Cerpen Femina
Cerpen Femina
Aku terpana pada sesosok lelaki jangkung bermata teduh, Keansantang. Usianya dua belas tahun lebih
tua dariku. Pak Tama, kolega Mama, mengenalkannya padaku. Beliau sepertinya sedang berusaha
menjodohkanku. Yang terbersit di hatiku saat berjabat tangan tangan dengan Kean hanyalah, Sepertinya
laki-laki ini orang baik. Raut Kean seolah memancarkan sesuatu yang aku rindukan.
***
Udara siang yang menyengat di dusun Kreyo, Palimanan, seakan tersamarkan oleh sambutan
hangat, mbok Siti, ibunda Kean. Ia terlihat bersahaja dengan balutan kebaya cokelat dan kain batik
bermotif bunga. Sebuah aliran air sungai yang jernih terpancar dari matanya seolah berkata, selamat
datang di keluarga kami. Itu membuat hatiku sejuk. Ditambah lagi deretan pohon mangga cengkir yang
lebat, pisang dan kelapa di sekitar halaman membuat suasana asri. Tak seperti suasana rumahku yang
selalu panas oleh pertengkaran Mama dan ayah tiriku serta polah adik tiriku, Beni, yang semakin lama
semakin menjadi.
Ibu setuju saja siapapun wanita pilihanmu, Kean. Jawab mbok Siti dalam bahasa Cirebon. Tak pernah
sekalipun orangtua Kean turut campur dalam kehidupan ketujuh anaknya. Hal itu yang membuat mereka
menjadi pribadi yang percaya diri menjalani hidup.
Cara Kean bertutur dan tawanya yang lepas berhasil menyejukkan jiwaku. Aku hampir lupa dengan tawa.
Entah kapan terakhir kali tertawa.
Rumba? Keningku berkerut. Bagiku, kata itu terdengar seperti nama alat musik tradisional.
Kadang masakan mbok tuh, nggak ada namanya tapi rasanya luar biasa. Rumba tuh terbuat dari daun
singkong, kangkung, atau pisang klutuk muda. Semuanya pakai kelapa parut. Meski pakai kelapa, kalau
mbok yang masak, nggak akan basi. Jelas Kean.
Kok bisa? Aku tersenyum kagum, betapa mbok pintar memasak. Tiba-tiba, nasihat Mama mengiang di
telingaku, anak perempuan tuh, harus bisa memasak. Apalagi gadis Minang, bisa memasak
rendang, itu satu prestasi membanggakan. Mama dibesarkan oleh orangtua yang juga pintar
memasak. Rendang buatannya paling empuk sedunia.
Selama ini, aku hanya seorang penikmat masakan Mama. Aku malu pada Mama yang tetap sempat
memasak walau aktivitas di kantor eight to five. Saat hari libur tiba, aku lebih memilih bermalas-
malasan atau hanya berbenah kamar tidur.
Kean meneguk segelas air di hadapannya hingga tandas lalu ia pergi ke dapur dan bertanya, Masak
rumba ta, mbok?
Iya, nanti bikin. Masak telur pindang dulu, jawab mbok. Sesekali ia diganggu cucunya, Fajri, meminta
ini dan itu.
Menurutku selalu ada semacam magic spell di setiap masakan seorang ibu. Selain bumbu
rahasia, cinta dan ketulusan adalah dua hal utama yang mampu menghipnotis lidah.
Aroma masakan memenuhi semua sudut rumah dan menggoda hidungku. Terbit keinginan untuk
bertanya tentang resep rahasia masakan mbok, namun urung. Aku bukan tipe orang yang mudah
mendekati orang baru kecuali pada Kean.
***
Mentari senja beranjak pulang. Aku dan Kean pergi ke tajug selepas azan ashar. Salat berjamaah sudah
menjadi kebiasaan keluarga ini dan Kean menjadi imam. Mbok telah lebih dulu berada di sana, Fajri turut
bersamanya.
Hatiku menciut dan kaku. Betapa aku merasa iri pada Kean. Mama tak pernah mengajarkanku
bagaimana memperoleh ketentraman hati seperti yang Kean dan ibunya lakukan di tajug ini. Yang aku
mengerti hanya bagaimana senyum Mama tetap mengembang di balik wajah lelahnya sepulang bekerja.
Mungkin setiap ibu di dunia memberikan makna ketenteraman yang berbeda pada anak-anaknya.
Seusai salat, aku meraih tangan kanan mbok dan mengecupnya, setelah Kean melakukannya lebih
dulu. Mbok mengangguk diiringi senyuman teduhnya padaku. Seketika itu, aku merasa diriku akan
menjadi bagian dari keluarga Kean. Walau aku masih belum yakin apakah aku bisa menempatkan Kean
di ruang hatiku setelah Teguh.
Untuk pertama kalinya, aku mencium punggung tangan kanan Kean. Entah untuk apa aku
melakukannya. Desiran di dada ini begitu menghebat hingga menggerakkan syaraf tanganku.
Dita, aku membangun tajug ini bersama bapak saat aku masih kelas satu SMA. Ujar Kean sembari
kedua matanya menerawang jauh ke depan. Seolah sedang mengingat peristiwa yang membuatnya
merasa sebagai laki-laki dewasa. Kami duduk bersisian di teras tajug sambil menikmati desiran angin
senja yang membuatku semakin betah. Sementara Mbok kembali ke rumah bersama Fajri.
Setelah tajug ini jadi, aku membuat sebuah madrasah supaya anak-anak di sekitar sini kalau mengaji
tidak harus pergi jauh ke mesjid desa sebelah.
Sebongkah rasa kagum hadir lagi di salah satu sudut hatiku. Seusia itu, aku hanya sibuk dengan
perasaanku yang tak menentu. Sikap Teguh yang sesekali acuh padaku ditambah dengan perlakuan
ayah tiriku pada Mama yang menjelma menjadi mimpi buruk.
Awalnya hanya sepuluh orang. Sekarang, sudah puluhan generasi. Aku dibantu beberapa alumni yang
sudah mahir membaca Al Quran.
Wah, pasti lulusan madrasah di sini sudah jadi perantau seperti kang Kean.
Teman-teman pengurus madrasah sudah jadi dosen di perguruan tinggi di Bandung. Alumni juga banyak
yang merantau ke Jakarta dan Bandung menjadi pedangang yang sukses.
Sejak memutuskan untuk ikut tes masuk perguruan tinggi negeri. Waktu itu, almarhum bapak hanya
membekali uang dua ratus ribu untuk pendaftaran. Sisanya, aku cari sendiri dengan bertualang dari satu
pesantren ke pesantren lain, berdagang kecil-kecilan, bekerja di pabrik, sampai akhirnya kuliah bisa
selesai.
Alasan untuk mulai jatuh cinta pada Kean semakin jelas di benakku. Ia mirip Teguh yang gigih dengan
tujuannya. Namun Kean begitu matang dan relijius. Teguh
memang tak pantas untuk dipertahankan jika dibandingkan dengan Kean. Ia telah dirasuki setan hingga
menghamili perempuan yang baru saja dikenalnya.
Mama memilih pensiun dini. Mama nggak mampu membiayai kuliahku karena uang pensiun Mama habis
begitu saja. Memoriku berputar ke saat ayah tiriku menguras semua pesangon pensiun Mama demi
kesenangannya sendiri. Sejak itu, aku benar-benar membencinya. Aku merasa lega setelah Mama
bercerai dengannya.
Tanpa sengaja, kami beradu pandangan. Kean menatapku dalam. Beberapa jenak aku kikuk, tak kuasa
menerima tatapan itu. Aku membuang pandangan ke halaman rumah dan berusaha keras mengatur
debaran hebat di hati.
Besok pagi, setelah sarapan, kita pulang ke Bandung. Tapi kalau kamu masih betah, lusa saja.
Perkataan Kean menghentikan kegugupanku sejenak.
Wah, aku bisa kena teguran bos-ku di kantor karena bolos kerja. Karyawan kontrak harus rajin,kang.
Kean tertawa renyah. Nggak enak juga ya, kerja kantoran. Nggak bisa seenaknya libur.
Kang, kapan kita jalan-jalan ke keraton Kasepuhan? Aku pengin tahu mesjid merah.
Mungkin nanti. Banyak hal menarik di sana. Kean menyungging senyum seolah menanam satu harapan
untuk pergi bersamaku lagi.
Langit mulai berubah pekat dan rinai hujan mulai membasahi pekarangan dan pohon-
pohon. Mbokterlihat menggiring ayam-ayam peliharaannya ke kandang di samping dapur. Aku
memutuskan untuk menyegarkan diri sebelum magrib menjemput. Sementara Kean mencandai Fajri
sambil menyimak tayangan televisi.
***
Usai makan malam dengan rumba daun singkong dan telur pindang yang lezat, Kean mengajakku
berbincang tentang segala hal. Masa kecilnya hingga para pelaku politik yang aku tak terlalu paham
dunianya. Kean berhasil membuatku betah berlama-lama menikmati tawa di antara cerita dan kelakar.
Jarum jam dinding telah menunjuk ke angka sepuluh. Aku mulai menguap.
Dita, kamu tidur di kamar mbok di depan. Mbok jarang tidur di situ, lebih sering sama Fajri di depan
teve.
Aku mengiyakan. Sementara Kean memilih tidur di kursi tamu. Ranjang besi yang ada di kamar ini
mengingatkanku pada nenek. Namun si kelambu tak lagi terpasang, hanya besi-besi penyangga saja
yang terlihat. Pintu kamar yang tak bisa dikunci, kututup rapat. Kasur kapuk berbalut seprai batik yang
bersih, bantal kapuk yang empuk, tak kunjung membuatku mengantuk. Pandanganku mengitari bilik
langit-langit kamar. Aku nggak percaya, mengapa aku berada di sini? Nyanyian hujan mengalun
merdu diringi suara katak blentung yang hanya hadir di musim penghujan. Nyanyian penyejuk jiwa dari
Yang Kuasa. Aku berusaha memejamkan kedua mataku, dan hujan semakin deras diiringi petir.
***
Entah pukul berapa aku terlelap. Malam berganti subuh. Suara azan membangunkanku. Segera aku
mengambil peralatan mandiku, lalu keluar dari kamar. Kean tengah duduk di ruang depan.
Aku salat subuh duluan, ya? Kamu salat di kamar saja nanti.
Aku mengangguk.
Sesaat setelah Kean pergi ke tajug, seorang wanita paruh baya berbalut daster batik memberiku alat
salat sambil tersenyum ramah. Menurut perkiraanku, ia kakak Kean. Entah kapan ia datang. Mungkin tadi
malam saat aku terlelap.
***
Sejujurnya aku tak ingin meninggalkan tempat ini. Perasaanku mengatakan, aku akan kembali lagi ke
sini. Kean pun sepertinya berat meninggalkan ibunya. Rutinitas kepulangannya hanya satu atau dua
bulan sekali.
Nok Dita, ini bawa untuk ibu di rumah, ya? kata Mbok dalam bahasa Cirebon. Ia membekaliku
beberapa bungkus krupuk beraroma bawang, buah mangga cengkir, krupuk melinjo, dan gula batu.
Terimakasih, bu. Aku menerimanya dengan senang walaupun sebenarnya khawatir Kean kerepotan.
Tas ranselku pun sudah sesak.
Wis mbok, ora cukup tempate ning motore. Kean terlihat resah.
Lebetaken nang bagasi atau tas, Kean. Mbok memaksa Kean membawa seluruh bekalku.
Oooh Kean mengangguk dan kembali fokus ke depan. Sesekali ia merespon pertanyaan-
pertanyaanku.
Tiba-tiba aku teringat perempuan yang memberiku alat salat, subuh tadi.
Kang, tadi subuh itu siapa? Ada perempuan di rumah, selain mbok.
Di sini, sebutan kang itu berlaku untuk kakak perempuan juga laki-laki.
Oh, gitu.
Gapura Selamat datang di kabupaten Cirebon telah terlewati. Kami singgah di sebuah warung di
perbatasan Tomo-Sumedang. Dahaga sirna oleh aliran air kelapa muda. Pemandangan sungai Cimanuk
yang bantarannya dihiasi ilalang tak luput dari penglihatan kami.
Kean menyesap air kelapa mudanya perlahan lalu menoleh ke arahku. Dita, gimana kalau awal bulan
depan aku melamar kamu?
Dadaku terhenyak mendengar itu. Aku mengaduk air kelapa di hadapanku sambil mencari jawabannya.
Mmm melamar? Aku masih ragu, terlebih ketika Kean mengajakku ke kampungnya dan berkataaku
ingin mengenalkanmu pada ibu sebagai calon istri.
Aku menyesap air kelapa untuk melegakan dadaku lalu berkata, Terserah kang Kean. Bayangan Teguh
belum benar-benar hilang di ruang hati ini. Sangat sulit menghapus kenangan-kenangan yang telah
terukir selama enam tahun. Ya, Tuhan, apakah Kean adalah pengganti Teguh?
***
Setelah otot-otot kaki cukup nyaman, kami melanjutkan perjalanan. Aku melihat-lihat pemandangan di
sepanjang jalan sebagai pengusir kantuk.
Dita, kok, kamu nggak ada suaranya? Ngantuk? Kean menepuk lututku tanpa menoleh ke belakang.
Kean tertawa ringan. Hening menguasai kami. Hanya suara deru mesin motor dan kendaraan lalu lalang
mendominasi. Sampailah kami di kawasan Nyalindung.
Aku menepuk pundak Kean dan memintanya untuk berhenti di depan kios penjual peuyeum gantung.
Kang, aku mau beli peuyeum buat Mama.
Selesai memilih dan membayar, kami melanjutkan perjalanan. Kang, maaf, ya, jadi menambah beban
penumpang motor, nih.
Nggak apa-apa. Mumpung kita lewat sini. Kean menggantungkan keranjang peuyeum di motornya.
Di sisa perjalanan, Kean setia mendengarkan ceritaku tentang Mama, juga tentang Teguh. Entah untuk
apa aku jujur soal Teguh. Namun rasa sakit yang masih bercokol di dada perlahan menguap karenanya.
***
Mamaaa! Aku pulang! Aku mengecup pipi Mama, kiri dan kanan.
Mama sedang menikmati ubi ungu kukus dan segelas teh pahit di ruang depan. Aku membawa masuk
buah tangan dari mbok dan peuyeum tadi. Kean mengekori setelah memarkirkan motor.
Alhamdulillah, sampai rumah dengan selamat, ujar Mama sambil mengulas senyum.
Bisa tiga jam non stop sampai di Palimanan. Kami tadi sempat istirahat di Sumedang. Jadi kurang lebih
empat jam. Jelas Kean. Bu, nanti kalau saya ajak Dita lagi ke sana, boleh, ya, bu?
Kalau Dita mau, ya silakan. Hati-hati di jalan. Perjalanan jauh naik motor itu bahaya.
Aku menyajikan secangkir kopi di meja untuk Kean lalu pamit sejenak untuk mengganti baju.
***
Sabtu pagi, Mama mengijinkanku pergi bersama Kean ke kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu.
Aku yang mengajak Kean ke sana. Kupikir kejenuhan pekerjaan sebagai staf administrasi yang monoton
selama lima hari di kantor akan sirna.
Laju motor Kean tak terlalu terburu-buru hingga perjalanan sangat kami nikmati. Pintu masuk menuju
kawasan gunung Tangkuban Perahu telah di depan mata.
Aku membayar tiket masuk. Kami melewati jalanan yang tertutup kabut. Samar-samar terlihat beberapa
pengunjung sedang berjalan kaki, dan lainnya menaiki sepeda motor. Setelah sampai di tempat parkir,
kami berjalan ke tepian kawah yang berpagar kayu. Beberapa pengunjung yang mengabadikan momen.
Kami memerhatikan kepulan asap kawah Tangkuban Perahu dan terdiam. Hanya aroma bau belerang
yang tak mau diam menusuk ke hidung.
Kean membelah kebisuan, Dita, kira-kira kapan, ya, tanggal yang tepat?
Kami saling berpandangan lalu aku tertunduk. Tetesan hujan mulai ribut bersama kabut. Beberapa orang
terlihat berlari menuju warung tenda penjaja makanan. Aku dan Kean masih berdiri di sana.
Aku menangkap sorot bola matanya yang jujur, lalu berkata, Terserah kang Kean.
Tetesan air dari langit semakin merdu seolah membelai luka hatiku. Kean meraih tanganku dan
mengajakku ke warung penjual bandrek. Hatiku melagu seiring sesapan minuman hangat itu.
*****
Bubur Rempah
TIAP MENGADUK bubur, Asri melihat wajah orang tuanya dalam letupan-letupan nasi encer itu.
Apa membayang dalam letupan panas itu. Apa seperti sebuah amarah yang tidak pernah berhenti,
seperti letupan bubur yang hanya berhenti bila api dimatikan. Emak memang tidak membayang
dengan jelas. Tapi, Asri merasakan kehadirannya dalam letupan itu, meski Emak selalu diam.
Seingat Asri semuanya dimulai tujuh tahun yang lalu ketika dia lulus dari SMK. Suatu sore, lelaki tua
bandar pisang itu datang dan berbincang dengan Apa. Malamnya Apa memanggil Asri,
membicarakan rencana pernikahan anak tertuanya itu dengan Pak Sutardi, bandar pisang berusia
lima puluh tahun itu. Tentu saja Asri terkejut. Dia menolak. Dia masih ingin punya pengalaman
bekerja, kalau bisa dia mau melanjutkan sekolah. Tapi, Apa marah, marah besar.
Kalau kamu ingin bekerja dan sekolah, sebenarnya bisa dibicarakan, tidak langsung menolak, kata
Emak besoknya.
Tapi bukan hanya itu, Mak. Pak Sutardi itu kan sudah punya tiga orang istri. Bagaimana bila.
Bapakmu itu meminta bantuanmu. Bapakmu mempunyai utang yang.
Tentu saja Asri kecewa kepada Apa. Mengapa Apa yang mempunyai utang, dia yang dikorbankan?
Kepada Emak pun Asri sama kecewanya. Emak tidak melindunginya. Bila Asri tidak pergi mengikuti
Ceu Wawang, kakak sepupunya yang bekerja di Bandung, tentu Emak akan selalu memintanya
agar mau dinikahi lelaki tua itu.
SELAMA DUA TAHUN bekerja di Bandung, tiap Asri pulang, Apa dan Emak selalu menyambutnya
dengan sukacita. Pertengkarannya saat Asri menolak lamaran Pak Sutardi, seperti hilang sama
sekali. Tapi, beberapa hari kemudian Asri merasa bibit pengaturan orang tuanya masih tumbuh.
Asri, Geulis, kamu itu sekarang sudah dua puluh tahun, kata Emak. Sudah waktunya kamu
berkeluarga. Teman-temanmu semuanya sudah menimang anak. Emak dan Apa juga sudah ingin
bermain dengan cucu.
Jangan terlalu sibuk bekerja, Apa menambahkan. Mencari uang itu adalah tugas suamimu.
Asri marah. Dia mengira Apa dan Emak masih ingin menjodohkannya dengan lelaki tua beristri tiga
itu. Dia tidak bicara sama sekali. Nasihat berikutnya yang panjang tentang pernikahan dan
berkeluarga tidak didengarkannya. Dan besoknya, Asri pamit untuk kembali ke Bandung.
Cuti kamu kan masih seminggu lagi, kenapa pulang sekarang? tanya Emak heran.
Asri tidak betah di sini!
Jawaban Asri yang ketus seperti itu membuat Emak terenyak. Emak tidak mengerti. Dia merasa
tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Apa sedang di sawah, temui dulu sebelum kamu pergi, nasihat Emak.
Sampaikan saja sama Emak. Asri sudah ingin sampai di Bandung.
Tentu saja Emak bersedih. Setelah Asri pergi, Emak menemui Apa di sawah. Meski Emak tidak
menangis, Apa tahu Emak sakit hati dengan kepergian Asri yang tiba-tiba.
Mungkin Asri memang ada keperluan yang mendesak, Mak, kata Apa menenangkan. Seperti dulu
kita punya kepentingan mendesak untuk menerima lamaran Pak Sutardi bandar pisang itu. Asri pasti
terkejut dan tidak mengerti waktu itu. Waktu yang kemudian memberi tahu Apa, apa yang kita
lakukan dulu itu keterlaluan.
Asri masih marah dengan apa yang kita lakukan dulu? Itu kan sudah dua tahun yang lalu, gumam
Emak.
Asri sendiri berjalan menyusuri jalan kampung dengan pikiran dan perasaan tidak menentu. Dia
ingin marah, tapi juga tidak jelas apa yang membuatnya marah. Di bagian perasaan dan pikirannya
ada keragu-raguan. Juga ada pengakuan, apa yang dikatakan Emak tidaklah berlebihan. Di
kampungnya, Desa Rancaoray, perempuan berusia dua puluh tahun rata-rata sudah mempunyai
dua atau tiga orang anak.
Rancaoray, kampung terpencil di kaki Gunung Kareumbi. Memerlukan waktu tiga jam lebih berjalan
kaki untuk sampai ke pinggir jalan raya di bawah tebing Cadas Pangeran. Walaupun sekarang
sudah banyak ojek, dari pagi sampai siang ada juga mobil angkutan pedesaan, orang Rancaoray
yang mau ke kota sering kali berjalan kaki. Di jalan raya Cadas Pangeran itulah kendaraan umum
menuju Bandung, Jakarta, Bogor, atau kota lainnya di Pulau Jawa, biasa lewat.
Bagi kampung Rancaoray, Asri adalah anak perempuan yang berbeda. Lulus SD, kebanyakan anak
Rancaoray tidak meneruskan sekolah. Mereka lebih baik membantu orang tuanya bertani di kebun
atau sawah, memelihara sapi perah atau bekerja di kandang ayam. Setahun dua tahun setelah lulus
SD, mulai ada anak perempuan yang menikah. Bila ada yang meneruskan sekolah, lulus SMP
hampir semua anak perempuan di Rancaoray sudah mencari pasangan. Orang tua akan khawatir
kalau sampai usia dua puluh tahun anaknya belum menikah. Salah satu kegagalan penyuluhan
belajar sembilan tahun di Rancaoray karena ketakutan orang tua, anak-anaknya tidak segera
mendapatkan jodoh.
Asri tentu saja anak perempuan yang berbeda karena ingin sekolah sampai SMK. Lulus SMP, orang
tuanya sebenarnya menawarinya untuk bekerja di peternakan ayam. Tentu saja tujuannya agar Asri
cepat mendapatkan jodoh. Tapi, Asri ingin meneruskan sekolah ke SMK.
SMK itu adanya di kota kecamatan. Kamu harus sewa kamar di sana, makan dan ongkos lainnya,
Apa tidak mempunyai biayanya, kata Emak waktu itu.
Ibu Bidan pernah menawari Asri, kalau Asri ingin sekolah ke SMK, Asri bisa mondok di panti anak di
kota kecamatan, kata Asri dengan mata berbinar. Emak dan Apa tidak mesti mengeluarkan biaya
lagi. Emak dan Apa hanya harus datang ke Ibu Bidan, ceritakan keinginan Asri untuk meneruskan
sekolah ke SMK. Nanti Ibu Bidan yang akan mengantar kita ke panti anak.
Dengan begitu saja Asri sudah berbeda dengan anak-anak Rancaoray lainnya. Belum pernah ada
anak Rancaoray yang sangat ingin sekolah ke SMK, menuntun orang tuanya yang rata-rata tidak
tahu apa-apa, mencari informasi sendiri agar dirinya bisa sekolah dengan gratis.
SELAMA ENAM TAHUN merantau di Bandung, Asri sudah bekerja di rumah makan, jongko bubur,
dan menjaga warnet. Selama itu juga sebenarnya dia bisa membantu keuangan keluarga seperti
yang dicita-citakannya. Gajinya dia sisihkan sebagian untuk biaya sekolah adik-adiknya. Seragam
sekolah, buku, sepatu, tas, Asri selalu membelikannya tiap tahun.
Emak dan Apa bukannya tidak berterima kasih kepada Asri. Mereka selalu mengatakan bahwa Asri
anak yang baik, kakak yang perhatian. Tapi, itu semua tidak bisa mengurangi waktu-waktu tegang
mereka. Sekali waktu Apa dan Emak pernah meminta Asri pulang.
Ada apa, Mak, sepertinya penting sekali? tanya Asri di telepon.
Ya, sangat penting, pulang saja, walau cuma sehari, jawab Emak.
Emak dan Apa berpikir bahwa kabar kali ini akan membuat Asri senang. Lurah Hormat akan datang
melamar Asri untuk anaknya yang masih membujang. Rudi adalah anak Lurah Hormat yang belum
menikah, usianya tiga puluh tahun, pernah kuliah di Bandung, tapi tidak selesai. Tentu saja kabar ini
adalah penghormatan bagi keluarga Asri. Lurah Hormat adalah orang paling terpandang di
Rancaoray. Sawahnya luas, kolam ikannya tidak terhitung, mempunyai dua pabrik penggilingan
padi.
Waktu Asri pulang, di rumahnya sudah ada nenek-kakeknya, paman-bibinya, dan keluarga lainnya.
Asri terkejut ketika dikasih tahu rencana lamaran Lurah Hormat nanti malam. Asri marah. Dia
menangis, menyesali Emak dan Apa tidak memberi tahunya sejak awal. Siang itu Asri pulang lagi ke
Bandung, meninggalkan keluarganya yang bingung dan mesti menanggung malu.
Makanya anak perempuan itu jangan disekolahkan tinggi-tinggi! kata nenek Asri. Si Asri itu
keterlaluan! Tidak ada di kampung kita perempuan yang akan menolak lamaran keluarga Lurah
Hormat! Hanya si Asri yang pinter kabalinger! Aduh, keluarga kita itu akan malu selamanya.
Seminggu kemudian Emak, diantar salah seorang bibi Asri, datang ke Bandung. Emak menceritakan
bagaimana kecewa dan marahnya Apa, malunya kakek-nenek Asri dan keluarga lainnya. Dan
akhirnya Emak bertanya, Kamu itu sudah dua puluh lima tahun, Geulis. Kenapa menolak lamaran
anak Lurah Hormat yang masih membujang itu?
Semuanya juga kan tahu, anak Lurah Hormat itu kerjanya hanya menghambur-hamburkan
kekayaan bapaknya dan mabuk-mabukan, kata Asri, setelah menangis di pangkuan Emak.
Bicaranya saja tidak jelas karena pengaruh narkoba. Apa yang bisa diharapkan dari suami seperti
itu, Mak?
Tapi, setelah menikah semuanya bisa berubah, asal kita mau mencobanya.
Maaf, Mak, Asri tidak ingin membuat percobaan dengan menikah, kata Asri, sambil memegang
tangan Emak. Emak percaya saja, Asri juga sudah ingin menikah, ingin membina keluarga, tapi
dengan lelaki yang tepat, lelaki yang dipercaya bisa menjadi pemimpin.
Tapi, ketegangan karena penolakan lamaran Lurah Hormat itu tidak bisa mereda. Karena seluruh
penduduk Rancaoray, juga kampung-kampung tetangganya, selalu membicarakannya. Keluarga
Asri hanya bisa marah dan memaki-maki Asri yang tidak ada di kampungnya untuk menutupi rasa
malu mereka. Apa dan Emak yang mencoba mengerti mengapa Asri menolak, sering kali
terpengaruh lagi dengan cercaan dan olok-olok orang sekampung terhadap Asri.
Dan puncaknya ketika lima bulan yang lalu Asri bermaksud membuka usaha bubur rempah. Asri
pulang untuk meminta restu Emak dan Apa.
Asri ini sudah kenyang bekerja, Apa, Emak, kata Asri ketika malamya mereka berkumpul di tengah
rumah. Asri sekarang ingin membuka usaha bubur rempah, bubur dengan banyak bumbu. Asri
ingin berusaha dan belajar menjadi pengusaha. Doakan Asri.
Emak tidak bicara sepatah pun. Apa yang kemudian marah. Marah besar. Marah yang seperti
akumulasi kekesalannya selama ini.
Kamu itu benar-benar anak yang kabalinger! Pinter kabalinger! Apa membentak. Tidak ada di
keluarga kita, di kampung kita, yang memperjualbelikan Nyai Sri! Karena itu pantangan! Pamali!
Kamu ingin dikutuk para leluhur?
Sewaktu kecil Asri memang pernah mendengar ada pamali di kampungnya. Pamali menyisakan nasi
di piring dan pamalimemperjualbelikan Nyai Sri. Tapi, Asri rasa itu hanyalah dongeng
belaka. Pamali menyisakan nasi di piring masih bisa dimengerti, agar nasi itu tidak mubazir, sebagai
penghormatan kepada makanan pokok. Tapi, pamali memperjualbelikan padi atau makanan dari
bahan padi? Asri rasa itu hanya frustrasi dari leluhurnya yang usahanya bangkrut.
Asri diam ketika Apa berbicara panjang-lebar mengenai pamali berdagang Nyai Sri itu. Tapi, dua
hari kemudian dia kembali ke Bandung. Dengan ditemani oleh Ujang, adik sepupunya yang sudah
dua tahun lulus SMP, Asri berjualan bubur rempah. Awalnya berkeliling ke perumahan-perumahan.
Ujang yang mendorong roda, Asri yang melayani pembeli. Sejak sebulan yang lalu mereka mangkal
di depan rumah ukuran tipe 22 yang dikontrak per bulan.
Bubur kita mulai dicari orang, Teh. Tadi ada pembeli yang katanya berhari-hari menunggu kita
lewat, cerita Ujang. Katanya, mestinya kalau kita mau mangkal itu membagikan selebaran atau
menempel pengumuman di tembok atau membuat spanduk.
Asri tersenyum. Ya, setelah jatuh-bangun yang rasanya jauh lebih melelahkan dibanding bekerja,
usaha bubur rempahnya mulai kelihatan ada kemajuan. Mulai ada pelanggan tetap, mulai ada yang
memesan, dan mulai ada yang membawanya sebagai oleh-oleh. Tapi, hati Asri makin mundur.
Perasaan Asri makin tidak menentu. Makin ia konsentrasi berjualan bubur, makin ingat bahwa apa
yang dilakukannya tidak mendapat restu dari Emak dan Apa. Dan ketika yang punya rumah
menemui Asri, menanyakan apakah kontrakannya mau diteruskan atau tidak, Asri memilih berhenti.
Ujang yang kemudian kecewa.
Kita pulang saja dulu, Jang. Selama Emak dan Apa tidak merestui, Teteh sepertinya tidak bisa lagi
berjualan. Hati Teteh makin tidak tenang, kata Asri kepada Ujang. Roda dan peralatan lainnya jual
saja kepada yang punya rumah, katanya mereka juga mau berdagang.
Meski berat, Ujang menurut apa yang diminta Asri. Setelah semuanya selesai, pagi-pagi mereka
pulang naik bus jurusan Cirebon. Telepon Emak, Jang. Katakan, Teteh pulang sekarang, kata Asri.
Ujang menghubungi Emak. Assalamualaikum, ini Ujang, Wa. Ujang dan Teh Asri sekarang pulang,
sekarang sudah naik bus, kata Ujang, di antara gemuruh suara bus.
Emak tidak mengatakan apa pun. Setelah telepon genggamnya ditutup, Emak memandang Apa.
Asri dan Ujang pulang, sudah naik bus, kata Emak. Apa tidak mengomentari apa pun. Tangannya
masih memegang erat tali dua dus besar berisi segala bumbu-bumbuan untuk bubur rempah. Apa
memang tidak kebagian duduk di bus yang penuh sesak itu.
Apa, berarti kita pulang lagi? (f)
Catatan :
Apa = bapak, panggilan kepada bapak
Geulis = cantik
Lurah Hormat = mantan kepala desa
Pinter kabalinger = pintar, tapi tidak bijak
Pamali = pantangan
Teteh (Teh) = panggilan kepada wanita yang lebih tua
Wa (Uwak) = kakak dari bapak/ibu
Nyai Sri = panggilan kepada padi/beras, sebagai tanda hormat kepada makanan pokok.
Tetangga Baru
ANJALI. Begitu nama yang meluncur dari bibirnya, yang berpoles lipstik merah menyala. Seorang
wanita muda yang di suatu sore mengetuk pintu rumahku.
Saya penghuni baru rumah depan, Mbak, ia menyapa dengan ramah, menarik bibir
beberapa senti ke samping. Memperlihatkan gigi putih bersih, kontras sekali dengan bibir merahnya.
Dia mengangsurkan wadah berlogo sebuah toko kue terkenal.
Aduh, terima kasih, Mbak Anjali. Kok, repot-repot segala. Mari, silahkan masuk. Aku
menerima hantarannya dengan perasaan campur aduk.
Dia sungguh cantik. Mengenakan dress selutut yang dipadukan dengan syal etnik. Wajahnya mulus
dengan hidung mancung mirip salah satu bintang Bollywood. Parfum beraroma kopi menggelitik
indra penciuman. Sementara aku, hanya mengenakan baju rumah ala kadarnya, dan rambut lepek
oleh keringat. Ya, memang tadi sebelum kedatangannya, aku baru saja menyelesaikan urusan
dapur.
Terima kasih, Mbak. Lain kali saja. Saya masih harus ke tempat yang lain. Permisi, Mbak.
Dia mengangguk seraya tersenyum. Lalu melangkah pergi. Aroma kopi masih tertinggal, meski dia
sudah hilang dari pandangan.
RUMAH ITU sudah berpenghuni, kataku saat mendapati suami menatap rumah depan
melalui jendela ruang tamu. Rumah di depan rumahku memang sudah beberapa bulan kosong.
Mungkin suamiku heran, kenapa tiba-tiba rumah itu semarak oleh lampu. Maklumlah dia memang
baru beberapa hari di rumah. Sebelumnya dia ada tugas luar pulau. Dan aku pun belum sempat
menceritakan perihal tetangga baru.
Oh. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dia lantas kembali duduk menekuri buku
bacaannya. Sementara aku, terus mengoceh, membahas wanita di rumah seberang. Meskipun dia
hanya menimpali dengan gumaman tak jelas.
DALAM BEBERAPA minggu saja, aku sudah akrab dengan Anjali. Bak sahabat lama. Pun
kedua anakku. Kami bertukar cerita, berbelanja, bahkan memasak bersama. Seleranya hampir
sama denganku. Dia seperti paham apa saja yang biasa dimakan keluargaku.
Kehadirannya memang seperti oase di tengah gurun pasir. Di tengah kesibukan mengurus dua
anak, yang menyita hampir seluruh waktuku, mempunyai teman mengobrol yang dekat merupakan
anugerah tersendiri. Walaupun itu hanya terjadi di akhir pekan. Sebab di hari biasa, dia sibuk
bekerja. Berangkat pukul 8 pagi. Baru pulang menjelang waktu makan malam.
Hadiah-hadiah kecil pun tak pernah luput untuk kedua anakku, takkala berkunjung. Rupanya dia
sangat menyukai anak-anak. Mungkin itulah yang membuat mereka cepat akrab. Saat bersama
kami, dia tak tampak seperti wanita karier yang kaku. Dia dengan sabar bermain dan meladeni
kedua anakku yang sedang aktif-aktifnya.
KADANG-KADANG AKU merasa iri dengan wanita-wanita yang bekerja kantoran. Mereka
tidak perlu merasakan kebosanan saat harus berdiam di rumah seharian. Tentu saja, bukan
maksudku menghilangkan kehadiran anak-anak dengan celoteh lucu mereka. Tapi, ah... ada
saatnya kebosanan tetap kebosanan. Dan saat aku mengungkapkan padanya, Anjali hanya tertawa
renyah.
Bukankah menyenangkan? Aku justru ingin sepertimu, Mbak. Menjadi full time
mother. Memasak untuk suami, menyaksikan tumbuh kembang anak, mengantar mereka
sekolah. Hmm... sungguh menyenangkan, katanya sembari menerawang.
Dia memang punya segalanya. Wajah yang cantik, karier yang cemerlang, dan urusan dapur dia
juga ahli. Terbukti beberapa kali dia membantuku memasak dan hasil masakannya tak kalah lezat
dengan racikan chef restoran. Bersyukur aku bisa mengenalnya.
MBAK DIAN. Bu Ida mencolek bahuku. Aku mengalihkan perhatian dari ponselku.
Iya, Bu?
Tetanggamu itu ternyata wanita simpanan, ya? Bu Ida berbisik di telingaku. Namun, bagiku itu
bukan bisikan karena beberapa ibu yang sedang menunggui anak-anak, menoleh ke arah kami.
Maksud Bu Ida...?
Ya itu, tetangga depanmu, si Anjali. Lagi heboh banget, masa enggak tahu? Bu Ida
memandangku tidak percaya.
Banyak penghuni kompleks yang lihat dia diantar jemput sama laki-laki. Ketemuannya di
luar gerbang. Sembunyi-sembunyi lagi, seperti maling. Eh, memang maling, ya... maling suami
orang. Bu Ida terkekeh.
Dengan wajah heran campur tidak percaya, aku hanya menjawab singkat. Oh, begitu.
Satpam depan bilang, dia sempat lihat sekilas laki-laki yang sering berangkat kerja bareng.
Hanya sekali, sih. Tapi dia merasa wajahnya sedikit familiar. Tapi dia lupa-lupa ingat. Jangan-jangan
wanita itu simpanan pejabat, ya? Duh, cantik-cantik,kok, gitu, ya, Mbak? Memangnya enggak bisa
dapat yang gres? Bu Ida mencibir usai bercerita.
Karena bingung tidak tahu harus menjawab apa, aku memilih tersenyum. Kuharap itu cukup
untuk menghentikan ocehan Bu Ida. Aku sama sekali tidak percaya dengan semua cerita itu. Bagiku
Anjali bukan wanita seperti itu. Dia berpendidikan. Mana mungkin seperti itu?
AKHIR-AKHIR INI memang, aku jarang bertemu Anjali. Tidak seperti dulu, tiap hari Minggu
dia berkunjung ke rumah. Tapi, beberapa kali dia sempat mampir untuk sekadar mengantarkan kue
atau hadiah untuk anak-anak. Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun ada
sedikit kehilangan sahabat yang biasa bertukar cerita.
Ternyata lama tidak bertemu, memang ada perubahan. Wajahnya kini tambah semringah.
Apalagi dipadu dengan lipstik merah terang. Membuatnya terlihat segar dan lebih muda. Badannya
kini lebih berisi. Dia jauh lebih seksi. Kulihat pakaian yang dikenakan berwarna cerah. Dengan syal
etnik masih setia melingkari leher jenjangnya.
Kalau melihat penampilanmu sekarang, orang akan mengira kau pengantin baru. Aku
menggodanya suatu kali saat bertemu.
Dia hanya tergelak. Warna kemenangan.
Aku yang sedang menyesap kopi, menatapnya sekilas. Kemenangan apa?
Dia hanya mengibaskan tangan. Menyuruhku melupakannya.
Sejak pertemuan itu, Anjali makin sulit untuk ditemui. Dia berangkat kerja saat aku sedang
sibuk dengan urusan dapur. Seperti tidak ada waktu yang tersisa antara aku dan dia. Apalagi
sekarang suamiku pun lebih sering pulang larut. Membuatku makin kesepian. Ah, mendadak aku
merindukan ngobrol dengan Anjali.
Hari itu, aku sengaja keluar pagi-pagi. Menunggu dia muncul, dan mungkin
mengajaknya ngobrol sebentar. Tapi, taksi pesanan sudah lebih dulu terparkir di depan rumahnya.
Begitu keluar rumah, dia langsung buru-buru menuju taksi. Aku sempat memanggilnya. Dia hanya
membalas dengan senyum dan lambaian tangan. Untuk kemudian dia hilang di balik pintu taksi. Aku
sebenarnya kecewa. Sikapnya berubah, seperti menghindariku. Apa yang salah denganku?
SIANG ITU, aku mengantar Jasmin, bungsuku, ke rumah sakit. Badannya panas. Meski
sudah dikompres dan kuberi parasetamol, suhu badannya belum turun juga. Sembari menunggu
antrean, aku mengajaknya ke taman. Tak jauh dari ruang tunggu.
Saat itulah, indra penciumanku menyesap aroma kopi yang kukenal. Mataku menangkap
bayang seseorang di ujung taman. Aku kenal sekali dengan syal etnik yang melingkar di lehernya.
Tak salah lagi. Badannya memang lebih berisi. Dan perut itu sudah tak rata lagi. Wajahnya
memancarkan kebahagiaan. Dia mengusap-usap perutnya. Ternyata benar, dia hamil.
Tapi, bukan itu yang membuatku terpaku seperti patung es. Sosok yang menggandengnya mesra.
Aku tidak mungkin keliru. Karena dia lelaki yang sama yang menemaniku tiap malam. (f)
***
Fajriatun Hidayati
SERPIHAN RIEN
Rien menambahkan remasan sepuluh kuntum melati segar pada cacahan daun teh oolong di
cangkirnya. Air mendidih yang dituangnya membuat aroma melati menguar. Kepulan asap tipis
membubung, seolah menari di atas permukaan teh yang pekat. Rien mengangkat cangkirnya hati-
hati, lalu menghidu uap teh melatinya dalam-dalam.
Di mejanya, bunga-bunga masih terbungkus kertas: krisan, aster dan anyelir. Perhatiannya tertuju
pada secarik kertas dengan tulisan Ambar, asistennya yang lincah. Huruf-hurufnya tersusun rapi
kecil-kecil: Untuk Oma. Semoga lekas sembuh.
Pesanan bunga sepagi ini cukup membuatnya antusias. Mungkin nanti bisa ditambahkan
mawar, pikir Rien.
Rien meletakkan cangkirnya tanpa suara. Efek tenang dari teh melatinya menjadi terganggu ketika
Ambar tiba-tiba muncul dari balik partisi dan berjalan tergopoh ke mejanya.
Rien menggerutu dalam hati.
Orang yang pesan itu minta bunga lily putih dimasukkan dalam rangkaian, Mbak.
Rien membaca gerak bibir Ambar. Raut mukanya menunjukkan ketidaksetujuannya.
Orangnya masih ada?
Ambar menunjuk ke pintu. Rien lalu bangkit, berjalan keluar, dan mendapati laki-laki muda
berpenampilan rapi duduk di sofa tamu.
Rien melirik secarik kertas dalam genggamannya. Ferdi namanya. Rien menaksir usianya tak lebih
dari tiga tujuh atau tiga delapan. Kelimis dengan jambul di ujung kepalanya.
Rien mengambil tempat duduk di hadapan laki-laki itu, lalu memaksakan senyumnya.
Bunganya untuk orang sakit, kan?
Laki-laki di depannya terperangah, menatapnya lebih lama, lalu mengangguk. Bibirnya bergerak-
gerak, namun Rien tak bisa mendengar jawabannya. Kepala Rien bergerak mendekat.
Orang itu mengulangi kata-katanya, kali ini lebih keras.
Bisa saya bawa sekarang? Atau sore ini?
Bisa, Rien berusaha mengatur napasnya. Kadang-kadang ia merasa kesulitan berhadapan
dengan orang baru. Laki-laki pula. Menerangkan makna bunga tak selalu semudah yang
dipikirkannya.
Tapi bunga lily tidak cocok untuk orang sakit.
Nenek saya suka bunga lily. Alis laki-laki di hadapannya terangkat satu. Lily putih.
Lagi-lagi Rien menarik napas. Ternyata lebih mudah merangkai bunga daripada harus berhadapan
dengan orang.
Lily putih artinya suci, murni. Ungkapan simpati. Lebih cocok untuk rangkaian bunga pernikahan
atau rangkaian bunga duka.
Kalau begitu, bisa tolong buatkan rangkaian yang cocok?
Rien menyanggupi. Dimintanya Ambar membawa bunga-bunga dan perlengkapan merangkai dari
atas mejanya.
Di depan Ferdi, Rien memotong serong pangkal batang bunga-bunga bergerombol berwarna ungu.
Disusunnya pada sebuah gerabah rotan berbadan rendah.
Itu bunga apa, Mbak?
Krisan, gumam Rien. Keinginan dan harapan untuk sembuh.
Tangan Rien terus bergerak, mengambil sejumput bunga lain berwarna pastel. Rien merapikan
sebentar kelopaknya yang halus meruncing dan memisahkan beberapa kelopak yang belum
sempurna.
Yang ini aster. Maknanya kesabaran.
Rangkaian bunga membentuk piramida. Rien melengkapinya dengan pita merah, setelah
menambahkan batang-batang bunga berwarna putih kemerahan dan menyelipkan satu mawar putih
di tengah.
Mawar. Anyelir. Kasih sayang, kesehatan dan energi.
Sebuah kartu ucapan disisipkan di antara batang-batang krisan yang jangkung. Rien bergerak
mundur, memastikan rangkaian bunganya benar-benar membawa pesan menyenangkan bagi si
sakit.
Tangan Rien menepuk-nepuk puas, lalu diangkatnya rangkaian itu dengan hati-hati.
Semoga oma Anda lekas sembuh.
Rien melepaskan diri dari mata Ferdi yang memandangnya lekat. Memaksakan senyum yang terasa
hambar, lalu membiarkan Ferdi berlalu membawa rangkaian bunganya.
ADA MAS DONI DI DEPAN. Mata Mas Doni yang memelototi tiap laki-laki yang masuk ke toko dan
berinteraksi dengannya membuat Rien tak nyaman.
Rien memilih menyendiri di gudang, menyibukkan diri dengan ember-ember berisi potongan bunga
mawar beraneka warna, anggrek dan lily yang baru datang.
Ia memeriksa dengan teliti tiap batang bunga sebelum membungkusnya dengan kertas khusus dan
memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Sesekali ia memeriksa catatan pesanan, memisahkan
ember-ember berisi anggrek dan mawar putih untuk memenuhi pesanan salah satu wedding
organizer rekanan Kuntum Florist miliknya sore ini.
Sambil bekerja, Rien mengulum melati.
Gerakan kasar di pintu gudang mengejutkannya. Kepala Mas Doni menyembul, menampakkan
wajah yang masam.
Ada orang cari kamu.
Rien tak perlu membaca gerak bibir Mas Doni, suaranya sudah menggelegar. Malas-malasan Rien
mengangkat kepalanya. Siapa?
Customer-lah. Siapa lagi.
Rien merengut. Kan Mas Doni bisa tanya namanya.
Ferdi.
Rien terperangah. Orang yang kemarin?
Bilang aku tak ada.
Jangan permainkan pelanggan, Mas Doni menatapnya gusar. Sepertinya dia mau komplain.
Kamu bikin kesalahan apa lagi,sih?
Komplain? Rien tak percaya. Ia bangkit, merapikan ujung roknya yang sedikit kusut dan berlipat.
Langkahnya bergegas ke luar gudang.
Hei!
Teriakan Mas Doni menahannya. Rien memutar tubuhnya sedikit.
Jangan kecentilan. Mas Doni memandangnya tajam.
Rien ingin protes, ujung bibirnya meruncing. Cuma merapikan rok bukan berarti ia centil. Tapi, Rien
tak ingin berdebat. Tanpa menoleh lagi ia meninggalkan Doni.
Di depan, Ferdi sudah menunggunya. Jambul rambutnya tampak lebih kelimis daripada kemarin.
Setelan kaus berwarna pastel dan denim membuatnya tampak lebih muda.
Buru-buru Rien membuang napas dan merutuki dirinya sendiri yang mengagumi penampilan Ferdi
diam-diam.
Ferdi hanya memesan rangkaian bunga ulang tahun untuk kakak perempuannya. Sesuatu yang
seharusnya bisa ditangani Mas Doni atau Ambar. Ditegurnya Ambar setelah mobil Ferdi menghilang
di tikungan.
Tadi sudah saya layani, Mbak, Ambar membela diri. Pak Ferdi itu yang maunya ketemu sama
Mbak.
Leher Rien terasa kaku. Ia bukan perempuan kemarin sore yang tidak bisa mengenali keanehan
sikap Ferdi. Teh melatinya yang mulai dingin, dihabiskannya dalam tiga tegukan.
Kalau lihat gayanya, kelihatannya dia naksir Mbak Rien, deh.
Rien tersedak. Ditinggalkannya Ambar tanpa bersuara.
KALAU BUKAN karena permintaan Niken, Rien tak mau mengantar pesanan bunga ini.
Tiga standing vas rangkaian bunga beserta satu papan ucapan selamat dipesan Niken untuk ulang
tahun bosnya.
Jangan lama-lama, sungut Mas Doni. Jaga diri, Rien. Tak semua yang tampak baik itu benar-
benar baik.
Uh. Pesan Mas Doni terdengar aneh. Mas Doni memang terlalu posesif. Rien hanya mengangkat
bahu, lalu meminta Pak Maman lebih cepat menjalankan mobil pick up.
Rien terperanjat mendapati Ferdi ikut menyambutnya di tengah aula gedung kantor tempat Niken
bekerja. Matanya lalu menuntut jawaban pada Niken yang tersenyum lebar.
Ferdi kemarin rekomendasiin florist kamu, lho, Rien. Kupikir siapa, enggak tahunya punya teman
sendiri. Niken membawanya ke luar aula. Ferdi bilang, kamu ahli bahasa bunga.
Kata-kata Mas Doni tadi memenuhi kepalanya. Rien gelisah, ribuan kupu-kupu seperti mengerubuti
perutnya. Kepalanya penuh dengan berbagai dugaan dan pertanyaan.
Kamu masih sendiri kan, Rien?
Pertanyaan Niken mengusiknya. Ia tak siap.
Ferdi masih bujang, lho. Mata Niken bersinar. Kayaknya dia naksir kamu.
Rien memaksakan senyumnya, Kamu alih profesi jadi makcomblang, Ken?
Niken hanya terbahak.
Menit-menit berikutnya menjadi siksaan bagi Rien, menghindari pandangan Ferdi dan membuat
jarak yang cukup agar Ferdi tak bisa mendekat. Rasanya lega sekali ketika mobil Pak Maman
bergerak menjauhi gedung itu.
RIEN MENGGIGIL, lalu mengulum melatinya. Kata Ibu dulu, aroma melati bisa menenangkan hati.
Namun terkadang bagi Rien, aroma melati bercampur air mata malah akan membangkitkan
kepedihan. Dan saat ini, ia tak bisa menahan air matanya.
Maafkan Bapak, Rien.
Waktu itu Ibu mengusap kepalanya. Sesekali Ibu memijat pergelangan tangannya yang sedikit
bengkak entah terkena apa. Hidung Ibu berair. Rien tahu, Ibu juga sakit.
Bapak cuma khilaf, Rien.
Ada air mata di senyum Ibu. Rien menahan isaknya, mencoba meraba luka hati Ibu yang pastinya
lebih dalam.
Jangan bodoh, Rien! LARI!
Teriakan dan gedoran Mas Doni dari balik pintu seolah masih menyakiti telinganya. Rien hanya bisa
menjerit ketika Mas Doni berhasil mendobrak pintu dan menghantam tengkuk Bapak hingga
tersungkur.
Dia tetap bapakmu, Nak.
Ibu menyeduhkan teh melati untuknya. Hangat dan membius. Melatinya masih segar, dari pohon
melati yang sengaja ditanam Ibu di samping rumah.
Jasad Bapak sudah dikubur. Beruntung Mas Doni tak ditangkap atau dipenjara. Darah di ujung
pelipis dan telinga Rien akibat benturan di pinggir ranjang sudah mengering, tapi kepalanya masih
terasa berat. Sesuatu yang ganjil masih terasa membebani pangkal pahanya.
Tangan Ibu menggenggam kembang-kembang melati. Dengan hati-hati Ibu melepaskan tangkainya
satu-satu, dijejalinya satu demi satu ke mulut Rien. Tangan Ibu gemetar.
Wangi melati akan mengobati jiwamu, Nak Maafkan Bapak.
Lalu dalam pelukan Ibu, Rien menumpahkan tangisnya.
***
Neida Camelia