Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal yang penting bagi umat manusia. Hal ini
dikarenakan kesehatan merupakan salah satu faktor yang menunjang kualitas hidup
manusia. Agar tercipta masyarakat yang produktif, peningkatan kualitas hidup
manusia pun harus dilakukan. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup
manusia adalah dengan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Hal ini menuntut
penyedia jasa layanan kesehatan seperti rumah sakit untuk meningkatkan kualitas
pelayanan yang lebih baik.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 tahun
2014, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit
untuk menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut diperjelas dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2014 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan
farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan
kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat
yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan
masyarakat.
Dari berbagai lapisan masyarakat yang ada, masyarakat dengan tingkat
pendidikan dan ekonomi yang tinggi umumnya memiliki derajat kesehatan yang lebih
tinggi dari pada masyarakat golongan ekonomi sosial menengah ke bawah, karena
secara finansial mereka mampu menjamin biaya kesehatan dengan mengikuti asuransi
kesehatan. Pemerintah berupaya mewujudkan pemerataan kesejahteraan kesehatan
masyarakat dengan program jaminan kesehatan, yang mampu mengurangi resiko
masyarakat menanggung biaya kesehatan dari kantong sendiri dalam jumlah yang
sulit diprediksi dan kadang-kadang memerlukan biaya yang sangat besar.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) merupakan lembaga yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan di Indonesia.
Jaminan

kesehatan

berupa

perlindungan

kesehatan

agar

masyarakat memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan


perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang
diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau

iurannya dibayar oleh pemerintah. Manfaat yang diberikan jaminan


kesehatan ialah pelayanan perorangan berupa pelayanan kesehatan
yang

mencakup

pelayanan

promotif,

preventif,

kuratif

dan

rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis habis pakai yang


diperlukan (Undang-Undang RI, 2004).
Pasien BPJS merupakan peserta jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh
BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang kita kenal sebelumnya sebagai PT
Askes. Dalam Jaminan Kesehatan cakupan pelayanan obat yang
diperoleh oleh pasien BPJS-Kesehatan adalah pemberian obat di
Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) / Rawat Inap Tingkat Pertama di
fasilitas kesehatan tingkat primer, serta pemberian obat di Rawat
Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) / Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL) di
fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.
Masyarakat yang sudah mendaftar sebagai peserta BPJS, tidak perlu
membayar ketika berobat di RS karena sudah membayar iuran setiap bulannya. Iuran
tersebut akan dikelola oleh BPJS yang kemudian akan dibayarkan kepada pihak
rumah sakit secara bertahap. Dikhawatirkan dengan adanya perbedaan dalam cara
pembiayaan pengobatan pasien, pelayanan yang diberikan oleh penyedia pelayanan
kesehatan akan berbeda yang kemudian dapat mempengaruhi kepuasan pasien.
Pelaksanaan program BPJS di RS dan Institusi kesehatan lainnya belum
sepenuhnya lancar. Hal ini terbukti dengan adanya kendala dalam pelaksanakan
program BPJS tersebut, yaitu diantaranya ketersediaan fasilitas kesehatan yang kurang
merata meliputi tenaga kesehatan dan kondisi geografis sehingga menimbulkan
masalah baru berupa ketidakadilan antara kelompok masyarakat (Thabrany,2014).
Masalah lain yang terjadi adalah besarnya klaim penggantian biaya dari BPJS untuk
Rumah Sakit yang menyangkut besaran jasa medik dirasa kurang menghargai tenaga
kesehatan dan pengelola rumah sakit, sehingga dapat menurunkan mutu pelayanan
terhadap pasien.
B. RumusanMasalah
1) Bagaimana standar pelayanan kefarmasian yang diberikan kepada pasien rawat
jalan BPJS?
2) Bagaimana perbandingan pelayanan kefarmasian antara pasien rawat jalan
umum dengan pasien rawat jalan BPJS?
KAJIAN TEORI

A. BPJS Kesehatan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan adalah badan hukum
publik yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan (Menteri
Kesehatan RI., 2013).
B. Sejarah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan
Masa persiapan transformasi PT ASKES (persero) menjadi BPJS Kesehatan
adalah selama dua tahun terhitung mulai 25 November 2011 sampai dengan 31
Desember 2013. Dalam masa persiapan, Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes
(Persero) ditugasi untuk menyiapkan operasional BPJS Kesehatan, serta menyiapkan
pengalihan aset dan liabilitas, pegawai serta hak dan kewajiban PT Askes (Persero) ke
BPJS Kesehatan.
Pada saat BPJS Kesehatan mulai beroperasi pada 1 Januari 2014, PT Askes
(Persero) dinyatakan bubar tanpa likuidasi. Semua aset dan liabilitas serta hak dan
kewajiban hukum BPJS Kesehatan, dan semua pegawai PT Askes (Persero) menjadi
pegawai BPJS Kesehatan.
Mulai 1 Januari 2014, program-program jaminan kesehatan sosial yang telah
diselenggarakan oleh pemerintah dialihkan kepada BPJS Kesehatan yang mempunyai
tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan
perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Kementrian kesehatan
tidak lagi menyelenggarakan program Jamkesmas.
C. Ruang Lingkup Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Menurut Menteri Kesehatan RI (2013), setiap peserta BPJS Kesehatan berhak
untuk memperoleh jaminan kesehatan yang bersifat komprehensif (menyeluruh) yang
terdiri dari:
1. Pelayanan kesehatan pertama, yaitu Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan
Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP).
2. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, yaitu Rawat Jalan Tingkat
Lanjutan (RJTL) dan Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL).
3. Pelayanan persalinan
4. Pelayanan gawat darurat.
5. Pelayanan ambulan bagi pasien rujukan dengan kondisi tertentu antar fasilitas
kesehatan.
6. Pemberian kompensasi khusus bagi peserta di wilayah tidak tersedia fasilitas
kesehatan memenuhi syarat.
D. Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung
jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai
hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pengaturan standar
pelayanan kefarmasian bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian,

menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian dan melindungi pasien dari
penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient
safety). Standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit yang berhubungan dengan
pelayanan rawat jalan adalah pelayanan farmasi klinik. Pelayanan farmasi klinik
meliputi pengkajian dan pelayanan resep, penelusuran riwayat penggunaan obat,
rekonsiliasi obat, pelayanan informasi obat dan konseling (Permenkes RI, 2014).
E. Prosedur Pelayanan Obat Rawat Jalan
Prosedur pelayanan obat rawat jalan di faskes rujukan tingkat
lanjut berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 tahun
2013 adalah:
1. Peserta mendapatkan pelayanan medis dan/atau tindakan
medis di Fasilitas Kesehatan.
2. Dokter menuliskan resep obat sesuai dengan indikasi medis.
3. Peserta mengambil obat di instalasi farmasi rumah sakit atau
apotek jejaring rumah sakit dengan membawa identitas dan
bukti pelayanan yang diperlukan.
4. Apoteker melakukan verifikasi resep dan bukti pendukung lain.
5. Apoteker melakukan pengkajian resep, menyiapkan dan
menyerahkan obat kepada peserta disertai dengan pemberian
informasi obat.
6. Peserta menandatangani bukti penerimaan obat.

Daftar Pustaka

Kemenkes RI. 2014. Konferensi Pers tentang Tata Laksana Pelayanan Obat
Dalam Program JKN. http://binfar.kemkes.go.id/2014/02/konferensi-pers-tentang-tatalaksana-pelayanan-obat-dalam-program-jkn/ diakses pada 6-11-2016 18:46.
Gesnita Nugraheni, dkk. 2016. Kepuasan Pasien Bpjs Kesehatan Terhadap
Kualitas

Pelayanan

Kefarmasian

Di

Pusat

Kesehatan

Masyarakat

(Analisis

Menggunakan Servqual Model Dan Customer Window Quadrant). Rakernas dan PIT IAI.
Universitas Airlangga : Surabaya.
F.F Risha, Solikhawati1 Umi. 2015. Perbandingan Kualitas Pelayanan Instalasi
Farmasi Pasien Bpjs Rawat Jalan Rumah Sakit Pemerintah Dan Swasta Kota Semarang.
Universitas Wahid Hasyim : Semarang
Pemerintah RI. 2004. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 58
Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 71
Tahun 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional. Jakarta.
Thabrany, H., 2014, Material BPJS Nasional, diakses pada tanggal 6-11-2016.
http://staff.ui.ac.id/system/hasbullah/material/bpjsnsionalataubpjsd.pdf.

Fifi Nur Hidayah N (1113102000078)