Anda di halaman 1dari 162

PERJALANAN ASTRAL

KE ALAM BINATANG
(BUKU KE-3)

PENULIS : DESI

PERJALANAN ASTRAL KE ALAM BINATANG

Penulis
Penyunting
Tata Letak
Ilustrasi Sampul

: Desi
: Team CSP
: - Lian Hua Johanes : - Sardi -

Perjalanan Astral ke Alam Binatang, Cetakan 1


Cahaya Sukhavati Press, Oktober 2011

Buku ini dibagikan secara cuma-cuma,


apabila anda sudah tidak membacanya harap diberikan pada orang yang
belum membacanya agar penyebaran Dharma Buddha terus berjalan.

Dicetak oleh:
PT. TIGA RODA UTAMA
(isi diluar tanggung jawab percetakan)

Amanat Perjalanan Astral


Amanat Perjalanan Astral
Pendahuluan
Di siang hari.
Saat itu aku sedang berada di sebuah mall di daerah Kebon
Jeruk Jakarta, menemani anak-anakku bermain. Tiba-tiba
Guru Sejatiku datang memberi petunjuk, kalau ada yang ingin
bertemu denganku.
Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu Guru Sejatiku
memberitahukan hal itu, tapi karena kesibukanku belakangan
ini sejak cetya Sukhavati Prajna berdiri, aku hampir saja tidak
memperhatikan petunjukNya.
Sampai di siang hari itu, dengan cepatnya aku merasakan
perubahan roh yang menuntunku agar duduk bermeditasi.
Tapi karena saat itu aku sedang tidak berada di rumah tapi
sedang berada di dalam mall, aku bingung harus bermeditasi di
mana. Memang sudah sejak lama aku tidak terikat lagi dengan
tempat/lokasi jika ingin bermeditasi, tapi situasi saat itu
sangatlah tidak memungkinkan, aku tidak mungkin
mengerakkan rohku disana, karena pasti akan mengundang
perhatian banyak orang, mereka pasti akan menganggap aku
aneh dan gila. Aku tidak mungkin duduk di tengah-tengah
keramaian orang di mall tersebut.
Aku mencoba mencari lokasi yang baik, tapi tidak juga
kutemukan, sehingga aku terpaksa masuk ke salah satu toilet
di mall tersebut. Aku tahu apa yang kulakukan tidaklah sopan,
aku meminta maaf dalam hati kepada Guru Sejatiku dan juga
kepada para Dewa yang ingin bertemu denganku itu.
1

Aku menutup dudukan toilet dan duduk bersila disana, karena


perubahan aura yang kurasakan tidak hilang walaupun aku
telah masuk ke dalam toilet, maka aku tetap mencoba untuk
bermeditasi.
Setelah beberapa lama ada pergerakan roh, aku masuk ke
dalam samadhi. Dari kejauhan di atas langit, aku melihat
kedatangan seekor Naga emas dan Burung Hong emas, dua
binatang langit itu meluncur dengan sangat cepat, aku
bertanya-tanya siapakah gerangan yang akan datang
menemuiku, lalu ada seseorang yang berjalan turun. Dari
perwujudannya seperti Kaisar, dia mengenakan Jubah Naga
berwarna kuning keemasan, memakai topi bercadar, di
samping kanannya berdiri Permaisuri, ada 2 orang Dayang
yang cantik, yang satu mendorong Kursi Naga kedepan dan
yang satu lagi memegang kipas bertongkat panjang, wujud
seperti Kaisar itu duduk dikursi Naga, dan berkata;
Desi, Aku Kaisar Langit ternyata Dia adalah Kaisar Langit,
aku segera menghormat padaNya.
Kaisar Langit, terimalah hormat hamba. Hamba mohon maaf,
karena saat ini hamba sedang berada di dalam toilet, maafkan
ketidaksopanan hamba.
Tidak apa-apa, para Buddha-Bodhisattva dan Dewa bisa
menemuimu dimana saja kau berada, karena Mereka semua
tidak terikat oleh tempat lagi, sama sepertimu. Jika ada
petunjuk penting yang akan disampaikan, maka dimanapun
kau berada akan tetap bisa mendapatkannya.
Terima kasih Kaisar Langit bisa mengerti. Ada apakah Kaisar
2

Amanat Perjalanan Astral

Langit datang sendiri menemui hamba ?


Desi, Aku datang untuk memberikan penghargaan kepadamu
atas kenaikan tingkatmu dalam pembinaan diri, sekaligus
hendak memberikan amanat khusus kepadamu.
Penghargaan dan Amanat apa yang hendak Kaisar Langit
berikan kepada hamba ?
Aku memberimu penghargaan berupa Stempel Kaisar Langit
dan memberikan Amanat kepadamu untuk melakukan
Perjalanan Astral ke Alam Binatang. Dengan Stempel Kaisar
Langit itu kau akan dengan mudah pergi ke alam lain dan tidak
ada yang bisa menghalangi.
Untuk apa hamba melakukan Perjalanan Astral ke Alam
Binatang ?
Agar kau bisa mengetahui bahwa ada begitu banyak alam di
penjuru alam semesta ini, dan dengan kau pergi ke alam
binatang, kau akan bisa memberikan petunjuk dan gambaran
kepada umat manusia mengenai kehidupan alam binatang dan
sebab akibat terlahir di alam binatang .
Kemudian Kaisar Langit menyerahkan satu buah Stempel
padaku, bentuknya sangat unik, sepertinya terbuat dari batu
giok, dan pegangannya berbentuk Naga. Aku menerima
penghargaan itu dengan hormat. Setelah itu Kaisar Langit naik
kembali kelangit, dan aku terharu akan hal ini.
Saat mendapatkan anugrah Stempel Kaisar Langit dan
mendapatkan Amanat melakukan Perjalanan Astral ke Alam
Binatang, aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa pergi ke
Amanat Perjalanan Astral

alam itu, dan aku lupa menanyakannya pada Kaisar Langit.


Apa dengan hanya memegang Stempel itu aku bisa masuk
sendiri ke alam binatang melalui mimpi?, ataukah melihat
binatang dulu baru bisa ke alam mereka?, ataukah dengan
terbukanya cakra mahkotaku dan rohku keluar pergi kesana?.
Aku agak bingung dengan petunjuk ini, sebenarnya sama
bingungnya kala setiap kali mendapatkan ajaran, petunjuk dan
amanat dari langit. Mungkin karena pada awalnya aku tidak
mengenal ajaran Buddha dan tidak mengenal adanya DewaDewa, tapi selama ini petunjuk dan ajaran yang diberikan
kepadaku, semuanya menuju arah yang baik. Guru-Guru dari
angkasa yang membimbingku semuanya memberikan banyak
pengetahuan mengenai Tao, jalan Bodhisattva dan ajaran
Buddha.
Sejak dibimbing Guru Sejatiku, Dewi Seribu Tangan Seribu
Mata, banyak sekali perubahan yang terjadi padaku.
Semuanya kearah yang baik. Beliau membimbingku setiap
hari dengan penuh welas asih. Sampai saat ini walau cetya
Sukhavati Prajna telah berdiri, Beliau masih membimbing dan
menjagaku.
Beliau mengajarkan kepadaku, supaya aku bisa selalu
menjaga hati dan pikiranku. Agar jangan sampai timbul
kekotoran batin dalam diriku, jika ada kekotoran batin dalam
diriku sedikit saja, hal itu akan membuat aku tidak bisa
merasakan keberadaan Guru Sejatiku.
Beliau juga mengajarkan agar aku tetap selalu tenang dalam
menghadapi segala hal, selalu rendah hati dan belajar untuk
4

Amanat Perjalanan Astral

menumbuhkan sifat welas asih. Agar tugas dan misi yang aku
jalankan, bisa berjalan dengan baik dan tidak tercampur oleh
niat dan perbuatan yang tidak baik, yang timbul dari hati dan
pikiranku.
Karena itu, aku menyerahkan saja semuanya kepada Guru
Sejatiku dan kepada para Dewa, biarlah Mereka yang
mengaturnya, karena aku ingin semua berjalan secara alami
saja. Dan tidak berusaha mengejar apapun di dunia ini, selain
berusaha menjalani hidup dan membina diri dengan baik. Dan
hasil dari membina diri itu telah membuatku mendapatkan
Anugrah Stempel Kaisar Langit dan Amanat melakukan
Perjalanan Astral ke Alam Binatang.
Di alam binatang itu aku sepertinya sedang ditunggu di sana,
pada awal kepergian ke alam binatang. Langit bergemuruh
panjang, seiring dengan itu ada perubahan roh dalam diriku,
dengan sendirinya menuntunku untuk duduk bermeditasi,
masuk kedalam samadhi dan pergi ke alam binatang tersebut.
Pengalaman menjalankan Amanat ini, sungguh amat sukar
aku bayangkan. Semuanya berjalan secara spontan/dengan
sendirinya, aku tidak mengharapkan pergi ke alam binatang,
tapi aku bisa pergi kesana dengan sendirinya.
Biasanya saat aku melihat binatang apapun di dunia ini, aku
hanya memandang mereka sebagai binatang saja, aku tidak
pernah memikirkan sedikitpun kenapa ada binatang yang
beraneka macam, bagaimana hidup binatang, apa lagi
mengenai sebab akibat terlahir di alam binatang. Yang kutahu
saat itu adalah, banyak dari mereka yang memang dipotong
dan dimakan. Adanya rantai makanan yang kupelajari dari
Amanat Perjalanan Astral

pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA), hanya mengetahui


kodrat mereka di makan manusia dan tidak bisa melihat
mereka secara ajaran Buddha. Mungkin karena dulu aku tidak
memperdulikan yang ada disekitarku, sehingga tidak
mengetahui lebih dalam mengenai mereka.
Setelah pergi ke alam binatang dan mengetahui dunia mereka,
aku baru tahu kalau mereka terlahir disebabkan oleh adanya
karma buruk yang mereka lakukan, baik mereka manusia
ataupun Dewa. Tapi yang paling membuat aku terkejut, saat
aku mengetahui kalau mereka yang terlahir di alam bintang,
tidak semua karena berbuat kesalahan. Tapi ada juga yang rela
mengorbankan diri mereka terlahir di alam binatang, dengan
tujuan mencapai tingkat Bodhisattva.
Aku menuliskan buku Perjalanan Astral ke Alam Binatang ini,
berharap bisa membuat kewelasasihanku tumbuh dan
berkembang, dapat lebih menghargai makhluk hidup yang lain.
Dan berharap pula agar umat manusia menyadari segala
kesalahannya, mulai memperbaiki diri dan lebih menghargai
hidup ini. Menjalani hidup dengan baik, menghindari diri dari
perbuatan jahat dan berbuat banyak kebajikan. Agar kelak bisa
terlahir di alam yang lebih baik dan tidak terlahir di alam
binatang.
Penderitaan tidak pernah usai,
Terus berputar searah jarum jam
Kadang cepat kadang lambat
Sulit untuk dihentikan
Apakah selamanya Tersesat
Dan tak tahu jalan kembali ???
6

Amanat Perjalanan Astral

DAFTAR ISI
1. Pendahuluan ........................................... 1
2. Daftar isi ................................................ 7
3. Terbukanya Telinga Dewa ..................... 9
4. Membelah Tubuh ................................. 17
5. Venus di Tahun 2220 ........................... 22
6. Negeri Topi Lebar ................................ 25
7. Alam Hiu ............................................... 28
8. Negeri Capung ..................................... 33
9. Alam Katak ........................................... 36
10. Negeri Duyung Laut Atlantik ............... 40
11. Alam Ular .............................................. 43
12. Alam Penyu .......................................... 48
13. Alam Bison ........................................... 50
14. Alam Harimau ....................................... 53
15. Alam Angsa .......................................... 57
16. Alam Ratu Rayap ................................. 60
17. Alam Kuda Poni ................................... 64
18. Alam Buaya .......................................... 68
19. Alam Bekicot, Siput atau Keong ......... 71
20. Alam Gorila .......................................... 74
21. Alam Burung Elang ............................. 80
22. Alam Kelelawar .................................... 83
23. Alam Laba-Laba .................................. 88
24. Hujan Berkah di Hari Waisak .............. 90
25. Bodhisattva Vasi Kara Ganda ............. 95
26. Alam Lumba-Lumba .......................... 104
27. Alam Walet ......................................... 108
28. Anak Raja Naga Laut Barat ............... 111
29. Alam Tawon ........................................ 120

30. Alam Lalat ..........................................


31. Rupang Se Mien Fo
di HUT Cetya yang ke-1 .....................
32. Alam Nyamuk .....................................
33. Alam Burung Merak ...........................
34. Kisah Hukum Karma ..........................
35. Alam Cicak ..........................................
36. Penutup ...............................................

124
130
133
137
140
142
146

Terbukanya Telinga Dewa


TERBUKANYA TELINGA Dewa
Suatu hari, Usnissa Vijaya Bhagavati datang menemuiku.
Beliau meminta aku bershadana selama 7 hari untuk
membantuku mengikis karma buruk kehidupanku saat ini.
Selama 7 hari bershadana kepada Usnissa Vijaya Bhagavati
aku dibawa ke tujuh tempat yang fenomena alamnya berbeda.
Ada kolam air besar, partikel yang bergerak spiral, aura
berwarna hijau di dalam sebuah gua, kutub bersalju, laut
merah, kolam air panas dan kolam lumpur. Aku berdiam
sejenak di tempat-tempat itu, Usnissa Vijaya Bhagavati
mengatakan kalau tempat-tempat tersebut bisa membantu
mengikis karma burukku di kehidupan saat ini, sehingga tidak
ada lagi karma buruk dalam diriku dan rohku bersih.
Memang sejak aku mendapatkan kontak batin dengan para
Dewa, karma buruk masa laluku telah terhapus. Dan karma
burukku dikehidupan saat ini, Usnissa Vijaya Bhagavati
membantuku untuk mengikisnya. Walaupun aku melatih roh
dalam diriku dan mendapatkan berkah dan pertolongan yang
tidak terhingga dari Buddha-Bodhisattva, tapi aku tetap
berusaha mawas diri. Aku berusaha menjaga hati dan
pikiranku agar tidak muncul kekotoran batin. Aku berusaha
memperbaiki diri dan menjalankan hidup dengan baik serta
berbuat kebajikan sesuai petunjuk para Dewa.
Walaupun banyak kejadian yang membuat hatiku sedih,
melihat orang-orang yang semula berjodoh dan mendapatkan
bimbingan dari para Dewa, menarik diri mereka dalam
pembinaan diri dan tenggelam dalam kesibukan keduniawian
mereka. Aku menghadap kepada para Dewa di altar cetya dan
duduk merenungi beberapa kejadian yang terjadi beberapa
9

hari belakangan ini, dengan menangis aku mengungkapkan


kesedihanku melihat ada seorang suami yang melarang
istrinya membina diri, ada yang tidak mau membina diri karena
masalah rumah tangga dan masih ingin bersenang-senang,
ada yang berhenti membina diri karena takut menerima efek
negatif dari hasil pembinaan dirinya walaupun para Dewa
menjaganya, ada yang berhenti membina diri karena marah
dan tersinggung dengan sesama pembina diri lainnya dan ada
yang berhenti membina diri karena mendengar kritik dan katakata negatif orang lain.
Mahaguru pernah berkata: Hati dan perasaan manusia
mudah sekali berubah-ubah, tiada ketetapan hati dan mudah
sekali terpengaruh dengan sekitarnya .
Guru Sejatiku mengatakan: Ada pertemuan pasti ada
perpisahan, jangan disesali mereka yang telah pergi karena
pasti akan ada yang lain yang akan datang .
Mahadewi Yao Che Chin Mu berkata: Semua bisa bertemu
karena ada karma jodoh dikehidupan lalu, biarlah semua
datang berdasarkan jodoh saja .
Bodhisattva Mahastamaprapta berkata: Ada yang berjodoh
dikehidupan ini karena karma jodoh baik dan karma jodoh
buruk, mereka yang berjodoh baik akan saling melengkapi dan
saling memberi manfaat satu dengan yang lain hingga masingmasing bisa mendapatkan pencerahan, tapi mereka yang
berjodoh buruk akan saling menyakiti dan merugikan satu
dengan yang lainnya .
Perkataan dan nasihat Guru-Guruku itu menyadarkan aku,
10

Terbukanya Telinga Dewa

tidak seharusnya aku terpengaruh dengan segala sikap dan


keputusan mereka. Walaupun mereka semua mundur, tapi aku
tidak akan mundur dalam pembinaan diri dan tetap teguh
menjalankan Dharma, ibarat Bodhisattva yang telah
bersumpah samaya dan berikrar, aku akan tetap maju terus
walaupun rintangan dan halangan menghadang jalanku.
Mungkin ketulusan hatiku ini membuat aku mengalami
kenaikan tingkat dalam spiritual, sampai suatu kali setelah aku
selesai mencurahkan perasaanku kepada BuddhaBodhisattva dan duduk bermeditasi, aku mengalami sensasi
dan pencapaian meditasi yang berbeda. Sensasi meditasi ini
tidak pernah kurasakan sebelumnya, saat itu tubuhku seperti
kaku tak bergerak sedikitpun dan terasa padat, setelah itu
telinga kananku berdenyut-denyut dan kedap seperti berada
dalam air dikedalaman tertentu, lalu telinga kananku yang
kurasa kedap itu dengan cepat hilang rasa kedapnya dan
sepertinya aku bisa mendengar dengan jelas percakapan
orang di telinga kananku itu.
Aku mengira yang kudengar adalah percakapan orang hidup,
ternyata itu percakapan hantu-hantu gentayangan, aku
mendengarkan dengan seksama pembicaraan mereka;
Dialog Pertama:
Hantu 1 : Aduh... enggak enak tinggal di sini, mana
kedinginan lagi. Kapan ya bisa naik ke surga?
Hantu 2 : Naik ke surga? mana bisa kamu naik ke surga,
surga itu untuk orang-orang yang banyak
berbuat baik, sedangkan kamu matinya bunuh
diri.
Terbukanya Telinga Dewa

11

Hantu 1 : Masih mending aku bunuh diri, dari pada kamu


yang matinya kecelakaan.
Hantu 2 : Ya sudah, sudah. Kita sama-sama hidup susah,
lebih baik saling mengerti saja.
Kemudian kudengar percakapan lain,
Dialog Kedua:
Hantu 1 : Hei... si Desi tubuhnya bisa bercahaya.
Hantu 2 : Jangan dekat-dekat dia, banyak Dewa-Dewa
menjaganya dan jangan ganggu umat di cetya
itu.
Lalu kudengar percakapan lainnya,
Dialog Ketiga:
Hantu 1 : Ayo... lebih baik kita ke sana saja, di situ ada
yang bisa kemasukan roh-roh seperti kita.
Hantu 2 : Kemana? di sini saja.
Hantu 1 : Sudah jangan di sini, di sini panas, kita ke sana
saja. Orang yang kemasukan roh itu tidak
membaca mantera, saat ini dia lagi kemasukan
roh binatang, kita juga bisa masuk ke dalam
tubuhnya.
Hantu 2 : Ayo... kita kerjain aja.
Percakapan yang lain lagi,
Dialog Keempat:
Hantu 1 : Wah... hebat ya. Dia bisa bercahaya seperti itu
dan tinggi seperti gunung.
12

Terbukanya Telinga Dewa

Hantu 2 : Iya... aku menyesal, kenapa dulu tidak membina


diri seperti dia, sekarang sudah menjadi hantu
seperti ini entah kapan bisa menjadi manusia
lagi.
Aku mendadak bisa mendengar percakapan hantu-hantu
gentayangan yang berada di sekitar tempatku setelah
mengalami sensasi meditasi hari ini. Ternyata seperti itu proses
terbukanya telinga Dewa, muncul dengan sendirinya tanpa aku
harapkan sama sekali. Mendengar perkataan hantu-hantu
berhawa yin bisa aku dengar melalui telinga sampai saat ini,
berbeda dengan berkomunikasi dengan Buddha-Bodhisattva
yang melalui hati. Aku baru mengetahui perbedaan mendengar
komunikasi dari Buddha-Bodhisattva dan hantu gentayangan.
Beberapa hari ini aku terus mengalami pencapaian tingkat
meditasi, setelah terbuka telinga Dewa aku dengan sendirinya
bisa meramal dengan mengunakan tangan secara spontan,
suatu kali saat pagi hari saat aku mengantar anakku kesekolah
bersama suami dengan mengendarai mobil, aku merasakan
sesuatu, secara spontan aku mengangkat tangan dan
memindahkan jari jempolku ke jari-jari yang lain, jariku itu
bergerak sendiri dan berhenti di salah satu bagian jari yang
lain, setelah itu dengan cepat hati langsung berkata kalau ada
yang mengirim guna-guna.
Aku kebingungan dengan pergerakan jariku yang mendadak
ini, apa ini yang dinamakan meramal dengan jari tangan yang
biasa dilakukan oleh para Dewa. Aku masih belum mengerti,
tapi tubuhku terus mengalami keanehan sampai di dalam
mobil. Aku tidak menceritakan hal ini pada suami, tapi tiba-tiba
dia mengatakan kalau semalam dia bermimpi buruk, setelah
Terbukanya Telinga Dewa

13

bangun dari mimpi punggungnya terasa sakit. Mendengar


ceritanya tubuhku semakin terasa aneh, aku bertanya dalam
hati, apa ramalan pagi ini adalah jawaban dari mimpinya
semalam.
Sesampai dirumah aku mencoba untuk menetralisir tubuhnya
agar pengaruh guna-guna itu hilang, setelah selesai aku duduk
bermeditasi dan berkonsentrasi, rohku keluar dari tubuh dan
pergi kesuatu tempat, ditempat itu ada sebuah rumah yang
entah kenapa aku memagari dengan sinar vajra, setelah
beberapa saat ada seekor burung berwujud setengah manusia
menyerangku. Dengan cepat aku mengeluarkan giok bersinar,
pancaran sinar giok membuat siluman burung itu terpental dan
lari.
Setelah itu aku kembali dan menetralisir pengaruh hawa
negatif yang telah kuserap tadi dengan mengunakan dua
Mustika Hian Thian Shang Tee, tapi pancaran sinar kedua
Mustika itu tidak bisa bersinar sempurna, mungkin kekuatan
hawa negatif itu agak kuat sehingga aku hanya bisa
mengeluarkan setengah dari hawa negatif itu, aku sudah
berusaha mengulang mengaktifkan Mustika itu sampai 2 kali,
tapi tetap tidak bisa mengeluarkan sisa hawa negatif tersebut.
Aku sampai tidak bisa menahannya, dan sekujur tubuhku
berkeringat dingin dan terasa sakit, seakan aku dicengkram
sampai sulit untuk bernafas. Aku tidak tahu apa yang harus aku
lakukan, dengan segera aku memohon pertolongan para
Dharmapala, para Dharmapala membantuku untuk
mengerakkan seluruh tubuh agar hawa negatif bisa keluar, tapi
lagi-lagi hanya sedikit hawa negatif yang bisa kukeluarkan dari
dalam tubuhku, saat itu aku sudah kelelahan.
14

Terbukanya Telinga Dewa

Aku berdoa kepada Buddha-Bodhisattva memohon


pertolongan, tiba-tiba saja tanganku membentuk mudra Dewi
Kwan Im, tanganku bergerak perlahan dan seperti mendapat
tenaga dari luar, cakra dahiku terbuka dan menarik energi dari
luar, aku merasakan energi itu masuk melalui cakra dahi lalu
turun ke tenggorokan, turun kehati dan terus turun sampai
cakra pusar. Kemudian energi itu menyebar dibagian cakra
pusar beberapa saat, lalu mendorong sesuatu keatas melalui
jalur yang sama saat energi itu turun.
Aku mengira sesuatu yang didorong itu akan dikeluarkan
melalui mulutku, tapi ternyata terus naik sampai ke cakra dahi.
Cakra dahiku seperti mengeluarkan sesuatu dengan cepat,
setelah selesai entah kenapa aku merasakan lega, sesuatu
yang menganjal dalam tubuhku dan sakit pada sekujur tubuhku
hilang begitu saja, aku merasakan tubuhku ringan dan
nyaman. Aku tahu, Dewi Kwan Im telah datang menolongku
mengeluarkan semua hawa negatif dalam tubuhku.
Guru Sejatiku berpesan, agar aku tidak malas melatih diri dan
selalu mengingat semua bimbingan yang diberikan oleh para
Dewa, agar jika ada rintangan dan cobaan aku bisa
mengatasinya. Walaupun Buddha-Bodhisattva pasti akan
datang menolong jika aku mengalami kesulitan, tapi aku harus
belajar untuk mandiri. Sesungguhnya setiap cobaan dan
rintangan yang datang, adalah suatu ujian yang diberikan
kepadaku agar aku bisa mengalami kenaikan tingkat dalam
spiritual. Karena jika tidak ada ujian yang datang, maka tidak
ada pencapaian pencerahan apapun yang bisa aku dapatkan.
Aku bersyukur dan berterima kasih atas ujian ini, berterima
kasih atas berkah yang ku terima dan berterima kasih atas
Terbukanya Telinga Dewa

15

pertolongan Dewi Kwan Im. Semoga aku bisa menjalankan


hidup dengan baik dan tetap teguh dalam pembinaan diri,
karena dari setiap ujian yang aku terima selama ini, membuat
aku banyak belajar dan semakin memahami arti hidupku di
dunia ini.

Filsafat...
Banyak cinta bergelora di dunia, tapi tak ada cinta yang murni
Nafsu keinginan menutupi hati, hingga tak bisa menepis godaan
Mau menolak begitu sayang, mau menyambut takut tenggelam
Kemana harus melampiaskan, tak ada yang tahu sucinya hati.
Ajaran Buddha...
Tidak boleh berlaku sama, mencintai atau memiliki, sesuatu yang berbeda
Mencintai belum tentu memiliki, Memiliki seharusnya mencintai
itu pandangan orang awam yang diliputi oleh keterikatan tubuh fisik
tapi mencintai pasti menderita, memiliki akan lupa daratan
keduanya tak bermakna dan menyesatkan
Orang yang berani meninggalkan keduanya adalah orang yang sejati
tapi Orang yang tidak meninggalkannya tapi tidak terikat kepada keduanya
adalah Orang yang mengerti ajaran Kebenaran Tao.

16

Terbukanya Telinga Dewa

Membelah Tubuh
MEMBELAH TUBUH

Suatu hari, setelah beberapa hari buku ke-2 ku Kelahiran


Sang Juru S'lamat - Buddha Penyelamat Dunia terbit dan
disebarkan. Aku kembali mengalami pencapaian dalam
meditasi. Saat aku duduk bermeditasi pagi itu, dengan
sendirinya aku mengatur nafas. Menarik nafas dan menahan
nafasku di bawah pusar, setelah tidak bisa menahannya aku
membuang nafas perlahan melalui hidung. Dengan sendirinya
aku mengulang teknik pernafasan itu sampai beberapa kali.
Setelah itu aku kembali bernafas normal.
Dalam sekejap muncul sinar sangat terang dan kurasakan
prana/chi naik dari cakra pusar menuju ke cakra dahi, tapi
cakra mahkotaku terbuka lebih dulu sebelumnya dan satu
tubuh Dharmakayaku duduk di Teratai serta memegang Toya
Burung Hong yang agak besar muncul. Lalu cakra dahiku juga
terbuka dan dorongan kuat berupa sinar-sinar keluar
berpencar dan berubah menjadi tubuh Dharmakayaku yang
lain, aku merasakan dorongan kuat dari cakra dahiku itu
sampai 4 kali, dan setiap kali sinar keluar dari cakra dahi selalu
berubah menjadi tubuh Dharmakayaku yang berukuran agak
kecil, tapi terpencar dan melesat pergi dengan cepat entah
kemana.
Setelah beberapa lama cakra dahiku kembali bereaksi dan
menyedot tubuh-tubuh Dharmakayaku yang dikeluarkan tadi
sebanyak 4 kali pula. Setelah itu satu tubuh Dharmakayaku
yang agak besar masuk kembali melalui cakra mahkota.
Awalnya aku tidak mengerti, selama beberapa hari aku
mengalami hal yang sama dalam meditasi. Saat pertama kali
17

aku tidak tahu kemana perginya tubuh-tubuh Dharmakayaku


itu, tapi setelah beberapa hari aku sudah bisa mengikuti
kemana mereka pergi. Ternyata tubuh-tubuh Dharmakayaku
itu pergi mendatangi orang-orang yang sedang membaca
mantera hatiku.
Aku melihat ada orang yang menjapa mantera hatiku dengan
posisi tiduran, ada yang sambil bersandar di dinding, ada juga
yang berkonsentrasi menjapanya. Dan anehnya setiap tubuh
Dharmakayaku yang muncul di tempat orang-orang tersebut,
menunjukan reaksi yang berbeda-beda.
Tubuh Dharmakayaku akan segera pergi saat melihat orang
tersebut tidak serius membaca mantera hatiku itu, tapi tubuh
Dharmakayaku itu segera memberkati saat melihat ada orang
yang berkonsentrasi membaca mantera hatiku itu.
Guru Sejatiku mengatakan bahwa aku telah mencapai
tingkatan membelah tubuh, karena buku ke-2 yang berisi
mantera hatiku sudah keluar, sehingga pencapaian ini aku
dapatkan.
Aku bertanya pada Guru Sejatiku, apakah membelah tubuh
seperti itu dan apakah setiap kali orang membaca mantera
hatiku, aku akan melewati proses membelah tubuh seperti itu?
Guru Sejatiku menjawab; Proses itu hanya sementara saja
agar aku tahu dan paham apa yang terjadi di saat ada orang
yang menjapa mantera hatiku, tapi setelah beberapa lama
semua akan berjalan secara spontan, tubuh Dharmakayamu
yang telah bisa membelah diri itu akan bergerak dengan
sendirinya.
18

Membelah Tubuh

Aku baru mengerti apa yang ku alami dan baru merasakan


seperti apa rasanya bisa membelah tubuh itu, semua BuddhaBodhisattva telah mencapai tingkatan itu, karena dengan bisa
membelah tubuh itulah Buddha-Bodhisattva bisa muncul
dimana saja untuk memberkati dan menolong manusia,
walaupun tempatnya berbeda dan berjauhan. BuddhaBodhisattva akan datang secepat kilat, setelah memberkati
dan menolong akan pergi secepat kilat juga.
Aku mengetahui kehadiran Buddha-Bodhisattva dari sinarsinar yang muncul di kamera foto, sinar itu turun dari langit
seperti meteor, setelah mencapai bumi sinar itu membesar dan
berbentuk lingkaran, setelah selesai sinar itu akan kembali
mengecil dan naik lagi kelangit dengan cepatnya.
Tapi sinar-sinar yang terlihat di foto memiliki isi yang berbeda,
ada yang berisi mantera, mandala serta wujud BuddhaBodhisattva serta memiliki warna dan bentuk yang berbeda.
Sinar-sinar yang bisa terlihat di foto ada juga sinar roh-roh
leluhur atau sinar roh-roh kegelapan. Awalnya aku mengira
semua sinar-sinar itu sama dan hanya sinar-sinar Buddha/
Bodhisattva, tapi setelah diteliti dengan mata batin dan ku
pelajari, ternyata sinar-sinar dari alam kegelapan juga hampir
menyerupai sinar Roh Buddha-Bodhisattva.
Sinar-sinar itu bisa berada dimana saja, tapi masing-masing
sinar roh itu punya bentuk/isi dan aura yang berbeda, orang
yang belum memiliki mata batin dan belum bisa merasakan
aura tidak bisa membedakannya.
Sebelumnya aku pernah meragukan sinar-sinar yang muncul,
Membelah Tubuh

19

hampir setiap ritual yang kulakukan muncul sinar-sinar di foto.


Tapi saat aku membuka internet dan melihat salah satu foto
yang ada sinar-sinar seperti itu di suatu tempat yang berbeda,
dan kupikir situasi di foto itu tidak layak dan terkesan vulgar,
tapi bisa ada sinar-sinarnya juga.
Melihat itu aku sempat sedih dan bertanya-tanya dalam hati,
apakah Buddha/Bodhisattva juga datang dan memberkati
tempat seperti itu. Setelah mendapatkan petunjuk dan
mempelajarinya aku baru tahu bahwa ada perbedaan sinarsinar yang muncul di foto.

HUT Kwan Kong

HUT Dewi Yao Che Cin Mu

Pencapaian tingkatan dalam meditasiku itu, muncul dengan


sendirinya tanpa aku harapkan. Mungkin itu reaksi dari
ketulusan hatiku menjalankan Dharma Buddha dan tetap
teguhnya aku dalam menjalani jalan Bodhisattva. Aku baru
mengerti mengapa dari awal aku sudah diarahkan untuk
mengucapkan sumpah Boddhi/Ikrar, karena dengan
mengucapkan sumpah Boddhi/Ikrar itulah, segala pencapaian
dalam meditasi bisa muncul dengan sendirinya. Dan aku
mendapatkan dukungan penuh dari para Buddha-Bodhisattva,
dan Buddha-Bodhisattva selalu melengkapi kekurangan
dalam diriku, sehingga aku mendapatkan kelebihan yang bisa
aku manfaatkan untuk jalan Dharma.
20

Membelah Tubuh

Seorang pembina diri seharusnya tulus hati, berusaha


mengendalikan diri dari amarah, meredam ego dan ke-aku-an,
menjernihkan hati dan pikiran, menjauhkan diri dari perbuatan
tidak baik, menjalankan sila dan berbuat kebajikan. Dan satu
hal yang lebih penting adalah mengucapkan sumpah
Boddhi/Ikrar dihadapan para Buddha, Bodhisattva,
Dharmapala, Dewa dan Dakini untuk kebahagiaan semua
makhluk dan teguh menjalani jalan Dharmanya.
Karena dengan melakukan hal itulah, seorang pembina diri
baru bisa mencapai pencerahan dan terus mengalami
kenaikan tingkat dalam spiritualnya.
Filsafat...
Ketika hati mulai goyah, haruslah menjaga agar tetap ditempatnya
Jika hati mulai mengembara, akan sulit menarik kembali ke tempatnya
Tidak bisa selamanya tenggelam, tidak bisa selamanya tidak peduli
Karena waktu tidak bersahabat, akan selalu meninggalkan kita.
Ajaran Buddha...
Kita harus teguh dalam menjalani pembinaan diri
Sekecil apapun godaan yang datang, tak boleh mengabaikannya
tidak boleh juga membiarkannya,
harus berusaha mengatasi cobaan itu sampai hilang tak berbekas
Karena cobaan kecil akan menjadi malapetaka besar
sehingga tak bisa kembali pada jalan yang benar.

Membelah Tubuh

21

Venus di Tahun 2220


VENUS DI TAHUN 2220

Suatu kali di siang hari, aku merasa keanehan dalam diriku.


Merasakan perubahan roh dan tubuh, aku segera duduk
bermeditasi. Setelah terjadi pergerakan roh, aku telah masuk
kedalam meditasi dan memasuki samadhi, kepalaku semakin
lama semakin menunduk, seperti ada sesuatu yang berat
menempel di bagian belakang kepala dan leherku. Saat itu aku
seperti tertidur, tapi sama sekali aku tidak tidur hanya merasa
tidak berada pada tempatku lagi.
Setelah beberapa lama aku tiba di salah satu tempat,
bentuknya bulat seperti sebuah planet, anehnya disitu aku
sedang mengendarai motor yang bisa terbang, dari kejauhan
aku melihat ada satu makhluk aneh planet itu datang
menghampiriku, dia mengendari mobil yang juga bisa terbang.
Makhluk aneh itu mengajakku berbicara dan dia sepertinya
mengenalku. Makhluk planet itu hampir sama dengan
manusia, hanya tubuh mereka berukuran kecil, kepalanya
botak dan kepalanya itu tidak sebesar seperti di film-film.
Makhluk planet itu membawaku masuk kedalam planet itu, dia
mengatakan kalau planet ini adalah planet Venus. Aku agak
bingung kenapa bisa kesini, bukannya aku mau pergi ke alam
binatang, kenapa malah ke planet. Apa makhluk itu juga
termasuk binatang? sepertinya tidak mungkin, apa aku telah
salah pergi ???
Desi, kau saat ini sedang berada di negeri Venus Puncak
Langit. Kau telah pergi ke alam yang akan datang, saat ini di
venus adalah tahun 2220
22

Aku kaget mendengar perkataannya, ternyata benar aku telah


salah pergi. Ha... ha... perjalanan astral pertamaku ini malah
membuatku masuk ke alam lain.
Tapi aku tenang saja, dan mencoba untuk menikmati saja
perjalanan ini, mungkin aku bisa mendapatkan pengetahuan
yang lain dari alam ini.
Makhluk planet itu mengajakku bertemu dengan Ratunya yang
bernama Venus, tapi Ratunya itu tidak jauh beda fisiknya
dengan makhluk planet yang mengajakku itu, hanya Ratu
Venus itu mempunyai rambut yang ikal.
Makhluk planet itu mengatakan kalau Ratu Venus punya 18
selir, dan semuanya wanita. Negeri Venus Puncak Langit
semuanya wanita dan tidak ada laki-laki. Katanya dengan
hanya bersentuhan saja akan bisa melahirkan anak-anak
melalui pori-pori tubuh mereka, tapi dalam 1 tahun hanya bisa
melahirkan 1 anak saja, begitulah cara makhluk planet Venus
itu berkembang biak.
Aku bertanya pada makhluk planet itu, apakah dia tahu untuk
apa aku ke alam ini? katanya agar manusia mengetahui bahwa
selain alam manusia, masih banyak alam lain yang
berpenghuni, semua alam ada penghuninya. Semua ini agar
manusia tahu dan tidak berbuat yang tidak baik, manusia tidak
bisa melihat penghuni alam-alam lain karena mereka tidak
mempunyai kemampuan untuk itu.
Oh ... perkataan makhluk planet itu membuat aku mengerti, di
alam semesta ini banyak sekali alam-alam, ada yang bisa di
lihat manusia dan ada yang tidak. Manusia tidak bisa melihat
alam dan makhluk lain selain bumi dan isinya ini, semua itu
Venus di Tahun 2220

23

disebabkan karena mereka tidak mempunyai mata batin.


Banyak manusia hanya mempunya mata fisik, mata batin
mereka belum terbuka, sehingga banyak manusia hanya
percaya yang mereka lihat lewat mata fisik saja.
Aku tahu kenapa pada permulaan perjalanan astral aku masuk
ke alam ini, ini bukan karena aku salah pergi, tapi ada makna
dalam perjalanan astral perdana ini. Disamping melatih mata
batinku, aku ternyata bisa juga pergi ke zaman yang akan
datang. Jadi perjalanan astralku itu tidak terbatas pada alam
binatang saja, tapi aku bisa juga pergi ke alam-alam yang lain,
yang tidak di ketahui oleh manusia pada umumnya.
Aku sudah mengerti, jika kita tidak mempunyai mata batin, apa
yang kita lihat dengan mata fisik, hanyalah yang kelihatan dari
sisi luarnya saja, tapi kita tidak bisa melihat sisi dalamnya
seperti apa. Karena dengan bisa melihat dan mengetahui sisi
luar dan sisi dalamnya suatu obyek/makhluk yang kita amati,
kita akan bisa mengerti keseluruhan obyek tersebut, jadi
sedikit bagi kita untuk salah menilai dan memahaminya.
Begitulah perjalanan astral perdanaku di hari pertama
mendapat amanat, aku bahagia mendapatkan pengalaman ini.
Pemahamanku semakin dalam terhadap suatu kehidupan, hal
ini membuat aku semakin terintrospeksi diri untuk semakin
lebih baik.

24

Venus di Tahun 2220

Negeri Topi Lebar


negeri topi lebar

Hari ini saat aku hendak makan di sebuah restoran


Chinesse food di dekat rumah dengan suami dan anakku, saat
sedang melihat-lihat menu masakan, kembali perubahan roh
kurasakan.
Dalam posisi duduk dan melipat kedua tangan, aku
memejamkan mata dan berkonsentrasi. Aku telah masuk
kedalam meditasi, kepalaku semakin lama semakin tertunduk,
tertunduk semakin dalam. Aku telah masuk kedalam samadhi
walaupun sedang di dalam restoran.
Dari atas aku melihat ada lautan yang luas, di laut itu aku
menaiki perahu yang berjalan, perahu yang kunaiki itu menepi
di pinggir pantai, entah pantai apa. Aku segara turun dari mulut
perahu.
Di pantai itu aku melihat banyak orang memakai tapi bundar
yang lebar, topi lebar itu hampir menutupi tubuhnya, bahkan
kepala dan wajahnyapun tidak kelihatan.
Salah satu orang yang bertopi lebar itu datang menghampiriku,
ternyata dia bisa melihat kehadiranku dan bahkan
mengenalku.
Desi... kau datang?
Loh ... kamu kenal aku?
Tentu, semua negeri ini mengenalmu, karena hanya
Mahaguru Lu Sheng Yen dan kau yang bisa ke alam ini.
Oh ya, tempat apa ini, dan kamu siapa?
25

Ini adalah Negeri Topi Lebar dan saya pemimpin di sini.


Kenapa kalian semua memakai topi lebar seperti itu?
Topi ini menempel di kepala kami dan tidak bisa di lepas.
Lalu kalau seperti itu, bagaimana kalian tidur ?
Kami tidak tidur seperti manusia, tapi kami tidur dengan
posisi siaga dan duduk.
Mengapa ada negeri seperti ini ?
Kami semua sebelumnya adalah kerang, setelah dimakan
manusia kami terlahir di alam ini, baru setelah masa hidup
kami disini berakhir, baru terlahir menjadi manusia.
Kalian sebelumnya adalah kerang-kerang laut ?
Kami dulunya berasal dari segala jenis kerang, awalnya
sebelum menjadi kerang kami adalah manusia, karena
sebelumnya kami berbuat tidak baik lewat mata dan telinga
kami, sehingga kami menjadi kerang. Kami justru
berterima kasih kepada manusia karena telah menolong
kami dari penderitaan menjadi kerang. Karena menjadi
kerang tidak punya mata dan telinga, sehingga kami tidak
bisa melihat Buddha-Bodhisattva dan mendengar
Dharma.
Loh... loh, koq berterima kasih dimakan, bukankah
manusia yang memakan kerang itu membunuh makhluk
hidup juga, dan pasti ada karmanya bukan ?
26

Negeri Topi Lebar

Kami berbeda dengan ikan atau binatang yang lain, yang


mempunyai mata dan telinga, jadi kami merasa bersyukur
di makan manusia, sehingga kami bisa terbebas dari
penderitaan menjadi kerang.
Wah... aku jadi bingung
Desi, dengan datangnya kamu ke alam ini, agar bisa
memberitahukan kepada manusia, agar mempergunakan
mata dan telinganya untuk hal-hal yang baik, jangan
digunakan untuk hal-hal yang buruk, agar tidak terlahir
menjadi kerang, karena jika itu terjadi akan menderita.
Kalau boleh bertanya, kesalahan lewat mata dan telinga
apa yang kalian lakukan saat menjadi manusia hingga
terlahir di alam kerang?
Saat itu kami suka melihat dan mendengar hal-hal duniawi,
seperti melihat uang, wanita, benda-benda. dan suka
mendengar pujian-pujian yang membanggakan diri kami,
sehingga kami lupa diri dan melekat pada semua itu.
Oh begitu... terima kasih untuk petunjuknya. Aku akan
menulis pengalaman ke alam ini dengan sebaik-baiknya.
Setelah selesai berbicara dengan pemimpin negeri topi lebar
itu, aku dengan sendirinya pergi dari alam itu, dan keluar dari
meditasi. Kepalaku yang tertunduk, perlahan-lahan mulai
terasa ringan dan kepalaku terangkat kembali, dan aku telah
kembali ke dunia ini lagi.

Negeri Topi Lebar

27

Alam Hiu

Alam Hiu

Hari ini aku kembali mendapatkan pengalaman baru lagi,


perjalanan astral ke alam lain seperti itu rupanya, aneh tapi
nyata kurasakan. Tapi ada makna dari perjalanan astral itu,
memberikan pengalaman yang berharga bagiku, karena tidak
semua manusia bisa melakukannya. Semua tergantung
apakah langit berkenan kepada manusia itu sendiri, sehingga
rahasia langit dan berbagai alam kehidupan bisa di ketahui dan
di rasakan oleh manusia itu.
Yang membuatku bingung, kenapa semakin lama pengalaman
yang kudapatkan sama dengan Mahaguru. Aku sama sekali
tidak mengerti akan seperti ini, dan tidak pernah menduganya
sama sekali, apa lagi berniat meniru dan menyamakan diriku
dengan Mahaguru. Banyak orang menaruh curiga padaku, dan
banyak yang berpikir aku meninggikan diriku dengan
mengeluarkan mantera hati sendiri sama seperti Mahaguru.
Aku sedih jika mengingat perkataan mereka, walaupun aku
tidak mendengarnya langsung. Mengapa mereka tidak
mengerti, aku sama sekali tidak berniat meniru Mahaguru.
Apakah salah jika mengunakan jalan Dharma Mahaguru untuk
menyebarkan Dharma Buddha kepada orang lain?.
Suatu kali aku mengalami puncak kesedihan, karena merasa
niat baik yang kulakukan dengan mengikuti jalan Bodhisattva,
menjalankan Dharma Buddha dan pembinaan diri, dikritik dan
di kecam banyak orang karena adanya mantera hatiku,
Sampai-sampai Mahaguru sendiri datang menemuiku dan
berkata;
28

Desi, manusia yang picik dan tidak mengerti Dharma akan


menganggap kalau memiliki mantera hati adalah
menyombongkan diri, ingin meninggikan nama dan
memamerkan diri. Mereka tidak mengerti kalau
sesungguhnya, dengan keluarnya mantera hati itu adalah
penderitaan bagi orang yang memiliki mantera hati tersebut,
karena orang itu mempunyai misi penyelamatan semua
makhluk.
Kata-kata Mahaguru itu telah membuat hatiku kembali teguh,
saat ini aku baru merasakan kesedihan Mahaguru, juga
kesedihan para Buddha-Bodhisattva. Banyak manusia yang
tidak punya pendirian dan mudah meragukan Mereka, jika
manusia menderita maka mereka akan memohon pertolongan
Mahaguru dan Buddha-Boddhisattva, tapi jika hidup mereka
senang maka mereka tidak akan mengingat Mahaguru dan
Buddha-Boddhisattva. Tapi baik Mahaguru maupun BuddhaBodhisattva tidak pernah merubah misinya, walaupun harus
menderita, mereka tetap melakukan penyelamatan.
Pagi ini, saat aku sedang berbincang-bincang dengan
suamiku, perubahan terjadi padaku, aku segera duduk
bermeditasi dan meninggalkan suamiku di ruang kantor kami,
lalu menuju ke altar utama cetya. Sebelumnya aku bershadana
lengkap terlebih dahulu baru masuk ke dalam meditasi.
Dalam keadaan samadhi, kepalaku kembali tertunduk dan
seperti tertidur, karena aku tidak merasakan lagi suasana
disekitarku. Setelah beberapa lama, aku melihat lautan dan
ada beberapa ekor ikan hiu berenang diatasnya, aku bisa
melihat siripnya yang tegak di atas permukaan air. Hiu itu
berputar-putar, lalu aku masuk ke dalam laut itu, salah satu hiu
Alam Hiu

29

yang berukuran besar datang menghampiriku, setelah dia tahu


kalau aku melihatnya, hiu itu mengiringku pergi kesuatu tempat
di dalam laut itu. Aku dan hiu itu terus masuk ke dalam dasar
laut yang dalam, semakin lama kedalam semakin gelap tidak
ada cahaya, suasana terasa mencekam dan kelam sekali.
Tapi aku tetap berusaha memberanikan diriku mengikuti hiu itu.
Sesampainya di tempat yang gelap itu, hiu tersebut berhenti
dan dia berubah wujud setengah manusia. Kepalanya saja
yang masih berbentuk ikan hiu, lalu kami berbicara;
Desi, kau datang juga kesini ?
Ya, saya tidak tahu kenapa bisa ketempat ini.
Ini adalah alam Hiu
Alam Hiu? saya tidak mengerti
Ya, ini adalah alam kami bangsa Hiu. Kami semua amat
menderita tinggal di tempat ini. Manusia memburu kami untuk
mengambil sirip kami dan memakan kami.
Kenapa menderita ? bukannya ikan hiu itu seperti raja laut dan
ganas, dan katanya juga memakan manusia.
Manusia berpikir begitu, padahal kami tidak seperti
pemahaman mereka, kami hanya makan ikan-ikan kecil di laut
dan tidak memakan manusia.
Tapi benarkan, kalau hiu tidak bisa mencium darah ?
Itu benar, sesungguhnya kehidupan kami menderita disini
30

Alam Hiu

adalah karena kesalahan kami juga. Dulu kami suka mencari


kekuatan-kekuatan gaib dan mempelajari hal-hal gaib, saat
mendapatkan kekuatan dan kelebihan itu, kami tidak
mengunakan kelebihan kami untuk berbuat kebajikan atau
jalan Dharma, tapi kami malah mengunakan kelebihan kami
untuk mendapatkan uang, ketenaran dan memperdayai orang
lain. Saat kami mencari ilmu gaib itu, apapun kami lakukan,
bahkan menyakiti diri kami sendiri dan orang lain, kadang kami
meminum darah orang lain untuk menambah kekuatan ilmu
kami. Kami mengira dengan mempunyai kekuatan itu kami
bisa menjadi Dewa, tapi akhirnya kami malah terlahir di alam
hiu, itulah sebabnya bangsa hiu tidak bisa mencium bau darah,
bau darah membuat emosi / ego kami naik. Semua itu terjadi
secara spontan, tapi setelah terjadi kami amat menyesalinya,
karma itu membuat kami lama hidup di alam hiu.
Oh begitu, lalu adakah pesan yang ingin kau sampaikan
kepada umat manusia?
Desi, aku ingin kau bisa memberitahukan kepada manusia
untuk tidak membina diri demi mencari ilmu gaib untuk
digunakan ke jalan yang salah, karena jika begitu mereka akan
terlahir di alam hiu. Aku ingin agar tidak ada lagi manusia yang
terlahir di alam ini karena sangat menderita, kesepian dan
ditakuti orang dan makhluk lain.
Bukannya kalau salah membina diri bisa masuk ke alam
setan, kenapa bisa terlahir di alam hiu?
Yang masuk ke alam setan berbeda, mereka membina diri
dengan menyembahyangi roh-roh tingkat rendah dan
mengucapkan janji dan sumpah pada mereka, sehingga
Alam Hiu

31

masuk ke alam setan. Yang masuk kealam hiu adalah mereka


yang membina diri dan mendapatkan gaib dari alam semesta,
tapi mempergunakan ilmunya untuk jalan yang salah.
Ya, aku mengerti. Terima kasih atas petunjuknya. Setelah
berbincang-bincang dengan hiu itu, aku perlahan tertarik
keluar dari alam hiu dan kembali terbangun dari meditasiku.
Filsafat...
Kehidupan ini bagai sebuah belati
tidak diasah tidak berguna, diasah dapat melukai
Belati tiada manfaat dan guna bila hanya untuk keserakahan
Tidak semua manusia walau menjalani hidupnya dengan tempaan
untuk orang lain yang dia tidak kenal
hanya ingin kesenangan diri terpenuhi
ketamakan manusia tak pernah hilang selama diri sendiri merasa benar
apa yang harus dilakukan oleh manusia sekarang ini
cukup hanya mawas diri terhadap perbuatan diri.
Ajaran Buddha...
Diasah atau tidak sama baiknya juga sama buruknya
Asalkan sanggup menjalaninya dan sanggup melakukannya
Selama diri sendiri dan orang lain tidak menderita, maka lakukanlah.

32

Alam Hiu

Negeri Capung
NEGERI CAPUNG

Dalam meditasi, aku melihat beberapa ekor capung


terbang berputar-putar. Salah satu capung mengantarku
kesuatu tempat. Ternyata aku telah pergi ke alamnya. Capung
itu mempunyai sayap berwarna kuning keemasan.
Sesampai di alam itu aku melihat seperti taman yang banyak
pepohonan dan terlihat nyaman, capung itu berbicara padaku;
Desi, aku Capung bersayap emas
Kau mengenalku?
Ya,
Bagaimana bisa mengenalku?
Desi, Kaisar Langit yang telah memberitahu melalui
pesuruhnya, Kaisar Langit menyuruhnya ke alam kami dan
memberitahukan kalau akan ada orang yang bernama Desi,
yang akan mengunjungi alam kami, karena dia sedang
menjalankan Amanat dari Kaisar Langit melakukan Perjalanan
Astral ke berbagai alam.
Oh begitu ya, memangnya Negeri Capung ada berapa?
Ada 4. Negeri Capung bersayap hitam, Negeri Capung
bersayap hijau, Negeri Capung bersayap putih dan Negeri
Capung bersayap emas.
Aneh sekali. Kenapa berbeda-beda?
33

Ini membedakan dari mana alam kami sebenarnya. Capung


sayap emas dari alam Kaisar Langit, Capung sayap putih dari
alam Tushita, Capung sayap hitam dari alam Dewa Bawah dan
Capung sayap hijau dari alam Dewa Tao. Sebelumnya kami
adalah Dewa-Dewi kecil dari 4 alam itu. Karena kami telah
berbuat kesalahan mencuri harta benda Kaisar Langit, kami
dihukum menjadi capung.
Apakah Capung dan Kupu-kupu asalnya sama?
Tidak. Kupu-kupu berasal dari siluman yang berbuat
kebajikan, sedangkan Capung berasal dari alam Dewa yang
berbuat kesalahan, tapi kami sama-sama pembawa kabar.
Karena itu jika para Dewa berkenan pada suatu tempat, maka
kami akan lebih dulu datang ketempat tersebut untuk memberi
kabar dan ikut bersuka ria di tempat itu.
Begitu ...
Desi, aku ingin agar kau bisa menceritakan mengenai alam ini
kepada umat manusia, agar mereka bisa mengetahui bahwa,
walaupun menjadi Dewa sekalipun, bisa tumimbal lahir
menjadi binatang jika berbuat kesalahan. Karena itu manusia
harus bisa melatih diri untuk menjadi Bodhisattva atau Buddha
dan tidak hanya ingin menjadi Dewa, karena dengan menjadi
Buddha atau Bodhisattva barulah bisa mendapatkan
keabadian.
Ya, aku akan menceritakan semua ini.
Lalu rohku tertarik keluar dari alam capung itu seiring dengan
selesainya perbincanganku dengan capung sayap emas itu.
34

Negeri Capung

Aku terharu dengan pengalamanku ke alam capung ini,


menjadi Dewa tidak bahagia seperti kelihatannya, karena
mereka masih bertumimbal lahir. Melatih diri hendaknya
bertujuan mensucikan hati dan pikiran untuk mencapai
keBuddhaan kelak, agar bisa terlepas dari penderitaan hidup di
6 alam samsara.
Filsafat...
Pagi begitu indah bak hamparan sawah menguning
Siang begitu cerah bak luasnya samudera
Malam begitu tenang bak suara angin yang lembut
Semua adalah fatamorgana, tak bisa menyerap kebesaran alam
sama saja seperti menelan hampa.
Ajaran Buddha...
Biarpun begitu banyak kekayaan dunia ini,
sampai tak pernah habis untuk dikuras dan dinikmati
tapi tak selamanya bisa dirasakan inti dari seluruh alam
hanya menikmati sisi luar yang palsu
tak bisa menikmati sisi dalam yang asli
Hanya mereka yang mengerti arti hidup dan alam semesta ini
yang bisa menikmati segala yang ada dengan lebih puas dan tenang.

Negeri Capung

35

Alam Katak
ALAM KATAK

Pukul 12 siang, langit mendung dan guntur bergemuruh,


sepertinya akan turun hujan. Sudah beberapa hari ini tidak
turun hujan dan cuacanya panas sekali. Sampai-sampai aku
tidak bisa tidur nyenyak pada malam hari karena perubahan
cuaca ini.
Setelah mendengar gemuruh dilangit, ada perubahan dalam
diriku, dengan segera aku duduk bermeditasi di depan altar
utama cetya. Ternyata aku akan melakukan perjalanan astral
lagi hari ini, karena kepalaku perlahan kembali tertunduk
semakin dalam.
Aku melihat cahaya yang agak terang saat telah memasuki
samadhi, setelah beberapa lama aku melihat ada sesuatu
yang meloncat-loncat. Kaki belakangnya panjang dan daerah
yang dilompatinya itu agak basah. Sepertinya dia sedang
menungguku dan mengiringku ikut dengannya.
Rupanya sesuatu yang melompat itu adalah seekor katak, aku
mengikuti katak itu, aku sama sekali tidak memikirkan hal ini,
dan tak pernah menduga akan pergi ke alam ini. Sesampai di
tempatnya kami berbincang, katak itu berubah wujud seperti
manusia dan mengajakku masuk kedalam, kulihat tempatnya
itu seperti sebuah gua kecil.
Desi, mari masuk aku sedikit ragu
Siapa kau, kenapa saya ke sini?
Aku adalah Pangeran Katak, kau telah berada di Alam Katak.
36

Alam Katak?!! Pangeran Katak?!! apa itu ada???


Ada. Aku adalah Pangeran di alam ini.
Koq bisa ada alam seperti ini? tempatnya seperti gua.
Desi, tempat tinggalku mungkin lebih mirip sebuah lubang.
Berlumpur, basah dan dingin. Aku sebelumnya adalah Dewa.
Dewa, Dewa apa? apa semua katak adalah Dewa
sebelumnya?
Desi, sebelumnya aku adalah Dewa Hujan
Apa... bukankah Dewa hujan ada di langit ?
Sungguh, aku adalah Dewa hujan sebelumnya, Dewa hujan
dilangit suka berganti-ganti
Kenapa begitu?
Karena aku dan Dewa hujan lainnya telah berbuat kesalahan.
Kesalahan apa yang kalian lakukan?
Saat kami bertugas, kami terlalu berlebihan menurunkan
hujan sehingga mencelakai banyak makhluk, sehingga
dihukum dan terlahir di alam katak.
Katak ada begitu banyak, apa semua katak adalah Dewa
hujan?
Tidak. Hanya sebagian saja, sebagian lagi berasal dari alam
manusia.
Alam Katak

37

Tapi bukankah kalian juga melahirkan anak, anak-anak kalian


bukan berasal dari alam Dewa?
Tidak. Yang kami lahirkan adalah dari alam manusia yang
bertumimbal lahir ke alam kami, karena mereka juga berbuat
kesalahan selama di dunia.
Apa kesalahan yang dilakukan mereka?
Mereka suka mencuri isi laut, seperti terumbu karang, ikan
dan semua yang berasal dari laut.
Oh begitu.
Desi, aku mohon kau bisa menceritakan mengenai alam ini
pada semua orang, agar mereka tidak berbuat kesalahan,
sehingga terlahir di alam ini.
Baik, akan saya tuliskan
Sebenarnya, tadi kami sedang meminta hujan, karena kami
sedang kekeringan.
Kalian bisa meminta hujan?, memangnya akan dikabulkan?
Bisa. Karena kami dari Dewa hujan, jika kami minta maka
Kaisar Langit akan mengabulkannya. Tubuh kami harus
lembab dan basah, jika tidak kami akan kesakitan, itulah
penderitaan kami dan kami kadang selalu di makan ular.
Kasihan kalian. Kapan kalian bisa tumimbal lahir lagi menjadi
manusia?
38

Alam Katak

Masih lama, sekitar 500 tahun lagi.


Ha.. lama sekali. Memangnya usia katak sampai begitu lama
?
Tidak. Itu hanya untuk pemimpin di alam ini, yang lainnya
tidak.
Oh begitu, berarti penderitaan kamu masih lama di alam ini.
Desi, beritahukanlah pada banyak orang untuk berbuat
kebajikan dan jangan berbuat kejahatan, karena jika berbuat
jahat maka akan menderita seperti kami.
Lalu pembicaraan kami terhenti, karena semakin lama aku
semakin menjauh, jauh dari alam itu dan aku kembali melihat
sinar terang lagi tapi itu adalah sinar terang di alamku ini.

Alam Katak

39

Negeri Duyung Laut Atlantik

Negeri Duyung Laut Atlantik

Hari ini, kira-kira pukul 10 pagi, aku merasa perubahan roh


dalam diriku, lalu aku duduk bermeditasi, kepala kembali
tertunduk semakin dalam dan aku telah pergi ke alam lain.
Terlihat lautan lagi, ada satu ikan duyung seperti di film-film,
lebih mirip Putri Duyung karena setengah tubuhnya bagian
bawah berbentuk ikan dan bagian atas berbentuk tubuh wanita
cantik, berambut panjang terurai, bergelombang dan berwarna
pirang. Sama seperti yang lain saat aku pergi mengunjungi
alam binatang, duyung itu juga sedang menungguku rupanya.
Aku berenang dengannya menuju tengah laut dan turun ke
dasarnya. Terlihat sebuah istana, aku berpikir apakah ini nyata,
aku sedikit bingung tapi tetap mengikuti duyung itu.
Setelah dekat istana yang terlihat indah itu, dia berhenti dan
bicara denganku;
Desi, aku Putri Duyung di Laut Atlantic, ini adalah Negeri
Duyung dan Raja di sini adalah Zeus.
Aneh, apakah negeri ini benar-benar ada?
Ya, ini nyata. Tapi tidak semua orang mengetahui tempat ini,
hanya mereka yang bisa pergi ke alam lain seperti dirimu yang
bisa mengetahuinya.
Aku kira ini hanya dongeng saja, mengapa alam lain itu seperti
cerita dongeng?
Imajinasi manusia, sebenarnya berasal dari rohnya yang
40

sudah bisa mengetahui alam-alam lain tanpa disadari, roh bisa


pergi saat tidur, itulah kenapa banyak ide-ide yang muncul
mengenai alam yang tidak masuk akal di alam manusia.
Oh begitu. Aku tidak begitu memahami hal ini
Kau akan bisa memahami juga nantinya
Bagaimana bisa ada alam ini?
Desi, ini bermula dari manusia yang berbuat kesalahan saat di
dunia. Sebenarnya aku dan penghuni di alam ini adalah
manusia sebelumnya. Kami semua adalah seorang pembina
diri, yang melatih roh kami untuk bisa mendapatkan kekuatan.
Tapi karena dalam pembinaan diri kami masih tidak bisa keluar
dari 3 racun (loba, dosa dan moha) yaitu, keserakahan,
irihati dan kebodohan. Sehingga kami tidak terlahir di alam
yang lebih baik, tapi malah terlahir di alam ini.
Tapi sepertinya alam ini indah, dan katanya lagi raja laut
atlantik kaya? Sampai-sampai Mahadewi Yao Chi menurunkan
Shadana Raja Laut Atlantik untuk mendapatkan rejeki.
Desi, banyak manusia tidak mengetahui hal ini, alam Duyung
sepertinya indah dan membahagiakan, tapi sesungguhnya
kami menderita, gerak kami terbatas, kami tidak bisa
kedaratan dan hanya bisa di lautan saja. Kami tidak bisa
berinteraksi dengan siapapun, karena kami tak terlihat oleh
mereka, kami sangat kesepian. Alam kami memang kaya, tapi
kami tidak bisa menikmatinya. Karena keserakahan (loba)
kami tidak bisa benar-benar bahagia, karena irihati (dosa)
setengah tubuh kami tidak sempurna dan karena kebodohan
Negeri Duyung Laut Atlantik

41

(moha) kami tidak bisa mengetahui apa yang terjadi di alam


manusia. Sungguh amat menderita.
Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?
Desi, tuliskanlah mengenai alam ini, alam ini terlihat seperti
surga, tapi sama sekali berbeda. Manusia yang membina diri
hendaknya bisa menghapus 3 racun utama ini agar tidak
terlahir di alam ini dan bisa mencapai kesempurnaan.
Baiklah. Aku akan menuliskannya.
Setelah itu aku berpamitan pada duyung itu, dan aku keluar
dari meditasi.

42

Negeri Duyung Laut Atlantik

Alam Ular

Alam Ular

Siang ini, kira-kira pukul 2. Setelah aku selesai mandi aku


merasakan sesuatu, mengisyaratkan agar aku duduk
bermeditasi. Aku duduk meditasi di altar utama cetya sambil
bershadana. Saat memasuki samadhi kepalaku kembali
tertunduk. Aku telah pergi lagi ke alam lain, entah alam apa.
Aku melihat suatu bayangan, yang semula samar semakin
lama semakin jelas, kulihat ada seorang wanita muda,
bertubuh langsing sedang menari-nari diatas sebuah
panggung dengan hanya mengunakan pakaian dalam saja,
tempat itu seperti sebuah klub malam.
Wanita itu menari-nari di sebuah tiang stainless berwarna
putih, dan dia melakukan tarian dengan gerakan-gerakan yang
merangsang dan mengundang birahi. Di samping wanita
tersebut masih ada beberapa wanita lainnya yang
berpenampilan sama sepertinya sedang menari-nari juga di
atas panggung itu.
Kemudian wanita itu turun dari panggung dan menuju mejameja tamu yang berbentuk bulat sambil terus bergoyang dan
menari. Ditiap meja-meja bulat itu ada beberapa orang yang
duduk dan terlihat begitu senang dan gembira, terlihat
sebagian besar tamu-tamu itu laki-laki.
Wanita penari itu datang menghampiri tamu-tamu tersebut dan
ada wanita penari lain yang mengantikan posisinya menari di
tiang stainless itu. Kadang wanita itu duduk di pangkuan salah
satu tamu laki-laki disitu dan kadang dia mengosok-gosokkan
buah dadanya di tubuh tamu laki-laki lainnya. Dan setelah
43

beberapa lama kemudian, laki-laki yang didekatinya itu satu


persatu menyelipkan uang kertas di pakaian dalamnya.
Setelah itu, wanita tersebut kembali naik kepanggung dan
kembali menari meliuk-liuk di tiang stainless, kemudian dia
menanggalkan pakaian dalamnya satu persatu sampai
telanjang bulat dan terus menggerakkan tubuhnya. Seluruh
tamu berteriak histeris melihat aksi panggung wanita itu.
Suasana didalam ruangan itu terasa begitu panas dan ramai.
Kemudian, setelah wanita itu selesai pertunjukannya, dia
masuk keruang ganti dan menghapus make up dan berganti
pakaian, lalu dia keluar dari club tersebut, aku mengira dia
akan pulang kerumahnya, tapi ternyata dia malah masuk ke
sebuah bar dan duduk di sana sambil minum sesuatu, aku
melihat sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Ternyata benar, ada seorang laki-laki yang menghampirinya
dan mereka terlihat mesra saat bertemu, kemudian mereka
pergi dari bar itu menuju sebuah hotel. Saat mereka sedang di
kamar hotel sambil bercumbu, tiba-tiba ada seorang wanita
lain masuk secara diam-diam dan menghampiri mereka.
Wanita penari dan laki-laki itu terkejut.
Wanita yang masuk diam-diam itu terlihat sangat marah, dia
segera mengeluarkan sebuah pisau dan menusuk perut wanita
penari tersebut, kemudian wanita yang marah tersebut
menghampiri laki-laki itu dan melakukan hal yang sama, wanita
itu menusuknya juga.
Wanita penari dan laki-laki yang bersamanya langsung mati di
kamar hotel tersebut, seiring dengan itu, aku melihat roh
44

Alam Ular

keduanya keluar dari tubuh mereka, dengan cepat melesat


entah kemana, tapi aku masih bisa mengikuti roh mereka.
Aku tersentak kaget, karena melihat roh mereka masuk
kedalam tubuh ular. Roh wanita penari masuk ketubuh ular
berwarna putih kekuningan dan roh laki-laki itu masuk ketubuh
ular berwarna hitam. Aku sempat tidak mengerti, kenapa aku
bisa melihat hal seperti ini, apa maksud dari yang kulihat ini,
mengapa seperti sebuah cerita saja.
Ular putih kekuningan itu sepertinya melihatku dan dia berjalan
seakan menuntunku ke suatu tempat, ternyata aku dibawa ke
alamnya. Lalu kami berbicara;
Desi, aku ular sanca, sebelumnya aku adalah wanita bernama
Mei Cen Ling, kau sudah melihat riwayat hidupku?
Ya, saya melihatnya. Mengapa bisa begitu?
Aku adalah seorang wanita penghibur, penari telanjang dan
perayu laki-laki beristri. Sebenarnya aku tak ingin melakukan
hal itu, tapi karena hambatan ekonomi dan agar bisa hidup di
dunia dengan kecukupan, aku terpaksa melakukan hal itu.
kejadian itu terjadi di tahun 1982, di sebuah hotel di China,
perbuatanku itu menyebabkan aku terlahir menjadi seekor ular.
Aku sangat menderita, terlebih lagi saat tubuhku berganti kulit,
itu adalah saat yang paling menyakitkan bagiku, rasa sakitnya
seperti siksaan alam neraka, walau aku tidak masuk neraka.
Kenapa kau tidak masuk neraka dulu baru terlahir menjadi
binatang?
Ada perbedaan dalam hal ini, aku berbuat kesalahan itu
Alam Ular

45

karena terpaksa, sehingga tidak masuk neraka, tapi mereka


yang melakukan hal itu karena memang menginginkannya,
akan masuk ke neraka dulu baru terlahir di alam ini.
Kapan bisa terlahir menjadi manusia?
Masih lama, jika terlahir di alam ini akan hidup selama lebih
dari 500 tahun, jika waktu itu belum sampai dan kami mati,
maka akan tetap kembali terlahir di alam ini sampai masa hidup
kami berakhir.
Oh begitu, menyedihkan sekali. Apa yang bisa ku bantu?
Desi, aku ingin kau mau memberitahukan kepada manusia
tentang alam ini, terlahir menjadi ular adalah penderitaan yang
sama seperti di neraka, kehidupan kami disini sama seperti
saat kami di dunia, saling bersaing dengan yang lain, dan kami
tidak bersahabat satu dengan yang lain. Berbuat kesalahan
seperti kami bisa sangat fatal, saat menjadi manusia kami tidak
memperhatikan dan mengetahui hal ini, hanya berusaha
mendapatkan keinginan kami, walaupun harga diri kami sudah
seperti sampah dan menjijikan. Begitulah manusia saat
melihat kami merasa jijik, geli dan takut. Saat menjadi manusia
kami bertubuh bagus dan menggiurkan, tapi saat di sini kami
amat menakutkan. Aku berharap manusia yang ada sekarang
tidak menyia-nyiakan hidupnya seperti kami.
Aku terharu mendengar perkatannya, begitu menyedihkan jika
sampai terlahir menjadi ular, siapapun pasti tidak
menginginkan menjadi ular nantinya. Tapi apakah manusia
bisa sadar, kalau ambisi mereka dalam keduniawian bisa saja
menjerumuskan mereka dan membuat mereka mengalami
46

Alam Ular

penderitaan berkepanjangan setelah mendapatkan


kenikmatan sesaat ?.
Filsafat...
Kemanakah jalan kebenaran, disitulah kaki berpijak
Kemana jalan dharma, disitulah hati tertanam
Tiada yang bisa menyalahkan sumber dari segala alam
semua itu tak terbatas dan takkan habis.
Ajaran Buddha...
Janganlah kita terlalu mementingkan keinginan duniawi
Janganlah kita selalu terjebak dalam pemuasan nafsu
Karena semua itu sama sekali tak berarti, sama sekali tak bermakna
Habis usia dan habis harta demi sesuatu yang sia-sia
karena tak selamanya yang dilihat indah dan menyenangkan,
akan benar-benar indah dan menyenangkan pula pada akhirnya
Katakan saja apa adanya dan tidak perlu meyakinkan seseorang,
biarkan berjalan berdasarkan jodoh.
Biarkan mereka yang berpikir sendiri,
dan para Dewa bereaksi terhadap mereka.

Alam Ular

47

Alam Penyu

Alam Penyu

Hari ini aku menjalankan tugas untuk memberkati beberapa


rumah di daerah Tangerang. Setelah itu aku mampir ke rumah
teman lamaku di daerah yang sama. Saat itu sudah pukul 4
sore, tiba-tiba langit bergemuruh dan aku merasakan
perubahan roh dalam diriku. Aku segera masuk ke dalam
meditasi dan kepalaku kembali tertunduk dalam.
Dalam posisi itu aku seperti tertidur, aku sama sekali tidak
terpengaruh dengan suasana diluar diriku, dengan cepat aku
telah terkonsentrasi dan masuk kedalam meditasi.
Awal terlihat samar, ada sesuatu yang berenang, seperti
sedang mendayung. Aku mengira sebuah perahu yang sedang
di dayung seseorang, tapi semakin lama terlihat jelas kalau itu
adalah seekor penyu.
Satu ekor penyu berenang di laut menuju pantai, terus berjalan
kedaratan yang berpasir putih, di situ dia membuat lubang.
Aku melihat penyu itu bertelur dan dasar tanah seakan tembus
pandang bagiku. Setelah itu penyu tersebut kembali ke laut
dan aku tetap mengikutinya masuk kedalam laut.
Setelah beberapa lama aku telah tiba di laut yang banyak di
tumbuhi rumput-rumput laut dan ganggang laut, dan di sana
juga banyak penyu-penyu yang lain. Penyu yang ku ikuti itu
berbicara denganku;
Desi, selamat datang di Alam Penyu
Ini Alam Penyu ya, jadi seperti ini tempat tinggal Penyu.
48

Ya, kami hidup dalam air, tapi kami juga butuh napas di udara,
karena itu kami tinggal di sini, jika kami ingin bernapas kami
tinggal naik ke atas rumput laut dan menaikan kepala kami ke
atas.
Begitu ya, bagaimana bisa ada alam ini?
Alam ini berasal dari manusia juga, dulunya kami adalah
manusia, tapi karena saat itu kami adalah pencuri bayi, penjual
barang-barang ilegal dan memalsukan produk orang lain.
karena itu kami terlahir di alam ini. Anak-anak kami kadang
juga di curi manusia dan kadang di makan banatang buas di
darat.
Mengapa kalian mempunyai tubuh yang keras?
Karena kami selalu ketakutan segala perbuatan kami terlihat
dan diketahui orang, makanya hanya bisa bersembunyi dalam
tubuh. Penderitaan hidup di alam penyu juga menyedihkan,
kadang kami di buru dan di makan manusia, itulah nasib kami.
Berapa lama masa hidup di alam ini ?
Ratusan tahun.
Apakah kura-kura juga satu alam dengan alam penyu ?
Kesalahan manusia yang terlahir di alam kura-kura hampir
sama dengan kami, tapi hanya berbeda alam sedikit. Desi
beritahukan kepada manusia tentang hal ini, jangan menjual
barang ilegal, memalsukan barang orang lain dan menculik
serta menjual bayi dan anak kecil. Karena jika begitu mereka
akan masuk ke alam penyu.
Alam Penyu

49

Alam Bison

ALAM BISON

Saat aku sedang menjalankan tugas membersihkan rumah


orang di daerah Jakarta, setelah selesai menjalankan tugas
aku singgah kerumah salah seorang umat cetya, dia juga
merupakan salah satu umat yang telah banyak membantuku
dalam jalan Dharma ini.
Di rumahnya mendadak langit bergemuruh dan hujan turun
dengan sangat deras, badanku terasa aneh setelahnya, aku
putuskan untuk bermeditasi dan meminta izin untuk duduk
meditasi di depan altar rumah umat tersebut.
Di depan altar umat tersebut, aku masuk kedalam samadhi dan
tertunduk dalam. Aku pergi ke alam lain.
Aku melihat sesuatu yang beradu kepala, tapi bukan manusia,
awalnya tidak begitu jelas, aku hanya bisa menduga-duga
saja, aku kira itu banteng/kerbau, tapi tanduknya berbeda, lalu
binatang itu berkata;
Desi, aku Bison. Kau telah berada di alamku ternyata itu
Bison.
Mengapa aku bisa kesini, tadi ku lihat kau sedang beradu,
kenapa?
Desi, aku sama seperti Banteng, Kerbau dan Kambing,
asalnya kami dari manusia yang seringkali bertengkar dan
berkelahi dengan siapa saja. Emosi kami itu yang membuat
kami terlahir di alam ini. Dalam dunia, kami bersaing dalam hal
apa saja yang tidak baik. Berbuat apa saja untuk bisa melawan
50

orang lain. Persaingan tidak sehat, baik dalam usaha,


pekerjaan dan lain-lain.
Baru saja sedikit pembicaraanku dengan bison tersebut, aku
telah keluar dari alam tersebut, mungkin karena aku sudah
terlalu lelah karena habis menjalankan tugas kebeberapa
tempat, tapi entah kenapa aku tidak bisa keluar dari meditasi.
Dengan spontan aku membaca Mantera Ussnisa Vijaya
Dharani, cakra mahkotaku terbuka dan rohku keluar dari tubuh,
di atas Bodhisattva Ussnisa Vijaya sudah menungguku, dan
kami naik ke langit.
Ternyata, dilangit ada satu raksasa sedang membuat onar,
membuat cuaca tidak baik, menurunkan hujan dan petir
bertubi-tubi. Ternyata raksasa itu adalah jin yang ada di rumah
orang yang aku bersihkan pagi tadi.
Aneh, bukannya jin itu sudah di angkat dari rumah tersebut,
tidak tahunya raksasa itu kabur dari tangan Buddha Amithaba
dan mencoba untuk kembali lagi ke tempatnya semula, tapi jin
itu tidak bisa kembali kebumi dan juga tidak bisa kembali ke
tangan Buddha Amithaba.
Aku bilang pada raksasa itu, akan membantunya untuk pergi
ke alam yang lebih baik, dan segera mengundang Ksitigarbha
Bodhisattva untuk mengangkatnya.
Setelah itu aku kembali ketempatku, tapi aku masih belum bisa
keluar dari meditasi, aku melihat kehadiran Kaisar Langit, dia
berkata;
Desi, aku telah menurunkan amanat kepadamu untuk menulis
Alam Bison

51

buku ke-3 yang berjudul Perjalanan Astral ke Alam Binatang


dan telah memberimu Stempel Kaisar Langit agar kau bisa
pergi ke alam binatang untuk mempelajari alam tersebut dan
menuliskannya ke dalam buku, jalanilah dengan baik
Penulisan buku ke-3 ini adalah amanat dari Kaisar Langit, buku
pertama adalah amanat dari Mahadewi Yao Chi, buku ke-2
adalah amanat dari Buddha Sakyamuni melalui Mahadewi Yao
Chi dan buku filsafat adalah amanat dari Mahaguru
Bodhidharma.
Semua buku yang kutulis semuanya atas amanat dari langit,
sampai cover buku masing-masing diberikan petunjuk seperti
apa. Seakan tak percaya akan semua ini, tapi semua ini nyata
aku alami.

52

Alam Bison

Alam Harimau
Alam Harimau

Suatu kali, cetya Sukhavati Prajna mengadakan perjalanan


spiritual yang pertama ke Yogyakarta, tujuannya adalah ke
candi Prambanan, Borobudur dan Mendut. Kami berangkat
dengan mengunakan bus pariwisata yang telah kami sewa,
ada 37 orang Dewasa dan 13 anak-anak yang ikut perjalanan
ini.
Kami begitu lelah menempuh perjalanan lebih dari 24 jam,
jadwal yang kami susun jadi kacau balau karna waktu yang tak
terduga ini karena jalanan macet. Akhirnya kami tiba di Yogya
pukul 6 sore esok harinya.
Ini adalah pertama kalinya aku pergi melakukan perjalanan
spiritual bersama orang lain, biasanya aku hanya pergi dengan
suamiku saja. Aku agak khawatir menjalankan tugas ini,
karena harus membawa orang yang banyak, ada ketakutan
dalam diriku, kalau terjadi sesuatu yang tidak baik pada
mereka.

meditasi di Candi Prambanan

meditasi di Candi Borobudur

Karena aku mengetahui, kalau pergi ke alam-alam terbuka dan


bermeditasi di sana, akan bisa menyerap energi, dan roh akan
mengalami perubahan-perubahan. Aku takut mereka tidak
siap dengan apa yang akan mereka dapatkan nantinya.
53

Energi alam semesta sangat kuat, jika kita tidak bisa


menguasai diri, maka akan ketakutan dengan reaksinya,
karena kekuatan roh dalam tubuh akan semakin kuat, aku takut
mereka tidak bisa mengendalikan diri, sehingga terjadi
kekacauan di sana.
Di dalam bus saat akan berangkat, rohku bergerak seakan
memberkati bus itu, Guru Sejatiku mengatakan kalau para
Dharmapala akan mendampingi bus ini, dan meminta agar aku
tidak khawatir.
Esok paginya ditengah perjalanan menuju Yogya, setelah bus
berhenti di tempat pemberhentian sementara, setelah aku
membersihkan diri, ada perubahaan dalam diriku, aku
putuskan untuk bermeditasi di dalam bus.
Setelah beberapa lama masuk ke dalam samadhi, aku melihat
harimau besar yang sedang mengaum-aum. Harimau itu
seakan melihatku dan meminta aku mengikutinya. Lalu dia
berkata kepadaku;
Desi, ini adalah Alam Harimau
Amat menakutkan, aku sangat takut harimau
Tidak apa-apa , kau tidak akan diganggu, karena kau sedang
menjalankan Amanat
Bagaimana bisa ada alam ini
Desi, sesungguhnya kami berasal dari alam Dewa. Kami
adalah Jendral/Panglima Perang di Istana Langit
54

Alam Harimau

Kenapa bisa menjadi harimau?


Karena kami telah melanggar tugas. Saat bertugas kami
bertindak sesuka hati, membunuh lawan dengan keji dan tidak
berperasaan, dan kami senang melakukannya. Itulah kenapa
kami terlahir di alam harimau
Oh begitu
Tapi kami berusaha untuk berbuat kebajikan lagi dengan
menolong manusia, agar kami bisa kembali ke tempat asal
kami
Apakah bisa kembali?
Bisa. Tapi tidak mudah, butuh waktu yang lama untuk bisa
kembali ketempat asal. Bahkan untuk menjadi manusia agar
bisa membina diri tidak gampang. Akhirnya kami hanya bisa
mengumpulkan kebajikan di alam ini
Itulah perjalanan astralku ke alam harimau hari ini, salah satu
umat di dalam bis melihat apa yang terjadi padaku. Dia baru
mengetahui bagaimana posisiku saat pergi melakukan
perjalanan astral.
Sesampainya di Yogya, Kami menginap di hotel daerah kota
Yogya yang sudah kami pesan sebelum berangkat, Hotelnya
bagus dan bersih, nyaman sekali, ada kolam renangnya. Tapi
karena aku sedang berhalangan jadi aku tidak bisa berenang di
hotel itu. Entah kenapa setiap kali cetya mengadakan
perjalanan ke luar kota selama beberapa hari, selalu saja
bertepatan dengan hari berhalanganku, sehingga
perjalananku agak sedikit tidak nyaman.
Alam Harimau

55

Karena lelahnya perjalanan dari Jakarta Yogyakarta lebih


dari 24 jam, aku langsung terlelap tidur. Tapi ada salah satu
umat yang tidak bisa tidur malam itu, karena dia merasa kamar
yang dia tempati ada penunggunya. Akhirnya aku membantu
membersihkan kamar itu dan memberikan perlindungan, tapi
ternyata hantu penunggu kamar itu mencoba masuk kembali
kekamar tersebut, sampai-sampai hantu itu membawa bala
bantuan untuk bisa masuk, mengetahui hal itu, aku dan
beberapa umat yang telah bisa mengerakan rohnya, dengan
segera kembali membuat perlindungan, sehingga hantu
tersebut pergi.
Aku hanya membersihkan kamar itu untuk sementara waktu,
sampai kami semua kembali ke Jakarta, agar umat yang tidur
di kamar itu tidak terganggu.
Dalam perjalananan kami kembali ke Jakarta, ternyata hantu
penunggu kamar hotel itu mengikuti kami, dan mereka ingin
minta di seberangkan, agar bisa mendapatkan tempat yang
lebih baik. Kami semua amat terharu akan hal ini, mungkin
hantu tersebut melihat apa yang kami lakukan, selama di hotel
tersebut dan selama dalam perjalanan, kami banyak
membicarakan mengenai Dharma Buddha. Akhirnya hantu
hotel itu berjodoh juga untuk di seberangkan, dan aku berniat
membantu menyeberangkan mereka pada cioko nanti.
Banyak pengalaman yang kami dapatkan selama melakukan
perjalanan spiritual ke Yogyakarta, ada yang saat disana
rohnya terbangkitkan, ada yang setelah dalam perjalanan
pulang mengalami perubahan roh. Di dalam bus kami juga
saling berbagi pengalaman dan cerita, perjalanan yang
panjang menjadi amat menyenangkan buat kami semua.
56

Alam Harimau

Perjalanan spiritual yang ku jalani bersama para umat cetya,


merupakan pengalaman pertama bagiku. Dengan adanya
perjalanan ini, kami jadi saling mengenal lebih dekat dan
seperti keluarga.
Dulu saat aku sendiri menjalankan tugas melakukan
perjalanan, pengalaman yang terjadi hanya aku sendiri yang
merasakannya. Sekarang aku membimbing mereka untuk bisa
seperti diriku, mempunyai pengalaman-pengalaman spiritual,
agar kerohanian mereka bisa berkembang dengan baik.
Filsafat...
Bumi berputar tiada arah, langit berputar tiada henti,
semua terjadi begitu saja.
Kepergian angin, kepergian hujan, tak bisa diprediksi
Hanya satu yang bisa diketahui arah dan tujuannya
yaitu Dharma Buddha dan Kebenarannya.
Ajaran Buddha...
Janganlah panik, janganlah takut,
tetaplah maju walau banyak yang merintangi
Kesempatan hidup di dunia memang berulang kali
tapi kesempatan mendapat kebahagiaan abadi hanya sekali
jika melewatinya, hanya bisa menunggu waktu
yang tidak diketahui dengan pasti.

Alam Harimau

57

Alam Angsa

ALAM ANGSA

Hari ini juga ada sesi meditasi di cetya, salah seorang umat
datang dan sembahyang kepada Se Ta Tien Wang, umat itu
sangat telaten dalam bersembahyang, membawa
persembahan yang lumayan banyak. Setelah membantunya
ritual sembahyang aku terpanggil untuk bermeditasi.
Aku melihat ada seorang gadis, baju yang dikenakan seperti
baju indah dengan ikat kepala bulu angsa. Gadis itu terlihat
nakal dan suka mengerjai orang yang dia temui. Dia tak pernah
diam, sampai dia dewasa tingkah lakunya ini tidak berubah,
malah semakin menjadi-jadi. Sampai-sampai mencegat mobil
orang dan membunuh orang tersebut.
Aku tidak mengerti apa maksud penglihatan ini, tapi tidak lama
kemudian, wanita nakal itu mati dibunuh orang juga, lalu
rohnya terlahir menjadi angsa. Angsa itu berkata;
Desi, aku Putri Angsa. Ini ada di alamku
Putri Angsa, aku melihat kejadian tentang kamu?
Ya, itu aku. Aku orang yang tidak berperasaan. Kadang aku
berpikir, kenapa aku wanita bisa melakukan hal itu, tapi pada
saat itu entah kenapa aku tak ada pemikiran demikian.
Mengapa kau berbuat hal itu?
Entahlah, sepertinya semacam kesenangan, karena itu aku
terlahir di alam angsa ini.
Tapi kenapa tidak dihukum di neraka?
58

Desi, sebelumnya aku dihukum terlebih dulu di neraka baru


terlahir jadi angsa. Karena saat hidup kami suka mengunakan
bulu angsa untuk mengerjai orang.
Oh ...
Desi, semoga kau bisa menuliskan mengenai alam ini dengan
baik, agar bisa merubah hati manusia.
Aku akan berusaha dengan baik, terima kasih.
Filsafat...
Begitu banyak yang terjadi dari kehidupan sepi sampai kehidupan pedih
semua hanyalah penderitaan dan penderitaan
tak ada yang benar-benar bisa hidup bahagia
tertawa dan senang diluar, sakit dan kecewa didalam
apakah seperti ini kehidupan
tak ada yang bisa mencegahnya, kecuali menyadari diri sendiri.
Ajaran Buddha...
Bagaikan hidup tak tentu arah, juga bagaikan hati tak ada kejernihan
Hati dan pikiran diliputi oleh kekotoran, mau bagaimana baru bisa mengetahui
diri sendiri, yang selama ini dikuasai oleh jiwa.
Hati yang murni tak mudah dikenali, hati yang bersih tak mudah diketahui
Hanya ada satu cara yang bisa membuka tabir ini yaitu mengerti
jalan hidup sendiri, apa yang dilakukan baik atau buruk,
bisa dinilai dan dilihat dari perbuatan kita sendiri dengan
merenungi apa yang telah kita lakukan.
Alam Angsa

59

Alam Ratu Rayap


ALAM Ratu Rayap

Hari ini, seperti biasa aku pergi ke alam binatang, kali ini aku
seperti masuk ke dalam tanah dan melihat ada banyak
binatang yang bergerak-gerak, aku kira gerombolan semut,
ternyata bukan, itu adalah gerombolan rayap, bentuknya
hampir seperti jangkrik, tapi lebih kecil. Rayap-rayap itu seperti
sedang sibuk, berjalan kesana kemari.
Lalu aku menyusuri celah lubang tanah itu semakin ke dalam,
aku melihat sesuatu yang agak besar, bentuknya seperti ulat
yang gemuk, aku geli melihatnya, tapi entah kenapa aku
berhenti didepannya dan binatang yang seperti ulat gemuk itu
bicara padaku;
Desi, aku Ratu Rayap. Kau telah berada di Alamku
Kau Ratu Rayap? mengapa bentukmu aneh sekali, tidak
seperti rayap tapi seperti ulat?
Desi, aku adalah Ratu di Alam Rayap ini, kerjaku hanya
makan, tidur dan kawin saja. Tidak ada yang aku kerjakan, aku
amat menderita karena tidak bisa bergerak kemana-mana.
Kenapa begitu, bagaimana ada alam ini?
Desi, sesungguhnya aku adalah Dewi di Nirwana, tapi karena
aku menginginkan kenikmatan di dunia manusia, aku secara
diam-diam turun ke bumi menikmatinya, berubah diri menjadi
manusia dan bergaul dengan banyak laki-laki, hanya
bersenang-senang saja. Suatu kali perbuatanku diketahui oleh
Raja Langit, sehingga aku dihukum terlahir di alam rayap ini
60

dan menjadi Ratu Rayap.


Lalu bagaimana dengan rayap yang lain?
Ratu Rayap hanya satu, tapi ada rayap penjaga dan rayap
pekerja. Mereka semua asalnya dari manusia, khususnya lakilaki yang suka berhubungan dan bersenang-senang dengan
wanita tuna susila, sehingga mereka semua terlahir di alam
rayap ini menjadi pekerja dan penjaga.
Apakah kau menjadi Ratu selamanya di alam rayap ini?
Tidak, Ratu Rayap bisa berganti-ganti. Karena Ratu Rayap
kerjanya hanya kawin dan dikawini oleh banyak rayap lain,
makan sampai gemuk dan melahirkan rayap-rayap kecil,
setelah melahirkan Ratu Rayap akan dibunuh oleh rayap lain.
begitulah nasib Ratu Rayap, dan akan di ganti oleh Ratu Rayap
yang lain.
Dari mana didapatkan Ratu Rayap sebagai gantinya?
Lahir dari Ratu Rayap sendiri, biasanya akan ada beberapa
rayap wanita, tapi sepertinya insting rayap pekerja dan penjaga
amat kuat, jadi hanya memilih satu rayap wanita saja sebagai
ratunya dan rayap wanita yang tidak terpilih akan dibunuh.
Kenapa begitu?
Dunia rayap hanya perlu satu rayap dan satu Ratu Rayap bisa
melahirkan banyak anak-anak rayap.
Oh begitu
Alam Ratu Rayap

61

Ya, seperti itulah kehidupan dunia kami, sesuai dengan


hukum karma yang kami jalani.
Berapa lama kehidupan sebagai Ratu Rayap
Tidak lama, hanya dalam hitungan bulan
Setelah itu terlahir di alam apa?
Ke alam manusia
Oh ...
Desi, kau harus memberitahukan mengenai alam ini pada
manusia, jangan berhubungan dengan wanita tuna susila
karena akan terlahir di alam ini.
Demikianlah perbincanganku dengan Ratu Rayap, awalnya
aku geli melihat wujudnya, tapi setelah mendengar ceritanya
itu aku menjadi terharu dan ikut bersedih atas penderitaannya.
Baik Dewa maupun manusia, tetap akan mengalami tumimbal
lahir dan menjalankan hukum karma, walaupun kehidupan di
dua alam ini sudah termasuk beruntung, semua tergantung
Dewa atau manusia itu sendiri, semua perlu kebajikan yang
harus dikumpulkan, karena akan mendapatkan pahala dan
terhindar dari hukum karma.
Menjadi Dewa pun tidak selalu baik, karena Dewa pun ada
tingkatannya. Tingkatan itu dihitung berdasarkan amal
kebajikan mereka juga saat masih menjadi manusia. Jadi
intinya, dengan menjadi manusialah baru bisa mempunyai
kesempatan besar untuk mengumpulkan pahala kebajikan,
tapi amat disayangkan, hidup manusia tidaklah lama di zaman
62

Alam Ratu Rayap

sekarang ini, bisa hidup sampai 80 tahun itu sudah sangat


beruntung, zaman sekarang kebanyak manusia mengalami
mati muda, baru usia 40 thn 50 thn sudah mati.
Banyak orang berkata, masih muda jangan banyak baca
mantera dan menghabiskan waktu untuk menjalankan
Dharma, harusnya selagi masih muda harus dinikmati karena
kalau sudah tua tidak bisa lagi menikmati hidup, kalau masih
muda sudah menjauhkan diri dari kesenangan duniawi itu
namanya menyia-yiakan hidup.
Aku sering kali mendengar perkataan seperti itu, bahkan
perkataan itu keluar dari orang yang beragama Buddha, dan
lebih parahnya lagi perkataan itu bisa keluar dari mulut orang
tua yang menasehati anaknya sendiri.
Kita terlahir di dunia ini, apa yang telah kita lakukan? makan,
tidur, sekolah, bekerja, bersenang-senang, menikah, punya
anak, sakit, tua dan lalu mati. Apa yang bisa didapat dari semua
itu? kita kembali mengalami tumimbal lahir dan terus
mengalami penderitaan. Apakah harta duniawi dan
kesenangan duniawi bisa kita bawa saat kita mati ?
Biasanya manusia baru bisa mendapatkan pencerahan jika
sudah mengalami penderitaan dan kesulitan hidup, jika
mereka belum mengalaminya mereka tidak memperdulikan
semua itu. dan hanya menganggap angin lalu saja. Jika sudah
terjatuh dan terjerumus, menyesalpun tidak ada gunanya.

Alam Ratu Rayap

63

Alam Kuda Poni


ALAM KUDA PONI

Siang ini, aku merasa tidak bersemangat, karena agak


sedikit lelah dan mengantuk, tubuhku sakit semua, aku coba
tidur tapi tidak bisa beristirahat dengan baik, aku tidak bisa
tertidur pulas.
Kira-kira pukul 2 siang, aku merasa aneh saat hendak istirahat,
ada pergerakan roh, akhirnya aku berkonsentrasi sejenak.
Dengan sendirinya tanganku membentuk mudra, dan gerakan
yoganya sepertinya aku kenal, setelah beberapa lama gerakan
yoga berhenti dan muncullah Pu Xian Pusa (Samanthabadra
Bodhisattva). Beliau berkata;
Desi, Aku Pu Xian Pusa
Pu Xian Pusa, ada apakah gerangan hari ini datang menemui
hamba?
Desi, aku sedang menjalankan Amanat dari Buddha
Sakyamuni
Amanat apakah itu ?
Desi, Buddha Sakyamuni berpesan agar kau
memberitahukan kepada umat di cetya, agar membina diri
dengan baik dan berkonsentrasi dalam meditasi, karena pada
saat sejit Buddha Sakyamuni di acara Waisak nanti, Buddha
Sakyamuni akan datang secara khusus untuk memberikan
nama Buddha pada mereka.
Pu Xian Pusa, apakah bisa begitu? hamba jadi tidak
64

mengerti.
Setelah acara pemandian rupang Buddha Sakyamuni,
mereka harus masuk dalam meditasi dan berkonsentrasi pada
hati dan pikirannya, maka mereka akan mendapat ilham nama
Buddha dengan sendirinya dari hati mereka masing-masing.
Bagaimana dengan mereka yang belum terbangkitkan roh?
Mereka akan bisa mendapatkannya juga
Lalu, bagaimana dengan yang sudah mendapatkan nama
Buddha dari Buddha Amithaba?
Dia tidak mendapat nama Buddha lagi dari Buddha
Sakyamuni, karena itu adalah sama
Lalu, bagaimana dengan mereka yang telah mendapatkan
nama sarana?
Tetap perlu mendapat nama Buddha
Pu Xian Pusa, hamba masih tidak mengerti apakah hal itu
benar-benar bisa mendapatkan nama Buddha secara
langsung dari Buddha Sakyamuni?
Desi, kau tidak perlu bingung, jalani saja petunjukku, karena
itu adalah hal yang langka dan tidak mudah. Bagi mereka yang
telah mendapatkan nama Buddha, disaat mereka bershadana
dan melatih diri harus mengunakan nama Buddhanya untuk
berkomunikasi dengan para Buddha-Bodhisattva.
Setelah berkata itu, Pu Xian Pusa yang duduk diatas seekor
Alam Kuda Poni

65

gajah putih pergi.


Tidak beberapa lama kemudian aku telah pergi ke alam kuda
poni. Aku melihat seekor kuda, disitu aku sedang
menungganginya, kuda itu berlari cepat menuju kawanan
kuda-kuda yang lain, lalu kuda itu berkata padaku;
Desi, aku Kuda Poni. Kau telah berada di alamku
Alam Kuda Poni ?
Sebelumnya aku dan lainnya adalah Dewa dan Dewi penjaga
di Istana Langit, karena keteledoran dan kesalahan kami tidak
berjaga dengan baik, menyebabkan istana langit di serang
para siluman, mereka sempat mengacaukan Istana Langit,
itulah kenapa kami di hukum terlahir di alam ini menjadi Kuda
Poni
Apakah Kuda-kuda lain sama asalnya dengan Kuda Poni?
Tidak, kawanan Kuda Poni asalnya dari Dewa dan Dewi, tapi
Kuda yang menarik pedati dan dipekerjakan adalah
sebelumnya manusia yang berbuat kesalahan
Kesalahan apa yang manusia lakukan?
Mereka terlalu bersemangat dalam mengejar harta duniawi,
waktu adalah uang bagi mereka, sehingga kehidupannya
hanya dipenuhi untuk mewujudkan keinginannya itu untuk
mengumpulkan harta dan hanya bekerja keras saja
Bukankah itu baik?
66

Alam Kuda Poni

Sama sekali tidak baik, setiap hari hanya berpikir untuk


bekerja, bekerja dan mengumpulkan uang, akhirnya tidak
kaya, semua malah lenyap tidak di bawa, sehingga mereka
tidak ada modal untuk terlahir di alam yang lebih baik. Di alam
kuda mereka harus bekerja keras menarik pedati dan kereta
kuda, sungguh menyedihkan hidup seperti itu bukan?
Berapa lama hidup di alam ini?
Puluhan tahun, setelah itu terlahir menjadi manusia lagi
Desi semoga kau bisa menjalankan Dharmamu dengan baik,
agar tidak terlahir di alam binatang dan membantu yang
lainnya juga.
Tentu saja, terima kasih.
Kemudian aku keluar dari meditasi.

Alam Kuda Poni

67

Alam Buaya
ALAM BUAYA

Pagi ini, kira-kira pukul 8 pagi, aku sudah merasakan


keanehan. Aku duduk bermeditasi di ruang kerja, tidak lama
kemudian kepalaku tertunduk dalam, tanda bahwa pagi ini aku
akan pergi ke alam binatang lagi.
Setelah tenggelam dalam meditasi, aku melihat seekor buaya
dengan giginya yang tajam seperti sedang menungguku. Lalu
dia menuntunku mengikutinya, menyusuri sungai dan berjalan
di dalam air. Setelah beberapa lama di daerah rawa-rawa kami
keluar dari dalam sungai dan aku masih mengikutinya. Buaya
itu naik ke daratan yang tanahnya agak lunak didekat
pepohonan, dia mengali tanah dengan cakarnya membuat
sebuah lubang, setelah itu aku melihat dia menduduki lubang
itu, dan satu persatu telur keluar, telurnya tidak sebanyak telur
penyu, mungkin hanya beberapa buah saja. Setelah selesai
bertelur, buaya itu bicara padaku;
Desi, aku Ratu Buaya. Saat ini kau berada di Alam Buaya
Maaf Ratu Buaya. Apakah Buaya bertelur?
Ya, kami bertelur.
Bagaimana ada alam ini?
Awal mulanya aku adalah siluman, karena memiliki keinginan
untuk menjadi manusia dan dapat tempat yang lebih baik, aku
melakukan segala cara, bahkan dengan membunuh manusia.
Tapi ternyata tidak terlahir ke alam yang lebih baik, malah
terlahir di alam Buaya ini. Tubuh kami mengerikan, insting buas
68

kami saat menjadi siluman masih tercermin di alam ini. Ular


masih ada yang mau memelihara, tapi kami tidak ada yang
berani mendekati.
Apakah semua Buaya berasal dari alam siluman?
Tidak, yang berasal dari alam manusia ada juga.
Apa kesalahan yang dilakukan manusia sehingga terlahir di
alam ini ?
Mereka suka menipu, berbohong dan berkhianat sehingga
terlahir di alam ini
Mereka langsung terlahir di alam ini dan tidak masuk neraka
lebih dulu?
Ada yang masuk neraka dulu, tapi ada juga yang langsung
terlahir di alam ini, tergantung manusia itu sengaja atau tidak
melakukan hal itu.
Berapa lama hidup di alam ini ?
Kami yang berasal dari alam siluman bisa sampai ratusan
bahkan ribuan tahun, tapi dari alam manusia hanya puluhan
tahun saja, langsung bisa terlahir kembali ke alam manusia.
Dan perbedaannya lagi, buaya yang asalnya dari alam siluman
biasanya menjadi buaya raksasa atau Alligator.
Oh... begitu ya
Desi, aku ingin kau bisa membantu kami untuk terlepas dari
penderitaan ini, agar bisa terlahir di alam yang lebih baik.
Alam Buaya

69

Aku belum mengetahui bagaimana cara membantu, nanti aku


akan mencari tahu.
Beritahukanlah kepada umat manusia agar membina diri
dengan baik, menjadi manusia adalah keberuntungan, tidak
seperti alam siluman dan alam binatang, sulit untuk bisa
terlahir ke alam yang lebih baik. Dengan menjadi manusia bisa
mempunyai kesempatan untuk terlahir ke alam yang lebih
baik.
Ya, saya akan memberitahukan, terima kasih atas
petunjuknya.
Lalu aku keluar dari alam itu, semakin menjauh dan keluar dari
meditasi. Begitulah penderitaan di alam binatang, aku amat
bersyukur bisa terlahir menjadi manusia dan tidak sempat
merasakan terlahir di alam binatang. Tapi aku ikut sedih
dengan penderitaan yang mereka alami, dan berpikir
bagaimana bisa menolong mereka keluar dari penderitaannya
itu.

70

Alam Buaya

Alam Bekicot, Siput atau Keong


ALAM BEKICOT, SIPUT ATAU KEONG

Pukul 11 siang, aku kembali duduk bermeditasi, walaupun


aku merasakan perubahan roh dalam diriku, tapi entah kenapa
belakangan ini aku agak tidak bersemangat melakukan
apapun. Tak ada ide, tak ada keinginan dan tak ada yang
diharapkan rasanya.
Hari ini entah kenapa aku sedikit merasakan hampa. Perasaan
hampa ini berbeda dengan perasaan hampa yang pernah ku
alami sebelumnya. Aku merenungi tentang jalan hidupku,
apakah memang ini semua adalah jalan hidup yang harus
kutempuh?, aku tidak bisa mengekspresikan diriku untuk
banyak hal yang ku sukai, aku seperti terbelenggu perasaan
sepi dalam hati.
Mungkin tidak ada yang mengetahui perasaanku ini, bahkan
aku sendiripun tidak tahu apa yang aku rasakan, karena sulit
untuk diungkapkan dan dijelaskan dengan kata-kata.
Mungkin aku akan dibilang egois hanya memikirkan ego
sendiri, tapi aku sama sekali tidak pernah menyakiti dan
menyusahkan orang lain. Tapi kenapa sepertinya aku selalu
berbuat kesalahan dan semua berhak menuntut diriku, dan aku
tidak berdaya untuk menghindarinya.
Apakah artinya Vajra Acharya? Apakah artinya nama Buddha
Sukhavati Prajna? Apakah tanpa aku sadari, aku telah
menengelamkan diriku sendiri kedalam belenggu ini? Apakah
dengan bodohnya aku menyusahkan dan mempersulit diriku
sendiri?.
71

Aku bagaikan seseorang yang tahu tujuan, tapi tak tau jalan
menuju kesana. Rasanya... aku seperti sendirian.
Menjadi seorang Bodhisattva, benarkah tidak memikirkan
perasaan diri sendiri lagi? Benarkah harus rela mengorbankan
hati dan perasaannya demi kebahagiaan semua makhluk?
Saat aku sedang merenungi hal ini dalam meditasi, tanpa
kusadari aku telah masuk ke alam binatang, aku melihat
sesuatu yang berwarna hitam dengan kepala agak bulat dan
sepertinya ada sepasang antena di atas kepalanya. Binatang
itu berjalan diatas daun yang berada di dekat air. Aku
mengikutinya, lalu setelah beberapa saat binatang itu bicara
padaku;
Desi, aku Bekicot. Kau berada di Alamku
Oh... kau sama dengan Keong dan sejenisnya?
Ya, dunia kami sama, tapi sebab akibat yang membuat wujud
kami berbeda
Apa bedanya?
Dulu kami adalah manusia, karena saat menjadi manusia
kami suka mencuri, jadi kami terlahir di alam ini.
Mencuri apa?
Mencuri yang kecil-kecil, uang di saku, uang kantor tempat
kami bekerja.
Lalu bagaimana dengan Keong?
72

Alam Bekicot, Siput atau Keong

Bangsa Keong masih lebih baik dari kami, masih punya


banyak kaki untuk berlari, sedang kami berjalan lambat sekali,
karena setelah mencuri kami berusaha melarikan diri untuk
menyembunyikan diri, keong masih lumayan tapi dia hanya
bisa berlari maju dan tidak bisa mundur
Berapa lama hidup di alam ini?
Tidak lama, mungkin dalam hitungan bulan saja
Setelah itu akan terlahir di mana?
Jadi manusia lagi, tapi saat itu tangan kami pasti cacat dan
tidak sempurna, sehingga tidak bisa digunakan dengan
maksimal.
Bagaimana dengan perampok, mereka juga terlahir di alam ini
?
Tidak mereka akan masuk neraka terlebih dulu.
Oh...
Beritahukanlah pada manusia agar jangan mencuri, mencuri
kecil-kecil bisa terlahir di alam ini, jika mencuri besar besaran
akan masuk neraka
Itulah perkataan Bekicot, aku mendengar suaranya semakin
mengecil, karena aku sudah perlahan keluar dari alam itu.

Alam Bekicot, Siput atau Keong

73

Alam Gorila

Alam Gorila

Siang ini, mendadak langit yang tadinya cerah dan panas


terik, berubah dengan cepat menjadi gelap dan suara guntur
agak aneh kudengar. Setelah beberapa lama hujanpun turun.
Seperti biasa, suamiku menyuruh agar aku mencari tahu
mengenai apa yang terjadi saat ini, tapi memang sebelum dia
menyuruhku begitu, aku sudah merasakan perubahan roh
dalam diriku seiring dengan perubahan cuaca saat itu. Dalam
meditasi aku kembali tertunduk dalam, pertanda aku akan
melakukan Perjalanan Astral ke Alam Binatang lagi.
Setelah masuk ke dalam samadhi, tidak lama aku melihat
sebuah bayangan yang bergerak-gerak, bentuknya seperti
pohon-pohon yang agak rendah, berdaun lebar dan
bergelombang setiap sisinya. Aku melihat pohon-pohon itu
bergerak-gerak, ternyata ada seseorang yang
mengerakannya.
Wujud orang itu hitam dan agak besar, dia sepertinya melihat
kehadiranku dan dia mengajakku kesuatu tempat, aku
mengikutinya, dan terlihat sesekali dia memantauku,
sepertinya tidak ingin aku kehilangan jejaknya, sambil sesekali
mengibaskan pohon-pohon yang dilewatinya.
Sambil terus berjalan aku melihat makhluk itu mengambil
sebuah batu yang agak besar dan membawanya, tapi sambil
memperhatikan jalanku, setelah aku amati lebih jelas wujud
makhluk itu, dia seperti monyet besar, giginya agak runcing
dan jalannya agak sedikit membungkuk dan agak cepat.
74

Akhirnya monyet besar itu berhenti disuatu tempat, aku melihat


sekeliling tempat itu, tidak ada yang istimewa, hanya ada
sebuah gua dan didepan mulut gua itu ada monyet besar juga
yang sama sedang duduk sambil mengendong satu monyet
kecil.
Lalu monyet besar yang mengajakku ke tempat itu bicara;
Desi, aku Gorila. Kau saat ini berada di Alamku ternyata
bukan monyet, tapi Gorila. Aku tidak pernah membayangkan
bisa ke Alam Gorila, saat masuk ke alam apapun aku tidak
boleh gentar dan takut, karena jika begitu rohku tidak akan bisa
keluar dari tubuh dan pergi ke alam-alam lain.
Gorila, wah menyeramkan sekali, kenapa aku bisa ke alam ini
dan bisa berbicara dengan gorila?
Kau sedang menjalankan Amanat untuk pergi ke alam
binatang, saat ini kau memang sedang berada di Alam Gorila
Bagaimana bisa ada alam ini?
Awalnya kami adalah manusia yang bertumimbal lahir
menjadi gorila
Apakah karena kalian berbuat kesalahan?
Ya, saat kami menjadi manusia, emosi kami sangat tinggi,
kami suka marah-marah tanpa sebab, setiap kali berkelahi
dengan manusia lain.
Bukankah hal itu biasa dalam dunia manusia, apakah hanya
karena hal itu saja bisa terlahir menjadi gorila?
Alam Gorila

75

Kami punya sifat angkuh dan ingin menang sendiri, selalu


mempermasalahkan hal kecil menjadi besar, karena sifat kami
itulah yang membuat kami terlahir di alam ini
Tapi hal itukan tidak menimbulkan korban nyawa?
Terjadi korban nyawa, sifat kami yang sepertinya tidak
bermasalah itu, sampai membuat terjadi pembunuhan yang
tidak kami sadari.
Oh begitu. Kalau sampai terjadi pembunuhan kenapa tidak
masuk neraka?
Kau sendiri telah mengetahui, yang masuk kealam neraka,
adalah mereka yang sengaja melakukan perbuatan jahatnya
dan menyadari apa yang dilakukannya. Tapi yang tidak
sengaja dan tidak menyadari akan masuk ke alam binatang.
Berapa lama hidup di alam ini?
Puluhan tahun saja
Setelah itu?
Kembali menjadi manusia.
Kehidupan di alam kami hanya sedikit, jika berkeluarga paling
hanya bisa punya satu anak, jadi kami termasuk langka. Jika
saat kami dilahirkan kembali menjadi manusia nantinya,
biasanya wujud kami tidak sempurna. Kaki kami akan
berbentuk huruf O/melengkung keluar, dan jalan kami agak
membungkuk seperti perwujudan kami saat menjadi gorila.
76

Alam Gorila

Apakah sama dengan Monyet, Simpanse dll?


Hampir sama, hanya mereka tidak sampai terjadi
pembunuhan, tapi hanya membuat orang terluka dan babak
belur saja.
Oh.. aku mengerti. Kalau dunia monyet komunitasnya lebih
banyak di banding gorila, masuk akal juga.
Desi, kau telah sampai di alamku ini. Kau harus
memberitahukan hal ini kepada umat manusia agar jangan
suka marah-marah, dan harus meredam emosi, karena jika
sifatnya itu menyebabkan yang lain menderita, mereka akan
masuk ke alam gorila, monyet, simpanse atau orang utan.
Terima kasih atas petunjuknya, aku akan mengingat
pesanmu. Setelah itu aku keluar dari meditasi.
Aku mencoba untuk membuang chi negatif dalam tubuhku,
karena beberapa kali pergi ke alam bintang, aku langsung
keluar dari meditasi tanpa membuang chi negatif, sehingga
semangatku menurun belakangan ini, karena tanpa kusadari
hawa yin dari alam binatang itu sedikitnya menempel pada
diriku, sehingga aku sering merasa lelah dan mengantuk.
Setelah aku mengetahui hal itu, aku tidak lagi segera keluar
dari meditasi jika pergi melakukan perjalanan astral ke alam
bintang, aku akan mengumpulkan kembali energi dalam diriku.
Dalam tahapan pencapaianku dalam spiritual saat ini, sangat
berbeda dengan awal pertama mendapat bimbingan. Saat ini,
kekuatan dan sensasi yang kurasakan tidaklah sekuat dulu.
Aku mengira aku mengalami kemunduran dalam pembinaan
Alam Gorila

77

diri, tapi ternyata aku salah. Saat ini aku dibimbing untuk bisa
mandiri dan tidak hanya mengandalkan Guru Sejati dan
bantuan para Dewa.
Didalam hatiku tidak boleh ada kekotoran batin sedikit saja,
hati dan pikiran harus jernih, tetap tenang dalam menghadapi
apapun. Karena dengan begitu, aku akan bisa dengan mudah
merasakan perubahan dan tanda-tanda alam dengan cepat
dan mata batinku bisa melihat sesuatu dengan lebih jelas.
Malam hari ini, ayah mertuaku kembali masuk rumah sakit,
kira-kira pukul 12 malam mendadak dia pingsan dan tidak
sadarkan diri, tubuhnya dingin semua. Kami yang ada saat itu
berusaha untuk menyadarkannya, setelah beberapa lama dia
sadar kembali dan langsung tersenyum, sama sekali tidak
mengetahui kepanikan yang kami rasakan saat itu.
Saat itu adalah pertama kalinya aku dekat dengan orang tua
dan dalam kondisi mengkhawatirkan, sampai-sampai aku tidak
bisa berpikir harus berbuat apa untuknya. Aku hanya bisa
menahan kesedihanku melihatnya.
Beberapa waktu sebelumnya, ayah mertuaku memang sudah
diramalkan bahwa usianya tidak akan lewat dari tanggal 20
bulan 2 lunar, kakak iparku juga sudah mendapatkan petunjuk
demikian dalam meditasinya, karena itu sebelum hari ini dia
sudah berusaha menyenangkan hati ayah mertua.
Pada tanggal yang diramalkan itu, mendadak saat aku, suami,
ayah dan ibu mertua dalam perjalanan ke sebuah mall di
daerah Jakarta untuk melihat Mahaguru, mendadak mobil
yang kami kendarai mati ditengah-tengah jalan besar tepat di
78

Alam Gorila

seberang mall yang akan kami datangi.


Sepulangnya dari mall, kami mampir ke Vihara di Jakarta,
sesampai disana hujan deras sekali, aku pergi menghadap
Dewi Kwan Im untuk minta petunjuk mengenai ayah mertua,
Dewi Kwan Im mengatakan hal yang sama mengenai ayah
mertuaku itu, kalau ini sudah saatnya.
Aku memohon kepada Dewi Kwan Im untuk bisa
menambahkan usianya beberapa tahun lagi, karena ibu
mertuaku masih belum siap jika terjadi sesuatu pada ayah
mertua. Saat itu Dewi Kwan Im bilang akan mengabulkan
permohonanku itu.
Memang tanggal tersebut terlewat begitu saja dan tidak terjadi
apapun pada ayah mertua, tapi setelah lewat satu bulan, dia
masuk rumah sakit lagi, kali ini keadaannya lebih
mengkhawatirkan, nafasnya berat dan kondisinya terus
menurun.
Apakah Dewi Kwan Im benar-benar telah memberikan
anugrah kepanjangan umur untuknya karena kebajikan yang
telah dilakukan, tapi kenapa setelah lewat masa takdirnya itu
bukan kebaikan yang diterima, tapi keadaannya menurun.
Aku tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada ayah
mertua, bagaimana dengan ibu mertua, dia pasti akan terpukul
melihat keadaan suaminya.
Dewi Kwan Im, kepada siapa aku harus minta pertolongan
untuk ayah mertuaku ini.

Alam Gorila

79

Alam Burung Elang


Alam Burung Elang

Dalam meditasi, aku melihat sepasang kaki yang memiliki


cakar yang tajam, bentuknya seperti sepasang kaki unggas /
burung.
Setelah beberapa lama dan melihat dengan lebih jelas kaki apa
itu, ternyata itu kaki seekor Burung Elang. Setelah dia melihat
kehadiranku, burung elang yang agak besar itu terbang
dengan cepat, dan sepertinya aku ikut terbang dibelakangnya,
dalam perjalanan burung elang itu menukik tajam seperti
hendak menyerang sesuatu, ternyata dia sedang mengincar
seekor tikus air, elang itu menangkap tikus air itu,
mencengkramnya dan membawanya terbang.
Aku masih terus mengikuti elang itu, burung elang itu melesat
pergi dan berhenti di satu pohon yang tinggi, disana ada sarang
dan anak-anaknya sudah menunggu, ternyata burung elang itu
mencari makan untuk anak-anaknya. Tikus air yang
ditangkapnya itu diberikan kepada mereka, dan anak-anak
elang itu saling berebutan memakannya, aku agak miris
melihat hal itu. Tidak lama kemudian burung elang besar tadi
berbicara;
Desi, aku Burung Elang. Kau saat ini berada di Alamku.
Bagaimana bisa terlahir menjadi burung elang?
Sebelumnya aku adalah manusia, karena telah berbuat
kesalahan sehingga terlahir menjadi elang.
Kesalahan apa yang kau lakukan ?
80

Aku seorang yang tinggi hati, kesombonganku telah


membuatku seperti ini. Dulu aku suka menghina orang lain dan
merendahkan mereka, dan aku juga seorang yang sangat pelit.
Aku tidak pernah mendermakan uangku untuk orang yang
kesusahan, malah menghina mereka semua
Oh begitu...
Ya, karena kesombongan dan tinggi hatiku itu, sehingga
terlahir menjadi burung elang. Sampai-sampai setelah menjadi
burung elang, karakterku masih juga tidak berubah. Kami
bangsa elang lebih suka tinggal di puncak bukit atau di atas
pohon yang tinggi, karena kami merasa tidak setara dengan
yang lain. Kami sangat kesepian, tapi kami tidak bisa keluar
dari kehidupan ini
Berapa lama kehidupan di alam ini?
Hanya beberapa tahun saja
Setelah itu?
Kembali menjadi manusia.
Lalu bagaimana dengan pembunuhan makhluk lain yang kau
lakukan, apa tidak menambah karma buruk? Bagaimana bisa,
ada karma buruk bisa terlahir menjadi manusia?
Itu sudah garis kehidupan kami, tikus dan ular menjadi
makanan kami, kedua binatang ini masing-masing punya
karma buruk juga dikehidupan yang lalu, sehingga mereka
mempunyai nasib dimakan oleh burung elang. Sesungguhnya
memakan mereka sama sekali tidak membawa kebaikan bagi
Alam Burung Elang

81

kami, tapi kami tidak dapat berbuat apa-apa.


Begitu ya..
Desi, kau harus bisa memberitahukan kepada manusia agar
jangan berbuat kesalahan selama hidup didunia, karena
hukum sebab akibat itu ada, saat menjadi manusia kami tidak
mengetahuinya dan bersikap tidak perduli, tapi setelah mati
kami baru merasakan penderitaan menjadi binatang.
Sungguh bersyukur bisa menjadi manusia, karena disaat itu
punya kesempatan untuk berbuat kebaikan. Setelah menjadi
binatang kami sulit untuk melakukannnya.
Baiklah, aku akan menuliskan hal ini, terima kasih. Aku keluar
dari meditasi.
Hari ini, ayah mertuaku dipindahkan di ruang ICU, hal ini
membuat kami sekeluarga bersedih, mengapa tidak ada
kebaikan. Aku memohon para Buddha-Bodhisattva
mengabulkan permohonanku, dan rela memberikan beberapa
tahun usiaku untuknya, agar dia bisa kembali sehat dan bisa
berkumpul kembali dengan keluarga.

82

Alam Burung Elang

Alam Kelelawar
ALAM KELELAWAR

Siang ini kira-kira pukul 3, aku merasa suatu perubahan


dalam diriku, sejak beberapa hari yang lalu aku sudah menjapa
Mantera Abhiseka Bhaisajyaguru Buddha dan memohon
pertolongan Mahaguru dengan bershadana padanya.
Tadi pagi ada seseorang yang sudah berumur sekitar 70-an
datang ketempatku, dia sudah 5 tahun bersarana pada
Mahaguru, saat aku bertemu dengannya ada kontak aura, tapi
aku tidak begitu berkonsentrasi karena sibuk dengan
pekerjaan.
Orang itu menceritakan tentang jodohnya yang kuat dengan
Dewi Matsu, dan dia dibimbing oleh Dewi Matsu untuk
bersarana kepada Mahaguru.
Orang itu meminta agar aku pergi ke tempatnya, Vihara di
puncak. Beberapa tahun ini dia mengurus Vihara itu sejak
pendirinya meninggal. Orang ini juga bisa berkomunikasi dan
mendapatkan petunjuk-petunjuk dari para Dewa, tapi karena
usianya tidak muda lagi, sehingga geraknya terbatas dan
Vihara yang diamanatkan padanya tidak berkembang dengan
baik sama sekali, bahkan tidak ada kegiatan Vihara.
Permintaan orang tua itu tidak begitu aku dengarkan, karena
aku menjalankan segala sesuatunya berdasarkan petunjuk
Guru Sejatiku, dan pada saat itu tidak ada petunjuk apapun.
Setelah beberapa lama orang tua itu pergi, aku merasakan
sesuatu, aku duduk bermeditasi di ruang kerja, tapi pada saat
itu sempat tidak berkonsentrasi dengan baik karena telpon
83

berdering terus menerus, dan sempat membuat aku agak


kesal.
Aku sempat menangis saat konsentrasiku hilang pada saat itu,
setelah agak tenang aku kembali bermeditasi. Saat itu aku
merasakan prana agak berbeda, agak kuat berputar di
kepalaku, kemudian terasa ujung hidungku tertekan kuat,
seperti ada udara masuk, kurasakan nafas naik ke dahi, lalu
turun ketenggorokan, kehati lalu ke bawah pusar.
Kemudian aku merasa cakra dahi terbuka, tidak lama
kemudian Mahaguru datang, dia memegang Genta dan Vajra
dan mengoyang-goyangkan Genta ditangannya itu, sampai
bunyi Genta terdengar olehku.
Setelah Mahaguru selesai berbicara denganku dan pergi,
datang Mahaguru Thai Shang Lo Kun. Mereka berdua
mencoba memberi kekuatan padaku, karena beberapa hari ini
aku agak sedikit gundah dan kalut.
Aku mencoba untuk tetap tenang, tapi sulit kulakukan karena
sampai hari ini ayah mertua masih di ruang ICU dan tidak ada
kemajuan apapun.
Mahaguru meminta agar aku menjalankan jalan Dharma
dengan baik dan tidak melupakan Sumpah Bodhiku. Mahaguru
Thai Shang Lo Kun juga mengkhawatirkan diriku, dan tidak
ingin aku tenggelam dalam kesedihan terus sehingga jalan
Dharma tidak berjalan dengan baik.
Aku amat berterima kasih pada kedua Mahaguruku itu,
perhatian yang mereka berikan amat membuat aku terharu.
84

Alam Kelelawar

Semoga saja selalu ada kebaikan untuk ayah mertua.


Kemudian aku pergi ke alam binatang, disitu aku melihat
banyak sekali binatang, dari bentuknya seperti kelelawar, aku
mengikuti mereka terbang sampai ke dalam gua yang gelap,
aku hampir tak dapat melihat apa-apa, hanya melihat matamata mereka bersinar terang. Salah satu kelelawar bicara
padaku;
Desi, aku Kelelawar, saat ini kau berada di Alam kami.
Mengapa kalian tidur dan bergelantungan dengan kepala di
bawah?
Ini ada sebabnya.
Apa itu?
Aku ceritakan dulu mengenai kenapa kami menjadi kelelawar.
Sebelumnya kami adalah Dewa-Dewi di langit. Kami biasanya
mengurus perayaan-perayaan yang ada di istana langit.
Karena kami berbuat kesalahan dan bersenang-senang saja,
sehingga perayaan yang diembankan kepada kami menjadi
berantakan, membuat Raja Langit murka dan menghukum
kami menjadi kelelawar.
Hanya karena itu kalian di hukum? Sepertinya tidak begitu
bijaksana jika Kaisar Langit menghukum kalian karena hal ini.
Sebenarnya apa yang kami lakukan adalah masalah besar,
menyebabkan kesusahan dan kekacauan disegala penjuru
langit.
Alam Kelelawar

85

Oh begitu.
Iya, cara tidur kami seperti ini, bergantungan dan berada di
tempat gelap. Sebenarnya karena kami semua malu atas
kesalahan kami. Karena sebelumnya kami punya kelebihan
menyusun perayaan, dengan kekuatan ilmu kami, kami bisa
terbang kesana kemari untuk memasang perlengkapan
perayaan besar di langit. Dan juga karena sebelumnya kami
melatih meditasi kaki di atas atau menggantungkan kaki
sampai ketiduran.
Loh, bukankah jika meditasi kalian sudah sampai tahap itu
seharusnya bisa menjadi Buddha?
Kami hanya suka meditasi saja dengan cara itu, tapi sama
sekali tidak mengenal Dharma Buddha, jadi hanya untuk
kekuatan ilmu, jadi mana bisa jadi Buddha.
Oh ...
Itulah kehidupan kami
Berapa lama hidup di alam ini?
Hanya beberapa tahun saja
Setelah itu?
Kembali ke langit
Menjadi Dewa pengurus perayaan lagi?
Iya
86

Alam Kelelawar

Aku mengangguk aneh. Ternyata menjadi Dewa itu tidak


selamanya menyenangkan dan dapat berbuat sesuka hati,
buktinya Dewa Dewi langitpun bisa tumimbal lahir menjadi
binatang. Sungguh menyedihkan.
Filsafat...
Begitu muram hati manusia jika selalu diliputi kesedihan
Begitu hampa hidup manusia jika hanya mengharapkan kebahagiaan
Apalah artinya nama, apalah artinya harta
tiada yang lebih berarti selain Dharma Buddha.
Ajaran Buddha...
Hidup tak selamanya sulit, jika mengerti makna hidup
Tanpa pencapaian, tanpa keinginan akan membuat
manusia keluar dari penderitaan
tapi tak semua orang mampu mengatasinya
Menganggap sulit padahal mudah
Manusia lebih berat meninggalkan kesenangan
dan sulit untuk meninggalkan materi
Tak ada yang bisa mengerti, kemana arah jalan yang di tempuh
haruskah mereka tenggelam dalam kesia-siaan
hanya mereka yang berjodoh yang bisa ditolong.

Alam Kelelawar

87

Alam Laba-laba
ALAM LABA-LABA

Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi


dalam meditasi, karena memikirkan keadaan ayah mertua.
Saat merasakan perubahan roh dalam diriku dan mencoba
untuk masuk kedalam meditasi, saat mata batinku mulai
terbuka dan melihat sesuatu, aku tidak bisa meneruskannya.
Hatiku gundah beberapa hari ini, walaupun BuddhaBodhisattva menghimbau agar aku tetap tenang, tapi sulit
rasanya untuk tidak memikirkan hal itu karena hati tidak
tenang.
Hari ini, perubahan roh dalam diriku kembali kurasakan. Aku
mencoba untuk tenang dan menjernihkan hati dan pikiranku,
penglihatan yang kemarin terputus kembali kulihat hari ini,
sepertinya alam ini tidak boleh aku lewatkan.
Aku melihat ada seekor laba-laba agak besar berjalan,
kemudian dia menaiki sebuah pohon, lalu sesampainya
disalah satu dahan dia membuat sebuah jaring yang turun
kebawah, laba-laba itu turun bergelantungan dengan
jaringnya. Sambil bergerak turun laba-laba itu berkata;
Desi, kau sedang berada dialamku, sebelumnya aku adalah
manusia, karena suka mencuri sana sini akhirnya menjadi
laba-laba
Berapa lama hidup mu?
Hanya sebentar, jika sudah mengigit sesuatu kami pasti mati.

88

Apa ada yang berasal dari siluman seperti di film-film?


Ada, biasanya mereka laba-laba beracun. Katanya kau baru
saja mendapatkan gelar ya, asik sekali jika menjadi sepertimu,
bisa mendapatkan perlindungan Buddha, tidak seperti kami.
Ah.. ini juga karena kesalahan kami.
Dengarkan Dharma saja, dengan begitu kamu bisa terlahir ke
alam yang lebih baik.
Oh begitu, ya nanti akan saya lakukan.
Ngomong-ngomong dari mana kamu tahu kalau saya baru
saja mendapatkan gelar?
Yang memberi kabar kedatanganmulah yang memberitahu,
agar bersikap baik kepada Vajra Acharya Sukhavati Prajna,
karena Buddha Sakyamuni baru saja memberikan gelar
padanya.
Oh begitu. Terima kasih atas petunjuknya. Aku keluar dari
alam itu dan keluar dari meditasi.

Alam Laba-laba

89

Hujan Berkah di Hari Waisak

HUJAN BERKAH DI HARI WAISAK

Hari ini adalah hari perayaan Waisak yang pertama kali


diadakan di cetya Sukhavati Prajna sejak berdiri. Umat yang
datang juga lumayan banyak, sampai tempat penuh sekali,
cetya sudah tidak bisa menampung umat yang datang
beribadah.
Sepertinya cetya sudah harus diperluas agar para umat bisa
lebih nyaman beribadah. Tapi dana cetya tidaklah memadai
untuk perluasan. Buddha Empat Muka / Se Mien Fo, sudah
meminta untuk memasang altarnya di seberang cetya, tapi
entah rumah diseberang cetya itu bisa dibeli atau tidak, jika
melihat dana cetya sepertinya tidak mungkin. Karena
pemiliknya ingin segera menjualnya. Apakah harapan BuddhaBodhisattva bisa terwujud melalui cetya Sukhavati Prajna ini?.
Perkembangan kawasan cetya sudah banyak kemajuan, jalanjalan di sekeliling sudah dalam tahap perbaikan dan pelebaran.
Yang dulunya daerah cetya selalu banjir, tapi sudah tiga tahun
ini tidak mengalami kebanjiran lagi. Perizinan cetya juga sudah
didapat, sehingga bisa menjalankan acara keagamaan
dengan lebih tenang.
Tapi dengan semakin berkembangnya cetya Sukhavati Prajna,
usaha yang aku jalankan selama ini malah tidak berjalan
dengan baik, sebenarnya Guru Sejatiku dan para Dewa sudah
meminta aku untuk melepaskan usaha dan berkonsentrasi
dalam pembinaan diri dan membabarkan dharma, aku
berusaha selalu mengulur waktu dan tidak menjalankan
petunjuk mereka, dan masih berusaha mempertahankan
usahaku itu.
90

Aku tahu, saat awal aku mulai melatih diri aku masih bisa
menjalankan usaha dengan baik karena belum ada cetya, tapi
sekarang setelah berdiri cetya dan segala kegiatan berjalan,
waktu untukku berkonsentrasi usaha tidak ada sama sekali,
segala perhatian kucurahkan sebagian besar untuk rutinitas
kegiatan cetya, walaupun tetap menyempatkan untuk
berusaha.
Tapi semakin lama, apapun tidak berjalan dengan baik.
Pembinaan diriku tidak terkonsentrasi, dan usaha juga
mengalami penurunan. Pesanan pelanggan selalu saja
masuk, tapi sumber untuk membeli barang tertutup semua.
Sepertinya tidak ada jalan lagi untukku berusaha duniawi. Tapi
walaupun begitu aku tetap berusaha menjalani keduanya dan
belum mau mengikuti petunjuk Guru Sejatiku.
Di hari waisak ini, aku mengira bisa membawa pulang ayah
mertua dari rumah sakit agar bisa ikut merayakan waisak di
cetya, tapi ternyata dokter tidak mengijinkan. Rasanya aku tak
sanggup untuk mempersiapkan hari waisak ini, tapi Guru Sejati
dan Pu Xian Pusa meminta agar aku bisa mempersiapkannya
dengan baik. Memang tidak mungkin kalau aku tidak
mengadakan acara waisak karena disini adalah cetya.
Akhirnya aku mempersiapkan seadanya, banyak umat yang
membantu dari dekorasi sampai konsumsi sudah ditangani
dengan baik, acara waisak berjalan dengan sempurna dan hari
ini ada beberapa umat yang mendapatkan nama Buddha.
Hari ini dalam meditasi aku melihat 9 Naga Emas meluncur
dengan cepat seperti kereta kuda, dibelakangnya menarik
seorang Buddha yang duduk di atas teratai, Buddha itu
Hujan Berkah di Hari Waisak

91

tangannya terangkat dan dari tangannya memancarkan


cahaya emas memberkati para umat yang hadir di cetya dari
belakang sampai depan, sinarnya itu merata mengenai umat
seperti cahaya mesin fotokopi saja.
Lalu aku melihat satu Naga meluncur cepat dan berhenti di
dekatku, lalu ada sebuah mahkota yang mirip topi perang
model tiongkok dan Buddha diatas teratai itu memakaikan
mahkota itu kekepalaku. Lalu Pu Xian Pusa datang dan
berkata;
Desi, kau telah menjalankan tugasmu dengan baik, walau
keteguhan hatimu belum begitu kuat, namun sampai saat ini
kau selalu menjalankan petunjuk dengan baik. Kau telah
diangkat Buddha Sakyamuni sebagai Buddha Perang dan
mendapatkan mahkota dari alam Buddha serta tunggangan
seekor Naga emas. Dengan memegang Toya Burung Hong
ditangan kiri dan memegang Vajra di tangan kanan,
menunggangi seekor Naga emas dan memakai mahkota
Buddha perang, itu akan menjadi wujudmu. Kau akan melawan
kejahatan dan segala gangguan dari alam kegelapan dan telah
mendapat gelar baru, yaitu VA. Varita Sukhavati Prajna
Cakravartin. Yang artinya: Pemimpin Wanita Pertama
Pembawa Aliran Tantra Bernama Sukhavati Prajna yang
Maha Dahsyat. Mulai hari ini japalah Mantera Cintamani
Cakravartin.
Terima kasih Pu Xian Pusa.
Setelah acara Waisak di cetya selesai, bawalah perlengkapan
mandi rupang Buddha Sakyamuni kerumah sakit agar ayah
mertuamu bisa ikut pemandian rupang Buddha.
92

Hujan Berkah di Hari Waisak

Baiklah.
Tepat pukul 9 malam, saat aku sedang mendapat petunjuk dari
Pu Xian Pusa, hujan turun agak deras, aku merasakan
perubahan tubuh dan aura yang begitu kuat, Pu Xian Pusa
berkata kepadaku;
Desi, banyak Buddha Bodhisattva yang turun untuk
memberkati umat cetya Sukhavati Prajna di hari waisak ini.
Hari ini adalah hujan berkah. Setelah berkata Pu Xian Pusa
pergi.
Setelah aku keluar dari meditasi, umat menanyakan ada apa,
aku katakan yang sebenarnya kepada mereka kalau BuddhaBodhisattva banyak yang turun memberkati, jadi hujan yang
turun saat ini adalah hujan berkah.

Berkah Waisak

Berkah Waisak

Mendengar perkataanku itu mereka senang sekali, dan


meminta izinku untuk mandi hujan berkah. Aku mengizinkan
mereka karena aku percaya, walaupun mereka mandi hujan
dimalam hari mereka tidak akan sakit, karena ini bukan hujan
biasa, pasti para Buddha-Bodhisattva melindungi mereka
semua.
Mereka semua begitu bahagia di malam waisak hari ini,
bermandi hujan berkah, walaupun sesungguhnya aku masih
Hujan Berkah di Hari Waisak

93

menyimpan kesedihan untuk ayah mertua, aku berusaha untuk


ikut bergembira bersama mereka.
Aku mengabadikan momen hujan berkah itu, banyak sekali
sinar-sinar yang turun dari langit dengan berbagai macam
bentuk. Melihat hal itu membuat para umat semakin
bersemangat dan bergembira.
Filsafat...
Begitu banyak dendam yang membara,
tak lebih banyak dari kekesalan alam
Begitu banyak kesedihan yang melanda
tapi tak sebanyak dan sebesar luka dan derita alam
Hati yang pilu, siapa yang tahu
tak ada yang bisa memahami keinginan alam yang sesungguhnya.
Ajaran Buddha...
Bahwa kita hidup harus saling mengerti, ada dan tiada sama artinya
untuk apa terlalu dirisaukan, untuk apa pula dikhawatirkan
kebodohan manusia melekat pada dunia fana
membuat semakin buta dan semakin piciknya pemikiran manusia
selalu saja mengalami keterikatan pada bentuk fisik
yang pada akhirnya lenyap
Sungguh bodoh dan tidak berpengetahuan.

94

Hujan Berkah di Hari Waisak

Bodhisattva Vasi Kara Ganda


BODHISATTVA VASI KARA GANDA

Setelah para umat pulang, tepat jam 10 malam aku dan


keluarga membawa perlengkapan mandi rupang ke rumah
sakit. Sesampainya di rumah sakit, ayah mertua masih dalam
keadaan sadar, dia masih melihat kehadiran kami. Kami
membimbing tangannya agar bisa menyendok air bunga dan
menuangkannya ke rupang Buddha Sakyamuni, dia
melakukannya tiga kali, dan dia masih melihat apa yang dia
lakukan. Melihat hal ini, aku amat terharu karena ayah mertua
bisa ikut pemandian rupang di hari Waisak ini.
Setelah selesai, Pu Xian Pusa memberitahu padaku, kalau
Buddha Sakyamuni telah memberkati ayah mertua dan telah
memberikan nama buddha padanya, yaitu Vasi Kara Ganda
yang artinya: yang mendapatkan berkah berlipat.
Esok harinya aku diberitahu kalau ayah mertua tidak sadarkan
diri seharian, matanya tertutup terus, dipanggil juga tidak
menyahut, seperti dalam keadaan koma.
Kami semua sangat cemas, hari itu kami semua menginap di
rumah sakit, dan selama aku menginap itu, ayah mertua tidak
bangun sama sekali. Pagi harinya pukul 6, aku kembali
kerumah karena harus menyiapkan anakku pergi ke sekolah,
dan bersiap-siap untuk kembali lagi ke rumah sakit, suamiku
sudah mempunyai firasat kalau papanya tidak akan bertahan
lagi, karena itu dia meminta agar aku bisa mempersiapkan diri
untuk menyusun tata cara sembahyang untuk papa jika
sesuatu terjadi.
Benar saja, pukul 10 pagi itu, suamiku telpon dari rumah sakit
95

sambil menangis, mendengar tangisannya aku sudah


menduga kalau papa tidak bisa diselamatkan lagi, dia
menyuruh agar aku berbicara melalui telpon genggam dengan
papa, aku berusaha menguatkan hatiku berbicara dengan
ayah mertua agar dia selalu berbahagia. Seluruh keluarga
sudah pasrah.
Setelah itu aku segera kerumah sakit, dirumah sakit sudah
berkumpul keluarga, beberapa umat cetya juga sudah ada di
rumah sakit dan berdoa untuknya serta membaca Mantera dan
melafal nama Buddha Amithaba, kami memohon Buddha
Amithaba berkenan menjemput papa, agar papa bisa pergi
dengan tenang.
Tidak lama kemudian datang 2 orang sales penjual mesin
pernafasan, menawarkan mesinnya untuk didemokan ke
papa, kami bingung harus bagaimana, kami tidak ingin
membuat papa semakin menderita jika mencoba mesin
pernapasan itu. Satu orang sales mesin pernapasan itu masuk
dan menghampiri kami, dia menjelaskan mengenai cara kerja
mesin tersebut, dan menuntun agar kami bisa mengambil
keputusan terbaik.
Setelah meminta petunjuk Guru Sejatiku, beliau mengizinkan
mencobanya. Setelah mengganti mesin yang lama dengan
mesin yang dibawa orang tersebut, papa sempat bergerak
beberapa kali, lalu dengan cepatnya rohnya keluar dari tubuh,
dengan sekejap saja wajah papa yang semula masih merah,
berubah menjadi pucat pasi. Nafas papa berkurang perlahanlahan dan hilang. Papa dinyatakan telah meninggal tepat pukul
3 siang.
96

Bodhisattva Vasi Kara Ganda

Kami semua menahan tangis dan berusaha menguatkan hati


untuk tidak membuat papa berat meninggalkan kami. Sales
mesin tersebut seperti dewa penolong bagi kami, disaat kami
sulit mengambil keputusan, dia datang tepat pada waktunya,
sehingga papa tidak terlalu lama menderita.

Pemandian Rupang Buddha


Sakyamuni saat Waisak.

Suasana Duka

Saat proses keluarnya roh papa dari tubuh, aku segera masuk
dalam meditasi dan roh ku keluar. Saat itu aku tidak melihat roh
papa ada di dalam kamar, dengan cepat aku segera naik ke
langit, dari kejauhan aku melihat Buddha Amithaba dan papa di
sebelah kanannya.
Tubuh dan wajah papa masih sama seperti sebelumnya, hanya
tidak lemah lagi. Dia mengunakan jubah kuning, papa melihat
kedatanganku dan mereka membalikkan badan
menyambutku, papa tersenyum tapi tidak bicara, senyuman
khasnya masih tetap sama seperti saat dia masih hidup.
Buddha Amithaba berkata;
Desi, kau datang juga untuk mengantar mertuamu?
Iya Buddha Amithaba, apakah diizinkan ?
Tentu saja, mari kita antar ayah mertuamu kealam Sukhavati.
Bodhisattva Vasi Kara Ganda

97

Baiklah Buddha Amithaba


Kami bertiga seperti terbang naik keatas dan tiba di pelataran
alam Sukhavati, saat papa menginjakkan kakinya di tanah
Sukhavati, aku melihat papa berubah menjadi muda kembali,
seperti berusia 30an. Aneh sekali.
Desi kau sudah mengantar ayah mertuamu. Sekarang
kembalilah, ayah mertuamu akan baik-baik saja dan bahagia di
alam Sukhavati ini. Ayah mertuamu telah menjadi murid
Buddha dan akan menjadi pengikut Buddha mengiringi
Buddha membabarkan Dharma. Saat 49 hari buatlah api homa
khusus peringatan ayah mertuamu dan aku sebagai
Adinatanya, agar pahala kebajikan ayah mertuamu semakin
bertambah.
Baiklah Buddha Amithaba lalu mereka berdua pergi semakin
ke dalam alam Sukhavati. Aku sudah agak tenang, lalu turun
kebumi dan kembali kedalam tubuh.
Pukul 6 sore, kami memindahkan jenazah papa kerumah duka
di Jakarta, pukul 9 malam jenazah dimasukan ke dalam peti,
papa mengenakan jas berwarna hitam dan dibalut jubah warna
kuning sesuai petunjuk, karena kuning melambangkan
Buddha.
Jenazah papa dikremasi sesuai permintaannya, Guru Sejatiku
menyuruh agar aku menyiapkan tempat di cetya Sukhavati
Prajna untuk abu kremasi papa, dan menyiapkan satu wadah
untuk meletakan tulang hasil kremasi yang tumbuh bunga
sarira.

98

Bodhisattva Vasi Kara Ganda

Aku agak tidak percaya dengan petunjuk ini, apakah papa


punya bunga sarira? tapi aku tetap menjalankan petunjuk Guru
Sejatiku, walaupun aku sendiri belum tahu seperti apa bunga
sarira itu.
Guru Sejatiku memberi petunjuk agar nanti meletakan altar
abu papa di sebelah Ksitigharba Bodhisattva untuk sementara
waktu, dan apabila di cetya sudah mempunyai tempat, barulah
altar papa dipindahkan ke ruang tersendiri.
Aku menceritakan semua itu kepada suamiku, dan dia
menjalankan petunjuk itu dengan baik. Karena ini adalah
pengalaman pertamaku, aku belum berani memimpin ritual
penyebrang, jadi kami mengundang satu tokoh agama yang
bisa membantu.
Aku belajar dari semua ini, ternyata proses kematian
seseorang sampai kremasi, begitu banyak yang harus
disiapkan. Pada hari kedua ritual penyebrangan di rumah
duka, Mahaguru sebagai Adinata di altar. Aku merasakan aura
yang sangat kuat dan melihat Mahaguru hadir dan papa juga.
Secara spontan aku telah masuk kedalam meditasi dan
kepalaku tertunduk dalam, aku kira hendak pergi ke alam
binatang, tapi aku malah melihat papa sedang bersujud
didepan altar Mahaguru, Mahaguru menopangkan tangan di
kepala papa memberkati, dan setelah diberkati tubuh papa
menjadi transparan/tembus pandang, ajaib sekali.
Mahaguru berkata kepadaku;
Desi, aku telah memberkati ayah mertuamu sehingga segala
karmanya hilang lenyap dan dia telah menjadi murid Buddha,
Bodhisattva Vasi Kara Ganda

99

selama 49 hari dia diizinkan untuk bertemu dengan


keluarganya, dan selama itu pula aku akan mendampingi ayah
mertuamu kemanapun dia pergi, jadi kau tidak perlu cemas.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku perlahan keluar dari
meditasi, aku meneteskan airmata bahagia, papa sudah bisa
sampai tahap ini, aku sangat bersyukur. Aku segera
memberitahukan hal ini pada suamiku.
Saat pengangkatan peti jenasah untuk di bawa ke
krematorium, kami melakukan ritual tradisi keluarga, ini
pertama kalinya aku ikut ritual ini. Saat peti hendak diangkat,
dengan sendirinya aku merentangkan tangan dengan telapak
tangan keatas seakan mengantar papa, kakak iparku juga
sempat melakukan hal yang sama.
Pada hari mengambil abu jenazah di tempat krematorium, aku
sudah menyiapkan wadah untuk tulang yang tumbuh sarira,
aku tidak pernah membayangkan kalau hari ini, aku akan
memilih tulang hasil pembakaran jenasah papa, aku berdiri
tepat di posisi atas, tempat tulang kepala papa, tapi entah
kenapa aku merasa punya kekuatan untuk tegar dan tidak
takut.
Ternyata petunjuk Guru Sejatiku benar, aku menemukan
bunga sarira di beberapa tulang kepala jenasah papa, bunga
sarira itu berwarna hijau kebiruan, bentuknya seperti jamur
kecil dan tidak hangus terbakar api, ada sekitar 6 potongan
tulang yang ada bunga sariranya. Aku memasukan tulang
berbunga sarira itu di wadah yang sudah kusiapkan. Tulang
belulang papa terlihat putih bersih setelah proses pembakaran.
Bunga sarira yang tumbuh di tulang papa dan tulang yang
berwarna putih bersih menunjukan bahwa papa telah banyak
100

Bodhisattva Vasi Kara Ganda

berbuat kebajikan dan telah membina diri dengan baik.


Kebajikannya untuk para leluhur, sifat welas asihnya dan
rajinnya dia membaca mantera dan sutra selama ini telah
membuahkan hasil yang menakjubkan bagi kami. Kesedihan
kami telah terhapus dan berganti dengan kebahagiaan yang
tidak terhingga.
Suatu kali, setelah aku meletakan altar papa di samping
Ksitigharba Bodhisattva ada yang berkomentar kalau tidak
boleh meletakan altar leluhur di dekat altar BuddhaBoddhisattva, karena roh leluhur berhawa yin, dia pasti tidak
kuat dengan para Buddha yang berhawa yang.
Aku sempat berpikir juga mengenai hal ini, apakah aku telah
berbuat kesalahan. Tapi saat aku bershadana dan membaca
mantera-mantera. Ksitigharba Bodhisattva datang dan
berkata;
Desi, para Buddha-Bodhisattva telah mengizinkan ayah
mertuamu berdampingan dengan altar mereka. Dia telah
menjadi murid Buddha, karmanya telah terhapus dan telah
naik ke tanah suci sukhavati, telah banyak berbuat kebajikan.
Tentunya pantas berdampingan dengan Buddha-Bodhisattva.
Jika leluhur yang belum sampai tahapan itu tentu tidak boleh
karena masih berhawa yin dan belum menjadi murid Buddha
serta masih memiliki karma buruk
Hamba takut berbuat kesalahan, karena baru menjalani hal
ini
Kau tidak bersalah, kau telah menjalankan semua
berdasarkan petunjuk.
Bodhisattva Vasi Kara Ganda

101

Jadi tidak apa-apa Ksitigharba Bodhisattva?


Ayah mertuamu telah mendapat nama Buddha dan di
Abhiseka langsung oleh Buddha Sakyamuni. Untuk menjadi
pengikut Buddha tentunya harus berdampingan dengan
Buddha bukan? jadi itu sudah seharusnya.
Baiklah, terima kasih atas petunjuknya Ksitigharba
Bodhisattva
Mendengar petunjuk Ksitigharba Bodhisattva membuat aku
tetap teguh pada apa yang kulakukan, aku hanya akan
mendengarkan dan menjalankan petunjuk Buddha dan
Bodhisattva saja, dan tidak akan terpengaruh dengan
perkataan orang lain.
Pada hari ketujuh meninggalnya ayah mertua, kami melakukan
penjapaan sutra dan mantera, melimpahkan pahala kebajikan
untuknya serta melepas burung, saat pelepasan burung ada
satu burung yang tidak segera terbang keatas, tapi burung itu
malah masuk ke altar utama cetya, bulu burung itu berwarna
kuning, burung itu mengundang perhatian kami, karena dia
hinggap pada rupang Buddha Aksobya, lalu pindah kekepala
rupang Buddha Sakyamuni, terus pindah kekepala rupang
Buddha Amithaba, pindah lagi kerupang Buddha
Bhaisajyaguru, ke rupang Mahadewi Yao Che Cin Mu dan
terakhir ke rupang Mahaguru. Setelah itu burung tersebut
terbang keluar dan pergi.
Menurut petunjuk Se Mien Fo, kalau papa memberi petunjuk
melalui burung itu, kalau dia telah bersama-sama dengan para
Buddha-Bodhisattva, agar keluarga tidak perlu khawatir.
102

Bodhisattva Vasi Kara Ganda

Selama 49 hari, selalu saja ada kejadian dan keajaiban yang


kami semua dapatkan, semua pertanda dan petunjuk yang
diberikan semuanya membuat kami terharu dan berbahagia.
Dan yang lebih mengharukan dan mengembirakan kami lagi
adalah, saat ritual 49 hari ayah mertuaku dan aku memimpin
api homa dengan Buddha Amithaba sebagai Adinata, pada
hari itu juga, papa telah mencapai tingkat Bodhisattva dan naik
ketingkat tertinggi di alam Sukhavati, semua itu karena
kebajikan yang telah dilakukannya dengan mendanakan
sebuah rumah di seberang cetya untuk dijadikan rumah abu
dan bagian dari cetya Sukhavati Prajna, itulah pahala tertinggi
yang dia lakukan sehingga bisa mencapai tingkat Bodhisattva
dan naik ke alam Sukhavati tingkat tertinggi.
Dan saat ini papa telah pindah ke altar sendiri di tempat yang
nantinya akan menjadi Rumah Abu Marga Tjong. Papa telah
menjadi Bodhisattva pembabar Dharma Buddha, mengikuti
sang Buddha membabarkan Dharma kesegala penjuru.

Bodhisattva Vasi Kara Ganda

103

Alam Lumba-lumba
Alam Lumba-Lumba

Saat aku pergi ke alam lumba-lumba, aku baru mengetahui


kalau sebelumnya mereka berasal dari alam manusia yang
berbuat kesalahan, suka mencurigai orang lain dan
berpandangan negatif terhadap orang lain, meskipun hal-hal
yang lain dijalani dengan baik, tapi tetap terlahir menjadi
lumba-lumba.
Karena sifat menolong masih ada, kadang di alam lumbalumba, mereka menolong orang yang tenggelam dan tidak
menyakiti makhluk lain.
Kehidupan di alam lumba-lumba hanya beberapa tahun saja
dan setelah itu akan terlahir ke alam manusia lagi. Katanya
lubang dikepala mereka adalah sebagian dari pencapaian
kebajikan yang dilakukan yang mestinya menjadi mata ketiga,
tapi karena kesalahan itulah mereka tidak bisa mencapai alam
yang lebih baik.
Kelihatannya kesalahan yang mereka lakukan hanya sepele
saja. Tapi menjaga pikiran sangatlah penting, harus benarbenar bersih dari hal-hal negatif agar perjalanan ke alam yang
lebih baik tidak terhambat.
Aku baru menyadari hal itu, ternyata bukan hanya perbuatan
jahat saja yang berakibat karma buruk, terlahir di alam
binatang. Tapi pikiran yang jahat juga bisa mengakibatkan
terlahir di alam binatang.
Walaupun masih ada perbuatan lain yang baik, tapi kurangnya
ketulusan hati bisa menimbulkan akibat yang tidak baik juga.
104

Karena itu hati dan pikiran harus selalu di bina, agar secara
perlahan bisa introspeksi diri menjadi lebih baik.
Yang terlahir di Alam Ulat Kaki Seribu juga seperti itu, asalnya
juga dari alam manusia yang berbuat kesalahan, mereka suka
berbohong, berdalih dan tidak jujur. Kehidupan di alam ulat kaki
seribu hanya beberapa hari saja, setelah itu akan menjadi
manusia lagi, tubuhnya yang suka melingkar jika tersentuh
sesuatu adalah bentuk rasa malu pada diri sendiri dan takut
pada orang lain atas kesalahannya itu.
Yang terlahir di Alam Gajah, asalnya adalah manusia yang
serakah, suka menguping dan berbohong.
Yang terlahir di Alam Kepiting, asalnya dari manusia yang
suka mudah marah, emosian dan dendam pada seseorang
yang sangat dalam.
yang terlahir menjadi Ikan Paus agak berbeda, mereka
berasal dari alam Dewa yang sebelumnya adalah Prajurit di
Langit. Karena berbuat kesalahan, mementingkan diri sendiri
dan tidak memperdulikan yang lain, hingga dihukum di alam
Ikan Paus. Hidup ikan paus lebih lama, sampai ratusan tahun,
setelah mati akan terlahir menjadi manusia.
Ikan Paus yang aku datangi sangat senang, karena pada
setiap zaman jarang sekali ada orang yang bisa sampai tahap
sepertiku. Apa yang kulakukan bisa memberikan kebaikan bagi
manusia, binatang dan Dewa. Bisa memberikan pencerahan
dan juga motivasi bagi 3 alam ini. Ikan Paus itu mengatakan
kalau;

Alam Lumba-lumba

105

Buku-buku yang aku tulis akan bisa merubah hati manusia


yang berbuat jahat, Alam Binatang akan tertolong dan bisa
mengerti dan menyadari kesalahan mereka. Dan alam Dewa
akan takjub karena ada manusia yang bisa seperti itu.
Dari Perjalanan Astralku kebeberapa Alam Binatang
belakangan ini, membuat aku mengerti, mengapa manusia
dan Dewa mengalami tumimbal lahir terus menerus, mereka
sudah banyak kali bertumimbal lahir, kadang di alam binatang,
kadang di alam manusia, kadang di alam neraka, jarang sekali
Dewa atau manusia yang dengan segera bisa kembali
ketempat asalnya, malah terjebak dalam lingkaran kelahiran
dan kematian.
Semua itu karena mereka selalu saja berbuat kesalahan,
menumpuk karma buruk terus menerus, sehingga tidak ada
alam yang baik yang bisa mereka datangi, selain alam-alam
yang penuh penderitaan itu. Sedikit sekali manusia yang bisa
mencapai pencerahan, sedikit sekali manusia yang mau
menjalankan hidupnya dengan baik.
Untuk hal-hal yang negatif, banyak sekali peminatnya. Tempat
hiburan lebih penuh dibandingkan tempat ibadah, jika kita
ingin berbuat hal-hal yang kurang baik/hura-hura banyak
teman dan keluarga yang mendukung, tapi jika kita sadar
terhadap kesalahan yang kita perbuat dan kita mulai menjalani
hidup dengan baik serta meninggalkan perbuatan jahat, teman
dan keluarga malah banyak yang meninggalkan kita. Hal itu
menunjukkan semakin merosotnya sifat asal mereka.
Bagaimana mereka bisa kembali jika terus seperti ini. Mereka
lebih suka terjerumus ke dalam jurang yang penuh dengan
106

Alam Lumba-lumba

kebahagiaan semu, dibandingkan mengorbankan waktu dan


hidupnya untuk lebih mendalami ajaran Buddha.
Mendengarkan Dharma dan ajaran Buddha mungkin
membosankan bagi mereka, dibanding dengan
mendengarkan dan melihat sesuatu kesenangan duniawi yang
memabukkan.
Dulu aku tidak pernah berpikir hal ini, tapi sejak lebih mengenal
ajaran Buddha, aku baru merasakan seperti apa penderitaan
hidup di dunia ini. Kebahagiaan yang di dapat di dunia ini
bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya, bahkan
kebahagiaan yang didapat hanya sesaat, dan disaat
mendapatkan kebahagiaan sesaat itu, tanpa disadari telah
banyak mengorbankan diri sendiri dan orang lain.

Alam Lumba-lumba

107

Alam Walet

ALAM WALET

Akhirnya Shadana Raja Naga yang kali pertama dapat


diadakan juga di cetya Sukhavati Prajna, permintaan dari Raja
Naga sendiri telah terwujud hari ini.
Kami telah mengadakan Ritual Api Homa dan Shadana Raja
Naga selama 9 hari. Permintaan Raja Naga ini sudah agak
lama, bahkan sebelum cetya Sukhavati Prajna berdiri. Saat
Raja Naga meminta untuk mengadakan Shadana kepadanya
itu, aku tidak tahu apakah bisa terwujud, karena aku tidak ada
pengalaman dalam hal ini, dan segala perlengkapannya juga
tidak ada, baik itu sutra Raja Naga ataupun tungku Homanya.
Aku tidak tahu bisa mendapatkan perlengkapan itu dari mana,
aku tidak bisa meminta bantuan orang luar untuk mencarikan
perlengkapan itu karena tidak ingin timbul pembicaraan yang
tidak enak diluar. Tapi entah kenapa, setelah cetya berdiri dan
kegiatan sudah berjalan dengan rutin, dengan sendirinya
perlengkapan itu satu persatu kudapatkan, bahkan tanpa aku
berusaha mencarinya.
Saat ini semua perlengkapan sudah lengkap, hingga aku harus
menjalankan amanat Raja Naga untuk menyelenggarakan
Shadana padanya selama 9 hari di cetya. Pada hari ke-4
Shadana Raja Naga, aku merasakan perubahan roh dalam
diriku. Aku segera bermeditasi. Aku melihat sesuatu yang
bersayap dan ekornya lancip, ternyata itu Burung Walet.
Aku melihat Burung Walet itu keluar masuk di satu sarang yang
ada di atap bagian luar, bentuk atap rumah itu rasanya kukenal.
Walet yang kulihat tadi berkata;
108

Desi, aku Walet.


Walet, kenapa ada di tempat ini, apa tidak ada sarang dan
tempat khusus?
Sebenarnya dulu kami tinggal di atas pohon, tapi karena
banyak kelelawar yang datang dan mendominasi, sehingga
kami tidak bisa tinggal dipohon.
Dari mana asal kalian?
Sebenarnya kami adalah Dewa-Dewi Khayangan.
Kenapa bisa menjadi Walet?
Karena kami berbuat kesalahan, kami melalaikan tugas kami
dan sering sembunyi-sembunyi tanpa izin pergi kealam lain,
sehingga di saat kami hendak kembali ke langit, kami tidak
diperkenankan lagi dan diturunkan menjadi Burung Walet.
Begitu .
Ya, di saat kami tidak punya tempat tinggal dan terusir dari
kelelawar kami akhirnya tinggal dirumah-rumah buatan
manusia. Awalnya ada manusia yang baik memberikan tempat
bagi kami, akhirnya kami jadi tinggal dan berkembang biak
dirumah buatan manusia. Karena itulah kami ingin membalas
kebaikan manusia tersebut dan memberikan rejeki dengan air
liur kami.
Apa semua manusia bisa mendapatkan rejeki dari Walet.
Tidak. Hanya mereka yang telah menanam karma baik yang
Alam Walet

109

bisa mendapat rejeki dari kami. Orang banyak berpikir bisa


kaya karena pakar dan paham mengenai kami, tapi
sebenarnya adalah karena orang tersebut mempunyai karma
baik sehingga baru bisa mendapatkan rejeki dari kami.
Seperti itu ya.
Kami berkembang biak seperti pada umumnya, anak-anak
yang kami lahirkan semua berasal dari Dewa-Dewi yang punya
kesalahan yang sama.
Bagaimana bisa mengetahui orang yang akan kalian bantu itu
punya karma baik?
Kami sebelumnya adalah Dewa, jadi kami punya insting akan
hal itu.
Oh iya ya
Desi, banyak manusia yang melatih dirinya untuk menjadi
Dewa, sebenarnya menjadi Dewa tidaklah sebaik yang mereka
pikirkan, seharusnya mereka melatih diri untuk menjadi
Buddha dan tidak menjadi Dewa.
Ya, memang seharusnya begitu. Tapi tetap saja banyak
manusia yang bangga diri atas kelebihan yang dimiliki, padahal
kelebihannya itu hanya bisa membuatnya menjadi Dewa.
Ya. Itulah kebodohan manusia. Semoga kau bisa
menjalankan amanat dengan baik.
Terima kasih petunjuknya. Lalu aku keluar dari meditasi.
110

Alam Walet

Anak Raja Naga Laut Barat


ANAK RAJA NAGA LAUT BARAT

Akhirnya Shadana Raja Naga jadi juga di selenggarakan di


cetya Sukhavati Prajna, dengan membaca Sutra Raja Naga
selama 7 hari berturut-turut, 1 hari Api Homa dan 1 hari
mempersembahkan Ratnakalasa ke dalam laut.
Saat akan menyelenggarakan Shadana ini aku khawatir,
apakah para umat akan bisa mengikutinya, karena disamping
harus bershadana 9 hari berturut-turut dan juga biaya yang
harus dikeluarkan juga tidak murah. Aku mengira pasti hanya
sekitar 20-30 umat saja yang akan ikut.
Raja Naga mengatakan agar aku tidak usah khawatir, karena
semua akan berjalan dengan baik, dan para umat akan bisa
mengikutinya. Benar saja, saat pendaftaran yang dibuka
secara mendadak dan ditutup dengan mendadak pula,
ternyata antusiasme para umat mengikuti Shadana Raja Naga
ini amat besar, 168 Ratnakalasa habis dan ada 60 lebih umat
yang ikut menyeberang laut untuk mempersembahkan
Ratnakalasa. Aku sungguh tidak menduga hal ini. Ternyata
kekhawatiranku tidak beralasan, Raja Naga lebih mengetahui
apa yang akan terjadi, jadi beliau meminta aku untuk tidak usah
khawatir. Shadana Raja Naga perdana ini terwujud dan
terlaksana dengan sempurna.
Dihari pertama Shadana Raja Naga, aku hanya melihat
kehadiran Raja Naga, dihari kedua Shadana aura begitu kuat
kurasakan, sampai-sampai Genta yang kupakai untuk
memberkati putus, tubuhku gemetar karena kekuatan aura ini.
Ternyata saat itu, Raja Naga ingin berpesan kepadaku, Raja
111

Naga berkata;
Desi, aku ingin kau melakukan sesuatu.
Apakah itu?
Disini ada putraku, dia adalah Pangeran Naga Laut Barat,
orang itu bermarga Chen, namanya adalah ......... Chen.
Oh ya, apa yang bisa saya lakukan
Aku ingin agar rupangku yang ada di altar yang saat ini sedang
digunakan sebagai Adinata, nantinya bisa diberikan
kepadanya setelah Shadana selesai, juga Sutraku. Aku ingin
memberkatinya secara khusus, setelah selesai Shadana hari
ini, wakili aku untuk memberkatinya.
Baiklah Raja Naga
Aku terkesima mendengar petunjuk Raja Naga ini, tapi ini
adalah amanat. Di akhir shadana aku menjalankan petunjuk
yang diberikan oleh Raja Naga Laut Barat.
Keesokan harinya, pukul 1 siang hujan turun perlahan seiring
dengan itu tubuhku ada perubahan, aku segera duduk
bermeditasi, setelah pergerakan roh sebentar dan melihat
perwujudan seekor Naga yang sedang melesat kesana kemari
di langit. Kemudian beberapa saat rohku keluar dari tubuh,
melesat naik kelangit, dilangit ada beberapa ekor Naga, aku
menghampiri Naga yang terlihat agak besar dan berwarna
merah. Lalu Naga tersebut berkata;
Desi, aku Raja Naga Laut Barat, aku datang memanggilmu.
112

Anak Raja Naga Laut Barat

Terimalah hormat saya Raja Naga.


Tidak perlu sungkan, hari ini aku akan mengajakmu ke Istana
Naga Laut, tempat kediamanku.
Apa saya diperkenankan untuk ke Istana Naga Laut?
Tentu saja. Kau telah menjalankan petunjukku dengan baik,
dengan menuntun umat cetya untuk bershadana kepadaku.
Tapi apakah permohonan para umat akan dikabulkan?
Ya, tentu. Naiklah kepunggungku, aku akan mengajakmu ke
tempatku.
Aku segera duduk dipunggung Raja Naga Laut berwarna
merah itu, lalu kami melesat cepat. Dari atas langit aku melihat
lautan yang luas, saat disatu sisi laut Raja Naga berkata;
Desi, kita sudah sampai, aku akan membawamu turun ke
dalam laut.
Baiklah Raja Naga.
Karena aku sudah bisa menembus medan apapun, aku yakin
dan tidak gentar untuk mengikutinya, kami masuk kedalam laut
kedasar yang paling dalam.
Sampai dikedalaman tertentu aku merasa alam mulai berubah,
ada 2 penjaga memegang tombak, tubuhnya seperti binatang
laut, tapi saat kami hendak melewatinya, mereka dengan cepat
membuka jalan.
Anak Raja Naga Laut Barat

113

Kami menyusuri jalan laut itu, aku melihat beberapa binatang


laut, ada udang, ikan, kerang dll. Dan akhirnya kami tiba
dibagian depan istana Raja Naga, Raja Naga mengajakku
masuk. Aku melihat singgasana berbentuk Naga dan ada
dayang-dayang disisinya, wujudnya juga seperti hewan laut.
Lalu dari dalam muncul Permaisuri Naga, tubuh seperti
manusia tapi kepalanya Naga, aku memberi hormat padanya.
Lalu Raja Naga membawaku kebelakang ruangan diistananya.
Aku melihat ada tumpukan buku-buku yang bercahaya terang,
banyak sekali, Raja Naga berkata;
Desi, ini adalah tempat Sutra-sutra Buddha
Oh, benar-benar ada Sutra Buddha di Istana Raja Naga?
Ya, kami amat mengagungkan Sutra Buddha. Aku adalah
Raja Naga yang tertua, kami ada 4 bersaudara di alam laut.
Aku yang pertama Raja Naga Laut Barat berwarna merah,
yang kedua Raja Naga Laut Selatan berwarna kuning, yang
ketiga Raja Naga Laut Utara berwarna biru dan yang keempat
Raja Naga Laut Timur berwarna hijau. Karena itu Sutra Buddha
hanya ada ditempatku.
Oh begitu ya. Aku terkesima melihat pemandangan ini dan
mendengar perkataannya.
Ayo ikut aku, aku akan membawamu kesuatu tempat.
Lalu Raja Naga berjalan keluar dari istana, aku mengikutinya.
Sampai diluar istana ada pengawalnya yang membawakan 2
ekor kuda laut, Raja Naga menaiki kuda laut itu, lucu sekali,
dan yang lebih lucu aku juga menaiki kuda laut juga. Bukankah
114

Anak Raja Naga Laut Barat

pada dunia nyata kuda laut itu kecil sebesar jari tangan, kenapa
aku bisa menaikinya, apa masuk kelaut aku telah berubah
menjadi kecil ???
Kami berjalan entah kemana, sampai disuatu tempat Raja
Naga turun, lalu ada penjaga yang membuka ruangan yang
kami datangi, disaat melihat isi ruangan itu aku lebih termangu
lagi, aku melihat banyak botol-botol yang biasanya
dipersembahkan pada Raja Naga, bentuknya juga sama, aneh
sekali. Aku bertanya pada Raja Naga;
Raja Naga, ini botol-botol yang dipersembahkan kelaut
bukan?
Betul, botol-botol ini adalah persembahan yang diberikan
manusia.
Ternyata botol-botol itu benar diterima oleh Raja Naga?
Ya, jika ada rakyatku yang sakit, maka akan diberikan obat
dalam botol ini, obat-obat itu bisa menyembuhkan segala
penyakit kami,
Oh begitu.
Desi, ayo ikut aku, aku akan membawamu kesuatu tempat
lagi.
Raja Naga berjalan lagi keluar tempat itu dan kami kembali
menunggangi kuda laut pergi kesuatu tempat. Sesampainya
ditempat itu, Raja Naga Laut turun dan membuka ruang yang
dijaga prajuritnya. Aku kaget setengah mati karena isi didalam
ruangan itu adalah harta yang sangat banyak, ada intan
Anak Raja Naga Laut Barat

115

permata, berlian, emas, mutiara dll. Aku berpikir apakah ini


sungguhan??
Raja Naga, ini harta karun?
Ha.. ha.., ini harta Raja Naga
Banyak sekali apa umat yang memohon rejeki padamu bisa
mendapatkannya dari sini?
Ya, hartaku ini akan bermanifestasi sesuai permohonan
mereka.
Semua permohonan umat bisa dikabulkan?
Desi, hanya jika mereka tulus hati, dan jika pemimpin shadana
mempunyai ikatan batin denganku maka ritual yang
dipimpinnya akan membuat permohonan para umat bisa
dikabulkan. Jika pemimpin ritual itu tidak punya ikatan batin
denganku, maka permohonan akan sia-sia dan tidak sampai
kepadaku.
Raja Naga, boleh hamba bertanya?
Katakanlah
Ada beberapa umat yang tidak mengerti mengenai jati dirinya,
apakah Raja Naga mengetahuinya.
Aku tahu, umat yang satu roh asalnya adalah dakini di alam
ucchussma juga dekat denganku, karena itu saat dia
mengetahui sifat asalnya, dia juga berjodoh denganku
116

Anak Raja Naga Laut Barat

Apakah ada kesalahan yang dilakukannya?


Tidak, dia turun kedunia untuk mencapai kenaikan tingkat dan
dia punya hati yang baik.
Lalu bagaimana dengan umat yang satu lagi, benarkah dia
pernah menjadi anak Raja Naga Laut Timur.
Benar, dia adalah Pangeran Naga. Karena sifat manja dan
nakalnya telah membuat manusia menderita, sehingga dia
diturunkan menjadi manusia, sebelumnya dia adalah dakini
hijau.
Terima kasih atas petunjuk Raja Naga, saya sudah mengerti.
Desi, terima kasih karena telah membantu menyambungkan
kembali antara aku dengan putraku, sesungguhnya namanya
adalah Long Hung Shi, dia anakku yang penurut, tapi karena
sakit, akhirnya dia mati dan terlahir menjadi manusia.
Hamba hanya menjalankan sesuai petunjuk saja
Desi, aku akan mengantarmu kembali. Raja Naga kembali
kewujud Naganya yang berwarna merah. Lalu aku kembali
naik kepunggung Raja Naga melesat keluar dari laut dan naik
kelangit. Aku berpamitan padanya dan memohon agar Raja
Naga berkenan membantuku dalam keduniawian, agar aku
bisa melepaskan usaha dengan tenang dan bisa
berkonsentrasi dalam pembinaan diri. Aku sempat bertanya
pada Raja Naga;
Raja Naga, apakah sudah banyak orang yang bisa ke Istana
Raja Naga?
Anak Raja Naga Laut Barat

117

Desi, kau adalah orang ke empat yang datang ke Istana Raja


Naga selain Chi Thien Tha Sen. Sebelumnya ada Buddha
Sakyamuni, lalu Nagarjuna, Mahaguru Lu Sheng Yen dan
kau.
Apakah tidak ada orang lain lagi?
Ada beberapa orang, tapi baru setengah perjalanan mereka
sudah ketakutan dan mengundurkan diri.
Oh begitu.
Itulah perjalanan pertamaku ke Istana Raja Naga, amat
berkesan dan telah banyak menjawab pertanyaan dalam
hatiku.
Dihari ke-7 Shadana Raja Naga, kekuatan alam semesta yang
kurasakan hari demi hari semakin kuat, para Naga berkeliling
diangkasa, saat meditasi dengan sendirinya rohku keluar dari
tubuh, aku melihat ada tangga yang terbuka, aku mengira
tangga itu akan turun kelaut dan mungkin akan ke istana Raja
Naga Laut lagi, tapi tangga itu bukan menuju kebawah
melainkan naik keatas, aku menaiki tangga itu yang sepertinya
memang disediakan untukku. Sesampainya diatas, aku
melihat Buddha Amithaba, Dewi Kwan Im, Mahastamaprapta
Bodhisattva dan Raja Naga Laut Barat. Aku menghaturkan
hormat kepada mereka semua. Buddha Amithaba berkata;
Desi, aku memanggilmu kesini untuk memberikanmu gelar.
Memberikan saya gelar, tapi gelar untuk apa Buddha
Amithaba, bukankah gelar hamba sudah terlihat panjang, apa
harus diberikan gelar lagi?
118

Anak Raja Naga Laut Barat

Desi, kau telah menjalankan petunjuk yang diberikan dengan


menjalankan Shadana Raja Naga di cetya, karena itu Raja
Naga Laut Barat meminta kepadaku untuk menjadikanmu
keluarga Naga dan memberikanmu Marga Lung, mulai hari ini
kau adalah keluarga Naga yang bernama Lung Yang Shi dan
semua umat cetya adalah keluarga Naga.
Terima kasih Buddha Amithaba. Aku terharu mendapatkan
berkah ini.
Jalanilah Dharmamu dengan baik dan tetaplah teguh. Lalu
Raja Naga menghampiriku dan berkata;
Desi, kau telah menjadi keluarga Naga, aku memberikan
tongkat Naga ini kepadamu sebagai tanda hubungan dan
ikatan batin kita.
Terima kasih Raja Naga lalu Raja Naga berkata lagi;
Kembalilah, para umat sudah menunggumu.
Aku segera kembali ke cetya dan keluar dari meditasi, para
umat terheran-heran melihatku, karena ini pertama kalinya
dalam ritual aku lama keluar dari meditasi dan tertunduk dalam
seperti itu.

Anak Raja Naga Laut Barat

119

Alam Tawon
Alam Tawon

Hari ini kira-kira pukul 3 siang, saat aku sedang mengajar


anakku, aku merasakan keanehan. Entah kenapa? tapi kakak
iparku dan mama mertuaku beberapa hari ini mengalami halhal aneh. Katanya saat kakak iparku hendak membaca
mantera dengan mengunakan japamala, japamala itu
mendadak putus. Lampu altar alm. ayah mertuaku padam dan
batang-batang hio yang ada di dalam hiolonya terbakar.
Kacamata peninggalan alm. ayah mertua patah saat ibu
mertuaku memasukan kekantong celananya. Awalnya aku
tidak merasakan apapun, mungkin karena begitu banyaknya
kesibukan di cetya beberapa hari ini.
Aku mencoba meminta petunjuk mengenai hal itu, ternyata ada
pesan yang ingin disampaikan oleh alm. ayah mertua. Dia
mencoba berkomunikasi dengan cici dan mama, tapi karena
mereka tidak bisa mendengar dan mengetahui petunjuk itu,
akhirnya alm. ayah mertua berbicara padaku.
Aku melihat kehadiran papa, kali ini agak berbeda, papa duduk
di atas teratai dengan memakai jubah kuning. Beberapa hari
sebelumnya, aku mendengar komunikasi kami melalui telinga,
tapi kali ini sudah bisa melalui hati. Papa berpesan untuk
meletakan altarnya di dalam rumah yang berada diseberang
cetya Sukhavati Prajna, altarnya harus menghadap timur dan
di sisi-sisinya dibuat kotak kecil untuk tempat abu yang lain.
Rumah itu memang dijual kepada kami, karena pemilik rumah
tersebut tidak menempatinya lagi karena punya masalah
keluarga. Saat ini sedang dalam proses jual beli. Aku agak
sedikit bingung dengan petunjuk papa, rupanya papa ingin
agar rumah tersebut bisa dijadikan rumah abu. Jika ada orang
120

lain yang hendak meletakan abu leluhurnya disitu juga bisa.


Rumah abu itu harus diberi nama Rumah Abu Keluarga
Tjong.
Petunjuk itu aku sampaikan kepada suamiku, cici dan mama.
Rupanya keluarga telah sepakat untuk membeli rumah itu
sebagai sumbangan papa kepada cetya Sukhavati Prajna
untuk dijadikan Rumah Abu. Dan dirumah itu, altar sumpah
bodhi akan dipindahkan disana sebagai pelindung leluhur.
Juga nantinya diteras depan posisi timur, akan diletakan altar
Se Mien Fo (Buddha 4 muka) menghadap barat, sesuai
permintaan dari Se Mien Fo sendiri.
Aku bertanya kepada Buddha Amithaba mengenai petunjuk
papa dan kemunculan roh papa yang duduk di atas teratai itu.
Buddha Amithaba berkata kalau papa sudah seperti
Bodhisattva, jika dia ingin melakukan kebajikan maka dia akan
menyampaikan langsung kepada keluarganya, Buddha
Amithaba meminta agar aku jalankan saja petunjuk papa.
Setelah berkomunikasi dengan Buddha Amithaba, aku tidak
keluar dari meditasi tapi segera kepalaku tertunduk dalam, aku
melihat seekor tawon sedang terbang. Tawon itu mengajakku
kesuatu tempat. Terlihat ada sarang tawon yang agak besar
dan diluarnya ada beberapa tawon lain yang sedang
berterbangan. Tawon itu masuk kedalam sarang melalui salah
satu lubang, aku mengikutinya.
Sepertinya tubuhku berubah menjadi kecil dalam sekejap dan
bisa masuk kedalam lubang sarang tawon yang kecil itu. Di
dalam sarang tawon itu banyak tawon-tawon lain hilir mudik.
Tawon tadi mengajakku kedalam sampai bertemu Ratu Tawon
Alam Tawon

121

yang wujudnya hampir sama dengan wujud Ratu Rayap,


seperti ulat gemuk, tapi Ratu Tawon tidak segemuk dan tidak
segeli Ratu Rayap. Lalu tawon yang mengajakku itu berbicara;
Desi, aku Tawon Penjaga. Ada tiga jenis tawon disini, yaitu
tawon penjaga yang berjaga-jaga diluar sarang. Tawon pekerja
yang mencari madu bunga dan tawon prajurit yang menjaga
dan memberi makan Ratu Tawon.
Ratu Tawon akan
melahirkan tawon-tawon prajurit, penjaga dan pekerja.
Ada berapa Ratu Tawon didalam sarang?
Hanya ada satu Ratu Tawon didalam komunitas tawon. Kami
sedang membuat komunitas tawon, tapi hidup kami sudah
tidak begitu baik, karena banyak dari kami harus tinggal di
dalam sarang buatan manusia.
Apa tujuan kalian membuat komunitas?
Untuk melebarkan dan memperbanyak kawanan tawon.
Oh...!!! aku terheran-heran mendengar perkataan tawon itu.
Berapa lama hidup di alam ini ?
Ribuan tahun.
Wah... lama sekali. Tawon kan makhluk kecil, kenapa
hidupnya lama sekali?
Saat kami menyengat manusia, kami pasti akan mati, tapi
akan terlahir lagi di alam tawon sampai ribuan tahun.
122

Alam Tawon

Penderitaan di alam binatang begitu lama, memangnya dari


mana asal kalian sebelumnya? dan kesalahan apa yang telah
dilakukan?
Sebelumnya kami dari alam manusia. Yang saat hidup didunia
telah melakukan pekerjaan penambangan. Menggali bumi dan
mengambil hasil perut bumi seperti minyak, emas, gas dll.
Oh....
Jarum di pantat kami adalah identitas kalau kami sebelumnya
adalah penambang
Kalau yang mengali jalan untuk membuat pipa air, apakah
akan masuk ke alam ini?
Tidak, yang masuk ke alam ini adalah mereka yang
mengambil hasil alam. Baik pekerjanya maupun kontraktornya
akan masuk ke alam ini menjadi tawon.
Aku tak habis pikir, ternyata seperti itu. tapi bagaimana dengan
pengeboran untuk mencari sumber air, apakah juga akan
terlahir di alam ini? aku lupa menanyakan hal ini pada tawon
tersebut.
Itulah pengalaman perjalananku ke Alam Tawon.

Alam Tawon

123

Alam Lalat

ALAM LALAT ( 20/6-2011)

Siang ini, kira kira pukul 11. Aku kembali menjalankan


tugasku untuk pergi ke Alam Binatang. Beberapa hari ini aku
tidak bisa menjalaninya, karena banyak yang harus aku
lakukan untuk acara-acara di cetya Sukhavati Prajna, dan
sepertinya Kaisar Langit mengetahui kesibukanku itu,
sehingga aku tidak merasakan panggilan darinya untuk
menjalankan tugas yang Kaisar Langit berikan.
Baru hari ini lagi aku merasakan panggilanNya, setelah
kemarin selesai mengadakan acara ulang tahun cetya dan
Mahaguru tanggal 18 bulan 5 lunar. Aku duduk bersila diruang
kerjaku, karena pada saat ini aku tidak terikat lagi dengan
tempat/lokasi saat bermeditasi, aku dapat bermeditasi dimana
saja secara spontan dan alamiah serta dalam situasi apapun.
Seperti biasa aku tertunduk dan tertidur dalam meditasi, ada
seekor binatang yang bersayap kecil terbang menghampiriku,
dia mengajakku ikut terbang bersamanya. Aku ikuti arah
terbangnya, setelah beberapa lama, aku telah tiba disuatu
tempat. Disana banyak sekali lalat-lalat yang sedang
mengerumuni sesuatu, setelah aku melihat dengan lebih
dekat, ternyata mereka semua sedang berkerumun di sebuah
daging yang hampir membusuk, aku sepertinya juga mencium
bau busuknya, membuat aku agak mual dan jijik. Lalu aku
segera mengalihkan pandanganku ke lalat yang tadi
membawa aku ketempat ini. Lalat itu berkata kepadaku;
Desi, aku Lalat Pemburu. Aku yang memimpin semua lalatlalat prajurit. Saat ini kau telah berada di alam kami
124

Apa Alam Lalat seperti ini?


Iya, inilah tempat kami. Seperti yang kau lihat itu.
Kenapa begitu, apa tidak ada tempat yang lebih baik lagi?
Tempat itu sesuai dengan perbuatan yang kami lakukan.
Awalnya kami adalah larva yang berasal dari makanan yang
mulai membusuk, setelah itu larva akan berubah menjadi ulat
kecil/belatung, setelah beberapa lama belatung itu akan
mengeras dan membentuk seperti kepompong seperti kupukupu, barulah muncul anak-anak lalat. Tapi kami berbeda
dengan kupu-kupu, kupu-kupu lebih bersih dari kami karena
mereka dari ulat pohon.
Haa, begitu ya. Sebelumnya dari mana asal kalian?
Sebelum terlahir menjadi larva lalat dan menjadi seekor lalat,
kami adalah manusia yang berbuat kesalahan selama hidup
didunia. Tidak ubahnya seperti lalat yang mengerumuni
makanan, kami dulu juga seperti itu. Mengkhianati teman dan
keluarga sendiri dengan menguras harta keluarga dan
menusuk teman sendiri dari belakang. Pada saat itu kami
tidak memperdulikan orang lain yang kami khianati, walaupun
itu keluarga dan teman kami sendiri.
Apakah seperti Nyamuk?
Tidak, kami berbeda. Karma buruk yang dilakukan mereka
berbeda dengan kami.
Apakah kalian juga punya Ratu Lalat seperti di Alam Rayap
dan Tawon?
Alam Lalat

125

Tidak ada Ratu Lalat dalam alam kami, kami berdiri sendiri
dan hanya sibuk memenuhi kebutuhan kami sendiri. Walau
kelihatannya kami berkumpul, tapi kami saling tidak
memperhatikan dan perduli satu sama lainnya. Hal ini
mencerminkan diri kami saat menjadi manusia.
Seperti itu ya, tapi apakah manusia didunia banyak yang
berbuat salah seperti itu? karena aku melihat banyak sekali
lalat berkerumun ditempat sampah.
Begitulah, mungkin kau tidak mengetahuinya. Tapi banyaknya
lalat didunia, sama banyaknya dengan manusia didunia yang
berhati busuk dan tercela.
Berapa lama hidup di Alam Lalat?
Hanya beberapa hari saja.
Oh, sebentar sekali. Setelah itu apa bisa langsung terlahir
menjadi manusia lagi ?
Kami harus masuk kedalam neraka terlebih dahulu, setelah
hukuman telah selesai baru terlahir di alam lalat. Saat menjadi
lalat, karena kekenyangan makan kami bisa mati. Setelah itu
baru bisa terlahir lagi menjadi manusia.
Hukuman apa yang kalian jalani di Alam Neraka?
Kau sudah pernah ke Alam Neraka bukan, kau pasti tahu apa
hukuman yang diterima. Aku tidak bisa menceritakan
mengenai hal itu, karena tugasku hanya memberitahukan
mengenai alamku kepadamu.
126

Alam Lalat

Baiklah, aku mengerti.


Desi, aku beritahu ya. Kebanyakan kami terlahir dari makanan
bernyawa seperti daging. Banyak manusia yang berpenyakit
kanker, gangguan pencernaan dan penyakit kulit karena
disebabkan makan-makanan bernyawa. Dan tidak semuanya
sakit seperti itu karena karma buruk mereka.
Loh... kenapa begitu? Bukankah daging yang sudah dimasak
tidak masalah untuk dimakan dan kumannya sudah mati.
Larva yang tinggal di dalam daging yang sudah dimasak,
memang sebagian mati pada saat itu, tapi ada sebagian larva
yang masih bisa hidup karena memiliki selaput pelindung
tubuh yang lebih kuat, bahkan kadang larva yang sepertinya
mati saat dimasak, bisa hidup kembali di dalam tubuh manusia.
Itulah yang menyebabkan kuman bersarang ditubuh manusia
dan menjadi penyakit dan racun di dalam tubuh. Saat manusia
mati tubuhnya akan segera membusuk dengan cepat dan
muncul larva yang berubah menjadi ulat/belatung, kadang juga
tubuh manusia bisa tumbuh ulat/belatung walaupun manusia
itu masih hidup.
Manusia yang tubuhnya muncul ulat/belatung saat masih
hidup, bukannya karena terkena kiriman guna-guna?
Tidak semuanya, sebagian karena makan-makanan
bernyawa. Terlebih lagi mereka yang makan-makanan
bernyawa yang masih mentah dan belum dimasak, resikonya
lebih besar dihinggapi larva lalat.
Mengerikan sekali, jadi apa semua orang harus vegetarian
Alam Lalat

127

dan tidak makan daging?


Kau tahu bagaimana cara memurnikan makanan? dengan
begitu bisa menyeberangkan mereka lebih dulu sebelum
dimakan, jadi tidak bersarang didalam tubuh dan menjadi
penyakit.
Ya, ya... aku tahu.
Desi, semoga kau bisa menuliskan semua ini dengan baik,
agar banyak manusia yang mengetahui mengenai alam ini,
dan bisa menyadarkan mereka. Supaya mereka tidak terlahir
di alam lalat ini.
Ya... aku akan ceritakan hal ini. Terima kasih atas
petunjuknya.
Setelah banyak berbicara dengan Lalat Pemburu itu, aku pergi
dari alam lalat itu untuk kembali. Dan Aku telah terbangun dari
meditasi tidurku. Begitulah perjalananku kealam lalat,
semuanya terjadi secara cepat dan tidak diduga. Sama sekali
tanpa aku pikirkan dan aku rencanakan, rahasia-rahasia alam
binatang satu persatu aku ketahui.
Kadang aku berpikir, saat sudah mencapai tingkatan seperti
ini, aku seperti tidak merasakan apa-apa, bimbingan yang aku
dapatkan tidaklah seperti dulu saat awal berkontak batin
dengan para Dewa. Sekarang ini, aku lebih dikonsentrasikan
pada pengembangan cetya Sukhavati Prajna dan penulisan
buku-buku Dharma.
Bisa seperti ini, terjadi secara alami. Aku tidak pernah
memaksakan diri melatihnya, ataupun berusaha mencari tahu
128

Alam Lalat

secara membabi buta. Aku merasa, semua pengalaman ini


datang dengan sendirinya, mengalir seperti air. Kadang
bergelombang besar, kadang beriak kecil, kadang pula seperti
tidak bergerak.
Dari awalnya terdorong untuk membaca mantera dan
bermeditasi, berjodoh dengan ajaran Buddha, terbukanya
mata ketiga, mengetahui jati diri, mendapatkan bimbingan dari
para Bodhisattva dan Dewa, pernapasan botol, terbangkitnya
Api Kundalini, merasakan Rasa Dharma, terbukanya lima
cakra, roh keluar dari tubuh dan pergi ke alam lain, penyatuan
dengan Buddha-Bodhisattva dan bisa membelah tubuh.
Semua itu timbul dengan sendirinya dan tidak pernah aku
harapkan sama sekali.
Aku mensyukuri atas semua yang telah aku dapatkan, dan
berusaha untuk mengamalkannya untuk kebahagiaan semua
makhluk. Sesuai dengan Sumpah Bodhi yang telah aku
ikrarkan dihadapan para Buddha-Bodhisattva, aku berusaha
untuk menjalankan semua tugas yang diberikan dengan baik.
Berusaha untuk tetap teguh dan tidak mundur menjalaninya,
Semoga pembinaan diri yang aku lakukan selama ini, bisa
memberikan motivasi bagi para insan untuk berbuat lebih baik
dalam hidup mereka di dunia ini dan mau mulai membina
dirinya, agar segala karma buruk dikehidupan sebelumnya
bisa terkikis dan terhapus, mengumpulkan pahala kebajikan
dikehidupan ini, agar terlahir di alam yang lebih baik, kembali
ke tempat asal dan mencapai keBuddhaan.

Alam Lalat

129

Rupang Se Mien Fo
Saat Ulang Tahun Cetya yang Pertama
RUPANG SE MIEN FO
SAAT ULANG TAHUN CETYA YANG PERTAMA

Tidak terasa telah satu tahun cetya Sukhavati Prajna berdiri


dan aktif dalam kegiataan Dharma Buddha. Pada hari ini kami
semua umat cetya Sukhavati Prajna merayakan hari ulang
tahun bersamaan dengan ulang tahun Mahaguru yang ke-67.
Persiapan acara begitu mendadak, aku sama sekali tidak
menyangka kalau antusias dan partisipasi umat begitu besar.
Acara ulang tahun cetya berjalan dengan semarak dan semua
terlihat begitu berbahagia.

Api Homa Dewi Matsu di Puncak.

Api Homa Dewi Matsu di Puncak.

Kami semua saling bekerjasama dalam acara itu, beberapa


hari setelah menjalankan api homa Dewi Matzu di Vihara
Puncak. Guruku memberi petunjuk untuk memberikan
penghargaan kepada para umat yang telah banyak membantu
dalam pendirian, peran aktif dan dukungan yang telah
diberikan kepada cetya Sukhavati Prajna, sebagai tanda
ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka
semua. Guruku mengatakan, dengan adanya dukungan dan
partisipasi para umat, segala kegiatan cetya bisa berjalan
dengan baik dan lancar.
Dengan terburu-buru aku mempersiapkan petunjuk guruku,
130

aku sangat bersyukur karena ada beberapa umat yang bisa


membantuku menyelesaikan tugas ini. Segala dokumentasi,
promosi dan pencetakan buku Dharma banyak dibantu oleh
mereka. Kami semua berkumpul penuh dengan rasa
kekeluargaan, sampai banyak orang tidak menyangka kalau
perkembangan cetya Sukhavati Prajna bisa secepat ini, dan
banyak umat yang berkenan membantu. Terlihat begitu
sempurna, semua seperti dipertemukan oleh BuddhaBodhisattva.
Pada hari ulang tahun cetya itu, piagam penghargaan
diberikan kepada mereka. Sesuai dengan dukungan yang
telah mereka berikan masing-masing. Semoga dengan
diberikannya penghargaan itu, bisa membuat mereka semakin
termotivasi untuk terus menjalankan Dharma mereka. Dan
terus berusaha membina diri dengan baik. Agar segala cita-cita
luhur mereka bisa terwujud dan bisa memberikan kebahagiaan
bagi semua makhluk.
Hari ini pula, keinginan Se Mien Fo untuk memasang altarnya
di cetya Sukhavati Prajna, sepertinya akan segera terwujud.
Rumah yang berada di seberang cetya sudah akan menjadi
milik cetya, dan tanpa diduga juga ada orang yang
menyumbangkan rupang Se Mien Fo dengan ukuran sesuai
dengan keadaan cetya saat ini.
Beberapa kali aku mendapatkan keajaiban yang sepertinya
telah diatur para Dewa, dengan sendirinya rupang-rupang
yang dibutuhkan cetya bisa ada orang yang
menyumbangkannya, kadang beberapa lama setelah Dewa
yang bersangkutan meminta untuk dipasang rupangnya,
beberapa hari kemudian bisa ada orang yang mengantar
Rupang Se Mien Fo Saat Ulang Tahun Cetya yang Pertama

131

rupang tersebut. Itu adalah salah satu kemudahan yang aku


dapatkan dalam menjalankan Dharma ini. Tapi ada satu Dewa
yang meminta agar aku menyiapkan altarnya, tapi karena
Dewa tersebut bertolak belakang dengan Dharma Buddha
yang aku jalankan saat ini, dengan hormat aku menolak
permintaannya. Walaupun Dewa tersebut menjanjikan
kesenangan duniawi dan mau menunggu sampai aku berubah
pikiran, aku tetap meneguhkan hatiku untuk tidak mengikuti
permintaannya.
Walaupun aku sedang menjalankan Dharma Buddha yang
universal dan tidak membeda-bedakan kepercayaan apapun,
tapi aku tetap berusaha untuk hanya menginjak satu perahu
Dharma dalam menyusuri lautan samsara ini, demi mencapai
pantai seberang, bernaung dipulau yang benar.
Guruku dan para Buddha-Bodhisattva sudah meminta agar
aku berkenan melepaskan keduniawianku, agar aku bisa lebih
banyak berkonsentrasi pada pembinaan diri, berkonsentrasi
pada perkembangan cetya. Tapi karena masih banyaknya
tanggung jawab yang harus aku lakukan dikehidupan ini, aku
memohon para Buddha-Bodhisattva berkenan menungguku
beberapa saat, sampai aku siap melepaskan semuanya. Dan
pada saat itu, aku akan mencurahkan hati dan pikiranku
sepenuhnya untuk jalan Bodhisattva. Semoga segala harapan
bisa terwujud dan semoga segalanya bisa berjalan dengan
lancar.

132

Rupang Se Mien Fo Saat Ulang Tahun Cetya yang Pertama

Alam Nyamuk

ALAM NYAMUK ( 21/6-2011)

Hari pukul 2 siang, aku pergi ke Alam Nyamuk. Tadinya aku


tak mengerti dengan apa yang aku lihat, seperti ada genangan
air dan ada sesuatu yang bergerak-gerak cepat, setiap aku
dekati sesuatu itu bergerak lagi menjauh. Aku mengira ikan
kecil, tapi tidak seperti ikan. Kucoba untuk memperhatikan lagi
dengan seksama, ternyata apa yang kulihat di dalam
genangan air dan bergerak itu adalah jentik nyamuk. Aneh
tiba-tiba saja aku masuk ke alam ini, aku mengikuti kemana
jentik nyamuk itu berjalan. Jentik itu membawaku ketempat
genangan air yang makin lama makin gelap suasananya,
sehingga aku hampir tidak jelas melihat jentik itu. Lalu jentik
tersebut terdiam dan menempel di satu sisi yang agak kering,
dan tubuh jentik itu seperti mengeras dan terbelah kulitnya,
kemudian muncul seekor nyamuk yang memaksa keluar dari
dalam jentik itu. Aku baru mengerti ternyata begitu proses
keluarnya nyamuk. Setelah nyamuk itu keluar, dia malah bicara
denganku;
Desi, aku adalah Nyamuk
Iya, aku tahu. Tapi kenapa saat kau menjadi jentik sepertinya
kau sudah mengetahui keberadaanku?
Hanya terlahir menjadi manusialah yang tidak bisa mengenal
lagi keluarga dan kerabat pada kehidupan sebelumnya,
kecuali manusia itu membina diri. Tapi yang terlahir di alam
binatang masih bisa mengenal dan mengetahuinya.
Kau tinggal ditempat ini?
133

Ya, dimana ada genangan air yang kotor, disitulah kami para
nyamuk tinggal. Tempat hidup kami sesuai dengan perbuatan
salah kami dulu
Apa yang kalian lakukan sehingga bisa terlahir di Alam
Nyamuk ini.
Sebelumnya kami adalah manusia yang telah berbuat
kesalahan, sebelum terlahir di alam nyamuk ini kami harus
menjalani hukuman terlebih dahulu di alam neraka. Pada
waktu kami menjadi manusia, kami suka melakukan
perselingkuhan dengan isteri orang lain atau suami orang lain,
juga ada yang melakukan perbuatan tidak baik dengan ibu
sendiri, adik sendiri, kakak sendiri, teman sendiri dan keluarga
sendiri. Kesalahan itulah yang menyebabkan kami bisa terlahir
dialam ini.
Begitu ya, apa orang yang melakukan hubungan dengan
wanita tuna susila juga akan terlahir di alam ini?
Tidak, mereka yang melakukan hal itu akan mendapatkan
hukuman di neraka, tidak terlahir di alam nyamuk tapi akan
terlahir di alam binatang yang lain.
Berapa lama hidup di alam nyamuk ini?
Ribuan tahun. setelah mati dibunuh manusia, kami akan
kembali terlahir menjadi nyamuk sampai ribuan tahun, baru
bisa terlahir lagi menjadi manusia.
Wah... lama sekali. Kenapa begitu?
Karena perbuatan kami, merupakan pelanggaran berat sila
134

Alam Nyamuk

ke-2 setelah sila pertama yang tidak boleh membunuh bagi


orang awam. Karena itulah kami harus mengalami hukuman
yang berkepanjangan.
Kenapa kalian suka meminum darah makhluk hidup yang
lain?
Karena sifat buruk kami yang tidak bisa mengendalikan hawa
nafsu, suka main belakang dan menyembunyikan perbuatan
kotor kami, sehingga baik tempat tinggal dan makanan
kamipun sesuai dengan perbuatan yang kami lakukan dulu,
hanya bisa tinggal ditempat kotor, habis menggigit dan
menghisap darah tidak bisa melarikan diri sampai ditepuk
orang sampai mati. Biar begitupun tetap belum bisa segera
mencapai kebebasan dan keluar dari penderitaan ini. Desi,
kamu bisa membantu kami tidak ?
Apa yang bisa saya bantu. Yang saya tahu semua kehidupan
mahluk hidup berjalan berdasarkan hukum karma dan sebab
akibat. Menanam kebaikan akan mendapat kebahagiaan,
menanam kejahatan akan mendapat penderitaan hukuman.
Saya rasa hukum langit sudah adil.
Jadi bagaimana bisa keluar dari penderitaan ini?
Sebaiknya, jangan menghisap dan meminum darah makhluk
hidup lagi. Kalau ada ceramah dharma dan pembacaan
mantera ikutlah mendengarkannya dan melafalkannya dalam
hati, semoga dengan cara itu bisa mengikis karmamu.
Baiklah, semoga kau bisa menuliskan mengenai alam kami ke
dalam bukumu.
Alam Nyamuk

135

Terima kasih petunjuknya.


Setelah itu aku keluar dari Alam Nyamuk dan kembali
ketempatku. Aku merasa terlahir di alam binatang begitu
menderita. Mengapa manusia didunia banyak yang menyianyiakan hidupnya, berbuat hal-hal yang tidak baik dan
menanam karma buruk. Padahal menjadi manusia adalah
kesempatan untuk mengumpulkan pahala kebajikan dan
kesempatan untuk membina diri untuk bisa mencapai
keBudhaan dan melepaskan diri dari rantai tumimbal lahir.
Banyak manusia, karena tergiur dengan kenikmatan duniawi
tidak menyadari kalau pada akhirnya akan mendapatkan
penderitaan berkepanjangan dikehidupannya yang akan
datang. Bahkan ada yang tidak memperdulikan mereka akan
menjadi apa, mau mereka mati mendadak atau nantinya akan
masuk neraka, mereka tidak memperdulikannya, yang ada
dalam pikiran mereka hanya memuaskan hawa nafsu selama
hidup didunia.

136

Alam Nyamuk

Alam Merak

ALAM MERAK

Sore ini, setelah sibuk membereskan barang-barang cetya,


aku duduk bermeditasi. Sudah hampir satu minggu aku tidak
melakukan Perjalanan Astral ke Alam Binatang, mungkin
Kaisar Langit tahu kalau cetya sedang disibukan dengan
Shadana Raja Naga dan kegiatan-kegiatan cetya, sehingga
baru saja kegiatan selesai aku telah terpanggil kembali.
Ada satu binatang yang menungguku, bulu-bulunya sangat
indah, kadang tertutup kadang terbuka seperti kipas.
Wujudnya sudah bisa aku tebak, seekor Burung Merak. Dia
membawaku ketempat yang banyak burung meraknya, lalu
berkata;
Desi, aku Burung Merak.
Ya, saya bisa mengenalinya, ini Alam Burung Merak?
Ya, aku telah menunggumu untuk datang ke alam kami.
Bagaimana kau bisa tahu kalau aku akan pergi ketempatmu?
Petunjuk dan berita langit datang secepat kilat.
Mengapa bulu kalian indah, dari mana asal kalian
sebelumnya?
Kami bangsa merak merupakan lambang keharmonisan,
kebahagiaan dan berkah. Populasi kami hanya terdapat di
China daratan, paling banyak di daerah Sicuan, Shanghai
China. Di Indonesia juga ada tapi tidak sebanyak di China
daratan. Sesungguhnya kami berasal dari Alam Mahamayuri
137

Vidyarajni.
Begitukah?!! Apa kalian berbuat kesalahan hingga turun
menjadi Burung Merak?
Tidak, kami sama sekali tidak punya kesalahan, kami turun
menjadi Burung Merak untuk bisa mencapai tingkat
Bodhisattva.
Apa? untuk mencapai tingkat Bodhisattva kenapa menjadi
Burung Merak, apa terlahir menjadi binatang akan bisa
mencapai tingkat Bodhisattva?
Desi, untuk mencapai tingkat Bodhisattva banyak cara yang
bisa dilakukan, tidak semua harus meninggalkan keduniawian,
tidak juga dengan hanya berbuat kebajikan dengan berdana,
kami mencapainya dengan mengorbankan diri kami untuk
mencapai tingkat Bodhisattva. Banyak cara untuk mencapai
tingkat Bodhisattva, asalkan cara yang dilakukan tujuannya
untuk kebahagiaan semua makhluk, maka mereka akan
mencapai tingkat Bodhisattva.
Bagaimana cara kalian mencapai itu?
Dengan mengorbankan bulu-bulu kami yang indah untuk
digunakan sebagai lambang dan berkah. Alam Mahamayuri
penuh dengan kemewahan dan kemegahan, karena itu
perwujudan kami juga mencirikan alam kami sebelumnya,
maka dengan kemegahan yang kami miliki itu bisa
mendatangkan berkah bagi semua makhluk maka kami akan
mencapai tingkat Bodhisattva.
Berapa lama hidup di Alam Merak?
138

Alam Merak

Tidak lebih dari 100 hari, setelah itu kami akan mencapai
tingkat Bodhisattva
Saya baru tahu mengenai hal ini, setelah menjadi binatang
akan bisa menjadi Bodhisattva. Kalau boleh tahu dimana letak
Alam Mahamayuri?
Disebelah utara, dekat Surga para Jambhala, dimana disitu
ada kemewahan dan kemegahan, maka disitulah Alam
Mahamayuri.
Setelah keluar dari alam merak aku masih termangu tidak
percaya akan apa yang kulihat dan dengar. Memang benar,
untuk mencapat tingkat Bodhisattva dan keBuddhaan bisa
didapat dengan berbagai cara, tapi aku tidak pernah terpikir
sama sekali kalau setelah terlahir di alam binatang bisa juga
mencapai tingkatan itu.
Dan ternyata, tidak semua mereka yang terlahir di alam
binatang, adalah yang telah berbuat kesalahan saja, tapi ada
juga yang tidak berbuat kesalahan, melainkan atas keinginan
sendiri ingin terlahir di alam binatang. Sungguh membuatku
terharu.
Banyak sekali rahasia alam yang baru aku ketahui, banyak
juga manusia yang tidak menyadari hal ini. Mereka saja yang
berasal dari alam bahagia masih rela turun ke alam
penderitaan untuk kebahagian semua makhluk dan demi
tujuan yang mulia.

Alam Merak

139

Kisah Hukum Karma


KISAH HUKUM KARMA

Suatu hari, cetya kedatangan seorang anak laki-laki


berusia sekitar 15 tahun, anak itu berasal dari luar kota. Saat
dia turun dari mobil aku prihatin melihat keadaannya, tubuhnya
kurus dan lemah, sekujur tubuhnya penuh dengan nanah yang
mengering, tidak ada lagi kulit tubuhnya yang bebas dari nanah
kering itu.
Saat itu juga dia dalam keadaan demam dan tidak bernafsu
makan, badannya terlihat bungkuk tidak bertenaga. Aku
sempat kaget melihat dirinya, baru kali ini aku kedatangan
tamu yang seperti itu, mungkin orang akan merasa geli dan
takut dekat dan bersentuhan dengannya, takut tertular
penyakitnya itu.
Tapi entah kenapa aku seperti ada kekuatan untuk tegar
menghadapinya, aku memberkatinya dan biasa saja
memegang tubuhnya. Saat aku menopangkan telapak
tanganku keatas kepalanya, aku merasakan ada energi yang
terserap ketanganku, dengan segera aku bervisualisasi hawa
negatif keluar dari cakra mahkota, aku bisa menduga ini pasti
aku telah menyerap karma buruknya. Karena diberkati itulah,
dia agak bersemangat dan mau makan, aku memberinya hu
pelindung dan menyuruhnya membaca Mantera. Walaupun
anak itu tidak bersekolah, tapi terlihat pintar dan dia bisa
membaca Mantera yang aku tunjukan dengan baik.
Setelah aku melihat penyebab dia seperti itu, aku baru
mengetahui kalau dia punya karma buruk yang sangat berat.
Pada kehidupan sebelumnya dia suka menangkap,
membunuh dan memakan ular. Karena itu pada kehidupan
140

sekarang karma buruknya berbuah.


Orang tuanya mengatakan kalau waktu dia dilahirkan,
keadaannya normal seperti bayi pada umumnya, tapi saat dia
berusia satu bulan mulai muncul seperti biang keringat, tapi
sudah diobati tidak kunjung sembuh malah semakin parah, dan
setiap akan timbul nanah disekujur badannya dia akan
mengalami demam. Dia tidak bisa makan daging, jika sedikit
saja dia makan daging maka nanah akan bertambah lagi.
Aku menyarankan agar sering datang ke cetya untuk
mendapatkan pemberkatan, agar karmanya pelan-pelan
terkikis, awalnya para umat kaget dan takut melihat anak itu,
tapi setelah aku memberitahu bahwa penyakitnya itu karena
karma dan tidak menular barulah para umat bisa
menerimanya. Dan dia bisa bermain dengan anak-anak lain di
cetya. Anak itu rajin datang ke cetya, hampir seminggu 2 kali,
sambil terus membaca Mantera dan berbuat kebajikan,
akhirnya nanah-nanah ditubuhnya itu mulai berkurang,
tubuhnya yang lemah dan kurus telah sehat dan bersemangat.
Biasanya sekujur tubuhnya tidak ada kulit yang selamat dari
nanah, tapi setelah perlahan karmanya terkikis, tubuhnya
sudah mulai bersih, bahkan badannya sudah tidak timbul
nanah lagi, serta wajahnya sudah bersih pula.
Setelah dia mengalami kemajuan itu, dia kembali kerumahnya
diluar kota, dan aku tetap berpesan kepadanya untuk tetap
rajin membaca Mantera dan berbuat kebajikan, semoga saja
dia tetap menjalankan petunjuk yang diberikan dan karma
buruknya bisa terkikis perlahan-lahan, sehingga dikehidupan
sekarang dia bisa menjalaninya dengan baik dan bahagia.
Kisah Hukum Karma

141

Alam Cicak

Alam Cicak

Hari ini aku merasakan perubahan tubuh lagi, aku mencoba


masuk kedalam meditasi diruang kantor, kepalaku kembali
tertunduk, tapi aku belum bisa melihat apapun, aku seperti
berbicara sendiri dalam hati, entah apa yang kubicarakan
sehingga konsentrasiku buyar.
Setelah aku menerima tamu dua orang, aku kembali mencoba
masuk dalam meditasi, awalnya ada pergerakkan roh, gerakan
tanganku memukul-mukul betis kananku karena tadi pagi
sempat kaku lagi, padahal sudah lama tidak kambuh, mungkin
karena aku tidak melatih meditasi lagi sesering dulu. Baru
setelah beberapa lama aku bisa masuk ke alam binatang.
Ada seekor Cicak menunggu kehadiranku, dia mengajakku
ketempat yang agak gelap, menempel di dinding, lalu berkata;
Desi, aku Cicak. Saat ini kau ada dialamku
Ya saya tahu.
Kami tinggal ditempat gelap, tidur disiang hari dan malam baru
keluar untuk mencari makan
Kenapa begitu, dari mana asal kalian sebelumnya?
Sebelumnya kami adalah manusia yang mengalami susah
tidur atau imsomnia.
Ha... susah tidur saja bisa dihukum turun kedunia binatang
menjadi Cicak.
142

Bukan susah tidurnya yang salah, tapi perbuatan kami saat


tidak bisa tidur itu yang salah.
Apa kesalahannya?
Saat tidak bisa tidur, kami suka membaca buku porno,
menonton film porno, menghayal dan berpikir yang porno.
Ha ha, karena itu bisa terlahir kedunia Cicak? lalu bagaimana
dengan mereka yang tidak tidur dimalam hari tapi pergi
berhura-hura, berhubungan dengan wanita tuna susila,
apakah akan ke alam ini juga?
Tidaklah, yang seperti itu mendapatkan hukuman yang
berbeda, yang terlahir di Alam Cicak hanya mereka yang
berbuat hal-hal yang kusebutkan tadi.
Apa hanya membaca buku porno, nonton film porno dan
mengkhayal porno saja bisa terlahir di alam ini?
Haha, perbuatan setelah melakukan hal itulah yang membuat
terlahir disini.
Apa itu, aku jadi bingung deh?
Setelah membaca dan nonton film porno dan berkhayal jorok,
kami melakukan masturbasi / onani dll.
Loh.. loh, apa hal itu juga dilarang dan dihukum? Bagaimana
dengan suami-istri yang melakukan hal itu?
Desi, hukuman di alam ini tidak berlaku bagi manusia yang
telah berkeluarga, asalkan mereka tidak berzinah dengan
Alam Cicak

143

orang lain, itu masih bisa dipahami, tapi yang terlahir disini
adalah mereka yang masih single atau belum berkeluarga tapi
melakukan hal itu.
Oh begitu ya, tapi saya rasa anak muda yang melakukan hal
itu pasti banyak, tapi disetiap rumah mungkin hanya ada cicak
tidak lebih dari 10 ekor saja.
Kau tidak tahu ya, usia cicak itu singkat sekali, tidak lebih dari
30 hari, kadang cicak yang kau lihat hari ini, tidak sama dengan
cicak yang kau lihat esoknya atau beberapa hari kemudian,
karena cicak yang kau lihat sebelumnya itu sudah mati dan
terlahir kembali menjadi manusia. Jadi ada banyak juga
manusia yang terlahir di sini.
Ya, saya baru tahu hal itu. saya ingin bertanya suatu mitos,
katanya kalau kita kejatuhan cicak atau kejatuhan kotoran
cicak itu tandanya ada kabar berduka atau tidak baik. Apa itu
betul?
Betul.
Lalu bagaimana kalau cicak itu merayap naik kebadan
seseorang, itu pertanda apa ?
Haha, itu karma jodoh. Cicak itu berlindung padanya, dan jika
cicak itu menyentuh orang tersebut, maka karma cicak itu akan
terhapus dan cicak tercebut bisa terlahir kembali kealam
manusia dengan cepat, dan orang yang disentuhnya itu
biasanya punya karma baik yang sangat banyak sehingga bisa
membantu mencuci karma buruk cicak tercebut.
Oh begitu, tapi bagaimana cicak bisa memberi tanda ataupun
144

Alam Cicak

mengetahui sesuatu yang akan terjadi?


Haha, itu karena kami tidak tidur dimalam hari, jadi kami bisa
mengetahui kabar mengenai dunia roh, baik hantu ataupun
Dewa.
Begitu, lalu kenapa ekor cicak bisa putus dan tidak ada
darahnya juga bisa tumbuh ekor baru.?
Ya itu tadi, karena energi kami habis saat menjadi manusia,
hingga darah kami tidak merah tapi putih. Dan ekor kami
adalah pusat pikiran kami karena kami selalu berpikir mundur
dan rendah saat menjadi manusia.
Bagaimana dengan Tokek?
Tokek punya kesalahan lebih berat, walau awalnya sama
perbuatannya, tapi manusia yang terlahir di Alam Tokek adalah
telah melakukan kesalahan sampai memperkosa orang lain,
karena itu usia tokek lebih lama dan wujudnya jelek tidak
seperti kami.
Setelah berbicara, aku keluar dari alam cicak itu dan kembali
untuk keluar dari meditasi.

Alam Cicak

145

PENUTUP
Akhirnya, buku ke-3 Perjalanan Astral ke Alam Binatang
telah selesai kukerjakan. Aku telah menulis 4 buku dalam
kurang dari 2 tahun ini, dan tidak pernah menyangka sama
sekali kalau selain bimbingan spiritual yang kudapatkan, aku
juga diarahkan untuk menulis buku-buku Dharma.
Hanya kadang aku tidak bisa mengembangkan kata-kata agar
bisa dibaca dengan lebih baik, karena memang aku tidak
pandai berkata-kata. Karena itu isi buku yang aku tulis,
mungkin kurang begitu tersusun rapi, kebanyakan katakatanya amat sederhana.
Namun aku tetap mengucap syukur atas berkah ini, sesuatu
yang tidak pernah kuduga dan kurencanakan sama sekali,
terjadi padaku. Saat ini walau aku disibukan dengan kegiatan
di cetya, memimpin pujabakti dan ritual keagamaan,
bimbingan untuk menulis buku tidak pernah berhenti. Karena
setelah buku Perjalanan Astral ke Alam Binatang ini selesai,
aku akan mendapat amanat yang berbeda lagi. Aku sudah
diberitahukan hal ini dari awal, buku apa yang akan aku tulis
dikemudian hari, aku belum bisa mengetahuinya. Karena
semua itu datangnya secara spontan dan tidak pernah kuduga.
Menjalani Dharma, begitu banyak hal yang terjadi. Kadang
timbul rasa sedih dan lelah, setelah menjalani Dharma aku
baru mengerti kesedihan dan kelelahan Buddha-Bodhisattva.
Banyak manusia jika sudah mengalami kesulitan dan
kesusahan baru mencari Buddha-Bodhisattva agar bisa keluar
dari kesulitannya, banyak manusia hanya bisanya memohon
saja agar selamat, tapi tidak pernah melakukan suatu
146

kebajikan apapun.
Jika permohonannya tidak terkabul, mereka akan marah dan
kecewa pada Buddha-Bodhisattva. Manusia tidak pernah
berpikir bahwa hidup mereka didunia ini terjadi karena adanya
karma. Mereka hanya menginginkan kesenangan saja, dan
setelah mendapatkannya tidak pernah mau mencari BuddhaBodhisattva untuk berterima kasih.
Ada juga manusia yang tidak mau rugi, mereka baru mau
berbuat kebajikan jika permohonannya terkabul dulu. Didunia
ini, manusia yang benar-benar tulus sangat jarang, karena itu
jarang sekali ada manusia yang bisa mendapatkan
pencerahan dalam hidupnya. Kebanyakan manusia
memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tujuan
mendapatkan sesuatu juga dari orang tersebut, begitu pula
kepada Buddha-Bodhisattva.
Tapi Buddha-Bodhisattva tidak pernah mundur dalam misi
penyelamatannya, walaupun moral manusia semakin merosot
saja. Buddha-Bodhisattva tidak pernah keluar dari sumpah
samaya dan ikrar agungnya menolong semua makhluk, tidak
pernah lelah menghadapi kekotoran batin manusia yang tidak
ada habisnya.
Aku bertanya pada Guru Sejatiku, mengapa BuddhaBodhisattva tidak pernah lelah menolong manusia? Guru
Sejatiku menjawab, karena seorang Buddha-Bodhisattva itu
tidak lagi memikirkan dirinya sendiri dan selalu rela berkorban
untuk semua makhluk, membantu makhluk di 6 alam samsara
agar terlepas dari belenggu rantai tumimbal lahir.
Penutup

147

Dengan ditulisnya Buku ini, semoga banyak manusia


menyadari bahwa, menjadi manusia adalah kesempatan untuk
membina diri dan kesempatan untuk bisa mengikis karma serta
menanam karma baik, agar dikehidupan yang akan datang
bisa terlahir ke alam yang lebih baik dan tidak mengalami
tumimbal lahir lagi.
Semoga buku ini bermanfaat bagi umat se-Dharma dan bisa
memberikan kebahagiaan bagi semua makhluk, terutama
yang terlahir di alam binatang.
Filsafat...
Begitulah cinta, begitulah benci, tak ada yang tahu pasti seberapa dalam
dan seberapa murni. Tiada yang mengetahui dengan pasti arti cinta dan benci
yang sesungguhnya yang diketahui hanyalah
yang bisa memiliki dan bisa meninggalkan memiliki yang menderita,
meninggalkan yang menderita tapi tak bisa bahagia sesungguhnya atas semua itu.

Ajaran Buddha...
Baik buruknya hidup di dunia ini, tinggal tergantung ketegaran hati diri sendiri
yang memegang kendali. Hati manusia memang tak bisa diketahui dengan pasti
yang sesungguhnya. Begitu pula alam semesta, tak ada yang bisa mengetahui dengan pasti
bagaimana, apa, kapan dan dimana reaksinya.
Manusia dan Alam seperti tanah dan air
sepertinya menyatu tapi saling mengotori dan saling mendominasi
Air bagaikan alam, Tanah bagaikan manusia.
Air memberi kehidupan, Tanah merusak kejernihan air
yang manakah yang berguna dan yang manakah yang tak berperasaan,
hanyalah alam semesta yang rela mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan manusia
tapi tak dihargai & selalu dicederai, bagaimanakah tidak bereaksi
Wahai manusia, mengertilah, sadarlah, alam tak lagi bersahabat dan
tak lagi memberi toleransi karena manusia sudah terlampau batas.

148

Penutup

DAFTAR DONATUR
PENCETAKAN BUKU DHARMA KE-3
PERJALANAN ASTRAL KE ALAM BINATANG
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Nama Donatur
Khow Chun Sua
Amin, Lily/Fang In & Keluarga
Chen Siu Ngo
Dermawan/Wen Chuang Sien
David Gho & Keluarga
Yuili & Keluarga
Stephen Khosasi
Kho Yu An & Keluarga
Kho Chun Shiang
Fang Sun Ie & Keluarga
Ho Liang Kie & Keluarga
Lie Ai Ti
Lie Kim Min & Keluarga
Lie Yung Hoy & Keluarga
Cung Fung Sien
Henny Purnama
Setiawan & Keluarga
Lie Long Hwie & Keluarga
Lie Lie Ho & Keluarga
Lie Lie Tjen / Lie
Anita & Keluarga
Lie Lie Mei & Keluarga
Chia Fei Min
Bong A Djuk
Tjoeng Tjai Hun
Tony Mariana
Sieyy
Fenny Kurniawan
Benny
Rudy Tjokroarif & Keluarga

28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55

Nama Donatur
Tjhin Jun Fa & Keluarga
Ng Kim Gok
Melvin
Lie Chen
Xu Wu Hang
Cai Yue Fang
Xu Chon Guan
Xu Xiu Qing
Wang Zhi Zheng /
Tze Chean
Xu Xiu Ping
Wang Zhi Xing
Wang Jia Ying
Lien Hua Shie Ling
Suk Ing / Mami Jus
Hani Setiawan Susi
Fung Njuk (Heni)
Akhim
No Name
Riskiat Tjokroarif
Susany
Evelyn Feliciana
Vincent Jevon
Gilbert Justin
Clarissa Jocelyn
Tjie Bie Seng
Ng Bie Chu
Cen Shen
Wui & Keluarga
Edy Suantonio

149

Nama Donatur
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85

Juliana Japit
Gunawan
No Name
Edy Chandra
Andreas Khosasi
William Khosasi
Ellisa Tji
Stella Suantonio
Tan Gek Hang, Lay Piat Tjin
Tio Kok Hua, Bong Khi Tju
No Name
Welly Sunarja & Keluarga
Paulina
Denny Sulimin, Elda & Clea Odelia
Indra
Supardi Wijaya/Tio Pheng Khun
Tjong Kim Ik / Agek
Go Siok Tin & Keluarga
Cong Kim Sia
Lim Chia Ling
Cong Chen Tak
Cong Ai Sien
Cong Ai Yin
Lie Tek Sen & Keluarga
Lau Bak Tian / Tian
Shirley Notosudiro
Hans Ananda Liauw
Tjoi Sioe Chin & Keluarga
Tjoi Ken Tjong & Keluarga
Tan Kiau Mue / Sumiaty

Nama Donatur
86 Batrany Widjaya
87 Hiu Chai Moy
88 Phang Mung Thien /
Melly Lina Riana
89 Tan Liong / Johanes
90 Tan Tju Seng
91 Tasya Elly Saphira
92 Dicky Febriansyah
93 Marvin Ardiansyah
94 Sumarmi
95 Teddy Tjahyadi
96 Denny
97 Kasim Ong

Dana-Dhamma Para Donatur Juga Dilimpahkan Untuk


Para Leluhur Sbb;
150

Nama Leluhur
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Alm. Lim Tek Sui


Alm. Liem Bian Kie
Alm. Hiu Nam On
Alm. Hiu Men Kian
Almh. Lay Fuat Tjin
Alm. Ng Cong Kiong
Alm. Liu Muk Sin
Alm. Tjong Siang Lin
Almh. Liem Toe Hoo
Alm. Xu Rui Chen/Xu Wan Shan
Almh. Cai Sen Mei
Alm. Cai Liang Hui
Almh. Gu Chun Xi
Alm. Go Siang Kwang
Alm. Lie Ikh Hwa
Alm. Lim Mei Jin
Alm. Lie Hong Kong
Almh. Liu Siat Chin
Alm. Oey Tiang Soey
Almh. Tuni
Almh. Lenny Sulastri
Alm. Irianto

Nama Leluhur
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Almh. Han Kap Nio


Alm. Phang Nyuk Bun
Almh. Ko Nyun Jin
Alm. Phang Jan Chin
Alm. Agus Purnama
Alm. Sumoastro
Alm. Tumidi
Almh. Wakiyem
Alm. Kondanna Nyana Deva/
Kho Koen Po
32 Almh. Upekkhasan Oey Pon Nio

Semoga Dana-Dhamma Yang Dilimpahkan Bisa Menambah


Pahala Kebajikan Bagi Para Donatur Dan Para Leluhur,
Sehingga Bisa Memberikan Berkah Berlimpah Dan Membuat
Para Leluhur Terus Mengalami Kenaikan Tingkat Dan Bisa
Memberikan Kebahagiaan Bagi Semua Mahkluk.

151

Proposal
Pembangunan, Perluasan Dan Renovasi
Cetya Sukhavati Prajna, Tangerang - Banten
Yth. Bpk/Ibu/Sdr/i se-Dharma dan para Dermawan yang budiman.
Namo Buddhaya,
Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa
Perkenankanlah kami untuk menginformasikan mengenai
pembangunan, perluasan dan renovasi cetya Sukhavati Prajna,
Tangerang yang rencananya akan dilakukan di Komplek Poris
Indah Blok G8 No. 22 RT.003/01 Cipondoh Tangerang, Banten.
Yang lokasinya tepat dibelakang Cetya Sukhavati Prajna saat ini.
Lokasi tersebut diatas akan kami bangun ruang 1 (satu) lantai, untuk
dijadikan perluasan ruang Dharmasala atau Altar Utama cetya
Sukhavati Prajna. Saat ini ruang Dharmasala cetya Sukhavati Prajna
sudah tidak memadai untuk para umat menjalankan aktivitas
kebaktian maupun aktivitas keagamaan lainnya.
Kami sangat terharu melihat antusiasme para umat Buddha yang
menjalani ibadahnya di cetya Sukhavati Prajna ini, karena dengan
terus bertambahnya umat yang hadir dan mengikuti kegiatan di
Cetya Sukhavati Prajna ini, sehingga kami memberanikan diri untuk
merencanakan pembangunan, perluasan dan renovasi cetya
Sukhavati Prajna, hal ini kami lakukan semata-mata demi
kenyamanan para umat se-dharma untuk berpujabakti dan leluasa
menjalankan aktivitas kerohaniannya.
Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan serta berkat
bantuan beberapa Dermawan, yang telah membantu membeli lahan
2
seluas 91 m dan menghibahkan kepada cetya Sukhavati Prajna dan
yayasan kami, untuk dibangun ruang sebagai perluasan cetya
Sukhavati Prajna. Saat ini kami sedang mengupayakan pembuatan
fondasi, pengurukan/pengerasan dan pembuatan tiang

152

pancangnya. Pekerjaan pembangunan yang sedang kami


rencanakan ini tentunya membutuhkan dana besar untuk bisa
dirampungkan, dan apa yang telah kami mulai ini tentu saja masih
jauh dari cukup. Karena itu, bagi anda yang tergerak dan berkenan
memberikan bantuan dana untuk pembangunan, perluasan dan
renovasi cetya Sukhavati Prajna ini, maka anda dapat
menyalurkannya ke rekening atas nama:
RIZAL
No. Rek. 5940175781
BCA KCP. Poris Indah
(Ini hanya rekening sementara karena rekening resmi yayasan kami masih dalam
proses pengurusan)

Mohon bukti pengiriman dana dikirimkan melalui


Fax no.(021) 5574 3104 atau Telp. (021) 7094 2728
Berapapun dana yang anda salurkan akan sangat berarti dan
membantu sekali bagi kelancaran pembangunan, perluasan dan
renovasi cetya Sukhavati Prajna. Bagi yang ingin menyumbang
material seperti pasir, semen, batu bata dll dapat diantar langsung ke
lokasi pembangunan. Dan bagi anda yang ingin berdana
perlengkapan Altar Utama/Dharmasala, bisa menghubungi
pengurus cetya Sukhavati Prajna.
Atas bantuan, perhatian dan kemurahan hati Bapak/Ibu/Sdr/i para
Dermawan yang budiman, kami menghaturkan banyak terima kasih.
Semoga amal kebajikan yang ditabur di ladang Dharma yang sangat
subur ini, semakin memantapkan karma baik, keberhasilan dan
keberuntungan bagi anda semua dan bisa memberikan kebahagian
bagi semua mahkluk.
Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa senantiasa memberkati.
Amithofo ....
Salam dalam Dharma,
Rizal

Deazy

Ketua

Pembina

153

Foto Tahap Pembangunan


Cetya Sukhavati Prajna

154

NAMA HARUM PENYANTUN


DANA PEMBANGUNAN , PERLUASAN DAN RENOVASI
CETYA SUKHAVATI PRAJNA TANGERANG.
1. Lie Tek Sen & Keluarga
2. Lie Kim Min & Keluarga
3. Tjong Kim Sia & Keluarga
4. Tjong Kim Ik/Agek
5. Fung Njuk/Heni
6. Sie Yopie Yosvara
7. Rudy Tjokroarif
8. No Name
9. No Name
10. Xu Xiu Qing
11. Xu Chon Guan
12. Cai Yue Fang
13. Xu Wu Hang
14. Edy Suantonio
15. Juliana Japit
16. Stella Suantonio
17. Lim Fong San & Bong A Sien
18. Saban & Tjoi Sioe Chin
19. Tio Pheng Khun/Supardi Wijaya
20. Tan Kiau Mue/Sumiaty &
Keluarga
21. Edy Kok
22. Agustiono, Meisi Amdaya
23. Ngamino Tiono
24. Tjong Kim Kiat & Susany
25. Evelyn Feliciana
26. Vincent Jevon
27. Gilbert Justin
28. Clarrisa Jocelyn
29. Tjie Bie Seng & Ng Bie Chu
30. Go Siok Tin

31. Tio Kok Hua & Bong Khi Tju


32. Johan
33. Eko Putra
34. Ang Bing Uh / Rita
35. Edy Chandra
36. Ricky Hakim
37. Xavier Nicolai Kei/Ng Hwi Kiong
38. Chua Thing Thing
39. David Huang
40. Vincent Huang
41. Albert Huang
42. Chua Kim Ciau
43. Kho Hu Ini
44. Aston Owen Fernando
45. Jesselyn Minori
46. Kho Yu An
47. Ellisa Tji
48. Stephen Khosasi
49. Andreas Khosasi
50. William Khosasi
51. Hani
52. Beni
53. Yani Tiono
54. Lim Tek Nguan/Rosdy Roswandy
55. Yo Cung Lan - Sukabumi
56. Yo Ie Ley - Sukabumi
57. Yo Ie Hoa - Sukabumi
58. Purnomo - Sukabumi
59. Yo Ie Cuan - Sukabumi
60. Sie Kian Hoa - Sukabumi
61. Yo Ie Chang - Sukabumi

155

62. Yo Cung Lide - Sukabumi


63. Yanggie Yosvara - Jakarta Barat
64. Yanghan Yosvara - Jakarta Barat
65. Yangsen Yosvara - Jakarta Barat
66. Liaw Andri Sutanto &
Lien Finawaty
67. Kwok Siu Tho
68. William Anderson
69. Sinar Bangunan Jaya /
Bpk. Herry
70. No Name
71. Hani Setiawan Susi
72. Ghia Fie Min
73. Go Chau Min & Keluarga
74. Yo Cung Ing
75. Bpk. Pancagabe / Abu

76. Bpk. Suandi Efendi Jo


77. Selamat Kurniawan/
Pek Lie Hoen
78. Tjoi Ken Tjong, Susanna
& Keluarga
80. Lie Ai Ti
81. Liong Liena Wati
82. Cong Chen Tak
83. Lim Chia Ling
84. Cong Ai Sien
85. Cong Ai Yin
86. Suhardjo
87. Cong Kim Ho & Keluarga
88. Kasim Ong

Semoga Dana-Dhamma yang dihaturkan para donatur , bisa


semakin memperluas Dharma Buddha kesegala penjuru dan
bisa memberikan pembebasan juga kebahagiaan bagi semua
mahkluk , serta memberikan berkah berlimpah.

156

Dana-Dhamma Juga Dilimpahkan Untuk Para Leluhur Sbb ;


1. Alm. Lauw Sun Tek
2. Alm. Su Cie Nam /
Sudarsono Sulimin
3. Almh. Bong Lie Ha
4. Almh. Lauw Bak Tian
5. Almh. Gu Chun Xi
6. Alm . Cai Liang Hui
7. Almh. Cai Sen Mei
8. Alm. Xu Rui Chen /
Xu Wan Shan
9. Alm. Tjong Siang Lin /
Vasi Kara Ganda
10. Alm. Tjong Cui Cuan
11. Almh. Cuan Cien Ju
12. Alm. Tjong Tek Sin
13. Almh. Lim Sek Guat
14. Alm. Go Thien Su
15. Almh. Ang Wi Kie / Ang Kie

16. Alm. Chee Kin Wun


17. Almh. Lim A Hoey
18. Almh. Chai Siu Im
19. Alm. Ng Cong Kiong
20. Alm. Ng Ping Kam /
Wibisono Suhadi
21. Alm. Ang Tikdin
22. Alm. Ang Me Cen
23. Alm. Tjong Tjai Hong

Semoga Dana-Dhamma yang dihaturkan para donatur , bisa


semakin memperluas Dharma Buddha kesegala penjuru dan
bisa memberikan pembebasan juga kebahagiaan bagi semua
mahkluk , serta memberikan berkah berlimpah.

157

Buku I:
Mendapatkan Kontak Batin
dengan Para Dewa

Buku II:
Kelahiran Sang Juru Slamat
(Buddha Penyelamat Dunia)

Filsafat dan Ajaran Buddha