Anda di halaman 1dari 26

ACNE VULGARIS

KELOMPOK 4BD

Definisi

Acne vulgaris adalah penyakit kulit obstruktif dan


inflamatif kronik pada unit pilosebasea
Merupakan dermatosis polimorfik dan memiliki
peranan poligenetik
Penyakit kulit obstruktif dan inflamatif kronik pada
unit pilosebasea yang sering terjadi pada masa
remaja
Penyakit yang sangat umum dan biasanya
sembuh sendiri yang disebabkan oleh multifaktor
ditandai dengan inflamasi pada folikel kelenjar
minyak yang terletak pada wajah atau tubuh
bagian atas
Wasiaatmadja, 2007; Dorland, 2002

Etiologi

Faktor
Faktor
Faktor
Faktor
Faktor
Faktor
Faktor

Genetik
Ras
Hormonal
Dietary
Iklim
Lingkungan
Stress

Pindha, 2004

Patofisiologi
Factor utama yang terlibat dalam pembentkan
lesi dan akne adalah peningkatan produksi
sebum, pengelupasan keratinosit,
pertumbuhan bakteri dan inflamasi.
Apabila dinding folikular rusak atau pecah, isi
folikel dapat menonjol keluar pada dermis dan
disebut sebagai pustule.

Lesi primer disebut dengan komedo, terbentuk sebagai hasil dari


penyumbatan folikel pilosebaseus. Dalam hal ini, kanal folikular
melebar dan produksi sel meningkat. Sebum bercampur dengan
kelebihan pengelupasan sel pada kanal folikular lalu membentuk
sumbatan keratinosit. Hal tersebut mampak sebagai komedo
terbuka (Blackhead) karena adanya akumulasi melanin. Inflamasi
atau trauma pada folikel, selanjutnya dapat menyebabkan
pembentukan komedo tertutup (whitehead). Komedo tertutup
dapat menandakan terjadinya lesi yang meradang dan lebih besar.

Gejala Klinik

4 tipe dasar lesi: komedo terbuka dan tertutup (blackhead


and whitehead), papula, pustula, lesi nodulo-kistik
Lesi biasanya terdapat pada wajah, dada, punggung, dan
daerah deltoid
Lesi disertai dengan eritema, hiperpigmentasi, atrofi atau
hipertrofi, sikatrik berlubang, dll
Tingkat

Gejala Klinis

Ringan

Lesi non inflamasi pada satu predileksi, sedikit lesi non inflamasi pada
beberapa predileksi, lesi inflamasi pada satu predileksi

Sedang

Banyak lesi inflamasi pada satu predileksi, beberapa lesi non inflamasi
pada beberapa predileksi, beberapa lesi inflamasi pada beberapa
predileksi

Berat

Banyak lesi inflamasi pada beberapa predileksi, banyak lesi non


inflamasi pada beberapa predileksi

Bagian Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin RSUPN Dr. Cipto Mangun Kusumo

Terapi

Tujuan Terapi:

Mencegah pembentukan lesi acne yang baru


Menyembuhkan lesi yang ada
Mencegah atau meminimalisir bekas luka

Terapi Non Famakologi:

Edukasi pasien
Membersihkan permukaan kulit dengan sabun dan air, jangan
menggosok wajah secara berlebihan
Menggunakan zat pembersih yang lembut dan tidak
menyebabkan kulit kering
Menghindari makan makanan berlemak dan karbohidrat tinggi
Hidup teratur dan sehat, berolahraga cukup, hindari stress dan
penggunaan kosmetika berlebihan
Jangan konsumsi alkohol, rokok, makanan pedas, dll
Wasiaatmadja, 2007; diPiro 2009

Terapi farmakologis

AGEN TOPIKAL: TERAPI LINI PERTAMA


Obat

Dosis

Benzoil peroksida

Oleskan tipis 1-2


kali sehari

1 kali sehari saat


malam hari
Tretinoin

Adapalen

0.025%
0.05%
0.1%

1 kali sehari
sebelum tidur

ES

IO

iritasi kulit

alkohol, krim cukur,


resorsinol, asam
salisilat, sulfur

reaksi lokal; rasa


terbakar, eritema,
tersengat, pruitus,
kulit kering atau
terkelupas.
perubahan
sementara
pigmentasi kulit.
iritasi mata dan
edema, kulit
mengeras dan
melepuh (jarang
terjadi).

sulfur, benzoil
peroksida, asam
silat,sabun,
astringen, wax yang
kuat, elektrolisis dan
fotosensitiser.

sama seperti
tretinon

keterkaitan dengan

sabun dan pembersih


yang
abrasif,astringen,
wax yang kuat,
elektrolisis, aroma,
limau.

Obat

Eritromisin +
tretionin

Dosis

1 kali sehari
setelah wajah
dibersihkan

ES

IO

pedih/ rasa
terbakar,
eritema,
hipopigmentasi,,
gatal, kulit
terkelupas, kulit
kering.

Alkohol, sabun, obat


yang menyebabkan
fotosensitif, dan
produk topikal
mengandung
peeling. antibiotika
golongan
makrolidadapat
menyebabkan
resistensi silang

Klindamisin

1-2 kali sehari

iritasi ringan

Asam Azelat

2 kali sehari

iritasi lokal

eritromisin:
terjadi efek
antagonis.
agen
neuromuskular
bloker: terjadi
peningkatan
efek, karena
klindamisin juga
menunjukkan
aktivitas bloker
muskular

interaksi terjadi
dengan baik agen

AGEN TOPIKAL: TERAPI LINI KEDUA


No.

Nama

Keteranagn

1.

Motretidine

aromatic topical , profil efikasi mirip


dengan tretinoin dosis rendah, namun
memiliki kemungkinan iritasi yang lebih
kecil.

2.

Retinaldehyde

aktivitas komedolitik serupa dg tretinoin


topical konsentrasi rendah.
gel retinaldehid 0,1% pagi dan losion
eritromisin 4% sore selama 8mg komedo
dan mikrokist akan meningkat secara
signifikan namun papul dan pustul
berkurang
Jk tnpa eritromisis nonkomedo

3.

Retinoyl-Glucuronide

Met aktf vit A. krim Retinoyl--Glucuronide


0,16% efektif menangani lesi jerawat
inflamasi/non-inflamasi dibanding dg
tretinoin, tp dengan efek samping dan
kemungkinan mengiritasi lebih rendah.

No.

Nama

Keteranagn

4.

Isotretinoin

Gel tdk mengurangi sekresi sebum


sebagaimana isotretinoin oral. Dpt
mengiritasi, mengurangi lesi non-inflamasi
46% hg 78% dan lesi inflamasi 24% hg 55%
setelah pengobatan selama 12 hg 14 mg.

5.

Agen keratolitik

Selain memiliki aktivitas keratolitik, asam


salisilat, sulfur, dan resorsinol juga mamiliki
aktivitas sebagai antibakteri ringan.
Asam salisilat memiliki aktivitas
komedolitik dan anti-inflamasi, ia juga
dikenal sebagai -hydroxy acid yang
dianggap lebih efektif dari kebanyakan hydroxy acids.

Kortikosteroid

Kortikosteroid topikal dapat diterapkan


pada pasien tertentu dengan jerawat yang
sangat meradang untuk jangka waktu yang
singkat. Mnguangi peradangan &
granuloma pd terapi tretinoin

No.

Nama

Keteranagn

7.

Chemical peeling Chemical peeling berguna pada beberapa


pasien untuk mengurangi jaringan parut
dan hiperpigmentasi. Target drchemical
peeling adl pd epidermis interfollicular.
Bbrp zat kimia yg digunakan: asam hidroksi (asam glikolat), asam salisilat, dan
asam trikloroasetat.

8.

Dapson

Dapson topikal menunjukkan aktivitas


antibakteri dan antiinflamasi, sedang
diselidiki untuk efektivitas dalam
pengobatan jerawat.

AGEN SISTEMIK: TERAPI LINI PERTAMA


JERAWAT NODULAR/CONGLOBATA PARAH
No.

Nama

Keteranagn

1.

Isotretinoin (oral) agen sebosuppressive paling efektif,


penghambatan pertumbuhan jerawat
dalam folikel, penghambatan peradangan,
dan mengubah pola keratinisasi dalam
folikel. u/ pasien gagal prwtn konvensional.
ES: pengeringan dari mukosa mulut,
hidung, dan mata
Gangguan pada metabolisme lipid juga
dapat terjadi, sehingga terjadi peningkatan
sementara nilai-nilai darah untuk kolesterol
dan trigliserida.
Fungsi hati dan serum lipid awalnya harus
dipantau, yaitu pada awal dan pada
minggu ke- 4 dan 8.
Rangkaian 6 bulan terapi cukup, dosis awal
1mg / kg per hari untuk 3 bulan, Kemudian
dikurangi menjadi 0.5mg / kg per hari, dan
jika mungkin, untuk 0.2mg / kg per hari

AGEN SISTEMIK: TERAPI LINI PERTAMAPUSTULAR PAPULAR/NODULAR SEDANG


No.

Nama

Keteranagn

1.

Antibiotik
macrolide
(eritro, azitro,
klinda))

Eritro:u/ pasien yg tdk mentolerir atau


resisten tetrasiklin. biasanya 1 g / hari
dengan makanan untuk meminimalkan
intoleransi gastrointestinal
Azitro: adalah pengobatan alternatif yang
aman dan efektif. T1/2 68jam 3x
seminggu 500mg
Klinda: efektif dalam pengobatan jerawat,
tetapi memiliki kerugian untuk terapi
jangka panjang karena kemungkinan
induksi kolitis pseudomembran

2.

Tetrasiklin

efektif mengurangi P. acnes, keratin di


folikel sebaseus dan menghambat
kemotaksis, fagositosis, aktivasi
komplemen (dengan jalur alternatif), dan
respon imunitas diperantarai sel dan
bakteri akumulasi konsentrasi ypada
daerah inflamasi.
ES melibatkan saluran GI. 1g/hr AC 1-2

AGEN SISTEMIK: TERAPI LINI KEDUA


No.

Nama

Keteranagn

1.

Kotrimoksazol
u/pasien yg tdk mentolerir tetracyklin dan
(trimetoprimeritromisin atau resisten. . Dosis dewasa
sulfametoksazol) biasanya 800 mg sulfametoksazol dan 160
mg trimethoprim dua kali sehari.

2.

Terapi hormonal

pada wanita dengan hormone androgen


tinggi atau normal. Terapi ini juga
dibenarkan untuk pasien wanita dengan
seborrhea parah,. Kontra u/ wanita hamil
(organmalformtion)
Antiandrogen Siproteron dan
spironolactone harus digunakan untuk
jerawat hanya pada wanita, karena mereka
menyebabkan feminisasi pada pria.

3.

Cyproteron
asetat (CPA

antiandrogen yang paling banyak


digunakan. 35 mcg atau 50 mcg/hr.
ESgangguan menstruasi, tenderness dan
pembesaran payudara, mual dan muntah,
retensi cairan, edema kaki, sakit kepala,

No.

Nama

Keteranagn

4.

Chlormadinone
asetat

Chlormadinone asetat (2 mg), sendiri atau


dalam kombinasi dengan 50 mcg etinil
estradiol atau 50 mestranol mcg dalam pil
kontrasepsi, memiliki efikasi yang sedikit
lebih rendah dari CPA.

5.

Spironolactone

sebuah antiandrogen dan penghambat 5reduktase, menurunkan produksi sebum


pada dosis 50 sampai 200mg dua kali
sehari pada pasien dengan resisten
terhadap terapi jerawat konvensional.

6.

Drospirenone,

Drospirenone, turunan dari spironolactone,


telah diperkenalkan di Eropa sebagai agen
antiandrogen lain yang mungkin terbukti
bermanfaat dalam beberapa pasien.

7.

Flutamide

kombinasi dengan kontrasepsi oral pada


seborrhea dan jerawat pd perempuan.
Dosis 250-500 mg 2x/hr 6bln. Kontra wnta
hml feminisasi janin

No.

Nama

Keteranagn

8.

Estrogen

pasien wanita dengan bukti klinis


hiperandrogenisme, menekan produksi
androgen. dosis 0.035 hingga 0.050mcg .
Pemeriksaan payudara dan Pap smears
direkomendasikan u/ terapi jangka panjang

9.

Kontrasepsi Oral

mengandung estrogen dan progestin,


digunakan sebagai pengobatan alternatif
untuk jerawat moderat pada perempuan.
menurunkan kadar testosteron bebas
dengan meningkatkan hormon seks
pengikat globulinpenurunan produksi
sebum, kontrasepsi oral juga menghambat
produksi androgen ovarium dengan
menekan ovulasi.

10.

Agonis
GonadotropinReleasing
Hormone

(buserelin, nafarelin, dan leuprolide),


tersedia dalam sediaan suntik atau
semprot hidung, menekan produksi
androgen ovarium dan memiliki efikasi
pada jerawat. Dengan menurunkan
estrogen, terapi ini dapat mengakibatkan

No.

Nama

Keteranagn

11.

Kortikosteroid

Kortikosteroid dosis rendah (prednison,


prednisolon, atau dexamethasone)
ditunjukkan pada pasien dengan
hyperandrogenism adrenal atau jerawat
fulminans.

12.

Dapson

Dapson Oral telah digunakan untuk


pengobatan jerawat conglobata (kondisi
langka dengan peradangan parah; onset
biasanya terjadi pada orang dewasa) dan
jerawat inversa (lesi kronis pada ketiak dan
daerah pangkal paha)

PERTIMBANGAN FARMAKOEKONOMI

Meskipun biaya terapi dengan isotretinoin oral


lebih besar dibandingkan dengan pilihan terapi
lain pada tahun pertama, opsi ini bisa lebih
hemat biaya daripada pengobatan antibiotik
jangka panjang.

Evaluasi Hasil Terapi

Informasi mengenai faktor patogenik dan


kenyamanan
dalam
pengobatan
harus
diungkapkan oleh pasien.
Pasien seharusnya mengerti bahwa efektivitas
regimen terapi dapat dicapai pada minggu ke6 sampai ke-8 dan pasien juga dapat
memperhatikan kekambuhan atau kearahan
akne setelah terapi inisiasi dengan agen
komedolitik topikal