Anda di halaman 1dari 30

Laporan Kasus

Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Multipel


dan Penggunaan Zat Psikoaktif Lainnya
Sindrom Ketergantungan Kini Abstinen
(F19.20)

Oleh :
Nia Indah Yuniarti, S.Ked

I1A010087

Ahmad Muhsinin, S.Ked

I1A010089

Pembimbing
dr. H. Yulizar Darwis, Sp.KJ, MM

UPF/Lab Ilmu Kedokteran Jiwa


FK Unlam-RSUD Ulin Banjarmasin
Maret, 2014
LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRIK

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

Tn. D

Usia

30 tahun

Jenis Kelamin

Laki-laki

Alamat

Sungai Tabuk no.71 RT 002,


Kecamatan Gambut

II.

Pendidikan

SMA (Tidak tamat)

Pekerjaan

Penjaga Toko

Agama

Kristen

Suku

Banjar

Bangsa

Indonesia

Status Perkawinan

Menikah

Berobat Tanggal

19 Maret 2014

RIWAYAT PSIKIATRIK
Diperoleh dari alloanamnesis dengan Ayah pasien pada hari Kamis
tanggal 19 Maret 2014, pukul 10.00 WITA dan autoanamnesis pada hari
Kamis tanggal 19 Maret 2014, pukul 10.15 WITA. Anamnesis dilakukan
di RSJ Sambang Lihum Gambut.

A.

KELUHAN UTAMA
Ingin berhenti menggunakan dekstrometorfan (dekstro)

B.

KELUHAN TAMBAHAN

Pasien merasa tidak enak badan, depresi dan tidak bersemangat bila
tidak mengonsumsi dekstrometorfan
C.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Alloanamnesis:
Menurut Ayah Os, anak pertamanya mengonsumsi dekstro sejak SMP. Namun
Ayah Os mengaku bahwa dia baru mengetahui anaknya mengonsumsi dekstro
setelah anaknya sakit dan didiagnosa penyakit hati 5 tahun yang lalu. Ayah Os
mengungkapkan bahwa selain mengonsumsi dekstro, anaknya juga mengonsumsi
narkoba dan meminum alkohol. Anaknya pernah tertangkap polisi saat pesta
alkohol bersama teman-temannya dan ditahan dalam penjara selama 2 bulan.
Ayah Os ingin anaknya sembuh dan terbebas dari obat-obatan terutama dekstro
yang rutin dikonsumsinya serta alkohol.
Ayah Os menyangkal jika Os pernah mengamuk atau bersikap kasar di rumah.
Os juga tidak pernah terlihat berbicara sendiri atau mengaku melihat bayangan.
Os juga tidak pernah terlihat menyerang orang lain, namun Os pernah mencoba
bunuh diri dengan minum baygon tapi langsung dibawa ke Rumah Sakit dan
berhasil diobati.
Orang tua Os sering meminta Os untuk berhenti mengonsumsi dekstro karena
menurut mereka hal itu tidak bermanfaat dan bahkan merugikan bagi Os. Lima
tahun yang lalu setelah Os didiagnosa terkena penyakit hati, Os mencoba
menuruti permintaan orang tuanya berhenti mengonsumsi dekstro. Menurut Ayah
Os, Os kemudian tampak tidak bersemangat dalam bekerja. Ayah Os menyangkal
jika Os berbicara kacau atau mengamuk. Setelah beberapa hari tidak

mengonsumsi dekstro Os mengaku tidak tahan kepada Ayahnya dan kembali


mengonsumsi dekstro. Durasi abstinen tidak diingat oleh Ayah Os.
Autoanamnesis
Menurut pengakuan Os, dirinya mulai mengonsumsi dekstro sejak usia 15
tahun saat kelas 3 SMP tahun 1993. Pertama kali Os mengaku hanya ingin cobacoba karena ajakan temannya yang mengatakan bahwa dengan meminum dekstro
pikiran akan terasa nyaman dan dapat membangkitkan rasa percaya diri, saat itu
Os mengaku pertama kali meminum dekstro sebanyak 20 biji.
Awalnya Os meminta tolong temannya untuk mendapatkan dekstro. Namun,
Os mengaku saat ini ia dapat memperoleh obat itu sendiri tanpa bantuan temantemannya. Setelah sarapan Os akan mengonsumsi 20 butir dekstro. Awalnya Os
hanya mengonsumsi dekstro 2-3 hari sekali. Os juga tidak mencampurkan dekstro
dengan obat-obatan lainnya.
Setelah beberapa bulan Os mengaku sering merasakan keinginan kuat atau
dorongan yang memaksanya untuk menggunakan dekstro kembali. Os mengaku
kesulitan dalam mengendalikan hal tersebut hingga saat ini Os mengonsumsi
dekstro setiap hari.
Os mengaku saat ini ia perlu mengonsumsi dekstro dalam jumlah banyak
agar dapat merasa bersemangat dan percaya diri. Saat ini Os terbiasa
mengonsumsi 50-60 butir dekstro sekaligus. Sejak Januari 2002 Os mulai
mengonsumsi alkohol. Os mengaku hanya minum alkohol saat bersama temannya
(3-4 kali sebulan), Os biasa minum 2-3 botol alkohol hingga mabuk. Os tidak
ingat jenis atau kadar alkohol yang diminumnya. Os juga mengaku pernah

mengonsumsi sabu ekstasi, heroin, dan obat-obatan jenis NAPZA lainnya. Namun
narkotika tersebut tidak dikonsumsi secara rutin, hanya jika punya uang berlebih
baru bisa membeli ekstasi atau sabu.. Tidak ada gejala yang muncul saat Os
berhenti mengonsumsi narkotika tersebut hingga saat ini.
Os mengatakan dirinya sadar bahwa kebiasaannya akan merugikan
kesehatannya. Os tahu bahwa dirinya harus menghentikan kebiasaan ini namun ia
tidak berhasil melakukannya.
September 2005 Os mengatakan bahwa dirinya sempat mencoba berhenti
mengonsumsi dekstro. Ia kemudian merasa sakit pada seluruh tubuhnya, Os juga
merasa kurang semangat dan tidak percaya diri dalam bekerja jika tidak
mengonsumsi dekstro. Kemudian Os kembali mengonsumsi dekstro dan mengaku
setelah mengonsumsi dekstro keluhan tadi menghilang dan ia dapat beraktivitas
seperti biasa.
Os mengaku pernah dipenjara 10 minggu yang lalu selama 2 bulan dan
baru dibebaskan 1 minggu sebelum datang ke poliklinik jiwa RS Sambang Lihum.
Selama 2 bulan di penjara, pasien berhenti mengonsumsi obat-obatan terutama
dekstro yang rutin dikonsumsinya. Os mengaku dirinya menjadi gelisah, tidak
enak badan, dan tidak bersemangat sejak saat itu. Os menyangkal pernah melihat
bayangan atau suara-suara aneh baik selama mengonsumsi dekstro/ alkohol atau
saat berhenti menggunakannya. Os juga tidak merasa sedih atau kehilangan
semangat. Os masih dapat tidur walaupun tidak selelap biasanya.

D.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Os pernah didiagnosa mengalami gangguan fungsi hati 5 tahun yang lalu.


Saat itu Os berobat ke dokter dan mendapatkan terapi untuk penyakit tersebut.

E.

RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


1. Riwayat Prenatal
Menurut Ayah Os, selama Os berada dalam kandungan, ibu Os
tidak pernah mengalami masalah kesehatan yang serius. Ibu tidak
mengalami muntah yang berlebihan. Ibu tidak mengonsumsi
alkohol dan obat-obatan. Os lahir cukup bulan, spontan dan
langsung menangis, tidak ada cacat bawaan. Os lahir dengan
bantuan bidan.
2. Riwayat Masa Bayi (0-1,5 Tahun) Basic Trust vs Mistrust
Menurut Ayah Os, tumbuh kembang Os normal seperti bayi
seusianya. Os diberikan ASI oleh ibunya sampai berumur 1 tahun.
Selama masa ini Os jarang sakit. Os juga tidak memiliki masalah
dalam makan, minum, maupun buang air. Os bukan termasuk anak
yang rewel. Setelah usia 1 tahun Os mulai makan makanan
keluarga. Frekuensi menyusui dikurangi perlahan-lahan. Os selalu
diasuh oleh ibunya. Hubungan ayah dan ibu rukun.
3. Riwayat usia 1,5- 3 tahun Autonomy vs Shane and Doubt
Riwayat tumbuh kembang Os baik seperti anak seusianya. Tidak
ada keterlambatan dalam tumbuh kembangnya Os mulai berdiri
pada usia 12 bulan. Orang tua Os tidak membatasi gerak-gerik Os

secara berlebihan. Ayah Os mengaku hanya akan melarang Os jika


Os melakukan sesuatu yang berbahaya seperti bermain dengan
kabel listrik atau berusaha mengambil benda-benda tajam.
4. Riwayat usia 3 - 6 tahun Initiative vs Guilt
Os suka bermain dengan mainan dan juga dengan teman
sebayanya. Hubungan Os dengan saudaranya rukun dan tidak
sering bertengkar.
5. Riwayat usia 6 12 tahun Industry vs Inferiority
Os mulai bersekolah dan tidak pernah tinggal kelas. Namun, Os
tumbuh menjadi anak yang pemalu dan mulai jarang bermain
dengan teman-temannya. Os tidak pernah mengeluh tentang sifat
gurunya kepada orang tuanya.
6. Riwayat usia 12 18 tahun Identity vs Role Diffusion
Os bukan seseorang yang suka melanggar peraturan dan suka
mencari perhatian, bukan pencuriga dan pendendam, tidak
sombong, tidak perfeksionis, tidak suka berdandan berlebihan. Os
hanya mengaku bahwa dirinya pemalu dan sering tidak percaya
diri dalam melakukan sesuatu.
Os mengaku hubungannya dengan keluarga cukup dekat, namun
Os tidak memberitahu keluarganya bahwa Os mulai mengonsumsi
dekstro sejak usia 15 tahun.
7. Riwayat Pendidikan

Saat bersekolah prestasi Os biasa saja, dan tidak pernah tinggal


kelas. Os juga selalu mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan
dari sekolah. Os bersekolah sampai tingkat SMA namun tidak
tamat (berhenti kelas 2 SMA). Os sempat diminta oleh orang
tuanya untuk melanjutkan sekolah, namun Os menolak dan
memilih bekerja membantu orangtuanya menjaga toko.
8. Riwayat Pekerjaan
Os bekerja di toko isi ulang air minum milik orang tuanya.
9. Riwayat Perkawinan
Os sudah 2 kali menikah dan 2 kali cerai, dari hasil pernikahan Os
tidak dikaruniai anak.
F.

RIWAYAT KELUARGA
Os adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Tidak terdapat riwayat
penyakit jiwa dalam keluarga.
Genogram:

Herediter (-)
Keterangan :
Laki-laki

Pasien

Perempuan :

G.

RIWAYAT SITUASI SEKARANG


Os tinggal bersama ayah, ibu, dan saudaranya dalam sebuah rumah
yang terletak di daerah padat penduduk. Hubungan Os dengan orang
yang tinggal serumah baik. Orang tua dan saudara Os sering meminta
Os berhenti mengonsumsi dekstro namun Os mengaku tidak dapat
melakukannya. Anggota keluarga mendukung usaha Os untuk berhenti
mengonsumsi dekstro dan berobat ke rumah sakit.
Pergaulan warga di lingkungan rumah Os termasuk kurang baik.
Ibu Os pernah melihat anak-anak muda mabuk dan mengonsumsi obatobatan terlarang di lingkungan mereka. Walaupun Os jarang bergaul
dengan warga sekitar, orang tua Os khawatir jika Os terpengaruh
dengan lingkungan tersebut.
H.. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA
Os sadar bahwa dirinya sakit dan ingin segera sembuh, Os sangat
ingin bisa kembali beraktivitas secara normal dengan semangat dan
percaya diri dalam bekerja tanpa harus mengonsumsi obat dekstro. Os
mengaku beberapa kali ingin berhenti mengonsumsi dekstro namun
tidak pernah berhasil.

III. STATUS MENTAL


A.

DESKRIPSI UMUM

1. Penampilan
Os merupakan seorang pria, memakai kaos berwarna hijau, celana
jeans hitam dan tampak terawat. Os tampak berperawakan gemuk. Os
menjabat tangan pemeriksa dengan kuat saat bersalaman. Os dapat
menyebutkan nama dan usianya dengan tepat. Os menyebutkan
dirinya datang bersama ayah. Os dapat menyebutkan alamat rumahnya
dengan tepat dan dapat menunjukkan arah menuju kesana. Os dapat
mengenali peran pemeriksa sebagai dokter muda dan dapat melakukan
perhitungan pengurangan 100 dengan angka 3 sebanyak 5 kali. Os
dapat menjelaskan pengertian ungkapan tangan panjang dan dapat
menyebutkan nama presiden Indonesia saat ini serta ibu kota Provinsi
Kalimantan Selatan dengan tepat. Saat diminta mengingat deretan
angka 34512 Os dapat mengingat kembali angka tersebut 15 menit
kemudian.
Selama

diberi

pertanyaan

oleh

pemeriksa,

Os

dapat

mempertahankan kontak mata. Setiap kali diberi pertanyaan Os selalu


mendengarkan dengan baik, Os bersikap kooperatif.

2. Kesadaran
Jernih
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Normoaktif
4. Pembicaraan

Koheren
5. Sikap terhadap Pemeriksa
Koperatif
6. Kontak Psikis
Kontak ada, wajar, dan dapat dipertahankan.
A

H.

MOOD DAN AFEK


1. Afek (mood)

Euthym

2. Ekspresi afektif

Stabil

3. Keserasian

Serasi

4. Empati

Dapat dirabarasakan

5. Pengendalian

Cukup

6. Arus Emosi

Cukup

7. Sungguh/tidak

Sungguh

8. Skala diferensiasi

Luas

FUNGSI KOGNITIF
1. Kesadaran

Jernih

2. Orientasi
-

Waktu

Baik

Tempat

Baik

Orang

Baik

Situasional

Baik

Baik

3. Konsentrasi
4. Daya Ingat

10

Jangka pendek

Baik

Jangka panjang

Baik

Segera

Baik

5. Intelegensi dan Pengetahuan Umum : sesuai tingkat pendidikan


6. Pikiran abstrak
I.

Baik

Auditorik

GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi :
:

Tidak

ada

2. Ilusi

Visual

Tidak ada

Olfaktorik :

Tidak ada

Tidak ada

3. Depersonalisasi dan derealisasi : Tidak ada

J.

PROSES PIKIR
1. Arus pikir
a. Produktivitas

Spontan

b. Kontinuitas

Jawaban sesuai pertanyaan

c.Hendaya berbahasa

Tidak ada

2. Isi Pikir
a. Preokupasi

Tidak ada

b. Gangguan pikiran : Tidak ada

11

K.

PENGENDALIAN IMPULS
Terkendali

L.

DAYA NILAI
1. Daya nilai sosial

2. Uji Daya nilai


3. Penilaian Realita
M.

Baik
:

Baik

Baik

TILIKAN
Derajat 5 (Os mengetahui penyakitnya dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam
perilaku praktisnya (tilikan intelektual))

N.

TARAF DAPAT DIPERCAYA


Dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


1.

STATUS INTERNUS
Keadaan umum

Pasien rapi dan terawat

Gizi

Baik

Tanda vital :
TD = 120/90 mmHg
N

= 100 kali/menit

RR = 20 kali/menit
T

= 36,3oC

12

Kepala :
Mata

Palpebra tidak edema, konjungtiva tidak anemis,


sklera tidak ikterik, pupil isokor, refleks cahaya (+/+).

Telinga :

Bentuk normal, sekret tidak ada, serumen minimal.

Hidung :

Bentuk normal, tidak ada epistaksis, tidak ada tumor.

Mulut

Bentuk normal dan simetris, mukosa bibir tidak

kering dan tidak pucat, pembengkakan gusi tidak ada


dan tidak mudah berdarah, lidah tidak tremor. Gigi
geligi baik.
Leher :
Pulsasi vena jugularis tidak tampak, tekanan tidak meningkat,
tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.
Thoraks :
Inspeksi

Bentuk dan gerak simetris

Palpasi

Fremitus raba simetris

Perkusi
-

Pulmo

Sonor

Cor

Batas jantung normal

Auskultasi
-

Pulmo

Suara napas vesikuler

Cor

S1~ S2 tunggal

Abdomen
Inspeksi

Cembung

13

Palpasi

Tidak nyeri tekan, hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

Timpani

Auskultasi

Bising usus (+) normal

Ekstemitas

Pergerakan bebas, tonus baik, tidak ada edema


dan atropi, tremor (-).

2.

STATUS NEUROLOGIKUS

V.

N I XII

Tidak ada kelainan

Gejala rangsang meningeal

Tidak ada

Gejala TIK meningkat

Tidak ada

Refleks fisiologis

Normal

Refleks patologis

Tidak ada

IKHTISAR

PENEMUAN

BERMAKNA

(FORMULASI

DIAGNOSTIK)
Anamnesis :
-

Os mengonsumsi dekstrometorfan sejak Usia 15 tahun. Jumlah


penggunaan awal 20 butir setiap 2-3 hari. Sekarang Os mengonsumsi

50-60 butir dekstrometorfan setiap hari.


Os mengonsumsi alkohol sejak Januari 2002. Jumlah konsumsi 2-3
botol hingga mabuk (3-4X/bulan). Jenis dan kadar alkohol tidak

diketahui.
Os pernah mengonsumsi sabu, heroin, dan NAPZA lainnya namun
abstinen hingga sekarang. Tidak ada gejala putus zat

14

Os sempat abstinen dekstrometorfan 10 minggu yang lalu. Muncul


gejala putus zat, gejala menghilang ketika konsumsi dekstrometorfan
dilanjutkan.

Pemeriksaan Psikiatri :

Perilaku dan aktifitas psikomotor : normoaktif

Kontak : Ada, wajar, dan dapat dipertahankan

Pembicaraan

: Koheren

Afek

: Euthym

Ekspresi afektif

: Stabil

Penilaian realita

: baik

Tilikan

:5

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL


Aksis I

Gangguan

Mental

dan

Perilaku

Akibat Penggunaan Zat Multipel dan Penggunaan Zat


Psikoaktif Lainnya Sindrom Ketergantungan Kini
Abstinen (F19.20)
Aksis II

: None

Aksis III

: Riwayat Gangguan Fungsi Hati

Aksis IV

: None
Aksis V

GAF

scale

80-71

(Pada

skala

penilaian fungsi secara global, ditemukan hendaya


sementara pada fungsi sosial dan pekerjaan OS)

15

VII. DAFTAR MASALAH


1.

ORGANOBIOLOGIK
Tidak ada
2. PSIKOLOGIK

Afek euthym, ekspresi stabil, kontak mata dapat dipertahankan,


tilikan derajat 5. Os sadar harus berhenti namun tidak dapat
melawan keinginan kuat untuk kembali mengonsumsi dekstro

3. SOSIAL/KELUARGA
Os pernah 2 kali menikah dan 2 kali bercerai dengan istri yang
berbeda. Os tinggal di lingkungan dimana konsumsi alkohol dan
dekstrometorfan merupakan hal yang biasa.

VIII. PROGNOSIS
Diagnosa penyakit

: Dubia ad bonam

Perjalanan Penyakit

: Dubia ad bonam

Ciri kepribadian

: Dubia ad malam

Stressor psikososial

: Dubia ad bonam

Usia saat menderita

: Dubia ad malam

Pola keluarga

: Dubia ad malam

Aktivitas pekerjaan

: Dubia ad bonam

Perkawinan

: Dubia ad malam

Ekonomi

: Dubia ad bonam

Lingkungan sosial

: Dubia ad malam

16

IX.

Organobiologik

: Dubia ad bonam

Pengobatan psikiatrik

: Dubia ad bonam

Ketaatan berobat

: Dubia ad bonam

Kesimpulan

: Dubia ad bonam

RENCANA TERAPI
Psikofarmaka
Po. Kalxetin 10 mg 2 X 1 Caps
Clozaril 25 mg 2 X 1 tab
B Comp 1 X 1 tab
Psikoterapi

: support terhadap penderita dan keluarga.

Rehabilitasi

: Sesuai bakat dan minat Os

Usul pemeriksaan penunjang : Laboratorium darah dan urin (pemeriksaan


NAPZA)
X.

DISKUSI
Berdasarkan hasil anamnesa serta pemeriksaan status mental, dan
merujuk pada kriteria diagnostik dari PPDGJ III, penderita dalam kasus ini
dapat didiagnosa sebagai gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan
zat dengan sindrom ketergantungan kini abstinen (F19.20).
Penyalahgunaan zat adalah suatu perilaku mengonsumsi atau
menggunakan zat-zat tertentu yang dapat mengakibatkan bahaya pada diri
sendiri maupun orang lain. Menurut DSM, penyalahgunaan zat melibatkan
pola penggunaan berulang yang menghasilkan konsekuensi yang merusak.

17

Konsekuensi yang merusak bisa termasuk kegagalan untuk memenuhi


tanggung jawab utama seseorang (misalnya: sebagai pelajar, sebagai
pekerja, atau sebagai orang tua), menempatkan diri dalam situasi di mana
penggunaan zat secara fisik berbahaya (contoh mencampur minuman dan
penggunaan obat), berhadapan dengan masalah hukum berulang kali yang
meningkat karena penggunaan obat. Memiliki masalah sosial atau
interpersonal yang kerap muncul karena penggunaan zat (contoh: berkelahi
Suatu
polamabuk)
penggunaan
karena
(1). zat yang maladaptif mengarah pada gangguan atau
penderitaan yang bermakna klinis, bermanifestasi sebagai 3 (tiga) atau lebih
Dalam DSM-IV-TR ketergantungan dan penyalahgunaan merupakan
hal-hal berikut yang terjadi pada tiap saat dalam periode 12 bulan:
manifestasi
psikologis
dari penyakit
1.
Toleransifisik
yang dan
didefinisikan
sebagai
berikut : akibat penggunaan obata. Peningkatan nyata jumlah kebutuhan zat untuk mendapatkan efek
obatan yang menyebabkan ketergantungan atau disalahgunakan. Kedua hal
yang didamba atau mencapai intoksikasi.
b. Penurunan
yangperilaku.
nyata dengan
kontinyu jumlah
tersebut
merupakanefek
masalah
Denganpenggunaan
kata lain, masalahnya
bukan
yang sama dari zat.
terletak
pada obat-obatan
tersebut,
tapi pada
2.
Withdrawal,
bermanifestasi
sebagai
salahcara
satu orang
dari: yang memakai obata. Sindroma withdrawal khas untuk zat penyebab (criteria A dan B dari
obatan tersebut.
gejala withdrawal zat).
b. Bahan-bahan
Zat yang samayang
atau sejenis
digunakan
menghilangkan atau
digunakan
dapatuntukdisalahgunakan
atau
menghindari gejala-gejala withdrawal.
menyebabkan
ketergantungan,
bahan tersebut
menjadiyang
masalah
3.
Zat yang dimaksud
sering jika
digunakan
dalam jumlah
besardalam
atau
melewati Seseorang
batas pemakaiannya.
hidupnya.
dapat dikategorikan mengalami substance
4. Adanya hasrat menetap atau ketidakberhasilan mengurangi atau
dependence
/ ketergantungan
obat-obatan jika memenuhi 3 kriteria dari 7
mengendalikan
pemakaian zat
5. Adanya aktivitas yang menyita waktu untuk mendapatkan zat (misalnya
kriteria berikut ini (2):
mendatangi berbagai dokter atau sampai melakukan perjalan jauh),
untuk menggunakan zat (merokok tiada sela) atau untuk pulih dari efekefeknya.
6. Kegiatan-kegiatan sosial yang tidak penting, pekerjaan atau rekreasi
dilalaikan atau dikurangi karena penggunaan zat.
7. Penggunaan zat tetap berlanjut meskipun mengetahui bahwa problemproblem fisik dan fisiologis menetap atau berulang disebabkan oleh
penggunaan zat tersebut.
18

Santrock (1999) menyebutkan jenis ketergantungan menjadi 2 jenis,


meliputi (3):
a. Ketergantungan psikologis adalah kondisi ketergantungan yang ditandai
dengan stimulasi kognitif dan afektif yang mendorong konatif (perilaku).
Stimulasi kognitif tampak pada individu yang selalu membayangkan,

19

memikirkan, dan merencanakan untuk dapat menikmati zat tertentu.


Stimulasi afektif adalah rangsangan emosi yang mengarahkankan individu
untuk merasakan kepuasan yang pernah dialami sebelumnya. Kondisi
konatif merupakan hasil kombinasi dari stimulasi kognitif dan afektif.
Dengan

demikian,

ketergantungan

psikologis

ditandai

dengan

ketergantungan pada aspek-aspek kognitif dan afektif. Os termasuk dalam


tipe ketergantungan ini, saat tidak mengonsumsi dekstro Os akan merasa
depresi dan tidak bersemangat.
b. Ketergantungan fisiologis adalah kondisi ketergantungan yang ditandai
dengan kecendrungan putus zat. Kondisi ini seringkali tidak mampu
dihambat atau dihalangi pecandu mau tidak mau harus memenuhinya.
Dengan demikian orang yang mengalami ketergantungan secara fisiologis
akan sulit dihentikan atau dilarang untuk mengonsumsinya.
Penyalahgunaan zat terbagi menjadi coba-coba, rekreasional, situasional
dan ketergantungan. Pada awalnya Os masuk ke dalam kategori coba-coba
saat dirinya diajak oleh temannya. Kemudian Os masuk ke dalam tingkatan
situasional, Os hanya menggunakan dekstro pada saat-saat tertentu saja.
Penggunaannya pun tidak dilakukan setiap hari. Setelah beberapa lama
akhirnya Os masuk ke dalam tingkatan ketergantungan. Kriteria DSM-IV TR
dan PPDSGJ III yang terpenuhi untuk menegakkan diagnosis ketergantungan
adalah:
1. Adanya toleransi (dari 20 butir menjadi per pemakaian)

20

2. Adanya gejala withdrawal/ putus zat (depresi, merasa tidak


bersemangat,

tidak

enak

badan)

yang

menghilang

setelah

penggunaan zat dilanjutkan.


3. Adanya keinginan kuat menggunakan zat walaupun Os sadar
dampaknya bagi kesehatan.
Dekstrometorfan adalah kandungan aktif yang biasa ditemukan pada
obat-obat batuk. Obat ini sering disalahgunakan karena efek disosiatif yang
dimilikinya. Obat ini hampir tidak memiliki efek psikoaktif pada dosis yang
direkomendasikan. Saat digunakan melewati dosis terapeutiknya zat ini akan
memiliki efek disosiatif yang kuat (4).
Pada dosis tinggi dekstrometorfan diklasifikasikan ke dalam agen
anestetik disosiatif dan halusinogen seperti ketamin dan pensiklidin (5).
Dekstrometorfan termasuk antagonis reseptor NMDA (N metil D aspartat)
pada dosis tinggi akan menyebabkan efek euphoria, peningkatan mood,
disosiasi pikiran dari tubuh dan peningkatan sensasi taktil (6,7). Umumnya
dektrometrofan tidak menimbulkan gejala putus zat, tetapi penurunan
mendadak dosis dekstrometrofan pada kasus ketergantungan akan
menimbulkan gejala fisiologis dan psikologis. Efek yang ditimbulkan serupa
dengan efek withdrawal SSRI yaitu depresi, iritabilitas, sakit pada otot,
perasaan tidak nyaman diperut serta kejang (8,9).
Ketika digunakan pada dosis rendah (100-200 mg) dekstrometorfan
menimbulkan efek euphoria. Jika dosis ditingkatkan (sekitar 400 mg)
euphoria akan semakin meningkat disertai halusinasi. Pada dosis tinggi (600

21

mg) penurunan kesadaran dapat muncul disertai gejala psikotik sementara


dan penurunan respon sensoris (10,11)
William E. White dalam The DXM FAQ mengelompokkan efek dosis
tinggi dekstrometorfan ke dalam 4 atau 5 plateu. Setiap plateu memiliki
kisaran dosis (mg/kgbb) tertentu. Pembagian efeknya adalah sebagai berikut
(12):
Plateu pertama : 1,5-2,5 mg/kgBB menimbulkan efek tidak mudah
capek, meningkatnya detak jantung, suhu tubuh, emosi, euphoria, dan
hilangnya keseimbangan tubuh.
Plateu kedua : 2,5-7,5 mg/kgBB menimbulkan efek yang sama dengan
plateu pertama namun disertai intoksikasi, penurunan kesadaran, perasaan
terlepas dari dunia dan halusinasi.
Pleteu ketiga : 2,5-7,5 mg/kgBB menimbulkan penurunan fungsi
sensoris kesulitan mengenali orang atau objek, kebutan sementara, kesulitan
memahami bahasa, halusinasi abstrak, penurunan waktu reaksi, kehilangan
koordinasi motorik, gangguan memori jangka pendek dan perasaan terlahir
kembali.
Pleteu keempat : 15,0 mg/kgBB atau lebih menimbulkan hilangnya
kontrol terhadap tubuh, delusi, peningkatan denyut jantung, kebutaan total,
dan gejala pleteu ketiga yang lebih berat.
Pleteu sigma : 2,5-7,5 mg/kgBB setiap 3 jam selama 9-12 jam. Gejala
psikotik disertai halusinasi visual dan akustik. Halusinasi biasanya bersifat

22

tidak menyenangkan dan memaksa pecandu mengikuti perintah halusinasi


tersebut.
Penyalahgunaan alkohol merupakan gangguan terkait zat yang paling
umum terjadi (13). Penyalahgunaan alkohol (alkoholisme) mengakibatkan
berbagai manifestasi klinis, psikiatri, dan sosial. Manifestasi psikiatrik yang
bisa timbul adalah (14) :

Depresi : semua bentuk depresi dapat dicetuskan oleh alkohol. Sebaliknya


depresi juga dapat memicu seseorang untuk mengonsumsi alkohol untuk

mengurangi gejala-gejala depresi.


Ansietas : ansietas merupakan gejala mengonsumsi alkohol berlebihan

sebagai usaha mengurangi gejala.


Perubahan kepribadian : penurunan standar kepekaan sosial dan perawatan

diri.
Disfungsi seksual : impotensi dan masalah ejakulasi.
Halusinasi : dapat berupa auditorik maupun visual, umumnya terjadi pada

keadaan putus zat.


Menurut Jellinek progresifitas alkoholisme terbagi dalam 3 fase (15) :
1. Fase dini ditandai dengan bertambahnya toleransi terhadap alkohol,
amnesia, timbulnya rasa bersalah karena mengonsumsi alcohol dan terhadap
perilaku yang diakibatkannya.
2. Fase krusial ditandai dengan hilngnya kendali terhadap kebiasaan
mengonsumsi alkohol, perubahan kepribadian, kehilangan teman dan
pekerjaan.
3. Fase kronis ditandai kebisaan mengonsumsi alkohol di pagi hari, tremor
serta halusinasi.
Berbagai kondisi yang mendasari ganggan penggunaan NAPZA akan
memengaruhi jenis pengobatan yang akan diberikan kepada pasien,

23

kebijakan untuk merawat dan memulangkan pasien, hasil yang akan


memberikan pelayanan, dan sikap terhadap perilaku pasien. Dibawah ini
akan diuraikan beberapa model yang popular dilaksanakan pada masalah
gangguan penggunaan NAPZA (16).
1. Therapeutic Community -TC Model, model ini merujuk pada keyakinan
bahwa gangguan penggunaan NAPZA adalah gangguan pada seseorang
secara menyeluruh. Dalam hal ini norma-norma perilaku diterapkan secara
nyata dan ketat yang diyakinkan dan diperkuat dengan memberikan reward
dan sangsi yang spesifik secara langsung untuk mengembangkan
kemampuan mengontrol diri dan sosial/ komunitas. Pendekatan yang
dilakukan meliputi terapi individual dan kelompok, sesi encounter yang
intensif dengan kelompok sebaya dan partisipasi dari lingkungan
terapeutik dengan peran yang hirarki, diberikan juga keistimewaan
(privileges) dan tanggung jawab. Pendekatan lain dalam program termasuk
tutorial, pendidikan formal dan pekerjaan sehari-hari. TC model biasanya
merupakan perawatan inap dengan periode perawatan dari dua belas
sampai delapan belas bulan yang diikuti dengan program aftercare jangka
pendek.
2. Model Medik, model ini berbasis pada biologik dan genetik atau
fisiologik sebagai penyebab adiksi yang membutuhkan pengobatan dokter
dan memerlukan farmakoterapi untuk menurunkan gejala-gejala serta
perubahan perilaku. Program ini dirancang berbasis rumah sakit dengan
program rawat inap sampai kondisi bebas dari rawat inap atau kembali ke
fasilitas di masyarakat.

24

3. Model Minnesota, model ini dikembangkan dari Hazelden Foundation


dan Johnson Institute. Model ini fokus pada abstinen atau bebas NAPZA
sebagai tujuan utama pengobatan. Model Minessota menggunakan
program spesifik yang berlangsung selama tiga sampai enam minggu
rawat inap dengan lanjutan aftercare, termasuk mengikuti program self
help group (Alcohol Anonymous atau Narcotics Anonymous) serta
layanan lain sesuai dengan kebutuhan pasien secara individu. Fase
perawatan rawat inap termasuk ; terapi kelompok, terapi keluarga untuk
kebaikan pasien dan anggota keluarga lain, pendidikan adiksi, pemulihan
dan program 12 langkah. Diperlukan pula staf profesional seperti dokter,
psikolog, pekerja sosial, mantan pengguna sebagai addict counselor.
4. Model Eklektik, model ini menerapkan pendekatan secara holistik dalam
program rehabilitasi. Pendekatan spiritual dan kognitif melalui penerapan
program

12

langkah

merupakan

pelengkap

program

TC

yang

menggunakan pendekatan perilaku, hal ini sesuai dengan jumlah dan


variasi masalah yang ada pada setiap pasien adiksi.
5. Model Multi Disiplin, program ini merupakan pendekatan yang lebih
komprehensif dengan menggunakan komponen disiplin yang terkait
termasuk reintegrasi dan kolaborasi dengan keluarga dan pasien
6. Model Tradisional, tergantung pada kondisi setempat dan terinspirasi dari
hal-hal praktis dan keyakinan yang selama ini sudah dijalankan. Program
bersifat jangka pendek dengan aftercare singkat atau tidak sama sekali.
Komponen dasar terdiri dari : medikasi, pengobatan alternatif, ritual dan
keyakinan yang dimiliki oleh sistem lokal contoh : pondok pesantren,
pengobatan tradisional atau herbal.

25

7. Faith Based Model, sama dengan model tradisional hanya pengobatan


tidak menggunakan farmakoterapi.
Berdasarkan Kepmenkes RI No 420 tentang Pedoman Layanan Terapi dan
Rehabilitasi Komprehensif pada Gangguan Penggunaan NAPZA berbasis rumah
sakit, tindakan penanganan pada pasien dengan penyalahgunaan zat meliputi
Gawat darurat NAPZA Detoksifikasi Rehabilitasi Rawat jalan/rumatan (16).
Pada fase gawat darurat NAPZA , hal yang umumnya dilakukan adalah
penanganan intoksikasi opiod, benzodiazepin, dan amfetamin. Terkadang pasien
datang dengan gejala intoksikasi alkohol dan halusinogen. Pada fase ini diberikan
terapi suportif pada pasien hingga keadaannya stabil. Untuk intoksikasi NAPZA
lain seperti dekstrometrofan, fase gawat darurat NAPZA bertujuan untuk
menangani kondisi akut termasuk gaduh gelisah.
Pasien yang telah menunjukkan perbaikan setelah ditangani di unit gawat
darurat dapat dilanjutkan dengan perawatan rawat inap atau detoksifikasi untuk
kasus putus NAPZA atau berobat jalan untuk suatu kondisi yang sudah
memungkinkan untuk pulang.
Pada fase rawat jalan, terapi yang digunakan umumnya berfungsi untuk
penanganan simptomatis dilakukan di rumah sakit rawat inap. Detoksifikasi
bertujuan untuk menghilangkan gejala putus zat. Lama fase ini berkisar 1-3
minggu tergantung jenis zat dan gejala pasien. Khusus untuk detoksifikasi heroin
(opioid) selain simptomatis juga ada yang mempunyai pengalaman tapering off
dengan metadon dan buprenorpin.

26

Pada kasus ini, Os mendapatkan terapi kalxetin (fluxetin) 10 mg 2x1 cap.


Kalxetin termasuk dalam antidepresan golongan SSRI. Pemberian SSRI akan
meningkatkan kadar serotonin dalam otak sehingga dapat menurunkan kecemasan
dan kegelisahan Os. Selain itu penggunaan SSRI dapat mengurangi gejala putus
zat pada Os karena diduga dekstrometorfan mendadak akan menimbulkan gejala
seperti mual, muntah, rasa tersengat listrik dan rasa sakit di otot yang serupa
dengan gejala putus zat SSRI.
Clozaril (clozapin) termasuk dalam golongan antipsikotik atipikal. Obat ini
diberikan karena pada penggunaan dekstrometorfan jangka panjang dapat muncul
gejala psikotik seperti halusinasi akustik dan visual. Selain itu penggunaan
antipsikosis dosis rendah dapat mengatasi gejala depresi yang biasa muncul pada
keadaan putus zat. Vitamin B kompleks diberikan karena pada penyalahgunaan
alkohol sering terjadi gangguan penyerapan vitamin B.
Pada fase rehabilitasi dilakukan penyesuaian perilaku pasien agar tidak
kembali menggunakan NAPZA. Fase rehabilitasi diawali dengan program jangka
pendek (1-3 bulan) dengan fokus penanganan masalah medis, psokologis dan
perubahan perilaku. Apabila program ini sukses, fase rehabilitasi dilanjutkan
dengan aftercare dengan terapi berbasis komunitas (16).

27

DAFTAR PUSTAKA

1. Nevid, Jeffreys, Rhatus, Sphencer dan Greene, 2002. Psikologi Abnormal,


Jakarta: penerbit Erlangga.
2. American Association, 2000. Diagnostic and statisticl manual of mental
disorder DSM-IV-TR. New York: American Psychiatric Pub.
3. John W. Santrock, 1999. Psychology: Paperback, Student Edition of
Textbook. Philadelphia: Mc Graw Hill.
4. DEA, Drugs and Chemichal of Concern: Dextromethorphan. Retrieved
Maret
27,
2014,
at
http:www.deadiversion.usdoj.gov/drugs_concern/dextro_m/summary.htm
5. Anonymous. Dextromethorphan. Retrieved Maret 27, 2014. At
http://www.deadiverson.usdoj.gov/drugs_concern/dextro_m/dextro_m.htm
l
6. Wrigley, H. 2006. Former Minot Man And Internet Chemical Company
Sentenced For Selling Designer And Misbranded Drugs And Violating
Federal Custom Laws. Dakota : Us Attorney
7. Erowld.
DXM
Effect.
Retrieved
Maret
http://www.erowid.org/chemicals/dxm_effects.shtml

27,

2014.

At

8. Anonymous. DXM addiction, abuse and treatment. Retrieved Maret 27,


2014. At http://www.drugsbusehelp.com/drugs/dxm/
9. Anonymous. DXM addiction, abuse and treatment. Retrieved Maret 27,
2014. At http://www.info-drug-rehab-rehab.com/dxm.html
10. Bornstein, S; Czermak, M; Postel, J., (1968). Apropos of a case of
voluntary medicinal intoxication with dextromethorphan hydrobromide.
Annales Medico-Psychologiques 1 (3): 447-451. PMID 5670018.
11. Dodds A, Revai E (1967). Toxic psychosis due to dextromethorphan
Med J Aust 2: 231. Bornstein, S; Czermak, M; Postel, J., (1968). Apropos
of a case of voluntary medicinal intoxication with dextromethorphan
hydrobromide. Annales Medico-Psychologicues 1 (3); 447-451. PMID
5670018
12. White E.W. DXM FAQ. Retreived Maret 27, 2014
http://www.erowid.org/chemicals/dxm/faq/dxm_experience.shtml

at

28

13. Sadock BJ, 2007. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry 10 th ed.
Phildelpia: Lippincott Williams and Wilkins
14. Daives T and Craig TKJ. 2009. ABC of Mental Health. Jakarta: EGC.
15. Joewana, Satya. 2005. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan
Zat Psikoaktif. Jakarta: EGC.
16. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, 2010. Keputusan Menteri Kesehatan Republik.
Indonesia Nomer 420/Menkes/Sk/Iii/2010 Tentang Pedoman Layanan
Terapi dan Rehabilitasi Komprehensif pada Gangguan Penggunaan
NAPZA berbasis Rumah Sakit.

29