Anda di halaman 1dari 9

TUGAS ANESTESI

STIMULATOR SARAF PERIFER UNTUK BLOK SARAF


(Peripheral Nerve Stimulators for Nerve Block)

Oleh :
Estry Mardhiah P. (H1A007018)

Pembimbing:
dr. Erwin Kresnoadi, SpAn

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN / SMF ANESTESI DAN REAMINASI
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

2012
PENDAHULUAN
Syok didefinisikan sebagai suatu abnormalitas pada sistem sirkulasi yang
mengakibatkan perfusi organ serta oksigenasi jaringan menjadi inadekuat.(1)Syok
terjadi saat sistem sirkulasi tidak lagi mampu melakukan fungsi esensialnya yaitu
menyediakan oksigen dan nutrient bagi sel-sel tubuh dan mengeluarkan hasil
buangan.(2) Manifestasi klinis pada syok merupakan hasil dari stimulasi simpatis
dan respon stress neuroendokrin, pengiriman oksigen yang tidak adekuat, dan
end-organ dysfunction.
Syok dapat diklasifikasikan ke dalam 4 kategori mayor yaitu syok
hipovolemik, kardiogenik, obstruktif, dan distributif.Syok hipovolemik sendiri
terbagi menjadi syok hemorrhagic dan nonhemoragik dimana penyebab tersering
dari syok hipovolemik adalah perdarahan (hemorrhagic) yang biasanya
diakibatkan oleh adanya trauma.Pada syok hipovolemik terjadi kehilangan
volume sirkulasi yang menyebabkan penurunan aliran balik vena (venous return),
penurunan pengisian jantung, dan akhirnya terjadi penurunan cardiac output yang
mengarah pada peningkatan resistensi vascular sistemik (SVR).(3)
Diagnosis dan terapi pada syok harus dilakukan secara simultan.Pada
kebanyakan pasien dengan trauma, pengobatan dilakukan seperti pada pasien
yang mengalami syok hipovolemik, kecuali terdapat bukti yang jelas bahwa
keadaan syok disebabkan oleh etiologi selain hipovolemia.Manajemen dasar yang
harus dilakukan adalah menghentikan perdarahan dan mengganti cairan yang
hilang (volume loss).(1)

TINJAUAN PUSTAKA
Syok hipovolemik memiliki etiologi yang beragam dengan karakteristik
volume intravascular yang inadekuat yang dapat disebabkan oleh kehilangan
darah dan cairan.Deplesi intravascular ini dapat disebabkan muntah yang terus
menerus, diare, atau karena dehidrasi berat.Selain itu, syok hipovolemik juga
dapat disebabkan karena trauma dan pembedahan. Ascites dan peritonitis juga
dapat menyebabkan terjadinya syok hipovolemik.(2)
Manifestasi syok akibat kehilangan volume cairan dapat diketahui dengan
memperhatikan pulsasi nadi, frekuensi nafas, sirkulasi kulit, dan tekanan nadi
(perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik).Respon fisiologis awal yang
terjadi pada syok adalah takikardi dan vasokontriksi kutaneus.Vasokontriksi pada
sirkulasi kutaneus, otot, dan organ visceral terjadi untuk mempertahankan
sirkulasi ke ginjal, jantung, dan otak.Hal ini dilakukan untuk meningkatkan heart
rate demi mempertahankan cardiac output.
Cairan resusitasi yang ideal untuk syok hipovolemik akan mengisi volume
intravascular dan memperbaiki tekanan arteri rata-rata (MAP), cardiac output
(CO), dan perfusi.

(4)

Jumlah kebutuhan cairan dan darah yang diperlukan untuk

resusitasi sulit untuk diprediksikan pada evaluasi awal pasien. Jalan nafas harus
dipastikan aman dan diberikan infus untuk restorasi tekanan darah sambil terus
mencari penyebab gangguan hemodinamik yang terjadi. (5)Resusitasi cairan
bertujuan untuk mengembalikan volume intravascular untuk mengembalikan
hipoperfusi sistemik dan membatasi regional hipoperfusi, dan membatasi
kehilangan sel darah merah dalam sirkulasi secara kontinyu. (6)
Pada manajemen pasien trauma, mengerti pola injuri pasien syok akan
membantu mengarahkan evaluasi dan manajemen pasien. Pasien dengan luka
tusuk yang mengalami syok biasanya membutuhkan intervensi operasi.(5)
Mortalitas pada pasien syok hipovolemik secara langsung berhubungan
dengan besar dan durasi hipoperfusi organ, oleh karena itu penggantian defisit
cairan merupakan hal yang paling penting untuk manajemen pasien hipovolemik.
(7)

Terdapat tiga tipe cairan resusitasi yaitu cairan yang mengandung sel darah
merah (whole blood dan packed cells) dimana cairan ini akan meningkatkan

kapasitas bawaan oksigen darah. Cairan yang kedua adalah cairan yang
mengandung molekul berukuran besar dengan keterbatasan gerak keluar dari
ruang vascular (Koloid : Plasma, albumin, dekstran, hetastarch) yang
meningkatkan volume intravascular dan efektif untuk meningkatkan cardiac
output. Tipe cairan yang ketiga adalah cairan yang mengandung elektrolit dan
molekul kecil lain yang dapat bergerak bebas pada ruang ekstraseluler dan
merupakan pilihan untuk meningkatkan volume cairan interstisial (Kristaloid :
Saline, Ringer laktat, dan normosol).(6)
Pemilihan cairan untuk resusitasi didasarkan pada kebutuhan pasien, dimana
terdapat perdebatan tentang pemilihan kristaloid dibandingkan koloid untuk
resusitasi cairan. Berdasarkan American college of surgeon, pemilihan
penggunaan cairan didasarkan pada jumlah perdarahan yang terjadi pada pasien.
American college of surgeon mengidentifikasi 4 kategori perdarahan akut
yaitu :

Pada pasien dengan perdarahan kurang dari 1500cc, terapi cairan yang
dilakukan adalah dengan kristaloid, sedangkan apabila melebihi 1500cc dapat
ditambahkan produk darah biasanya dengan whole blood.Cairan kristaloid seperti
ringer laktat atau NaCl 0,9% dapat digunakan untuk hipovolemia dan gangguan
elektrolit. Tujuan terapi ini adalah meningkatkan MAP menjadi 70mmHg melalui
infus cairan kristaloid hangat sebanyak 1000-2000ml. Koloid biasa digunakan
dengan jumlah lebih sedikit daripada cairan kristaloid karena koloid merupakan
cairan yang bersifat hipertonik.(2) Selain itu, efek volume intravascular kristaloid

jauh lebih singkat daripada efek koloid karena kristaloid dengan mudah
didistribusikan ke cairan ekstraseluler, hanya sekitar 20% elektrolit yang dibiarkan
tinggal di ruang intravascular.(7)
Kristaloid dengan kadar isotonic Na+ dan koloid kedua-duanya dapat
digunakan untuk ekspansi ruang intravascular. Hal yang perlu diingat adalah
bahwa untuk ekspansi ruang intravascular diperlukan lebih banyak kristaloid
daripada koloid, dan untuk ekspansi ruang intravascular dengan kristaloid
diperlukan waktu lebih lama, kristaloid lebih murah, dan koloid memiliki resiko
reaksi imunologis.(7)
Perkiraan jumlah kehilangan cairan dan darah memberikan pegangan
untuk mempertimbangkan jumlah cairan dan darah pasien yang dibutuhkan.
Perkiraan jumlah total kristaloid yang dibutuhkan untuk mengganti setiap
milliliter kehilangan darah adalah dengan 3ml cairan kristaloid yang kemudian
akan mengganti kehilangan volume plasma ke dalam ruang interstisial dan
intraseluler. Perlu diingat bahwa sangat penting untuk melakukan penilaian ulang
respon pasien terhadap resusitasi cairan dan bukti adanya perfusi dan oksigenasi
organ yang adekuat.Hal-hal yang perlu untuk dievaluasi sepertitanda vital, output
urin, dan keseimbangan asam basa.(1)
Kristaloid
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler. Keuntungan
dari cairan ini antara lain harga murah, tersedia dengan mudah di setiap pusat
kesehatan, tidak perlu dilakukan cross match, tidak menimbulkan alergi atau syok
anafilaktik, penyimpanan sederhana dan dapat disimpan lama. Cairan kristaloid
bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid) ternyata sama
efektifnya seperti pemberian cairan

koloid untuk mengatasi defisit volume

intravaskuler. Karena perbedaan sifat antara koloid dan

kristaloid dimana

kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan dengan


koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang
interstitiel. Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak
digunakan untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang

hampir menyerupai cairan intravaskuler. Laktat yang terkandung dalam cairan


tersebut akan mengalami metabolisme di hati menjadi bikarbonat.

Cairan

kristaloid lainnya yang sering digunakan adalah NaCl 0,9%, tetapi bila diberikan
berlebih dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremik (delutional hyperchloremic
acidosis) dan menurunnya kadar bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida. (8)
(9)

Koloid
Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut plasma
substitute atau plasma expander. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan
yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang
menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam)
dalam ruang intravaskuler. Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk
resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok hipovolemik/hermorhagik atau
pada penderita dengan hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang
banyak (misal luka bakar).Kerugian dari plasma expander yaitu mahal dan dapat
menimbulkan reaksi anafilaktik.(8)

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa resusitasi cairan


pada pasien dengan syok hipovolemik dilakukan dengan pemberian kristaloid
untuk mengisi kompartemen intravascular.Pemberian cairan kristaloid dipilih
karena kristaloid bergerak bebas di ruangan ekstraseluler dan dapat mengisi ruang
interstisial.Apabila pasien mengalami perdarahan, berdasarkan American college
of surgeon, pemberian darah dilakukan apabila perdarahan melebihi 1500cc.
Pemberian koloid diberikan pada resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok
hipovolemik/hermorhagik seperti pada penderita dengan hipoalbuminemia berat
dan kehilangan protein yang banyak.

DAFTAR PUSTAKA
1. American college of Surgeons Committee on Trauma. 2004. Advanced
Trauma Life
Support for Doctors. American College of Surgeon : United States of
America
2. Garretson, Sharon. 2007. Understanding Hypovolaemic, cardiogenic, and
septic shock. Ohio United States..Accessed at January 13th 2011.
Available at http://www.snjourney.com
3. Sethi. Sharma.Motha.dkk. 2003. Shock- a short review.
Available at medind.nic.in/iad/t03/i5/iadt03i5p345.pdf
4. Frederick.Sborov.dkk 2004.Hemorrhage, shock, and Fluid Resuscitation.
Washington. Available at
5. Brunicardi. 2004. Schwartzs Principles of Surgery 8th edition. Mc Graw
Hill Companies. Inc : United States of America
6. Fauci. Braunwald. Dkk. 2008. Harrisons Principles of Internal Medicine
17th edition. Mc Graw Hill Companies. Inc : United States of America
7. Kresnoadi, Erwin. 2010. Terapi Cairan Pada Syok Hipovolemik. Fakultas
Kedokteran Universitas Matyaram.
8. Marino, Paul. 2007. ICU Book The 3rd edition. Lippincolt Williams and
Wilkins : New York.
9. Hartanto. 2007. Terapi Cairan dan Elektrolit Perioperatif. Fakultas
Kedokteran Universitas Padjajaran. Available at
http://www.unpad.ac.idAccessed at January 10th 2011.