0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
765 tayangan5 halaman

Puisi Jalanan

Puisi ini menceritakan pengalaman seorang tukang rambutan yang memberikan rambutannya kepada mahasiswa yang sedang berdemonstrasi. Mahasiswa itu sangat senang dan berterima kasih secara tulus kepada si tukang rambutan. Tukang rambutan pun terharu dengan sikap jujur dan tulus mahasiswa itu.

Diunggah oleh

Mas RahiQi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
765 tayangan5 halaman

Puisi Jalanan

Puisi ini menceritakan pengalaman seorang tukang rambutan yang memberikan rambutannya kepada mahasiswa yang sedang berdemonstrasi. Mahasiswa itu sangat senang dan berterima kasih secara tulus kepada si tukang rambutan. Tukang rambutan pun terharu dengan sikap jujur dan tulus mahasiswa itu.

Diunggah oleh

Mas RahiQi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PUISI JALANAN (EMHA AINUN NAJIB)

Hendaklah puisiku lahir dari jalanan


Dari desah nafas para gelandangan
Jangan dari gedung-gedung besar
Dan lampu gemerlapan
Para pengemis yang lapar
Langsung menjadi milik Tuhan
Sebab rintihan mereka
Tak lagi bisa mengharukan
Para pengemis menyeret langkahnya
Para pemgemis batuk-batuk
Darah dan hatinya menggumpal
Luka jiwanya amat dalam mengental
Hendaklah puisiku anyir
Seperti bau mulut mereka
Yang terdampar di trotoar
Yang terusir dan terkapar
Para pengemis tak ikut memiliki kehidupan
Mereka mengintai nasib orang yang dijumpainya
Tetapi zaman telah kebal
Terhadap cerita mereka yang kekal
Hendaklah puisi-puisiku
Bisa menjadi persembahan yang menolongku
Agar mereka menerimaku menjadi sahabat
Dan memaafkan segala kelalaianku
Yang banyak dilupakan orang ialah Tuhan
Ketika mengucap nama-Mu
Tuhan, ambillah aku
Sewaktu-waktu
Kematianku hendaknya sederhana saja
Orang-orang yang menguburku hendaknya juga dengan sederhana
saja

DI NEGERI AMPLOP (GUS MUS)


Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya malu
Samson tersipu sipu, rambut keramatnya ditutupi topi rapi rapi
david coverfil dan rudini bersembunyi rendah diri
entah, andai Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya
amplop amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur
Hal hal yang tak teratur menjadi teratur
Hal hal yang teratur menjadi tak teratur
Memutuskan putusan yang tak putus
Membatalkan putusan yang sudah putus
Amplop amplop menguasai penguasa
dan mengendalikan orang orang biasa
amplop amplop membeberkan dan menyembunyikan
mencairkan dan membekukan
mengganjal dan melicinkan
Orang bicara bisa bisu
Orang mendengar bisa tuli
Orang alim bisa nafsu
Orang sakti bisa mati
Di negri amplop, amplop amplop mengamplopi apa saja dan siapa
saja

TANAH AIR MATA (SUTARDJI CALZOUM BACHRI)


Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata

KARAWANG BEKASI (CHAIRIL ANWAR)


Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan
harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

SEORANG TUKANG RAMBUTAN PADA ISTRINYA(TAUFIQ


ISMAIL)
Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan dalam panas bukan main
Terbakar mukanya diatas truk terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
memang sudah rejeki mereka
Mereka berteriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
Dan memyoraki saja. Betul bu, menyoraki saja
Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saja
Hidup rakyat! teriaknya
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
Hidup pak rambutan! sorak mereka
Terima kasih pak, terima kasih!
Bapak setuju kami, bukan?
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
Doakan perjuangan kami, pak!
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima-kasihnya
Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!
Saya tersedu, bu. Belum pernah seumur hidup
Orang berterimakasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita

Anda mungkin juga menyukai