonitor lebih cepat dan akurat.
2. E-SPT akan mengurangi cost of compliance Wajib Pajak, menghilangkan
kegiatan perekaman SPT, dan mempercepat ketersediaan data Wajib Pajak
pada administrasi perpajakan.
3. Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) akan mempercepat
pengolahan data, memelihara akurasi data administrasi perpajakan, serta
meningkatkan efektifitas pengawasan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.
4. Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) akan menciptakan
tambahan alat pengawasan internal yang lebih efektif dan meningkatkan
produktivitas serta ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan.

C. Penerapan Sistem Administrasi Perpajakan Modern


Struktur organisasi berdasarkan fungsi, perbaikan pelayanan bagi setiap
Wajib Pajak melalui pembentukan Account Reperesentative dan complaint
center untuk menampung keberatan Wajib Pajak merupakan ciri khusus yang
dimiliki oleh program dan kegiatan reformasi perpajakan yang diwujudkan
dalam penerapan sistem administrasi perpajakan modern.

21

Purnomo, dalam Subiyantoro dan Riphat (2004:219) menambahkan bahwa


reformasi administrasi yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pajak
diarahkan akan mendukung pencapaian visi Direktorat Jenderal Pajak yang
menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan
manajemen perpajakan kelas dunia, yang dipercaya dan dibanggakan
masyarakat, serta misi fiskal Direktorat Jenderal Pajak yaitu menghimpun
penerimaan negara dari sektor pajak yang mampu menunjang kemandirian
pembiayaan efektifitas yang tinggi. Secara garis besar, ada tiga tujuan yang
secara spesifik hendak dicapai oleh reformasi administrasi perpajakan dalam
jangka menengah, yaitu:
1. Tercapainya kepatuhan perpajakan yang tinggi.
2. Tercapainya tingkat kepercayaan terhadap administrasi perpajakan.
3. Tercapainya produktivitas aparat perpajakan yang tinggi.
Ketiga tujuan ini dipilih menjadi tujuan reformasi administrasi perpajakan
berdasarkan pengkajian yang dilakukan atas kondisi dan keberadaan
Direktorat Jenderal Pajak saat ini serta prioritas yang hendak dicapai.
Program-program dan kegiatan yang dicanangkan akan dirancang untuk
mendukung ketiga tujuan diatas.
Program-program reformasi administrasi perpajakan jangka menengah
Direktorat Jenderal Pajak menurut Purnomo dalam Subiyantoro dan Riphat
(2004:230) adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kepatuhan perpajakan. a.
Meningkatkan kepatuhan sukarela.

22

1) Program kampanye sadar dan peduli pajak.


2) Program pengembangan pelayanan perpajakan.
b. Memelihara (Maintaining) tingkat kepatuhan Wajib Pajak patuh.
1) Program pengembangan pelayanan prima.
2) Program penyederhanaan pemenuhan kewajiban perpajakan.
c. Menangkal ketidakpatuhan perpajakan (Combatting Non-Compliance).
1) Program merevisi pengenaan sanksi.
2) Program menyikapi berbagai kelompok Wajib Pajak tidak patuh.
3) Program meningkatkan efektifitas pemeriksaan.
4) Program modernisasi aturan dan metode pemeriksaan serta
penagihan.
5) Program penyempurnaan ekstensifikasi.
6) Program pemanfaatan teknologi terkini dan pengembangan IT
masterplan.
7) Program pengembangan dan pemanfaatan bank data.
2. Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap administrasi perpajakan.
a. Meningkatkan citra Direktorat Jenderal Pajak.
1) Program merevisi UU KUP.
2) Program penerapan Good Corporate Governance.
3) Program perbaikan mekanisme keberatan dan banding.
4) Program penyempurnaan prosedur pemeriksaan.
b. Melanjutkan pengembangan administrasi Large Taxpayer Office
(LTO) atau Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Pajak Wajib Pajak Besar.

23

1) Program peningkatan pelayanan, pemeriksaan, dan penagihan pada


LTO.
2) Program peningkatan jumlah Wajib Pajak terdaftar pada LTO
selain BUMN/BUMD.
3) Program penerapan sistem administrasi LTO pada Kanwil
Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus.
4) Program penerapan sistem administrasi LTO pada Kanwil lainnya.
3. Meningkatkan produktivitas aparat perpajakan.
a. Program reorganisasi Direktorat Jenderal Pajak berdasarkan fungsi dan
kelompok Wajib Pajak.
b. Program peningkatan kemampuan pengawasan dan pembinaan oleh
Kantor Pusat/Kanwil Direktorat Jenderal Pajak.
c. Program penyusunan kebijakan baru untuk manajemen sumber daya
manusia.
d. Program peningkatan mutu sarana dan prasarana kerja.
e. Program penyusunan rencana kerja operasional.
Dijelaskan oleh Purnomo bahwa program dan kegiatan dalam kerangka
reformasi dan modernisasi perpajakan dilakukan secara komprehensif meliputi
aspek perangkat lunak, perangkat keras, dan sumber daya manusia. Reformasi
perangkat lunak adalah perbaikan struktur organisasi dan kelembagaan, serta
penyempurnaan dan penyederhanaan sistem operasi mulai dari pengenalan
dan penyebaran informasi

perpajakan,

pemeriksaan

dan

penagihan,

pembayaran, pelayanan hingga pengawasan agar lebih efektif dan efisien.

24

Keseluruhan operasi berbasis teknologi informasi dan ditunjang kerjasama


operasi dengan instansi lain. Revisi undang-undang perpajakan dan peraturan
terkait lainnya, juga penerapan praktek tata pemerintahan yang bersih dan
berwibawa (Good Governance) dilaksanakan dalam konteks penegakan
hukum dan keadilan yang memayungi semua lini dan tahapan operasional.
Reformasi perangkat keras diupayakan pengadaan sarana dan prasarana yang
memenuhi persyaratan mutu dan menunjang upaya modernisasi administrasi
perpajakan di seluruh Indonesia. Penyiapan sumber daya manusia yang
berkualitas dan profesional merupakan program reformasi aspek sumber daya
manusia, antara lain melalui pelaksanaan fit and proper test secara ketat,
penempatan pegawai sesuai kapasitas dan kapabilitasnya, reorganisasi,
kaderisasi, pelatihan, dan pogram pengembangan self capacity.
Dalam nota keuangan dan APBN tahun anggaran 2005 pada Bab III juga
disebutkan

langkah-langkah

reformasi

dan

modernisasi

administrasi

perpajakan yang dikutip oleh Sofyan (2005:30) antara lain mencakup:


1. Penyempurnaan peraturan pelaksanaan undang-undang perpajakan.
2. Perluasan Kantor Pelayanan Pajak khusus Wajib Pajak Besar, antara lain
dengan pembentukan organisasi berdasarkan fungsi, pengembangan sistem
administrasi perpajakan yang terintegrasi dengan pendekatan fungsi, dan
implementasi dari prinsip-prinsip tata pemerintahan yang bersih dan
berwibawa (Good Governance).

25

3. Pembangunan Kantor Pelayanan Pajak khusus Wajib Pajak menengah dan


Kantor Pelayanan Pajak khusus Wajib Pajak kecil di Kanwil Direktorat
Jenderal Pajak Jakarta I.
4. Pengembangan basis data, pembayaran pajak, dan penyampaian Surat
Pemberitahuan (SPT) secara online.
5. Perbaikan manajemen pemeriksaan pajak.
6. Peningkatan efektifitas penerapan kode etik di jajaran Direktorat Jenderal
Pajak dan Komisi Ombudsman Nasional. Dalam jangka menengah, upayaupaya tersebut diharapkan dapat ditingkatkan, tidak hanya kepatuhan
perpajakan (tax compliance), akan tetapi juga kepercayaan masyarakat
terhadap aparat pajak, dan produktivitas aparat pajak.
Sasaran penerapan sistem administrasi pajak modern menurut Pandiangan
(2004) adalah:
1. Maksimalisasi penerimaan pajak.
2. Kualitas pelayanan yang mendukung kepatuhan Wajib Pajak.
3. Memberikan jaminan kepada publik bahwa Direktorat Jenderal Pajak
mempunyai tingkat integritas dan keadilan yang tinggi.
4. Menjaga rasa keadilan

dan persamaan perlakuan dalam proses

pemungutan pajak.
5. Pegawai pajak dianggap sebagai karyawan yang bermotivasi tinggi,
kompeten, dan profesional.
6. Peningkatan produktivitas yang berkesinambungan.

26

7. Wajib Pajak mempunyai alat dan mekanisme untuk mengakses informasi


yang diperlukan.
8. Optimalisasi pencegahan penggelapan pajak.
Sadhani (http://www.pajak2000.com/news) mengemukakan Direktorat
Jenderal Pajak merencanakan mengimplementasikan program administrasi
perpajakan modern secara komprehensif yang mencakup semua lini operasi
organisasi secara nasional. Program ini dilakukan untuk mencapai empat
sasaran utama, yakni:
1. Optimalisasi penerimaan yang berkeadilan yaitu perluasan tax base,
minimalisasi tax gap dan stimulus fiskal.
2. Peningkatan kepatuhan sukarela yaitu melalui pemberian pelayanan prima
dan penegakan hukum yang konsisten.
3. Efisiensi administrasi, yaitu penerapan sistem dan administrasi yang
handal dan pemanfaatan teknologi tepat guna.
4. Terbentuknya citra yang baik dan kepercayaan masyarakat yang tinggi
yaitu kapasitas sumber daya manusia yang profesional, budaya organisasi
yang kondusif dan pelaksanaan Good Governance.

D. Program Penerapan Teknologi Infomasi Dalam Sistem Administrasi


Perpajakan Modern
Penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan
modern melalui program dan kegiatan dalam kerangka reformasi administrasi
perpajakan jangka menengah berikut ini diuraikan, yakni:

27

1. Struktur Organisasi
a. Pembentukan organisasi berdasarkan fungsi menurut Pakpahan
(2004:53).
Sebagai wujud pembenahan fungsi pelayanan, pengawasan dan
pemeriksaan, struktur organisasi yang berdasarkan Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 443/KMK.01/2001 disusun menurut jenis pajak, di
mana Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Tidak Langsung Lainnya (PPN/PTLL) dilayani di Kantor Pelayanan
Pajak, sedangkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dilayani Kantor Pelayanan
Pajak Bumi dan Bangunan (KPPBB), dengan diterapkannya sistem
administrasi perpajakan modern struktur organisasi dirancang dengan
paradigma berdasarkan fungsi dengan pemisahan fungsi yang jelas
antara Kanwil dan Kantor Pelayanan Pajak, di mana Kantor Pelayanan
Pajak

bertanggung

jawab

pengawasan, penagihan,

dan

melaksanakan
pemeriksaan,

fungsi

pelayanan,

sedangkan

Kanwil

bertanggungjawab melaksanakan fungsi pengawasan pelaksanaan


operasional Kantor Pelayanan Pajak, keberatan dan banding, serta
penyidikan, dengan pembentukan organisasi berdasarkan fungsi maka
di Kanwil tidak dijumpai lagi bidang Pajak Penghasilan (PPh), bidang
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Tidak Langsung Lainnya
(PPN/PTLL), dan bidang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Tidak lagi
dibedakan pelayanan menurut jenis pajak Pajak Penghasilan (PPh) dan

28

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Tidak Langsung Lainnya


(PPN/PTLL) dengan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan BPHTB,
melainkan hanya diberikan oleh satu Kantor Pelayanan Pajak saja.
b. Spesifikasi tugas dan tanggung jawab menurut Sofyan (2005:37),
antara lain:
1) Account Representative (AR);
Penunjukan Account Representative yang khusus melayani dan
mengawasi pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak secara
langsung. Dengan pembagian tugas disesuaikan dengan kelompok
usaha Wajib Pajak, Account Representative memiliki pemahaman
tentang bisnis dan kebutuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
Wajib Pajak. Account Representative bertanggungjawab untuk
memberikan jawaban atas setiap pertanyaan yang diajukan Wajib
Pajak secara efektif dan profesional, terutama mengenai: rekening
Wajib Pajak (Taxpayers Account) untuk semua jenis pajak,
kemajuan proses pemeriksaan dan restitusi, interpretasi dan
penegasan atas suatu peraturan (ruling), perubahan data identitas
Wajib Pajak, tindakan pemeriksaan dan penagihan pajak, kemajuan
proses keberatan dan banding, perubahan peraturan yang berkaitan
dengan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.
Lebih rincinya Account Representative (AR) akan memberikan
informasi mengenai:

29

a) Rekening Wajib Pajak untuk semua jenis pajak.


b) Kemajuan proses pemeriksaan dan restitusi.
c) Interpretasi dan penegasan atas suatu peraturan.
d) Perubahan data identitas Wajib Pajak.
e) Tindakan pemeriksaan dan penagihan Wajib Pajak.
f) Kemajuan proses keberatan dan banding.
g) Perubahan peraturan perpajakan yang berkaitan dengan
kewajiban perpajakan Wajib Pajak.
2) Menurut Purnomo dalam Subiyantoro dan Riphat (2004) yang
dikutip oleh Sofyan (2005:37) pemeriksaan pajak hanya dilakukan
oleh tenaga fungsional pemeriksa dengan alokasi tenaga fungsional
pemeriksa disesuaikan dengan tingkat risiko pemeriksaan dan
dilakukan pelatihan teknis yang mendukung profesionalisme
tenaga pemeriksa berdasarkan kelompok usaha Wajib Pajak.
3) Spesialisasi pegawai lainnya seperti jurusita pajak dan progamer
teknologi informasi.
c. Menyelesaikan dan menyempurnakan implementasi Sistem Informasi
Perpajakan (SIP) menjadi Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu
(SAPT) menurut Sofyan (2005:38) yaitu:
Sistem Informasi Perpajakan (SIP) dikembangkan menjadi Sistem
Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) yang dikendalikan oleh
manajemen

kasus

(case

management

pemantauan proses administrasi

system)

dalam

sistem

perpajakan (workflow system)

30

mengacu pada otomatisasi kantor mencakup pelayanan, pengawasan


pembayaran dan pemeriksaan dengan pengendalian proses, otorisasi,
pengawasan pelaksanaan tugas serta pelaporan yang dirancang sesuai
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
d. Monitoring rutin melalui Rekening Wajib Pajak (Taxpayers Account)
menurut Sofyan (2005:38) yaitu:
Transparansi pelayanan dan pemenuhan kewajiban perpajakan
Wajib Pajak didukung dengan Taxpayers Account yang berfungsi
untuk mencatat secara otomatis setiap perubahan yang terjadi terhadap
hak dan kewajiban Wajib Pajak sebagai akibat dari pembayaran pajak,
penetapan, keberatan, pemindah bukuan, Surat Pemberitahuan (SPT),
dan dokumen perpajakan lainnya sehingga memudahkan pengawasan
atas hak dan kewajiban perpajakan bagi masing-masing Wajib Pajak.
e. Jalur pengawasan tugas pelayanan dan pemeriksaan menurut Sofyan
(2005:39) yaitu:
Menetapkan

standar

kinerja

dan

pelayanan

perpajakan,

menerapkan kode etik pegawai bagi pegawai pajak dan dibentuknya


komite kode etik serta kerjasama dengan Komite Ombudsman
Nasional semakin melengkapi perangkat pengawasan tugas pelayanan
dan pemeriksaan.
2. Modernisasi prosedur organisasi
a. Pelayanan satu pintu melalui Account Representative menurut Sofyan
(2005:39) yaitu:

31

Penunjukkan Account Representative yang bertanggung jawab


secara khusus melayani dan mengawasi administrasi perpajakan
beberapa Wajib Pajak dengan mengembangkan konsep pelayanan satu
pintu sehingga mengurangi persinggungan antara Wajib Pajak dengan
petugas pajak yang kemungkinan dapat menimbulkan akses negatif.
Account Representative juga menangani pemohonan Surat Keterangan
Bebas (SKB) pajak, Pemindahbukuan setoran pajak (Pbk), ruling dan
penerbitan produk hukum.
b. Penyederhanaan prosedur administrasi dan meningkatkan standar
waktu dan kualitas pelayanan dan pemeriksaan pajak menurut Sofyan
(2005:39) yaitu:
1) Menyederhanakan formulir Surat Pemberitahuan (SPT).
2) Mempercepat proses penyelesaian keberatan dan banding atas
produk pajak.
3) Pengukuhan Wajib Pajak Patuh untuk mempercepat permohonan
restitusi.
4) Meninjau kriteria Wajib Pajak

pungut untuk mengurangi

permohonan restitusi.
5) Meninjau kembali kewajiban pemeriksaan atas setiap Surat
Pemberitahuan Lebih Bayar (SPT LB) dan mempercepat restitusi
Surat Pemberitahuan Lebih Bayar (SPT LB) yang berisiko rendah.
6) Pemusatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

32

c. Dukungan teknologi informasi modern dalam memberikan pelayanan,


pengawasan, pemeriksaan dan penagihan pajak menurut Sofyan
(2005:40), antara lain:
1) Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) terintegrasi
dengan pendekatan fungsi dan prosedur administrasi yang telah
diatur dalam case management dan workflow system didukung esystem, terutama e-payment, e-SPT, dan e-filing yang membantu
kecepatan, ketepatan dan keamanan proses perekaman data
administrasi pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.
2) Otomatisasi proses

pemeriksaan dengan bantuan

workflow

management dalam Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu


(SAPT) membantu

menghindari

duplikasi data,

kesalahan

pencatatan dan pengawasan prosedural pemeriksaan sesuai dengan


ketentuan peraturan perundang-undangan didukung juga dengan
aplikasi Audit Command Language (ACL).
3) Pembangunan bank data dalam konsep masterplan secara nasional
dan kerjasama pertukaran data dengan instansi lain mewujudkan
transparansi data.
4) Otomatisasi

penagihan pajak

melalui Sistem

Administrasi

Perpajakan Terpadu (SAPT) sehingga prosedur pengawasan dan


administrasi tunggakan pajak dapat selalu dilakukan. Pelaksanaan
penagihan dilakukan jurusita pajak dengan metode hard dan soft

33

collection, dimana soft collection dapat dilakukan dengan bantuan


Account Representative.
5) Melaksanakan pelatihan teknologi informasi;

6) Penggunaan teknologi informasi dan e-system lainnya:


Dalam menjalankan administrasi perpajakan dan meningkatkan
pelayanan dikembangkan

aplikasi seperti e-regristation,

e-

Counseling, Complain Center, Help Desk, Call Center, Touch Screen


yang didukung Knowledge Base yang berisi Frequently Asked
Question (FAQ), SMS tax, dan saluran komunikasi dan penyuluhan
yang lebih intensif melalui berbagai sarana seperti telepon, e-mail,
portal website, pencatatan dan penyimpanan dokumen yang lebih
dapat diandalkan menggunakan Sistem Manajemen Arsip Terpadu
(SMArT), dukungan peralatan perkantoran yang modern, lengkap,
di mana tiap pegawai dilengkapi personal computer dan akses
informasi yang lebih cepat baik dalam lingkungan intern maupun
kepada Wajib Pajak di mana tiap terdapat perubahan ketentuan
menyangkut Wajib Pajak akan segera dikonsolidasikan secara
internal, diinterpretasikan dan selanjutnya segera diinformasikan
kepada Wajib Pajak.
3. Sistem Monitoring Pelaporan dan Pembayaran Pajak

(e-Payment)

menurut Purnomo dalam Subiyantoro dan Riphat (2004:218);


Sistem ini dikenal sebagai sistem Monitoring Pelaporan dan
Pembayaran Pajak (MP3). Keuntungan menggunakan sistem MP3 adalah

34

pada kecepatan (realtime) dan keakuratan (precise) data penerimaan pajak


yang dibayarkan oleh Wajib Pajak melalui bank dan kantor pos secara
online. Kendala geografis dalam pembayaran pajak dapat meminimalisasi,
data penerimaan pajak akan dapat diketahui dengan mengakses database
Direktorat Jenderal Pajak melalui internet.
Istilah rekonsiliasi dikenal dalam MP3. Rekonsiliasi adalah proses
identifikasi perbedaan dan persamaan data pembayaran setoran pajak yang
tercatat dalam sistem komputer Direktorat Jenderal Pajak dengan Kantor
Penerima Pembayaran setiap hari pada jam tertentu (cut off) yang
disepakati antara Direktorat Jenderal dengan Kantor Penerima Pajak.
4. Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak

(e-Registration) menurut

Purnomo dalam Subiyantoro dan Riphat (2004:218);


E-Registration merupakan sistem pendaftaran, perubahan, data Wajib
Pajak dan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), melaporkan
usaha untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) melalui
internet. Bagi Wajib Pajak yang telah terdaftar dapat mengakses informasi
perpajakannya melalui sebuah account yang telah disediakan.
5. Pelaporan Surat Pemberitahuan (e-SPT) menurut Purnomo dalam
Subiyantoro dan Riphat (2004:218);
Pelaporan Surat Pemberitahuan (e-SPT), e-SPT atau penyampaian
Surat Pemberitahuan dalam bentuk digital adalah pelaporan Surat
Pemberitahuan masa secara elektronik. Electronic SPT atau disebut e-SPT
adalah aplikasi (sofware) yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk

35

digunakan oleh Wajib Pajak sebagai alternatif dalam penyampaian SPT


dimana data-datanya telah direkam sendiri oleh Wajib Pajak dengan
bantuan aplikasi e-SPT

menjadi data elektronik yang dapat langsung

dimuat (upload) sistem dan data base yang ada di Kantor Pelayanan Pajak.
6. Pengiriman atau penyampaian Surat Pemberitahuan (e-Filing) menurut
Purnomo dalam Subiyantoro dan Riphat (2004:218);
E-Filing adalah sebuah layanan yang disediakan di kantor pusat
Direktorat Jenderal Pajak agar Wajib Pajak dapat menyampaikan Surat
Pemberitahuan (SPT) beserta lampirannya secara elektronik melalui
sistem online dan real time melaui aplikasi penerimaan

Surat

Pemberitahuan (SPT) berbasis web.


7. Modernisasi budaya organisasi menurut Sofyan (2005:42) terdapat
beberapa kegiatan modernisasi budaya organisasi yaitu:
a. Program penerapan pemerintahan yang bersih dan berwibawa (Good
Governance) tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa (Good
Governance) dicirikan oleh adanya kode etik pegawai Direktorat
Jenderal Pajak berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
222/KMK.03/2002 tanggal 14 Mei 2002 sebagaimana telah diubah
terakhir

dengan

Keputusan

Menteri

Keuangan

Nomor

382/KMK.03/2002 tanggal 27 Agustus 2002, adanya komite kode etik


Direktorat Jenderal Pajak berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 223/KMK.03/2002 tanggal 14 Mei 2002, adanya divisi
Perpajakan dan Bea Cukai pada Komite Ombudsman Nasional, adanya

36

kerja sama dengan Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan dan


konsolidasi internal.
1) Menerapkan kode etik terhadap seluruh pegawai Direktorat
Jenderal Pajak, pembentukan komite kode etik, meningkatkan
efektifitas pengawasan oleh Inspektorat Jenderal Departemen
Keuangan dan kerjasama dengan Komisi Ombudsman Nasional.
2) Penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional,
antara lain melalui pelaksanaan fit and proper test secara ketat,
penempatan pegawai yang disesuaikan dengan kapasitas dan
kapabilitasnya, reorganisasi, kaderisasi, pelatihan dan pogram
pengembangan self capacity, reward and punishment, reformasi
moral dan etika.
b. Pemberian Tunjangan Kegiatan Tambahan (TKT) kepada Pegawai
Pajak
Pemberian TKT selain tunjangan lain yang telah diberikan
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 269/KMK.03/2004
tanggal 31 Mei 2004. Besarnya TKT dibedakan berdasarkan
golongan/eselon untuk TKT Pelaksana dan Pejabat Struktural
sedangkan TKT Pejabat Fungsional dibedakan untuk pemeriksa pajak
ahli dan pemeriksa pajak terampil.
c. Fasilitas perkantoran modern
Perkantoran modern dengan keseluruhan operasi berbasis teknologi
dengan pengadaan sarana dan prasarana yang memenuhi persyaratan

37

mutu dan menunjang upaya modernisasi administrasi perpajakan di


seluruh Indonesia.

E. Kinerja
1. Pengertian Kinerja
Menurut Ilyas (2002:7) kinerja adalah hasil karya personel baik
kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Kinerja dapat
merupakan penampilan individu maupun kelompok kerja personel.
Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada personel yang mengaku
jabatan fungsional maupun struktural, tetapi juga kepada keseluruhan
jajaran personel di dalam organisasi.
Pendapat lain dikemukakan oleh Tiffin dan Mc Cormick (1979) dalam
Wicaksono (2002:25) bahwa individu yang berbeda akan menghasilkan
kinerja yang berbeda pula. Hal ini disebabkan kinerja individu
berhubungan dengan individual variable dan situational variable.
Individual variable adalah variabel yang berasal dari dalam diri individu
yang bersangkutan, misalnya: kemampuan, kepentingan dan kebutuhankebutuhan tertentu. Sedangkan situational variable adalah variabel yang
bersumber dari situasi pekerjaan yang lebih luas (lingkungan organisasi)
misalnya: pelaksanaan, supervisi, iklim organisasi, hubungan dengan
rekan kerja dan sistem pemberian imbalan atau kompensasi.

38

2. Standar Kinerja
Menurut Suprihanto (1987) dikutip oleh Wicaksono (2002:26) standar
kinerja adalah suatu alat ukur terhadap suatu perbandingan antara apa yang
diharapkan atau ditargetkan dengan apa yang telah dilakukan sesuai
dengan pekerjaan atau jabatan yang telah dipercayakan oleh seseorang.
Standar kinerja dapat pula dijadikan sebagai alat pertanggung jawaban
terhadap apa yang telah dikerjakan atau yang telah dilakukan.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 tahun
1979 tentang Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) Pegawai
Negeri Sipil (PNS) seperti dikutip Suprihanto (1987) dalam Wicaksono
(2002:26) standar yang digunakan untuk mengukur kinerja seorang
pegawai negeri sipil adalah:
a. Kesetiaan, yang meliputi unsur kesetiaan, ketaatan, dan pengabdian
kepada Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, negara dan pemerintah.
b. Prestasi kerja, adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai
negeri sipil dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya.
c. Tanggung jawab, adalah kesanggupan seorang pegawai negeri sipil
menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaikbaiknya dan tepat pada waktunya serta berani memikul risiko atas
keputusan yang diambilnya atau tindakan yang dilakukannya.
d. Ketaatan, adalah kesanggupan seorang pegawai negeri sipil untuk
menaati

segala

peraturan

perundang-undangan

dan

peraturan

kedinasan yang berlaku, menaati perintah kedinasan yang diberikan

39

oleh atasan yang berwenang, serta kesanggupan tidak melanggar


larangan yang ditentukan.
e. Kejujuran, adalah ketulusan hati seorang pegawai negeri sipil dalam
melaksanakan tugas dan kemampuan untuk tidak menyalahgunakan
wewenang yang diberikan kepadanya.
f. Kerjasama, adalah kemampuan seorang pegawai negeri sipil untuk
bekerja bersama-sama dengan orang lain dalam menyelesaikan sesuatu
tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok tanpa
menunggu perintah dari atasan.
g. Kepemimpinan, adalah kemampuan seorang pegawai negeri sipil
untuk meyakinkan orang lain sehingga dapat dikerahkan secara
maksimal untuk melaksanakan tugas pokok.
3. Aspek-aspek kinerja
Menurut Furtwengler (2002:86), aspek-aspek yang terdapat dalam
kinerja meliputi:
a. Kecepatan
Kecepatan

terkait

dengan

unsur-unsur

tindakan

pegawai

mengindikasikan pemahaman mengenai pentingnya kecepatan dalam


lingkungan persaingan, kemampuan melakukan pekerjaan dengan
bagus, kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal dan
kemampuan mencari cara untuk menyelesaikan pekerjaan rutin dengan
lebih cepat. Kecepatan sangat penting bagi keunggulan bersaing
perusahaan atau organisasi.

40

b. Kualitas
Kualitas tidak dapat dikorbankan demi kecepatan. Kualitas pekerjaan
pegawai dapat dilihat dari beberpa unsur seperti: pegawai bangga
terhadap pekerjaannya, pegawai melakukan pekerjaannya dengan
benar sejak awal dan pegawai mencari cara-cara untuk memperbaiki
kualitas pekerjaannya.
c. Pelayanan
Aspek pelayanan dapat dilihat melalui hal-hal berikut: tindakan
pegawai mengindikasikan pemahaman mengenai pentingnya melayani
para pelanggan, pegawai menunjukkan keinginan untuk melayani
orang lain dengan baik, pegawai merespon pelanggan dengan tepat
waktu dan pegawai memberikan sesuatu lebih daripada yang diminta
oleh pelanggan.
d. Nilai
Pemahaman mengenai nilai

sangat penting dalam keputusan

pembelian, penetapan sasaran, menyusun prioritas dan efektifitas kerja.


Paling tidak ada dua hal yang tercakup dalam aspek nilai, yaitu:
tindakan pegawai mengindikasikan pemahaman mengenai konsep nilai
dan nilai merupakan sesuatu yang dipertimbangkan oleh pegawai
dalam mengambil keputusan.
e. Keterampilan interpersonal
Keterampilan interpersonal dapat ditinjau dari hal-hal, seperti:
pegawai menunjukkan perhatian kepada perasaan orang lain, pegawai

41

menggunakan bahasa yang memberi semangat kepada orang lain,


pegawai bersedia membantu orang lain dan pegawai merayakan
keberhasilan orang lain dengan tulus.
f. Mental untuk sukses
Hal ini mencakup unsur-unsur antara lain: pegawai memiliki sikap can
do (yakin bahwa ia dapat melakukan apapun), pegawai mencari cara
untuk menambah pengetahuan-pengetahuannya, pegawai mencari cara
untuk memperbanyak pengalamannya dan pegawai realistis dalam
mengukur kemampuannya.
g. Terbuka untuk berubah
Kondisi ini terkait dengan hal-hal berikut: pegawai bersedia menerima
perubahan, pegawai mencari cara baru untuk menyelesaikan tugas
lama, tindakan pegawai mengindikasikan sifat ingin tahu dan pegawai
memandang peran yang dilakukan sebagai peran yang berarti.
h. Kreativitas
Kreativitas pegawai dapat dilihat dari beberapa hal, seperti: kreativitas
dalam pemecahan masalah, kemampuan melihat hubungan antara
masalah-masalah yang kelihatannya tidak berkaitan, kemampuan
untuk membuat konsep abstrak dan mengembangkannya menjadi
konsep

yang

dapat

diterapkan dan

kemampuan

menerapkan

kreativitasnya dalam pekerjaan sehari-hari.

42

i. Keterampilan berkomunikasi
Keterampilan berkomunikasi pegawai meliputi: penampilan gagasan
logis dalam bahasa yang mudah dipahami, kemampuan menyatakan
ketidaksetujuan

tanpa

menciptakan

konflik,

menulis

dengan

menggunakan kata-kata yang jelas dan tepat dan penggunaan bahasa


yang bernada optimis.
j. Inisiatif
Inisiatif pegawai mencakup hal-hal seperti: selalu bersedia membantu
orang lain jika pekerjaannya telah selesai, ingin selalu terlibat dalam
proyek baru, selalu berusaha mengembangkan keterampilannya diluar
tempat kerja dan menjadi sumber gagasan untuk perbaikan kerja.
k. Perencanaan organisasi
Kemampuan perencanaan pegawai misalnya: selalu membuat jadwal
personal, bekerja berdasarkan jadwal tersebut dan selalu memutuskan
lebih dahulu pendekatan yang digunakan pada suatu tugas sebelum
memulainya.

F. Efektifitas Organisasi Kantor Pelayanan Pajak


Gibson, Ivancevich, Donelly (1996) dalam Hernita (2006:43) mengatakan
efektifitas adalah penilaian yang kita buat sehubungan dengan prestasi
individu, kelompok dan organisasi. Apabila makin dekat prestasi yang dicapai
terhadap prestasi yang diharapkan dikatakan lebih efektif, sedangkan Steers
(1980:1) dalam Hernita (2006:43) mengatakan efektifitas adalah kemampuan

43

organisasi dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia dalam tugas


mencapai dan memelihara suatu tingkat operasi yang efektif.
Menurut Yuwono (2002:23) pengukuran efektifitas atau kinerja adalah:
Tindakan pengukuran yang dilakukan berbagai aktifitas dalam rantai
yang ada pada perusahaan atau organisasi, yang hasil pengukurannya akan
digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang
prestasi pelaksanaan suatu rencana dan tingkat saat organisasi memerlukan
penyesuaian atas perencanaan dan pengendalian.
Menurut Yuwono (2002:23) Pengukuran efektifitas organisasi dapat
dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan yang

berbeda,

mengasumsikan bahwa organisasi akan menugaskan input yang berasal dari


lingkungannya melalui suatu proses internal menjadi output yang akan
dilemparkan kembali ke lingkungannya. Pengukuran efektifitas dilakukan
melalui:
1. Pendekatan sasaran (goal approach) dalam pengukuran efektifitas
memusatkan pada output yaitu mengukur keberhasilan organisasi dalam
mencapai tingkatan output yang telah direncanakan.
2. Pendekatan sumber (resources approach) lebih memusatkan perhatian
pada input yaitu mengukur keberhasilan organisasi dalam mendapatkan
sumber yang dibutuhkan untuk pencapaian performa yang baik.
3. Pendekatan proses (proses approach) lebih memusatkan perhatian pada
aspek kegiatan internal organisasi dan mengukur efektifitas melalui
berbagai indikator internal.
Effendi mengemukakan keberhasilan sebuah organisasi/instansi sangat
ditentukan

dalam

mendapatkan

orang-orang

dengan

pengetahuan,

44

keterampilan, dan sikap yang bermuara kepada lahirya kinerja yang baik.
Terlebih kompetensi karyawan yang bekerja di sebuah instansi pemerintah
seperti Direktorat Jenderal Pajak yang mengurusi dan mengatur income
negara. (http://www.sinarharapan.co.id).
Organisasi harus mendorong semangat pegawai dalam memanfaatkan
keahlian dan kemampuan individu serta mengembangkannya karena hal ini
tidak dapat diingkari bahwa sumber daya manusia adalah aset perusahaan
yang harus dipelihara dan dikembangkan, hal tersebut perlu dipahami bahwa
kedudukan sumber daya manusia

dalam suatu lembaga organisasi baik

instansi pemerintahan, BUMN, ataupun organisasi milik swasta tidak lagi


sebagai pelengkap dalam kegiatan pencapaian tujuan saja tetapi sudah harus
menjadi faktor penentu keberhasilan aktivitas yang

dilakukan, dari

meningkatnya kualitas kerja pegawai, organsasi mendapat keuntungan


sehingga kinerja dalam organisasi meningkat dan organisasi akan dapat
bertahan secara terus menerus.

45

G. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kerangka teori yang telah dikemukakan sebelumnya, penulis
menggambarkan kerangka pemikiran sebagai berikut:
Reformasi Administrasi
Perpajakan

Korelasi

Efektifitas Penerapan TI
dalam Sistem Administrasi
Perpajakan Modern (X)

Kinerja Kantor Pelayanan


Pajak Pratama Jakarta
Grogol Petamburan (Y)

Hipotesis:
H0 : tidak terdapat hubungan signifikan
Ha : terdapat hubungan signifikan

Gambar. 2.1
Kerangka Pemikiran

46

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian


Tempat yang digunakan sebagai tujuan penelitian ini adalah Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan yang merupakan struktur
organisasi di bawah Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan, untuk
memperoleh data yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Penelitian
ini ditujukan untuk mengetahui seberapa besar korelasi efektifitas penerapan
teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern dengan
kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan. Objek
penelitian dalam skripsi ini adalah aparat Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Jakarta Grogol Petamburan.

B. Metode Pemilihan Sampel


Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang
mempunyai karakteristik tertentu. Indrianto dan Supomo (1999:115).
Banyaknya objek populasi disebut ukuran populasi (dilambangkan dengan N).
Ukuran populasi ada yang tidak terhingga (karena besarnya tidak dapat
dihitung).
Populasi penelitian adalah

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta

Grogol Petamburan, dengan sampel penelitiannya adalah seluruh aparat pajak


yang bekerja pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol

47
47

Petamburan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik convenience


sampling, yaitu menurut Hamid (2007:30) istilah umum yang mencakup
variasi luasnya prosedur pemilihan responden. Convenience sampling berarti
unit sampel yang ditarik mudah dihubungi, tidak menyusahkan, mudah untuk
mengukur, dan bersifat kooperatif.

C. Metode Pengumpulan Data


Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis. Beberapa hal
yang perlu dilakukan dalam pengumpulan data, yaitu mempersiapkan
instrumen,

sumber

data,

operasional

instrumen

dan

melaksanakan

pengumpulan data. Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang


menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data, dalam
penulisan skripsi ini, penulis menggunakan beberapa metode yang digunakan
untuk memperoleh data yang dibutuhkan dengan tujuan agar bisa memberikan
gambaran yang jelas tentang korelasi efektifitas panerapan teknologi informasi
dalam sistem administrasi perpajakan modern dengan kinerja Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan, sehingga memiliki
dasar yang benar. Metode pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut:
1. Data Primer (Primary Data)
Merupakan data yang diperoleh dari pengumpulan langsung dari
lapangan (tidak melalui media perantara), berupa opini subjek (orang)
secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda

48

(fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Adapun data primer
yang digunakan dalam penelitian ini:
a. Kuesioner
Kuesioner merupakan penelitian dengan cara mengajukan daftar
pertanyaan langsung kepada responden, yaitu aparat Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan. Agar dapat memperoleh
data yang relevan.
b. Observasi
Observasi dilakukan dengan cara penelitian lapangan langsung
terhadap obyek yang sedang diteliti yaitu Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Jakarta Grogol Petamburan untuk mengadakan pengamatan
dan pengambilan data objek penelitian.
c. Wawancara
Adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
melakukan tanya jawab dengan pimpinan dan pegawai Kantor
Pelayanan

Pajak

Pratama

Jakarta

Grogol

Petamburan

yang

berhubungan dengan penelitian.


2. Data Sekunder (Secondary Data)
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh
peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan
dicatat oleh pihak lain). Adapun data sekunder yang penulis pakai yaitu:

49

a. Riset kepustakaan
Kepustakaan (library research) adalah penelitian yang datanya diambil
terutama atau seluruhnya dari kepustakaan (buku, dokumen, artikel,
jurnal, laporan, internet dan lain sebagainya).
b. Teknik dokumentasi
Teknik dokumentasi yang dilakukan adalah dengan megumpulkan data
dengan cara mengutip langsung data yang diperoleh dari lembaga
(instansi) terkait, yang berhubungan dengan penelitian yang penulis
lakukan.

D. Metode Analisis dan Pengolahan Data


1. Metode Analisis
Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah koefisien
korelasi, yaitu suatu analisis yang digunakan untuk menentukan suatu
besaran yang menyatakan bagaimana korelasi suatu variabel dengan
variabel lain.
Adapun koefisien korelasi dapat dirumuskan sebagai berikut:

X'. Y
(X1.Y)

Keterangan:
Y = Kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan
X = Efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi
perpajakan modern

50

r = koefisien korelasi, dengan ketentuan -1 < r < 1, yaitu:


r > 0 berarti terdapat hubungan yang positif (+) antara X dan Y
r < 0 berarti tidak terdapat hubungan yang positif ataupun negatif antara X
dan Y.
2. Uji Kualitas Data
a. Uji Validitas
Pengujian validitas dilakukan untuk membuktikan sejauh mana
data yang terdapat dalam kuesioner dapat mengukur tingkat
kevaliditasan suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid apabila
responden dapat menjawab dengan cermat mengenai variabel yang
diukur. Setiap butir pertanyaan dikatakan valid bila angka korelasional
yang diperoleh dari perhitungan lebih besar atau sama dengan r tabel.
Untuk menentukan r hitung didapatkan dari perhitungan dengan rumus
teknik korelasi karl pearson dengan menggunakan SPSS.
b. Uji Reliabilitas
Suatu alat ukur dapat dikatakan reliabel apabila jawaban dari suatu
pertanyaan merupakan bebas dari kesalahan dengan memberikan
jawaban atau keterangan secara konsisten meskipun diuji beberapa kali
dan stabil dari waktu ke waktu. (Ghozali, 2005:45). Uji reliabilitas
hanya dapat dilakukan setelah suatu instrumen telah dipastikan
validitasnya. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini untuk
menunjukkan tingkat reliabilitas konsistensi internal. Teknik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah alpha cronbach karena

51

menggunakan jenis data likert. Rumus cronbachs alpha (Sugiyono,


2005:283) sebagai berikut,

(k-1)

b
t

Keterangan:
r

= reliabilitas

= banyaknya pertanyaan

t

= varians total

b = mean kuadrat kesalahan


Penelitian menggunakan bantuan program SPSS 12.0 di dalam
menghitung alpha cronbach untuk menginterpretasikan nilai alpha
yang diperoleh, digunakan kriteria korelasi menurut Sugiyono
(2005:183) yaitu,
Tabel.3.1.
Kriteria korelasi
0,00
0,20
0,40
0,60
0,80

0,200
0,399
0,599
0,799
1,00

=
=
=
=
=

Korelasi sangat rendah


Korelasi rendah
Korelasi sedang
Korelasi kuat
Korelasi sangat kuat

52

3. Uji Hipotesis
a. Analisis koefisien korelasi sederhana
Analisis koefisien korelasi adalah suatu analisis yang digunakan untuk
mengetahui seberapa kuat hubungan antara dua variabel yaitu variabel
bebas dan terikat, yang dirumuskan sebagai berikut:

X'. Y
(X1.Y)

Keterangan:
Y = Kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan
X = Efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem
administrasi perpajakan modern
r

koefisien korelasi, dengan ketentuan -1 < r < 1, yaitu:

r > 0 berarti terdapat hubungan yang positif (+) antara X dan Y


r < 0 berarti tidak terdapat hubungan yang positif ataupun negatif
antara X dan Y.
b. Signifikansi korelasi
Signifikansi korelasi adalah untuk menguji apakah angka korelasi yang
didapat

benar-benar

signifikan

atau

dapat

digunakan

untuk

menjelaskan hubungan dua variabel, dengan menggunakan hipotesis:


H0 : tidak terdapat hubungan signifikan
Ha : terdapat hubungan signifikan.
Dasar pengambilan keputusan, berdasarkan probabilitas,

53

Jika probabilitas > 0.05, H0 diterima


Jika probabilitas < 0.05, H0 ditolak.

E. Variabel dan Pengukurannya


Menurut Sugiono (2005:2), variabel penelitian adalah suatu hal yang
berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi, kemudian ditarik kesimpulannya. Pada penelitian ini
terdapat dua buah variabel. Satu variabel bebas (independent variable) dan
satu variabel terikat (dependent variable).
1. Variabel independen (X)
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah efektifitas penerapan
teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern. Skala
pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala likert.
2. Variabel dependen (Y)
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel
independen atau variabel terikat. Variabel dependen dalam penelitian ini
adalah kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan. Skala pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala
likert.

54

Tabel.3.2.
Operasional Variabel Penelitian
Variabel
Efektifitas
penerapan
teknologi
informasi
dalam sistem
administrasi
perpajakan
modern.
(variabel X)

Subvariabel
1. Optimalisasi
penerimaan
pajak.

Indikator
a. Peningkatan penerimaan pajak.

Skala
Interval

b. Menghindari keterlambatan Wajib


Pajak dalam pembayaran pajak.
c. Meningkatkan kepatuhan dalam
pembayaran pajak.
d. Meningkatkan kesadaran dalam
pembayaran pajak.
e. Proses pemungutan pajak lebih
cepat, tepat, mudah, dan akurat.

2. Peningkatan
kepatuhan
sukarela yaitu
melalui
pemberian
pelayanan
prima dan
penegakan
hukum yang
konsisten.

a. Perbaikan mutu pelayanan secara


berkesinambungan.

Interval

b. Mendukung kecepatan administrasi


pemenuhan kewajiban perpajakan.
c.

Memudahkan Wajib Pajak dalam


melakukan pemenuhan kewajiban
perpajakan.

d. Memudahkan Wajib Pajak dalam


memperoleh informasi yang
dibutuhkan.
e. Memberikan pelayanan secara
efisien baik dari segi waktu, tenaga,
maupun biaya.
f. Penyelesaian masalah Wajib Pajak
lebih cepat.
g.

Hak dan Kewajiban perpajakan


Wajib Pajak dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

55

3. Terbentuknya
citra yang baik
dan
kepercayaan
masyarakat
yang tinggi
yaitu:
a. SDM
profesional.

a. Budaya kerja yang optimal


memberikan pelayanan yang
maksimal.

Interval

b. Kinerja aparat pajak yang


profesional.
c. Peningkatan (optimalisasi)
pelayanan Wajib Pajak.
d. Tingkat kompetensi tinggi.

b. Budaya
organisasi.
c. Good
governance
4. Penerapan
sistem dan
administrasi
yang handal
dan
pemanfaatan
teknologi tepat
guna.

a. Data Wajib Pajak tersimpan secara


akurat.

Interval

b. Peningkatan kualitas administrasi


perpajakan.
c. Penurunan cost of compliance.
d. Proses perpajakan yang tidak
birokratis.
e. Informasi perpajakan yang akurat.

5. Optimalisasi
pencegahan
penggelapan
pajak.

a. Mampu mendukung program


transparansi dan keterbukaan.

Interval

b. Memungkinkan tidak terjadinya


KKN.
c. Pencegahan penyalahgunaan
kekuasaan.
d. Menghindari terjadinya
penyalahgunaan wewenang oleh
aparat pajak.

56

1. Pengetahuan.

a. Mengetahui tentang reformasi


SAPM.

Interval

b. Pemahaman tentang pengoperasian


SAPM.
Kinerja
Kantor
Pelayanan
Pajak
Pratama
Jakarta
Grogol
Petamburan.
(variabel Y)

c. Penerapan SAPM membantu dalam


melaksanakan tugas sebagai aparat
pajak.
d. Pemahaman SAPM, memberikan
informasi yang dibutuhkan oleh
Wajib Pajak dengan mudah, cepat,
dan akurat.
e. Pengetahuan yang tinggi dalam
mengoperasikan SAPM.
f. Pelatihan SAPM perlu dilakukan
untuk mengoptimalkan kinerja
aparat pajak.

57

2. Keterampilan.

a. Penerapan SAPM dalam teknologi


informasi perlu disosialisasikan
melalui semua KPP yang telah
menerapkan , agar Wajib Pajak
memahami kemudahan yang
diberikan.

Interval

b. Perlu adanya penyempurnaan


program dalam SAPM dalam rangka
meningkatkan keterampilan.
c. Penerapan SAPM mempermudah
pekerjaan aparat pajak.
d. Penerapan SAPM, membantu aparat
pajak menyelesaikan pekerjaan
dengan cepat.
e. Penerapan SAPM meneliti
kompetensi yang baik, sehingga
dapat menunjukkan kinerja yang
baik dalam melaksanakan tugas
sehari-hari.
f. Keterampilan dalam pengoperasian
SAPM membantu Ditjen pajak
untuk terus memenuhi tuntutan
perkembangan zaman.
g. Kecanggihan teknologi informasi
dalam SAPM akan memperoleh
manfaat yang lebih besar bila aparat
pajak yang mengoperasikan
memiliki kemampuan dan
keterampilan yang paripurna.
h. Penerapan SAPM meningkatkan
keahlian dan kualitas dalam bekerja.
i. Penerapan SAPM akan berjalan
dengan efektif, didukung adanya
pegawai yang terlatih dan
berketerampilan tinggi.
j. Penerapan SAPM dapat
meminimalisir tingkat kesalahan
yang terjadi.
k. Penerapan SAPM meningkatkan
kecepatan dalam penyelesaian
pekerjaan aparat pajak.

58

3. Sikap.

a. Pemanfaatan teknologi informasi


dalam SAPM mampu memberikan
pelayanan lebih cepat.

Interval

b. Dengan adanya penerapan SAPM,


Ditjen Pajak telah memiliki SDM
yang profesional.
c. Penerapan SAPM meminimalisir
adanya kecurangan dalam
perpajakan.
d. Penerapan SAPM akan berjalan
dengan efektif, didukung adanya
pegawai yang sopan dan
menerapkan kode etik.
e. Perubahan pelayanan dalam
penerapan teknologi informasi
SAPM memberikan motivasi dan
semangat kerja.
f. Penerapan SAPM melahirkan
organisasi yang lebih terbuka dan
transparan.
g. Penerapan SAPM mampu
meningkatkan disiplin dan integritas
aparat pajak.
h. Penerapan SAPM dapat melahirkan
kerjasama yang baik antara Wajib
Pajak dan aparat pajak.

59

BAB IV
PENEMUAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian


1. Sejarah Berdirinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan
Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Grogol Petamburan berdiri pada
tanggal 1 Januari 2002 dan terletak di Jalan Letjen S. Parman Nomor 102,
Jakarta Barat serta dibentuk berdasarkan KMK No. 443/KMK.01/2001,
kemudian sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
132/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal
Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 55/PMK.01/2007 Kantor Pelayanan Pajak
Jakarta Grogol Petamburan berubah namanya menjadi Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan pada tanggal 26 Juni 2007.
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan menerapkan
organisasi dan tata kerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan Kantor
Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan. Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan merupakan salah satu unsur
pelaksana Direktorat Jenderal Pajak yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah Jakarta II. Penerapan
sistem administrasi perpajakan modern akan membawa konsekuensi
terjadinya perubahan yang mendasar baik menyangkut struktur organisasi

60
60

maupun paradigma pelayanan kepada Wajib Pajak sehingga meningkatkan


kemampuan Direktorat Jenderal Pajak dalam pelaksanaan ketentuan
perpajakan yang berlaku dengan prinsip-prinsip Good Governance.
2. Fungsi Kantor Pelayanan Pajak Modern
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas dalam
Kantor Pelayanan Pajak Modern menyelenggarakan fungsi:
a. Pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data, pengamatan potensi
perpajakan, serta penyajian informasi perpajakan, khususnya Kantor
Pelayanan Pajak Pratama ada tambahan fungsi berupa pendataan objek
dan subjek pajak, serta penilaian objek Pajak Bumi dan Bangunan.
b. Penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan.
c. Pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan
pengolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya.
d. Penyuluhan perpajakan.
e. Pelaksanaan registrasi Wajib Pajak.
f. Pelaksanaan ekstensifikasi.
g. Penatausahaan piutang pajak dan pelaksanaan penagihan pajak.
h. Pelaksanaan pemeriksaan pajak.
i. Pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.
j. Pelaksanaan konsultasi perpajakan.
k. Pelaksanaan intensifikasi.
l. Pelaksanaan administrasi Kantor Pelayanan Pajak modern.

61

Untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan pelaksanaan fungsi


organisasi, Direktorat Jenderal Pajak membuat kebijakan penggabungan
beberapa kantor pajak yang memiliki fungsi yang berbeda. Penyusunan
struktur organisasi Kantor Pelayanan Pajak modern berdasarkan fungsi
membuat struktur organisasi lebih ramping, di mana untuk Kantor
Pelayanan Pajak Pratama pada hakekatnya adalah merger antara Kantor
Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak (Karikpa), Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) dan Kantor Pelayanan Pajak PBB (KPPBB), sedangkan Kantor
Pelayanan Pajak Madya pada hakekatnya adalah merger antara Kantor
Pelayanan Pajak dan Karikpa. Dengan penggabungan ini diharapkan
terjadi efektifitas dan efisiensi organisasi dalam menjalankan fungsifungsinya.
3. Wilayah Kerja
Wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan meliputi satu wilayah kecamatan Grogol Petamburan yang
terdiri dari tujuh kelurahan, yaitu:
a. Kelurahan Tomang dengan luas wilayah 188 Ha. b.
Kelurahan Grogol dengan luas wilayah 122 Ha. c.
Kelurahan Jelambar dengan luas wilayah 144 Ha.
d. Kelurahan Wijaya Kusuma dengan luas wilayah 261 Ha.
e. Kelurahan Jelambar Baru dengan luas wilayah 144 Ha.
f. Kelurahan Tanjung Duren Utara dengan luas wilayah 133 Ha.
g. Kelurahan Tanjung Duren Selatan dengan luas wilayah 137 Ha.

62

B. Bagan Organisasi dan Uraian Tugas


Sejak berubah namanya menjadi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta
Grogol Petamburan, maka struktur organisasinya pun ikut berubah. Kantor
Pelayanan

Pajak

Pratama

Jakarta

Grogol

Petamburan

merupakan

penggabungan KPP, KP PBB dan KARIKPA, berikut struktur organisasi


beserta uraian tiap-tiap bagian:

Kantor
Pelayanan Pajak
Kantor Pelayanan
Pajak Bumi dan
Bangunan

Kantor Pemeriksaan
dan Penyidikan Pajak

KPP Pratama Jakarta


Grogol Petamburan

Kepala Kantor

Subbagian
Umum

Seksi
Ekstensifika
si Perpajakan

Seksi
PDI

Seksi
Pelayanan

Seksi
Pengawasan
dan
Konsultasi
I - IV

Seksi
Pemerik
saan

Seksi
Penagi
han

Kelompok Jabatan
Fungsional

Gambar.4.1.
Bagan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan
Sumber: Bagan Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama
63

1. Kepala Kantor
Kepala Kantor Pelayanan pajak yang berhubungan secara langsung dengan
kepala subbagian umum yang membawahi tiga koordinator pelaksana
yaitu koordinator pelaksana tata usaha dan kepegawaian, koordinator
pelaksana keuangan dan kordinator pelaksana rumah tangga.
2. Kasubbag Umum
Subbagian umum mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian,
keuangan, tata usaha, dan rumah tangga.
3. Seksi Pelayanan Data dan Informasi (PDI)
Seksi pengolahan data dan informasi mempunyai tugas melakukan
pengumpulan, pencarian dan pengolahan data, pengamatan potensi
perpajakan, penyajian informasi

perpajakan,

perekaman dokumen

perpajakan, pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan aplikasi eSPT dan e-filing, serta penyiapan laporan kinerja.
4. Seksi Pelayanan
Seksi pelayanan mempunyai tugas melakukan penetapan dan penerbitan
produk hukum perpajakan pengadministrasian dokumen dan berkas
perpajakan, penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan (SPT), serta
penerimaan surat lainnya, penyuluhan perpajakan, pelaksanaan registrasi
Wajib Pajak, serta melakukan kerja sama perpajakan.
5. Seksi Pemeriksaan
Seksi pemeriksaan mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana
pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan

64

penyaluran

surat

perintah

pemeriksaan

pajak

serta

administrasi

pemeriksaan perpajakan lainnya.


6. Seksi Penagihan
Seksi penagihan mempunyai tugas melakukan urusan penatausahaan
piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif,
usulan penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen
penagihan.
7. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan
Seksi ekstensifikasi perpajakan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta
Grogol Petamburan mempunyai tugas melakukan pengamatan potensi
perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, penilaian objek pajak
dalam rangka ekstensifikasi.
8. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon I IV)
Masing-masing mempunyai tugas melakukan pengawasan kepatuhan
kewajiban perpajakan Wajib Pajak, bimbingan/himbauan kepada Wajib
Pajak dan konsultasi teknis perpajakan, penyusunan profil Wajib Pajak,
analisis kinerja Wajib Pajak, melakukan rekonsiliasi data Wajib Pajak
dalam rangka melakukan intensifikasi serta melakukan hasil banding.
9. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok jabatan fungsional bertugas melakukan kegiatan sesuai dengan
jabatan masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

65

C. Struktur Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol


Petamburan
Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan
berjumlah 93 pegawai per 26 Juni 2007. Pegawai yang ditempatkan adalah
pegawai yang lulus dalam beberapa tahapan proses seleksi yang dilakukan
agar pegawai yang terpilih memiliki kualifikasi tepat dalam mengemban tugas
dan misi Direktorat Jenderal Pajak dengan baik.
Berikut

adalah

komposisi

sumber

daya

manusia

berdasarkan

pangkat/golongan, tingkat pendidikan dan jabatan.


Tabel.4.1.
Komposisi Sumber Daya Manusia
Pangkat/
Golongan
IV/b
IV/a
III/d
III/c
III/b
III/a
II/d
II/c
II/b
II/a

Jumlah
1 Orang
1 Orang
8 Orang
5 Orang
26 Orang
15 Orang
15 Orang
10 Orang
2 Orang
10 Orang

Tingkat
Pendidikan
SLTP
SMA Sederajat
D1
D3
S1
S2

Jumlah

Jabatan

Jumlah

1 Orang
33 Orang
14 Orang
20 Orang
18 Orang
7 Orang

Kepala KPP
Kasubag
Kepala Seksi
AR
Fungsional
Pemeriksa
Pelaksana

1 Orang
1 Orang
9 Orang
17 Orang
5 Orang
60 Orang

Sumber: Bahan Laporan Subbagian Umum Kantor Pelayanan Pajak Jakarta


Grogol Petamburan
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan melakukan
banyak penyuluhan dan pelatihan-pelatihan untuk pengembangan karir
pegawai, dalam rangka meningkatkan kemampuan teknis perpajakan telah
dilaksanakan berbagai pendidikan dan pelatihan, baik yang diselenggarakan
sendiri maupun yang diselenggarakan oleh pihak luar, seperti: operator
consuler, pelatihan Account Representative, pelatihan fungsional, pelatihan
66

menu alternatif, transaksi derivatif, sosialisasi perubahan KUP ke-3 Undangundang Nomor 28 Tahun 2007, bedah Wajib Pajak, dan lain-lain.
Guna meningkatkan moral, etika, dan integritas pegawai pajak, secara
berkala diselenggarakan siraman rohani dengan mengundang pembicara dari
pihak luar, untuk meningkatkan disiplin pegawai pajak Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan selain melakukan pembinaan secara
berkala juga menggunakan sistem absensi secara elektronik yang dikenalkan
dengan finger print device.

D. Hasil Uji Instrumen Penelitian


Penulis melakukan penyebaran kuesioner kepada para aparat Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan sebayak 70 kuesioner,
untuk memperoleh data primer serta berdasarkan convenience sampling.
Kuesioner disebar ke 70 responden setelah peneliti melakukan try out terhadap
10 responden aparat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Cempaka Putih
dengan memberikan 28 pertanyaan yang berasal dari instrumen efektifitas
penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern,
dan 30 pertanyaan yang berasal dari instrumen kinerja Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Jakarta Grogol Petamburan.
1. Hasil Try Out
a. Uji Validitas
Pengujian validitas dari instrumen penelitian dilakukan dengan
menghitung angka korelasional atau r hitung dari nilai jawaban tiap

67

responden untuk tiap butir pertanyaan, kemudian dibandingkan dengan


r tabel. Nilai r tabel 0,345 didapat dari jumlah kasus-2, atau 58-2=56,
tingkat signifikansi 5%, maka didapat r tabel 0,345. Setiap butir
pertanyaan dikatakan valid bila angka korelasional yang diperoleh dari
perhitungan lebih besar atau sama dengan r tabel.
Tabel.4.2.
Uji Validitas Instrumen Efektifitas Penerapan Teknologi
Informasi Dalam Sistem Administrasi Perpajakan Modern
Pertanyaan Nilai r hitung
1
0,485
2
0,603
3
0,192
4
0,790
5
0,790
6
0,844
7
0,670
8
0,590
9
0,603
10
0,658
11
0,611
12
0,663
13
0,769
14
0,537
15
-0,032
16
0,520
17
0,449
18
0,562
19
0,758
20
0,741
21
0,491
22
0,592
23
0,847
24
0,083
25
0,888
26
0,616
27
0,580
28
0,618
Sumber: Data primer yang diolah

Nilai r tabel
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345

kriteria
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

68

Berdasarkan hasil uji validitas instrumen efektifitas penerapan


teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern,
diperoleh data sebanyak tiga pertanyaan tidak valid, karena nilai r
hitung < r tabel, yaitu pada pertanyaan nomor 3 dengan nilai r hitung
0,192, pertanyaan nomor 15 dengan nilai r hitung -0,032, pertanyaan
nomor 24 dengan nilai r hitung 0,083. Tiga pertanyaan yang tidak
valid tersebut nilai r hitungnya kurang dari r tabel yaitu < 0,345.
Tabel.4.3.
Uji Validitas Instrumen Kinerja KPP Pratama Jakarta
Grogol Petamburan
Pertanyaan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Nilai r hitung
0,868
0,812
0,112
0,911
-0,497
0,896
0,386
0,521
-0,503
0,794
0,789
0,650
0,786
0,818
0,105
0,918
0,951
0,729
0,749
0,787
0,761
0,630
0,809
0,731
0,114
0,601

Nilai r tabel
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345
0,345

kriteria
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
69

27
0,795
28
0,659
29
0,781
30
0,795
Sumber: Data primer yang diolah

0,345
0,345
0,345
0,345

Valid
Valid
Valid
Valid

Berdasarkan hasil uji validitas instrumen kinerja Kantor Pelayanan


Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan, diperoleh data bahwa,
terdapat lima pertanyaan yang tidak valid, karena nilai r hitung < r
tabel, yaitu pada pertanyaan nomor 3 dengan nilai r hitung 0,112,
pertanyaan nomor 5 dengan nilai r hitung -0.497, pertanyaan nomor 9
dengan nilai r hitung -0.503, pertanyaan nomor 15 dengan nilai r
hitung 0.105, pertanyaan nomor 25 dengan nilai r hitung 0.114. Lima
pertanyaan yang tidak valid tersebut nilai r hitungnya kurang dari r
tabel yaitu kurang dari 0,345.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas hanya dapat dilakukan setelah suatu instrumen telah
dipastikan validitasnya. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini
untuk menunjukkan tingkat reliabilitas konsistensi internal. Teknik
yang digunakan adalah dengan mengukur koefisien Cronbachs Alpha
dengan bantuan program SPSS versi 12. Nilai alpha bervariasi dari
0-1, suatu pernyataan dapat dikategorikan reliable jika nilai alpha
lebih besar dari 0,6.

70

Tabel.4.4.
Uji Reliabilitas Instrumen Efektifitas Penerapan Teknologi Informasi
Dalam Sistem Administrasi Perpajakan Modern
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
.941

N of Items
28

Sumber: Data Primer yang diolah


Tabel.4.5.
Uji Reliabilitas Instrumen Kinerja KPP Pratama Jakarta
Grogol Petamburan
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
.932

N of Items
30

Sumber: Data Primer yang diolah


Terlihat dari uji validitas dan reliabilitas, meskipun ada pertanyaan
yang hasilnya menunjukkan tidak valid, tetapi memiliki nilai
reliabilitas yang cukup tinggi yaitu > 0,6.
Sehingga pertanyaan yang menunjukkan tidak valid masih layak
untuk digunakan dengan memperbaiki kalimat kuesioner tersebut.
Akan tetapi mengingat jumlah pertanyaan yang terlalu banyak dari
masing-masing

variabel,

maka

peneliti

memutuskan

untuk

menghilangkan pertanyaan yang tidak valid tersebut, agar responden


tidak mengalami kejenuhan dalam mengisi setiap pertanyaan yang
diajukan.
Pada instrumen efektifitas penerapan teknologi informasi dalam
sistem administrasi perpajakan modern, pertanyaan yang digunakan
dalam kuesioner penelitian sebayak 25 pertanyaan. Pada instrumen

71

kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan,


pertanyaan yang layak digunakan dalam kuesioner penelitian sebayak
25 pertanyaan, terlihat adanya perubahan jumlah pertanyaan setelah
melihat hasil dari try out yang telah dilakukan.
2. Pasca try out
Pengujian ini bertujuan untuk melihat apakah semua data telah valid
dilihat dari pengurangan pertanyaan yang dilakukan pada hasil try out
yaitu tiga pertanyaan tidak valid pada instrumen efektifitas penerapan
teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern, dan
lima pertanyaan tidak valid pada instrumen kinerja Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan.
Jika dibandingkan dengan hasil try out terdapat perubahan nilai r tabel
0,284 karena didapat dari nilai 48, yaitu kasus-2 atau 50-2=48, dengan
tingkat signifikan 5%. Setiap butir pertanyaan dikatakan valid bila angka
korelasional yang diperoleh dari perhitungan lebih besar atau sama dengan
r tabel.
a. Uji Validitas
Tabel.4.6.
Uji Validitas Instrumen Efektifitas Penerapan Teknologi
Informasi Dalam Sistem Administrasi Perpajakan Modern
Pertanyaan
1
2
3
4
5
6
7

Nilai r hitung
0,479
0,440
0,593
0,623
0,614
0,313
0,546

Nilai r tabel
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284

kriteria
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
72

8
0,498
9
0,653
10
0,503
11
0,570
12
0,392
13
0,420
14
0,324
15
0,393
16
0,361
17
0,664
18
0,630
19
0,528
20
0,444
21
0,787
22
0,696
23
0,534
24
0,591
25
0,546
Sumber: Data primer yang diolah

0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Dari hasil diatas, pada instrumen efektifitas penerapan teknologi


informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern menunjukkan
hasil keseluruhan yang valid, karena nilai r hitung > r tabel yaitu lebih
dari 0,284.
Tabel.4.7.
Uji Validitas Instrumen Kinerja KPP Pratama Jakarta
Grogol Petamburan
Pertanyaan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nilai r hitung
0,659
0,455
0,724
0,645
0,550
0432
0,632
0,536
0,685
0,678
0,693
0,710

Nilai r tabel
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284

kriteria
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
73

13
0,589
14
0,599
15
0,462
16
0,603
17
0,725
18
0,753
19
0,538
20
0,382
21
0,420
22
0,713
23
0,733
24
0,617
25
0,655
Sumber: Data primer yang diolah

0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284
0,284

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Instrumen kinerja Kantor Pelayanan Pajak pratama Jakarta Grogol


Petamburan juga menunjukkan kesuluruhan hasil data yang valid,
dengan nilai r hitung > r tabel, yaitu lebih dari 0,284.
b. Uji Reliabilitas
Tabel.4.8.
Uji Reliabilitas Instrumen Efektifitas Penerapan Teknologi
Informasi Dalam Sistem Administrasi Perpajakan Modern
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
.915

N of Items
25

Sumber: Data Primer yang diolah


Tabel.4.9.
Uji Reliabilitas Instrumen Kinerja KPP Pratama Jakarta Grogol
Petamburan
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
.942

N of Items
25

Sumber: Data primer yang diolah

74

Dari hasil data diatas, instrumen efektifitas penerapan teknologi


informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern maupun
instrumen kinerja Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Grogol Petamburan
menunjukkan hasil data yang reliable karena nilai alpha lebih besar
dari 0,6.

E. Hasil Pembahasan
1. Deskripsi Data
Penelitian yang dilakukan dengan populasi Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Jakarta Grogol Petamburan sebanyak 93 orang aparat pajak, maka
sampel yang didapat sebanyak 70 aparat pajak.
a. Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin.
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat
pada tabel frekuensi dibawah ini:
Tabel.4.10.
Deskripsi responden berdasarkan
Jenis Kelamin

Valid

Pria
Wanita
Total

Frequency
50

Percent
71.4

Valid Percent
71.4

20
70

28.6
100.0

28.6
100.0

Cumulative
Percent
71.4
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Tabel 4.10 menyatakan bahwa jumlah aparat pajak pria lebih
dominan dibandingkan dengan aparat pajak wanita yaitu sebanyak 50
orang 71,4% dari total responden.

75

b. Deskripsi responden berdasarkan usia.


Karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel
frekuensi dibawah ini:
Tabel.4.11.
Deskripsi Responden Berdasarkan
Usia

Valid

< 25 Tahun
26-35 Tahun
> 36 Tahun
Total

Frequency
9

Percent
12.9

Valid Percent
12.9

27
34
70

38.6
48.6
100.0

38.6
48.6
100.0

Cumulative
Percent
12.9
51.4
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.11 dinyatakan bahwa usia aparat pajak yang
berusia dibawah 25 tahun yaitu 9 responden atau 12,9%, usia 26-35
tahun 27 responden atau 38,6% dan usia diatas 36 tahun sebanyak 34
responden atau 48,6%.
c. Deskripsi responden berdasarkan lama bekerja.
Karakteristik responden berdasarkan lama bekerja dapat dilihat
pada tabel frekuensi dibawah ini:
Tabel.4.12.
Deskripsi Responden Berdasarkan
Lama Bekerja Sebagai Aparat Pajak

Valid

Frequency
2

Percent
2.9

Valid Percent
2.9

Cumulative
Percent
2.9

2-3 Tahun
> 3 Tahun

11
57

15.7
81.4

15.7
81.4

18.6
100.0

Total

70

100.0

100.0

0 < 1 Tahun

Sumber: Data primer yang diolah


Jika dilihat dari tabel 4.12 menyatakan bahwa aparat pajak yang
bekerja dibawah satu tahun hanya 2 responden atau 2.9% dan aparat

76

pajak yang bekerja selama 2-3 tahun berjumlah 11 responden atau


15,7% sedangkan aparat pajak yang bekerja lebih dari 3 tahun
memiliki tingkat dominan yang tinggi yaitu sebanyak 57 responden
atau 81,4%.
d. Deskripsi responden berdasarkan pendidikan formal terakhir.
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan Formal terakhir
responden dapat dilihat pada tabel frekuensi dibawah ini:
Tabel.4.13.
Deskripsi Responden Berdasarkan
Pendidikan Formal Terakhir

Valid

SMA Sederajat
D1
D3
S1
S2
Total

Frequency
18
12

Percent
25.7
17.1

Valid Percent
25.7
17.1

Cumulative
Percent
25.7
42.9

16
19
5

22.9
27.1
7.1

22.9
27.1
7.1

65.7
92.9
100.0

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Tingkat pendidikan pendidikan formal terakhir aparat dilihat dari
tabel 4.13 yaitu pendidikan formal SMA sejumlah 18 responden atau
25,7%, pendidikan formal D1 sejumlah 12 responden atau 17,1%,
pendidikan formal D3 sejumlah 16 responden atau 22,9%, pendidikan
formal SI sejumlah 19 atau 27,1% dan pendidikan formal S2 sejumlah
5 responden atau 7,1%.
e. Deskripsi responden berdasarkan posisi.
Karakteristik responden berdasarkan posisi dalam bekerja dapat
dilihat pada tabel frekuensi dibawah ini:

77

Tabel.4.14.
Deskripsi Responden Berdasarkan
Posisi

Valid

Frequency
5

Percent
7.1

Valid Percent
7.1

Cumulative
Percent
7.1

Seksi Pengolahan
Data dan Informasi

13

18.6

18.6

25.7

Seksi Pelayanan

Subbagian Umum

10

14.3

14.3

40.0

Seksi Pemeriksaan

4.3

4.3

44.3

Seksi Penagihan

8.6

8.6

52.9

Seksi Ekstensifikasi
Perpajakan

12.9

12.9

65.7

Seksi Pengawasan
dan Konsultasi

20

28.6

28.6

94.3

5.7

5.7

100.0

70

100.0

100.0

Kelompok Jabatan
Fungsional
Total

Sumber: Data primer yang diolah


Dari tabel 4.14 dapat dilihat bahwa penempatan posisi aparat pajak
pada subbagian umum yaitu 5 responden atau 7,1%, seksi pengolahan
data dan informasi yaitu 13 responden atau 18,6%, seksi pelayanan
yaitu 10 responden atau 14,3%, seksi pemeriksaan yaitu 3 responden
atau 4,3%, seksi penagihan yaitu 6 responden atau 8,6%, seksi
ekstensifikasi perpajakan yaitu 9 responden atau 12,9%, seksi
pengawasan dan konsultasi yaitu 20 responden atau 28,6% dan pada
kelompok jabatan fungsional yaitu 4 responden atau 5,7%.
2. Analisis dan Pembahasan
Responden diberikan 50 pertanyaan dan 25 pertanyaan mewakili
pertanyaan variabel independen yaitu efektifitas penerapan teknologi
informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern dan 25 pertanyaan
mewakili pertanyaan variabel dependen yaitu kinerja Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan. Sedangkan pertanyaan

78

wawancara yang diberikan adalah bagian dari setiap butir pertanyaan yang
terdapat pada kuesioner.
Jumlah sampel pegawai pajak yang dapat menjadi instrumen penelitian
berjumlah 70 responden yaitu 75,27% dari populasi. Tidak terdapat
kuesioner yang penulis nyatakan tidak valid karena responden mengisi
seluruh butir pertanyaan dengan lengkap, hal itu dikarenakan penulis
melakukan penyebaran kuesioner secara langsung tanpa perantara dan
penulis ikut mendampingi responden dalam pengisian kuesioner tersebut.
Penyebaran kuesioner dilakukan selama tiga hari, tanggal 16, 17, 18
April 2008 dan kuesioner yang telah diisi lengkap oleh responden dapat
langsung penulis terima. Reponden akan mengisi kolom jawaban dengan
bobot penilaian, (sangat tidak setuju=1, tidak setuju=2, netral=3, setuju=4,
sangat setuju=5). Wawancara dilakukan pada tanggal 23 April 2008
kepada empat aparat pajak yakni, kepala seksi dan staf pengolahan data
dan informasi, staf seksi penagihan, serta staf seksi pelayanan hal itu
dilakukan sebagai bahan pendukung dari pembahasan hasil output
kuesioner yang akan dijelaskan.
Terdapat beberapa faktor yang mempunyai hubungan efektifitas
penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan
modern dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan. Berikut ini hasil dari output kuesioner yang diberikan
responden tentang penilaiannya terhadap efektifitas penerapan teknik

79

informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern dengan kinerja


Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan.
a. Efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi
perpajakan modern
Efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sitem administrasi
perpajakan modern menggunakan indikator: optimalisasi penerimaan
pajak, peningkatan kepatuhan sukarela yaitu melalui pemberian
pelayanan prima dan penegakan hukum yang konsisten, terbentuknya
citra yang baik dan kepercayaan masyarakat yang tinggi (sumber daya
manusia

profesional,

budaya

organisasi,

Good

Governance),

penerapan sistem dan administrasi yang handal dan pemanfaatan


teknologi tepat guna, optimalisasi pencegahan penggelapan pajak.
Tabel.4.15.
Penerapan SAPM meningkatkan penerimaan pajak

Valid

Sangat tidak setuju


Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
1
3
14
35
17

Percent
1.4
4.3
20.0
50.0
24.3

Valid Percent
1.4
4.3
20.0
50.0
24.3

70

100.0

100.0

Cumulative
Percent
1.4
5.7
25.7
75.7
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Bardasarkan tabel 4.15 dapat diketahui bahwa 1 responden
menyatakan sangat tidak setuju, 3 responden menyatakan tidak setuju,
14 responden menyatakan netral, 35 responden menyatakan setuju dan
17 responden menyatakan sangat setuju. Dari tabel tersebut
menggambarkan sebagian besar responden (50%) menyatakan setuju

80

bahwa

penerapan

sistem

administrasi

perpajakan

modern

meningkatkan penerimaan pajak.


Hal itu dikarenakan untuk penerimaan pajak pada setiap triwulan
mengalami peningkatan penerimaan pajak, meskipun penerimaan
pajak belum memenuhi target yang direncanakan.
Tabel.4.16.
Penerapan SAPM menghindari keterlambatan Wajib Pajak dalam pembayaran
pajaknya

Valid

Sangat tidak setuju


Tidak setuju

Frequency
4

Percent
5.7

Valid Percent
5.7

Cumulative
Percent
5.7

11.4

11.4

17.1

Netral

24

34.3

34.3

51.4

Setuju

29

41.4

41.4

92.9

7.1

7.1

100.0

70

100.0

100.0

Sangat setuju
Total

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.16 dapat diketahui bahwa 4 responden
menyatakan sangat tidak setuju, 8 responden menyatakan tidak setuju,
24 responden menyatakan netral, 29 responden menyatakan setuju dan
5 responden menyatakan sangat setuju, ini menggambarkan responden
(41,4%) memperoleh tingkat persentase tertinggi yang menyatakan
setuju bahwa penerapan sistem administrasi perpajakan modern
menghindari keterlambatan Wajib Pajak dalam pembayaran pajak.
Hal ini dikarenakan adanya surat himbauan pembayaran pajak
yang disampaikan secara online kepada Wajib Pajak sebelum jatuh
tempo, ini dimaksudkan agar tidak terjadi keterlambatan dalam
pembayaran pajak.

81

Tabel.4.17.
Penerapan SAPM meningkatkan kepatuhan dalam pembayaran pajak

Valid

Sangat tidak setuju

Frequency
2

Tidak setuju

Percent
2.9

Valid Percent
2.9

Cumulative
Percent
2.9

2.9

2.9

5.7

Netral

11

15.7

15.7

21.4

Setuju

45

64.3

64.3

85.7

Sangat setuju

10

14.3

14.3

100.0

Total

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.17 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan sangat tidak setuju, 2 responden menyatakan tidak setuju,
11 responden menyatakan netral, 45 responden menyatakan setuju dan
10 responden menyatakan sangat setuju. Dari tabel tersebut
menggambarkan sebagian besar responden (64,3%) menyatakan setuju
bahwa

penerapan

sistem

administrasi

perpajakan

modern

meningkatkan kepatuhan dalam pembayaran pajak.


Otomasi penagihan pajak melalui sistem administrasi perpajakan
modern sehingga prosedur pengawasan dan administrasi tunggakan
pajak dapat selalu

dilakukan, dibantu juga dengan

Representative yang memonitor

Account

kepatuhan untuk menghindari

pengenaan sanksi bagi Wajib Pajak.


Tabel.4.18.
Penerapan SAPM meningkatkan kesadaran dalam pembayaran pajak

Valid

Sangat tidak setuju


Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
2
2

Percent
2.9
2.9

Valid Percent
2.9
2.9

Cumulative
Percent
2.9
5.7

20

28.6

28.6

34.3

40
6

57.1
8.6

57.1
8.6

91.4
100.0

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah

82

Berdasarkan tabel 4.18 dapat diketahui bahwa 2 responden


menyatakan sangat tidak setuju, 2 responden menyatakan tidak setuju,
20 responden menyatakan netral, 40 responden menyatakan setuju dan
6 responden

menyatakan

sangat setuju.

Dari tabel tersebut

menggambarkan sebagian besar responden (57,1%) menyatakan setuju


bahwa

penerapan

sistem

administrasi

perpajakan

modern meningkatkan kesadaran dalam pembayaran pajak.


Peningkatan penerimaan pajak didukung dengan adanya kesadaran
Wajib Pajak dalam melakukan pembayaran pajak.
Tabel.4.19.
Dengan adanya penerapan SAPM Proses pemungutan pajak lebih cepat, tepat,
mudah dan akurat

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju

Frequency
3
21

Percent
4.3
30.0

Valid Percent
4.3
30.0

Cumulative
Percent
4.3
34.3

34

48.6

48.6

82.9

Sangat setuju

12

17.1

17.1

100.0

Total

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.19 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 21 responden menyatakan netral, 34
responden menyatakan setuju dan 12 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(48,6%) menyatakan setuju bahwa dengan adanya penerapan sistem
administrasi perpajakan modern, proses pemungutan pajak lebih cepat,
tepat, mudah, dan akurat.
Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) terintegrasi
dengan pendekatan fungsi dan prosedur administrasi yang telah diatur
83

dalam case management dan workflow system didukung e-system,


terutama e-payment, e-SPT, dan e-filing yang membantu kecepatan,
ketepatan, kemudahan dan keamanan proses

perekaman data

administrasi pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.


Tabel.4.20.
Diperlukan perbaikan mutu pelayanan secara berkesinambungan

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
1
1
43
25
70

Percent
1.4
1.4
61.4
35.7
100.0

Valid Percent
1.4
1.4
61.4
35.7
100.0

Cumulative
Percent
1.4
2.9
64.3
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.20 dapat diketahui bahwa 1 responden
menyatakan tidak setuju, 1 responden menyatakan netral, 43 responden
menyatakan setuju dan 25 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (61,4%)
menyatakan setuju bahwa masih diperlukan perbaikan mutu pelayanan
secara berkesinambungan.
Dalam rangka meningkatkan kepatuhan sukarela dan kesadaran
Wajib Pajak perbaikan mutu pelayanan merupakan hal yang mutlak
dilakukan, hal ini akan mendukung visi Direktorat Jenderal Pajak yaitu
menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem
dan manajemen perpajakan kelas dunia yang

dipercaya dan

dibanggakan oleh masyarakat.

84

Tabel.4.21.
Penerapan SAPM mendukung kecepatan administrasi pemenuhan kewajiban
perpajakan

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
4

Percent
5.7

Valid Percent
5.7

Cumulative
Percent
5.7

9
40

12.9
57.1

12.9
57.1

18.6
75.7
100.0

17

24.3

24.3

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.21 dapat diketahui bahwa 4 responden
menyatakan tidak setuju, 9 responden menyatakan netral, 40 responden
menyatakan setuju dan 17 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (57,1%)
menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi perpajakan
modern mendukung kecepatan administrasi pemenuhan kewajiban
perpajakan.
Hal ini karena proses administrasi dilakukan secara otomatis dan
online didukung e-system dengan sistem perpajakan yang sudah
terpasang dengan baik, sehingga proses adminstrasi berjalan dengan
cepat.
Tabel.4.22.
Teknologi informasi memudahkan Wajib Pajak dalam melakukan pemenuhan
kewajiban perpajakannya

Valid

Frequency
1

Percent
1.4

Valid Percent
1.4

Cumulative
Percent
1.4

Netral

12.9

12.9

14.3

Setuju

39

55.7

55.7

70.0

Sangat setuju

21

30.0

30.0

100.0

Total

70

100.0

100.0

Tidak setuju

Sumber: Data primer yang diolah

85

Berdasarkan tabel 4.22 dapat diketahui bahwa 1 responden


menyatakan tidak setuju, 9 responden menyatakan netral, 39 responden
menyatakan setuju dan 21 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (55,7%)
menyatakan setuju bahwa teknologi informasi memudahkan Wajib
Pajak dalam melakukan pemenuhan kewajiban perpajakannya.
Wajib Pajak dapat secara langsung melakukan pemenuhan
kewajiban perpajakannya dengan pelaporan dan pembayaran pajak
serta yang lainnya dengan menggunakan fasilitas yang telah disediakan
yaitu e-payment, e-SPT, e-filling, e-registration.
Tabel.4.23.
Penerapan SAPM memudahkan Wajib Pajak dalam memperoleh informasi yang
dibutuhkan

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
2
3

Percent
2.9
4.3

Valid Percent
2.9
4.3

Cumulative
Percent
2.9
7.1

48
17

68.6
24.3

68.6
24.3

75.7
100.0

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.23 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan tidak setuju, 3 responden menyatakan netral, 48 responden
menyatakan setuju dan 17 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (68,6%)
menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi perpajakan
modern memudahkan Wajib Pajak dalam memperoleh informasi yang
dibutuhkan.

86

Setiap aparat dilengkapi personal computer dan akses informasi


yang lebih cepat baik dalam lingkungan intern maupun kepada Wajib
Pajak dimana tiap terdapat perubahan ketentuan menyangkut Wajib
Pajak akan segera dikonsolidasikan secara internal, diinterpretasikan
dan selanjutnya segera diinformasikan kepada Wajib Pajak. Wajib
Pajak mempunyai alat dan mekanisme untuk mengakses informasi
yang diperlukan dari Direktorat Jenderal Pajak dengan membuka
website http//:www.pajak.go.id di internet kapanpun dan di manapun.
Tabel.4.24.
Penerapan SAPM memberikan pelayanan secara efisien baik dari segi waktu,
tenaga, maupun biaya

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
3

Percent
4.3

Valid Percent
4.3

Cumulative
Percent
4.3

11
44

15.7
62.9

15.7
62.9

20.0
82.9
100.0

12

17.1

17.1

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.24 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 11 responden menyatakan netral, 44
responden menyatakan setuju dan 12 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(62,9%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi
perpajakan modern memberikan pelayanan secara efisien baik dari segi
waktu, tenaga, maupun biaya.
Proses administrasi dilakukan secara otomatis dan online serta
sistem perpajakan yang sudah terpasang dengan baik, sehingga mampu
memberikan pelayanan secara efisien baik dari segi waktu, tenaga,
87

maupun biaya. Fungsi pelayanan dan pengawasan terhadap Wajib


Pajak lebih efektif karena dilakukan melalui mediator khusus yaitu
Account Representative.
Tabel.4.25.

Dengan adanya SAPM permasalahan yang dihadapi Wajib Pajak dapat


diselesaikan secara lebih cepat

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
3
23

Percent
4.3
32.9

Valid Percent
4.3
32.9

37
7
70

52.9
10.0
100.0

52.9
10.0
100.0

Cumulative
Percent
4.3
37.1
90.0
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.25 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 23 responden menyatakan netral, 37
responden menyatakan setuju dan 7 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(52,9%) menyatakan setuju bahwa dengan adanya sistem administrasi
perpajakan modern permasalahan yang dihadapi Wajib Pajak dapat
diselesaikan secara lebih cepat.
Permasalahan perpajakan Wajib Pajak dapat segera ditangani
melalui satu pintu yaitu Account Representative yang ditugaskan untuk
menjawab pertanyaan Wajib Pajak atas permasalahan perpajakan,
membantu penyelesaian restitusi, membantu dalam memperoleh
penegasan dan konfirmasi masalah perpajakan (rulling), melakukan
pemuktahiran data Wajib Pajak, menginformasikan perubahan
ketentuan perpajakan dan memonitor

kepatuhan dalam rangka

88

menghindari pengenaan sanksi bagi Wajib Pajak. (http//:www.taxoneinfo.com/moderenisasi_pajak.ppt).


Tabel.4.26.
Hak dan Kewajiban perpajakan Wajib Pajak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku

Valid

Sangat tidak setuju


Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
1
9

Percent
1.4
12.9

Valid Percent
1.4
12.9

41
19
70

58.6
27.1
100.0

58.6
27.1
100.0

Cumulative
Percent
1.4
14.3
72.9
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.26 dapat diketahui bahwa 1 responden
menyatakan sangat tidak setuju, 9 responden menyatakan netral, 41
responden menyatakan setuju dan 19 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(58,6%) menyatakan setuju bahwa Hak dan Kewajiban perpajakan
Wajib Pajak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Karena sudah ada Ketentuan Undang-undang dan Tata Cara
Perpajakan (KUP) yang berlaku dan didukung dengan Taxpayers
Account yang berfungsi untuk mencatat secara otomatis setiap
perubahan yang terjadi terhadap Hak dan Kewajiban Wajib Pajak
sebagai akibat dari pembayaran pajak, penetapan, keberatan, pemindah
bukuan, Surat Pemberitahuan (SPT) dan dokumen perpajakan lainnya
sehingga memudahkan

pengawasan atas Hak dan Kewajiban

perpajakan bagi masing-masing Wajib Pajak.

89

Tabel.4.27.
Menurut saya, budaya kerja yang optimal dapat memberikan pelayanan yang
maksimal

Valid

Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
6
37
27

Percent
8.6
52.9
38.6

Valid Percent
8.6
52.9
38.6

70

100.0

100.0

Cumulative
Percent
8.6
61.4
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.27 dapat diketahui bahwa 6 responden
menyatakan netral, 37 responden menyatakan setuju dan 27 responden
menyatakan sangat setuju, hal ini menggambarkan sebagian besar
responden (52,9%) menyatakan setuju bahwa budaya kerja yang
optimal dapat memberikan pelayanan yang maksimal.
Pegawai yang terlatih, sopan, berketrampilan tinggi dan penerapan
kode etik maupun totalitas tanpa pamrih dalam menjawab kebutuhan
para Wajib Pajak membuat dan mendorong Wajib Pajak secara aktif
memenuhi kewajiban perpajakan mereka, karena mereka memiliki
keyakinan akan integritas aparatur pajaknya. (http//:www.taxoneinfo.com/moderenisasi_pajak.ppt).
Tabel.4.28.
Dibutuhkan kinerja aparat pajak yang professional

Valid

Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Fr equency
2
28

Percent
2.9
40.0

Valid Percent
2.9
40.0

Cumulative
Percent
2.9
42.9
100.0

40

57.1

57.1

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.28 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan netral, 28 responden menyatakan setuju dan 40 responden

90

menyatakan sangat setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan


sebagian besar responden (57,1%) menyatakan sangat setuju bahwa
dibutuhkan kinerja aparat pajak yang profesional.
Dengan sumber daya manusia yang profesional diharapkan akan
tercipta prinsip Good Corporate Governance sesuai dengan program
Direktorat jenderal Pajak.
Tabel.4.29.
Dibutuhkan adanya suatu peningkatan (optimalisasi) pelayanan kepada Wajib
Pajak

Valid

Netral

Frequency
4

Percent
5.7

Valid Percent
5.7

Cumulative
Percent
5.7

Setuju

39

55.7

55.7

61.4

Sangat setuju

27

38.6

38.6

100.0

Total

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.29 dapat diketahui bahwa 4 responden
menyatakan netral, 39 responden menyatakan setuju dan 27 responden
menyatakan sangat setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan
sebagian besar responden (55,7%)

menyatakan setuju

bahwa

dibutuhkan adanya suatu peningkatan pelayanan kepada Wajib Pajak.


Peningkatan pelayanan telah menjadi kata kunci (keyword) bagi
aparat pajak karena kualitas pelayanan dapat mendukung kepatuhan
Wajib Pajak.
Tabel.4.30.
Dibutuhkan tingkat kompetensi tinggi pada setiap aparat pajak

Valid

Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
5
40
25
70

Percent
7.1
57.1
35.7
100.0

Valid Percent
7.1
57.1
35.7
100.0

Cumulative
Percent
7.1
64.3
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


91

Berdasarkan tabel 4.30 dapat diketahui bahwa 5 responden


menyatakan netral, 40 responden menyatakan setuju dan 25 responden
menyatakan sangat setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan
sebagian besar responden (57,1%)

menyatakan setuju

bahwa

dibutuhkan tingkat kompetensi tinggi pada setiap aparat pajak.


Aparat yang bekerja secara profesional dengan kompetensi tinggi
yang disertai kompensasi yang memadai membuat semua kegiatan
pelayanan mulai dari penyuluhan, pembinaan, dan pengawasan Wajib
Pajak lebih terarah dan terukur.
Tabel.4.31.
Dengan adanya penerapan SAPM data Wajib Pajak tersimpan secara akurat

Valid

Sangat tidak setuju


Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
1
1
11
41

Percent
1.4
1.4
15.7
58.6

Valid Percent
1.4
1.4
15.7
58.6

16
70

22.9
100.0

22.9
100.0

Cumulative
Percent
1.4
2.9
18.6
77.1
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.31 dapat diketahui bahwa 1 responden
menyatakan sangat tidak setuju, 1 responden menyatakan tidak setuju,
11 responden menyatakan netral, 41 responden menyatakan setuju dan
16 responden menyatakan sangat setuju. Dari tabel tersebut
menggambarkan sebagian besar responden (58,6%) menyatakan setuju
bahwa dengan adanya penerapan sistem administrasi perpajakan
modern data Wajib Pajak tersimpan secara akurat.
Dengan adanya ststem administrasi perpajakan modern aparat
pajak dapat meyakinkan Wajib Pajak terhadap keamanan sistem yang
92

menyangkut kerahasiaan data Wajib Pajak serta penghindaran


duplikasi data Wajib Pajak dan dukungan Sistem Manajemen Arsip
Terpadu (SMArt) yang dapat diandalkan.
Tabel.4.32.
Penerapan SAPM mampu meningkatkan kualitas administrasi perpajakan

Valid

Tidak setuju
Netral

Frequency
1

Percent
1.4

Valid Percent
1.4

Cumulative
Percent
1.4
15.7

10

14.3

14.3

Setuju
Sangat setuju

42

60.0

60.0

75.7

17

24.3

24.3

100.0

Total

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.32 dapat diketahui bahwa 1 responden
menyatakan tidak setuju, 10 responden menyatakan netral, 42
responden menyatakan setuju dan 17 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(60,0%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi
perpajakan modern mampu meningkatkan kualitas administrasi
perpajakan.
Penerapan sistem administrasi perpajakan modern membawa
konsekuensi terjadinya perubahan yang mendasar baik menyangkut
struktur organisasi maupun paradigma pelayanan kepada Wajib Pajak.
Berbagai fasilitas untuk kemudahan dan kenyamanan pelayanan
kepada Wajib Pajak dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan
perkembangan dan kemajuan teknologi informasi.

93

Tabel.4.33.
Penerapan SAPM dapat menurunkan cost of compliance

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
3

Percent
4.3

Valid Percent
4.3

Cumulative
Percent
4.3

25
37
5

35.7
52.9
7.1

35.7
52.9
7.1

40.0
92.9
100.0

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.33 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 25 responden menyatakan netral, 37
responden menyatakan setuju dan 5 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(52,9%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi
perpajakan modern dapat menurunkan cost of compliance.
Dukungan teknologi informasi mempercepat proses pelayanan dan
pemeriksaan dimana basis data dikembangkan dalam jaringan online
memungkinkan kecepatan akses informasi juga pelayanan pelaporan
Surat Pemberitahuan (SPT) dan pembayaran pajak secara online
mengurangi administrative cost dan compliance cost.
Tabel.4.34.
Dengan adanya penerapan SAPM menciptakan proses perpajakan yang tidak
birokratis

Valid

Frequency
2
4

Percent
2.9
5.7

Valid Percent
2.9
5.7

Cumulative
Percent
2.9
8.6

Netral

23

32.9

32.9

41.4

Setuju

36
5

51.4
7.1

51.4
7.1

92.9
100.0

70

100.0

100.0

Sangat tidak setuju


Tidak setuju

Sangat setuju
Total

Sumber: Data primer yang diolah

94

Berdasarkan tabel 4.34 dapat diketahui bahwa 2 responden


menyatakan sangat tidak setuju, 4 responden menyatakan tidak setuju,
23 responden menyatakan netral, 36 responden menyatakan setuju dan
5 responden

menyatakan

sangat

setuju. Dari

tabel tersebut

menggambarkan sebagian besar responden (51,4%) menyatakan setuju


bahwa dengan adanya penerapan sistem administrasi perpajakan
modern menciptakan proses perpajakan yang tidak birokratis.
Proses pelaksanaan pekerjaan baik untuk pelayanan, pengawasan,
maupun pemeriksaan menjadi lebih efisien dan mengurangi birokrasi
sehingga cost of compliance relatif lebih rendah. Bagi Wajib Pajak,
setiap Wajib Pajak memiliki Account Representative khusus yang
menangani langsung pelayanan kepada Wajib Pajak, sehingga Wajib
Pajak tidak

perlu

melalui

proses

yang

berbelit-belit

dalam

menyelesaikan perpajakannya.
Tabel.4.35.
Penerapan SAPM menghasilkan informasi perpajakan yang akurat

Valid

Frequency
Tidak setuju
3
Netral
13
Setuju
44
Sangat setuju
10
Total
70

Percent Valid Percent


4.3
4.3
18.6
18.6
62.9
62.9
14.3
14.3
100.0
100.0

Cumulative
Percent
4.3
22.9
85.7
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.35 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 13 responden menyatakan netral, 44
responden menyatakan setuju dan 10 responden menyatakan sangat
setuju. Ini menggambarkan sebagian besar responden (62,9%)
95

menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi perpajakan


modern menghasilkan informasi perpajakan yang akurat.
Setiap aparat dilengkapi personal computer dan akses informasi
yang lebih cepat baik dalam lingkungan intern maupun kepada Wajib
Pajak dimana tiap terdapat perubahan ketentuan menyangkut Wajib
Pajak akan segera dikonsolidasikan secara internal, diinterpretasikan
dan selanjutnya segera diinformasikan kepada Wajib Pajak.
Tabel.4.36.
Pemanfaatan teknologi informasi mampu mendukung program transparansi dan
keterbukaan

Valid

Frequency
2

Percent
2.9

Valid Percent
2.9

Cumulative
Percent
2.9

Netral

12.9

12.9

15.7

Setuju

39

55.7

55.7

71.4

Sangat setuju

20

28.6

28.6

100.0

Total

70

100.0

100.0

Sangat tidak setuju

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.36 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan sangat tidak setuju, 9 responden menyatakan netral, 39
responden menyatakan setuju dan 20 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(55,7%) menyatakan setuju bahwa pemanfaatan teknologi informasi
mampu mendukung program transparansi dan keterbukaan.
Seluruh kegiatan administrasi dilaksanakan melalui Sistem
Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) sehingga bisa terintegrasi
dengan fungsi-fungsi lainnya dan mudah dimonitor secara transparan.

96

Tabel.4.37.
Dengan adanya teknologi informasi perpajakan memungkinkan tidak terjadinya KKN

Valid

Sangat tidak setuju


Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
3
4
24
31
8

Percent
4.3
5.7
34.3
44.3
11.4

Valid Percent
4.3
5.7
34.3
44.3
11.4

70

100.0

100.0

Cumulative
Percent
4.3
10.0
44.3
88.6
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.37 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan sangat tidak setuju, 4 responden menyatakan tidak setuju,
24 responden menyatakan netral, 31 responden menyatakan setuju dan
8 responden

menyatakan

sangat setuju.

Dari

tabel tersebut

menggambarkan sebagian besar responden (44,3%) menyatakan setuju


bahwa dengan adanya teknologi informasi perpajakan memungkinkan
tidak terjadinya KKN.
Pemanfaatan teknologi informasi secara tepat mampu mendukung
program transparansi dan keterbukaan karena seluruh kegiatan
administrasi dilakukan secara online melalui media komputer sehingga
sehingga secara otomatis data yang ada tidak bisa dimanipulasi.
Penerapan sistem administrasi perpajakan modern bertujuan untuk
menciptakan kinerja yang lebih baik berdasarkan fungsi dan juga
untuk mengurangi interaksi sehingga kemungkinan terjadinya korupsi
akan menurun, selain itu aparat pajak juga tidak pusing lagi untuk
memenuhi kebutuhan hidup pokoknya, dikarenakan mendapatkan
Tunjangan Khusus (TKT) yang sangat memadai hal itu bertujuan
untuk menghilangkan tindakan KKN.

97

Tabel.4.38.
Dengan adanya teknologi informasi perpajakan mencegah terjadinya
penyalahgunaan kekuasaan

Valid

Sangat tidak setuju

Frequency
3

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Percent
4.3

Valid Percent
4.3

Cumulative
Percent
4.3

2.9

2.9

7.1

16
42

22.9
60.0

22.9
60.0

30.0
90.0
100.0

10.0

10.0

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.38 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan sangat tidak setuju, 2 responden menyatakan tidak setuju,
16 responden menyatakan netral, 42 responden menyatakan setuju dan
7 responden

menyatakan

sangat setuju.

Dari

tabel tersebut

menggambarkan sebagian besar responden (60,0%) menyatakan setuju


bahwa dengan adanya teknologi informasi perpajakan mencegah
terjadinya penyalahgunaan kekuasaan.
Setiap aparat pajak memiliki password sendiri untuk menyimpan
data-data yang dimiliki, serta setiap bagian sudah memiliki job
description masing sehingga keamanan data benar-benar terjaga
sehingga mencegah terjadinya manipulasi data dan penyalahgunaan
kekuasaan. Seluruh prosedur kerja diakomodir dalam workflow dan
case management system sehingga bisa terintegrasi dengan fungsifungsi lainnya dan mudah dimonitor secara transparan.

98

Tabel.4.39.
Penerapan SAPM menghindarkan terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh aparat
perpajakan

Valid

Frequency
4

Sangat tidak setuju


Tidak setuju

Percent
5.7

Valid Percent
5.7

Cumulative
Percent
5.7

2.9

2.9

8.6

Netral

12

17.1

17.1

25.7

Setuju

45

64.3

64.3

90.0

10.0

10.0

100.0

70

100.0

100.0

Sangat setuju
Total

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.39 dapat diketahui bahwa 4 responden
menyatakan sangat tidak setuju, 2 responden menyatakan tidak setuju,
12 responden menyatakan netral, 45 responden menyatakan setuju dan
7 responden

menyatakan

sangat setuju.

Dari tabel tersebut

menggambarkan sebagian besar responden (64,3%) menyatakan setuju


bahwa

penerapan

sistem

administrasi

perpajakan

modern menghindarkan terjadinya penyalahgunaan wewenang


oleh aparat perpajakan.
Seluruh prosedur kerja diakomodir dalam workflow dan case
management system sehingga bisa terintegrasi dengan fungsi-fungsi
lainnya dan mudah dimonitor secara transparan.
b. Kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol Petamburan
Kinerja Kantor
Petamburan

Pelayanan Pajak Pratama

mengunakan

indikator:

Jakarta Grogol

pengetahuan aparat

pajak

mengenai penerapan sistem administrasi perpajakan modern yang telah


ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, keterampilan yang
dihasilkan oleh aparat pajak dengan adanya penerapan sistem

99

administrasi perpajakan modern dan sikap aparat pajak yang dapat


mencerminkan prinsip Good Corporate Governance dalam sistem
administrasi perpajakan modern.
Tabel.4.40.
Saya telah mengetahui tentang reformasi SAPM

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
1
6
48
15
70

Percent
1.4
8.6
68.6
21.4
100.0

Valid Percent
1.4
8.6
68.6
21.4
100.0

Cumulative
Percent
1.4
10.0
78.6
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.40 dapat diketahui bahwa 1 responden
menyatakan tidak setuju, 6 responden menyatakan netral, 48 responden
menyatakan setuju dan 15 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (68,6%)
menyatakan setuju bahwa aparat pajak telah mengetahui tentang
reformasi sistem administrasi perpajakan modern.
Sistem administrasi perpajakan modern ini merupakan bagian dari
tahapan reformasi administrasi perpajakan yang telah dicanangkan
oleh Direktorat Jenderal Pajak dan merupakan keputusan Menteri
Keuangan Republik Indonesia.
Tabel.4.41.
Saya memahami pengoperasian SAPM

Valid

Frequency
1

Percent
1.4

Valid Percent
1.4

Cumulative
Percent
1.4

Setuju

19
41

27.1
58.6

27.1
58.6

28.6
87.1

Sangat setuju
Total

9
70

12.9
100.0

12.9
100.0

100.0

Tidak setuju
Netral

Sumber: Data primer yang diolah


100

Berdasarkan tabel 4.41 diketahui bahwa 1 responden menyatakan


tidak setuju, 19 responden menyatakan netral, 41 responden
menyatakan setuju dan 9 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (58,6%)
menyatakan setuju bahwa aparat pajak memahami pengoperasian
sistem administrasi perpajakan modern.
Pemahaman pengoperasian sistem administrasi perpajakan modern
pada aparat pajak dapat membantu keberhasilan dan peningkatan
reformasi

administrasi

perpajakan

dan pada

gilirannya

akan

mendukung visi Direktorat Jenderal Pajak yaitu menjadi model


pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan manajemen
perpajakan kelas dunia yang dipercaya dan dibanggakan oleh
masyarakat.
Tabel.4.42.

Penerapan SAPM telah membantu saya dalam melaksanakan tugas sebagai


aparat pajak

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
2
6
48
14
70

Percent
2.9
8.6
68.6
20.0
100.0

Valid Percent
2.9
8.6
68.6
20.0
100.0

Cumulative
Percent
2.9
11.4
80.0
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.42 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan tidak setuju, 6 responden menyatakan netral, 48 responden
menyatakan setuju dan 14 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (68,6%)
menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi perpajakan
101

modern telah membantu aparat pajak dalam melaksanakan tugas


sebagai aparat pajak.
Penerimaan pembayaran pajak dimonitor lebih cepat dan lebih
akurat, teknologi informasi dalam sistem adminstrasi perpajakan
modern mempercepat pengolahan data, memelihara akurasi data, serta
meningkatkan efektifitas pengawasan kewajiban perpajakan Wajib
Pajak. (http//:www.taxone-info.com/moderenisasi_pajak.ppt).
Tabel.4.43.
Menurut saya dengan adanya pemahaman SAPM, saya dapat memberikan
informasi yang dibutuhkan oleh Wajib Pajak dengan mudah, cepat dan akurat

Valid

Frequency
3

Percent
4.3

Valid Percent
4.3

Cumulative
Percent
4.3

Netral

16

22.9

22.9

27.1

Setuju

39

55.7

55.7

82.9

Sangat setuju

12

17.1

17.1

100.0

Total

70

100.0

100.0

Tidak setuju

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.43 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 16 responden menyatakan netral, 39
responden menyatakan setuju dan 12 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(55,7%) menyatakan setuju bahwa dengan adanya pemahaman sistem
administrasi perpajakan modern, aparat pajak dapat memberikan
informasi yang dibutuhkan oleh Wajib Pajak dengan mudah, cepat dan
akurat.
Aparat pajak mampu menjawab pertanyaan Wajib Pajak atas
permasalahan perpajakan secara jelas dan akurat dengan adanya
pemahaman dalam sistem administrasi perpajakan modern yang
102

dimiliki serta penanganan atas berbagai aspek perpajakan akan


menjadi lebih cepat dan dapat dimonitor.
Tabel.4.44.
Saya telah memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dalam mengoperasikan
SAPM

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
3

Percent
4.3

Valid Percent
4.3

Cumulative
Percent
4.3

38

54.3

54.3

58.6

26

37.1

37.1

95.7

4.3

4.3

100.0

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.44 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 38 responden menyatakan netral, 26
responden menyatakan setuju dan 3 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(54,3%) menyatakan netral bahwa aparat pajak telah memiliki tingkat
pengetahuan yang tinggi dalam mengoperasikan sistem administrasi
perpajakan modern.
Aparat pajak pada masing-masing bagian masih membutuhkan
pelatihan sistem administrasi perpajakan modern lebih banyak lagi
guna mengoptimalkan tingkat pengetahuan dan keahlian dalam
mengoperasikan sistem administrasi perpajakan modern.
Tabel.4.45.
Menurut saya pelatihan SAPM perlu dilakukan untuk mengoptimalkan kinerja
aparat pajak

Valid

Netral

Frequency
4

Percent
5.7

Valid Percent
5.7

Cumulative
Percent
5.7

Setuju

37

52.9

52.9

58.6

Sangat setuju

29

41.4

41.4

100.0

Total

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


103

Berdasarkan tabel 4.45 dapat diketahui bahwa 4 responden


menyatakan netral, 37 responden menyatakan setuju dan 29 responden
menyatakan sangat setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan
sebagian besar responden (52,9%) menyatakan setuju bahwa pelatihan
sistem administrasi perpajakan modern perlu dilakukan untuk
mengoptimalkan kinerja aparat pajak.
Supaya dapat memperoleh hasil kerja yang sesuai dengan
keinginan dan kebutuhan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta
Grogol Petamburan maka perlu diadakan pelatihan bagi pegawai,
dengan pelatihan mereka dapat berkembang mendapatkan pengetahuan
dan keahlian sehingga kualitas pegawai menjadi lebih baik.
Tabel.4.46.

Penerapan SAPM dalam teknologi informasi perlu disosialisasikan melalui


semua KPP yang telah menerapkan, agar Wajib Pajak memahami kemudahan
yang diberikan.

Valid

Cumulative
Percent
8.6

Netral

Frequency
6

Percent
8.6

Valid Percent
8.6

Setuju

45

64.3

64.3

72.9

Sangat setuju
Total

19
70

27.1
100.0

27.1
100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.46 dapat diketahui bahwa 6 responden
menyatakan netral, 45 responden menyatakan setuju dan 19 responden
menyatakan sangat setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan
sebagian besar responden (64,3%)

menyatakan setuju

bahwa

penerapan sistem administrasi perpajakan modern dalam teknologi


informasi perlu disosialisasikan melalui semua Kantor Pelayanan

104

Pajak yang telah menerapkan, agar Wajib Pajak memahami


kemudahan yang diberikan.
Sosialisasi mengenai penerapan teknologi informasi dalam sistem
administrasi

perpajakan

modern

harus

disosialisasikan

guna

mendukung kepatuhan, kesadaran serta kepuasan Wajib Pajak.


Tabel.4.47.
Menurut saya, perlu adanya penyempurnaan program dalam SAPM dalam
rangka meningkatkan keterampilan saya

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
1
7
45
17
70

Percent
1.4
10.0
64.3
24.3
100.0

Valid Percent
1.4
10.0
64.3
24.3
100.0

Cumulative
Percent
1.4
11.4
75.7
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.47 dapat diketahui bahwa 1 responden
menyatakan tidak setuju, 7 responden menyatakan netral, 45 responden
menyatakan setuju dan 17 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (64,3%)
menyatakan setuju bahwa perlu adanya penyempurnaan program
dalam

sistem administrasi

perpajakan

modern dalam rangka

meningkatkan keterampilan aparat pajak.


Penyempurnaan program dalam sistem administrasi perpajakan
modern akan terus dilakukan guna mendukung visi Direktorat Jenderal
Pajak

yaitu

menjadi

model

pelayanan

masyarakat

yang

menyelenggarakan sistem dan manajemen perpajakan kelas dunia yang


dipercaya dan dibanggakan masyarakat.

105

Tabel.4.48.
Menurut saya, penerapan SAPM mempermudah pekerjaan aparat pajak

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
2
13
45
10
70

Percent
2.9
18.6
64.3
14.3
100.0

Valid Percent
2.9
18.6
64.3
14.3
100.0

Cumulative
Percent
2.9
21.4
85.7
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Pada tabel 4.48 dapat diketahui bahwa 2 responden menyatakan
tidak setuju, 13 responden menyatakan netral, 45 responden
menyatakan setuju dan 10 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (64,3%)
menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi perpajakan
modern mempermudah pekerjaan aparat pajak.
Proses administrasi dilakukan secara otomatis dan online serta
sistem perpajakan yang sudah terpasang dengan baik, sehingga
mempermudah pekerjaan aparat pajak.
Tabel.4.49.
Penerapan SAPM membantu aparat pajak menyelesaikan pekerjaan dengan
cepat

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
3
14
39
14

Percent
4.3
20.0
55.7
20.0

Valid Percent
4.3
20.0
55.7
20.0

70

100.0

100.0

Cumulative
Percent
4.3
24.3
80.0
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.49 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 14 responden menyatakan netral, 39
responden menyatakan setuju dan 14 responden menyatakan sangat

106

setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden


(55,7%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi
perpajakan modern membantu aparat pajak menyelesaikan pekerjaan
dengan cepat.
Proses administrasi dilakukan secara otomatis dan online serta
sistem perpajakan yang sudah terpasang dengan baik, sehingga proses
administrasi berjalan dengan cepat. Sistem administrasi perpajakan
modern di dalamnya terdapat Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu
(SAPT) yang dikendalikan oleh manajemen kasus (case management
system) dalam sistem pemantauan proses administrasi perpajakan
(workflow system)
pengawasan

internal

yang

mampu menciptakan

yang

lebih

efektif

tambahan

dan

alat

meningkatkan

produktivitas serta ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan.


Tabel.4.50.
Penerapan SAPM meneliti kompetensi yang baik, sehingga dapat menunjukkan
kinerja yang baik dalam melaksanakan tugas sehari-hari

Valid

Tidak setuju
Netral

Frequency
2
15

Percent
2.9
21.4

Valid Percent
2.9
21.4

Cumulative
Percent
2.9
24.3

Setuju

42

60.0

60.0

84.3

Sangat setuju

11

15.7

15.7

100.0

Total

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.50 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan tidak setuju, 15 responden menyatakan netral, 42
responden menyatakan setuju dan 11 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(60,0%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi
107

perpajakan modern meneliti kompetensi yang baik, sehingga dapat


menunjukkan kinerja yang baik dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
Aparat pajak dituntut untuk memiliki kompetensi yang baik
sehingga dapat menunjukkan kinerja yang baik dalam melaksanakan
tugas

sehari-hari. Keberhasilan sebuah organisasi/instansi harus

mengacu kepada kompetensi para karyawannya

yang meliputi,

diantaranya, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang bermuara


kepada lahirnya kinerja yang baik. (http://www.sinarharapan.co.id).
Tabel.4.51.
Dengan keterampilan yang saya miliki dalam pengoperasian SAPM membantu
Ditjen pajak untuk terus memenuhi tuntutan perkembangan zaman

Valid

Frequency
2

Percent
2.9

Valid Percent
2.9

Cumulative
Percent
2.9

Netral

10.0

10.0

12.9

Setuju

44

62.9

62.9

75.7

Sangat setuju

17

24.3

24.3

100.0

Total

70

100.0

100.0

Tidak setuju

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.51 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan tidak setuju, 7 responden menyatakan netral, 44 responden
menyatakan setuju dan 17 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (62,9%)
menyatakan setuju bahwa dengan keterampilan yang dimiliki aparat
pajak dalam pengoperasian sistem administrasi perpajakan modern
membantu Direktorat Jenderal Pajak untuk terus memenuhi tuntutan
perkembangan zaman.

108

Dengan sistem administrasi perpajakan modern, didukung dengan


sumber daya manusia yang profesional dan berkualitas diharapkan
akan tercipta prinsip Good Corporate Governance.
Tabel.4.52.
Kecanggihan teknologi informasi dalam SAPM akan memperoleh manfaat yang
lebih besar bila aparat yang mengoperasikan memiliki kemampuan dan
keterampilan yang paripurna

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
3
9
36
22
70

Percent
4.3
12.9
51.4
31.4
100.0

Valid Percent
4.3
12.9
51.4
31.4
100.0

Cumulative
Percent
4.3
17.1
68.6
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.52 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 9 responden menyatakan netral, 36 responden
menyatakan setuju dan 22 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (51,4%)
menyatakan setuju bahwa kecanggihan teknologi informasi dalam
sistem administrasi perpajakan modern akan memperoleh manfaat
yang lebih besar bila aparat yang mengoperasikan memiliki
kemampuan dan keterampilan yang paripurna.
Penggunaan teknologi canggih yang serba komputer tidak akan
banyak memberi manfaat bagi organisasi, bila tidak didukung oleh
ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas.

Kecanggihan

peralatan akan dapat memberi manfaat yang besar bila aparat pajak
yang

mengoperasikannya

juga

mempunyai

kemampuan

dan

keterampilan yang paripurna.

109

Tabel.4.53.

Penerapan SAPM meningkatkan keahlian dan kualitas dalam bekerja

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
3
12
42
13
70

Percent
4.3
17.1
60.0
18.6
100.0

Valid Percent
4.3
17.1
60.0
18.6
100.0

Cumulative
Percent
4.3
21.4
81.4
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.53 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 12 responden menyatakan netral, 42
responden menyatakan setuju dan 13 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(60,0%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi
perpajakan modern meningkatkan keahlian dan kualitas dalam bekerja.
Penerapan sistem administrasi perpajakan modern tidak hanya
menambah pengetahuan akan tetapi juga meningkatkan keahlian
bekerja sehingga kualitas aparat pajak menjadi lebih baik.
Tabel.4.54.
Penerapan SAPM akan berjalan dengan efektif, didukung adanya aparat pajak
yang terlatih dan berketerampilan tinggi

Valid

Tidak setuju

Frequency
2

Percent
2.9

Valid Percent
2.9

Cumulative
Percent
2.9

Netral

4.3

4.3

7.1

Setuju

40

57.1

57.1

64.3

Sangat setuju

25

35.7

35.7

100.0

Total

70

100.0

100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.54 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan tidak setuju, 3 responden menyatakan netral, 40 responden
menyatakan setuju dan 25 responden menyatakan sangat setuju. Ini

110

menggambarkan sebagian besar responden (57,1%) menyatakan setuju


bahwa penerapan sistem administrasi perpajakan modern akan berjalan
dengan efektif, didukung adanya aparat pajak yang terlatih dan
berketerampilan tinggi.
Aparat pajak yang terlatih dan berketerampilan tinggi mampu
memberikan keyakinan kepada Wajib Pajak akan integritas aparatur
pajak sehingga Wajib pajak akan secara aktif memenuhi kewajiban
perpajakannya.
Tabel.4.55.
Dengan adanya penerapan SAPM saya bisa meminimalisisr tingkat kesalahan
yang terjadi.

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
1
16
44
9
70

Percent
1.4
22.9
62.9
12.9
100.0

Valid Percent
1.4
22.9
62.9
12.9
100.0

Cumulative
Percent
1.4
24.3
87.1
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.55 dapat diketahui bahwa 1 responden
menyatakan tidak setuju, 16 responden menyatakan netral, 44
responden menyatakan setuju dan 9 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(62,9%) menyatakan setuju bahwa dengan adanya penerapan sistem
administrasi perpajakan modern aparat pajak dapat meminimalisir
tingkat kesalahan yang terjadi.
Proses administrasi dilakukan secara otomatis dan online serta
sistem perpajakan yang sudah terpasang dengan baik, sehingga dapat
meminimalisir tingkat kesalahan yang terjadi.
111

Tabel.4.56.
Penerapan SAPM meningkatkan kecepatan dalam penyelesaian pekerjaan
aparat pajak

Valid

Frequency
2

Percent
2.9

Valid Percent
2.9

Cumulative
Percent
2.9

Netral

15

21.4

21.4

24.3

Setuju

42

60.0

60.0

84.3

Sangat setuju
Total

11

15.7

15.7

100.0

70

100.0

100.0

Tidak setuju

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.56 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan tidak setuju, 15 responden menyatakan netral, 42
responden menyatakan setuju dan 11 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(60,0%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi
perpajakan modern meningkatkan kecepatan dalam penyelesaian
pekerjaan aparat pajak.
Sistem administrasi perpajakan modern di dalamnya terdapat
Sistem Administrasi

Perpajakan Terpadu (SAPT) yang akan

menciptakan tambahan alat pengawasan internal yang lebih efektif dan


meningkatkan produktifitas serta ketepatan waktu penyelesaian
pekerjaan.
Tabel.4.57.
Pemanfaatan teknologi informasi dalam SAPM, mampu memberikan pelayanan
lebih cepat

Valid

Frequency
2

Percent
2.9

Valid Percent
2.9

Cumulative
Percent
2.9

Netral

16

22.9

22.9

25.7

Setuju

41

58.6

58.6

84.3

Sangat setuju

11

15.7

15.7

100.0

Total

70

100.0

100.0

Tidak setuju

Sumber: Data primer yang diolah

112

Berdasarkan tabel 4.57 dapat diketahui bahwa 2 responden


menyatakan tidak setuju, 16 responden menyatakan netral, 41
responden menyatakan setuju dan 11 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(58,6%) menyatakan setuju bahwa pemanfaatan teknologi informasi
dalam sistem administrasi perpajakan modern, mampu memberikan
pelayanan lebih cepat.
Proses administrasi dilakukan secara otomatis dan online serta
sistem perpajakan yang sudah terpasang dengan baik, sehingga mampu
memberikan pelayanan lebih cepat. Fungsi pelayanan dan pengawasan
terhadap Wajib Pajak lebih efektif karena dilakukan melalui mediator
khusus yaitu Account Representative.
Tabel.4.58.
Dengan adanya penerapan SAPM, Ditjen Pajak telah memiliki SDM yang
profesional

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
3
23
41
3
70

Percent
4.3
32.9
58.6
4.3
100.0

Valid Percent
4.3
32.9
58.6
4.3
100.0

Cumulative
Percent
4.3
37.1
95.7
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.58 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 23 responden menyatakan netral, 41
responden menyatakan setuju dan 3 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(58,6%) menyatakan setuju bahwa dengan adanya penerapan sistem

113

administrasi perpajakan modern, Direktorat Jenderal Pajak telah


memiliki sumber daya manusia yang profesional.
Sistem administrasi perpajakan modern yang didukung dengan
sumber daya manusia yang profesional dan berkualitas serta
mempunyai kode etik kerja diharapkan akan tercipta prinsip Good
Corporate Governance yang dilandasi transparansi, akuntabel,
responsif, independen dan adil.
Tabel.4.59.

Penerapan SAPM meminimalisir adanya kecurangan dalam perpajakan

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
2
21
39
8
70

Percent
2.9
30.0
55.7
11.4
100.0

Valid Percent
2.9
30.0
55.7
11.4
100.0

Cumulative
Percent
2.9
32.9
88.6
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.59 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan tidak setuju, 21 responden menyatakan netral, 39
responden menyatakan setuju dan 8 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(55,7%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi
perpajakan

modern

meminimalisir

adanya

kecurangan

dalam

perpajakan.
Penunjukkan Account Representative yang bertanggung jawab
secara khusus melayani dan mengawasi Wajib Pajak dengan
mengembangkan konsep pelayanan satu pintu sehingga mengurangi

114

persinggungan antara Wajib Pajak dengan aparat pajak yang


kemungkinan dapat menimbulkan ekses negatif.
Tabel.4.60.
Penerapan SAPM akan berjalan dengan efektif, didukung adanya aparat pajak
yang sopan dan menerapkan kode etik

Valid

Netral
Setuju
Sangat setuju
Total

Frequency
5
44
21
70

Percent
7.1
62.9
30.0
100.0

Valid Percent
7.1
62.9
30.0
100.0

Cumulative
Percent
7.1
70.0
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.60 diketahui bahwa 5 responden menyatakan
netral, 44 responden menyatakan setuju dan 21 responden menyatakan
sangat setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar
responden (62,9%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem
administrasi perpajakan modern akan berjalan dengan efektif,
didukung adanya pegawai yang sopan dan menerapkan kode etik.
Pegawai yang terlatih,

sopan,

berketerampilan tinggi dan

penerapan kode etik akan membuat dan mendorong Wajib Pajak


secara aktif memenuhi kewajiban Perpajakan mereka, karena mereka
memiliki keyakinan akan integritas aparatur pajaknya, hal tersebut
mampu mendukung terciptanya prinsip Good Corporate Governance.
Tabel.4.61.
Perubahan pelayanan dalam penerapan teknologi informasi SAPM memberikan
motivasi dan semangat kerja

Valid

Frequency
3

Percent
4.3

Valid Percent
4.3

Cumulative
Percent
4.3

Netral

14

20.0

20.0

24.3

Setuju

41

58.6

58.6

82.9

Sangat setuju

12

17.1

17.1

100.0

Total

70

100.0

100.0

Tidak setuju

Sumber: Data primer yang diolah


115

Berdasarkan tabel 4.61 dapat diketahui bahwa 3 responden


menyatakan tidak setuju, 14 responden menyatakan netral, 41
responden menyatakan setuju dan 12 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(58,6%) menyatakan setuju bahwa perubahan pelayanan dalam
penerapan teknologi informasi sistem administrasi perpajakan modern
memberikan motivasi dan semangat kerja.
Proses administrasi dilakukan secara otomatis dan online serta
sistem perpajakan yang sudah terpasang dengan baik, sehingga proses
adminstrasi berjalan dengan mudah dan cepat serta menghindari
pekerjaan yang berulang-ulang, hal itu mampu memberikan motivasi
dan semangat kerja.
Tabel.4.62.

Menurut saya, penerapan SAPM melahirkan organisasi yang lebih terbuka dan
transparan

Valid

Frequency
2

Percent
2.9

Valid Percent
2.9

Cumulative
Percent
2.9

Netral

14

20.0

20.0

22.9

Setuju

42
12

60.0
17.1

60.0
17.1

82.9
100.0

70

100.0

100.0

Tidak setuju

Sangat setuju
Total

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.62 dapat diketahui bahwa 2 responden
menyatakan tidak setuju, 14 responden menyatakan netral, 42
responden menyatakan setuju dan 12 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(60,0%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi

116

perpajakan modern melahirkan organisasi yang lebih terbuka dan


transparan.
Seluruh prosedur kerja diakomodir dalam workflow dan case
management system sehingga bisa terintegrasi dengan fungsi-fungsi
lainnya dan mudah dimonitor secara transparan.
Tabel.4.63.
Menurut saya, penerapan SAPM mampu meningkatkan disiplin dan integritas
aparat pajak

Valid

Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju

Frequency
1
10

Percent
1.4
14.3

Valid Percent
1.4
14.3

46
13
70

65.7
18.6
100.0

65.7
18.6
100.0

Total

Cumulative
Percent
1.4
15.7
81.4
100.0

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.63 diketahui bahwa 1 responden menyatakan
tidak setuju, 10 responden menyatakan netral, 46 responden
menyatakan setuju dan 13 responden menyatakan sangat setuju. Dari
tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden (65,7%)
menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi perpajakan
modern mampu meningkatkan disiplin dan integritas aparat pajak.
Untuk meningkatkan pengawasan kinerja pegawai yang lebih
intensif maka telah dilakukan kerja sama dengan Inspektorat Jenderal
Departemen Keuangan

dalam rangka meningkatkan

efektifitas

pengawasan terhadap kinerja dengan menerapkan case management


dan workflow system, sehingga memungkinkan setiap proses kegiatan
menjadi terukur dan terkontrol dan sebagai alat pengawasan internal

117

yang lebih efektif dan meningkatkan produktivitas serta ketepatan


waktu penyelesaian pekerjaan.
Tabel.4.64.
Penerapan SAPM dapat melahirkan kerjasama yang baik antara Wajib Pajak
dan aparat pajak.

Valid

Frequency
3

Percent
4.3

Valid Percent
4.3

Cumulative
Percent
4.3

Netral

15

21.4

21.4

25.7

Setuju

43

61.4

61.4

87.1

12.9

12.9

100.0

70

100.0

100.0

Tidak setuju

Sangat setuju
Total

Sumber: Data primer yang diolah


Berdasarkan tabel 4.64 dapat diketahui bahwa 3 responden
menyatakan tidak setuju, 15 responden menyatakan netral, 43
responden menyatakan setuju dan 9 responden menyatakan sangat
setuju. Dari tabel tersebut menggambarkan sebagian besar responden
(61,4%) menyatakan setuju bahwa penerapan sistem administrasi
perpajakan modern dapat melahirkan kerjasama yang baik antara
Wajib Pajak dan aparat pajak.
Lahirnya kerja sama yang baik antara Wajib Pajak dan aparat pajak
didukung dengan adanya staf pelayanan khusus atau Account
Representative yang bertanggung jawab menginformasikan semua
perubahan peraturan dan merespon pertanyaan atau permintaan lain
yang berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban atau hak perpajakan
serta dengan adanya

fasilitas pelayanan mampu

menciptakan

hubungan yang baik antara Wajib Pajak dengan aparat pajak.

118

3. Hasil Korelasi Pearson


Tabel.4.65.
Correlations

Efektifitas
Penerapan TI
Dalam SAPM

Efektifitas Penerapan
TI Dalam SAPM
Kinerja KPP Pratam a
Jakarta Grogol
Petam buran

Pearson Corr elation

Sig. (2-tailed)
N

Kinerja KPP
Pratam a
Jakarta
Grogol
Petam buran
.734**

.000

Pearson Corr elation

70
.734**

Sig. (2-tailed)

.000

70

70

70
1

**. Corr elation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Sumber: Data primer yang diolah


Tabel 4.65 menyajikan hasil korelasi pearson untuk semua sampel
penelitian, dengan jumlah sampel 70 responden aparat pajak. Pada tabel
tersebut dapat diketahui bahwa efektifitas penerapan teknologi informasi
dalam sistem administrasi perpajakan modern memiliki hubungan yang
positif 0,734 dengan tingkat signifikan pada level 0,01. Hal tersebut
mencerminkan kondisi bahwa adanya korelasi yang kuat dan positif antara
efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi
perpajakan modern dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Jakarta Grogol Petamburan, terbukti pada tabel 4.66 kriteria korelasi
menurut Sugiyono (2005:183) sebagai berikut:
Tabel.4.66.
Kriteria korelasi
0,00
0,20
0,40
0,60
0,80

0,200
0,399
0,599
0,799
1,00

=
=
=
=
=

Korelasi sangat rendah


Korelasi rendah
Korelasi sedang
Korelasi kuat
Korelasi sangat kuat
119

Angka positif 0,734 menunjukkan bahwa semakin baik efektifitas


penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan
modern maka semakin baik pula kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Jakarta Grogol Petamburan.
4. Hasil Uji Hipotesis Korelasi Pearson
Hipotesis dilakukan dengan mencari korelasi variabel penelitian yaitu
efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi
perpajakan modern dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Jakarta Grogol Petamburan. Hasil korelasi dapat dilihat pada tabel 4.65
correlations. Pada tabel tersebut menunjukkan hasil korelasi pearson yaitu
0,734 dan P-value 0,000. Pada pembahasannya sebelumnya dijelaskan
ketentuan sebagai berikut:
H0 : tidak terdapat hubungan signifikan
Ha : terdapat hubungan signifikan
Dasar pengambilan keputusan, berdasarkan probabilitas,
Jika probabilitas > 0,05, H0 diterima
Jika probabilitas < 0,05, H0 ditolak
Karena P-value = 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak. Hasil
analisa hipotesis menunjukkan bahwa adanya korelasi yang signifikan
antara efektifitas penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi
perpajakan modern dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Jakarta Grogol Petamburan.

120

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hasil uji korelasi pearson menunjukkan hubungan yang positif dan kuat
antara variabel independen dengan variabel dependen. Hal ini dibuktikan
dengan nilai pearson correlation 0,734 dengan tingkat signifikan pada level
0,01. Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 dinyatakan ditolak dan
menerima Ha, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara
efektifitas penerapan teknologi informasi dalam

sistem administrasi

perpajakan modern dengan kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta


Grogol Petamburan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya korelasi yang
kuat, karena nilai korelasi bernilai 0,734, menurut Sugiono (2005:183),
korelasi dinyatakan kuat jika nilai korelasi berkisar antara 0,60 sampai 0,799.

B. Implikasi
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa koefisien korelasi adalah kuat,
yang mempunyai pemahaman

bahwa bila ingin meningkatkan teknologi

informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern maka harus terlebih


dahulu membina efektifitas penerapan teknologi informasi secara baik dalam
suatu lingkungan kerja. Penerapan sistem administrasi perpajakan modern di
Kantor Pelayanan Pajak sudah berjalan dengan baik dan sudah sesuai dengan
program reformasi administrsi perpajakan yang digulirkan oleh Direktorat

121
121

Jenderal Pajak jangka menengah sejak tahun 2001, guna meningkatkan citra
Direktorat Jenderal Pajak serta penerapan prinsip Good Governance. Adanya
penerapan teknologi informasi dalam sistem administrasi perpajakan modern
mampu mendorong kinerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan kearah yang lebih baik dilihat dengan adanya pemisahan fungsi
yang jelas antara fungsi pelayanan, pengawasan, pemeriksaan, keberatan dan
pembinaan.
Penerapan modernisasi strategi organisasi yang berkaitan dengan program
peningkatan mutu sarana dan prasarana kerja, pemanfaatan teknologi terkini,
penyusunan kebijakan baru manajemen sumber daya manusia mampu
meningkatkan motivasi serta semangat kerja bagi aparat pajak dan penerapan
prinsip Good Governance Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan, ini terlihat dari adanya moral, kode etik dan integritas aparat
pajak sebagai standar perilaku dan pelaksanaan tugas. Pengawasan
pelaksanaan kode etik ini secara langsung oleh Komite Kode Etik.
Konsolidasi internal yang meliputi pembinaan mental dan attitude, in-house
training, reward and punishment system.
Pengembangan Sistem Informasi Perpajakan (SIP) dengan pendekatan
fungsi menjadi Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) yang
dikendalikan oleh manajemen kasus (case management system) dalam sistem
pemantauan proses administrasi perpajakan dengan sistem alur kerja
(workflow system) mampu menciptakan kemudahan, kecepatan serta ketepatan
kegiatan administrasi serta meningkatkan produktifitas aparat pajak. Selain itu

122

juga teknologi informasi yang canggih merupakan faktor kunci keberhasilan


pelaksanaan kebijakan perpajakan yang juga dapat meningkatkan mutu
pelayanan kepada masyarakat Wajib Pajak dan pada akhirnya akan
meningkatkan penerimaan bagi negara.
Penerimaan pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan setelah

diterapkannya teknologi informasi dalam sistem

adminisrasi perpajakan modern mengalami peningkatan, meskipun belum


mampu memenuhi target yang dicapai, hal ini dikarenakan adanya
pemindahan Wajib Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Grogol
Petamburan ke Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta Barat. Wajib Pajak
yang dipindahkan merupakan Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban
perpajakan baik formal maupun material dengan baik serta dalam nominal
yang besar. Pemindahan ini dimaksudkan agar penerimaan pajak lebih terurus
dan terpantau. Pemindahan ini disebut juga sistem merucut yang meliputi
pemindahan dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama (STO) ke Kantor Pelayanan
Pajak Madya (MTO) kemudian jika semakin baik pemindahan dilanjutkan ke
Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar (LTO).

C. Saran
Perlu diadakan pelatihan intensif bagi aparat pajak mengingat bahwa
lingkungan bisnis selalu berubah sehingga kebutuhan organisasi berubah.
Perubahan ini menuntut kebutuhan sumber daya manusia dengan kemampuan
dan keahlian yang telah dimiliki oleh aparat pajak, karena untuk melayani

123

semua Wajib Pajak, aparat harus bekerja dan bertanggung jawab sesuai
dengan pekerjaannya masing-masing.
Adanya pelatihan diharapkan mampu menghasilkan aparat pajak
yang memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan lebih baik
dari pada sebelumnya sehingga dapat meningkatkan kinerja aparat pajak,
dengan kinerja yang meningkat akan menghasilkan pekerjaan yang dapat
diselesaikan dengan baik

sehingga

tujuan

Kantor

Pelayanan

Pajak

Pratama Jakarta Grogol Petamburan dapat tercapai. Sebagai sistem dan


sarana,

penerapan

teknologi informasi

dalam

sistem

administrasi

perpajakan modern sangat tergantung pelaksanaannya, terutama bidang


perpajakan yang sangat rentan akan fraud serta Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme (KKN).
Kelemahan pada sistem administrasi perpajakan modern adalah
terjadinya kerusakan pada sistem yang mengakibatkan data hang, hal ini
disebabkan kelebihan beban pada sistem karena semua Kantor Pelayanan
Pajak Pratama menggunakan teknologi informasi sistem administrasi
perpajakan modern atau Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SI
DJP)

sedangkan

server tersebut

hanya

berada

di

kantor

pusat

Direktorat Jenderal Pajak. Hal ini mengakibatkan terhambatnya pekerjaan


dan proses administrasi.