Anda di halaman 1dari 4

XIP merupakan industri di bidang kehutanan yang memproduksi slat pensil dari

jenis kayu pulai dan labu. Keduanya termasuk tumbuhan lokal yang banyak tumbuh
merata di sela-sela kebun karet atau pekarangan masyarakat. Walaupun tidak
seluruh kelompok kayu lunak bisa dimanfaatkan, pulai dan labu cukup bagus
dipakai sebagai bahan baku pensil.

Pada awalnya pohon pulai dan labu bukan termasuk kayu yang berharga mengingat
sifat fisiknya tidak bagus untuk bahan bangunan atau konstruksi lainnya, kayunya
pun mudah diserang bubuk kayu. Tetapi seiring berkembangnya permintaan pasar
terhadap pensil, kayu pulai dan labu pun semakin meningkat nilai ekonomisnya
sehingga masyarakat lebih gemar memelihara anakan kayu tersebut.

Sumber bahan baku XIP bisa dikelompokkan dalam 2 bagian

Kebun karet dan pekarangan masyarakat


Pembelian kayu rakyat melalui suplayer. Kegiatan dari kebun hingga pabrik seperti
pembelian pohon ke petani, penebangan, hingga pengangkutan kayu dilakukan oleh
suplayer. Seluruh kegiatan ini dikelola oleh Divisi Wood Supply. Sampai saat ini
bahan baku XIP terutama berasal dari pola pembelian oleh suplayer ini
Dalam rangka menjaga kesinambungan bahan baku dalam jangka waktu yang
panjang XIP menjalankan program pembentukan Kelompok Tani dimana setiap
pohon pulai dan labu mereka telah direncanakan ditebang pada waktu yang telah
ditentukan.
Hutan Tanaman Rakyat
Saat ini XIP telah membangun hutan tanaman rakyat seluas 5000 ha di beberapa
kecamatan dengan pola patungan bersama petani pemilik lahan. Jenis kayu yang
ditanam adalah pulai gading dan pulai darat. Penanaman pulai dimulai pada tahun
1996. Pada tahun ini telah dilakukan penebangan di beberapa lokasi hingga pada
tahun 2010/2011 nanti.
Selain program pembentukan Kelompok Tani di atas, sebagai program utama, pada
tahun 2007 XIP tengah menyelesaikan proses perizinan pembangunan HTI seluas
4000 ha.
Dalam rangka mewujudkan Pengelolaan Hutan/Kebun secara Lestari dengan
mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi serta memastikan kayu
Pulai dan Labu berasal dari kebun karet milik masyarakat yang dikelola dengan baik

berdasarkan 10 Prinsip dan Kriteria FSC , maka XIP berkomitmen, bahwa kayu Pulai
dan Labu sebagai bahan baku industri TIDAK BERASAL dari :

Penebangan Liar
Penebangan yang melanggar hak-hak masyarakat setempat maupun hak-hak
tradisional
Hutan yang memiliki Nilai Konservasi Tinggi, seperti Hutan Lindung, Taman
Nasional, Cagar Alam, Suaka Margasatwa
Penebangan pada kawasan hutan yang akan dikonversi menjadi perkebunan atau
Areal Penggunaan Lain (APL)
Penebangan pada hutan tanaman hasil rekayasa genetika
Berkaitan aktivitas XIP, ada beberapa LSM lokal yang menanyakan bahwa mengapa
XIP diizinkan oleh pemerintah beroperasi sedangkan XIP tidak memiliki konsesi
lahan seperti layaknya HPH. Mereka berpendapat bahwa XIP harus memiliki izin
konsesi lahan. Oleh karenanya mereka menuntut agar Pemda menghentikan XIP
beroperasi.

XIP bisa memaklumi rasa ingin tahu LSm tersebut, walaupun singkat XIP berkenan
menjelaskan sistem pengelolaannya.

Di dalam Undang-Undang No 41 tahun 1999 pasal 5 menyebutkan:

Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari:


1. Hutan Negara
2. Hutan Hak

Juga dijelaskan bahwa Hutan Negara adalah hutan yang berada pada tanah yang
tidak dibebani hak atas tanah. Sedangkan hutan hak adalah hutan yang berada
pada tanah yang dibebani hak atas tanah

Sistem pengelolaan yang dianut oleh HPH/HTI itu sangat berbeda sekali dengan XIP.
Pada umumnya HPH mengelola (memanfaatkan) kayu berasal dari Hutan Negara
(Hutan Produksi, Hutan Produksi Terbatas, Hutan Konversi). Untuk itulah HPH harus
memiliki konsesi lahan selama beberapa puluh tahun.

Ilustrasi singkat dan sederhana:

Suatu perusahaan telah melakukan survey potensi pada suatu kawasan hutan , dan
menilai bahwa kawasan tersebut layak dikelola, perusahaan tersebut mengajukan
usulan kepada Dinas Kehutanan setempat untuk mengelola kawasan yang
dimaksud. Setelah melalui beberapa tingkat verikasi (penelitian terpadu) barulah
pemerintah mengeluarkan keputusan untuk memberikan izin pemanfaatan
(konsesi) atau tidak kepada perusahaan tersebut.

Berbeda halnya dengan XIP yang memanfaatkan hasil hutan kayu dari kebun karet
dan pekarangan milik rakyat, bukan mengelola kawasan hutan. Oleh karenanya XIP
tidak perlu memiliki konsesi/ sewa lahan seperti HPH di atas. Mengenai proses
perizinan pemanfaatannya, secara prinsip tetap sama dengan seperti yang
dilakukan oleh HPH.

CMIIW

Semoga bermanfaat

Badan Usaha Xylo Indah Pratama, PT

Alamat :
Jl. Raya Palembang Km.25
Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan

Telepon :
0733-320298

Produk Usaha : Bahan Baku Pensil


Badan Usaha dengan produk Bahan Baku Pensil
Informasi Badan Usaha berdasarkan wilayah
Kecamatan : Muara Beliti
Kabupaten : Musi Rawas
Provinsi : Sumatera Selatan

Informasi Perusahaan Xylo Indah Pratama, PT - Alamat Perusahaan Xylo Indah


Pratama, PT - Nomor Telepon dan Kontak Perusahaan Xylo Indah Pratama, PT